Anda di halaman 1dari 206

PENERAPAN JAMINAN MUTU PRODUK

TANAMAN PANGAN

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN


KEMENTERIAN PERTANIAN
2017
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan
Jalan Raya Ragunan No. 15 Pasar Minggu
Jakarta Selatan – Jakarta
Telp: (021) 7806090
Faks: (021) 78832318
Email: dit.pphtp@gmail.com
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya sehingga Panduan Teknis Penerapan
Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan Tahun 2017 dapat
diselesaikan.
Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan bertujuan untuk
meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk hasil pertanian
melalui mekanisme penjaminan mutu dalam bentuk sertifikasi
dan/atau registrasi yang dilakukan oleh lembaga atau otoritas yang
berkompeten.
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan
merupakan acuan bagi pihak terkait baik pemerintah pusat,
pemerintah daerah maupun instansi lainnya untuk melaksanakan
kegiatan fasilitasi standardisasi dan mutu tanaman pangan TA 2017
yaitu uji mutu produk, sertifikasi organik, sertifikasi non organik, serta
registrasi Produk Segar Asal Tumbuhan (PSAT).
Panduan Teknis ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan
keberhasilan kegiatan standardisasi dan mutu tanaman pangan TA
2017.

Jakarta, Maret 2017


Direktur,

Yanuardi
NIP. 195810131986031001

i
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ..................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................. ii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................... iii

I. PENDAHULUAN ..................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG ......................................................... 1

B. MAKSUD .......................................................................... 3

C. TUJUAN ............................................................................ 3

D. SASARAN ......................................................................... 4

E. RUANG LINGKUP ............................................................ 4

F. ACUAN ............................................................................. 5

II. UJI MUTU PRODUK ............................................................... 6

III. SERTIFIKASI .......................................................................... 16

IV. REGISTRASI PSAT ................................................................ 32

V. PENUTUP ............................................................................... 40

ii
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Parameter Pengujian Mutu Produk Beras ............................... 8

2. Parameter Pengujian Mutu Produk Kedelai ............................. 9

3. Parameter Pengujian Mutu Jagung Pakan Ternak ................... 9

4. Titik dan Jumlah Pengambilan Contoh ..................................... 11

iii
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Penerapan Jaminan Mutu Produk ......................................... 1

2. Ruang Lingkup Mutu ............................................................. 6

3. Alur Prosedur Pelaksanaan Uji Mutu .................................... 15

4. Alur Proses Pembinaan Penerapan Jaminan Mutu Melalui


Sertifikasi dan/atau Registrasi Non-Organik ......................... 18

5. Alur Permohonan Sertifikasi HACCP .................................... 23

6. Alur Fasilitasi Sertifikasi Sistem Pertanian Organik ............... 25

7. Alur Sertifikasi Sistem Pertanian Organik .............................. 30

8. Alur Permohonan Registrasi PSAT ....................................... 37

iv
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

DAFTAR LAMPIRAN

1. Formulir Kuisioner Pengambillan Contoh

2. Formulir Berita Pengambilan Contoh

3. Daftar Laboratorium Pengujian Yang Telah Diakreditasi Dengan


Ruang Lingkup Mutu Dan Keamanan Pangan

4. Contoh Formulir Laporan Hasil Pengujian Mutu Produk

5. Contoh Panduan Mutu Penerapan Jaminan Mutu Berdasarkan


Sistem HACCP (SNI CAC/RCP 1 : 2011)

6. Contoh Formulir Checklist Audit Internal Penerapan Jaminan


Mutu Berdasarkan Sistem HACCP (SNI CAC/RCP 1 : 2011)

7. Contoh Struktur Tim ICS dan Uraian Tugas yang Diintegrasikan


Dalam Struktur Poktan/Gapoktan

8. Contoh Formulir Check List Pra Assesment Budidaya Tanaman


Organik

9. Contoh Formulir Pendaftaran Petani

10. Contoh Formulir Check List Inspeksi Internal untuk Sistem


Pertanian Organik

11. Contoh Formulir Daftar Petani yang Diajukan Sertifikasi Organik /


Approved Farmer List (AFL)

12. Contoh Formulir Check List Pra Assessment Untuk Sertifikasi


Sistem Pertanian Organik

v
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

13. Contoh Dokumen Penerapan Jaminan Mutu Produk

14. Diagram Pohon Keputusan Untuk Titik Kendali Kritis untuk


Penerapan Sistem HACCP

15. Lay Out Rice Milling Unit

16. Contoh Standar Operasional Prosedur Sanitasi (Sanitation


Standard Operational Procedure /SSOP)

vi
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka meningkatkan daya saing produk hasil tanaman


pangan, diperlukan upaya penjaminan mutu dengan
memperhatikan standar dan perubahan lingkungan strategis.
Untuk mendapatkan jaminan mutu produk, pelaku usaha harus
menerapkan sistem jaminan mutu melalui uji mutu, sertifikasi
dan/atau registrasi.

Gambar 1. Penerapan Jaminan Mutu Produk


Penerapan jaminan mutu produk dapat dibedakan menjadi 2
(dua) jenis yaitu organik dan non-organik, baik untuk produk
pangan maupun produk non pangan.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


1
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Penerapan jaminan mutu yang relevan ketika menggunakan


standar yang diterbitkan oleh institusi standardisasi atau
persyaratan teknis minimal oleh kementerian teknis.
Perkembangan pengujian dan sertifikasi saat ini menuntut setiap
pelaku usaha memperhatikan proses jaminan mutu produk yang
dihasilkan. Penerapan jaminan mutu produk sangat tergantung
pada kondisi standar yang ditetapkan dan kemampuan usaha.
Secara umum, penerapan jaminan mutu dapat dilakukan sejak
penyediaan sarana produksi sampai hasil produksi tersebut
tersaji sesuai kepentingan konsumen.

Penerapan jaminan mutu non organik untuk produk pangan hasil


pertanian umum mengacu pada sistem jaminan mutu produk
berdasarkan SNI CAC/RCP 1:2011 Prinsip Umum Higiene
Pangan. Standar ini merupakan salah satu sistem mutu yang
menggunakan model jaminan mutu dengan berdasarkan
keamanan pangan (food safety) sebagai pendekatan utama.
Sedangkan, penerapan jaminan mutu organik wajib mengikuti
aturan Standar Nasional Indonesia (SNI 6729:2016 Sistem
Pertanian Organik).
Keamanan pangan adalah aspek-aspek dalam proses produksi
yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit atau kematian.
Masalah ini umumnya dihubungkan dengan masalah biologi,
kimia dan fisik. Standar ini dimaksudkan untuk dapat
dipergunakan untuk bisnis pangan dalam menerapkan jaminan
mutu kemanan pangan.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


2
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Pada tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan


mengalokasikan penerapan standardisasi dan mutu (terutama
pangan) sebagai melalui:
1. Uji Mutu Produk Beras, Jagung Pakan dan Kedelai

2. Uji Mutu Produk Beras yang telah disertifikasi


3. Sertifikasi (SNI Organik dan SNI Non Organik)

4. Registrasi
Bagi produk pangan, proses uji mutu atau sertifikasi harus
dilanjutkan dengan proses registrasi Produk Segar Asal
Tumbuhan (PSAT) sesuai peraturan yang berlaku.

Penerapan ini sangat penting dalam mengembangkan


kompetensi pelaku usaha tanaman pangan ditengah-tengah
pasar yang terus berkembang.

B. Maksud
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman
Pangan disusun sebagai acuan bagi petugas pusat, daerah dan
instansi terkait lainnya dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi
penerapan standardisasi dan mutu hasil tanaman pangan di
wilayah kerjanya sesuai DIPA TA 2017.

C. Tujuan

Penerapan jaminan mutu produk tanaman pangan bertujuan


untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


3
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

pertanian melalui mekanisme penjaminan mutu produk (sertifikasi


atau registrasi) yang dilakukan oleh Lembaga Penilai Kesesuaian
(LS HACCP/LSO/LSPro/Lembaga Sertifikasi lainnya) dan/atau
Otoritas Kompeten Keamanan Pangan (OKKP-P/OKKP-D).

D. Sasaran

a. Tersedianya data uji mutu pproduk (beras 80 contoh, kedelai


14 contoh, produk beras yang telah disertifikasi organik/yang
akan disertifikasi organik 15 contoh dan dan jagung pakan
100 contoh)
b. Meningkatnya poktan/gapoktan lingkup tanaman pangan
yang mampu menerapkan sistem jaminan mutu produk non
organik sehingga dapat memperoleh sertifikasi SNI
6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP (6 unit);
c. Meningkatnya poktan/gapoktan lingkup tanaman pangan
yang mampu menerapkan sistem pertanian organik sehingga
dapat memperoleh sertifikasi organik (30 unit);
d. Meningkatnya poktan/gapoktan yang teregistrasi Produk
Segar Asal Tumbuhan (24 unit).

E. Ruang lingkup
Ruang lingkup panduan teknis ini mencakup:

1. Uji Mutu Produk


▪ Uji mutu untuk komoditas pangan non organik (beras,
kedelai)
▪ Uji mutu jagung pakan

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


4
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Uji mutu produk yang telah disertifikasi organik dan/atau


produk yang akan disertifikasi organik
2. Sertifikasi
▪ Sertifikasi non organik (sertifikasi SNI 6128:2015 Beras
dan/atau SNI HACCP/SNI CAC/RCP 1:2011)
▪ Sertifikasi organik
3. Registrasi Produk Segar Asal Tumbuhan (PSAT)

F. Acuan
a. Petunjuk Teknis Pengelolaan Bantuan Pemerintah
TA 2017;
b. Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Tahun 2017;
c. SNI CAC/RCP 1:2011 Rekomendasi Nasional Kode
Praktis-Prinsip Umum Higiene Pangan;
d. SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil
Pertanian;
e. SNI 7387:2009 Batas Maksimum Cemaran Logam Berat;
f. SNI 7385:2009 Batas Maksimum Kandungan Mikotoksin
dalam Pangan;
g. Pedoman BSN 1004:2002 tentang Penyusunan Rencana
Sistem Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis
(HACCP);
h. Pedoman BSN 1003:1999 tentang Kriteria Auditor Sertifikasi
HACCP;
i. SNI 19-0428-1998 Petunjuk Pengambilan Contoh Padatan.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


5
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

BAB II
UJI MUTU PRODUK

A. Parameter Pengujian

Mutu produk adalah keadaan fisik, fungsi dan sifat suatu produk
bersangkutan yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan
konsumen dengan memuaskan sesuai nilai uang yang
dikeluarkan.

Mutu Pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria


keamanan dan kandungan gizi pangan. Mutu pangan terdiri dari
keamanan pangan dan kandungan gizi. Keamanan produk terdiri
dari aspek fisik, biologi, dan kimia, sedangkan kandungan gizi
terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.

Gambar 2. Ruang Lingkup Mutu

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


6
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Pengujian adalah penentuan satu atau lebih karateristik dari satu


objek penilaian menurut prosedur. Proses pengujian dapat
dilakukan secara manual dan melalui pemanfaatan alat tertentu
seperti di laboratorium.
Pengujian fisik dapat dilakukan secara makroskopis dan
mikroskopis

1. Pengujian Mutu untuk Komoditas Pangan Non Organik


(Beras dan Kedelai)
Pengujian mutu produk sangat penting dalam memastikan
kehandalan informasi mutu produk. Untuk itu, proses
pengujian mutu produk harus memenuhi kecermatan dan
konsistensi sesuai dengan standar sehingga menjadi
bermanfaat. Pengujian mutu produk harus dilakukan oleh
laboratorium yang terakreditasi oleh Komite Akreditasi
Nasional (KAN).

Parameter pengujian mutu produk untuk beras meliputi:


- Mutu Fisik : derajat sosoh, kadar air, butir kepala, butir
patah, butir menir, butir merah.
- Mutu Biologi : Mikotoksin, Kapang, E-coli, dan Alt.
- Mutu Kimia : residu kimia pestisida dan logam berat.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


7
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Tabel 1. Parameter Pengujian Mutu Produk Beras

Keterangan: 1) SNI 6128:2015 Beras


2) SNI 7387:2009 Batas Maksimun Cemaran Logam Berat Dalam Pangan
3) SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida Hasil Pertanian
4) Permentan Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Pelarangan Penggunaan Bahan Kimia
Berbahaya pada Proses Penggilingan Padi, Huller dan Penyosoh Beras
5) SNI 7385:2009 Batas Maksimum Kandungan Mikotoksin Dalam Pangan
6) SNI 7388:2009 Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Pangan
7) PP Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahan Pangan dan Gizi

Parameter pengujian mutu produk untuk kedelai meliputi:


- Mutu Fisik
- Mutu Biologi
- Mutu Kimia

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


8
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Tabel 2. Parameter Pengujian Mutu Produk Kedelai

Keterangan : 1) SNI 01-3922-1995 Kedelai


2) SNI 7387:2009 Batas Maksimun Cemaran Logam Berat Dalam Pangan
3) SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida Hasil Pertanian
4) SNI 7388:2009 Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Pangan
5) PP Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahan Pangan dan Gizi

2. Pengujian Mutu Jagung Bahan Pakan Ternak


Parameter pengujian mutu jagung bahan pakan ternak
meliputi:
- Mutu Fisik
- Mutu Biologi

Tabel 3. Parameter Pengujian Mutu Jagung Bahan Pakan


Ternak 1)

Keterangan: 1) SNI 4483:2013 Jagung-bahan pakan ternak

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


9
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

3. Pengujian Mutu Produk yang Telah Disertifikasi Organik/


Produk yang Akan Disertifikasi

Dalam rangka identifikasi keyakinan memadai atas mutu


pada produk yang telah disertifikasi organik maupun yang
akan disertifikasi organik diperlukan pengujian residu
pestisida dan logam berat. Walaupun hal ini tidak wajib
dilakukan, kecuali jika inspektor organik mencurigai
kemungkinan kontaminasi bahan kimia sintetis. Pengujian
residu pestisida dilakukan secara kualitatif (screening test)
dan kuantitatif. Pengujian mutu produk organik juga dilakukan
untuk melihat konsistensi penerapan sistem pertanian
organik pada poktan/gapoktan setelah mendapatkan
sertifikasi organik. Perlakuan ini sebagai proses check and
balance atas penerapan sertifikasi sistem pertanian organik.
Pengujan mutu beras organik meliputi parameter kimia,
biologi dan kandungan gizi seperti terdapat pada Tabel 1.

B. Prosedur Pelaksanaan Uji Mutu


Prosedur pelaksanaan pengujian mutu untuk komoditas beras
non organik, beras organik, jagung pakan ternak, dan kedelai
sebagai berikut:
1. Dinas melakukan identifikasi titik/lokasi pengambilan
contoh
• Titik pengambilan contoh beras dalam rangka sertifikasi
SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP dan/atau
dalam rangka registrasi PSAT dilakukan pada pelaku

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


10
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

usaha penggilingan padi (poktan/gapoktan/lembaga


lainnya);

• Titik pengambilan contoh kedelai adalah petani kedelai


dan pedagang pengumpul kedelai

• Titik pengambilan contoh untuk produk beras organik


diambil pada poktan/gapoktan/lembaga lainnya yang
memproduksi beras organik dan sudah mendapatkan
sertifikasi organik berdasarkan SNI;

• Titik pengambilan contoh untuk jagung pakan diambil pada


poktan/gapoktan, pedagang pengumpul kecil dan
pedagang pengumpul sedang/besar.
Tabel 4. Titik dan Jumlah Pengambilan Contoh

Ket: *Komposisi jumlah sampel jagung pakan ternak di tingkat petani, pedagang pengumpul
kecil dan pedagang pengumpul besar dapat menyesuaikan kondisi lapang

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


11
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

2. Dinas melakukan penunjukan Petugas Pengambil


Contoh (PPC) dan persiapan pengambilan contoh
Persiapan pengambilan contoh sebagai berikut:
1) Menyusun rencana pengambilan contoh;
2) Mempersiapkan dokumen pendukung serta peralatan
untuk pengambilan contoh sesuai komoditi yang akan
diambil contohnya. Dokumen pendukung yang
dipersiapkan antara lain:
▪ Surat penugasan tim pengambil contoh

▪ Standar Acuan SNI 19-0428-1998 Petunjuk


Pengambilan Contoh Padatan

▪ Berita acara pengambilan contoh


▪ Kuisioner untuk wawancara kepada pemilik contoh
agar memperoleh informasi data lainnya. Wawancara
dilakukan sebelum pelaksanaan pengambilan
contoh. Kuisioner untuk wawancara sesuai pada
lampiran 1.

3) Peralatan untuk pengambilan contoh yang harus


dipersiapkan antara lain : tombak tunggal (harus bersih
dan steril), plastik polietilen, wadah penyimpanan
contoh (harus bersih dan steril), sarung tangan, alkohol,
sekop kecil/pendek (harus besih dan steril), timbangan
(harus besih dan steril), hygrometer termometer digital,
grain moisture meter, label contoh, spidol permanen,
alumanium foil, dan lain-lain.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


12
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

3. PPC melakukan pengambilan contoh sesuai teknik


pengambilan contoh
- Contoh yang diambil harus mewakili populasi yang
komoditas yang tersedia dilokasi. Pelaksanaan
pengambilan contoh dilakukan dengan penjelasan
kepada pelaku usaha yang akan diambil contoh.
Pengambilan spot contoh untuk memenuhi keakurasian
harus diperhatikan petugas. Setelah petugas selesai
mengambil spot contoh, dilakukan penandatanganan
berita pengambilan contoh.
- Pengambilan contoh dilakukan oleh tim petugas
pengambilan contoh yang kompeten sesuai dengan
metode pengambilan contoh yang ditetapkan
berdasarkan acuan SNI 19-0428-1998 Petunjuk
Pengambilan Contoh Padatan. Pelaksanaan
pengambilan contoh dibedakan berdasarkan kondisi
yaitu pengambilan contoh berbentuk curah dan
pengambilan contoh berbentuk kemasan. Contoh akhir
diambil sebanyak 2 kg (1 kg contoh laboratorium dan 1
kg arsip contoh)
- Penanganan contoh antara lain memberi label atau
identitas pada kemasan contoh meliputi nama pemilik
contoh, lokasi tempat pengambilan contoh, jumlah
contoh, tanggal pengambilan contoh dan nama PPC.
Contoh yang diambil dikemas menggunakan plastik
polietilen yang kedap udara untuk uji aflatoksin,
sedangkan untuk uji residu pestisida contoh yang diambil
dibungkus almunium foil. Contoh akhir yang telah

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


13
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

dikemas diletakkan dalam wadah penyimpanan contoh


agar tidak terkontaminasi
- Penandatanganan berita acara pengambilan contoh
dilakukan antara pemilik contoh dengan petugas
pengambil contoh. Contoh formulir berita acara
pengambilan contoh sebagaimana terlampir pada
lampiran 2.

4. Dinas melakukan pengiriman contoh kepada


laboratorium pengujian yang terakreditasi
Petugas pengambil contoh melakukan pengiriman contoh ke
laboratorium pengujian yang telah terakreditasi oleh KAN
sesuai dengan ruang lingkup yang akan diuji. Adapun daftar
laboratorium pengujian yang telah diakreditasi dengan ruang
lingkup mutu produk sebagaimana pada lampiran 3.

5. Dinas melaporkan hasil pengujian contoh kepada


Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman
Pangan melalui email dit.pphtp@gmail.com dan
standardisasimutu_tp@yahoo.com.
Petugas pengambil contoh melaporkan hasil pengujian yang
telah dilaporkan oleh laboratorium pengujian yang sudah
terakreditasi KAN. Contoh formulir laporan hasil pengujian
mutu produk terdapat pada lampiran 4.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


14
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Gambar 3. Alur Prosedur Pelaksanaan Uji Mutu

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


15
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

BAB III
SERTIFIKASI

Penjaminan mutu dan keamanan produk untuk komoditas pangan


dapat dilakukan melalui berbagai proses sertifikasi antara lain
sertifikasi produk, sertifikasi HACCP (SNI CAC/RCP 1:2011), sertifikasi
sistem keamanan pangan (ISO 22000), dan sertifikasi sistem pertanian
organik.
1. Sertifikasi Beras Non Organik (SNI 6128:2015 Beras dan/atau
SNI HACCP)
Dalam rangka melaksanakan sertifikasi beras non organik dapat
dilakukan melalui sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI
HACCP.
A. Prosedur Pelaksanaan Sertifikasi Non Organik (SNI
6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP)
a. Dinas melakukan penetapan CPCL dengan ketentuan
seperti pada Petunjuk Teknis Pengelolaan Bantuan
Pemerintah TA 2017 dan Pedoman Pelaksanaan
Kegiatan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman
Pangan Tahun 2017.
b. Dinas melakukan pengujian mutu pada produk yang
sudah dipastikan menjadi penerima sertifikasi beras non
organik. Hasil uji mutu yang dilakukan tersebut sebagai
acuan dalam melakukan pembinaan mulai dari budidaya
dan proses produksi beras.
c. Dinas melaksanakan pengadaan grader dan packing unit

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


16
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Untuk dapat menghasilkan beras yang memenuhi SNI


6126:2015 Beras, pelaku usaha penggilingan padi harus
memiliki sarana grading untuk memisahkan beras kepala
dengan butir pecah dan memiliki sarana pengemasan
(packing unit) yang memadai agar dapat menghasilkan
beras berkualitas dalam kemasan retail. Pada TA 2017
Kementerian Pertanian memberikan fasilitasi grading dan
packing pada poktan/gapoktan/lembaga lain yang
menjadi CPCL untuk sertifikasi SNI 6128:2015 Beras
dan/atau SNI HACCP.
Apabila CPCL untuk sertifikasi SNI 6128:2015 Beras
dan/atau SNI HACCP sudah memiliki fasilitas grading
dan packing untuk menghasilkan beras sesuai SNI maka
pengadaan sarana grading dan packing dapat dialihkan
ke poktan/gapoktan/lembaga lain yang membutuhkan.
d. Dinas melakukan tahapan pembinaan sertifikasi.
Tahapan pembinaan sertifikasi meliputi apresiasi dan
sosialisasi, pembentukanan tim mutu produk, tindakan
perbaikan, bimbingan teknis, penyusunan dokumen
sistem mutu, sosialisasi di poktan/gapoktan, penerapan
dokumen sistem mutu, tindakan perbaikan, permohonan
sertifikasi atau registrasi ke OKKP-D.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


17
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Gambar 4. Alur Proses Pembinaan Penerapan Jaminan


Mutu melalui Sertifikasi dan/atau Registrasi
Non-Organik

1) Apresiasi dan Sosialisasi


Apresiasi bertujuan untuk mensosialisasikan standar
dan/atau regulasi yang dijadikan sebagai acuan
penerapan sistem jaminan mutu produk. Apresiasi dan
sosialisasi dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL,
diikuti oleh anggota dan pengurus poktan/gapoktan,
dipandu oleh Petugas Pendamping/Pembina/Petugas
PMHP dari Dinas Kabupaten/Kota/ Provinsi, Instansi
Pusat atau dari Perguruan Tinggi, Badan Litbang dan
lain-lain yang memiliki kompetensi yang memadai.

Materi yang harus disosialisasikan:


▪ Prinsip-prinsip mutu produk

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


18
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Permentan Nomor 51 Tahun 2008 tentang


Pendaftaran Pangan Segar Asal Tumbuhan, Good
Manufacturing Practices (GMP), Good Handling
Practices (GHP)

▪ SNI CAC/RCP-1:2011 tentang Rekomendasi Nasional


Kode Praktis-Prinsip Umum Higiene Pangan

▪ SNI 6128:2015 Beras


▪ SOP Proses dan SOP Sanitasi.

2) Pembentukan Tim Mutu Pangan


Untuk penerapan sistem jaminan mutu produk harus
dibentuk Tim Keamanan Pangan yang terdiri dari
anggota poktan/gapoktan yang memahami sistem
jaminan mutu produk. Pada tahap awal Tim Keamanan
Pangan bertugas untuk menyusun dokumen sistem
mutu, mensosialisasikan penerapan sistem jaminan mutu
kepada anggota.

3) Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem


Mutu (Doksistu)

Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu


dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh
anggota dan pengurus poktan /gapoktan, dipandu oleh
Petugas Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari
Dinas Kabupaten/Kota/ Provinsi, Ditjen Tanaman
Pangan, Badan Litbang dan lain-lain yang memiliki

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


19
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

kompetensi yang memadai di bidangnya (pendidikan


formal, pelatihan, dan pengalaman pendampingan).

Dokumen Sistem Mutu untuk Penerapan Sistem Jaminan


Mutu produk yang akan disusun terdiri atas:

▪ Panduan Penerapan Sistem Jaminan Mutu produk.


Khusus untuk fasilitasi penerapan Sistem HACCP
harus disusun Rencana Penerapan HACCP (HACCP
Plan)

▪ Standar Operasional Prosedur Sanitasi (SOP


Sanitasi)/Standard Sanitation Operation Procedure
(SSOP)
▪ Standar Operasional Procedure (SOP) penggilingan
padi
▪ Standar Operasional Procedure (SOP) audit internal

▪ Formulir pencatatan penerapan sistem jaminan mutu


produk (catatan proses budi daya, catatan
penanganan pasca panen, catatan penanganan
proses pengolahan, catatan pelaksanaan prosedur
sanitasi)
Bimbingan teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu
(Doksistu) dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan
setelah apresiasi sistem jaminan mutu produk. Pada saat
bimbingan teknis penyusunan dokumentasi sistem mutu
(doksistu) harus dilakukan simulasi penerapan sistem dan
rencana tindak lanjut penerapan di poktan/gapoktan.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


20
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Contoh dokumentasi sistem mutu untuk penerapan


sistem jaminan mutu berdasarkan sistem HACCP
terdapat pada lampiran 5.
4) Sosialisasi Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu)

Dokumen sistem mutu harus disosialisasikan kepada


seluruh anggota oleh tim penyusun. Penyuluh/Petugas
dari Kabupaten/Kota/Provinsi/Pusat harus membantu
mensosialisasikan dokumen sistem mutu. Kegiatan
sosialisasi dokumen sistem mutu harus
didokumentasikan.

5) Penerapan Dokumen Sistem Mutu


Dokumen sistem mutu yang telah disusun harus
dijadikan acuan dalam operasionalisasi kegiatan secara
konsisten oleh poktan/gapoktan. Penerapan dokumen
sistem mutu tersebut harus dibuktikan dengan
pencatatan. Peran penyuluh/pendamping dan tim
keamanan pangan sangat diperlukan dalam penerapan
sistem jaminan mutu keamanan pangan.

Verifikasi dilakukan untuk memastikan apakah


penerapan sistem jaminan mutu keamanan pangan
sudah dilakukan berdasarkan standar acuan yang telah
ditetapkan. Proses verifikasi dilakukan oleh tim
keamanan pangan dengan menggunakan checklist audit
internal terhadap penerapan sistem jaminan mutu produk
oleh tim keamanan pangan sesuai pada lampiran 6.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


21
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Hasil audit internal akan ditemukan beberapa


ketidaksesuaian dari penerapan sistem yang sudah
dilakukan sehingga perlu dilakukan tindakan perbaikan
terhadap temuan ketidaksesuaian sebelum dilakukan
pengajuan permohonan sertifikasi SNI 6128:2015 Beras
dan/atau SNI HACCP.

6) Uji Mutu Produk (beras dan kedelai)


Untuk membuktikan efektifitas penerapan sistem jaminan
mutu produk terhadap produk yang dihasilkan dilakukan
validasi melalui pengujian keamanan pangan di
laboratorium pengujian yang telah terakreditasi oleh
Komite Akreditasi Nasional .

7) Permohonan Sertifikasi
Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan tindakan
perbaikan dapat mengajukan permohonan sertifikasi ke
Lembaga Sertifikasi HACCP/ Lembaga Sertifikasi Produk
(LSPro) melalui Dinas Pertanian Provinsi penerima dana
dekonsentrasi.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


22
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Gambar 5. Alur Permohonan Sertifikasi HACCP


Seluruh tahapan proses penerapan sistem jaminan mutu
produk, dilakukan pada lokasi CPCL dan harus diikuti oleh
anggota/pengurus yang berasal dari poktan/gapoktan,
penyuluh, dan petugas dinas kabupaten/kota/provinsi.

2. Sertifikasi Organik

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor


64/Permentan/OT.140/5/2016, seluruh produk organik yang
beredar di wilayah Indonesia baik produksi dalam negeri maupun
pemasukan (impor) harus mencantumkan logo organik Indonesia.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


23
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Hanya pelaku usaha organik yang sudah disertifikasi oleh LSO


yang berhak mencantumkan logo organik Indonesia.

Pelaku usaha yang ingin mendapatkan sertifikasi organik harus


memenuhi persyaratan teknis sebagaimana tertuang dalam SNI
6729:2016 Sistem Pertanian Organik dan persyaratan manajemen
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk sertifikasi organik
berbasis kelompok, poktan/gapoktan organik selain menerapkan
budidaya organik juga harus menerapkan sistem kendali internal
(Internal Control System/ICS) untuk menjamin integritas organik
pada produk yang dihasilkan.

Mengingat sertifikasi pertanian organik tidak hanya didasarkan


pada penilaian produk akhir saja, melainkan dimulai dari proses
produksi sampai distribusi yang terdokumentasi, diperlukan
pendampingan oleh pihak terkait baik pemerintah pusat,
pemerintah daerah maupun instansi lainnya. Tahapan
pelaksanaan sertifikasi organik sebagai berikut: apresiasi dan
sosialisasi, pembentukan ISC, penyusunan sistem mutu,
sosialisasi dokumentasi petani, penerapan sistem pertanian
organik yang terdokumentasi, penerapan ICS, pengajuan
sertifikasi organik LSO, proses inspeksi oleh LSO, penerbitan
sertifikasi dan pengajuan registrasi PSAT.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


24
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Gambar 6. Alur Fasilitasi Sertifikasi Sistem Pertanian


Organik
1) Apresiasi dan Sosialisasi

Apresiasi dan sosialisasi bertujuan untuk mensosialisasikan


standar dan regulasi yang dijadikan acuan dalam
penerapan sistem pertanian organik. Apresiasi juga
bertujuan untuk membangun komitmen poktan/gapoktan
dalam menerapkan sistem pertanian organik dan mengikuti
sertifikasi organik berbasis kelompok. Apresiasi/sosialisasi
dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh
anggota dan pengurus poktan /gapoktan, dipandu oleh
Petugas Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas
Kabupaten/Kota/ Provinsi, Ditjen Tanaman Pangan, Badan

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


25
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Litbang dan instansi lainnya yang memiliki kompetensi yang


memadai.

Materi yang harus disosialisasikan:


▪ Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik

▪ SNI 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik


▪ Sertifikasi berbasis kelompok (Penerapan Internal Control
System/ICS)
▪ Strategi Membangun Bisnis Organik

2) Pembentukan Tim Internal Control System (ICS)


Untuk sertifikasi organik berbasis kelompok,
poktan/gapoktan harus membentuk Tim Internal Control
System (ICS). Tim ICS dapat diintegrasikan dalam struktur
organisasi poktan/gapoktan organik yang sudah ada.
Contoh struktur tim ICS dan uraian tugasnya yang
diintegrasikan dalam struktur poktan dan gapoktan sesuai
lampiran 7.

3) Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem


Mutu (Doksistu)

Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu


dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, dipandu oleh
petugas pendamping / pembina / PMHP dari Kabupaten
/Kota /Provinsi/Pusat. Dokumentasi Sistem Mutu yang akan
disusun untuk sertifikasi sistem pertanian organik berbasis
kelompok terdiri atas:

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


26
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Panduan Penerapan Sistem Kendali Internal (Internal


Control System/ICS)

▪ Prosedur Budidaya Organik


▪ Prosedur Pembuatan Pupuk Organik

▪ Prosedur Pembuatan Pestisida Organik


▪ Prosedur Penanganan Pascapanen

▪ Peta Lahan
▪ Formulir pencatatan (catatan budidaya organik, panen,
penyimpanan hasil panen, pengiriman dan penjualan)
Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu
dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh
anggota dan pengurus poktan/gapoktan, dipandu oleh
Petugas Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas
Kabupaten/Kota/Provinsi, Ditjen Tanaman Pangan, Badan
Litbang dan instansi terkait lainnya yang memiliki
kompetensi yang memadai di bidangnya (pendidikan formal,
pelatihan, dan pengalaman pendampingan).
Bimbingan teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu
(Doksistu) dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan
setelah apresiasi/sosialisasi. Pada saat bimbingan teknis
penyusunan dokumentasi sistem mutu (doksistu) juga harus
dilakukan simulasi penerapan sistem dan rencana tindak
lanjut penerapan di poktan/gapoktan. Contoh dokumentasi
sistem mutu untuk penerapan sistem pertanian organik

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


27
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

berbasis kelompok (Panduan Sistem Kendali Internal/ICS)


terdapat pada lampiran 8.

4) Sosialisasi Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu)


Dokumen sistem mutu harus disosialisasikan kepada
seluruh anggota oleh tim penyusun. Penyuluh/Petugas
PMHP dari Kabupaten/Kota/Provinsi/Pusat harus
membantu mensosialisasikan dokumen sistem mutu.
Kegiatan sosialisasi dokumen sistem mutu harus
didokumentasikan.
5) Penerapan Internal Control System (ICS)

Untuk sertifikasi berbasis kelompok, pelaku usaha harus


menerapkan Internal Control System (ICS) dengan tahapan
sebagai berikut:
▪ Pendaftaran Petani

Seluruh petani yang tergabung dalam program sertifikasi


organik berbasis kelompok harus didaftar oleh tim ICS.
Contoh formulir pendaftaran terdapat pada lampiran 9.
▪ Inspeksi Internal

Pengawas internal dari Tim ICS melakukan inspeksi


internal penerapan sistem pertanian organik terhadap
seluruh petani anggota kelompok yang sudah didaftar.
Contoh check list inspeksi internal terdapat pada
lampiran 10.
Pada saat inspeksi pengawasan internal harus
memastikan bahwa sistem pertanian organik telah

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


28
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

diterapkan dan terdokumentasi. Temuan ketidaksesuaian


pada saat inspeksi internal harus diperbaiki sebelum
diajukan ke komisi persetujuan dan hasil perbaikan harus
didokumentasikan.

▪ Persetujuan dan Sanksi


Hasil inspeksi internal diputuskan dalam komisi
persetujuan dengan status (organik, konversi tahun 1,
konversi tahun 2) dan direkapitulasi dalam form daftar
petani yang disetujui Approved Farmer List (AFL).
Formulir daftar petani yang disetujui Approved Farmer
List (AFL) menggunakan formulir seperti pada lampiran
11.

Masing-masing petani anggota harus mencatat kegiatan


budidaya dalam form pencatatan yang sudah disediakan
atau mencatat dalam buku.
▪ Pra Assessment

Pra Assessment dilakukan untuk memastikan


persyaratan sertifikasi pertanian organik baik aspek
teknis maupun manajemen telah dipenuhi oleh
poktan/gapoktan organik. Pra assessment dilakukan
oleh Petugas Pusat/Provinsi dengan menggunakan
check list pra assessment. Contoh check list pra
assessment terdapat pada lampiran 12.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


29
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Tindakan Perbaikan
Temuan ketidaksesuaian pada saat pra assessment
harus diperbaiki sebelum mengajukan permohonan
sertifikasi organik ke Lembaga Sertifikasi Organik.

▪ Permohonan Sertifikasi
Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan tindakan
perbaikan dapat mengajukan sertifikasi organik ke LSO
melalui Dinas Pertanian Provinsi penerima dana
dekonsentrasi.

Gambar 7. Alur Sertifikasi Sistem Pertanian Organik

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


30
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

6) Pengajuan Registrasi PSAT


Produk yang sudah disertifikasi organik dan dikemas dalam
kemasan retail harus didaftarkan registrasi PSAT ke
Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKP-P)/
Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D).
Jika OKKP-D belum memiliki ruang lingkup verifikasi untuk
registrasi PSAT maka pengajuan registrasi PSAT
disampaikan ke OKKP-P. Proses pengajuan registrasi
sesuai pada gambar 8.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


31
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

BAB IV
REGISTRASI PSAT

Dalam rangka peredaran produk, registrasi PSAT perlu dilakukan oleh


pelaku usaha, khususnya untuk produk yang dalam kemasan retail.
Alur proses pembinaan penerapan jaminan mutu untuk mendapatkan
registrasi PSAT sebagaimana Gambar 4.
Produk yang telah disertifikasi yang telah dilakukan uji mutu produk
atau disertifikasi (antara lain SNI 6128:2015 Beras dan/atau sertifikasi
HACCP yang telah dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi
HACCP/lembaga sertifikasi produk), wajib melakukan pengajuan
permohonan registrasi PSAT ke OKKP-D setempat.

Bagi pelaku usaha di daerah, registrasi PSAT bagi pelaku


usaha/poktan/gapoktan mengacu pada Permentan Nomor 51 Tahun
2008 pasal 11 dapat langsung dikeluarkan oleh OKKP-D setempat.
Tahapan proses pembinaan penerapan jaminan mutu untuk
mendapatkan registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) antara
lain:

1) Identifikasi
Dinas lingkup pertanian provinsi melakukan identifikasi calon
pelaku usaha yang akan dibina dan proses pengusulan dapat
dikoordinasikan dengan dinas kabupaten/kota.

Kriteria CPCL pelaku usaha yang akan dibina hingga siap


diajukan registrasi PSAT meliputi:

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


32
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Pelaku usaha/poktan/gapoktan yang telah menghasilkan


produk segar asal tumbuhan dalam bentuk terkemas
(kemasan retail);
▪ Poktan/gapoktan penggilingan padi yang sudah menghasilkan
produk beras dalam kemasan;
▪ Diutamakan penerima kegiatan tugas pembantuan pasca
panen atau peralatan pengolahan dari Ditjen Tanaman
Pangan;

▪ Memiliki komitmen untuk menerapkan sistem jaminan mutu


produk yang baik.

2) Apresiasi dan Sosialisasi


Apresiasi bertujuan untuk mensosialisasikan standar dan/atau
regulasi yang dijadikan sebagai acuan penerapan sistem jaminan
mutu produk. Apresiasi/sosialisasi dilakukan langsung di
poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh anggota dan pengurus
poktan /gapoktan, dipandu oleh Petugas
Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas
Kabupaten/Kota/ Provinsi, instansi Pusat atau dari Perguruan
Tinggi, Badan Litbang dan lain-lain yang memiliki kompetensi
yang memadai.

Materi yang harus disosialisasikan:


▪ Kebijakan Mutu Produk

▪ Penerapan Good Handling Practices (GHP) dan Good


Manufacturing Practices (GMP)

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


33
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Permentan Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pendaftaran


Pangan Segar Asal Tumbuhan

3) Pembentukan Tim Mutu


Untuk penerapan sistem jaminan mutu produk harus dibentuk tim
mutu terdiri dari anggota poktan/gapoktan yang memahami
sistem jaminan mutu produk. Pada tahap awal tim mutu bertugas
untuk menyusun dokumen sistem mutu, dan mensosialisasikan
penerapan sistem jaminan mutu kepada anggota.

4) Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu


(Doksistu)

Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu dilakukan


langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh anggota dan
pengurus poktan /gapoktan, dipandu oleh Petugas
Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas
Kabupaten/Kota/ Provinsi, instansi Pusat atau dari Perguruan
Tinggi, Badan Litbang dan lain-lain yang memiliki kompetensi
yang memadai di bidangnya (pendidikan formal, pelatihan, dan
pengalaman pendampingan).

Dokumen Sistem Mutu untuk Penerapan Sistem Jaminan Mutu


produk terdiri atas:

▪ Panduan Penerapan Sistem Jaminan Mutu produk. Khusus


untuk fasilitasi penerapan Sistem HACCP harus disusun
Rencana Penerapan HACCP (HACCP Plan)
▪ Standar Operasional Prosedur Sanitasi (SOP Sanitasi)
Standard Sanitation Operation Procedure (SSOP)

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


34
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Standar Operasional Procedure (SOP) Penggilingan Padi


▪ Standar Operasional Procedure (SOP) Audit Internal

▪ Formulir pencatatan penerapan sistem jaminan mutu produk


(catatan proses budi daya, catatan penanganan pasca panen,
catatan penanganan proses pengolahan, dan catatan
pelaksanaan prosedur sanitasi)

Bimbingan teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu


(Doksistu) dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah
apresiasi sistem jaminan mutu produk. Pada saat bimbingan
teknis penyusunan dokumentasi sistem mutu (doksistu) sistem
jaminan mutu dan keamanan juga harus dilakukan simulasi
penerapan sistem dan rencana tindak lanjut penerapan di
poktan/gapoktan. Contoh dokumentasi penerapan sistem
jaminan mutu dan keamanan pangan untuk mendapatkan
registrasi PSAT terdapat pada lampiran 13.
5) Sosialisasi Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu)

Dokumen sistem mutu harus disosialisasikan kepada seluruh


anggota oleh tim penyusun. Penyuluh/Petugas dari
Kabupaten/Kota/Provinsi/Pusat harus membantu
mensosialisasikan dokumen sistem mutu. Kegiatan sosialisasi
dokumen sistem mutu harus didokumentasikan.
6) Penerapan Sistem Jaminan Mutu

Dokumen sistem mutu yang telah disusun harus dijadikan acuan


dalam operasionalisasi kegiatan secara konsisten oleh
poktan/gapoktan. Penerapan dokumen sistem mutu tersebut

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


35
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

harus dibuktikan dengan pencatatan. Peran


penyuluh/pendamping dan tim keamanan pangan sangat
diperlukan dalam penerapan sistem jaminan mutu keamanan
pangan.

Untuk membuktikan efektifitas penerapan sistem jaminan mutu


produk terhadap produk yang dihasilkan dilakukan validasi
melalui pengujian keamanan pangan oleh laboratorium pengujian
yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Verifikasi dilakukan untuk memastikan apakah penerapan sistem


jaminan mutu keamanan pangan sudah dilakukan berdasarkan
standar acuan yang telah ditetapkan. Proses verifikasi dalam hal
ini dilakukan oleh petugas pembina/pendamping/PMHP
disesuaikan dengan persyaratan dalam pengajuan permohonan
registrasi PSAT yang tertera dalam Permentan Nomor 51 Tahun
2008. Selain itu, dilakukan pengambilan contoh produk agar
diperoleh hasil uji laboratorium terkait parameter uji mutu produk.
Hasil uji laboratorium dilampirkan dalam proses permohonan
registrasi PSAT.
7) Permohonan Registrasi PSAT
Pelaku usaha/Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan
tindakan perbaikan dapat mengajukan permohonan registrasi
PSAT ke Otoritas Kompeten Keamanan Pangan (OKKP-
P/OKKP-D). Pada saat pengajuan registrasi PSAT pelaku usaha
pangan segar harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

▪ Kartu Tanda Penduduk Pemohon

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


36
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

▪ Akte pendirian dan perubahannya (badan usaha/badan


hukum pembentukan poktan/gapoktan)
▪ Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pemohon
▪ Surat Keterangan Domisili
▪ Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
▪ Sertifikat Jaminan Mutu Produk (jika ada)
▪ Dokumen Sistem Manajemen Mutu (doksistu)

Gambar 8. Alur Permohonan Registrasi PSAT

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


37
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Bagi pelaku usaha/poktan/gapoktan yang tidak memiliki sertifikat


jaminan mutu keamanan pangan berdasarkan Permentan Nomor
51 Tahun 2008 pasal 11 harus dilakukan penilaian audit lapang
dan pengambilan contoh produknya. Pengambilan contoh produk
dapat dilakukan oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) yang
kompeten dan telah mendapatkan pelatihan pengambilan contoh
produk hasil pertanian dari Dinas Pertanian
Provinsi/Kabupaten/Kota/OKKP-D. Penilaian lapang dilakukan
oleh petugas inspektor dari OKKP-D/OKKP-P contoh produk yang
telah diambil oleh PPC harus sesegera mungkin dikirim ke
laboratorium pengujian yang ruang lingkupnya telah terakreditasi
oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) agar dapat dilakukan
pengujian mutu produk sesuai dengan parameter uji mutu produk.
Laporan hasil uji dari laboratorium dapat dilampirkan dalam proses
pengajuan registrasi PSAT ke OKKP-P/OKKP-D. Alur proses
mekanisme registrasi PSAT sesuai gambar 8. OKKP-D yang
belum memiliki ruang lingkup verifikasi registrasi PSAT dapat
mengajukan permohonan registrasi PSAT ke OKKP-P.
Persetujuan nomor registrasi PSAT yang telah diterbitkan oleh
Ketua OKKP-D atas nama Gubernur harus disampaikan kepada
Dinas Pertanian sebagai penyelenggara agar nantinya dapat
diberikan kepada poktan/gapoktan pelaku usaha yang
mengajukan permohonan. Dinas Pertanian wajib melaporkan
pelaku usaha/poktan/gapoktan yang telah mendapatkan nomor
registrasi PSAT kepada kepada Direktur Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Cq. Subdit Standardisasi dan
Mutu Tanaman Pangan.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


38
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

Jika dari hasil penilaian proses permohonan registrasi PSAT yang


diajukan ke OKKP-P/OKKP-D dinyatakan bahwa pelaku
usaha/poktan/gapoktan yang telah dibina oleh Dinas Pertanian
Provinsi sebagai penyelenggara tidak layak untuk memperoleh
nomor registrasi PSAT, maka OKKP-P/OKKP-D yang melakukan
penilaian harus mengemukakan kejelasan secara tertulis
ketidaklayakan tersebut agar dapat dilakukan pembinaan lebih
lanjut.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


39
Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan

BAB V
PENUTUP

Penerapan sistem jaminan mutu produk merupakan langkah penting


bagi pelaku usaha pertanian sehingga mampu menghasilkan produk
pangan yang aman dikomsumsi dan memiliki transparansi kandungan
gizi.

Sebagai salah satu upaya peningkatan kemampuan sumberdaya


manusia pertanian, khususnya dibidang penerapan sistem jaminan
mutu produk, maka dilaksanakan penyelenggaraan kegiatan
bimbingan teknis bagi penyuluh, pendamping dan poktan/gapoktan
melalui kegiatan fasilitas penerapan standardisasi dan mutu hasil
tanaman pangan.

Agar kegiatan fasilitas penerapan standardisasi dan mutu hasil


tanaman pangan dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan
dan sasaran yang diharapkan, maka panduan penerapan ini dibuat
sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu
produk lingkup tanaman pangan Tahun Anggaran 2017 bagi petugas
pusat, daerah maupun instansi terkait lainnya.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan


40
LAMPIRAN 1

KUESIONER
PENGAMBILAN CONTOH SENTRA PRODUKSI
TINGKAT PETANI
KUESIONER
PENGAMBILAN CONTOH SENTRA PRODUKSI TINGKAT PETANI

Nama Petani/Pengumpul*) :
Nama Kelompok Tani :
Nama Gapoktan :
Dukuh :
Desa/Kelurahan :
Kecamatan :
Kabupaten :
Propinsi :
Jenis Komoditi : Jagung pakan/Kedelai*)
Kontak penghubung/Tlp/Hp :
Tanggal Wawancara :

A. DATA KEBUN (KOMODITI PERTANIAN) :


1. Luas kebun (total) .......................................................................................(ha)
2. Luas kebun yang produktif...........................................................................(ha)
3. Variasi tanaman di lokasi :…….....……………………….............................
4. Ketinggian di atas permukaan air laut : ...................................................... m
dpl

B. DATA PETANI/PENGUMPUL (KOMODITI PERTANIAN) *) :


1. Jumlah anggota kelompok ………………………………………………………….
2. Jumlah petani pemasok jagung/kedelai (total) *)...............................................
3. Daftarnama petani pemasok..............................................................................
4. Varietas jagung/kedelai*) :………………..........................................................
5. Sarana penanganan jagung/kedelai*) yang dimiliki dan
kapasitas............................................................................................................
6. Harga jagung/kedelai ditingkat pengumpul........................................................
7. Kondisi tempat penyimpanan.............................................................................
8. Apakah dilakukan tahapan penyimpanan komoditas sebelum
dipasarkan/didistribusikan ? Ya/tidak; Jelaskan prosesnya
9. Apakah petani memahami cara penanganan pasca panen yang baik?
Ya/tidak;
Jelaskan!
10. Apakah ada perlakuan pada saat penyimpanan?
11. Wadah yang digunakan, kondisi lokasi dan proses penyimpanan
12. Persyaratan mutu yang diminta..........................................................................
13. Acuan persyaratan mutu yang diminta...............................................................
C. PANEN (Tuliskan JENIS KOMODITAS PERTANIAN khususnya komoditas
target Pengambilan Contoh)

1. Berapa kali panen dilakukan dalam satu tahun ? : .................................... kali;


2. Pada bulan apa panen besar/raya dilakukan : ................................................ ;
3. Jelaskan secara ringkas alur proses produksi dilakukan.
4. Apakah dilakukan tahapan penyimpanan komoditas sebelum
dipasarkan/didistribusikan ? Ya/tidak;
Jelaskan prosesnya
5. Apakah petani memahami cara budidaya yang baik?
6. Apakah petani memahami cara penanganan pasca panen yang baik?
Jelaskan!
7. Apakah ada perlakuan pada saat penyimpanan? ada/tidak; Jika ada jelaskan
8. Kondisi tempat penyimpanan jagung/kedelai*)
9. Sarana penanganan jagung/kedelai*) yang dimiliki
10. Jelaskan wadah, kondisi lokasi dan proses penyimpanan?

D. PENJUALAN …........... (KOMODITI PERTANIAN)


1. Penjualan komoditas pertanian (khususnya komoditas target sampling)
adalah: (lingkari salah satu/lebih)
a. Pedagang pengumpul;
b. Eksportir langsung;
c. Koperasi petani
d. Lain………
2. Nama pedagang pengumpul : ……………………….................................;
3. Nama eksportir : …..............................................................;
4. Harga penjualan jagung/kedelai *) : Rp. …............................................./kg;
5. Apakah harga cukup wajar ? : ya/tidak Jelaskan dengan singkat!
6. Apakah Saudara tahu harga dalam dan luar negeri): Ya/tidak.
Bila Ya, jelaskan sumber informasi dari mana : …...............................

7. Informasi apa yang dibutuhkan terkait untuk komoditi saudara?

………………., ………………….20…..
Petugas Pengambil Sampel

(………………………..)
NIP. .....................................
*) Coret yang tidak perlu
LAMPIRAN 2

BERITA ACARA PENGAMBILAN CONTOH

74
BERITA ACARA PENGAMBILAN CONTOH
NOMOR :
Pada hari ini tanggal ............................ 2017 yang bertanda tangan di bawah ini,
sebagai petugas pengambil contoh (PPC) :
No NAMA NIP JABATAN INSTANSI
1.
2.
3.
Berdasarkan Surat Tugas Pengambilan Contoh dari ....................................................
nomor....................................., .................... 2017 dengan disaksikan oleh personil
dari pihak petani/pengumpul/petugas dinas setempat *) :
Nama Petani/pengumpul/petugas dinas setempat*) :
Nama Poktan/Gapoktan/UPH; :
Alamat :
Dengan ini menyatakan bahwa telah melakukan pengambilan contoh :
1. Jenis komoditi : beras/jagung/kedelai*)
2. Varietas :..............................................................................
3. Nama petani/pengumpul*) :..............................................................................
4. Alamat petani/pengumpul*) :..............................................................................
................................................................................
5. Lokasi pengambilan contoh :...............................................................................
6. Jumlah contoh yang diambil : ..............................................................................
7. Tanggal pengambilan contoh :...............................................................................
8. Kemasan yang digunakan :...............................................................................
Kemasan Primer :...............................................................................
Kemasan Sekunder :...............................................................................
9. Metode pengambilan : Acak Sederhana
10. Laboratorium Pengujian : ..............................................................................
11. Alamat Lab. Uji : ..............................................................................

12. Kondisi Lingkungan, Jelaskan secara singkat ! (kondisi cuaca, angin,


sejarah/kondisi lahan, daerah aliran sungai (DAS), ketinggian dari permukaan laut,
jarak dengan pemukiman dan tempat pembuangan sampah. Dll)
..................................................................................................................................
13. Jenis pengujian yang direncanakan :
No. KOMODITI VARIETAS PARAMETER UJI

75
14. Hasil pengujian dari laboratorium pengujian disampaikan kepada ;
a. Dinas Pertanian Provinsi penyelenggara dana dekonsentrasi
b. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Ditjen
Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian

..................., ............ 20....


Saksi Petani Petugas Pengambil Contoh

(...................................) (..................................)
NIP ....................................

*) coret yang tidak perlu

76
LAMPIRAN 3

DAFTAR LABORATORIUM TERAKREDITAS


RUANG LINGKUP TANAMAN PANGAN

76
DAFTAR LABORATORIUM TERAKREDITASI
RUANG LINGKUP KEAMANAN PANGAN
I. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP RESIDU PESTISIDA
No. Nama Laboratorium Alamat Paramater Pengujian
1 Balai Perlindungan Tanaman Jl. Jend. Besar Abdul Haris Nasution Mutu formulasi dan residu pestisida
Pangan dan Hortikultura No. 4 Pangkalan Masyhur Medan - Pangan :
(BPTPH) Wilayah I Medan, 21043 Padi, jagung
BPTPH Prov. Sumatera Telp&Fax: 061-7864604 (organofospat, pyretroid, karbamat)
Utara - Hortikultura :
Tomat, cabe, kentang, selada, peleng,
brokoli/bunga kol, bawang pre, bayam,
jeruk, kubis (organopospat, pyretroid)
2 Laboratorium Pestisida Jl. Raden Saleh No. 2, Padang 1. Pengujian mutu: bahan aktif pestisida, sifat
BPTPH Sumatera Barat Telp: 0751-7054686, 7055587; fisika-kimia
Fax: 7055587 2. Pengujian residu: organoklor,
Email: biogent@wasantara.net.id organofosfat, piretroid
3 Balai Pengujian Mutu Produk Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Pengujian mutu pestisida, pupuk, produk
Tanaman Selatan tanaman, aflatoksin dan logam berat
Telp: 021-78835256
4 Balai Pengujian Mutu Hasil Jl. Raya Jambore No. 1 Cibubur Pengujian residu pestida, logam berat,
Tanaman Pangan dan Jaktim mikotoksin dan mikrobiologi
Hortikultura Prov. DKI Telp: 021-87752692
Jakarta
5 Laboratorium Kimia Jl. Tentara Pelajar No.12 Cimanggu Analisis proksimat, residu pestisida &
Biokimia, Balai Besar Telp: 0251-8321762 Fax: 0251- cemaram logam berat, bahan tambahan
Penelitian dan 8350921 pangan & komponen mikro (vitamin bioksib),
Pengembangan Pascapanen lemak & asam lemak
Pertanian (BB-Pascapanen)
6 Laboratorium Residu Bahan Jl. Raya Laladon No.240, Ciomas, Residu pestisida (organoklorin, organofosfat,
Agrokimia (RBA), Balai Bogor 16610 karbamat, piretroid, POPs, fungisida dan
Penelitian Lingkungan Telp/Fax: 0251-8638987 herbisida) pada tanah, air dan tanaman,
Pertanian (Balingtan) residu pupuk, dan analisis kualitas arang dan
arang aktif (daya serap Iod, kadar air)
7 Laboratorium Terpadu, Balai Jl Raya Jakenen-Jaken Km.5 PO BoX Analisis tanah rutin, logam berat, residu
Penelitian Lingkungan 05 Jakenan Pati, Jawa Tengah pestisida (organoklorin, organofosfat,
Pertanian (Balingtan) Telp: 0295-381592, 383927; karbamat, piretroid, fungisida dan herbisida)
Fax: 0295-381592, 383927; pada tanah, air, tanaman, dan pupuk
Email:
balingtan@litbang.go.id,
balingtan@yahoo.com
8 Laboratorium Pupuk dan Jl. Pagesangan II, No. 58 Surabaya Pengujian residu pestisida
Pestisida BPTPH Jawa Telp&Fax: 031-8282970
Timur
9 Laboratorium Pengujian Jl. DR. Ratulangi No. 69 Maros Pengujian pestisida
Pestisida, UPTD BPTPH Telp: 0411-3712323, 371593
Sulawesi Selatan Fax: 0411-371593
Email: bptph-sulsel@telkom.net
10 Balai Besar Karantina Jl. Sulawesi II Belawan 20414 1. Entomologi (Araecerus fasciculatus),
Pertanian (BBKP) Belawan Sumatera Utara mikologi (Helminthosporium solani),
Telp: 061-6941484, 6940691 2. Uji residu pestisida, uji logam berat, uji
aflatoksin
11 Balai Besar Karantina Jl. Enggano no. 17 Tanjung Priok 1. Tungau, lalat buah dan cendawan, bakteri,
Pertanian Tanjung Priok 14310 virus, nematoda, gulma, kolesi,
Telp: 021-43931549,43900544; Fax: 2. pestisida, logam berat, aflatoksin
021-43931061
12 Laboratorium Pestisida, Jl. Hang Tuah Ujung, No. 71 Uji residu pestisida dan formulasi pestisida
BPTPH Riau Pekanbaru
Telp/Fax: 0761-7074647/34392
13 Laboratorium Kimia Agro, Jl. Raya Tangkuban Perahu KM 22, Analisa pestisida (residu dan formulasi), air,
BPTPH Jawa Barat Cikole-Lembang, Bandung 40391 tanah, pupuk (organik dan anorganik),
Telp: 022-2784949; makanan, logam berat (masih dlm ppm)
Email: Lab_agro@yahoo.co.id

77
II. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP LOGAM BERAT
No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian
1 Balai Pengujian Mutu Produk Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Pengujian mutu pestisida, pupuk, produk
Tanaman Selatan tanaman aflatoksin dan logam berat
T: 021-78835256
2 Laboratorium Kimia Jl. Tentara Pelajar No.12 Cimanggu Analisis proksimat, residu pestisida &
Biokimia, Balai Besar Telp: 0251-8321762; cemaran logam berat, bahan tambahan
Penelitian dan Fax: 0251-8350921 pangan & komponen mikro (vitamin bioksib),
Pengembangan Pascapanen lemak & asam lemak
Pertanian (BB-Pascapanen)
3 Laboratorium Terpadu, Balai Jl Raya Jakenen-Jaken Km.5 PO BoX - Analisis kimia tanah: pH, C-Organik, P, N, K,
Penelitian Lingkungan 05 Jakenan Pati, Jawa Tengah S, Hara mikro (Fe, Cu, Mn, Zn), KTK, KB,
Pertanian (Balingtan) Telp: 0295-381592; Kation dd (Kdd, Nadd, Ca-dd dan Mgdd),
Fax: 0295-381592 NO3, NH4, Tekstur, Aidd, Hdd, Asam humat,
fulvat, dll
Email:
- Analisis residu organoklorin, organofosfat,
balingtan@litbang.go.id, karbonat di tanah, tanaman, air
balingtan@yahoo.com - Analisis logam berat (Pb, Cd, Co, Cr, Ni, Hg)
- Analisis kandungan pupuk

III. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP MIKOTOKSIN


No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian
1 Balai Pengujian Mutu Produk Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Pengujian mutu pestisida, pupuk, produk
Tanaman Selatan tanaman aflatoksin dan logam berat
Telp: 021-78835256
2 Balai Pengujian Mutu Hasil Jl. Raya Jambore No. 1 Cibubur Pengujian residu pestida, logam berat,
Tanaman Pangan dan Jaktim mikotoksin dan mikrobiologi
Hortikultura Prov. DKI Telp: 021-87752692
Jakarta

IV. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP MIKROBIOLOGI


No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian
1 Balai Besar Pengembangan Jl. Raya Tapos, Kotak Pos 20, Tapos Benih tanaman pangan dan hortikultura
Pengujian Mutu Benih Depok dengan parameter pengujian:
Tanaman Pangan dan Telp: 021-8755046 1. Biologi:
Hortikultura Email: bpmbtph@yahoo.com - Daya kecambah
- Vigor benih
- Verifikasi varietas
- Penanda genetik secara biomolekuler
- Verifikasi varietas secara biokimia
2. Fisika:
- Kadar air
- Berat 1000 butir
- Kemurnian
- Heterogenitas
3. Mikrobiologi
- Cendawan terbawa benih
- Bakteri terbawa benih
- Virus terbawa benih

IV. LABORATORIUM PENGUJIAN SWASTA RUANG LINGKUP KEAMANAN PANGAN


No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian
1 Laboratorium PT. Saraswanti Jl. Rasamala 46 Taman Yasmin Bogor uji analisis GMO, uji analisis residu pestisida,
Indo Genetech 16006 Tlp. ((0251) 7540927-28 Fax. uji analisis pencemaran mikro, uji analisis
(0251) 7540929 logam berat & mineral, uji analisis vitamin, uji
analisis asam lemak, uji analisis asam amino,
uji analisis proximate, uji analisisantioksidan,
uji analisis aflatoxsin, uji analisis pewarna
makanan, uji analisispengawet makanan, uji
analisis pemanis makanan, uji analisis
antibiotik, uji analisis gula dan uji analisis
alkohol

78
No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian
2 PT. Angler Chemical Jl. Raya Sawo No. 17 -19, Kelurahan Uji analisis GMO, uji analisis residu pestisida,
Beringin, Kecamatan Sambikerep, uji analisis pencemaran mikro, uji analisis
Surabaya 60218, Indonesia logam berat & mineral, uji analisis vitamin, uji
http;//vwtw.anglerlab.com analisis asam lemak, uji analisis asam amino,
Telp;+62-(031)-99 200 900 uji analisis proximate, uji analisisantioksidan,
Email: angler@sby-dnet.net-id uji analisis aflatoxsin, uji analisis pewarna
info@anglerlab.com makanan, uji analisispengawet makanan, uji
analisis pemanis makanan, uji analisis
antibiotik, uji analisis gula dan uji analisis
alkohol

79
80
LAMPIRAN 4

CONTOH FORMULIR LAPORAN HASIL


PENGUJIAN MUTU PRODUK
CONTOH FORMULIR LAPORAN HASIL PENGUJIAN MUTU PRODUK TAHUN…………….
Titik Wilayah Pengumpul/ Parameter Uji Mutu *) Lab. Uji Hasil
No Provinsi Pengambilan titik Lokasi Petani/Kelompok Hasil Uji Ket
Mutu Analisa
Contoh sampel Tani**)
Beras Jagung Kedelai

Keterangan :
*) Parameter uji mutu sesuai dengan tabel parameter uji mutu
**) Pilihan sesuai dengan pedoman pelaksana Dit PPHTP
LAMPIRAN 5

PANDUAN MUTU
PENERAPAN JAMINAN MUTU BERDASARKAN
SISTEM HACCP (SNI CAC/RCP 1:2011)
PANDUAN MUTU
PENERAPAN JAMINAN MUTU BERDASARKAN SISTEM
HACCP (SNI CAC/RCP 1:2011)

GAPOKTAN/POKTAN
ABCDEFGH

Disahkan oleh: Tanggal:

Direktur/Ketua Gapoktan/Poktan
Kode. Dok : A-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

A. DAFTAR DISTRIBUSI :

Nama Pemegang
No. Jabatan/ Bagian Tanda Tangan
Panduan SHACCP
1. Ketua Tim HACCP/ MARKETING
Manager

2. Anggota Tim HACCP/


PRODUCTION Manager

3. Anggota Tim HACCP/ QUALITY


CONTROL

4. PMHP/Dinas Pertanian
Kode. Dok : B-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

B. DAFTAR ISI

Kode. Dok Deskripsi Halaman

A-PM DAFTAR DISTRIBUSI 2

B-PM DAFTAR ISI 3

C-PM TUJUAN & RUANG LINGKUP 4

D-PM KEBIJAKAN PERUSAHAAN DAN SASARAN MUTU 6

E-PM PROFIL PERUSAHAAN 7

F-PM PENGENDALIAN DOKUMEN & REKAMAN 8

G-PM TIM HACCP 9

H-PM BAGAN ORGANISASI 10

I-PM LAY OUT PABRIK 12

J-PM DESKRIPSI PRODUK 13

K-PM DESKRIPSI BAHAN BAKU & BAHAN KEMAS 14

L-PM DIAGRAM ALIR 15

M-PM TABEL ANALISA BAHAYA 16

N-PM RENCANA KERJA JAMINAN MUTU (RKJM) 19

O-SSOP PERSYARATAN DASAR HACCP PROSEDUR OPERASI 23


STANDAR SANITASI (SSOP) & PROGRAM SANITASI

P-SOP PROSEDUR PENARIKAN KEMBALI PRODUK (SOP) 31

Q-FR REKAMAN HARIAN SSOP & SOP 32


Kode. Dok : C-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 2

C. TUJUAN & RUANG LINGKUP

PT. ABCDEFG menerapkan Sistem Manajemen Mutu Keamanan Pangan berdasarkan Sistem HACCP
( Hazards and Critical control Points) yang mengacu pada CAC/RCP 1-1969 Rev. 4-2003 Recommended
Code of Practices of General of Food Hygiene, yang digambarkan secara umum dalam Panduan Mutu.

Semua kegiatan yang berkaitan dengan Pengendalian Mutu dan Kemanan Pangan di PT. ABCDEFG,
direncanakan, dijalankan, dimonitor, dan ditingkatkan secara terus menerus untuk meningkatkan
kepuasan pelanggan. Hal ini ditetapkan untuk memenuhi persyaratan pelanggan yang telah
ditentukan, perundang-undangan yang berlaku serta peraturan perusahaan yang ditetapkan.

Ruang lingkup PT. ABCDEFG menyangkut perannya dalam Industri pangan mencakup :

□ Rantai Pangan :
Dimulai sejak bahan baku diterima dari Supplier lalu diproduksi sesuai standard dan spesifikasi
yang disetujui hingga produk akhir siap diambil atau dikirim ke pelanggan

□ Jenis proses produksi :


1. Proses Kering (Dry Blending)
2. Proses Basah (Wet Process)

□ Jenis komoditi :
1. Padi varietas pandan wangi
2. Padi varietas sintanur

□ Jenis kemasan :
a. Plastic bungkus
b. Karton Box

Acuan normatif yang digunakan adalah :


a. Peraturan Pemerintah No, 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan
b. Peraturan Menteri Pertanian No. 35/permentan/Ot.140/7/2008 tentang Persyaratan dan
Penerapan Cara pengolahan Yang Baik
c. Peraturan Menteri Pertanian No. 22/permentan/HK.140/4/2015 tentang Pedoman Penanganan
Pasca Panen yang Baik (Good Handling Practices)
d. Syarat mutu Beras berdasarkan SNI 6128-2015
Kode. Dok : C-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU…………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 2 dari 2

e. Pedoman BSN 1004 :2002 tentanng Penyusun Rencana Sistem Analisis Bahaya dan Pengendalian
titik kritis (HACCP)
f. SNI CAC/RCP 1 :2011 Rekomendasi Nasional –Kode Praktis Prinsip Umum Higiene Pangan

Manajemen puncak adalah Direktur Utama yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Sistem
HACCP secara efisien dan efektif, maka berperan :

a. Menetapkan Kebijakan Perusahaan dan sasaran bisnis perusahaan, serta mempromosikannya ke


seluruh lapisan organisasi untuk meningkatkan kesadaran, motivasi dan keterlibatan setiap
personel.
b. Memastikan bahwa persyaratan HACCP, peraturan perundang-undangan dan persyaratan
pelanggan diutamakan di seluruh lapisan.
c. Memastikan bahwa proses yang sesuai ditetapkan dan memungkinkan persyaratan pelanggan
dan pihak yang berkepentingan lainnya terpenuhi.
d. Memastikan tersedianya sumber daya yang diperlukan dan memberi pelatihan untuk
meningkatkan kompetensi masing-masing. Serta meningkatkan sumber daya organisasi yang
efektif untuk kepuasan pelanggan.
e. Meninjau secara periodik Sistem HACCP dan menetapkan tindakan perbaikan yang
berkesinambungan

Jumlah karyawan yang berkerja di PT. ABCDEFG sebanyak …….. orang yang memiliki komitmen yang
sama dalam rangka memastikan diterapkannya Sistem HACCP sebagai jaminan Pengendalian Mutu
dan Keamanan Pangan.

Manajemen puncak melakukan tinjauan Sistem HACCP minimal 2 kali setahun untuk menjamin
kesesuaian, kecukupan dan efektifitasnya secara berkesinambungan. Proses tinjauan manajemen
mencakup penilaian tentang peluang perbaikan dan kebutuhan akan perubahan Sistem HACCP
termasuk kebijakan pangan.
Kode. Dok : D-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

D. KEBIJAKAN PERUSAHAAN
Manajemen puncak (Direktur) menetapkan dan memelihara Kebijakan Perusahaan sesuai dengan
peran organisasi dalam rantai pangan.

KEBIJAKAN KEAMANAN PANGAN


Menjamin dan Menjaga Keamanan Produk yang dihasilkan

menjadi kebijakan segenap pimpinan dan seluruh jajaran PT. ABCDEFG dengan sikap Keteladanan,
Kebersamaan, Dedikasi, Kerja Keras dan Disiplin ,berdasarkan kaidah profesionalisme dengan:

□ Memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan dan persyaratan pelanggan yang telah


disetujui bersama.
□ Mengkomunikasikan, menerapkan, dan memelihara Sistem HACCP pada seluruh tingkat
organisasi.
□ Melakukan tinjauan untuk meningkatkan perbaikan kualitas dan kuantitas yang
berkesinambungan.
□ Melakukan komunikasi secara memadai, didukung oleh sasaran yang terukur.

SASARAN MUTU
Sebagai tolak ukur pencapaian PT ABCDEF telah metetapkan sasaran mutu yang ingin dihasilkan
untuk beras dengan ketentuan sebagai berikut:

Kelas Mutu Kriteria Jumlah

Premiun (sesuaikan dengan standar yang 20 persen dari total produksi


diacu SNI atau standar dari
Medium Kelas I pembeli/standar privat) 30 persen dari total produksi

Medium Kelas II 50 persen dari total produksi


Kode. Dok : E-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

E. PROFIL PERUSAHAAN
Perusahan penggilingan beras ini berdiri pada tahun……….disahkannya tanggal……………..milik
Gapoktan/Poktan/pelaku usaha dengan :

Nama Pemilik/Ketua Gapoktan/Poktan : ABCDEFGHIJ


Alamat : Jl.
Telepon/ Faksimili/Hp : …………………………….
Email : …………………………….
Alamat Pabrik penggilingan :Jl. …………………………
Telepon : ……………………………
Total produksi dari penggilingan : …………………………..ton/…….
Jenis beras kemasan yang produksi : 1. Pandan wangi dalam kemasan……kg dan…..kg
2. Sintanur dalam kemasan……kg dan ……kg

Jumlah keanggotaan dari gapoktan/poktan penggilingan beras ada ……orang dengan nama
keanggotaannya sebagaimana terlampir. Kepengurusan Gapoktan/Poktan terdiri dari…..orang
sebagaimana terlampir dalam bagan organisasi Poktan/gapoktan.
Kode. Dok : F-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

F. PENGENDALIAN DOKUMEN & REKAMAN

Pengendalian Mutu dan Keamanan Pangan di PT. ABCDEFG diterapkan untuk memberikan jaminan
mutu bagi pengendalian Keamanan hasil produksinya. Untuk itu semua kegiatan mutu
didokumentasikan dengan sistematika pendokumentasian sebagai berikut:

1. Panduan Mutu Sistem HACCP


2. Standar Operasional Prosedur & Sanitation Standar Operasional Prosedur (SOP/SSOP)
3. Form dan blanko rekaman

Pengendalian dokumen yang terdokumentasi juga ditetapkan untuk menentukan pengendalian yang
diperlukan dalam :

a. Menyetujui kecukupan dokumen sebelum diterbitkan.


b. Melakukan pengkajian dan jika perlu pemutakhiran dokumen, serta persetujuan ulang dokumen.
c. Menjamin bahwa perubahan dan status revisi terbaru dari dokumen diidentifikasi.
d. Menjamin bahwa versi dokumen yang berlaku tersedia pada tempat dan saat penggunaan.
e. Menjamin bahwa dokumen dapat dibaca dan mudah dikenali.
f. Menjamin bahwa dokumen relevan yang berasal dari luar diidentifikasi dan distribusinya
dikendalikan.
Mencegah penggunaan dokumen kadaluarsa yang tidak disengaja, dan menjamin bahwa dokumen
tersebut diidentifikasi dengan baik jika disimpan untuk maksud tertentu.

Rekaman ditetapkan dan dipelihara untuk menyediakan bukti kesesuaian terhadap persyaratan dan
bukti operasi yang efektif. Rekaman harus dapat dibaca, mudah dikenali serta mudah diperoleh.

Prosedur pengendalian rekaman yang terdokumentasi ditetapkan untuk menentukan pengendalian


yang diperlukan dalam melakukan koreksi, identifikasi, penyimpanan, proteksi, kemudahan diperoleh,
waktu retensi dan pemusnahan rekaman itu sendiri.
Kode. Dok : G-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

G. TIM HACCP
Manajemen PT. ABCDEFG telah menunjuk Tim HACCP yang terlatih berdasarkan Surat
Penunjukan Perusahaan No : ……………………. untuk menjamin diterapkannya Sistem
Manajemen Keamanan Pangan yang berdasarkan Sistem HACCP, dengan Ketua & Anggota
sebagai berikut :

No. Nama Jabatan Pengalaman/ Pelatihan/


Kompetensi
1 Ketua Tim HACCP/
MARKETING Manager
2 Manajer Teknis/
PRODUCTION Manager
3 Manajer Mutu/
QUALITY CONTROL

Bagan organisasi perusahaan menunjukkan hubungan fungsional dan area wewenang pada
masing-masing bagian untuk menjamin operasi dan pemeliharaan Sistem HACCP Tanggung
jawab dan wewenang terdapat pada Deskripsi kerja (Job Description) yang bersangkutan.

Semua personel memiliki tanggung jawab untuk melaporkan masalah-masalah dalam lingkup
Sistem HACCP kepada personel yang ditetapkan dalam Tim Keamanan Pangan. Tim ini
memiliki tanggung jawab dan wewenang yang jelas untuk memprakarsai dan merekam
tindakan.

Tugas dari tim HACCP adalah membuat lingkup utama dari HACCP lingkup tersebut antara
lain ;
1. Menetapkan konteks antara masalah keamanan pangan atau penerapan karakteristik
mutu produknya
2. Mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin timbul
3. Menetapkan tingkat potensi resiko yang ditimbulkan
4. Mengidentifikasikan titik kritis (CCP) lalu menetapkan cara pengendaliannya
5. Menetapkan batas kritis dan bagaimana cara memonitoringnya
6. Melakukan verifikasi dari hasil pengujian Batas Kritis dan CCP nya
7. Merekomendasikan tindakan tepat yang harus dilakukan
8. Melakukan investigasi dan penelitian lebih lanjut tentang hal yang berhubungan dengan
HACCP
Kode. Dok : H-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 2

H. BAGAN ORGANISASI

DIREKTUR
(Pemilik Penggilingan)
………………..

Manajer produksi Manajer Mutu


…………......... ……………..

Tanggung Jawab Manajemen:


 Direktur
a. Memegang kendali manajemen
b. Memberikan mandat kepada tim keamanan pangan guna menjalankan aktivitas
pemeliharaan sistem keamanan pangan
c. ………………………………………………………………………………………………………………
d. ………………………………………………………………………………………………………………
e. ……………………………………………………………………………………………………………..
 Manajer produksi
a. Bertanggungjawab dalam pelaksanaan dan pengendalian produksi
b. Melakukan pengawasan sanitasi hygine sarana dan prasarana produksi
c. Melakukan pengendalian terhadap seluruh proses produksi mulai dari bahan baku masuk
sampai pengiriman
d. ………………………………………………………………………………………………………….
 Manajer mutu
a. Bertanggungjawab dalam pelaksanaan dan pengendalian mutu produk
b. Melakukan pelaksanaan audit internal untuk pengawasan dalam melakukan penilaia
penerapan sistem berjalan
Kode. Dok : H-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 2 dari 2

c. ……………………………………………………………………………………………………………
d. ……………………………………………………………………………………………………………

Tim HACCP bertanggung jawab dalam menyusun, mengembangkan, menerapkan,


memutakhirkan, merevisi dan mendistribusikan RKJM/HACCP Plan di lingkungan pabrik
penggilingan. Manajemen perusahaan PT. ABCDEFGH bertanggung jawab untuk memastikan
bahwa seluruh karyawan telah mengikuti pelatihan Higiene, Sanitasi dan GMP sebagai persyaratan
dasar pelaksanaan HACCP. Tujuan pelatihan tersebut adalah untuk memberikan pengetahuan
kepada karyawan tentang cara berproduksi yang baik dan keamanan pangan. Pelatihan dilakukan
dalam bentuk in house training dengan instruktur dari personil pabrik atau instruktur dari lembaga
lain.
Kode. Dok : I-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

I. LAY OUT PABRIK


Kode. Dok : J-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

J. DESKRIPSI PRODUK
Nama Produk : Beras pandan wangi dalam kemasan
Bahan Baku : Padi (GKP/GKG)

Karakteristik : Syarat mutu beras berdasarkan SNI 6128:2015 meliputi :

Kelas Mutu
No. Komponen Mutu Satuan Medium
Premium
1 2 3
1 Derajat sosoh (%) 100 95 90 80
2 Kadar air (maks) (%) 14 14 14 15
3 Beras Kepala (%) 95 78 73 60
4 Butir patah (maks) (%) 5 20 25 35
5 Butir menir (maks)(%) (%) 0 2 2 5
6 Butir merah (maks) (%) 0 2 3 3
7 Butir kuning/rusak (%) 0 2 3 5
(maks)
8 Butir kapur (maks) (%) 0 2 3 5
9 Benda asing (maks) (%) 0 0,02 0,05 0,2
10 Butir gabah (maks) (butir/100g) 0 1 2 3

Metoda penggilingan : Penjemuran: padi < 15%


Jenis Kemasan Utama : ……. kg per bungkus dalam kemasan Plastik Bening (PE)
Kondisi Penyimpanan : Disimpan dalam ruang yang kering suhu kamar.
Masa Simpan : 12 Bulan
Label Khusus : Tidak ada
Cara Penggunaan : (jika ada harus dijelaskan)
Metoda Distribusi : Angkut dengan truck yang bersih, suhu ruang & bebas dari
bau dan hama.
Identifikasi : 1. Konsumsi Umum
Penggunaan 2. Konsumsi di restoran dll
Metode Penjualan : dijual langsung kekonsumen/melalui agen dan sistem pemasaran
langsung ke pengecer (took dan swalayan)
Cara Distribusi : Tidak perlu penanganan khusus
Label kemasan : Dicantumkan secara khusus pada kemasan disertai kode produksi,
volume/isi, Nomor ijin edar PSAT serta tanggal kadaluarsa.
Kode. Dok : K-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

K. DESKRIPSI BAHAN BAKU & BAHAN KEMAS

No Jenis Bahan Baku Kriteria penerimaan Bahan Baku


1 Padi varietas Pandan wangi Karakteristik fisik:
1. Bentuk gabah membulat agak panjang
2. Warna kulit gabah coklat muda
3. Beraroma khas daun pandan
4. Mempunyai bagian berkapur pada bagian perutnya yang
ditunjukkan warna putih
5. Panjang rata-rata 6.2 mm
6. Memiliki malay panjang berkisar 30 cm
7. Rata-rata nisbah p/l :2.4

2. Bahan tambahan (jika ada)

No Jenis Bahan Kemas Kriteria penerimaan Bahan Baku


1 Plastik Pembungkus Karakteristik fisik: PE

2 Karton Box Karakteristik fisik: Corrugated carton box


Kode. Dok : L-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 1

L. DIAGRAM ALIR
(Sesuaikan kondisi dilapangan)

Ruang Pembelian Gabah


Padi
Kering Panen Pengeringan (Lantai Gabah Kering Giling KA
(KA. 27-30 %) Cleaner Jemur/ Dryer) sampai 14-15 %
(Penerima bahan baku) KA 14-15 %

Penggilingan
(Mesin Pecah kulit/Husker)

Pengayakan (Separator)

 Beras Pecah Kulit


 Gabah

Pemolesan (Polisher)

 Dedak/Bekatul
 Beras

Pemilihan
(Mesin grading)

 Beras Premium
 Beras Medium
 Menir

Pengepakan (Packing)

Gudang Simpan

Distribusi
Kode. Dok : M-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 3

TABEL ANALISA BAHAYA


PRINSIP 1 PRINSIP 2
POTENSI BAHAYA ANALISA RESIKO
NO TINDAKAN CCP
LANGKAH F/B/K JENIS SUMBER BAHAYA KEPA - PELUA SIGNF (S)/ P1 P2 P3 P4
RAHAN TDK SIGNF PENCEGAHAN
NG
(TS)

A Penerimaan Bahan F Pengotor Penanganan Bongkar M L TS Menggunakan padi Y Y - - CCP


Baku Padi Muat cleaner
Gabah kosong L L TS
, Batu, Ranting
B E. Coli Kandungan Mikroba M M S Diterima dari hanya
dari Bahan Baku sejak Pemasok yang
Hama (kutu) dari Pemasok disetujui bebas hama
K Endosulfan, H M S dan jamur
Carbaril
B Pengeringan F Pengotor Kebersihan Alat & M M S Melakukan tindak Y T Y T CCP
(Lantai jemur/dryer) Personel, lantai jemut Sanitasi Rutin pada
Debu, batu, yang tidak baik lantai jemur
gabah kosong,
ranting
C Penggilingan B Kutu beras, Kebersihan penggiling M M S Melakukan tindak Y T T - Bukan
(Mesin pecah Jamur yg tidak baik Sanitasi Rutin pada CCP
kulit/husker) mesin penggiling
Kode. Dok : M-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 2 dari 3

PRINSIP 1 PRINSIP 2
POTENSI BAHAYA ANALISA RESIKO
NO TINDAKAN CCP
LANGKAH F/B/K JENIS SUMBER BAHAYA KEPA - PELUA SIGNF (S)/ P1 P2 P3 P4
RAHAN TDK SIGNF PENCEGAHAN
NG
(TS)

D Pengayakan B Kutu beras, Kebersihan pengayak M M S Melakukan tindak Y T Y T Bukan


(Separator) Jamur yg tidak baik Sanitasi Rutin pada CCP
mesin pengayak

E Pemolesan K Kontaminasi Kontaminasi air untuk M M S Penggunaan air bersih Y T Y T CCP


(Polisher) Pemutih pengkabutan sesuai standar baku air
(Klorin) bersih yang digunakan
untuk proses
pengkabutan
F Pemilihan F Rambut Kontaminasi mesin L L TS Kebersihan alat dan Y T T - Bukan
(Mesin Grading) saat pengangkatan personel CCP
beras ke mesin pemilih
G Pengepakan/penge F Kemasan Kontaminasi dari Alat M M S Kebersihan Alat, Y T T - Bukan
masan (Packing) rusak & Personel dan jenis Personel pada saat CCP
plastic untuk kemasan melakukan
yang tidak bersih dan pengepakan dan
sesuai standar pemilihan plastic
kemasan

H Penyimpanan B Hama (tikus, Kontaminasi dari Alat H M S Pengendalian suhu & Y T Y T CCP
(Gudang Simpan) kutu, laba- & Personel dan kebersihan ruang
laba, gudang simpan yang penyimpan yang
jamut/kapang) tidak bersih terbebas kontaminasi
Kode. Dok : M-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 3 dari 3

PRINSIP 1 PRINSIP 2
POTENSI BAHAYA ANALISA RESIKO
NO TINDAKAN CCP
LANGKAH F/B/K JENIS SUMBER BAHAYA KEPA - PELUA SIGNF (S)/ P1 P2 P3 P4
RAHAN TDK SIGNF PENCEGAHAN
NG
(TS)

I Distribusi/ B Kutu beras Kontaminasi dari Alat , M M S Kebersihan Alat, Y T T - Bukan


pengiriman Sitophilus Personel, sarana Personel dan CCP
oryzae angkutan yang tidak kendaraan pengangkut
bersih

Keterangan : Untuk menentukan CCP dan bukan CCP lihat diagram pohon keputusan TKK untuk penerapan HACCP pada lampiran 15
Potensi bahaya F =fisik; B=Biologi; K=Kimia; Analisa Resiko L=Low (rendah);M=Middle (sedang); H=High (tinggi)
Kode. Dok : N-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 1 dari 4

TABEL RENCANA KERJA JAMINAN MUTU

PRINSIP 4. PRINSIP 5. PRINSIP 6.


NO. PRINSIP 3. PRINSIP 7.
LANGKAH PEMANTAUAN KOREKSI & TINDAKAN
CCP BATAS KRITIS VERIFIKASI REKAMAN
Apa-Dimana-Kapan-Siapa-Bagaimana KOREKSI

1 Penerimaan  Kadar air 14-15 % Petugas penerima barang memeriksa Lapor pada Inspektor dan tolak Memberi teguran Rekaman
Bahan Baku  Tidak ada benda asing : bahan baku gabah disetiap Bahan Baku bila batas kritis pada pemasok, bahan
segar/beku; Padi bebas hama (kutu) dan kedatangannya harus sesuai kadar tidak tercapai evaluasi setiap 6 baku
penyakit (tidak ada gabah airnya dan dalam kondisi bagus dan (enam) bulan datang dan
hampa/kondisi jelek )/ tidak bersih (tidak ada benda asing) sekali laporan
ada batu, ranting dll inspeksi
masuk
GKP/GKG
2 Pengeringan Kondisi lantai jemur bersih mulus Petugas memeriksa kondisi  Lapor pada Memberi teguran Form 2
(Lantai (tidak retak/pecah) kebersihan lantai jemur setiap akan Inspektor/petugas bila gabah pada pemasok, (rekaman
jemur/dryer) melakukan penjemuran padi GKP tidak bersih, banyak yang evaluasi setiap 6 sanitasi
dan terus memeriksa kebersihan dari kosong, kotoran dan kondisi (enam) bulan
tidak bagus lantai
gabah kosong dan kadar air gabah sekali jemur)
 Untuk gabah kosong/kotor
yang nanti siap digiling akan dilakukan cleaner padi
untuk menyingkirkan
kotoran/gabah kosong
Kode. Dok : N-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 2 dari 4

PRINSIP 4. PRINSIP 5.
NO. PRINSIP 3. PRINSIP 6. PRINSIP 7.
LANGKAH PEMANTAUAN KOREKSI & TINDAKAN VERIFIKASI
CCP BATAS KRITIS REKAMAN
Apa-Dimana-Kapan-Siapa-Bagaimana KOREKSI

3 Penggilingan  Waktu pemanasan mesin Petugas operasional mesin Tahan (hold) pengoperasional Memberi teguran Rekaman
(Mesin pecah > 10 menit dan dalam kondisi melakukan pengecekan kebersihan mesin jika alat/bahan dan pada petugas kebersihan
kulit/husker) bersih mesin, bakar, air radiator, oli, belt kebersihan alat sebelum sesuai operasional mesin dan
pemutar roda pada saat waktu dan bersih mesin, evaluasi sarana
pemanasan mesin setiap mulai setiap hari pendukung
operasi alat mesin pecah sebelum mesin
kulit/husker dan baru dapat operasional Rekaman
dilakukan pemanasan untuk mesin pemantauan
selama 10 (sepuluh) menit speed
berikutnya.
4 Pengayakan kondisi separator harus bersih Petugas operasional pengecekan Lapor pada inspektor dan bila Memberi teguran Rekaman
(Separator) dan dalam kondisi baik kebersihan mesin, personal, kebersihan mesin pengayak pada petugas kebersihan
stamplet penggoyang mesin ayak tidak baik saat akan gunakan operasional mesin dan
dan baru dapat dilakukan alat mesin, evaluasi sarana
pengayakan. setiap hari pendukung
sebelum mesin)
operasional
Kode. Dok : N-PM
Revisi :
PANDUAN MUTU (PM) 0
RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 3 dari 4

PRINSIP 5. PRINSIP 6. PRINSIP 7.


NO. PRINSIP 3. PRINSIP 4.
LANGKAH KOREKSI & TINDAKAN VERIFIKASI REKAMAN
CCP BATAS KRITIS PEMANTAUAN
KOREKSI

5 Pemolesan  Tidak menggunakan Petugas operasional mengecek Melakukan sanitasi Memberi teguran pada Rekaman
(Polisher) pemutih kebersihan mesin, personal dan terhadap mesin dan petugas operasional mesin, kebersihan
 Air utk pengkabutan kualitas mutu baku air minum untuk personil yang menangani evaluasi setiap hari sebelum alat
menggunakan mutu baku alat kabby (pengabut) setiap hari saat akan gunakan alat operasional Laporan hasil
air minum dan alat uji lab mutu
penyosohan/ baku air
pemolesan dalam kondisi minum 6
baik sekali

6 Pemilihan Kondisi mesh ayakan dalam Petugas operasional mengecek Mengganti ayakan jika Memberi teguran pada Rekaman
(Mesin kondisi bagus, bersih dan kebersihan mesin, personal dan ada sobekan pada lobang petugas operasional mesin, kebersihan
Grading) tidak berkarat mesh ayakan jangan sampai robek ayakannya/berkarat dan evaluasi setiap hari sebelum dan laporan
operasional
setiap hari membersihkan ayakan perbaikan
jika dalam kondisi kotor kerusakan alat
7 Pengepakan/ Kemasan tidak bocor dan Petugas melakukan inspeksi alat Pemeliharaan mesin Review kinerja petugas Rekaman hasil
pengemasan tidak rusak fisiknya dan jenis kemasan dengan packing, sortasi kemasan pengemas, perbaiki mesin kalibrasi
(Packing) pengamatan visual setiap proses plastik yang rusak packing jika rusak parah atau timbangan
bahkan diganti , review hasil
pengepakan
inspeksi packing kemasan.
N-PM
PANDUAN MUTU (PM) Kode. Dok
Revisi
:
:
0

RMU………………
Tanggal Berlaku: ……………..
SISTEM HACCP Halaman : 4 dari 4

NO. PRINSIP 3. PRINSIP 4. PRINSIP 5.


LANGKAH PRINSIP 6. PRINSIP 7.
CCP BATAS KRITIS PEMANTAUAN KOREKSI & TINDAKAN
VERIFIKASI REKAMAN
KOREKSI

Penyimpanan  Kondisi gudang bersih, rapi Petugas melakukan inspeksi Sanitasi dan penataan Memberi teguran Rekaman
(Gudang dan tidak ada serangga kebersihan gudang, kerapian gudang simpan pada petugas gudang jenis barang
Simpan)  kelembaban dalam suhu gudang dan melakukan pengamatan untuk memberihkan yang
8 dan menata gudang
normal kelembaban dan suhu gudang disimpan
setiap hari sesuai
simpan dan produk yang disimpan tanggal produksi digudang
sesuai tanggal produksi.
9 Distribusi/ Kendaraan angkut dalam Petugas melakukan inspeksi Sanitasi kendaraan angkut Memberi teguran Rekaman
pengiriman kondisi baik dan bersih kelayakan kendaraan angkut setiap dan perbaikan kendaraan pada supir petugas banyak dan
saat pengiriman dan harus dalam angkut jika terjadi pengirim barang jenis barang
kondisi kebersihan serta tertata rapi kerusakan dilakukan untuk membersihkan yang dikirim
dan mengecek
perbaikan kelayakan kondisi
kendaraan angkut
setiap satu hari
sebelum
pendistribusian
barang.
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
SANITASI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Halaman : 1 dari 8
(SSOP)

1. Keamanan air
- Pengendalian dan pengawasan
Air yang digunakan untuk produksi dan mencuci peralatan dan tangan harus bersih sesuai standar air minum.
Setiap hari sebelum mulai proses produksi dilakukan pengecekan secara visual (kejernihan, bau dan rasa) dan
analisa laboratorium dilakukan setahun sekali.

- Tindakan koreksi
Apabila dari hasil pengamatan, menunjukkan air yang tidak aman, maka stop produksi, dilakukan pengecekan
penyebab air tidak aman dan dilakukan perbaikan, sehingga air kembali aman, atau mencari pasokan air yang
aman selama sumber air belum aman

- Rekaman
Hasil analisa tahunan, rekaman monitoring form 1-01 dan form 1-02

2. Kondisi dan kebersihan alat yang kontak langsung dengan pangan


- Pengendalian dan pengawasan
Kondisi semua peralatan yang kontak langsung dengan pangan harus dari bahan yang aman dalam kondisi baik,
layak pakai serta bersih sehingga tidak menimbulkan kontaminasi terhadap pangan. Setiap hari sebelum dimulai
proses produksi dan setelah selesai proses dilakukan monitoring terhadap kondisi dan kebersihan alat tsb.

- Tindakan koreksi
Apabila dari hasil monitoring menunjukkan kondisi dan kebersihan alat tidak memenuhi persyaratan, maka
peralatan harus diperbaiki/diganti dan dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring form 1-01
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
SANITASI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Halaman : 2 dari 8
(SSOP)

3. Pencegahan kontaminasi silang


- Pengawasan dan Pengendalian
Untuk pencegahan kontaminasi silang, maka urutan proses harus teratur dan tidak bolak-balik, penyimpanan
bahan baku dan produk jadi/setengah jadi serta bahan pengemas harus terpisah, peralatan kotor tidak boleh
disimpan bersamaan dengan peralatan yang bersih, karyawan yang bekerja di bagian proses produksi harus
sehat, ruangan/lantai tempat kerja harus bersih, bahan bukan pangan harus diisolasi dari produk dan semua
lampu ditempat proses produksi harus berpelindung. Setiap hari sebelum proses produksi dan sesudah proses
produksi harus dilakukan monitoring terhadap hal-hal tersebut diatas.

- Tindakan Koreksi
Apabila dari hasil monitoring ditemukan hal-hal yang dapat menimbulkan kontaminasi silang, maka stop proses
produksi, hindari terjadinya kontaminasi silang dengan menangani penyebabnya sampai kondisi aman kembali
untuk berproduksi.
 urutan proses tidak teratur, stop produksi dan perbaiki dahulu
 bahan baku, bahan pengemas dan bahan jadi tercampur, pindahkan sesuai tempatnya, evaluasi produk
laporkan hasilnya ke QC untuk didisposisi (dilepas,diperbaiki, dimusnahkan)
 Peralatan kotor tercampur dengan yang bersih, cek dan lakukan pembersihan ulang atau disimpan ditempat
yang disediakan.
 Ada karyawan sakit, diistirahatkan
 Lantai dan ruangan kerja kotor, bersihkan dulu sebelum proses produksi dimulai
 Ada bahan bukan untuk pangan, segera simpan pada tempat penyimpanan, evaluasi keamanan produk,
laporkan hasilnya untuk didisposisi.
 Lampu dibagian produksi tidak berpelindung, stop produksi dan perbaiki, ganti.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring form 1-01, form 1-02

4. Fasilitas cuci tangan, toilet dan sanitasi


- Pengendalian dan pengawasan
Kondisi fasilitas cuci tangan dan toilet harus memadai dan bersih serta lengkap dengan sarana prasarana (air,
gayung, bahan sanitasi/sabun, pengering). Toilet tidak menghadap langsung ke tempat proses produksi. Setiap hari
sebelum proses produksi dilakukan monitoring terhadap kebersihan dan kelengkapan sarana cuci tangan dan toilet.
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
SANITASI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Halaman : 3 dari 8
(SSOP)

- Tindakan koreksi
Apabila dari hasil monitoring ditemukan kondisi yang tidak sesuai persyaratan, maka proses produksi belum dapat
dimulai, sampai dilakukan perbaikan (memperbaiki, membersihkan dan melengkapi sarana) sesuai dengan hasil
monitoring.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring form1-01, form 1-02

5. Proteksi dari bahan-bahan toksin


- Pengendalian dan pengawasan
Tidak diperbolehkan bahan-bahan toksin (pembersih lantai, detergent, pembersih kaca, sarana budidaya dan
bahan-bahan lainnya yang berbahaya) berada pada lokasi produksi (lokasi grading dan pengemasan)

- Tindakan koreksi
Bila dijumpai bahan bahan yang bukan digunakan untuk makanan (bahan beracun/berbahaya bagi keamanan
pangan), cek apakah terjadi pencemaran dan segera pindahkan ketempat penyimpanannya.

- Rekaman
Hasil monitoring harian, form1-01

6. Penyimpanan dan pelabelan bahan-bahan kimia/ sarana-prasarana produksi


- Pengendalian dan pengawasan
Sarana prasarana untuk budidaya (pupuk dan obat-obatan), bahan pembersih lantai, kaca dsb.
berlabel dan disimpan ditempat tersendiri, sehingga tidak mengkontaminasi produk.

- Tindakan koreksi
Bila dijumpai bahan-bahan tersebut tidak berlabel, dicek dan diberi label atau dikembalikan ke
supplier, dan bila disimpan tidak pada tempatnya, segera pindahkan ke tempat penyimpanan.
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
SANITASI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Halaman : 4 dari 8
(SSOP)

- Rekaman
Hasil monitoring harian, form1-01, form 1-02

7. Hygiene karyawan
- Pengendalian dan pengawasan
Semua karyawan yang bekerja di lokasi penerimaan, pengemasan produk harus menggunakan pakaian kerja (tutup
kepala, masker, sarung tangan)yang bersih, kondisi sehat, tidak terdapat luka terbuka, tidak melakukan kebiasaan
buruk (makan, meludah, menggaruk dsb.) di lokasi produksi, tidak menggunakan perhiasan, tidak memanjangkan kuku
jari. Setiap hari sebelum mulai bekerja dilakukan pengecekan, dan dilakukan pelatihan atau pemberitahuan ulang
sekali seminggu.

- Tindakan koreksi
Bila dari hasil monitoring terdapat ketidak sesuaian maka karyawan yang bersangkutan ditegur dan tidak diijinkan untuk
ikut bekerja di lokasi proses produksi, dilakukan pelatihan dan kalo perlu diberi sangsi.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring, form 1-01

8. Pembersihan dan pengendalian pest.


- Pengendalian dan pengawasan
Lokasi produksi harus bersih, tidak diperbolehkan adanya benda yang menarik binatang (onggokan sampah harus
dihindari/ dibersihkan tiap hari, sisa-sisa produk yang berceceran atau menempel dilantai harus dibersihkan dsb.),
untuk meminimalkan kehadiran serangga. Saluran air di lokasi produksi harus bersih. Perlu pemasangan perangkap
tikus bila ada indikasi adanya binatang tersebut, lingkungan lokasi produksi bebas dari benda-benda yang menarik
binatang pengerat (tidak ada sisa2 makanan atau sisa-sisa produk yang dapat menarik kehadiran binatang pengerat).
Setiap hari dilakukan monitoring.

- Tindakan koreksi
Apa bila dari hasil monitoring terdapat ketidak sesuaian, proses produksi diberhentikan dulu, cari penyebabnya dan
perbaiki kondisi (pasang perangkap lalat, pembasmian kecoa dengan insektisida saat tidak ada kegiatan dsb.) sampai
kondisi kembali terkendali.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring harian, form 1-01
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM KEBERSIHAN LANTAI, DINDING DAN Halaman : 5 dari 8
LANGIT-LANGIT

Lokasi/Peralatan Cara Frekuensi/ waktu pembersihan Pelaksana


Lantai pada lokasi proses - Disapu - Sebelum dan setelah proses Petugas
penerimaan bahan baku, - Di semprot air - Minimal sekali seminggu atau kebersihan
sortasi, pengemasan bila diperlukan dan telah disapu.

Lantai kantor disapu dan dibersihkan Setiap hari sebelum jam kerja Petugas
kebersihan

Dinding dan langit-langit dibersihkan Minimal sebulan sekali saat tidak ada Petugas
gudang, kantor kegiatan kebersihan

Langit-langit, lokasi proses Disapu, bila perlu Minimal sebulan sekali saat tidak ada Petugas
menggunakan sapu kegiatan kebersihan
dengan tangkai panjang

Lantai ruang penyimpanan - Disapu bila perlu di - Minimal sebulan sekali Petugas
pupuk, oli, bahan bakar dan pel kebersihan
obat-obatan dibersihkan dan - Tumpukan ppk
kandang ditutup - Setiap hari
dirapikan
rapi
- Bahan bakar, oli,
obat-obatan kimia
ditata rapid dan - Setiap hari
terpisah dari
produk bahan baku

Halaman sekitar unit - Disapu dgn sapu - Setiap hari Petugas


pengemasan lidi kebersihan
- Memotong rumput
- Tidak boleh ada - Dua minggu sekali
onggokan sampah
yang terbuka
- Selesai kegiatan setiap hari
sampah dibersihkan.
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM KEBERSIHAN PERALATAN, TOILET, Halaman : 6 dari 8
TEMPAT CUCI DAN PENAMPUNG AIR

Frekuensi/ waktu
Lokasi/ Peralatan Cara Pelaksana
pembersihan

Pisau Dicuci dengan menggunakan bahan yang Minimal setiap hari Petugas
diijinkan dan membilasnya sampai bersih, setelah dipakai kebersihan
dikeringkan, dan disimpan di tempatnya

Ember tempat produk Disemprot dengan air, disikat, dikeringkan Minimal setiap hari Petugas
dan disimpan ditempatnya setelah dipakai kebersihan

Tempat sampah Dibersihkan dengan air dan disikat atau Minimal setiap hari Petugas
dengan mengganti kantongnya setelah proses selesai. kebersihan

Mesin padi cleaner Dibersihkan dengan menggunakan Minimal setiap hari Petugas
dan Separator, mesin konfesor/vacum cleaner sampai bersih setelah proses selesai. kebersihan
grading

Tempat saluran Dibersihkan dari sisa-sisa produk dengan Setiap kali habis Petugas
pembuangan menggunakan konfesor/ digunakan atau kondisi kebersihan
kotor
facum cleaner sampai bersih

Bak penampungan Dibersihkan dari sisa sekam dengan Minimal setiap hari Petugas
sisa produk (sekam) memasukkan sisa sekam ke karung bekas, setelah proses selesai kebersihan
ditumpuk dengan rapi

Lokasi penyimpanan Dibersihkan dari debu dan bahan-bahan lain Minimal setiap hari Petugas
bahan pengemas dapat mengkontaminasi setelah proses selesai kebersihan

Sarana pencuci tangan - Digosok, dibersihkan dan disanitasi - Minimal setiap hari Petugas
- Dilengkapi peralatannya (sabun, lap setelah proses kebersihan
tangan). - Dua kali sehari
(setiap diperlukan)
Sarana toilet - Digosok, dibersihkan, disanitasi Minimal setiap hari Petugas
- Sarana dilengkapi (air, gayung, sabun, sekali kebersihan
karbol dsb.)
Sepatu boot Disikat dan dibersihkan dengan air bersih Setiap hari setelah Petugas
selesai dipakai kebersihan

Tempat penampung Disikat dan dibersihkan dengan air bersih. Minimal seminggu Petugas
air (jika ada) sekali kebersihan
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM KEBERSIHAN PERALATAN, TOILET, Halaman : 7 dari 8
TEMPAT CUCI DAN PENAMPUNG AIR

Frekuensi/ waktu Pelaksana


Lokasi/ Peralatan Cara
pembersihan

Pipa aliran air Menggunakan bahan yang tidak Minimal setiap bu- Petugas
berkarat. lan dicek dan diber- kebersihan
sihkan bila perlu

Kendaraan Dibersihkan, dibilas dengan air bersih, Sebelum digunakan. Sopir


pengangkut bila perlu menggunakan saniter
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM PENGENDALIAN HAMA, SUHU Halaman : 8 dari 8
PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN PRODUK

Frekuensi/ waktu
Uraian Cara Pelaksana
pembersihan

Pengendalian Hama
Mamalia
- Jauhkan dari lokasi (diku-rung, - setiap hari Pengendali hama
- anjing, kucing
diikat)
- tikus
- Menggunakan perangkap atau - Setiap hari
racun tikus
Serangga
- Kecoa - Dimatikan (secara fisik), - Bila ada, setelah Pengendali hama
menggunakan insektisida proses (dengan
- Lalat - Menggunakan perangkat, lampu uv insektisida)
- Menggunakan insektisida, kapur - Bila ada setiap hari
- Semut semut (waktu libur) - Bila ada setiap hari
- Dibersihkan dengan sapu - Bila ada setiap hari
- Laba-laba (sarang) - Dimatikan (secara fisik), - Bila ada, setelah
- Kutu menggunakan pestisida proses (dengan
fumigasi)

Unggas
- Burung - Menggunakan jaring pelindung Bila ada setiap hari Pengendali hama
- Jauhkan dari lokasi (dikurung,
- ayam dikandangkan) Bila ada setiap hari
Hewan melata Menutupi produk untuk menghindari Setiap ada produk Bagian produksi
- cicak kotoran cicak
Suhu: Produk tertutup dengan fentilasi Setiap kali melaku-kan Petugas
udara/sirkulasi udara cukup penyimpanan penyimpanan
Ruang penyimpanan produk
tanpa pendingin

Pengangkutan tanpa Produk selalu tertutup dengan sirkulasi Setiap kali melakukan Petugas bagian
fasilitas pendingin udara cukup. Untuk jarak jauh pengangkutan pengiriman.
diusahakan diangkut pada malam hari,
tergantung cuaca.
Kode. Dok : P-SOP
PROSEDUR (SOP) Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PENARIKAN PRODUK KEMBALI (RECALL) Halaman : 1 dari 1

Untuk menjaga kepuasan pelanggan dan menghindari konsumen dari mengkonsumsi produk yang tidak aman, maka
perusahaan mempunyai kebijakan untuk melakukan penarikan produk (produk recall). Informasi yang menjadi alasan
untuk melakukan penarikan produk terutama adalah keluhan atau komplain dari pelanggan, dan adanya kesalahan
bahan baku atau proses produksi. Produk yang telah ditarik selanjutnya dikumpulkan pada tempat yang terpisah dan
telah ditentukan. Informasi dan data penarikan produk akan didokumentasikan dan ditindaklanjuti. Tindak lanjut yang
dilakukan dengan adanya penarikan produk antara lain dapat berupa :
1. Penghentian proses produksi sampai diperoleh hasil perbaikan yang memenuhi persyaratan konsumen.
2. Menyelidiki penyebab masalah dan menyusun tindakan koreksi agar tidak terulang kembali.
3. Penanganan terhadap produk yang ditarik.
Pelaksanaan penarikan produk ini dilakukan dibawah tanggung jawab manajer produksi
Formulir 1- 01

FORMULIR MONITORING DAN PENERAPAN SSOP HARIAN

Sblm Sblm Stlh


Slm Tindakan Tindakan
kerja kerja kerja
Uraian kerja koreksi verifikasi
pagi siang sore

Keamanan air (SSOP-01)


(bau,rasa, kejernihan)

Kondisi dan kebersihan alat yang kontak dengan


produk (SOP-1, SOP-2):

- Kondisi peralatan (pisau, wadah untuk produk,


lokasi sortasi dan grading, bak pencuci, bak
tempat penampungan, lap produk, sarung
tangan, bahan pengemas) utuh dan layak pakai
- Kebersihan peralatan (sda)

Pencegahan kontaminasi silang, hygiene karyawan


(SOP-1, SOP-2)

- Tidak terjadi simpang-siur alur proses

- Bahan pengemas bersih dan disimpan ditempat


bersih dan tidak lembab

- Peralatan disimpan dalam kondisi bersih dan


ditempat yang bersih dan tidak lembab

- Tidak ada karyawan yang sakit/ luka terbuka


pada saat bekerja di bagian produksi
- Karyawan mencuci tangan setiap akan mulai
kerja
- Karyawan tidak boleh merokok, meludah,
makan, minum, dan harus menjaga kebersihan
diri di ruang produksi
- Lampu di ruang produksi harus berpelindung dan
bersih

- Lantai tempat produksi dan kantor harus bersih

Proteksi dari bahan toxin/ beracun (SOP-1)


- Selama proses produksi tidak terdapat bahan
toxin/membahayakan keamanan pangan di
ruang produksi
Formulir 1- 01

FORMULIR MONITORING DAN PENERAPAN SSOP HARIAN


(lanjutan)

Sblm Sblm Stlh Slm Tindakan Tindakan


kerja kerja kerja kerja koreksi verifikasi
Uraian pagi siang sore

Kondisi dan kebersihan sarana pencuci


tangan, toilet dan bahan sanitasi (SOP-1,
SOP-2)
- Kondisi sarana pencuci tangan (layak
dipakai air bersih tersedia,
sabun/disinfektan ada, lap tangan
ada) serta bersih.
- Kondisi toilet (layak dipakai, air
bersih tersedia, gayung,
sabun/disinfektan tersedia) dan
bersih
- Kondisi sarana pencuci produk dan
saluran pembuangan airnya bersih,
cukup air

Pengendalian Hama (SOP-1, SOP-2)

- Pengendalian hama sudah dilakukan


dgn baik

.............., …………………………200....

Mengetahui QC Supervisor

( ) ( )
Formulir 1-02

FORMULIR MONITORING DAN PENERAPAN SSOP MINGGUAN DAN BULANAN

Bulan …… /Tahun…..
Bulan…… Setiap Jum’at Tanggal
Tindakan
Uraian Jum’at minggu I Tindakan koreksi
verifikasi
……. ……. ……. ……. …….

Keamanan air (Dok.SPO-1)


Pipa air tidak bocor dan tidak berlumut
Pencegahan kontaminasi silang dan
Pengendalian hama (Dok.SPO-01, SPO-02)
- Lantai lokasi kegiatan disemprot air dan
dibersihkan min setiap minggu
- Dinding dan langit-langit ruang produksi,
kantor bersih
- Dinding dan langit-langit tempat
penyimpanan sarana budidaya bersih
(dibersihkan setiap bulan)

Penyimpanan dan pelabelan sarana


budidaya
- Semua pupuk dan obat-obatan /
pestisida telah disimpan dan dilabel
dengan benar

………., ……….………200…..
Mengetahui QC Supervisor

( ) ( )
LAMPIRAN 6

CHECKLIST
AUDIT INTERNAL PENERAPAN JAMINAN
MUTU BERDASARKAN SISTEM HACCP (SNI
CAC/RCP 1:2011)
CHECKLIST AUDIT INTERNAL
PENERAPAN JAMINAN MUTU BERDASARKAN SISTEM HACCP
(SNI CAC/RCP 1:2011)

Informasi Audit
Tanggal Audit : Nama Auditor :

Fasilitas yang diaudit : Lokasi :

Nama Auditee :

Tlp/Hp :
Standar Acuan :

Olahan Produk :

Program di audit : Jumlah rencana HACCP :

Tipe audit :
Pelaksanaan Audit Audit sistem tahun 1

Audit sistem tahun 2 Audit sertifikasi ulang

Lama Waktu Audit : Tanda Tangan Auditor :


(waktu mulai- akhir):

Ya---------------- Tidak
5 4 3 2 1 0
No Pertanyaan Tidak Temuan
Sangat Sangat ada
Baik Cukup Kurang
baik Kurang sama
sekali
1. PRODUKSI PRIMER
- Kebersihan lingkungan
- Produksi Hygiene
- Penanganan, Penyimpanan
dan Transportasi
2. FASILITAS PEMBENTUKAN,
DESAIN &
2.1 Lokasi
- Pendirian
- Peralatan
2.2 Aset Kamar
- Desain dan Layout
- Struktur internal dan
perlengkapan
- Sementara / Premises mobile
dan Mesin penjual
2.3 Peralatan
- Umum
- Kontrol pangan dan
pemantauan peralatan
- Wadah untuk limbah dan
zat yang termakan zat
Ya---------------- Tidak
5 4 3 2 1 0
No Pertanyaan Tidak Temuan
Sangat Sangat ada
Baik Cukup Kurang
baik Kurang sama
sekali
1. PRODUKSI PRIMER
2.4 Fasilitas
- Persediaan air
- Drainase dan Pembuangan
Limbah
- Pembersihan
- Personil Fasilitas Kebersihan
dan Toilet
- Pengatur suhu
- Ventilasi
- Pencahayaan
3. PENGENDALIAN OPERASIONAL
3.1 Bahaya Makanan
3.2 Sistem Pengendalian Kebersihan
- Waktu dan Suhu Control
- Kontaminasi silang mikrobiologi
- Kontaminasi Fisik dan Kimia
3.3 Bahan/barang yang masuk
3.4 Pengepakan
3.5 Air
- Dalam kontak dengan makanan
- Sebagai bahan
3.6 Manajemen dan pengawasan
3.7 Dokumentasi dan Rekaman
4. PENDIRIAN -PEMELIHARAAN DAN
SANITASI
Pemeliharaan dan Kebersihan
- Umum
4.1
- Prosedur dan metode
Pembersihan
4.2 Program Pembersihan
4.3 Sistem Pengendalian Hama
4.4 Manajemen Limbah
4.5 Efektivitas Pemantauan
PENDIRIAN - KEBERSIHAN
5.
PERSONIL
5.1 Status Kesehatan
5.2 Kebersihan Personil
5.3 Personil Perilaku
6. TRANSPORTASI - ANGKUTAN
6.1 Desain dan Konstruksi
6.2 Penggunaan dan Perawatan
7 INFORMASI PRODUK DAN
KESADARAN KONSUMEN
7.1 Identifikasi jumlah
7.2 Informasi Produk
7.3 Pelabelan
7.4 Pendidikan Konsumen
8. PELATIHAN
8.1 Kesadaran dan Tanggung Jawab
8.2 Program Pelatihan
8.3 Instruksi dan Pengawasan
8.4 Pelatihan Penyegaran
9. INFORMASI TAMBAHAN
- kode kebersihan setiap produk
tertentu
- Prosedur Kalibrasi (jika ada)
- Program Penjual
Ya---------------- Tidak
5 4 3 2 1 0
No Pertanyaan Tidak Temuan
Sangat Sangat ada
Baik Cukup Kurang
baik Kurang sama
sekali
1. PRODUKSI PRIMER
I AUDIT HACCP LANGKAH AWAL
1 Apakah semua lima langkah awal
telah selesai ?
2 Adalah tim HACCP diidentifikasi
3 Apakah persetujuan rencana HACCP
diperoleh dan revisi rencana
diidentifikasi
4 Apakah makanan benar dijelaskan
termasuk nama, negara makanan
sebelum dikonsumsi, pelestarian,
metode, pengemasan, distribusi,
umur simpan, pelabelan dan kontrol
khusus untuk distribusi
5 Telah bahan baku dan daftar bahan
telah selesai untuk setiap Food
6 Apakah tujuan penggunaan makanan
diidentifikasi
Apakah diagram alir mungkin dimulai
pada titik awal dan berakhir pada titik
penanganan terakhir dari produk
Diagram adalah termasuk tata letak
mesin
Diagram alir telah selesai untuk
memasukkan semua langkah bahkan
langkah opsional jika ada
Diagram alir telah diverifikasi oleh tim
HACCP untuk memastikan bahwa
(bukti rekaman –yang diperlukan
telah ditanda tangan) itu lengkap dan
akurat
Jika sudah ada modifikasi pada
produk pangan atau proses. Langkah
awal telah dimasukkan dalam
revalidation HACCP
II AUDIT KEPATUHAN TERHADAP
PRINSIP HACCP
A Prinsip 1: Analisis Hazard
1. Memiliki penilaian terhadap bahaya
biologi, kimia dan fisik untuk semua
bahan, bahan baku, proses dan
langkah-langkah pasca produksi telah
selesai
2. Apakah semua bahaya telah
dipertimbangkan untuk semua bahan
baku dan semua langkah-langkah
proses ?
3. Apakah langkah-langkah / tindakan
pengendalian preventif untuk bahaya
diidentifikasi ?
4. Apakah langkah-langkah pencegahan
yang dilakukan seperti yang
dijelaskan dalam rencana HACCP
(bukti catatan dan amati apa yang
dilakukan dalam penerapan)
5. Apakah penilaian risiko telah
dilakukan untuk menentukan bahaya
yang signifikan
Ya---------------- Tidak
5 4 3 2 1 0
No Pertanyaan Tidak Temuan
Sangat Sangat ada
Baik Cukup Kurang
baik Kurang sama
sekali
6. Apakah penggunaan produk akhir
pangan telah dipertimbangkan dalam
penilaian risiko ?
7. Apakah bahan referensi yang
digunakan oleh tim HACCP untuk
menentukan bahaya dan risiko /
keparahan tersedia sehingga
memberikan rasional untuk
keputusan (keputusan yaitu
transparan) ?
8. Lingkup rencana HACCP yaitu
keamanan pangan saja atau
keamanan pangan dan kualitas yang
diterapkan secara konsisten ?
9. Apakah memiliki bahaya yang berada
di luar kendali langsung dari pabrik
telah dipertimbangkan dalam analisis
bahaya (misalnya distribusi)
B Prinsip 2 : Critical Control Point
1. Apakah setiap bahaya yang signifikan
memiliki CCP ?
2. Apakah CCP diterapkan dengan
benar ?
3. Apakah ada prosedur / instruksi kerja
untuk setiap CCP ?
4. Lihat titik kendali kritis (CCP)
prosedur dan proses checklist
C Prinsip 3 Menetapkan Batas Kritis
1. Apakah batas kritis ditugaskan untuk
setiap CCP
2. Apakah batas kritis divalidasi
(meninjau bukti obyektif, dll)
3. Apakah dilaksanakan (review catatan
pemantauan, mengamati proses)
batas kritis
4. Apakah dijelaskan tepat batas kritis,
yaitu maksimum / nilai minimumnya?
5. Apakah data yang disajikan
menunjukkan kesesuaian dengan
batas kritis?
D Prinsip 4 : Pemantauan
1. Apakah pemantauan catatan yang
sedang dibuat sesuai dengan CCP
2. Pemantauan prosedur harus
menjelaskan informasi apa,
bagaimana, di mana, kapan, siapa
3. Untuk setiap batas kritis harus ada
tindakan pemantauan yang
mencakup jawaban
4. Adalah pemantauan yang memadai
dan apakah hal itu memberikan
jaminan tingkat tinggi bahwa proses
ini di bawah kendali
E Prinsip 5. Penetapan tindakan
perbaikan
1. Apakah catatan tindakan korektif
selesai untuk semua penyimpangan
dari batas kritis
Ya---------------- Tidak
5 4 3 2 1 0
No Pertanyaan Sangat
Tidak Temuan
Sanga Cuku Kuran ada
Baik Kuran
t baik p g sama
g
sekali
2. Apakah catatan tindakan korektif
berkorelasi dengan catatan
pemantauan yang relevan
3. tindakan korektif perlu mengalir
template.
4. Deskripsi harus mencakup tindakan
segregasi, koreksi dan disposisi
dengan nama orang yang
bertanggung jawab.
5. Apakah catatan tindakan korektif
Ulasan, sehingga untuk menilai
rencana HACCP untuk setiap tren.
F Prinsip 6 : Pencatatan
1. Ketika melihat catatan, cari
perbedaan yang menunjukkan
ketidakpatuhan dengan rencana
HACCP.
2. Kegagalan untuk mengkorelasikan
waktu hari yang sesuai dengan
catatan.
3. Check setiap titik pemantauan
terhadap batas kritis
4. Periksa catatan kalibrasi untuk
melihat kalibrasi yang dilakukan
dengan menggunakan metode yang
tepat dan standar. Mencari potensi
pemalsuan, pra-entri data dan
kesalahan lainnya.
5. Periksa catatan pelatihan untuk
melihat pelatihan yang diperlukan
dalam prosedur
6 Apakah catatan semua kegiatan
verifikasi HACCP dipertahankan
7 Catatan tindakan korektif harus
mampu selaras dengan catatan
pemantauan dan mencakup deskripsi
masalah, koreksi dan disposisi.
8 catatan tindakan perbaikan harus
diajukan dalam file terpisah untuk
kemudahan akses
F Prinsip 7. Verifikasi
1 Apakah dilakukan kegiatan verifikasi
yang melakukan diidentifikasi
dengan frekuensi yang terpisah (yaitu
harian, mingguan, bulanan) dan
dicatat pada jadwal pemeriksaan
verifikasi ?
2 Apakah ada ulasan dari rencana
HACCP dan implementasinya ?
3 Apakah dilakukan validasi batas
kritis?
4 Apakah terbukti kebenaran
pemantauan CCP ?
5 Apakah terbukti ketepatan
pemantauan CCP?
6 Apakah dilakukan analisis sampel
untuk memverifikasi CCP yang di
bawah kendali
Ya---------------- Tidak
5 4 3 2 1 0
No Pertanyaan Sangat
Tidak Temuan
Sanga Cuku Kuran ada
Baik Kuran
t baik p g sama
g
sekali
7 Apakah dilakukan verifikasi
monitoring dan prosedur tindakan
korektif.
8 Apakah kegiatan verifikasi
menunjukkan bahwa program
HACCP adalah efektif
9 Verifikasi prasyarat dan program
pendukung juga diperlukan
diantaranya untuk :
- Kalibrasi peralatan,
- Review spesifikasi
pembelian,
- Sampel produk akhir
- Pengambilan sampel
lingkungan
- Tes produk
- Konfirmasi kebersihan dan
konsentrasi sanitizer
LAMPIRAN 7

CONTOH STRUKTUR
TIM ICS DAN URAIAN TUGAS YANG
DIINTEGRASIKAN DALAM STRUKTUR
POKTAN DAN GAPOKTAN

43
Lampiran 7
CONTOH STRUKTUR TIM ICS DAN URAIAN TUGAS YANG DIINTEGRASIKAN DALAM STRUKTUR POKTAN DAN GAPOKTAN

ICS
KOORDINATOR

PEMBELIAN PENGOLAHAN PENYIMPANAN PENJUALAN PENYULUH INSPEKTOR

URAIAN TUGAS :
a. Koordinator ICS d. Penyimpanan
 Melakukan supervisi terhadap ICS secara keseluruhan  Mengelola file-file di dalam ICS
 Mengalokasikan sumberdaya dan staf yang memadai untuk menjalankan ICS  Melakukan pengolahan data dan mengirimkannya ke LSO
 Menjalin kerjasama dengan semua pihak untuk kelancaran ICS. e. Inspektor
 Menyusun ICS Manual.  Melakukan registrasi petani dan meminta kontrak petani.
 Menjalin komunikasi dengan LSO  Melakukan inspeksi internal sesuai dengan pembagian wilayah
 Melakukan supervisi terhadap Staf Lapang (Internal Inspektur dan Petugas kerja.
Lapang)  Menginformasikan kepada petani tentang standar internal organik
 Mensosialisasikan ICS Manual dan mengkoordinasi penerapan Kontrol Internal. f. Staf Lapangan (Penyuluh)
 Mengorganisir dan mendampingi pelaksanaan inspeksi eksternal dari LSO  Memberikan pelatihan dan penyuluhan tentang pertanian organik
b. Pembelian  Menyusun peta umum dan peta lokasi lahan organik dan non-
 Menjaga agar hanya ............ organik yang dibeli. organik
 Menjaga agar gudang terbebas dan terhindar dari pencemaran
 Menandatangani kuitansi penerimaan produk.
c. Pengolahan
 Menjaga agar hanya ............ organik yang dibeli dan diolah
 Menjaga agar proses pengolahan ............ terhindar dari pencemaran.
 Menjaga agar produk yang telah diolah disimpan dengan baik dan terhindar dari
pencemaran

43
LAMPIRAN 8

PANDUAN SISTEM KENDALI INTERNAL/


INTERNAL CONTROL SYSTEM (ICS)
PANDUAN
SISTEM KENDALI INTERNAL
(Internal Control System/ICS)

KELOMPOK TANI XYZ

Desa ............... Kecamatan ...................


Kabupaten ....................
Propinsi ..................

[bulan] [tahun]

[nama penyusun]
[Gapoktan/Poktan/lembaga tani]
DAFTAR ISI

0. DISTRIBUSI DAN REVISI PEDOMAN ICS.................................................. 3


0.1. Distribusi Pedoman ICS ..................................................................... 3
0.2. Penyesuaian dan Perbaikan Pedoman ICS ....................................... 3
1. URAIAN SINGKAT STRUKTUR DAN KEGIATAN .................................... 4
1.1. Gambaran Umum Organisasi Program Serfikasi Organik ............... 4
1.2. Gambaran Umum Pertanian ................................................................ 5
1.3. Gambaran Umum Pembelian, Penanganan dan Ekspor .................. 5
2. PENGELOLAAN RESIKO .......................................................................... 6
2.1. Perkiraan Resiko Dasar ...................................................................... 6
2.2. Titik Kritis dalam Pengkontrolan dan Mengatasi Resiko ................. 7
3. STANDAR INTERNAL ORGANIK .............................................................. 9
3.1. Cakupan Sertifikat ............................................................................... 9
3.2. Standar Internal Organik .................................................................... 9
4. PROSEDUR PENGKONTROLAN KEBUN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN 10
4.1. Registrasi Petani ................................................................................. 10
4.2. Inspeksi Internal .................................................................................. 12
4.3. Perkiraan Hasil .................................................................................... 16
4.4. Prosedur Pengambilan Keputusan Internal ...................................... 17
4.5. Tidak Memenuhi Persyaratan dan Sanksi ......................................... 17
4.6. Dokumentasi ICS ................................................................................. 19
5. ORGANISASI DAN STAF ICS .................................................................... 20
5.1. Bagan Organisasi ................................................................................ 20
5.2. Koordinator ICS (ICS Manager) .......................................................... 22
5.3. Inspektur Internal ................................................................................ 23
5.4. Pembuat Keputusan Organik ............................................................. 23
5.5. Petugas Lapang (Penyuluh Lapang, Advisor) .................................. 23
5.6. Pertentangan Kepentingan ................................................................. 24
6. PELATIHAN ................................................................................................ 24
6.1. Pelatihan Staf ICS ............................................................................... 24
6.2. Pelatihan Petani .................................................................................. 25
7. PEMBELIAN, PENANGANAN, PENGOLAHAN, EKSPOR ....................... 26
7.1. Prosedur Pembelian ........................................................................... 26
7.2. Prosedur Penyimpanan ....................................................................... 26
7.3. Pengolahan ............ Organik di Kelompok ...................................... 27
7.4. Penjualan ke ....................................................................................... 27
7.5. Petugas Pembelian dan Pengolahan Pascapanen ........................... 28
8. INSPEKSI EKSTERNAL DAN SERTIFIKASI ............................................. 29
0 Distribusi dan Revisi Pedoman ICS
0.1 Distribusi Pedoman ICS
Keberhasilan Program Sertifikasi Pertanian Organik [komoditi] di kelompok
tani [nama], Desa ........ ini, sangat ditentukan antara lain partisipasi aktif
dan keterbukaan dari semua pihak yang terkait, mulai dari anggota dan
pengurus kelompok, pengurus ICS, Lembaga yang memfasilitasi [nama]
dan lembaga yang mengeluarkan sertifikat (LSO) serta lembaga pemasaran
[nama exporter] atau lainnya.
Karena itu segala bentuk kebijakan dan prosedur Internal Control Sistem
(ICS) serta dokumen lainnya perlu diketahui / didistribusikan kepada semua
komponen terkait dalam program tersebut.
 Pedoman ICS yang lengkap akan diditribusikan / dibagikan kepada :
- ........... ( Lembaga yang memfasilitasi )
- Projek Manager ( Pusat Konsultasi Bisnis .................)
- Koordinator / Wakil Koordinator ICS
- Seluruh Inspektor Internal
- Staff Lapangan / Penyuluh.
 Pedoman ICS yang lengkap disimpan juga di :
- Ketua / Sekretaris Kelompok Tani ............, sehingga para anggota
kelompok dapat membacanya
- Bagian Administrasi ICS
 Bagian-bagian tertentu dari pedoman ICS akan dibagikan/didistribusikan
kepada :
- Seluruh anggota kelompok ....... / Peserta Program Sertifikasi
Pertanian Organik .................. seperti, bagian standar/aturan Internal
untuk organik, kontrak, alur dan aturan produksi dan prosedur
pembelian.
- Bagian pengelolaan/pemrosesan seperti, standar Internal dalam
pemrosesan dan prosedur pemrosesan.
- Bagian Pembelian seperti, Prosedur dan Formulir-formulir pembelian.

0.2. Revisi / Penyesuaian Dan Perbaikan Pedoman ICS

a. Pedoman ICS dapat di ubah/disesuaikan bilamana diperlukan. (Misalnya


jika standar sertifikasi berubah atau jika prosedur-prosedur tidak bisa
berjalan dengan baik).
b. Pedoman ICS paling sedikit setahun sekali diperiksa ulang, yakni pada
bulan ....... - .......... sebelum ..............
c. Jika terjadi perubahan yang perlu, maka pedoman ICS yang telah
diperbaharui itu dibagikan kepada semua komponen yang telah
disebutkan di atas.
d. Perubahan Pedoman ICS harus mendapat persetujuan dari Ketua
Kelompok Tani dan Koordinator/Wakil Koordinator ICS.
e. Koordinator ICS bertanggung jawab membagikan prosedur–prosedur dan
formulir-formulir yang telah diubah/diperbaharui kepada semua pihak dan
menjamin bahwa semua staff mampu menerapkannya.

1. Uraian Singkat Struktur Dan Kegiatan

1.1. Gambaran Umum Organisasi Program Sertifikasi Organik


Program sertifikasi pertanian ............. di kelompok Tani ..............., Desa
.............., Kecamatan ................ Kabupaten .............., untuk tahun pertama
(........ s/d ...........) di fasilitasi oleh ..................; Untuk kelancaran kegiatan di
lapangan maka perlu dibentuk struktur internal control sistem (ICS) yang
melibatkan petugas, pengurus dan anggota kelompok ........... yang susunan
Kepengurusannya sebagai berikut :

ICS Koordinator

Pembelian Pengolahan Penyimpanan Penjualan Penyuluhan Inspektor


n an

Untuk memudahkan Pengontrolan dan Administarsi maka Inspektor Internal


akan dibari tanggung jawab terhadap petani peserta program yang
lokasinya sesuai dengan wilayah domisili sebagai berikut :

Dusun/Domisili Inspektur Internal Luas Areal (ha) Petani Organik


Lokasi 1 Nama inspektor 1 ..... ......
Nama inspektor 2 ............. ........
............. ............. ............. ….
............. ............. .............
............. ............. ............. ...........
............. ............. ...........
............. ............. ............. ...........
............. ............. ..........
TOTAL ............. ...........
Struktur ini akan berkembang disesuaikan dengan perkembangan aktivitas
dalam pengelolaan program sertifikasi organik ..........
1.2. Gambaran Umum Pertanian
Masyarakat di desa ........... bermata pencaharian pokoknya adalah bertani.
Luas lahan untuk pertanian kurang lebih ....... hektar dari ........ hektar luas
wilayah. Yang sudah dimanfaatkan sebanyak ......... hektar sedangkan ........
hektar yang sisa masih dalam berupa ............. (belum dimanfaatkan).
Tanaman ............. merupakan tanaman yang mendominasi luas pertanian
yang sudah dimanfaatkan tersebut yakni kurang lebih ....... hektar dan
merupakan komoditi ungulan pertama, yang memberikan kontribusi
pendapatan terbesar bagi masyarakat ....... selain .............
Rata-rata luas pemilikan lahan ........ hektar. Luas lahan yang paling sempit
........ hektar dan yang paling luas ......... hektar. Rata-rata produksi ..............
Pola tanam pada lahan .......... . Tanaman ........... ditanam setiap tahun
ditempat yang sama sampai tanaman ............ produksi hingga ..........
Pemeliharaan tanaman ............ yang dilakukan petani di Desa ................,
baru pada tahap ...................; sedangkan teknologi lain seperti ....................
Selain tanaman ............ tanaman lain juga dibudidayakan adalah .............

1.3. Gambaran Umum Pembelian, Penanganan dan Ekspor


Kebiasaan petani di desa ....... memanen ............. dengan menunggu
........... Musim ........ di desa .............. dan di daerah .......... berlangsung
mulai bulan ................; panen raya biasanya terjadi pada bulan .............
Total Produksi .......... di desa ............ permusim panen mencapai rata-rata
.......... ton.
Sebelum ada pendampingan dari petugas lapangan, pada umumnya petani
................ secara sendiri-sendiri langsung menjual ......... pada pedagang
pengumpul yang setiap hari datang membeli ......... pada petani di desa
............
Namun setelah ada pendampingan dari petugas, petani dihimpun dalam
kelompok dan menjualnya di kendalikan oleh satuan tugas (satgas)
pemasaran ............ .
Saat ini petani melalui kelompok sudah melakukan pemrosesan ...............
sehingga para petani di desa .............. memasarkan produk dalam ......
bentuk yakni :
.............. yang di jual kepada pedagang pengumpul; ................ yang di jual
ke ........ selanjutnya diolah lebih lanjut atau langsung dikirim ke PT. .......
untuk diolah sebelum di eksport sedangkan bentuk produk .......... yang ke
tiga adalah ...........yang dijual ke pasaran Lokal.
Kedepan untuk pengolahan ......... organik kelompok menyepakati untuk
produk ........... dalam dua bentuk dengan sistem dan mekanisme masing-
masing bentuk sebagai berikut :
 Produk
..........................................................................................................
2. Pengelolaan Resiko
2.1. Perkiraan Resiko Dasar
Kebijakan: Resiko yang bisa mengancam kualitas produk organik di setiap
tahapan proses produksi, transportasi dan penyimpanan, pengolahan dan
ekspor harus diketahui dan diperhitungkan/dicatat dalam prosedur-prosedur
kontrol internal. Oleh karena itu identifikasi awal tentang resiko harus
lengkap, identifikasi resiko harus dilakukan baik di lahan/teknik budidaya
tanaman, pemanenan, pengolahan pasca-panen (penyortiran, penjemuran,
penyimpanan dan pemrosesan), pengiriman/ transportasi bahkan kegiatan
ekspor jika masih di bawah kontrol ICS. Setelah resiko diidentifikasi, ICS
harus menetapkan cara-cara dan perlakuan untuk meminimalisir atau
mengurangi timbulnya resiko. Selanjutnya perlu diketahui juga kemampuan
petani maupun kelompok dalam mengelola resiko.
Berdasarkan hasil identifikasi awal terhadap resiko, resiko-resiko yang
mungkin timbul adalah:
LAHAN (Resiko apa yang mungkin timbul berkaitan dengan lahan?):
 Apakah kepemilikan lahan jelas? Kepemilikan lahan di Desa ..........
jelas, tetapi letak lahan jauh dari pemukiman dan terpencar.
 Apakah petani melakukan ladang berpindah? Petani Desa ............
melakukan perladangan berpindah hanya untuk tanaman ........, tidak
melakukan perladangan berpindah untuk tanaman...........
 Apakah petani memanfaatkan lahan dengan sistem tumpangsari? Saat
tanaman ........., petani menanam tanaman sela berupa tanaman
...................
 Apakah lahan tanaman ........... bisa tercemari melalui irigasi dari lahan
non-organik? Lahan tanaman ............. di Desa ............. umumnya
berada di dataran tinggi (upland).

TEKNIK BUDIDAYA (Resiko apa yang mungkin timbul berkaitan dengan


teknis budidaya?):
 Apakah bibit yang digunakan adalah bibit an-organik, rekayasa genetik?
Sumber bibit berasal dari ............ milik ............. yang berkualitas bagus
dan tidak terkontaminasi bahan agrokimia.
 Apakah mudah untuk memperoleh agrokimia (pestisida, herbisida dan
pupuk)? Jarak dengan pusat perdagangan ........ km, tetapi masih relatif
mudah untuk memperoleh bahan agrokimia.
 Apakah penanggulangan hama dan penyakit untuk tanaman lain masih
menggunakan bahan-bahan kimia? Petani di Desa ............ sudah
tidak menggunakan bahan kimia, tetapi petani di desa tetangga masih
menggunakan pestisida dan insektisida.
 Apakah penanggulangan hama dan penyakit untuk ............ secara
tradisional? Petani Desa ............ menggunakan cara-cara tradisional
dalam penanganan hama dan penyakit ............ (cara pengasapan).
 Apakah untuk penyiangan masih ada yang menggunakan bahan kimia?
Petani di Desa ............ sudah tidak menggunakan bahan kimia, tetapi
petani di desa tetangga masih menggunakan herbisida untuk
penyiangan di lahan ............ .
 Jika harga ............ naik, apakah akan mendorong petani
menggunakan bahan-bahan kimia? Tidak, sebab petani sudah terbiasa
tidak menggunakan bahan kimia.
 Adakah program yang mendorong penggunaan bahan-bahan kimia?
Meskipun sudah terhenti di Desa ............ , tetapi Proyek ......... dari
Dinas Perkebunan Kabupaten ............ masih mengintrodusir bahan-
bahan non-organik.
 Apakah petani telah memahami teknik budidaya ............ organik?
Pemahaman petani tentang pertanian organik masih terbatas
pelarangan penggunaan in-put agrokimia. Petani belum mempunyai
sikap sebagai petani organik yang mempunyai orientasi pada pertanian
lestari, pertanian yang aman bagi lingkungan dan pertanian yang aman
bagi kesehatan.

PANEN DAN PENGELOLAAN PASCA-PANEN (Resiko apa yang mungkin


timbul saat panen dan pengelolaan paska-panen?):
 Apakah ada kemungkinan bercampur antara ............ organik & non-
organik saat pemanenan, penjemuran maupun penyimpanan? Ada
tetapi kecil sebab selama ini petani melakukan pemanenan,
penjemuran maupun penyimpanan milik sendiri dan hampir semua
petani (...... dari .....) ikut program sertifikasi organik.
 Apakah ada kemungkinan ............ organik terkontaminasi bahan an-
organik saat penyimpanan, pemrosesan maupun pengiriman? Ada
tetapi kecil, sebab bahan agrokimia telah dilarang di Desa Punaliput
tetapi bisa terkontaminasi bahan-bahan kimia yang bukan agrokimia.
 Apakah ada kemungkinan petani yang tidak ikut program menjual
............ non-organik melalui peserta program? Ada karena harga
............ organik lebih tinggi dari ............ non-organik.
 Apakah petani maupun kelompok sudah memahami cara-cara panen
dan pengelolaan pasca-panen ............ organik? Petani belum
memahami secara baik cara pengelolaan pasca-panen ............
organik.

2.2. Titik Kritis dalam Pengkontrolan dan Mengatasi Resiko


Berdasarkan hasil analsisis terdapat resiko-resiko penting (titik kritis)
dan saran-saran dalam penanganannya. Contoh resiko yang sering
terjadi :
TITIK KRITIS CARA PENANGANAN RESIKO
 Lahan yang berpencar  Penerapan sistem pengawasan
menyulitkan saat inspeksi dan silang dan mewajibkan anggota
pengawasan. untuk melaporkan jika ada
ancaman terhadap pertanian
organik (Poin ini dimasukkan dalam
aturan internal)
 Penggunaan bahan-bahan kimia  Sosialisasi ke desa-desa tetangga
oleh petani di desa tetangga bisa tentang arti penting pertanian
menimbulkan kontaminasi. organik sebagai tindakan preventif.
 Bahan-bahan kimia relatif mudah  Pemberian sangsi bagi petani yang
diperoleh oleh petani membeli bahan-bahan kimia,
apalagi apabila petani
mempergunakan dan (Poin ini
dimasukkan dalam aturan internal).
 Program atau proyek pemerintah  Bekerjasama dengan dinas terkait
yang mengintrodusir agrokimia. untuk ikut mengamankan pilot
proyek pertanian organik.
 Pertanian organik belum menjadi  Penyuluhan untuk penyadaran arti
ideologi petani, sehingga jika penting pertanian organik harus
dirasa penerapannya susah dilakukan terus-menerus dengan
maka petani bisa drop-out penekanan tidak hanya keuntungan
finansial, tetapi untuk kelestarian
lingkungan dan kesehatan.
 Petani yang tidak ikut program  Peraturan internal harus secara
menjual melalui peserta program tegas melarang peserta program
untuk menerima titipan dari petani
yang bukan peserta.
 Kelompok Punaliput bertekad  Jika kelompok tetap berkeinginan
untuk tetap melakukan untuk melakukan pengolahan,
pemrosesan ............ organik, maka prosedur pengolahan harus
sementara mereka belum diperbaiki termasuk melakukan
menerapkan prosedur pengolahan secara terpusat di UPH
pengolahan yang baik. Kelompok Punaliput bukan di
masing-masing rumah petani.

 Anggot kelompok/ peserta  Informasi harga pasar dunia


program mejual/ menimbang diketahui oleh pengurus ICS
............ pada pengusaha / (perubahan setiap minggu).
pedagang lain karena:  Diberikan modal awal untuk
 Harga bersaing / lebih pembelian ............ sebulan
tinggi sebelum musim panen tiba (bulan
Mei) kepada pengurus ICS.
 Kebutuhan keluarga
mendesak  Pada waktu musim panen
diharapkan seorang staff CCC
 Pelayanan tidak beebelit
ditempatkan di ............ kelompok,
untuk bersama mengatur strategi
pembelian agar dapat bersaing
dengan pengusaha lain.

3. Standar Internal Organik


3.1. Cakupan Sertifikat
Dalam penyusunan standar internal organik harus mempertimbangkan:
kemana komoditi organik tersebut akan dipasarkan? Apabila komoditi akan
dipasarkan ke Uni Eropa maka dalam penyusunan standar internal organik
harus mengacu pada EU-Regulation 2092/91. Apabila tujuan
pemasarannya ke Amerika maka penyusunan standar internal organik
harus mengacu pada USDA-NOP (National Organic Program)
(disesuaikan)
Cakupan sertifikat dalam program sertifikasi ............ organik di ………..,
khususnya di Kelompok ………… Desa ............ Kec. …………. Kab.
............ , disasarkan untuk pasar Uni Eropa sehingga dalam penyusunan
standar internal organik mengacu pada EU-Regulation 2092/91.

3.2. Standar Internal Organik


Kebijakan: standar internal organik harus disusun oleh petani/kelompok
tani sendiri sebagai acuan untuk melakukan kontrol internal dalam
kelompok tani sebagai peserta program sertifikasi ............ organik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan standar internal organik
antara lain:
1. Standar internal organik harus mencakup persyaratan-persyaratan
produksi agar produk yang dihasilkan memenuhi syarat sebagai
produk organik.
2. Standar internal organik harus disusun secara jelas dan sederhana
agar mudah dipahami oleh Petani, Pengurus Kelompok Tani maupun
Staf ICS.
3. Standar internal organik harus disosialisasikan kepada seluruh petani
peserta program sertifikasi ............ organik dengan bahasa yang
sederhana sehingga petani memahaminya dan bersedia
mematuhinya.
4. Standar internal organik secara umum meliputi: bagaimana
pengelolaan/ budidaya ............ organik, aturan-aturan dalam
budiddaya ............ organik (pengunaan benih, pupuk, konservasi
lahan, perlindungan tanaman dari hama dan penyakit, sarana
produksi yang diperbolehkan dan yang dilarang, pencegahan
kontaminasi dari irigasi dan hewan ternak). Selain itu berisi tentang
prosedur pemanenan dan prosedur pengolahan pasca-panen.
Standar internal organik di Kelompok Punaliput Desa ............ Kec.
Tanjung Bunga Kab. ............ telah disusun bersama antara Pengurus
Kelompok dan Internal Inspektur yang difasilitasi oleh Staf ICS Provider
(lampiran 1: Standar Internal Organik di Kelompok Punaliput Desa
............ Kec. Tanjung Bunga Kab. ............ ).

4. Prosedur Pengontrolan dan Pengambilan Keputusan


4.1. Registrasi Petani
Kebijakan: semua petani yang akan ikut program sertifikasi ............
organik harus mendaftarkan diri serta menanda-tangani kontrak sebagai
peserta program.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan registrasi petani adalah:
1. Pendaftaran petani dilakukan dengan menggunakan Formulir
Pendaftaran Petani (lampiran 2: Formulir Pendaftaran Petani)
2. Formulir Pendaftaran Petani, minimal berisi: kode petani, nama,
alamat, data semua bidang yang digarap baik lahan organik maupun
non-organik (luas, lokasi/letak lahan, tanaman yang ditanam), pola
pertanian organik atau tidak, kondisi tanaman yang disertifikasi/
............ (jumlah pohon, umur pohon, perkiraan hasil).
3. Waktu pendaftaran, petani harus dijelaskan standar internal organik
atau aturan internal.
4. Waktu pendaftaran, petani diminta kesediaannya untuk
menandatangani kontrak yang dilampiri aturan internal dan telah
dipahami oleh petani. (Lampiran 3: Kontrak Petani Organik)

Prosedur Pendaftaran Petani:


1. Tahap Persiapan:
a. Staf ICS Provider, Pengurus Kelompok dan Internal Inspektur
mempersiapkan: Aturan Internal/Standar Internal Organik, Kontrak
Petani, Formulir Pendaftaran dan Alat-Alat Tulis.
b. Staf ICS Provider, Pengurus Kelompok dan Internal Inspektur
menyusun jadwal registrasi petani, menentukan petugas yang akan
melakukan registrasi dan memberitahukan jadwal tersebut kepada
semua petani calon peserta program sertifikasi organik.
2. Tahap Pelaksanaan Registrasi:
a. Petugas registrasi menemui petani sesuai jadwal yang telah
ditentukan di rumah atau lahan petani (disarankan petani ditemui di
lahannya).
b. Petugas menjelaskan maksud dan tujuannya, menjelaskan aturan
internal dan menjelaskan kontrak petani dengan kelompok tani
dalam program sertifikasi ............ organik.
c. Setelah petani memahami aturan internal dan kontrak, petugas
meminta kesediaan petani untuk menjadi peserta program sertifikasi
............ organik. Jika petani bersedia menjadi peserta, petugas
meminta petani menandatangani kontrak (kontrak dibuat rangkap 2
(dua): untuk petani dan kelompok)
d. Bagi petani yang tidak bersedia menjadi peserta, proses registrasi
tidak perlu dilanjutkan. Sebaliknya bagi petani yang bersedia dan
telah menanda-tangani kontrak dilanjutkan dengan proses registrasi
atau pendataan.
e. Petugas melakukan wawancara dengan petani untuk memperoleh
data/ informasi yang diperlukan sesuai Formulir Pendaftaran Petani.
f. Petugas disarankan untuk melakukan kunjungan lahan untuk re-
check informasi dari petani dan menggambar sketsa lahan petani.
Petugas juga bisa meminta ditunjukkan surat-surat/dokumen yang
mendukung informasi.
g. Petugas mengisi data ke formulir dengan menggunakan pensil agar
mudah diubah jika ada perbaikan.
h. Setelah semua data terisi, petugas meminta petani untuk membaca
(bagi petani yang bisa membaca) atau petugas membacakan (bagi
petani yang tidak bisa membaca) data-data yang telah diisikan dalam
Formulir Pendaftaran Petani.
i. Jika petani menyatakan bahwa data sudah benar, maka petugas
meminta kesediaan petani untuk menanda-tangani sebagai
pernyataan bahwa data telah benar. Jika data belum sesuai maka
harus diperbaiki dahulu, baru dimintakan tanda tangan petani.
Petugas juga membubuhkan tanda-tangan di formulir tersebut.
3. Tahap Pengolahan Data/Dokumentasi
a. Petugas mengumpulkan Formulir Pendaftaran Petani yang telah diisi
dengan rapi dengan pena, ditandatangani oleh petani dan petugas
kepada Petugas Administrasi/Koordinator ICS.
b. Petugas Administrasi/Koordinator ICS akan melakukan entry-data
dan membuat rekapitulasi data ke dalam Formulir Daftar Petani
(Lampiran 4: Formulir Daftar Petani)
c. Daftar Petani dikirim ke LSO melalui SC untuk mendapatkan
keputusan akhir dari LSO tentang petani yang disetujui menjadi
peserta program sertifikasi ............ organik.
d. Formulir Pendaftaran Petani dan Daftar Petani didokumentasi/diarsip
oleh Petugas Administrasi/Koordinator ICS. Adapun kontrak petani
diarsip di Kelompok Tani, jika dirasa perlu Koordinator ICS bisa
meminta copy kontrak sebagai arsip ICS Provider.
Jadwal Registrasi:
NO KEGIATAN WAKTU PELAKSANA
1. Finalisasi Standar Internal 1 – 9 Nop 2004 Pengurus Kelompok,
Organik dan Kontrak Internal Inspektur
dan Koordinator ICS
2. Finalisasi Format 1 – 9 Nop 2004 Pengurus Kelompok,
Registrasi, Pembuatan Internal Inspektur
Peta dan Koordinator ICS
3. Sosialisasi Standar 11 & 26 Nop 2004 Pengurus Kelompok
Internal, Kontrak dan dan Koordinator ICS
Registrasi
4. Registrasi Petani dan Des 04 – Jan 05 Internal Inspektur
Finalisasi Peta dan Koordinator ICS
5. Pengolahan Data Pebruari 2005 Koordinator ICS
Registrasi

4.2. Inspeksi Internal


Kebijakan: Semua petani yang mendaftar sebagai peserta program
sertifikasi ............ organik harus bersedia diperiksa baik oleh Inspektur
Internal maupun Inspektur Eksternal (Staf LSO). Inspeksi/pemeriksaan
tidak terbatas di lahan petani, tetapi petani juga harus mengijinkan apabila
dilakukan pemeriksaan di gudang/rumah, pemeriksaan surat-
surat/dokumen.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan Inspeksi Internal:
1. Inspeksi dilakukan menggunakan Formulir Inspeksi Internal (Lampiran
5: Formulir Inspeksi Internal)
2. Inspeksi dilakukan terhadap semua petani dalam kelompok yang telah
terdaftar sebagai peserta program sertifikasi ............ organik.
Terhadap petani yang mempunyai potensi atau sudah melanggar
Aturan Internal perlu mendapatkan perhatian khusus dalam inspeksi.
3. Inspeksi dilakukan terhadap seluruh proses produksi dari ............
organik (pembibitan, penanaman, pemupukan, penyiangan,
pencegahan dan pemberantasan hama-penyakit, pemanenan,
pengangkutan, penyimpanan maupun proses pengolahan pasca-
panen).
4. Semua petani peserta program dan lahannya (100%) harus sudah di-
inspeksi sebelum musim panen. Dalam pelaksanaannya dapat
dilakukan secara bertahap.
5. Penentuan jadwal inspeksi yang tepat akan menentukan kualitas data
yang dihasilkan. Inspeksi internal sebaiknya dilakukan sesuai siklus
produksi dan saat/periode kritis dalam siklus produksi (misalnya:
sebelum musim hujan, saat penyiangan, saat ada serangan hama,
saat panen).

Prosedur Inspeksi Internal:


1. Tahap Persiapan:
a. Koordinator ICS mempersiapkan draft Panduan ICS, Prosedur
Inspeksi Internal dan Formulir Inspeksi Internal.
b. Koordinator ICS, Pengurus Kelompok dan Inspektur Internal
mendiskusikan draft Panduan ICS, Prosedur Inspeksi Internal dan
Formulir Inspeksi Internal.
c. Koordinator ICS melakukan sosialisasi atau pelatihan Panduan
ICS, Prosedur Inspeksi Internal dan Formulir Inspeksi Internal
kepada Inspektur Internal.
d. Koordinator ICS, Pengurus Kelompok dan Inspektur Internal
mendiskusikan dan merumuskan jadwal inspeksi formal (jadwal
diberitahukan kepada petani) maupun inspeksi non-formal
(dilakukan inspeksi mendadak tanpa pemberitahuan jadwal ke
petani).
e. Koordinator ICS menyerahkan data-data petani yang akan
dinspeksi, Inspektur Internal membuat ringkasan atau review
terhadap data-data petani dan menyiapkan perlengkapan inspeksi:
alat tulis-menulis, file data-data petani, kamera (jika perlu), peta,
sketsa lahan petani.

2. Tahap Pelaksanaan Inspeksi Internal


a. Inspektur Internal menemui petani sesuai jadwal inspeksi formal.
Inspektur memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan inspeksi.
b. Inspektur Internal melakukan check seluruh lahan milik petani yang
ada ............ (lahan organik):
i. Pembibitan: Apakah media pembibitan pakai kimia atau
tidak? Apakah bibit yang ditanam organik atau non-organik
dan berasal dari mana?
ii. Penanaman: Apakah penyiapan lahan dengan sistem
manual atau kimiawi (menggunakan herbisida)? Apakah
lubang tanam/lubang tugal diberi pupuk buatan atau pupuk
alami? Apakah biji yang akan ditanam diberi obat kimia
pencegah hama-penyakit?
iii. Pemupukan: Apakah pupuk yang digunakan pupuk kimiawi
atau pupuk alami (pupuk kandang, kompos)?
iv. Penyiangan: Apakah penyiangan dilakukan secara manual
(menggunakan sabit/cangkul) atau secara kimiawi
(menggunakan herbisida round-up/polaris dsb.)? Apakah
lahan terbebas dari sampah-sampah non-organik?
v. Pencegahan dan Pemberantasan Hama-Penyakit: Apakah
menggunakan bahan-bahan kimia atau secara alamiah?
c. Inspektur Internal juga check lahan petani yang tidak ditanami
............ maupun lahan non-organik (jika ada) sama seperti Poin b.
d. Inspektur Internal juga harus check gudang milik petani untuk
mengetahui: Apakah ada disimpan bahan-bahan non-organik?
Apakah penyimpanan sarana produksi dicampur antara organik
dan non-organik?
e. Inspektur Internal juga harus check hasil panen: Apakah
penyimpanan hasil juga terpisah atau terbebas dari pencemaran
bahan-bahan kimia? Apakah penyimpanan terpisah dari ............
non-organik? Apakah hasilnya sesuai dengan perkiraan produksi?
Jika lebih harus ditanyakan darimana kelebihannya, jika kurang
ditanyakan kemana kekurangannya?
f. Inspektur Internal juga harus melihat tempat
pengolahan/pemrosesan: Apakah alat-alat untuk pemrosesan juga
digunakan untuk ............ non-organik? Apakah tempat
penjemuran bercampur dengan ............ non-organik? Apakah
karung yang digunakan untuk penyimpanan tidak tercemar bahan
non-organik?
g. Inspektur Internal juga harus melihat tempat peternakan milik
petani (apabila petani memelihara ternak): Apakah makanan ternak
dicampur dengan bahan-bahan kimia? Apakah petani memelihara
ayam broiler/ ayam pedaging?
h. Setelah semua lokasi (kebun, gudang/tempat penyimpanan, tempat
pemrosesan, peternakan) diinspeksi, Inspektur Internal baru
mengisi Formulir Inspeksi Internal di rumah petani sehingga ada
kesempatan untuk bertanya kepada petani.
i. Setelah Formulir Inspeksi Internal diisi, baca kembali atau minta
petani untuk membacanya.
j. Jika ada yang belum sesuai diperbaiki, apabila data-data sudah
benar dan ada pelanggaran yang dilakukan petani maka Inspektur
Internal berkewajiban mendiskusikan masalah itu dengan petani
sesuai aturan internal dan kontrak.
k. Apabila di dalam aturan internal dan kontrak sudah jelas sangsi
bagi pelanggarannya, maka pelanggaran dan sangsinya dicatat
dalam Formulir Inspeksi. Apabila sangsi belum ada dalam aturan
internal maupun kontrak, maka sangsi dibicarakan di Unit ICS
antara Inspektur Internal.
l. Inspektur Internal meminta kesediaan petani untuk
menandatangani Formulir Inspeksi Internal yang sudah diisi
dengan lengkap (data dan catatan tentang pelanggaran dan
sangsi). Inspektur Internal juga harus membubuhkan tanda tangan,
disarankan minta petani lain ikut tanda-tangan sebagai saksi.

3. Tahap Pengolahan Data/Dokumentasi


a. Inspektur Internal membuat daftar petani yang telah diinspeksi
disertai komentar ringkas dan rekomendasi tentang petani tersebut.
b. Inspektur Internal menyerahkan/membawa formulir, komentar
ringkas dan rekomendasi berdasarkan hasil inspeksi ke Rapat
Panitia Pengambilan Keputusan.
c. Panitia Pengambilan Keputusan melakukan rapat untuk
menetapkan: petani-petani yang diusulkan untuk menerima
sertifikat organik tanpa syarat, dengan syarat dan petani yang
harus melakukan perbaikan atau menerima sangsi.
d. Hasil keputusan tersebut dituangkan menjadi: Daftar Petani yang
Diterima dan Daftar Petani yang Memperoleh Sangsi (lampiran 6:
Daftar Petani yang Diterima dan Daftar Petani yang
Memperoleh Sangsi).
e. Daftar tersebut dikirim ke LSO untuk memperoleh keputusan akhir,
petani yang berhak memperoleh sertifikat organik dan petani yang
tidak berhak memperoleh sertifikat organik di tahun 2005.
Jadwal Inspeksi Internal

NO KEGIATAN WAKTU PELAKSANA


1. Finalisasi Prosedur dan …………………… Koordinator ICS
Format Inspeksi Internal
2. Pelatihan Inspektur …………………… Pengurus Kelompok,
Internal Inspektur Internal
dan Koordinator ICS
3. Panyusunan Jadwal …………………… Pengurus Kelompok,
Inspeksi Internal Inspektur Internal
dan Koordinator ICS
4. Try-out Inspeksi Internal …………………… Internal Inspektur
dan Koordinator ICS
5. Inspeksi Internal (50%) …………………… Internal Inspektur
6. Inspeksi Internal Lanjutan …………………… Internal Inspektur
(50%)
7. Pengolahan Data dan …………………… Pengurus Kelompok,
Rapat Pengambilan Inspektur Internal
Keputusan dan Koordinator ICS

4.3. Perkiraan Hasil


Kebijakan: Data perkiraan hasil ............ organik bagi setiap petani harus
tersedia sebelum musim panen. Perkiraan hasil yang tepat sangat penting
terutama pada saat pembelian, jumlah gelondong ............ yang
dijual/disetorkan oleh petani dapat dibandingkan dengan data perkiraan
hasil dari petani yang bersangkutan. Jika data perkiraan hasil tersedia dan
tepat, maka petugas pembelian dapat mendeteksi jika petani berusaha
menjual gelondong ............ yang tidak berasal dari lahan ............ organik
milik sendiri.
Untuk memperoleh data perkiraan hasil yang tepat bukan perkara mudah
karena dipengaruhi oleh banyak faktor (terutama oleh kondisi musim). Oleh
karena itu, untuk memperoleh data perkiraan hasil yang tepat perlu
dilakukan:
1. Catat hasil panen ............ di masing-masing lahan petani pada tahun
sebelumnya (tahun 2004)
2. Catat hasil maksimal dan minimal per tahun di masing-masing lahan
petani, jika perlu didasarkan pada umur dan jarak tanam.
3. Amati kondisi tanaman dan kondisi musim untuk memperkirakan
apakah hasilnya akan lebih baik/lebih tinggi atau lebih buruk/lebih
rendah dari tahun sebelumnya.
4. Berdasarkan data-data tersebut petani bisa melakukan perkiraan
produksi tahun 2005.
5. Petugas ICS juga harus melakukan perkiraan produksi tahun 2005
untuk check apakah perkiraan yang dilakukan petani sudah
tepat/realistis atau belum. Jika belum perlu dilakukan perbaikan
dengan persetujuan/diketahui oleh petani yang bersangkutan.
Hasil panen ............ di tahun 2004 dari masing-masing petani dicatat pada
saat melakukan registrasi petani. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun
sebelumnya, hasil panen ............ di Desa ............ Kec. ……….. Kab.
............ rata-rata …. kg / pohon.

4.4. Prosedur Pengambilan Keputusan Internal


Prosedur Pengambilan Keputusan
1. Data-data hasil inspeksi internal beserta saran/rekomendasi dari
Inspektur Internal diserahkan kepada Panitia Pengambilan Keputusan.
2. Panitia membandingkan data-data hasil inspeksi internal dengan data-
data registrasi petani dan data-data hasil inspeksi internal sebelumnya.
Jika ada perubahan ataupun ketidaksesuaian harus diperbaiki terlebih
dahulu sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan.
3. Dalam pengambilan keputusan juga didasarkan pada kondisi-kondisi,
sangsi-sangsi dan rekomendasi dari Inspektur Internal yang telah
tercatat dalam Formulir Inspeksi Internal.
4. Panitia membuat keputusan-keputusan yang meliputi:
a. Memberikan persetujuan pada petani untuk menerima sertifikat
............ organik tanpa syarat bagi petani-petani yang telah
menjalankan standar internal organik dan memenuhi ketentuan-
ketentuan dalam kontrak.
b. Memberikan persetujuan pada petani untuk menerima sertifikat
............ organik ataupun organik dalam konversi dengan syarat
petani melakukan tindakan perbaikan-perbaikan tertentu bagi
petani-petani yang melanggar standar internal organik tetapi tidak
membahayakan sertifikasi.
c. Memberikan sangsi-sangsi yang keras termasuk mengeluarkan
petani sebagai peserta program sertifikasi organik bagi petani-
petani yang melanggar standar internal organik dan membahayakan
sertifikasi organik.
5. Keputusan-keputusan internal panitia dicatat dan direkapitulasi ke
dalam: daftar petani yang berhak mendapatkan status organik, daftar
petani yang berhak mendapat status organik dalam konversi dan daftar
petani yang mendapatkan sangsi-sangsi.
6. Daftar-daftar tersebut ditandatangani panitia dan dikirim ke LSO.

4.5. Tidak Memenuhi Persyaratan dan Sanksi


Penanganan Kasus
Untuk kasus-kasus pelanggaran terhadap standar internal organik tidak
semua bisa serta–merta diberikan sanksi, ada kasus-kasus yang
memerlukan pengkajian lebih cermat dan teliti sebelum memberikan sanksi
bahkan mungkin tanpa harus ada sanksi. Berikut adalah contoh kasus-
kasus dan cara-cara penanganannya:

NO KASUS CARA PENANGANAN


1 Erosi Tidak harus dengan sanksi tetapi
diberi peringatan untuk memperbaiki
manajemen tanah.
2 Menggunakan pupuk kimia Menjalani konversi 3 tahun, hasil
panen ditolak
3 Menyimpan pestisida kimia di Diberi sanksi tetapi harus diteliti lebih
gudang lanjut:
 Check tanggal produksi
 Check data registrasi awal
 Check apa hanya digunakan
untuk tanaman lain bukan untuk
..........
4 Menggunakan herbisida Menjalani konversi 3 tahun, hasil
panen ditolak
5 Pencampuran organik dan Seluruh hasil dianggap non-organik
non-organik
6 Penyimpanan/karung yang Bisa di-check dengan data panen,
tidak jelas organik atau non- seluruh hasil dianggap non-organik.
organik

Tipe-Tipe Sangsi
SANGSI SITUASI
Memenuhi syarat-syarat yang harus Petani menyimpan bahan-bahan
dipenuhi petani kimia
Denda dari ICS Petani tidak pernah datang ke
pertemuan
Ditunda sementara/skorsing Petani melanggar standar internal
organik tapi tidak membahayakan
sertifikasi (misal menjual ............ ke
pembeli lain)
Masa konversi 3 tahun Pencemaran (misal petani
menggunakan pestisida, pupuk kimia
dan herbisida)
Mengeluarkan petani dari kelompok Petani menjual ............ non-organik
tani milik petani bukan peserta program

4.6. Dokumentasi ICS


Dokumen yang harus ada di petani:
1. Kontrak: komitmen tertulis dari petani dan kelompok tani yang bersedia
untuk memenuhi standar internal organik.
2. Buku Harian Petani: apabila petani bisa baca tulis bisa mencatat sendiri
data-data yang penting dalam buku harian (Kapan dilakukan
penanaman dan darimana asal bibitnya? Kapan dilakukan penyiangan
dengan cara manual atau kimiawi? Kapan melakukan pemupukan
dengan menggunakan pupuk apa? Kapan panen dan berapa hasilnya?)
3. Buku Setoran Hasil dan Pembayaran: buku untuk mencatat hasil panen
yang telah disetor ke UPH/Tempat Pembelian dan mencatat
pembayaran hasil.

Dokumen yang harus ada di Pengelola ICS:


1. Kontrak: komitmen tertulis dari petani dan kelompok tani yang bersedia
untuk memenuhi standar internal organik.
2. Peta: peta umum (lokasi kebun peserta organik, pembagian blok); peta
blok (lokasi kebun peserta organik, lokasi organik dan non-organik);
skesa kebun peserta organik.
3. Data Dasar Petani: data-data hasil registrasi petani yang meliputi
kepemilikan lahan, lahan organik & non-organik, kepemilikan ternak,
terakhir penggunaan bahan kimia.
4. Buku Harian ICS:
a. Catatan Internal Inspektur tentang tindakan-tindakan perbaikan dan
sangsi bagi petani.
b. Catatan Petugas Lapang tentang kunjungan lapang, kasus-kasus
yang ditemui serta saran-saran yang diberikan kepada petani.
c. Catatan dari Eksternal Inspektur tentang rincian sangsi yang
diberikan kepada petani.
5. Organisasi dan Staf ICS
5.1. Bagan Organisasi
POSISI NAMA TUGAS DAN TANGGUNG
JAWAB
Proyek …………………………  Melakukan supervisi terhadap
Manager / ICS secara keseluruhan
Koordinator  Mengalokasikan sumberdaya
ICS dan staf yang memadai untuk
menjalankan ICS
 Menjalin kerjasama dengan
semua pihak untuk kelancaran
ICS.
 Menyusun ICS Manual.
 Menjalin komunikasi dengan
LSO
Wakil …………………………  Melakukan supervisi terhadap
Koordinator Staf Lapang (Internal
ICS/ Inspektur dan Petugas
Supervisor Lapang)
 Mensosialisasikan ICS Manual
dan mengkoordinasi
penerapan Kontrol Internal.
 Mengorganisir dan
mendampingi pelaksanaan
inspeksi eksternal dari LSO
Staf Lapang Dusun I: ………………..  Melakukan registrasi petani
dan meminta kontrak petani.
(Internal  …………….................
Inspektur)  Melakukan inspeksi internal
 …………….................
sesuai dengan pembagian
Dusun II: ……………… wilayah kerja.
 ………………............  Menginformasikan kepada
Dusun III: …………….. petani tentang standar
internal organik
 ……………...............
Dusun IV: ……………..
 ………………………………
Staf Lapang ………………  Memberikan pelatihan dan
(Penyuluh penyuluhan tentang
pertanian organik
Teknis)
 Menyusun peta umum dan
peta lokasi lahan organik
dan non-organik
Administrasi ………………  Mengelola file-file di dalam
ICS
………………
 Melakukan pengolahan data
dan mengirimkannya ke
LSO
Staf ………………  Menjaga agar hanya
Pembelian ............ organik yang dibeli.
 Menjaga agar gudang
terbebas dan terhindar dari
pencemaran
 Menandatangani kuitansi
penerimaan produk.
Pengawas ………………  Menjaga agar hanya
Pemrosesan ............ organik yang dibeli
dan diolah
 Menjaga agar proses
pengolahan ............
terhindar dari pencemaran.
 Menjaga agar produk yang
telah diolah disimpan
dengan baik dan terhindar
dari pencemaran
5.2. Koordinator ICS
Tugas Koordinator ICS
1. Melakukan koordinasi pelaksanaan/penerapan ICS (Internal Control
System/ Sistem Kontrol Internal).
2. Mengorganisir pelaksanaan registrasi dan inspeksi internal (Siapa
yang akan melakukan registrasi, inspeksi internal dan kapan akan
dilakukan?, mempersiapkan sarana agar petugas registrasi dan
inspeksi bisa menjalankan tugas dengan baik, memastikan bahwa
setiap petani telah diregistrasi dan diinspeksi).
3. Melakukan koordinasi di antara staf lapang (Internal Inspektur,
Penyuluh Lapang) dan staf-staf lain seperti: Staf Administrasi, Staf
Pembelian dan Staf Pemrosesan.
4. Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan Inspeksi Eksternal dengan
LSO, berperan sebagai kontak person bagi lembaga sertifikasi.

5.3. Inspektur Internal


Syarat Inspektur Internal:
1. Lancar berbahasa lokal dan memahami istilah-istilah yang digunakan
petani.
2. Bisa baca-tulis
3. Mengenal pola pertanian dan teknis budidaya ............ di wilayah
kerjanya
4. Memahami prinsip-prinsip pertanian organik, prosedur-prosedur dalam
sistem kontrol internal (ICS Procedures) dan memahami standar
internal organik dan kontrak petani.
5. Tidak mempunyai konflik kepentingan yang bisa mempengaruhi
tugasnya.

Tugas Inspektur Internal:


1. Membuat peta umum, peta lokasi lahan petani organik dan sketsa
lahan petani.
2. Melakukan pendaftaran/registrasi petani.
3. Melaksanakan inspeksi internal minimal 1 kali dalam setahun dan
melakukan dokumentasi terhadap hasil inspeksi dalam Formulir
Inspeksi Internal.
4. Melakukan kunjungan secara rutin ke tempat-tempat
pooling/pembelian selama musim panen untuk memastikan prosedur
pembelian dijalankan sesuai standar internal organik.
5.4. Pembuat Keputusan Organik
Syarat Anggota Panitia Pengambil Keputusan:
1. Orang yang memahami prinsip-prinsip pertanian organik.
2. Orang yang memahami standar internal organik.
3. Orang yang dihormati dan disegani oleh petani dan pengurus
kelompok.
4. Orang yang tidak mempunyai konflik kepentingan (bersedia membuat
dan menandatangani Pernyataan tentang Konflik Kepentingan).
Tugas Panitia Pengambil Keputusan:
1. Melakukan perbaikan yang diperlukan terhadap data-data hasil
inspeksi internal.
2. Melakukan seleksi terhadap data-data atau laporan yang perlu
didiskusikan lebih lanjut oleh Panitia.
3. Melakukan pertemuan minimal 1 kali dalam setahun pada waktu
setelah inspeksi internal dilakukan dan sebelum dimulai pembelian.
4. Mengambil keputusan organik sesuai Prosedur Pengambilan
Keputusan Organik (lihat 4.4) dalam pertemuan tersebut.
5. Melakukan dokumentasi terhadap semua keputusan tentang petani
yang memperoleh persetujuan maupun petani yang memperoleh
sangsi.
6. Menandatangani hasil keputusan untuk diajukan/dikirim ke lembaga
sertifikasi ( LSO).

Anggota Panitia Pengambilan Keputusan Organik Kelompok ……… Desa


............ Kec. …………. Kab. ............ terdiri dari:
1. Koordinator ICS: ………..
2. Kepala Desa ............ : ……………
3. Ketua Kelompok ………………: ………………
4. Petugas Penyuluh Lapangan: ………………

5.5. Petugas Penyuluh Lapang


Syarat Petugas Penyuluh Lapang:
1. Orang yang memahami prinsip-prinsip pertanian organik.
2. Orang yang memahami teknis budidaya ............ .
3. Orang yang memahami teknis penanganan pasca-panen komoditi
............
Tugas Petugas Penyuluh Lapang:
1. Melakukan kunjungan secara teratur kepada petani untuk memberikan
saran-saran guna peningkatan produksi dan kualitas produk serta
memberikan bantuan jika ada permasalahan dalam produksi.
2. Melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada petani dalam rangka
pertanian organik, peningkatan produksi dan kualitas produk.
3. Mengkoordinasi dan melakukan pembuatan peta umum dan peta
lokasi lahan organik dan non-organik.
4. Mengkoordinasi pembelian input-input pertanian yang diijinkan untuk
pertanian organik.
5. Membantu petani melakukan pendataan untuk keperluan pengisian
Buku Harian Petani.

5.6. Pertentangan Kepentingan


Kebijakan: Petugas-petugas dalam ICS (terutama Koordinator ICS,
Anggota Panitia Pengambil Keputusan, Internal Inspektur dan Petugas
Pembelian) tidak boleh mempunyai konflik kepentingan agar dapat
menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik (netral dan obyektif).
Untuk itu, mereka harus menandatangani Surat Pernyataan Konflik
Kepentingan (Lampiran 7: Surat Pernyataan Konflik Kepentingan dan
Rahasia Tugas).
Koordinator ICS bertanggung jawab menjaga agar tidak terjadi konflik
kepentingan dengan cara tidak menugaskan staf yang mempunyai konflik
kepentingan dalam aktivitas tertentu. Inspektur Internal tidak boleh
melakukan inspeksi terhadap lahan milik sendiri, lahan tetangga (lahan
yang berdekatan dengan lahan miliknya), lahan teman dan lahan milik
keluarganya. Inspektur Internal tidak boleh merangkap sebagai petugas
pembelian untuk menjaga obyektifitas dalam inspeksi jika dibayar oleh
pembeli berdasarkan jumlah yang berhasil dia setorkan ke pihak pembeli.

6. Pelatihan
6.1. Pelatihan Staf ICS
Kebijakan: Inspektur Internal adalah Staf ICS yang harus menerima
pelatihan sekali setahun. Adapun Staf ICS lain tidak harus menerima
pelatihan tiap tahun tetapi harus memperoleh pelatihan sesuai dengan
tugas-tugasnya dalam ICS.
Pelatihan Staf ICS:
1. Pelatihan tentang Sertifikasi Organik bagi Koordinator ICS dan Internal
Inspektur.
2. Pelatihan tentang Manual ICS bagi Staf ICS (Internal Inspektur,
Petugas Lapang dan Panitia Pengambil Keputusan Organik).
3. Pelatihan tentang Prosedur Registrasi dan Internal Inspeksi bagi
Internal Inspektur.
4. Pelatihan tentang Prosedur Pembelian dan Penjual bagi Petugas
Pembelian-Penjualan.
5. Pelatihan tentang Prosedur Pengolahan Pasca-Panen bagi Petugas
Pengolahan, Petugas Penyimpanan.
Pelatihan-pelatihan itu harus disertai praktek langsung dengan
pendampingan oleh Fasilitator dari ICS Provider (CCC). Jika ada
perubahan-perubahan dalam prosedur, standar, format maka Staf ICS akan
dilatih/minimal diberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang
terjadi.

6.2. Pelatihan Petani ( Bila di perlukan)


Kebijakan: Dalam program sertifikasi organik tidak sekedar memperoleh
sertifikat dan ............ organik. Akan tetapi yang lebih penting adalah
“memperoleh” petani organik, artinya program harus mampu meningkatkan
kesadaran petani akan arti penting pertanian organik dan petani bersedia
menerapkan pertanian organik dengan motivasi menjaga kelestarian
lingkungan, menjaga kesehatan diri dan kesehatan lingkungannya. Untuk
itu perlu dilakukan pelatihan-pelatihan yang berkelanjutan bagi petani
tentang bagaimana melakukan pertanian organik yang baik dan bukan
hanya pertanian tanpa bahan-bahan kimia.

Pelatihan Petani Organik:


1. Pelatihan/Penyuluhan tentang Prinsip-Prinsip dan Metode Pertanian
Organik.
2. Pelatihan/Penyuluhan tentang Penanggulangan Hama-Penyakit
............ Organik.
3. Pelatihan/Penyuluhan tentang Pemupukan ............ Organik.
4. Pelatihan/Penyuluhan tentang Penanggulangan Resiko dalam
Pertanian ............ Organik.
5. Pelatihan/Penyuluhan tentang Penanganan Pasca-Panen ............
Organik.
Pelatihan-pelatihan baik untuk Staf ICS maupun Petani Organik dilakukan secara
terus-menerus sesuai perkembangan yang terjadi (on-going training).

7. Pembelian, Penanganan, Pengolahan, Ekspor


7.1. Prosedur Pembelian
Pembelian gelondongan ............ organik dari anggota kelompok/peserta
program organik ole pengurus kelompok puna Liput/pengurus ICS bagian
pembelian yang ditempatkan dimasing-masing dusun.
Dalam proses pembelian gelondongan ............ organik dari petani peserta
program, belum melalui proses sortasi. Sortasi dilakukan ditingkat pengurus
kelompok / ICS.
Waktu pembalian ditetapkan: hari selasa dan jumat setiap minggu selama
musim panen.
Penanganan dan pengawasan hasil pembelian dimasing-masing dusun
merupakan tanggung jawab pengurus kelompok /ICS di dusun masing-
masing.
Hal-hal yang perlu di perhatikan oleh staff pembelian dimasing-masing
dusun:
a. Pembelian gelondongan ............ organik hanya berlaku bagi produk
yang berasal dari anggota peserta program organik, dengan
memperhatikan perkiraan hasil dari masing-masing anggota peserta
program.
b. Mencatat hasil penimbangan/pembelian dikartu anggota dan formulir
pembelian yang dipegang oleh ICS bagian pembalian di masing-masing
dusun.
c. Pembayaran sesai dengan harga yang telah disepakati, dan kepada
anggota diberikan kuitansi tanda terima.
7.2. Prosedur Penyimpanan
Yang diperhatikan oleh staff ICS bagian pembelian di masing-masing
dusun adalah, wadah (karung) dan gudang, penyimpanan wadah harus
bebas dari Bahan kimia, dan keadaan gedung pun harus memnuhi syarat
organik. Dalam pengepakan di karung diberi label

............ Organik ............


Kelompok Tani: Puna Liput - ............ - Tanjung Bunga
Jumlah: . . . . . . . . . . . . . . Kg
Tanggal Beli: . . . . . .. . . .
7.3. Pengolahan ............ Organik di Kelompok………..
Produk ............ organik kelompok tani Puna Liput di kelola dalam 2 bentuk
yakni:
1. ............ Gelondongan
Produk ............ gelondongan yang sudah dibeli oleh pengurus
kelompok/ICS dijemur 1hari tanpa disortir, dikarungkan dan ditimbang
dengan pemberian label, kemudian disimpan pada gedung di dusun
amsing-masing sambil menunggu jadwal penjualan ke CCC Ende.
2. Kacang ............ Berkulit Ari
Gelondong ............ organik yang dibeli dari peserta program organik
dijemur dan disortir oleh pengurus kelompok kemidian dilakukan
pengacipan terpusat pada sub kelompok yang ada di dusun masing-
masing yang dikoordinir atau diawasi ole staaf ICS bagian pemrosesan.
Kacang ............ berkulit ari ditimbang dan dikemas dalam kemasan
(dos karton bebas bahan kimia) di beri label:
Kacang ............ organik ............
Produk ½ jadi
Produksi: Kelompok usaha bersama agribisnis ………………Desa
............ – ………………
Berat: . . . . . . . . .Kg
Tanggal Pembelian: . . . . . . . . .
Kacang ............ berkulit ari siap dijual ke CCC Ende.

7.4. Penjualan ............ Organik ke ………..


Dalam kesepakatan kelompok bahwa 2 bentu produk ............ organik
yaitu: ............ gelondongan dan kacang ............ berkulit ari di jual ke
CCC Ende. Untuk itu perlu dibuat dengan menandatangani surat kontrak
kerjasama antara CCC dengan pengurus kelompok Tani Puna Liput,
tentang segala sesuatu berkaitan dengan penjualan ............ organik,
termasuk biaya transportasi, harga dan lain-lain.
Rantai pemasaran yang diharapkan dari kelompok adalah:
PRODUSEN PENGUMPUL EKSPORTIR
Anggota Kelompok CCC Ende
Kelompok/Peserta Tani/Pengurus
Program Organic ICS
PMA Jakarta

7.5. Petugas Pembelian dan Pengolahan Pascapanen


a. Petugas Pembelian Gelondongan ............ Organik Sebanyak 8
Orang
Dibagi pada masing-masing dusun yaitu 2 orang.
Tugas adalah:
 Menimbang Produk ............ organik dari anggota peserta program.
 Menyiapkan kartu dan formulir pembelian.
 Mengecek identitas penjual dan perkiraan produksi 2005
 Membayar ............ sesuai harga yang telah ditetapkan.
 Mengontrol dan mengawasi mutu di tempat penyimpanan ............
sebelum dijual ke CCC Ende.
b. Petugas Pengolahan.
Pengolahan kacang ............ berkulit ari akan dilaksanakan secara
terpusat oleh anggota kelompok pengolah kacang ............ pada sub
kelompok masing-masing yang diatur oleh pengurus masing-masing
sub kelompok pengolah kacang ............ yang dikoordinir dan
diawasi oleh satu orang staff ICS bagian pemrosesan.
Tugas anggota Pengelola :
 Menjemur dan disortir ............ .
 Melakukan proses pengacipan terpusat.
Tugas Pengurus kelompok pengolah:
 Mengawasi semua peroses pengolahan kacang ............ sampai
proses penjualan ke CCC Ende.
 Mengatur pembagian tugas kepada anggota.
 Menimbang dan mengemas produk kacang ............ .
 Mencatat semua produk hasil penimbangan dan penjualan.
 Membayar harga produk ............ kepada anggota.
8. Inspeksi Eksternal dan Pembuatan Sertifikat ............ Organik

Prosedur Inspeksi Eksternal diserahkan sepenuhnya kepada LSO.


LAMPIRAN 9

FORMULIR PENDAFTARAN PETANI

45
Lampiran 9
FORMULIR PENDAFTARAN PETANI
I. IDENTITAS PETANI

Nama Petani : Nama Petugas Pendaftar :


Alamat : Tanggal Pendaftaran :
Tempat Penjualan :

II. KONDISI LAHAN PETANI (Daftar semua lahan milik/dikelola petani, termasuk yang tidak ada tanaman organik)

LUAS PEMAKAIAN KIMIA LOKASI


NAMA TANAMAN TGL PRODUKSI THN PERKIRAAN STATUS LAHAN (kemiringan, STATUS
N0 (H) TERAKHIR (dalam/ luar
BLOK UTAMA TANAM SBLMNYA PRODUKSI (Sendiri/ Sewa) konservasi, dll) SERTIFIKASI (O/K/Kon)
(Tgl, Bln, Thn) kampung)

Total
Keterangan: O= Organik, K=Konversi, Kon=Konvensional

II. KONDISI TERNAK

PENGELOLAAN TERNAK
JENIS TERNAK JUMLAH (kandang, jenis makanan, penanggulangan penyakit

Total

45
IV. CATATAN PETUGAS (jika ada)
PERNYATAAN
Saya, petani, menyatakan bahwa informasi ini adalah benar dan bahwa saya memahami kondisi untuk produksi organik. Saya juga
mendapatkan salinan/copy dari kontrak petani organik.
Tanggal :
Tempat :
Tanda tangan :

Nama Petani :

Saya, petugas pendaftar, menyatakan bahwa informasi ini adalah benar.

Petugas Pendaftaran

(..........................................................)

46
LAMPIRAN 10
CONTOH FORMULIR

CHECK LIST INSPEKSI INTERNAL PADA


PENERAPAN SISTEM PERTANIAN
ORGANIK
CONTOH FORMULIR CHECK LIST INSPEKSI INTERNAL PADA PENERAPAN SISTEM PERTANIAN ORGANIK

Kriteria Evaluasi Cara mengisi formulir


Kriteria kritis!! Ketidak patuhan bisa menyebabkan Tandai dengan X jika YA 
gagalnya sertifikasi / adanya sanksi – perlu penjelasan
!!
luntuk tanda (!!) Jika kotak bersama ………… ditandai , …………. harus diisi:
…….. misalnya - Bp H. Ajat Sudrajat
√ Sudah sesuai
∕ Diterima dengan syarat – komentar dan syarat dibutuhkan Coret yang tidak dipakai:
*
Х Tidak terpenuhi – komentar dan syarat dibutuhkan misalnya - MT: 1 /2 /3*
+ Kinerja bagus
- Kinerja lemah Komentar tambahan (lebih lengkap lebih bagus)

A. DETAIL INSPEKSI

Identitas
Nama Petani Kelompok Tani Desa, kecamatan Kode petani Tanggal Registrasi
Bp. ………
Ibu
Internal inspector Tanggal Inspeksi Standard untuk sertifikasi ICS Orang yang hadir dalam inspeksi
Bp. ……… NOP EU Reg Petani
Ibu JAS Fair Trade FFL Buruh sewa: ……………………..
SNI Lainnya: …………………….. Lainnya: ……………………..

Lahan dan Produksi


1.LAHAN DIINSPEKSI

Luas Area
Kode lahan Lokasi sawah Tgl terakhir gunakan kimia Kepemilikan Status terakhir Sumber air
(Ha)
milik sendiri sertifikasi: NOP/EU/JAS/SNI/FFL* irigasi
garap konversi sertifikasi: 0 / 1 / 2 * tadah hujan
lainnya: organik tanpa sertifikasi lainnya:
……………… konvensional ……………..
Panen sebelumnya Panen sekarang Panen selanjutnya Keterangan
MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3*
Periode: …………….. s/d ……………….. Periode: ……………… s/d………………. Periode: ……………… s/d………………
Tanaman, varietas Kwantita Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg)
s (kg)

2. LAHAN LAIN YANG DIOLAH PETANI (DIDAFTAR DI ICS ATAU TIDAK, DAN ORGANIK ATAU TIDAK)

Lokasi
Luas Area Tgl terakhir gunakan kimia Kepemilikan Status terakhir Sumber air
Didaftar sawah
Kode lahan
di ICS (Ha)

milik sendiri sertifikasi: NOP/EU/JAS/SNI/FFL* irigasi


ya: garap konversi sertifikasi: 0 / 1 / 2 * tadah hujan
tidak lainnya: organik tanpa sertifikasi lainnya:
……………….. konvensional …………………
Panen sebelumnya Panen sekarang Panen selanjutnya
MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* Keterangan
Periode: ………………… s/d……………… Periode: ……………….. s/d…………………. Periode: ………………. s/d ………………
Kwantitas Tanaman, Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg)
Tanaman, varietas
(kg) varietas
Kode Didaftar Luas Area Kepemilikan Status terakhir Sumber air
Lokasi sawah Tgl terakhir gunakan kimia
lahan di ICS (Ha)
milik sendiri sertifikasi: NOP/EU/JAS/SNI/FFL* irigasi
ya: garap konversi sertifikasi: 0 / 1 / 2 * tadah hujan
tidak lainnya: organik tanpa sertifikasi lainnya:
………………… konvensional ………………..
Panen sebelumnya Panen sekarang Panen selanjutnya Keterangan
MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3*
Periode: ………………… s/d ………………. Periode: …………………. s/d………………. Periode: ………………. s/d………………
Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg)

(JIKA MASIH ADA LAHAN LAIN, TOLONG DICATAT DI LAMPIRAN FORMULIR UNTIK LAHAN TAMBAHAN )
B. SISTEM PRODUKSI (UNTUK LAHAN YANG DIINSPEKSI SAJA)

Pemupukan lahan organik


1. INPUT INTERNAL (BUATAN SENDIRI)
Bahan Kwantitas (kg) Asal Berapa hari pengkomposan
1 BULAN
Pupuk kandang KOHE DOMBA
Jumlah penggunaan tiap musim tanam
MT1: 5000 kg
Bahan Kwantitas (kg) Asal Berapa hari pengkomposan MT2: ………. kg
KEBON MT3: ………. kg
Pupuk hijau

2. INPUT EXTERNAL (PRODUK JADI )


Nama produk Perusahaan/ spesifikasi Diijinkan ICS Jumlah penggunaan tiap musim tanam
ya MT1: ……….. kg/ltr*
tidak MT2: ……….. kg/ltr*
MT3: ……….. kg/ltr*
Pengendalian Hama lahan organik
1. INPUT INTERNAL (DIBUAT SENDIRI)

Nama Bahan Kwantitas Asal Cara: Dijinkan ICS Penggunaan per musim
ya MT1: ………. kg/ltr*
tidak MT2: ………. kg/ltr*
MT3: ……….kg/ltr**
Nama Bahan kwantitas Asal Cara: Dijinkan ICS Penggunaan per musim
ya MT1: ………. kg/ltr*
tidak MT2: ………. kg/ltr*
MT3: ………. kg/ltr*
2. INPUT EXTERNAL (PRODUK JADI)
Nama produk/alat Perusahaan / spesifikasi Dijinkan ICS Penggunaan per musim
ya MT1: ……… kg/ltr*
tidak MT2: ……… kg/ltr*
MT3: ……… kg/ltr*
Input Lain lahan organik (misal: MOL)
1. INPUT INTERNAL (DIBUAT SENDIRI)

Nama Bahan kwantitas Asal Cara: Dijinkan ICS Penggunaan per musim
ya MT1: ……… kg/ltr*
tidak MT2: ……… kg/ltr*
MT3: ……… kg/ltr*

2. INPUT EXTERNAL (PRODUK JADI)


Nama Produk Perusahaan / spesifikasi Dijinkan ICS Penggunaan per musim
ya MT1: ……… kg/ltr*
tidak MT2: ……… kg/ltr*
MT3: ……… kg/ltr*

Bahan Tanam lahan sertifikasi organik


Tanaman, Tipe: Kwalitas Perlakuan Non-GMO Asal Kwantitas Penjelasan
varietas benih organik kimia ya tanam sendiri ICS MT1: ……… kg
tanaman konvensional tidak petani tersertifikasi MT2: ……… kg
ya: petani tdk sertifikasi MT3: ……… kg
………… pemerintah toko
Tanaman, Tipe: Kwalitas Perlakuan Non-GMO Asal Kwantitas Penjelasan
varietas benih organik kimia ya tanam sendiri ICS MT1: ……… kg
tanaman konvensional tidak petani tersertifikasi MT2: ……… kg
ya: petani tdk sertifikasi MT3: ……… kg
………… pemerintah toko
Tanaman, Tipe: Kwalitas Perlakuan Non-GMO Asal Kwantitas Penjelasan
varietas benih organik kimia ya tanam sendiri ICS MT1: ……… kg
tanaman konvensional tidak petani tersertifikasi MT2: ……… kg
ya: petani tdk sertifikasi MT3: ……… kg
………… pemerintah toko
Ekologi lahan
Ekologi lahan organik + OK  Penjelasan + OK - Penjelasan
organik
Pengendalian hama &
Rotasi tanaman
penyakit menyeluruh
Tumpang sari
Manajemen ternak

Manajemen sampah
Kesuburan tanah
organik
Manajemen sampah
Kendali erosi tanah
non organik
Keragaman di sekitar
Manajemen gulma
sawah
Kemurnian air (tdk ada
Produksi berkelanjutan
kontaminasi)
Penjelasan
tambahan
Titik Kontrol pengendalian kontaminasi √ ∕ Х Penjelasan
!! Ada pemisahan yang baik antara sawah organik dan non organik dari petani.
!! Tidak ada kontaminasi udara dari semprotan kimia lahan non organik lainnya.
!! Tidak ada kontaminasi air dari sawah non organic atau sudah diterapkan penyanga/ penyaring
khusus
!! Tidak ada bahan bahan yang dilarang yang disimpan di sawah.
!! Tanaman konvensional tidak ditanam di sawah organik (termasuk pada tumpang sari dan rotasi
tanaman)
!! Alat semprot hanya digunakan untuk perlakuan organik.
!! Tidak ada produksi sama (petani menanam beda varitas di lahan miliknya yang non organik).
!! Alat panen (mis: sabit, karung) tidak digunakan untuk non organik.
!! Penyimpanan tidak terkontaminasi dan dipisah dari produk non organik.
!! Tidak ada bahan tambahan pada pasca panen kecuali yang diperbolehkan oleh ICS
Penjelasan
tambahan
C. FAIR TRADE (PERDAGANGAN ADIL)

Kwalitas Sosial √ ∕ Х Penjelasan


Petani paham prinsip Fair Trade:
dasar HAM kondisi kerja yang baik
sertifikasi premium dana bersama fair trade (untuk proyek komunitas)
Tidak ada anak dibawah 16 tahun diijinkan bekerja
Tidak ada kerja paksa atau hukuman masal
Sewa dan pembayaran buruh tercatat )bisa dalam buku harian petani)
Pembayaran tepat waktu sesuai dengan harga pasar
Pembayaran tidak diskriminatif terhadap kelamin (laki2 dan perempuan harus dibayar sama jika
jam kerja dan produktivitas sama)
Penjelasan
tambahan

D. KINERJA ICS

Data dan Manajemen √ ∕ Х Penjelasan


Seluruh sawah petani sudah didaftar (termasuk yang tidak disertifikasi)
Seluruh dokumen ICS tersedia bagi petani:
Kontrak Catatan harian petani Nota pembelian/ kuitansi Peta lahan
Standar internal ICS Laporan inspeksi internal SOP Budidaya
Data konsisten di seluruh dokumen.
Petani memperhitungkan panen secara akurat (kecuali ada kondisi tak terduga spt ada hama)
Petani memahami standar internal
Petani sudah memperbaiki rekomendasi tahun sebelumnya
Penjelasan
tambahan
E. DEKLARASI INSPEKTOR

Tugas inspektor yg sdh dipenuhi: Evaluasi inspektor Status yang layak: Rekomendasi/penjelasan:
wawancara lebih dari sesuai NOP
kunjungan lapangan (melakukan tindakan EU Reg
pengecekan data ekstra yang patut JAS
pengecekan penyimpanan dan dicontoh) SNI
pananganan produk pasca panen sangat sesuai Fair Trade FFL
tindak lanjut rekomendasi sesuai, butuh peningkatan Lainnya:
tahun lalu tidak sesuai …………………..
sanksi:

…………………………….
Tanda tangan inspector, tempat, tanggal: Tanda tangan petani, tempat, tanggal:

F. KOMITE PERSETUJUAN ICS

Kriteria persetujuan ICS: √ ∕ Х Keputusan Final ICS: Status yang diberikan: Rekomendasi/penjelasan:
- data diisi dengan baik lebih dari sesuai NOP
- pupuk (melakukan tindakan ekstra EU Reg
- PHT yang patut dicontoh) JAS
- input lain SNI
- bahan tanam sesuai, sepenuhnya Fair Trade FFL
- ekologi umum sesuai, butuh peningkatan Lainnya:
- tdk ada pelanggaran di tidak sesuai ……………….
titik kontrol sanksi:
- fair trade
- kinerja ICS petani ……………………………
Tanda tangan komite Persetujuan, Tempat, Tanggal
FORMULIR UNTUK LAHAN TAMBAHAN
…Lahan dan Produksi

…2. LAHAN LAIN YANG DIOLAH SAMA PETANI (MAUPUN DIDAFTAR DI ICS ATAU TIDAK, DAN ORGANIK ATAU TIDAK)

Area Tgl terakhir


Kode lahan Didaftar di ICS Lokasi sawah Kepemilikan Status terakhir Sumber air
Patok Ha gunakan kimia
milik sendiri sertifikasi: NOP/EU/JAS/SNI/FFL*
irigasi
ya: garap konversi sertifikasi: 0 / 1 / 2 *
tadah hujan
tidak lainnya: organik tanpa sertifikasi
lainnya: ……………….
………………. konvensional
Panen sebelumnya Panen sekarang Panen selanjutnya Keterangan
MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3*
Periode: ………………… s/d ……………… Periode: ……………….. s/d ………………... Periode: ………………. s/d………………..
Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman,
Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg)
varietas

Didaftar Area Tgl terakhir


Kode lahan di ICS Lokasi sawah Kepemilikan Status terakhir Sumber air
Patok Ha gunakan kimia
milik sendiri sertifikasi: NOP/EU/JAS/SNI/FFL* irigasi
ya: garap konversi sertifikasi: 0 / 1 / 2 * tadah hujan
tidak lainnya: organik tanpa sertifikasi lainnya:
………………. konvensional ……………….
Panen sebelumnya Panen sekarang Panen selanjutnya Keterangan
MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3*
Periode: …………………. s/d ……………… Periode: ………………… s/d……………….. Periode: ……………… s/d……………….
Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg)
Didaftar Area Tgl terakhir
Kode lahan Lokasi sawah Kepemilikan Status terakhir Sumber air
di ICS Patok Ha gunakan kimia
milik sendiri sertifikasi: NOP/EU/JAS/SNI/FFL* irigasi
ya: garap konversi sertifikasi: 0 / 1 / 2 * tadah hujan
tidak lainnya: organik tanpa sertifikasi lainnya:
……………….. konvensional …………………
Panen sebelumnya Panen sekarang Panen selanjutnya Keterangan
MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3*
Periode: …………………. s/d ……………… Periode: ………………… s/d……………….. Periode: ……………… s/d……………….
Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg)

Didaftar Area Tgl terakhir


Kode lahan Lokasi sawah Kepemilikan Status terakhir Sumber air
di ICS Patok Ha gunakan kimia
milik sendiri sertifikasi: NOP/EU/JAS/SNI/FFL* irigasi
ya: garap konversi sertifikasi: 0 / 1 / 2 * tadah hujan
tidak lainnya: organik tanpa sertifikasi lainnya:
……………….. konvensional …………………
Panen sebelumnya Panen sekarang Panen selanjutnya Keterangan
MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3* MT: 1 / 2 / 3*
Periode: …………………. s/d ……………… Periode: ………………… s/d……………….. Periode: ……………… s/d……………….
Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg) Tanaman, varietas Kwantitas (kg)
LAMPIRAN 11

CONTOH FORMULIR
DAFTAR PETANI YANG DIAJUKAN
SERTIFIKASI ORGANIK/APPROVED FARMER
LIST (AFL)
CONTOH FORMULIR DAFTAR PETANI
YANG DIAJUKAN SERTIFIKASI ORGANIK/APPROVED FARMER LIST (AFL)

No. Produksi/ Ha/Panen Nama Tanggal


Nama petugas Tanggal Luas Tanaman Tanggal Status
No Nama Kode Varietas Inspektur pemakaian kimia
pendaftar Pendaftaran lahan (Ha) Utama Inspeksi (Organik/Konversi)
Internal terakhir
MT1 MT2 MT3
1

10

11

12

13

14

TOTAL TOTAL

56
LAMPIRAN 12

CONTOH FORMULIR
CHECK LIST PRA ASSESSMENT
BUDIDAYA TANAMAN ORGANIK
CONTOH FORMULIR CHECK LIST PRA ASSESSMENT
BUDIDAYA TANAMAN ORGANIK

Pengusul : ________________________ Instansi : ___________________________


Alamat : __________________________ Nama Inspektor : _____________________
Telp. : ____________________________ Tgl. mulai inspeksi : ___________________
Fax. : ____________________________ Tgl. Selesai inspeksi : __________________
No. Sertifikasi : _____________________
A Informasi Umum Ya Tidak Komentar
1 Apakah produsen punya SNI Sistem
Pertanian Organik ?
2 Apakah informasi yang ada dalam
lembar usulan sertifikasi akurat?
3 Apakah peta lahan sesuai dengan
kenyataan?
4 Apakah sejarah peruntukan lahan
benar?
5 Apakah semua lahan dijadikan organik?
6 Apakah semua lahan diinspeksi?
7 Apakah semua lahan berada dalam satu
kesatuan?
8 Apakah tanaman/ hasil tanaman
disimpan di lain lokasi?
9 Apakah operator ada selama inspeksi?
10 Apakah pernah disertifikasi oleh
lembaga lain?
11 Apakah pernah ditolak dalam sertifikasi?
12 Untuk re-sertifikasi, jelaskan apakah ada perubahan budidaya:
________________________________________________________________________
13 Sebutkan semua jenis tanaman, hasil dan luasan pertanaman yang akan disertifikasi
organik: _________________________________________________________________
14 Total luas lahan:________ Luas milik sendiri:_______ Luas yang disewa:________
15 Luas organik:___________ Luas transisi: _________ Luas konvensional: _______
16 Lama budidaya organik: ___________ Lama sertifikasi: ______________________
B Evaluasi Ya Tidak Komentar
Kondisi Tanaman
17 Apakah tanaman yang diusulkan
disertifikasi telah ditanam?
18 Apakah tanaman yang diusulkan
disertifikasi telah dipanen?
19 Apakah ada bukti bahwa bahan
terlarang digunakan?
Benih / Bibit
20 Apakah benih / bibit dikenai perlakuan
dengan bahan terlarang?
21 Apakah operator menggunakan benih/
bibit organik?
22 Apakah ada benih GMO yang
digunakan?
23 Apakah ada benih konvensional yang
digunakan?
24 Apakah benih/ bibit yang digunakan
tersertifikasi?
25 Apakah ada greenhouse yang
digunakan?
a). Apakah digunakan untuk organik
saja?
b). Apakah digunakan media tanam
organik?
c). Apakah pengendalian hama
dilakukan dengan cara-cara organik?
d). Apakah pengendalian penyakit
dilakukan dengan cara-cara organik?
Pengelolaan Kesuburan Tanah
26 Apakah tanaman menunjukkan gejala
defisiensi nutrisi?
27 Apakah ada bukti digunakannya bahan-
bahan terlarang?
28 Apakah digunakan kotoran ternak
segar?
29 Apakah manure berasal dari luar?
Jika ya, jelaskan sumbernya: ________________________________________________
30 Apakah manure dikomposkan
31 Apakah digunakan bahan-bahan yang
penggunaannya terbatas (restricted
input)?
32 Apakah penggunaan bahan-bahan
terbatas ada dasarnya?
33 Apakah operator punya rencana untuk
meninggalkan penggunaan bahan-
bahan terbatas tersebut?
34 Apakah digunakan pupuk daun?
35 Apakah dilakukan pengujian tanah?
Rotasi Pertanaman
36 Apakah dilakukan rotasi pertanaman?
37 Apakah rotasi pertanaman juga
termasuk diversitas jenis tanaman?
Pengendalian Gulma
38 Apakah pengendalian gulma dilakukan
sesuai kaidah organik?
39 Apakah upaya preventif dilakukan?
40 Apakah ada bukti digunakannya
herbisida terlarang?
41 Apakah gulma mengancam
produktivitas tanaman yang diusulkan
disertifikasi?
Pengendalian Hama
42 Apakah pengendalian hama dilakukan
sesuai kaidah organik?
43 Apakah upaya preventif dilakukan?
44 Apakah ada bukti digunakannya
pestisida terlarang
45 Apakah digunakan restricted input?
46 Apakah operator punya rencana untuk
tidak menggunakan lagi restricted input?
47 Apakah hama mengancam produktivitas
tanaman yang diusulkan disertifikasi?
48 Apakah ada bukti adanya organisme
bermanfaat untuk pengendalian hama?
49 Apakah operator menyediakan habitat
yang berguna (untukhama)?
Pengendalian Penyakit
50 Apakah pengendalian penyakit
dilakukan sesuai kaidah organik?
51 Apakah dilakukan tindakan preventif?
52 Apakah ada bukti digunakannya
fungisida terlarang?
53 Apakah digunakan restricted input?
54 Apakah operator punya rencana untuk
tidak menggunakan lagi restricted input?
55 Apakah operator punya rencana untuk
tidak menggunakan lagi restricted input?
56 Apakah penyakit mengancam
produktivitas tanaman yang diusulkan
disertifikasi?
Adjoining Land Use
57 Apakah lahan organik dipisahkan
secara baik dari kemungkinan
kontaminasi?
Jika tidak, jelaskan lahan yang mana serta sumber kontaminasi dan upaya yang dilakukan
untuk mencegah kontaminasi: ________________________________________________

58 Apakah jalan / pematang disemprot


dengan herbisida?
59 Apakah operator punya kesepakatan
dengan lahan tetangga yang non-
organik?
60 Apakah ada buffer zone?
61 Apakah buffer zone di tanaman dengan
tanaman yang bermanfaat untuk
mendukung organik?
Produksi Paralel (Organik dan Non-Organik diusahakan bersama)
62 Apakah operator melakukan budidaya
tanaman organic dan transisi-organik
bersama-sama?
Jika ya, apakah bisa secara kasat mata
dibedakan arealnya?
63 Apakah operator melakukan budidaya
tanaman organik dan non-organik
bersama-sama?
Jika ya, apakah bisa secara kasat mata
dibedakan arealnya?
64 Apakah tempat penyimpanan organik
dipisahkan dengan non-organik?
65 Apakah operator punya catatan lengkap
tentang budidaya organic dan non-
organik
Air Irigasi Yang Digunakan
66 Apakah pemberian air mengenai
langsung produk organik yang akan
dipanen?
Jika ya, jelaskan sumber airnya: ______________________________________________

67 Apakah air pernah dianalisa di


laboratorium?
68 Apakah air memenuhi standar kualitas
air minum?
69 Apakah air digunakan hanya untuk
irigasi?
70 Apakah ada kontaminan yang
mempengaruhi kualitas air irigasi?
71 Apakah ada upaya konservasi air
irigasi?
Stewardship
72 Apakah ada upaya pengendalian erosi?
73 Apakah ada bukti adanya erosi?
74 Apakah ada upaya menyediakan wildlife
habitat (untuk membantu pengendalian
hama dan penyakit) di lahan?
75 Apakah ada bukti adanya biodiversitas
biologi?
Bangunan
76 Apakah ada bukti bahwa bahan-bahan
terlarang disimpan dalam bangunan
yang terpisah?
Peralatan
77 Apakah peralatan semprot digunakan
untuk organik dan non-organik?
Jika ya, jelaskan prosedur pembersihannya: _____________________________________

78 Apakah peralatan untuk panen


digunakan untuk organik dan non-
organik?
Jika ya, jelaskan prosedur pembersihannya: _____________________________________

79 Apakah ada bukti bahwa peralatan yang


ada punya potensi mengkontaminasi
tanaman organik?
PenangananPascaPanen
80 Apakah ada unit pengolahan produk
organik di lapang? Jika ya, lengkapilah
Checklist Inspeksi Pengelolaan Pasca
Panen.
81 Apakah ada bahan-bahan terlarang
yang disimpan/ digunakan di areal
penanganan produk organik?
82 Apakah semua peralatan dan fasilitas
penanganan pascapanen dipunyai
sendiri oleh operator?
83 Apakah unit/ peralatan pengangkutan
dibersihkan sebelum digunakan untuk
produk organik?
84 Apakah ada dokumentasi lengkap untuk
memverifikasi pembersihan dan
pengangkutan produk organik?
GudangPenyimpanan (Storage)
85 Apakah gudang penyimpanan
digunakan hanya untuk produk organik?
86 Apakah gudang penyimpanan berada
dalam kondisi bagus?
87 Apakah ada bahan-bahan terlarang
yang disimpan/ digunakan dalam
gudang penyimpanan?
88 Apakah ada kemungkinan hama bisa
masuk ke gudang penyimpanan?
89 Apakah gudang penyimpanan diberi
nomor?
90 Apakah gudang penyimpanan cukup
luas untuk menampung semua produk
organik?
91 Apakah digunakan gudang
penyimpanan diluar lokasi?
a). Jika ya, apakah diinspeksi dahulu?
b). Jelaskan lokasi dan pemiliknya: ___________________________________________
Audit Control (sistem pencatatan)
92 Apakah peta lahan cukup jelas dan
akurat?
93 Apakah informasi sejarah peruntukan
lahan akurat dan lengkap?
94 Apakah kuitansi pembelian bahan-
bahan yang digunakan dalam budidaya
disimpan secara baik?
95 Apakah catatan setiap langkah
budidaya disimpan rapi
96 Apakah catatan pemanenan disimpan
rapi?
97 Apakah catatan penyimpanan disimpan
rapi?
98 Apakah catatan penjualan cukup
lengkap?
Manejemen
99 Apakah operator memahami standar
pertanian organik?
100 Apakah operator menunjukkan
komitmennya untuk mengikuti standar?
101 Apakah ada bukti bahwa semua
tahapan operasi dikelola secara baik?
C. Assessment
Pengambilan Contoh (Sampling):

Jelaskan pengambilan contoh (tanah, tanaman, air, dll.) yang dilakukan selama inspeksi atau
direkomendasikan untuk masa depan. Termasuk tatacara pengambilan contoh, alasannya, serta
analisa yang akan dilakukan).

Pertimbangan Lainnya:

Jelaskan hal-hal lain yang belum tercakup dalam butir-butir di atas selama inspeksi, termasuk
rekomendasi untuk inspeksi di masa depan.

Kesimpulan:

Jelaskan kesimpulan selama dilakukannya inspeksi berdasar data-data dan informasi yang
diperoleh.

Tanggal…………………………………….

___________________________
Tandatangan Inspektor
Lampiran:
_____ Kuestioner
_____ Peta lahan
_____ Yang Lain (jelaskan)
LAMPIRAN 13

DOKUMEN PENERAPAN SISTEM JAMINAN


MUTU PRODUK
DOKUMEN PENERAPAN SISTEM JAMINAN
MUTU PRODUK

Nama Unit Usaha


..........................

ALAMAT :

DESA :
KECAMATAN :
KAB/KOTA :
PROVINSI :

Nomor Salinan :
Pemegang Salinan :
Status : Terkendali

Tidak Terkendali
LEMBAR PENGESAHAN

DOKUMEN PENERAPAN SISTEM JAMINAN MUTU


DAN KEAMANAN PANGAN

Nama Unit Usaha


...............................

………, ................... 201……

Disahkan oleh
Tim Penyusun Pimpinan Unit Usaha

(..............................)
Nomor 01
DOKUMEN SISTEM MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
PERUBAHAN DOKUMEN Halaman ….. dari ……
Paraf PJ

Pencatatan perubahan dokumen selalu dimutakhirkan dan dilakukan dengan format


sebagai berikut.

Tabel Perubahan Dokumen Sistem Mutu

Perubahan Mencabut Memasukkan


Paraf
No. Revisi/ No Revisi/
No Tanggal Halaman Halaman
Bag Terbitan Bag Terbitan
Nomor 02
DOKUMEN SISTEM MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
DISTRIBUSI DOKUMEN Halaman ….. dari ……
Paraf PJ

Distribusi dokumen sistem mutu dicatat dan selalu dimutakhirkan dengan


menggunakan formulir sebagai berikut :

Tabel Distribusi Dokumen

No Pemegang Dokumen
No Keterangan
Dokumen Nama Jabatan
1 Asli

2 Copy 1

3 Copy 2

4 Copy 3

5 Copy 4
Nomor 03
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
DAFTAR DOKUMEN Halaman ….. dari ……
Paraf PJ

Daftar Dokumen :

Nomor Tanggal Pejabat yang


Nama Dokumen Ket.
Dokumen Pengesahan Mengesahkan
Dokumen
Penerapan Sistem
Jaminan Mutu dan
Keamanan
Pangan
SPO Sanitasi
SPO Proses
Produksi
Dokumen Program
kebersihan
Instruksi Kerja

Formulir
Dokumen
Pendukung
Nomor 04
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
DAFTAR ISI Halaman ….. dari ……
Paraf PJ

NOMOR JUDUL JUMLAH


HALAMAN
i HALAMAN JUDUL
ii LEMBAR PENGESAHAN
01 PERUBAHAN DOKUMEN
02 DISTRIBUSI DOKUMEN
03 DAFTAR DOKUMEN
04 DAFTAR ISI
PROFIL UNIT USAHA
05 KEBIJAKAN MUTU
06 TIM KEAMANAN PANGAN
07 STRUKTUR ORGANISASI
08 PERSONALIA
09 VALIDASI DAN VERIFIKASI
10 PEMBELIAN JASA DAN PERBEKALAN
11 DESKRIPSI PRODUK AKHIR
12 DIAGRAM ALIR PROSES
13 PETA (LAYOUT) UN IT PENANGANAN DAN / ATAU
PENGOLAHAN
14 IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN
15 PROGRAM KEBERSIHAN
16 SPO SANITASI
17 SPO PROSES PRODUKSI
18 PENARIKAN PRODUK TIDAK SESUAI
19 PENGADUAN DAN K ELUHAN PELANGGAN
Nomor 04
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
PROFIL UNIT USAHA Halaman ….. dari ……
Paraf PJ
Nomor 05
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
KEBIJAKAN MUTU Halaman ….. dari ……
Paraf PJ

Visi

Misi :

3 B Bersih, Benar dan bergizi

Bersih : sistem kerja yang higienis


Benar : sistem dokumentasi dan alur kerja yang sesuai standar
Bergizi : menghasilkan produk akhir yang aman dan bergizi bagi konsumen
Nomor 06
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
SASARAN MUTU Halaman ….. dari ……
Paraf PJ
Contoh sasaran mutu

Pelaku Usaha akan mengahasilkan beras dengan ketentuan sebagai berikut:

Kelas Mutu Kriteria Jumlah

Premiun (sesuaikan dengan standar yang 20 persen dari total produksi


diacu SNI atau standar dari
Medium Kelas I pembeli/standar privat) 30 persen dari total produksi

Medium Kelas II 50 persen dari total produksi


Nomor 07
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
TIM KEAMANAN
Halaman ….. dari ……
PANGAN
Paraf PJ

Tim keamanan pangan dibentuk berdasarkan surat penugasan dari SK penugasan


dari Pimpinan Puncak dan dicatat serta selalu dimutakhirkan dengan formulir sebagai
berikut :

Tabel Tim Keamanan Pangan

NO. NAMA BAGIAN KUALIFIKASI PELATIHAN


1.

2.

3.

4.

5.
Nomor 08
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
STRUKTUR
Halaman ….. dari ……
ORGANISASI
Paraf PJ

Struktur organisasi dituangkan dalam bentuk bagan, dilengkapi dengan uraian tugas dan selalu
dimutakhirkan.
Nomor 08
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
PERSONIL Halaman ….. dari ……
Paraf PJ

Data seluruh personil dicatat dan selalu dimutakhirkan dengan menggunakan formulir sbb:

KUALIFIKASI /
NO. NAMA BAGIAN PELATIHAN
PENDIDIKAN
Nomor 09
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
VALIDASI DAN
Halaman ….. dari ……
VERIFIKASI
Paraf PJ

Unit usaha harus secara periodik, dan sesuai dengan jadwal dan prosedur yang telah
ditetapkan sebelumnya, menyelenggarakan validasi, yang meliputi validasi penerapan
sistem sampai dengan kesesuaian produk yang diinginkan.

Validasi dapat dilakukan dengan pengujian laboratorium. Terkait mutu dan keamanan
pangan pengujian mutu dan keamanan pangan yang dilakukan minimal pengujian
residu pestisida dan residu logam berat. Namun demikian pengujian kandungan
nutrisi disarankan sebagai pelengkap informasi pada label.

Sesuai dengan jadwal dan prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya, eksekutif
manajemen unit usaha harus secara periodik menyelenggarakan verifikasi pada
sistem penerapan cara penanganan dan pengolahan hasil pertanian yang baik yang
dilakukan untuk memastikan kesinambungan kecocokan dan efektivitasnya, dan
untuk mengetahui perubahan atau peningkatan yang diperlukan
Nomor 10
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Revisi ke /Tgl Revisi
PEMBELIAN BAHAN Tanggal Revisi
DAN SARANA Halaman ….. dari ……
PRODUKSI Paraf PJ

No Nama /alamat No Register Nama Bahan Spesifikasi Ket.


Pemasok /jasa Bahan /Jasa
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Nomor 11
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
DESKRIPSI PRODUK
Halaman ….. dari ……
AKHIR
Paraf PJ

(Contoh Deskripsi Produk)

No Parameter Uraian
1. Kategori proses Kering
2. Nama Produk Sari Kedele Alamina
3. Tujuan Pengguna Sebagai minuman kesehatan penambah tenaga
produk
4. Komposisi Kedelai, gula, vanili, cokelat
5, Pengemasan Alumunium foil (primer) dus (sekunder) ukuran ...
6. Masa kadaluarsa Tujuh belas bulan
7. Cara Penyajian Seduh (3 sendok makan untuk 250 cc)
8. Cara transportasi Mobil, Motor
9. Cara penyimpanan Suhu kamar
10. Peringatan mutu dan Jangan dikonsumsi apabila produk berubah
keamanan pangan warna, menggumpal dan berbau
11. Persyaratan SNI/regulasi SNI Kedelai bubuk instan (www.BPOM.go.id)
12. Persyaratan pelanggan Halal, bahan baku bukan dari PRG
Nomor 12
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
DIAGRAM ALIR PROSES Halaman ….. dari ……
Paraf PJ

(Contoh alur proses)


Pengumpulan bahan baku

Penyortiran Buah Busuk, Berulat

Buah durian kualitas baik

Pemisahan isi, kulit dan Biji

Mixing (Pencampuran isi durian ma gula)

Dimasak Di simpan

Pengemasan

Pemasaran
Nomor 13
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha PETA (LAYOUT) UN IT Tanggal Revisi
PENANGANAN DAN / Halaman ….. dari ……
ATAU PENGOLAHAN
Paraf PJ
Nomor 14
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
IDENTIFIKASI BAHAYA
Halaman ….. dari ……
DAN PENGENDALIAN
Paraf PJ

No Potensi bahaya Pengendalian

1. Biologi: Jamur, kontaminasi E- Dikemas dengan KA. maks 2 %, air


coli pencucian hrs bersih

2. Fisik : Rambut, kulit kedelai Pekerja harus higienes, ruang produksi


terpisah dengan ruang pengemasan
produk akhir
3. Harus menggunakan peralatan yang food
Kimia : logam berat grade

4.
dll

5.
Nomor 15
DOKUMEN SISTEM MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit Usaha Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
PROGRAM KEBERSIHAN Halaman ….. ....dari ……..
Paraf PJ

(contoh program kebersihan)


Lokasi dan sarana yang Frekwensi / Waktu
Cara Membersihkan Pelaksana Penanggung Jawab
dibersihkan Pembersihan

Tempat Produksi Disapu, dicuci Setiap hari/2 jam Karyawan Pemilik Usaha

Gudang Disapu, dirapikan Tiga hari sekali Karyawan Pemilik Usaha

Drainase Airnya harus mengalir Setiap hari Karyawan Pemilik Usaha


Nomor 16
DOKUMEN SISTEM MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit Usaha Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
SPO SANITASI Halaman 1 dari 2
Paraf PJ

(Contoh SOP Sanitasi)

Monitoring Tindakan Rekaman


No. Kunci Sanitasi Persyaratan
Apa Dimana Bagaimana Kapan Siapa Koreksi Form No
Pengecekan
1 Jam
Penampun air pertama dr Mencari sumber air
1. Keamanan Air Air Harus Bersih Sumber air
gan kran saat
sebelum Karyawan
yang lain
Form 1
produksi
dibuka
Kondisi Dan
1 jam
Kebersihan Permukaan Semua Tempat Karyawan Menggunakan ruangan
2. Yang Kontak Dengan
peralatan
produksi
dilihat sebelum
produksi lain
Form 2
peralatannya hrs produksi
Bahan Pangan bersih

Tata letak dan Tata letak diperbaiki dan


Pencegahan Tempat Diamati Secara Pada saat
3 Kontaminasi Silang
Jangan sampai kebersihan
produksi visual proses
Karyawan karyawan mengikuti Form 3
terjadi kontaminasi karyawan prosedur yg ada
silang
Menjaga Fasilitas Semua fasilitas
Fasilitas sanitasi, Tempat cuci Diamati secara
4 Pencuci Tangan, sanitasi hrs sesuai
sanitizer tangan visual
Setiap hari Karyawan Menggunakan Sabun lain Form 4
Sanitasi Dan Toilet dg aturan
Nomor 16
DOKUMEN SISTEM MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit Usaha Revisi ke /Tgl Revisi
Tanggal Revisi
SPO SANITASI Halaman 1 dari 2
Paraf PJ

Monitoring
Rekaman
No. Kunci Sanitasi Persyaratan Bagaim Tindakan Koreksi
Apa Dimana Kapan Siapa Form No
ana
Tidak ada Diamati Menggantikan sarung
Proteksi Dari Bahan-Bahan Sumber Tempat Sebelum
5. Kontaminan
sumber
kontaminan produksi
secara
produksi
Karyawan tangan dengan sarung Form 5
kontaminan visual tangan yang baru
Bahan yang
bersifat toksin
Bahan
Pelabelan, Penyimpanan, hrs diberi Tempat
toksindan Diamati Sebelum Staf kesehatan Bahan toksin diberi label dan
6. Dan Penggunaan Bahan label dan
tempat
Penyimpanan
secara visual produksi yang bertugas disimpan ditempat tertentu
Form 6
Toksin Yang Benar disimpan bahan toksin
menyimpan
ditempat
terpisah
Pengawasan Kondisi
Personil yg
Kesehatan Personil Yang Sebelum dan Cek kesehatan karyawan ke
7 Dapat Mengakibatkan
bekerja hrs Karyawan Di tempat kerja Diamati
selama bekerja
Bagian produksi
rumah sakit terdekat
Form 7
sehat
Kontaminasi
Tidak ada
Sebelum,
Penanganan/Pengendalian hama di area Keberadaan
8 Hama produksi dan hama
Lokasi usaha Diamati selama, setelah Bagian produksi Dilakukan pest kontrol Form 8
produksi
gudang
Nomor 17
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
SPO PROSES
Halaman ….. dari ……
PRODUKSI
Paraf PJ

Tujuan :
Ruang Lingkup :
Definisi :
Acuan :
Penanggung Jawab :
Langkah kerja :

Dokumen Terkait :
Nomor 18
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
PENARIKAN PRODUK
Halaman ….. dari ……
YANG TIDAK SESUAI
Paraf PJ

Kriteria Penarikan Produk :

Prosedur Penarikan : (Mengacu kepada format SOP proses Produksi)


Nomor 19
DOKUMEN SISTEM
MUTU Tgl. Berlaku
Logo Unit
Revisi ke /Tgl Revisi
Usaha
Tanggal Revisi
PENGADUAN DAN
Halaman ….. dari ……
KELUHAN PELANGGAN
Paraf PJ

Nama dan Tanggapan / Penanggung


No Tanggal Masalah Tanggal
Alamat Pengadu Penyelesaian jawab
Lampiran Format Pencatatan

1. Formulir monitoring SOP sanitasi


2. Formulir pencatatan pelaksanaan program kebersihan
3. Formulir pencatatan SOP Proses produksi (catatan pembelian bahan baku,
catatan penanganan pasca panen, catatan sortasi/ hasil produk dan label
kemasan dlsb)
4. Formulir pendaftaran petani
5. formulir kontrak petani
6. Formulir/ checklist internal audit (gunakan cheklist sebagaimana tercantum pada
Permentan 51:2008)
7. Formulir rekapan anggota petani
8. Formulir pembelian dari anggota
9. Formulir Penjualan
10. Formulir penyimpanan

Dokumen Pendukung

1. SNI
2. Peraturan Permentan tentang GHP dan GMP

Instruksi Kerja

1. Pencucian tangan
2. Mengoperasikan mesin/peralatan

Halaman 1 dari 45
LAMPIRAN 14

DIAGRAM POHON KEPUTUSAN UNTUK TKK


PENERAPAN HACCP

80
DIAGRAM POHON KEPUTUSAN UNTUK TKK PENERAPAN HACCP

Apakah tindakan pengendalian yang


P1
bersifat mencegah ?

Tidak Lakukan modifikasi tahapan, proses


Ya
atau produk?

Apakah pengendalian pada tahap ini


Ya
diperlukan untuk pengamanan?

Tidak Bukan CCP Berhenti (*)

Apakah tahapan dirancang khusus untuk menghilangkan


P2 atau mengurangi bahaya yang mungkin terjadi sampai
Ya
tingkat yang dapat di terima ? **)

Tidak

Dapatkan kontaminasi dengan bahaya yang diidentifikasi terjadi melebihi


P3 tingkatan yang dapat diterima atau dapatkah ini meningkat sampai
tingkatan yang tidak dapat diterima? (**)

Ya Tidak Bukan CCP Berhenti (*)

Akankah langkah berikutnya menghilangkan bahaya yang teridentifikasi


P4 atau mengurangi kemungkinan terjadinya sampai tingkat yang dapat
diterima? (**)

Ya Tidak CCP

Bukan CCP Berhenti (*)

Keterangan :
(*) lanjutkan ke bahaya yang diidentifikasi berikutnya dalam uraian proses
(**) tigkatan yang dapat diterima dan tidak dapat diterima perlu didefinisikan disemua tujuan dalam
mengidentifikasi CCP dari rencana HACCP

80
LAMPIRAN 15

LAY OUT

RICE MILLING UNIT


LAMPIRAN 16

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


SANITASI (SANITATION STANDARD
OPERASIONAL PROSEDURE/SSOP)
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SANITASI
(SANITATION STANDARD OPERASIONAL
PROSEDURE/SSOP)

GAPOKTAN/POKTAN
........................

Disahkan oleh: Tanggal:

Ketua Gapoktan/Poktan
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SANITASI Halaman : 1 dari 8

1. Keamanan air
- Pengendalian dan pengawasan
Air yang digunakan untuk produksi dan mencuci peralatan dan tangan harus bersih sesuai standar air minum.
Setiap hari sebelum mulai proses produksi dilakukan pengecekan secara visual (kejernihan, bau dan rasa) dan
analisa laboratorium dilakukan setahun sekali.

- Tindakan koreksi
Apabila dari hasil pengamatan, menunjukkan air yang tidak aman, maka stop produksi, dilakukan pengecekan
penyebab air tidak aman dan dilakukan perbaikan, sehingga air kembali aman, atau mencari pasokan air yang
aman selama sumber air belum aman

- Rekaman
Hasil analisa tahunan, rekaman monitoring form 1-01 dan form 1-02

2. Kondisi dan kebersihan alat yang kontak langsung dengan pangan


- Pengendalian dan pengawasan
Kondisi semua peralatan yang kontak langsung dengan pangan harus dari bahan yang aman dalam kondisi baik,
layak pakai serta bersih sehingga tidak menimbulkan kontaminasi terhadap pangan. Setiap hari sebelum dimulai
proses produksi dan setelah selesai proses dilakukan monitoring terhadap kondisi dan kebersihan alat tsb.

- Tindakan koreksi
Apabila dari hasil monitoring menunjukkan kondisi dan kebersihan alat tidak memenuhi persyaratan, maka
peralatan harus diperbaiki/diganti dan dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring form 1-01
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SANITASI Halaman : 2 dari 8

3. Pencegahan kontaminasi silang


- Pengawasan dan Pengendalian
Untuk pencegahan kontaminasi silang, maka urutan proses harus teratur dan tidak bolak-balik, penyimpanan
bahan baku dan produk jadi/setengah jadi serta bahan pengemas harus terpisah, peralatan kotor tidak boleh
disimpan bersamaan dengan peralatan yang bersih, karyawan yang bekerja di bagian proses produksi harus
sehat, ruangan/lantai tempat kerja harus bersih, bahan bukan pangan harus diisolasi dari produk dan semua
lampu ditempat proses produksi harus berpelindung. Setiap hari sebelum proses produksi dan sesudah proses
produksi harus dilakukan monitoring terhadap hal-hal tersebut diatas.

- Tindakan Koreksi
Apabila dari hasil monitoring ditemukan hal-hal yang dapat menimbulkan kontaminasi silang, maka stop proses
produksi, hindari terjadinya kontaminasi silang dengan menangani penyebabnya sampai kondisi aman kembali
untuk berproduksi.
 urutan proses tidak teratur, stop produksi dan perbaiki dahulu
 bahan baku, bahan pengemas dan bahan jadi tercampur, pindahkan sesuai tempatnya, evaluasi produk
laporkan hasilnya ke QC untuk didisposisi (dilepas,diperbaiki, dimusnahkan)
 Peralatan kotor tercampur dengan yang bersih, cek dan lakukan pembersihan ulang atau disimpan ditempat
yang disediakan.
 Ada karyawan sakit, diistirahatkan
 Lantai dan ruangan kerja kotor, bersihkan dulu sebelum proses produksi dimulai
 Ada bahan bukan untuk pangan, segera simpan pada tempat penyimpanan, evaluasi keamanan produk,
laporkan hasilnya untuk didisposisi.
 Lampu dibagian produksi tidak berpelindung, stop produksi dan perbaiki, ganti.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring form 1-01, form 1-02

4. Fasilitas cuci tangan, toilet dan sanitasi


- Pengendalian dan pengawasan
Kondisi fasilitas cuci tangan dan toilet harus memadai dan bersih serta lengkap dengan sarana prasarana (air,
gayung, bahan sanitasi/sabun, pengering). Toilet tidak menghadap langsung ke tempat proses produksi. Setiap hari
sebelum proses produksi dilakukan monitoring terhadap kebersihan dan kelengkapan sarana cuci tangan dan toilet.
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SANITASI Halaman : 3 dari 8

- Tindakan koreksi
Apabila dari hasil monitoring ditemukan kondisi yang tidak sesuai persyaratan, maka proses produksi belum dapat
dimulai, sampai dilakukan perbaikan (memperbaiki, membersihkan dan melengkapi sarana) sesuai dengan hasil
monitoring.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring form1-01, form 1-02

5. Proteksi dari bahan-bahan toksin


- Pengendalian dan pengawasan
Tidak diperbolehkan bahan-bahan toksin (pembersih lantai, detergent, pembersih kaca, sarana budidaya dan
bahan-bahan lainnya yang berbahaya) berada pada lokasi produksi (lokasi grading dan pengemasan)

- Tindakan koreksi
Bila dijumpai bahan bahan yang bukan digunakan untuk makanan (bahan beracun/berbahaya bagi keamanan
pangan), cek apakah terjadi pencemaran dan segera pindahkan ketempat penyimpanannya.

- Rekaman
Hasil monitoring harian, form1-01

6. Penyimpanan dan pelabelan bahan-bahan kimia/ sarana-prasarana produksi


- Pengendalian dan pengawasan
Sarana prasarana untuk budidaya (pupuk dan obat-obatan), bahan pembersih lantai, kaca dsb.
berlabel dan disimpan ditempat tersendiri, sehingga tidak mengkontaminasi produk.

- Tindakan koreksi
Bila dijumpai bahan-bahan tersebut tidak berlabel, dicek dan diberi label atau dikembalikan ke
supplier, dan bila disimpan tidak pada tempatnya, segera pindahkan ke tempat penyimpanan.
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SANITASI Halaman : 4 dari 8

- Rekaman
Hasil monitoring harian, form1-01, form 1-02

7. Hygiene karyawan
- Pengendalian dan pengawasan
Semua karyawan yang bekerja di lokasi penerimaan, pengemasan produk harus menggunakan pakaian kerja (tutup
kepala, masker, sarung tangan)yang bersih, kondisi sehat, tidak terdapat luka terbuka, tidak melakukan kebiasaan
buruk (makan, meludah, menggaruk dsb.) di lokasi produksi, tidak menggunakan perhiasan, tidak memanjangkan kuku
jari. Setiap hari sebelum mulai bekerja dilakukan pengecekan, dan dilakukan pelatihan atau pemberitahuan ulang
sekali seminggu.

- Tindakan koreksi
Bila dari hasil monitoring terdapat ketidak sesuaian maka karyawan yang bersangkutan ditegur dan tidak diijinkan untuk
ikut bekerja di lokasi proses produksi, dilakukan pelatihan dan kalo perlu diberi sangsi.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring, form 1-01

8. Pembersihan dan pengendalian pest.


- Pengendalian dan pengawasan
Lokasi produksi harus bersih, tidak diperbolehkan adanya benda yang menarik binatang (onggokan sampah harus
dihindari/ dibersihkan tiap hari, sisa-sisa produk yang berceceran atau menempel dilantai harus dibersihkan dsb.),
untuk meminimalkan kehadiran serangga. Saluran air di lokasi produksi harus bersih. Perlu pemasangan perangkap
tikus bila ada indikasi adanya binatang tersebut, lingkungan lokasi produksi bebas dari benda-benda yang menarik
binatang pengerat (tidak ada sisa2 makanan atau sisa-sisa produk yang dapat menarik kehadiran binatang pengerat).
Setiap hari dilakukan monitoring.

- Tindakan koreksi
Apa bila dari hasil monitoring terdapat ketidak sesuaian, proses produksi diberhentikan dulu, cari penyebabnya dan
perbaiki kondisi (pasang perangkap lalat, pembasmian kecoa dengan insektisida saat tidak ada kegiatan dsb.) sampai
kondisi kembali terkendali.

- Rekaman
Rekaman hasil monitoring harian, form 1-01
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM KEBERSIHAN LANTAI, DINDING DAN Halaman : 5 dari 8
LANGIT-LANGIT

Lokasi/Peralatan Cara Frekuensi/ waktu pembersihan Pelaksana


Lantai pada lokasi proses - Disapu - Sebelum dan setelah proses Petugas
penerimaan bahan baku, - Di semprot air - Minimal sekali seminggu atau kebersihan
sortasi, pengemasan bila diperlukan dan telah disapu.

Lantai kantor disapu dan dibersihkan Setiap hari sebelum jam kerja Petugas
kebersihan

Dinding dan langit-langit dibersihkan Minimal sebulan sekali saat tidak ada Petugas
gudang, kantor kegiatan kebersihan

Langit-langit, lokasi proses Disapu, bila perlu Minimal sebulan sekali saat tidak ada Petugas
menggunakan sapu kegiatan kebersihan
dengan tangkai panjang

Lantai ruang penyimpanan - Disapu bila perlu di - Minimal sebulan sekali Petugas
pupuk, oli, bahan bakar dan pel kebersihan
obat-obatan dibersihkan dan - Tumpukan ppk
kandang ditutup - Setiap hari
dirapikan
rapi
- Bahan bakar, oli,
obat-obatan kimia
ditata rapid dan - Setiap hari
terpisah dari
produk bahan baku

Halaman sekitar unit - Disapu dgn sapu - Setiap hari Petugas


pengemasan lidi kebersihan
- Memotong rumput
- Tidak boleh ada - Dua minggu sekali
onggokan sampah
yang terbuka
- Selesai kegiatan setiap hari
sampah dibersihkan.
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM KEBERSIHAN PERALATAN, TOILET, Halaman : 6 dari 8
TEMPAT CUCI DAN PENAMPUNG AIR

Frekuensi/ waktu
Lokasi/ Peralatan Cara Pelaksana
pembersihan

Pisau Dicuci dengan menggunakan bahan yang Minimal setiap hari Petugas
diijinkan dan membilasnya sampai bersih, setelah dipakai kebersihan
dikeringkan, dan disimpan di tempatnya

Ember tempat produk Disemprot dengan air, disikat, dikeringkan Minimal setiap hari Petugas
dan disimpan ditempatnya setelah dipakai kebersihan

Tempat sampah Dibersihkan dengan air dan disikat atau Minimal setiap hari Petugas
dengan mengganti kantongnya setelah proses selesai. kebersihan

Mesin padi cleaner Dibersihkan dengan menggunakan Minimal setiap hari Petugas
dan Separator, mesin konfesor/vacum cleaner sampai bersih setelah proses selesai. kebersihan
grading

Tempat saluran Dibersihkan dari sisa-sisa produk dengan Setiap kali habis Petugas
pembuangan menggunakan konfesor/ digunakan atau kondisi kebersihan
kotor
facum cleaner sampai bersih

Bak penampungan Dibersihkan dari sisa sekam dengan Minimal setiap hari Petugas
sisa produk (sekam) memasukkan sisa sekam ke karung bekas, setelah proses selesai kebersihan
ditumpuk dengan rapi

Lokasi penyimpanan Dibersihkan dari debu dan bahan-bahan lain Minimal setiap hari Petugas
bahan pengemas dapat mengkontaminasi setelah proses selesai kebersihan

Sarana pencuci tangan - Digosok, dibersihkan dan disanitasi - Minimal setiap hari Petugas
- Dilengkapi peralatannya (sabun, lap setelah proses kebersihan
tangan). - Dua kali sehari
(setiap diperlukan)
Sarana toilet - Digosok, dibersihkan, disanitasi Minimal setiap hari Petugas
- Sarana dilengkapi (air, gayung, sabun, sekali kebersihan
karbol dsb.)
Sepatu boot Disikat dan dibersihkan dengan air bersih Setiap hari setelah Petugas
selesai dipakai kebersihan

Tempat penampung Disikat dan dibersihkan dengan air bersih. Minimal seminggu Petugas
air (jika ada) sekali kebersihan
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM KEBERSIHAN PERALATAN, TOILET, Halaman : 7 dari 8
TEMPAT CUCI DAN PENAMPUNG AIR

Frekuensi/ waktu Pelaksana


Lokasi/ Peralatan Cara
pembersihan

Pipa aliran air Menggunakan bahan yang tidak Minimal setiap bu- Petugas
berkarat. lan dicek dan diber- kebersihan
sihkan bila perlu

Kendaraan Dibersihkan, dibilas dengan air bersih, Sebelum digunakan. Sopir


pengangkut bila perlu menggunakan saniter
Kode. Dok : O-SSOP
PERSYARATAN DASAR HACCP
Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PROGRAM PENGENDALIAN HAMA, SUHU Halaman : 8 dari 8
PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN PRODUK

Frekuensi/ waktu
Uraian Cara Pelaksana
pembersihan

Pengendalian Hama
Mamalia
- Jauhkan dari lokasi (diku-rung, - setiap hari Pengendali hama
- anjing, kucing
diikat)
- tikus
- Menggunakan perangkap atau - Setiap hari
racun tikus
Serangga
- Kecoa - Dimatikan (secara fisik), - Bila ada, setelah Pengendali hama
menggunakan insektisida proses (dengan
- Lalat - Menggunakan perangkat, lampu uv insektisida)
- Menggunakan insektisida, kapur - Bila ada setiap hari
- Semut semut (waktu libur) - Bila ada setiap hari
- Dibersihkan dengan sapu - Bila ada setiap hari
- Laba-laba - Dimatikan (secara fisik), - Bila ada, setelah
(sarang) menggunakan pestisida proses (dengan
- Kutu fumigasi)

Unggas
- Burung - Menggunakan jaring pelindung Bila ada setiap hari Pengendali hama
- Jauhkan dari lokasi (dikurung,
- ayam dikandangkan) Bila ada setiap hari
Hewan melata Menutupi produk untuk menghindari Setiap ada produk Bagian produksi
- cicak kotoran cicak
Suhu: Produk tertutup dengan fentilasi Setiap kali melaku-kan Petugas
udara/sirkulasi udara cukup penyimpanan penyimpanan
Ruang penyimpanan produk
tanpa pendingin

Pengangkutan tanpa Produk selalu tertutup dengan sirkulasi Setiap kali melakukan Petugas bagian
fasilitas pendingin udara cukup. Untuk jarak jauh pengangkutan pengiriman.
diusahakan diangkut pada malam hari,
tergantung cuaca.
Kode. Dok : P-SOP
PROSEDUR (SOP) Revisi : 0
RMU……… Tgl Berlaku : ………………
PENARIKAN PRODUK KEMBALI (RECALL) Halaman : 1 dari 1

Untuk menjaga kepuasan pelanggan dan menghindari konsumen dari mengkonsumsi produk yang tidak aman, maka
perusahaan mempunyai kebijakan untuk melakukan penarikan produk (produk recall). Informasi yang menjadi alasan
untuk melakukan penarikan produk terutama adalah keluhan atau komplain dari pelanggan, dan adanya kesalahan
bahan baku atau proses produksi. Produk yang telah ditarik selanjutnya dikumpulkan pada tempat yang terpisah dan
telah ditentukan. Informasi dan data penarikan produk akan didokumentasikan dan ditindaklanjuti. Tindak lanjut yang
dilakukan dengan adanya penarikan produk antara lain dapat berupa :
1. Penghentian proses produksi sampai diperoleh hasil perbaikan yang memenuhi persyaratan konsumen.
2. Menyelidiki penyebab masalah dan menyusun tindakan koreksi agar tidak terulang kembali.
3. Penanganan terhadap produk yang ditarik.
Pelaksanaan penarikan produk ini dilakukan dibawah tanggung jawab manajer produksi
Formulir 1- 01

FORMULIR MONITORING DAN PENERAPAN SOP SANITASI HARIAN

Sblm Sblm Stlh


Slm Tindakan Tindakan
kerja kerja kerja
Uraian kerja koreksi verifikasi
pagi siang sore

Keamanan air (SSOP-01)


(bau,rasa, kejernihan)

Kondisi dan kebersihan alat yang kontak dengan


produk (SOP-1, SOP-2):

- Kondisi peralatan (pisau, wadah untuk produk,


lokasi sortasi dan grading, bak pencuci, bak
tempat penampungan, lap produk, sarung tangan,
bahan pengemas) utuh dan layak pakai
- Kebersihan peralatan (sda)

Pencegahan kontaminasi silang, hygiene karyawan


(SOP-1, SOP-2)

- Tidak terjadi simpang-siur alur proses

- Bahan pengemas bersih dan disimpan ditempat


bersih dan tidak lembab

- Peralatan disimpan dalam kondisi bersih dan


ditempat yang bersih dan tidak lembab

- Tidak ada karyawan yang sakit/ luka terbuka pada


saat bekerja di bagian produksi
- Karyawan mencuci tangan setiap akan mulai kerja

- Karyawan tidak boleh merokok, meludah, makan,


minum, dan harus menjaga kebersihan diri di
ruang produksi
- Lampu di ruang produksi harus berpelindung dan
bersih

- Lantai tempat produksi dan kantor harus bersih

Proteksi dari bahan toxin/ beracun (SOP-1)


- Selama proses produksi tidak terdapat bahan
toxin/membahayakan keamanan pangan di ruang
produksi
Formulir 1- 01

FORMULIR MONITORING DAN PENERAPAN SSOP HARIAN


(lanjutan)

Sblm Sblm Stlh Slm Tindakan Tindakan


kerja kerja kerja kerja koreksi verifikasi
Uraian pagi siang sore

Kondisi dan kebersihan sarana pencuci


tangan, toilet dan bahan sanitasi (SOP-1,
SOP-2)
- Kondisi sarana pencuci tangan (layak
dipakai air bersih tersedia,
sabun/disinfektan ada, lap tangan
ada) serta bersih.
- Kondisi toilet (layak dipakai, air
bersih tersedia, gayung,
sabun/disinfektan tersedia) dan
bersih
- Kondisi sarana pencuci produk dan
saluran pembuangan airnya bersih,
cukup air

Pengendalian Hama (SOP-1, SOP-2)

- Pengendalian hama sudah dilakukan


dgn baik

.............., …………………………200....

Mengetahui QC Supervisor

( ) ( )
Formulir 1-02

FORMULIR MONITORING DAN PENERAPAN SSOP MINGGUAN DAN BULANAN

Bulan …… /Tahun…..
Bulan…… Setiap Jum’at Tanggal
Tindakan
Uraian Jum’at minggu I Tindakan koreksi
verifikasi
……. ……. ……. ……. …….

Keamanan air (Dok.SPO-1)


Pipa air tidak bocor dan tidak berlumut
Pencegahan kontaminasi silang dan
Pengendalian hama (Dok.SPO-01, SPO-02)
- Lantai lokasi kegiatan disemprot air dan
dibersihkan min setiap minggu
- Dinding dan langit-langit ruang produksi,
kantor bersih
- Dinding dan langit-langit tempat
penyimpanan sarana budidaya bersih
(dibersihkan setiap bulan)

Penyimpanan dan pelabelan sarana


budidaya
- Semua pupuk dan obat-obatan /
pestisida telah disimpan dan dilabel
dengan benar

………., ……….………200…..
Mengetahui QC Supervisor

( )
Catatan Kegiatan Utama
BLU -06
"PEMANENAN

Nama Pemilik Lahan :


Alamat Lahan :

Jenis Kegiatan Informasi lapang Nama dan Paraf


Tindak lanjut
Jumlah Gabah

Pengawas
Pelaksana
Blok/petak dan Kondisi Tindakan /Cara Teknis yang Hasil yang yang perlu
Hari Tanggal & Jam yang dipanen
luas lahan (Ha) penjarangan Pemanenan Cuaca/ dilaksanakan dicapai dilakukan (bila
dipetik (Kg
Iklim ada)
atau ton)

Keterangan : *) Diberi tanda ( √ ) sesuai jenis kegiatan yang dilakukan

Anda mungkin juga menyukai