Anda di halaman 1dari 6

Dampak Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH)

Terhadap Daerah 3T (Terluar, Tertinggal, dan Terdepan)

Luthfi Anandhika1 (1806154904)


1
Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Abstrak. Listrik adalah salah satu elemen yang paling dibutuhkan dalam kehidupan untuk setiap
kegiatan dan produktivitas. Di sisi lain, tidak ada listrik adalah masalah klasik yang terjadi pada
daerah terpencil yang disebabkan oleh tidak adanya pasokan listrik oleh agen pemerintah. Kita
dituntut untuk mengatasi masalah berdasarkan ketersedianya sumber daya yang ada, seperti air,
panas bumi, angin, matahari, dll. Sebuah sistem kecil menggunakan aliran air untuk
menghasilkan sistem listrik yang dikenal sebagai microhydro telah dikembangkan pada beberapa
daerah – daerah 3T ( tertinggal, terdepan dan terluar ) di Indonesia. Hasil dari penelitian ini
menunjukan terdapat dampak langsung maupun tidak langsung atas pengembangan pembangkit
listrik tenaga mikrohidro pada daerah 3T.

Kata Kunci: Daerah 3T, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, Dampak PLTMH

1. Pendahuluan
Energi merupakan salah satu bagian dari kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Semakin maju
suatu negara, semakin besar energi yang dibutuhkan. Berdasarkan pengadaan energi dunia, saat ini
minyak dan gas masih mendominasi sebagai sumber utama energi. Sumber migas sangat terbatas dan
diperkirakan akan segera habis. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan solusi sumber
energi alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti migas untuk dapat dimanfaatkan bagi
kemaslahatan hidup dan produktivitas masyarakat. Meningkatnya kebutuhan akan energi listrik untuk
menopang pertumbuhan ekonomi utamanya akses listrik di daerah 3T (Terdepan,Terluar, Tertinggal)
menjadi perhatian seluruh pihak. Pembangunan listrik di daerah 3T dimaksudkan untuk mendorong
kegiatan ekonomi serta kesejahteraan. Disamping mendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan
listrik juga ditujukan untuk meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Negara Indonesia yang berada pada garis katulistiwa memiliki daratan dengan ditumbuhi hutan
belantara. Selain itu juga terdapat gunung atau pegunungan yang di dalamnya aliran-aliran sungai dari
hulu ke hilir sampai kelaut. Wilayah Indonesia dengan kekayaan berbagai sumber daya alam merupakan
tantangan tersendiri bagi para peneliti lokal untuk melakukan pengkajian atau penelitian. Salah satu
bidang kajian yang menarik adalah bagaimana mengembangkan dan mengoptimalkan sumber energi
alternatif. Sumber energi alternatif yang banyak dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga
mikrohidro (PLTMH). PLTMH atau Mikrohydro dapat beroprasi jika memiliki daerah aliran sungan
dengan beberapa parameter yang dipersyaratkan untuk mampu membangkitkan energi listrik. Parameter
tersebut diantaranya debit air, beda ketinggian/potensial antara sumber air dan kincir, konstruksi serta
hal-hal teknis terkait titik jatuh air dll. Salah satu yang paling utama tentu adalah keberadaan
sumber/energi air yang mampu menggerakkan kincir untuk kemudian oleh generator diubah menjadi
energi listrik.
Penelitian ini memetakan dampak dari pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro pada
daerah 3T dengan melakukan analisa kuantitatif dan deskriptif atas literatur yang relevan pada bidang
tersebut sehingga dapat diketahui dampak – dampak dari pengembangan pembangkit listrik tenaga
mikrohidro secara langsung maupun tidak langsung.

2. Tinjauan Pustaka

2.1. Pembangkit Listrik Mikrohidro


Pembangkit Listrik Tenaga Mikro (dari air yang berarti air dan mikro yang berarti skala kecil) mengacu
pada energi listrik yang berasal dari kekuatan air yang digunakan untuk menggerakkan rumah tangga
atau desa kecil. Sistem mikrohidro dapat dianggap sebagai sumber energi terbarukan yang dihasilkan
dari siklus hidrologi alami, hal ini oleh beberapa dianggap berkelanjutan karena kurangnya volume air
dan dianggap dampak lingkungan yang dapat diabaikan. Ditinjau dari kapasitas pembangkit ini memiliki
kemampuan produksi kuarang dari 1 MW.
Pembangkit tenaga listrik mikrohidro pada prinsipnya memanfaatkan beda ketinggian dan jumlah
debit air perdetik yang ada pada aliran air irigasi, sungai atau air terjun. Aliran air ini akan memutar
poros turbin sehingga menghasilkan energi mekanik. Energi ini selanjutnya menggerakkan generator
dan menghasilkan energi listrik. Menurut Ishelina Rosaira and Wati Hermawati (2014) Energi mekanik
dari putaran poros turbin akan diubah menjadi energi listrik oleh sebuah generator.

Gambar 2.1 Komponen dasar Pembangkit Listrik Tenaga Air


Sumber: https://science.howstuffworks.com/

Komponen utama PLTMH adalah air, rumah turbin, turbin, dan generator. Dari generator akan
dihasilkan energi listrik yang akan masuk ke sistem kontrol arus listrik, yang kemudian dialirkan ke
rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban). Pada saat ini mekanisme penjualan listrik dari PLTMH
terbagi menjadi Off-grid (dijual/digunakan langsung ke masyarakat) dan On-grid (dijual ke PLN).
Belum terlaksananya perluasan jaringan listrik oleh PLN, memberikan kesempatan kepada masyarakat
dan pemangku kepentingan terkait untuk mengadopsi PLTMH sebagai salah satu alternatif teknologi
penghasil listrik.

2.2. Daerah 3 T (Terdepan,Terluar, Tertinggal)


Perpres RI Nomor 131 Tahun 2015 tentang daerah tertinggal tahun 2015-2019 Pasal 1 yaitu :
1. Daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang
berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional.
2. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembangunan
tertinggal.
Pasal 2 :
1. Suatu daerah ditetapkan sebagai daerah tertinggal berdasarkan kriteria :
a. Perekonomian masyarakat;
b. Sumber daya manusia;
c. Sarana dan prasarana;
d. Kemampuan keuangan daerah;
e. Aksesibilitas; dan
f. Karakteristik daerah;
Menurut iDokman Marulitua Situmorang and Rissa Ayustia (2019) Terbatasnya teori-teori
pendukung tentang daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) mengambil suatu kesimpulan baik itu
berdasarkan temuan-temuan fenomena dan permasalahan yang didapat dari hasil survei dan observasi
daerah tujuan penelitian. Daerah merupakan suatu wilayah yang bisa dikatakan bahwa kawasannya dan
batasan wilayahnya sudah ditentukan oleh suatu pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku baik
itu berupa peraturan daerah atau perautaran pemerintah pusat. Daerah 3T (Terdepan, Terluar,
Tertinggal) merupakan daerah yang memiliki kondisi wilayah yang berbatasan langsung dengan negara
lain, dan daerah tersebut memiliki karakteristik kurang lengkapnya sarana dan prasarana dari
infrastruktur baik itu infrastruktur umum dan kesehatan. Daerah 3T identik dengan perbatasan,
pertumbuhan ekonomi yang rendah namun ada beberapa faktor-faktor yang menjadikan daerah itu
disebut daerah 3T, yaitu :
1. Tidak memiliki infrastruktur umum seperti jalan aspal atau beton yang baik, listrik dan air bersih.
2. Tidak memiliki kelengkapan pelayanan kesehatan baik itu puskesmas dan rumah sakit umum.
3. Memiliki batas wilayah yang langsung berbatasan dengan negara lain.
4. Memiliki transaksi jual dan beli barang dengan 2 mata uang yang saling berbatasan.

3. Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan analisis secara deskriptif.
Penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti masalah-masalah yang membutuhkan studi yang
mendalam seperti studi perilaku, motivasi, persepsi, dan dampak. Menurut Kayupa (2015) Analisis
deskriptif digunakan untuk mengkaji dan menguraikan semua faktor pengaruh atau dampak kondisi
sosial yakni tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, dan tingkat keamanan, serta kondisi ekonomi yakni
tingkat pendapatan, tingkat tenaga kerja dan tingkat kesejahteraan. Metode penelitian yang digunakan
yaitu pengumpulan data melalui studi literatur dari artikel ilmiah serta situs terpercaya yang relevan
dengan penelitian.

4. Hasil dan Pembahasan


Menurut iDokman Marulitua Situmorang and Rissa Ayustia (2019) Pembangunan pada Pengembangan
infrastruktur sangatlah penting, hal itu karena infrastruktur baik itu jalan, air bersih dan listrik
merupakan salah satu roda perekonomian pada setiap daerah, terutama di daerah 3T. Pembangunan dan
pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro pada daerah 3T merupakan program yang cukup
vital untuk menunjang berbagai aspek. Menurut Robby (2011) kondisi ini dapat dilihat dari kegiatan
atau aktivitas masyarakat di bidang ekonomi berupa tumbuh dan berkembangnya industri rumah tangga,
di bidang sosial berupa aktivitas-aktivitas social kemasyarakatan, dan bidang budaya berupa makin
panjangnya waktu belajar bagi anak-anak sekolah di rumah pada malam hari, dan juga memberikan
kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi dari luar. Berangkat dari hal tersebut dampak
PLTMH dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
1. Dampak Langsung
Hal ini adalah kondisi saat listrik dapat teraliri langsung ke masyarakat sekitar.
2. Dampak Tidak Langsung
Efek dari dampak langsung yang berakibat pada perubahan – perubahan mulai dari ekonomi,
Pendidikan hingga sosial.
4.1. Dampak Langsung

4.1.1. Masyarakat mendapatkan aliran lisrik.


Penelitian yang dilakukan Sunardi (2017) menjelaskan ini membangun suatu system mikrohidro
sebagai solusi penyediaan listrik di Kawasan terpencil pada daerah Kabupaten Wonosobo. Listrik
digunakan pada tahap awal untuk penerangan dan tahap selanjutnya untuk optimalisasi unit-unit usaha
masyarakat seperti peternakan ayam, peternakan kambing, kolam dll. Dengan kasus tersebut dipastikan
saat pembangunan dan pengoprasian PLTMH penerima listrik utama adalah masyarakat sekitar.

4.2. Dampak Tidak Langsung

4.2.1. Petumbuhan Pendidikan


Penelitian yang dilakukan Kali (2011) menjelaskan listrik pedesaan sebagai penerangan dapat
meningkatkan kegiatan aktifitas belajar anak – anak usia sekolah karena waktu belajar semakin lama
dan ditunjang oleh fasilitas (lampu) yang menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk
meingkatkan mutu pendiidkan. Menurut Ishelina Rosaira and Wati Hermawati (2014) Di bidang
pendidikan, listrik PLTMH memberikan manfaat besar bagi anak - anak usia sekolah untuk belajar
dengan penerangan (lampu) yang lebih terang dan baik. Dengan listrik, jam belajar anak-anak menjadi
lebih lama, sehingga prestasi belajar anak meningkat. Penelitian yang dilakukan Rahmad Deddy Setiadi
and Nur Aidar (2016) korelasi antara pendidikan (lama jam belajar) sebelum dan sesudah Pembangkit
Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah sangat kuat. Sehingga dalam hal Pendidikan listrik dari
PLTMH sangat baik untuk menunjang pertumbuhan semangat belajar.

4.2.2. Pertumbuhan Ekonomi


Penelitian yang dilakukan Kali (2011) menjelaskan listrik pedesaan dapat meningkatkan kegiatan
produktif pada bidang kegiatan kios, warung, industri kecil dan rumah tangga. Menurut Ishelina Rosaira
and Wati Hermawati (2014) penggunaan listrik di tingkat masyarakat antara lain terjadinya peningkatan
keahlian individu, pengetahuan, ketersediaan lapangan kerja, dan adanya perubahan kebutuhan
konsumsi kearah yang lebih sehat. Penelitian yang dilakukan Rahmad Deddy Setiadi and Nur Aidar
(2016) Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berpengaruh signifikan terhadap
pendapatan.

4.2.3. Perbaikan Kesehatan


Menurut Arnaiz, Cochrane, Hastie, and Bellen (2018) masalah kesehatan yang dihasilkan oleh
sumber cahaya tradisional sangat berkurang. Diet ditingkatkan dengan menggunakan lemari es dan
metode memasak yang lebih baik. Hasil penelitian Kayupa (2015) fasilitas dan pelayanan kesehatan
seperti puskesmas dan rumah sakit sebagai dampak dari pembangunan PLTMH.

4.2.4. Perubahan Sosial


Menurut Kayupa (2015) Dampak sosial dan ekonomi yang timbul dari pembngunan PLTA Sulewana
adalah tingkat sosial dan ekonomi meningkat cukup signifikan yaitu sebesar 79.30 % terlihat dari tingkat
pendidikan, kesehatan, bahkan pendapatan yang membaik pada masyarakat di Desa Sulewana.
Penelitian yang dilakukan Kali (2011) listrik pedesaan sebagai penerangan aktivitas sosial masyarakat
akan meningkat yaitu: a) Kegiatan pengajian dan bersanji, b) Kegiatan olah raga, c) Kegiatan Arisan,
dan d) Kegiatan penyuluhan keluarga berencana ( KB ). Menurut Ishelina Rosaira and Wati Hermawati
(2014) dari segi sosial dan budaya, masuknya listrik PLTMH ke desa ini juga telah menyebabkan
terjadinya perubahan perilaku masyarakat. Di satu sisi, terjadi pemantapan kehidupan beragama, karena
kegiatan keagamaan banyak dilakukan di malam hari dan cenderung adanya peningkatan kegiatan
pengajian serta diskusi - diskusi keagamaan di masjid atau mushola pada malam hari. Di sisi yang lain,
perubahan pola konsumsi dan gaya hidup juga terjadi untuk sebagian masyakarat. Sekitar 10%
responden menyatakan bahwa pola hidup mereka sangat dipengaruhi oleh tayangan televisi. Televisi
telah membawa perubahan tersebut, yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai gaya hidup orang
kota. Pola hidup konsumtif ini membawa dampak negatif terhadap kebiasaan menabung masyarakat.

Berdasarkan kajian dari literatur tersebut dibuatlah sebuah pemetaan dengan tabel untuk mengetahui
dapak apa saja yang terjadi dari kajian tersebut sehingga dapat ditarik kesimpulan atas pengembangan
PLTMH pada daerah 3T, adapun permetaan kajian tersebut sebagai berikut:

Tabel 4.1 Dampak PLTMH pada daerah 3T

(Rahmad Deddy Setiadi & Nur Aidar, 2016)


(Arnaiz, Cochrane, Hastie, & Bellen, 2018)

(M. Kudeng Sallata, Hunggul Yudono SHN,


........................................................................

(Ishelina Rosaira & Wati Hermawati,


........................................................................
........................................................................
....................................REFERENSI ....
.........................................................

& Abd. Kadir W, 2015)


.........................................................

(Siraj & Khan, 2019)


......................................................

(Sunardi, 2017)
(Kayupa, 2015)

(Robby, 2011)
.........DAMPAK..............................
(Kali, 2011)

.............................
2014)

Dampak Langsung

Masyarakat mendapatkan aliran Listrik

- Penerangan Rumah √ √ √ √ √ √ √ √ √
- Penerangan Lingkungan √ √ √ √ √ √ √
Dampak Tidak Langsung

Pertumbuhan Pendidikan √ √ √ √ √ √
Pertumbuhan Ekonomi

- Kenaikan Pendapatan √ √ √ √ √ √ √ √ √
- Pertumbuhan Tenaga Kerja Aktif √ √ √ √ √ √ √ √
Perbaikan kesehatan √ √
Sosial √ √ √ √ √ √ √ √
Sumber: Olah data penulis 2019

5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian dari beberbagai literatur menjelaskan bahwa pengembangan pembangkit listrik
mikrohidro pada daerah 3T memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan Pendidikan,
pertumbuhan tenaga kerja aktif, pertumbuhan pendapatan, perubahan sosial, dan lingkungan sekitarnya.
Sehingga dalam hal ini pengimplementasian PLTMH pada daerah 3T adalah program yang sangat baik
dalam kontribusi mencapai pertumbuhan pada sektor – sektor vital.
Referensi

Arnaiz, M., Cochrane, T. A., Hastie, R., & Bellen, C. (2018). Micro-hydropower impact on
communities' livelihood analysed with the capability approach. Energy for Sustainable
Development, 45, 206-210. doi:10.1016/j.esd.2018.07.003
iDokman Marulitua Situmorang, & Rissa Ayustia. (2019). Model Pembangunan Daerah 3T: Studi Kasus
Daerah Perbatasan Kabupaten Bengkayang. MBIA, Vol. 18, No. 1, April 2019.
doi:10.33557/mbia.v18i1.321
Ishelina Rosaira, & Wati Hermawati. (2014). Dampak Listrik PLTMH Terhadap Kehidupan Sosial
Ekonomi Masyarakat Di Dusun Gunung Sawur, Desa Sumber Rejo, Candipuro, Lumajang.
Prosiding Konferensi dan Seminar Nasional Teknologi Tepat Guna Tahun 2014.
Kali, A. (2011). Analisis Program Listrik Pedesaan Dalam Meningkatkan Aktivitas Sosial Masyarakat
Di Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi. Palu: pascasarjana untad palu.
Kayupa, O. O. (2015). Dampak Sebelum Dan Sesudah Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air
(PLTA) Terhadap Kondisi Sosial Dan Ekonomi Masyarakat Di Desa Sulewana Kecamatan
Pamona Utara Kabupaten Poso. e-Jurnal Katalogis, Volume 3 Nomor 11, Nopember 2015 hlm
217-227.
Rahmad Deddy Setiadi, & Nur Aidar. (2016). Dampak Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
(PLTMH) Terhadap Perekonomian Masyarakat Di Kecamatan Lhoong Aceh Besar. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa (JIM), Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah,
Volume 1 Nomor 1, Agustus 2016. Hal. 188-198.
Robby, R. (2011). Dampak Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Terhadap Kegiatan
Ekonomisosial Dan Budaya Masyarakat Di Desa Pantok Kecamatan Nanga Taman Kabupaten
Sekadau.
Sunardi, S. (2017). Mikrohidro Untuk Solusi Daerah Terpencil. Conference SENATIK STT Adisutjipto
Yogyakarta, 3. doi:10.28989/senatik.v3i0.124