Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. K DENGAN CA TIROID DI RUANG


RAJAWALI 3A RSUP dr. KARIADI SEMARANG

DISUSUN OLEH:
CAHYA TRI UTAMI
P1337420919052

Disahkan Oleh
Pembimbing Klinik

( Sri Handayani, Skep., Ns)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tiroid merupakan salah satu kelenjar endokrin pada tubuh manusia yang terletak di
bagian depan leher. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin dan triodotironin yang
berfungsi untuk mengatur kecepatan metabolisme, membuat protein, dan mengatur
sensitivitas tubuh terhadap hormon lainnya (Ganong, 2008).
Karsinoma tiroid merupakan keganasan pada kelenjar tiroid dan merupakan
keganasan kelenjar endokrin yang paling sering ditemukan. Di Indonesia insiden
karsinoma tiroid mengalami peningkatan setiap tahun (Sudoyo, 2006). Berdasarkan
American Cancer Society (2015) memperkirakan terdapat 62.450 kasus baru kanker
tiroid pada tahun 2016, 49.350 pada wanita dan 19.950 pada laki-laki sedangkan
International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012 diketahui bahwa
persentase kasus baru kanker tiroid berada pada urutan ketujuh dan lebih banyak wanita
daripada laki-laki.
Penyakit kanker berdampak serius pada kualitas hidup seseorang, di mana pasien
sering mengalami penderitaan fisik, psikososial, spiritual, dan masalah lain (Effendy,
Vissers and Osse., 2014). Masalah psikososial meliputi kecemasan, ketakutan menjalani
pemeriksaan, kekambuhan penyakit, depresi, dan kematian (American Cancer Society
2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 34,4% pasien kanker di Indonesia
mengalami depresi (Effendy, Vissers and Osse., 2014). Presentasi ini meningkat sejalan
dengan semakin parahnya kecacatan dan meluasnya stadium kanker. Kejadian depresi
tertinggi terjadi pada pasien kanker yang menjalani terapi kombinasi (pembedahan dan
kemoterapi), yaitu sebesar 26% (Mhidat, Alzoubi and Alhusein, 2009).
Beberapa faktor yang memengaruhi depresi pada pasien kanker: (1) terkait penyakit
(lama diagnosis, tingkat keparahan, prognosis yang buruk, dan rasa sakit); (2) dari
internal pasien itu sendiri (ketakutan akan rasa sakit, mati, kehilangan kontrol dan
kemandirian, merasa tidak berdaya); (3) penanganan (efek samping terapi, lama
penangganan, perawatan berulang, mahalnya biaya); dan (4) tim medis (kurangnya
komunikasi dan informasi).
Depresi adalah gangguan mood yang dikarakteristikkan dengan kesedihan
yang intens, berlangsung dalam waktu lama, dan mengganggu kehidupan normal
(Marcus, 2016). Penyebab depresi adalah neurotransmiter yang terkait dengan
patologi depresi yaitu serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat
2
mencetuskan depresi dan pada beberapa pasien pasien bunuh diri memiliki
serotonin yang rendah (Kaplan, 2012). Depresi dapat meningkatkan persepsi pasien
akan rasa sakit, menurunkan sensitivitas akan khasiat pengobatan, memperpanjang waktu
rawat di rumah sakit, dan dapat merujuk pada ide atau tindakan bunuh diri. Percobaan
bunuh diri dijumpai pada hampir sepertiga dari penderita kanker yang mengalami
depresi. Selain itu, kondisi depresi ini jika tidak segera di tangani dapat
memperberat kondisi fisik dan psikologis pasien. Salah satu dampak depresi
yang akan muncul adalah lemahnya kondisi fisik yang akan menghambat proses
pengobatan dan mendukung sel kanker semakin berkembang (Aldyansyah, 2008).
Pengobatan secara psikologis memiliki kelebihan berupa minimalnya
efek samping dan lebih mudah di lakukan. Bentuk pengobatan tersebut
diantaranya psikoterapi, problem solving, Spiritual Emmotional Freedom
Technique (SEFT)(Robinson, 2016).
Salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk
menurunkan tingkat depresi yaitu terapi Spiritual Emotional Freedom Technique
(SEFT). Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) merupakan teknik
penggabungan dari sistem energi tubuh (energy medicine) dan terapi spiritual
dengan menggunakan metode tapping pada beberapa titik tertentu pada tubuh (Safitri,
2013). Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) adalah gabungan antara
Spiritual Power dengan Energy Psychology (Zainuddin, 200).
Pada terapi Spiritual Emmotional Freedom Technique (SEFT) terdapat tapping.
Tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada titik-titik tertentu di
dalam tubuh kita. Titik-titik ini adalah titik-titik kunci dari “The Major Energy
Meridians” yang jika kita ketuk beberapa kali akan berdampak pada
ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita rasakan. Karena aliran
energy tubuh berjalan dengan normal dan seimbang kembali. Menstimulasi atau
men-tapping secara spesifik titik-titik akunpunktur mempunyai pengaruh dalam
pengeluaran kortisol (Bougea, 2013). Penurunan hormone kortisol pada sinaps sel-
sel saraf dapat menimbulkan sensasi relax serta menurunkan gejala psikologis
yaitu depresi (Samvarta, 2011).
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meembahas Asuhan
Keperawatan Pada Ny.K dengan CA Tiroid Di Ruang Rajawali 3A RSUP dr. Kariadi
Semarang.

3
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. K DENGAN CA TIROID DI RUANG
RAJAWALI 3A RSUP dr. KARIADI SEMARANG

Tanggal Pengkajian : Selasa, 12 November 2019 Ruang/RS : Rajawali 3A


Jam : 16.30 WIB RSUP dr. Kariadi Semarang

A. BIODATA
1. Biodata Pasien
a. Nama : Ny.K
b. Umur : 48 tahun
c. Alamat : Cirebon
d. Pendidikan : SD
e. Pekerjaan : Petani
f. Tanggal Masuk : 6 Oktober 2019 pukul 01.30 WIB
g. Catatan Masuk : Klien datang ke ruang rajawali 3A untuk perbaikan kondisi
Hb dan Trombosit karena klien akan sedang program disinar luar 3x. Klien datang
dari IGD.
h. Diagnosa Medis : Ca Tiroid on ER 3x
i. No. Register : C774xxx
2. Biodata Penanggung Jawab
a. Nama : Tn. A
b. Umur : 26 th
c. Alamat : Blora
d. Pendidikan : SMA
e. Pekerjaan : Wiraswasta
f. Hubungan dg klien : Anak
B. KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan mengalami nyeri untuk menelan, hilang timbul dengan skala 3.
Nyeri datang dengan durasi 1 menit. Saat nyeri datang klien membiarkannya sehingga
klien terkadang tidak menghabiskan makanannya.

4
C. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengeluhkan semenjak 1,5 tahun yang lalu terdapat benjolan sebesar kelereng
dibagian leher. Klien mengeluhkan nyeri telan dan semakin lama, benjolan ynag
dialami klien semakin besar sebesar telur bebek.
Klien memeriksakan diri dan dilakukan operasi biopsi di RSUD Brebes pada bulan
Juli 2019. Selanjutnya klien di rujuk di RSUP dr. Kariadi Semarang dikarenakan
keterbatasan alat. Klien melakukan pemeriksaan di Poli Merpati untuk persiapan
operasi tiroidektomi pada bulan Agustus 2019.
Pada bulan Agustus 2019, benjolan sebesar setengah bola sepak dan klien semakin
sesak napas dan suara klien menghilang. Selanjutnya klien dilakukan operasi pada
bulan Agustus 2019 di RSUP dr. Kariadi Semarang untuk tiroidektomi sebelah kanan.
Operasi pertama sempat gagal karena alat intubasi tidak dapat masuk ke saluran
pernapasan klien. Seminggu kemudian klien dioperasi dan berhasil.
Setelah program tiroidektomi, klien menjalani pengobatan eksternal radiasi
sebanyak 30x. Klien sudah menjalani pengobatan sebanyak 11 kali eksternal radiasi.
Namun saat dilakukan pemeriksaan, kondisi klien tidak stabil yaitu Hb dan trombosit
klien rendah. Klien masuk ruang rawat inap rajawali 3A pada tanggal 6 November
2019 pukul 01.30 untuk perbaikan kondisi klien dan melanjutkan terapi sinar radiasi
eksternal ke 12. Kondisi Hematologi klien pada tanggal 9 November 2019 yaitu Hb 7,7
gr/Dl, Trombosit 78.000/uL, albumin 2,1 g/dl. Klien mendapatkan terapi albumin, PRC
dan trombosit aphresis.
Saat dilakukan pengkajian, klien mengeluhkan nyeri telan dan suara sudah kunjung
pulih dan kembali. Klien mengatakan nyeri telan dengan kualitas seperti ditusuk skala
3. Nyeri datang hilang timbul terutama saat makan atau minum. Saat nyeri datang klien
mengabaikannya dan terkadang membuat napsu makan klien menurun.
Selain itu, klien memiliki luka sepanjang 25 cm dan jahitan sudah diangkat separuh.
Terdapat luka post drain yang mengeluarkan pus dan lembek. Daerah sekitar luka
banyak lecet karena sinar radiasi yang dijalani klien. Luka rembes dan klien belum
mengetahui tanda-tanda infeksi. Ganti balut dilakukan setiap 2 hari sekali.
Klien stres dan terus memikirkan kondisinya yang tidak kunjung sembuh. Klien
memikirkan kondisi keuangan dan anaknya yang belum menikah serta masih menajdi
beban keluarga. Klien merasa membebani keluarga dan takut terhadap penyakitnya.
Klien ingin segera pulang dan sudah pasrah terhadap kondisinya. Klien jarang
5
beribadah dan mengingat tuhannya. Sehingga klien lebih memilih diam dan merenung
untuk menyelesaikan permasalahannya. Keluarga mendukung sepenuhnya untuk
kesembuhan klien. Namun klien tetap berpikir keras terhadap kondisi yang dia jalani.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien belum pernah dirawat di Rumah Sakit selain karena penyakit ca tiroid.
Klien tidak memiliki riwayat HT, DM maupun asma.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga klien tidak ada DM, Asma maupun HT. Selain itu dalam
keluarga klien tidak ada yang mengalami ca tiroid.
4. Riwayat Alergi
Ny.K mengatakan tidak memiliki alergi pada makanan maupun obat-obatan.
5. Faktor pendukung terjadinya kanker
Klien bekerja sebagai petani semenjak kecil dan terus terpapar bahan pestisida.
GENOGRAM

48 th

: Perempuan : ada hubungan


: tinggal serumah
48 thn : Pasien

: Laki-laki

D. PENGKAJIAN MENGACU POLA FUNGSIONAL GORDON

6
1. Pola manajemen dan persepsi kesehatan
Keluarga klien mengatakan saat ada keluarga yang sakit langsung dibawa ke
pelayanan terdekat seperti puskesmas untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.
2. Pola nutrisi dan metabolism
a. Sebelum sakit :Klien mengatakan makan secara teratur 3x sehari dengan menu
nasi, sayur, lauk (daging, tempe tahu), buah dan air putih dan tidak mempunyai
alergi ataupun pantangan terhadap makanan. Klien mengatakan tidak mengkonsumsi
banyak msg maupun mie instan.
b. Saat sakit : Klien mengatakan makan 3x sehari sesuai dengan diet yang
diberikan. Klien mendapatkan diit bubur lunak dengan sayur dan snack serta
dihabiskan ½ porsi karena terkadang klien mengeluhkan nyeri untuk menelan.
Antropometri
BB : 70 kg
TB : 160 cm
IMT = 70kg/ (1.6x1.6)m2= 27,3 kg/m2 (Berat Badan Lebih)
Biochemical
09 Nov 2019
Hb 7,7 gr/dL
Hematokrit 24,7 %
Leukosit 5,5 10^3 uL
Trombosit 78 10^3 uL
Albumin 2,1 g/dL
Natrium 128 mmol/L
Kalium 3,5 mmol/L
Clorida 90 mmol/L
Clinical Sign
Tanda umum : Nn.K mengatakan tidak mual muntah, namun terkadang mengalami
kesulitan dalam makan maupun minum karena nyeri untuk menelan. Ny. K
mengatakan makan seperti biasa 3x sehari dengan porsi ½ porsi.
Kulit : Turgor kulit baik dan kembali dengan cepat dan terdapat edema pada semua
ekstremitas klien.
Mulut: bibir klien lembab, mulut bersih, tidak ada sariawan.
Mata : congjutiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Dietary
7
Klien mendapatkan diit Bubur Lunak 3x sehari. TKTP 2.100 kkal.
Cairan :
INPUT OUTPUT
Minum : 800 cc BAK: 1100cc
Infus : 1500 cc IWL : 15 x 70 = 1050
Makan: 300 cc BAB : 100 cc
Jumlah : 2600 cc Jumlah : 2250cc

Balance Cairan : Input –Output


:2600 cc- 2250 cc = +350 cc
3. Pola eliminasi
a. Sebelum sakit : klien BAB 1x/ hari dengan konsistensi lembek, berwarna
kuning kecoklatan dengan bau khas. Pasien BAK 6-10 x/ hari.
b. Saat sakit : klien BAB terakhir tadi kemarin Tanggal 11 November 2019
dengan konsistensi lembek, berwarna kuning kecoklatan dengan bau khas. Klien
BAK menggunakan pempers dengan keluaran 1100 cc/hari.
4. Pola istirahat dan tidur
a. Sebelum sakit : kebutuhan tidur klien tercukupi yaitu 6-8 jam/hari.
b. Saat sakit : Klien mengatakan tidur dengan baik selama 6-8jam. Namun
klien terkadang terbangun karena batuk yang dirasakannya.
5. Pola aktivitas dan latihan
a. Sebelum sakit : klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri saat bekerja
maupun di rumah.
b. Saat sakit : Klien melakukan aktfitas secara mandiri namun klien
mengatakan harus dibantu dalam mobilisasi karena edema yang dialaminya.
Membuat klien sedikit kesulitan dalam bermobilisasi. Dalam memenuhi kebutuhan
dasar klien, klien kurang berpartisipasi dalam perawatan dirinya.
Kebutuhan Aktifitas dan Latihan
No Faktor Ketergantungan Skor
1. Personal Hygiene 0
2. Mandi 5
3. Makan 10
4. Toileting 5
5. Menaiki Tangga 5

8
6. Memakai Pakaian 10
7. Kontrol BAB 5
8. Kontrol BAK 10
9. Ambulasi atau menggunakan kursi roda 5
10. Transfer kursi-Tempat tidur 5
TOTAL 60
KESIMPULAN KTS
Interpretasi :
a. Ketergantungan Total : 0-24
b. Ketergantungan Berat : 25-49
c. Ketergantungan Sedang : 50-74
d. Ketergantungan ringan = 75-90
e. Ketergantungan Minimal : 91-99
6. Pola peran dan hubungan
Setelah sakit klien tidak dapat menjalankan perannya dengan maksimal sebagai
ibu untuk keluarganya. Hubungan dengan keluarga baik. Klien diantarkan ke RS oleh
ibu dan ayahnya.
7. Pola persepsi kognitif dan sensori
a. Persepsi dan Sensori :
- Penglihatan Baik
- Pendengaran Baik
- Penciuman Baik
- Pengecapan Baik
- Perabaan Baik
b. Kognitif
Ny.K mampu menyebutkan tempat,waktu, jam dan orang disekitarnya. Ny.K
mengatakan mengetahui kondisinya saat ini. Keluarga mengetahui penyakitnya dan
selalu mencari informasi mengenai perkembangan penyakit ca tiroidnya. Klien
mengatakan tidak tahu mengenai luka nya dan tidak tahu tanda gejala infeksi pada
lukanya.
8. Pola persepsi diri dan konsep diri
a. Body Image : Klien mengatakan sebelum ca tiroidnya diambil klien
mengataan takut pada tubuhnya dan tidak berani melihat wajahnya. Saat ini klien
mengatakan sudah dapat berbicara, sebelumnya tidak dapat berbicara sama sekali.
b. Identitas Diri : Klien adalah seorang perempuan.
9
c. Harga Diri : Klien ingin cepat sembuh dan tidak ada keluhan yang klien
rasakan. Klien sudah tidak percaya diri pada tubuhnya karena sakit terus menerus
d. Peran Diri : Ny. K adalah seorang ibu. Klien belum memulai bekerja
untuk bertani kaena sakit yang dirasakannya. Klien mengatakan ingin segera
bekerja kembali.
e. Ideal Diri : Klien tetap yakin akan sembuh dari penyakitnya dan dapat
beraktifitas kembali untuk mengurus keluarganya.
9. Pola seksualitas dan reproduksi
Tidak ada gangguan pada pola seksualitas dan reproduksi.
10. Pola mekanisme koping
Klien mengatakan pusing dan stres karena penyakit yang dideritanya tak kunjung
sembuh. Klien ingin segera pulang karena memikirkan kondisi keluarganya. Klien
sudah tidak punya apa-apa lagi dan terus memikirkan keuangan yang sudah habis
karena penyakitnya. Sementara anak-anaknya belum menikah dan masih menjadi
tanggungan keluarga. Klien mengatakan sudah tidak mempunyai harapan lagi dan
pasrah terhadap kondisinya. Jika ada masalah klien lebih memilih diam dan merenung.
Keluarga klien mendukung klien untuk tidak memikirkan hal lain selain pengobatannya
tetapi klien tidak mendengarkan dan terus memikirkan permasalahannya. Selain itu,
klien mengatakan takut terhadap penyakitnya.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Sebelum sakit klien masih menjalankan ibadah setiap hari layaknya kewajiban
sebagai seorang muslimah dan selama sakit klien tidak dapat beribadah dan jarang
berdoa untuk kesembuhannya.
12. Kebutuhan Aman dan Nyaman
Saat pengkajian klien mengatakan merasakan nyeri dengan deskripsi sebagai
berikut :
Provokatif : Saat menelan
Quality : Seperti tertusuk
Region: Di daerah leher
Scale : 3 (NRS nyeri ringan)
Time : Hilang timbul dengan durasi kurang lebih 1 menit
Saat nyeri timbul, klien menahan dan membiarkannya sehingga terkadang
membuat napsu makan klien menurun.

10
E. PENGKAJIAN TAMBAHAN
1. Pengkajian Resiko Jatuh
Tanggal
Penilaian Resiko Jatuh Score
14-11-2019
Riwayat Jatuh :
Jatuh satu kali atau lebih dalam kurun
Kecelakaan Kerja atau 25 0
waktu 6 bulan terakhir
Rekreasional
Diagnosis sekunder 15 15
Alat Bantu Benda di sekitar, kursi, dinding, dll 30 0
Kruk, tongkat, tripod, dll 15 0
Terapi intravena kontinyu/Heparin/Pengencer Darah 20 20
Gangguan/Bedrest/ Kursi Roda 20 0
Gaya Berjalan Lemah 10 10
Normal 0 0
Agitasi/Konfusi 15 0
Status Mental
Demensia 15 0
SKOR TOTAL 45
KETERANGAN RS

Interpretasi The Morse Fall Scale (MFS)


Resiko Tinggi : 45 atau lebih
Resiko Sedang : 25-45
Resiko Rendah : 0-24
Kesimpulan:
Klien Ny. K mendapatkan skor 45 dan dalam kategori resiko jatuh sedang.
2. Pengkajian Luka
Luka Post Operasi Tiroidektomi bulan Agustus 2019:
Balutan luka post operasi tiroidektomi memanjang sekitar 25 cm dengan balutan luka
rembes cairan pus karena dibagian tengah luka terdapat bekas drain yang
mengeluarkan cairan pus. Jahitan sudah diangkat sebagian. Klien merasa gatal pada
daerah luka namun tidak nyeri maupun kemerahan. Daerah sekitar luka terdapat lecet
mengelupas karena post eksternal radiasi. Sehingga saat dilepas balutan klien merasa
kesakitan.

11
F. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Kesadaran : E4V5M6 composmentis
2. Tanda-tanda vital
Nadi : 70 x/ menit
Pernapasan : 18x/ menit dengan irama reguler
Suhu tubuh : 36,50 C
Tekanan darah : 120/70 mmHg
3. Kulit : Turgor kulit baik (kembali dengan cepat), ada pitting edema, warna
kulit pucat.
4. Kepala : Ukuran kepala mesochepal, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
massa/benjolan, kulit kepala tidak bersih dan tidak terawat.
5. Leher : Terdapat luka post tiroidektomi memanjang sekitar 25 cm. Selain itu
klien merasakan nyeri telan dan diprogramkan untuk ER ke 12 dengan total ER 30x.
Klien mengatakan setelah kanker tiroid sebelah kanan sudah diambil maka untuk
membersihkan sisa kankernya dilakukan terapi radiasi eksternal.
6. Mata : Sklera tidak ikterik, mata simetris, konjungtiva anemis, pupil isokor
dan reflek cahaya baik.
7. Hidung : Simetris, tidak ada polip, tidak ada secret, tidak terdapat lesi pada
hidung.
8. Telinga : Simetris, tidak terdapat sekret.
9. Mulut : Mukosa bibir lembab, gigi lengkap tidak terdapat stomatitis.
10. Dada:
a. Jantung :
I : ictus cordis tidak tampak
P : ictus cordis teraba di IC 5
P : redup
A : Suara jantung I,II regular. Murmur (-), Gallop (-).
b. Paru-paru :
I : expansi dada simetris, tidak ada bekas luka/luka di area dada, RR: 18x/mnt
P : pergerakan dinding dada sama, tactil fremitus teraba
P : sonor
A : vesikuler, ronchi (-)

12
11. Abdomen:
a. Inspeksi : simetris, datar, asites (-).meteorismus (+)
b. Auskultasi : bising usus 12x/menit
c. Perkusi : timpani
d. Palpasi : tidak ada nyeri tekan.
12. Ekstremitas :
Atas : klien terpasang infus NaCl 0,9% dengan dosis 20 tpm ditangan kanan, turgor
kulit baik. Tidak terdapat edema dan tidak terdapat clubbing finger. CRT <2detik.
Bawah : Klien mengatakan pada ekstremitas atas maupun bawah mengalami edema
dengan kekuatan otot sebagai berikut :
5 5
5 5
13. Genetalia :
Tidak ada lesi, bersih.
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Hasil pemeriksaan laboratorium 09 November 2019
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI NORMAL
HEMATOLOGI
Hematologi Paket
Hemoglobin 7.7 g/dL 13.2- 17.3
Hematokrit 24.7 % 32-62
Eritrosit 2.86 10^6/uL 4.4 -5.9
MCH 26.9 pg 27-32
MCV 86.4 fL 76-96
MCHC 31.2 g/dL 29-36
Leukosit 5.5 10^3/ul 3.8 – 10.6
Trombosit 78 10^3/ul 150-400
RDW 22.3 % 11.6-14.8
MPV 10.7 fL 4.00 – 11.00
KIMIA KLINIK
Magnesium 0.8 mmol/L 0.74-0.99
Calcium 1.7 mmol/L 2.12-2.52
Elektrolit
Natrium 128 mmol/L 136-145
Kalium 3.5 mmol/L 3.5-5.0

13
Chlorida 90 mmol/L 95-105
Albumin 2.1 g/dl 3.4 -5.0
Hasil pemeriksaan laboratorium 13 November 2019
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI NORMAL
HEMATOLOGI
Hematologi Paket
Hemoglobin 10.8 g/dL 13.2- 17.3
Hematokrit 33.4 % 32-62
Eritrosit 3.82 10^6/uL 4.4 -5.9
MCH 28.3 pg 27-32
MCV 87.4 fL 76-96
MCHC 32.3 g/dL 29-36
Leukosit 8.1 10^3/ul 3.8 – 10.6
Trombosit 39 10^3/ul 150-400
RDW 21.2 % 11.6-14.8
MPV 9.7 fL 4.00 – 11.00

2.X Foto Thoraks AP 6 November 2019:


Hasil :
Klinis : CA TIROID, TROMBOSITOPENIA BERAT
Tampak deviasi trakea ke kanan
COR: Apeks jantung bergeser ke laterocaudal elongatio aorta
PULMO: Corakan vaskuler tampak normal
Tak tampak bercak maupun nodul pada kedua lapang paru
Tampak penebalan halus kanan kiri
Tampak groundglass opacity pada regio colli kanan kiri
Tampak perselubungan homogen pada lapangan bawah paru kiri
Hemidiafragma kanan setinggi costa 9 posterior
Sinus costofrenikus kanan lancip kiri suram
Tak tampak lesi litik, sklerotik maupun destruksi pada os costae, os claviculae dan os
scapulae yang tervisualisasi
Kesan:
Cardiomegali (LV) disertai elongatio aorta
Pulmo tak tampak infiltrat maupun nodul
Groundglass opacity pada regio colli kanan kiri, curiga massa tiroid

14
Penebalan hilus kanan/kiri DD limfadenpati vaskuler
Efusi pleura kiri
3. PATOLOGI ANATOMI TGL 12 AGUSTUS 2019
Kesan : Anaplastik Thyroid Carsinoma
4. MSCT SOFT TISSUE LEHER DENGAN KONTRAS
TANGGAL 13 SEPTEMBER 2019
KESAN:
Massa solid bentuk lobulated batas tak tegas tapi irreguler disertai area nekrotik
dan kalsifikasi di dalamnya pada thyroid kanan dan kiri yang sulit dipisahkan satu sama
lain setinggi corpus vertebra servikal 4 – thoracal 2 disertai pendesakan trakea ke kanan
(ukuran kurang lebih AP 6.18x LL 8.89 x CC 6.87 cm). Lesi tampak meempel dan sulit
dipisahkan dengan muskulus sternohyoid kanan kiri. Muskulus plastyma kanan kiri,
muskulus sternocleidomastoid kanan dan kiri. Lesi meluas ke carotid space kiri dan
menempel dengan arteri carotis komunis kiri cenderung ca tiroid T4a N1b Mx
Tak tampak lesi litik sklerotik maupun destruksi tulang.
A. PROGRAM TERAPI
TERAPI RUTE FUNGSI
Inf. NaCl 0,9% 20 tpm Intravena Mengganti elektrolit dan cairan yang hilang di
intravaskuler dan menjaga cairan ekstra seluler dan
elektrolit
Omeprazole 40 mg/ 24 jam Intravena Omeprazole adalah obat untuk mengatasi masalah
perut dan kerongkongan yang diakibatkan oleh asam
lambung. Cara kerjanya adalah dengan menurunkan
kadar asam yang diproduksi perut.
Ampicilin Sulbactam Intravena Ampicillin adalah obat yang dapat digunakan untuk
1,5gr/8jam mengatasi infeksi akibat bakteri
MST 10mg/24 jam P.O Morphine merupakan obat yang digunakan untuk
meredakan nyeri ringan hingga nyeri berat. Obat ini
mengubah cara tubuh merasakan rasa sakit. Golongan
obat ini adalah narkotik yaitu analgesik opioid.
NaCl caps 500 mg/8 jam P.O Sodium chloride digunakan untuk mengatasi atau
mencegah kehilangan sodium yang disebabkan
dehidrasi, keringat berlebih, atau penyebab lainnya.

15
N-Asetil Sistein 200 mg/ 8jam P.O Acetylcysteine adalah obat golongan mukolitik yang
berfungsi untuk mengencerkan dahak yang
menghalangi saluran pernapasan.
Gentamicin Sulfate 0.3% Topikal Gentamicin termasuk ke dalam golongan obat
antibiotik. Obat ini digunakan untuk menangani infeksi
akibat bakteri dengan cara membunuh sekaligus
mencegah pertumbuhan bakteri.
Metronidazole 500 mg Serbuk Metronidazole adalah antibiotik untuk mengobati
berbagai infeksi akibat bakteri.

16
DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
No. Tanggal / Data Fokus Etilogi Masalah Kode Tanggal Tanggal
jam Keperawatan Diagnosis Ditemukan Teratasi
1. 12 DS : Agens Nyeri Kronis 00133 12 15
November Saat pengkajian cidera November November
2019 klien mengatakan biologi 2019 2019
17.00 merasakan nyeri dengan (infiltrasi
deskripsi sebagai berikut tumor)
:
Provokatif : Saat
menelan
Quality : Seperti tertusuk
Region: Di daerah leher
Scale : 3 (NRS nyeri
ringan)
Time : Hilang timbul
dengan durasi kurang
lebih 1 menit
Saat nyeri timbul,
klien menahan dan
membiarkannya
sehingga terkadang
membuat napsu makan
klien menurun.
DO :
- Klien meringis
menahan nyeri
- Klien terkadang
memegangi daerah
nyeri yaitu leher
- TD: 120/70 mmHg
- HR: 70x/menit
2. 12 DS: Sakit Ketidakberdayaan 00125 12 15
November Klien mengatakan November November
2019 pusing dan stres karena 2019 2019
17.10 penyakit yang

17
dideritanya tak kunjung
sembuh. Klien ingin
segera pulang karena
memikirkan kondisi
keluarganya. Klien
sudah tidak punya apa-
apa lagi dan terus
memikirkan keuangan
yang sudah habis karena
penyakitnya. Sementara
anak-anaknya belum
menikah dan masih
menjadi tanggungan
keluarga. Klien
mengatakan sudah tidak
mempunyai harapan lagi
dan pasrah terhadap
kondisinya. Jika ada
masalah klien lebih
memilih diam dan
merenung. Keluarga
klien mendukung klien
untuk tidak memikirkan
hal lain selain
pengobatannya tetapi
klien tidak
mendengarkan dan terus
memikirkan
permasalahannya.
Selain itu, klien
mengatakan takut
terhadap penyakitnya.
DO:
Klien lemah, kurang
berpartisipasi dalam
perawatan

18
Klien jarang beribadah
dan berdoa untuk
penyakitnya
3. 13 DS: Prosedur Infeksi 00004 13 15
November Klien mengatakan saat Invasif November November
2019 dibuka perban sakit 2019 2019
07.00 karena mengenai daerah
sekitar jahitan dan tidak
tahu tanda gejala infeksi
pada lukanya.
DO:
Balutan luka post operasi
tiroidektomi memanjang
sekitar 25 cm dengan
balutan luka rembes
cairan pus karena
dibagian tengah luka
terdapat bekas drain
yang mengeluarkan
cairan pus. Jahitan sudah
diangkat sebagian. Klien
merasa gatal pada daerah
luka namun tidak nyeri
maupun kemerahan.
Daerah sekitar luka
terdapat lecet
mengelupas karena post
eksternal radiasi.
Sehingga saat dilepas
balutan klien merasa
kesakitan.

RENCANA KEPERAWATAN

19
Tanggal No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasionalisasi TTD
/ Jam Keperawatan
12 1 Nyeri kronis Setelah melakukan Manajemen Nyeri:
Novemb b.d agens tindakan 3x 24 jam 1. Kaji nyeri secara
er cidera biologis diharapkan klien komprehensif 1. Untuk
17.15 (infiltrasi (lokasi, mengetahui
dengan nyeri kronis
tumor) karakteristik, tingkat nyeri
b.d agen cidera
onset/durasi, klien dan sejauh
biologis dapat
frekuensi, kualitas, mana nyeri
teratasi dengan
intesitas dan faktor dirasakan
kriteria hasil: pencetus)
1. Skala nyeri 2. Posisikan klien
menurun menjadi senyaman
skala 2-0 mungkin
2. Menunjukkan 3. Kontrol
perasaan nyaman lingkungan yang 2. Posisi nyaman
dan rileks. dapat dapat mengurangi
3. Dapat melakukan mempengaruhi nyeri
teknik nyeri 3. Agar pasien
nonfarmakologis 4. Ajarkan teknik mengenali nyeri
berupa relaksasi nonfarmakologi
untuk seperti afimasi
mengurangi nyeri positif dan
yang dirasakan relaksasi 4. Membantu klien
dan melakukan 5. Kolaborasikan menjadi rileks
afirmasi positif pemberian
bahwa harus analgetik
sembuh serta
makan perlahan
walaupun nyeri 5. Pemberian
telan yang analgetik
dirasakannya. memiliki efek
mengurangi rasa
nyeri klien
13 2 Resiko Infeksi Setelah dilakukan Pencegahan Infeksi

20
Novemb b.d Prosedur tindakan 3x 24 jam :
er 2019 Invasif diharapkan klien 1. Monitor tanda 1. Untuk
07.15 dengan risiko infeksi dan gejala infeksi mengetahui
b.d prosedur invasif perkembangan
dapat teratasi dengan 2. Pertahankan luka pasien
kriteria hasil : teknik aseptik 2. Untuk
1. Klien tahu dan lakukan menghindari
mengenai tanda perawatan luka terjadinya
dan gejala infeksi per 2hari/ jika infeksi pada
2. Mengetahui rembes luka
faktor yang dapat 3. Ajarkan pasien
menimbulkan dan keluarga
infeksi dan cara tentang tanda dan 3. Pasien dan
pencegahannya gejala infeksi dan keluarga
3. Dilakukan melaporkannya mengetahu
penggantian pada petugas tanda dan gejala
balutan klien kesehatan infeksi agar
rutin dua hari 4. Ajarkan pasien segera
sekali dengan dan keluarga cara ditindaklanjuti
prinsip steril untuk supaya dapat
menghindari ditangani segera
infeksi 4. Untuk
menghindari
infeksi saat
pasien dirumah
12 3 Ketidakberday Setelah dilakukan SeIf-eficacy
Novemb aan b.d sakit tindakan enhancement :
er 2019 kepeawatan selama 1. Bantu pasien Untuk
17.20 untuk mengetahui
3x 24 jam masalah
mengidentifikasi penyebab
keperawatan
faktor-faktor ketidakberdayaan
ketidakberdayaan
yang dapat klien sehingga
b.d sakit dapat
menimbulkan dapat
teratasi dengan memberikan
ketidakberdayaan
kriteria hasil intervensi yang
sebagai berikut : sesuai

21
1. Mengungkapkan 2. Beri penjelasan Untuk
penerimaan diri kepada pasien memberikan
2. Melakukan tentang proses gambaran pada
komunikasi penyakit klien agar klien
terbuka dengan mengetahui
keluarganya proses
3. Mengatakan perawatannya
optimisme Self Esteem
tentang masa Enhancement
depan dan 3. Tunjukan rasa Memberikan
semangat kembali percaya diri support dan
untuk melakukan terhadap dukungan pada
perawatan kemampuan klien agar semangat
4. Melaporkan pasien untuk menjalani
dukungan yang mengatasi situasi pengobatan
adekuat dari 4. Dorong pasien Membantu klien
orang terdekat mengidentifikasi untuk
5. Mampu kekuatan dirinya mengidentifikasi

mengontrol bahwa ada keluarga

emosi dan yang selalu


mendukung
ketidakberdayaa
pengobatan klien
nya dengan
5. Ajarkan klien Agar klien lebih
melakukan
untuk melakukan tenang dan rileks
kesehatan
managemen diri serta mengingat
spiritual
dengan Terapi kembali tuhannya
SEFT (Spiritual agar klien memiliki
Emotional harapan lagi untuk

Freedom kesembuhannya

Technique)

TINDAKAN KEPERAWATAN

22
Tanggal / Kode Tindakan Keperawatan Respon TTD
jam Dx.
12 1 1. Melakukan monitor DS:-
November TTV DO:
2019 Nadi : 70 x/ menit
17.30 Pernapasan : 18x/ menit
Suhu tubuh : 36.50 C
Tekanan darah : 120/70 mmHg
12 1 2. Melakukan pengkajian DS :
November nyeri secara Saat pengkajian klien
2019 komprehensif mengatakan merasakan nyeri dengan
17.40 deskripsi sebagai berikut :
Provokatif : Saat menelan
Quality : Seperti tertusuk
Region: Di daerah leher
Scale : 3 (NRS nyeri ringan)
Time : Hilang timbul dengan durasi
kurang lebih 1 menit
Saat nyeri timbul, klien
menahan dan membiarkannya
sehingga terkadang membuat napsu
makan klien menurun.
DO :
- Klien meringis menahan nyeri
- Klien terkadang memegangi
daerah nyeri yaitu leher
- TD: 120/70 mmHg
- HR: 70x/menit
12 1 3. Memposisikan klien DS:
November secara nyaman Klien mengatakan nyaman dengan
2019 posisi setengah duduk, karena jika
18.00 tidur terlentang klien merasakan nyeri
DO:
Klien nyaman dengan posisi setengah
duduk dengan diganjal dua bantal

23
12 1 4. Menganjurkan klien dan DS:
November keluarga untuk Klien mengatakan nyeri untuk menelan
2019 melakukan teknik saat makan, sehingga klien tidak napsu
18.30 nonfarmakologi makan. Namun klien harus sembuh
managemen nyeri sehingga di coba untuk makan
dengan afirmasi positif perlahan dan klien belum dapat makan
agar cepat sembuh dan makanan yang susah untuk ditelan dan
makan secara perlahan makan hanya yang lembut.
DO:
Klien makan perlahan dengan
pendampingan
Klien tidak makan sayur yang susah
ditelan
12 3 5. Mengkaji perasaan DS:
November klien dan Klien mengatakan pusing dan stres
2019 mengidentifikasi faktor- karena penyakit yang dideritanya tak
20.00 faktor yang kunjung sembuh. Klien ingin segera
menimbulkan pulang karena memikirkan kondisi
ketidakberdayaan keluarganya. Klien sudah tidak punya
apa-apa lagi dan terus memikirkan
keuangan yang sudah habis karena
penyakitnya. Sementara anak-anaknya
belum menikah dan masih menjadi
tanggungan keluarga. Klien
mengatakan sudah tidak mempunyai
harapan lagi dan pasrah terhadap
kondisinya. Jika ada masalah klien
lebih memilih diam dan merenung.
Keluarga klien mendukung klien untuk
tidak memikirkan hal lain selain
pengobatannya tetapi klien tidak
mendengarkan dan terus memikirkan
permasalahannya.
Selain itu, klien mengatakan takut
terhadap penyakitnya.
DO:

24
Klien lemah, kurang berpartisipasi
dalam perawatan
Klien jarang beribadah dan berdoa
untuk penyakitnya

TINDAKAN KEPERAWATAN

25
Tanggal / Kode Tindakan Keperawatan Respon TTD
jam Dx.
13 2 1. Mengobservasi luka DS:
November post tiroidektomi Klien mengatakan saat dibuka perban
2019 kelenjar tiroid sebelah sakit karena mengenai daerah sekitar
07.30 kanan jahitan dan tidak tahu tanda gejala
infeksi pada lukanya.
DO:
Balutan luka post operasi tiroidektomi
memanjang sekitar 25 cm dengan
balutan luka rembes cairan pus karena
dibagian tengah luka terdapat bekas
drain yang mengeluarkan cairan pus.
Jahitan sudah diangkat sebagian. Klien
merasa gatal pada daerah luka namun
tidak nyeri maupun kemerahan.
Daerah sekitar luka terdapat lecet
mengelupas karena post eksternal
radiasi. Sehingga saat dilepas balutan
klien merasa kesakitan.
13 2 2. Melakukan ganti balut DS:
November pada luka klien Klien mengatakan nyaman setelah
2019 diganti balutanya
07.45 DO:
Melakukan ganti balut dengan prinsip
steril dan dioleskan obat gentamicin
topikal 0,3 % dan Ditaburkan puyer
metronidazole 500 mg.
13 2 3. Mengajarkan klien dan DS :
November keluarga mengenai klien mengatakan memahami bahwa
2019 tanda dan gejala infeksi tanda dan gejala infeksi pada luka
08.00 yaitu saat keluar cairan pus / nanah,
terasa panas, terdapat bengkak, serta
jika luka rembes segera melapor ke
petugas kesehatan

26
DO:
Klien memahami penjelasan tanda dan
gejala infeksi dan melapor pada
petugas kesehatan jika tanda dan gejala
infeksi muncul
13 3 4. Memberikan support DS:
November dan dukungan pada Klien mengatakan bahwa keluarga
2019 klien mengenai sangat berarti baginya karena keluarga
08.15 penyakitnya mendukung sepenuhnya penyakit yang
diaalaminya. Klien mengatakan
bersyukur karena ada keluarga yang
menemani pengobatan klien, semua
orang belum tentu seberuntung klien.
DO:
Keluarga support klien sepenuhnya
Klien mulai memikirkan bahwa
keluarga sangat mendukungnya
13 3 5. Mengajarkan klien DS:
November untuk melakukan Klien mengatakan setelah melakukan
2019 managemen diri dengan terapi SEFT, klien menajdi jauh lebih
08.30 Terapi SEFT (Spiritual tenang dan damai. Klien mengatakan
Emotional Freedom ikhlas terhdap penyakit dan kondisi
Technique) yang dialaminya. Klien berdoa dengan
sungguh-sungguh untuk kesembuhan
dirinya, agar dapat lekas beraktifitas
kembali dan mengurus keluarganya.
DO:
Klien megikuti gerakan terapi SEFT
dengan konsentrasi dan khusyu
Klien menitihkan airmata
Klien lebih tenang dan mengingat
kembali tuhannya
13 1 6. Mengajarkan klien cara DS:
November managemen nyeri Klien mengatakan memahami
2019 dengan rileksasi penjelasan yang diberikan dan
21.00 melakukan rileksasi napas dalam saat

27
nyeri muncul
DO:
Klien lebih tenang
Klien kooperatif melakukan teknik
napas dalam
13 3 7. Menjelaskan pada klien DS:
November mengenai penyakitnya Klien mengatakan memahami proses
2019 perjalanan penyakitnya yang
21.10 memerlukan pengobatan jangka
panjang. Klien bersyukur bahwa
dahulu klien memiliki benjolan pada
leher hingga klien takut melihat
dirinya sendiri, dan bahkan klien tidak
bisa berbicara serta kesulitan dalam
bernapas. Klien kini sudah tidak
terlihat benjolan, tidak sesak napas dan
suara mulai pulih kembali. Namun
klien menyadari bahwa perlu diterapi
sinar luar sebanyak 30 kali untuk
menghilangkan akar-akarnya. Karena
pengobatan yang ia jalani harus tuntas.
Serta badan klien yang bengkak
dikarenakan proses mekanisme
regulasi yang tidak baik karena kerja
jantung klien tidak optimal.
DO:
Klien sedih terhadap kondisi yang
dialami yang tak kunjung sembuh
Setelah dijelaskan klien memahami
dan mengerti bahwa proses pengobatan
yag dia jalani memerlukan jangka
panjang
14 1 8. Menganjurkan klien DS:
November untuk melakukan Klien mengatakan setelah melakukan
2019 managemen diri dengan terapi SEFT, klien menajdi jauh lebih
07.00 Terapi SEFT (Spiritual tenang dan damai. Klien mengatakan

28
Emotional Freedom ikhlas terhdap penyakit dan kondisi
Technique) yang dialaminya. Klien berdoa dengan
sungguh-sungguh untuk kesembuhan
dirinya, agar dapat lekas beraktifitas
kembali dan mengurus keluarganya.
DO:
Klien megikuti gerakan terapi SEFT
dengan konsentrasi dan khusyu
Klien menitihkan airmata
Klien lebih tenang dan mengingat
kembali tuhannya

29
TINDAKAN KEPERAWATAN
Tanggal / Kode Tindakan Keperawatan Respon TTD
jam Dx.
15 1 1. Melakukan pengukuran DS: Klien mengatakan batuk yang
November TTV dirasakannya berkurang.
2019 DO:
07.30 Nadi : 65 x/ menit
Pernapasan : 18x/ menit
Suhu tubuh : 360 C
Tekanan darah : 110/80 mmHg
15 2 2. Mengobservasi luka DS:
November post tiroidektomi Klien mengatakan luka masih rembes
2019 dan nyeri di daerah sekitar luka jika
08.00 dilepas balutannya
DO:
Balutan luka post operasi tiroidektomi
memanjang sekitar 25 cm dengan
balutan luka rembes cairan pus
berkurang . Luka rembesan bersumber
dari bekas drain yang mengeluarkan
cairan pus. Jahitan sudah diangkat
sebagian. Klien merasa gatal pada
daerah luka namun tidak nyeri maupun
kemerahan. Daerah sekitar luka
terdapat lecet mengelupas karena post
eksternal radiasi. Sehingga saat dilepas
balutan klien merasa kesakitan.
15 2 3. Melakukan ganti balut DS:
November Klien mengatakan setelah diganti balut
2019 klien merasa nyaman, karena balutan
08.15 tercampur dengan keringat sehingga
merasa gatal.
DO:
Klien diganti balutan dengan prinsip
steril dengan disertai antibiotik salep
yaitu gentamicin 0,3 % dan

30
metronidazole 500 mg.
Selain itu klien mendapatkan antibiotik
injeksi yaitu mpicilin sulbactam 1,5 gr/
8jam
15 2 4. Mengajarkan klien dan DS :
November keluarga cara Klien dan keluarga mengatakan
2019 pencegahan infeksi memahami penjelasan untuk mencegah
08.35 luka infeksi yaitu dengan mencegah
luka dari basah salah satunya keringat ,
tidak mengkontaminasi luka dan selalu
mencuci tangan untuk mencegah
infeksi serta tidak meletakan sampah/
menggantungkan sampah didekat luka
dan mengganti balutan luka setiap 2
hari sekali. Selain itu klien melakukan
perawatan diri seperti sibin agar daerah
sekitar luka bersih. Klien mengatakan
akan batuk tidak terlalu kuat agar
jahitan tidak terlepas.
DO:
Klien memahami penjelasan mengenai
cara mengontrol infeksi
15 1 5. Melakukan pengkajian DS :
November nyeri pada klien Klien mengatakan nyeri yang
2019 dirasakannya berkurang engan
09.00 deskripsi sebagai berikut :
Provokatif : Saat menelan
Quality : Seperti tertusuk
Region: Di daerah leher
Scale : 2 (NRS nyeri ringan)
Time : Hilang timbul dengan durasi
kurang lebih 1 menit
Saat nyeri timbul, klien
melakukan tarik napas dalam dan
mengafirmasi positif dirinya untuk
sembuh sehingga nyeri telan klien

31
berkurang.
DO :
- Klien lebih nyaman
- Klien melakukan tarik napas
dalam saat nyeri muncul
- TD: 110/80 mmHg
- HR: 65x/menit
15 3 6. Melakukan pengkajian DS:
November perasaan klien dan Klien mengatakan setelah melakukan
2019 menganjurkan klien terapi SEFT, klien menajdi jauh lebih
09.00 untuk melakukan tenang dan damai. Klien mengatakan
managemen diri dengan ikhlas terhdap penyakit dan kondisi
terapi SEFT yang dialaminya. Klien berdoa dengan
sungguh-sungguh untuk kesembuhan
dirinya, agar dapat lekas beraktifitas
kembali dan mengurus keluarganya.
Saat ini klien berusaha untuk
bersyukur atas kondisinya dan tidak
memikirkan hal lain selain
penyakitnya. Karena jika klien berpikir
terlalu kuat maka kondisi tubuh klien
akan semakin drop dan justru
menambah lama perawatan. Klien
merasa senang karena dapat berbagi
cerita sehingga ada yang mengerti
perasaanya.
DO:
Klien megikuti gerakan terapi SEFT
dengan konsentrasi dan khusyu
Klien lebih tenang dan mengingat
kembali tuhannya
Klien senang karena dapat berbagi
perasaanya dan bersyukur terhadap
kondisi yang dialaminya

32
EVALUASI

Tanggal / Kode Subjektif, Objektif, Assasment, Planning, SOAP TTD


jam DX.
Jumat, 15 1 S:
November Klien mengatakan nyeri yang dirasakannya
2019 berkurang engan deskripsi sebagai berikut :
09.30 Provokatif : Saat menelan
Quality : Seperti tertusuk
Region : Di daerah leher
Scale : 2 (NRS nyeri ringan)
Time : Hilang timbul dengan durasi kurang lebih
1 menit
Saat nyeri timbul, klien melakukan tarik napas
dalam dan mengafirmasi positif dirinya untuk sembuh
sehingga nyeri telan klien berkurang.
O:
- Klien lebih nyaman
- Klien melakukan tarik napas dalam saat nyeri
muncul
- TD: 110/80 mmHg
- HR: 65x/menit
A:
Nyeri Kronis b.d agens cidera biologis (infiltrasi
tumor) teratasi
P:
-Anjurkan klien untuk melakukan tarik napas dalam
dan afirmasi positif saat nyeri muncul
-Kolaborasi pembeian terapi analgetik MST 10 mg/
24 jam
Jumat, 15 2 S:
November Klien mengatakan diganti balut dua hari sekali. Klien
2019 mengatakan akan menjaga luka tetap kering dan
07.40 melakukan perawatan diri agar tidak
mengkontaminasi luka. Selain itu klien dan keluarga
akan mengobservasi perkembangan infeksi pada luka

33
klien.
O:
- Balutan luka post operasi tiroidektomi memanjang
sekitar 25 cm dengan balutan luka rembes cairan
pus berkurang . Luka rembesan bersumber dari
bekas drain yang mengeluarkan cairan pus.
Jahitan sudah diangkat sebagian. Klien merasa
gatal pada daerah luka namun tidak nyeri maupun
kemerahan. Daerah sekitar luka terdapat lecet
mengelupas karena post eksternal radiasi.
Sehingga saat dilepas balutan klien merasa
kesakitan.
- Melakukan ganti balut rutin 2 hari sekali dengan
prinsip steril dan menggunakan obat gentamicin
0,3 % topikal dan metronidazole 500 mg.
A : Masalah keperawatan infeksi b.d prosedur invasif
teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Ganti balut/ 2 hari dengan prinsip steril dan
menggunakan obat gentamicin 0,3% topikal dan
serbuk metronidazole 500mg.
- Anjurkan klien untuk melaporkan ke petugas
kesehatan jika lukarembes dan mencegah luka agar
tetap bersih dan kering serta menekan berkurangna
infeksi pada luka.
- Kolaborasi pemberian ampicilin sulbactam 1,5 gr/ 8
jam
Jumat, 15 3 S:
November Klien mengatakan setelah melakukan terapi SEFT,
2019 klien menajdi jauh lebih tenang dan damai. Klien
07.50 mengatakan ikhlas terhadap penyakit dan kondisi
yang dialaminya. Klien berdoa dengan sungguh-
sungguh untuk kesembuhan dirinya, agar dapat lekas
beraktifitas kembali dan mengurus keluarganya. Saat
ini klien berusaha untuk bersyukur atas kondisinya
dan tidak memikirkan hal lain selain penyakitnya.

34
Karena jika klien berpikir terlalu kuat maka kondisi
tubuh klien akan semakin drop dan justru menambah
lama perawatan. Klien merasa senang karena dapat
berbagi cerita sehingga ada yang mengerti
perasaanya.
O:
Klien megikuti gerakan terapi SEFT dengan
konsentrasi dan khusyu
Klien lebih tenang dan mengingat kembali tuhannya
Klien senang karena dapat berbagi perasaanya dan
bersyukur terhadap kondisi yang dialaminya
A:
Masalah keperawatan ketidakberdayaan b.d sakit
teratasi
P:
-Anjurkan klien untuk rutin melakukan terapi SEFT
-Dukung keluarga untuk selalu mensupport klien

35
BAB III
PEMBAHASAN
1. Analisa Kasus
Ny.K mengeluhkan semenjak 1,5 tahun yang lalu terdapat benjolan sebesar
kelereng dibagian leher. Klien mengeluhkan nyeri telan dan semakin lama, benjolan
ynag dialami klien semakin besar sebesar telur bebek.
Klien memeriksakan diri dan dilakukan operasi biopsi di RSUD Brebes pada
bulan Juli 2019. Selanjutnya klien di rujuk di RSUP dr. Kariadi Semarang dikarenakan
keterbatasan alat. Klien melakukan pemeriksaan di Poli Merpati untuk persiapan operasi
tiroidektomi pada bulan Agustus 2019.
Pada bulan Agustus 2019, benjolan sebesar setengah bola sepak dan klien
semakin sesak napas dan suara klien menghilang. Selanjutnya klien dilakukan operasi
pada bulan Agustus 2019 di RSUP dr. Kariadi Semarang untuk tiroidektomi sebelah
kanan. Operasi pertama sempat gagal karena alat intubasi tidak dapat masuk ke saluran
pernapasan klien. Seminggu kemudian klien dioperasi dan berhasil.
Setelah program tiroidektomi, klien menjalani pengobatan eksternal radiasi
sebanyak 30x. Klien sudah menjalani pengobatan sebanyak 11 kali eksternal radiasi.
Namun saat dilakukan pemeriksaan, kondisi klien tidak stabil yaitu Hb dan trombosit
klien rendah. Klien masuk ruang rawat inap rajawali 3A pada tanggal 6 November 2019
pukul 01.30 untuk perbaikan kondisi klien dan melanjutkan terapi sinar radiasi eksternal
ke 12. Kondisi Hematologi klien pada tanggal 9 November 2019 yaitu Hb 7,7 gr/Dl,
Trombosit 78.000/uL, albumin 2,1 g/dl. Klien mendapatkan terapi albumin, PRC dan
trombosit aphresis.
Klien stres dan terus memikirkan kondisinya yang tidak kunjung sembuh. Klien
memikirkan kondisi keuangan dan anaknya yang belum menikah serta masih menajdi
beban keluarga. Klien merasa membebani keluarga dan takut terhadap penyakitnya.
Klien ingin segera pulang dan sudah pasrah terhadap kondisinya. Klien jarang beribadah
dan mengingat tuhannya. Sehingga klien lebih memilih diam dan merenung untuk
menyelesaikan permasalahannya. Keluarga mendukung sepenuhnya untuk kesembuhan
klien. Namun klien tetap berpikir keras terhadap kondisi yang dia jalani. Sehingga saya
mengangkat diagnosa Ketidakberdayaan b.d sakit.

36
2. Analisa Intervensi Keperawatan
Berdasarkan implementasi yang dilakukan pada Ny. K dengan diagnosa medis
Ca Tiroid dan telah dilakukan Tiroidektomi pada bulan Agustus 2019 dan diangkat
diagnosa keperawatan ketidakberdayaan berhubungan dengan sakit yaitu memberikan
terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) di ruang Rajawali 3A RSUP dr.
Kariadi Semarang, respon klien yaitu tingkat depresi klien yang diukur dengan
kuisioner Beck Depression Inventory (BDI II) yaitu sebelum diberikan terapi SEFT
tingkat depresi klien yaitu sedang (23) dan sesudah diberikan tingkat depresi klien yaitu
ringan (16).
Kanker tiroid merupakan jenis kanker yang paling umum terjadi pada sistem
endokrin, meskipun insidennya relatif rendah. Kanker tyroid merupakan salah satu
kanker yang paling curable, angka survival dalam 5 tahun pada semua tipe adalah 97%
dan survival dalam 10 tahun adalah 85-93% (Gardner & Shoback, 2007; Davies &
Welch, 2006). Keganasan pada sistem endokrin menyebabkan terjadinya gangguan
produksi hormon, terjadi hiposekresi atau hipersekresi. (Yarbro, Wujcik, & Gobel,
2011; Desen, 2011).
Faktor penyebab terjadinya kanker dapat dikarenakan Ditemukannya angka
kejadian GAKY di daerah dataran yang rendah, terutama di daerah pertanian (Triyono,
2007). Daerah dataran rendah menyediakan sumber-sumber makanan kaya yodium.
Tetapi akibat paparan pestisida membuat gangguan daerah dataran rendah menjadi
kekurangan yodium. Kandungan logam berat seperti Plumbum (Pb), Hydrargyrum
(Hg), Cadmium (Cd) dan Polychlorinated Biphenyl (PCB) dalam pestisida menjadi
blocking agent yang menghambat pemanfaatan yodium oleh kelenjar tiroid. Sekitar 17
jenis pestisida yang beredar di Indonesia dan digunakan oleh petani yang ditengarai
berpotensi mencemari lingkungan dan residunya dapat menimbulkan endocrine
disrupting activities atau gangguan pada sistem endokrin dan fungsi tiroid pada
manusia (Hendra, 2008). Pekerjaan klien dari kecil adalah bertani, sehingga salah satu
faktor terjadinya kanker tiroid pada klien adalah terpaparnya bahan pestisida.
Manifestasi klinis pada kanker tyroid yang terjadi dapat diakibatkan karena
perubahan anatomi seperti gangguan menelan, sesak nafas, perubahan suara. Kanker
juga dapat menyebabkan gangguan fungsi kelenjar tyroid. Gangguan fungsi kelenjar
tyroid dapat berupa hipotyroid maupun hipertyroid yang menyebabkan gangguan
metabolisme tubuh, berpengaruh pada sitem sirkulasi seperti tekanan darah,
kontraktilitas jantung, dan temperatur tubuh. Apabila terjadi metastase ke organ lain
37
seperti kelenjar limfe maka dapat menimbulkan gangguan sistem imun maupun
keseimbangan cairan (Gardner & Shoback, 2007). Sesuai dengan kondisi klien yaitu
klien mengalami pembesaran kelenjar tiroid, sesak napas dan suara mulai menghilang.
Penanganan yang dilakukan pada klien yaitu pembedahan tiroidektomi dan
sinar radiasi eksternal selama 30x. Menurut Indrawati (2009) Penanganan terhadap
kanker yag dapat dilakukan yaitu operasi, terapi radiasi dan kemoterapi. Pengobatan
klien yang panjang dan memiliki efek samping membuat klien depresi. Depresi jika
tidak ditangani akan berdampak pada keadaan fisik klien (Setiawan, 2015).
Penanganan depresi dapat dilakukan dengan psikoterapi seperti psikoterapi
suportif, re-edukatif, kognitif, psikodinamik, dan psikoreligius yaitu Terapi SEFT.
Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) merupakan teknik
penggabungan dari sistem energi tubuh (energy medicine) dan terapi spiritual
dengan menggunakan metode tapping pada beberapa titik tertentu pada tubuh (Safitri,
2013). Depresi adalah gangguan mood yang dikarakteristikkan dengan
kesedihan yang intens, berlangsung dalam waktu lama, dan mengganggu
kehidupan normal (Marcus, 2016). Penyebab depresi adalah neurotransmiter yang
terkait dengan patologi depresi yaitu serotonin dan epineprin. Penurunan
serotonin dapat mencetuskan depresi dan pada beberapa pasien pasien bunuh diri
memiliki serotonin yang rendah (Kaplan, 2012).
Terapi SEFT mengandung unsur do’a yaitu bagian dari unsure spiritual
yang merupakan pengakuan bahwa seseorang bergantung pada satu-satunya Tuhan
yang menciptakan manusia dan segala isinya. Dengan pengakuan ini, timbul
rasa nyaman dan aman dalam jiwa manusia, bahwa ada pendukung
hidupnya yang amat dekat, yang tidak akan membuatnya sedih. Nilai ibadah
sangat penting dalam mengurangi tekanan emosional sehingga
berpengaruh pada penurunan tekanan darah, frekuensi pernafasan, kekuatan
nadi, ketegangan, kecemasan dan depresi (Zainuddin, 2014). Terapi SEFT memberi
pengaruh positif terhadap aktifitas system saraf simpatis, dampak dari relaksasi
tersebut pernafasan menjadi lebih lambat iramanya, nadi lambat, tekanan darah
turun, menurunkan konsumsi oksigen otot jantung dan ketegangan otot. Respon
relaksasi juga berpengaruh pada kondisi mental dan menurunkan ketegangan
otot sehingga menimbulkan suasana yang nyaman, dapat menurunkan depresi
(Sumiati, 2010)

38
Selain itu terapi Spiritual Emmotional Freedom Technique (SEFT)
terdapat tapping. Tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada
titik-titik tertentu di dalam tubuh kita. Titik-titik ini adalah titik-titik kunci dari
“The Major Energy Meridians” yang jika kita ketuk beberapa kali akan
berdampak pada ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita
rasakan. Karena aliran energy tubuh berjalan dengan normal dan seimbang
kembali. Menstimulasi atau men-tappingsecara spesifik titik-titik akunpunktur
mempunyai pengaruh dalam pengeluaran kortisol (Bougea, 2013). Penurunan
hormone kortisol pada sinaps sel-sel saraf dapat menimbulkan sensasi relax serta
menurunkan gejala psikologis yaitu depresi (Samvarta, 2011).

39
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gambaran tingkat depresi klien sebelum dilakukan terapi spiritual emotional
freedom technique yaitu 23 (sedang).
Gambaran tingkat pengetahuan klien setelah dilakukan dilakukan terapi spiritual
emotional freedom technique yaitu 16 (ringan).
Berdasarkan hasil implementasi EBNP diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
terapi spiritual emotional freedom technique (SEFT) dapat menurunkan tingkat depresi
pada klien kanker tiroid post tiroidektomi dan program ER ke 12. Hal ini dikarenakan
setelah diberikan implementasi ebnp pada hari tanggal 13, 14, 15 November 2019 klien
menjadi lebih tenang, ikhlas dan bersyukur serta mengingat kembali TuhanNya.
B. Saran
1. Bagi Klien
Diharapkan setelah dilakukan penerapan intervensi terapi spiritual emotional
freedom technique (SEFT) dapat menurunkan tingkat depresi klien sehingga klien
lebih tenang dan melakukan pengobatan seoptimal mungkin.
2. Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil studi kasus ini diharapkan dapat memberi informasi dan masukan
mengenai inovasi intervensi terapi spiritual emotional freedom technique (SEFT)yang
dapat dilakukan oleh perawat dalam menurunka tingkat depresi pada klien kanker.

40
DAFTAR PUSTAKA
Adhisty, Karolin., Rica, Dewi Septa., Zaleha., etc. (2019). Terapi Komplementer: Terapi Seft
Pada Stress Dan Adaptasi Pasien Kanker Ovarium.
Anxiety and depression association of america. (2010 – 2016). Symptoms of depressions.
13 –19.
American cancer society. (2016). Cancer facts & figures, 27.
Bougea, A. M., Spandideas, N., Alexopoulos, E. C., Thomaides, T., Chrousos,
G. P., &Darviri, C. (2013) Effect of the emotional freedom technique on
perceived stress, quality of life, and cortisol salivary levels in tension-type
headache sufferers: A randomized controlled trial . The Journal of Science
and Healing. 2, 91-99.
Efendy, F., Makhfudli. (2009). Keperawatan kesehatan komunitas:Teori dan praktek
dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Feinstein, D., Ashland, O. (2012). What does energy have to do with energy
psychology? Energy Psychology Journal. 4, 59 –80.
Feist, Jess., Feist, Gregory. (2010). Teori kepribadian. Edisi 2. Jakarta: Salemba
Humanika.
Istiqomah, Sari., Rahmawati, Isnaini & Suryandari, Dewi. (2018). Pengaruh Terapi SEFT
Terhadap Tingkat Depresi Pasien Kanker Serviks Di RSUD dr. Moewardi.
Kaplan H.I, Sadock B.J, & Grebb J.A. (2010) . Sinopsis psikiatri jilid 2. Jakarta.
Widjaja Kusuma, 17-35.
Rakihara, Nike EV., Hilman, Oryzati., Khotibuddin, Muhammad. (2018). Pengaruh Terapi
SEFT Terhadap Penuruan Skor Tes Skrining Depresi Pada Penderita Kanker.
Robinson, Kara Mayer. (2016) Recognizing and treating depression. Retrieved
November 17,2016. http://www.webmd.com/depression/symptoms-depressed-anxiety
12/anxiety-depression-mix.
Safitri, Pratiwi., Safaria, Sadif Ria. (2013). Spiritual emotional freedom
technique (SEFT) to reduce depression for chronic renal failure patients are in
Cilacap Hospital to undergo hemodialysis. International Journal of Science and
Humanity, 3, 3.
Samvarta. (2011). Stress and hormones. Indian Journal of Endocrinology and
Metabolism, 15, 1 .
Sugiyono. (2015). Statistika untuk penelitian. Edisi 26. Bandung. Alfabeta. 62 –75.

41
Sumiati. (2010) . Penanganan stress pada penyakit jantung koroner. Jakarta: Trans Info
Media.
Zainuddin, A. F. (2009) . Spiritual emotional freedom technique (SEFT). Jakarta:
Afzan Publishing. 62 –70.
Zainuddin, A.F. (2014). SEFT total solution healing happiness success greatness.
Jakarta : Afzan Publishing.

42