Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH TUJUAN DAN AMAL USAHA NAHDLATUL ULAMA

Disusun Oleh :
1. Khoerul Umam (2018 01 05 012)
2. Bagus Ramadhan (2018 01 05 016)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA PURWOKERTO
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, atas kehendak-Nya kita dapat
merasakan nikmat yang tak terhingga di dunia ini sehingga kami
menyelesaikan makalah yang berjudul “Tujuan dan Amal Usaha Nahdlatul
Ulama” ini tepat waktu. Tak lupa Shalawat dan salam tetap tercurahkan
bagi Nabiyullah SAW yang telah meggulung tikar-tikar kejahiliyahan bagi umat
manusia dan menghamparkan permadani-permadani kebaikan bagi umatnya.
Dalam penulisan makalah, kami penulis tidak terlepas dari berbagai
hambatan, namun karena semangat serta motivasi dari berbagai kalangan sehingga
karya ilmiah ini dapat diselesaikan.
Terima kasih kepada Bapak Mukhlisin, M.Pd. selaku dosen mata kuliah
Aswaja An Nahdliyah yang telah memberikan kesempatan kami untuk dapat
membuat makalah sebagai tugas kelompok dari mata kuliah Aswaja An Nahdliyah
ini. Dan tak lupa diucapkan pula terima kasih yang tak terhingga kepada semua
pihak yang telah membantu penyusun makalah ini baik bersifat material maupun
non material. Disadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan sehingga kritik dan saran masih diperlukan untuk pengembangannya
lebih lanjut.
Akhirnya hanya kepada Allah kita memohon segala berkah dan rahmat serta
bimbingannya dalam mengerjakan sesuatu dan semoga segala niat dan suci serta
usaha yang sungguh-sungguh mendapat ridho di sisi -Nya Amin.

Purwokerto, 13 Januari 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 2
BAB III PENUTUP .................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
NU adalah organisasi keagamaan sekaligus organisasi kemasyarakatan
terbesar dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, mempunyai makna penting dan
ikut menentukan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, NU lahir dan berkembang
dengan corak dan kulturnya sendiri. Sebagai organisasi berwatak keagamaan
Ahlussunnah Wal Jama'ah, maka NU menampilkan sikap akomodatif terhadap
berbagai madzhab keagamaan yang ada di sekitarnya. NU tidak pernah berfikir
menyatukan apalagi menghilangkan mazdhab-mazdhab keagamaan yang ada. Dan
sebagai organisasi kemasyarakatan, NU menampilkan sikap toleransi terhadap
nilai-nilai lokal. NU berakulturasi dan berinteraksi positif dengan tradisi dan
budaya masyarakat lokal. Dengan demikian NU memiliki wawasan multikultural,
dalam arti kebijakan sosialnya bukan melindungi tradisi atau budaya setempat,
tetapi mengakui manifestasi tradisi dan budaya setempat yang memiliki hak hidup
di Republik Indonesia tercinta ini.
Sebagai warga negara Indonesia, terkhusus sebagai warga Nahdlatul ‘Ulama
alangkah baiknya kita mengetahui lebih dalam mengenai apa tujuan Nahdlatul
‘Ulama didirikan. Banyak hal yang bisa kita temukan dan kita kaji dalam
perkembangan organisasi ini sehingga kita dapat memetik segala hikmah kebaikan
yang bisa dijadikan motivasi dan semangat untuk kehidupan kita. Dalam Makalah
ini, penulis akan mencoba menguraikan sedikit tentang tujuan dan usaha amal
Nahdlatul ‘Ulama.

B. Rumusan masalah
1. Apa Tujuan Nahdlatul ‘Ulama didirikan ?
2. Apa saja Amal Usaha Nahdlatul ‘Ulama?

C. Tujuan
1. Mengetahui Tujuan Nahdlatul ‘Ulama didirikan
2. Mengetahui berbagai macam Amal Usaha Nahdlatul ‘Ulama
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tujuan Pendirian Nahdlatul Ulama


Nahdlatul Ulama (NU) adalah jamiyah yang didirikan oleh para kiai pengasuh
pesantren di Indonesia. Tujuan didirikannya NU di antaranya adalah: a)
memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam
Ahlusunnah wal-Jamaah dengan mengikuti pola madzhab empat: Imam Hanafi,
Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hanbali, b) mempersatukan langkah-langkah
para ulama dan pengikut-pengikutnya, dan c) melakukan kegiatan-kegiatan yang
bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan
ketinggian harkat serta martabat manusia. Demikian latar belakang berdirinya NU
dalam perspektif keorganisasian, seperti ditulis dalam mukaddimah Aswaja An-
Nadhiyyah halaman 1.
Sementara itu, berdirinya NU secara ideologis dan teologis juga tidak dapat
dilepaskan dari keprihatinan para kiai pesantren terhadap masuknya ajaran-ajaran
non Ahlusunah wal-Jamaah ke Indonesia yang mulai mengancam akidah umat.
Hadlratusysyaikh KH. Mohammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Risalah Ahlus-
Sunnah wal-Jamâ‘ah menyebutkan beberapa aliran yang mulai masuk dan
menyerang kaum Muslimin di Indonesia sejak tahun 1330 H. Di antaranya adalah
aliran Wahhabi dan gerakan pemikiran pembaharuan Muhammad Abduh dan
muridnya Muhammad Rasyid Ridha.
Tidak dapat dipungkiri bahwa liberalisme merupakan upaya westernisasi atau
pembaratan ideologi dan ajaran Islam. Liberalisme ini lahir dari rahim pemikiran
Muhammad Abduh dan Wahhabi. Gerakan pemikiran Wahhabi yang membuka
kran ijtihad seluas-luasnya telah menghilangkan otoritas para ulama mujtahid sejak
generasi salaf dan diganti dengan otoritas ijtihad individu tanpa memenuhi kriteria
dan persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan oleh para ulama.
Sementara Muhammad Abduh, dengan pemikirannya yang cenderung toleran
terhadap peradaban dan pemikiran Barat telah melahirkan tokoh-tokoh liberal
angkatan pertama dalam Islam pada abad 19 Masehi seperti Qasim Amin, Thaha
Husain, Muhammad Husain Haikal, Ali Abdirraziq dan lain-lain. Melalui tangan-
tangan mereka, wacana pemikiran kaum orientalis Barat yang anti Islam mulai
masuk ke dalam ranah pemikiran intelektual Muslim yang belajar di Mesir sejak
pertengahan abad 20 yang lalu. Tak ayal apabila di kemudian hari, liberalisme juga
menyerang ranah pemikiran kaum intelektual warga Nahdliyyin, yang seharusnya
menjadi benteng ASWAJA.

B. Amal Usaha Nahdlatul Ulama


1. Di Bidang Agama
Nahdlatul Ulama dalam perannya sebagai organisasi sosial keagamaan
sepanjang sejarahnya selalu berusaha melestarikan, membela dan
mengembangkan Islam yang berideologikan Ahlus Sunnah Wal-jama'ah.
Semantara pengertian Ahlus sunnah Wal-jama'ah adalah para penganut i'tikad
dan amaliyah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Sehingga semangat
NU dalam memperjuangkan Islam secara universal sudah tampak sebelum
bangsa Indonesia merdeka.
Ulama NU dalam rangka mewujudkan kondisi bangsa Indonesia yang
berdasarkan atas nilai-nilai agama untuk landasan berjuang melakukan banyak
upaya yang dilaksanakan seperti ulama NU menerima pancasila sebagai
falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara dan menempatkannya sebagai
azas tunggal, dimana pancasila tidak dapat menggantikan agama dan bukan
agama. Tetapi yang terpenting adalah mengamankan pengertian yang benar
terhadap pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen sesuai nilai-
nilai agama.
Akhirnya penerimaan pengamalan pancasila yang berasal dari NU,
merupakan perwujudan dari upaya umat Islam untuk melaksanakan syariat
agamanya. Sebagaimana sila ketuhanan yang maha Esa sebagai dasar negara
RI mencerminkan Tauhid menurut pengertian keimanan sesuai dangan pasal
29 ayat satu. Begitu juga agama-agama lain yang menerima pancasila sebagai
azas tunggal. Dan agama merupakan nilai-nilai yang berisi ajaran-ajaran yang
dijadikan Allah sebagai pedoman bagi manusia dunia akhirat. Demikian pula
dalam mengisi kemerdekaan, NU dengan peran keagamaannya mampu
menggalang persaudaraan tidak hanya umat seagama, tetapi juga dengan umat
yang berbeda agama dengan tetap menganut ukhuwah wathoniyah, dan dengan
memupuk dan mengembangkan kesadaran sebagai bangsa yang berBhineka
Tunggal Ika. Sehingga dimasa kemerdekaan, peran NU dibidang keagamaan
adalah:
1. Sudah mengusahakan terbukanya wawasan warga NU dalam sikap
beragama. Terbukti NU sebagai organisasi mampu menyesuaikan
diri dengan kelompok yang lain dan sudah mempelopori Pancasila
sebagai azas tunggal.
2. Agama sebagai ideologi dalam berjuang untuk kebaikan umat.
Misalnya agama sebagai sumber moral dalam semua aspek
kehidupan untuk bermasyarakat dan meraih kemerdekaan.

2. Di Bidang Pendidikan
Sejarah pergerakan NU sebetulnya adalah sejarah pendidikan nusantara.
Pohon organisasi NU sangat rimbun oleh lembaga-lembaga pendidikan seperti
pesantren, majelis ta’lim, diniyah dan madrasah/sekolah serta perguruan tinggi;
serta disokong sangat kuat oleh banyaknya akar-akar nahdliyyin dalam
masyarakat yang menjadi stakeholder-nya. Sebetulnya, dari pada jam’iyyah
(organisasi)-nya, jama’ah NU telah lebih dulu lahir. Sementara itu, jama’ah
nahdhiyah mempunyai tradisi khidmat al-ummat melalui berbagai jalur. Oleh
karena itu, organisasi NU merupakan fase formalisasi atau institusionalisasi
dari khazanah cultural muslim nusantara yang dibangun oleh para tokoh agama
yang berbasis pemikiran ‘Ahlussunnah wa al-Jama’ah’.
Pada awalnya, masyarakat Ahlussunnah tersebut membuat komunitas-
komunitas perjuangannya dengan beberapa topik atau spesifikasi gerakan.
Nahdlatul Wathan (1916) merupakan refleksi dari kesadaran politik, Nahdlatul
Tujjar (1918) sebagai awal dari kesadaran ekonomi dan Tashwirul Afkar
(1924) sebagai refleksi kuatnya budaya pikir. Akumulasinya adalah berdirinya
organisasi “Nahdlatul Ulama” pada tahun 1926. Kendati terdapat argumen
historis yang mengatakan, bahwa lahirnya NU merupakan reaksi terhadap arus
modernitas di dunia Islam (Timur Tengah) ketika itu.
Dalam rel pendidikan, NU merupakan salah satu lokomotif pembaharuan
pendidikan. Setahun setelah berdirinya, persisnya pada Muktamar Nahdlatul
Ulama II (1927), muktamirin mengagendakan penggalangan dana secara
nasional untuk mendirikan dan membangun madrasah dan pesantren. Pada
Muktamar Nahdlatul Ulama III (1928), elite NU memprakarsai gerakan peduli
pendidikan dengan mengajak para muktamirin untuk mengunjungi pesantren-
pesantren besar. Ketika itu, kunjungan dilakukan ke Tambak Beras yang
dipimpin KH. A. Wahab Hasbullah, ke Denanyar dipimpin oleh KH. Bisri
Syansuri dan ke Nganjuk dipimpin oleh K. Pathudin Seror Putih.
Pada Muktamar Nahdlatul Ulama IV (1929), panitia muktamar mengekspos
kecendrungan naiknya kuantitas dan kualitas pendidikan (data angka/statistik
tidak terlacak) yang mendorong para muktamirin untuk menyepakati
dibentuknya wadah khusus untuk menangani bidang pendidikan yang bernama
Hoof Bestur Nahdlatul Oelama (HBNO) Bidang Pendidikan yang ketuanya,
yaitu Ustazd Abdullah Ubaid, disebut presiden. Perkembangan selanjutnya
adalah terbentuknya Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama pada
Muktamar Nahdlatul Ulama ke-20 (1959) di Jakarta.
Dari arena muktamar ke muktamar, hingga Muktamar Nahdlatul Ulama XXX
(1999) di Kediri-Lirboyo Jawa Timur, NU tetap menjadikan sektor pendidikan
sebagai mainstream. Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama pada
25-28 Juli 2002 di Pondok Gede Jakarta menghasilkan “Taushiyah Pondok
Gede tahun 2002” yang mencoba mempertegas kembali posisi bidang
pendidikan untuk menjadi prioritas program NU. Untuk menafsirkan lebih
rinci, tak lama setelah itu --tepatnya pada 22-25 Agustus 2002 di kawasan
Puncak Batu, Malang, Jawa Timur-- diselenggarakan Rapat Kerja LP Ma’arif
NU dan Musyawarah Kerja Pergururuan Tinggi NU. Di forum tersebut, NU
kembali mematangkan format, strategi dan guidelines pengembangan
pendidikan di lingkungan NU. Dalam rumusan hasil Muktamar Nahdlatul
Ulama XXX (1999) disebutkan bahwa pendidikan bagi NU adalah upaya
mengembangkan individu manusia untuk menjadi manusia yang aktual yang
mampu mengemban fungsi khalifah di bumi. Sistem pendidikan yang
menekankan transfer pengetahuan maupun teknologi hanya merendahkan
derajat manusia, karena anak didik dipandang sebagai tabungan pengetahuan
dan teknologi, yang kelak nanti dapat digunakan untuk hidupnya, sedang
fungsi guru hanya sebagai alat pemindah pengetahuan dengan target-target
yang telah ditentukan pihak lain, bukan sebagai pendidik anak. Dalam praktik
pendidikan, NU menempatkan anak didik sebagai subjek pencari pengetahuan
dan pembentuk dirinya, melalui pengembangan seluruh intelegensianya,
sedang guru mempunyai tanggugjawab lebih bersifat sebagai pendidik bukan
hanya sebagai pengajar mata pelajaran, yang bertanggung jawab
berkembangnya kepribadian anak. Untuk itu campur tangan pemerintah yang
terlalu dalam terhadap proses pelaksanaan belajar anak harus dikurangi atau
dihilangkan, dan menempatkan guru sebagai pendidik yang punya otoritas
profesi.
Pendidikan adalah upaya memfasilitasi anak untuk menjadi dirinya sendiri
yang akan hidup dan membangun masyarakatnya kelak dalam kehidupan
masyarakat sipil yang beragam. Oleh karena itu sistem pendidikan nasional
harus memperkuat pendidikan demokrasi, memberi pengakuan pada
multikulturalisme, menghargai pendidikan lokal, dan menghapus dikotomi
antara pendidikan agama dan umum.

3. Di Bidang Sosial Budaya,


Peranan tokoh-tokoh NU dalam mensukseskan program mencerdaskan
generasi bangsa sangatlah besar, sebab pada tahun 1984, NU sudah memiliki
16.230 buah tempat pendidikan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan nilai
1.6 triliyun. Aset yang sangat besar ini terus dipertahankan bahkan akan
ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan NU.
Sebagai organisasi dakwah, NU memiliki 2 macam corak pendidikan yaitu
pendidikan formal dan non formal seperti pesantren, yang terdiri dari sekolah
umum, madrasa sampai perguruan tinggi. Dalam badan struktur organisasi NU
dibina oleh LP Maarif dan pondok pesantren dibina oleh RMI (Rabithah
Maahid Al Islamiyah). Kemudian pada tahun 1997 telah didirikan lembaga
kemaslahatan keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) sebagai kelanjutan dari
program Muslimat NU yang lebih dulu bergerak mengurusi masalah
kependudukan sejak tahun 1969.
Program-program LKKNU terutama ditujukan pada warga NU dan
lembaga-lembaga yang dimilikinya untuk merealisasikan maksudnya
sebagaimana telah tersebut diatas maka LKKNU kemudian menyelenggarakan
lokakarya tentang KB dan kependudukan dipesantren-pesantren. Pelatihan
para penyuluh KB yang sesuai dengan syariat agama Islam dan pelatihan guru,
serta mengadakan studi banding tentang pengembangan KB ke luar negeri
seperti, Mesir, Tunisia, Turki dan Filiphina.
Pada tahun 1995 NU sudah mendirikan Bank pengkreditan rakyat (BPR)
yang diberi nama NUSUMA UTAMA. Disamping itu NU juga memiliki
lembaga Lajnah Taklif wannasyir sebagai lembaga yang menangani
perkembangan penulisan karangan, buku, kitab, dan penerbitan-penerbitan
lainnya.

4. Di Bidang Ekonomi,
PBNU berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan Nahdliyin dalam
bidang ekonomi. Ekonomi Nahdliyin kebanyakan di sektor-sektor informal
dan masih menengah ke bawah seperti pedagang kecil, petani, nelayan, dan
lainnya. Kita terus dorong mereka agar bisa naik ke level menengah.
Dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan juga
meningkatkan mutu kualitas hasil produksinya. Misalnya, kalau dulu
menggunakan plastik biasa dalam mengemas produk, sekarang bisa
menggunakan plastik yang menarik. Pengolahannya dan hasilnya juga
dibaguskan. Sehingga nilainya juga akan lebih bagus juga.
Distribusi hasil produksi juga harus diperluas. Kalau dulu hanya dijajakan
di kampungnya saja, sekarang bisa dipasarkan kemana-mana dan murah
dengan menggunakan internet seperti toko online di website ataupun media
sosial.

Selain itu, pemerintah juga harus berpihak dengan mengeluarkan


kebijakan-kebijakan yang pro terhadap pelaku ekonomi menengah ke bawah
tersebut agar mereka bisa meningkat. Saat ini, kesenjangan di Indonesia cukup
memprihatinkan. Kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang
saja. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah, yaitu bagaimana kekayaan
kita tidak hanya dikelola oleh segelintir orang saja dan bisa dinikmati oleh
masyarakat. Karena negeri ini dibangun dalam rangka untuk mensejahterakan
masyarakatnya.

5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU


berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Secara umum tujuan Nahdlatul Ulama didirikan adalah Menegakkan
ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah
kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
2. Amal Usaha Nahdaltul Ulama ialah :
a. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan
meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat
persatuan dalam perbedaan.
b. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai
dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa,
berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya
Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah
tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
c. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta
kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
d. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk
menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan
berkembangnya ekonomi rakyat. Hal ini ditandai dengan lahirnya
BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu
masyarakat.
e. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_%27Ulama#Usaha Diakses pada tanggal


12 Januari 2019.