Anda di halaman 1dari 21

INVENTORI MINAT JABATAN, ANGKET DAN DAFTAR CEK

MASALAH (DCM)

A. PERBEDAAN TES DAN INVENTORI


1. Tes
Tes merupakan suatu prosedur sistematis untuk mengukur sampel
tingkah laku seseorang (Brown, dalam A. Muri Yusuf, 2014:99).
Kemudian, A.Muri Yusuf (2014: 99) juga mengemukakan tes adalah
suatu prosedur yang spesifik dan sistematis untuk mengukur tingkah laku
seseorang atau suatu pengukuran yang bersifat objektif mengenai tingkah
laku seseorang sehingga tingkah laku tersebut dapat digambarkan dengan
bantuan angka, skala atau dengan sistem kategori.
2. Inventori
Menurut Wayan Nurkancana (1994: 71) Inventori adalah suatu
metode untuk mengumpulkan data yang berupa suatu pernyataan
(statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya. Dari
daftar pernyataan tersebut subyek/individu yang hendak kita kumpulkan
datanya diminta untuk memilih mana-mana pernyataan yang cocok
dengan dirinya diisi tanda cek atau tanda-tanda lain yang ditetapkan
sedangkan pernyataan yang tidak cocok dengan dirinya tidak diisi apa-
apa.
B. INVENTORI MINAT JABATAN
1. Inventori Minat Jabatan
Minat merupakan salah satu unsur kepribadian individu yang
memegang peranan penting dalam pembuatan keputusan karir masa
depan. Minat akan mengarahkan tindakan individu terhadap suatu obyek,
atas dasar rasa senang atau tidak senang. Untuk mengetahui hal tersebut
diperlukanlah suatu alat tes yaitu inventori minat.
Inventori minat menurut Dewa Ketut Sukardi (1994: 76)
merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur apakah orang suka
atau tidak suka atau senang dan tidak senang melakukan sesuatu. Dengan
menilai sikap-sikap individu terhadap sikap-sikap tertentu, akan dapat
dengan mudahnya mengukur apakah dalam aktivitas-aktivitas tertentu
individu memungkinkan akan dapat melakukan sesuatu dengan
menyenangkan atau tidak menyenangkan. Inventori minat dapat
menjelaskan pola-pola minat dan dapat mengungkapkan jangkauan minat
klien yang tidak dieksplorasi sebelumnya. Kemungkinan keputusan karir
yang bijak dapat diwujudkan.
2. Bidang-bidang Minat Jabatan
Bidang-bidang minat jabatan terdiri dari beberapa yaitu:
a. Menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1994: 97) arah pilihan
jabatan ditentukan oleh kekuatan dan preferensi atau enam tipe
kepribadian, yaitu:
No Tipe Kepribadian Bidang Jabatan
1 Realistis: karakteristik dari tipe Mekanikal, teknikal,
realistik didasarkan atas prefensi dan elektrikal
terhadap aktivitas yang melibatkan
keteraturan atau manipulasi yang
sistematis mengenai obyek, alat-alat
dan mesin.
2 Investigatif: didasarkan atas Kompetensi ilmiah dan
preferensi terhadap aktivitas yang matematika
melibatkan penelitian kreatif tentang
alam, biologi, dan fenomena alam.
3 Artistik: didasarkan atas preferensi Kompetensi artistik,
terhadap aktivitas yang tidak musik, bahasa, seni,
berstruktur, menciptakan bentuk-bentu drama, dan menulis
seni yang baru.
4 Sosial: didasarkan atas preferensi Kompetensi hubungan
terhadap aktivitas-aktivitas yang antar manusia.
melibatkan orang lain dengan cara
memberikan informasi, mendidik,
mengarahkan, mengembangkan, dan
pengobatan.
5 Enterprising: didasarkan atas Kompetensi
preferensi terhadap aktivitas-aktivitas kepemimpinan,
yang melibatkan orang lain untuk persuasif dan
menvcapai tujuan organisasi dan interpersonal.
keuntungan ekonomis.
6 Konvensional: didasarkan atas Hal-hal bersifat
preferensi terhadap aktivitas-aktivitas hitungan dan
yang melibatkan keteratiran dan kompetensi sitem
manipulasi data secara sistematis bisnis.
dalam rangka penyimpanan data,
mengola data, mengisis bahan,
memproduksi bahan untuk mencapai
tujuan organisasi dan tujuan ekonomis.

Selanjutnya, menurut Carl Safran (dalam Dewa Ketut Sukardi,


1994: 106-107) di dalam inventori minat, terdapat tujuah lapangan
jabatan, yaitu:
(1) Ekonomis; menunjukkan suatu keinginan terhadap pekerjaan dalam
beberapa lapangan jabatan yang berkaitan dengan dunia bisnis.
(2) Teknikal; menunjukkan suatu pilihan untuk bekerja dengan alat-alat
dan mesin-mesin.
(3) Outdoors; menunjukkan suatu pilihan terhadap pekerjaan yang
berhubungan dengan orang-orang dilapangan.
(4) Pemebri layanan (servis); menunjukkan suatu minat yang
berhubungan dengan kebutuhan untuk bertemu dan berkumpul
dengan orang, yaitu kebutuhan untuk berhubungan lebih dekat
dengan waktu yang singkat, mulai dari memberi perlindungan
sampai dengan membantu pelanggan.
(5) Humane; menunjukkan suatu minat yang berhubungan dengan
kebutuhan untuk bertemu dan berkumpul dengan orang seperti
pasien/klien dalam jangka waktu yang lama dalam bidang, seperti
pendidikan dan kesehatan.
(6) Artistik; menunjukkan suatu minat terhadap pekerjaan yang kreasi
dengan menggunakan bahan-bahan, seperti menggunakan cat, alat
cetak, musik atau media lainnya.
(7) Ilmu pengetahuan; menunjukkan suatu minat dalam pekerjaan yang
melibatkan rumus-rumus, persamaan, atau peralatan ilmu lainnya.
3. Jenis-Jenis Inventori Jabatan
Beberapa jenis inventori jabatan dalam buku Dewa Ketut Sukardi
(1994: 90-111) yaitu:
a. Inventori Minat E.K Strong (Strong Vocational Interest Blank
E.K. Strong/ SVIB)
Inventori Minat E.K Strong dikenal dengan Strong Vocational
Interest Blank E.K. Strong adalah seorang pionir dalam lapangan
pengukuran minat. Ia mengamati bahwa orang-orang dalam kelompok
profesi yang berbeda menunjukkan perbedaan yang konsisten
terhadap apa yang mereka katakan disukai dan tidak disukai.
Ditemukan bahwa jabatan seseorang dapat menggambarkan dengan
baik pandangan hidupnya maupun cara mendapatkan penghasilan.
Selain itu, juga disarakan bahwa kalau pandangan hidup ini dapat
diukur, ini mungkin dikaitkan dengan pilihan jabatan yang telah
ditetapkan oleh seseorang. Dalam SVIB, Strong dengan teliti memilih
item-item dimana anak remaja akan mengetahui atau mampu untuk
membayangkan item-item yang membeberkan tanggapannya yang
memerlukan pengalaman kerja. Salah satu contoh item SVIB ini
adalah di mana para calon diminta untuk menjawab “L” untuk
aktivitas yang disenangi (like), “I” (indiffferent) untuk aktivitas
biasa-biasa saja, atau “D” (dislike) untuk aktivitas yang tidak
disukai, yaitu sebagai berikut.
L I D
1 Aktor . . .
2 Ilmu Tumbuh- . . .
tumbuhan
3 Golf . . .
4 Menulis Laporan . . .
5 Orang Religius . . .
b. Inventori John L. Holland
Menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1994: 97) arah
pilihan jabatan ditentukan oleh kekuatan dan preferensi atau enam tipe
kepribadian, yaitu:
No Tipe Kepribadian Bidang Jabatan
1 Realistis: karakteristik dari tipe Mekanikal, teknikal,
realistik didasarkan atas prefensi dan elektrikal
terhadap aktivitas yang melibatkan
keteraturan atau manipulasi yang
sistematis mengenai obyek, alat-alat
dan mesin.
2 Investigatif: didasarkan atas Kompetensi ilmiah dan
preferensi terhadap aktivitas yang matematika
melibatkan penelitian kreatif tentang
alam, biologi, dan fenomena alam.
3 Artistik: didasarkan atas preferensi Kompetensi artistik,
terhadap aktivitas yang tidak musik, bahasa, seni,
berstruktur, menciptakan bentuk-bentu drama, dan menulis
seni yang baru.
4 Sosial: didasarkan atas preferensi Kompetensi hubungan
terhadap aktivitas-aktivitas yang antar manusia.
melibatkan orang lain dengan cara
memberikan informasi, mendidik,
mengarahkan, mengembangkan, dan
pengobatan.
5 Enterprising: didasarkan atas Kompetensi
preferensi terhadap aktivitas-aktivitas kepemimpinan,
yang melibatkan orang lain untuk persuasif dan
menvcapai tujuan organisasi dan interpersonal.
keuntungan ekonomis.
6 Konvensional: didasarkan atas Hal-hal bersifat
preferensi terhadap aktivitas-aktivitas hitungan dan
yang melibatkan keteratiran dan kompetensi sitem
manipulasi data secara sistematis bisnis.
dalam rangka penyimpanan data,
mengola data, mengisis bahan,
memproduksi bahan untuk mencapai
tujuan organisasi dan tujuan ekonomis.
Holland selanjutnya mengungkkapkan bahwa masing-masing tipe
inndividu adalah juga memiliki karakteristik perasaan tidak
suka/senang, khususnya terhadap tipe aktivitas tertentu:
1) Realistis : tidak senang terhadap aktivitas sosial dan
pendidikan
2) Investigatif : tidak suka terhadap aktivitas persuatif, sosial dan
repetitif.
3) Artistik : tidak senang dengan aktivitas-aktivitas klerikal,
bisnis, dan aktivitas yang sistematis.
4) Sosial : tidak suka dengan aktivitas manual dan teknik
yang melibbatkan bahan-bahan dan mesin
5) Enterprising : tidak suka dengan aktivitas sistematis, ilmiah dan
observasi.
6) Konvensional : tidak suka dengan aktivitas artistik, tidak
berstruktur, dan tidak sistematis.
Kemudian Holand menyimpulkan bahwa untuk beberapa tipe
kepribadian, jabatan berisi beberapa karakteristik yang kongruen
dengan tipe ini. Yang dapat digambarkan dengan model hexagonal.
c. KPR (Kuder Preference Record)
KPR dirancang untuk menilai lapangan minat sebagai berikut:
1) Minat terhadap ilmu pengetahuan
2) Layanan sosial
3) Minat literer
4) Minat mekanis
5) Minta terhadap alam sekitar
6) Minat klerikal
7) Minta hitung menghitung
8) Minta persuasif
9) Minat seni
10) Minat musik
Setiap item KPR berisi hanya satu kelompok dari tiga jabatan yang
pernyataannya dikaitkan dengan suatu aktivitas. Dalam menjawab
item KPR setiap individu dituntut untuk memberi tanda terhadap
aktivitas yang paling disukai dan paling tidak disukai. Jadi dalam
setiap tiga rangkaian aktivitas hanya dua dari tiga aktivitas yang
dijawab. Beberapa tipe jawaban ini diperlukan karena seseorang dapat
mengidentifir aktivitas-aktivitas yang paling disukai dan paling tidak
disukai tanpa memperhatikan apakah ia suka, tidak suka ataukah
biasa-biasa saja (ragu-ragu) terhadap ketiga aktivitas ini.
d. Career Decision Making System
CDM dikembangkan oleh T.F. Harrington dan A. O’Shea
berdasarkan teori Holland kemudian dikembangkan menjadi tipe-tipe
okupasi diantaranya: crafts (realistic); scientific (investigative);
arts,artistic); business (enterprise); clerical (conventional) dan social
(social). CDM digunakan untuk mengukur minat jabatan siswa SLTP
sampai orang dewasa
e. The Safran Student’s Interes Inventory (SSII)
Inventory Minat Siswa Model Safran mengungkap tiga aspek yaitu
Inventori Minat Jabatan, Minat terhadap Mata Pelajaran, dan Taraf
Kemampuan.
1) Inventori Minat jabatan
Dalam inventori ini diungkap tujuh lapangan jabatan yaitu
sebagai berikut:
a) Ekonomis; menunjukkan suatu keinginan terhadap pekerjaan
dalam beberapa lapangan jabatan yang berkaitan dengan dunia
bisnis.
b) Teknikal; menunjukkan suatu pilihan untuk bekerja dengan alat-
alat dan mesin-mesin.
c) Outdoors; menunjukkan suatu pilihan terhadap pekerjaan yang
berhubungan dengan orang-orang dilapangan.
d) Pemebri layanan (servis); menunjukkan suatu minat yang
berhubungan dengan kebutuhan untuk bertemu dan berkumpul
dengan orang, yaitu kebutuhan untuk berhubungan lebih dekat
dengan waktu yang singkat, mulai dari memberi perlindungan
sampai dengan membantu pelanggan.
e) Humane; menunjukkan suatu minat yang berhubungan dengan
kebutuhan untuk bertemu dan berkumpul dengan orang seperti
pasien/klien dalam jangka waktu yang lama dalam bidang,
seperti pendidikan dan kesehatan.
f) Artistik; menunjukkan suatu minat terhadap pekerjaan yang
kreasi dengan menggunakan bahan-bahan, seperti menggunakan
cat, alat cetak, musik atau media lainnya.
g) Ilmu pengetahuan; menunjukkan suatu minat dalam pekerjaan
yang melibatkan rumus-rumus, persamaan, atau peralatan ilmu
lainnya.
2) Minat terhadap mata pelajaran sekolah
Daftar minat untuk mata pelajaran disekolah ini bersifat
fleksibel. Siswa tidak perlu member nilai terhadap mata pelajaran
yang tidak diberikan disekolah. Jika sepuluh mata pelajaran yang
dinilai maka mereka hanya akan mengisi empat kotak dalam
bagian yang menarik dan disenangi. Sebelas mata pelajaran
sekolah yang dicakup dalam inventori model Safran ini ialah:
a) Pendidikan seni
b) Bahasa inggris
c) Bahasa Asing
d) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
e) Praktek Laboratorium
f) Matematika
g) Music
h) Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan
i) Ilmu Pengetahuan Alam
j) Ilmu Pengetahuan Sosial
k) Keterampilan
Pemilihan terhadap minat mata pelajaran sekolah ini, siswa
hanya tinggal mengisi nomor mata pelajaran dalam kotak di sebelah
kata: paling disukai, hampir paling disukai, dan paling tidak disukai
terhadap sebelas mata pelajaran.
Contoh:
Mata Pelajajaran Plihan
a) Pendidikan seni Paling disukai
b) Bahasa inggris
c) Bahasa Asing
d) Pendidikan Kesejahteraan Hampir Paling
Keluarga Disukai
e) Matematika
f) Praktek Laboratorium Agak Disukai
g) Music
h) Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan
i) Ilmu Pengetahuan Alam Hampir tidak disukai
j) Ilmu Pengetahuan Sosial
k) Keterampilan Paling tidak disukai

3) Menilai sendiri taraf kemampuan


Yang dicakup dalam inventori ini adalah:
a) Kemampuan akademis (akademik ability)
Pekerjaan yang ditetapkan bergantung pada kemampuan
akademis seseorang. Oleh karena itu kemampuan akademis itu
sendiri tidaklah selalu menentukan pekerjaan yang bisa
diperoleh seseorang. Pekerjaan tertentu memerlukan kerja keras
akan membantu mencapai kemajuan.
b) Kemampuan mekanikal (mechanical ability)
Kemampuan yang berhubungan dengan mesin diperlukan
dalam banyak pekerjaan tertentu. Montir mobil, perawat gigi,
teknisi dan sebagainya memerlukan kemampuan yang tinggi
dalam bidang mekanikal.
c) Kemampuan social
Kemampuan yang berhubungan dengan pergaulan sehari-
hari acap sangat penting dan perlu dalam beberapa pekerjaan.
Misalnya guru, penjual, pekerja sosial, konselor dan hubungan
masyarakat memerlukan suatu kemapuan sosial yang tinggi.
d) Kemampuan klasikal (classical ability)
Kemampuan membuat catatan yang akan dapat
memelihara, menyimpan semua informasi dengan cepat.
Misalnya, pustakawan, juru tulis, ahli matematika, pemegang
buku, dan akuntan.
Di dalam menetapkan taraf kemampuan, siswa harus bisa
membandingkan kemampuannya sendiri dengan kemampuan
orang lain yang seusianya. Untuk membandingkan tersebut,
siswa harus menggunakan kriteria berikut:
Kelompok I : 25% dari siswa yang teratas
Kelompok II : 25% dari siswa berikutnya
Kelompok III : 25% dari siswa berikutnya
Kelompok IV : 25% dari siswa yang terakhir
Pada kelompok mana siswa itu berada, mereka harus
menentukan berdasarkan 100 orang siswa dalam kelas
(tingkatan kelas) kelompok mana yang dari 25 0rang siswa itu
diperkirakan dirinya berada, itu ditentukan oleh siswa itu
sendiri.
akademis mekanikal sosial klerikal
Setelah siswa mengadministrasikan sendiri, memeriksa
sendiri, dan membuat profil sendiri terhadap inventori ini, maka
semua skor yang diperoleh diinterpretasikan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku dan semua skor lebih lanjut dipakai angka
pemandu dalam penjajahan karir masa depannya.
4. Penggunaan Inventori Minat
Pengukuran minat penting sekali dilakukan terutama agar
konselor/guru BK mengetahui minat klien. Kemudian dalam rangka
program layanan, siswa dibuat mampu memahami dirinya (pemahaman
diri) terutama minatnya. Sehingga siswa akan mampu untuk membuat
perencanaan dan keputusan karier maupun pekerjaan sesuai dengan
minatnya pula. Inventori minat menurut Dewa Ketut Sukardi (1994: 76)
dapat digunakan untuk mengukur apakah orang suka atau tidak suka atau
senang dan tidak senang melakukan sesuatu. Dengan menilai sikap-sikap
individu terhadap sikap-sikap tertentu, akan dapat dengan mudahnya
mengukur apakah dalam aktivitas-aktivitas tertentu individu
memungkinkan akan dapat melakukan sesuatu dengan menyenangkan
atau tidak menyenangkan. Inventori minat dapat menjelaskan pola-pola
minat dan dapat mengungkapkan jangkauan minat klien yang tidak
dieksplorasi sebelumnya. Kemungkinan keputusan karir yang bijak dapat
diwujudkan.
5. Prosedur Pengembangan Inventori Minat
C. ANGKET
1. Pengertian Angket
Kuesioner berasal dari bahasa Latin, Questionaire yang berarti
suatu rangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan objek yang dinilai
dengan maksud untuk mendapatkan data/informasi (A. Muri Yusuf, 2011:
110). Selanjutnya, menurut Wayan Nurkancana (1994: 45) angket atau
kuesioner adalah salah satu metode pengumpulan data dengan jalan
mengajukan suatu daftar pertanyaan tertulis kepada sejumlah individu,
dan individu-individu yang diberikan daftar pertanyaan tersebut diminta
untuk memberikan jawaban secara tertulis pula. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penyusunan angket menurut Uma Sekaran (dalam
Sugiyono, 2010: 143) terkait dengan prinsip penulisan angket, prinsip
pengukuran dan penampilan fisik. Prinsip Penulisan angket menyangkut
beberapa faktor antara lain:
a. Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk
mengukur maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
b. Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan
responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-
istilah bahasa Inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa
Inggris, dsb.
c. Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka
artinya jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika
pernyataan tertutup maka responden hanya diminta untuk memilih
jawaban yang disediakan.
2. Jenis Angket
Wayan Nurkancana (1994: 46) membagi angket atas dua klasifikasi yaitu:
a. Menurut subyek yang dikirimi kuesioner, dibagi atas:
1) Kuesioner langsung, yaitu apabila individu yang dikirimi kuesioner
tersebut adalah orang yang secara langsung kita inginkan datanya.
Misalnya kita ingin mengumpulkan data tentang kebiasaan belajar
para siswa di rumah. Maka kuesionernya langsung kita berikan
kepada siswa yang diberikan.
2) Kuesioner tidak langsung, maksudnya apabila kuesioner tersebut
diberikan kepada seseorang untuk memperoleh data tentang orang
lain. Misalnya untuk mengetahui kebiasaan belajar para siswa di
rumah, kuesionernya tidak langsung diberikan kepada siswa yang
bersangkutan melainkan kepada orang lain yang dianggap
mengetahui kebiasaan belajar siswa, misalnya orang tuanya atau
walinya.
b. Menurut bentuk pernyataan yang digunakan, dibagi atas:
1) Kuesioner terbuka, yakni apabila responden diberikan kesempatan
yang seluas-luasnya untuk menulis jawaban terhadap suatu
pertanyaan tertentu. Contoh bentuk kuesioner terbuka ini antara lain
adalah: “apabila anda disuruh duduk sebangku dengan orang yang
tidak anda sukai, bagaimanakah sikap anda?
2) Kuesioner tertutup, yakni apabila terhadap pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan telah disediakan sejumlah alternatif jawaban,, dan
responden tinggal memilih salah satu alternatif jawaban yang telah
disediakan.
Selanjutnya, dalam buku Deasy Riyanti (2007: 54) angket terbagi dalam
3 bentuk yaitu:
a. Angket tertutup
Yaitu angket dengan bentuk pertanyaan dimana responden tinggal
memilih jawaban yang telah tersedia. Angket tipe ini ada 2 pilihan
bentuk, yaitu (1) force choice adalah bentuk pilihan hanya dengan 2
alternatif, “ya atau tidak”. (2) multiple choice, adalah bentuk pilihan
dengan 3 atau 4 alternatif jawaban atau lebih.
b. Angket terbuka
Yaitu angket dengan bentuk pertanyaan yang memberikan
kesempatan sebebas-bebasnya kepada responden untuk memberikan
jawaban atau tanggapan.
c. Angket kombinasi
Yaitu percampuran dari kedua macam bentuk pertanyaan tersebut.
Maksudnya, dalam suatu angket terdapat pertanyaan-pertanyaan yang
bersifat terbuka dan tertutup.
Di dalam buku A. Muri Yusuf (2011: 110-111) dijelaskan
beberapa jenis kuesioner yaitu:
a. Dari segi isi, dapat dibedakan menjadi:
1) Pertanyaan fakta, adalah pertanyaan yang menayakan tentang
fakta antara lain seperti jumlah sekolah, jumlah jam belajar, jumlah
murid, tinggi dan berat peserta didik.
2) Pertanyaan perilaku, adalah apabila pendidik mengiginkan
tingkah laku seseorang peserta didik dalam kegiatan di sekolah atau
dalam proses pendidikan.
3) Pertanyaan informasi, adalah apabila melalui instrumen itu
pendidik ingin mengungkapkan berbagai informasi, atau
menggunakan fakta.
4) Pertanyaan pendapat/sikap, yakni berkaitan dengan perasaan,
kepercayaan predisposisi dan nilai-nilai yang berhubungan dengan
objek yang dinilai.
b. Menurut jenisnya kuesioner dapat dibedakan atas 3 jenis:
1) Kuesioner tertutup
2) Kuesioner terbuka
3) Kuesioner terbuka dan tertutup
3. Prosedur Penyusunan Angket
Dalam menyusun kuesioner, beberapa petunjuk yang perlu
mendapat perhatian penilai (A. Muri Yusuf, 2011: 114-115) adalah
sebagai berikut:
a. Gunakan bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah yang berlau dan
tingkat kemampuan peserta didik
b. Nyatakan pertanyaan dengan jelas dan spesifik
c. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang panjang dan kabur
d. Jangan mengasumsikan bahwa individu yang dinilai mempunyai
informasi faktual atau mempunyai pendapat dari tangan pertama. Oleh
karena itu perlu hati-hati dalam menanyakan sesuatu.
e. Tentukanlah terlebih dahulu apakah akan menggunakan pertanyaan
langsung atau pertanyaan tidak langsung
f. Tetapkan terlebih dahulu, apakah akan dibutuhkan pertanyaan umum
atau pertanyaan khusus.
g. Tetapkan pula apakah akan digunakan bentuk pertanyaan terbuka atau
pertanyaan tertutup
h. Lindungi ego peserta didik yang dinilai dengan mengajukan
pertanyaan yang tidak melibatkan diri pribadinya,
i. Hindari kata-kata yang meragukan atau kata-kata yang tidak ada
gunanya
j. Setiap butir pertanyaan hendaklah dinyatakan dengan ringkas, jelas
dan utuh
k. Susun pertanyaan yang tidak memaksa atau mengarahkan peserta
didik untuk menjawab ke satu sarah
l. Hindari kata-kata yang bersifat emosional dan sentimentil
m. Dalam setiap pertanyaan hanya terdapat satu konsep atau satu ide
yang ditanyakan
n. Tanyakan dulu yang lebih sederhana, kemudian secara bertahap
menjadi lebih kompleks.
o. Jangan jawaban dipengaruhi oleh gaya bahasa atau bentuk jawaban
tertentu
p. Andaikata ingin menyakan sesuatu yang bersifat spesifik dalam suatu
butir instrumen, sebaiknya kata-kata itu digaris bawahi
q. Kategori respon hendaklah mudah dipahami
r. Usahakan pengetikan dan perbanyakan yang baik dan bersih sehingga
mudah dibaca
s. Upayakan perwajahan kuesioner menarik perhatian peserta didik yang
dinilai
t. Jangan lupa memberi pengantar dan menunjukkan kriteria serta
patokan-patokan yang digunakan.
Dalam Deasy Riyanti (2007: 57) dijelaskan bahwa dalam
menyusun dan mengembangkan angket, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu sebagai berikut:
c. Gunakan kata-kata yang tidak memiliki arti rangkap
d. Susun kalimat sederhana tapi jelas
e. Hindari pemakaian kata-kata yang tidak berguna
f. Hindarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu
g. Cantumkan jawaban sebanyak mungkin, agar responden
mempunyai kemungkinan jawaban yang luas
h. Sesuaikan pertanyaan dengan kemampuan dan keadaan responden
i. Hindarkan kata-kata yang bersifat negatif ataupun sugestif
j. Pertanyaan jangan memaksa untuk dijawab
k. Bentuk terstruktur yang tertutup lebih baik digunakan dari pada
bentuk yang terbuka
l. Pertanyaan jangan menuntut responden untuk berfikir terlalu ruwet
m. Gunakan kata-kata yang netral, tidak menyinggung perasaan dan
harga diri responden.
Petunjuk yang kebih teknis dalam membuat kuesioner menurut
Nana Sudjana (2011: 71) adalah sebagai berikut:
a. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner
sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
b. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah. Kalau
perlu berikan contoh.
c. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan identitas
responden. Dalam identitas ini sebaiknya tidak tidak meminta
mengisi nama. Identitas cukup mengungkapkan jenis kelamin, usia,
pendidikan, pekerjaan, pengalaman, dan lain-lain yang ada
kaitannya dengan tujuan kuesioner.
d. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian
sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah
mengolahnya.
e. Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak
membingungkan dan salah mengakibatkan penafsiran
f. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan yang lainnya harus
dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang
sistematis. Hindari penggolongan pertanyaan terhadap indikator
atau persoalan yang sama
g. Usahakan agar kemungkinan jawaban, kalimat, atau rumusan tidak
lebih panjang dari pada pertanyaan.
h. Kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan
dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak objektif
lagi.
i. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan si pengisi
untuk menjamin keabsahan jawabannya.
D. DAFTAR CEK MASALAH (DCM)
1. Pengertian DCM
Secara definisi Cross and Groundlund (1973) mengatakan, “check
list a list of characteristics or criteria which requires a simple check of
whether or not each item on the list has been met”. Dapat diartikan
“daftar lis yaitu satu set daftar karakteristik atau kriteria yang memerlukan
jawaban sederhana, misalnya dengan tanda cek (√), apabila setiap item
dalam daftar yang telah terpenuhi”.
Menurut Zainal Arifin (2011: 164) daftar cek adalah suatu daftar
yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati. Daftar cek dapat
memungkinkan guru sebagai penilai mencatat tiap-tiap kejadian yang
betapapun kecilnya, tetapi dianggap penting. Ada bermacam-macam
aspek perbuatan yang biasanya divcantumkan dalam daftar cek, kemudian
tinggal memberi tanda centang (√) pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai
hasil penilaiannya. Sukardi (2012: 172) mengemukakan bahwa pada
prinsipnya, daftar lis adalah metode mencatat apakah suatu karakteristik
ada atau tidak ada pada suatu subjek atau objek yang dievaluasi.
2. Tujuan DCM
Adapun tujuannya dalam pendidikan dapat digunakan untuk (A. Muri
Yusuf, 2011: 121):
a. Mendorong pendidikan ke arah yang lebih baik
b. Membantu dalam perencanaan kurikulum
c. Perbaikan dalam administarsi sekolah.
Selanjutnya, Sukardi (2012: 172) mengemukakan bahwa terdapat dua
fungsi utama DCM yang dapat digunakan untuk:
a. Mengevaluasi kualitas pribadi siswa
b. Memberikan penghargaan proses serta produk yang dihasilkan dari
hasil pembelajaran siswa.
3. Penyusunan DCM
Sukardi (2012: 176) mengemukakan beberapa cara atau langkah
penting penting yang dianjurkan untuk mengembangkan dan
mendapatkan daftar lis yang baik yaitu:
c. Identifikasi dan cata semua kriteria atau karakteristik yang
diutamakan, kriteria harus berkaitan langsung dengan kualitas subjek
atau subjek yang dievaluasi.
d. Edit semua item karakteristik secara teliti untuk memberikan
konsistensi secara gramatik. Ini berarti bahwa setiap pernyataan harus
sejenis dengan semua pertanyaan. Jika satu item dalam bentuk kalimat
atau pernyataan maka semuanya juga dalam bentuk kalimat.
e. Kriteria atau perilaku diatur dalam sistematika logis. Item sejenis
dikumpulkan sesuai dengan urutan yang dapat diobservasi sesuai
dengan keadaan nyata.
f. Semua item sebaiknya dinyatakan dalam cara yang sama, misalnya
dalam kalimat positif atau kalimat negatif. Kombinasi antar kalimat
positif dan negatif dengan jawaban ya atau tidak akan
membingungkan siswa yang akan dievaluasi,
g. Petuntuk atau arah sebaiknya dinatakan secara singkat atau ringkas,
dan ditempatkan pada posisi sebelum item daftar lis.
h. Proses pengecekan pada setiap tindakan/urutan nomor sedapat
mungkin dalam sequensial atau berurutan dapat dilakukan dengan cara
sederhana.
4. Pengadministrasian DCM
(Rosma, 2015) mengemukakan bahwa pada penggunaan asesmen
DCM, konselor perlu memahami prosedur pengadministrasian yang
benar, sehingga proses pelaksanaan berjalan baik dan hasil data yang
diperoleh memiliki akurasi yang baik. Beberapa prosedur yang harus
dilakukan meiliki beberapa tahapan, yaitu:
a) Perencanaan
 Menetapkan waktu, sasaran, dan jumlah peserta didik yang
akan mendapat layanan asesmen.
 Menyiapkan lembar asesmen DCM sesuai jumlah peserta
didik
 Menyiapakan lembar jawaban DCM.
 Menyiapkan ruang dengan situasi tentang, pencahayaan
yang baik, dan kursi yang nyaman.
b) Pelaksanaan
 Memberikan verbal setting sebelum memulai (menjelaskan
tujuan, manfaat, dan kerahasiaan.
 Meminta individu menyiapkan alat tulis.
 Membagi lembar asesmen dan lembar jawaban DCM.
 Memberi instruksi cara pengerjaan DCM.
 Menginformasikan bahwa pengerjaan DCM tidak memiliki
batas waktu.
 Melakukan pemeriksaan ketepatan peserta didik dalam cara
mengisi DCM.
 Megumpulkan hasil DCM.
c) Pengolahan Hasil
 Konselor merupakan pengolahan hasil DCM dengan
melakukan perhitungan secara kuantitatif menggunakan
format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah dilakukan.
 Berdasarkan hasil pengolahan secara kuantitatif, konselor
melakukan analisis secara kualitatif.
 Pengolahan hasil DCM harus dilakukan paling lambat satu
minggu setelah pengisian, mengingat permasalahan
individu bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan.
KEPUSTAKAAN

A. Muri Yusuf. 2011. Asesmen dan Evaluasi Pendidikan.

Deasy Riyanti. 2007. Instrumen BK Non-Tes. Lampung: Bandar Lampung.

Dewa Ketut Sukardi. 1994. Tes dalam Konseling Karir. Surabaya: Usaha
Nasional.

Nana Sudjana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Rosma. 2015. Daftar Cek Masalah.


https://blog.uad.ac.id/rosma1400001153/daftar-cek-masalah-dcm-salah-
satu-instrumen-dalam-bimbingan-konseling. Diakses 5 November 2017.

Sukardi. 2012. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi


Aksara.

Wayan Nurkancana. 1993. Pemahaman Individu. Surabaya: Usaha Nasional.

Zaenal Arifin. 2011. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip Teknik Prosedur. Bandung:


PT Remaja Rosdakarya.