Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

“ PEMERIKSAAN BUNYI JANTUNG ”

OLEH

RICKY LIARAN R. (4518111026)


TJESSICA GRATIA NAPITUPULU.(4518111027)
MOH. AKHTAR SETIA R.E.D. (4518111028)
UMI KALSUM NASIR (4518111029)
NURUL FAKHIRA AZZAHRAH (4518111030)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BOSOWA
2018/2019
LAPORAN PRAKTIKUM FAAL

A. Judul Praktikum
“Pemeriksaan Bunyi Jantung”

B. Pendahuluan:
1. Latar Belakang
Jantung (bahasa latin, cor) adalah sebuah rongga, organ berotot
yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang
berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari Yunani
cardiauntuk jantung. Ukuran jantung manusia kurang lebih sebesar kepalan ta
ngan seorang laki-laki dewasa. Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri
dari lapisan endothelium. Jantung terletak di dalam rongga thoracic, dibalik
tulang dada atau sternum. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit
kearahkiri.Dalamproses perkembangannya, makhluk hidup sangat tergantung
pada berfungsinya system kardiovaskuler secara optimal, dan kelainan yang
terjadi pada system ini akan menyebabkan konsekuensi klinik serius. Jantung
sangat berperang penting bagi kehidudan manusia karena jantung memiliki
fungsi vital yaitu untuk memompakan darah ke seluruh tubuh atau jaringan
tubuh. Darah yang dipompa menghantarkan nutrisi dan O2 ke jaringan untuk
kelangsungan hidupnya, sehingga jaringan dapat hidup dan menjalankan fungsi
sebagaimana mestinya.
Bunyi jantung adalah bunyi yang disebabkan oleh proses membuka
dan menutupnya katup jantung akibat adanya getaran pada jantung dan
pembuluh darah besar. Bunyi jantung dikenal juga sebagai suara
jantung.Banyak dokter menggunakan alat bantu stetoskop untuk mendengar
bunyi jantung. Adapun jumlah dan kualitas bunyi jantung bergantung pada
desain stetoskop dan tekanannya pada dinding dada, lokasinya, orientasi tubuh,
serta fase bernapas. Umumnya, bunyi tidak dihantarkan dengan baik dari cairan
atau udara sehingga bunyijantung tidak terdengar denga baik apabila
melewati paru.
Faktor – faktor bunyi jantung. faktor-faktor yang mempengaruhi BJ I
yaitu: Kekuatan dan kecepatan kontraksi otot ventrikel, (makin kuat dan cepat
makin keras bunyinya). Posisi daun katup atrio-ventrikular pada saat sebelum
kontraksi ventrikel" (makin dekat terhadap posisi tertutup makin kecil
kesempatan akselerasi darah yang keluar dari ventrikel, dan makin pelan
terdengarnya BJ I dan sebaliknya makin lebar terbukanya katup atrioventrikuler
sebelum kontraksi, makin keras BJ I, karena akselerasi darah dan gerakan katup
lebih cepat . Jarak jantung terhadap dinding dada ada pasien dengan dada kurus
BJ lebih keras terdengar dibandingkan pasien gemuk dengan BJ yang terdengar
lebih lemah demikian juga pada pasien emfisema pulmonum BJ terdengar lebih
lemah Bunyi jantung I yang mengeras dapat terjadi pada stenosisis mitral.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi BJ II yaitu: karena penutupan
katup AV terjadi pada awal kontraksi ventrikel ketika tekanan
ventrikel pertama kali melebihi tekanan atrium, bunyi jantung I menandakan
awal sistol ventrikel penutupan katup semilunaris terjadi pada awal
relaksasi ventrikel ketika tekanan ventrikel kiri dan kanan turun
dibawah tekanan aorta dan arteri pulmonalis dengan
demikian, bunyi jantung II menandakan permulaan diastol ventrikel
ditimbulkan karena vibrasi akibat penutupan katup aorta komponen aorta
penutupankatup pulmonal komponen pulmonalperlambatan aliran yang menda
dak dari darah pada akhir ejaksi sistolik, dan benturan balik dari kolom
darah pada pangkal aorta yang baru tertutup rapat.
Mekanisme bunyi jantung ;
Bunyi jantung utama terdiri dari bunyi jantung I, II, III, dan IV.
(1) Bunyi jantung I
Bunyi jantung I ditimbulkan karena getaran akibat menutupnya katup
atrioventrikular terutama katup mitral. Pada keadaan normal terdengar
tunggal. Faktor-faktor yang memengaruhi intensitas BJ I adalah:
 Kekuatan dan kecepatan kontraksi otot ventrikel, makin Kuta dan
cepat, makin keras bunyinya.
 Posisi daun katup atrio-ventrikular pada saat sebelum kontraksi
ventrikel. Makin dekat terhadap posisi tertutup, makin kecil
kesempatan akselerasi darah yang keluar dari ventrikel, dan makin
pelan terdengarnya BJ I. Sebaliknya, makin lebar terbukanya katup
atrioventrikular sebelum kontraksi, makin keras BJ I, karena
akselerasi darah dan gerakan katup lebih cepat.
 Jarak jantung terhadap dinding dada. Pada pasien dengan dada
kurus, BJ akan terdengar lebih keras dibandingkan dengan pasien
gemuk. Demikian juga pada pasien dengan emfisema pulmonum, BJ
akan terdengar lebih lemah.
(2) Bunyi jantung II
Bunyi jantung II (BJ II) timbul karena getaran menutupnya katup semilunar
Aorta maupun Pulmonal. Pada keadaan normal, terdengar pemisahan
(splitting) dari kedua komponen yang bervariasi dengan pernapasan pada
anak-anak atau orang muda. Bunyi jantung II terdiri dari komponen aorta
dan pulmonal (BJ II = A2 + P2). Komponen A2 lebih keras terdengar
pada area aorta di sekitar ruang intercostal II kanan. Komponen P2 hanya
dapat terdengar keras di sekitar area pulmonal.
(3) Bunyi jantung III
Bunyi jantung III (BJ III) disebabkan oleh getaran cepat dari aliran darah
saat pengisian cepat (rapid filling phase) dari ventrikel. Hanya terdengar
pada anak-anak atau dewasa muda atau keadaan dimana compliance otot
ventrikel menurun (hipertrofi atau dilatasi).
(4) Bunyi jantung IV
Bunyi jantung IV (BJ IV) disebabkan oleh kontraksi atrium yang
mengalirkan darah ke ventrikel yang compliance menurun. Jika atrium
tidak berkontraksi dengan efisien, misalnya pada atrial fibrilasi, maka bunyi
jantung IV tidak terdengar.Bunyi jantung sering dinamakan berdasarkan
daerah katup dimana bunyi tersebut didengar. M1 berarti bunyi jantung I di
daerah mitral. P2 berarti bunyi jantung II di daerah pulmonal. Bunyi jantung
I akan terdengar jelas di daerah apeks, sedangkan bunyi jantung II dikatakan
mengeras jika intensitasnya terdengar sama keras dengan bunyi jantung I di
apeks.
2. Tujuan

a. Mahasiswa mengerti dan memahami dasar dan kegunaan pemeriksaan bunyi


jantung.
b. Mahasiswa terampil mengenali bunyi jantung normal (BJ I dan II) dan dapat
menentukan posisi stetoskop untuk mendengarkan masing-masing BJ dengan
intensitas bunyi yang terbaik.
c. Mahasiswa mengetahui secara teoritis bunyi tambahan pada jantung bila terjadi
kelainan pada katup, sekat dan otot jantung.

C. Konsep Dasar
1. Prinsip – prinsip dasar bunyi
Suara dekat jantung yang didengar oleh dokter sebenarnya merupakan
proses terjadinya pembukaan dan penutupan katup jantung. Detak jantung
menghasilkan dua suara yang berbeda yang dapat didengarkan pada stetoskop yang
sering dinyatakan dengan lub-dub. Pada umumnya suara jantung yang dihasilkan
dari aktifitas jantung akan sinkron dengan rekaman EKG seperti ditunjukan
pada Gambar 2.2 berikut. Gambar 2.2. Sinkronisasi rekaman aktifitas jantung
dengan EKG dengan suara jantung. Suara lub disebabkan oleh penutupan katup
tricuspid dan mitral (atrioventrikular) yang memungkinkan aliran darah dari
serambi jantung (atria) ke bilik jantung (ventricle) dan mencegah aliran darah
membalik. Umumnya suara jantung pertama (S1), yang terjadi hampir bersamaan
dengan timbulnya QRS dari elektrokardiogram dan terjadi sebelum periode jantung
berkontraksi (systole) Suara dub disebut suara jantung ke-dua (S2) dan disebabkan
oleh penutupan katup semilunar (aortic dan pulmonary) yang membebaskan darah ke
sistem sirkulasi paru-paru dan sistemik. Katup ini tertutup pada akhir systole dan
sebelum katup atrioventikular membuka kembali. Suara S2 ini terjadi hampir
bersamaan dengan akhir gelombang T dari EKG, suara jantung ke-tiga (S3) sesuai
dengan berhentinya pengisian atrioventikular ,sedangkan suara jantung ke-empat (S4)
memiliki korelasi dengan kontraksi atria. Pada jantung abnormal terdapat suara
tambahan yang disebut Murmur. Murmur disebabkan oleh pembukaan katub yang tidak
sempurna atau stenotic (yang memaksa darah melewati bukaan sempit),
atau regurgitasi yang disebabkan oleh penutupan katub yang tidak sempurna dan
mengakibatkan aliran balik darah. Dalam masing-masing kasus suara yang timbul
adalah akibat aliran darah dengan kecepatan tinggi yang melewati bukaan sempit.
Selain itu penyebab terjadinya murmur adalah kebocoran septum yang memisahkan
bagian jantung sebelah kiri dan kanan, sehingga darah mengalir dari ventrikel kiri
ke ventrikel kanan yang mana proses ini menyimpangkan sirkulasi sistemik. Suara
jantung normal memiliki rentang frekuensi antara 20 hingga 100 Hz, sedangkan
suara murmur mempunyai rentang frekuensi hingga 1000 Hz. Suara jantung S1
terdiri atas energi dalam rentang frekuensi 30 hingga 45 Hz, yang sebagian besar
berada dibagian bawah ambang batas pendengaran manusia. Suara jantung S2
biasanya memiliki nada yang lebih tinggi dengan energi maksimum yang berada dalam
rentang 50 hingga 70 Hz. Suara jantung S3 merupakan vibrasi yang sangat lemah dengan
hampir semua energinya dibawah 30 Hz. Salah satu jenis Regurgitasi yang
menyebabkan murmur dalam rentang frekuensi antara 100 hingga 600 Hz dan bahkan
untuk jenis murmur tertentu hingga 1000 Hz

2. Aktivitas mekanik jantung yang dapat menimbulkan getaran


Kata mekanik disini sebenarnya merujuk padamekanisme kerja jantung sebagai
mesin pompa darah. Akivitas mekanik jantung berupa kontraksi otot jantung. Ini
berawal dari dinding atas atrium kanan jantung.Kontraksi ini merupakan kegiatan memeras
sehinggamenyebabkan darah terdorong ke pembuluh.
Otot jantung merupakan sinsitium dari serabut selotot jantung. Sinsitium disini adalah
rangkaian sel otot jantung yang dihubungkan oleh membran yang bernamadiskus
interkalatus. Konsep mekanis dari sinsitium ini adalah mempermudah konduksi
potensial aksi dari satu selotot jantung ke sel otot jantung lainnya. Diskus interkalatus yang
sangat permeable juga mempermudah difusi ion ion sehingga mempermudah
pembentukan potensial aksi.
Kontraksi atrium jantung berawal dari salah satuelemen konduksi jantung yaitu SA
(Sinoatriale) node. SA node menghasilkan potensial aksi yang kemudiandihantarkan
keseluruh dinding otot atrium. Potensialaksi ini akan menjalar ke tubulus sarkoplasmikmelalui
tubulus transversus (T). Adanya potensial ini merangsang pelepasan ion-
ionkalsium yang ada pada retikulum sarkoplasmik untukberdifusi ke sarkoplasma kemudian ke
miofibril danakirnya digunakan untuk mengatalisis reaksi kimiawipergeseran aktin dan
myosin. Pergeseran ini memicukontraksi otot atrium.
Kontraksi ventrikel jantung juga berawal dari salahsatu elemen konduksi jantung yaitu
SA (Sinoatriale)node.SA node menghasilkan potensial aksi
yang kemudiandihantarkan dalam bentuk impuls ke otot ventrikel.Disini potensial
aksi akan menyebar disepanjang otototot ventrikel sampai ke permukaan epikardium
danserabut-serabut otot jantung. Kemudian menjalar melalui tubulus transversus (T) ketubulus
sarkoplasmik. Potensial ini menyebabkan pelepasan ion-ion kalsiumke dalam sarkoplasma dari
retikulum sarkoplasmik. Kemudian ion-ion kalsium ini akan berdifusi kedalam miofibril dan
akan digunakan sebagaikatalisator pergeseran (sliding) filamen-filamen aktindan
myosin. Pergeseran antara aktin dan myosin inilah yang menyebabkan kontraksi otot ventrikel
jantung(Gerakan memeras). Hal ini menimbulkan getaran.

3. Dasar terjadinya aliran darah turbulen dalam jantung selama aktivitas jantung.

Aliran turbulen adalah aliran fluida yang partikel-partikelnya bergerak secara


acak dan tidak stabil dengan kecepatan berfluktuasi yang saling interaksi. Akibat dari hal
tersebut garis alir antar partikel fluidanya saling berpotongan. Oleh Osborne Reynold
digambarkan sebagai bentuk yang tidak stabil yang bercampur dalam wamtu yang
cepat yang selanjutnya memecah dan menjadi takterlihat. Aliran turbulen
mempunyai bilangan reynold yang lebih besar dari 3000. Aliran darah biasanya
mengalir secara laminer ( streamline), tetapi pada beberapa tempat terjadi
turbulensi, misalnya pada valvula jantung ( katup jantung )Apabila aliran darah hanya
secara laminer saja, tidak mungkin bisa memperoleh informasi tentang
keadaan jantung dengan Stetoskop. Tetapi dengan menggunakan alat pengukur
tekanan darah , dan menggunakan pressure cuff, maka aliran darah akan dibuat
turbulensi dan menghasilkan fibrasi sehingga bunyi jantung dapat di dengar
dengan stetoskop.

4. Bising sistolis dan bising diastolis


Bising sistolis merupakan bising tekanan darah yang tercipta karena adanya
kontraksi jantung sehingga mendorong darah melalui arteri ke seluruh tubuh
kita, dengan mengacu pada jumlah tekanan darah yang ada dalam arteri inilah
yang disebut dengan tekanan darah sistolik, biasa disebut dengan tekanan darah
atas.
Bising diastolis merupakan bising saat tekanan darah pada kontradiksi jantung
telah berakhir (yang sebelumnya dikatakan sebagai tekanan darah sistolik),
selanjutnya organ jantung akan menjadi rileks sehingga suplai darah ke aorta akan
berhenti. Pada kondisi inilah aorta akan kembali ke posisi semula atau tidak akan
panjang dan gembung lagi. Langkah pengembalian atau mundur ini akan
menyebabkan adanya tekanan ke darah, dan tekanan pada dinding pembuluh darah
ketika rileksasi jantung inilah yang dikatakan sebagai tekanan darah diastolik
(tekanan darah saat jantung sedang santai).

D. Definisi dan Cara Kerja


Tahap 1 :
1. Siapkan alat dan bahan
2. Pemeriksa meminta izin kepada orang coba dilakukan pengukuran
3. Memposisikan orang coba dalam keadaan/duduk
4. Sebaiknya permukaan dada dibebaskan dari pakaian; agar terlihat jelas spatium
interkostalis, tapi sternum, prosessus xyphoideus, khususnya bila orang cobanya
laki-laki

Tahap 2 : Pemeriksaan Bunyi Jantung


1. Pertama-tama pasang stetoskop
2. Perhatikan tempat-tempat dipermukaan dada yang terbaik untuk mendengar
masing-masing Bunyi Jantung
3. Raba denyut nadi radialis; rasakan “kembang-kempisnya”
4. Selanjutnya, letakkan corong bel stetoskop pada tempat-tempat yang tepat
(berdasarkan kepustakaan}; lalu dengarkan bunyi jantung sambal merasakan
“kembang-kempisnya” arteri radialis. Tentukan yang mana BJ I dan yang mana BJ
II
5. Coba amati; apakah terdengar bunyi tambahan (Bunyi selain BJ I dan BJ II)
6. Coba lanjutkan, amati BJ I dan BJ II saat tungkai ditinggikan dan dilipat. Amati
juga BJ III, apakah terdengar.

E. Hasil
Sebelum beraktivitas
Bunyi Jantung I :
1. Posisi Normal
Pada ICS 6 tidak terdengar terlalu jelas, sedangkan pada ICS 5 terdengar lebih jelas
dan setelah nadi diperiksa, bunyi jantung pada ICS 5 seirama dengan bunyi pada
nadi.
2. Posisi Tungkai dilipat
Pada saat stetoskop diletakkan di ICS 5 dan tungkai orang coba dilipat terdengar
sedikit perubahan Bunyi Jantung sedikit lebih keras
3. Posisi Tungkai ditinggikan
Sedangkan saat tungkai ditinggikan dan diperiksa bunyi jantungnya terdengar lebih
jelas dibandingkan dalam posisi normal dan tungkai dilipat

Bunyi Jantung II :
1. Posisi Normal
Pada ICS 3 tidak terdengar terlalu jelas, sedangkan pada ICS 2 terdengar lebih jelas
dan setelah nadi diperiksa, bunyi jantung pada ICS 2 seirama dengan bunyi pada
nadi.
2. Posisi Tungkai dilipat
Pada saat stetoskop diletakkan di ICS 2 dan tungkai orang coba dilipat terdengar
sedikit perubahan Bunyi Jantung sedikit lebih keras
3. Posisi Tungkai ditinggikan
Sedangkan saat tungkai ditinggikan dan diperiksa bunyi jantungnya terdengar lebih
jelas dibandingkan dalam posisi normal dan tungkai dilipat.

Sesudah beraktivitas :
Bunyi Jantung I :
1. Posisi Normal
Pada ICS 5 terdengar sangat jelas dan lebih cepat setelah beraktivitas, bunyi jantung
pada ICS 65 seirama dengan bunyi pada nadi.
2. Posisi Tungkai dilipat
Pada saat stetoskop diletakkan di ICS 5 dan tungkai orang coba dilipat terdengar
sedikit perubahan dari Bunyi Jantung dalam posisi normal sedikit lebih keras
3. Posisi Tungkai ditinggikan
Sedangkan saat tungkai ditinggikan dan diperiksa bunyi jantungnya terdengar
sangat jelas dibandingkan dalam posisi normal dan tungkai dilipat

Bunyi Jantung II :
1. Posisi Normal
Pada ICS 2 terdengar sangat jelas dan lebih cepat setelah beraktivitas, bunyi jantung
pada ICS 2 seirama dengan bunyi pada nadi.
2. Posisi Tungkai dilipat
Pada saat stetoskop diletakkan di ICS 2 dan tungkai orang coba dilipat terdengar
sedikit perubahan dari Bunyi Jantung dalam posisi normal sedikit lebih keras
3. Posisi Tungkai ditinggikan
Sedangkan saat tungkai ditinggikan dan diperiksa bunyi jantungnya terdengar
sangat jelas dibandingkan dalam posisi normal dan tungkai dilipat

F. Pembahasan

Pengukuran denyut jantung di lakukan dengan menggunakan stethoscope yang


di letakkan pada apeks jantung di daerah interkostal kelima sebelah dalam garis
midklavikula, pada wanita lebih mudahnya berada di bawah glandula mamae.
Stetoskop digunakan untuk mempermudah mendengar dua bunyi
jantung utama selamasiklus jantung. Mendengarkan denyut jantung menggunakan stet
oskop, merupakan sebuah proses yang dikenal sebagai ausculatation, yaitu metode
pengukuran kecepatan denyut jantung yang lebih akurat. Bunyi jantung pertama
berkaitan dengan penutupan katup atrioventrikular (AV) yang terletak di antara
ventrikel dan atrium,sedangkan bunyi
kedua berkaitan dengan penutupan katup semilunaris. Pembukaan katup tidak menim
bulkan bunyi apapun. Bunyi timbul karena getaran yang terjadi di dinding ventrikel dan
arteri-arteri besar ketika katup menutup, bukan oleh derik penutupan katup. Karena
penutupan katup AV terjadi pada awal kontraksi ventrikel ketika tekanan ventrikel
pertama kali melebihi tekanan atrium, bunyi jantung pertama menandakan sistol
ventrikel. Penutupan katup semilunaris terjadi pada awal relaksasi ventrikel ketika
tekanan ventrikel kanan dan kiri turun di bawah tekanan aorta dan arteri pulmonalis.
Dengan demikian, bunyi jantung
keduamenandakan permulaan diastol ventrikel. Dan Bunyi jantung pertama bernada r
endah, lunak, dan relatif lama,sering dikatakan terdengar seperti ”lub”. Bunyi jantung
kedua memiliki nada yang memiliki nada yang lebih tinggi, lebih singkat dan tajam
sering dikatakan terdengar seperti ”dup”. Dengan demikian, dalam keadaan normal
terdengar ”lub, dup, lub, dup, lub, dup. Berdasarkan referensi, denyut jantung
normal orang dewasa adalah 55 sampai 90 kali/menit dengan rata
rata 70 kali/menit. Terdapat perubahan yang meningkat dari kecepatan denyut
jantung istirahat dengan denyut jantung aktivitas. Hal tersebut dapat dilihat dari
irama denyut jantung saat istirahat dari teratur menjadi lebih cepat saat aktivitas,
begitu pula dengan kekuatan denyut jantung yang semakin kuat pada saat aktivitas. P
erubahan tersebut terjadi karena saat berolahraga jantung dirangsang
untuk berkontraksi lebih cepat. Pada saat aktivitas terjadi peningkatan
metabolisme sel-sel otot, sehingga aliran darah meningkat untuk memindahkan zat-zat
makanan dari darah yang dibutuhkan jaringan otot sehingga curah jantung akan
meningkat untuk mensuplai kebutuhan zat makanan melalui peningkatan aliran
darah. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan frekuensi denyut jantung
yang akan meningkatkan denyut nadi pada akhirnya. Kecepatan denyut
jantung mengalami peningkatan juga akibat adanya peningkatan aktivitas simpatis
yang diiringi oleh penurunan aktivitas parasimpatis. Kekuatan denyut jantung yang
kuat juga karena otot berkontraksi dan menyebabkan tekanan sistol pada aorta/pulmo
nalis meningkat sehingga menyebabkan katup yang berhubungan menutup dengan
cepat pada akhir sistol. Hal ini mengakibatkan timbulnya letupan yang kuat sehingga
menimbulkan bunyi yang keras dan tajam.

G. Kesimpulan dan Saran

Setelah pengamatan yang dilakukan, pada saat pemeriksaan bunyi jantung I dan
II setelah beraktivitas memiliki hasil yang lebih jelas terdengar dan kecepatan jantung
juga meningkat .
Saran, sebaiknya pada saat pemeriksaan bunyi jantung di fasilitasi dengan
stetoskop yang cukup bagus agar bunyi jantung lebih terdengar dan juga ruangan
diharapkan lebih tenang agar pemeriksaan bunyi jantung lebih jelas.