Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu masalah di bidang urologi yang dapat terjadi dalam semua

fase kehidupan manusia adalah penyumbatan atau obstruksi saluran kemih .

Obstruksi dapat terjadi di sepanjang traktus urinarius bagian atas yaitu mulai

urethra,ginjal, atau saluran kemih bagian bawah saat terjadi obtruksi dapat

menyebabkan hidronefrosis, sebuah kondisi dimana terjadi dilatasi pelvis atau

kaliks ginjal. Terjadinya obstruksi dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis

yang berakibat pada dilatasi pelvis ginjal. Kejadian hidronefrosis merupakan

kasus yang cukup banyak terjadi. Singh et al.(2012) mengatakan dari 59.064

orang yang diautopsi ditemukan 3.1% kasus hidronefrosis pada kelompok umur

neonatus sampai geriatri.

Hidronefrosis adalah dilatasi pelvis ureter yang dihasilkan oleh obstruksi

aliran keluar urin oleh batu atau kelainan letak arteria yang menekan ureter

sehingga pelvis membesar dan terdapat destruksi progresif jaringan ginjal

(Gibson, 2003). Hidronefrosis adalah pembesaran ginjal akibat tekanan balik

terhadap ginjal karena aliran air kemih tersumbat. Hidronefrosis adalah obstruksi

saluran kemih proksimal terhadap kandung kemih yang mengakibatkan

penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter serta atrofi pada

parenkim ginjal (Price, 2001). Dalam keadaan normal, air kemih mengalir dari

ginjal dengan tekanan yang sangat rendah. Jika aliran air kemih tersumbat, air

kemih akan mengalir kembali ke dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam

daerah pelvis renalis. Hal ini akan menyebabkan ginjal menggembung dan

menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhinya, tekanan hidronefrosis yang

menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan ginjal

akan kehilangan fungsinya.


Hidronefrosis juga mengakibatkan proses disfungsi endotel dan

perubahan struktur ginjal seperti terjadi fibrosis intersitial, atrofi tubulus ginjal,

apoptosis dan inflamasi intersitial aktifasi myofibroblast interstitial dan deposit

matriks ekstraseluler (Picard et al., 2008; Zhao et al., 2013). Adanya perubahan

Patologis tersebut dapat menurunnya aliran darah ke ginjal dan laju filtrasi

glomerulus yang berakibat pada gangguan fungsi ginjal. Jika hal tersebut terus

berlangsung maka akan menyebabkan fungsi utama dari nefron ginjal berkurang

dengan signifikan.

Selain pada manusia kondisi patologis yang berakibat hidronefrosis cukup

umum terjadi di hewan terutama hewan kesayangan. Sebagai contoh di Amerika

Serikat prevalensi dari penyakit ginjal tersebut diperkirakan sebesar 1,6 - 20%

untuk hewan kesayangan (anjing dan kucing). Anjing dengan umur kurang 7

tahun memilik resiko terkena penyakit ini sebesar 0.3% dan pada anjing dengan

umur lebih dari 7 tahun beresiko sekitar 0.7 - 2.9%. Pada kucing, dengan umur

kurang dari 7 tahun memiliki resiko terkena penyakit ini sebesar 0.2 - 0.6% dan

untuk kucing berumur lebih dari 7 tahun resikonya meningkat hingga 1.8 - 8.6%

(Francey dan Ariane, 2008; Kirk, 2000).

Hidronefrosis dapat menginisiasi perubahan struktur ginjal. Pada saat

terjadi proses perubahan struktur ginjal maka salah satu reaksi awal yang terjadi

adalah inisiasi inflamasi yang jika pada fase tertentu maka akan terjadi fibrosis

jika jaringan tidak dapat kembali normal. Pada proses ini terdapat aktivasi

molekul profibrotik dan antifibrotik. Molekul fibrotik yang aktif antara lain adalah

angiotensin II, nuclear factor-kappaB (NFĸB), tumor necrosis factor alfa (TNF-α)

,transforming growth factor-beta (TGF-ß), CTGF, PDGF, FGF, PAI-

1,protease,endotheline-1, kimokin dan molekul adhesi. Sedangkan molekuler

antifibrotik yang aktif yaitu HGF, BMP-7, VEGF dan angiopoetine yang
diproduksi oleh sel tubulus dan interstisial ginjal atau dihasilkan oleh makrofag

(Singh et al., 2012).

Pada kondisi meningkatnya molekul fibrotik dan antifibrotik sistem renin-

angiotensin-aldosetron juga berperan. Meningkatnya ekspresi TNF-α dan NF-κB

akan dipengaruhi pula oleh sistem angiotensin-aldosteron. Pada kondisi

inflamasi organ ginjal ekspresi TNF-α dapat menyebabkan terjadinya apoptosis

pada apoptosis pada sel ginjal (Grande et al., 2010). TNF-α merupakan sitokin

yang diaktifasi oleh sistem imun di saaat terjadi proses inflamasi. Fungsi TNF-α

adalah untuk menyebabkan terjadinya sitotoksisitas pada sel melalui berbagai

macam pathway. Dalam menjalankan fungsinya TNF-α akan berinteraksi dengan

reseptor yang berada pada membran sel dan akan menstilmulasi degradasi

proteolitik pada sel yang berinterkasi tersebut. TNF-α memiliki peran pada saat

terjadinya inflamasi sistemik dan merupakan kelompok sitokin menjadi stimulan

reaksi fase akut inflamasi yang terutama dihasilkan oleh makrofag atau sel-sel

lain. Fungsi TNF-α adalah meningkatkan proses remodelling jaringan yang

mengalami trauma dengan menstimulasi pertumbuhan fibroblast.

Molekul fibrotik lain yang akan aktif pada saat proses hidronefrosis adalah

TGF-ß .Pada proses hidronefrosis dimana terjadi inflamasi pada sel-sel ginjal

akan terinfiltrasi oleh makrofag akibat adanya respon inflamasi. Proses tersebut

akan menstimulasi sintesis TGF-ß pada ginjal dimana sintesisnya terjadi pada sel

epitel tubulus ginjal dan fibroblast intersitial sel ginjal. Transforming Growth

Factor-β (TGF- β) adalah regulator utama dari renal fibrosis (Terashima et al.,

2014). Sehingga TGF-β akan mengalami peningkatan ekspresi ketika terjadi

proses inflamasi pada ginjal, dimana hal teresbut merupakan salah satu efek dari

terjadinya obstruksi saluran kemih.

Transforming Growth Factor-β1 disekresi dalam bentuk laten, yang

diaktifkan lebih dahulu sebelum berikatan dengan reseptornya. Suatu reaksi


inflamasi dapat menyebabkan pelepasan secara lokal TGF-β1 dan sitokin

fibrogenik lainnya seperti matrix metalloproteinases(MMPs) dan fibroblast growth

factor-2 (FGF-2). Pada kejadian obstruksiini dapat meningkatkan sintesis tissue

inhibitors ofmetalloproteinases(TIMPs) yang dapat menurunkan aktifitas MMPs

dan akan meningkatkan akumulasi matriks extraseluler(Singh et al., 2012).

Pada saat ini, pengobatan yang dilakukan adalah dengan memberikan

obat yang dapat mempengaruhi aksirenin angiotensin aldosteron, kelompok obat

itu dari golongan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-i) dan

angiotensin II receptor blocker (ARB) yang keduanya digunakan sebagai terapi

hipertensi. Pemberian ACE-i atau ARB dapat mengurangi ekspresi TGF-ß1,

menurunkan produksi matriks ekstraseluler, aktifasi NF-ĸB dan proliferasi

fibroblast yang berujung pada fibrosis. ACE-i hanya dapat mengurangi produksi

TNF-α dan NF-κB yang dipengaruhi oleh angiotensin converting enzyme,

sementara itu ARB memiliki efek pada semua level yang dipengaruhi angiotensin

II (Klahr et al., 2003). Penelitian Wu et al. (2010) menyimpulkan bahwa

angiotensin II receptor blocker (ARB) dan aliskiren meningkatkan perlindungan

ginjal terhadap fibrosis dan peradangan selama 14 hari obstruksi pada ureter

tikus wistar.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah pemberian Angiotensin II receptor blocker (ARB) dan ACE

inhibitor pada tikus model obstruksi urethra dapat berpengaruh pada ekspresi

TNF-α dan TGF-ß serta gambaran histologis ginjal?

1.3 Sub Masalah

1. Apakah tikus model obstruksi urethra mengalami perubahan histologis pada

jaringan ginjal?
2. Apakah pemberian terapi Angiotensin II receptor blocker ARB dan ACE

inhibitor dapat memperlambat kerusakan jaringan ginjal tikus model hidronefrosis

3. Apakah pemberian terapi Angiotensin II receptor blocker ARB dan ACE

inhibitor dapat menurunkan ekpresi TNF-α pada jaringan ginjal model

hidronefrosis

4. Apakah pemberian terapi Angiotensin II receptor blocker ARB dan ACE

inhibitor dapat menurunkan ekpresi TGF-ß pada jaringan ginjal model

hidronefrosis

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh kombinasi Angiotensin II receptor blocker ARB dan

ACE inhibitor terhadap gambaran histologis jaringan ginjal tikus model onbstruksi

urethra/hidronefrosis.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk membuktikan efek pemberian Angiotensin II receptor blocker ARB dan

ACE inhibitor dapat menghambat kerusakan jaringan pada ginjal tikus model

hidronefrosis

2. Untuk membuktikan adanya hubungan antara kombinasi pemberian dan lama

terapi Angiotensin II receptor blocker ARB dan ACE inhibitor terhadap

kerusakan jaringan ginjal tikus model hidronefrosis.

3. Untuk membuktikan adanya peningkatan ekspresi TNF-α dan TGF-β pada

jaringan ginjal tikus model hidronefrosis.

4. Untuk membuktikan bahwa terapi Angiotensin II receptor blocker ARB dan

ACE inhibitor dapat menurunkan ekspresi TNF-α dan TGF-β pada jaringan

ginjal tikus model hidronefrosis.


1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi lanjutan mengenai

pengaruh pengobatan Angiotensin II receptor blocker ARB dan ACE inhibitor

terhadap kerusakan jaringan ginjal yang terjadi akibat hidronefrosis.

1.5.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat menjadi informasi bagi masyarakat dan praktisi

kesehatan mengenai efek terapi Angiotensin II receptor blocker ARB dan ACE

inhibitor agar dapat menjadi alternatif terapi pada penyakit ginjal akut atau fase

awal.