Anda di halaman 1dari 9

NAMA KELOMPOK:

1. HaninDhita Hutami (1810105124)

2. Milenia Alya Puspita (1810105103)

3. Farhana Nur Handiyani (1810105106)

4. Siti Nur Kuranil (1810105108)

5. Diah Ayu Safitri (1810105110)

6. Lili Linda Warmita (1810105121)


Kata pengantar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia-Nya, kami
dapat menuyusun makalah “Syirik Modern”. Makalah ini disusun untuk memenuhi
penugasan mata kuliah Kemanusian dan Keimanan. Atas tersusunya makalah ini, kami
menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Ibu Islamiyatur Rokhmah., S.Ag.,M.S.I
selaku dosen pembimbing mata kuliah Kemanusian dan Keimanan.

Terlepas dari semua itu,kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat, tata bahasanya dan karena keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman kami. Oleh karena itu dengan terbuka kami menerima segala saran dan kritik
dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini, untuk kedepannya agar lebih
menyempurnakan lagi dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Syirik Modern” ini dapat
memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 15 Oktober 2018

Penyusun
A. Pengertian Syirik Modern

Syirik dalam bahasa arab adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan) yang berasal dari
kata kerja: syarakha—yashrukhu ---syarkhan artinya menjadikan sekutu baginya. Syirik
adalah perbuatan menyekutukan allah dalam segala bentuk, baik itu perkataan, perbuatan atau
Iktiqad. adapun orang yang melakukan syirik itu disebut musyrik. Adapun pengertian syirik
secara syari’ah ada dua makna yaitu:

Makna umum: menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal yang merupakan
kekhususan bagi Allah, maka secara umum syirik dibagi tiga.
Syirik dalam Rububiyah artinya keyakinan dan ikrar bahwasanya sesuatu selain Allah
mampu menciptakan, mengatur dan memelihara alam semesta dan seisinya, memberikan
rizki, memberikan manfaat dan bencana,memberikan hidayah, mematikan dan menghidupkan
dan lainnya yang termasuk rububiyahnya Allah( Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah
dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya ).
Syirik ULuhiyah artinya keyakinan dan ikrar bahwa ada selain Allah yang dapat diibadahi
(disembah) seperti minta pertolongan pada jin untuk mendapatkan uang dengan cepat.
Syirik Asma’ wa as-Shifat yaitu menyamakan antara Allah dan makhluk nya dalam masalah
Asma’ wa as-Shifat seperti menyamakan sifat-sifat dzatiyah Allah (wajah, tangan,
mendengar, melihat dsb) sama dengan sifat makhluk nya , atau memberikan sifat-sifat yang
khusus bagi Allah untuk makhluk nya seperti menyakini bahwa ada makhluk Allah yang
mengetahui perkara-perkara ghaib. Allah tidak bisa digambarkan dengan apapun di dunia ini .
ْ ‫ب فَ ََل ي‬
‫ُظ ِه ُر َعلَى َغ ْي ِب ِه أَ َحدًا‬ ِ ‫َعا ِل ُم ْالغَ ْي‬
Artinya: (dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan
kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (QS. Al Jin : 26)

Makna Khusus : menyamakan selain Allah menjadi ilahi yang disembah dan dita’ati bersama
Allah . Maka barangsiapa yang memberikan satu macam ibadah untuk selain Allah maka dia
sudah melakukan suatu dosa yang kategorinya tidak bisa diampuni yaitu Syirik . dimana
pelaku syirik (musryik) itu akan ditempatkan ditempat yang tidak disukai oleh semua umat
(neraka).
Perbuatan syirik termasuk dosa besar. Allah mengampuni semua dosa yang dilakukan
hambanya, kecuali dosa besar seperti syirik. Firman Allah SWT:

َّ ِ‫َّللاَ ََل يَ ْغ ِف ُر أ َ ْن يُ ْش َركَ بِ ِه َو َي ْغ ِف ُر َما د ُونَ ٰذَلِكَ ِل َم ْن يَشَا ُء ۚ َو َم ْن يُ ْش ِر ْك ب‬


‫اَّللِ فَقَ ِد ا ْفت ََر ٰى إِثْ ًما َع ِظي ًما‬ َّ ‫إِ َّن‬

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
(mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar) (QS. Annisa 48)

B. Bentuk-Bentuk Syirik Modern

1. Syirik Akbar (Besar)


Syirik akbar ada dua macam, yaitu Dzahirun Jali (tampak nyata) dan Batinun
Khafi (tersembunyi).

a. Menyembah kepada selain Allah


Di antara syirik akbar yang jali ialah beribadah kepada sesembahan lain di samping
menyembah Allah.
b. Meminta Pertolongan Kepada Orang Mati
Di antara syirik Akbar khafi ialah bedoa kepada orang mati dan kuburan orang-orang besar.
c. Mengangkat Pembuat Undang-undang Selain Allah
Di antara perbuatan syirik besar yang tampak dan tidak tampak pada kebanyakan manusia
ialah menjadikan selain Allah sebagai pembuat Undang-undang atau mencari hukum selain
hukum Allah. Mereka memberi wewenang kepada beberapa orang guna membuat undang-
undang yang absolut bagi mereka atau bagi orang lain. Dengan wewenang itu mereka
membuat hukum halal dan haram sesuai dengan kemauan sendiri. Membuat sistem, aturan,
metode kehidupan dan idealisme yang berlawanan dengan syari’at Allah. Kemudian orang
lain mengikutinya seolah-olah hukum itu berasal dari langit yang harus dipatuhi dan tidak
boleh dilanggar sedikit pun. Padahal yang berhak membuat undang-undang bagi ciptaanNya
hanyalah Allah sendiri.

2. Syirik Asgar (Kecil)

a. Bersumpah Dengan Selain Allah


Seperti bersumpah dengan nama nabi, dengan seorang wali, dengan seorang pembesar,
dengan tanah air, dengan nenek moyang, atau dengan makhluk Allah lainnya. Bersumpah
adalah pengangungan sesuatu yang digunakan untuk bersumpah. Padahal yang harus
diagungkan dan disucikan itu hanya Allah.
“Siapa yang bersumpah, hendaklah bersumpah dengan nama Allah atau diam.” (HR. Muslim)

b. Meyakini suatu benda memiliki kekuatan gaib


Tauhid tidak bertentangan dengan sebab ciptaan Allah dalam alam ini. Seperti obat untuk
penyembuhan, senjata untuk menjaga diri, dll. Tetapi bila menempuh cara lain yang dapat
mengakibatkan pengaruh tersembunyi yang tidak disyari’atkan oleh Allah untuk
menghilangkan penderitaan atau menjaga diri dari bahaya, maka perbuatan tersebut sudah
bertentangan dengan tauhid.
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, kecuali dalam keadaan
menyekutukan Allah.”(QS. Yunus 10:106)

c. Menggantung Azimat
Azimat yaitu benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib yang dapat menyembuhkan atau
menghindarkan pemakainya dari bahaya. Perbuatan seperti ini termasuk syirik karena
mengandung unsure meminta terhindar dari bahaya kepada selain Allah.
“Jika Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya
melainkan Dia sendiri. Jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa
atas segala sesuatu.” (QS. Al-An’am 6:17)
Ada pula azimat seperti tulisan atau gambar. Menghilangkan perbuatan ini merupakan
kewajiban bagi setiap orang yang mampu.
Bila azimat itu ditulis dari ayat-ayat Al-Qur’an atau mengandung Asmaul Husna, apakah
termasuk dilarang? Para ulama salaf berbeda pendapat. Tetapi pendapat yang kita terima
ialah melarang pemakaian seluruh bentuk azimat, meskipun dibuat dari ayat-ayat Al-Qur’an.

d. Mantera
Mantera ialah mengucakan kata-kata tertentu agar dapat menolak kejahatan dan mendapatkan
kekuatan gaib dengan bantuan jin. Mantera yang diharamkan ialah lafaz yang mengandung
ucapan meminta pertolongan selain kepada Allah, atau ucapan yang kadangkala mengandung
makna kekufuran dan kemusyrikan. Adapun selain itu, tidak ada halangan membaca mantera.
e. Sihir
Sihir ialah semacam cara penipuan dan pengelabuan yang dilakukan dengan cara memantera,
menjampi dll. Perbuatan ini termasuk syirik karena ia mengandung makna meminta tolong
kepada selain Allah, yakni meminta bantuan jin. Al-Qur’an mengajari kita untuk berlindung
diri kepada Allah dari bahaya sihir dan tukang sihir
“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS.
Al Falaq 113:4)

f. Ramalan
Salah satu bentuk sihir adalah ramalan. Yaitu anggapan mengetahui dan melihat rahasia-
rahasia masa depan berupa kejadian umum atau khusus atau pun nasib seseorang, melalui
perbintangan
“Siapa yang mempelajari salah satu cabang dari perbintangan, maka dia telah mempelajari
sihir.” (HR. Abu Daud dengan sanad sahih)

g. Guna-guna
“Sesungguhnya mantera, azimat dan guna-guna itu adalah perbuatan syirik.” (HR. Ibnu
Hibban)

h. Dukun dan Tenung


Dukun ialah orang yang menganggap dirinya dapat memberitahukan tentang hal-hal gaib
pada masa datang, atau apa yang tersirat dalam naluri manusia. Tukang tenung ialah nama
lain dari peramal dan dukun. Semua yang gaib itu hanyalah Allah yang mengetahuinya.
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib
kecuali Allah.” (QS. An Naml 27:65)

i. Bernazar (berjanji) Kepada Selain Allah


Nazar adalah ibadah dan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, dan beribadah itu hanya
kepada Allah.
“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya
Allah mengetahuinya. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang berbuat
zalim.” (QS. Al-Baqarah 2:270)
Ada orang yang jika sakit atau kehilangan sesuatu bernazar kepada kuburan orang-orang
alim. Hal ini adalah haram, karena :
1. Nazar tersebut ditujukan kepada makhluk. Bernazar untuk makhluk hukumnya haram.
Sebab nazar adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada makhluk
2. Tempat menyampaikan nazarnya adalah mayat yang tidak memiliki kemampuan apa pun.
3. Dia menganggap bahwa orang mati itu dapat memberi keputusan terhadap suatu persoalan
di samping Allah. Sedangkan yang mempercayainya berarti berbuat kekufuran.

j. Sembelihan Selain untuk Allah


Telah menjadi kebiadaan orang-orang musyrikin melakukan penyembelihan qurban sebagai
sarana pendekatan diri kepada tuhan-tuhan dan berhala-berhala mereka. Semua ini
diharamkan.
“Ali ra. berkata: “Rasulullah saw. bersabda kepadaku dengan empat kalimat: Allah melaknat
orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang melaknat kedua
orang tuanya, Allah melaknat orang yang melindungi penjahat dan Allah melaknat orang
yang merubah batas-batas tanah miliknya.” (HR. Muslim)

k. Tathayyur (Berperasaan sial)


Ialah berfirasat buruk, berperasaan sial yang menimbulkan rasa pesimis karena pengaruh
berbagai suara tertentu yang didengar atau suatu kejadian yang dilihat atau pun lainnya.
Hal ini termasuk syirik karena dia tidak sepenuhnya bertawakkal kepada Allah, serta
menjadikan firasat buruk (perasaan sial) itu lebih berpengaruh daripada tawakkalnya kepada
Allah SWT.

C. Cara menanggulangi Syirik Modern

Ada beberapa cara agar kita bisa terhindar dari kesyirikan, di antaranya adalah:

1. Dengan mengikhlaskan segala ibadah dan amal shalih kita hanya untuk mencari ridha
Allah

ّ ‫َو َماَأُم ُرواَإ َّلََليَ ْعبُد‬


َ‫ُواََللاَََ ُم ْخلصينَََلَهََُالدِّينَََ ُحنَفَا َء‬
“Mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan meninggalkan kesyirikan
(hanif).” [QS Al Bayyinah: 5]

2. Mempelajari ilmu tauhid yang murni dan benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh
Rasulullah
Rasulullah ‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫هللا‬ ‫ صلى‬bersabda:

َ ‫َََللاََُبهََ َخي ًْراَيُفَ ِّق ْههََُفيَالد‬


‫ِّين‬ ّ ْ‫َم ْنََيُرد‬
“Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan maka Allah akan
memahamkannya di dalam perkara agama.”[HR Al Bukhari (71) dan Muslim (1037)]
Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa kunci untuk mendapatkan kebaikan agama
adalah dengan mempelajari ilmu agama, dan kebaikan yang paling pokok adalah tauhid.

3. Mempelajari lawan dari tauhid itu, yaitu syirik, baik itu definisinya, jenis-jenisnya, dan
contoh-contohnya. Karena untuk memmahami sesuatu itu terkadang kita juga harus mengenal
lawannya. Lawan dari tauhid adalah syirik dan lawan dari sunnah adalah bid'ah.
Seorang sahabat Rasulullah ‫ صلى هللا عليه وسلم‬yang bernama Hudzaifah ibnul Yaman
radhiallahu ‘anhu berkata:

‫ش ِّرََ َمخَافَةَََأَ ْنََيُدْركَني‬ َ ََُ‫َو ُك ْنتََُأَ ْسأَلُه‬،


ّ ‫ع ْنََال‬ ْ ‫ع ْن‬
َ ‫ََال َخيْر‬ َ ََ‫سلّ َم‬
َ ‫ََو‬ ّ ّ‫صل‬
َ ‫ىََللاََُ َعلَيْه‬ ّ ‫سو َل‬
َ ََ‫َََللا‬ ُ ‫ونَََر‬
َ ُ‫اسََيَ ْسأَل‬
ُ ّ‫كَانَََالن‬
“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah ‫ صلى هللا عليه وسلم‬tentang perkara
kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang perkara kejelekan karena takut
akan menimpaku.” [HR Al Bukhari (3606) dan Muslim (1847)]

4. Memperbanyak doa kepada Allah agar diberikan keistiqomahan (keteguhan) di atas tauhid
dan sunnah dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kebid'ahan baik yang kita
ketahui ataupun tidak, baik yang kita sadari ataupun tidak.
5. Bergaul dengan orang-orang yang lurus dan teguh agamanya (ahlussunnah) dan
menghindari pergaulan dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan agar tidak
terpengaruh dengan perbuatan mereka tersebut.
Hal inilah yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul.

D. Bahaya Syirik Bagi Kehidupan

1. Syirik Ashghar (tidak mengeluarkan dari agama).


a. Merusak amal yang tercampur dengan syirik ashghar.
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu marfu (yang terjemahannya): Allah berfirman: “Aku tidak
butuh sekutu-sekutu dari kalian, barang siapa yang melakukan suatu amalan yang dia
menyekutukan-Ku padanya selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan persekutuannya”.
(Riwayat Muslim, kitab az-Zuhud 2985, 46).
b. Terkena ancaman dari dalil-dalil tentang syirik, karena salaf menggunakan setiap dalil
yang berkenaan dengan syirik akbar untuk syirik ashghar. (Lihat al-Madkhal, hal 124).
c. Termasuk dosa besar yang terbesar.

2. Syirik Akbar
a. Kezhaliman terbesar.
Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya syirik itu kezhaliman yang
besar”. (QS. Luqman: 13).
b. Menghancurkan seluruh amal.
Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya jika engkau berbuat syirik,
niscaya hapuslah amalmu, dan benar-benar engkau termasuk orang yang rugi”. (QS. Az-
Zumar: 65).
c. Jika meninggal dalam keadaan syirik, maka tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya):Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni jika
disekutukan, dan Dia akan mengampuni selain itu (syirik) bagi siapa yang (Dia) kehendaki.
(QS. An-Nisa: 48, 116).
d. Pelakunya diharamkan masuk surga.
Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya barang siapa menyekutukan
Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan
tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
e. Kekal di dalam neraka.
Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya orang kafir, yakni ahli kitab dan
orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka
itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (QS. Al-Bayyinah: 6).
f. Syirik adalah dosa paling besar.
Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik
itu. Bagi siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya”. (QS. An-Nisa: 116).
g. Perkara pertama yang diharamkan oleh Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahannya): “Katakanlah: Rabbku hanya
mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun ter-sembunyi, dan perbuatan
dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan
Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menu-runkan hujjah untuk itu dan (meng-haram-kan)
mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Araaf: 33).
h. Dosa pertama yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lihat Quran surah Al-
Anaam: 151.
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu:
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang
ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami
akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,
dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan
dengan sesuatu (sebab) yang benar” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya
kamu memahami(nya).
( Qs. Al-Anam )
i. Pelakunya adalah orang-orang najis (kotor) akidahnya.
Allah Ta’ala berfirman (yang terjemahannya): “Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”. (QS. At-Taubah: 28).