Anda di halaman 1dari 18

Lanjutan dari kisah sebelumnya

2. 'Umar bin Khatthab "al-Faruq" ra.

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin
Khattab (581 M-November 644 M) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga
adalah khalifah kedua Islam ( 634M-644M). Umar juga merupakan satu diantara empat orang
Khalifah yang digolongkan sebagai Khalifah yang diberi petunjuk ( Khulafaur Rasyidin ).

Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy , suku
terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan
ibunya Hantamah binti Hasyim. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Muhammad yaitu Al-
Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada
masa itu merupakan sesuatu yang langka. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia
menjadi juara gulat di Mekkah.

Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh
penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar
juga mengubur putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih
barbar.

Setelah memeluk Islam di bawah Nabi Muhammad, Umar dikabarkan menyesali


perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits"Aku
menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".

Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada
masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak
menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang
memabukkan) secara tegas.

Ketika Nabi Muhammad menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat
antipati terhadapnya, beberapa catatan mengatakan bahwa kaum Muslim saat itu mengakui bahwa
Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah
memiliki reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat
tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui.
Pada puncak kebencian terhadap ajaran Muhammad, Umar memutuskan untuk mencoba
membunuh Muhammad, namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut
Muhammad bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara
perempuan Umar masuk Islam, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang ingin dibunuhnya
saat itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan maksud untuk menghukum
adiknya.

Kemudian pada suatu hari, ia keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh
Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu `aim bin Abdullah al 'Adawi, seorang laki-laki
dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, "Mau kemana wahai Umar?" Umar
bin Khattab menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Lelaki tadi berkata, "Bagaimana kamu
akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?" Maka Umar
menjawab, "Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek
moyangmu." Tapi pria tadi menimpali, "Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai
Umar? Sesungguhnya adik perempuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini."

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur'an, surat Thaha
kepada Khabab bin al arats. Kemudian Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara
yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, "Kami tidak
sedang membicarakan apa-apa." Umar bin Khattab menimpali, "Sepertinya kalian telah keluar dari
agama nenek moyang kalian." Iparnya menjawab, "Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu
bukan berada pada agamamu?" Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya
sampai terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang
dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, "Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin
membacanya." Maka adik perempuannya berkata, "Kamu itu kotor. Tidak bisa menyentuh kitab itu
kecuali orang yang bersuci. Mandilah dan berwudhulah terlebih dahulu!" lantas Umar bin Khattab
mandi dan berwudhu kemudian mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia
membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta diantar pada Rasulullah.

Mendengar perkataan Umar bin Khattab, Khabab berkata, "Aku akan beri kabar gembira
kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam
Kamis, ' Ya Allah, muliakan Islam.dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam .
' Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa."

Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk
pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari
celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin
Abdul Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?" Mereka menjawab, "Umar datang " Hamzah bin Abdul
Muthalib berkata, "Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan
menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan
pedangnya." Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. "Ya Allah, ini
adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab." Dan dalam riwayat
lain: " Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar. "

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah
tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk
Islam. Abdullah bin Mas'ud berkomentar, "Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar
bin Khattab masuk Islam."

Setelah Umar menyatakan memeluk Islam, hampir seisi Mekkah terkejut karena seseorang
yang terkenal paling keras menentang Nabi Muhammad kemudian memeluk ajarannya, akibatnya
Umar dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para
petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.

Keislaman beliau telah memberikan andil besar untuk perkembangan dan kesuksesan
Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan
kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan
kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan
paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.

Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Nabi Muhammad dan pemeluk Islam
lain hijrah (migrasi) ke Yatsrib (sekarang Madinah ). Ia juga terlibat pada perang Badar , Uhud,
Khaybar dan penyerangan ke Suriah.

Pada tahun 625, putrinya (Hafsah) menikah dengan Nabi Muhammad. Ia dianggap sebagai
seorang yang paling disegani oleh kaum Muslim pada masa itu karena selain reputasinya yang
memang terkenal sejak masa pra-Islam, juga karena ia dikenal sebagai orang terdepan yang selalu
membela Nabi Muhammad dan ajaran Islam di setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu
melawan kawan-kawan lamanya yang dulu bersama mereka ikut menyiksa Nabi Muhammad dan para
pengikutnya.

Pada saat kabar kematian Nabi Muhammad SAW, pada 8 Juni 632 M (12 Rabiul Awal, 10
Hijriah) di Madinah sampai kepada umat Muslim secara keseluruhan, Umar dikabarkan sebagai salah
seorang yang paling terguncang atas peristiwa itu, ia menghambat siapapun memandikan atau
menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Akibat syok yang ia terima, Umar bersikeras bahwa
Muhammad tidaklah wafat melainkan hanya sedang tidak sadarkan diri, dan akan kembali sewaktu-
waktu.

Abu Bakar yang mendengar kabar bergegas kembali dari Madinah, Ia menemukan Umar
sedang menahan Muslim yang lain dan lantas mengatakan "Saudara-saudara! Barangsiapa mau
menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah,
Allah hidup selalu tak pernah mati. "!

Abu bakar mengingatkan kepada para pemeluk Islam yang sedang terguncang, termasuk
Umar saat itu, bahwa Nabi Muhammad, seperti halnya mereka, adalah seorang manusia biasa, Abu
Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur'an yang mencoba untuk mengingatkan mereka
kembali kepada ajaran yang diajarkan Muhammad yaitu kefanaan makhluk yang diciptakan. Setelah
peristiwa itu Umar menyerah dan membiarkan persiapan penguburan dilaksanakan.

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat
kepalanya. Setelah Abu Bakar meninggal pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikannya
sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh
besar setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan
islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian
barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.

Dalam masa kepemimpinan 10 tahun Umar bin Khattab itu, penaklukan-penaklukan penting
dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah,
pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium.

Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan
Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun
kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan
terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki.Tahun 639, pasukan Islam menyerbu Mesir
yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir
diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia
telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak
pada pertempuran Qadisiyyah tahun 636 H. Pasukan Islam dalam jumlah kecil mendapatkan
kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah , di
dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi
Waqqash mengalahkan tim Sassania dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam
Farrukhzad.

Pada tahun 637 M, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem , pasukan Islam
akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta
Sophronius dan diundang untuk shalat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih
untuk shalat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid
Umar didirikan ditempat ia shalat.

Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan
hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642),
mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin
Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak
berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia
dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu
diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas'ud berkata, "Seandainya ilmu Umar bin
Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada
tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka".

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan
publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga
memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638 M, ia
memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di
Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.

Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al


Qur'an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk
kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu
imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai
pengobatan, membangun akomodasi, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan
hukuman cambuk bagi peminum "khamr" (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata
uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

Namun dengan begitu ia tidak menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang
pemimpin yang zuhud lagi wara '. Ia berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan
rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, "Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah
yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal
waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi
pasar untuk menjamu orang-orang." Abdullah, putranya berkata, "Umar bin Khattab berkata,
"Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta
pertanggung jawaban oleh Allah SWT."

Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang, Ia berjanji tidak akan
makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya. Tidak
diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil
dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan
demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan
Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum'at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya
memiliki dua baju.

Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan
penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana. Kebijaksanaan dan keadilan
Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah
SWT.

Umar bin Khattab wafat karena sebab dibunuh oleh Abu Lu'luah (Fairuz), budak milik al-
Mughirah bin Syu'bah, pada saat memimpin shalat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang
masuk Islam, setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam
pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat
itu merupakan negara adidaya oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23
H/644 M. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Nabi saw dan Abu Bakar as Siddiq, beliau
wafat dalam usia 63 tahun. Setelah kematiannya jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan .

Sebelum wafat Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan,
dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Nabi SAW. Mereka adalah Utsman bin
Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqash,
dan Abdurrahman bin Auf .

Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, "Aku tidak mau
bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka
Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan
kebaikan bagi kamu oleh Nabimu".

Ibnu Abi Syaibah, Abu Ubaidah, An-Nasa'y, Abu Ya'la, Al-Baihaqy dan Ibnu Hibban
mentakhrij dari Umar bin Khaththab, Dia berkata, "Aku berwasiat kepada Khalifah sesudahku agar
mengetahui hak orang-orang Muhajirin kelompok yang pertama dan agar menjaga kehormatan
mereka. Aku juga berwasiat kepadanya untuk memperhatikan orang-orang Anshar yang telah
menyediakan tempat tinggal dan beriman sejak sebelum kedatangan orang-orang Muhajirin, harus
dia menerima kebaikan mereka dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka. Aku juga berwasiat
kepadanya untuk berbuat baik kepada penduduk berbagai kota, karena mereka adalah penolong bagi
Islam, pendukung dana dan penghadang musuh. Janganlah dia mengambil harta pun dari mereka
kecuali harta yang berlebih dan menurut kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar dia berbuat baik
kepada orang-orang badui, karena mereka merupakan asal mula bangsa Arab dan sumber Islam. Dia
harus mengambil shadaqah dari orang-orang yang kaya dan membagikannya kepada orang-orang
yang miskin. Aku juga berwasiat kepadanya agar memenuhi hak Ahli Dzhimmi seperti yang
ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan perjanjian dengan mereka. Dia bisa memerangi
orang-orang selain mereka, dan tidak membebankan kepada mereka kecuali menurut kesanggupan
mereka. "

Saat Umar masih hidup, Umar meninggalkan wasiat yaitu :

1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan kamu ingin mencacinya, maka cacilah
dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.

2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh
yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.

3. Bila engkau ingin memuji seseorang, pujilah Allah SWT. Karena tidak seorang manusia pun lebih
banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah SWT.

4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab saat engkau
meninggalkannya, berarti engkau terpuji.

5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap
untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.

Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan
memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Karomah Abu Bakar As-Shiddiq


On Monday, February 25, 2013

Kisah 1
'Abdurrahman bin Abu Bakar r.a. menceritakan bahwa ayahnya datang bersama tiga orang
tamu hendak pergi makan malam dengan Nabi SAW. Kemudian mereka datang setelah lewat
malam. Istri Abu Bakar bertanya,
"Apa yang bisa kau suguhkan untuk tamumu?"
Abu Bakar balik bertanya,
"Apa yang kau miliki untuk menjamu makan malam mereka?"
Sang istri menjawab,
"Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang."
Abu Bakar berkata,
"Demi Allah, aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya."
Abu Bakar mempersilakan para tamunya makan. Salah seorang tamunya berujar,
"Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu menjadi bertambah
banyak. Kami merasa kenyang, tetapi makanan itu malah menjadi lebih banyak dari
sebelumnya."

Abu Bakar melihat makanan itu tetap seperti semula, bahkan jadi lebih banyak, lalu dia
bertanya kepada istrinya,
"Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?"
Sang istri menjawab,
"Mataku tidak salah melihat, makanan ini menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya."
Abu Bakar menyantap makanan itu, lalu berkata,
"Ini pasti ulah setan."
Akhirnya Abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah SAW dan meletakkannya di
hadapan beliau. Pada waktu itu, sedang ada pertemuan antara kaum muslimin dan satu kaum.
Mereka dibagi menjadi 12 kelompok, hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah
keseluruhan hadirin. Beliau menyuruh mereka menikmati makanan itu, dan mereka semua
menikmati makanan yang dibawa Abu Bakar. (HR Bukhari dan Muslim)

Kisah 2
'Aisyah r.a. bercerita, 'Ayahku (Abu Bakar Shiddiq) memberiku 20 wasaq kurma (1 wasaq =
60 gantang) dari hasil kebunnya di hutan. Menjelang wafat, beliau berwasiat,
"Demi Allah, wahai putriku, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai ketika aku kaya
selain engkau, dan lebih aku muliakan ketika miskin selain engkau. Aku hanya bisa
mewariskan 20 wasaq kurma, dan jika lebih, itu menjadi milikmu. Namun, pada hari ini, itu
adalah harta warisan untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu, maka
bagilah sesuai aturan Al-Qur'an."
Lalu aku berkata,
"Ayah, demi Allah, beberapapun jumlah harta itu, aku akan memberikannya untuk Asma', dan
untuk siapa lagi ya?"
Abu Bakar menjawab,
"Untuk anak perempuan yang akan lahir." (Hadis sahih dari `Urwah bin Zubair)

Menurut Al Taj al-Subki, kisah di atas menjelaskan bahwa Abu Bakar r.a. memiliki dua
karamah. Pertama, mengetahui hari kematiannya ketika sakit, seperti diungkapkan dalam
perkataannya,
"Pada hari ini, itu adalah harta warisan."
Kedua, mengetahui bahwa anaknya yang akan lahir adalah perempuan. Abu Bakar
mengungkapkan rahasia tersebut untuk meminta kebaikan hati `Aisyah r.a. agar memberikan
apa yang telah diwariskan kepadanya kepada saudara- saudaranya, memberitahukan
kepadanya tentang ketentuan-ketentuan ukuran yang tepat, memberitahukan bahwa harta
tersebut adalah harta warisan dan bahwa ia memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara
laki-laki. Indikasi yang menunjukkan bahwa Abu Bakar meminta kebaikan hati 'Aisyah
adalah ucapannya yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang ia cintai ketika ia
kaya selain `Aisyah (putrinya). Adapun ucapannya yang menyatakan bahwa warisan itu untuk
dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu menunjukkan bahwa mereka bukan
orang asing atau kerabat jauh.

Ketika menafsirkan surah Al-Kahfi, Fakhrurrazi sedikit mengungkapkan karamah para


sahabat, di antaranya karamah Abu Bakar r.a. Ketika jenazah Abu Abu Bakar dibawa menuju
pintu makam Nabi SAW., jenazahnya mengucapkan
"Assalamu alaika ya Rasulullah, Ini aku Abu Bakar telah sampai di pintumu."
Mendadak pintu makam Nabi terbuka dan terdengar suara tanpa rupa dari makam,
"Masuklah wahai kekasihku."

Artikel ini adalah bagian dari buku Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin
Ismail an Nabhani.

Karamah Umar Bin Khattab


On Monday, February 25, 2013

Kisah 1
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa ketika `Umar bin Khattab r.a. melewati pemakaman
Baqi' (pemakaman khusus untuk para syuhada), ia mengucapkan salam,
"Semoga keselamatan dilimpahkan padamu, hai para penghuni kubur. Kukabarkan bahwa
istri kalian sudah menikah lagi, rumah kalian sudah ditempati, kekayaan kalian sudah
dibagi."
Kemudian ada suara tanpa rupa menyahut,
"Hai `Umar bin Khattab, kukabarkan juga bahwa kami telah mendapatkan balasan atas
kewajiban yang telah kami lakukan, keuntungan atas harta yang yang telah kami dermakan,
dan penyesalan atas kebaikan yang kami tinggalkan." (Dikemukakan dalam bab tentang
kubur)

Yahya bin Ayyub al-Khaza'i menceritakan bahwa `Umar bin Khattab mendatangi makam
seorang pemuda lalu memanggilnya,
"Hai Fulan! Dan orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, akan mendapat dua surga
(QS Al-Ralunan [55]: 46).
Dari liang kubur pemuda itu, terdengar jawaban,
"Hai 'Umar, Tuhanku telah memberikan dua surga itu kepadaku dua kali di dalam surga."
(Riwayat Ibnu 'Asakir)
Kisah 2
Al Taj al-Subki mengemukakan bahwa salah satu karamah Khalifah 'Umar al-Faruq r.a.
dikemukakan dalam sabda Nabi yang berbunyi,
"Di antara umat- umat sebelum kalian, ada orang-orang yang menjadi legenda. Jika orang
seperti itu ada di antara umatku, dialah 'Umar."

Kisah 3
Diceritakan bahwa `Umar bin Khattab r.a. mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji sebagai
pemimpin salah satu angkatan perang kaum muslimin untuk menycrang Persia. Di Gerbang
Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah pasukan musuh yang sangat
banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara di Madinah, `Umar naik ke atas
mimbar dan berkhutbah. Di tengah-tengah khutbahnya, 'Umar berseru dengan suara lantang,
"Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barang siapa menyuruh serigala untuk
menggembalakan kambing, maka ia telah berlaku zalim!"
Allah membuat Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nihawan dapat
mendengar suara `Umar di Madinah. Maka pasukan muslimin berlindung ke gunung, dan
berkata,
"Itu suara Khalifah `Umar."
Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan.

Al Taj al-Subki menjelaskan bahwa ayahnya (Taqiyuddin al-Subki) menambahkan cerita di


atas. Pada saat itu, Ali menghadiri khutbah `Umar lalu ia ditanya,
"Apa maksud perkataan Khalifah `Umar barusan dan di mana Sariyah sekarang?"
Ali menjawab,
"Doakan saja Sariyah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya."
Dan setelah kejadian yang dialami Sariyah dan pasukannya diketahui umat muslimin di
Madinah, maksud perkataan `Umar di tengah-tengah khutbahnya tersebut menjadi jelas.

Menurut al Taj al-Subki, `Umar r.a. tidak bermaksud menunjukkan karamahnya ini, Allah-lah
yang menampakkan karamahnya, sehingga pasukan muslimin di Nihawan dapat melihatnya
dengan mata telanjang, seolah-olah `Umar menampakkan diri secara nyata di hadapan
mereka dan meninggalkan majelisnya di Madinah sementara seluruh panca indranya
merasakan bahaya yang menimpa pasukan muslimin di Nihawan. Sariyah berbicara dengan
`Umar seperti dengan orang yang ada bersamanya, baik `Umar benar-benar bersamanya
secara nyata atau seolah-olah bersamanya. Para wali Allah terkadang mengetahui hal-hal luar
biasa yang dikeluarkan oleh Allah melalui lisan mereka dan terkadang tidak mengetahuinya.
Kedua hal tersebut adalah karamah.

Kisah 4
Dalam kitab al-Syamil, Imain al-Haramain menceritakan Karamah 'Umar yang tampak ketika
terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya. Ketika itu, 'Umar malah mengucapkan
pujian dan sanjungan kepada Allah, padahal bumi bergoncang begitu menakutkan. Kemudian
`Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata,
"Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu."
Bumi kembali tenang saat itu juga. Menurut Imam al-Haramain, pada hakikatnya `Umar r.a.
adalah amirul mukminin secara lahir dan batin juga sebagai khalifah Allah bagi bumi-Nya
dan bagi penduduk bumi-Nya, sehingga `Umar mampu memerintahkan dan menghentikan
gerakan bumi, sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan penduduk bumi.

Kisah 5
Imam al-Haramain juga mengemukakan kisah tentang sungai Nil dalam kaitannya dengan
karamah 'Umar. Pada masa jahiliyah, sungai Nil tidak mengalir sehingga setiap tahun
dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai tersebut. Ketika Islam datang,
sungai Nil yang seharusnya sudah mengalir, tenyata tidak mengalir. Penduduk Mesir
kemudian mendatangi Amr bin Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering sehingga diberi
tumbal dengan melempar seorang perawan yang dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian
terbaiknya. Kemudian Amr bin Ash r.a. berkata kepada mereka,
"Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut."
Maka penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan dengan tidak mengalirnya Sungai Nil,
sehingga mereka benar-benar menderita.

'Amr menulis surat kepada Khalifah `Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa
tersebut. Dalam surat jawaban untuk 'Amr bin Ash, 'Umar menyatakan,
"Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas
untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!"
Kemudian Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai Nil. Ternyata
kertas tersebut berisi tulisan Khalifah 'Umar untuk sungai Nil di Mesir yang menyatakan,
"Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah Yang
Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang
Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir."
Kemudian 'Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-benar
terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir.
Pagi harinya, ternyata Allah SWT telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu
malam.

Kisah 6
Imam al-Haramain menceritakan karamah `Umar lainnya. 'Umar pernah memimpin suatu
pasukan ke Syam. Kemudian ada sekelompok orang menghalanginya, sehingga 'Umar
berpaling darinya. Lalu sekelompok orang tadi menghalanginya lagi, `Umar pun berpaling
darinya lagi. Sekelompok orang tadi menghalangi `Umar untuk ketiga kalinya dan 'Umar
berpaling lagi darinya. Pada akhirnya, diketahui bahwa di dalam sekelompok orang tersebut
terdapat pembunuh 'Utsman dan Ali r.a.

Kisah 7
Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam Nawawi mengemukakan bahwa Abdullah bin `Umar
r.a. berkata,
"Setiap kali `Umar mengatakan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti
prasangkanya itu yang benar."

Saya tidak mengemukakan riwayat dari Ibnu `Umar tersebut dalam kitab Hujjatullah 'ala
al-'Alamin. Kisah tentang Sariyah dan sungai Nil yang sangat terkenal juga disebutkan dalam
kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra. Dalam kitab tersebut juga dikemukakan karamah 'Umar
yang lainnya yaitu ketika ada orang yang bercerita dusta kepadanya, lalu `Umar menyuruh
orang itu diam. Orang itu bercerita lagi kepada `Umar, lalu Umar menyuruhnya diam.
Kemudian orang itu berkata,
"Setiap kali aku berdusta kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam."

Kisah 8
Diceritakan bahwa 'Umar bertanya kepada seorang laki-laki,
"Siapa namamu?"
Orang itu menjawab,
"Jamrah (artinya bara)."
`Umar bertanya lagi,
"Siapa ayahmu?"
Ia menjawab,
"Syihab (lampu)."
`Umar bertanya,
"Keturunan siapa?"
Ia menjawab,
"Keturunan Harqah (kebakaran)."
'Umar bertanya,
"Di mana tempat tinggalmu?"
Ia menjawab,
"Di Al Harrah (panas)."
`Umar bertanya lagi,
"Daerah mana?"
Ia menjawab,
"Di Dzatu Lazha (Tempat api) ."
Kemudian `Umar berkata,
"Aku melihat keluargamu telah terbakar."
Dan seperti itulah yang terjadi.

Kisah 9
Fakhrurrazi dalam tafsir surah Al-Kahfi menceritakan bahwa salah satu kampung di Madinah
dilanda kebakaran. Kemudian `Umar menulis di secarik kain,
"Hai api, padamlah dengan izin Allah!"
Secarik kain itu dilemparkan ke dalam api, maka api itu langsung padam.

Kisah 10
Fakhrurrazi menceritakan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap `Umar. Utusan
itu mencari rumah `Umar dan mengira rumah 'Umar seperti istana para raja. Orang-orang
mengatakan,
"Umar tidak memiliki istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu."
Setelah sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu melihat `Umar telah meletakkan
kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah. Terperanjatlah utusan itu
melihat `Umar, lalu berkata,

"Bangsa- bangsa di Timur dan Barat takut kepada manusia ini, padahal ia hanya seperti ini."
Dalam hati ia berjanji akan membunuh `Umar saat sepi seperti itu dan membebaskan
ketakutan manusia terhadapnya. Tatkala ia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah
mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu menjadi
takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. 'Umar kemudian terbangun, dan ia tidak
melihat apa-apa. 'Umar menanyai utusan itu tentang apa yang terjadi. Ia menuturkan
peristiwa tersebut, dan akhirnya masuk Islam.

Menurut Fakhrurrazi, kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad (dalam
salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu periwayat). Adapun yang dikisahkan secara
mutawatir adalah kenyataan bahwa meskipun `Umar menjauhi kekayaan duniawi dan tidak
pernah memaksa atau menakut-nakuti orang lain, ia mampu menguasai daerah Timur dan
Barat, serta menaklukkan hati para raja dan pemimpin. Jika anda mengkaji buku- buku
sejarah, anda tak akan menemukan pemimpin seperti 'Umar, sejak zaman Adam sampai
sekarang. Bagaimana 'Umar yang begitu menghindari sikap memaksa bisa menjalankan
politiknya dengan gemilang. Tidak diragukan lagi, itu adalah karamahnya yang paling besar.

Artikel ini adalah bagian dari buku Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin
Ismail an Nabhani.

Karomah Utsman bin Affan


On Monday, February 25, 2013

Kisah 1
Dalam kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertamu
kepada 'Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah
jalan, lalu ia menghayalkannya. 'Utsman berkata kepada laki-laki itu,
"Aku melihat ada bekas zina di matamu."
Laki-laki itu bertanya,
"Apakah wahyu masih diturunkan sctelah Rasulullah SAW wafat?"
`Utsman menjawab,
"Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin."
`Utsman r.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak
mengulangi apa yang telah dilakukannya.

Selanjutnya Taj al-Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan
melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau
bersih. Maqam orang-orang seperti itu berbeda-beda. Ada yang mengetahui bahwa yang
dilihatnya itu kotor tetapi ia tidak mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi
karena mengetahui sebab kotornya, seperti 'Utsman r.a. Ketika ada seorang laki-laki datang
kepadanya, `Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu kotor dan mengetahui sebabnya
yakni karena menghayalkan seorang perempuan.

Semakin lama, kemaksiatan yang dilakukan membuat hati semakin kotor dan ternoda,
sehingga membuat hati menjadi gelap dan menutup pintu-pintu cahaya, lalu hati menjadi
mati, dan tidak ada jalan lagi untuk bertobat, seperti dinyatakan dalam firman Nya,

Dan hati mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak mengetahui kebahagiaan
beriman dan berjihad. (QS Al Taubah [9]: 87)

Sekecil apa pun kemaksiatan akan membuat hati kotor sesuai kadar kemaksiatan itu. Kotoran
itu bisa dibersihkan dengan memohon ampun (istighfar) atau perbuatan-perbuatan lain yang
dapat menghilangkannya. Hal tersebut hanya diketahui oleh orang yang memiliki mata batin
yang tajam seperti 'Utsman bin `Affan, sehingga ia bisa mengetahui kotoran hati meskipun
kecil, karena menghayalkan seorang perempuan merupakan dosa yang paling ringan,
`Utsman dapat melihat kotoran hati itu dan mengetahui sebabnya. Ini adalah maqam paling
tinggi di antara maqam-maqam lainnya. Apabila dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya,
maka akan bertambah pula kekotoran hatinya, dan apabila dosa itu semakin banyak maka
akan membuat hatinya gelap. Orang yang memiliki mata hati akan mampu melihat hal ini.
Apabila kita bertemu dengan orang yang penuh dosa sampai gelap hatinya, tetapi kita tidak
mampu mengetahui hal tersebut, berarti dalam hati kita masih ada penghalang yang membuat
kita tidak mampu melihat hal tersebut, karena orang yang mata hatinya jernih dan tajam pasti
akan mampu melihat dosa-dosa orang tersebut.

Kisah 2
Ibnu `Umar r.a. menceritakan bahwa Jahjah al- Ghifari mendekati 'Utsman r.a. yang sedang
berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat 'Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat
setahun, Allah menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut
kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan)

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Jahjah al- Ghifari mendekati `Utsman yang sedang
berkhutbah, merebut tongkat dari tangan `Utsman, dan meletakkan di atas lututnya, lalu
mematahkannya. Orang-orang menjerit. Allah lalu menimpakan penyakit pada lutut Jahjah
dan tidak sampai setahun ia meninggal. (Riwayat Ibnu Sakan dari Falih bin Sulaiman yang
saya kemukakan dalam kitab Hujjatullah `ala al-Alamin)

Kisah 3
Diceritakan bahwa Abdullah bin Salam mendatangi `Utsman r.a. yang sedang dikurung dalam
tahanan untuk mengucapkan salam kepadanya. 'Utsman bercerita,
"Selamat datang saudaraku. Aku melihat Rasulullah SAW dalam ventilasi kecil ini."
Rasulullah bertanya,
"Utsman, apakah mereka mengurungmu?"
Utsman menjawab,
`Ya.'
Lalu beliau memberikan seember air kepadaku dan aku meminumnya sampai puas.
Rasulullah berkata lagi,

'Kalau kau mau bebas niscaya engkau akan bebas, dan kalau kau mau makan bersama kami
mari ikut kami.' Kemudian aku memilih makan bersama mereka."
Pada hari itu juga, `Utsman terbunuh.

Menurut Jalaluddin al-Suyuthi, kisah ini adalah kisah masyhur yang diriwayatkan dalam
kitab- kitab hadis dengan beberapa sanad berbeda, termasuk jalur sanad Harits bin Abi
Usamah. Menurut Ibnu Bathis, apa yang dialami 'Utsman adalah mimpi pada saat terjaga
sehingga bisa dianggap karamah. Karena semua orang bisa bermimpi ketika tidur, maka
mimpi ketika tidur tidak termasuk kejadian luar biasa yang bisa dianggap sebagai karamah.
Hal ini disepakati oleh orang yang mengingkari karamah para wali. (Dikutip dalam Tabaqat
al-Munawi dari kitab Itsbat al-Karamah karya Ibnu Bathis)

Artikel ini adalah bagian dari buku Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin
Ismail an Nabhani.

Karamah Ali bin Abi Thalib


On Monday, February 25, 2013

Kisah 1
Sid bin Musayyab menceritakan bahwa ia dan para sahabat menziarahi makam-makam di
Madinah bersama `Ali. Ali lalu berseru,
“Wahai para penghuni kubur, semoga dan rahmat dari Allah senantiasa tercurah kepada
kalian, beritahukanlah keadaan kalian kepada kami atau kami akan memberitahukan kcadaan
kami kepada kalian.” Lalu terdengar jawaban, “Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dari
Allah senantiasa tercurah untukmu, wahai amirul mukminin. Kabarkan kepada kami tentang
hal-hal yang terjadi setelah kami.” Ali berkata, “Istri-istri kalian sudah menikah lagi,
kekayaan kalian sudah dibagi, anak-anak kalian berkumpul dalam kelompok anak-anak
yatim, bangunan-bangunan yang kalian dirikan sudah ditempati musuh-musuh kalian. Inilah
kabar dari kami, lalu bagaimana kabar kalian?” Salah satu mayat menjawab, “Kain kafan
telah koyak, rambut telah rontok, kulit mengelupas, biji mata terlepas di atas pipi, hidung
mengalirkan darah dan nanah. Kami mendapatkan pahala atas kebaikan yang kami lakukan
dan mendapatkan kcrugian atas kewajiban yang yang kami tinggalkan. Kami bertanggung
jawab atas perbuatan kami.” (Riwayat Al-Baihagi)

Kisah 2
Dalam kitab Al-Tabaqat, Taj al-Subki meriwayatkan bahwa pada suatu malam, `Ali dan
kedua anaknya, Hasan dan Husein r.a. mendengar seseorang bersyair:

"Hai Zat yang mengabulkan doa orang yang terhimpit kezalimanWahai Zat yang
menghilangkan penderitaan, bencana, dan sakitUtusan-Mu tertidur di rumah Rasulullah
sedang orang-orang kafir mengepungnyaDan Engkau Yang Maha Hidup lagi Maha Tegak
tidak pernah tidurDengan kemurahan-Mu, ampunilah dosa-dosakuWahai Zat tempat berharap
makhluk di Masjidil HaramKalau ampunan-Mu tidak bisa diharapkan oleh orang yang
bersalahSiapa yang akan menganugerahi nikmat kepada orang-orang yang durhaka."

`Ali lalu menyuruh orang mcncari si pelantun syair itu. Pelantun syair itu datang menghadap
Ali seraya berkata,
“Aku, ya Amirul mukminin!”
Laki-laki itu menghadap sambil menyeret sebelah kanan tubuhnya, lalu berhenti di hadapan
Ali. Ali bertanya,
“Aku telah mendengar syairmu, apa yang menimpamu?”
Laki-laki itu menjawab,
“Dulu aku sibuk memainkan alat musik dan melakukan kemaksiatan, padahal ayahku sudah
menasihatiku bahwa Allah memiliki kekuasaan dan siksaan yang pasti akan menimpa orang-
orang zalim. Karena ayah terus-menerus menasihati, aku memukulnya. Karenanya, ayahku
besumpah akan mendoakan keburukan untukku, lalu ia pergi ke Mekkah untuk memohon
pertolongan Allah. Ia berdoa, belum selesai ia berdoa, tubuh sebelah kananku tiba-tiba
lumpuh. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan, maka aku meminta belas kasihan
dan ridha ayahku sampal la berjanji akan mendoakan kebaikan untukku jika Ali mau berdoa
untukku. Aku mengendarai untanya, unta betina itu melaju sangat kencang sampai terlempar
di antara dua batu besar, lalu mati di sana.”
`Ali lalu berkata,
“Allah akan meridhaimu, kalau ayahmu meridhaimu.”
Laki-laki itu menjawab,
“Demi Allah, demikianlah yang terjadi.”
Kemudian ‘Ali berdiri, shalat beberapa rakaat, dan berdoa kepada Allah dengan pelan,
kemudian berkata,
“Hai orang yang diberkahi, bangkitlah!”
Laki-laki itu berdiri, berjalan, dan kembali sehat seperti sedia kala. `Ali berkata,
“Jika engkau tidak bersumpah bahwa ayahmu akan meridhaimu, maka aku tidak akan
mendoakan kebaikan untukmu.”

Kisah 3
Fakhrurrazi yang hanya sedikit memasukkan cerita-cerita tentang karamah para sahabat
dalam kitabnya, juga meriwayatkan bahwa seorang budak kulit hitam penggemar `Ali
mencuri. Budak itu diajukan kepada Ali dan ditanya,
“Betulkah kau mencuri?”
la menjawab,
“Ya,”
maka `Ali memotong tangannya. Budak itu berlalu dari hadapan `Ali, kemudian berjumpa
dengan Salman al-Farisi dan Ibnu al-Kawwa’. Ibnu al-Kawwa’ bertanya,
“Siapa yang telah memotong tanganmu?”
Ia menjawab,
“Amirul mukminin, pemimpin besar umat muslim, menantu Rasullah, dan suami Fatimah.”
Ibnu al-Kawwa’ bertanya,
“la telah memotong tanganmu dan kamu masih juga memujinya?”
Budak itu menjawab,
“Mengapa aku tidak memujinya? Ia memotong tanganku sesuai dengan kebenaran dan berarti
membebaskanku dari neraka.”
Salman mendengarkan penuturan budak itu, lalu menceritakannya kepada Ali. Selanjutnya
Ali memanggil budak hitam itu, lalu meletakkan tangan yang telah dipotong di bawah
lengannya, dan menutupnya dengan selendang, kemudian Ali memanjatkan doa. Orang-orang
yang ada di sana tiba-tiba mcndengar seruan dari langit,
“Angkat selendang itu dari tangannya!”
Ketika selendang itu diangkat, tangan budak hitam itu tersambung kembali dengan izin Allah.

Kisah 4
Dalam kitab Al-I`tibar, Usamah bin Munqidz mengemukakan kisah yang didengarnya dari
Syihabuddin Abu al-Fath, pelayan Mu’izuddaulah bin Buwaihi di Mosul pada tanggal 18
Ramadhan 566 M. Diceritakan bahwa ketika Syihabuddin berada di dalam Masjid
Shunduriyah di pinggir kota Anbar daerah Tepi Barat, Khalifah Al-Muqtafi datang
berkunjung bersama salah seorang menterinya. AI-Mugtafi memasuki masjid tersebut, yang
dikenal dengan sebutan Masjid Amirul Mukminin Ali, dengan memakai baju biasa dan
menyandang pedang yang hiasannya dari besi. Tak seorang pun mengetahui bahwa ia adalah
seorang khalifah, kecuali orang-orang yang telah mengenalnya. Pengurus masjid mendoakan
sang menteri. Lalu sang menteri berkata,
“Celaka, doakanlah khalifah!”
Kemudian Khalifah Al-Mugtafi berkata kepada menterinya,
“Tanyakan sesuatu yang bermanfaat pada pengurus masjid itu. Katakan padanya bahwa dulu
pada masa pemerintahan Maulana Al-Mustazhhir, aku melihat la menderita sakit di
wajahnya. Wajahnya penuh bisul schingga jika mau makan, bisulnya harus ditutup dengan
sapu tangan, agar makanan bisa masuk ke mulutnya.”
Pengurus masjid itu menjelaskan,
“Seperti Anda ketahui, aku berulang kali datang ke masjid ini dari Anbar. Suatu hari, ada
seseorang menemuiku dan berkata, `Kalau engkau berulang kali menemui si Fulan setiap
datang dari Anbar, seperti engkau berulang kali datang ke masjid ini, niscaya si Fulan akan
memanggilkan tabib untukmu yang bisa menghilangkan penyakit di wajahmu.’ Perkataan
orang itu merasuk ke hatiku dan menghimpit dadaku. Lalu aku tertidur pada malam itu dan
bermimpi bertemu amirul mukminin Ali bin Abi Thalib yang tengah berada dalam masjid
tersebut seraya bertanya, `Lubang apa ini?’ Maksudnya adalah sebuah lubang di tanah.
Kemudian aku mengadukan penyakit yang menimpaku tetapi `Ali berpaling dariku. Maka
aku kembali mengadukan penyakitku dan perkataan yang diucapkan oleh lelaki yang
menemuiku di masjid tadi. Ali berkata, `Engkau termasuk orang yang menginginkan dunia.’
Kemudian aku terbangun, dan tiba-tiba bisul-bisul di wajahku lenyap.”

Khalifah Al-Mugtafi berkata,


“Ia benar,”
lalu menoleh ke arah Syihabuddin dan berkata,
“Bicaralah pada pengurus masjid itu, cari tahu apa yang la minta, tuliskan permintaannya
disertai tanda tangannya, dan berikan padaku untuk kutandatangani. “
Selanjutnya Syihabuddin berbincang-bincang dengan pengurus masjid itu, dan pengurus
masjid itu bercerita,
“Aku memiliki istri yang sedang menyusui anak dalam keadaan hamil dan beberapa anak
perempuan. Setiap bulan, aku membutuhkan 3 dinar.”
Syihabuddin menuliskan permintaan pengurus masjid Ali itu beserta alamatnya dan Al-
Mugtafi menandatanganinya. Al-Mugtafi kemudian menyuruh Syihabuddin untuk
menyampaikan permintaan pengurus masjid itu ke dewan keuangan. Syihabuddin membawa
berkas permintaan pengurus masjid itu ke dewan keuangan dan dewan menandatanganinya
tanpa membacanya serta mengambil bagian tulisan khalifah Al-Mugtafi. Ketika sekretaris
dewan membuka tulisan itu untuk dipindahkan, ia menemukan tulisan khalifah Al-Mugtafi di
bawah tanda tangan pengurus masjid Ali yang berbunyi,
“Seandainya ia meminta lebih dari itu, tentu akan diberi.”

Kisah 5
Kisah lainnya menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw menyuruh Abu Dzar memanggil
Ali. Sesampai di rumah Ali, Abu Dzar melihat alat penggiling sedang menggiling gandum
padahal tidak ada seorang pun di sana. Kemudian Abu Dzar menceritakan hal tersebut kepada
Nabi Saw Beliau berkata,

“Hai Abu Dzar! Tahukah kau bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang berjalan-jalan di
bumi dan mereka diperintahkan untuk membantu keluarga Nabi Muhammad Saw.”
(Dikemukakan olch Al-Shubban dalam kitab Is`af al-Raghibin dan Al Mala’ dalam kitab
Sirahnya)