Anda di halaman 1dari 2

Sejarah Perkembangan Materialisme

Filsuf yang pertama kali memperkenalkan paham ini adalah epikuros. Ia merupakn salah satu filsuf terkemuka
pada masa filsafat kuno. Selain Epikuros, filsuf lain yang juga turut mengembangankan aliran filsafat ini adalah
Demokritos dan Lucretius Carus. Pendapat mereka tentang Materialisme, dapat kita samakan dengan materialism
yang berkembang di prancis pada masa pencerahan. Dua karangan karya La Mettrie yang cukup terkenal mewakili
pham itu adalah L’homme machine (manusia mesin) dan L’homme plante (manusia tumbuhan). Dalam waktu yang
sama, di tempat lain muncul seorang Baron von Holbach yang mengemukakan suatu materialism atiesme.
Materialisme etiesme serupa dalam bentuk dan substansinya, yang tidak mengakui adanya tuhan secara mutlak. Jiwa
sebetulnya sama dengan fungsi-fungsi otak.
Benih-benih materialism sudah muncul sejak zaman Yunani kuno. Sebelum muncul pertnyaan-pertanyaan
filsafat idealistic (yang menonjol sejak plato), filsafat Yunani berangkat dari filsafat materialisme yang mengambil
bentuk pada upaya untuk menyelidik tentang alam sebagai materi. Bahkan mayoritas filsuf percaya bahwa tidak
mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan. Materi alam dipelajari secara habis-habisan, sehingga
menghasilkan tesis filsafat tentang apa sebenarnya substansi menyusun alam kehidupan ini.
Pada abad pertama Masehi, paham materialism tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad
pertengahan, orang menganggap asing terhadap paham ini. Baru pada zaman pencerahan (Aufkalrung), materialisme
mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropa Barat.
Materialisme berpenderian bahwa pada hakikatnya sesuatu itu adalah bahan belaka. Pandangan ini Berjaya pada
abad ke-19.[2] Materialisme jelas tidak akan bias hilang dan mati karena hidup ini sangat nyata, dimana manusia
terus saja mengembangkan diri dari ranah material. Zaman kegelapan yang didominasi dengan agama yang
menggelapkan kesadaraan jelas tak dapat membendung perkembangan material, yaitu teknologi yang merupakan
alat bantu manusia untuk mengatasi kesulitan material dan membantu manusia memahami alam. Misalnya, dengan
teleskop dapat diketahui susunan jagat raya, dengan transportasi dan komunikasi pertukaran pengetahuan semakin
cepat. Idialisme yang subjektif jelas tidak dapat dipertahankan.[3]
Pada abad 19, muncul filsuf-filsuf materialisme asal jerman seperti Feuerbach, Moleschott, Buchner, dan
Haeckel. Merekalah yang kemudian meneruskan keberadaan materialisme. Materialisme dan Empirisme adalah
perangsang munculnya IPTEK karena berpkir pada kegiatan melakukan eksperimen-eksperimen ilmiyah yang
memicu perkembangan ilmu dan teknologi.
Filsafat materialisme beranggapan bahwa hubungan adalah hubungan material yang saling mempengaruhi.
Karenanya, memahami hubungan harus menggunakan landasan berfikir yang materialis. Berfikir materialis berarti
percaya pada hukum-hukum materi, yaitu sebagai berikut:
 Hukum I: “Materi itu ada, nyata, dan konkret”.
Materi itu ada dan nyata dalam hidup kita. Kita bisa mengenali materi melalui indra kita. Jadi, bukan karena tak
tertangkap indra kita, lantas kita mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada.
 Hukum II:”Materi itu terdiri dari materi-materi yang lebih kecil dan saaling berhubungan (dialektis)”.
Jadi, dialektika adalah hukum keberadaan materi itu sendiri. Materi-materi kecil menyatu dan menyusun satu
kesatuan yang kemudian disebut sebagai materi lainya yang secara kualitas lain. Karenanya namanya juga lain.
 Hukum III:”Materi mengalami kontradiksi”.
Karena materi terdiri dari materi-materi yang lebih kecil antara satu materi dengan materi lainnya mengalami
kontradiksi, atau saling bertentangan. Jika taka da kontras, tak akan ada bentuk yang berbeda-beda. Jika tidak ada
kontradiksi, tak ada kualitas yang berbeda,kualitas baru, atau kualitas yang menunjukkan adanya perubahan susunan
materi yang baru.
 Hukum IV:”Materi selalu berubah dan akan selalu berubah”.
Perubahan dimulai dengan kontradiksi atau akibat pengaruh antara materi=materi yang menyusunnya maupun
karena intervasi dari luar. Taka da yang lebih abadi dari pada perubahan itu sendiri.[4]

Anda mungkin juga menyukai