Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

PERCOBAAN 2
RADIX

Disusun Oleh :
1. Sofie Ayunia Rachmawati (10060318030)
2. Anggrilina Fitria (10060318031)
3. Nisa Rahma A. (10060318033)
4. Muhammad Fillah (10060318034)

Shift / Kelompok :D/5


Tanggal Praktikum : 20 November 2019
Tanggal Pengumpulan : 27 November 2019
Asisten : Aldi Egiawan, S. Farm.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BANDUNG
2019 M / 1441 H
PERCOBAAN 1
RADIKS

I. TUJUAN PENGAMATAN
Mengidentifikasi mikroskopik serbuk yang terdapat pada simplisia
catharanti radix, elephantopi radix, rhei officinalis radix.

II. TEORI DASAR


2.1 Definisi radiks
Akar (radiks) adalah bagian pokok yang nomer tiga (di samping batang dan
daun) bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus. Akar mempunyai
sifat- sifat diantaranya merupakan bagian tumbuhan yang biasanyya terdapat di
dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air
(hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya. Tidak berbuku-buku, tidak beruas dan
tidak mendukung daun-daun atau sisik –sisik maupun bagian-bagian lainnya.
Warnanya tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan. Tumbuh
terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah jika
dibandingkan dengan batang. Dan bentuknya seringkali meruncing, hingga lebih
mudah untuk menembus tanah (Tjitosoepomo, 1985).
Secara umum, tanaman tingkat tinggi mempunyai empat bagian penting
akar, yaitu akar utama atau akar primer, akar lateral atau akar sekunder atau akar
cabang, rambut atau bulu akar, dan tudung akar (Hidayat, 1995).
2.2 Morfologi radiks
Secara umum, tanaman tingkat tinggi mempunyai empat bagian penting
akar, yaitu : (Hidayat, 1995).
a) akar utama atau akar primer,
b) akar lateral atau akar sekunder atau akar cabang,
c) rambut atau bulu akar, yaitu bagian akar yang merupakan penonjolan sel-
sel kulit luar akar yang panjang.
d) tudung akar, yaitu bagian akar yang letaknya paling ujung. Terdiri atas
jaringan yang berguna untuk melindungi ujung akar yang masih muda dan
masiih lemah.
Akar mempunyai variasi yang besar dalam bentuk dan strukturnya. Variasi
ini secara langsung berhubungan dengan fungsi atau karakteristik spesies tanaman,
misalnya: berfungsi sebagai penyimpan, fleshy (berdaging), akuatik, dan areal. Pada
spesies tanaman tertentu bisa jadi mempunyai dua macam akar yang berbeda
fungsinya, misalnya: pada tanaman ubi kayu dan ubi jalar. Selain kedua tanaman
tersebut mempunyai akar yang berfungsi sebagai penyerap unsur hara dan air, ada
beberapa akar yang berfungsi sebagai penimbun karbohidrat (Agustina. 2004).
2.3 Anatomi radiks
Secara umum struktur anatomi akar tersusun atas jaringan epidermis, sistem
jaringan dasar berupa korteks, endodermis, dan empulur; serta sistem berkas
pembuluh. Pada akar sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang
tersusun berselang-seling. Struktur anatomi akar tumbuhan monokotil dan dikotil
berbeda (Iserep, 1999).
Anatomi akar tanaman ini terdiri atas sel gabus, kortek, perisikel, floem,
floem intraselular, sel inti, dan kanal laticiferous. Struktur anatomi akarnya
mengikuti garis dan membentuk dengan floem intrasirkular. Sel gabusnya selalu
tumbuh hanya sampai permukaan saja tidak mendalam tapi melebar dan diding
selnya tipis. Sel gabus diisi dengan kristal. Kortexnya sangat kuat atau masuk grup
sel batu. Perisikel umumnya seperti papan, berwarna putih, seperti getah dan tidak
berserat. Floemnya termasuk sel batu (Fahn, 1991).
Menurut Loveless (1991). Susunan Jaringan Akar Primer :
a. Tudung akar
Tudung akar terdapat diujung akar dan melindungi promeristem akar serta
membantu penembusan tanah oleh akar, yang terdiri dari sel hidup yang saling
mengandung pati, terkadang selnya tersusun dalam deretan radial yang bera. sal
dari pemula tudung akar, pada kebanyakan tumbuhan sel sentral ditudung akar
membentuk struktur yang lebih jelas dan disebut kolumela.
b. Epidermis
Lapisan terluar akar tersusun dari sel-sel yang rapat satu sama lain tanpa
antar sel, berdinding tipis. Namun kadang-kadang dinding sel paling luar
berkutikula. Pada akar yang terendah pada udara dan bagian akar dalam tanah yang
mempertahankan epidermisnya, dinding luar menebal, dapat berisi lignin dan zat
lain. Tebal epidermis biasanya satu lapisan sel, tetapi terdapat perkecualian
misalnya akar udara tumbuhan anggota Orchidaceae dan Araceae yang bersifat
epifit, epidermisnya berlapis banyak dan terspesialisasi membentuk jaringan khusus
disebut velamen.
c. Kortek Akar
Pada umumnya korteks akar terdiri dari sel-sel parenkim. Sel-sel korteks
akar sering mengandung tepung, kadang-kadang kristal kalsium oksalat. Pada
sejumlah besar monokotil sering membentuk serabut sklerenkim dan berbagai sel
yang berdinding tebal sebagai penguat. Lapisan terluar korteks yang langsung
berbatasan dengan epidermis, dapat mengadakan differensiasi menjadi hipodermis
yang dinding-dindingnya mengandung mengandung suberin atau lignin yang
disebut eksodermis. Eksodermis dapat terdiri dari selapis sel atau lebih, terdiri dari
sel panjang dan sel pendek bergantian atau hanya semacam saja. Sedangakan
lapisan paling dalam korteks akar berkembang dan berdifferensiasi menjadi
endodermis. Endodermis merupakan selapis sel dan struktur anatominya berbeda
dengan jaringan di sebelah luar maupun di sebelah dalamnya. Sel endodermis selain
mengalami penebalan dinding yang tersusun dari selulose dan lignin. Pada awal
perkembangannya, sel-sel endodermis membentuk pita Caspary, yaitu penebalan
dari suberin dan lignin pada sisi radial dan tranversal. Ada tiga tipe endodermis,
yaitu :1. tipe pertama, selnya berdinding tipis yang ada pada dinding radial dan
tranversialnya mengalami penebalan pita dari zat gabus. 2. tipe kedua, disampng
dinding primer, dinding juga dilapisi dengan gabus dan selulose. 3. tipe ketiga,
penebalan dindingnya yang berlignin. Pada tipe ketiga, penebalan dinding dapat
terjadi pada dinding radial, tranversal, dan tangensial bagian dalam atau luar.
Rambut akar berkembang dari sel epidermis yang khusus, dan sel tersebut
mempunyai ukuran yang berbeda dengan sel peidermis, dinamakan trikoblas.
Rambut akar merupakan sel epidermis yang memanjang ke luar, tegak lurus
permukaan akar, dan membentuk tabung. Selnya biasa terdapat dekat di belakang
apeks akar sepanjang satu sampai beberapa sentimeter.
d. Eksodermis
Pada kebanyakan tumbuhan dinding sel pada lapisan sel terluar membentuk
gabus sehingga terbentuk jaringan pelindung baru yakni eksodermis yang akan
menggantikan epidermis, struktur dan sifat sitokimiawi sel eksodermis mirip sel
endodermis, dinding primer dilapisi oleh suberin yang juga dilapisi oleh selulosa,
ditemukan juga lignin, contoh tanaman yang memiliki eksodermis adalah smilax.
e. Endodermis
Untuk penyerapan pada daerah akar dinding sel mengandung selapis suberin
didinding antiklinal yakni pada dinding radial dan melintang, kerampingan lapisan
ini menyebabkan disebut pita kaspari, yang merupakan kesatuan antara lamella
tengah dan dinding primer tempat suberin dan lignin tersimpan. Bila sel
terplasmolisis maka protoplas melepaskan diri dari dinding namun tetap melekat
pada pita kaspari.
f. Silinder Pembuluh
Silinder pembuluah terdiri dari jaringan pembuluh dengan satu atau
beberapa lapisan sel disebelah luarnya yaitu perisikel. Sel trakeal terluar paling
pendek garis tengahnya namun paling dulu menjadi dewasa, sel-sel itu merupakan
protoxilem dan memiliki dinding skunder berpenebalan spiral atau cincin
(Loveless, 1991).
Pertumbuhan Sekunder pada Akar. Dalam akar yang mempunyai penebalan
sekunder, kambiumnya berasal dari benang-benang meristem dalam jaringan
prokambium atau jaringan parenkimatis yang terletak di antara kelompok-
kelompok floem priem dan pusat stele. Disini dibentuk deretan tangensial pendek
initial kambium yang akan membentuk sel-sel xilem sekunder dan floem sekunder.
Dari batas-batas strip kambium yang terbentuk pertama ini, satu lapisan initial
diperluas ke arah lateral dengan diferensiasi initial baru dalam parenkima di antara
benang-benang xilem dan floem primer sampai segmen kambium bertemu dalam
perisikel di antara xilem dan endodermis. Sehingga terbentuk silinder kambium
yang utuh (Sutrian, 2004).
g. Fungsi radiks
Adapun fungsi dari akar adalah untuk melekat dalam tanah, untuk menyerap
air dan garam-garam yang terlarut sebagai nutrisi dan pada beberapa tumbuhan
berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan zat makanan cadangan misalnya pada
umbi-umbian (Tjitrosoepomo, 2005).
Istilah akar tambahan digunakan bagi akar yang tumbuh pada bagian
tumbuhan diatas tanah, pada batang dibawah tanah dan pada akar yang sudah cukup
tua, terutama yang sudah mengalami pertumbuhan sekunder. Selain itu, akar
tambahan dapat dibentuk pada tumbuhan utuh yang tumbuh pada kondisi normal,
atau tumbuh sehubungan infeksi oleh hama dan penyakit tumbuhan atau luka. Akar
tambahan tumbuh pula pada potongan tanaman (Begonia sedum) atau pada kalus
dalam kultur jaringan (Loveles, 1998).
h. Kandungan kimia yang ada di dalam radiks
Tapak dara mengandung berbagai zat kimia aktif. Tanaman ini mengandung
lebih dari 200 macam alkaloid. Disamping itu mengandung flavonoid,
fenilpropanoid, saponin, tanin, antosianin, korismat, fillolquinon, antraquinon,
menaquinon, naftoquinon dan katalpalakton. Beberapa diantaranya adalah
katarantin, leurosin sulfat, loknerin, tetrahidroalstonin, vindolin dan vindolinin
(Canto-Canché, BB., et.al. 2005 dan Firdaus, RT., dkk. 2004).
Selain itu, terdapat pula alkaloid reserpin dan serpentin sebagai penenang.
Senyawa dengan struktur indol atau dihidroindol yang merupakan turunan senyawa
asam amino triptofan. Konstituen utama adalah vindolin yang mencapai 0,5 %;
senyawa mayor sebagai serpentin, katarantine, ajmalisin (raubasin), akuammin,
loknerin, dan tetrahidroalastonin. Ajmalisin dan serpentin terdapat pada akar
bahkan katarantin dan vindolin terakumulasi pada bagian aerial. Bagian aerial
mengandung 0,2-1% alkaloid. Banyak senyawa ditemukan dari Catharanthus
roseus (Canto-Canché, BB., et.al. 2005 dan Firdaus, RT., dkk. 2004).
Dua jenis alkaloid yang ditemukan pada daunnya, yaitu vinblastine dan
vincristine, merupakan anti kanker aktif yang dapat digunakan pada kemoterapi.
Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel jaringan
tubuh secara tidak normal atau tidak terbatas. Sel-sel kanker akan terus
berkembang dan membelah diri tanpa batas sehingga terjadi penumpukan sel baru
yang disebut tumor ganas (Canto-Canché, BB., et.al. 2005 dan Firdaus, RT., dkk.
2004).
Alkoloida catharantine mengandung zat yang sama dengan plasma sel
kanker, jika dikonsumsi, sel kanker dalam tubuh akan menyerapnya. Hasilnya, inti
sel kanker akan terdesak dan menghilang. Penelitian yang dilakukan tim Ely Lilly
dari Universitas Western, Ontaria, menyatakan tanaman tapak dara bisa digunakan
sebagai pencegah dan pembasmi sel kanker (Canto-Canché, BB., et.al. 2005 dan
Firdaus, RT., dkk. 2004).
Senyawa yang telah di sebutkan di atas, yakni vinkristin adalah salah satu
jenis vinkaalkaloid yang sering digunakan dalam pengendalian pertumbuhan sel
kanker. Senyawa ini mempunyai fungsi yang sama dengan kolkhisin, yaitu
mengganggu dinamika mikrotubul yaitu polimerisasi dan depolimerisasi, dengan
cara mengikat tubulin (Canto-Canché, BB., et.al. 2005 dan Firdaus, RT., dkk.
2004).
β. Gangguan tersebut menyebabkan penghambatan pemisahan kromosom
pada mitosis, akibatnya menghambat pembelahan sel selanjutnya. Pada penelitian
terdahulu melaporkan bahwa vinkristin 0,005% memperlambat pembelahan sel
spermatosit primer dan memperlambat pergerakan kromosom. Vinkristin 0,005%
cenderung menyebabkan kegagalan sitokinesis dan berpotensi menyebabkan
kecacatan sel (Canto-Canché, BB., et.al. 2005 dan Firdaus, RT., dkk. 2004).
Vincristine, disamping dipakai dalam pengobatan leukemia, juga kanker
payudara, dan tumor ganas lainnya. Selain kandungan Vindesine yang dipakai
dalam pengobatan leukemia pada anak-anak, namun juga pada penderita tumor
pigmen, dan Vinorelbine yang seringkali digunakan sebagai bahan pengobatan
untuk mencegah pembelahan kelenjar. Selain vinblastine (VLB) dan vincristine
(VCR), alkaloid anti kanker lainnya adalah leurosine (VLR), vincadioline,
leurosidine, catharanthine, dan lochnerine. Sementara alkaloid berefek
hipoglikemik (menurunkan kadar gula darah) adalah leurosine, catharanthine,
lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, dan vindolinine (Canto-Canché, BB.,
et.al. 2005 dan Firdaus, RT., dkk. 2004).
Tanaman tapak liman (Elephantopus scaber L.) mengandung flavoid
luteolin-7-glukosida. Disamping itu, tanaman tapak liman jga mengandung
elephantopi, deoxyelephantopin, isodeoxyelepanthopin, 11, 13 dihydrodeoxy-
elephanthopin, elephantin, epifridelinol, stigmasterol, tricontan-1-ol, dotricontan-
1-ol, lupeol, lupeol acetat. Stigmaterol turunan yang dapat memacu gairah seksual
(Dalimartha, 2005).
Kelembak mempunyai kandungan antranoid, khusunya glikosida
antrakinon seperti rhein (semosida A dan B), aloe-emodin, physcion. Juga
mengandung asam oksalat, tanin yaitu gallotanin, katekin dan prosianidin.
Sedangkan kandungannya yang lain adalah pektin, asam fenolat (Newall et al,
1996).

III. PROSEDUR PERCOBAAN


Pada uji mikroskopik radiks ini, akan diamati tiga preparat radiks yang
berbeda yaitu, catharanthy radix; elephantopy radhix; dan rhei officinale radix.
Radiks yang pertama diuji adalah catharanthy radix, pada pengamatan uji
mikroskopik ini dilakukan dengan mengguanakan tiga reagen yang berbeda yaitu,
I2KI, koral hidrat, dan florogsinal + HCl, pengamatan yang pertama dilakukan
dengan menggunakan reagen I2KI. Hal yang pertama dilakukan untuk melakukan
pengamtan adalah disiapkan dahulu kaca objek yang akan digunkana, kemudian
dibersihkan dan dikeringkan dengan menggunakan tisu. Setelah itu, diteteskan
reagen I2KI sebanyak 2 tetes, lalu diambil sedikit preparat amylum dengan
menggunakan jarum (?), lalu dicampurkan ke reagen yang berada diatas kaca objek,
dicampurkan amylum dan juga reagen dengan menggunakan jarum sampai merata,
lalu ditutup preparat dengan kaca penutup, kemudian diletakkan dimeja mikroskop
dan dijepit dengan penjepit mkroskop setelah itu diamati apakah dipreparat tersebut
ditemukan fragmen-fragmen yang penyusunnya.
Setelahnya, dilakukan lagi pengamatan uji mikroskopik dengan
menggunakan reagen lainnya (koral hidrat dan florogsinal + HCl).
Jika pengamtan dengan ketiga reagen yang berbeda telah selesai dilakukan,
lakukan kembali prosedur sebelumnya dengan menggunakan preparat radiks yang
lainnya (elephantopy radix dan rhei officinale radix).
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat Bahan

Mikroskop Catharanti radix

Pipet tetes Elephantopi radix

Gelas kimia Floroglusinol + HCl

Kaca objek Kloral Hidrat

Kaca penutup I2KI

Jarum preparat Rhei officinalis radix

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Hasil Pengamatan
a. Catharanti radix

Gambar 5.1 Catharanti radix Gambar 5.2 Terdapat Parenkim


dengan reagen I2KI Xilem
Gambar 5.3 Terdapat jaringan Gambar 5.4 Terdapat Jaringan
gabus dan Parenkim Floem Gabus Tangensial

Gambar 5.5 Catharanti Radix Gambar 5.6 Catharanti Radix


Menggunakan Reagen Menggunakan Reagen Kloral
Floroglusinol + HCl Hidrat

b. Elephantopi Radix
Gambar 5.7 Elephantopi Radix Gambar 5.8 elephantopi radix
Menggunakan Reagen I2KI dengan menggunakan reagen kloral hidrat
pembesaran 4x dengan pembesaran 4x

Gambar 5.9 elephantopi radix Gambar 5.10 elephantopi radix


menggunakan floroglusinol menggunakan floroglusinol
menunjukan adanya pembuluh menunjukan dengan pembesaran
kayu dengan pembesaran 10x 4x

Gambar 5.11 Elephantopi Radix Gambar 5.12 Elephantopi Radix


Menggunakan Floroglusinol Menggunakan Floroglusinol
menunjukan adanya parenkim dengan pembesaran 10x
dengan pembesaran 20x
Gambar 5.13 Elephantopi Radix Gambar 5.14 Elephantopi Radix
Menggunakan Floroglusinol Menggunakan Floroglusinol
menunjukan menunjukan
adanya seabut dengan pembesaran adanya lignin dengan pembesaran
10x 10x

Gambar 5.13 Elephantopi Radix


menggunakan floroglusinol dengan
pembesaran 4x

c. Rhei Officinalis Radix


Gambar 5.14 Rhei Officinalis Radix Gambar 5.15 Rhei Officinalis Radix
menggunakan I2KI dengan menggunakan I2KI Dengan
pembesaran 40x pembesaran

Gambar 5.15 Rhei Officinalis Radix Gambar 5.16 Rhei Officinalis Radix
menggunakan I2KI dengan menggunakan koral hidrat dengan
pembesaran 40x pembesaran 40x
5.2 Pembahasan
Pembahasan aaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Pada percobaan ini menggunakan simplisia catharanti radix, elephantopi
radix, dan rhei officinalis radix,
a. Klasifikasi catharanti radix
Nama lain : Akar tapak dara
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Gentianales
Suku : Apocynaceae
Marga : Catharanthus
Jenis : Catharanthus roseus
Isi : karantin, vindolin, tetrahidroalstonin, leurosin
sulfat, loknerin, dan vindolinin.
Penggunaan : untuk menghentikan perdarahan
Organoleptis : tidak berbau, rasa pahit, serbuk berwarna
kekuningan.
Manfaat : obat diabetes mellitus, hipertensi, leukimia, asma
dan bronchitis, demam, batu ginjal, anemia, bisul dan
borok, serta luka bakar.
b. Klasifikasi elephantopi radix
Nama lain : Akar tapak liman
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Asterales
Suku : Asteraceae
Marga : Elephantopus
Jenis : Elephantopus scaber L.
Isi : Elephantopin, stigmasterol, deoxyelephantopin,
isodeoxyelephantopin.
Penggunaan : sebagai penurun panas antibiotika, anti radang,
peluruh air seni, menghilangkan pembengkakan serta
menetralkan racun.
Organoleptis : bau lemah, tidak khas, rasa tawar, serbuk berwarna
coklat kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa.
Manfaat : obat malaria, demam, hepatitis, perut kembung,
influenza, radang ginjal yang akut dan kronis.
c. Klasifikasi rhei officinalis radix
Nama lain : Akar kelembak
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Caryophyllales
Suku : Polygonaceae
Marga : Rheum
Jenis : Rheum Officinale
Isi : antraglukosida yang ada pada penguraian
memberikan emodin, rhein, aloe emodin dan asam
krisofannat. Terdapat pula tanin, pektin, katekhin,
pati, kalsium oksalat.
Penggunaan : laksativa
Organoleptis : bau khas, aromatik, rasa agak pahit, agak kelat.
Serbuk berwarna coklat.
Bagian yang digunakan: pangkal batang beserta sebagian akar.
Manfaat : pencahar, nyeri lambung, skrofura, dapat digunakan
sebagai bahan campuran jamu karena bersifat
sebagai laksatif/ penenang. Sebagai obat antikanker,
dapat mengobati rematik, batu ginjal, dll.
Dari Percobaan yang telah dilakukan kami menyimpulkan Deskripsi Radix
(Akar) adalah sebagai berikut :
AKAR (RADIX)
Pengertian dan Definisi Akar adalah bagian pangkal tumbuhan pada batang yang
berada dalam tanah dan tumbuh menuju pusat bumi. Ada beberapa tumbuhan yang
mempunyai akar muncul ke permukaan tanah untuk fungsi-fungsi tertentu karena
persediaan oksigen yang terbatas dan aerase yang buruk di dalam tanah.
Akar dalam istilah ilmiahnya disebut “Radix”, merupakan bagian utama dari
tumbuhan yang telah memiliki pembuluh. Pada ujung-ujung akar terdapat meristem
apikal yang terus membelah diri dan berkembang juga terdapat kaliptra (tudung
akar) yang berfungsi sebagai pelindung. Tudung akar berasal dari meristem apikal
dan terdiri dari sel-sel parenkim. Jaringan meristem adalah jaringan muda pada
tumbuhan yang aktif membelah menghasilkan sel-sel baru terdapat pada titik-titik
pertumbuhan.
Pembelahan meristem apikal membentuk daerah pemanjangan atau “zona
perpanjangan sel”. Setelah zona ini terdapat “zona differensiasi sel” dan “zona
pendewasaan sel”. Pada zona differensiasi sel, sel-sel akar berkembang menjadi
beberapa sel permanen, misalnya beberapa sel terdifferensiasi menjadi xilem,
floem, parenkim, dan sklerenkim.
Akar tumbuhan mempunyai ciri-ciri tertentu yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah,
pertumbuhannya kearah dalam tanah atau menuju ke air, pada umumnya
menjauhi cahaya, pertumbuhannya menjadi lebih cepat.
2. Tidak seperti batang dan daun yang berwarna hijau karena mengandung
klorofil, warna akar tidak hijau, terlihat keputih-putihan atau kekuning-
kuningan.
3. Pertumbuhan terjadi pada ujung akar yang merupakan titik pertumbuhan
primer dimana terdapat jaringan meristimatik, dan dapat terjadi mekanisme
dominasi apikal pada akar.
4. Ujung akar bentuknya meruncing dan berguna untuk menembus tanah dan
memecahkan bebatuan.
Fungsi dari akar bagi tumbuhan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Akar tumbuhan sebagai jangkar untuk menyokong dan memperkokoh
berdirinya tumbuhan di tempat hidupnya.
2. Akar berfungsi sebagai media penyerapan air dan garam-garam mineral (zat
unsur hara) dari dalam tanah.
3. Dalam kondisi tertentu akar berfungsi sebagai alat respirasi, misalnya akar
pada tumbuhan mangrove, yang disebut “pneumatofor”.
4. Akar berfungsi untuk tempat penyimpanan cadangan makanan. Misalnya
wortel dan kentang memiliki akar tunggang yang membesar, berfungsi
sebagai tempat menyimpan makanan.
5. Beberapa jenis akar tumbuhan berfungsi sebagai organ reproduktif
vegetatif. Misalnya pada tumbuhan sukun, dari bagian akar dapat tumbuh
tunas yang akan menjadi individu baru.

Perbandingan aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaa aaaaaaaa


aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

VI. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Agustina. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Rineka Cipta: Jakarta.


Dalimartha, S. 2005. Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar. Jakarta:Penerbit Puspa
Swara.
Canto-Canché, B.B., Meijer, A.H., Collu, G., Verpoorte, R. 2004. Characterization
of a polyclonal antiserum against the monoterpene monooxygenase,
geraniol 10-hydroksilase from catharanthu roseus. Journal of Plant
Physiology.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press.
Hidayat. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.
Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung : ITB.
Loveles A.R. 1998. Prinsip-prnsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.
Jakarta: Gramedia.
Newall C. 1997. Herbal Medicines: A Guide for Health-Care Professionals.
2nded. London: Pharmaceutical Press. p. 1912
Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan
Jaringan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM.