Anda di halaman 1dari 5

Draft Revisi SPO IGD 2012 REVISI November 2012

TRIAGE

I. PENGERTIAN
1. Triage adalah suatu sistem untuk melakukan pemilahan pasien yang datang ke Instalasi Gawat
Darurat (IGD) berdasarkan kebutuhan pertolongan medisnya.
2. Bencana atau disaster menurut WHO merupakan segala kejadian yang menyebabkan kerugian,
gangguan ekonomi, kerugian jiwa manusia dan kemerosotan kesehatan dan pelayanan
kesehatan dengan skala yang cukup besar sehingga memerlukan penanganan lebih besar dari
biasanya dari masyarakat atau daerah luar yang tidak terkena dampak.
3. Tingkat kegawatan pasien dibagi dalam 5 level sesuai Canadian Triage and Acuity Scale
(CTAS) national guidelines:
a. Level I (resusitasi)
Pasien berada dalam keadaan kritis dan mengancam nyawa atau anggota badannya menjadi
cacat bila tidak segera mendapat pertolongan atau tindakan darurat. Pasien harus
diperiksa/ditangani oleh dokter segera. Contoh : henti napas/jantung (cardiac/respiratory
arrest), trauma mayor, keadaan syok, pasien tidak sadar (dengan GCS 3-9), distress
pernapasan berat (severe respiratory distress)
b. Level II (emergensi)
Pasien berada dalam keadaan gawat, akan menjadi kritis dan mengancam nyawa/fungsi
anggota badan bila tidak segera mendapat pertolongan atau tindakan darurat. Pasien harus
diperiksa/ditangani oleh dokter dalam waktu < 15 menit Contoh: perubahan status mental
(altered mental state), cedera kepala dengan GCS 10-13, trauma berat, neonatus (bayi < 7
hari berisiko hiperbilirubinemia, kelainan jantung kongenital yang tak terdiagnosis, sepsis
dan biasanya gejala klinis tidak jelas), trauma kimia pada mata, nyeri dada akut, overdosis,
nyeri abdomen akut yang hebat, perdarahan saluran cerna masif, stroke, gangguan
pernafasan berat dengan PO2 > 85 % (sesak atau serangan asma berat), dehidrasi berat,
demam > 38 oC (pada pasien immunocompromised, sepsis, anak usia kurang dari 3 bulan),
nyeri hebat, psikosis akut/gangguan psikiatri berat
c. Level III (urgensi)
Pasien berada dalam keadaan tidak stabil, dapat berpotensi menimbulkan masalah serius,
tetapi belum memerlukan tindakan darurat, dan tidak mengancam nyawa. Pasien harus
1|Departemen Medis
Draft Revisi SPO IGD 2012 REVISI November 2012

diperiksa/ditangani oleh dokter dalam waktu < 30 menit. Contoh: cedera kepala (GCS 14-
15, dapat disertai mual, muntah, nyeri ringan), trauma sedang (moderate trauma), serangan
asma ringan-sedang, sesak derajat ringan-sedang, perdarahan non masif, psikosis akut atau
usaha bunuh diri, nyeri akut.
d. Level IV (less urgent)
Pasien datang dengan keadaan stabil, tidak mengancam nyawa, dan tidak memerlukan
tindakan segera tetapi masih berpotensi menyebabkan perburukan atau komplikasi apabila
tidak ditangani dalam waktu 1-2 jam. Pasien harus diperiksa/ditangani oleh dokter dalam
waktu < 60 menit. Contoh: cedera kepala ringan (tanpa muntah dan tanda-tanda vital
normal), trauma minor/ringan, nyeri abdomen ringan, nyeri kepala ringan, nyeri telinga
(otitis media dan eksterna), benda asing di kornea (tanpa perubahan ketajaman visual),
chronic back pain, sakit ringan.
e. Level V (non-urgent)
Pasien datang dengan keadaan stabil, tidak mengancam nyawa, tidak memerlukan tindakan
segera, dan tidak berpotensi menyebabkan perburukan atau komplikasi. Pasien harus
diperiksa/ditangani oleh dokter dalam waktu < 120 menit. Contoh: nyeri tenggorok,
infeksi saluran napas atas, nyeri abdomen ringan yang kronik dan berulang, ganti verban,
permintaan rujukan, kontrol ulang, medical check up

II. TUJUAN
1. Agar setiap pasien yang datang ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) dapat segera tertangani
dengan cepat dan tepat sesuai dengan jenis kasus dan tingkat kegawatannya.
2. Tercapainya kinerja efektif, efisien, dan cepat dalam penanganan triage.

III.KEBIJAKAN
1. Setiap pasien yang datang ke IGD harus sudah dilayani oleh dokter sesuai dengan level
kegawatannya yaitu:
a. Level I (resusitasi): segera
b. Level II (emergensi): < 15 menit
c. Level III (urgensi): < 30 menit
d. Level IV (less urgent): < 60 menit
2|Departemen Medis
Draft Revisi SPO IGD 2012 REVISI November 2012

e. Level V (non-urgent): < 120 menit


setelah pasien datang ke IGD
2. Rumah sakit harus menyediakan minimal 1 tim penanggulangan bencana yang dibentuk oleh
RS setempat untuk memberikan pertolongan klinis akibat bencana yang terjadi
3. Kriteria pasien yang dilayani di IGD berdasarkan sistem triage, meliputi :
a. Pasien level I, II, III (true emergency) dan
b. Pasien level IV dan V (false emergency)

IV. PROSEDUR
1. Dokter jaga IGD segera menilai keadaan umum pasien saat datang untuk menilai tingkat
kegawatan dan penanganan selanjutnya.
2. Lakukan identifikasi pasien berdasarkan kasus (apakah terkait dengan kasus kebidanan /
umum), apabila berhubungan dengan kasus kebidanan maka pasien diantar ke Instalasi VK
(ruang bersalin) kecuali dalam kondisi kegawatan, pasien harus ditangani kegawatannya
terlebih dahulu.
3. Apabila pasien datang bersamaan dalam jumlah lebih dari 1 (satu) orang, lakukan penilaian
terhadap pasien untuk dapat ditentukan tingkat kegawatannya sesuai dengan level, sebagai
berikut :
 Level I : resusitasi
 Level II : emergensi
 Level III : urgensi
 Level IV : less-urgent
 Level V : non-urgent
4. Tangani terlebih dulu pasien dengan tingkat kegawatan lebih tinggi (urutan tingkat kegawatan:
level I, II, III, IV, V)
5. Apabila perawat dan dokter IGD sedang menangani pasien, kemudian datang pasien lain
dengan level kegawatan lebih tinggi maka segera tangani pasien baru tersebut terlebih dulu
dengan memberikan penjelasan mengenai keadaan tersebut kepada pasien yang sedang
ditangani.
7. Apabila pasien datang dengan jumlah besar, sedangkan kapasitas tempat tidur IGD terbatas
maka tempatkan pasien di ruangan lain yang memungkinkan untuk pemberian pertolongan.
3|Departemen Medis
Draft Revisi SPO IGD 2012 REVISI November 2012

8. Pada kasus tertentu yang memerlukan tindakan lebih lanjut, setelah diatasi kegawatannya,
pasien dikonsultasikan kepada dokter spesialis jaga terkait.
9. Setelah kondisi pasien stabil dan pasien memerlukan rawat inap, maka keluarga pasien diminta
untuk registrasi rawat inap
10. Dalam keadaan bencana (disaster) maka penderita atau korban diseleksi dengan cara sebagai
berikut:
a. Kenali dengan segera pasien yang berada dalam keadaan gawat darurat yang mengancam
jiwa.
b. Kelompokkan pasien sesuai dengan tingkat kegawatannya dengan memberikan label
berwarna sebagai berikut :
 Label Merah (segera/immediate)
Pasien level I dan II yang merupakan prioritas pertama pada penanganan.
Pertolongan diberikan segera pada saat ditemukan atau saat pertama pasien diterima.
Misal: tension pneumothorax, distress pernapasan, perdarahan internal vasa besar
 Label Kuning (tunda/delayed)
Pasien level III yang merupakan prioritas kedua pada penanganan. Pasien
kemungkinan memerlukan tindakan definitif dalam 4-6 jam tetapi tidak ada ancaman
jiwa segera. Misal: perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstremitas
dengan perdarahan terkontrol, luka bakar < 25%
 Label Hijau
Pasien level IV yang merupakan prioritas ketiga pada penanganan. Pasien hanya
mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari
pertolongan. Misal laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial. Pertolongan
dapat diberikan kemudian setelah prioritas 1 dan 2 dilakukan.
 Label Hitam
Pasien yang sudah meninggal, merupakan prioritas terakhir yang dilakukan pada
penanggulangan pasien gawat darurat.
c. Tentukan tujuan dimana pelayanan selanjutnya diberikan.
11. Dokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan terhadap pasien ke dalam lembar catatan
medis pasien rawat jalan / lembar catatan medis pasien terintegrasi rawat inap
12. Apabila pasien memerlukan rawat inap, pasien dipindahkan ke unit perawatan yang telah

4|Departemen Medis
Draft Revisi SPO IGD 2012 REVISI November 2012

ditentukan sesuai kondisi pasien.

V. UNIT TERKAIT
Bidang Pelayanan Medis / Bidang Keperawatan.

NB: SPO ini merupakan revisi dari SPO Triage No. Yanmed/SOP/30/03-S2P6 tanggal 3 Juli 2002

Referensi:

1. Canadian Association of Emergency Physicians (CAEP), Emergency Nurses Affiliation of


Canada (NENA), L’association des medecins d’urgence du Quebec (AMUQ). Implementation
Guidelines for The Canadian Emergency Department Triage and Acuity Scale (CTAS).
December 16, 1998. Diunduh dari: caep.ca/sites/default/files/caep/files/ctased16.pdf
2. Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS) national Guidelines. 2004. Diunduh dari:
www.calgaryhealthregion.ca/policy/docs/1451/Admission_over_capacity_AppendixA.pdf
3. Canadian Paediatric Triage and Acuity Scale:Implementation Guidelines for Emergency
Departments. 2001. Diunduh dari: http://www.cjem-online.ca/v3/n4/PaedCTAS/p4
4. Murray M, Bullard M, Grafstein E. Revisions to the Canadian Emergency Department Triage
and Acuity Scale Implementation Guidelines. In: Canadian Journal Emergency Medicine.
2004. Diunduh dari: http://www.cjem-online.ca/v6/n6/p421
5. Bullard MJ, Unger B, Spence J, Grafstein E. Revisions to the Canadian Emergency
Department Triage and Acuity Scale (CTAS) Adult Guidelines. In CJEM. 2008. Diunduh dari:
http://www.cjem-online.ca/v10/n2/p136
6. Warren DW, Jarvis A, LeBlanc L, Gravel J. Revisions to the Canadian Triage and Acuity Scale
Paediatric Guidelines (PaedCTAS). In CJEM. 2008. Diunduh dari: http://www.cjem-
online.ca/v10/n3/p224
7. Seri PPGD: Materi Teknis Medis Standar (ABCDE). Cetakan keempat. Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Depkes RI. 2009
8. Hospital Preparedness for Emergencies and Disasters. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan
Medik Depkes RI. 2007. Hal 13.
9. EIMED PAPDI: Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Buku I. Cetakan kedua. Januari 2012.
10. Standar Pelayanan Minimal Depkes. 2008.

5|Departemen Medis