Anda di halaman 1dari 5

Antara Rindu dan Benci

Aku berdiri di atas jalur layang Ibu kota. Menyaksikan hiruk-pikuk nafsu dalam
secawan anggur kebusukan dunia. Aromanya menyengat. Mengundang pecandu durjana
mereguk obat mematikan itu. Penuh nikmat mereka jalani kehidupan fana ini. Tanpa rasa
peduli ke mana mereka akan kembali. Sebetulnya derita yang mendera mereka amat lah pedih.
Derita terselubung yang tak pernah mereka pahami.

Merenung adalah cara terbaik menyadarkan diri. Namun, merenung tak selamanya
menyenangkan. Terkadang aku merasa kesepian adalah hantu. Setiap detik menakutiku dalam
kesendirian. Memang merenung membutuhkan kesunyian, tapi kali ini berbeda. Hatiku
kosong, jiwaku hampa, dan pikiranku entah kabur ke mana. Kucoba bercengkerama dengan
angin malam. Kudengar desaunya tanpa kutahu maksudnya. Lalu kucoba bertanya lagi pada
kerikil yang sedang kumainkan. Mereka tak menjawab. Bisu seperti batu. Ya, mereka memang
batu. Apakah tak ada seorang pun yang mau kuajak bicara? Begitu bejatnya kah diriku? Oh,
Tuhan … aku memang bejat. Di mata mereka aku adalah lelaki paling bejat. Mereka pikir aku
rela mengakhiri hidup ibuku sendiri. Aku bersumpah, sampai akhir hidupku aku tidak akan
pernah memaafkan setan rupa manusia itu. Bajingan! Aku tahu dia pembunuhnya. Bukan aku.
Bahkan, kakakku sendiri telah terhasut oleh mulut busuk itu. Bangsat! Tetapi tak seharusnya
kau mengusirku. Aku adikmu, Kak.

Tuhan, hanya Engkau Maha mengetahui, Maha bijaksana.

***

“Kau tidak sendiri anakku, kau tak pernah kesepian. Kesepianmu hanya saat kau merasa
ibumu tak ada di sampingmu. Yakinlah, ibumu selalu bersamamu. Tak perlu kau bersedih. Apa
yang sudah kau beri pada ibumu saja sudah cukup membuatnya bahagia. Maka tersenyumlah,
Roni. Biarkan omongan mereka tentangmu. Syukur kau tidak sampai masuk sel. Syukur kau
tidak sampai dikeroyok. Tenanglah, aku bersamamu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah.”

Roni bingung dari mana datangnya suara itu. Suara yang tenang juga menyejukkan
hatinya. Ia melihat sekitarnya, hasilnya nihil. Tak ada seorang pun di sana. Ia mencoba kembali
bertanya pada kerikil dan angin. Tak ada jawaban. Ia semakin panik.

“Siapa di sana?” teriak Roni.


“Aku di atas sini, anakku.”

“Siapa? Bulan? Kau mau berbicara denganku?” Ia tersenyum sinis. “Seharusnya kau
tak perlu berbicara padaku,” seketika menunduk. “Aku tahu, pasti kau juga akan seperti
mereka. Awalnya percaya dan mendukungku. Tetapi, setelah mulut busuk itu berhasil
mengahasut mereka, mereka pun kemudian mencaci-maki dan mengusirku. Sudahlah, aku
lebih suka sendiri sekarang ini,” lanjut Roni.

Rembulan tertegun mendengar perkataannya. Sekarang pasti hatinya sedang diguncang


badai dan petir, bukan hanya mendung ataupun hujan. Bahkan rembulan pun tak mampu
membuatnya bahagia. Secercah senyuman yang hanya sepersekian detik itu hanya formalitas
belaka. Faktanya ia masih didera nestapa yang mendalam. Bukan karena gunjingan warga,
tetapi ibu yang selalu mendengar keluh-kesahnya tak bisa lagi memberinya solusi. Ibu yang
selalu di sampingnya kini telah terbaring di tanah.

Rembulan merasa iba kepadanya. Memang kesendirian itu menyakitkan. Cukupkah


rasa kasihan mengobati duka di hatinya? Cukupkah hiburan yang kusuguhkan malam ini dapat
menghapus kesedihannya? Ia tahu, rasa empati dan simpati tidaklah cukup untuk mencegahnya
terjerumus ke lembah hitam penuh kebohongan. Dia butuh pendamping yang setia. Bukan!
Bukan pacar ataupun seorang istri. Ia hanya butuh seorang teman yang mengerti perasaannya.

“Aku mengerti keadaan dan perasaanmu, Ron. Asal kau tahu saja, tiap malam aku
sendiri tanpa seorang teman sama sepertimu.”

“Sama sepertiku kau bilang? Kau masih punya banyak teman. Matahari, mega dan
bintang gemintang itu buktinya,” kata Roni sambil menunjuk ke angkasa.

“Kau tak tahu. Bintang di sekelilingku hanya fatamorgana belaka. Faktanya mereka
jauh dariku. Bahkan lebih jauh dari jarakku ke tempatmu saat ini. Juga matahari yang bersedia
menyinariku. Ia sangatlah jauh, Anakku. Bahkan, hanya sekedar untuk mengucapkan
terimakasih padanya pun aku tak mampu. Andai saja aku punya kekuatan mengubah wujudku
menjadi manusia, aku pasti akan menemanimu. Aku janji. Di sampingmu, melukis sejuta
harapan yang telah kau bangun. Anakku, jangan kau patahkan prinsipmu, jangan kau runtuhkan
cita-cita dan harapanmu hanya karena omongan jelek si pembawa kayu bakar. Aku tahu kau
punya kekuatan mengubah hidupmu. Lebih hebat dari para penyihir yang hanya memainkan
tongkatnya sambil membaca mantra. Kau punya pengalaman. Kau punya bakat melukis.
Lukislah harapanmu hingga ia menjadi sebuah lukisan hidup yang kemudian menjadi teman
saat kegalauan menghinggapimu. Yakinkan dirimu, kau tidak sendiri. Kau punya jutaan teman
yang mau mendengarkan keresahanmu. Ibumu. Jangan kau kuatirkan dia. Dia sedang bahagia
saat ini.”

“Rembulan, kau … terimakasih.” Guratan keputusasaan kini berubah menjadi tampang


ketegaran. Namun ia tak mampu membedung air matanya.

Butir mutiara matanya jatuh menerobos pipi keterpurukan. Jatuh tanpa penghalang
hingga hinggap pada dahan kecil. Kesengsaraan akan segera musnah, dan kebahagiaan akan
segera datang. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat dan penuh ketegaran.

“Terimakaasih, Rembulan. Kau benar, aku harus terus mengejar cita-citaku. Kelak, aku
yakin para bajingan itu akan bertekuk lutut di depanku mengais-ais ampunan dariku, dan
menarik kembali perkataan – pembunuh ibu tak pantas tinggal di desa ini. Aku pastikan kau
takkan pernah sukses, anak durhaka! – busuknya itu,” ujarnya sembari menatap rembulan
penuh keyakinan.

***

Malam berikutnya ia sudah berada di tempat yang sama. Menatap langit mencari
rembulan kemarin. Bola matanya menari-nari mengerjap mengelilingi samudera angkasa.
Tetapi malam itu langit tengah mendung. Awan hitam memeluk dataran Ibu kota sembari
menebar hawa dingin. Merangsek masuk tanpa kompromi menusuk kulit hingga ke tulang.

Malam berikutnya ia datang lagi. Suasananya masih seperti kemarin, Mendung, bahkan
hujan lebat. Tak ada sekelebat sinar rembulan pun. Ia bersimpuh di bawah teras, berteduh
menunggu hujan reda. Namun, sang hujan enggan memenuhi keinginan Roni.

Apakah rembulan menitipkan salam untukku, wahai Hujan? Apakah kau juga mengerti
keadaanku? Apakah tetesanmu itu tanda kau sedang berduka? Aku rasa tidak. Kau tak
mengerti perasaanku.

Aku butuh teman setia sekarang ini. Rembulan, kaulah temanku. Tapi kau ke mana?
Aku benci kau!

Roni menggerutu. Bola matanya semakin panas kala ia menyebut kata rembulan. Ia
semakin geram. Diambilnya beberapa kerikil, kemudian ia lemparkan ke bawah. Tepat di
bawah jalur layang itu jalan raya yang tak pernah sepi pengendara. Ia tak peduli dengan nasib
para pengendara yang terkena lemparannya.
“Kau sudah janji, Rembulan. Kau sama saja seperti mereka. Tak pernah mengerti
perasaanku,” bentak Roni sembari menatap langit penuh sinis.

Kekecewaannya kian memuncak. Ia berlari membelah rintikan hujan sambil menangis.


Berusaha tetap tegar namun tidak bisa. Bayangan akan ibunya masih terngiang-ngiang dalam
benaknya. Sekarang ia tinggal bersama pamannya, dan hanya pamannya lah yang percaya
padanya.

Lukisan-lukisan berjejeran di kamarnya. Namun temanya tak pernah berubah, selalu


tentang kesedihan dan penderitaan. Hanya ada satu lukisan yang membuatnya tersenyum dan
bersemangat melanjutkan hidup, adalah lukisan ibunya. TAMAT
Andi Faizal, lahir di Indramayu pada 16
November 1999. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa
aktif di STKIP NU Indramayu program study Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dan aktif di beberapa
organisasi baik organisasi kampus maupun organisasi
kemasyarakatan antara lain, Himabsi, Ipnu, Forkip
Tambi, Perpusjal Kampoeng Merdeka, TBM Gembira (salah satu pendiri), dan organisasi-
organisasi lainnya, serta ia juga tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Darul Muslimin
Tambi.

Disela-sela kesibukkannya, ia menyempatkan waktu untuk menyalurkan hobinya yaitu


membaca dan menulis.