Anda di halaman 1dari 20

Nama : Ernawati

Kelas : 3A1

Npm : 18120000018

SEJARAH FILSAFAT HUKUM

I. MASA YUNANI

a. Masa pra sokrates (± 500 S.M)

Dimulai dengan masa pra-Socrates (disebut demikian oleh karena para filsuf pada
masa itu tidak dipengaruhi oleh filsuf besar socrates). Boleh dikatakan filsafat hukum belum
berkembang, alasan utama karena para filsuf masa ini memutuskan perhatianya kepada alam
semesta, yaitu yang menjadi masalah bagi mereka tentang bagaimana terjadinya alam
semesta ini. Mereka berusaha mencari apa yang menjadi inti alam. Filsuf Thales yang hidup
pada tahun 624 – 548 S.M. Mengemukakan bahwa alam semesta terjadi dari air.
Anaximandros mengatakan bahwa inti alam itu adalah suatu zat yang tidak tentu sifat-
sifatnya yang disebut to apeiron.Anaxsimenes berpendapaat sumber dari alam semesta adalah
uadara. Sedangkan Pitagoras yang hidup sekitar 532 S.M. bilangan sebagai dasar segala-
galanya.

Filsuf lainya yang memberikan perhatian kepada terjadinya alam adalah Heraklitos, ia
mengatakan bahwa alam semesta ini terjadi dari api. Dia mengemukakan suatu slogan yang
terkenal hingga saat ini, yaitu Pantarei yang berarti semua mengalir. Ini berarti bahwa segala
sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak henti-hentinya berubah.

Dari sekian filsuf alam tersebut diatas. Pitagoras menyinggung sepintas tentang salah
satu isi alam semesta. Tiap manusia itu memiliki jiwa yang selalu berada dalam peroses
Katharsis, yaitu pembersihan diri. setiap kali jiwa memasuki tubuh manusia, maka manusia
harus melakukan pembersihan diri agar jiwa tadi dapat masuk kedalam kebahagiaan. Jika
dinilai tidak cukup untuk melakukan katharis jiwa itu akan memasuki lagi tubuh manusia
yang lain. pandangan Pitagoras diatas penting dalam kaitanya dengan mulai disinggungnya
manusia sebagai objek filsafat. Sebab sebagaimana telah disinggung dimuka, hanya dengan
kaitan manusia ini, pembicaraan akan sampai kepada hukum.

Beberapa penulis sejarah filsafat hukum mengungkapakan bahwa Socrateslah yang


pertama-tama memberikan perhatian sepenuhnya kepada manusia. Ia berfilsafat tentang
manusia sampai kepada segala seginya. Diperkirakan filsafat hukum lahir pada masa ini,
kemudian mencapai puncakanya melalui tangan para filsuf besar lainya. hanya dalam hal ini
perlu diperhatikan bahwa perkembangan filsafat hukum pada kedua masa tersebut agak
berbeda dengan situasi lingkungan yang menyebabanya.

Kaum Sofis yang lahir pada abad lima dan permulaan abad keempat sebelum Masehi
menekankan perbedaan antara alam (Phisis) dan konvensi (nomos). Hukum mereka
masukkan kedalam kategori terakhir karena menurutnya hukum adalah hasil karya cipta
manusia (Hukum invention) dan menjustifikasi (membenarkan) kepatuhan terhadap hukum
sjauh memajukan keuntungan bagi yang bersangkutan. Pada masa ini masalah filsafat hukum
yang penting untuk pertama kalinya dirumuskan meski gagasan tentang hukum keadilan,
agama, kebiasaan, dan moralitas untuk sebagian besar tidak didefenisikan. Mulai ada usaha-
usaha untuk merumuskan hukum dalam defenisi formal. Alcibiades (Xenophon, Memorabilis
1,2) mengatakan pada Pericles bahwa tidak ada seorangpun yang patut menerima pujian
kecuali jika ia mengetahui apa suatu (aturan) hukum itu. Pericles menjawab bahwa aturan
hukum adalah apa yang disetujui dan diputuskan (enacted) oleh mayoritas dalam
dewan.Kepatuhan yang diperoleh hanya dengan paksaan (Compulsion) kekuatan saja dan
bukan hukum, sekalipun aturan hukum itu diperlakukan oleh kekuasaan yang sah
(Souvereign power) dalam negara.

b. Masa Socrates, Plato dan Aristoteles

Socrates (469-399 SM) menurut para penulis filsafat hukum yang mengungkapkan
bahwa orang pertama atau peletak dasar pemikiran tentang manusia. Ia berfilsafat tentang
manusia sampai kepada segala seginya, sehingga filsafat hukum dimulai pada masa ini,
kemudian mencapai puncaknya sesudah socrates. Socrates memandang bahwa tugas utama
negara adalah mendidik warganya dalam keutamaanya, taat kepada hukum negara baik yang
tertulis maupun yang tidak tertulis. Keadilan menjadi jiwa dari pemikiran hukum baik pada
Plato (427-347 SM) maupun Aristoteles. Plato percaya bahwa menegakkan keadilan harus
menjadi tujuan negara. Karena itu, hukum dan keadilan menempati kedudukan sentral dalam
politik. Keadilan dan hukum yang adil itulah yang menjadi titik tolak dan sekaligus tujuan
dari karyanya, yaitu Republic. Dalam dialog panjang antara Socrates dengan Glaucon,
Polemarchus, Ademantus, Niceratus, dan yang lain. Plato menekankan pentingnya
membedakan tindakan yang adil dari tindakan yang tidak adil, manusia yang adil dari
manusia yang tidak adil (Plato, 1968:Book One)
Keadilan bagi Plato menjadi penting bukan karena membawa manfaat praktis yang dipahami
kaum sofis. Keadilan merupakan keutamaan atau ideal yang bernilai dalam dirinya sendiri.
Dengan demikian berbuat adil adalah perbuatan yang baik. Menolak undang-undang yang
diskriminatif, dan dengan itu membela keadilan, merupakan tindakan yang baik yang harus
dilakukan tanpa harus bertanya apakah subjek mendapat manfaat praktis dari itu atau tidak.
Dengan kata lain, keadilan merupakan nilai yang harus dibela tanpa harus dilihat apakah
pemembelaan terhadap keadilan secara konkret memberi manfaat bagi pembelanya atau
tidak. Singkatnya keadilan pantas untuk dibela karena bertindak adil itu baik, dan sebalikknya
tidak baik. Karena dalam dirinya sendiri baik maka keadilan harus menjadi watak manusia.
Orang baik adalah orang yang mampu bertindak adil.

Dengan demikian, keadilan merupakan nilai moral yang menentukan kualitas


keperibadian manusia. itulah sebabnya negara dimana manusia hidup dan
berkembang,menurut Plato juga harus dibangun diatas pondasi keadilan. Dalam karyanya,
Repulic, Plato menyebut negara idealnya dengan nama “The city of Justtice”. Dalam negara
seperti itu setiap masyarakat harus berkontribusi bagi tegaknya republik keadilan dengan
menjalankan tugasnyan masing-masing secara konsekuen dan dengan penuh disiplin. Plato
lalu membagi masyarakat kedalam tiga kelompok: (1) Pemimpin (2) Kesatria (3) Petani dan
pedagang. Kelompok pertama bertugas memimpin negara karena mereka dipercaya memiliki
pengetahuan dan kebijaksanaan yang memadai untuk memimpin secara adil. Kelompok
kesatria bertugas membela negara. Untuk menjadi pembela profesional, mereka harus
dijauhkan dari hak milik peribadi, termasuk tidak diperkenankan memiliki istri dan anak.
mereka hanya diperkenankan memiliki hal tertentu sejauh itu perlu untuk mendukung tugas
profesionalnya dalam membela negara. Sementara kelompok ketiga yaitu petani dan
pedagang, bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi seluruh anggota masyarakat. Supaya
menjalankan tugasnya dengan baik, kelompok ketiga ini tidak diberi peluang untuk
memimpin negara. Keadilan ditegakan apabila setiap kelompok berfungsi sesuai dengan
tugas pokoknya masing-masing (Plato 1968: Book Six).
Aristoteles, murid Plato, meneruskan jejak gurunya menekankan tentang pentingnya
hukum dan ketertiban dalam politik. Melalui karyanya Politicsm Aristoteles menekankan
pentingnya polis dalam kehidupan manusia (Aristotle, 1998: Book ll, Chp. 1, 2, 4; Book
lll,Chp. 16; Book lV, Chp.1). Memahami manusia sebagai political animals, Aristoles
memandang penting untuk menata hidup manusia melalui hukum dan konstitusi yang ideal.
Hanya melalui kehidupan dalam polis yang dikelola dengan berpedoman pada konstitusi
yang adil, manusia mencapai kebahagiaan (eudaimonia) yang menjadi tujuan utama hidup
manusia. Karena itu bagi aristoteles apa yang disebut sebagai hukum adalah tatanan atau
tertib. Hukum yang baik merupakan tatanan yang baik. Itu berarti bahwa hukum harus
mendorong manusia mencapai kebahagiaan.
Dengan demikian hukum bagi aristoteles bukan sekedar konvensi yang bertujuan
praktis. Masyarakat dalam arti sesungguhnya menurut Aristoteles tidak melihat hukum
sekedar alat bagi manfaat praktis. Karena itu dengan menempatkan kebahagiaan sebagai
tujuan hukum, Aristoteles menegaskan bahwa hukum memiliki tujuan yang luhur, lebih
sekedar kepentingan alat untuk mengelola kekuasaan, mengatur lalu lintas, menghukum
pelaku kejahatan, atau memaksa warga negara membayar pajak, misalnya. Pemenuhan tujuan
praktis seperti ini menjadi tidak bermakna ketika dengan itu manusia tidak mengalami
kebahagiaan. Karena itu demi kebahagiaan hukum dan konstitusi harus adil.

Dengan demikian, keadilan bagi Aristoteles pertama-tama bukan konsep hukum


melainkkan konsep moral yang menjadi jiwa konstitusi. Tuntunan bahwa konstitusi harus adil
bagi Aristoteles menjadi penting karena masyarakat polis pada ghalib pluralistik (Aristoteles,
1998: Book ll, Chp. 1). Aristoteles percaya bahwa melalui konstitusi yang adil, polis atau
negara kota (yang pada dasarnya berwatak pluralistik) dapat dibangun menjadi suatu
kesatuan sebagimana layaknya keluarga yang secara moral terikat sebagai satu kesatuan.
Konstitusi yang adil menjadi penting, karena negara kota sebagai suatu kesatuan terdiri atas
individu-individu yang bebas dan setara, yang masing-masingnya tentu saja memiliki
kepentingan yang berbeda-beda. Konstitusi menjamin bahwa kepentingan semua pihak dapat
terakomodasi secara adil.

c. Masa Stoa

Stoa mengembangkan suatu pendapat tentang hukum kodrat dengan menerima suatu
pengertian “Hukum kesusilaan alami” (natuuralijke zedewet) menurut ajaran ini ada satu
hukum kesusilaan alamiah, ketuhanan yang menpunyai kekuasaan untuk memerintahkan
yang baik dan menghalang-halangi apa yang bertentangan denganya. Dalam hukum kodratlah
letaknya perbedaan antara apa yang baik dan apa yang jahat. Dalam hal ini “kodrat” dan
“hukum” dianggap sama.

Stoa berpendapat bahwa hukum alam ini tidak tergantung dari orang, selalu berlaku
dan tidak dapat diubah. Hukum alam ini merupakan dasar dari adanya hukum positif. Selain
itu, ia berpendapat bahwa hukum positif dari suatu masyarakatalah setandar tentang apa yang
adil, bahkan bila hukum tersebut diterima secara adil akan mewujudkan ketentraman .

II. MASA ROMAWI (ABAD III SM – ABAD V SM)

Pada masa Romawi, perkembangan filsafat hukum tidak segemilang pada masa Yunani,
hal ini disebabkan para ahli pikir lebih banyak mencurahkan perhatianya kepada masalah
bagaimana hendak menpertahankan ketertiban dikawasan kekaisaran Romawi yang sangat
luas itu. Para filsuf dituntut memikirkan bagaimana caranya memerintah Romawi sebagai
kerajaan dunia. Namun demikian ahli-ahli pikir seperti Polibius, Cicereo, Seneca, Marcus,
aurelius. Banyak memberikan sumbangan penting pada perkembangan pemikiran hukum
yang pengaruhnya masih tanpak hingga jaman moderen sekarang ini.

1. Masa Cicero (106 – 43 SM)

Filsafat hukum Cicero dalam esensinya bersifat Stoa. ia menolak bahwa hukum positif
dari suatu masyarakat (tertulis atau kebiasaan) adalah stantar tentang apa yang adil, bahkan
jika hukum tersebut diterima secara adil, ia juga tidak menerima utilitas semata-mata adalah
standar: keadilan itu satu hukum, yaitu mengikat semua masyarakat manusia dan bertumpu
diatas satu hukum, yaitu akal budi yang benar diterapkan untuk memerintah dan melarang
(Deligibus l, 15)
Menurut Cicero hukum terwujud dalam suatu hukum yang almiah yang mengatur, baik alam
maupun hidup manusia. Oleh karena itu filsafat hukum Cicero dalam esensinya
mengemukakan konsepsi tentang persamaan (equality) semua manusia dibawah hukum alam.

1. Masa St.Agustine

Filssafat hukum yang dikembangkan oleh St.Agustine adalah doktrin hukum dan konsep
hukum yang bersumber dari ajaran kristen katolik. Ia berpendapat bahwa hukum adalah
berasaskan dari kemauan-kemauan pencipta manusia yang berlaku secara alimi dan bersifat
universal.

III. ABAD PERTENGAHAN

1. Masa Gelap (The dark ages)

Masa ini dimulai dengan runtuhnya kekaisaran Romawi akibat serangan bangsa lain yang
dianggap terbelakang datang dari utara. Abad pertengahan merupakan abad yang khas, yang
ditandai dengan suatu pandangan hidup manusia yang merasa dirinya tidak berarti tanpa
adanya tuhan. Selama abad pertengahan tolak ukur setiap pemikiran orang adalah
kepercayaan bahwa aturan semesta alam telah diciptakan oleh Allah sang pencipta. sesuai
dengan kepercayaan itu, hukum pertama-tama dipandang sebagai suatu aturan yang
datangnya dari Allah. Oleh karena itu, untuk membentuk hukum positif manusia hanya ikut
mengatur hidup, sebab, hukum yang ditetapkanya harus dicocokkan dengan aturan yang telah
ada, yaitu sesuai dengan aturan-aturan agama. Hukum yang dibentuk mempunyai akar dalam
agama, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut agama kristiani hukum
berhubungan dengan wahyu secara tidak langsung (Agustinus, Thomas Aquines), yaitu
hukum yang dibuat manusia, disusun dibawah inspirasi agama dan wahyu. Sementara paham
dalam agama islam hukum berhubungan dengan wahyu secra langsung (Al-Syaf’i dan lain-
lain), sehingga hukum agama islam dipandang sebagai wahyu (Syari’ah).

1. Masa Scholastik

Pada masa ini terjadi peralihan, dalam alam pikiran yunani terdapat empat aliran pikiran
yang besar, yaitu Plato, Aristoteles, Stoa dan Epicurus. Sebagai akibat dan perbedaan
pendapat pertentangan-pertentangan serta perselisihan dikalangan aliran-aliran ini, telah lahir
ajaran baru yang disebut Ecletisisme. setelah ini, muncul masa lain yang dikenal dalam dunia
filsafat sebagai masa Neo Platonisme dengan Platinus sebagai tokoh besar. Filsuf ini yang
mula-mula membangun suatu tata filsafat yang bersifat ketuhanan. Menurut pendapatnya,
tuhan itu hakikat satu-satunya yang paling utama dan luhur yang merupakan sumber dari
segala-galanya. Dengan dasar dari filsafat Plato yang mengajarkan orang harus berusaha
mencapai pengetahuan yang sejati. Maka Platinus mengatakan bahwa kita harus berikhtiar
melihat tuhan. Sebab melihat tuhan itu tidak hanya dapat melalui berpikir saja, tetapi harus
dengan jalan beribadah. Pandangan ini membuka jalan untuk mengembangkan ajaran kristen
dalam filsafat Neo Platonisme lahir di Alexandria sebagai tempat pertemuan antara filsafat
yunani dengan agama kristen.
Hukum alam tidak lagi dipandang sebagai hukum rasionalitas alam semesta yang
impersonal,tetapi diintegrasikan kedalam suatu teologi dari suatu tuhan yang personal dan
kreeatif. Greja juga telah mengkristalkan gagasan tentang jus dividum sebagai suatu jenis
hukum yang jelas bersama tiga hukum yang lain, yang diakui oleh para yuris, sementara
hubungan antara hukum Musa, Injil dan hukum alam muncul sebagai masalah khusus.

IV. ZAMAN RENAISANCE

Abad pertengahan, yang merupakan abad yang khas, yang ditandai dengan suatu
pandangan hidup manusia yang merasa dirinya tidak berarti tanpa tuhan, dimana kekuasaan
gereja begitu besarnya mempengaruhi segala kehidupan, akhirnya berlalu dan muncul suatu
zaman baru yang disebut zaman Renaisance. Zaman ini ditandai dengan tidak terikatnya lagi
alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan, manusia menemukan kembali
kepribadianya. Akibat dari perubahan ini, terjadi perubahan yang tajam dalam segi kehidupan
manusia, perkembangan teghnologi yang sangat pesat, berdirinya negara-negra baru,
ditemukanya dunia-dunia baru, lahirnya segala macam ilmu-ilmu baru dan sebagainya.
Semua itu hanya akan terjadi oleh karena adanya kebebasan dari pada individu untuk
menggunakan akal pikiranya tanpa adanya rasa takut.

Pada zaman ini perhatian pertama-tama diarahkan kepada manusia, sehingga manusia
menjadi titik tolak pemikiran. Hal ini tidak berarti bahwa sikap religius pada orang-orang
zaman ini hilang, melainkan sikap hidup religius terpisah dengan kehidupan lainya. Dizaman
inilah para filsuf pada umumnya memisahkan urusan yang berkaitan agama dengan non
agama, yang bisa disebut dengan adanya dikotomi antar urusan dunia dengan urusan akhirat.

Jean Bodin menekankan bahwa hukum tidak lain dari perintah orang yang berdaulat (raja)
didalam menjalankan kedaulatnnya. Namun, kekuasan raja tidaklah melampaui hukum alam
yang didekritkan tuhan. Bodin tidak membenarkan bahwa akal yang benar mempertaruhkan
hukum alam dengan hukum positif dan kebiasaan. Bodin mengungkapakan bahwa, kebiasaan
memperoleh kekuatan hukum pada pengesahan oleh penguasa secara tidak diam-diam.

V. ZAMAN BARU
Filsuf hukum yang paling terkenal pada abad tujuh belas adalah Thomas Hobbes
(1588 – 1679) memutuskan tradisi hukum alam yang mengandung banyak kontraversi. Ia
banyak menggunakan siatilah “hak alamiah” (law of nature) dan akal benar (right reason).
Namun, yang pertama baginya adalah kemerdekaan yang tiap orang miliki untuk
menggunakan kekuasaan (kekuatan)-nya sendiri menurut kehendaknya sendiri, demi
preservasi hakikatnya sendiri, yang berarti kehidupanya sendiri. Kedua adalah asas-asas
kepentingan sendiri yang sering didefinisikan dengan kondisi alamiah dari ummat manusia.
Ketiga, kondisi alamiah dari ummat manusia adalah peperangan abadi yang didalamnya tidak
ada standar perilaku yang berlaku umum.

Langkah yang krusial dari teori Hobbes adalah pengidentifikasian masyarakat dengan
masyarakat yang terorganisasikan secara politik, dan keadilan dengan hukum positif. Kaidah-
kaidah hukum adalah perintah dari penguasa (the sovereign), para anggota suatu masyarakat
mengevaluasi kebenaran dan keadilan dari perilaku mereka, dengan mereferensi pada
perintah-perintah yang demikian. Namun Hobbes juga mengatakan, walaupun penguasa tidak
dapat melakukan suatu ketidak adilan, ia dapat saja melakukan suatu kelaliman (iniquity).

VI. ZAMAN MODEREN

Walaupun sebelumnya unsur logika manusia sangat berperan dalam perkembangan


pemikiran hukum, namun dirasakan bahwa filsafat hukum dinilai kurang berkembang sebagai
akibat adanya gerakan kodifikasi yang ada, yang pada mulanya orang kurang memberikan
perhatian terhadap masalah-masalah keadilan. Baru setelah banyak dirasakan kepincangan
dalam kodifikasi-kodifisi karena berubahnya nilai-nilai yang menyangkut keadilan dalam
masyarakat, membangkitkan kembali orang-orang yang mencari keadilan melalui filsafat
hukum. Namun demikian pada masa kini ada tendensi peralihan, yaitu yang tadinya filsafat
hukum adalah filsafat hukum dari masa filsuf, kini beralih kepada filsafat hukum dari para
ahlihukum.
Rudolf von Jhering (1818 – 1892) menolak teori Hegel, karena Hegel menganggap
hukum sebagai ekspresi dari kemauan umum (general will) dan tidak mampu melihat bahwa
faktor-faktor utilitaritis dan kepentingan-kepentingan menentukan eksistensi hukum. Jhering
juga menolak bahwa anggapan hukum adalah ekspresi kekuatan spontan dari alam bawah
sadar (subconscious forcess) seperti yang dikatakan Savigny, karena Savigny tidak dapat
melihat peranan dari perjuangan secara sadar untuk melindungi kepentingan-kepentingan.
Namun, seperti juga para hegelian,Jhering menganut orientasi kultural yang luas. kontribusi
Jhering adalah keyakinanya bahwa penomena hukum tidak dapat dipahami tanpa pemahaman
sistematik terhadap tujuan-tujuan yang telah menimbulkan (penomena hukum), studi tentang
tujuan-tujuan itu yang berakar dalam kehidupan sosial, yang tanpa itu tidak akan mungkin
ada aturan-aturan hukum. Tidak ada tujuan berarti tidak ada kemauan.

SOAL PILIHAN GANDA 1-50

1. Ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang
sebenarnya disebut ......
a. Filsafat
b. Hakikat
c. Filosofi
d. System
e. Ilmu alam
2. Ilmu yang mempelajari hukum secara filosofi disebut.....
a. Filosof
b. Filsafat Hukum
c. Filsafat Ilmu
d. Filsafat Pendidikan
e. Kaidah
3. Aturan yang dibuat secara resmi oleh penguasa negara memikat setiap orang dan
berlakunya dapat dipaksakan oleh aparat negara yang berwenang sehingga berlakunya
dapat dipertahankan disebut.....
a. Asas Hukum
b. Praktik hukum
c. Politik hukum
d. Hukum tidak tertulis
e. Kaidah hukum
4. Inti ajaran hukum yang Memandang hukum dari penguasa (hukum Negara) harus
ditaati, terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak merupakan
pernyataan…
a. Plato
b. Plato dan Aristoteles
c. Aristoteles
d. Socrates
e. Aristoteles dan Socrates
5. Arti hukum menurut Abdul Ghofur Anshori, kecuali…
a. Norma
b. Kesepakatan
c. Ilmu Pengetahuan
d. Disiplin
e. Aturan

6. Hak asasi yang merupakan hak dan kebebasan memiliki sesuatu membeli dan menjual
sesuatu, dan mengadakan suatu perjanjian atau kontrak adalah hak asasi…
a. Politik
b. Pribadi
c. Ekonomi
d. Persamaan hukum
e. Budaya

7. Dalam teori keadilan sebagai peletak dasar rasionalitsa dan empirisme adalah…
a. Plato
b. Socrates
c. Thomas Alfa Edison
d. Aristoteles
e. Thomas Aquimas

8. Apabila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama pun
diperlakukan secara tidak sama merupakan pengertian dari keadilan…
a. Legal
b. Kumulatif
c. Restoratif
d. Distributif
e. Ilegal
9. Suatu konsepsi mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai
tujuan sosial merupakan penjelasan prinnsip dasar yang digunakan aliran realism
hukum dengan pendekatan…
a. Pendekatan fungsional
b. Pendekatan instrumental
c. Pendekatan filsafat
d. Pendekatan perorangan
e. Penekatan Hukum

10. Yang merupakan objek dari filsafat hukum adalah…


a. Orang
b. Hukum
c. Negara
d. Manusia
e. alam
11. Dikucilkan dalam pergaulan hidup masyarakat merupakan sanksi diberikan terhadap
pelanggaran norma…
a. Norma hukum
b. Norma kesusilaan
c. Norma kesopanan
d. Norma agama
e. Kaidah Hukum

12. Filsafat haruslah melihat hal-hal secara menyeluruh dalam kebersamaan secara
integral merupakan pengertian dari berfikir filosifis secara…
a. Sinoptik
b. Rasional
c. Sistematis
d. Konsepsional
e. kasual
13. Hakikatnya hukum tidak lain adalah perlindungan kepentingan manusia, yang
berbentuk kaidah dan norma merupakan pengertian hukum menurut…
a. Satjipto Rahardjo
b. Sudikno Martokusumo
c. Lilik Mulyadi
d. Soerjono Soekanto
e. Ir. Soekarno
14. Di bawah ini istilah lain dari realisme hukum, yaitu…
a. Aliran distributif
b. Aliran fositivistik murni
c. Aliran retributif
d. Neopositivisme hukum
15. Dengan sanksi yang tegas merupakan norma…
a. Norma agama
b. Norma hukum
c. Norma kesopanan
d. Norma kesusilaan
e. Norma Sosial
16. Menurut Plato keadilan itu di luar kemampuan manusia biasa, sumber ketidakadilan
tersebut adalah…
a. Keserakahan penguasa
b. Ketidakberdayaan masyarakat
c. Perubahan dalam masyarakat
d. Kelemahan negara
e. Peraturan Negara
17. Isu utama dari aliran dominant feminism adalah…
a. Persaingan gender
b. Permusuhan gender
c. Penindasan gender
d. Persamaan gender
e. Perbedaan gender
18. Salah satu tokoh perintis pemikiran rasionalisme adalah …
a. Cicero
b. Rene Descartes
c. Friedman
d. Wondel Holmes
e. Socrates
19. Di bawah ini yang termasuk kriteria nilai moral profesi hukum, kecuali…
a. Kejujuran
b. Kemandirian Moral
c. Otentik
d. Teknik Lobi
20. Beberapa subjek hukum yang dilengkapi dengan etika profesi hukum, kecuali…
a. Dosen
b. Jaksa
c. Notaris
d. Hakim
e. Panitera
21. Louis O. Kattsof membedakan nilai yaitu…
a. Nilai instrinsik dan instrumental
b. Nilai kebenaran dan keindahan
c. Nilai ekonomis dan harga
d. Nilai materiil dan vital
e. Nilai harga dan vital
22. Sebagai cabang filsafat etika dapat dibedakan dalam 3 (tiga) pendekatan…
a. Etika khusus, individual dan final
b. Etika individual dan sosial
c. Etika deskriptif, normatif dan metaetika
d. Etika umum dan khusus
e. Etika normatid dan umum

23. Yang bukan merupaan fungsi hukum menurut M. Friedman adalah…


a. Rekayasa Sosial
b. Penyelesaian Sengketa
c. Memberikan pedoman/pengarahan pada warga masyarakat untuk berperilaku
d. Pengawasan/Pengendalian Sosial
e. Pengalaman
24. Hukum memiliki fungsi social engineering artinya…
a. Pedoman
b. Rekayasa Sosial
c. Penyelesaian sengketa
d. Pengawasan dan Pengendalian
e. Pembelajaran
25. Tidak ada satupun ahli hukum yang dapat membuat suatu definisi yang tepat tentang
hukum merupakan pernyataan…
a. Plato
b. Van Apeldoorn
c. Immanuel Kant
d. Satjipto Rahardjo
e. Aristoteles

26. Di bawah ini yan BUKAN merupakan unsur-unsur negara hukum adalah…
a. Hak Asasi Manusia
b. Pemerintahan dijalankan berdasaran peraturan perundangan
c. Adanya pemisahan kekuasaan
d. Negara mempunyai hak penuh terhadap warga negara
e. Adanya perintah dan larangan

27. Menurut Plato keadilan moral adalah…


a. Suatu perbuatan dapat dikatakan adil secara moral apabila telah mampu
memberikan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban
b. Kumulatif, terwujud apabila tindakannya tidak bercorak ekstrem sehingga
merusak atau menghancurkan pertalian di dalam masyarakat sehingga masyarakat
menjadi tidak tertib
c. Legal, terwujud apabila setiap anggota dalam masyarakat melakukan fungsinya
dengan baik menurut kemampuannya
d. Distributif, tersebut terwujud apabila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama
dan hal-hal yang tidak samapun diperlakukan secara tidak sama
e. Suatu perbuatan dapat dikatakan adil secara moral apabila belum mampu
memberikan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban

28. Di bawah ini yang bukan merupakan teori mendukung teori tentang tujuan hukum…
a. Teori utilitas
b. Teori etis
c. Teori kausalitas
d. Teori campuran
e. Teori Kapasitas

29. Realisme adalah suatu konsepsi mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat
untuk mencapai tujuan sosial merupakan penjelasan prinnsip dasar yang digunakan
aliran realism hukum dengan pendekatan…
a. Pendekatan Fungsional
b. Pendekatan Perorangan
c. Pendekatan Instrumental
d. Pendekatan Filsafat
e. Pendekatan hukum

30. Di bawah ini yang merupakan tokoh filsafat aliran sociological jurisprudence dan
sociological of law adalah…
a. Agustinus
b. Roscoe Pound
c. Socrates
d. Al-Khindi
e. Aristoteles
31. Kekuasaan itu tidak berasal dari kekuasaan lain. Jadi, tidak diturunkan atau diberikan
oleh kekuasaan lain merupakan keadaulatan yang sifatnya…
a. Tunggal
b. Tidak dapat dibagi-bagi
c. Asli
d. Abadi
e. Kekal
32. Agustinus dan Thomas Aquinas merupakan tokoh terkenal pada abad pertengahan
dalam perkembangan filsafat…
a. Filsafat Selatan
b. Filsafat Barat
c. Filsafat Timur
d. Filsafat Ketuhanan
e. Filsafat yunani

33. Memandang hukum dari penguasa (hukum Negara) harus ditaati, terlepas dari hukum
itu memiliki kebenaran objektif atau tidak merupakan inti ajaran hukum menurut…
a. Aristoteles
b. Socrates
c. Plato
d. Heraklitos
e. Agustinus

34. Pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh dalam kebersamaan secara
integral merupakan pengertian dari berfikir filosifis secara…
a. Sistematis
b. Konsepsional
c. Rasional
d. Sinoptik
e. Irasional
35. “Tidak ada sesuatupun di alam ini yang tidak bisa dimasuki oleh filsafat” merupakan
filsafat dalam arti umum menurut…
a. Plato
b. Socrates
c. Abu Nashr Al-Farabi
d. Aristoteles
e. Agustinus
36. Filsafat berarti pengetahuan terhadap wujud dalam universalitasnya dan bukan
partikularitasnya. Dalam mengkasi alam semesta filsafat juga memiliki perhatian dan
berusaha untuk sampai pada hukum hukum universal umum yang bisa diterapkan
pada obyek kajian. Hal tersebut mencerminkan pengertian filsafat dalam arti...
a. Sempit
b. Luas
c. Universal
d. Doctrinal
e. Umum
37. Norma yang mempunyai kekuatan memaksa dan memiliki sanksi yang relatif tegas
adalah norma ....
a. Hukum
b. Agama
c. Sosial
d. Kesusilaan
e. Kesopanan\
38. Yang dimaksud filsafat hukum adalah disiplin ilmu yang mempelajari ...
a. Filsafat secara khusus
b. Hukum secara filsafat
c. Filsafat secara radikal
d. Filsafat secara kritis
e. Hukum secara umum
39. Filsafat hukum merupakan bagian dari filsafat tingkah laku yang disebut...
a. Estetika
b. Etika
c. Norma
d. Perilaku
e. Kegemaran
40. Salah satu mahzab dalam aliran feminist jurisprudence adalah dominant feminism. Isu
utama dari aliran ini adalah....
a. Penindasan gender
b. Persaingan gender
c. Permusuhan gender
d. Persamaan gender
e. \perbedaan gender
41. Keadilan distributif adalah keadilan proporsional diterapkan dalam lapangan hukum
publik secara .....
a. Khusus
b. Umum
c. Terpisah
d. Merata
e. Sama
42. Menurut plato keadilan itu diluar kemampuan manusia biasa, sumber ketidakadilan
adalah....
a. Perubahan dalam masyarakat
b. Keserakahan penguasa
c. Ketidakberdayaaan masyarakat
d. Kelemahan negara
e. Kelebihan negara
43. Setiap orang berhak mendapat pengayoman dan perlakuan yang sama dalam keadilan
dan pemerintahan, hal ini termasuk dalam ....
a. Hak asasi pribadi
b. Hak asasi manusia
c. Hak asasi politik
d. Hak asasi perlakuan yang sama
e. Hak persamaan dalam hukum
44. Etika berasal dari bahasa yunani, ethos yang berarti kebiasaan. Dalam KBBI, etika
diartikan sebagai berikut, kecuali .....
a. Nilai dan norma moral
b. Kumpulan asas atau nilai moral
c. Sikap hidup berupa keadilan
d. Ilmu pengetahuan tentang baik dan buruk
e. Ilmu tentang sebuah kebijakan
45. Berikut ini yang merupakan adigum klasik dasar dasar pemikiran untuk merumuskan
kode etik profesi hukum adalah.....
a. Presumption of innocence
b. Homi homimilupus
c. Male enim nostro iure uti non debemus
d. Tracendensis
e. Protektoral
46. Dalam kejaksaan yang memiliki 3 sifat hakiki kejaksaan yang membedakan dengan
alat negara lainnya. Tiga sifat itu adalah tunggal, mandiri dan mumpuni. Hal tersebut
dinamakan ....
a. Caturasana
b. Triatmaka
c. Trikrama adyaksa
d. Tridarmasakti
e. Darmasakti
47. Di bawah ini yang bukan merupakan ciri-ciri dari profesi adalah…
a. Pendidikan ekstensi
b. Memiliki kegigihan
c. Keterampilan berdasarkan pada pengetahuan teoritis
d. Asosiasi profesional
e. Non prfesionalitas
48. Ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang
sebenarnya disebut ......
a. Filsafat
b. Hakikat
c. Filosofi
d. System
e. Ilmu alam
49. Filsafat berarti pengetahuan terhadap wujud dalam universalitasnya dan bukan
partikularitasnya. Dalam mengkasi alam semesta filsafat juga memiliki perhatian dan
berusaha untuk sampai pada hukum hukum universal umum yang bisa diterapkan
pada obyek kajian. Hal tersebut mencerminkan pengertian filsafat dalam arti...
a. Sempit
b. Luas
c. Universal
d. Doctrinal
e. Umum
50. Yang dimaksud filsafat hukum adalah disiplin ilmu yang mempelajari ...
a. Filsafat secara khusus
b. Hukum secara filsafat
c. Filsafat secara radikal
d. Filsafat secara kritis
e. Hukum secara umum