Anda di halaman 1dari 42

ISU-ISU TERKINI TERKAIT KEHIDUPAN SOSIAL DAN IPTEK YANG

MEMPENGARUHI PERUBAHAN PENDIDIKAN

A. Isu Terkini Terkait Kehidupan Sosial Yang Mempengaruhi Perubahan Pendidikan


1. Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM Berkarakter dan Berdaya Saing oleh Kurniasih Budi,
Kompas.com-30/08/2017, 18.44 WIB. Pemerintah menegaskan pemerataan pendidikan
dibutuhkan untuk membentuk sumber daya manusia berkarakter dan berdaya saing. Untuk
itu, pemerintah menggenjot kualitas pendidikan dan pelatihan melalui Program Indonesia
Pintar (PIP). Selain itu, perlu adanya peran keluarga, pendidikan karakter di sekolah dan
masyarakat.
2. Jokowi Minta Guru Jaga Karakter Anak dari Medsos oleh Heppy Wahyudi, 22 Juli 2017,
16:33 WIB. Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta para guru untuk mengantisipasi
perubahan yang ada di dunia saat ini. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan karakter
sehingga tidak terkontaminasi pengaruh buruk media sosial (medsos).
3. Program Guru Garis Depan akan Dirombak Oleh Kueniasih Budi, 30/08/2017, 21:20 WIB.
Pemerintah akan merevisi program Guru Garis Depan (GGD) yang selama ini diterapkan di
wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Sejumlah daerah yang menjadi target program
GGD menolak adanya guru yang dikirim dari luar wilayahnya. “Beberapa daerah meminta
agar program ini memprioritaskan guru yang merupakan putra daerah atau guru honorer di
wilayah tersebut,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat diskusi
media Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika
(Kominfo).
B. Isu Terkini Terkait IPTEK Yang Mempengaruhi Perubahan Pendidikan
1. Samsung "Godok" Kurikulum Elektronika di 20 SMK oleh Latief, Kompas.com-
29/08/2017, 16.35 WIB. Samsung Electronics Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur, Selasa (29/8/2017), meresmikan program Samsung Tech Institute
(STI) di 20 Sekolah Menengah Kejuruan di Jawa Timur. STI memberikan pelatihan dasar
elektronika untuk memperkaya kurikulum di 20 SMK tersebut. "Tujuannya ingin
menciptakan lulusan yang semakin berkualitas yang dapat diserap langsung oleh industri,"
ujar KangHyun Lee, Vice President Corporate Affairs PT Samsung Electronics Indonesia,
kepada media.
2. DPR Bentuk Pansus Sisnas Iptek Oleh Anggi Tondi Martaon, Selasa, 30 mei 2017, 14:47.
Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto mengesahkan Panitia Khusus (Pansus)
Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(Sisnas Iptek). Diharapkan, RUU tersebut akan dijadikan landasan riset teknologi.
PERTANYAAN DAN JAWABAN:
1. Pemerataan pendidikan merupakan usaha yang telah lama dirancang oleh pemerintah. Kita
menyadari bahwa adanya perbedaan yang signifikan terhadap pendidikan di Kota dan
daerah. Apakah upaya pemerintah dalam isu tersebut efektif untuk mengatasi masalah
kesenjangan pendidikan di Indonesia?
Jawaban: Pendidikan di Indonesia kini telah mengacu pada pembentukan tiga aspek, yaitu
ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan. Pemerataan pendidikan juga mengacu pada
ketiga aspek ini sehingga peserta didik mampu memberikan manfaat dalam kehidupan
bangsa dan negara.
2. Bagaimanakah pendapat Anda tentang adanya program PPG?
Jawaban: Menurut pendapat saya program ini perlu ditinjau ulang karena siswa di daerah
3T setiap tahun mengalami pergantian guru, hal ini dirasa kurang efektif.
3. Bagaimanakah cara terbaik untuk mengatasi dampak buruk pengunaan mesdos oleh anak?
Jawaban: Perlu adanya penanaman nilai karakter sejak dini tentang dampak negatif sosmed
yang dilakukan oleh keluarga, guru dan masyarakat.
Konsep dan Prinsip KTSP dan Kurikulum 2013 serta Standar Nasional Pendidikan
(SKL, SI, Standar Proses, Standar Penilaian) Kurikulum 2013
A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi, dan karakteristik
daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik. Mulyasa (2006)
menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum
tingkat satuan pendidikan, hal tersebut adalah:
1. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi, dan karakteristik
daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
2. Sekolah dan Komite Sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan
silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah
supervise dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggung jawab
di bidang pendidikan.
3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi
dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada
Standar Nasional Pendidikan.
Dalam sistem kurikulum tingkat satuan pendidikan ini sekolah memiliki full authority
and responsibility dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, misi,
dan tujuan satuan pendidikan. Dalam mewujudkannya, sekolah dituntut untuk
mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator kompetensi,
mengembangkan strategi, menentukan prioritas, mengendalikan pemberdayaan berbagai
potensi sekolah dan lingkungan sekitar, seta mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat
dan pemerintah. Dalam KTSP pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah,
serta Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan.
B. Kurikulum 2013
1. Rasional Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan kurikulum 2013 dilakukan karena adanya tantangan internal maupun
tantangan eksternal.
a. Tantangan internal terkait tuntutan pendidikan yang mengacu pada delapan Standar
Nasional Pendidikan dan faktor perkembangan penduduk Indonesia. Tantangan internal
yang dihadapi adalah mengupayakan agar sumber daya manusia yang produktif dapat
diberdayagunakan menjadi manusia yang memiliki keterampilan dalam bidang tertentu
sehingga tidak menjadi bebabn bagi negara.
b. Tantangan eksternal berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang
diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogik,
serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka.
2. Landasan Kurikulum 2013
a. Filosofis
1) Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan
masa mendatang
2) Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif.
3) Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan
akademik melalui pendidikan disiplin ilmu
4) Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari
masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap
sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa
yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism).
2. Landasan Teoritis
Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-
based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum).
Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal
warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan,
standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan,
standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis
C. Standar Nasional Pendidikan (SKL, SI, Standar Proses, Standar Penilaian)
Kurikulum 2013
1. Standar Kompetensi Lulusan
Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan
yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuandigunakan sebagai acuan utama
pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan
tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar
pembiayaan.
2. Standar Isi
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan
silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu (PP No.19 Tahun 2005 dalam Kemendikbud:2013).
3. Standar Proses
Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan
pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Proses dikembangkan
mengacu pada StandarKompetensi Lulusan dan StandarIsi yang telah ditetapkan sesuai dengan
ketentuan dalam PeraturanPemerintahNomor 19 Tahun 2005. Proses Pembelajaran pada
satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik (Kemendikbud: 2013).
4. Standar Penilaian
a. Objektif, berarti penilaian berbasis pada standardan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas
penilai.
b. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan
kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
c. Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporannya.
d. Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan
dapat diakses oleh semua pihak.
e. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal
sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
Pertanyaan dan Jawaban:
1. Apakah penyebab terjadinya perubahan kurikulum di Indonesia?
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya perubahan kurikulum di Indonesia, yaitu keluasan
dan pemerataan kesempatan belajar, upaya peningkatan mutu pendidikan, memperhatikan
relevansi pendidikan, persoalan efektivitas dan efisiesnsi pendidikan dan perubahan
paradigma pendidikan.
2. Sebutkanlah perbedaan mendasar antara KTSP dan Kurikulum 2013!
No KTSP 2006 Kurikulum 2013
1 Standar kompetensi lulusan diturunkan Standar kompetensi lulusan
dari standar isi diturunkan dari kebutuhan
2 Standar isi dirumuskan berdasarkan Standar isi diturunkan dari
tujuan mata pelajaran (standar standar kompetensi lulusan
kompetensi lulusan mata pelajaran) melalui kompetensi inti yang
yang dirinci menjadi standar bebas mata pelajaran
kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran
3 Pemisahan anatara mata pelajaran Semua mata pelajaran harus
pembentuk sikap, pembentuk berkontribusi terhadap
keterampilan, dan pembentuk pembentukkan sikap,
pengetahuan keterampilan, dan pengetahuan
4 Kompetensi diturunkan dari mata Mata pelajaran diturunkan dari
pelajaran kompetensi yang ingin dicapai
5 Mata pelajaran lepas satu dengan yang Semua mata pelajaran diikat
lain, seperti sekumpulan mata pelajaran oleh kompetensi inti (tiap
terpisah kelas)

MENDEKSKRIPSIKAN KRIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DAN KKNI DI


PERGURUAN TINGGI DAN STANDAR PENDIDIKAN TINGGI
A. Kurikulum Berbasi Kompetensi di Perguruan Tinggi
Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi/KBK berdasarkan SK Mendiknas No.
232/U/2000 yang mempunyai beberapa harapan keunggulan yaitu: ”keluaran hasil pendidikan
(outcomes) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebutuhan dunia usaha/industry, dan
kebutuhan profesi. Dengan pengertian bahwa keluaran merupakan kemampuan
mengintegrasikan keahlian intelektual, knowledge dan afektif dalam sebuah perilaku secara
utuh.”
Pembelajaran KBK didasarkan pada student-centered-learning (SCL). Dalam memilih
metode pembelajaran perlu diperhatikan kaitan antar unsur-unsur berikut, yaitu: mahasiswa,
materi ajar/bahan kajian dan sarana/alat pembelajaran.
Bentuk rancangan pembelajaran yang lazim terdiri dari Garis-garis Besar Perencanaan
Pengajaran (GBPP) yang merupakan rencana kegiatan pengajaran selama satu semester, dan
Satuan Acara Pengajaran (SAP) yang merupakan rincian kegiatan disetiap minggunya atau
setiap kegiatan tatap muka. GBPP disusun berdasarkan Analisis instruksional yang merupakan
rangkaian pencapaian tujuan instruksional/ tujuan pengajaran. Rumusan tujuan instruksional
lebih banyak pada ranah kognitif , karena rencana ini sangat dipengaruhi paradigma lama (yang
telah diuraikan diatas) sehingga kegiatan yang disusun sebagian besar berupa perkuliahan/
ceramah yang diakhiri dengan ujian tulis baik di tengah semester atau di akhir semester. Disini
kegiatan pengajaran sebagai proses dipisahkan dengan hasil belajar.
Penilaian adalah memberikan umpan balik pada kinerja/kompetensi yang ditunjukkan
mahasiswa agar dapat mengarah pada ketercapaian output dan outcome pembelajaran. Angka
bukanlah tujuan akhir dari penilaian. di dalam pembelajaran SCL untuk mencapai kompetensi
maka diajukan model penilaian secara rubrik. Rubrik merupakan panduan asesmen yang
menggambarkan kriteria yang digunakan dosen dalam menilai dan memberi tingkatan dari
hasil pekerjaan mahasiswa. Rubrik perlu memuat daftar karakteristik yang diinginkan yang
perlu ditunjukkan dalam suatu pekerjaan mahasiswa dengan panduan untuk mengevaluasi
masing-masing karakteristik tersebut.
B. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)
Berdasarkan Permendikbud No.73 tahun 2013 Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI) bidang pendidikan tinggi merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi
yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan capaian pembelajaran dari
jalur pendidikan nonformal, pendidikan informal, dan/atau pengalaman kerja ke dalam jenis
dan jenjang pendidikan tinggi. KKNI pada sistem pendidikan tinggi dinyatakan dalam Undang-
Undang Republik Indonesia nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang selanjutnya
disingkat UU Dikti 12/2012. Pasal 29 UU Dikti 12/2012 menyatakan bahwa:
1. Kerangka Kualifikasi Nasional merupakan penjenjangan capaian pembelajaran yang
menyetarakan luaran bidang pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman
kerja dalam rangka pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di
berbagai sektor.
2. Kerangka Kualifikasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi acuan pokok
dalam penetapan kompetensi lulusan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan
pendidikan profesi.
3. Penetapan kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh
Menteri.
Implementasi KKNI di Perguruan Tinggi
Pada dasarnya setiap satuan pendidikan memiliki sistem untuk menghasilkan lulusan
yang berkualitas. Sistem pendidikan tinggi di Indonesia memiliki empat tahapan pokok, yaitu
(1) masukan (input); (2) proses; (3) keluaran (output); dan (4) capaian (outcome). Setelah
mendaftarkan diri dan resmi menjadi mahasiswa, tahapan selanjutnya adalah menjalani proses
pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik memiliki unsur yang baik dalam beberapa hal,
yaitu: (1) organisasi perguruan tinggi yang sehat; (2) pengelolaan perguruan tinggi yang
transparan dan akuntabel; (3) ketersediaan rancangan pembelajaran perguruan tinggi dalam
bentuk dokumen kurikulum yang jelas dan sesuai kebutuhan pasar kerja; (4) kemampuan dan
keterampilan SDM akademik dan nonakademik yang andal dan profesional; (5) ketersediaan
sarana-prasarana dan fasilitas belajar yang memadai. Dengan memiliki kelima unsur
pembelajaran tersebut, perguruan tinggi akan dapat mengembangkan iklim akademik yang
sehat serta mengarah pada ketercapaian masyarakat akademik yang professional (Mursid,
2014).
C. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (SNPT)
Berdasarkan Permenristekdikti No. 44 tahun 2015 Standar Nasional Pendidikan Tinggi
adalah satuan standar yang meliputi Standar Nasional Pendidikan, ditambah dengan Standar
Nasional Penelitian, dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat. SNPT bertujuan
untuk menjamin agar pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi sesuai
dengan kriteria minimal sistem pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, di
seluruh wilayah hukum NKRI. SNPT dalam Permenristekdikti No. 44 tahun 2015 pada pasal
2 menyatakan bahwa SNPT terdiri atas:
1. Standar Nasional Pendidikan;
2. Standar Nasional Penelitian; dan
3. Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat.
Pertanyaan dan Jawaban:
1. Bagaimanakah perbedaan sistem belajar kurikulum berbasis kompetensi (KBK)
dengan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum berbasis isi di perguruan tinggi?
Jawaban: Proses pembelajaran di perguruan tinggi sebelum ada KBK adalah pembelajaran
berbentuk penyampaian secara tatap muka, searah dari dosen ke mahasiswa. Proses
pembelajaran seperti ini, membuat mahasiswa menjadi pasif dan tidak dapat menumbuh
kembangkan proses partisipasi aktif dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, maka perlu
dilakukan perubahan dalam proses dan materi pembelajaran di perguruan tinggi dari
berbentuk Teacher-Centered Content-Oriented (TCCO) diganti dengan menggunakan
prinsip Student-Centered Learning (SCL) yang disesuaikan dengan keadaan perguruan
tingginya
2. Apakah peran penting KKNI bagi kemajuan sistem pendidikan dan pelatihan?
Jawaban: Pemberian Pengakuan Nasional secara Konsisten terhadap “outcomes”
pendidikan dan pelatihan, struktur dan hubungan antar kualifikasi, integrasi dan korelasi
anatara jenjang karier dan jenjang kualifikasi, penyediaan wadah yang mampu memberi
fleksibilitas terhadap beragamnya kebutuhan pendidikan dan pelatihan, memberi arah yang
jelas kepada setiap individu untuk mengembangkan kompetensinya baik dalam bidang
pendidikan maupun pelatihan, mendorong optimalisasi peningkatan kualitas pendidikan dan
pelatihan, mendorong tercapainya pengakuan nasional dan internasional terhadap setiap
kualifikasi yang dikembangkan di Indonesia.
3. Jelaskanlah tujuan dibentuknya SNPT?
Jawaban:
a. Menjamin tercapainya tujuan pendidikan tinggi yang berperan strategis dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia
yang berkelanjutan;
b. menjamin agar pembelajaran pada program studi, penelitian, dan pengabdian kepada
masyarakat yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi di seluruh wilayah hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai mutu sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi;
c. mendorong agar perguruan tinggi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia mencapai mutu pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat
melampaui kriteria yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi secara
berkelanjutan.

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI LANDASAN FILOSOFIS DAN


PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN MODEL PEMBELAJARAN
BIOLOGI (BEHAVIORISME, KOGNITIVISME, DAN KONSTRUKTIVISME)

A. TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Menurut Vernon S. Gerlach & Donal P. Ely dalam bukunya teaching & Media-A
systematic Approach (1971) dalam Arsyad (2011) mengemukakan bahwa “belajar adalah
perubahan perilaku”. Menurut SUMANTRI (2004) Pembelajaran adalah suatu rangkaian
peristiwa yang mempengaruhi peserta didik atau pembelajar sedemikian rupa sehingga
perubahan perilaku yang disebut hasil belajar terfasilitas.
B. PRINSIP PEMBELAJARAN BEHAVIORISME
Pendekatan behavioris memenekankan pentingnya lingkungan dalam proses
pembentukan perilaku. Adapun ciri-ciri teori behaviorme terhadap pembelajaran siswa adalah
mementingkan pengaruh lingkungan, mementingkan peranan reaksi, mekanisme terbentuknya
hasil belajar melalui prosedur stimulus respon, peranan kemampuan yang sudah terbentuk
sebelumnya, pembentukan kebiasaan melalui latihandan pengulangan, hasil belajar yang
dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Kelebihan dari prinsip pembelajaran behaviorisme adalah membiasakan guru untuk
bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar, metode behavioristik ini sangat cocok
untuk memperoleh kemampuan yang menbutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung
unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya,
guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika
menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan, teori ini cocok
diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa,
suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk
penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian, mampu membentuk suatu perilaku
yang diinginkan mendapatkan penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat
penghargaan negatif, yang didasari pada perilaku yang tampak, dengan melalui pengulangan
dan pelatihan yang kontinue dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah
terbentuk sebelumnya. Jika anak sudah mahir dalam satu bidang tertentu maka akan lebih dapat
dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang kontinue tersebut dan lebih optimal.
Bahan pelajarn yang disusun secara hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks
dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan
pencapaian suatu ketrampilan tertentu mampu menghasilkan sustu perilaku yang konsisten
terhadap bidang tertentu.
Kekurangan prinsip pembelajaran behaviorisme adalah sebuah konsekuensi bagi guru,
untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, tidak setiap mata pelajaran
bisa menggunakan metode ini, penerapan teori behaviorisme yang salah dalam suatu situasi
pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak
menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi
berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid, murid
berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar
dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif, penggunaan hukuman yang sangat dihindari
oleh para tokoh behaviorisme justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan
siswa, murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan
yang diberikan guru, penerapan teori behaviorisme yang salah dalam suatu kondisi
pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak
menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter,komunikasi berlangsung
satu arah guru melatih dan menetukan apa yang harus dipelajari murid sehingga dapat menekan
kreatifitas siswa. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan meghafalkan
apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif sehingga inisiatif siswa
terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaiakn oleh siswa
C. PRINSIP PEMBELAJARAN KOGNITIVISME
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar.Ciri-ciri
aliran kognitivisme adalah mementingkan apa yang ada dalam diri manusia, peranan kognitif,
kondisi waktu sekarang danpembentukan struktur kognitif.
Peranan guru dalam pembelajaran berbasis kognitivisme adalah guru harus mampu
memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada
hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil
tersebut. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam
kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready
made knowledge) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan
dengan lingkungan. Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan
perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati
urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan
berbeda. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas
yang terdiri dari individu–individu ke dalam bentuk kelompok-kelompok kecil siswa dari pada
aktivitas dalam bentuk klasikal. Mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut
Piaget, pertukaran gagasan –gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran.
Walaupun penalaran tidak dapat diajarakan secara langsung, perkembangannya dapat di
simulasi.
D. PRINSIP PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
Pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran, menganjurkan pendidik untuk
pertama-tama mempelajari pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang telah ada pada
siswa berkenaan dengan suatu tugas tertentu. Model konstruktivisme dalam pembelajaran
adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental, membangun
pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya.
Kelebihan prinsip pembelajaran kontruktivisme adalah memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa
siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan
penjelasan tentang gagasannya. Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang
telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa
memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk
merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan
tentang fenomena yang menantang siswa. Memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang
pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi
tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.
Kekurangan prinsip pembelajaran kontruktivisme adalah siswa mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil
konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi. Siswa membangun
pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa
memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama,
karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan
kreatifitas siswa.
PERTANYAAN DAN JAWABAN:
1. Bagaimana contoh aplikasi teori pembelajaran behaviorisme dalam pembelajaran
yang dilakukan oleh guru?
Jawaban: Menentukan kompetensi, menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini
termasuk mengidentifikasikan “entry behavior” siswa (pengetahuan awal siswa),
menentukan materi pelajaran (pokok bahasan/topik), memecahkan materi pelajaran menjadi
bagian kecil-kecil (sub pokok bahasan), menyajikan materi pelajaran, mengamati dan
mengkaji respons yang diberikan, memberikan penguatan (reinforcementpositif ataupun
negatif), memberikan stimulus baru, mengamati dan mengkaji respons yang diberikan
(mengevaluasi hasil belajar) dan seterusnya
2. Jelaskan ciri-ciri pembelajaran berlandaskan kontruktivisme!
Jawaban: 1) Orientasi, peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi
dalam mempelajari suatu topik. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengadakan
observasi terhadap topik yang hendak dipelajari. 2) Elisitasi, peserta didik dibantu untuk
mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-
lain. Peserta didik diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasi dalam
wujud tulisan, gambar, ataupun poster. 3)Restrukturisasi ide, klarifikasi ide yang
dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau teman lewat diskusi atau pun pengumpulan ide.
4)Penggunaan ide dalam banyak situasi, 5) Review, bagaiman ide berubah.
3. Bagaimanakah proses pembelajaran yang menerapkan teori kontruktivisme?
Jawaban: Pendidik untuk mempelajari pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang
telah ada pada siswa berkenaan dengan suatu tugas tertentu. Selanjutnya pendidik menyusun
kurikulum berdasarkan hasil mempelajari pengetahuan dan ketrampilan siswa sebelumnya.
Dengan cara begitu siswa dapat mengembangkan dan memperluas pengetahuan dan
ketrampilannya dengan menghubungkan dengan pelajaran yang baru.
TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN SEBAGAI LANDASAN FILOSOFIS DAN
PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN MODEL PEMBELAJARAN
BIOLOGI (HUMANISME, REVOLUSI SOSIO-KULTURAL, DAN PEMBELAJARAN
BERMAKNA)

A. Teori Belajar Humanisme


Menurut teori ini, proses belajar dianggap berhasil apabila siswa telah memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Tujuan pendidikan humanistik yaitu:
a. Menerima kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa serta menciptakan pengalaman dan
program untuk perkembangan keunikan potensi siswa.
b. Memudahkan aktualisasi diri siswa dan perasaan diri mampu.
c. Memperkuat perolehan keterampilan dasar (akademik, pribadi, antarpribadi, komunikasi,
dan ekonomi).
d. Memutuskan pendidikan secara pribadi dan penerapannya.
e. Mengenal pentingnya perasaan manusi, nilai, dan persepsi dalam proses pendidikn.
f. Menembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti, mendukung,
menyenangkan, serta bebas dari ancaman.
g. Mengembangkan sifat ketulusan, respek dan menghargai orang lain, serta terampil dalam
menyelesaikan konflik.
Aplikasi teori humanistrik dalam kegiatan pembelajaran cenderung mendorong siswa
untuk berpikir induktif. Teori ini juga amat mementingkan faktor pengalaman dan keterlibatan
siswa secara aktif dalam belajar.
B. Teori Belajar Revolusi Sosio-Kultural
Teori belajar sosiokultur atau yang juga dikenal sebagai teori belajar ko-kontruktivistik
merupakan teori belajar yang titik utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan
bantuan orang lain dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Development
(ZPD) atau Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Di mana anak dalam
perkembangannya membutuhkan orang lain untuk memahami sesuatu dan memecahkan
masalah yang dihadapinya.
Teori yang juga disebut sebagai teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi
manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa
perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan
lingkungan sosial) intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri).
Terdapat 2 tokoh yang mendasari terbentuknya teori belajar sosio-kultural yaitu Piaget
yang berpendapat bahwa belajar ditentukan karena adanya karsa individu artinya pengetahuan
berasal dari individu. Sedangkan menurut Vygotsky perkembangan kognisi seorang anak dapat
terjadi melalui kolaborasi antar anggota dari satu generasi keluarga dengan yang lainnya.
C. Teori Belajar Bermakna
David Ausubel (1963) seorang ahli psikologi pendidikan menyatakan bahwa bahan
pelajaran yang dipelajari harus “bermakna’ (meaningfull). Belajar bermakna merupakan suatu
proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep (subsumer-subsumer) relevan yang
terdapat dalam struktur kognitif seorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep,
dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan dingat siswa. Belajar bermakna menurut
Ausubel (1963) merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-
konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Akan tetapi, bila si pembelajar hanya mencoba
menghafalkan informasi baru tadi tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah
ada dalam struktur kognitifnya tersebut, kondisi ini dikatakan sebagai belajar hafalan.
Jadi, agar terjadi belajar bermakna materi pelajaran harus bermakna secara logis, siswa
harus bertujuan untuk memasukkan materi pembelajaran tersebut ke dalam struktur
kognitifnya, dan dalam struktur kognitif siswa harus terdapat unsur-unsur yang cocok untuk
mengaitkan atau menghubungkan materi yang baru tersebut secara non-arbitrer dan substantif.
Jika salah satu komponen ini tidak ada, maka materi itu kalaupun dipelajari, akan dipelajari
secara hafalan saja.

PERTANYAAN DAN JAWABAN:


1. Apakah prinsip penting pembelajaran menurut teori belajar humanisme?
Jawaban: Menurut Carl Roes, prinsip penting pembelajaran humanisme adalah:
a. Keinginan untuk belajar (The Desire to Learn)
Rogers percaya bahwa manusia secara alamiah mempunyai keinginan untuk belajar.
Menurut pandangan humanistik anak diberi kebebasan untuk memuaskan
keingintahuan mereka, untuk mengikuti minat mereka yang tak bisa dihalangi, untuk
menemukan diri mereka sendiri, serta apa yang penting dan berarti tentang dunia yang
mengelilingi mereka.
b. Belajar secara signifikan (Significant Learning)
Belajar secara sinifikan terjadi ketika belajar dirasakan relevan terhadap kebutuhan dan
tujuan siswa. Jika siswa belajar dengan baik dan paling cepat, humanis menganggap ini
adalah belajar secara signifikan.
c. Belajar tanpa ancaman (Learning without Threat)
Proses belajar akan berjalan lancar jika siswa dapat menguji kemampuanya, dapat
mencoba pengalaman-pengalaman baru atau membuat kesalahan-kesalahan tanpa
mendapat kecaman yang biasanya menyinggung perasaan.
d. Belajar atas inisiatif sendiri (Self-initiated Learning)
Belajar atas inisiatif sendiri memusatkan perhatian siswa baik pada proses maupun hasil
belajar. Apabila siswa belajar atas inisiatif sendiri, ia memiliki kesempatan untuk
menimbang-nimbang dan membuat keputusan, menentukan pilihan, dan melekukan
penilaian. Dia juga lebih bergantung pada dirinya sendiri dan kurang bersandar pada
penilaian pihak lain.
e. Belajar dan berubah (Learning and Change)
Yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang mampu belajar di lingkungan yang sedang
berubah dan akan terus berubah.
2. Apakah kelebihan dan kekurangan dari terori belajar sosio-kultural?
Jawaban: Kelebihan dari teori belajar sosio-kultural adalah anak memperoleh kesempatan
yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui
belajar dan berkembang, pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan
potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya, pembelajaran lebih diarahkan pada
penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada
kemampuan intramental, anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan
pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat
dilakukan untuk tugas-tugas atau pemecahan masalah, proses belajar dan pembelajaran
tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi
pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di
dalamnya. Sedangkan kelemahan dari teori sosio-kultural ini yaitu terbatas pada perilaku
yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak seperti pembentukan konsep,
belajar dari berbagai sumber belajar, pemecahan masalah dan kemampuan berpikir sukar
diamati secara langsung.
3. Jelaskanlah syarat agar dapat terjadinya pembelajaran bermakna!
Jawaban:
a. Materi yang dipelajari harus bermakna secara potensial, maksudnya materi pelajaran
tersebut harus memiliki kebermaknaan logis. Materi yang memiliki kebermaknaan logis
merupakan materi yang konsisten dengan apa yang telah diketahui (disebut materi non-
arbitrer) dan materi tersebut dapat dinyatakan dalam berbagai cara, tanpa mengubah arti
(disebut materi substantif). Selain itu, aspek lain dari materi bermakna potensial ini
adalah dalam struktur kognitif siswa harus ada gagasan-gagasan yang relevan. Artinya,
pembelajaran harus memperhatikan pengalaman siswa, tingkat perkembangan mereka,
intelegensi, dan usia. Bila para siswa tidak memiliki pengalaman yang diperlukan untuk
mengaitkan atau menghubungkan isi pembelajaran tersebut, maka isi pembelajaran
tersebut harus dipelajari secara hafalan.
b. Siswa yang akan belajar harus mempunyai niat/tujuan dan kesiapan untuk melaksanakan
belajar bermakna. Tujuan belajar siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna.
Banyak siswa yang mengikuti pembelajaran nampaknya tidak relevan dengan kebutuhan
mereka pada saat itu. Dalam pembelajaran yang demikian, materi dipelajari secara
hafalan. Para siswa mungkin kelihatan dapat memberikan jawaban yang benar tanpa
menghubungkan materi itu pada aspek-aspek lain dalam struktur kognitif mereka.

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN METAKOGNITIF, PERKEMBANGAN


KEPRIBADIAN, SOSIAL, MORAL, SERTA KEBUTUHAN BELAJAR SISWA

A. Perkembangan Kognitif Anak


Menurut Chaplin (dalam Lidinillah, 2010) menjelaskan bahwa kognisi adalah konsep
umum yang mencakup semua bentuk pengenal, termasuk di dalamnya mengamati, melihat,
memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga dan
menilai.
Dalam Mohamad Nur (2004) Piagetmenyatakan bahwa terdapat menjadi 4 periode
utama seorang anak dalam memahami dunianya yaitu:
1. Periode sensorimotor (0-2 tahun)
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan
untuk mengeksplorasi dunianya. Dalam periode ini terjadi perkembangan kemampuan dan
pemahaman sepatial penting dalam enam sub tahapan, antara lain:
a. Skema reflex
b. Fase reaksi sirkuler primer
c. Reaksi sirkuler sekunder
d. Koordinasi reaksi sirkulasi sekunder
e. Fase reaksi sirkuler terseier
f. Awal representasi simbolik
2. Periode Praoperasional (2-7 tahun)
Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Menurut Nur
(2004) dipermulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu mereka tidak dapat
memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain.
3. Periode Operasional Konkrit (7-11tahun)
Pada periode ini, jean piaget membagi dalam enem tahap, antara lain pengurutan,
klasifikasi, decentering, reversibility, konservasi dan penghilangan sifat egosentrisme.
4. Periode Operasional Formal (11 tahun-dewasa)
Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak,
menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Gambar 1. Tahap Perkembangan Anak Menurut Piaget
(Sumber: https://kk4141.files.wordpress.com/2011/05/thp_kog_piaget.png)

B. Perkembangan Metakognitif
Flavell (1976) dalam Sastrawati, dkk (2011: 3) yang menyatakan “Metakognisi adalah
kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri.” Desmita (2011: 131)
menyatakan bahwa “Metakognisi adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi,
atau suatu proses menggugah rasa ingin tahu karena menggunakan proses kognitif sendiri.”
Berkaitan dengan hal itu pula Prawiradilanga (2009: 89) mengatakan “Metakognisi adalah
kemampuan seseorang untuk mengatur alur berpikir, memutuskan, memilah, bahkan untuk
melakukan introspeksi demi perbaikan pola pikir itu sendiri.” Selain itu Risnanosanti (2008:
116) menegaskan bahwa metakognisi dalam proses pembelajaran dapat dilihat dalam bentuk
siswa mengetahui dan menyadari bagaimana belajar dan mengetahui strategi pembelajaran
yang sesuai.
Perkembangan metakognitif adalah siswa mampu memilih, menggunakan, dan
memonitor strategi-strategi kognitif yang cocok dengan tipe belajar, gaya berpikir, dan gaya
kognitif yang dimiliki dalam mengahadapi tugas-tugas kognitif.

C. Perkembangan Kepribadian, Sosial, Moral Serta Kebutuhan Belajar Siswa


1. Perkembangan Kepribadian
Kepribadian adalah ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan
kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus (Koetjaraningrat, 1985:102). Adapun
unsur-unsur perkembangan kepribadian adalah pengetahuan, perasaan dan dorongan
naluri. Tahapan perkembangan kepribadian sebagai berikut:
a. Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir- 2 tahun)
Tahap ini didominasi oleh perasaan. Perasaan ini tidak tumbuh dengan sendiri melainkan
berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi terhadap stimulus lingkungan.
b. Tahap perkembangan masa kanak-kanak (umur 2-12 tahun)
Pada tahap ini perkembangan kepribadian dimulai dengan makin berkembangnya fungsi
indra anak dalam mengadakan pengamatan.
c. Tahap perkembangan pada masa preadolesen (umur 12- 15 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Anak
mulai kritis dalam menanggapi ide orang lain. anak juga mulai belajar menentukan tujuan
serta keinginan yang dapat membahagiakannya.
d. Tahap perkembangan masa adolesen (umur 15- 20 tahun)
Pada masa ini kualitas hidup manusia diwarnai oleh dorongan seksualitas yang kuat, di
samping itu mulai mengembangkan pengertian tentang kenyataan hidup serta mulai
memikirkan tingkah laku yang bernilai moral.
e. Tahap pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Mulai dapat membedakan
tujuan hidup pribadi, yakni pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok,
serta pemuasan keinginan masyarakat. Pada masa ini terjadi pula transisi peran social,
seperti dalam menindaklanjuti hubungan lawan jenis, pekerjaan, dan peranan dalam
keluarga, masyarakat maupun Negara. Realisasi setiap keinginan
2. Perkembangan Moral
Secara etimologis, kata moral berasal dari kata mos dalam bahasa Latin, bentuk jamaknya
mores, yang artinya adalah tata-cara atau adat-istiadat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1989), moral diartikan sebagai akhlak, budi pekerti, atau susila. Sedangkan menurut
Purwadarminto (dalam Sunarto, 2008)
Tingkat Tahap
Tahap 1. Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman.
Anak mengganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang
ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan
yang ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa
diganggu gugat. Ia hanya menurut kalau tidak ingin kena
hukuman.
Tahap 2. Relativistik hedonism.
Pre Conventional Pada tahap ini, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada
(0–9) aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain,
tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa
segi. Jadi ada relativisme, artinya bergantung pada kebutuhan
dan kesanggupan seseorang (hedonistik). Misalnya: mencuri
ayam karena kelaparan, karena perbuatan mencurinya untuk
memenuhi kebutuhannya (lapar) maka mencuri dianggap
sebagai perbuatan yang bermoral, meskipun perbuatan mencuri
itu sendiri diketahui sebagai perbuatan yang salah.
Tahap 3. Orientasi mengenai anak yang baik.
Pada tahap ini anak mulai memasuki belasan tahun, dimana
anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat
dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain.
Masyarakat adalah sumber belajar yang menentukan apakah
perbuatan seseorang baik atau tidak. Menjadi ‘anak manis”
Conventional masih sangat penting dalam stadium ini.
(9–15) Tahap 4. Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas.
Pada stadium ini perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang
bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan
masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut
mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma sosial. Jadi
perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan
aturan yang ada, agar tidak timbul kekacauan.
Tahap 5. Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan
lingkungan sosial.
Post Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan
Conventional lingkungan sosial dengan masyarakat. Seseorang harus
(>15 ) memperlihatkan kewajiban, harus sesuai dengan tuntutan
norma-norma sosial karena sebaliknya, lingkungan sosial atau
masyarakat akan memberikan perlindungan kepadanya.
Originalitas remaja juga tampak dalam hal ini. Remaja masih
mau diatur secara ketat oleh hukum-hukum umum yang lebih
tinggi. Meskipun di stadium ini kata hati sudah mulai berbicara,
namun penilaian – penilainnya masih belum timbul dari kata
hati yang sudah betul-betul diintenalisasi, yang sering tampak
pada sikap yang kaku.
Tahap 6. Prinsip etis universal
Pada tahap ini ada norma etik di samping norma pribadi dan
subyektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang
dengan masyarakatnya ada unsur-unsur subyektif yang menilai
apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak. Subyektivisme ini
berarti ada perbedaan penilaian antara seseorang dengan orang
lain. Dalam hal ini, unsur etika akan menentukan apa yang boleh
dan baik dilakukan atau sebaliknya. Remaja mengadakan
penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah laku
– tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab
batin sendiri. Tingkat perkembangan moral pasca konvensional
harus dicapai selama masa remaja.

3. Perkembangan Sosial
Perbedaan Individu dalam Perkembangan Sosial Sesuai dengan teori komprehensif
tentang perkembangan sosial yang dikembangkan oleh Erickson, dinyatakan bahwa manusia
(anak) hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan
segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai minat, kemampuan, dan latar belakang
kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam.
Berikut ini terori perkembangan sosial menurut Erik Erikson yang tergambar pada tahap-tahap
perkembangan anak sebagai berikut:
Umur Fase Perkembangan Perilaku
Perkembangan
0–1 Trust vs Mistrust Tahap pertama adalah tahap
pengembangan rasa percaya diri
kepada orang lain, sehingga mereka
sangat memerlukan sentuhan dan
pelukan.
2–3 Autonomy vs Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa
Shame pemberontakan anak atau masa
“nakalnya”. Namun kenakalannya
tidak dapat dicegah begitu saja, karena
tahap ini anak sedang mengembangkan
kemampuan motorik dan mental,
sehingga yang diperlukan justru
mendorong dan memberikan tempat
untukmengembangkan motorik dan
mental. Pada saat ini anak sangat
terpengaruh oleh orang-orang penting
disekitarnya, misal orang tua atau guru.
4–5 Inisiative vs Guilt Mereka banyak bertanya dalam segala
hal, sehingga terkesan
cerewet. Mereka juga mengalami
perngembangan inisiatif/ide, sampai
pada hal-hal yang berbau fantasi.
6 – 11 Indusstry vs Mereka sudah bisa mengerjakan tugas-
Inferiority tugas sekolah dan termotivasi untuk
belajar. Namun masih memiliki
kecenderungan untuk kurang hati-hati
dan menuntut perhatian.
12 - Ego-identity vs Tahap ini manusia ingin mencari
18/20 Role on fusion identitas dirinya. Anak yang sudah
beranjak menjadi remaja mulai ingin
tampil memegang peran-peran sosial di
masyarakat. Namun masih belum bisa
mengatur dan memisahkan tugas
dalam peran yang berbeda.
18/19 Intimacy vs Memasuki tahap ini manusia sudah
– 30 Isolation mulai siap menjalani hubungan intim
dengan orang lain, membangun
bahtera rumah tangga bersama calon
pilihannya
31 – Generation vs Tahap ini ditandai dengan munculnya
60 Stagnation kepedulian yang tulus terhadap
sesama. Tahap ini terjadi saat
seseorang telah memasuki usia dewasa
60 ke Ego Integrity vs Masa ini dimulai pada usia 60-an, masa
atas putus asa dimana manusia mulai
mengembangkan integritas dirinya.

4. Kebutuhan Sumber Belajar Siswa


Proses pembelajaran memerlukan sumber belajar. Kebutuhan akan sumber belajar ini
harus memperhatikan kondisi materi pembelajaran, kepribadian, moral dan sosial peserta
didik. Oleh karena itu guru memiliki peranan yang penting untuk mengarahkan siswa pada
sumber belajar yang tepat.

Pertanyaan dan Jawaban:


1. Bagaimana implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran
Jawaban:
a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan menggunakan bahasa yang
sesuai dengan cara berfikir anak.
b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-
baiknya.
c. Bahan yang dipelajari anak hendaknya dirasakan baru, tetapi tidak asing
d. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya
e. Didalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi
dengan teman-temanya.
2. Jelaskanlah bagaimana peranan metakognitif dalam pembelajaran!
Jawaban:
a. Strategi berpikir metakognitif diperlukan karena mampu menjadikan siswa mengawali
aktifitas belajarnya dengan merencanakan apa yang hendak dilakukan dan memutuskan
apa yang telah dikuasai dari yang telah dipelajari. Proses tersebut biasa kita kenal
dengan refleksi diri. Proses refleksi menjadikan pengalaman belajar siswa lebih
bermakna. Kerberhasilan terletak ketika siswa aktif mengalami sendiri proses belajar
dan mengerti tentang kegiatan belajar yang dialaminya.
b. Penerapan jurnal belajar merupakan salah satu strategi berpiki metakognitif yang dapat
dilakukan dalam proses pembelajaran. Jurnal belajar tersebut pada dasarnya dapat
melatih siswa dalam membiasakan diri untuk merefleksi dan mengevaluasi diri pada
setiap akhir proses pembelajaran agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.
3. Jelaskanlah upaya dalam membentuk kepribadian peserta didik!
Jawaban: Upaya-upaya dalam pembentukan kepribadian peserta didik adalah dengan
memberikan materi pendidikan akhlak yang meliputi :
a. Kejujuran dan kebenaran
b. Sifat lemah lembut dan rendah hati
c. Berhati-hati dalam mengambil keputusan
d. Menjadi teladan yang baik
e. Beramal shaleh dan berlomba-lomba berbuat baik
f. Menjaga diri, sabar
g. Ikhlas

PENDEKATAN LINGKUNGAN DAN SALINGTEMAS, PENDEKATAN


KETERAMPILAN PROSES DAN CBSA/SAL

A. Pendekatan Lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha
untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber
belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akaan menarik siswa, jika apa
yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan
kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan. Pengajaran dengan menggunakan pendekatan
lingkungan itu esensinya adalah menggunakan atau memanfaatkan lingkungan siswa sebagai
sumber belajar untuk keperluan pengajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
1Dalam pelaksanaannya dapat membawa kelas ke lingkungan dan dapat juga lingkungan
dibawa ke kelas.
1. Tujuan Pendekatan Lingkungan
Suprabowo (2008) menjelaskan bahwa pendekatan lingkungan dapat berdampak pada
aktivitas dalam pembelajaran karena dapat menjembatani pembentukan pengalama,
pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa
2. Ciri Kelas yang Menerapkan Pendekatan Lingkungan
Ciri kelas yang menggunakan pendekatan lingkungan yaitu: 1) Pengalaman nyata, 2)
Kerja sama, saling menunjang, 3) Gembira, belajar dengan bergairah, 4) Pembelajaran
terintegrasi, 5) Menggunakan berbagai sumber, 6) Siswa aktif dan kritis, 7) Menyenangkan,
tidak membosankan, 8) Sharing dengan teman, dan 9) Guru kreatif.
3. Penerapan Pendekatan Lingkungan di Pembelajaran
Ada beberapa langkah pembelajaran yang mencermikan pembelajarna yang
menggunakan pendekatan lingkungan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan
barunya.
2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik
3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Menghadirkan model sebagai contoh belajar
5. Melakukan refleksi di akhir pertemuan.
6. Melakukan penilain yang sebenarnya dengan berbagai cara.

B. Pendekatan SALINGTEMAS
Pendekatan SALINGTEMAS adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri
utama mempelajari isi kurikulum dengan bertitik tolak dari isu-isu dan masalah-masalah yang
dihadapi oleh siswa atau masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung
komponen sians dan teknologi. Pendekatan SALINGTEMAS sebenarnya merupakan
perkembangan dari pembelajaran science, technology, science, and environment (STCE)
(Afriawan, dkk., 2012).
Ada sebuah cara yang berguna dalam menganalisis dan merencanakan pembelajaran
SALINGTEMAS yang dikembangkan oleh Derek Hodson dalam artikelnya. Dia menunjukkan
bahwa ada empat tingkat pembelajaran SALINGTEMAS dalam kelas, yaitu sebagai berikut.
a. Level 1: Menghargai dampak sosial dari perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
mengakui bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi, sampai batas tertentu, saling
menentukan.
b. Level 2: menyadari bahwa keputusan tentang perkembangan sains dan teknologi
dikembangnakn demi kepentingan tertenut dan bahwa manfaat dari satu aspek mungkin
mempengaruhi aspek lainnya.
c. Level 3: Mengembangkan pandangan sendiri terhadap empat aspek dalam
SALINGTEMAS.
d. Level 4: persiapan dan pengambilan tindakan terkait SALINGTEMAS (Bencze, 2011).

Gambar 1.2 Hubungan Aspek Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat (sumber:
Bencze, 2011)

1. Tujuan Pendekatan SALINGTEMAS


a. Memberi pembelajaran sains secara kontestual siswa dibawa ke situasi untuk
memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.
b. Memfasilitasi siswa untuk berpikir tentang berbagai keumungkinan akibat yang terjadi
dalam proses transfer sains ke bentuk teknologi.
2. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Pendekatan SALINGTEMAS
a. Tahap apersepsi (inisiasi, invitasi dan eksplorasi)
b. Dalam pembentukan konsep
c. Tahap aplikasi konsep atau menyelesaikan masalah
d. Tahap pemantapan konsep
e. Tahap evaluasi
C. Pendekatan Keterampilan Proses
1. Definisi Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan
belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses
pemerolehan hasil belajar (Conny, 1992 dalam Aisyah). Aisyah melanjutkan pendekatan
keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai
dengan pelaksaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini. Dalam
pembelajaran matematika pun, pendekatan keterampilan proses ini sangat cocok digunakan.
Ada beberapa keterampilan proses di dalam pembelajaran menurut Conny (1992)
dalam Aisyah, yaitu kemampuan mengamati, menghitung, mengukur, mengklasifikasikan,
menemukan hubungan, membuat prediksi, melaksanakan penelitian, mengumpulkan dan
menganalisis data, menginterpretasikan data, dan mengkomunikasiakn hasil. Selain itu, ada
beberapa prinsip yang harus muncul di dalam CBSA ada delapan, yaitu: (1) motivasi siswa,
(2) pengetahuan prasyarat, (3) tujuan yang akan dicapai, (4) hubungan sosial, (5) belajar sambil
bekerja, (6) perbedaan individu, (7) menemukan, dan (8) pemecahan masalah. Sedangkan
prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual ada tujuh, yaitu : (1) konstruktivis (constructivism),
(2) inkuiri (inquiry), (3) bertanya (questioning),(4) masyarakat belajar (learning community),
(5) pemodelan (modeling), (6) refleksi (reflection) dan (7) penilaian yang sebenarnya
(authentic assestment).
2. Pendekatan Keterampilan Proses dalam Kurikulum 2013
Pendekatan ilmiah pada kurikulum 2013 hakikatnya adalah pembelajaran berpusat pada
siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai
esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Prinsip-prinsip dasar PKP
yang telah saya sampaikan di bagian sebelumnya dalam resume ini sebenarnya tercermin dalam
pembelajaran yang menganut kurikulum 2013. Pendekatann sains yang terdiri dari 5 M
merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan keterampilan proses siswa.

D. Pendekatan CBSA/SAL
1. Pengertian CBSA
CBSA merupakan pembelajaran yang diadopsi dari pembelajaran di Amerika, yaitu
Student Active Learning (SAL) (Said & Affan, 1987). Ada beberapa literatur yang menjelaskan
pengertian CBSA atau SAL. Berikut beberapa pengertian tersebut.
1. CBSA adalah cara mengajar dengan melibatkan aktivitas siswa secara maksimal dalam
proses belajar, baik kegiatan mental, intelektual, kegiatan emosional, maupun kegiatan fisik
secara terpadu (Gulo, 2002).
2. CBSA merupakan sistem untuk mendorong murid aktif belajar, sedangkan guru hanya
memberikan pengarahan dari belakang (Darmaningtyas, 2004).

Gambar 1.1 Gambaran Pembelajaran CBSA di Kelas


2. Prinsip Pembelajaran CBSA
Ada beberapa prinsip yang dapat ditemukan dalam pembelajaran CBSA. Berikut
beberapa prinsip CBSA yang dikumpulkan oleh Sulo (2002).
1. Prinsip motivasi yakni penumbuhan motivasi belajar, baik motivasi intrinsik (motif yang
menjadi bagian dari prilaku belajar: rasa ingin tahu) maupun motivasi ekstrinsik (diluar
prilaku belajar: ingin hadiah dari orang tua). Guru hendaknya menjadi motivator yakni
berusaha menumbuhkan motivasi belajar, utamanya motivasi intrinsik dalam belajar.
2. Prinsip latar atau konteks yakni memposisikan pengalaman belajar baru yang akan/sedang
dilakukan diantara pengalaman belajar yang telah menjadi miliknya
(pengetahuan/pemahaman, nilai/sikap, dan atau ketrampilan yang telah dikuasai). Dengan
pemberian kaitan (termasuk apersepsi), pengalaman belajar yang baru akan manjadi bagian
dari struktur kognitif, baik melalui asimilasi (pembauran) maupun akomodasi
(penempatan).
3. Prinsip fokus yakni keterarahan kepada suatu titik pusat perhatian yang dapat dilakukan
dengan cara merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, pertanyaan yang hendak
dijawab, konsep yang akan ditemukan, dsbnya. Titik fokus ini hendaknya menjadi pusat
perhatian murid dan dapat mengaitkan atau menghubungkan seluruh bahan yang sedang
dipelajari dengan khasanah kognitif yang telah ada.
4. Prinsip sosialisasi (hubungan sosial) yakni belajar dalam kelompok agar dapat bekerjasama
dengan teman sebaya dalam proses pembelajaran itu, seperti diskusi kelompok, kerja
kelompok, dan lainnya.
5. Prinsip belajar sambil bekerja, bermain, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan keinginan
murid untuk melakukan kegiatan manipulatif.
6. Prinsip individualisasi yakni penyesuaian kegiatan pembelajaran dengan perbedaan
individual murid.
7. Prinsip menemukan yakni dengan pemberian informasi pancingan agar murid terdorong
untuk menemukan informasi selanjutnya.
8. Prinsip pemecahan masalah yakni murid peka untuk menemukan dan atau merumuskan
masalah, dan mencari cara pemecahannya
3. Indikator Pembelajaran CBSA
Ada beberapa indikator yang mengindikasikan suatu pembelajaran dapat dikatan
sebagai pembelajaran yang menganut prinsip CBSA. Berikut adalah beberapa indikator
pembelajaran CBSA menurut Sulo (2002).
1. Keterlibatan murid dalam pembelajaran, baik keterlibatan fisik maupun yang
utamaketerlibatan mental,seperti pengikatan diri (tersitanya perhatian dan pikiran) kepada
tugasyang dihadapi , penyelesaian tugas secara tuntas yang melebihi dari apa yang
diharapkan,tergugahnya emosi oleh suasana yang tersirat dalam pembelajaaran.
2. Prakarsa murid dalam pembelajaran, seperti keberanian mengemukakan pendapat
tanpadiminta, mengemukakan usul dalam penetapan tujuan dan atau cara kerja, kesediaan
mencarialat serta sumber belajar tambahan, dan sebagainya
3. Peranan guru lebih ditekankan sebagai fasilitator (penyediaan dan pengelolaan fasilitas
pembelajaran), pemantau kegiatan pembelajaran, dan selalu siap memberi balikan
yangdiperlukan murid (siap ulur tangan dan bukannya campur tangan, sesuai prinsip Tut
WuriHandayani).
4. Belajar dengan pengalaman langsung (belajar eksperiensial, experiential learning). Belajar
eksperiensial ada 3 macam ranah, yaitu: dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
5. Variasi penggunaan multi metode dan multi media dalam setiap pembelajaran yang
diikutidengan keragaman bentuk dan alat dalam kegiatan pembelajaran.
6. Kualitas interaksi antar murid dalam pembelajaran, baik aspek intelektual maupun aspek
sosio-emosional, yang akan mengembangkan kompetensi sosial, utamanya kemauan
dankemampuan bekerja sama.
4. Pembelajaran CBSA
Pada pembelajaran CBSA, ada beberapa aspek yang terlibat dan saling mempengaruhi
selama pembelajaran. Gambar berikut merupakan ringkasan hubungan antar aspek tersebut.

Gambar 1.2 Aspek yang terlibat di dalam pembelajaran CBSA


Berdasarkan Gambar 1.2 tersebut, dapat diketahui beberapa aspek yang ada di dalam
pembelajaran CBSA. Keaktifan siswa sangat mempengaruhi optimalisasi pembelajaran.
Optimalisasi pembelajarna tersebut pun akhirnya mempengaruhi proses kognitif siswa yang
telah kita pelajari di pertemuan perkuliahan PBM sebelumnya, yaitu proses kognitif yang
terjadi pada siswa yang meliputi asimilasi dan akomodasi. Pembelajaran ini pun juga akan
meningkatkan kemampuan metakognitif yang dimiliki siswa.

PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN SAINTIFIK, PENDEKATAN KOOPERATIF


DAN PENDEKATAN MULTIKULTURAL

E. Pendekatan Kontekstual
1. Pengertian Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep yang membantu kita mengaitkan materi
yang disampaikan dengan situasi nyata peserta dan mendorong peserta membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kondisi yang ada atau
kondisi yang dialami oleh peserta pelatihan (Santoso, 2010).
Pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan yang memungkinkan terjadinya
proses belajar dan di dalamnya siswa dimungkinkan menerapkan pemahaman serta
kemampuan akademik mereka dalam berbagai variasi konteks, di dalam maupun luar kelas,
untuk menyelesaikan permasalahan nyata atu yang disimulasikan baik secara individu maupun
berkelompok (Tim Pengembang Ilmu Pendididkan UPI, 2007).
2. Ciri Pendekatan Kontekstual
Secara umum, ciri-ciri pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut.
1. Belajar berbasis masalah, menggunakan masalah faktual sebagai suatu konteks bagi peserta
didik untuk beajar berpikir kritis dan terampil dalam pemecahan masalah, sehinga mereka
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelatihan.
2. Pengajaran otentik, mengarahkan peserta didik untuk mempelajari konteks bermakna
terhadap fenomena-fenomena yang dihadapi.
3. Belajar berbasis inkuiri, menggunakan strategi pembelajaran yang mengikuti metodologi
sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4. Belajar berbasis proyek/tugas terstruktr, yaitu melakukan penyelidikan terhadap masalah
otentik, termasuk pendalaman materi dan pelaksanaan tugas yang lain.
5. Belajar berbasis kerja, dengan menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari
materi pelatihan, serta menerapkan kembali materi pelatihan tersebut di dalam tempat kerja
(Santoso, 2010).
c. Tahapan Pembelajaran dengan Pendekatan Konteksual
Kita dapat menemukan tahapan yang harus dilalui guru dalam pendekatan kontekstual
di Santoso (2010). Berdasarkan sumber tersebut, kita harus melaksanakan beberapa hal sebagai
berikut.
1. Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari peserta didik.
2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup peserta didik.
3. Mempelajari lingkungan peserta didik yang selanjutnya memilih dan mengaitkan dengan
konsep atau teori yang akan dibahas.
4. Merancang pelatihan dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan
mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki peserta didik.
5. Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman peserta didik dimana hasilnya nanti dijadikan
bahan referensi terhadap rencana pembelajaran selanjutnya (Santoso, 2010).

3. Tujuan Pendekatan Kontekstual


Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Pemecahan masalah merupakan aspek penting di dalam
proses pembelajaran sains sebab di samping menyangkut penerapan konsep atau pengetahuan
yang telah diperoleh melalui proses belajar juga merupakan wahana untuk memperoleh
pengetahuan baru. Oleh karena itu, penting bagi siswa mengetahui ‫״‬untuk apa‫ ״‬ia belajar dan
‫״‬bagaimana menggunakan‫ ״‬pengetahuan dan keterampilannya itu untuk memecahkan masalah
yang dihadapi. Dengan demikian, tujuan pembelajaran kontekstual adalah membekali siswa
dengan pengetahuan dan keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan untuk
memecahkan masalah-masalah nyata yang dihadapi.

F. Pendekatan Saintifik
a. Pengertian Pendekatan Saintifik dan Hubungannnya dengan K13
Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajarna yang berorientasi pada
siswa. Di dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifif, peserta didik mengkonstruksi
pengetahuan bagi dirinya. Bagi peserta didik, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis,
berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya
menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak (Nasution,
2013). Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang digunakan sebagai dasar
pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran dalam
Kurikulum 2013 meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, dan mengkomunikasikan
untuk semua mata pelajaran.
b. Pembelajaran yang Menggunakan Pendekatan Saintifik
Proses pembelajaran saintifik menyentuh tiga ranah pembelajaran, yaitu sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Proses pembelajaran yang melibatkan ketiga ranah tersebut
digambar sebagai berikut.
Gambar 1. Aspek dalam Kegiatan Pembelajaran dengan pendekatan saintifik
Berikut adalah penjelasan tahapan pendekatan saintifik yang menganut 5 M, seperti
pada kurikulum 2013.
1. Mengamati
Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull
learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek
secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.
2. Menanya
Langkah kedua dalam pembelajaran saintifik adalah bertanya. Bertanya di sini dapat
pertanyaan dari guru atau dari murid.
3. Mencoba
Hasil belajar yang nyata akan diperoleh peserta didik dengan mencoba atau melakukan
percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai.

4. Mengolah
Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi
langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola interaksi itu dilakukan melalui stimulus
dan respons (S-R). Bandura mengembangkan asosiasi dalam pembelajaran dapat dilakukan
melalui proses peniruan (imitation). Kemampuan peserta didik dalam meniru respons
menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi
landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-
nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan
peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dantemannya di kelas.
5. Mengkomunikasikan
Langkah pembelajaran yang kelima adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengkomunikasikan hasil percobaan dan asosiasinya kepada siswa lain dan guru untuk
mendapatkan tanggapan. Langkah ini memberikan keuntungan kepada siswa dalam
meningkatkan rasa percaya diri dan kesungguhan dalam belajar.

G. Pendekatan Kooperatif
1. Pengertian Pendekatan Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang bersifat student centered.
Beberapa ahli memiliki pandangan yang hampir sama mengenai pembelajaran kooperatif.
Berikut pandangan-pandangan tersebut.
1. Menurut Felder & Brent (2007) istilah pembelajaran kooperatif mengacu pada kegiatan
siswa yang bekerja sama sebagai satu kelompok untuk menyelesaikan tugas di bawah
kondisi yang memenuhi kriteria tertentu yang di dalam kegiatan tersebut setiap anggota
kelompok turut memiliki tnaggung jawab individual dalam keterselesaian tugas tersebut.
2. Menurut Slavin (1995), pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang melibatkan
kelompok kecil yang saling bekerja sama, saling memberikan atau menukar ide dan
bertanggung jawab terhadap kelompok mereka di samping diri mereka sendiri.
3. Tahapan Pembelajaran dengan Pendekatan Kooperatif
Tabel 1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1 Guru menyampaikan semua tujuan
Menyampaikan tujuan dan pelajaran yang ingin dicapai pada
memotivasi siswa pelajaran tersebut dan memotivasi
siswa belajar
Fase 2 Guru menyajikan informasi kepada
Menyajikan Informasi siswa dengan jalan demonstrasi atau
lewat bahan bacaan
Fase 3 Guru menjelaskan kepada siswa
Mengorganisasikan siswa bagaimana caranya membentuk
ke dalam kelompok kelompok belajar dan membantu setiap
kooperatif kelompok agar melakukan transisi
secara efisies.
Fase 4 Guru membimbing kelompok-
Membimbing kelompok kelompok belajar pada saat mereka
bekerja dan belajar mengerjakan tugas mereka.
Fase 5 Guru mengevaluasi hasil belajar
Evaluasi tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok
mempresentasian hasil kerjanya.
Fase 6 Guru mencari cara-cara untuk
Memberikan Penghargaan menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok.

4. Manfaat Pendekatan Kooperatif


Berikut adalah manfaat penerapan pembelajaran kooperatif yang telah diungkap oleh
Felder & Brent (2007) jika dibanding dengan pembelajaran konvensional.
1. Pembelajaran kooperatif cenderung menjadikan siswa memiliki kemampuan akademik
yang lebih tinggi.
2. Ketekunan siswa lebih besar untuk lulus.
3. Kemampuan menalar dan berpikir kritis siswa lebih tinggi.
4. Siswa dapat memahami materi pelajaran lebih mendalam.
5. Siswa memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugas dan waktu untuk
melakukan kegiatan yang dapat mengganggu proses pembelajaran menjadi berkurang.

H. Pendekatan Multikultural
1. Pengertian Pendekatan Multikultural
Ada berbagai pendapat mengenai pengertian pembelajaran multikultural. Berikut
beberapa pendapat tersebut.
1. Multikulturan merupakan pembelajarna yang menggunakan pendekatan pluralisitik untuk
memahami dua atau lebih kebudayaan (Santrock, 2003).
2. Pendekatan multikultural merupakan pendekatan yang relevan dengan kondisi majemuk
masyarakat Indonesia. Learning to live together dapat dilakukan dengan belajar menghargai
perbedaan dan mengemabngkan kesamaan yang akhrinya terkristal dalam integrasi bersama
(Harsanto, 2007).
2. Kurikulum Pembelajaran Multikultural
Kurikulum merupakan hal yang dapat mengatur pembelajaran di lapangan. Bila
pembelajaran di sekolah-sekolah diharapkan dapat menerapkan pembelajaran multukultural,
maka kurikulumlah yang harus merumuskannya. Berikut prinsip kurikulum yang
menggunakan pendekatan multikultural.
a. Keragaman budaya menjadi dasar dalam menentukan filsafat, teori, model, dan hubungan
sekolah dengan lingkungan sosial-budaya setempat.
b. Keragaman budaya menjadi dasar dalam mengembangkan berbagai komponen kurikulum
seperti tujuan, konten, proses, dan evaluasi.
c. Budaya di lingkungan unit pendidikan adalah sumber belajar dan objek studi yang harus
dijadikan bagian dari kegiatan belajar siswa.
d. Kurikulum berperan sebagai media dalam mengembangkan kebudayaan daerah dan
kebudayaan nasional.
3. Tantangan Penerapan Pembelajaran Multikultural
Pembelajaran multikultural merupakan pembelajaran yang cukup bagus. Namun
demikian, sesuai dengan penjelasan Sparringa, Hartono (2011) menyampaikan beberapa
tantangan dalam penerapan pembelajaran multikultural. Berikut tantangan-tantangan tersebut.
1. Bagaimanakah masalah kesadaran bersama itu dibangun dalam sebuah ruang yang
memberikan kebebasan untuk melakukan interpretasi yang serba ragam dan juga
mengundang eleven-elemen yang berbeda untuk menemukan kebutuhan bersama bagi
sebuah integrasi di tingkat yang lebih tinggi.
2. Proses pendidikan multikultural tidak terjadi pada ruang yang terisolasi dari persoalan-
persoalan ketidakmerataan, bahkan ketidakadilan, tentang bagaimana sumber-sumber
politik dan ekonomi itu dialokasikan dan distribusikan dalam masyarakat nasional dan
internasional
3. Perubahan yang berlangsung di tataran global mendiktekan agenda-agenda politik dan
ekonomi baru yang mempersempit kesempatan kita untuk mendefinisikan kembali gagasan-
gagasan dasar tentang negara bangsa tanpa mengindahkan gagasan-gagasan dan praktik-
praktik materialisme rasional yang dibawa serta oleh ekonomi pasar global
Pertanyaan yang Muncul
1. Terdapat 6 pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, tetapi mengapa pendekatan
saintifik dipilih menjadi pendekatan dasar dalam pembelajaran di Kurikulum 2013?
2. Bagaimana penerapan 6 pendekatan ini jika diterapkan pada sekolah di daerah Timur
Indonesia?

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN

A. Perkembangan Model Desain Pembelajaran


Desain pembelajaran merupakan pengembangan secara sistematis untuk memaksimalkan
keefektifan dan efisiensi pembelajaran. Klasifikasi perkembangan model desain pembelajaran,
sebagai berikut.
1. Generasi pertama, pada generasi ini model pembelajaran berfokus pada aktifitas
pembelajaran di kelas dengan menerapkan paradigma teori belajar perilaku atau
behavioristik. Model generasi pertama ini biasanya dilengkapi dengan langkah evaluasi
formatif, untuk menilai dan merevisi komponen-komponen atau langkah-langkah yang
terdapat di dalamnya.
2. Generasi kedua, sistem pembelajaran pada generasi kedua ditandai dengan digunakannya
pendekatan dan teori sistem untuk mengontrol dan mengelola sistem pembelajaran yang
bersifat lebih kompleks. Model generasi kedua ini lebih menggambarkan proses
pengembangan produk atau program pembelajaran.
3. Generasi ketiga, pada generasi ini model desain sistem pembelajaran terdiri atas 3 fase, yaitu
fase penilaian, fase desain, fase produksi dan fase implementasi. Pada generasi ini, evaluasi
formatif dilakukan untuk meningkatkan kualitas desain dan prototipa program atau produk
pembelajaran.
4. Generasi keempat, model desain pembelajaran lebih menyerap pemikiran-pemikiran teori
belajar kognitif. Ada enam komponen atau aktivitas pokok pada generasi ini yaitu analisis,
desain, produksi, implementasi, pemeliharaan, dan evaluasi (Supriatna & Mulyadi, 2009).

B. Model-Model Desain Pembelajaran


1. Model Desain Pembelajaran ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate)
Salah satu fungsi ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan
infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu
sendiri. Model ini menggunakan lima tahap pengembangan, yaitu: a) analisis, pada tahap ini
melakukan analisis kebutuhan, mengidentifikasi masalah, dan melakukan analisis; b) desain
merupakan tahap rancangan; c) pengembangan, mewujudkan desain; d) implementasi, pada
tahap ini semua yang telah dikembangkan dipersiapkan sesuai dengan peran atau fungsinya
agar bisa diimplementasikan; e) evaluasi, merupakan proses untuk melihat apakah sistem
pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak (Murdiati,
2007).
2. Model Desain Pembelajaran Dick dan Carrey
Model yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap
komponen-komponen dasar desain pembelajaran yang meliputi analisis desain pengembangan,
implementasi dan evaluasi. Langkah-langkah dari model desain ini adalah: a) mengidentifikasi
tujuan pembelajaran, b) analisis instruksional, c) menganalisis karakteristik peserta didik dan
konteks pembelajaran, d) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, e) mengembangkan
instrumen penilaian, f) mengembangkan strategi pembelajaran, g) mengembangkan dan
memilih bahan ajar, h) merancang dan mengembangkan evaluasi formatif, i) melakukan revisi
terhadap program pembelajaran, dan j) merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif
(Dick, Carey & Carey, 2003).
3. Model Desain Pembelajaran Borg & Gall
Desain pengembangan menurut Borg & Gall merupakan suatu proses yang dipakai untuk
mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Pada desain ini, produk pendidikan
yang dikembangkan adalah strategi pelaksanaan pembelajaran agar tercapai pembelajaran yang
optimal. Produk pendidikan yang dapat dikembangkan dapat berupa modul pembelajaran,
pelatihan, bimbingan, media pembelajaran, program komputer, alat evaluasi, dan sebagainya
(Sulaiman, dkk., 2016).
4. Model Desain Pembelajaran ASSURE
Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Langkah
kegiatan pada model desain pembelajaran ASSURE, yaitu: a) analisis pelajar; b) menyatakan
tujuan; c) pemilihan metode, media, dan bahan; c) penggunaan media dan bahan; d) partisipasi
pelajar di dalam kelas; dan e) penilaian dan revisi (Heinich, et al., 2005).
5. Model Desain Pembelajaran Hannafin dan Peck
Model desain pembelajaran Hannafin dan Peck merupakan model desain pembelajaran
yang terdiri dari fase analisis kebutuhan, desain dan pengembangan atau implementasi. Pada
model ini, penilaian dan pengulangan dijalankan dalam setiap fase (Supriatna & Mulyadi,
2009).
6. Model Desain Pembelajaran Kemp
Menurut Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model ini dianggap dapat membantu
pendidik sebagai perancang program atau kegiatan pembelajaran dalam memahami kerangka
teori dengan lebih baik dan menerapkan teori tersebut untuk menciptakan aktivitas
pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.
7. Model Desain Pembelajaran Pencapaian Kompetensi (DP-PK)
Model ini berorientasi pada kompetensi peserta didik sehingga tujuan akhir hasil
pembelajarannya adalah meningkatkan kompetensi peserta didik yang dapat diukur secara
kognitif, afektif, dan psikomotor. Prinsip model ini, yaitu: student center, penyusunan desain
pembelajaran berbasis pencapaian kompetensi diawali dengan melakukan kegiatan analisis
perkembangan peserta didik, kegiatan desain materi pembelajaran dilakukan setelah guru
mendesain dan menetapkan KI dan KD, penentuan pengalaman belajar bagi peserta didik harus
dapat menunjukkan tahapan-tahapan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dan
menggunakan prinsip pembelajaran tuntas, serta kegiatan evaluasi dilakukan berdasarkan
rumusan kompetensi yang telah ditetapkan (Sulaiman, dkk., 2016).
8. Model Desain Pembelajaran Smith dan Ragan
Model desain sistem pembelajaran ini cenderung terhadap implementasi teori belajar
kognitif. Langkah-langkah model desain pembelajaran ini, sebagai berikut (Murdiati, 2007).
a. Analisis lingkungan belajar, digunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi masalah-
masalah pembelajaran.
b. Analisis karakteristik siswa, meliputi aktivitas atau prosedur untuk mengidentifikasi dan
menentukan karakteristik siswa.
c. Analisis tugas pembelajaran, dilakukan untuk membuat deskripsi tugas-tugas dan prosedur
yang perlu dilakukan oleh individu untuk mencapai tingkat kompetensi.
d. Menulis butir tes, dilakukan untuk menilai apakah program pembelajaran yang dirancang
dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e. Menentukan strategi pembelajaran, dilakukan untuk mengelola program pembelajaran yang
didesain agar dapat membantu siswa dalam melakukan proses pembelajaran yang
bermakna.
f. Memproduksi program pembelajaran
g. Melaksanakan evaluasi formatif
h. Merevisi program pembelajaran

PERTANYAAN DAN JAWABAN


1. Apa saja komponen yang mempengaruhi untuk merancang dan mengembangkan sistem
pembelajaran?
Jawaban:
Untuk merancang dan mengembangkan sistem pembelajaran, dipengaruhi oleh
beberapa komponen sebagai berikut.
a. Kemampuan awal peserta didik dan potensi yang dimiliki
b. Tujuan pembelajaran (umum dan khusus) adalah penjabaran kompetensi yang akan
dikuasai oleh peserta didik
c. Analisis materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
d. Analisis aktivitas pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang
akan dipelajari
e. Pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran dan
kemampuan peserta didik
f. Strategi pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro
dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
g. Sumber belajar, adalah sumber-sumber yang dapat diakses untuk memperoleh materi
yang akan dipelajari
h. Penilaian belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang dikuasai oleh
peserta didik (Prawiradilaga, 2007).
2. Jelaskan apa saja fungsi dari desain pembelajaran!
Jawaban:
Desain pembelajaran ini dalam prosesnya dapat memiliki beberapa manfaat atau fungsi
sebagai berikut.
a. Sebagai acuan atau pedoman dalam pembelajaran yang artinya adalah dalam proses
pembelajaran dibutuhkan suatu teknik atau desain yang natinya akan dilaksanakan
dengan tujuan meminimalisir kendala-kendala yang mungkin akan terjadi disaat
pembelajaran berlangsung dengan demikian dapat diperoleh tujuan pembelajaran yang
diharapkan.
b. Menjadikan guru lebih siap dan percaya diri dalam menjalankan tugas mengajar.
Maksudnya adalah guru akan menjadi lebih siap dengan proses pembelajaran atau
pengajaran karena guru dapat menguasai bahan yang akan diajarkan untuk peserta didik.
c. Meningkatkan kemampuan guru. Maksudnya adalah guru akan mengalami peningkatan
dalam kemapuan mengajar dan akan memperoleh pembelajaran yang berkualitas dan
bermakna bagi peserta didik (Supriatna, 2009).
3. Bagaimana tujuan dari penggunaan model Dick and Carey dalam pembelajaran?
Jawaban:
Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran
dimaksudkan agar (1) pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat
mengetahui dan mampu melakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir
pembelajaran, (2) adanya pertautan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran
dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, (3) menerangkan langkah–langkah yang perlu
dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran (Suparman, 2009).

MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF UNTUK SEKOLAH DAN PERGURUAN


TINGGI (DIRECT INSTRUCTION, INQUIRY DAN DISCOVERY, PROBLEM BASED
LEARNING, PROJECT BASED LEARNING, PROBLEM SOLVING,
DAN PROBLEM POSING)

A. Model Pembelajaran Direct Instruction


Direct Instruction atau pengajaran langsung merupakan salah satu model pembelajaran
yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan
pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang sesuatu) dan pengetahuan prosedural
(pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu) yang terstruktur dengan baik dan dapat
diajarkan dengan pola kegiatan bertahap, selangkah demi selangkah. Pengajaran langsung
dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok. Pengajaran
langsung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransfer langsung oleh guru kepada
siswa (Trianto, 2007).
Adapun sintaks model pengajaran langsung menurut Trianto (2007) adalah sebagai
berikut.
Fase Peran Guru
Fase 1 Guru menjelaskan TPK, informasi latar
Menyampaikan tujuan dan belakang pelajaran, pentingnya pelajaran,
mempersiapkan siswa mempersiapkan siswa untuk belajar
Fase 2 Guru mendemonstrasikan keterampilan
Mendemonstrasikan pengetahuan dan dengan benar atau menyajikan informasi
keterampilan tahap demi tahap
Fase 3 Guru mempersiapkan dan melaksanakan
Membimbing pelatihan pelatihan terbimbing
Fase 4 Guru mengecek apakah siswa telah
Mengecek pemahaman dan memberikan berhasil melakukan tugas dengan baik dan
umpan balik memberikan umpan balik
Fase 5 Guru mempersiapkan kesempatan
Memberikan kesempatan untuk pelatihan melakukan pelatihan lanjutan, dengan
lanjutan dan penerapan perhatian khusus pada penerapan kepada
situasi lebih kompleks dan kehidupan
sehari-hari

B. Model Pembelajaran Discovery dan Inquiry Learning


Kemendikbud (2013) mendefinisikan discovery learning sebagai suatu proses
pembelajaran yang terjadi bila siswa tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya,
tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama
dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.
Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan, dan
inferi. Discovery lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya
tidak diketahui. Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran Discovery menurut
Kemendikbud (2013) adalah sebagai berikut.
1. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Stimulasi berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat
mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Pada tahap ini, siswa
dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. Guru tidak memberikan
generalisasi agar timbul keinginan siswa untuk menemukan sendiri. Guru dapat memulai
kegiatan belajar mengajar dengan cara mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku,
dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2. Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Langkah selanjutnya adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda masalah yang relevan dengan bahan
pelajaran, kemudian beberapa di antaranya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan dan hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah yang diajukan).
3. Data Collection (Pengumpulan Data)
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk untuk mengumpulkan (collect)
berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan
narasumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.
4. Data Processing (Pengolahan Data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah
diperoleh untuk kemudian ditafsirkan. Semua informasi hasil bacaan, wawancara,
observasi, perlu diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung
dengan cara tertentu, serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Data processing
berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Berdasarkan generalisasi
tersebut, siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif
jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini, siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan
benar atau tidaknya hipotesis. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran data, hipotesis
yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah
terbukti atau tidak.
6. Generalization (Penarikan Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/penarikan kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan
yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang
sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Model pembelajaran inquiry merupakan model yang melibatkan peserta didik dalam
proses pengumpulan data dan pengujian hipotesis. Guru membimbing peserta didik untuk
menemukan pengertian baru, praktik keterampilan, dan cara memperoleh pengetahuan
berdasarkan pengalaman belajar peserta didik. Model inquiry memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk belajar aktif dan kreatif dalam mencari pengetahuan. Langkah
inquiry terdiri dari beberapa tahapan, antara lain: (1) mengidentifikasi masalah; (2)
merumuskan hipotesis; (3) mengumpulkan data; (4) menganalisis dan menginterpretasikan
data untuk menguji hipotesis; (5) menarik kesimpulan. Sedangkan tahapan atau langkah
yang dilakukan oleh guru dalam model pembelajaran inquiry yaitu (Mulyatiningsih, 2010):
Jauhar (2011) menjelaskan bahwa ada tiga jenis model pembelajaran inquiry berdasarkan
besarnya intervensi dan bimbingan guru terhadap siswanya.
1. Inquiry terbimbing (guided inquiry)
Inquiry terbimbing digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan
model pembelajaran inkuiri. Guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan
memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran
aktif dalam menentukan permasalahan dan tahapan pemecahannya.
2. Inquiry bebas (free inquiry)
Inquiry jenis ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan model
pembelajaran inquiry. Siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi
kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan
masalah secara mandiri, dan merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.
3. Inquiry bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry)
Jenis ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua jenis inquiry sebelumnya.
Permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan oleh guru dan
mengacu pada kurikulum yang ada. Namun, bimbingan yang diberikan oleh guru lebih
sedikit dari inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur. Guru membatasi bimbingan agar siswa
berupaya terlebih dahulu secara mandiri. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat
menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung
melalui pemberian contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui
diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.

C. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)


Sudarman (2007) menjelaskan bahwa PBL adalah suatu model pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara
berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan
konsep yang esensial dari materi kuliah atau materi pelajaran. Siswa dirangsang untuk
mempelajari suatu masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka
miliki sebelumnya sehingga dari pemecahanmasalah tersebut akan terbentuk pengetahuan dan
pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam
penerapan PBL.
Langkah-langkah pembelajaran dengan model PBL menurut Darmawan (2010) adalah
sebagai berikut.
Fase-fase Perilaku Guru
Fase 1 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
Orientasi siswa pada masalah menjelaskan alat dan bahan yang mungkin
diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada
aktivitas pemecahan masalah.
Fase 2 Guru membantu siswa mendefinisikan dan
Mengorganisasi siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang
belajar berhubungan dengan masalah tersebut.
Fase 3 Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
Membimbing pengalaman informasi yang sesuai agar siswa mampu
individual/kelompok memecahkan permasalahan.
Fase 4 Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
Mengembangkan dan menyiapkan karya yang sesuai (misalnya
menyajikan hasil karya laporan) dan membantu mereka untuk berbagi
tugas dengan temannya.
Fase 5 Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
Menganalisis dan mengevaluasi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan
proses pemecahan masalah proses yang mereka gunakan.

D. Model Pembelajaran Project Based Learning


Project Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang sudah banyak
dikembangkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Jika diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia, Project Based Learning bermakna sebagai pembelajaran berbasis proyek.
Langkah-langkah pembelajaran dalam Project Based Learning sebagaimana yang
dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri atas:
1. Start With the Essential Question
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat
memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang
sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.
Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relefan untuk para peserta didik.
2. Design a Plan for the Project
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar danpeserta didik. Dengan
demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut.
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam
menjawab pertanyaanesensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang
mungkin,serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk
membantupenyelesaian proyek.
3. Create a Schedule
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam
menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk
menyelesaikan proyek, (2) membuat deadlinepenyelesaian proyak, (3) membawa peserta
didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka
membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik
untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4. Monitor the Students and the Progress of the Project
Pengajar bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik
selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta
didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas
pesertadidik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yangdapat
merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
5. Assess the Outcome
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar,
berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, memberi umpan
balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar
dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6. Evaluate the Experience
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi
terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik
secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek.

E. Model Pembelajaran Problem Solving


Problem solving dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri
utama dari problem solving menurut Komariah(2011), yaitu:
1. Problem solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam
implementasi problem solving ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.
Problem solving tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat,
kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui problem solving siswa aktif
berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan
(Komariah,2011).
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Problem solving
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa
masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran (Komariah,2011).
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif.
Proses berpikir ini dilakukan secara secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya
berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu; sedangkan empiris artinya
proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas (Komariah,2011).
Langkah-langkah dalam pembelajaran problem solving menurut Polya ada 4, yaitu: (1)
memahami masalah, (2) menentukan rencana dan strategi penyelesaian masalah, (3)
menyelesaikan strategi penyelesaian masalah, dan (4) memeriksa kembali jawaban yang
diperoleh. Pembelajaran ini dimulai dengan pemberian masalah, kemudian siswa berlatih
memahami, menyusun strategi dan melaksanakan strategi sampai dengan menarik kesimpulan.
Guru membimbing siswa pada setiap langkah problem solving dengan memberikan pertanyaan
yang mengarah pada konsep (Komariah,2011).

F. Model Pembelajaran Problem Posing


Problem posing merupakan istilah dalam bahasa inggris yaitu dari kata “problem”
artinya masalah, soal atau persoalan dan kata “pose” yang artinya mengajukan. Jadi problem
posing bisa diartikan sebagai pengajuan atau pengajuan masalah (Puspitasari,2014).
Model pembelajaran problem posing mulai dikembangkan ditahun 1998 oleh Lyn D.
English, dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model
ini dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain. Dalam pembelajaran matematika, prob-
lem posing menempati posisi yang strategis. Siswa harus menguasai materi dan urutan pe-
nyelesaian soal secara mendetail. Hal tersebut akan dicapai jika siswa memperkaya khazanah
pengetahuannya tidak hanya dari guru melainkan perlu belajar secara mandiri. Problem posing
dikatakan sebagai inti terpenting dalam disiplin matematika dan dalam sikap pemikiran dan
penalaran.Silver (1994) menulis bahwa ”Problem posing is central important in the discipline
of mathematics and in the nature of mathematical thinking”.
Problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun
pertanyaan sendiri atau memecahkan suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih
sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut. Pada prinsipnya, model
pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa
untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar membuat soal secara mandiri (Puspitasari,2014).
Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai
berikut(Puspitasari,2014).
1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk
memperjelas konsep sangat disarankan.
2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
3. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang ber-
sangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara
kelompok.
4. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal
temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif
berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.
5. Guru memberikan tugas rumah secara individual.

Pertanyaan dan Jawaban:


1. Pada situasi pembelajaran yang seperti apa cocok digunakan model pembelajaran
Direct Instruction?
Jawaban:
a. Ketika guru ingin mengenalkan suatu bidang pembelajaran yang baru dan memberikan
garis besar pelajaran dengan mendefinisikan konsep-konsep kunci dan menunjukkan
keterkaitan di antara konsep-konsep tersebut.
b. Ketika guru ingin mengajari siswa suatu keterampilan atau prosedur yang memiliki
struktur yang jelas dan pasti.
c. Ketika guru ingin memastikan bahwa siswa telah menguasai keterampilan keterampilan
dasar yang diperlukan dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada siswa, misalnya
penyelesaian masalah (problem solving).
d. Ketika guru ingin menunjukkan sikap dan pendekatan-pedekatan intelektual (misalnya
menunjukkan bahwa suatu argumen harus didukung oleh bukti-bukti, atau bahwa suatu
penjelajahan ide tidak selalu berujung pada jawaban yang logis)
e. Ketika subjek pembelajaran yang akan diajarkan cocok untuk dipresentasikan dengan
pola penjelasan, pemodelan, pertanyaan, dan penerapan.
f. Ketika guru ingin menumbuhkan ketertarikan siswa akan suatu topik.
g. Ketika guru harus menunjukkan teknik atau prosedur-prosedur tertentu sebelum siswa
melakukan suatu kegiatan praktik.
h. Ketika guru ingin menyampaikan kerangka parameter-parameter untuk memandu siswa
dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok atau independen.
i. Ketika para siswa menghadapi kesulitan yang sama yang dapat diatasi dengan penjelasan
yang sangat terstruktur.
j. Ketika lingkungan mengajar tidak sesuai dengan strategi yang berpusat pada siswa atau
ketika guru tidak memiliki waktu untuk melakukan pendekatan yang berpusat pada
siswa.
2. Apakah perbedaan mendasar antara model pembelajaran discovery dan inquiry?
Jawaban: Inquiry lebih pada penyelidikan suatu masalah yang secara ketat mengikuti
metode ilmiah sedang discovery tidak harus penyelidikan masalah, tetapi dapat berupa
penemuana yang biasa, dan dapat juga memecahkan persoalan yang tidak konkrit.
Inquiry jelas membutuhkan discovery di dalamnya, yaitu bagaimana seseorang menemukan
sesuatu. Inquiry menuntut proses yang lebih kompleks dan lengkap sesuai dengan metode
ilmiah sedangkan discovery tidak harus lengkap prosesnya.
3. Apakah kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran problem solving?
Jawaban: Kelebihan dari problem solving yaitu dapat melibatkan siswa dalam proses
pembelajar, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna. Selain itu, metode ini juga dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, karena mereka akan terbiasa
dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang menuntut untuk dipecahkan. Sedangkan
kekurangannya yaitu memerlukan banyak waktu dalam pengaplikasiannya.

SIKLUS BELAJAR, PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD, PEMBELAJARAN


KOOPERATIF JIGSAW, PEMBELAJARAN KOOPERATIF TPS,
PEMBELAJARANKOLABORATIF

A. Model Pembelajaran Siklus Belajar (Learning Cycle)


Model pembelajran siklus belajar (Learning Cycle) merupakan model pembelajaran
yang berpusat pada kegiatan penyelidikan sebelum pendidik mengenalkan konsep
ilmiahnya.
1. Siklus Belajar 3E
Siklus belajar 3E merupakan model siklus belajar pertama yang dikembangkan oleh
Robert Karplus pada tahun 1970an. Karplus mengidentifikasi bahwa Siklus belajar 3E
terdiri atas 3 fase. Fase tersebut adalah exloration, invention dan discovery. Charles Barman
dan Marvin Tolman menggunakan istilah Exploration, Consep Introduction, dan Consep
application. Walupun disebutkan berbeda beda namun pada intinya maknaya sama.(Wena,
2012). Menurut Dahar (1988) siklus belajar 3E terdiri ats 3 fase yaitu fase Eksplorasi, Fase
pengenalan konsep, dan Fase aplikasi konsep.

Gambar : Siklus Belajar 3E


2. Siklus Belajar 5E
Model siklus belajar ini mempunyai salah satu tujuan yaitu memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengkostruksi pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri dengan
terlibat secara aktif mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berfikir baik
secara individu maupun kelompok, sehingga siswa dapat menguasai kompetensi–
kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran (Sutiani,2014). Siklus belajar 5E adalah
model pembelajaran yang berpusat pada kegiatan penyelidikan sebelum konsep ilmiah
diperkenalkan kepada siswa. Dalam model pembelajaran Learning Cycle 5E siswa
mengembangkan pemahaman konsep melalui pengalaman langsung yang bertahap dan
bersiklus.Menurut Wena (2012) terdapat beberapa tahap siklus belajar 5E.
Gambar : Siklus Belajar 5E

3. Siklus Belajar 7E
Siklus belajar 7E adalah pengembangan dari 2 model pembelajaran sebelumya. Siklus
Belajar 7E adalah model pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Eisenkraft (2003)
yang terdiri dari tujuh tahapan belajar yaitu: elicit (mendatangkan pengetahuan awal siswa),
engage (membangkitkan minat), explore (mengeksplor), explain (menjelaskan), elaborate
(menerapkan), evaluate (mengevaluasi), dan extend (memperluas)

Gambar: Siklus Belajar 7E

B. Model Pembelajaran Problem Solving


Problem solving dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri
utama dari problem solving menurut Komariah(2011), yaitu:
4. Problem solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam
implementasi problem solving ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.
Problem solving tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat,
kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui problem solving siswa aktif
berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan
(Komariah,2011).
5. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Problem solving
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa
masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran (Komariah,2011).
6. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif.
Proses berpikir ini dilakukan secara secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya
berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu; sedangkan empiris artinya
proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas (Komariah,2011).
Langkah-langkah dalam pembelajaran problem solving menurut Polya ada 4, yaitu: (1)
memahami masalah, (2) menentukan rencana dan strategi penyelesaian masalah, (3)
menyelesaikan strategi penyelesaian masalah, dan (4) memeriksa kembali jawaban yang
diperoleh. Pembelajaran ini dimulai dengan pemberian masalah, kemudian siswa berlatih
memahami, menyusun strategi dan melaksanakan strategi sampai dengan menarik kesimpulan.
Guru membimbing siswa pada setiap langkah problem solving dengan memberikan pertanyaan
yang mengarah pada konsep (Komariah,2011).

C. Model Pembelajaran Problem Posing


Problem posing merupakan istilah dalam bahasa inggris yaitu dari kata “problem”
artinya masalah, soal atau persoalan dan kata “pose” yang artinya mengajukan. Jadi problem
posing bisa diartikan sebagai pengajuan atau pengajuan masalah (Puspitasari,2014).
Model pembelajaran problem posing mulai dikembangkan ditahun 1998 oleh Lyn D.
English, dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model
ini dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain. Dalam pembelajaran matematika, prob-
lem posing menempati posisi yang strategis. Siswa harus menguasai materi dan urutan pe-
nyelesaian soal secara mendetail. Hal tersebut akan dicapai jika siswa memperkaya khazanah
pengetahuannya tidak hanya dari guru melainkan perlu belajar secara mandiri. Problem posing
dikatakan sebagai inti terpenting dalam disiplin matematika dan dalam sikap pemikiran dan
penalaran.Silver (1994) menulis bahwa ”Problem posing is central important in the discipline
of mathematics and in the nature of mathematical thinking”.
Problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun
pertanyaan sendiri atau memecahkan suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih
sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut. Pada prinsipnya, model
pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa
untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar membuat soal secara mandiri (Puspitasari,2014).
Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai
berikut(Puspitasari,2014).
6. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk
memperjelas konsep sangat disarankan.
7. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
8. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang ber-
sangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara
kelompok.
9. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal
temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif
berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.
10. Guru memberikan tugas rumah secara individual.

D. Model Pembelajaran Ricorse


Model pembelajaran RICORSE pertama kali diciptakan oleh Susriyati Mahanal dan
Siti Zubaidah pada tahun 2017 yang dituangkan pada jurnal ilmiah yang berjudul “Model
Pembelajaran Ricosre yang Berpotensi Memberdayakan Keterampilan Berpikir Kreatif”.
Model pembelajaran RICORSE dikembangkan untuk memberdayakan keterampilan berpikir
kreatif. Keterampilan berpikir kreatif merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi, yang
harus diberdayakan dalam pendidikan karena merupakan komponen penting dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Mahanal, 2017). Coughlan dalam Mahanal
(2017) mengemukakan bahwa berpikir kreatif tidak hanya bermanfaat untuk memperkaya
dan memperdalam pengalaman belajar, tetapi juga untuk memecah masalah dalam kehidupan
sehari hari dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus
menyiapkan peserta didik untuk menguasai keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, berpikir
kreatif, komunikasi, dan kolaborasi.
Model pembelajaran RICOSRE untuk memberdayakan keterampilan berpikir kreatif
dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan dari Plomp (1997), yang terdiri
atas 5 fase, yaitu (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi/konstruksi, (4) fase
tes, evaluasi, dan revisi, serta (5) fase implementasi. Berikut adalah tahapan pengembahan
model pembelajaran RICORSE berdasarkan model pengembangan dari Plomp (Mahanal,
2017)
1. tahap investigasi awal (Preliminary Investigation). Pada tahap investigasi awal ini
dilakukan pengkajian dan analisis berbagai informasi pembelajaran berbasis
pemecahan masalah, kemampuan berpikir siswa dan faktor yang memengaruhi.
Pengumpulan informasi dilakukan dengan cara mengkaji penelitian yang dilakukan
penulis bersama tim peneliti atau bersama mahasiswa dalam pembimbingan skripsi
dan tesis (penelitian payung).
2. tahap perancangan (Design). Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah
merancang model pembelajaran berbasis pemecahan masalah berdasarkan hasil dari
investigasi awal. Selain itu, perancangan sintaks model pembelajaran berbasis
pemecahan masalah juga didasarkan teori-teori belajar yang mengandung ciri khas dari
teori belajar kontruktivis.
3. tahap realisasi (Realization). Dari serangkaian tahap desain, kemudian dikonstruk
sintaks model pembelajaran berbasis pemecahanan masalah dan menghasilkan
prototype 1.
4. tes, evaluasi, dan revisi (Test, Evaluation, and Revision). Prototype 1 didiskusikan
melalui Focus Group Discussion (FGD). Berdasarkan masukan selama FGD, prototype
1 direvisi selanjutnya selanjutnya disebut prototype 2. Validasi terhadap prototype 2
dilakukan oleh ahli (validator). Setelah divalidasi, dilakukan revisi sesuai dengan saran
yang diberikan oleh validator, maka prototype 2 dinyatakan valid selanjutnya disebut
prototype 3 atau prototype akhir yang siap untuk diimplementasikan.
5. implementasi (Implementation). Pada tahap akhir ini akan diadakan implementasi dari
prototipe akhir berupa model pembelajaran yang baru (hasil pengembangan).
Model pembelajaran berbasis pemecahan masalah dibutuhkan, mengingat peran berpikir
kreatif begitu penting bagi kelangsungan hidup seseorang, maka diharapkan para siswa tidak
hanya kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga mempunyai kemampuan
berpikir tingkat tinggi. teori belajar yang mendasari model pembelajaran RICOSRE, misalnya
Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget, Teori Perkembangan Mental Vygotsky,
Pembelajaran Demokratis dari John Dewey, Discovery Learning dari Jerome Bruner, dan
implikasi teori belajar tersebut dalam pembelajaran (Mahanal, 2017).
Landasan teori model pembelajaran RICOSRE dan implikasinya dalam pembelajaran.
Rasional pengembangan model pembelajaran RICOSRE yaitu (1) kompetensi yang harus
dikuasai oleh siswa/mahasiswa abad 21 adalah berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan
kemampuan berkomunikasi dan (2) kemampuan pemecahan masalah adalah satu indikator dari
berpikir kreatif. model pembelajaran RICOSRE dapat dijadikan landasan untuk
mengembangkan perangkat pembelajaran seperti silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Sistem sosial dan prinsip reaksi dalam model
pembelajaran RICOSRE berpusat pada siswa. Pada model pembelajaran RICOSRE
menunjukkan bahwa kegiatan siswa lebih mendominasi dibandingkan dengan kegiatan
guru. Guru dalam model pembelajaran ini hanya berperan aktif sebagai fasilitator. Guru hanya
membimbing dan mengarahkan kegiatan yang dilakukan oleh siswa atau sebagai scaffolder
(Mahanal, 2017).

Pertanyaan dan Jawaban:


1. Bagaimanakah setiap aplikasi pada siklus 3E?
Jawaban:
a. Fase Eksplorasi (Exploration)
Selama eksplorasi para siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi
baru. Eksplorasi juga membawa para siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan dalam
fenomena yang diselidiki.
b. Fase Pengenalan Konsep (Concept Development)
Pada fase pengenalan konsep ini biasanya di mulai dengan memperkenalkan suatu kosep
baru yang berhubungan dengan fenomena yang diselidiki dan didiskusikan pada fase
ekplorasi.
c. Aplikasi Konsep (Consept Application)
Pada fase ini siswa mengunakan konsep yang didapatkan pada fase sebelumnya. Pada
fase ini guru bisa memberikan masalah baru atau ebuah simulasi situasi baru bagi siswa,
dan siswa memecahkan masal tersebut berdasarkan hasil ekplorasi awal dan digabungkan
dengan konsep yang didapat pada fase kedua. Pada fase ini siswa bisa mengerjakan
secara individu atau dibentuk kelompok-kelopok diskusi kecil.
2. Apakah kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran problem solving?
Jawaban: Kelebihan dari problem solving yaitu dapat melibatkan siswa dalam proses
pembelajar, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna. Selain itu, metode ini juga dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, karena mereka akan terbiasa
dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang menuntut untuk dipecahkan. Sedangkan
kekurangannya yaitu memerlukan banyak waktu dalam pengaplikasiannya.
3. Apakah kelebihan dari model pembelajaran RECORSE?
Jawaban:
Sintaks pembelajaran RICOSRE dirancang dengan beberapa kelebihan, salah
satunya ialah mengaktifkan keterampilan berpikir kreatif siswa melalui keterampilan
pemecahan masalah. Proses pemecahan masalah melalui kegiatan menemukan masalah,
menghasilkan gagasan, mengubah ide menjadi solusi, dan membangun rencana
tindakan dengan menggunakan pemikiran yang divergen (menghasilkan banyak
alternatif) dan pemikiran konvergen (penyaringan, pemilihan, dan evaluasi). Model
pembelajaran RICOSRE memfasilitasi pelibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
Tahapan pembelajaran RICOSRE dirancang untuk melibatkan siswa agar aktif dalam
mengidentifikasi masalah, memecahkan suatu masalah dan menemukan solusi untuk
menyelesaikan masalah (Mahanal, 2017).

PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION, KOLABORATIF,


READING-CONCEPT MAP-COOPERATIVE SCRIPT (REMAP-CS)
A. Group Investigation (GI)
Menurut Arends (2012), Group investigation (GI) merupakan pembelajaran yang
melibatkan siswa ikut dalam merencanakan topik yang akan dipelajari (diangkat sebagai studi)
dan cara yang digunakan untuk melakukan investigasi terhadap studi yang akan dilakukan.
1. Tahap-tahap Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI)
Tahapan-tahapan kemajuan siswa di dalam pembelajaran yang menggunakan metode
Group Investigation untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut: Enam Tahapan
Kemajuan Siswa di dalam Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation
Fase Tindakan
Tahap I
Mengidentifikasi topik dan membagi Guru memberikan kesempatan bagi
siswa ke dalam kelompok siswa untuk memberikan kontribusi apa
yang akan mereka selidiki. Kelompok
dibentuk berdasarkan heterogenitas
Tahap II
Merencanakan Tugas Kelompok akan membagi sob topik
kepada seluruh anggota. Kemudian
membuat perencanaan dari masalah
yang akan diteliti, bagaimana proses dan
sumber apa yang akan di pakai
Tahap III
Membuat Penyelidikan Siswa mengumpulkan, menganalisis
dan mengevaluasi informasi, membuat
kesimpulan dan mengaplikasikan bagian
mereka ke dalam pengetahuan baru
dalam mencapai solusi masalah
kelompok.
Tahap IV
Mempersiapkan tugas akhir Setiap kelompok mempersiapkan tugas
akhir yang akan dipresentasikan di
depan kelas.
Tahap V Siswa mempresentasikan hasil kerjanya.
Mempresentasikan tugas akhir Kelompok lain tetap mengikuti.
Tahap VI Soal ulangan mencakup seluruh topik
Evaluasi yang telah diselidiki dan
dipresentasikan.
(Slavin, 1995)

2. Cara Menghubungkan Kegiatan Investigasi dengan Materi Pelajaran

Gambar Penerapan GI dan cara menghubungkannya dengan materi pembelajaran


(sumber: http://tomatosphere.org/teachers/guide/grades-5-7/space-travel)
3. Kelebihan dan Kekurangan GI
Ada beberapa kelebihan yang dimiliki GI bila guru menerapkan pembelajaran ini
diantaranya menurut hasil penelitian Novitasari (2010), penerapan model pembelajaran GI
dapat meningkatkan motivasi dan hasl belajar siswa. Lenih lanjut hasil penelitian Arnyana
(2006), penerapan model pembelajaran GI mampu mengasah kemampuan berfikir kreatif
siswa. Sedangkan kekurangannya yaitu pembelajarannya cukup kompleks sehingga dalam
penerapannya lebih sulit bila dibandingkan dengan pembelajaran yang lain (Chandra, 2005),
guru membutuhkan persiapan yang matang dan pengalaman yang lama untuk dapat
menerapkan belajar kooperatif tipe GI dengan baik.

B. Pembelajaran Kolaboratif
1. Pengertian Pembelajaran Kolaboratif
Konteks pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang berasaskan koperatif
(namun berbeda dengan pembelajarn kooperatif). Sehingga untuk mewujudkan pembelajaran
kolaboratif diawali dengan membiasakan siswa dengan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran
kooperatif yang didesain oleh guru, akan menjadi awal perubahan di kelas. Jika siswa terbiasa
bekerjasama, saling tergantung satu dengan yang lain untuk memperoleh pengetahuan, maka
siswa akan berkembang menjadi siswa-siswa kolaboratif (Junaidi & Idris, 2012). Pembelajaran
tidak terjadi dalam kesatuan, namun pembelajaran merupakan hasil dari keragaman atau
perbedaan (Widjajanti, 2008). Para ahli berpendapaat bahwa berfikir bukanlah sekedar
memanipulasi objek-objek mental, melainkan juga interaksi dengan orang lain dan dengan
lingkungan (Sukasmo, 2012).
2. Proses Pembelajaran Kolaboratif
Input utama model pembelajaran kolaboratif adalah adanya rancangan tugas yang
bersifat open ended (terbuka, tidak terbatas) yang diperkuat dengan konsep teori pendukung.
Proses pembelajaran terdiri dari proses di dalam kelas dan di luar kelas. Tugas dikerjakan
secara berkelompok yang dapat diawali dengan pengerjaan tugas secara perorangan, kelompok
kecil, kemudian kelompok besar. Pengerjaan tugas secara perorangan dan kelompok kecil
dapat dilaksanakan di luar kelas, sedangkan pengerjaan tugas secara berkelompok dapat
dilaksanakan di dalam kelas. Output utama dari model pembelajaran kolaboratif adalah
pengalaman mengerjakan tugas secara berkelompok. Evaluasi input, proses, dan output ini
merupakan feed back untuk perbaikan kegiatan pembelajaran selanjutnya. Gambar 1.1
menjelaskan langkah pembelajaran kolaboratif tersebut.

INPUT PROSES PROSES OUTPUT


DI DALAM KELAS DI LUAR KELAS

FEED BACK
Gambar 1.1 Proses pembelajaran kolaboratif (sumber: LKPP Unhas, 2007)
3. Variasi Pembelajaran Kolaboratif
Ada beberapa variasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran kolaboratif. Model
kolaboratif dapat diterapkan dalam bentuk diskusi, kerja kelompok, dan penelitian bersama,
baik dilakukan dalam ruang kelas perkuliahan maupun di lapangan (LKPP Unhas, 2007).
Beberapa pembelajaran seperti pembelajaran philips 66, role play, fishbowl debates, group
projects, classroom problems, grouping and pairing activities, team-based learning, dan case-
based learning merupakan contoh pembelajaran yang mencermikan pembelajaran kolaboratif
(Welch, 2007 dan Center for Teaching Excellence, 2014). Adapun jenis pembelajaran
kolaboratif yang pernah diterapkan yaitu:
a. Learning Together.
b. Teams-Games-Tournament (TGT).
c. Group Investigation (GI).
d. Academic-Constructive Controversy (AC).
e. Jigsaw Proscedure (JP).
4. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kolaboratif
Kelebihan
a. Peserta didik dapat memiliki kemampuan bekerja sama, toleransi dengan orang lain, saling
membutuhkan, motivasi berprestasi, dan jiwa kepemimpinan. Kemampuan ini sangat
berguna dalam memasuki dunia kerja dan lingkungan sosialnya (LKPP Unhas, 2007).
b. Model ini dapat membekali peserta didik dalam memahami dinamika kelompok, dan
mengambil keputusan bersama untuk tujuan bersama (LKPP Unhas, 2007).
c. Model kolaboratif dapat membekali siswa pengetahuan dan wawasan yang luas dari
pengalamananya belajar kelompok, mengkaji dan menganalisis masalah dari berbagai
perspektif) (LKPP Unhas, 2007).
Kekurangan
a. Penerapan model kolaboratif adalah suatu perubahan paradigma pembelajaran yang
membutuhkan komitmen yang kuat dari pimipinan agar terlaksana. Penerapannya
membutuhan sarana dan prasarana dengan investasi dan biaya operasional yang relatif besar,
kinerja pendidik yang tinggi dalam melakukan fungsi fasilitator, konselor, dan
pendampingan (LKPP Unhas, 2007).
b. Kemampuan utama yang sering menganggu adalah kemampuan mengorganisir kelompok,
baik bagi fasilitator maupun peserta pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran tentang
bagaimana menciptakan proses belajar secara berkelompok harus terus dibiasakan bagi
mahasiswa. Hal ini juga dapat menjadi bekal yang sangat berarti bagi mahasiswa dalam
menjalani hidupnya di lingkungan sosialnya (LKPP Unhas, 2007).
c. Keterbatasan model kolaboratif adalah masih susah diterapkan pada kelas yang belum
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, terutama pada kelas awal yang
masih dalam tahap adaptasi dan sosialisasi (LKPP Unhas, 2007).
C. Pembelajaran Remap coople
1. Pengertian Remap-Cs
Remap coople adalah sebuah model pembelajaran yang mengharuskan siswa membaca (proses
reading), kemudian siswa diminta membuat peta konsep (concept mapping), dan
pembelajarannya menggunakan model-model cooperative learning. Model tersebut diringkas
menjadi remap coople yaitu reading + concept mapping + cooperative learning (Zubaidah,
2014).
2. pengembangan dari model pembelajaran Remap Coople.
a. Remap STAD (Reading Concept Map Student Teams Achievement Division)
b. Remap NHT (Reading Concept Map Numbered Head Together)
c. Remap Jigsaw (Reading Concept Map Jigsaw)
d. Remap TGT (Reading Concept Map Teams Game Tournament)
e. Remap GI (Reading Concept Map Group Investigation)
f. Remap TPS (Reading Concept Map Think Pair Share)
g. Remap RT (Reading Concept Map Reciprocal Teaching)
h. Remap CIRC (Reading Concept Map Cooperative Integrated Reading and
Composition)
i. Remap TmPS (Reading Concept Map Timed Pair Share)
j. Remap CS (Reading Concept Map Cooperative Script)
Sintaks Model Pembelajaran Remap CS (Kurniawati, 2016)
Langkah Remap CS Kegiatan
Set the Mood Guru membagi siswa dalam kelompok kecil dan
menentukan tema atau topik bacaan yang harus
dibaca
Understanding by Reading Siswa membaca bacaan dan memahami isi dari
bacaan.
Mention key ideas in Siswa meringkas bacaan dengan menuliskan ide-
Concept Map ide pokok dan menyusun dalam bentuk peta
konsep.
Monitor Pasangan siswa saling membacakan atau
memperlihatkan hasil ringkasan pada pasangan
dalam kelompok kecil. Selanjutnya pasangan siswa
dapat meninjau ulang bacaan untuk saling
mengoreksi dan memberikan saran perbaikan.
Elaborate Siswa melakukan kegiatan praktikum dan/atau
mengerjakan soal yang terdapat pada lks,
menambahkan informasi yang relevan tetapi belum
ada dalam bacaan, menuliskan dan menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang sedang
dipelajari.
Review Siswa diminta menyusun ringkasan materi
pembelajaran yang telah dipelajari.

Pertanyaan dan Jawaban:


1. Apa saja faktor yang mempengaruhi penerapan model kooperatif GI?
Jawaban:
Beberapa faktor yang mempengaruhi penerapan model kooperatif group investigation
diantaranya yaitu (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) pembelajaran yang dilakukan
membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa
memandang latar belakang, (3) siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi, (4) adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar
mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
2. Apakah perbedaan pembelajaran kolaboratif dengan kooperatif?
Jawaban:
Dari segi bahasa, kooperatif dan kolaboratif mempunyai kemiripan dari sisi
berkelompok. Namun, perbedaanya adalah kolaborasi lebih menekankan pada inisiatif sebagai
bentukan sendiri, bukannya suatu hasil rekayasa orang lain untuk bekerja sama. Perbedaan
pembelajaran kooperatif dan kolaboratif dapat dilihat pada Tabel.
Tabel Perbandingan Pembelajaran Kooperatif dengan Kolaboratif
Pembelajarna Kooperatif Pembelajaran Kolaboratif
Siswa menerima latihan dalam Siswa sudah memiliki kemampuan
kemampuan bekerjasama dan sosial. bekerjasama dan sosial. Siswa
membangun kemampuannya itu untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Aktivitas distrukturkan, setiap pelajar Siswa berunding dan
memainkan peranan spesifik. mengorganisasikan sendiri
Guru memantau, mendengar dan Aktivitas kelompok tidak dipantau oleh
campur tangan dalam kegiatan guru. Jika timbul persoalan,
kelompok jika perlu siswamemecahkan sendiri dalam
kelompoknya. Guru hanya membimbing
siswa kearah penyelesaian persoalan.
Ada hasil kerja kelompok yang akan Draf kerja untuk disimpan siswa untuk
dinilai guru. kerja lanjutan
Siswa menilai prestasi individu dan Siswa menilai prestasi individu dan
kelompok dengan dibimbing oleh guru kelompok tanpa dibimbing oleh guru
(Junaidi & Idris, 2012)
3. Apakah fungsi peta konsep dalam pembelajaran Remap Coople?
Jawaban:
Peta konsep telah digunakan untuk pembelajaran dan pelatihan, dan telah dibuktikan
sebagai alat yang efektif untuk kepentingan evaluasi pembelajaran, mengetahui
kemampuan awal siswa, mengetahui apa yang sudah dipelajari siswa, perencanaan,
scaffolding pengetahuan, memantapkan pengalaman pembelajaran, memperbaiki kondisi
afeksi siswa, mengajarkan berpikir kritis dalam pembelajaran, menunjang pembelajaraan
kooperatif dan kolaboratif, dan sebagainya.

Anda mungkin juga menyukai