Anda di halaman 1dari 8

NAMA : MUH.

FATHIR AL FATTAH
KELAS : 4B

1. Pakaian Adat Ulee Balang dari Nangroe Aceh


Darussalam
Secara adat, pemakaian busana Ulee Balang di propinsi ini hanya bagi
kalangan raja dan keluarganya serta bagi kalangan pemuka agama.

Pakaian Adat Tradisional Ulee Balang

Pakaian Ulee Balang untuk raja sering mengundang decak kagum orang yang
melihatnya karena pakaian ini memang sangat mewah dengan sulaman benang emas
mulai dari tutup kepalanya. Bahkan tak jarang pakaian ini dilengkapi dengan
aksesoris berbahan emas asli.

Sedangkan Ulee Balang untuk pemuka agama bentuknya lebih sederhana. Corak
yang digunakan hampir sama dengan Ulee Balang untuk keluarga kerajaan namun
tanpa balutan dari emas.
2. Pakaian Aesan Gede dari Sumatera Selatan
Kemegahan pakaian Aesan Gede terinspirasi dari kejayaan jaman Sriwijaya dan
Kesultanan Palembang Darussalam pada zaman dahulu.

Pakaian Adat Aesan Gede

Pakaian adat ini didominasi oleh warna merah dengan benang emas, yang
berasal dari tenunan kain songket yang berwarna gemerlap dan keemasan, sesuai
dengan citra kerajaan Sriwijaya pada zaman dahulu, yang dikenal masyarakat dunia
sebagai Swarna Dwipa atau Pulau emas.

Bukan hanya pakaiannya saja, aksesoris yang melengkapi akaian Aesan Gede
juga serba gemerlap. Sebut saja gelang gepeng, gelang kano dan gelang sempuru
yang terdapat di tangan pengantin wanita, serta kalung tapak jajo yang menghiasi
leher.
Untuk tatanan rambut dan mahkotanya, berupa sanggul Gelung Malang yang
dipadukan dengan Mahkota Aesan Gede, Bungo Tusuk Cempako, Tusuk
Teratai/Kembang Goyang dan Kelapo Setandan.

Sedangkan pengantin prianya memakai sarung songket dan celana satin


bersulam benang emas sapu tangan segitigo, gelang, pending dan selop bersulam.
3. Pakaian Adat Paes Ageng dari Yogyakarta
Sudah bisa ditebak bahwa pakaian adat dari Yogyakarta terinspirasi dari busana
tradisi Keraton Yogyakarta. Dahulu kala, Paes Ageng atau yang disebut dengan
Kebesaran, hanya boleh digunakan oleh kerabat Kraton saja. Semenjak era Sultan
Hamengku Buwono IX, Paes Ageng mulai diijinkan untuk dikenakan di luar Kraton.
Tata rias Paes Ageng lalu berkembang, dan menjadi tren di kalangan masyarakat
umum.

Pakaian Adat Paes Ageng


Paes Ageng memakai pakaian yang disebut dengan dodotan, yang terdiri dari
kain cinde dan dodotan itu sendiri. Kain dodot memiliki ukuran 4-5 meter. Biasanya,
kain dodot ini menggunakan motif semen raja yang memiliki makna agar pengantin
mempunyai hidup mulia seperti raja. Motif cinde sendiri melambangkan
penghormatan kepada Dewi Sri (dewi padi) yang melambangkan kemakmuran.

Tata rias Paes Ageng juga tidak sembarangan. Bagian dahi pengantin wanita
dihias dengan paes (make up) warna hitam dengan sisi keemasan. Demikian pula
rambutnya, yang berbentuk sanggul bokor. Demikian pula pakaian dan tata rias
untuk prianya. Ada kuluk (topi), ukel ngore (buntut rambut menjuntai) dilengkapi
sisir dan cundhuk mentul kecil.

Boleh dibilang, adat Paes Ageng ini cukup rumit, sebab mulai dari motif
pakaian, tata rias, dan aksesorisnya merupakan sebuah perlambang dan memiliki
makna tersendiri.
4. Pakaian Adat Perang dari Kalimantan Barat
Pakaian adat dari Kalimantan Barat terinspirasi dari pakaian adat Suku Dayak.
Suku mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki)
untuk laki-laki, dan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita).

Pakaian Adat Perang

Uniknya, pakaian adat ini berbahan kulit kayu yang diproses menjadi kain.
Bahan utamanya adalah kulit kayu kapuo atau ampuro. Kulit kayu tersebut dipukul-
pukul di dalam air menggunakan pemukul yang berbentuk bulat. Kemampuan
mengolah kulit kayu menjadi kain oleh masyarakat merupakan kemampuan yang
secara turun temurun diturunkan oleh nenek moyang.
Teknik menenun juga dikenal oleh masyarakat Dayak. Dan lagi, yang mereka
tenun adalah berupa serat dari kulit pohon tengang. Untuk mendapatkan warna
tertentu, mereka mencelup serat ini ke dalam air yang bercampur getah pohon
tertentu.

Aksesoris yang menonjol dari pakaian adat Perang adalah berupa ikat kepala
dengan hiasan yang berasal dari bulu burung enggang.
5. Pakaian Adat Bodo dari Sulawesi Selatan
Kita boleh berbangga bahwa baju tradisional dari Suku Bugis ini adalah salah satu
busana tertua di dunia. Bentuknya berupa segi empat,dan biasanya berlengan
pendek. Sedangkan bawahnya memakai sarung panjang.

Pakaian Adat Bodo


Sejarah baju Bodo ini cukup panjang. Sebab aturan berbusana bagi Suku Bugis
tertuang dalam kitab Patuntung yang menjadi pedoman animisme dan dinamisme di
sana. Awalnya baju bodo berasal dari kain kasa (muslin) yang tipis dan transparan.
Namun dalam perkembangannya, bahan yang digunakan menjadi semakin
bervariasi, termasuk dengan bahan sutera.

Ada aturan sendiri mengenai pemakaian warna baju bodo. Warna jingga
hanya dipakai oleh perempuan umur 10 tahun, warna jingga dan merah darah
digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun, warna merah darah untuk 17-25
tahun, warna putih digunakan oleh para inang dan dukun, warna hijau
diperuntukkan bagi puteri bangsawan sedangkan warna ungu dipakai oleh para
janda.