Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TENTANG ADULT

LEARNING

Oleh
NURUL FAKHIRA AZZAHRAH
NIM 4518111030

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BOSOWA
MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas berkat dan

rahmatnyalah kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akademik tahun 2018. Adapun

topik yang di bahas di dalam makalah ini adalah mengenai Adult Learning.

Makalah ini akan memperdalam pengetahuan kita tentang Adult Learning.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dr.Asty Amalia

Nurhadi,M.MedEd yang telah mengajari kami mengenai Adult Learning sehingga

kami dapat menyusun makalah ini dengan baik. Kami juga mengucapkan terima

kasih kepada semua pihak yang telah berkonstribusi untuk tersajinya makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal itu di

karenakan keterbatasan yang ada. Sehingga kami dangat mengharapkan saran dan

kritik yang membangun dari pembaca.

Kiranya makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita

semua. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang sangat penting
dalam usahanya mempertahankan hidup dan mengembangkan dirinya dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Belajar dirasa penting karena kehidupan
manusia semakin berkembang dan semakin maju seiring dengan berkembangnya
teknologi dan ilmu pengetahuan, tanpa belajar manusia akan tertinggal dan tidak
bisa mengikuti perkembangan zaman. Dengan demikian belajar merupakan suatu
kebutuhan yang dirasa sebagai suatu keharusan untuk dipenuhi sepanjang usia
manusia, sejak lahir hingga akhir hayatnya. (Malik. H, 2011).
Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Pendidikan bersifat sepanjang hayat dan hanya akan terhenti ketika
seseorang telah dijemput oleh kematian. Berangkat dari hal tersebut maka
muncullah salah satu jenis pendidikan yang disebut pendidikan orang dewasa.
(Yulianti. I, 2011)
Pada dasarnya orang dewasa telah memiliki banyak pengalaman belajar
dalam hidupnya sehingga dalam proses pengajarannya harus dilakukan dengan
menggunakan teori belajar untuk orang dewasa yang tentunya sangat berbeda
dengan teori pengajaran untuk anak-anak serta pengajarannya pun harus dilakukan
oleh tenaga pendidikan yang telah memahami berbagai teori dan konsep tentang
pengajaran untuk orang dewasa.
Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A
Neglected Species" mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa.
Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai
kalangan khususnya para ahli pendidikan.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa rumusan
masalah dari makalah ini, yaitu:
1. Apa pengertian dari andragogi?
2. Bagaimana Perkembangan teori belajar orang dewasa?
3. Bagaimana karakteristik belajar orang dewasa?
4. Bagaimana kondisi dan prinsip belajar orang dewasa?
5. Apa asumsi-asumsi pokok dari teori belajar orang dewasa?
6. Bagaimana aplikasi teori belajar orang dewasa?
7. Apa kelebihan dan kelemahan dari teori belajar orang dewasa?

C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa tujuan
penulisan makalah ini, yaitu:
1. Menjelaskan pengertian dari andragogi.
2. Menjelaskan perkembangan teori belajar orang dewasa.
3. Menjelaskan karakteristik belajar orang dewasa.
4. Menerangkan prinsip belajar orang dewasa.
5. Menjelaskan asumsi-asumsi pokok dari teori belajar orang dewasa.
6. Menjelaskan aplikasi teori belajar orang dewasa.
7. Menyebutkan kelebihan dan kelemahan dari teori belajar orang dewasa.

D. Sistematika Penulisan
Struktur makalah ini yaitu terdiri dari 3 bab, yang disusun untuk membantu
pembaca dalam membaca dan memahami isi dari makalah ini. Adapun susunannya
terdiri atas:
BAB I Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II Pembahasan. Di dalamnya berisipengertian dari andragogi,
perkembangan teori belajar orang dewasa, karakteristik teori belajar orang
dewasa,kondisi dan prinsip belajar orang dewasa, asumsi-asumsi pokok dari teori
belajar orang dewasa, aplikasi teori belajar orang dewasa, serta kelebihan dan
kelemahan dari teori belajar orang dewasa.
BABI III Penutup, terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Andragogi

Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: "aner", dengan akar kata andr,
yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina.
andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang
dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan
mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam
proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada
warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan
sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).
Pendidikan dewasa adalah suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk
bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup. Bagi orang dewasa
belajar berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya
dan mencari jawabannya ( Pannen dalam Supriantono, 2008).
Menurut UNESCO dalam Supriantono mendefinisikan pendidikan orang
dewasa berikut ini : Keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan apapun
isi, tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun
menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi dan universitas serta latihan
kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat
mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan
kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap
dan perilakunya dalam persfektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan
partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan
bebas.
Defenisi di atas mengindikasikan bahwa pendidikan orang dewasa harus
terorganisir dan berorientasi pada pengembangan dan perubahan kognitif, afektif
dan psikomotor serta berpartisipasi aktif dalam pengembangan EKOSOSBUD.
Orang dewasa sendiri dapat didefenisikan dalam tiga aspek yaitu :
a. Biologis → seseorang dikatakan dewasa apabila telah mampu
melakukan reproduksi.
b. Psikologis → seseorang dikatakan dewasa apabila telah memiliki
tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.
c. Sosiologis → seseorang dikatakan dewasa apabila telah mampu melakukan
peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepadanya.
Pendidikan Orang Dewasa adalah suatu proses dimana orang-orang yang
sudah memiliki peran sosial sebagai orang dewasa melakukan aktivitas belajar yang
sistematik dan berkelanjutan dengan tujuan untuk membuat perubahan dalam
pengetahuan, sikap, nilai-nilai, dan keterampilan.

B. Perkembangan Teori Belajar Orang Dewasa

Ditemukannya istilah andragogi dimulai dari tahun 1833, oleh Alexander


Kapp, Kapp menjelaskan andragogi dengan menggunakan istilah Pendidikan Orang
Dewasa terutama dalam menjelaskan teori pendidikan yang dilahirkan ahli filsafat
Plato. Secara runtut berikut ini dijelaskan sejarah perkembangan penggunaan istilah
andragogi dari tahun ke tahun sebagai teori pendidikan baru di samping teori
pedagogi:
1. Pada abad 18 sekitar tahun 1833, Alexander Kapp menggunakan istilah
Pendidikan Orang Dewasa untuk menjelaskan teori pendidikan yang
dikembangkan dan dilahirkan ahli-ahli filsafat seperti Plato. Kemudian Gernan
Enchevort membuat studi tentang asal mula penggunaan istilah andragogi.
2. Pada abad 19 tepatnya tahun 1919, Adam Smith memberikan sebuah argumentasi
tentang pendidikan untuk orang dewasa “pendidikan juga tidak hanya untuk anak-
anak, tetapi pendidikan juga untuk orang dewasa”.
3. Tahun 1921, Eugar Rosenstock menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa
menggunakan guru khusus, metode khusus dan filsafat khusus. Edward Lindeman
menerbitkan buku “Meaning Of Adult Education” yang pada intinya berisi tentang:
1) Pendekatan Pendidikan orang dewasa dimulai dari situasi, 2) Sumber utama
pendidikan orang dewasa adalah pengalaman si belajar ia juga menyatakan ada
empat asumsi pendidikan orangdewasa, yaitu:
a. Orang dewasa termotivasi belajar oleh kebutuhan pengakuan.
b. Orientasi orang dewasa belajar adalah berpusat pada kehidupan.
c. Pengalaman adalah sumber belajar.
d. Pendidikan orang dewasa memperhatikan perbedaan bentuk, waktu,
tempat dan lingkungan.
4. Pada tahun 1929, Lawrence P. jacks menulis dalam journal Adult of education,
bahwa pendapatan dan kehidupan adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam
kehidupan. Ia mengistilahkan pendidikan orang dewasa (POD) dengan Continuing
School dan berbasis pada pendapatan dan kehidupan.
5. Tahun 1930, Arceak AB mengenalkan istilah pendidikan sepanjang hayat atau
pendidikan seumur hidup dalam rangka pendidikan untuk manusia. Pada tahun itu
Robert D. Leigh menyimpulkan dari hasil studinya dalam journal Adult
Educationbahwa belajar orang dewasa sangat berkaitan erat dengan pengalaman
sehari-hari, sehingga pengetahuan baru harus berdasar pengalaman hidup sehari-
hari.
6. Pada tahun 1931, Lyman Buson menyusun buku “Adult Education” yang
membahas secara terperinci tentang tujuan pendidikan orang dewasa sebagai
sebuah bentuk sosial untuk mencapai kesamaan tujuan program pada semua
institusi pendidikan orang dewasa.
7. Tahun 1938, Alan Rogers menulis dalam journal Adult Education bahwa salah
satu tipe pendidikan orang dewasa adalah berdasarkan penggunaan metode baru
sebagai prosedur atau langkah pada pembelajarannya.
8. Sekitar tahun 1939, Rat Herton menulis dalam journal Adult Education bahwa
pada High School, dalam belajar orang dewasa mempunyai beberapa pengetahuan
atau kecakapan sehingga proses belajar harus seperti yang dimulai atau dilakukan
orang yang belajar tersebut. Pemikiran tersebut sejalan dengan pendapat Ben H.
Cherrington yang ditulis dalam journal Adult Education, bahwa pada pendidikan
orang dewasa yang demokratis, orang belajar menggunakan metode belajar aktif
mandiri dan bebas memilih belajar dan hasil belajar. Anggapan tersebut dipertegas
lagi oleh Wandell Thoman dalam journal Adult Education, bahwa pendidikan
orang dewasa berbeda dengan sekolah di dalam keindividualan dan tanggung jawab
sosial.
9. Dimulai pada tahun 1950, Malcolm Knowles menyusun “Informal Adult
Education”yang menyatakan bahwa inti Pendidikan orang dewasa berbeda dengan
Pendidikan tradisional. Rogers menyatakan bahwa pendidikan juga dihubungkan
dengan perubahan tingkah laku, dimana hal ini sesuai dengan pembelajaran orang
dewasa.
10. Tahun 1954, Kurt Lewin menyatakan bahwa belajar terjadi sebagai akibat
perubahan dalam struktur kognitif yang dihasilkan oleh perubahan struktur kognitif
itu sendiri atau perubahan kebutuhan juga adanya motivasi internal serta belajar
yang efektif dilakukan melalui kelompok.
11. Tahun 1961, April O. Houle menyatakan bahwa orang-orang dewasa tertarik pada
continuing education dan alasan orang-orang dewasa belajar adalah: 1) the goal –
oriented learners, 2) the activity – oriented learners, 3) the learning– oriented
learners.
12. Tahun 1961, Maslow menyatakan dalam pendidikan orang dewasa, peserta belajar
harus mencapai aktualisasi diri. Carl Rogers menyatakan dalam pendidikan orang
dewasa, peserta belajar harus dapat menunjukan fungsinya.

C. Karakteristik Belajar Orang Dewasa

1. Orang Dewasa Telah Memiliki Lebih Banyak Pengalaman Hidup


Menghubungkan pengalaman-pengalaman dengan konsep-konsep yang ingin
dipelajari serta menjadikan pengalaman sebagai sumber pembelajaran. Oleh karena
itu metode yang digunakan berfokus pada diskusi dan aplikasi materi.
2. Orang Dewasa Memiliki Motivasi yang Tinggi Untuk Belajar
Hal ini dikarenakan mereka ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tujuan
mereka lebih nyata bahwa apa yang mereka pelajari haruslah dapat diaplikasikan.
3. Orang Dewasa Telah Memiliki Banyak Peran dan Tanggung Jawab
Banyaknya peran dan tanggung jawab menyebabkan waktu belajar orang dewasa
terbatas. Oleh karena itu, pendidik orang dewasa penting untuk dapat memahami
persaingan penggunaan waktu ini.
4. Kurang Percaya Pada Kemampuan Diri untuk Belajar Kembali
Tekadang orang dewasa enggan untuk melibatkan diri dalam aktivitas pendidikan
dalam pendidikan orang dewasa mungkin disebabkan oleh faktor fisik atau
kepercayaan masyarakat yang keliru.
5. Orang Dewasa Lebih Beragam dari Pada Pemuda
Setiap individu berbeda dalam kemampuan serta kesiapannya menghadapi
kelompok-klelompok belajar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dengan pertukaran
pengalaman.

Selain itu, sifat belajar bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik,
maka terlepas dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan,
teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan
menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan mematikan gairah belajar orang
dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan
kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai
kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaan diri tersebut, maka suasana
belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud.

Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan
pendirian yang berbeda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat
mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun
mereka saling berbeda pendapat. Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa
dalam suasana/ situasi belajar yang bagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat
dan boleh berbuat salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan,
pemecatan, cemoohan, dll).

Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang


dewasa dalam mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat
pelatihan. Sifat keterbukaan untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk
mendengarkan gagasan, akan berdampak baik bagi kesehatan psikologis, dan psikis
mereka. Di samping itu, harus dihindari segala bentuk akibat yang membuat orang
dewasa mendapat ejekan, hinaan, atau dipermalukan. Jalan terbaik hanyalah
diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga berbagai alternatif
kebebasan mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan.

Dalam hal lainnya, tidak dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar secara
khas dan unik. Faktor tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang
terkendali harus diakui sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang
diambil tidak harus selalu sama dengan pribadi orang lain. Kebersamaan dalam
kelompok tidak selalu harus sama dalam pribadi, sebab akan sangat membosankan
kalau saja suasana yang seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa adanya kritik
yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu, latar belakang
pendidikan, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-
masing individu dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang
diambil.

Bagi orang dewasa, terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan


suatu fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil
beda, dapat berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang
mereka peroleh. Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya
kesalahan, namun kesalahan, dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang
wajar dari belajar.

Pada akhirnya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok
belajar itu. Bagi orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan
kelemahan dirinya. Dengan demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh
seluruh anggota kelompok dirasakannya berharga untuk bahan renungan, di mana
renungan itu dapat mengevaluasi dirinya dari orang lain yang persepsinya bisa saja
memiliki perbedaan.

Setiap individu orang dewasa, makin bertambah usianya, akan semakin sukar
baginya belajar (karena semua aspek kemampuan fisiknya semakin menurun).
Misalnya daya ingat, kekuatan fisik, kemampuan menalar, kemampuan
berkonsentrasi, dan lain-lain semuanya memperlihatkan penurunannya sesuai
pertambahan usianya pula. Menurut Lunandi (1987), kemajuan pesat dan
perkembangan berarti tidak diperoleh dengan menantikan pengalaman melintasi
hidup saja. Kemajuan yang seimbang dengan perkembangan zaman harus dicari
melalui pendidikan.

D. Prinsip Andragogi atau Pendidikan Orang Dewasa


Pendidikan orang dewasa memiliki 10 Prinsip yang membedakannya dengan
jenis pendidikan yang lain. 10 Prinsip pendidikan orang dewasa tersebut,dapat
menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan efisien. 10 Prinsip tersebut,
yaitu :
1. Prinsip kemitraan
Prinsip kemitraan menjamin terjalinnya kemitraan di antara pengajar dan
pelajar. Dengan demikian pelajar tidak diperlakuan sebagai murid tetapi sebagai
mitra belajar sehingga hubungan yang mereka bangun bukanlah hubungan yang
bersifat memerintah, tetapi hubungan yang bersifat membantu, yaitu pengajar akan
berusaha semaksimal mungkin untuk membantu proses belajar pelajarnya.
2. Prinsip pengalaman nyata
Prinsip pengalaman nyata menjamin berlangsungnya kegiatan pembelajaran
pendidikan orang dewasa terjadi dalam situasi kehidupan yang nyata. Kegiatan
pembelajaran pendidikan orang dewasa tidak berlangsung di kelas atau situasi yang
simulative, tetapi pada situasi yang sebenarnya.
3. Prinsip kebersamaan
Prinsip kebersamaan menuntut digunakannya kelompok dalam kegiatan
pembelajaran pendidikan orang dewasa untuk menjamin adanya interaksi yang
maksimal di antara peserta dengan difasilitasi pengajar.
4. Prinsip partisipasi
Prinsip partisipasi adalah untuk mendorong keterlibatan pelajar secara
maksimal dalam kegiatan pembelajaran orang dewasa, dengan fasilitas dari
pengajar. Dalam kegiatan pembelajaran pendidikan orang dewasa semua peserta
harus terlibat atau mengambil bagian secara aktif dari seluruh proses pembelajaran
mulai dari perencanaan,pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
6. Prinsip keswadayaan
Prinsip keswadayaan merupakan prinsip yang mendorong kemandirian
pelajar dalam upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendidikan orang
dewasa bertujuan untuk menghasilkan manusia yang mandiri yang mampu
melakukan peranan sebagai subyek atau pelaku. Untuk itulah diperlukan prinsip
keswadayaan.
7. Prinsip kesinambungan
Prinsip yang menjamin adanya kesinambungan dari materi yang dipelajari
sekarang dengan materi yang telah dipelajari di masa yang lalu dan dengan materi
yang akan dipelajari di waktu yang akan datang. Dengan prinsip ini maka akan
terwujud konsep pendidikan seumur hidup (life long education) dalam pendidikan
orang dewasa.
8. Prinsip manfaat
Prinsip manfaat menjamin bahwa apa yang dipelajari dalam pendidikan orang
dewasa adalah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan oleh pelajar. Orang dewasa
akan siap untuk belajar manakala dia menyadari adanya kebutuhan yang harus
dipenuhi. Kesadaran terhadap kebutuhan ini mendorong timbulnya minat untuk
belajar, dan karena rasa tanggung jawabnya sebagai orang dewasa maka timbul
kesiapanya untuk belajar.
9. Prinsip kesiapan
Prinsip kesiapan menjamin kesiapan mental maupun kesiapan fisik dari
pelajar untuk dapat melakukan kegiatan pembelajaran. Orang dewasa tidak akan
dapat melakukan kegiatan pembelajaran manakala dirinya belum siap untuk
melakukannya, apakah itu karena belum siap fisiknya atau belum siap mentalnya.
10. Prinsip lokalitas
Prinsip lokalitas menjamin adanya materi yang dipelajari bersifat spesifik
local. Generalisasi dari hasil pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa akan
sulit dilakukan. Hasil pendidikan orang dewasa pada umumnya merupakan
kemampuan yang spesifik yang akan dipergunakan untuk memecahkan masalah
pelajar pada tempat mereka masing-masing, pada saat sekarang juga. Kemampuan
tersebut tidak dapat diberlakukan secara umum menjadi suatu teori, dalil, atau
prinsip yang dapat diterapkan dimana saja, dan kapan saja. Hasil pembelajaran
sekarang mungkin sudah tidak dapat lagi dipergunakan untuk memecahkan
masalah yang sama dua atau tiga tahun mendatang. Demikian pula hasil
pembelajaran tersebut tidak dapat diaplikasikan dimana saja, tetapi harus
diaplikasikan di tempat pelajar sendiri karena hasil pembelajaran tersebut diproses
dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh pelajar.
11. Prinsip keterpaduan
Prinsip keterpaduan menjamin adanya integrasi atau keterpaduan materi
pendidikan orang dewasa. Rencana pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa
harus meng-cover materi-materi yang sifatnya terintegrasi menjadi suatu kesatuan
meteri yang utuh, tidak parsial atau terpisah-pisah.
Proses belajar yang bersifat andragogis meliputi langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Menciptakan iklim belajar yang cocok untuk orang dewasa,
b. Menciptakan struktur organisasi untuk perencanaan yang bersifat partisipatif,
c. Mendiagnosis kebutuhan belajar,
d. Merumuskan tujuan belajar,
e. Mengembangakn rancangan kegiatan belajar,
f. Melaksanakan kegiatan belajar, dan
g. Mendiagnosa kembali kebutuhan belajar (evaluasi).

E. Asumsi-asumsi Pokok Teori Belajar Orang Dewasa


Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi,
mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
1. Konsep Diri: Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang
bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah
pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan
mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh
penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri
(Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction).
2. Peranan Pengalaman: Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu
seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam
perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai
pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu
sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu
tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman
baru.
3. Kesiapan Belajar: Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang
sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh
kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak
ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan
sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau
biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan
perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja,
orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi
pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi
pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan
sosialnya.
4. Orientasi Belajar: Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-
olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat
pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada
orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat
pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal
ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk
menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama
dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.
F. Aplikasi Teori Belajar Orang Dewasa

Teori belajar orang dewasa yang relevan untuk setiap tahap kegiatan belajar,
mempunyai beberapa tahap sebagai berikut :
1. Perumusan Tujuan Program
Tujuan program ini ialah untuk menyatakan domain tingkah laku serta
tingkatan tingkah laku yang ingin dicapai sebagai hasil belajar. Demikian itu
rumusan tujuan program yang merupakan aplikasi teori behaviioristik dan
taksonomi Bloom.
Berdasarkan tujuan program belajar, fasilitator memilih dan
mengroganisasikan bahan pelajaran yang sesuai, menyiapkan atau memilih bahan
dan alat penyajian yang relevan, serta menetapkan strategi belajar-membelajarkan
yang akan ditempuh.
2. Pengembangan Alat Evaluasi
a. Tahap pencapaian tujuan pembelajaran/ program kegiatan belajar , keseksamaan
perumusan tujuan.
b. Kesusaian antara metode dan teknik penyajian dengan sifat bahan pelajaran,
tujuan yang ingin dicapai, karakteristrik warga belajar, kemampuan dasar warga
belajar.
c. Keberhasilan program dalam mencapai tujuan program.
d. keseksamaan alat evaluasi yang digunakan dengan tujuan program yang ingin
dinilai keberhasilannya.
3. Analisis Tugas Belajar dan Identifikasi Kemampuan
Teori belajar yang relevan dengan kegiatan analisis tugas, antara lain sebagai
berikut :
a. Teori Gesttailt meliputi hukum :
1) Hukum Pragmanz (penuh arti) yaitu pengkelompokan objek suatu bahan
pelajaran berdasrkan kriteria atau kategori tertentu. Seperti , warna, bentuk, dan
ukuran sehingga mempunyai arti.
2) Hukum kesamaan/keteraturan : tugas yang unsurnya mempunyai kesamaan dan
teratur, lebih mudah dipahami daripada yang berbeda dan tidak teratur.
b. Teori Medan
Belajar memecahkan masalah merupakan pengubahan struktur kognitif.
Identifikasi karakteristik kemampuan warga belajar, meliputi hal-hal sebagai
berikut :
1) Perbedaan karakteristik individu warga belajar dilihat dari segi psikologis, yaitu
perbedaan kecerdasan/bakat, kecepatan belajar, motivasi belajar, perhatian, cara
berfikir, dan daya ingat.
2) Pengetahuan masukan. Pengetahuan masukan yang telah dikuasai dapat dijadikan
bahan pengait (advance organizer) antara pelajaran terdahulu dengan pelajaran
baru.
Hasil latihan ataupun pengetahuan tentang cara pemecahan yang telah
dikuasai dapat ditransfer untuk memcahkan masalah yang lain yang dihadapi.
1. Penyusunan Strategi Belajar-Membelajarkan
Teori belajar bagi orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahapan ini,
antara lain sebagai berikut :
a. Teori Bruner tentang cara mengorganisasi tubuh ilmu yang dipelajari, urutan-
urutan pokok bahsan yang disajikan, teknik penyajian enaktif , ekonik, dan
simbolik.
b. Teori penyajian bahan verbal yang bermakna menurut Ausubel.
c. Penataan situasi belajar yang menyangkut berkait dengan belajar dan kondisi
belajar menurut Gagne.
d. Metode belajar penyelesaian masalah dengan tekhnik L ramu pendapat, teknik
gordon , analisis morfologis, metode buku catatan kolektif, dan metode papan
buletin kolektif.
e. Metode belajar/penyajian menemukan. Metode ini memudahkan transfer dan
retensi, mempertinggi kemampuan menyelesaikan masalah, serta mengandung
motivasi intrinsik.
f. Perbedaan individual dalam hal kecepatan belajar warga belajar.
g. Pengaturan urutan penyajian bahan pelajaran menurut tingkat kesuliatan dari yang
sederhana kebagian yang sulit.
2. Pelaksanaan Kegiatan Belajar dan Membelajarkan
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahapan ini ,
antara lain :
a. Hukum Kesiapan. Menyiapkan mental warga belajar untuk mengikuti pelajaran
baru dengan memberikan penjelasanan yang mengenai pengetahuan masyarkat
dengan singkat.
b. Penguatan motivasi belajar. Menjelaskan kegunaan atau nilai praktis pelajaran
baru dalam kehidupan dan pengabdian.
c. Proses persyaratan (conditioning). Proses ini memperlihatkan model hasil belajar
terminal untuk memudahkan warga belajar mengenai pengetahuan dan
keterampilan.
d. Hukum unsur yang identik, yaitu mentransfer pengalaman menyelesaikan masalah
lainnya yang berkait dengan perasaan atau menerapkan pengetahuan dan
keterampilan baru dalam berbagai situasi , posisi dan kondisi.
e. Cara menarik perhatian : teori ini mengaitkan kegiatan belajar dan membelajarkan
dengan kebutuhan warga belajar, mengolah bahan pelajaran sebagai bahan
perlombaan antar individu, kelompok dan baris.
f. Metode menemukan. Teori ini memberikan kesempatan kepada warga belajar
untuk melakukan sendiri keterampilan yang harus dipelajarinya, bukan fasilitator
yang melakukan.
g. Karya wisata, pengalaman praktik lapangan di labroatorium atau dibengkel,
semua itu bisa menjadi pengalaman yang berkesan bagi warga dalam belajar dan
memungkinkannya lebih mengetahui konsep.
3. Pemantauan Hasil Belajar
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap pemantauan
hasil belajar antara lain :
a. Hukum latihan
b. Belajar lebih lanjut
c. Review,yaitu belajar dengan dengan secara berkala lebih efektif daripada belajar
terus menerus tanpa revieu
4. Evaluasi Hasil Belajar
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap evaluasi
antara lain :
a. Pengembangan kemampuan berfikir
b. Hukum efek
c. Penguatan
d. Keputusan penyajian
e. Hasil evaluasi
Akhirnya, keterampilan fasilitator menyajikan bahan sangat
mempengaruhi efektivitasnya kegiatan belajar dari warga belajar. Fasilitator yang
cakap menyajikan pelajaran dan yang menguasai teori belajar orang dewasa lebih
giat dan lebih tekun agar mencapai hasil belajar dan tujuan program kegiatan
belajar yang lebih baik.
G. Kelebihan dan Kelemahan dari Teori Belajar Orang Dewasa

Pendidikan orang dewasa terutama pendidikan masyarakat bersifat non


formal sebagian besar dari siswa atau pesertanya adalah orang dewasa, atau paling
tidak pemuda atau remaja. Oleh sebab itu, kegiatan pendidikan memerlukan
pendekatan tersendiri. Dengan menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha
pembelajaran orang dewasa dalam kerangka pembangunan atau realisasi
pencapaian cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diperoleh dengan dukungan
konsep teoritik atau penggunaan teknologi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Andragogi memiliki kelemahan, salah satunya adalah bahwa bagaimana
mungkin seorang siswa yang tidak terlalu memahami tentang luasnya ilmu
kemudian dibebaskan memilih apa yang mereka sukai? Seolah sistem Andragogi
hanya sebagai suatu sistem yang mengembirakan siswanya saja dan melupakan
untuk tujuan apa sebenarnya sebuah pendidikan itu dilakukan? Dan bagaimana pula
bisa dilakukan penjagaan terhadap ilmu-ilmu yang sudah ada? jika sebuah ilmu
tersebut tidak diminati oleh siswa, tentu saja satu waktu ilmu tersebut akan hilang.
Dan bagaimana siswa dibiarkan memilih jika ada persyaratan kemampuan yang
memang mesti dimiliki seandainya siswa mau belajar ilmu tertentu. Tak
mungkinlah siswa SD dibiarkan memilih mata pelajaran Integral Diferensial
sebelum mereka menguasai dulu perkalian, jumlah, kurang bagi, dll. Atau bisa
dikatakan juga tak mungkin seorang pengajar itu membiarkan siswanya belajar
materi yang sudah tinggi sebelum belajar mengenai materi dasarnya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: "aner", dengan akar kata andr,
yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina.
andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang
dewasa. Namun dalam andragogi ini orang dewasa diajarkan untuk dapat
melakukan kegiatan belajar mandiri yang bertumpu pada warga belajar itu sendiri.
Dalam belajar orang dewasa memiliki suatu karakteristik, prinsip dan
kondisinya dalam belajar. Orang dewasa biasanya banyak belajar dari
pengalamannya sendiri dan memiliki suatu kesadaran akan kebutuhannya dalam
belajar. Asumsinya pun setiap individu yang dewasa semakin matang sesuai dengan
perjalanan waktu, olehkarena itu kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan
atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh
tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Selain itu
orang dewasa juga mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang
berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered
Orientation).

B. Saran
Sebagai seorang yang dewasa sebaiknya memiliki suatu kesadaran dalam
belajar. Jadikan belajar itu merupakan suatu kebutuhan, motivasi diri dan tanggung
jawab. Karena dengan belajar, orang dewasa dapat mengembangkan dirinya dan
dapat ikut berperan serta di dalam lingkungan masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA
Nikmah, Lailatun. (2013). Teori Belajar Andragogi. [Online].
Tersedia: http://laylanikc.blogspot.com/2013/11/teori-belajar-andragogi.html.
Diakses 02 September 2014
Rosyid, Mohammad. (2014). Makalah Andragogi. [Online].
Tersedia: http://pgsdberbagi.blogspot.com/2014/01/makalah-andragogi-atau-
pendidikan-orang.html. Diakses 02 September 2014
Vera. (2013). Teori Belajar Orang Dewasa. [Online]. Tersedia: http://rara-
rememberme.blogspot.com/2013/04/aplikasi-teori-belajar-orang-dewasa.html.
Diakses 02 September 2014