Anda di halaman 1dari 34

THE USE OF FINANCIAL STATEMENT ANALYSIS IN RISK ANALYSIS”

MAKALAH KELOMPOK
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Analisi Laporan Keuangan

DISUSUN OLEH:
Anshori Syaferna Putra
Dian Sari Apriwinata
Hendy Tirta Kurnia
Novia Kepriyani

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Risiko adalah suatu peristiwa atau kondisi yang tidak menentu. Pentingnya dalam
mengkaji suatu risiko dikarenakan sasaran dari pelaksanaan manajeman risiko adalah
untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah
dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai
jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan
politik. Apabila risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk
(kerugian) yang tak diinginkan atau tidak terduga. Dengan kata lain “kemungkinan” itu
sudah menunjukkan ketidakpastian. Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang
menyebabkan tumbuhnya risiko.
Identifikasi risiko operasional dalam perusahaan dilakukan dengan tujuan untuk
mengidentifikasikan seluruh jenis risiko yang berpotensi memengaruhi kerugian
perusahaan. Hal tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Analisis Risiko


2.1.1 Pengertian Analisis Risiko
Secara sederhana, analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai
sebuah prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian
menganalisanya untuk memastikan hasil pembongkaran dan menyoroti bagaimana
dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau dikurangi. Analisis risiko juga
dipahami sebagai sebuah proses untuk menentukan pengamanan macam apa yang
cocok atau layak untuk sebuah sistem atau lingkungan (ISO 1799, “An Introduction To
Risk Analysis”, 2012).
Analisis risiko merupakan bagian dari manajemen risiko, yang terdiri dari
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi kemungkinan kondisi, peristiwa, atau situasi negative eksternal dan
internal.
b. Penentuan hubungan sebab-akibat antara peluang kejadian, skalanya dan
kemungkinan dampaknya.
c. Evaluasi sebagai dampak dibawah ini asumsi dan profitabilitas yang berbeda.
d. Penerapan teknik kualitatif dan kuantitatif untuk mengurangi ketidakpastian dari
dampak dan biaya, kewajiban, atau kerugian.
2.2.2 Analisis Sumber Risiko

Dalam teori manajemen keuangan, ada trade-off antara risiko dan return. Jika
risiko suatu investasi lebih tinggi, return yang diharapkan juga tinggi. Banyak para
manajer mengetahui risiko untuk dipertimbangkan dalam menilai dan mengambil
keputusan investasi. Penilaian dan pemahaman trade-off antara risiko dan return
membentuk landasan untuk memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham.
Perusahaan seharusnya mengenali apakah return yang diharapkan dapat dicapai atau
tidak, yang berarti perusahaan harus mengenali elemen risiko dalam proses
pengambilan keputusan. Risiko dapat didefinisikan sebagai variabilitas return dari apa
yang diharapkan (Brealey, Stewart, and Alan, 1995). Dengan kata lain risiko adalah
sebagai kemungkinan bahwa return sesungguhnya dari suatu investasi akan lebih
rendah dari return yang diharapkan. Return adalah keuntungan atau aliran kas neto
yang diperoleh dari suatu investasi. Dalam kegiatan bisnis, perusahaan sering
dihadapkan pada pengeluaran biaya yang bersifat tetap, yang tentu saja mengandung
risiko. Berkaitan dengan itu manajemen harus tahu mengenai leverage. Leverage
menunjukkan penggunaan biaya tetap dalam usaha meningkatkan keuntungan.
Secara umum investor enggan terhadap risiko (averse risk) (Horne and
John,1992). Jika risiko lebih besar, investor mengharapkan return dari suatu investasi
yang lebih besar. Return yang tinggi tidak selalu disertai investasi berisiko. Investasi
yang berisiko tidak akan dilakukan oleh investor jika investasi tersebut tidak memberi
harapan tingkat return yang tinggi.
Sumber-sumber dan tipe-tipe risiko bisa dilihat pada bagan berikut ini:

Sumber Contoh resiko yang timbul

Internasional Ketidak stabilan pemerintah local


Ketidak stabilan kebijakan pemerintah setempat
Risiko perubahan kurs mata uang
Resesi dunia

Domestik Resesi
Inflasi atau deflasi
Perubahan tingkat bunga
Perubahan demografis
Perubahan kebijakan dalam negeri
Perubahan politik dalam negeri
Industri Perubahan teknologi
Persaingan
Perubahan kekuatan tawar menawar dalam industry
Peraturan pemerintah yang berkaitan dengan industry
Perusahaan Perubahan manajemen
Perubahan strategi
Risiko terkena bencana
Risiko terkena tuntutan hukum
Sebagai ilustrasi dapat dijelaskan beberapa jenis dan sumber risiko sebagai berikut:

1. Risiko perubahan nilai tukar yang bersumber dari luar negeri

Perubahan nilai tukar dapat berupa apresiasi atau depresiasi. Apabila mata uang
domestik mengalami apresiasi terhadap mata uang asing berarti nilai mata uang
domestik menguat terhadap mata uang asing. Demikian pula sebaliknya, apabila
terjadi depresiasi. Secara umum, apabila terjadi apresiasi mata uang domestik
terhadap mata uang asing maka akan menimbulkan dampak negatif terhadap
kegiatan ekspor yang dilakukan perusahaan. Sebaliknya, apabila terjadi depresiasi
mata uang domestik terhadap mata uang asing maka akan menimbulkan dampak
negatif terhadap kegiatan impor.

2. Risiko inflasi yang bersumber dari dalam negeri

Secara umum inflasi dapat mempengaruhi daya beli (purchasing power)


masyarakat. Semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah daya beli masyarakat
sehingga dengan demikian pendapatan riil masyarakat juga menurun. Apabila daya
beli menurun maka permintaan terhadap barang dan jasa juga akan menurun
sehingga pendapatan juga akan menurun. Jadi hal ini menggambarkan risiko yang
dihadapi oleh perusahaan.

3. Risiko teknologi yang bersumber dari industri

Teknologi dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan karena tingkat


penggunaan teknologi dapat mempengaruhi daya saing suatu perusahaan. Di
samping itu, penggunaan teknologi dapat mempengaruhi produktivitas dan efisiensi
suatu perusahaan. Jadi apabila suatu perusahaan beroperasi pada penggunaan
teknologi yang tidak memadai maka memungkinkan tidak dapat bersaing serta tidak
efisien.
4. Risiko atas keputusan-keputusan strategis

Keputusan-keputusan strategis yang diambil oleh manajemen suatu perusahaan


dapat mempengaruhi tingkat risiko suatu perusahaan. Artinya bahwa
apabila manajemen suatu perusahaan melakukan suatu kesalahan dalam
mengambil keputusan strategis maka memungkinkan perusahaan akan menghadapi
suatu risiko yang besar.

Meskipun risiko-risiko di atas secara langsung atau tidak langsung akan


mempengeruhi perusahaan, tetapi perusahaan harus memperhatikan risiko-risiko yang
mempunyai konsekuensi keuangan perusahaan.
Tabel dibawah ini menggambarkan kegiatan-kegiatan perusahaan dan kaitannya
dengan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan kas. Oleh
karena itu analisis aliran kas sering dipakai sebagai alat analisis untuk melihat
kemampuan perusahaan sekaligus untuk menganalisis risiko perusahaan. Perusahaan
kadang-kadang mengalami kebangkrutan (default) atau tidak bisa membayar
kewajiban-kewajibannya karena tidak mempunyai kas yang cukup, meskipun
perusahaan tersebut cukup menguntungkan. Laporan aliran kas akan melengkapi
analisis risiko disamping analisis rasio yang akan dibicarakan pada bab ini.

Kegiatan perusahaan dan aliran kas yang dihasilkan atau dibutuhkan:

Kegiatan Kemampuan Kebutuhan Analisis yang


Perusahaan Perusahaan yang digunakan
menghasilkan menggunakan
kas kas
Operasi Profitabilitas Kebutuhan Likuiditas
Perusahaan modal kerja jangka
pendek
Investasi Penjualan aset Kebutuhan Likuiditas
perusahaan investasi pada jangka
aktiva baru panjang
Pendanaan Kapasitas Membayar Likuiditas
Meminjam hutang dengan jangka
bunga dan panjang
kewajiban
lainnya

Analisis risiko dibagi menjadi dua bagian:


a) Analisis risiko jangka pendek (short term liquidity risk): memfokuskan pada
kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (kurang dari satu
tahun) Risiko likuiditas jangka pendek membutuhkan suatu pemahaman tentang
siklus operasi perusahaan. Rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk
menilai risiko likuiditas jangka pendek adalah:

 Rasio lancar (current ratio)


Current ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat likuiditas suatu
perusahaan. Semakin tinggi current ratio maka semakin likuid suatu
perusahaan dan semakin rendah risiko perusahaan.
 Rasio cepat (quick ratio)
Quick ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat likuiditas suatu
perusahaan. Semakin tinggi quick ratio maka semakin likuid suatu
perusahaan dan semakin rendah risiko perusahaan.
 Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar (operating cash
flow to current liabilities)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kas yang dihasilkan dari operasi dapat
menutupi kewajiban lancar perusahaan. Semakin tinggi rasio ini maka
semakin rendah risiko yang dihadapi perusahaan.
b) Analisis risiko jangka panjang (long term liquidity risk): memfokuskan pada
kemampuan perusahaanmemenuhi kewajiban jangka panjangnya (lebih dari satu
tahun) Risiko solvabilitas jangka panjang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga dan angsuran pinjaman atas
utang jangka panjang dan untuk memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo.

Rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menilai risiko


solvabilitas jangka penjang adalah:

 Rasio utang jangka panjang (long-term debt ratio)


Rasio ini menunjukkan seberapa besar total utang yang digunakan oleh
perusahaan untuk membiayai aktivanya. Semakin besar rasio ini maka
semakin besar pula risiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula
sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin kecil pula risiko yang
dihadapi perusahaan
 Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar total utang yang dimiliki oleh
perusahaan jika dibandingkan dengan ekuitas. Semakin besar rasio ini
maka semakin besar pula risiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula
sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin kecil pula risiko yang
dihadapi perusahaan.
 Rasio kewajiban terhadap aktiva (liabilities to assets ratio)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar utang yang digunakan untuk
membiayai aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin besar
pula risiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin
kecil rasio ini maka semakin kecil pula risiko yang dihadapi perusahaan.
 Rasio cakupan bunga (interest coverage ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kemampuan perusahaan untuk dapat
menutupi atau memenuhi kewajiban bunga atas pinjamannya kepada
kreditor. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko yang dihadapi
perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka
semakin besar pula risiko yang dihadapi perusahaan
 Rasio arus kas operasi terhadap total kewajiban (operating cash flow to
total liabilities ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan arus kas dari kegiatan operasi untuk menutupi atau
memenuhi seluruh kewajibannya. Semakin besar rasio ini maka semakin
kecil risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Demikian pula sebaliknya,
semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko yang dihadapi oleh
perusahaan.
 Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal (operating cash flow to
capital expenditure)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar penggunaan arus kas operasi yang
dihasilkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pengeluaran modal.
Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko yang dihadapi oleh
perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka
semakin besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan.

Dalam konteks investasi terdapat beberapa jenis risiko yang perlu


dipertimbangkan oleh perusahaan yaitu antara lain:

1. Risiko tingkat suku bunga (interest rate risk)

2. Risiko pasar (market risk)

3. Risiko inflasi (inflation risk)

4. Risiko nilai tukar (exchange rate risk)

5. Risiko bisnis (business risk)

6. Risiko financial (financial risk)

7. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Menurut Djohanputro (2008), Risiko dapat diklasifikasikan menjadi ke dalam dua


kategori, yaitu:
 Risiko Murni dan Spekulatif

Risiko Murni adalah risiko yang dapat mengakibatkan kerugian dan tidak
sedikitpun mengandung kemungkinan keuntungan. Contoh dari risiko ini
adalah setiap aset pada perusahaan memiliki risiko pencurian dan tidak ada
pencurian yang mengandung keuntungkan.

Risiko Spekulatif adalah risiko yang mengakibatkan dua kemungkinan,


apakah risiko tersebut mengakibatkan keuntungan atau kerugian. Misalnya,
perusahaan yang menyimpan valuta asing dapat memperoleh keuntungan
saat nilai tukar valuta sing tersebut menguat, akan tetapi saat mengalami
penurunan nilai tukar valas tersebut, perusahaan akan mengalami kerugian.

 Risiko Sistemik dan Spesifik

Risiko sistemik adalah risiko yang tidak dapat didiversifikasi. Ciri dari risiko
sistemik adalah tidak dapat dihilangkan atau dikurangi dengan
penggabungan dengan risiko lain.

Risiko spesifik adalah risiko yang dapat didiversifikasi, dapat dihilangkan


melalui proses penggabungan. Contoh dari risiko spesifik adalah saat
mendekati Lebaran pedagang menjual ketupat, namun pada tahun baru tiba,
para pedagang ketupat tersebut berjualan terompet. Contoh tersebut
menunjukkan pada saat tahun baru tiba penjualan ketupat akan menurun
sehingga pedagang tersebut beralih menjual terompet.

2.2 Contoh Kasus Analisis Risiko

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. merupakan produsen berbagai


jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini
didirikan pada tanggal 14 Agustus 1990 oleh Sudono Salim dengan nama PT.
Panganjaya Intikusuma yang pada tanggal 5 Februari 1994 menjadi Indofood Sukses
Makmur. Perusahaan ini mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia,
dan Eropa.
Dalam beberapa dekade ini Indofood telah bertransformasi menjadi sebuah
perusahaan total food solutions dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh
tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku
hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. merupakan salah satu perusahaan mie
instant dan makanan olahan terkemuka di Indonesia yang menjadi salah satu cabang
perusahaan yang dimiliki oleh Salim Group.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memperoleh manfaat
dari ketangguhan model bisnisnya yang terdiri dari empat kelompok usaha strategis
(grup) yang saling melengkapi sebagai berikut:
 Produk Konsumen Bermerek (CBP)
Kegiatan usahanya dilaksanakan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP),
yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tanggal 7 Oktober 2010.
ICBP merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan terkemuka di
Indonesia yang memiliki berbagai jenis produk makanan dalam kemasan.
 Bogasari
Memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta. Kegiatan
usaha Grup ini didukung oleh unit perkapalan dan kemasan.
 Agribisnis
Kegiatan usahanya terkonsentrasi pada Indofood Agri Resources Ltd. (IndoAgri),
yang tercatat di Bursa Efek Singapura, dan anak-anak perusahaannya termasuk PT PP
London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum), yang tercatat di BEI. Kegiatan usaha utama
Grup ini meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan, pemuliaan dan
pengolahan kelapa sawit hingga produksi dan pemasaran minyak goreng, margarin
dan shortening bermerek. Di samping itu, kegiatan usaha grup ini juga mencakup
pemuliaan dan pengolahan karet dan tebu serta tanaman lainnya.
 Distribusi
Memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia. Grup ini mendistribusikan
hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak-anak perusahannya, serta
berbagai produk pihak ketiga.
PT Indofoot juga memiliki Visi dan Misi yakni :
Visi PT Indofood Tbk.:
“Menjadi Perusahaan Total Food Solutions.”
Misi PT Indofood Tbk.:
 Senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi, dan teknologi.
 Menyediakan produk yang berkualitas tinggi, inovatif dengan harga terjangkau,
yang merupakan pilihan pelanggan.
 Memastikan ketersediaan produk bagi pelanggan domestik maupun internasional.
 Memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia,
khususnya dalam bidang nutrisi.
 Meningkatkan stakeholders’ value secara berkesinambungan.
Untuk mencapai visi dan misi tersebut, PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
menggunakan strategi:
Menjalin kerjasama dengan pemasok bahan baku untuk meningkatkan kualitas
produk, dan meningkatkan distribusi produk-produk.

Risiko bisnis yang dihadapi oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk dipengaruhi
oleh beberapa faktor. Jenis risiko yang pertama adalah risiko murni, PT Indofood
Sukses Makmur Tbk. mungkin saja menanggung risiko tersebut apabila misalnya terjadi
kebakaran atau pencurian asset seperti pencurian persediaan. Sedangkan jenis risiko
berikutnya adalah risiko spekulatif. Risiko spekulatif ini dapat meliputi variabilitas dari
biaya input, harga jual, dan permintaan, kemudian dapat juga meliputi kemampuan
menjual produk baru dan mengembangkan produk yang sudah ada, dan tingkat nilai
tukar rupiah terhadap dolar. Risiko yang dihadapi perusahaan diantaranya:
 Risiko keamanan pangan
Sebagai produsen makanan olahan dalam kemasan dan memiliki konsumen dari
segala usia, Perseroan menghadapi risiko yang berhubungan dengan keamanan
produk barang jadi yang dipasarkan.
Walaupun Perseroan telah memperhatikan faktor higienis makanan dan
memastikan bahwa bahan baku yang dipergunakan telah sesuai dengan yang
ditetapkan oleh instansi yang berwenang dan memenuhi persyaratan untuk
memperoleh sertifikat halal, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa produk makanan
tersebut dapat tercemar ataupun terkena isu negatif lainnya. Apabila terjadi, hal
tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha dan operasional
Perseroan.
 Risiko fluktuasi harga bahan baku dan komoditas
Harga dan biaya produksi Perseroan dipengaruhi oleh harga bahan baku di
pasar internasional, terutama gandum yang digunakan untuk memproduksi tepung
terigu Grup Bogasari, dan bahan baku lainnya yang diimpor seperti SMP
dan resin (bahan baku untuk pembuatan kemasan).
Harga tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
· Tingkat produksi bahan baku dunia.
· Tingkat penawaran dan permintaan produk.
· Tingkat konsumsi dunia atas produk-produk; dan
· Perkembangan perekonomian dunia pada umumnya.
Fluktuasi harga bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar
Rupiah terhadap mata uang asing dapat memberikan dampak negatif terhadap
kegiatan operasional dan kondisi keuangan Perseroan. Walaupun Perseroan dapat
menaikkan harga jual produknya akan tetapi Perseroan tidak dapat secara langsung
meningkatkan harga jual produk sedemikian rupa sejalan dengan kenaikan harga
bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata
uang asing.
 Risiko peningkatan kompetisi pada segmen usaha
Sebagian besar produk Perseroan menghadapi kompetisi baik dari perusahaan
lokal maupun internasional. Tidak dapat dipastikan bahwa kompetitor tidak akan
mengoptimalkan upayanya dalam berkompetisi untuk meningkatkan pangsa pasarnya
dan/atau tidak akan ada tambahan pesaing domestik maupun asing yang memasuki
pasar dimana Perseroan beroperasi. Peningkatan kompetisi tersebut dapat
mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk mempertahankan atau menaikkan
pendapatannya.
 Risiko suksesi dan ketrampilan tenaga kerja
Kesuksesan Perseroan tidak luput dari faktor ketersediaan tenaga kerja yang
handal untuk terus dapat melakukan yang terbaik serta mendukung budaya untuk terus
berinovasi agar memperoleh hasil yang unggul. Oleh karena itu Perseroan menyadari
risiko kegagalan pengembangan karyawan atau mempertahankan tenaga kerja
bertalenta dapat mempengaruhi kegiatan bisnis, daya saing, dan pertumbuhan
Perseroan secara nyata.
 Risiko bencana alam, iklim dan cuaca ekstrim
Secara geografis, fasilitas Perseroan berupa kantor, pabrik, perkebunan dan
gudang distribusi, hampir seluruhnya berlokasi di Indonesia yang berlokasi di pulau
Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Letak Indonesia berada di zona pertemuan dari tiga lempengan bumi utama
yang berpotensi mengalami gempa bumi, tsunami, gelombang laut dan letusan gunung
berapi. Hal ini dapat terjadi di luar kendali Perseroan, dan dapat membahayakan
keselamatan karyawan, merusak fasilitas, dan mengganggu jalur distribusi. Walaupun
risiko ini tidak berdampak negatif secara langsung terhadap kegiatan usaha Perseroan
di masa lampau, tetapi bencana tersebut dapat berdampak negatif terhadap keadaan
ekonomi Indonesia pada umumnya yang secara tidak langsung akan berdampak juga
terhadap Perseroan. Selain itu, beberapa kegiatan usaha dan hasil operasional
Perseroan juga tergantung pada iklim dan kondisi cuaca.
Risiko yang berhubungan dengan hal tersebut akhir-akhir ini meningkat dengan
adanya efek rumah kaca di atmosfer yang berdampak buruk terhadap suhu global dan
perubahan suhu secara ekstrim. Kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap
produktivitas, kinerja dan prospek usaha Perseroan.

Analisis Risiko Perusahaan


Tujuan dari analisis risiko adalah untuk membedakan risiko minor yang dapat
diterima dari resiko mayor, dan untuk menyediakan data untuk membantu evaluasi dan
penanganan risiko. Analisis risiko akan tergantung dari informasi dan data yang
tersedia.
Risiko yang dapat dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Resiko yang di
analisis secara kuantitatif adalah risiko keuangan dengan menggunakan penghitungan
rasio keuangan. Perhitungan rasio ini dilakukan dari data laporan keuangan PT
Indofood Sukses Makmur Tbk sejak tahun 2011 sampai tahun 2013. Beberapa rasio
yang sudah dianalisis adalah rasio likuiditas, rasio leverage, dan rasio profitabilitas.
Dari hasil perhitungan rasio likuiditas, PT Indofood Sukses Makmur Tbk memiliki
rasio likuiditas yang baik yakni lebih dari 1, walaupun nilainya fluktuatif. Rasio
berikutnya adalah rasio profitabilitas. Dari hasil perhitungan rasio profitabilitas
didapatkan hasil Gross profit margin secara rata-rata selalu mengalami peningkatan,
begitu juga dengan Return On Aset (ROA) mencerminkan tingkat pengembalian
terhadap investasi aset perusahaan.
ROA secara rata-rata selalu meningkat yang dapat diartikan bahwa
pengembalian terhadap aset lancar perusahaan selalu meningkat pula. Berkaitan
dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ini sedang menjadi
permasalahan, didapatkan dari hasil regresi bahwa volatilitas kurs rupiah per dolar
berpengaruh negatif terhadap return harian saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
Semakin besar ROA suatu perusahaan maka semakin baik pula kinerja
perusahaan tersebut. ROA berpengaruh negatif terhadap prediksi kebangkrutan
perusahaan yang berarti semakin tinggi rasio tinggi ROA kemungkinan perusahaan
bangkrut semakin kecil
ROA =
Tahun Perhitungan Hasil
(dalam %)
2011 8.795,9/78.092,8 0,11263394
32
2012 8.567,8/59.389,4 0,14426480
1
2013 8.360/53.716 0,15563333

ROE adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan modal sendiri
suatu perusahaan. ROE merupakan indikator yang penting bagi pemegang saham
untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih
yang berkaitan dengan dividen. Jika rasio ini meningkat maka laba bersih dari
perusahaan yang bersangkutan akan meningkat pula, peningkatan tersebut juga
mempengaruhi harga saham. ROE berpengaruh negatif terhadap kemungkinan
perusahaan bangkrut, artinya semakin kecil ROE maka probabilitas perusahaan
bangkrut semakin besar
ROE = X 100%
Tahun Perhitungan Hasil (dalam %)

2011 8.795,9/39.719,7 0,221449306


2012 8.567,8/25.249,2 0,339329562
2013 8.260/22.114,7 0,373507214

Operating Income Return on Investment menunjukkan kefektifan manajemen


dalam menghasilkan laba operasional atas aset-aset perusahaan, yang diukur dengan
membandingkan laba operasional terhadap total aset. Dengan kata lain OIROI
mengambarkan kemampuan perusahaan untuk menjaga biaya operasional rendah.
OIROI mengukur seberapa efisien perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari
total aset yang dimiliki yang digunakan dalam menghasilkan keuntungan teresebut.
Semakin besar OIROI maka semakin efektif suatu perusahaan dalam mengelola total
aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.
OIROI =
Tahun Perhitungan Hasil (dalam %)

2011 6.718/78.092,8 0,086025856

2012 6.877/59.389,4 0,115795074

2013 6.847,4/53.716 0,127474123

Respon Terhadap Risiko


Perseroan menyadari bahwa penerapan sistem manajemen risiko yang memadai
sangat penting untuk menghadapi beragamnya risiko kegiatan usaha yang dihadapi
sejalan dengan semakin berkembangnya usaha Perseroan. Untuk itu, Perseroan
menjalankan pengelolaan terhadap risiko dengan menerapkan sistem ERM yang telah
dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan di seluruh organisasi, termasuk
anak perusahaan. Perseroan mengelola ERM berdasarkan kerangka dasar COSO
(Committee of Sponsoring Organization of Treadway Commission) dan ISO 31000,
yang disesuaikan dengan kegiatan usaha dan budaya Perseroan.
Direksi bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam suksesnya
penanganan manajemen risiko dan pengendalian internal yang efektif. Untuk itu,
Perseroan membentuk tim manajemen risiko yang didedikasikan untuk menjalankan
proses ERM dan implementasinya. Setiap manajemen anak perusahaan, berperan
penting atas proses ERM, yaitu melakukan identifikasi risiko, menganalisa
kemungkinan exposure, menetapkan langkah-langkah perbaikan dan pengendalian
internal, dan memberikan laporan ERM kepada manajemen terkait.
Komite Audit sebagai kepanjangan tangan dari Dewan Komisaris, melakukan
pengawasan terhadap program dan implementasi manajemen risiko. Laporan
konsolidasi ERM disampaikan setiap semester kepada Direksi dan Komite Audit. Audit
Internal melakukan penelaahan yang independen melalui audit yang dilakukan secara
rutin untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa risiko yang signifikan dan
kelemahan pengendalian internal teridentifikasi dan tindakan perbaikan dijalankan.
Laporan penelahaan tersebut disajikan dalam laporan audit internal yang disampaikan
secara rutin kepada Direksi dan Komite Audit. Beberapa risiko-risiko utama yang dapat
berpotensi memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap operasional
Perseroan, dan langkah langkah Perseroan dalam mengurangi risiko tersebut adalah
sebagai berikut:
 Risiko keamanan pangan
Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan melakukan proses kontrol yang
berkesinambungan, dimulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas, pemilihan
pemasok, proses penerimaan bahan baku dan proses produksi dan distribusi yang
sesuai dengan standard operating procedures.
Perseroan senantiasa menerapkan Good Manufacturing Practices untuk
memastikan produk dibuat dengan proses yang higienis dan menghasilkan kualitas
yang baik. Sebagian besar fasilitas produksi Perseroan telah memperoleh sertifikasi
ISO 9001 dan ISO 22000, dan/atau sertifikasi HACCP (Hazard Analysis & Critical
Control Points), serta beberapa fasilitas produksi lainnya telah memperoleh sertifikasi
ISO 14000. Di samping itu, seluruh produk Perseroan telah mendapatkan sertifikat halal
dari MUI. Sebagian besar produk Perseroan juga telah memperoleh berbagai sertifikasi
lainnya, seperti sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh
lembaga pemerintahan yang berwenang. Untuk menanggapi keluhan dan mendapatkan
masukan yang berharga dari konsumen, Perseroan menyediakan Layanan Konsumen
Indofood.
 Risiko fluktuasi harga bahan baku dan komoditas
Fluktuasi harga bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar
Rupiah terhadap mata uang asing dapat memberikan dampak negatif terhadap
kegiatan operasional dan kondisi keuangan Perseroan. Walaupun Perseroan dapat
menaikkan harga jual produknya akan tetapi Perseroan tidak dapat secara langsung
meningkatkan harga jual produk sedemikian rupa sejalan dengan kenaikan harga
bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata
uang asing.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Perseroan melakukan kegiatan-kegiatan
strategis dengan membentuk pola hubungan kerja sama dan kemitraan dengan petani
dan pemasok, melakukan simulasi harga bahan baku terhadap harga jual, melakukan
kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan dalam dan luar negeri, dan
menggunakan bahan baku substitusi tanpa mengurangi kualitas akhir dari produk
barang jadi yang dipasarkan kepada konsumen. Ketangguhan model bisnis Perseroan
yang terdiri dari kegiatan usaha komoditas dan non-komoditas juga memberikan
manfaat dalam mengurangi risiko tersebut dan dapat meredam dampak gejolak harga
komoditas yang pada akhirnya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pendapatan dan keuntungan Perseroan.
 Risiko peningkatan kompetisi pada segmen usaha
Untuk melanjutkan sukses dan mengurangi risiko tersebut, Perseroan senantiasa
mengikuti dinamika perkembangan pasar, meluncurkan produk yang sesuai dengan
kebutuhan dan selera konsumen, melakukan inovasi secara berkelanjutan untuk
menghasilkan produk unggulan baru, mempertahankan dan meningkatkan kualitas
produk, melakukan kegiatan pemasaran yang tepat sasaran dan menerapkan program-
program efisiensi biaya guna meningkatkan daya saing. Dalam iklim bisnis yang
kompetitif ini, Perseroan tetap menjalankan usahanya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.
 Risiko suksesi dan ketrampilan tenaga kerja
Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan melakukan kegiatan pengembangan
karyawan berkelanjutan serta program pelatihan profesional baik internal atau
eksternal. Dengan program tersebut, Perseroan dapat mempertahankan tenaga kerja
bertalenta yang sudah ada dan menarik tenaga kerja bertalenta yang baru, demi
meneruskan kelangsungan operasional dan daya saing Perseroan di era globalisasi ini.
 Risiko bencana alam, iklim dan cuaca ekstrim
Untuk menangani risiko tersebut, Perseroan melakukan kajian terhadap
perlindungan bencana alam seperti kecukupan perlindungan asuransi dan implementasi
sistem penanggulangan krisis. Perseroan juga melakukan kegiatan tanggung jawab
sosial terkait dengan kejadian bencana alam sebagai bentuk kepedulian terhadap
masyarakat.
BAB III
Kesimpulan

Analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai sebuah prosedur untuk
mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian menganalisanya untuk
memastikan hasil pembongkaran dan menyoroti bagaimana dampak-dampak yang
ditimbulkan dapat dihilangkan atau dikurangi. Analisis risiko bersama-sama dengan
analisis profitabilitas digunakan untuk mengevaluasi daya tarik suatu perusahaan. Ada
beberapa sumber resiko : internasional, nasional ,industry dan perusahaan itu sendiri.
Sumber-sumber resiko tersebut secara langsung atau tidak langsung akan
mempengaruhi perusahaan. Rekening off balance sheet kelihatannya tidak mempunyai
pengaruh terhadap neraca karena tidak tercantum di neraca, meskipun sebenarnya
mempunyai pengaruh.penyesuaiaan bias dilakukan dengan memasukkan item-item off
balance sheet kedalam analisis.
Case 18-1

Analisis peringkat hutang dan risiko gagal bayar dari DuPont, Dow Chemical, dan
Imperial Chemical Industries.
Dow chemical dan ICI beroperasi dan bersaing dengan DuPont di pasar tertentu. Lampiran B dan
C masing-masing berisi laporan keuangan Dow chemical dan ICI untuk tahun yang berakhir
pada tanggal 31 Desember 1994, kasus 4-1 menunjukkan penyusunan rasio leverage dan
solvabilitas untuk ketiga perusahaan ini. Tujuan dari kasus ini adalah untuk memperluas analisis
menggunakan data keuangan yang disesuaikan yang dikkembangkan dalam kasus 17-1. (Data
harga saham diberikan dalam 3 (b)(ii) dari kasus tersebut).
Perhatikan bahwa pernyataan ICI disajikan dalam pounds dan disiapkan menurut GAAP UK.
Kasus 10-1 mengharuskan perhitungan nilai pasar dari hutang ICI.
1. Hitung scor-z untuk DuPont, Dow chemical dan ICI pada akhir tahun 1994.
2. Gunakan laporan keuangan penyesuaian DuPont, ICI, Dow chemical yang dikembangkan
dalam kasus 17-1 untuk menghitung Score-Z yang disesuaikan untuk ketiga perusahaan.
3. Bandingkan Score-Z baku dan yang disesuaikan yang dihitung dalam soal 1 dan 2.
4. Exhibit 18-8 menyajkan nilai median rasio keuangan berdasarkan standar peringkat
obligasi yang terendah dan tertinggi. Menggunakan exhibit dan laporan keuangan untuk
ketiga perusahaan tersebut.
a. Hitung rasio yang sesuai untuk DuPont, Dow dan ICI
b. Tetapkan peringkat hutang yang tepat untuk ketiga perusahaan
5. -
a. Gunakan neraca biaya saat ini dan penyesuaian yang dibuat dalam kasus 17-1 untuk
menghitung ulang rasio dalam soal 4a
b. Tentukan peringkat obligasi yang disarankan oleh rasio yang disesuaikan
c. Diskusikan keterbatasan jawaban pada bagian 5(b)
6. Gunakan Score-Z pada exhibit 18-9 untuk sampai pada peringkat obligasi untuk ketiga
perusahaan, bandingkan peringkat tersebut dengan yang dicapai pada soal 4 dan 5
7. Evaluasi dampak penyesuaian yang dibahas bab 17 menurut penilaian anda terhadap
risiko gagal bayar perusahaan. Gunakan hasil dari soal 4 – 6 untuk menggambarkan
komentar anda.
Data di bawah ini digunakan untuk menghitung Z’ dan Z’’ score untuk pertanyaan 1 dan 6.
(untuk DuPont dan Dow dalam juta $, untuk ICI dalam juta £)

Data diatas dapat ditelusuri ke sumber berikut:


 Data yang dilaporkan diperoleh langsung dari laporan keuangan dan/atau perhitungan
pada Bab 4 untuk DuPont dan Kasus 4-1 untuk Dow dan ICI. Sebagai tambahan, data
untuk MV Equity berdasarkan harga pasar penutupan atau harga saham penutupan (lihat
kasus 17-1, hal 9671 yaitu $56.125 dan £7.49 dan saham 681, 327, dan 324 juta untuk
masing-masing DuPont, DOW dan ICI.
 Data yang disesuaikan berdasarkan jawaban dari kasus 17-1.

JAWABAN
1. Z-Score DUPONT, DOW dan ICI pada tahun 1994
Variabel Z-Score DUPONT DOW ICI

1.2 (working Capital/Total Assets) 0.1152 0.0938 0.3151

+ 1.4 (Retained Earnings/ Total Assets) 0.2810 0.4671 0.3648

+ 3.3 (EBIT / Total Assets) 0.4420 0.3219 0.2177

+ 0.6 (MV of Equity / BV of Debt) 2.9907 1.6991 1.6424

+ 1.0 (Sales / Total Assets) 1.0662 0.7540 1.0205

= Z-Score 4.8951 3.3359 3.5604


2. Setelah disesuaikan
Variabel Z-Score DUPONT DOW ICI

1.2 (working Capital/Total Assets) 0.1126 0.0953 0.2837

+ 1.4 (Retained Earnings/ Total Assets) 0.2355 0.5294 0.3284

+ 3.3 (EBIT / Total Assets) 0.3704 0.3648 0.1960

+ 0.6 (MV of Equity / BV of Debt) 2.1195 1.2178 1.1477

+ 1.0 (Sales / Total Assets) 0.8935 0.8545 0.9189

= Z-Score 3.7315 3.0618 2.8747

Dari hasil adjusted Z-Score diperoleh bahwa dua dari tiga perusahaan (DUPONT & DOW)
diatas masih tetap menunjukkan bahwa perusahaan aman dari kebangkrutan. Sedangkan, nilai Z-
Score untuk ICI memperlihatkan bahwa perusahaan tersebut berada di zona abu-abu.

3. Z-Score yang disesuaikan menunjukkan penurunan yang signifikan dari ketiga perusahaan
tersebut.
FIRMS Raw Z- Adjusted Selisih %
Score Z-Score Perubahan

DUPONT 4.8951 3.7315 1.1636 23.8%

DOW 3.3359 3.0618 0.2741 8.3%

ICI 3.5604 2.8747 0.6857 19.23%

Penyebab utama dari penyesuaian diatas yaitu perubahan signifikan dari hutang dan aset.
Dupont melaporkan penurunan terbesar karena adanya peningkatan tajam dalam jumlah aset dan
hutang. Peringkat untuk ketiga perusahaan tersebut tidak berubah, akan tetapi ICI tetap menjadi
yang terendah setelah penyesuaian. Sebelum penyesuaian, Z-Score untuk ketiga perusahaan
berada diatas nilai kritis yaitu sebesar 2.9999. Berdasarkan biaya saat ini, ICI termasuk dalam
zona abu-abu. Sedangkan untuk Z-Score Dow sebesar diatas 2.999 secara umum termasuk
kedalam kategori sehat (non-bangkrut). [bagaimanapun, zona abu-abu ditunjukkan menggunakan
data yang sudah dilaporkan, lalu dibandingkan dengan data yang disesuaikan. Diasumsikan kalau
zona abu-abu tersebut akan berubah jika menggunakan data biaya saat ini]
Hanya DuPont yang berada di zona sehat (aman dari kebangkrutan). Namun hanya nilai Z-
Score DuPont menunjukkan persentase yang paling tinggi setelah disesuaikan.
Exhibit 18 CS-2
Data yang digunakan untuk menghitung rasio pada pertanyaan 4 dan 5.
Untuk DuPont dan Dow dalam jutaan $, dan ICI dalam jutaan £.
REPORTED ADJUSTED
DUPONT DOW ICI DUPONT DOW ICI
Sales 39,333 20,015 9,189 39,333 20,015 9,189
Operating Income 4,015 2,345 588 4,015 2,345 588
EBIT 4,941 2,589 594 4,941 2,589 594
Interest 559 537 186 703 603 186
EBT 4,382 2,052 408 4,238 1,986 408
Rent 355 459 108 355 459 108
EBIT + Rent 5,296 3,408 702 5,296 3,048 702
Depreciation 2,976 1,525 411 2,976 1,525 411
EBITDA 7,917 4,114 1,005 7,917 4,114 1,005
Interest + Rent 914 996 294 1,058 1,062 294
Funds (CFO) From Operations 5,664 2,635 612 6,146 3,605 835
Free cash flow 2,614 1,563 405 3,096 1,882 462
Long term debt 6,376 5,303 1,522 9,528 7,903 2,376
Total debt 7,668 6,578 1,981 10,820 9,178 2,835
Equity 13,019 10,740 4,074 18,696 6,129 3,630
Total capitalization 20,687 17,318 6,055 29,516 15,307 6,465

Data yang digunakan diatas dapat ditelusuri melalui sumber berikut:


 Reported data diambil langsung dari laporan keuangan dana tau perhitungan pada Bab 4
untuk Dupont dan Kasus 4-1 untuk Dow dan ICI. Sebagai tambahan, untuk data rent
diperoleh dari Note 20 untuk Dupont, Note H untuk Dow, dan Note 31 untuk ICI dari
setiap laporan keuangan perusahaan
 Adjusted data berdasarkan solusi pada Case 17-1. Beban bunga disesuaikan dengan
memasukkan capitalized portion of interest.
1. (a) dan (b) Key Financial Ratios berdasarkan Reported data (lihat exhibit 18CS-2 untuk data
yang digunakan)
Ratios DUPONT DOW ICI
RATI RATI RATI RATI RATI RATI
O NG O NG O NG
Pretax interest coverage (x) 8.84 AA- 4.82 A- 3.19 BBB+
Pretax interest coverage including rents (x) 5.79 AA 3.06 A- 2.39 BBB
EBITDA interest coverage (x) 14.16 AA 7.66 A- 5.40 BBB
Funds from operations/total debt (%) 73.87 AA 40.06 BBB+ 32.24 BBB+
Free operating cash flow/total debt (%) 34.09 AA+ 23.76 A+ 20.44 A+
Pretax return on permanent capital (%) 21.18 AA+ 11.85 BBB+ 6.74 B
Operating income/sales (%) 10.21 BB- 11.72 BBB+ 6.40 B-
Long-term debt/capital (%) 30.82 A 30.62 A- 25.14 A+
Total debt/capitalization including short-term 37.07 A 37.98 A 32.72 A+
debt (%)
Total debt/capitalization including short-term 44.66 A 48.83 A 41.12 AA-
debt (including 8 times rents) (%)
Overall Rating AA/AA A- A-
- /BBB+ /BBB+

2. (a) dan (b) Key Financial Ratios berdasarkan Adjusted Data (lihat exhibit 18CS-2 untuk data
yang digunakan.
Ratios DUPONT DOW ICI
RATI RATIN RATI RATIN RATI RATIN
O G O G O G
Pretax interest coverage (x) 7.03 A+ 4.29 A- 3.19 BBB+
Pretax interest coverage including rents 5.01 AA 2.87 BBB+ 2.39 BBB
(x)
EBITDA interest coverage (x) 11.26 A+ 6.82 A- 5.40 BBB
Funds from operations/total debt (%) 56.80 A 33.40 BBB 29.45 BB+
Free operating cash flow/total debt (%) 28.61 AA 20.51 A- 16.30 A
Pretax return on permanent capital (%) 14.36 A- 13.59 BBB+ 6.32 B
Operating income/sales (%) 10.21 BB- 11.72 BB 6.40 B-
Long-term debt/capital (%) 32.28 A- 51.63 BB 36.75 BBB+
Total debt/capitalization including short- 36.66 A- 59.96 BB 43.85 BBB
term debt (%)
Total debt/capitalization including short- 42.22 AA- 67.71 BB 50.47 A-
term debt (including 8 times rents) (%)
Overall Rating A+ BBB BBB
(c) Peringkat yang tersirat pada rasio yang dihitung pada exhibit 18-8 didasarkan pada data yang tidak
disesuaikan. Menggunakan data tersebut untuk data yang disesuaikan mungkin tidak sesuai, karena
perusahaan yang membentuk dasar Exhibit 18-8 juga harus disesuaikan, agar perbandingan yang
ada dianggap adil.

6. Z”-Score untuk DuPont, ICI dan Dow serta Implied Rating dari score nya, berdasarkan
Reported data pada 31 Desember 1994 disajikan dibawah ini. Data yang digunakan untuk
perhitungan dibawah ini berada pada Exhibit 18CS-1.
Variabel Z-Score DUPONT DOW ICI
6.56 (Working Capital/Total Assets) 0.6300 0.5128 1.7223
+ 3.26 (Retained Earnings/ Total Assets) 0.6544 1.0877 0.8494
+ 6.72 (EBIT / Total Assets) 0.9000 0.6554 0.4433
+ 1.05 (BV of Equity / Total Liabilities) 1.7827 1.6327 1.7144
3.25 3.2500 3.2500 3.2500
= Z"-Score 7.2172 7.2203 8.4244
Implied Rating (lihat Exhibit 18-9) AA AA AAA

Z”-Score untuk DuPont, ICI dan Dow serta Implied Rating dari score nya, berdasarkan
Current Cost data pada 31 Desember 1994 disajikan dibawah ini. Data yang digunakan
untuk perhitungan dibawah ini berada pada Exhibit 18CS-1.
Variabel Z-Score DUPONT DOW ICI
6.56 (Working Capital/Total Assets) 0.6155 0.5212 1.5508
+ 3.26 (Retained Earnings/ Total Assets) 0.5485 1.2327 0.7648
+ 6.72 (EBIT / Total Assets) 0.7543 0.7428 0.3992
+ 1.05 (BV of Equity / Total Liabilities) 1.8243 0.7012 1.3444
3.25 3.25 3.25 3.25
= Z"-Score 6.9825 6.4479 7.3092
Implied Rating (lihat Exhibit 18-9) AA- A- AA
Pada tabel dibawah ini disajikan ringkasan peringkat yang diperoleh menurut pertanyaan 4-6

Pertanyaan Sumber Data DUPONT DOW ICI


4 Reported AA/AA- A-/BBB+ A
5 Adjusted A+ BBB BBB
6 (a) Reported AA AA A-/BBB+
6 (b) Adjusted AA- A- BBB+

Perbandingan peringkat dari perusahaan yang dianalisis dalam kasus, Dupont menjadi yang
terbaik lalu diikui oleh DOW dan kemudian ICI. Pada setiap kasus, peringkat berdasarkan
adjusted data lebih rendah dibandingkan unadjusted data. Peringkat tersebut secara relatif
konsisten untuk setiap perusahaan yakni Dupont antara A dan AA, Dow dan ICI antara BBB dan
A.

7. Secara keseluruhan, adjustment menghasilkan penurunan pada peringkat perusahaan. Hal


tersebut disebabkan oleh dua faktor penting.
a. Off-balance sheet debt dimasukkan pada hutang perusahaan, hal ini menyebabkan kenaikan
pada risiko dan leverage nya.
b. Dengan meningkatkan nilai aset pada harga saat ini, penyebut dalam rasio (seperti yang
digunakan dalam analisis Z”-Score) meningkat dan rasio tersebut berkurang. Selain itu,
capitalized interest dibebankan, sehingga mengurangi bunga yang diperoleh dan rasio
profitabilitas.