Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DENGAN DIABETES MELITUS DI DESA GENDING PROBOLINGGO

Di susun oleh:

ALFIATUS SULAMAH

(14401.16.17002)

PRODI D-III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY

PESANTREN ZAINUL HASAN

PROBOLINGGO

2019
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
DENGAN DIABETES MELITUS DI DESA GENDING PROBOLINGGO

Di susun oleh:

DIAN NIRMALA PUTRI

(14401.16.17007)

PRODI D-III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY

PESANTREN ZAINUL HASAN

PROBOLINGGO

2019
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS

DENGAN POST PARTUM DI PUSKESMAS

GENDING PROBOLINGGO

Di susun oleh:

ALFIATUS SULAMAH

(14401.16.17002)

PRODI D-III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY

PESANTREN ZAINUL HASAN

PROBOLINGGO

2019
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS

DENGAN POST PARTUM DI PUSKESMAS

GENDING PROBOLINGGO

Di susun oleh:

DIAN NIRMALA PUTRI

(14401.16.17007)

PRODI D-III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY

PESANTREN ZAINUL HASAN

PROBOLINGGO

2019
LEMBAR KONSULTASI

Nama :ALFIATUS SULAMAH


NIM : 14401.16.17002
Prodi : D3 Keperawatan

No Hari/Tgl Saran TTd/Paraf

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


DENGAN DIABETES MELITUS
1. KONSEP DASAR KELUARGA
A. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat
dibawah satu atap dalam keadaaan saling ketergantungan ( Depkes RI, 1998 ).
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional dan social diri tiap anggota keluarga (Duval dan logan,1986
dalam Setiadi,2008).
Keluarga adalah dua atau tiga individu yang tergabung karena
hubungandarah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup
dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam
peranannya masing-masing, menciptakan serta mempertahankan kebudayaan
(Bailon dan Maglaya, 1989 dalam Setiadi,2008).
B. Tipe Keluarga
Dalam (Sri Setyowati, 2007) tipe keluarga dibagi menjadi dua macam yaitu :
a. Tipe Keluarga Tradisional
1. Keluarga Inti ( Nuclear Family ) , adalah keluarga yang terdiri dari
ayah, ibu dan anak-anak.
2. Keluarga Besar ( Exstended Family ), adalah keluarga inti di
tambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara
sepupu,paman, bibi dan sebagainya.
3. Keluarga “Dyad” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami
dan istri tanpa anak.
4. “Single Parent” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu
orang tua (ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini
dapatdisebabkan oleh perceraian atau kematian.
5. “Single Adult” yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri
seorang dewasa (misalnya seorang yang telah dewasa kemudian
tinggal kost untuk bekerja atau kuliah).
b. Tipe Keluarga Non Tradisional
1. The Unmarriedteenege mather, adalah keluarga yang terdiri dari
orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
2. The Stepparent Family adalah keluarga dengan orang tua tiri.
3. Commune Family adalah beberapa pasangan keluarga (dengan
anaknya) yang tidak ada hubungan saudara hidup bersama dalam satu
rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama :
sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok atau membesarkan
anak bersama.
4. The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family adalah keluarga
yang hidup bersama dan berganti – ganti pasangan tanpa melalui
pernikahan.
5. Gay And Lesbian Family adalah seseorang yang mempunyai
persamaan sex hidup bersama sebagaimana suami – istri (marital
partners).
6. Cohibiting Couple adalah orang dewasa yang hidup bersama diluar
ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
7. Group-Marriage Family adalah beberapa orang dewasa
menggunakan alat-alat rumah tangga bersama yang saling merasa
sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk sexual dan membesarkan
anaknya.
8. Group Network Family adalah keluarga inti yang dibatasi aturan
atau nilai-nilai, hidup bersama atau berdekatan satu sama lainnya dan
saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan
dan tanggung jawab membesarkan anaknya.
9. Foster Family adalah keluarga menerima anak yang tidak ada
hubungan keluarga atau saudara didalam waktu sementara, pada saat
orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk
menyatukan kembali keluargayang aslinya.
10. Homeless Family adalah keluarga yang terbentuk dan tidak
mempunyai perlindungan yang permanent karena krisis personal yang
dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan
mental.
11. Gang adalah sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari
orang- orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang
mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan
criminal dalam kehidupannya.
C. Struktur Keluarga
Dalam (Setiadi,2008), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam,
diantarannya adalah :
1. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun
melalui jalur garis ayah.
2. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi di mana hubungan itu disusun
melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tingga bersama
keluarga sedarah istri.
4. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tingga bersama
keluarga sedarah suami.
5. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembina keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
D. Fungsi keluarga
Dalam (Setiadi,2008) fungsi keluarga adalah beberapa fungsi yang dapat
dijalankan keluarga sebagai berikut :
a. Fungsi Biologis
1. Untuk meneruskan keturunan.
2. Memelihara dan membesarkan anak.
3. Memenuhi kebutuhan gizi keluarg
4. Memelihara dan merawat anggota keluarga
b. Fungsi Psikologis
1. Memberikan kasih sayang dan rasa aman.
2. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga.
3. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
4. Memberikan identitas keluarga.
c. Fungsi Sosialisasi
1. Membina sosial pada anak.
2. Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan
tingkat perkembangan anak.
3. Menaruh nilai-nilai budaya keluarga.
4. Fungsi Ekonomi.
5. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi
kebutuhankeluarga.
6. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan keluarga.
7. Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga
di masayang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak,
jaminan hari tua dan sebagainya.
d. Fungsi pendidikan
1. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan,
keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat
dan minat yang dimiliki.
2. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan
datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
3. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat
perkembangannya.
E. Peran Keluarga
Dalam (Setiadi, 2008), peranan keluarga menggambarkan seperangkat
perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu
dalam posisi dan situasi tertentu. Berbagai peranan yang terdapat di dalam
keluarga adalah sebagai berikut :
a. Peranan ayah : ayah sebagai suami dan istri dan anak-anak,
berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa
aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungan.
b. Peranan ibu : sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu
mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh
dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu
kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat
dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai
pencari nafkah tambahan dalam keluarga.
c. Peranan anak : anak- anak melaksanakan peranan psiko-sosial
sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan
spriritual.
F. Tahap Perkembangan Keluarga
Menurut Duval (1985) dalam (Setiadi,2008), membagi keluarga dalam 8
tahap perkembangan, yaitu:
a. Keluarga Baru (Berganning Family) Pasangan baru menikah yang
belum mempunyai anak. Tugas perkembangan keluarga tahap ini
antara lain adalah :
1. Membina hubungan intim yang memuaskan.
2. Menetapkan tujuan bersama.
3. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan
kelompok social.
4. Mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB.
5. Persiapan menjadi orang tua.
6. Memahami prenatal care (pengertisn kehamilan, persalinan
dan menjadi orang tua).
b. Keluarga dengan anak pertama < 30 bulan (Child Bearing). Masa
ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan menimbulkan
krisis keluarga. Studi klasik Le Master (1957) dari 46 orang tua
dinyatakan 17 % tidak bermasalah selebihnya bermasalah dalam hal :
1. Suami merasa diabaikan.
2. Peningkatan perselisihan dan argument.
3. Interupsi dalam jadwal kontinu.
4. Kehidupan seksual dan social terganggu dan menurun.
Tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :
1. Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi,
seksual dan kegiatan).
2. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan
pasangan.
3. Membagi peran dan tanggung jawab (bagaimana peran
orang tua terhadap bayi dengan memberi sentuhan dan
kehangatan).
4. Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan
perkembangan anak.
5. Konseling KB post partum 6 minggu.
6. Menata ruang untuk anak.
7. Biaya / dana Child Bearing.
8. Memfasilitasi role learning angggota keluarga.
9. Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.
c. Keluarga dengan Anak Pra Sekolah
Tugas perkembangannya adalah menyesuaikan pada kebutuhan pada
anak pra sekolah (sesuai dengan tumbuh kembang, proses belajar dan
kontak sosial) dan merencanakan kelahiran berikutnya. Tugas
perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
1. Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga.
2. Membantu anak bersosialisasi.
3. Beradaptasi dengan anak baru lahir, anakl yang lain juga
terpenuhi.
4. Mempertahankan hubungan di dalam maupun di luar
keluarga.
5. Pembagian waktu, individu, pasangan dan anak.
6. Merencanakan kegiatan dan waktu stimulasi tumbuh dan
kembang anak.
d. Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (6 – 13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
1. Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar
rumah, sekolah dan lingkungan lebih luas.
2. Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya
intelektual.
3. Menyediakan aktivitas untuk anak.
4. Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikut
sertakan anak. Memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk
biaya kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.
e. Keluarga dengan Anak Remaja (13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada say ini adalah :
1. Pengembangan terhadap remaja (memberikan kebebasan
yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat remaja adalah
seorang yang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi).
2. Memelihara komunikasi terbuka (cegah gep komunikasi).
3. Memelihara hubungan intim dalam keluarga.
4. Mempersiapkan perubahan system peran dan peraturan
anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang
anggota keluarga.
f. Keluarga dengan Anak Dewasa (anak 1 meninggalkan rumah).
Tugas perkembangan keluarga mempersiapkan anak untuk hidup
mandiri dan menerima kepergian anaknya, menata kembali fasilitas
dan sumber yang ada dalam keluarga, berperan sebagai suami istri,
kakek dan nenek. Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2. Mempertahankan keintiman.
3. Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di
masyarakat.
4. Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima
kepergian anaknya.
5. Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada
keluarga.
6. Berperan suami – istri kakek dan nenek.
7. Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh
bagi anak- anaknya.
g. Keluarga Usia Pertengahan (Midle Age Family).
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
1. Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam
mengolah minat social dan waktu santai.
2. Memuluhkan hubungan antara generasi muda tua.
3. Keakrapan dengan pasangan.
4. Memelihara hubungan/kontak dengan anak dan keluarga.
5. Persiapan masa tua/ pension.
h. Keluarga Lanjut Usia.
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
1. Penyesuaian tahap masa pension dengan cara merubah cara
hidup.
2. Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan
kematian.
3. Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.
4. Melakukan life review masa lalu.

2. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Pengertian Diabetes melitus
Menurut WHO, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit atau gangguan
metabolisme kronis dengan multi etiologiyang ditandai dengan tingginya
kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan
protein sebagai akibat dari insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi insulin
dapat disebabkan oleh gangguan produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans
kelenjar pankreas atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh
terhadap insulin (Depkes,2008)
Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan
gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang
disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner
dan Sudarta, 1999).
B. Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi dari WHO (1985) dibagi beberapa type yaitu :

1. Diabetes Mellitus type insulin, Insulin Dependen Diabetes Mellitus


(IDDM) yang dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset Diabetes (JOD),
penderita tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya
ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia
muda dapat disebabkan karena keturunan.
2. Diabetes Mellitus type II, Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus
(NIDDM), yang dahulu dikenal dengan nama Maturity Onset Diabetes (MOD)
terbagi dua yaitu :
a. Non obesitas
b. Obesitas Disebabkan karena kurangnya produksi insulin dari sel
beta pancreas, tetapi biasanya resistensi aksi insulin pada jaringan
perifer. Biasanya terjadi pada orang tua (umur lebih 40 tahun) atau anak
dengan obesitas.
3. Diabetes Mellitus type lain
a. Diabetes oleh beberapa sebab seperti kelainan pancreas, kelainan
hormonal, diabetes karena obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin,
kelainan genetik dan lain-lain.
b. Obat-obat yang dapat menyebabkan huperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida diuretic glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
c. Diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa
selama kehamilan, tidak dikelompokkan kedalam NIDDM pada
pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon pertumbuhan dan
hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat
untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.

C. Etiologi
Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :
1. Dibetes melitus tipe I
Diabetes melitus tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas yang
merupakan kombinasi dari beberapa faktor:
a. Faktor genetic
Penderita tidak mewarisi diabetas tipe I sendiri tetapi mewarisi suatu
predisposisi kearah terjadinya diabetas tipe I yaitu dengan
ditmukannya tipe antigen HLA (Human Leucolyte antoge) teertentu
pada individu tertentu
b. Faktor imunologi
Pada diabetae tipe I terdapat suatu respon autoimun sehingga antibody
terarah pada sel-sel pulau lengerhans yang dianggapnya jaringan
tersebut seolah-olah sebagai jeringan abnormal
c. Faktor lingkungan
Penyelidikan dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor ekternal
yang dapat memicu destruksi sel beta, contoh hasil penyelidikan
yang menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu
proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
2. Diabetas Melitus Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin pada diabetas melitus tipe II masih belum diketahui. Faktor
genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi
insulin dan juga terspat beberap faktor resiko teetentu yang berhubngan
dengan proses terjadinya diabetea tipe II yaitu:
 Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat usia diatas 65
tahun
 Obesitas
 Riwayat keluarga
 Kelopok etnik tertentu
3. Faktor non genetik
a. Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai
predisposisi genetic terhadap Diabetes Mellitus.
b. Nutrisi
 Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.
 Malnutrisi protein
 Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya
pankreatitis.
c. Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi
biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
d. Hormonal
Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi,
akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma
karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma
karena kadar katekolamin meningkat
D. Manifestasi Klinis
Gejala klasik diabetes menurut Soegondo S, dkk. 2007 :
1. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai
melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic
diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien
mengeluh banyak kencing.
2. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak
karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
3. Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi
(lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun
klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai
pada pembuluh darah.
4. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka
tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu
lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya
akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di
jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan
akan tetap kurus
5. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi)
yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan
sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak. (Arjatmo,
Tjokronegoro. 2002)

E. Patofisiologi
Pada DM Tipe 1 disebabkan oleh karena pada jenis ini timbul reaksi
otoimun yang disebabkan karena adanya peradangan pada sel beta insulitis. Ini
menyebabkan timbulnya anti bodi terhadap sel beta yang disebut ICA (Islet
Cell Antibody). Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) yang
ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel beta.
Pada DM Tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak tetapi
reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel kurang. Reseptor inulin ini
diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan tadi
jumlah lubang kuncinya yang kurang, hingga meskipun anak kuncinya (insulin)
banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang
masuk sel akan sedikit, sehingga sel akan kekurangan glukosa dan glukosa di
dalam darah akan meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada
DM Tipe 1. Perbedaanya adalah DM Tipe 2 disamping kadar glukosa
tinggi,juga kadar insulin tinggi atau normal. Keadaan ini disebut resistensi
insulin.Faktor-faktor yang banyak berperan sebagai penyebab resistensi
insulinyaitu Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel), Diet tinggi
lemak dan rendah karbohidrat, Kurang gerak badan, Faktor keturunan
(herediter). (Noer, Sjaifoellah H.M., dkk. 2003)

F. Penatalaksanaan
1. Perencanaan makan
Standar yang dianjurkan adalah makan dengan komposisi seimbangan dalam
hal Karbohidrat (KH), Protein, lemak yang sesuai kecukupan gizi :
a. KH 60 –70 %
b. Protein 10 –15 %
c. Lemak 20 25 %

Beberapa cara menentukan jumlah kelori uantuk pasien DM melalui


perhitungan mennurut Bocca:

1) Berat badan (BB) Ideal: (TB – 100) – 10% kg


 BB ideal x 30% untuk laki-laki
 BB ideal x25% untuk Wanita
Kebutuan kalori dapat ditambah lagi dengan kegiatan sehari-hari:
 Ringan : 100 – 200 Kkal/jam
 Sedang : 200 – 250 Kkal/jam
 Berat : 400 – 900 Kkal/jam
1) Kebutuhhan basal dihitung seperti 1), tetapi ditambah kalori berdasarkan
persentase kalori basal:
Ø Kerja ringan ditambah 10% dari kalori basal

Ø Kerja sedang ditambah 20% dari kalori basal

Ø Kerja berat ditambah 40 – 100 % dari kalori basal

Ø Pasien kurus, masih tumbuh kumbang, terdapat infeksi, sedang hamil atau
menyesui, ditambah 20 –30-% dari kalori basal

2) Suatu pegangan kasar dapat dibuat sebagai berikut:

Ø Pasien kurus : 2300 – 2500 Kkal

Ø Pasien nermal : 1700 – 2100 Kkal

Ø Pasien gemuk : 1300 – 1500 Kkal

2. Latihan jasmani
Dianjurkan latihian jasmani secara teratur (3 –4 x seminggu) selama kurang lrbih 30
menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. Latihian
yang dapat dijadikan pilihan adalah jalan kaki, jogging, lari, renang, bersepeda dan
mendayung. Sespat muingkain zona sasaran yaitu 75 – 85 % denyut nadi
maksimal : DNM = 220-umur (dalam tahun)
3. Pengelolaan farmakologi
a.Obat hipoglikemik oral (OHO)

1) Golongan sulfonilures bekerja dengan cara:

- Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan

- Menurunkan ambang sekresi insulin

- Meningkatkna sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa

2) Biguanid

Menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai bawah normal. Preparat
yang ada dan aman adalah metformin. Obat ini dianjurkan untuk pasien gemuk
3) Inhibitor alfa glukosidase

Secara kompettitf menghambat kerja enzim alfa glukosidase di dalam


saluran cerna sehingga menrunkan hiperglikemia pasca pransial

4) Insulin sensitizing agent

Thoazolidinediones adalah golongan obat baru yang mempunyai sfek


farmakologi meningkatkan sensitivitas insulin sehingga bisa mengatasi nasalah
resistensi insulin dan berbagai masalah akibat resistensi insulin tanpa
menyebabkan hipoglikemia.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN
DIABETES MELITUS

A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahapan seorang perawat mengambil informasi secara
terus menerus terhadap anggota keluarga yang dikelola sebagai tahap awal
dalam melakukan asuhan keperawatan. Dimana pengkajian asuhan
keperawatan keluarga berdasarkan gabungan dari pengkajian asuhan
keperawatan keluarga Friedman dengan adaptasi indikator perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) keluarga yang terdiri dari 6 kelompok data yaitu:
data identifikasi, tahap perkembangan dan riwayat keluarga, data lingkungan,
struktur keluarga, fungsi keluarga, koping dan stres keluarga (Friedman,
1992). Indikator PHBS rumah tangga terdiri dari 10 yaitu: pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif,
penimbangan bayi dan balita setiap bulan, penggunaan air bersih, mencuci
tangan dengan air bersih yang mengalir menggunakan sabun, penggunaan WC
atau jamban sehat, pemberantasan jentik di rumah seminggu sekali, makan
buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan tidak
merokok di dalam rumah
1. Identifikasi Data

1) Data Anggota Keluarga

Keluarga memiliki nama sesuai dengan kepala keluarga, keluarga


umumnya diawali dengan pernikahan suami-isteri yang menjalin hubungan
dan memiliki latar belakang keluarga masing-masing. Indonesia dengan
banyak pulau memiliki berbagai budaya dan etnis, ciri etnis (kesukuan)
melekat pada identitas individu yang berlatar belakang keluarga.Misalnya
ayah yang berasal dari suku Sunda dan ibu yang berasal dari suku Jawa
dengan anak yang lahir dan besar di Jember, maka menyatakan sebagai
keluarga campuran suku Sunda-Jawa dengan pembauran interaksi sosial
masyarakat Jember.

Pada data anggota keluarga biasanya terdiri dari nama Kepala


Keluarga, umur, alamat, agama, suku, pendidikan terakhir, pekerjaan, status
gizi, status imunisasi, TTV, riwayat kesehatan, status kesehatan saat ini,
masalah kesehatan, dan status sosial ekonomi. Pada keluarga dengan
hepatitis, lebih ditekankan pada riwayat kesehatan keluarga seperti faktor
penyebab keluarganya, penyakit dari keluarganya, adakah kepercayaan yang
dianut yang berhubungan dengan kesehatan, maupun kebiasaan dari
keluarga yang berhubungan dengan kesehatan.Selain itu dari riwayat
kesehatan keluarga juga dapat diperoleh data sarana pelayanan kesehatan
yang digunakan oleh keluarga dengan diabetes melitusseperti Puskesmas,
Rumah Sakit, maupun klinik.

Genogram adalah peta atau riwayat keluarga yang menggunakan


simbol-simbol khusus untuk menjelaskan hubungan, peristiwa penting, dan
dinamika keluarga dalam beberapa generasi. Berikut adalah simbol
genogram yang sering digunakan untuk melihat hubungan dalam keluarga
tersebut.

Keterangan :
: Laki - Laki
: Perempuan
: Anggota keluarga yang telah meninggal
: Anggota keluarga yang sakit
............... : Tinggal dalam satu rumah

2. Tahap Perkembangan dan Riwayat Keluarga

Riwayat dan tahap perkembangan keluarga meliputi:

a. Apa tahap perkembangan keluarga saat ini.


Dimana setiap tahap perkembangan keluarga memiliki tugas
perkembangan atau harapan peran tertentu. Tugas perkembangan keluarga
menumbuhkan rasa tanggung jawab yang harus dicapai oleh keluarga pada
setiap tahap perkembangan keluarga sehingga keluarga dapat memenuhi:
kebutuhan biologis keluarga, penekanan budaya keluarga, aspirasi dan nilai
keluarga itu sendiri (Klein & White, 1996). Tugas perkembangan keluarga
dengan diabetes melitusbiasanya keluarga berusaha untuk memenuhi
tuntutan dan kebutuhan anggota keluarganya yang menderita hepatitis.
Tugas perkembangan keluarga tersebut dilakukan untuk mencapai lima
fungsi dasar dalam keluarga meliputi: fungsi afektif (fungsi pertahanan
kepribadian), fungsi sosialisasi dan status sosial, fungsi perawatan kesehatan
(terutama keluarga dengan salah satu atau lebih anggota memiliki masalah
kesehatan), fungsi reproduksi, fungsi ekonomi. Misalnya tugas
perkembangan pada keluarga penderita diabetes melitusmeliputi perubahan
sikap dan kebutuhan anggota keluarga yang menderita hepatitis.
Tahapan perkembangan keluarga dibagi menjadi delapan tahap
meliputi:
1) Tahap Keluarga Baru Menikah
Tugas perkembangan pada tahap keluarga baru menikah adalah
membina hubungan intim yang memuaskan; membina hubungan
dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial; mendiskusikan
rencana memiliki anak.
2) Tahap Keluarga dengan Anak Baru Lahir (Anak Tertua Berusia
sampai 30 Bulan)
Tugas perkembangan pada tahap keluarga dengan anak baru
lahir adalah mempersiapkan menjadi orang tua; adaptasi dengan
perubahan adanya anggota keluarga, interaksi keluarga, hubungan
seksual dan kegiatan; mempertahankan hubungan dalam rangka
memuaskan pasangannya.
3) Tahap Keluarga dengan Anak Prasekolah (Anak Tertua Berusia
2,5-5 Tahun)
Tugas perkembangan pada tahap keluarga dengan anak
prasekolah adalah memenuhi kebutuhan anggota keluarga, misal
kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman; membantu anak
unutk bersosialisasi; beradaptasi dengan anak yang baru lahir,
sementara kebutuhan anak yang lain (anak tertua) juga harus
terpenuhi; mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam atau
luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar); pembagian waktu
untuk individu, pasangan dan anak (biasanya keluarga memiliki
tingkat kerepotan yang tinggi); pembagian tanggungg jawab anggota
keluarga; merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi
pertumbuhan dan perkembangan anak.
4) Tahap Keluarga dengan Anak Sekolah (Anak Tertua Berusia 6-12
Tahun)
Tugas perkembangan pada tahap keluarga dengan anak usia
sekolah adalah membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar
rumah, sekolah dan lingkungan lebih luas (yang tidak/kurang
diperoleh dari sekolah atau masyarakat); mempertahankan keintiman
pasangan; memenuhi kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya
kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.
5) Tahap Keluarga dengan Anak Remaja (Anak Tertua Berusia 13-20
Tahun)
Tugas perkembangan pada tahap keluarga dengan anak remaja
adalah memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung
jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda dan mulai
memiliki otonomi; mempertahankan hubungan intim dalam keluarga;
mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua
(menghindari adanya perdebatan, kecurigaan dan permusuhan antar
anggota keluarga).
6) Tahap Keluarga Mulai Melepas Anak Sebagai Dewasa (Anak-
anaknya Mulai Meninggalkan Rumah)
Tugas perkembangan pada tahap keluarga yang mulai melepas
anak sebagai deawasa adalah memperluas jaringan keluarga dari
keluarga inti menjadi keluarga besar; mempertahankan keintiman
pasangan; membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di
masyarakat; penataan kembali peran orang tua dan kegiatan di rumah.
7) Tahap Keluarga yang Hanya Terdiri dari Orang Tua Saja atau
Keluarga Usia Pertengahan (Semua Anak Meninggalkan Rumah)
Tugas perkembangan pada tahap keluarga pertengahan adalah
mempertahankan kesehatan individu dan pasangan usia pertengahan;
mempertahankan hubungan yang serasi dan memuaskan dengan anak-
anaknya dan sebaya; meningkatkan keakraban pasangan.
8) Tahap Keluarga Lansia
Tugas perkembangan pada tahap keluarga lansia adalah
mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling
menyenangkan pasangannya; adaptasi dengan perubahan yang akan
terjadi, missal kehilangan pasangan, kekuatan fisik dan penghasilan
keluarga; mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat;
melakukan life review masa lalu.
Jika keluarga tidak mampu memenuhi slash satu atau lebih dari
tugas perkembangan sesuai tahap perkembangan keluarga, maka
keluarga tersebut dapat dinyatakan belum memenuhi tugas
perkembangan keluarganya dengan baik.
b. Sejauh mana keluarga memenuhi berbagai tugas perkembangan yang
sesuai dengan tahap perkembangan saat ini.
Biasanya tahap perkembangan keluarga yang digunakan berdasarkan
tahap kehidupan keluarga menurut Duvall dimana ditentukan dengan anak
tertua dari keluarga inti dan mengkaji sejauh mana keluarga melaksanakan
tugas sesuai tahapan perkembangan.Sedangkan riwayat keluarga adalah
mengkaji riwayat kesehatan keluarga inti seperti keluarga dengan diabetes
melituskemungkinan riwayat keluarganya ada yang menderita diabetes
melitussehingga dapat menular kepada anggota keluarga lainnya.

c. Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini termasuk riwayat


perkembangan dan berbagai kejadian dan berbagai pengalaman kesehatan
yang unik atau yang berkaitan dengan kesehatan seperti perceraian,
kematian, kehilangan yang terjadi dalam kehidupan keluarga.
Biasanya keluarga dengan diabetes melitusmengatakan suhu
tubuhnya tinggi dan nyeri perut kanan atas.Sedangkan gejala awal biasanya
sakit kepala, lemah, anoreksia, mual muntah, demam, dan nyeri perut kanan
atas.
d. Keluarga asal kedua orang tua seperti apa kehidupan keluarga asalnya,
hubungan masa lalu dan saat dengan orang tua dari kedua orang tua.
Biasanya keluarga dengan diabetes melitusberkaitan erat dengan
penyakit keturunan, riwayat penyakit menular misalnya melalui makanan,
minuman, maupun cairan dari anggota keluarga yang menderita hepatitis.

3. Data Lingkungan Keluarga

Terdiri atas karakteristik rumah, karakteristik tetangga dan komunitas,


mobilitas geografis keluarga, perkumpulan keluarga dan interaksi dengan
masyarakat, sistem pendukung keluarga.Dimana karakteristik rumah dapat
meliputi tipe tempat tinggal (rumah, apartemen, sewa kamar), apakah keluarga
memiliki rumah sendiri atau menyewa rumah tersebut.Selain itu kondisi rumah
(interior dan ekterior rumah). Interior rumah terdiri atas jumlah kamar dan tipe
kamar (kamar tamu, kamar tidur), penggunaan kamar-kamar dan bagaimana
kamar-kamar tersebut diatur, bagaimana kondisi dan kecukupan perabot,
apakah penerangan, ventilasi, pemanas memadai (buatan atau panas matahari),
apakah lantai, tangga, susuran, dan bangunan yang lain dalam kondisi yang
adekuat, bagaimana suplai air minum, sanitasi, dan adekuasi pendinginan,
bagaimana kamar mandi, fasilitas yang ada di kamar mandi, dan kaji
pengaturan tidur di dalam rumah: apakah pengaturan tersebut memadai bagi
para anggota keluarga, dengan pertimbangan usia keluarga, hubungan, dan
berbagai kebutuhan khusus keluarga yang lain. Serta amati keadaan umum
kebersihan dan sanitasi rumah.

Karakteristik lingkungan dan komunikasi tempat tinggal yang lebih luas


meliputi karakteristik-karakteristik fisik dari lingkungan yang paling dekat dan
komunitas yang lebih luas. Tipe lingkungan atau komunitas (desa, kota,
subkota, antar kota). Tipe tempat tinggal (hunian, industrial, campuran hunian
dan industri kecil, agraris) di lingkungan.Keadaan tempat tinggal dan jalan raya
(terpelihara, rusak, tidak terpelihara, sementara diperbaiki).Sanitasi jalan raya,
rumah (kebersihan, pengumpulan sampah).Masalah yang berkaitan dengan
kemacetan lalu lintas.Adanya industri dan berbagai industri di lingkungan
(udara, kebisingan, berbagai masalah polusi air).

Karakteristik demografi dari lingkungan dan komunitas.Kelas sosial


dan karakteristik etnis penghuni.Berbagai perubahan secara demografis yang
berlangsung dalam lingkungan atau komunitas.

Pelayanan kesehatan dan berbagai pelayanan dasar yang ada dalam


lingkungan dan komunitas.Berbagai fasilitas pemasaran (makanan, sandang,
apotik).Berbagai lembaga kesehatan (klinik, rumah sakit, dan fasilitas gawat
darurat).Berbagai lembaga pelayanan sosial (kesejahteraan, konseling,
pekerjaan).Berbagai pelayanan tempat cuci untuk kebutuhan keluarga.

Akses sekolah di lingkungan atau komunitas dapat diakses dan


bagaimana kondisinya.Apakah terdapat berbagai permasalahan integrase yang
memengaruhi keluarga.Bagaimana fasilitas rekreasi, bagaimana berbagai
pelayanan dan berbagai fasilitas transportasi tersebut dapat diakses (dalam arti,
jarak, kecocokan, dan jam) kepada keluarga, dan bagaimana inside kejahatan di
lingkungan tersebut.

4. Struktur Keluarga

Struktur keluarga menurut Friedman (1998) terdiri dari norma dan nilai
keluarga, peran, kekuasaan, dan proses atau pola komunikasi. Dimana pada
pola komunikasi keluarga dengan diabetes melitusmenjelaskan mengenai cara
berkomunikasi antar anggota keluarga dimana anggota keluarga yang
menderita diabetes melitusakan mengutarakan berbagai kebutuhan dan
perasaannya kepada anggota keluarga yang lainnya dengan jelas sehingga
anggota keluarga lainnya memperoleh dan memberikan respons dengan baik
terhadap pesan dari anggota keluarga yang menderita hepatitis. Sedangkan
untuk struktur kekuasaan berarti kemampuan anggota keluarga dalam
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah perilakunya.
Misalnya pada dalam suatu keluarga, ada seorang anak yang menderita
hepatitis, maka orang tuanya harus mampu merawat anaknya dan memutuskan
perawatan kesehatan apa yang akan digunakan serta mencegah agar diabetes
melitustersebut tidak menular pada anggota keluarga lainnya. Struktur peran
misalnya keluarga dengan anak kedua yang menderita hepatitis, maka peran
yang dijalankan adalah bapak sebagai kepala keluarga yang bekerja sebagai
pencari nafkah, ibu sebagai pengasuh atau pemelihara anak dengan
menyediakan kebutuhan makan, kebersihan, perawatan diri, dan sebagai teman
bicara suami maupun anaknya. Anak pertama berperan sebagai pengayom bagi
adik dengan memberikan bimbingan saat belajar, membantu adik dalam
mengerjakan sesatu hal dan memberi motivasi serta dukungan pada adiknya
yang terkena hepatitis. Selanjutnya struktur nilai yang berarti menjelaskan
mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang berhubungan dengan
kesehatan misalnya keluarga dengan hepatitis, maka dalam keluarga tersebut
harus diterapkan nilai untuk beribadah serta selalu mensyukuri karunia yang
diberikan oleh Tuhan.

5. Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga menurut Fiedman (2010) meliputi: fungsi afektif,


fungsi sosialisasi, fungsi perawatan kesehatan, dan fungsi reproduksi. Fungsi
afektif menggambarkan pertalian hubungan afektif.Hal yang perlu dikaji yaitu
gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam
keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lain, bagaimana
kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga
mengembangkan sikap saling menghargai. Fungsi sosialisasi meliputi
bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauhmana anggota
keluarga belajar disiplin, mematuhi norma, budaya, dan menerapkan perilaku
yang baik. Selanjutnya fungsi perawatan kesehatan menjelaskan sejauhmana
keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan serta merawat anggota
keluarga yang sakit, sejauhmana pengetahuan keluarga mengenai sehat dan
sakit. Sedangkan fungsi reproduksi terletak pada perencanaan jumlah keluarga
termasuk program keluarga berencana dan metode apa yang digunakan
keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga. Biasanya
fungsi keluarga yang perlu ditekankan pada keluarga dengan diabetes
melitusyaitu fungsi keluarga perawatan kesehatan dan afektif, dimana keluarga
dengan anggota keluarga diabetes melitusharus memberikan perhatian lebih
untuk memotivasi keluarganya yang sakit sehingga mempermudah dalam
proses perawatan kesehatannya. Misalnya keluarga dapat mencegah penyakit
diabetes melitusdengan cara menghindari faktor-faktor resiko dan cara
penularan seperti melalui makanan, minuman, cairan, dan darah. Selain itu cara
mencegah diabetes melitusyang paling efektif adalah melakukan imunisasi atau
vaksinasi terhadap diabetes melitusA dan B. Keluarga juga harus mampu
mengenal jenis obat-obatan yang digunakan pada penderita diabetes
melitusmisalnya penderita diabetes melitusB diobati dengan obat antivirus,
seperti lamivudine dan adefovir dipivoxil. Diabetes melitusC diobati dengan
kombinasi peginterferon dan ribovarin. Transplantasi hati mungkin diperlukan
pada kegagalan hati yang disebabkan oleh diabetes melitusB atau C. Oleh
karena itu keluarga dengan diabetes melitusharus tau bagaimana cara merawat
dan memberikan pengasuhan pada anggota keluarga lainnya yang menderita
hepatitis.

6. Stres dan Koping Keluarga

Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang


memerlukan penyelesaian dalam kurun waktu sekitar 6 bulan.Stressor jangka
panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian
dalam waktu lebih dari 6 bulan.Kemampuan keluarga berespons terhadap
situasi atau stressor yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga berespons
terhadap situasi atau stressor.Misalnya pada keluarga dengan diabetes
melitusmenjelaskan bahwa yang menjadi stressor jangka pendek adalah kondisi
nyeri perut pada bagian kanan atas yang tidak pernah teratasi.
Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah misalnya keluarga
dengan diabetes melitusdimana ibu yang menderita diabetes
melitusmenjelaskan bahwa suaminya membantu menenangkan dirinya saat dia
merasakan terlalu cemas memikirkan penyakitnya.

Strategi koping adalah hal yang dilakukan keluarga bila menghadapi


permasalahan dalam keluarga. Biasanya strategi koping yang digunakan oleh
keluarga dengan diabetes melitusadalah dengan menceritakan setiap masalah
dan pikirannya kepada anggota keluarga yang lain sehingga mendapat
perhatian dari anggota keluarga lainnya.Sedangkan strategi adaptasi
disfungsional menjelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang
digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan. Secara konstan keluarga
selalu mengalami perubahan termasuk persepsi dan kehidupan, stress dan
koping diidentifikasi berdasarkan stimulus dalam keluarga atau dari luar,
kebutuhan berkembang secara normal dan berkelanjutan serta terus-menerus
dari seluruh anggota keluarga, situasi tidak terduga yang melibatkan keluarga
menghasilkan tuntutan berubah yang berakibat perubahan keluarga sebagai
bentuk adaptasi keluarga. Strategi dan proses koping adalah sesuatu untuk
melaksanakan dan menyatakan fungsi keluarga. Pola dan sumber koping
digunakan untuk melakukan adaptasi dan mencapai tingkat kesejahteraan atau
kesehatan keluarga yang lebih tinggi. Ancaman paling sering terjadi pada
keluarga dengan diabetes melitusmeliputi kemiskinan, keluarga dengan
kematian anggota keluarga lain, keluarga dengan pendidikan rendah, dan
keluarga dengan kurang pengetahuan tentang kesehatan. Strategi adaptasi
disfungsional biasanya jarang digunakan pada keluarga dengan diabetes
melitusseperti penggunaan kekuatan dan menyerang (memukul, membentak,
melempar benda, dll) anggota keluarga yang lainnya dalam menyelesaikan
suatu masalah. Keluarga dengan diabetes melituscenderung berbicara dan
berkomunikasi dengan baik-baik.

Selain format pengkajian keluarga menurut Friedman, Indonesia memiliki


format pengkajian keluarga yang diadopsi dari IPKKI Jawa Timur bekerjasama
dengan PPNI Jawa Timur tahun 2015.
B. Analisa data
NO DATA DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. DS : keluarga mengatakan ada luka pada
kaki klien Gangguan Integritas kulit
DO : tampak luka di kaki kanan klien
2. DS :keluarga mengatakan tidak tahu Ketidakmampuan anggota
tentang penyakit DM keluarga mengenal masalah
DO : keluarga lulusan SD
Diabetes Melitus berhubungan

C. Perumusan Diagnosis
Prioritas masalah
1. Gangguan Integritas kulit
Kriteria Perhitungan Bobot Pembenaran
(skor/angka
tertinggi *
bobot)

Sifat Masalah :kurang 3/3*1=1 1 Keadaan kurang sehat yang


harus segera diatasi agar tidak
sehat = 3
memperparah kondisi pasien.

Kemungkinan masalah 2/2*2=2 2 Dengan mudah sumber dan


dapat diubah : Mudah tindakan untuk memecahkan
=2 masalah dapat dijangkau oleh
keluarga, kesadaran dan
motivasi dari keluarga sudah
cukup kuat.

Potensial masalah 1/3*1=1/3 1 Rendah, kesulitan masalah sulit


dapat dicegah : rendah untuk diatasi oleh keluarga dan
=1 pasien

Menonjolnya masalah : 2/2*1=1 1 Masalah berat harus ditangani


keluarganya menyadari dan
Masalah berat harus
perlu segera mengatasi masalah
ditangani = 2
tersebut.

Total 4,3

2. Ketidakmampuan anggota keluarga mengenal masalah Diabetes


Melitus berhubungan
Kriteria Perhitungan Bobot Pembenaran
(skor/angka
tertinggi *
bobot)

Sifat Masalah : 2/3*1=2/3 1 Ancaman kesehatan yang


memerlukan tindakan yang cepat
ancaman kesehatan = 2
dan tepat untuk menghindari
bahaya lebih lanjut.

Kemungkinan masalah 2/2*2=2 2 Dengan mudah sumber dan


dapat diubah : Mudah tindakan untuk memecahkan
=2 masalah dapat dijangkau oleh
keluarga, kesadaran dan
motivasi dari keluarga sudah
cukup kuat.

Potensial masalah 2/3*1=2/3 1 Cukup, masalah sudah


dapat dicegah : cukup berlangsung cukup lama,
=2 anggota keluarga mendukung
dan peduli terhadap anggota
keluarga yang sakit.

Menonjolnya masalah : 2/2*1=1 1 Masalah berat harus ditangani


keluarganya menyadari dan
Masalah berat harus
perlu segera mengatasi masalah
ditangani = 2
tersebut.

Total 4,3
Dari scoring diatas, diagnosa yang dapat diambil yaitu :

Skor
Prioritas Dx Kep

1 Gangguan Integritas kulit 4,3

Ketidakmampuan anggota keluarga mengenal masalah Diabetes Melitus


2 4,3
e. Intervensi Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan keluarga disusun berdasarkan prioritas masalah keperawatan keluarga dan menetapkan
tujuan umum dan tujuan khusus, serta kriteria dan standar keperawatan kleuarga, mengidentifikasi sumber daya keluarga dan
melakukan intervensi keperawatan kelurga.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

11 Gangguan Integritas kulit Setelah 2 x pertemuan  Edema pada sisi 1) Jelaskan pada keluarga mengenai
keluarga memahami luka menurun cara perawatan luka yang benar
 Peradangan luka
tentang perawatan anggota pada Diabetes Melitus
menurun 2) Lakukan perawatan luka
keluarga dengan Diabetes
 Peningkatan suhu 3) Mengajarkan Senam Kaki
Melitus
kulit
 Nekrosis menurun
Ketidak mampuan anggota Setelah 1 x pertemuan  Pengetahuan 1) Jelaskan pada anggota keluarga
keluarga mengenal masalah keluarga memahami keluarga meningkat tentang penyakit diabetes mellitus
 Keluarga mengetahui
Diabetes Melitus tentang cara pencegahan meliputi Pengertian, Tanda dan
tentang diet DM
dan perawatan Diabetes Gejala, Penyebab,
Melitus Penatalaksanaan DM
2) Jelaskan pada keluarga tentang
diet yang tepat pada Diabetes
Melitus
DAFTAR PUSTAKA

Achjar, K.A.2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta :


Sagung Seto
Carpenitti, L. J. 2000. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.Jakarta :EGC
Friedman,M.M.1998.Family Nursing Research Theory and Practice,4th
Edition.Connecticut : Aplenton
Tim Pokja SIKI DPP PPNI Standart Diagnosa Keperawatan Indonesia. Cetakan ke II
2018

Tim Pokja SIKI DPP PPNI Standart Luaran Keperawatan Indonesia. Cetakan ke II
2018

Tim Pokja SIKI DPP PPNI Standart Intervensi Keperawatan Indonesia. Cetakan ke
II 2018