Anda di halaman 1dari 17

Psikososial Dan Budaya Dalam Keperawatan

Aplikasi Keperawatan Transkultural Pada Berbagai Masalah Kesehatan Pasien

Dosen Pengampu : Yani Arikawati, M.Psi

Disusun Kelompok 02 :

1. AC Aldo Setiawan (142012018001)


2. Dewi Yunita (142012018010)
3. Marliana Aulia Sari (142012018020)
4. Rahma Isti Mahfuza (142012018031)
5. Restu Teo Fandi (142012018033)
6. Rintan Ristianti (142012018035)
7. Sindy Katarani Rose (142012018037)
8. Tri Yesi Fransiska (142012018041)
S1 ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU

LAMPUNG

2019/2020

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengan menjalankan tugas sebagai perawat banyak perubahan-perubahan
yang ada baik di lingkungan maupun klien. Perawat harus menghadapi berbagai
perubahan di era globalisasi ini termasuk segi pelayanan kesehatannya. Perpindahan
penduduk menuntut perawat agar dapat menyesuaikan diri dengan budayanya dan
sesuai dengan teori-teori yang dipelajari. Dalam ilmu keperawatan banyak sekali
teori-teori yang mendasari ilmu tersebut. Termasuk salah satunya teori yang
mendasari bagaimana sikap perawat dalam menerakan asuhan keperawatan. Salah
satu teori yang diaplikasikan dalam asuhan keperawatan adalah teori Leininger
tentang “Transcultural Nursing”.
Dalam teori ini transcultural nursing didefinisikan sebagai area yang luas
dalam keperawatan yang fokusnya dalam komparatif studi dan analisis perbedaan
kultur dan subkultur dengan menghargai perilaku caring, nursing care, dan nilai sehat
sakit, kepercayaan dan pola tingkah laku dengan tujuan perkembangan ilmu dan
humanistik body of knowledge untuk kultur yang universal dalam keperawatan.
Dalam hal ini diharapkan adanya kesadaran terhadap perbedaan kultur berarti perawat
yang profesional memiliki pengetahuan dan praktik berdasarkan kultur secara konsep
perencanaan dalam praktik keperawatan. Tujuan penggunaan keperawatan
transkultural adalah untuk mengembangkan sains dan keilmuan yang humanis
sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan kultur yang
universal. Kultur yang spesifik adalah kultur dengan nilai-nilai dan norma spesifik
yang dimiliki olh kelompok tertentu. Kultur yang universal adalah nilai-nilai dan
norma-norma yang diyakini dan dilakukan hampir semua kultur (Leininger, 1979).
Leininger mengembangkan teorinya dari perbedaan kultur dan universal
berdasarkan kepercayaan bahwa masyarakat dengan perbedaan kultur dapat menjadi
sumber informasi dan menentukan jenis perawatan yang diinginkan karena kultur
adalah pola kehidupan masyarakat yang berpengaruh terhadap keputusan dan
tindakan. Cultur Care adalah teori yang holistik karena meletakkan di dalamnya
ukuran dari totalitas kehidupan manusia dan berada selamanya, termasuk sosial
struktur, pandangan dunia, nilai kultural, ekspresi bahasa dan etnik serta sistem
profesional.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari keperawatan transkultural?


2. Apa tujuan keperawatan transkultural?
3. Bagaimana hubungan model Leininger dengan konsep caring?
4. Apa saja mitos yang berkaitan dengan kesehatan?
5. Bagaimana Trend dan Issue Transkultural Nursing?

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian definisi dari keperawatan transkultura
2. Untuk mengetahui tujuan keperawatan transkultural
3. Untuk mengetahui hubungan model Leininger dengan konsep caring
4. Untuk mengetahui mitos yang berkaitan dengan kesehatan
5. Untuk mengetahui Trend dan Issue Transkultural Nursing

1.3 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini, baik bagi kami maupun bagi teman-
teman sebagai sarana wawasan dan pengetahuan mengenai beberapa hal yang
berkenaan dengan aplikasi keperawatan transkultural dalam berbagai masalah
kesehatan pasien.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Keperawatan Transkultural

Pengertian Transkultural bila ditinjau dari makna kata transkultural berasal


dari kata trans dan culture, trans berarti alur perpindahan, jalan lintas atau
penghubung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata trans berarti melintang,
melintas, menembus, melalui. Culture berarti budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia kultur berarti kebudayaan, cara pemeliharaan, pembudidayaan,
kepercayaan, nila-nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok
dan diteruskan pada generasi berikutnya. Sedangkan cultural berarti sesuatu yang
berkaitan dengan kebudayaan. Budaya sendiri berarti akal budi, hasil dan adat istiadat.
Dan kebudayaan berarti hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia
seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat atau keseluruhan pengetahuan manusia
sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menjadi pedoman tingkah lakunya. Jadi
transkultural dapat diartikan sebagai lintas budaya yang mempunyai efek bahwa
budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain atau juga pertemuan kedua nilai-
nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial. Transcultural Nursing
merupakan suatu area yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai
budaya (nilai budaya yang berbeda, ras, yang mempengaruhi pada seorang perawat
saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien/pasien) menurut Leininger (1991).
Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman
budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien.

Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropology dan oleh Dr. M. Leininger
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatiakn keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien pada
suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai
budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Kebutuhan
budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas
pelayanan keperawatan yang diberikan.

Transkultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada


proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk
memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada
manusia (Leininger, 2002).

Perilaku caring adalah bagian dari keperawatan yang membedakan,


mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan caring adalah
tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh.
Perilaku ini seharusnya sudah tertanam di dalam diri manusia sejak lahir, dalam
perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai individu tersebut
meninggal. Hal ini tetap ikut berkembang dengan seturut jalannya perkembangan
manusia tersebut.

2.2 Tujuan Keperawatan Transkultural

Menurut Leininger tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah dalam


pengembangan sains dan ilmu yang humanis sehingga tercipta praktek keperawatan
pada kebudayaan yang spesifik. Kebudayaan yang spesifik adalah kebudayaan dengan
nilai dan norma yang spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain contohnya suku
Osing, Tengger dan Dayak. Sedangkan kebudayaan yang universal adalah
kebudayaan dengan nilai dan norma yang diyakini dan dilakukan oleh hampir semua
kebudayaan seperti budaya olahraga untuk mempertahankan kesehatan.

Dengan adanya keperawatan transkultural dapat membantu klien beradaptasi


terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya. Perawat juga
dapat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan status kesehatan. Misalnya, jika klien yang sedang hamil
mempunyai pantangan untuk makan-makanan yang berbau amis seperti ikan, maka
klien tersebut dapat mengganti ikan dengan sumber protein nabati yang lainnya.
Seluruh perencanaan dan implementasi keperawatan dirancang sesuai latar belakang
budaya sehingga budaya dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik setiap saat.
Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai
dengan keyakinan yang dianut.

2.3 Hubungan Model Leininger Dengan Konsep Caring

Caring adalah bentuk perhatian kepada orang lain, berpusat kepada orang lain,
menghargai harga diri dan kemanusiaan, berusaha mencegah terjadi sesuatu yang
buruk, serta memberi perhatian dan cinta. Caring adalah suatu tindakan yang
dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Caring dalam
keperawatan adalah fenomena transkultural dimana perawat berinteraksi dengan
klien, staff dan kelompok lain. Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan
dan niat baik. Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek
bio-psiko-sosio-spiritual. Bersikap caring untuk klien dan bekerja sama dengan klien
dari berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan.

Leininger menggunakan metode ethomethods sebagai cara untuk melakukan


pendekatan dalam mempelajari “care” karena metode ini secara langsung menyentuh
bagaimana cara pandang kepercayaan dan pola hidup yang dinyatakan secara benar.
Pada tahun 1960an, Leininger mengembangkan metode ethnonursing untuk
mempelajari fenomena keperawatan secara spesifik dan sistematik.

Ethnonursing berfokus pada sistematika studi dan kalsifikasi pelayanan


keperawatan, nila-nilai, praktik-praktik secara kognitif atau secara subjektif yang
dikenal sebagai designated cultured (cultural representatives) melalui bahasa-bahasa
lokal, pengalaman, keyakinan-keyakinan, dan sistem value tentang fenomena
keperawatan yang aktual dan potensial seperti kesehatan dan faktor-faktor
lingkungan. Walaupun keperawatan telah menggunakan kata-kata “care” dan “caring”
untuk menggambarkan praktik keperawatannya selama lebih dari satu abad, definisi
penggunaannya sering kali masih rancu dan hanyalah berbetuk klise tanpa ada
pengertian yang spesifik bagi klien atau bahkan bagi perawat itu sendiri. Walau
demikian, konsep caring adalah satu bahasan yang paling sedikit dimengerti dan
dipelajari daripada bidang ilmu pengetahuan dan area penelitian lainnya. Melalui
definisi bahwa teori keperawatan transkultural dan ethnomethods yang berfokus pada
“etnic” seseorang dapat semakin dekat pada pengertian “care” itu sendiri, karena
ethnomethods bersumber pada people-contered data dan tidak berasal dari opini
peneliti tersebut, kepercayaan dan prakteknya.

Tujuan penting dari teori ini adalah bagaimana teori ini dapat
mendokumentasikan, mengetahui, memprediksikan dan menjelaskan secara sistematis
data di lapangan tentang fakta universal dan perbedaan yang ada terkait dengan
pelayanan professional, pelayanan secara umum dan pelayanan keperawatan.
Leininger meyakini bahwa “perilaku caring dan praktiknya secara unik membedakan
keperawatan terhadap kontribusi dari disiplin ilmu yang lain.”. Alasan utama untuk
mempelajari caring adalah :

a. Konsep “care” muncul secara kritis pada pertumbuhan manusia, perkembangan


manusia dan kemampuan bertahan pada makhluk hidup.
b. Untuk secara eksplisit mengerti secara menyeluruh aturan-aturan pemberi
pelayanan dan penerima pelayanan pada kultur yang berbeda untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan secara kultural.
c. “Care” adalah studi untuk memenuhi kebutuhan esensial untuk proses
penyembuhan, perbaikan dan untuk bertahan manusia dan kelompok sepanjang
waktu.
d. Profesi keperawatan telah mempelajari “care” secara terbatas tetapi secara
sistematis dari perspektif kultural dan telah melupakan aspek-aspek epistemology
dan ontology yang berlandaskan pada pengetahuan keperawatan,

Leininger menyatakan bahwa care adalah fenomena yang luas dan eksklusif
yang sering muncul pada pola hidup masyarakat yang dapat dijadikan landasan bagi
perawat dalam menerapkan “care” pada terapi tertentu dalam rangka menjaga kondisi
sehat, mencegah penyakit, proses penyembuhan dan membantu orang menghadapi
kematian. Lebih lanjut lagi, perhatian utama pada thesisnya adalah jika seseorang
mengerti secara keseluruhan mengenai konsep “care”, orang tersebut dapat
memprediksi kesejahteraan individu, keluarga dan kelompoknya. Jadi “care” menurut
sudut pandang Leininger merupakan salah satu konsep yang paling kuat dan
fenomena distinctive bagi keperawatan. Sebagaimana bentuk dan konsep care itu
sendiri, sehingga harus benar-benar di dokumentasikan, dimengerti dan digunakan
agar “care” menjadi petunjuk utama bagi terapi keperawatan dan penjelasan tentang
praktek-praktek keperawatan,

Leininger (1994) telah mengembangkan bentuk yang relevan dengan teori


tetapi hanya beberapa hal yang didefinisikan :

a. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, dukungan atau


perilaku lain yang berkaitan atau untuk individu lain/kelompok dengan kebutuhan
untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
b. Caring adalah tindakan yang diarahkan untuk membimbing, mendukung individu
lain/kelompok dengan nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi
kehidupan manusia.
c. Kultur/Culture adalah berkenaan dengn mempelajari, membagi dan tranmisi nilai.
Kepercayaan, norma dan praktik kehidupan dari sebuah kelompok yang dapat
menjadi tuntunan dalam berfikir, mengambil keputusan, bertindak dan berbahasa.
d. Culture Care berkanaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang mana membimbing, mendukung atau memberi
kesempatan individu lain atau kelompok untuk mempertahakan kesehatan,
meningkatkan kondisi kehidupan atau kematian serta keterbatasan.
e. Nilai kultur berkenaan dengan pengambilan keputusan tentang suatu cara yang
hendak dijalani sesuai dengan adat kebiasaan yang dipercayai dalam periode waktu
tertentu.
f. Perbedaan kulture dalam keperawatan adalah variasi dari pengertian, pola nilai atau
simbol dari perawatan kesehatan untuk meningkatkan kondisi manusia, jaln
kehidupan atau untuk kematian.
g. Culture care universality adalah sesuatu hal yang sangat umum, seperti pemahaman
terhadap nilai atau simbol dari pengaruh budaya terhadap kesehatan manusia.
h. Ethnosentris adalah kepercayaan yang mana satu ide yang dimiliki, kepercayaan
dan praktiknya lebih tinggi untuk culture yang lain.
Culture imposition berkenaan dengan kecendurngan tenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas culture lain karena mereka
percaya bahwa ide mereka lebih tinggi daripada kelompok lain.

Leininger percaya bahwa tujuan teori ini adalah untuk memberikan pelayanan
yang bebrasis pada kultur. Dia percaya bahwa perawat harus bekerja dengan prinsip
“care” dan pemahan yang dalam mengenai “care” sehingga culture’s care, nilai-nilai,
keyakinan dan pola hidup memberikan landasan yang realiabel dan akurat untuk
perencanaan dan implementasi yang efektif terhadap pelayanan pada kultur tertentu.

Dia meyakini bahwa seseorang perawat dapat memisahkan cara pandangan


dunia, struktur sosial dan keyakinan kultur (orang biasa dan professional) terhadap
kesehatan, kesejahteraan sakit atau pelayanan saat bekerja dalam suatu kelompok
masyarakat tertentu, karena faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain.
Struktur sosial seperti kepercayaan, politik, eknomi dan kekeluargaan adalah kekuatan
signifikan yang berdampak pada “care” dan mempengaruhi kesejahteraan dan kondisi
sakit.

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah


kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien ( Giger and Davidhizar,
1995). Pengkajian dirancang berdasarkan tujuh komponen yang ada pada”Sunrise
Model” yaitu:

a) Faktor teknologi (technological factors)


Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan.
Perawat perlu mengkaji: Persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi
masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih
pengobatan alternative dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan
teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan ini.
b) Faktor agama dan falsafah hidup ( religious and philosophical factors )
Agama adalah suatu symbol yang mengakibatkan pandangan yang amat
realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat
untuk mendapatkan kebenaran diatas segalanya, bahkan diatas kehidupannya
sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah: agama yang dianut,
status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara
pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
c) Faktos sosial dan keterikatan keluarga ( kinshop and Social factors )
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor: nama lengkap, nama
panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga dan hubungan klien dengan kepala
keluarga.
d) Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways )
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh
penganut budaya yang di anggap baik atau buruk. Norma –norma budaya adalah
suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya
terkait. Yang perlu di kaji pada factor ini adalah posisi dan jabatan yang dipegang
oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang
dipantang dalam kondisi sakit, perseosi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-
hari dan kebiasaan membersihkan diri.
e) Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors )
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu
yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya
(Andrew and Boyle, 1995 ). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: peraturan
dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga
yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
f) Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat dirumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor
ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya: pekerjaan klien, sumber
biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain
misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota
keluarga.
g) Faktor pendidikan ( educational factors )
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka
keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan
individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan
kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: tingkat
pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif
mandiri tentang pengalaman sedikitnya sehingga tidak terulang kembali.
Prinsip-prinsip pengkajian budaya:
1) Jangan menggunakan asumsi.
2) Jangan membuat streotif bisa menjadi konflik misalnya: orang Padang pelit,orang
Jawa halus.
3) Menerima dan memahami metode komunikasi.
4) Menghargai perbedaan individual.
5) Tidak boleh membeda-bedakan keyakinan klien.
6) Menyediakan privasi terkait kebutuhan pribadi.

2.4 Diagnosa keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang
dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and
Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnose keperawatan yang sering ditegakkan dalam
asuhan keperawatan transkultural yaitu :
a. gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur
b. gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural
c. ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.

2.5 Perencanaan dan Pelaksanaan


Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu
proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses
memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai
denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995).
Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew
and Boyle, 1995) yaitu :
1) mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan
dengan kesehatan,
2) mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan
dan
3) merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
Dan ada 3 pedoman pelaksanaan yang ditawarkan dalam keperawatan
transkultural tersebut, antara lain :
1) Cultural care preservation/maintenance
 Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat
 Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
 Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
2) Cultural careaccomodation/negotiation
 Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
 Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
 Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan
berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik.

3) Cultual care repartening/reconstruction


 Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan
melaksanakannya
 Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok
 Gunakan pihak ketiga bila perlu
 Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat
dipahami oleh klien dan orang tua
 Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masingmasing
melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan
budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak
memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan
terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien
amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien
yang bersifat terapeutik.

2.6 Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien
tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien
yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin
sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui
asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

2.7 Aplikasi Konsep dan Prinsip Transkultural Sepanjang Daur Kehidupan Manusia
1. Perawatan Kehamilan dan Kelahiran
Kehamilan dan kelahiran bayi pun dipengaruhi oleh aspek sosial dan budaya
dalam suatu masyarakat. Dalam ukuran-ukuran tertentu, fisiologi kelahiran secara
universal sama. Namun proses kelahiran sering ditanggapi dengan cara-cara yang
berbeda oleh aneka kelompok masyarakat (Jordan, 1993).
Berbagai kelompok yang memiliki penilaian terhadap aspek kultural tentang
kehamilan dan kelahiran menganggap peristiwa itu merupakan tahapan yang harus
dijalani didunia. Salah satu kebudayaan masyarakat kerinci di Provinsi Jambi
misalnya, wanita hamil dilarang makan rebung karena menurut masyarakat setempat
jika wanita hamil makan rebung maka bayinya akan berbulu seperti rebung. Makan
jantung pisang juga diyakini menurut keyakinan mereka akan membuat bayi lahir
dengan ukuran yang kecil.
Dalam kebudayaan Batak, wanita hamil yang menginjak usia kehamilan tujuh
bulan diberikan kepada ibunya ulos tondi agar wanita hamil tersebut selamat dalam
proses melahirkan. Ketika sang bayi lahir pun nenek dari pihak ibu memberikan lagi
ulos tondi kepada cucunya sebagai simbol perlindungan. Sang ibu akan menggendong
anaknya dengan ulos tersebut agar anaknya selalu sehat dan cepat besar. Ulos tersebut
dinamakan ulos parompa.
Pantangan dan simbol yang terbentuk dari kebudayaan hingga kini masih
dipertahankan dalam komunitas dan masyarakat. Dalam menghadapi situasi ini,
pelayanan kompeten secara budaya diperlukan bagi seorang perawat untuk
menghilangkan perbedaan dalam pelayanan, bekerja sama dengan budaya berbeda,
serta berupaya mencapai pelayanan yang optimal bagi klien dan keluarga
Menurut Meutia Farida Swasono salah satu contoh dari masyarakat yang
sering menitikberatkan perhatian pada aspek krisis kehidupan dari peristiwa
kehamilan dan kelahiran adalah orang jawa yang di dalam adat adat istiadat mereka
terdapat berbagai upacara adat yang rinci untuk menyambut kelahiran bayi seperti
pada upacara mitoni, procotan, dan brokohan.
Perbedaan yang paling mencolok antara penanganan kehamilan dan kelahiran
oleh dunia medis dengan adat adalah orang yang menanganinya, kesehatan modern
penanganan oleh dokter dibantu oleh perawat, bidan, dan lain sebagainya tapi
penangana dengan adat dibantu oleh dukun bayi. Menurut Meutia Farida Swasono
dukun bayi umumnya adalah perempuan, walaupun dari berbagai kebudayaan
tertentu, dukun bayi adalah laki laki seperti pada masyarakat Bali Hindu yang disebut
balian manak dengan usia di atas 50tahun dan profesi ini tidak dapat digantikan oleh
perempuan karena dalam proses menolong persalinan, sang dukun harus membacakan
mantra mantra yang hanya boleh diucapkan oleh laki laki karena sifat sakralnya.
Proses pendidikan atau rekrutmen untuk menjadi dukun bayi bermacam
macam. Ada dukun bayi yang memperoleh keahliannya melalui proses belajar yang
diwariskan dari nenek atau ibunya, namun ada pula yang mempelajari dari seorang
guru karena merasa terpanggil. Dari segi budaya, melahirkan tidak hanya merupakan
suatu proses semata mata berkenaan dengan lahirnya sang bayi saja, namun tempat
melahirkan pun harus terhindar dari berbagai kotoran tapi “kotor” dalam arti
keduniawian, sehingga kebudayaan menetapkan bahwa proses mengeluarkan unsur
unsur yang kotor atau keduniawian harus dilangsungkan di tempat yang sesuai
keperluan itu. Jika dokter memiliki obat obat medis maka dukun bayi punya banyak
ramuan untuk dapat menangani ibu dan janin, umumnya ramuan itu diracik dari
berbagai jenis tumbuhan, atau bahan bahan lainnya yang diyakini berkhasiat sebagai
penguat tubuh atau pelancar proses persalinan.
Menurut pendekatan biososiokultural dalam kajian antropologi, kehamilan dan
kelahiran dilihat bukan hanya aspek biologis dan fisiologis saja, melainkan sebagai
proses yang mencakup pemahaman dan pengaturan hal-hal seperti; pandangan budaya
mengenai kehamilan dan kelahiran, persiapan kelahiran, para pelaku dalam
pertolongan persalinan, wilayah tempat kelahiran berlangsung, cara pencegahan
bahaya, penggunaan ramuan atau obat-obatan tradisional, cara menolong kelahiran,
pusat kekuatan dalam pengambilan keputusan mengenai pertolongan serta perawatan
bayi dan ibunya.
Berdasarkan uraian diatas, perawat harus mampu memahami kondisi kliennya
yang memiliki budaya berbeda. Perawat juga dituntut untuk memiliki keterampilan
dalam pengkajian budaya yang akurat dan komprehensif sepanjang waktu
berdasarkan warisan etnik dan riwayat etnik, riwayat biokultural, organisasi sosial,
agama dan kepercayaan serta pola komunikasi. Semua budaya mempunyai dimensi
lampau, sekarang dan mendatang. Untuk itu penting bagi perawat memahami
orientasi waktu wanita yang mengalami transisi kehidupan dan sensitif terhadap
warisan budaya keluarganya.

2.8 Mitos yang Berkaitan Dengan Kesehatan


1. Mitos Memakan Makanan Dari Sesaji Untuk Ritual Tertentu Di Masyarakat
a. Fakta di Lapangan
Masih banyak ditemukan dan bahkan di lapangan khususnya masyarakat
pedesaan masih mempercayainya. Kegiatan ini sudah ada sejak zaman nenek
moyang yang terdahulu. Tempat mereka pakai dahulunya terletak pada daerah
yang dimana disitu merupakan bagian terpenting akan terkabulnya keinginan
mereka. Intinya kegiatan yang dilakukan ini bisa merupakan wujud ungkapan rasa
sukut untuk Tuhan. Memakan makanan yang berasal dari sesaji tersebut
merupakan bentuk rasa penghormatan pada yang Kuasa dan juga bisa mendoakan
apa yang kita inginkan.
b. Teori
Dilihat dari bentu yang dihidangkan berupa nasi sayur-sayuran ayam dan
lain-lain, yang menjadi inti permasalahannya adalah pembagian ayamya dari yang
masih utuh menjadi bagian kecil-kecil. Bila orang yang membagikan tidak tahu
akan makna bersih makan akan terabaikan kebersihan kuman ayam tersebut. Selain
itu ada juga bagaimana proses memasaknya untuk ayam tersebut terkadang ayam
ada bagian yang belum mencapai tingkat kematangan dan itu akan berpengaruh
pada proses pencernaan dan keamanan mengkonsumsi makanan tersebut.
Kandungan daging ayam sesungguhnya banyak mengandung protein dan nutrisi-
nutrsi lain di dalamnya yang berguna untuk keperluan tubuh. Sayur-sayuran juga
diperlukan tubuh untuk proses pencernaan seperti bayam yang banyak
mengandung serat berfungsi untuk memperlancar proses metabolisme.
c. Opini
Kepercayaan yang timbul sejak zaman dahulu sudah sangat melekat dan
kental akan budaya yang tiap tahun diadakan akan sulit dihilangkan karena akan
menjadi ciri khas pada daerah itu. Mereka beranggapan barang siapa
menghilangkan budaya ini dampaknya sangat bervariasi, bisa dikucilkan masyrakat
karena dianggap tidak menghargai para pendahulunya dan yang paling fatal bisa
diusir dari lingkungan.
2. Mitos Ibu Hamil
a. Fakta Di Lapangan
Ibu hamil jika makan pisang, nanas, mentimun itu akan menyebabkan
keputihan bahkan masyarakat sekitar berpendapat bahwa nanas bisa
menyebabkan keguguran. Sewaktu ibu hamil, jika suami memotong ayam,
diprediksi anaknya akan lahir cacat. Fakta dari mitos tersebut tidak akan terjadi
kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Jika bayi yang lahir cacat, bukan dari mitos
tersebut, tetapi karena cacat itu bisa dari faktor kelainan genetiknya.
b. Teori
Mengkonsumsi pisang, nanas, mentimun justru disarankan karen kaya
akan vitamin C dan serat yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan
melancarkan proses pembuangan sisa-sisa pencernaan. Untuk kehamilan itu
untuk memenuhi nutrisi dan menjaga perkembangan janin. Kehamilan seseorang
tidak bisa ditentukan dengan kelahiran yang normal maupun tidak, tetapi secara
medis untuk kelahiran yang tidak normal banyak berbagai faktor yang
mempengaruhi salah satunya adalah kelainan gen pembawa dari ayah maupun ibu
ini sangat berpengaruh bagi kelahirannya.
c. Opini
Ibu hamil rentan akan masalah yang bisa ditimbulkan. Sebisa mungkin
pertahanan akan kondisi sehat sangat kuat dengan dukkungan keluarga, suami
dan teman-teman, budaya dimana dia tinggal sangatlah berpengaruh bagi
perkembangan kehamilannya. Keyakinan inilah yang dipegang untuk menjaga,
merawar, melindungi kehamilan si Ibu. Nila-nilai, norma, adat istiadat masih
dipegang kuat. Mitos-mitos diatas tersebut hanya keyakinan seseorang atau
kelompok karena belum tentu setiap desa atau kota mempunyai mitos yang sama
karena belum tentu mitos akan jadi kenyataan. Terkadang ada ibu hamil anaknya
lahir dalam kondisi tidak normal (cacat), misalnya makan buah yang manjadi
pantangan ibu hamil anaknya lahir cacar itu hanya bertepatan saja, dibalik semua
itu mungkin ada kelainan pada saat bayi masih dalam kandungan.

2.9 Trend dan Issue Transkultural Nursing

Banyak hal dalam budaya Indonesia termasuk dalam cara mereka mempercayai
dan mengobati diri mereka untuk membuat hidup mereka mampu menangani sakit yang
mereka alami. Sebagi contoh budaya jawa, budaya jawa sering diketahui cara dan adat
yang mereka percayai untuk mengobati diri saat sakit adalah kerokan. Kerokan bukanlah
hal yang asing bagi budaya jawa, lebih dari banyak orang jawa masih menggunakan
kerokan untuk mengobati sakit mereka sampai saat ini. Mereka mempercayai adat dan
budaya secara turun temurun. Mereka meyakini bahwa dengan kerokan dapat
megeluarkan angin yang ada di dalam tubuh serta dapat menghilangkan nyeri atau sakit
badan yang dialami dan dengan hal tersebut dapat membantu penyembuhan yang
mungkin telah dirasakan sebelumnya hal tersebut oleh suku jawa. Hal tersebut menutup
kemungkinan akan muncul dan berada di dalam rumah sakit, meski mereka telah
mendapatkan penanganan dari tim kesehatan ada saja yang melakukan tradisi tersebut.
Telah diketahui akibat dari kerokan yaitu menyebabkan pori-pori kulit semakin melebar,
lalu warna kulit memerah menunjukkan adanya pembuluh darah dibawah permukaan
kulit pecah sehingga menambah arus darah ke permukaan kulit. Ketika melakukan
komunikasi untuk memberikan informasi tentang akibat yang terjadi dari kerokan tidak
membuat para klien atau pasien tidak berhenti melakukan tradisi seperti hal tersebut
karena itu telah menjadi kebiasaan yang secara terus-menerus dilakukan. Sehingga
asuhan keperawatan yang mungkin akan diberikan kepada klien tidak dapat dilakukan
karena adanya penolakan yang terjadi terhadap anggapan akan hal tersebut.
Disini kita tidak dapat mengkritik keyakinan dan praktik budaya kesehatan
tradisional yang dilakukan. Budaya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi asuhan
keperawatan. Asuhan keperawatan harus terus dilakuakn bagaimana caranya menangani
klien tanpa menyinggung perasaan klien dan mengkritik tradisi yang telah ada yang
mungkin sulit untuk kita tentang dan ubah. Karena tujuan kita bukanlah untuk mengubah
atau mengkritik tradisi tersebut, namun bagaimana perawat mampu melakukan semua
tugasnya dalam memenuhi kebutuhan pasien.

BAB III

PENUTUP

2.1 Kesimpulan
Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan
yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan
perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya. Hal ini dipelajari mulai dari
kehidupan biologis sebelumnya, kehidupan psikologis, kehidupan sosial dan spiritualnya.
Perencanaan dan pelaksaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu saja
dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya klien
sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien. Penyesuaian diri
sangatlah diperlukan dalam aplikasi keperawatan transkultural.

2.2 Saran
Kami menyadari bahwa kekurangan dalam makalah yang kami buat di atas
merupakan kelemahan dari pada kami, karena terbatasnya kemampuan kami untuk
memperoleh data dan informasi karena terbatasnya pengetahuan kami.
Jadi yang kami harapkan kritik dan saran yang membangun agar kami dapat
membuat makalah yang lebih baik lagi. Dengan segala pengharapan dan keterbukaan,
kami menyampaikan rasa terima kasih dengan setulus-tulusnya.Akhir kata, kami
berharap agar makalah ini dapat membawa manfaat kepada pembaca.