Anda di halaman 1dari 14

KITAB ISSENGNGI MAJEPPU:

Naskah LTMM-IX

The Manuscript of Issengngi Majeppu: Script LTMM-IX

Idham

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar


Jl. A.P. Pettarani No. 72 Makassar
Email: idbodi@yahoo.co.id

Naskah diterima tanggal 17 Februari 2015. Naskah direvisi tanggal 02 Maret 2015. Naskah disetujui tanggal 22 Mei 2015

Abstrak

Issengi Majeppu adalah salah satu manuskrip (naskah kuno) yang ditemukan di Kecamatan Sendana
Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Sebagai naskah kuno, ia tidak banyak tersebar di masyarakat awam,
karena umumnya naskah kuno tersebut disakralkan oleh pemiliknya dan hanya dapat diakses oleh
kalangan tertentu. Selain itu, sebagai naskah yang ditulis pada puluhan tahun yang silam, naskah kuno
kurang bersahabat dengan dengan orang-orang belakangan, baik dari segi bahasa, aksara dan razam
yang digunakan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini berusaha mengungkap isi kitab Issengi
Majeppu (LTMM-IX) dengan menggunakan pendekatan filologi. Kajian terhadap naskah tersebut
ditemukan bahwa, naskah ini ditulis dalam bahasa Bugis dengan aksara hurufu’ serang (pegon) razam
naskhi. Setiap tema bahasan diantarai basmalah dan pada bagian tersebut terdiri atas beberapa pasal.
Untuk mengungkap isi, peneliti terlebih dahulu melakukan transliterasi dan penerjemahan. Kitab
Issengi Majeppu merupakan kitab tasawuf yang di dalamnya membahas syariat, thariqat, hakikat, dan
ma’rifat, selain itu, kitab ini menyelipkan ilmu hubungan suami istri dan ilmu kekebalan.

Kata kunci: naskah klasik, manuskrip, issengi majeppu.

Abstract

Issengi Majeppu is one of the ancient manuscripts (codex) found in Sendana district, Majene regency, West
Sulawesi Province. As ancient manuscript, it was not widely spread in public because most of them were sacred
by its owner and could only be accessed by certain people. In addition, as a script written in tens of years ago,
the ancient manuscripts are less friendly to the people later, in terms of language, literacy, and razam used.
Based on this background, this article tried to reveal the contents of the Book of Issengi Majeppu (LTMM-IX)
by using the philology approach. The study on the manuscript found that it was written in Bugis language with
the hurufu script (pegon) of razam naskhi. Each theme of discussions mediated with basmalah and the piece
is composed of several chapters. To reveal the contents, the researcher firstly carried out transliteration and
translation. The Book of Issengi Majeppu is the mysticism (tasawwuf) book discussing shariat, tariqat, hakikat,
and ma’rifat. Besides it slipped the knowledge of marital relationship and the knowledge of invulnerability.

Keywords: classical manuscript, manuscripts, issengi majeppu.

PENDAHULUAN demikian, dari tulisan-tulisan ini dapat diperoleh

N
gambaran lebih jelas mengenai alam pikiran,
askah-naskah lama banyak menyimpan adat istiadat, kepercayaan, dan sistem nilai orang
sejumlah hikmat berupa nilai-nilai luhur pada zaman lampau, suatu pengertian yang tidak
warisan nenek moyang bangsa yang mungkin tercapai jika bahan-bahan keterangan
sampai sekarang masih relevan dengan kehidupan hanya terdiri dari peninggalan material (Ikram,
masyarakatnya (Soeratno, 1996: 22). Dengan 1987: 3).

Kitab Issengngi Majeppu (Teks Atas Naskah LTMM-IX) - Idham |67


Menurut Djamaris (1993: 19) banyak di antara dan kebudayaan bangsa tersebut, merupakan karya
naskah-naskah lama yang mengandung ide yang lama yang tertulis dalam berbagai huruf dan bahasa
besar, buah pikiran yang luhur, pengalaman jiwa daerah di mana naskah itu lahir.
yang berharga, pertimbangan-pertimbangan yang Perhatian para peneliti naskah di Indonesia
luhur tentang sifat baik dan buruk, rasa penyesalan terhadap naskah-naskah tersebut belum signifikan
terhadap dosa, perasaan belas kasihan, pandangan bila dibandingkan dengan jumlah naskah yang ada.
kemanusiaan yang tinggi, dan sebagainya. Di Padahal kalau mau ditelusuri lebih jauh naskah-
samping itu, naskah kuno merupakan salah satu naksh tersebut mengandung nilai-nilai yang
sumber informasi kebudayaan daerah masa lampau begitu berarti, karena dengan membaca naskah
yang sangat penting. tersebut maka generasi sekarang dapat mengetahui
Dalam kenyataan, masih terdapat naskah bagaimana intelektual, kapan dan dimana naskah
lama yang bertahan hidup bahkan berkembang tersebut dibuat.
pada kehidupan masyarakat masa kini. Hal ini Selain naskah-naskah yang ada pada
menginformasikan beragamnya bahan yang pernah perpustakaan Nasional, tak disangkal bahwa
dikenal oleh bangsa Indonesia dan selanjutnya masih banyak naskah-naskah yang ada di tangan
dapat mengungkapkan perkembangan pemakaian masyarakat. Salah satu diantaranya adalalah
bahan bagi naskah-naskah Indonesia. Hasil studi Issengngi Majeppu, naskah ini belum pernah didata
demikian akan menginformasikan pula kemajuan atau belum digarap oleh para peneliti, khususnya
berfikir dan kreativitas bangsa dalam menciptakan peneliti naskah. Bahkan menurut informasi dari
sarana penyampai buah pikirannya (Soemantri, pemiliknya, naskah tersebut belum terkatalog. Judul
1986; Mulyadi, 1994). Lebih lanjut Ilyas (2011: 1) naskah ini diberikan oleh penulis, nomor kode
LTMM-IX yang diberikan oleh pemiliknya. Issengngi
mengatakan bahwa naskah berkaitan erat dengan
Majeppu diambil dari kata pertama naskah tersebut.
kecakapan baca tulis dan kemajuan peradaban
Naskah ini terdiri dari 135 halaman dengan huruf
masyarakat pendukungnya pada masa lampau, isi
hijaiyah (huruf Serang), kitab ini berisi tentang
teks dalam naskah dapat memberikan kesaksian
syariat, thariqat, hakikat, dan ma’rifat.
yang dapat berbicara langsung kepada kita melalui
Banyak kendala yang dihadapi dalam
bahasa yang tertuang di dalam tulisan tersebut. mentransfer ilmu pengetahuan yang ada dalam
Oleh karena itu naskah memegang peranan penting naskah. Salah satu kendalanya adalah masalah
dan strategik pada hampir semua aspek kehidupan huruf dan bahasa yang digunakan naskah tersebut.
(Yusuf, 2012: 1-22). Melihat kenyataan tersebut, maka para peneliti
Bertolak dari uraian di atas, pelestarian berusaha mentransliterasi dan menterjemahkan
budaya intelektual berupa tulisan tangan yang naskah-nasakah tersebut ke dalam berbagai bahasa.
terekam dalam berbagai bahan seperti bambu, kulit Naskah yang menjadi fokus penelitian yaitu naskah
kayu, daun lontar, maupun kertas, sangat perlu Issengngi Majeppu, koleksi Abdul Muis Mandra
dilakukan mengingat perkembangan kebudayaan dengan kode LTMM-IX.
Indonesia dapat dipahami melalui kajian-kajian Berdasarkan latar belakang di atas, tulisan
naskah lama. Demikian pula dengan pandangan- ini mengemukakan pertanyaan penelitian, yaitu:
pandangan serta cita-cita yang menjadi pedoman Bagaimana deskripsi naskah Issengngi Majeppu
hidup nenek moyang kita, tertuang di dalam naskah kode LTMM-IX? Dan apa isi kandungan naskah
klasik tersebut (Hinta, 2005: 26-28). Issengngi Majeppu kode LTMM-IX tersebut?.
Pradotokusumo (1984: 60) mengatakan bahwa Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui
suatu karya yang berwujud teks dan tertulis dengan deskripsi naskah Issengngi Majeppu kode LTMM-
bahasa yang khas itu tidak akan berfungsi jika tidak IX dan untuk mengetahui isi kandungan naskah
ada pembacanya yang menjadi penyambut, penafsir, Issengngi Majeppu kode LTMM-IX.
dan pemberi maknanya. Sanwani mengatakan
bahwa di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta Tinjauan Pustaka
terdapat kurang lebih 10.000 naskah. Semua itu Belum ada kesepakan di antara para ahli kapan
adalah peninggalan tertulis (tulisan tangan) nenek tradisi tulis dimulai di Sulawesi Selatan dan Sulawesi
moyang bangsa Indonesia. Naskah tersebut ditulis Barat. Namun demikian beberapa ahli memastikan
pada daun lontar, kulit kayu, rotan, bambu, nipah, bahwa tradisi sudah dimulai jauh sebelum agama
dan kertas. Peninggalan bersejarah suatu bangsa Islam masuk ke Sulawesi Selatan, atau sebelum
yang dapat memberikan kejelasan mengenai sejarah tahun 1600, hal ini telah dibuktikan melalui situstu-

68 | Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 1 Juni 2015


bata tertulis di Somba Opu. Masuknya Islam di dari sistem kepercayaan maupun terhadap tatanan
Sulawesi Selatan sangat penting dijadikan patokan sosial politiknya, seperti naskah Galigo ri Gilinna
karena pada umumnya cerita kuno Sulawesi Selatan Sanapatie yang menceritakan tentang suatu masa di
dan Sulawesi Barat menuturkan berbagai kisah yang Luwu (tana Ugi) sesudah raja lahir (Sawerigading)
sama sekali tidak menyinggung masalah Islam. Jika tinrille (tenggelam) di sungai Cerekang menuju
diperhatikan scope Spacial yang dikisahkan berbagai Uri Liu (dunia bawa), maka terjadilah kekosongan
kisah-kisah kuno Bugis yang dikenal dengan nama pemerintahan di Alekawa (Andi Zanal Abidin,
Galigo, tampak dengan jelas bahwa kandungan 1999: 56). Periode inilah cikal bakal dari perubahan
ceritanya menyangkut zaman penghujung abad kehidupan masyarakat di Sulawesi Selatan dan
ke-14 hingga awal abad ke-17, pada periode awal Sulawesi Barat. Paeni (2003) mengistilahkan dengan
masuknya Islam di Sulawesi Selatan. masa pencerahan, karena nama-nama perilaku
Namun demikian perkiraan abd ke-14 mulai yang ada dalam naskah tersebut, sebahagian sudah
titik perhatian, karena ketika itu nama-nama menggunakan nama-nama Islam, seperti Borahima
seperti Majapahit muncul dalam pengkisahan (Ibrahim), Semaila, Sumaila (Ismail), Jiberele
dan banyak disinggung dalam lontara-lontara (Jibril), Hammadong (Ahmad).
Bugis. Jika sekiranya kisah-kisah kuno Bugis telah Dalam perkembangan selanjutnya, ajaran
ditulis sebelum abad ke-14, maka tentulah bukan Islam mempengaruhi naskah-naskah klasik baik
Majapahit yang disebutnya. Dengan demikian dapat dari aspek kepercayaan, kesusasteraan, dan sosial
diduga bahwa lontara-lontara kuno Bugis telah kemasyarakatan lainnya. Pada aspek kepercayaan
ditulis dalam rentang waktu yang panjang, paling sudah mulai berubah dari animisme-dinamisme
tidak dari abad ke-14 hingga awal abad ke-17. ke Islam; sedang pada aspek kesusasteraan juga
Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya naskah mengalami pengaruh yang besar seperti syair-syair
Galigo (Rol 41, N0. 9) di Luwu berjudul: Lontara sudah mulai mengadopsi ajaran-ajaran Islam, pada
Purukani Asellengeng (Islam). Penulisan kisah aspek sosial kemasyarakatan terlihat terutama pada
yang melalui perjalanan sejarah dalam rentang acara-acara perkawinan dan adat istiadat lainnya,
waktu yang panjang ini, menjadikan kisah yang Penataan masyarakat dalam kerajaan-kerajaan
termuat di dalamnya sangat kaya dengan berbagai lokal di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat
legenda dan informasi sejarah. Naskah-naskah mengalami masa kemarakan dalam abad ini, sejak
semacam ini sangat penting artinya bagi studi sosial datangnya tomanurung sebagai konseptor kekuasaan
kemasyarakatan. Karena melalui naskah-naskah yang membangun negeri-negeri menjadi kerajaan-
ini dapat diperoleh pengetahuan tentang fluktuasi kerajaan yang lebih luas wilayah teritorialnya dan
kehidupan yang dialami suatu masyarakat. semakin banyak pula petugas penyelenggaraan
Perubahan-perubahan bentuk tatanan sosial kekuasaannya atas rakyat yang semakin banyak
kemasyarakatan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi pula jumlahnya, memerlukan penataan masyarakat
Barat tidak sekedar terjadi sebagai perubahan lebih baik pula. Pangaderreng merupakan konsep
biasa, tetapi sebenarnya perubahan itu menandai dasar dalam penataan masyarakat Sulawesi Selatan
terjadinya suatu pergantian tatanan kemasyarakatan, dalam kerajaan-kerajaan lokal masing-masing.
kehidupan sosial politik secara ideologi yang Pangaderreng sebagai aturan-aturan adat, sistem
dianut secara total. Perubahan ini sangat besar norma, dan tatanan nilai yang sangat ideal, yang
artinya, karena yang berubah bukan hanya simbol berlaku bagi masyarakat Bugis-Makasar sebagai
dan perlambang dalam masyarakat. Perubahan- pandangan hidupnya secara timbal balik terhadap
perubahan seperti ini tidak hanya berguna untuk pranata sosial lainnya. Pangaderreng mempunyai
studi naskah dan studi terhadap karya tulis yang empat unsur, yakni: ade, bicara, rapang, dan
lahir dalam masa perubahan-perubahan itu, tetapi wari’. Setelah datangnya Islam, maka masuklah
juga satu studi tentang panorama kehidupan masa sara’ (syariat Islam) sebagai unsur kelima yang
lampau yang masih dapat ditangkap oleh orang yang mewarnai atau mendominasi dan bahkan menjadi
mau memahami kearifan sejarah masyarakatnya. penyempurna dari keempat unsur yang ada dalam
Selain naskah tersebut di atas, terdapat naskah- pangaderreng, demikian halnya di Mandar, setelah
naskah klasik di Sulawesi Selatan dan Sulawesi datangnya Islam dikenal istilah Punggawa Sara’ dan
Barat yang memuat tentang terjadinya suatu Puakkali.
perubahan besar dalam kehidupan masyarakat baik Di sisi lain, perkembangan naskah klasik
seiring dengan perkembangan tradisi besar yang

Kitab Issengngi Majeppu (Teks Atas Naskah LTMM-IX) - Idham |69


mengemukakan di atas, beragam naskah tersimpan poranda, ketika itulah terjadi lagi degredasi pemilik
di istana dan rumah-rumah bangsawan tinggi naskah. Selain itu naskah-naskah yang ada oleh
serta pembesar kerajaan di pusat-pusat kekuasaan pihak kolonial dirampas dan disita lalu dikirim ke
tradisional, pada zaman ini berlangsung sekitar negaranya sebagai bahan atau informasi tentang adat
tiga abad lamanya. Naskah klasik menjadi sumber dan sosial kemasyarakatan, sehingga naskah-naskah
berbagai ilmu pengetahuan dibaca dan dipelajari klasik tersimpan dengan baik bahkan cenderung
oleh para intelektual zamannya. Kutika (berisi disakralkan, bahkan naskah merupakan simbol
tentang perhitungan hari, baik dan buruk), misalnya status bagi pemiliknya sehingga naskah tersebut
tidak hanya memuat berbagai ramalan tentang hari tidak bisa dibuka atau dibaca secara langsung untuk
baik dan buruk atau tentang nasib peruntungan, membukanya diperlukan berbagai syarat tertentu
tetapi juga membicarakan tentang pertanian. (Idham, 2011).
Naskah semacam ini sangat penting artinya dalam Pada posisi seperti itu, sebuah naskah sulit
tatanan kehidupan masyarakat yang dikenal sebagai untuk didekati apalagi dibaca, disentuh pun
masyarakat agraris, begitu juga terhadap kehidupan harus melalui berbagai persyaratan. Hal seperti
nelayan dan perantau (passombal-passompe-pallopi) ini merupakan kasus yang seringkali ditemukan
dalam menentukan arah dan tujuan ke mana hendak dengan berbagai cerita dan keunikan serta keakralan
berlabu. naskah tersebut, meskipun isi dan kandungannya
Naskah klasik khususnya kutika yang hanya merupakan pangajaran fiqih, kisah nabi, dan
memuat astrologi tradisional ditulis berdasarkan sahabat-sahabatnya, atau cerita klasik lainnya.
pengalaman yang berulang-ulang yang cukup Naskah-nasakah klasik Islam di Sulawesi,
lama. Ketika tradisi besar itu runtuh, sejak saat itu selain memuat ajaran-ajaran Islam dari segi ibadah
tidak pernah ada lokal scholar yang mencurahkan dan muamalah, juga memuat tentang sejarah Islam,
hidupnya untuk mengamati gejala dan perubahan maupun pelaku sejarah Islam yang berkaitan dengan
alam dan merevisi kembali naskah-naskah yang penyebaran Islam. Harus diakui bahwa ternyata
tidak sesuai lagi. Namun, perkembangan lain dari naskah-naskah klasik Islam di Sulawesi masih
naskah yang memuat tentang jenis-jenis penyakit banyak yang belum terinventarisasi terutama yang
dan resep pembuatan obat mengalami kemajuan, dimiliki orang perseorangan di berbagai pelosok
sama halnya dengan naskah-naskah yang memuat pedalaman Sulawesi, dan bahkan yang sudah
tentang teknilogi pembuatan benteng-benteng terinventarisasi pun mengalami berbagai kendala
kerajaan dan teknologi persenjataan, yang ketika dalam pelestariannya karena kurangnya minat
itu menjadi prioritas utama bagi sistem pertahanan dan kemampuan generasi kaum terpelajar untuk
pantai yang dikenal dengan lontarak ba’dili lompo membaca dan mengkaji naskah-naskah tersebut.
milik kerajaan Gowa abad ke-17 (Paeni, 2003).
Naskah-naskah sumber ilmu pengetahuan METODE PENELITIAN
semacam ini pada umumnya hanya dimiliki oleh Dalam penelitian filologi, ada tujuh tahapan
pendukung tradisi besar di puast-pusat kekuasaan, yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) pengumpulan
akan tetapi ajak runtuhnya kerajaan-kerajaan naskah, 2) mendeskripsikan naskah-naskah, 3)
besar di Sulawesi, atau masuknya dominasi asing perbandingan naskah, 4) pertimbangan naskah,
pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20, yang 5. penentuan naskah yang autoritatif dengan
berlangsung kurang lebih 2,5 abad. Naskah-naskah menerapkan metode obyaktif, 6) suntingan teks,
klasik yang memuat berbagai informasi tentang dan 7) transliterasi (Hinta, 2005: 26-28; Ikhwan,
iptek bunga rampai budaya dan agama berpindah 2009: 377).
tangan ke generasi pewaris kekuasaan tradisional Metode penelitian filologi yang dilakukan
yang lebih rendah tingkat sosialnya, mereka hidup menggunkan naskah tunggal kemudian deskripsi,
secara terpisah-pisah di berbagai kerajaan-kerajaan transliterasi, dan terjemahan naskah.
kecil atau pada keturunannya di pusat kekuasaan Pengolahan dengan menggunakan metode
kolonial. deskriptif. Naskah Kitab Issengngi Majeppu, mulai
Ketika penguasa kolonial Belanda melakukan dari nomor naskah, judul naskah, kode naskah, asal
ekspedisi penaklukan di awal abad ke-20 terhadap naskah, bahasa naskah, ukuran naskah, ukuran teks,
kekuasaan tradisional di Sulawesi dan akan keadaan naskah, tebal naskah, jumlah halaman, dan
diterapkan satu sistim kontrol kekuasaan, pusat lain-lain. Selanjutnya adalah metode transliterasi
kekuasaan tradisional yang ada di Sulawesi porak dan menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

70 | Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 1 Juni 2015


serta mengklasifikasi isi kandungan naskah tersebut. dalam hal ini penulis mengemukakan isi kandungan
Tahap transliterasi adalah penyalinan dengan setiap bagian dan pasal yang ada. Adapun hasil
penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad transliterasi dan terjemahan menjadi dokumen arsip
yang lain (Depdikbud, 2002: 1209). Transliterasi penulis, karena yang di paparkan dalam tulisan ini
dimaksudkan sebagai penggantian jenis tulisan, hanyalah isi kandungan naskah yang sudah dibagi
huruf, dan abjad ke abjad yang lain (Djamaris, dalam beberapa bagian dan pasal.
1977: 29). Selanjutnya, Djamaris (1991: 197) juga
mengatakan bahwa salah satu tugas filolog dalam PEMBAHASAN
transliterasi adalah menjaga kemurnian bahasa Deskripsi Naskah Issengngi Majeppu Kode
lama dalam naskah, khususnya dalam penulisan LTMM-IX
kata. Penulisan kata yang menunjukkan ciri ragam Naskah Kitab Issengngi Majeppu Kode LTMM-
bahasa lama dipertahankan bentuk aslinya. Hal IX ditemukan di Kecamatan Sendana Kabupaten
yang perlu diperhatikan sebagai salah satu pedoman Majene Provinsi Sulawesi Barat. Pemilik naskah
dalam transliterasi adalah ejaan dan ciri khusus adalah Abdul Muis Mandra, seorang budayawan
bahasa naskah. Mandar. Beliau memperoleh naskah ini tahun 1950-
Tahap penerjemahan adalah menyalin an dan tahun 60-an. Naskah ini merupakan hasil
atau memindahkan suatu bahasa ke bahasa foto copy, maka informasi tentang kertas tidak bisa
lain, mengalihbahasakan (Djamaris, 1991: dikemukakan. Menurut Muis Mandra, naskah ini
197). Terjemahan yang paling tepat ialah suatu diperolehnya di wilayah Majene, kitab ini dibawah
perpindahan teks dari suatu bahasa (bahasa oleh orang-orang Mandar yang belajar agama di
sumber) ke bahasa lain (bahasa sasaran) yang daerah Bugis (khususnya pulau Salemo). Naskah
berpadanan (Pradotokusumo, 1998: 3). Pendapat aslinya sudah tidak diketahui keberadaannya.
lain mengatakan bahwa terjemahan adalah Dari sekian banyak koleksi Muis Mandra
pengungkapan kembali pesan bahasa sumber ke (dengan kode LTMM), sebahagian besar dalam
dalam bahasa sasaran dengan padanan yang paling bentuk foto copy. Menurut pengakuannya, naskah
alamiah, yang pertama artinya, kemudian gayanya. sangat sukar diperoleh karena sebahagian pemilik
Terjemah dalam naskah ini digunakan naskah mensakralkannya. Lanjutnya, naskah yang
dua cara, yakni terjemahan secara harfiah dan diperoleh dengan cara penfotocopy juga tidak
terjemahan agak bebas. Terjemahan secara harfiah semudah yang dibanyangkan, banyak naskah yang
adalam menerjemahkan dengan menuruti teks oleh pemiliknya baru bisa dibuka dan dipinjamkan
sedapat mungkin, meliputi kata demi kata. Metode setelah ada acara ritual, berupa pemotongan satu
ini sangat terikat dengan teks dan urusan kata- dan atau dua ekor kambing.
katanya dengan tujuan menyampaikan arti teks Adapun deskripsi naskah dapat dilihat pada
secara tepat dan jujur. Adapun terjemahan secara tabel berikut:
agak bebas atau bebas adalah seorang penerjemah
diberi kebebasan dalam proses penerjemahannya Tabel 1. Deskripsi Naskah
namun kebebasannya itu dalam batas kewajaran, ia Uraian Naskah
Tempat penyimpanan Sendana Kabupaten Majene
menerjemahkan ide tulisan dan tidak terlalu terikat
Judul Issengngi Majeppu
dengan susunan bahasa tersebut, baik bahasa teks Nomor LTMM-IX
maupun bahasa yang diterjemahkan ke dalamnya. Jenis isi Tasawuf
Selain terjemahan harfiah dan terjemahan agak Bahasa Bugis dan Arab
bebas tersebut di atas, dalam penerjemahan dikenal Tanggal, tempat, dan Tidak ada
penyalinan
pula terjemahan yang sangat bebas. Penerjemahan Jumlah halaman 135 halaman
dengan sangat bebas adalah penerjemah bebas Jumlah baris perhalaman 17 baris
melakukan perubahan, baik menghilangkan bagian, Penomoran halaman Huruf Arab bagian pinggir
menambah atau meringkas teks. Cara ini tidak dapat atas
Huruf Arab (Serang)
digunakan dalam menangani teks naskah klasik
Kolom 25 x 17 cm
yang memerlukan tingkat kejujuran dan ketelitian
yang tinggi (Lubis, 1996: 75; Darutasuprapta, 1985: Adapun digitalisasi naskah, transliterasi dan
9) terjemahan naskah ini tetap disimpan oleh penulis.
Isi kandungan naskah, berfokus pada kajian Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya,
apa saja yang terkandung dalam naskah tersebut,

Kitab Issengngi Majeppu (Teks Atas Naskah LTMM-IX) - Idham |71


transliterasi dimaksudkan sebagai penggantian 1.1. Pasal No. 1
jenis tulisan, huruf, dan abjad ke abjad yang lain. Pasal ini menjelaskan tentang shalat bagi
Transliterasi sangat penting untuk memperkenalkan orang yang meninggal, mengapa harus empat takbir
teks lama dengan huruf daerah (belum populis) dan tanpa rukuk, tanpa sujud, dan tanpa duduk.
kepada masyarakat. Proses transliterasi tetap Dijelaskan, alasan sehingga pada shalat orang
mengacu dan memperhatikan pedoman baku yang meninggal dilakukan demikian karena orang
yang berhubungan dengan pembagian kata, matilah yang diganti untuk menyembah Allah swt.
ejaan, dan punktuasi. Tulisan teks-teks lama tidak Menyalati itu sangat perlu dengan memperhatikan
memperhatikan hal tersebut. Gaya penulisan teks tujuh cara, yaitu: pertama niat, kedua berdiri, ketiga
lama, hanya mengalir berupa penceritaan yang takbir, keempat membaca fatihah setelah takbir,
mengalir, tidak ada tanda-tanda baca, seperti titik, kelima membaca shalawat setelah takbir, keenam
koma, seru, tanya, dan lain sebagainya. memberi salam dan ketujuh tertib. Selanjutnya
Melihat keadaan tersebut, penulis membagi pada pasal ini dijelaskan bahwa orang yang tidak
naskah ini dalam beberapa bagian dan memberikan mengetahui perkara ini tidak dapat disebut guru.
penomoran pasal, sementara untuk mengetahui 1.2. Pasal No. 2
pemisah baris digunakan tanda strep ( / ). Pasal ini menjelaskan apabila anda ditanya
Selanjutnya dalam proses penerjemahan, peneliti mengapa shalat jenazah 4 takbirnya. Dijelaskan
menggunakan terjemahan yang lebih condong alasan sehingga dalam shalat jenazah itu 4 rakaat
kepada penerjemahan lafdziyah. Adapun tanda karena Nabi Adam diciptakan dari empat unsur,
titik tiga (...) sebagai tanda bahwa naskah asli tidak yakni: air, tanah, angin, dan api.
bisa terbaca atau tidak bisa diartikan.
2. Bagian kedua terdiri atas delapan pasal
Isi Kandungan Naskah Kitab Issengngi Majeppu Pada bagian ini dijelaskan makna dari shalat
Kode LTMM-IX lima waktu, shalat Subuh dialah sifat yang ada pada
Naskah ini setelah dicoba dibagi dalam diri, adapun shalat Dhuhur dialah yang punya
beberapa bagian, dan setiap bagian terdiri atas perbuatan, adapun shalat Ashar ialah dirinya
beberapa pasal. Pembagian setiap bagian ditandai sendiri, adapun shalat Magrib dia yang utama,
dengan lafal basmalah dan setiap bagian terdiri adapun shalat Isya dialah yang besar. Adapun shalat
atas beberapa pasal. Setelah dikaji, naskah ini witir dialah yang dicari dan dialah yang menyembah
terdiri atas delapan bagian dan 69 pasal. Berikut dirinya sendiri. Tak lupa dipaparkan resiko atau
ini dikemukakan isi kandungan setiap bagian dan ganjaran bagi mereka yang meninggalkan shalat
pasal. lima waktu, yakni apabila meninggalkan shalat
Subuh berarti orang itu telah hilang keimanannya,
1. Bagian bertama terdiri atas dua pasal. apabila meninggalkan shalat Dhuhur berarti ia tidak
Bagian ini diawali seruan agar pembaca disinari Alqur’an, bila meninggalkan shalat Ashar
mengetahui secara benar tentang syari’ah, tarekat, akan dijauhi para malaikat, bila meninggalkan
hakekat, dan ma’rifah. Syariah adalah segala yang shalat Maghrib hilanglah segala pahalanya, dan bila
diperintahkan oleh Allah dan bagaimana tata cara meninggalkan shalat Isya maka hilanglah seluruh
penyembahan; tarekat adalah diketahuinya jenis rezkinya.
perintah Allah dan menghadirkan pemberi perintah 2.1. Pasal No. 1
itu di dalam hati; hakekat adalah sampainya tujuan
Pasal ini menjelaskan tata cara memandikan
persaksian hamba kepada Allah swt. Dicontohkan
orang mati, dan sebab-sebabnya mengapa orang
dalam ibadah, melakukan shalat itu adalah syariat,
mati dimandikan.
menetapan Allah dalam perbuatan shalat adalah
tarekat, dan apabila shalat itu sampai kepada 2.2. Pasal No. 2
Allah itulah hakekat; sedangkan ma’rifah adalah Pasal ini menjelaskan tentang pertanyaan
pemahaman akan hakekat, pemahaman tentang yang diajukan oleh Mungkar di alam kubur
Yang Esa, Allah Swt. Pada bagian ini disebuykan dan menjelaskan bagaimana jabang bayi selama
salah satu ungkapan yang lazim bagi ahli tarekat: dikandung (sembilan bulan) dalam kandungan.
man ’arafa nafsahu faqad ’arafa rabbahu (siapa yang Pada pasal ini juga dijelaskan waktu dan proses
mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya). penciptaan panca indera manusia.

72 | Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 1 Juni 2015


2.3. Pasal No. 3 yang menyampaikannya kepada Allah Swt. Jika
Pasal ini yang menjelaskan awal mula membaca doa maka diniatkan lagi diri kita berada
keinginan nyawa masuk ke dalam tubuh. Ada di ka’bah membaca doa. Demikianlah tertibnya
dialog antara nyawa dengan Allah. Allah berkata shalat.
hai nyawa maukah engkau memperistrikan tubuh, 2.6. Pasal No. 6
berkatalah nyawa saya mau Tuhan. Kemudian Pasal ini menjelaskan tentang perkataan Abdul
Allah berkata lagi hai tubuh maukah engkan Kadir Jaelani. Abdul Kadir Jaelani mengajarkan
mempersuamikan nyawa, maka tubuh mengatakan apabila berdiri melakukan shalat maka niatkanlah
saya inginTuhan. Maka Allah berkata hai nyawa dirimu sebagai Alif, dan serahkanlah nyawa kepada
apa yang pengikatnya tubuh, maka nyawa berkata
Allah swt karena itulah penglihatan yang tidak
ketaaatan yang sebenarnya bersama kesabaran yang
putus terhadap Allah swt.
harus dipahami. Allah Swt bertanya kepada nyawa,
siapa yang menikahkanmu, nyawa menjawab 2.7. Pasal No. 7
ucapan yang menikahkanku, Allah bertanya lagi Pasal ini menjelaskan jika ingin kembali
siapa saksimu? dan seterusnya. kepada Allah maka hendaklah memandikan diri
2.4. Pasal No. 4 terlebih dahulu. Pada pasal ini juga dibicarakan
tentang tingkatan Dzikir, yakni La Ilaha Illallah,
Pasal ini menjelaskan Nabi Muhammad
Allah Allah, Huwa Huwa dan dzikir rahasia A A A.
Saw dan dialog nabi Nabi Khaidir dengan Nabi
Muhammad Saw. Pada pasal ini juga dijelaskan 2.8. Pasal No. 8
dialog antara nyawa dengan Allah swt, hingga bayi Pasal ini menjelaskan tentang Keesaan
tersebut dapat dilahirkan oleh ibunya. Pada akhir Allah Swt, juga dijelaskan empat tingkatan dalam
bab diinformasikan bahwa setelah bayi cukup mengesakan Allah swt. Pasal ini ditutup dengan
sembilan bulan, Allah swt memerintahkan bayi salah satu ayat yang berbunyi: huwal awwalu wal
untuk keluar dari perut ibunya untuk mengisi dunia akhiru wa dhahiru wal bathinu (Dialah Allah yang
ini, dan dipesankan agar bayi tersebut jangan sekali- awal, Dialah yang akhir, Dialah yang dhahir (nyata),
kali berpisah dengan Al Fatihah, Surah Al Ikhlas, Dialah yang tersembunyi).
dan beberapa bacaan lainnya.
3. Bagian ketiga terdiri atas empat pasal
2.5. Pasal No. 5
Pada bagian ini dipaparkan masalah taubat
Pasal ini menjelaskan tentang hakekat dan dzikir. Adapun lafadz taubat adalah ”astaghfiru
Shalat, yakni ditegakkan oleh Alif, diruku’kan allah alladzi la ilaha illa huwa al hayyu al qayyum wa
oleh Ha, disujudkan oleh Mim, dan duduk itu atubu ilaihi wa la quwwata illa bi allahi al aliyyi al
Dal. Apabila telah berdiri untuk melakukan shalat, adhim. Hal ini bagus dilakukan sekurang-kurangnya
maka niatkanlah yang berdiri itu Alif. Jika telah 100x sehari semalam jika mampu dilakukan maka
mengucapkan Usalli maka satukanlah fikiran itu lakukanlah, semakin banyak dilakukan semakin
kepada Allah Swt, jika telah dikatakan Farda Dhuhri bagus. Selain itu dipaparkan juga keutamaan dzikir
maka fikiran itu telah bersama dengan Tuhanku dan La Ilaha Illallah.
berbisik-bisik kepada Tuhan. Jika telah membaca 3.1. Pasal No. 1
Fatihah, maka menyatulah fikiran kita kepada Allah,
Pasal ini menjelaskan tentang huruf dalam
jika telah membaca surat yang lain kita seperti Nabi
shalat. Ada empat huruf dalam shalat, huruf yang
Muhammad Saw, maka niatkanlah diri kita adalah
pertama huruf Alif, kedua huruf Ha, ketiga Mim
Ha maka fikiran itu membesarkan Tuhan Jika
dan keempat Dal. Adapun Alif pada saat berdiri
telah mengucapkan “Samiallahu Liman Hamidah”
dan hakekatnya ada pada diri sendiri, yakni dzatnya
maka fikiran itu telah diketahui oleh Allah dan juga Allah Swt. Adapun huruf Ha yaitu pada saat ruku’
didengarkan-Nya. Jika sujud niatkanlah dirimu yang menunjukkan sifat-Nya Allah Swt ada pada
sebagai Mim maka fikiran itu berkata tiada Tuhan diri kita, Huruf Mim pada saat kita sujud, maka hati
selain Allah swt. Jika duduk, niatkanlah dirimu kita dinamakan Allah adapun Dal , pada saat duduk.
sebagai Dal maka berkatalah fikiran kita tidak ada
3.2. Pasal No. 2
yang lain selain Allah Swt. Jika memberi salam maka
takut dan malulah kepada Allah. Jika telah selesai Pasal ini menjelaskan tujuan shalat lima
melakukan shalat maka niatkanlah pahala shalat waktu. Selain itu dijelaskan pula maksud dari bacaan
kita disimpan di Nur Muhammad. Nur Muhammad dalam shalat, seperti membaca surah Al Fatihah. Al

Kitab Issengngi Majeppu (Teks Atas Naskah LTMM-IX) - Idham |73


Fatihah berarti pembuka. Disini dijelaskan pula ada 4.2. Pasal No. 2
lima yang menjadi pembuka, yakni pada pertama Pasal ini menjelaskan perkataan Nabi
perkataan, kedua penglihatan, ketiga pendengaran, Muhammad saw tentang orang yang dirahmati oleh
keempat penciuman, dan kelima perasaan. Itulah Allah swt.
hakekatnya lima waktu. Pada pasal ini dikemukakan
4.3. Pasal No. 3
tidah sah shalat seseorang kecuali membaca surah Al
Fatihah (la shalata illa bil fatihah). Pasal ini ditutup Pasal ini menjelaskan tentang pemahaman
dengan ungkapan al insanu sirri wa ana sirruhu yang sebenarnya. Maka hadapkanlah hati kita pada
(manusia itu rahasiaku, dan Sayalah rahasianya). perbuatan yang menguntungkan (bermanfaat).
Apabila engkau ingin mengetahui pemahaman yang
3.3. Pasal No. 3
sebenarnya kepada Allah swt maka tetapkanlah
Pasal ini menjelaskan tentang waktu-waktu penghadapanmu kepada Tuhanmu, karena
shalat, yang menurut naskah ini setiap waktu shalat barangsiapa yang tidak mengetahui tentang Tuhan-
adalah milik nabi tertentu. Seperti shalat Dhuhur Nya maka kafirlah ia. Oleh karena itu ketahui dan
untuk Nabi Ibrahim, shalat Ashar untuk Nabi Yusuf, pahamilah yang esa itu, ketahui dan pahamilah
shalat Maghrib untuk Nabi Musa, shalat Isya untuk pula yang menyeruhmu untuk mengesakan-Nya,
Nabi Musa, shalat Subuh untuk Nabi Muhammad. ketahui dan pahami pula orang yang menyembah
3.4. Pasal No. 4 itu dan juga yang disembah. Pahamilah pula yang
Pasal ini menjelaskan tentang perintah shalat menyembah, dan yang engkau sembah.
oleh Nabi Muhammad saw. Apabila engkau telah 4.4. Pasal No. 4
berdiri melakukan shalat maka syaratkanlah dirimu Pasal yang menjelaskan tentang gelar sebutan
sebagai Alif, engkau hilangkan dirimu dalam diri kita (anggota tubuh kita). Adapun asalnya yang
dzatnya Allah swt. Jika engkau telah mengetahui pertama perbuatan, kedua perkataan, ketiga fikiran.
kedatanganmu dari Allah swt dan juga kembalimu, Adapun perbuatan yang paling baik itulah orang
maka selamatlah engkau di dalam kuburmu. yang melakukan shalat, dan perkataan yang paling
baik selalu mengingat-ingat kepada Allah swt pada
4. Bagian keempat terdiri atas 35 pasal waktu siang maupun malam, adapun fikiran yang
Bagian ini menjelaskan tentang bahasa tubuh paling baik mengingat kepada Allah swt pada waktu
bagian di dalam dan tubuh bagian di luar. Ada tujuh siang maupun malam, apabila engaka melakukan
pada bagian dalam dan juga tujuh pada bagian luar. yang pertama apa-apa yang engkau lakukan
Adapun tubuh bagian dalam yakni: 1) ahdiyah, 2) maka yakinkanlah dihatimu dengan mengatakan
wahdah, 3) wahdiyah, 4) arwah, 5) alam mitsal, sesungguhnya saya dilihat oleh Allah swt dalam
6) alam ajzam, dan 7) alam insan. Adapun tubuh melakukan perbuatan itu. Jika engka berkata sesuatu
bagian luar yakni: 1) hati, 2) nyawa, 3) rahasia apapun yang engkau katakan yakinilah dihatimu
(hakekat), 4) syari’ah, 5) tarekat, 6) hakekat, dan 7) dengan bahwa sesungguhnya Allah mendengar
ma’rifah. Adapun tubuh yang paling dalam itulah apapun yang kita katakan. Apabila engkau berfikir,
’tubuh halus’. apapun yang engkau fikirkan maka yakinilah di
4.1. Pasal No. 1 hatimu dengan mengatakan bahwa sesungguhnya
Pasal ini menjelaskan tentang “nafas”. Roh Allah swt mengetahui apa yang engkau fikirkan,
Idhafih yang tinggal pada Sulbiyah itulah yang demikian itulah keberhati-hatian.
mengerakkan tubuh. Roh Nabati yang tinggal di 4.5. Pasal No. 5
pusat, yang menggerakkan hati. Roh Al A’lam yang Pasal yang menjelaskan bahwa nyawa
tinggal di buah yang menggerakkan nyawa, Roh Muhammad dinamakan ma’rifah, nyawanya
Kudus yang tinggal yang tinggal di kepala yang dinamakan hakekat, fikirannya dinamakan tarekat
menggerakkan rahasia (hakekat), dan Roh Haq dan tubuhnya dinamakan syari’ah.
yang tinggal di nafas yang menggerakkan nafas 4.6. Pasal No. 6
yang dinamakan “Cahaya Allah (Nurun Allah) yang
tinggal pada diri Allah Swt itulah yang menciptakan Pasal ini menjelaskan tentang penglihatan,
alam ini bersama isinya sehingga dinamakan apabila nyawa melihat Allah swt dinamakan rahasia.
“Cahaya Allah’ (Nurun Allah) itulah sebabnya Apabila melihat kepada alam dinamakan keyakinan.
dikatakan Allahu Nurun Samawati wal Ardhi. Apabila melihat ke akhirat dinamakan nyawa, jika
melihat ke dunia dinamakan kejelasan. Apabila
melihat pada diri kita dinamakan fikiran.

74 | Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 1 Juni 2015


4.7. Pasal No. 7 4.15. Pasal No. 15
Pasal ini menjelaskan tentang dialog antara Pasal ini menjelaskan penciptaan manusia.
Allah swt dengan nabi Muhammad tentang Adapun Alif itu cahaya dzat-nya Allah swt, adapun
penciptaannya. lam cahaya sifat-nya Allah swt, adapun Ha cahaya
4.8. Pasal No. 8 namanya Allah swt, adapun Mim itu cahaya yang
bentuknya Allah swt, adapaun Dal adalah cahaya
Pasal ini menjelaskan tentang perkataan
pada dadanya Allah swt. Itulah yang disebut
(ucapan) yang pertama-tama dimasukkan ke nyawa
“Alhamdu”.
Nabi Adam. Shalat adalah nyawa yang dijadikan
Adam dan Adam sendiri diciptakan dari empat 4.16. Pasal No. 16
unsur, yakni: api, angin, air, dan tanah. Pasal ini menjelaskan tingkatan dzikir, yakni
4.9. Pasal No. 9 La Ilaha Illallah, Huwa-Huwa, Ah Ah, dan A I U.
4.17. Pasal No. 17
Pasal ini menjelaskan tentang shalat lima
waktu yang keluar dari huruf yang lima, yakni “A L Pasal yang menjelaskan tentang cara
H M D” mengingat hati di dalam zikir. Ketahui dan
pahamilah zikir yang disepakati oleh para ulama
4.10. Pasal No. 10
semuanya mengatakan bahwa tidak ada gunanya
Pasal ini menjelaskan perkataan Nabi dzikir yang diucapkan oleh lidah “La Ilahah Illallah”
Muhammad saw yang melarang seseorang apabila tidak diingat oleh hati.
mendatangi (untuk duduk) bersama ulama kecuali 4.18. Pasal No. 18
ulama tersebut memanggil datang.
Pasal ini menjelaskan tentang apa yang telah
4.11. Pasal No. 11 disebutkan dalam hadis, bahwa sesungguhnya Nabi
Pasal ini menjelaskan tentang tujuan Adam as telah berpesan lima pesan kepada anaknya.
sebenarnya yang dinamakan dengan keyakinan. Adapun lima pesan itu adalah: 1) jangan serakah
4.12. Pasal No. 12 kepada dunia karena dunia itu akan lenyap, 2)
Pasal ini menjelaskan apabila ditanyai jangan memperturutkan keinginan nafsu istrimu, 3)
oleh seseorang dengan mengatakan apa tempat setiap amal yang akan dilakukan hendaklah dilihat
akibat dari perbuatan itu, 4) jika terbesik di dalam
keluarnya yang Satu (Esa) itu, apa pula tempat
hatimu yang ingin menjadikanmu musuh, maka
keluarnya pemahaman itu, apa pula tempat
hati-hatilah, dan 5) perhatikan seluruh perbuatan
keluarnya keyakinan itu, dan juga ke asal itu dan
yang ingin dikerjakan.
yang menegakkannya. Maka jawablah dengan
mengatakan tempat keluarnya yang Satu (Esa) 4.19. Pasal No. 19
adalah “Qul huwallahu Ahad”. Tempat keluarnya Pasal ini menjelaskan tentang tempat atau
pemahaman adalah “ Allahu Shamad”, tempat alam yang dilalui makhluk yang dinamakan
keluarnya ketaaan (keyakinan ) adalah “lam Yalid”, manusia. Pada pasal ini dijelaskan beberapa tempat
tempat keluarnya asal itu “Walam Yuulad” tempat (alam), yakni: Pertama dunia, kedua alam kubur,
tegaknya adalah “Walam Yakun Lahu Kufuwan ketiga padang masyhar, keempat akhirat. Adapun
Ahad”. kehidupan dunia ibarat orang dalam perjalanan,
singgah sebentar untuk makan lalu kemudian
4.13. Pasal No. 13
berangkat lagi menuju ke akhirat, yang merupakan
Pasal ini menjelaskan syarat dari pada tempat yang kekal.
keyakinan. Maka hadapkanlah rahasia (hakekat)
4.20. Pasal No. 20
adanya Allah Swt pada dzatnya Allah swt.
Pasal yang menjelaskan pada saat mengatakan
4.14. Pasal No. 14 “Lailah Illallah”, dijelaskan juga sifat 20 Allah
Pasal ini menjelaskan tentang yang swt. Pada bagian akhir diinformasikan bahwa
menggerakan Tubuh. Perbuatan Allah swt yang kalimat yang paling mulia adalah La Ilaha Illallah
menggerakkan hati itu disebut Allah swt, yang Muhammadun Rasulullah.
menggerakkan nyawa itu sifat-nya Allah, yang 4.21. Pasal No. 21
menggerakkan rahasia (hakekat) itu adalah dzat-
Pasal ini menjelaskan sesuatu yang dipesankan,
nya Allah swt.
yakni pesan pertama dengan mengatakan apa yang
ada katakan itulah adanya, dan semua itu adalah

Kitab Issengngi Majeppu (Teks Atas Naskah LTMM-IX) - Idham |75


takdirnya Allah swt, kedua peliharalah lidah dari 4.27. Pasal No. 27
segala ucapan terhadap semua yang dicipatakan Pasal ini menjelaskan keutamaan zikir yang
dan peliharalah lidahmu dengan baik kepada empat dalam diri kita kepada Allah swt:: La Laha
Ulama Ahlusunnah wal Jama’ah sehingga lepas dari Illallah, Allah Allah, Huwa Huwa dan Ah Ah Ah.
siksaaan Allah swt, ketiga, benarkanlah Tuhan-Mu
4.28. Pasal No. 28
apa yang dijanjikan-Nya yakinlah bahwa rejeki itu
akan ada, keempat, persipakankah kematianmu Pasal ini menjelaskan bentuknya dzikir pada
janganlah engkau lupa pada kematian itu siang saat orang akan zakratul maut.
maupun malam, kelima banyak mengingat Allah 4.29. Pasal No. 29
Swt sesungguhnya hilanglah segala keburukan dari Pasal ini menjelaskan tentang i’tikadnya para
dirimu. aali apabila kelak akan mati maka diperlihatkanlah
4.22. Pasal No. 22 cahaya yang tidak bertepi.
Pasal ini menjelaskan tentang dzikir setelah 4.30. Pasal no. 30
shalat, dibacalah Fatihah untuk Muhammad dan Pasal ini menjelaskan tentang penyatuan
sahabatnya Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. antara Allah swt dengan nabi Muhammad dalam
Lalu membaca doa shalat, apabila telah selesai doa diri kita.
shalat itu maka rapatkanlah tangan kita pada pusat
4.31. Pasal No. 31
lalu mengambil dzikir “A A A A” niatkanlah yakni
bahwa aliflah dipusatku ini tinggal memancar di Pasal ini menjelaskan apabila telah shalat
dalam dan di luar “Ismu Jalalah” saya ambil sebagai maka bertafakkurlah syaratkan di dalam hati
batang tubuh di dunia sampai di akhirat, nyawaku kita bahwa alam dan isinya tenggelam dalam
masuk pada “Nurun”, “Nurun” masuk kepada Allah dihatiku,ditubuhku dan tubuhku tenggelam
swt dan diniatkan bahwa tidak ada yang demikian dihatiku. Hatiku temggelam di nyawaku, nyawaku
kecuali cahayanya Allah swt . Lalu mengambil dzikir tenggelam di rahasia (hakekat)ku rahasia (hakekat)
yang empat “La Ilaha Illallah”, dalam keberadaanmu ku tenggelam pada nabi Adam, pada Muhammad,
Ya Tuhan Allah swt di dalam… ya Tuhan, “Huwa pada wujud yang Satu Allah swt. Maka tahanlah
Huwa” di dalam pancaran-Mu lah ya Tuhan, “A A A” nafas kita lalu menunduk kebawah hingga sampai
di dalam cahaya-Mu, ya Tuhan di dalam ketetapan- pada bagian pusar.
Mu ya Tuhan. 4.32. Pasal No. 32
4.23. Pasal No. 23 Pasal ini menjelaskan tentang hakekat diri.
Pasal yang menjelaskan tempat berdirinya Demikian itulah maksud perkataan itu karena
anggota tubuh kita didunia sampai akhirat. sesungguhnya dzat Allah swt adalah Bhatin pada
4.24. Pasal No. 24 nyawa Muhammad adapun Nabi Adam dhahir di
nyawanya Muhammad, maka tidak berpisalahlah
Pasal ini menjelaskan jika telah datang hatinurani, nyawa kita dan juga nyawa nabi
perasaan lemah disaat mengetahui ajal mau akan Muhammad dan juga dzatnya Allah swt artinya
tiba, maka bertobatlah kepada Allah swt memohon tidak ada yang diketahui oleh tubuh itu, tidak ada
ampunan , keselamatan dari Allah swt yang lalu dan kemampaunnya, tidak ada kehendaknya kecuali
yang akan datang kecil dan besar, yang nampak dan perintah-Nya lah sehingga nyawa itu bergerak.
tersembunyi.
4.33. Pasal No. 33
4.25. Pasal No. 25
Pasal ini menjelaskan pesan nabi Muhammad
Pasal ini menjelaskan tentang tanda-tanda saw kepada anaknya, Fatimah: saya menjadikanmu
zakratul maut. anak didunia dan juga menjadikanmu anak
4.26. Pasal No. 26 diakhirat.
Pasal ini menjelaskan tentang ikatannya dzikir 4.34. Pasal No. 34
itu. Pada saat mengatakan “La Ilaha” niatkanlah
Pasal ini menjelaskan tentang pesan nabi
dirimu dilayakkan sebagai “Nurun Muhammad”
Muhammad kepada fatimah dalam hal persangkaan
pada zdatnya Allah swt jika telah dikatakan
kepada Allah.
“Illalllah” niatkanlah dirimu berada rapat dengan
“Nurun Muhammad” pada dzatnya Allah swt. 4.35. Pasal No. 35
Pasal ini menjelaskan tentang perkataan
yang ditanyakan oleh Tuhan kepada orang yang

76 | Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 1 Juni 2015


bersumpah kepada orang (Petta) orang yang tidur. saliweng “A, I, U” , alepu’naka lolang ri lino kuwa
4.36. Pasal No. 36 lipuki manengngi ri sininna ri pancajie ri Allah ta’ala.
Inilah pengetahuan tentang kekebalan (ilmu
Pasal ini menjelaskan tentang perkataan
kebal)Nurun Muhammad ada memancar di dalam
Nabi Muhammad saw, Hai umatku ketahui dan
maupun di luar, yang menyelimuti matahari maka
pahamilah dirimu.
aku akan kebal di dalam dan di luar (aa, ii, uu),
4.37. Pasal No. 37 akulah yang berjalan di dunia yang menyelimuti
Pasalnya ini yang menjelaskan tentang cerita semua yang diciptakan oleh Allah swt.
nyawa di dalam tubuh. 5.8. Pasal No. 8
4.38 Pasal No. 38 Pasal yang menjelaskan sesungguhnya
dinamakan diamnya hati adalah penghadapan
Pasal yang menjelaskan tentang pemahaman
kepada hakekat nyawa orang itu datang dari sisinya
anggota tubuh, tubuh, hati, nyawa rahasia. hati karena sesungguhnya hati itu adalah pintu
nyawa bagi setiap orang.
5. Bagian kelima terdiri atas delapan pasal
Bagian ini memaparkan tentang diri kita yang 6. Bagian keenam terdiri atas delapan pasal
empat macamnya pertama tubuh, kedua hati, ketiga Bagian ini memaparkan bahwa sebelum
nyawa keempat rahasia, adanya alam ini pada mulanya yang diciptakan oleh
5.1. Pasal No. 1 Allah swt adalah nyawa Muhammad, pada bagian
Pasal ini menjelaskan tentang cara bertafakkur. ini juga dipaparkan dialog antara Allah dengan nabi
5.2. Pasal No. 2 Muhammad dalam proses penciptaannya.
Pasal ini menjelaskan tentang hakekat 6.1. Pasal No. 1
sebenarnya shalat itu Bicara hakekat pertamanya Pasal ini menjelaskan tentang penyembahan,
shalat itu, jika ingin berdiri untuk shalat, setelah Alif di dalamnya dibahas dialog antara Muhammad
berdiri barulah engkau berdiri untuk shalat karena dengan Allah. Salah satu cuplikan dialoh itu
Aliflah yang berdiri untuk shalat. Artinya setelah adalah: Allah swt berkata: Hai Muhammad itulah
nafas kita naik baru kita berdiri untuk shalat, artinya penyembahan rahasia (hakekat) itu pada saat
setelah nyawa berdiri juga baru berdiri tubuh kita. mengatakan “A” sedangkan nyawa bagaimana
5.3. Pasal No. 3 penyembahannya, Allah berkata pada saat nyawa
mengatakan “I”, hati mana penyembahannya kepada-
Pasal ini menjelaskan tentang tujuan keluar
Mu ya Tuhan. Allah swt berkata Hai Muhammad
dan masuknya nafas itu pada siang dan malam.
penyembahannya hati pada saat mengatakan “U”
5.4. Pasal No. 4 lalu bertanya lagi Muhammad kepada Allah, ya
Pasal ini menjelaskan cara (pakaian)-nya Tuhan bagaimana penyembahannya perumpamaan
Fatimah jika hendak bertemu dengan Ali. itu Tuhan, Allah swt berkata: hai Muhammad
5.5. Pasal No. 5 penyembahannya perumpamaan itu pada saat
Pasal ini menjelaskan tentang perkataan mengatahan “Ha” Lalu Muhammad bertanya lagi
Lukmanul Hakim. kepada Allah swt bagaimana penyembahan akal itu
kepada Tuhan, Allah swt berkata hai Muhammad
5.6. Pasal No. 6 penyembahannya akal itu pada saat mengatakan
Pasal ini menjelaskan tentang perkataan “Hi”, lalu Muhammad kembali bertanya kepada
Nabi Muhammad saw, bagi mereka yang melihat Allah swt bagaimana penyembahan bayang-bayang
“Mahrunnubuwah” setelah melaksanakan shalat. itu kepadamu ya Tuhan, Allah awt berkata: hai
5.7. Pasal No. 7 Muhaammad penyembahan bayang-bayang itu
Pasal ini menjelaskan pembicaraan tentang pada saat mengatakan “Hu”.
tanda-tandanya Nabi Muhammad dinamakan 6.2. Pasal No. 2
“ashabul Kahfi”. Dan diakhir bab ini dipaparkan Pasal ini menjelaskan kepada Muhammad
ilmu kebal: bahwa sesungguhnya kejelasan rahasia itu adalah
Iyanae I Paddisenngen akebbengeng nuurun “Aa”, kejelasan nyawa itu adalah “ii”, kejelasan hati
Muhammad angka mallebbang rilaleng risaliweng adalah “Uu”, kejelasan perumpamaan itu adalah
nasalepuriwi matanna essoe kabbang rilaleng ri “ha”, sedangkan Kejelasan akal adalah “Hi”, kejelasan

Kitab Issengngi Majeppu (Teks Atas Naskah LTMM-IX) - Idham |77


bayang-bayang itu adalah “Hu” dan kejelasan Alif 6.8. Pasal No. 8
itu adalah perasaan. Pasal yang menjelaskan hakekat perkataan
6.3. Pasal No. 3 yang tujuh itu. Apabila kita mengucapkan “A” itulah
Pasal ini menjelaskan bahwa ketahui dan kemaha suscian Allah swt, apabila mengucapkan “I”
pahamilah secara jelas Alif dan artinya Alif itu itulah janjinya Allah swt, apabila mengucapkan “U”
dan juga asal dari Alif itu. Alif hanya sebuah titik itulah pancarannya Allah swt apabila mengucapkan
(.). Adapun segala sesuatu yang berasal dari titik “H” itulah kebesaran-Nya, apabila mengucapkan
(.) pada waktu menetesnya titik (.) itu melahirkan “H” itulah kemaha sempurnaan-Nya apabila
empat tanda pertama baris di atas, kedua baris di mengucapkan “Allahu” demikian itu adalah tempat
bawah, ketiga damma, keempat adalah titik, pada dzat dan sifat-Nya.
waktu dibagi maka jadilah empat huruf pertama
huruf “Alif ” kedua huruf “Lam pertama”, ketiga 7. Bagian ketujuh tanpa pasal
”Lam kedua”, keempat huruf “Ha” itulah lafadznya Bagian ini memaparkan hubungan suami
“Allahu”. istri. Apabila telah dilakukan yang fardhu (penting)
6.4. Pasal No. 4 dalam hubungan suami isteri. Apabila telah masuk
Pasal ini menjelaskan nyawa Muhammad kemaluan (laki-laki) lalu keluarlah air mani, jangan
dinamakan Ma’rifah, Nyawa kita dinamakan dikeluarkan apabila mati kemaluannmu maka anak-
hakekat, fikiran kita dinamakam tarekat, tubuh kita anak itu akan pendek umurnya, walaupun hidup
dinamakan syari’ah, maka ketahuilah sesungguhnya dia akan mengalami ketersiksaan (sakit). Karena
dirimu yang ada pada tubuhmu. mati nyawanya. Anak-anak itu adalah nyawanya
6.5. Pasal No. 5 Allah swt dialah yang mencipatakannya, itulah
Pasal ini menjelaskan tentang nyawa itu sehingga sangat baik untuk mencari pada diri kita,
melihat pada Allah swt itulah rahasia (hakekat) jika jika telah mendapatkan diri kita maka peganglah
melihat pada alam maka dinamakan keyakinan , kemaluan istri kita lalu membaca “ Waddu., Waddi,
jika melihat akhirat dinam akan nyawa, jika melihat Mani, Maanikum”, masuklah dalam batinmu dan
dunia maka dinamakan diri (tubuh kita) jika melihat inilah tempat masukmu, maka disapulah wajah kita
pada dirinya dinamakan Al'ilmu Juhulun Wa sebanyak tiga kali secara berulang dan diisap pula
Alma'rifatu Inkarun Wa Attauhidu Al Tijaru artinya sikunya sebagnyak tiga kali inilah yang dinamakan
pengetahuan kepada Allah swt adalah kebodohan tempat pengembalian
atas segala sesuatu. Sedangkan pemahaman kepada
Allah swt pada saat oleh diri kita adapun pengesaan 8. Bagian kedelapan dengan satu pasal
kepada Allah swt adalah kekeliruan. Adapun shalat shubuh itu dia yang menyembah
6.6. Pasal No. 6 dirinya, adapun dhuhur Dia yang melakukannya,
Pasal yang menjelaskan tentang tarekatnya adapun ashar itu Dia yang Satu (Esa), adapun
para wali, setelah dzikir, tambahkan setelah magrib Dia yang memiliki, adapun isya Dia yang
berdzikir, ditahanlah nafas itu dan ditariklah “LA” Maha Besar, adapun witir yang dua rakaa’at itulah
yang keluar dari pusat kita lalu ditarik pula “Ilaha” yang menciptakan, adapun yang satu raka’at Dialah
naik, di atas ujung siku. Apabila dikatakan “Illallah” yang memancar, adapun shalat jum’at itulah yang
maka ditancapkanlah dalam hati sanubari, jika digembirakan dan itu juga yang disembah.
telah bershalawat maka diyakinilah bahwa nabi 8.1. Pasal No. 1
Muhammad ada di depan kita dan lalu beliau
Pasal ini menjelaskan perumpamaan dan
dishalawatkan secara tetap, lalu Nabi mendengarkan
perbandingan shubuh itu diumpamakan dengan
shalawat itu semoga berkahnya kembali.
roh yang suci tubuh halusnya yang menegakkannya,
6.7. Pasal No. 7 adapun dhuhur itu diumpamakan Sunnah tubuh kita
Pasal yang menjelaskan tanda-tanda apabila yang menegakkannya. Adapun perumpamaan ashar
bertemu dengan Tuhan Pahamilah seluruh yang diumpakan ushul akal yang menegakkannya, adapun
dijadikan oleh Allah pada tubuh kita dan rasakan perumpamaan magrib,diumpamakan tahkikah dan
segala kenilmatan hakekat dzat-Nya yang tidak misal yang menegakkannya, adapun perumpamaan
ada samanya dan tidak demikian itu kecuali Isya, para sufilah yang mendirikannya, adapun witir
memahaminya dengan baik. yang dua rakaat diumpamakan Nur Muhammad

78 | Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 1 Juni 2015


dan nyawa yang mendirikannya adapun witir yang -------------. 1991. Tambo Minangkabau: Suntingan
satu raka’at di umpamakan Nur Muhammad, dan Teks Disertai Analitis Struktur. Jakarta: Balai
rahasia (hakekat) yang mendirikannya adapun Bahasa.
perumpamaan jum’at diumpamakan Rasulullah --------------. 1993. Metode Penelitian Filologi.
saw. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.
PENUTUP Hinta, Elliyana G. 2005. Tinilo Pa’ita, Naskah Puisi
Issengngi Majeppu Kode LTMM-IX secara Gorontalo: Sebuah Kajian Filologis. Jakarta:
garis besar berisi tentang syariat, tarikat, hakekat, Djambatan.
dan makrifat. Selain syariat, tarikat, hakikat dan Idham. 2011. Pulau Tidore: Segudang Naskah
makrifat, naskah ini juga menyelipkan hubungan Menunggu Belaian Filolog, dalam Jurnal
suami istri dan ilmu kebal. Karena naskah ini Manassa, Vol. 1, No. 1, Juni 2011.
membahas tentang syariat, tarikat, hakikat dan Ikhwan, Munirul. 2009. Kitab al Munir of Jalal al-Din
makrifat dalam pandangan sufi, maka dalam al Suyuti: A Critical Edition and Translation
naskah ini banyak dikemukan bagaimana cara of Section Twenty on Islamic Terms, dalam
beribadah,mendekatkan diri kepada Allah dengan Al Jami’ah Journal Of Islamic Studies UIN
dzikir; dalam dzikirnya pun banyak ditemukan Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol. 47, No. 2,
bagaimana hakikat hamba dengan khaliknya, 2009 M/1430 H.
selanjutnya dalam melihat hamba dengan khaliknya Ikram, Achadiati. 1987. Kegiatan Filologi di
banyak dilukiskan dalam simbol-simbol huruf alif, Indonesia. Makalah dibacakan pada
ha, mim, dan dal. Penataran Filologi Tahap I Kerjasama LERES
Penyajian Issengngi Majeppu Kode LTMM-IX IAIN Sunan Kalijaga – Fakultas Sastra UGM.
oleh penulisnya ditulis secara mengalir tanpa ada Ilyas, Husnul Fahimah. 2011. Lontaraq Suqkunas
aturan yang mengikatnya. Dengan demikian satu Wajo: Telaah Ulang Awal Islamisasi di Wajo.
pokok bahasan ditemukan berulan pada bagian Jakarta: Sekolah Pascasarjana Universitas
yang lain. Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.
Ada beberapa hal yang kelihatannya Mulyadi, S.W.R. (ed). 1994. Kodikologi Melayu
bertentangan dengan syariat (fiqhi) yang ada pada di Indonesia. Lembaran Sastra Universitas
umumnya. Seperti perlakuan suami istri saat saat Indonesia. Depok: Fakultas Sastra Universitas
berhubungan, yang oleh masyarakat awam dijadikan Indonesia.
legitimasi bahwa tak perlu mandi junub setelah Paeni, Mukhlis, dkk. 2003. Katalog Induk Naskah-
berhubungan. Dari itu diperlukan peneliti di bidang Naskah Nusantara Sulawesi Selatan. Jakarta:
tasawwuf bersama ahli fiqhi untuk mengkajinya Arsip Nasional Republik Indonesia Ford
lebih dalam. Foundation, Universitas Hasanuddin, Gadjah
Mada University Press.
UCAPAN TERIMA KASIH Pradotokusumo, Partini Sardjono. 1984. Suntingan
Terima kasih penulis ucapkan kepada semua Naskah serta Karya Sastra Kakawin Abad ke-
pihak yang telah memberikan saran dan masukan 20: Suntingan Naskah serta Struktur, Tokoh
terhadap tulisan ini, rekan-rekan peneliti dan dan Hubungan Antarteks. Bandung: Bina
Kepada Kepala Balai Litbang Agama Makassar serta Cipta.
pengelola Jurnal Al-Qalam atas termuatnya tulisan Pradotokusumo. 1998. Penerjemahan Bahasa Jawa
ini. Dan semoga Naskah Issengngi Majeppu dapat (Kuna – Tengahan Baru). Makalah Temu
menambah wawasan bagi pembacanya. Ilmiah ke-3 Ilmu-Ilmu Sastra Program
Pascasarjana Unpad Bandung.
DAFTAR PUSTAKA
Soemantri, Emuch Herman. 1986. Identifikasi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2002.
Naskah. Bandung: Fakultas Sastra Universitas
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga.
Padjajaran.
Jakarta: Balai Bahasa.
Soeratno, Siti Chamamah. 1996. Naskah Lama dan
Djamaris, Edwar. 1977. Filologi dan Cara Kerja
Relevansinya Dengan Masa Kini. Makalah:
Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Simposium Tradisi Tulis Indonesia.
Pengembangan Bahasa.
Yusuf, Choirul Fuad. 2012. Lektur dan Khazanah

Kitab Issengngi Majeppu (Teks Atas Naskah LTMM-IX) - Idham |79


Keagamaan: prospek Pengembangan, dalam
Jurnal Lektur Keagamaan Puslitbang Lektur
dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang
dan Diklat Kementerian Agama Ri, Vol. 10,
No. 1, Juni 2012.

80 | Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 1 Juni 2015