Anda di halaman 1dari 20

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

Asuhan Keperawatan Maternitas Pada Ibu Post Partum Kala IV Dengan


Pemberian SOP Masase Fundus Uteri Di Ruang Bersalin
Puskesmas Ngesrep Kota Semarang

Lestari Astuti Pai


G3A019001

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Post partum merupakan suatu periode dalam minggu-minggu pertama setelah
kelahiran. Lamanya “periode” ini tidak pasti, sebagian besar menganggapnya antara 4
sampai 6 minggu. Walaupun merupakan masa yang relative tidak komplek
dibandingkan dengan kehamilan, nifas ditandai oleh banyaknya perubahan fisiologi.
Beberapa dari perubahan tersebut mungkin hanya sedikit menganggu ibu, walaupun
komplikasi serius juga sering terjadi (Cunningham, F, et al, 2013).
Involusi adalah suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil
dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat
kontraksi otot-otot polos uterus. Involusi disebabkan oleh kontraksi dan retraksi
serabut otot uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil maka akan menyebabkan
sub involusi. Gejala dari sub involusi meliputi lochea menetap/merah segar,
penurunan fundus uteri lambat, tonus uteri lembek, tidak ada perasaan mules pada ibu
nifas akibatnya terjadi pendarahan. Perdarahan pasca persalinan adalah kehilangan
darah lebih dari 500 ml melalui jalan lahir yang terjadi selama atau setelah persalinan
kala III. Perkirakan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya,
kadang-kadang hanya setengah dari yang sebenarnya (Anggraini, 2010)
Pada ibu nifas involusi uterus merupakan proses yang sangat penting karena
itu memerlukan perawatan yang khusus, bantuan dan pengawasan demi pulihnya
kesehatan seperti seblum hamil proses involusi uterus disertai dengan penurunan
Tinggi Fundus Uteri (TFU) pada hari pertama, TFU di atas simfisis pubis atau sekitar
12 cm. proses ini terus berlangsung dengan penurunan TFU 1 cm setiap harinya,
sehingga pada hari ke-7 TFU berkisar 5 cm dan pada hari ke-10 TFU tidak terba di
sinfisis pubis (Bahiyatun, 2009, hlm.60).
Berdasarkan Survey kesehatan daerah tahun 2015 kematian ibu maternal di
Kota Semarang sebanyak 35 kasus dari 27.334 jumlah kelahiran hidup atau sekitar
128.05 per 100.000 KH. Kematian ibu tertinggi adalah karena eklampsia (34%),
penyebab lainnya adalah karena perdarahan (28%), disebabkan karena penyakit
sebesar (26%) dan lain-lain sebesar 12% dengan kondisi saat meninggal paling banyak
pada masa nifas yaitu 74,29% diikuti waktu hamil (17,14%).
Pendarahan yang massif berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan pada
jalan lahir dan jaringan sekitarnya merupakan salah satu penyebab kematian ibu
disamping perdarahan karena hamil ektopik dan abortus. Perdarahan yang menetes
perlahan-lahan tetapi terus-menerus ini juga berbahaya. Perdarahan merupakan salah
satu kematian ibu dalam masa perinatal yaitu sekitar 5-15% dari seluruh persalinan.
Penyebab terbanyak dari perdarahan post partum tersebut yaitu 50-60% karena
kelemahan atau tidak adanya kontraksi uterus.
Ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi proses terjadinya involusi
uteri, diantaranya mobilisasi dini, pengosongan kandung kemih, laktasi dan masase
fundus uteri (Nababan, 2011). Masase uterus merupakan tindakan nonfarmakologi
yang dilakukan untuk mempertahankan kontraksi uterus tetap baik sehingga dapat
mencegah terjadinya perdarahan. Masase dilakukan dengan meletakkan tangan
diabdomen bagian bawah ibu dan merangsang uterus dengan pijatan yang teratur
untuk merangsang kontraksi uterus (Hofmeyr, 2013). Kontraksi uterus juga
merupakan bagian dari involusi uterus yang dapat mempengaruhi tinggi fundus uteri .

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam karya tulis ini
adalah asuhan keperawatan pada pasien post partum spontan kala IV dengan
pemberian SOP masase fundus uteri di ruang bersalin puskesmas ngesrep kota
semarang ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Karya ilmiah ini bertujuan untuk menambah wawasan dengan menggunakan
media video untuk mengurangi tinggi fundus uteri pada ibu post partum di ruang
bersalin puskesmas ngesrep kota semarang ?
2. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pengetahuan ibu setelah dan sebelum diberikan pendidikan
kesehatan
2. Mengidentifikasi penurunan tinggi fundus uteri
3. Menganalisis pengaruh pemberian pendidikan kesehatan masase fundus uteri
terhadap penurunan tinggi fundus uteri pada ibu post partum di ruang bersalin
puskesmas ngesrep kota semarang
D. Manfaat
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil karya ilmiah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
peneliti maupun tenaga kesehatan yang berada di ruang bersalin puskesmas
ngesrep kota semarang mengenai masase fundus uteri yang bisa di lakukan oleh
pasien secara mandiri dengan pemberian pendidikan kesehatan melalui media
leaflet pada ibu post partum.
2. Bagi Ibu Post Partum
Ibu hamil dapat menerapkan dan melakukan secara mandiri masase tanpa
bantuan tenaga medis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
a. Definisi Ibu Post Partum
Ibu post partum adalah keadaan ibu yang baru saja melahirkan. Istilah post partum
adalah masa sesudah melahirkan atau persalinan. Masa beberapa jam sesudah
lahirnya plasenta atau tali pusat sampai minggu ke enam setelah melahirkan. Masa
post partum dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali pada masa sebelum hamil yang berlangsung kira-kira enam
minggu, setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu
saluran reproduksi kembali kekeadaan yang normal pada saat sebelum hamil
(Marmi, 2012).
b. Tanda Perubahan Fisiologis Ibu Pada Masa Post Partum
Menurut Bahiyatun (2009), perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu
setelah masa nifas/post partum adalah:
Perubahan sitem reproduksi
1. Involusi uterus
Involusi uterus adalah kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil, baik
dalam bentuk maupun posisi. Proses involusi uterus disertai dengan penurunan
tinggi fundus uteri (TFU). Pada hari pertama TFU diatas simfisis pubis/ sekitar
12 cm. Proses ini terus berlangsung dengan penurunan TFU 1 cm tiap harinya,
sehingga pada hari ke-7 TFU sekitar 5 cm dan pada hari ke10 TFU tidak teraba
di simfisis pubis.
2. Lokia
Lokia keluar dari uterus setelah bayi lahir sampai dengan 3 atau 4 minggu
setelah post partum, perubahan lokia terjadi dalam 3 tahap: lokia rubra, serosa
dan alba
3. Ovarium dan Tuba Falopi
Setelah kelahiran plasenta produksi ekstrogen dan progestern menurun
sehingga menimbulkan mekanisme timbal balik dari sirkulasi menstruasi.
Pada saat inilah dimulai kembali proses ovulasi sehingga wanita dapat hamil
kembali.
4. Komplikasi Ibu Saat Masa Post Partum
Menurut Costance Sinclair (2009), berikut ini merupakan komplikasi yang
terjadi pada ibu saat post partum, yaitu:
1. Penurunan Berat badan
Untuk sebagian besar pada wanita memiliki berat badan lebih dalam 2 tahun
setelah hamil dibanding wanita yang belum pernah hamil, dan penurunan berat
badan biasanya bisa terjadi pada dalam beberapa waktu sesudah hamil dan
melahirkan.
2. Demam nifas
Demam nifas merupakan demam yang terjadi setelah melahirkan atau saat ibu
berada di masa nifas. Demam ini bisa terjadi setelah melahirkan hingga kurang
lebih 6 minggu setelah masa persalinan, demam nifas biasanya yang
disebabkan oleh perubahan hormon karena sebagian besar demam nifas ini
disebabkan oleh infeksi setelah masa persalinan atau melahirkan.
3. Nyeri pada simfisis pubis
Nyeri ini biasanya disebabkan oleh ibu paska bersalin atau masa nifas, dan
nyeri tersebut akan ada setelah kondisi ibu melahirkan bayi melalui vagina,
nyeri ini diakibatkan karena adanya lecet pada sekitar area vagina dan bekas
luka jahitan pasca melahirkan.
4. Kesulitan berjalan atau kesulitan dalam hubungan seksual
Kesulitan ketika berjalan biasanya dikarenakan adanya latihan duduk dan
berjalan paska bersalin pada ibu post partum, sedangkan kesulitan dalam
hubungan seksual pada ibu post partum kemungkinan diakibatkan karena
timbulnya rasa sakit disekitar jalan lahir setelah pasca melahirkan.
5. Pendarahan yang luar biasa
Pendarahan pada ibu pasca melahirkan terdapat pendarahan yang hebat yang
terjadi dari adanya robekan pada jalan lahir. Dan juga apabila ari – ari sudah
lahir (keluar dari rahim) biasanya juga mengeluarkan darah yang banyak,
sedangkan rahim masih berkontraksi dengan baik sehingga ibu post partum
merasa mules dengan adanya kontraksi tersebut, sedangkan bisa juga darah
yang keluar banyak tentunya kemungkinan terjadi karena adanya robekan pada
jalan lahir sehingga bisa terjadinya pendarahan yang luar biasa.
6. Payudara membengkak disertai kemerahan
Paska persalinan setelah dua atau tiga hari terkadang seorang ibu nifas atau
post partum akan merasakan payudaranya mulai membengkak yang
disebabkan oleh adanya bakteri Staphylococcus atau Streptococcus yang
berasal dari saluran air susu yang tersumbat (ASI mengendap dalam saluran
susu), selain itu dengan adanya penyumbatan pada sekitar area payudara akan
membuat terlihat payudara menjadi bengkak dan kemerahan.
c. Definisi Masase Fundus Uteri
Masase merupakan sebuah pijatan untuk merangsang uterus agar berkontraksi baik
dan kuat, kontraksi yang tidak kuat dapat menyebabkan terjadinya atonia uteri Dua
jam setelah persalinan merupakan saat yang paling kritis bagi pasien dan bayinya.
Tubuh pasien melakukan adaptasi yang luar biasa setelah kelahiran bayinya agar
kondisi tubuh kembali stabil, sedangkan bayi melakukan adaptasi terhadap
perubahan lingkungan hidupnya di luar uterus. Kematian ibu terbanyak terjadi
pada kala ini, oleh karena itu bidan tidak boleh meninggalkan pasien dan bayi
sendirian (Sulistyawati dkk, 2013 : 177).
d. Manfaat Masase Fundus Uteri
Manfaat masase fundus uteri untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat,
dengan terus berkontraksi rahim menutup pembuluh darah yang terbuka pada
daerah plasenta, penutupan ini akan mencegah perdarahan yang hebat dan
mempercepat pelepasan lapisan rahim ektra yang terbentuk selama kehamilan.
e. Fisiologi Kala IV Persalinan
1. Tanda Vital
Dua jam pertama setelah persalinan, tekanan darah, nadi, dan pernapasan akan
berlangsung normal. Suhu pasien biasanya akan mengalami sedikit
peningkatan, tapi masih di bawah 38 oC, hal ini disebabkan oleh kurangnya
cairan dan kelelahan. Jika intake cairan baik, maka suhu akan berangsur
normal kembali setelah dua jam (Sulistyawati dkk, 2013 : 177).
2. Gemetar
Kadang dijumpai dari 38 oC dan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi lain.
Gemetar terjadi karena hilangnya ketegangan dan sejumlah energi selama
melahirkan dan merupakan respon fisiologis terhadap penurunan volume
intraabdominal serta pergeseran hematologi (Sulistyawati dkk, 2013 : 177).
3. Sistem Gastrointestinal
Selama dua jam pascapersalinan kadang dijumpai pasien merasa mual sampai
muntah, atasi ini dengan posisi tubuh yang memungkinkan dapat mencegah
terjadinya aspirasi corpus aleanum ke saluran pernapasan dengan setengah
duduk atau duduk di tempat tidur. Perasaan haus pasti dirasakan pasien, oleh
karena itu hidrasi sangat penting diberikan untuk mencegah dehidrasi
(Sulistyawati dkk, 2013 : 178).
4. Sistem Renal
Selama 2-4 jam pascapersalinan kandung kemih masih dalam keadaan
hipotonik akibat adanya alostaksis, sehingga sering dijumpai kandung keih
dalam keadaan penuh dan mengalami pembesaran. Hal ini disebabkan oleh
tekanan pada kamdung kemih dan uretra selama persalinan. Kondisi ini dapat
diringankan dengan selalu megusahakan kandung kemih kosong selama
persalinan untuk mencegah trauma. Setelah melahirkan, kandung kemih
sebaiknya tetap kosong guna mencegah uterus berubah posisi dan terjadi atoni.
Uterus yang berkontraksi dengan buruk meningkatkan perdarahan dan nyeri
(Sulistyawati dkk, 2013 : 178).
5. Sistem Kardiovaskular
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk menampung aliran
darah yang meningkat yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah
uterus. Penarikan kembali estrogen menyebabkan diuresis yang terjadi secara
cepat sehingga mengurangi volume plasma kembali pada proporsi normal.
Aliran ini terjadi 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini
pasien mengeluarkan banyak sekali urine. Hilangnya pengesteran membantu
mengurangi retensi cairan melekat, dengan meningkatnya vaskular pada
jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama degan trauma masa
persalinan. Pada persalinan per vagina kehilangan darah sekitar 200-500 ml
sedangkan pada persalinan SC pengeluarannya dua kali lipat. Perubahan terdiri
dari volume darah dan kadar hematokrit (Sulistyawati dkk, 2013 : 178).
Setelah persalinan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah pasien
relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menyebabkan beban pada jantung
(Sulistyawati dkk, 2013 : 178)
6. Serviks
Perubahan-perubahan pada serviks terjadi segera setelah bayi lahir, bentuk
serviks agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus
uterus yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi
sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks berbentuk
semacam cincin (Sulistyawati dkk, 2013 : 178). Serviks berwarna merah
kehitaman karena penuh dengan pembuluh darah. Konsistensi lunak, kadang-
kadang terdapat laserasi atau perlukaan kecil. Karena robekan kecil terjadi
selama berdilatasi, maka serviks tidak akan pernah kembali lagi ke keadaan
seperti sebelum hamil (Sulistyawati dkk, 2013 : 178). Muara serviks yang
berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalinan akan menutup secara perlahan
dan bertahap. Setelah bayi lahir tangan bisa masuk ke dalam rongga rahim,
setelah dua jam hanya dapat dimasukin dua atau tiga jari (Sulistyawati dkk,
2013 : 179).
7. Perineum
Segera setelah dilahirkan, perineum menjadi kendur kerena sebelumnya
teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada hari ke-5
pascamelahirkan, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian tonusnya
sekalipun tetap lebih kendur dibandingkan keadaan sebelum hamil
(Sulistyawati dkk, 2013 : 179).
8. Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar
selama proses melahirkan, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses
tersebut kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur. Selama 3 minggu vulva
dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina
berangsur-angsur akan muncul kembali, sementara labia menjadi lebih
menonjol (Sulistyawati dkk, 2013 : 179).
9. Pengeluaran ASI
Dengan menurunnya hormon estrogen, progesteron, dan Human Plasenta
Lactogen Hormone setelah plasenta lahir, prolaktin dapat berfungsi
membentuk ASI dan mengeluarkannya ke dalam alveoli bahkan sampai duktus
kelenjar ASI. Isapan langsung pada puting susu ibu menyebabkan refleks yang
dapat mengeluarkan oksitosin dari hipofisis sehingga mioepitel yang terdapat
disekitar alveoli dan duktus kelenjar ASI berkontraksi dan mengeluarkan ASI
ke dalam sinus yang disebut “let down refleks” (Sulistyawati dkk, 2013 : 179).
- Manfaat pemberian ASI pada kala IV
Isapan langsung pada puting susu ibu menyebabkan reflek yang dapat
mengeluarkan oksitosin dari hipofisis, sehingga ini akan menambah kekuatan
kontraksi uterus v.
10. Pemantauan Kala IV
1) Serviks
Indikasi pemeriksaan serviks menurut Sulistyawati (2013 : 180), yaitu :
a. Aliran perdarahan per vagina berwarna merah terang dari bagian atas
tiap laserasi yang diamati, jumlahnya menetap atau sedikit setelah
kontraksi uterus dipastikan.
b. Persalinan cepat atau presipitatus.
c. Manipulasi serviks selama persalinan, misalnya untuk mengurangi
tepi anterior.
d. Dorongan maternal (meneran) sebelum dilatasi maksimal.
e. Kelahiran per vagina dengan tindakan, misalnya ekstraksi vakum atau
forsep.
f. Kelahiran traumatik, misalnya distosia bahu.
Adanya salah satu dari faktor di atas mengindikasikan kebutuhan
untuk pemeriksaan serviks secara spesifik untuk menentukan langkah
perbaikan. Inspeksi serviks tanpa adanya perdarahan persisten pada
persalinan spontan normal tidak perlu secara rutin dilakukan
(Sulistyawati dkk, 2013 : 180).
2) Vagina
Pengkajian kemungkinan robekan atau laserasi pada vagina dilakukan
setelah pemeriksaan robekan pada serviks. Penentuan derajat laserasi
dilakukan pada saat ini untuk menentukan langkah penjahitan
(Sulistyawati dkk, 2013 : 181).
3) Perineum
Berat ringannya robekan perineum terbagi menjadi 4 derajat

(Sulistyawati dkk, 2013 : 181).


Robekan Derajat satu Derajat dua Derajat tiga Derajat
Perineum empat
Lokasi  Mukosa  Mukosa  Mukosa  Mukosa
robekan vagina vagina vagina vagina
 Komisura  Komisura  Komisura  Komisura
posterior posterior posterior posterior
 Kulit  Kulit  Kulit  Kulit
perineum perineum perineum perineum
 Otot  Otot  Otot
perineum perineum perineu
 Otot  Otot
sfingter sfingter
ani ani
 Dinding
depan
rektum
Tata laksana Tak perlu Jahit Penolong APN tidak dibekali
dijahit jika menggunakan keterampilan untuk reparasi
tidak ada teknik yang laserasi perineum derajat tiga
perdarahan sesuai dengan atau empat. Segera rujuk ke
dan aposisi kondisi fasilitas rujukan.
luka baik. pasien
Sumber : JNPK-KR, 2015 : 138
11. Pemantauan dan Evaluasi Lanjut Kala IV

1. Tanda Vital

a. Tekanan darah dan nadi

Selama satu jam lekukan pemantauan pada tekanan darah dan nadi

setiap 15 menit dan pada satu jam kedua lakukan setiap 30 menit

(Sulistyawati dkk, 2013 : 181).

Pemantauan tekanan darah ibu pascapersalinan digunakan untuk

memastikan bahwa ibu tidak mengalami syok akibat mengeluarkan

banyak darah. Adapun gejala syok yang diperhatikan antara lain nadi

cepat, lemah (110 kali/menit atau lebih), teanan darah rendah (sistolik

kurang dari 90 mmHg), pucat, berkeringat atau dingin, kulit lembab,

nafas cepat (lebih dari 30 kali/menit), cemas, kesadaran menurun atau

tidak sadar serta produksi urine sedikit sehingga produksi urine

menjadi pekat dan suhu tinggi perlu diwaspadai juga kemungkinan

terjadinya infeksi dan perlu penangannan lebih lanjut (Walyani dkk.

2016 : 115).

b. Respirasi dan suhu

Lakukan pemantauan respirasi dan suhu setiap jam selama dua jam

pertama pascapersalinan (Sulistyawati dkk, 2013 : 180).

c. Kontraksi Uterus

Pemantauan kontraksi uterus dilakukan setiap 15 menit selama satu jam

pertama dan setiap 30 menit selama satu jam kedua. Pemantauan ini

dilakukan bersamaan dengan masase fundus uterus secara sirkular.

Topangan pada uterus bawah selama masase mencegah peregangan

ligamen kardinale. Untuk melakukan masase uterus yang benar, remas

uterus bawah pada abdomen tepat di atas simfisis dan tahan ditempat
dengan satu tangan, sementara tangan lain melakukan masase fundus.

Masase fundus yang efektif mencakup lebih dari lekuk anterior fundus.

Seluruh fundus anterior, lateral, dan posterior harus tercapai oleh

tangan seluruhnya. Prosedur ini dilakukan secara cepat dengan

sentuhan yang tegas dan lembut. (Sulistyawati dkk, 2013 : 182).

d. Tinggi Fundus Uteri (TFU)

Evaluasi TFU dilakukan dengan meletakkan jari tangan secara

melintang dengan pusat sebagai patokan. Umumnya fundus uterus

setinggi atau beberapa jari dibawah pusat (Sulistyawati dkk, 2013 :

182).

e. Lokia

Lokia dipantau bersamaan dengan masase uterus. Jika uterus kontraksi

dengan baik maka aliran lokia tidak akan terlihat banyak, namun jika

saat uterus berkontaksi terlihat lokia yang keluar lebih banyak maka

diperlukan suatu pengkajian lebih lanjut (Sulistyawati dkk, 2013 : 182).

f. Kandung Kemih

Pada kala IV perawat memastikan bahwa kandung kemih selalu dalam

keadaan kosong setiap 15 menit sekali dalam satu jam pertama

pascapersalinan dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua. Ini sangat

penting untuk dilakukan untuk mencegah beberapa penyulit akibat

penuhnya kandung kemih (Sulistyawati dkk, 2013 : 182), seperti :

a. Kandung kemih yang penuh akan menyebabkan atonia uterus dan

menyebabkan perubahan posisi uterus.

b. Urine yang terlalu lama berada dalam kandung kemih akan

berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih.


c. Secara psikologis akan menyebabkan kekhawatiran yang

berpengaruh terhadap penerimaan pasien berkaitan dengan

perubahan perannya.

d. Perineum

Setelah pengkajian derajat robekan; perineum kembali dikaji

dengan melihat adanya edema, memar, dan pembentukan hemtom

yang dilakukan bersamaan saat mengkaji lokia. Pengkajian ini

termasuk juga untuk mengetahui apakah terjadi hemoroid atau

tidak. Jika terjadi, lakukan tindakan untuk mengurangi

ketidaknyamaan yang timbul dengan memberikan kantong es yang

ditempel di area hemoroid. Selain itu, dapat juga diberikan zat yan

bersifat menciutkan, misalnya witch hazel atau tucks pads atau

sprai dan krim anestesi, analgesik yang digunakan secara lokal

(Sulistyawati dkk, 2013 : 182-183).

e. Perkiraan Darah yang Hilang

Sangat sulit memperkirakan kehilangan darah secara tepat karena

darah serongkali bercampur dengan cairan ketuban atau urine dan

mungki terserap handuk, kain, atau sarung. Tak mungkin menilai

kehilangan darah secara akurat melalui perhitungan jumlah darah di

sarung karena ukuran sarung bermacam-macam dan mungkin

sarung telah diganti jika terkena sedikit darah atau basah oleh

darah. Meletakkan wadah atau pispot di bawah bokong pasien

untuk mengumpulkan darah bukanlah cara efektif untuk mengukur

kehilangan darah dan bukan cerminan asuhan sayang ibu, karena

berbaring di atas wadah atau pispot sangat tidak nyaman dan


menyulitkan pasien untuk memegang dan menyusui bayi (JNPK-

KR, 2015 : 137).

Satu cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan melihat

volume darah yang terkumpul dan memperkirakan berapa banyak

botol 500 ml dapat menampung semua darah tersebut. Jika darah

bisa mengisi 2 botol, artinya pasien telah kehilangan satu liter

darah, jika darah bisa mengisi setengah botol pasien kehilangan 250

ml darah dan seterusnya. Memperkirakan kehilangan darah

hanyalah salah satu cara untuk menilai kondisi pasien. Cara tak

langsung untuk mengukur jumlah kehilangan darah adalah melalui

penampakan gejala dan tekanan darah. Apabila perdarahan

menyebabkan pasien lemas, pusing, dan kesadaran menurun serta

tekanan darah sistol turun lebih dari 10 mmHg dari mondisi

sebelumnya, maka telah terjadi perdarahan lebih dari 500 ml. Bila

pasien mengalami syok hipovolemik maka pasien telah kehilangan

darah 50% dari total jumalh darah (2000-2500 ml). Penting untuk

selalu memantau keadaan umum dan menilai jumlah kehilangan

darah yang keluar, dan kontraksi uterus. (JNPK-KR, 2015 : 137)

f. Resiko Perdarahan
a. Definisi Perdarahan Pascapersalinan
Perdarhan pasca persalinan adalah kehilangan darah melebihi 500 ml yang
terjadi setelah bayi lahir.
Perdarahan post partum diklassifikasikan menjadi 2, yaitu :
1) Perdarahan pasca persalinan dini (early postpartum haemorrage, atau
perdarahan postpartum primer, atau perdarahan pasca persalinan segera).
Perdarahan pasca persalianan primer terjadi dalam 24 jam pertama.
2) Perdarahan masa nifas (perdarahan persalianan sekunder) perdarahan
pascapersalian sekunder terjadi setelah 24 jam pertama.
b. Etiologi
Perdarahan pascapersalinan ialah atonia uteri, retensio plasenta, trauma jalan
lahir, inversion uteri, ruptur uteri, dan gangguan sistem pembekuan darah.
Faktor predisposisi yang harus dipertimbangkan ialah riawayat perdarahan
pascapersaalinan sebelumnya, multiparitas, perdarahan antepartum, dan partus
lama. Adapun faktor-faktor predisposisi perdarahan postpartum antara lain
paritas, umur kehamilam, jarak persalinan, peregangan uterus berlebih
(makrosomia, gemeli dan polihidramnion), partus presipitatus, induksi
oksitosin, riwayat seksio sesaria, riwayat perdarahan postpartum dan kala I dan
II yang memanjang (Wahyu P, 2013).
c. Manifestasi Klinik
Gejala klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah
yang banyak (>500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus,
pusing, gelisah, letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah
rendah, ekstremitas dingin, mual.
d. Patofisiologi
Dalam proses persalinan pembuluh darah yang berada di uterus melebar untuk
meningkatkan sirkulasi, atoni uteri dan subinvolusi uterus menjadi penyebab
kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah-pembuluh darah yang
melebar tadi tidak menutup sempurna sehingga menyebabkan perdarahan
terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti episiotomy yang lebar,
laserasi perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena
terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada ibu misalnya afibrinogemia
atau hifibrinogemia karena dengan tidak ada atau kurangnya fibrin untuk
membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan
postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa menyebabkan pada keadaan
shock hemoragik.
e. Penatalaksanaan
Prosedur masase fundus uteri menurut Buku Acuan APN (2008).
1. Letakan tangan pada fundus uteri.
2. Jelaskan tindakan kepada ibu, katakan bahwa ibu mungkin merasa tidak
nyaman karena tindakan yang diberikan. Anjurkan ibu untuk menarik
napas dalam dan perlahan serta rileks.
3. Dengan lembut tapi mantap gerakan tangan dengan arah memutar pada
fundus uteri supaya uterus berkontraksi.
4. Periksa kembali uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan
uterus berkontraksi. Jika uterus masih belum berkontraksi dengan baik,
ulangi masase fundus uteri. Ajarkan ibu dan keluarganya cara melaakukan
masase uterus sehingga mampu untuk segera mengetahui jika uterus tidak
berkontraksi baik

g. Konsep Asuhan Keperawatan


a. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan pengumpulan, pengaturan, validasi, dan dokumentasi
data (informasi) yang sistematis dan bersinambungan. Pengkajian keperawatan
berfokus pada respon klien terhadap masalah kesehatan (Kozier, Erb, Berman,
& Snyder, 2011). Menurut (Ilmiah, 2015) fokus pengkajian pada Kala IV,
persalinan dengan masalah keperawatan risiko perdarahan kala IV adalah
kontraksi uterus, tekanan darah, nadi dan suhu.
b. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penelitian klinis mengenai respon klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial yang bertujuan untuk memperoleh
gambaran respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi
yang berkaitan dengan kesehatan. Adapun diagnosis yang dapat ditegakkan
Kala IV persalinan adalah risiko perdarahan. Risiko perdarahan merupakan
suatu kondisi yang berisiko mengalami kehilangan darah baik internal maupun
eksternal. (PPNI, 2016)
c. Intervensi Keperawatan
Perencanaan merupakan fase proses keperawatan yang penuh pertimbangan
dan sistematis dan mencakup pembuatan keputusan dan penyelesaian masalah
(Kozier et al., 2011).
Tujuan dan kriteria hasil intervensi untuk masalah keperawatan risiko
perdarahan menurut PPNI (SDKI 2018) adalah sebagai berikut:
a. Tujuan dan Kriteria hasil
1. Tanda-tanda vital (skala 5)
2. Frekuesi kontraksi uterus (skala 5)
3. Pendarahan di vagina (skala 5)
b. Intervensi
Intervensi keperawatan untuk menangani masalah risiko perdarahan
mengacu pada SIKI menurut PPNI (2018). Intervensi yang
direkomendasikan yaitu manajemen perdarahan pervaginam pasca
persalinan adalah sebagai berikut:
1. Periksa uterus (mis. TFU sesuai hari melahirkan, membulat dan
keras/lembek).
2. Identifikasi penyebab kehilangan darah (misal. Atonia uteri atau
robekan jalan lahir).
3. Monitor tanda-tanda vital.
4. Lakukan pijat uterus untuk merangsang kontraksi uterus.
5. Kolaborasi pemeberian oterotonika, antikoagulan jika perlu.
c. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah fase ketika perawat mengimplementasikan
intervensi keperawatan. Berdasarkan terminilogi SDKI ddan SIKI,
implementasi terdiri dari melakukan dan mendokumentasikan tindakan
yang merupakan tindakan keperawatan khusus yang diperlukan untuk
melakukan intervensi (atau program keperawatan). Perawat
melaksanakan atau mendelegasikan tindakan keperawatan untuk
intervensi yang disusun dalam tahap perencanaan dan kemudian
mengakhiri tahap implementasi dengan mencatat tindakan keperawatan
dan respons pasien terhadap tindakan tersebut. Ketika
mengimplementasikan intervensi keperawatan, perawat harus
mengadaptasikan tindakan dengan pasien secara individual.
Kepercayaan nilai, usia, status kesehatan dan lingkungan pasien
merupakan faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan tindakan
keperawatan (Kozier et al., 2011).
Prosedur masase fundus uteri menurut Buku Acuan APN (2008).
1. Letakan tangan pada fundus uteri.
2. Jelaskan tindakan kepada ibu, katakan bahwa ibu mungkin merasa
tidak nyaman karena tindakan yang diberikan. Anjurkan ibu untuk
menarik napas dalam dan perlahan serta rileks.
3. Dengan lembut tapi mantap gerakan tangan dengan arah memutar
pada fundus uteri supaya uterus berkontraksi.
4. Periksa kembali uterus setelah satu hingga dua menit untuk
memastikan uterus berkontraksi. Jika uterus masih belum
berkontraksi dengan baik, ulangi masase fundus uteri. Ajarkan ibu
dan keluarganya cara melaakukan masase uterus sehingga mampu
untuk segera mengetahui jika uterus tidak berkontraksi baik
d. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan, dan terarah ketika klien dan
professional kesehatan menentukan kemjuan klien menuju pencapaian
tujun atau hasil dan keefektifan rencana asuhan keperawatan (Kozier et
al., 2011). Format yang dapat digunakan untuk evaluasi keperawatan
menurut (Dinarti, Aryani, Nurhaeni, Chairani, & Tutiany, 2009) yaitu
format SOAP yang terdiri dari :
a. Subjective, yaitu pernyataan atau keluhan dari pasien. Pada ibu
partus spontan kala IV dengan risiko perdarahan tidak dicantumkan
data subyektif karena pada diagnosa keperawatan potensial (risiko)
tidak memiliki data subyektif.
b. Objective, yaitu data yang diobservasi oleh perawat atau keluarga,
(data subjektif dan obyektif harus relevan dengan diagnosa
keperawatan yang dievaluasi). Pada ibu partus spontan kala III yang
mengacu pada perdarahan, indikator evaluasi menurut SDKI
(2018) yaitu :
1. Tanda-tanda vital (skala 5)
2. Frekuesi kontraksi uterus (skala 5)
3. Pendarahan di vagina (skala 5)
c. Assesment, yaitu kesimpulan dari objektif dan subjektif (biasaya
ditulis dala bentuk masalah keperawatan). Ketika menentukan
apakah tujuan telah tercapai, perawat dapat menarik satu dari tiga
kemungkinan simpulan:
1. Tujuan tercapai; yaitu, respons pasien sama dengan hasil yang
diharapkan
2. Tujuan tercapai sebagian;, yaitu hasil yang diharapkan hanya
sebagian yang berhasil dicapai.
3. Tujuan tidak tercapai
d. Planning, yaitu rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan
analisa perawat