Anda di halaman 1dari 45

PEMERINTAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN

DINAS KESEHATAN
Jl. Kol. Wahid Udin No. 230 Ling. VII Kel. Serasan Jaya
Telp. (0714) 321048 – 321918. Fax.(0714) 321756 - 321373

PERATURAN KEPALA DINAS

NOMOR : 3080 TAHUN 2019

TENTANG

PEDOMAN PENGELOLAAN PEGAWAI NON PEGAWAI NEGERI SIPIL


PADA DINAS KESEHATAN KABUPATEN MUSI BANYUASIN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA DINAS KESEHATAN

Menimbang : a. bahwa untuk menjamin keberlangsungan pelayanan di


Dinas Kesehatan, RSUD dan Puskesmas Kabupaten Musi
Banyuasin yang telah menerapkan Peraturan Bupati
Musi Banyuasin Nomor 111 Tahun 2018 tentang Standar
Ketenagaan di Puskesmas Kabupaten Musi Banyuasin
Tahun 2018;
b. bahwa dapat berlangsung secara efektif dan efisien,
dibutuhkan sumber daya manusia dan/atau pegawai
profesional dengan kompetensi dan jumlah yang
memadai;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan
Peraturan Kepala Dinas tentang Pengelolaan Pegawai Non
Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan


Daerah Tingkat II dan Kotapraja di Sumatera Selatan
(Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 1821);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah, (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun
2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah,
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Republik Indonesia
Nomor 4844);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun
2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3637);
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
6 Tahun 2013 tentang Kriteria Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Terpencil, Sangat Terpencil, dan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan yang tidak diminati (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 153);
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 2013 tentang Pedoman Pengangkatan dan Penempatan
Dokter dan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 2013 Tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
Tahun 2014 Tentang Puskesmas
10. Peraturan Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Nomor 9 Tahun
2018 Tanggal 7 Desember 2018 Tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah Tahun 2019;
11. Peraturan Bupati Musi Banyuasin Nomor 85 Tahun 2018
Tentang Standar satuan Harga Kabupaten Musi
Banyuasin Tahun Anggaran 2019;

2
12. Peraturan Bupati Musi Banyuasin Nomor 111 Tahun
2018 Tentang Standar Ketenagaan di Puskesmas
Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2018;
13. Keputusan Bupati Musi Banyuasin Nomor
179/KPTS.DINKES/2016 Tanggal 7 September 2016
Tentang penetapan sarana pelayanan kesehatan terpencil
dan sangat terpencil;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN KEPALA DINAS TENTANG PEDOMAN


PENGELOLAAN PEGAWAI NON PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA
DINAS KESEHATAN KABUPATEN MUSI BANYUASIN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Kepala Dinas ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kabupaten Musi Banyuasin.
2. Kepala Dinas adalah Penanggung Jawab Kegiatan.
3. Sekretaris adalah pejabat yang bertugas membantu Kepala
dinas dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan
dinas dengan Rumah Sakit dan Puskesmas.
4. Dinas Kesehatan adalah unsur pelaksana otonomi
daerah dalam bidang kesehatan dan di Pimpin langsung
oleh seorang Kepala Dinas (Kadin). Kadin berkedudukan
di bawah bupati serta bertanggung jawab langsung pada
Bupati melalui Sekretaris Daerah (Sekda) sesuai dengan
kewenangan Pemerintah Daerah, serta ketentuan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Dinas
Kesehatan terdiri dari 2 (dua) Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) yaitu RSUD Sungai Lilin, RSUD Bayung
Lencir, dan Unit Pelaksana Teknis Dinas yaitu
Puskesmas.
5. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) adalah Rumah Sakit
yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis

3
penyakit mulai dari yang dasar, spesialistik, hingga sub
spesialistik yang mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4
(empat) spesialistik penunjang, yang mana Rumah Sakit
ini diselenggarakan dan dikelola oleh pihak Pemerintah
Daerah.
6. Unit Pelaksana Teknis Dinas adalah Pusat Kesehatan
Masyarakat (PUSKESMAS).
7. Pegawai Non Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya
disebut Pegawai Non PNS adalah pegawai kontrak daerah
yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan,
diangkat oleh pejabat yang berwenang dan digaji
berdasarkan ketentuan yang berlaku guna memenuhi
kebutuhan ketenagaan pada Dinas Kesehatan yang tidak
terpenuhi oleh Pegawai Negeri Sipil terdiri dari pegawai
tetap dan pegawai kontrak.
8. Tenaga Kesehatan adalah pegawai yang mengabdikan diri
dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau
keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
9. Tenaga Non Kesehatan adalah pegawai yang bertugas
memberikan pelayanan nonmedis yang meliputi tenaga
pengemudi, tenaga keamanan, tenaga kebersihan dan
pembantu pengadministrasian data dan lain-lain.
10. Tenaga Kontrak Tahunan adalah tenaga non pegawai negeri
sipil yang melaksanakan tugas tertentu berdasarkan perjanjian
kerjasama untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.
11. Upah adalah keseluruhan nominal yang diberikan sebagai
imbalan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai
dengan pertimbangan berdasarkan kinerja yang dilaksanakan.
12. Barang Milik Daerah adalah barang yang dikuasai/dikelola
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin yang terdiri
dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sungai Lilin, Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayung Lencir, dan Puskesmas
se-Kabupaten Musi Banyuasin.

4
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

(1) Maksud ditetapkan Peraturan Kepala Dinas ini adalah sebagai


pedoman dalam pengelolaan Pegawai Non Pegawai Negeri Sipil.
(2) Tujuan ditetapkannya Peraturan Kepala Dinas ini adalah
memberikan kepastian hukum dalam pengelolaan Pegawai Non
Pegawai Negeri Sipil.

BAB III
RUANG LINGKUP

Pasal 3

Ruang Lingkup Peraturan Kepala Dinas ini meliputi:

a. Klasifikasi Pegawai;

b. Kedudukan, status, tugas dan fungsi;

c. Kewajiban, hak dan larangan;

d. Disiplin Pegawai

e. Pergantian Kehilangan / Kerusakan Inventaris Alat

f. Kebutuhan Pegawai;

g. Pengadaan dan seleksi;

h. Pengangkatan, pendayagunaan dan pemberhentian;

i. Pembinaan;

j. Kode Etik; dan

k. Sanksi Pelanggaran Kode Etik;

l. Pejabat yang Berwenang Menetapkan Sanksi Moral

BAB IV
KLASIFIKASI PEGAWAI
Pasal 4

Pegawai diklasifikasikan sebagai berikut:


a. Tenaga Kesehatan; dan
b. Tenaga Non Kesehatan.

5
BAB V
KEDUDUKAN, STATUS, TUGAS DAN FUNGSI
Bagian Kesatu
Kedudukan
Pasal 5

(1) Pegawai kontrak berkedudukan sebagai Pegawai Kontrak yang


diangkat berdasarkan hasil seleksi yang dilaksanakan oleh tim
dan/atau pihak ketiga / penggantian tenaga kontrak yang
mengundurkan diri / penambahan tenaga/ seleksi berkas
lamaran/kebutuhan organisasi atau UPTD/nota dinas Bupati
Musi Banyuasin yang disesuaikan dengan anggaran Dinas
Kesehatan .

(2) Pegawai Kontrak berkedudukan sebagai pegawai tidak tetap


yang diangkat dengan kontrak kerja yang ditetapkan dengan
Keputusan Kepala Dinas Kesehatan dalam jangka waktu
tertentu sesuai kontrak.

Bagian Kedua
Status
Pasal 6

(1) Status Pegawai adalah Pegawai yang diangkat dengan system


kontrak.

(2) Pegawai dengan sistem kontrak sebagaimana dimaksud pada


pasal (1) yaitu Tenaga Kontrak Tahunan.

Bagian Ketiga
Tugas dan Fungsi
Pasal 7

Pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 melaksanakan


tugas dan fungsi sesuai yang tercantum dalam kontrak kerja.

6
BAB VI
KEWAJIBAN, HAK DAN LARANGAN
Bagian Kesatu
Kewajiban
Pasal 8

(1) Setiap Pegawai wajib:

a. Setia dan taat kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar


1945, negara dan pemerintah serta wajib menjaga persatuan
dan kesatuan;

b. Mentaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan


yang mengatur pelaksanaan tugas dan fungsi Pegawai;

c. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan dengan


penuh pengabdian dan rasa tanggung jawab;

d. Menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan


martabat Pegawai;

e. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas


kepentingan sendiri, seseorang dan/atau golongan;

f. Memegang rahasia yang menurut sifatnya atau menurut


perintah harus dirahasiakan;

g. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat


untuk kepentingan negara;

h. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila


mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau
merugikan negara atau pemerintah terutama dibidang
keamanan, keuangan dan materiil;

i. Masuk kerja dan mentaati ketentuan jam kerja dengan


mengikuti Apel Pagi dan Apel Sore;

j. Mencapai sasaran kerja Pegawai yang ditetapkan serta tepat


waktu;

k. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;

l. Mentaati perjanjian kerja yang telah disepakati ( kalau


melanggar siap untuk menerima sanksi yang diberikan
atasan).

7
m. Menggunakan dan memelihara Barang Milik Daerah dengan
baik;

n. Memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik;


dan;

o. Mentaati peraturan kedinasan yang telah ditetapkan oleh


Kepala Dinas Kesehatan.

(2) Selain melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada


pasal (1), setiap Pegawai wajib melaksanakan semua kewajiban
sebagaimana yang tercantum dalam kontrak kerja.

Pasal 9

(1) Pedoman Pelaksanaan Hari Kerja di Lingkungan Dinas


Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin:

a. Hari Kerja Pegawai Non PNS adalah 5 (lima) hari dalam 1


(satu) minggu, mulai dari hari Senin sampai dengan hari
Jumat (dengan jam kerja 07.30 WIB s/d 16.00 WIB) untuk
Dinas Kesehatan.

b. Hari kerja Pegawai Non PNS adalah 6 (enam) hari kerja,


mulai hari Senin s/d Sabtu (dengan jam kerja 07.30 WIB
s/d 14.00 WIB) untuk RSUD dan Puskesmas.

(2) Dikecualikan dari hari kerja adalah hari libur nasional dan
cuti bersama yang ditetapkan oleh Pemerintah.

(3) Jam kerja pada bulan Ramadhan diatur tersendiri pada


setiap bulan Ramadhan yang pelaksanaannya sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

(4) Ketentuan masuk kerja dan mentaati jam kerja diawali


dengan apel pagi dan diakhiri apel sore.

(5) Hari Jumat Pelaksanaan Apel Pagi dan Apel Sore ditiadakan
dan dapat dilaksanakan Olahraga ataupun Kebersihan,
setelah itu tetap bekerja sesuai ketentuan angka 3 huruf b
diatas.

(6) Pegawai Non PNS wajib hadir dan memenuhi ketentuan Hari
Kerja dan Jam Kerja.

8
(7) Pegawai Non PNS yang tidak mentaati ketentuan jam kerja
maka dikenakan sanksi disiplin pegawai.

Bagian Kedua
Hak
Pasal 9
Setiap Pegawai Tetap berhak memperoleh upah dan penghasilan
lain sesuai kemampuan keuangan dengan memperhitungkan
kompetensi, tingkat pendidikan dan beban kerja serta tanggung
jawab yang besarannya ditetapkan dengan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah Kabupaten Musi Banyuasin.

Cuti
Pasal 10
1. Selama Pegawai Non PNS menjalani cuti,, maka Pegawai yang
bersangkutan tetap mendapat gaji penuh, kecuali untuk cuti
di luar tanggungan dan cuti lainnya, sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

2. Dalam hal Pegawai Non PNS yang sedang menjalani cuti


dipanggil kembali karena kepentingan dinas mendesak, maka
jangka waktu cuti yang belum dijalankan tetap menjadi hak
Pegawai yang bersangkutan.

Jenis Cuti

Pasal 11

Jenis-jenis cuti yang menjadi hak Pegawai Non PNS adalah:

a. Cuti sakit;

b. Cuti Bersalin / melahirkan;

Cuti Sakit
Pasal 11

(1) Pegawai yang tidak masuk kerja karena sakit berdasarkan


keterangan dokter, tetap diberikan gaji.

(2) Pegawai yang menderita sakit lebih dari 12 (dua belas) bulan
dan telah dinyatakan tidak dapat sembuh kembali oleh Tim
Penguji Kesehatan, dapat diberhentikan dengan hormat dan
mendapatkan hak, sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

9
(3) Pegawai yang dirawat di rumah sakit atau yang tidak dapat
melaksanakan tugasnya karena sakit atau kecelakaan yang
dinyatakan dengan surat keterangan dokter atau
sepengetahuan dokter dengan jangka waktu melebihi 4
(empat) bulan, maka pembayaran gajinya diatur sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4) Surat keterangan sakit dapat diterima dan diakui oleh


Pimpinan masing-masing sebagai atasan langsung paling
lambat dalam waktu 2 x 24 jam.

(5) Pegawai yang tidak masuk kerja karena alasan sakit,


sebelumnya harus memberitahukan Pimpinan masing-masing
sebagai atasan langsung paling kurang melalui telepon pada
jam kerja atau melalui Pimpinan masing-masing.

(6) Pegawai yang pulang sebelum waktunya atau tidak masuk


kerja karena alasan sakit yang tidak disertai dengan
keterangan dokter atau tidak sesuai atau melebihi waktu yang
telah direkomendasikan atau diberikan dokter, disamakan
dengan tidak masuk atau alpa.

(7) Pegawai yang tidak masuk kerja dengan alasan sakit, hanya
diakui sesuai yang tercantum dalam keterangan dokter.

(8) Aturan lebih lanjut mengenai cuti sakit diatur dalam pedoman
kepegawaian Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.

Cuti Bersalin / Melahirkan

Pasal 12
(1) Pegawai wanita yang mengandung setelah diangkat menjadi
Pegawai Non PNS berhak atas cuti bersalin selama 40 (Empat
Puluh) hari kerja setelah melahirkan untuk persalinan
pertama, kedua dan ketiga. Sedangkan untuk kelahiran
selanjutnya diatur berdasarkan peraturan di Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin.
(2) Pegawai wanita yang akan mengambil cuti bersalin harus
mengajukan surat permohonan cuti melahirkan dengan
melampirkan surat keterangan dokter, paling kurang 1 (satu)
bulan sebelum melahirkan.

10
(3) Pegawai wanita yang masih menyusui setelah melahirkan
diberi kesempatan untuk menyusui bayinya pada jam kerja,
dengan ketentuan bayinya ditempatkan di Tempat Penitipan
Anak atau rumahnya berdekatan dengan Poskesdes, Pustu,
Puskesmas, RSUD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin.
(4) Pegawai wanita yang mengalami gugur kandungan berhak
atas cuti sakit berdasarkan rekomendasi dokter ahli Rumah
Sakit Pemerintah dan disetujui oleh Seksi Sumber Daya
Manusia Kesehatan.

Cuti Karena Alasan Penting


Pasal 13

(1) Cuti karena alasan penting meliputi cuti karena ibadah haji
dan umroh.

(2) Pemberian cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilaksanakan dengan ketentuan:
a. Cuti karena alasan penting, diberikan kepada Pegawai
dengan masa kerja minimal 1 tahun;
b. Cuti karena alasan penting, diberikan kepada Pegawai
untuk ibadah umroh dengan masa kerja minimal 1 (satu)
tahun; dan
c. Pegawai yang bersangkutan mengajukan permohonan
tertulis kepada Pimpinan paling lambat 1 (satu) bulan
untuk cuti ibadah haji dan 2 (dua) minggu untuk umroh,
disertai jadwal perjalanan ibadah haji atau perjalanan
ibadah umroh.
(3) Pegawai Non PNS yang mendapatkan cuti karena alasan
penting, berhak mendapatkan gaji penuh sesuai Peraturan di
Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.

IZIN
Pasal 14

Pegawai Non PNS yang tidak berada di tempat kerja dan tidak
melakukan tugas kedinasan, dikelompokkan menjadi:
a. Meninggalkan tugas/pekerjaan dengan izin dan mendapat gaji
penuh; dan

11
b. Meninggalkan tugas/pekerjaan dengan izin dan/atau tanpa
izin disertai pemotongan gaji.

Pasal 15

(1) Atas permohonan Pegawai Non PNS, Kepala Dinas


mengeluarkan izin meninggalkan pekerjaan dengan gaji penuh
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a, dengan
ketentuan:
a. Izin menikah untuk pertama kalinya, diberikan selama 5
(lima) hari kerja;
b. Izin menikahkan anak, diberikan selama 3 (tiga) hari kerja;
c. Izin mengkhitankan anak, diberikan selama 2 (dua) hari
kerja;
d. Izin menjaga isteri/suami/anak, orang tua, mertua yang
sedang sakit keras yang didukung dengan adanya advis
dokter/keterangan sakit, diberikan selama 1 (satu)hari;
e. Izin karena pindah rumah, diberikan selama 1 (satu) hari
kerja, dengan ketentuan paling banyak 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun;
f. Izin karena orang tua/mertua, Istri/suami, anak/cucu,
menantu, saudara kandung/tiri meninggal, diberikan
selama 3 (tiga) hari kerja;
g. Izin istri melahirkan/keguguran kandungan, diberikan
selama 1 (satu) hari kerja;
h. Izin melaksanakan tugas/panggilan system yang tidak
dapat diwakilkan, diberikan selama jangka waktu sesuai
ketentuan peraturan yang berlaku Dinas Kesehatan; dan
i. Izin yang diakibatkan karena terjangkitnya wabah atau
bencana alam, diberikan selama waktu yang diperlukan
dengan mempertimbangkan keadaan.
(2) Untuk melaksanakan pengambilan izin sebagaimana
dimaksud pada ayat huruf a sampai dengan i, Pegawai Non
PNS harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Kepala Bagian/Kepala Bidang, paling kurang 1 (satu) minggu
sebelumnya.
(3) Untuk melaksanakan pengambilan izin sebagaimana
dimaksud pada ayat huruf a sampai dengan i, Pegawai Non

12
PNS harus segera memberitahukan kepada Pimpinan masing-
masing sebagai atasan langsung diteruskan ke Bagian Tata
Usaha.

Pasal 16

(1) Pegawai Non PNS yang mendapat izin meninggalkan


pekerjaan/tugas untuk waktu tertentu selama 3 (tiga) hari
atau lebih untuk kepentingan pribadi, dikenakan
pemotongan tambahan penghasilan.
(2) Setiap Pegawai Non PNS yang tidak bekerja baik dengan atau
tanpa sepengetahuan Bagian Administrasi dan Umum atau
karena sakit tanpa keterangan dokter, dilakukan pemotongan
tambahan penghasil.

Pengendalian Waktu Kerja


Pasal 17

(1) Seluruh Pegawai Non PNS diwajibkan untuk mengisi absensi


sesuai dengan system pengabsenan yang berlaku, pada
waktu masuk kerja dan pulang kerja/lembur melalui mesin
finger print atau absensi manual.

(2) Pejabat Struktural melaksanakan pemantauan pelaksanaan


absensi kehadiran Pegawai Non PNS yang menjadi
bawahannya.

(3) Pegawai Non PNS yang tidak melakukan pengabsenan


meskipun Pegawai yang bersangkutan terbukti masuk kerja,
disamakan dengan izin dan mendapat pemotongan tambahan
penghasilan.

(4) Pegawai Non PNS yang tidak masuk kerja, kecuali untuk cuti
dan libur yang tercatat dalam jadwal resmi dengan tidak
memberitahukan kepada Bagian Administrasi dan Umum,
dianggap tidak hadir.

(5) Pegawai Non PNS yang masuk kerja tetapi hanya melakukan
absensi pada waktu masuk atau pulang, dikategorikan izin,
dan dikenakan pemotongan Jasa Pelayanan.

(6) Pemberian izin khusus kepada Pegawai Non PNS untuk izin
penelitian, diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Musi Banyuasin.

13
(7) Untuk memelihara kelancaran pekerjaan, pada waktu yang
sama setiap Unit Kerja/Instalasi hanya diperkenankan
mengajukan permohonan cuti/izin paling banyak 5% (lima
persen) dari jumlah Pegawai yang ada di Unit Kerja/Instalasi
yangbersangkutan.

Bagian Ketiga
Larangan
Pasal 18

Setiap Pegawai dilarang:

a. Menyalahgunakan wewenang;

b. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi


dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang
lain;

c. Menjadi Pegawai atau bekerja pada instansi, perusahaan,


lembaga swadaya lain baik lokal, nasional ataupun
internasional;

d. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan,


atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak
bergerak, dokumen atau surat berharga milik Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin;

e. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman


sejawatatau orang lain didalam maupun diluar lingkungan
kerjanya dengan tujuan untuk kepentingan pribadi,
perseorangan, golongan atau pihak lain, yang secara langsung
atau tidak langsung merugikan negara;

f. Menerima hadiah atau suatu pemberian apapun dari siapapun


yang berhubungan dengan pekerjaannya;

g. Melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu


tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit salah satu
pihak yang dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi
yang dilayani;

h. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;

14
i. Memberikan dukungan kepada calon presiden/wakil presiden,
dewan perwakilan rakyat, dewan perwakilan daerah, dewan
perwakilan rakyat daerah dengan cara:

(1) Ikut serta dalam melaksanakan kampanye;

(2) Menjadi peserta kampanye dengan atribut partai atau


atribut Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.

(3) Sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan Pegawai


lain; dan/atau

(4) Sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas


Negara;

BAB VII

DISIPLIN PEGAWAI

Pasal 19

(1) Pegawai Non PNS yang tidak menaati ketentuan disiplin


Pegawai, dijatuhi hukuman disiplin.
(2) Tingkat hukuman disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), terdiri dari:
a. Hukuman disiplin ringan;
b. Hukuman disiplin sedang;dan
c. Hukuman disiplin berat.

Pasal 20

(1) Hukuman disiplin ringan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 19 huruf a, dijatuhkan kepada Pegawai yang:

a. Bersikap, berperilaku dan bertindak sesuai kode etik


profesi;

b. Tidak mengisi absensi di Dinas Kesehatan, RSUD, dan


Puskesmas, baik saat masuk atau Pulang kerja baik finger
print maupun manual;

c. Mengisi absensi orang lain yang belum datang atau karena


sudah pulang sebelum waktunya atau tidak sesuai dengan
jadwal atau jam kerja;

15
d. Membawa, meminjam atau menggunakan barang inventaris
milik Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin diluar
kepentingan kedinasan tanpa persetujuan/izin dari Pejabat
yang berwenang;

e. Tidak berpakaian rapi dan/atau sesuai dgn profesi dan


peruntukannya, tidak sopan serta bersikap dan
berperilaku tidak baik;

f. Tidak menghormati dan menghargai sesama Pegawai di


Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin;

g. Tidak melakukan teguran baik lisan maupun tertulis


terhadap bawahan yang melakukan pelanggaran;

h. Tidak masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja; dan

i. Tidak memakai badge/kartu pengenal Pegawai pada saat


melaksanakan tugas atau waktu kerja.

j. Tidak masuk kerja tanpa keterangan selama 3 (tiga) hari


kerja.

(2) Hukuman disiplin sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal


19 huruf b, dijatuhkan kepada Pegawai yang:

a. Melakukan tindakan bersifat negatif yang ditujukan rekan


kerja atau orang lain di luar maupun di dalam lingkungan
kerjanya;

b. Melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap rekan


kerja;

c. Melakukan suatu tindakan/sikap/perbuatan dengan


sengaja atau tidak melakukan suatu tindakan/sikap
/perbuatan yang berakibat menghalangi atau mempersulit
atau menurunkan kualitas pelayanan di Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin;

d. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;

e. Menurunkan citra di Dinas Kesehatan Kabupaten Musi


Banyuasin;

f. Melakukan pelanggaran etika profesi yang dapat


digolongkan ke dalam Pelanggaran sedang;

16
g. Tidak mentaati perintah kedinasan atau instruksi dari
atasan yang berwenang;

h. Melakukan kegiatan untuk kepentingan pribadi atau


golongan pada saat jam kerja tanpa persetujuan/izin
atasan dan tidak melalui prosedur yang telah ditetapkan;

i. Merokok di lingkungan di Dinas Kesehatan Kabupaten Musi


Banyuasin;

j. Menjalankan atau membawa kendaraan dinas tanpa izin


dari pejabat yang berwenang;

k. Mengisi absensi orang lain/teman sekerja yang tidak masuk


kerja; dan

l. Tidak masuk kerja tanpa keterangan lebih dari 3 (tiga) hari


kerja.

(3) Hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal


19 huruf c, dijatuhkan kepada Pegawai yang:

a. Bersikap dan berperilaku yang bertentangan dengan


ajaran agama;

b. Bersikap dan berperilaku yang dapat menurunkan citra


dan nama baik di Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin;

c. Menyalahgunakan wewenang, korupsi, kolusi dan


nepotisme;

d. Menyalahgunakan barang-barang, uang, surat-surat


berharga milik Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin;

e. Memiliki, menjual, memberi, menggadaikan, membeli,


menyewakan, menyimpan barang-barang, dokumen atau
surat-surat berharga milik Dinas Kesehatan secara tidak
sah;

f. Bertindak sebagai penyuap, menerima suap atau memberi


peluang membantu terjadinya suap menyuap;

g. Melakukan penipuan, pencurian, dan penggelapan barang


atau uang;

17
h. Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan
sehingga merugikan Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin, atau kepentingan negara;

i. Mabuk, minum minuman yang memabukkan, madat,


memakai obat bius, atau menyalahgunakan/
mengedarkan obat-obatan terlarang atau obat-obatan
perangsang lainnya;

j. Berjudi baik terbuka ataupun tertutup pada saat atau di


luar jam kerja atau pada saat tidak sedang bekerja/dinas;

k. Melakukan perbuatan asusila;

l. Menyerang, mengintimidasi atau menipu;

m. Menganiaya, mengancam secara fisik atau mental,


menghina secara kasar;

n. Membujuk/memprovokasi untuk melakukan sesuatu


perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau
kesusilaan serta peraturan Dinas Kesehatan Kabupaten
Musi Banyuasin atau ketentuan peraturan perundang-
undangan;

o. Membongkar atau membocorkan rahasia Dinas Kesehatan


Kabupaten Musi Banyuasin atau mencemarkan nama baik
Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin yang
seharusnya dirahasiakan, kecuali untuk kepentingan
negara;

p. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman


sejawat, bawahan atau orang lain di dalam maupun luar
lingkungan kerja, dengan tujuan untuk kepentingan
pribadi, golongan, atau pihak lain yang secara langsung
atau tidak langsung merugikan Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin;

q. Melakukan tindakan yang ceroboh/lalai atau sengaja


merusak atau membiarkan dalam keadaan bahaya
barang-barang milik Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin yang menimbulkan kerugian;

18
r. Melakukan pelanggaran etika profesi yang dapat
digolongkan kepada pelanggaran berat;

s. Melakukan praktik rentenir atau menyerupai atau yang


dapat dikategorikan ke dalam kegiatan rentenir, baik di
dalam maupun di luar lingkungan Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin;

t. Melakukan perbuatan lainnya di lingkungan Dinas


Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin yang diancam
pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;

u. Tidak masuk kerja tanpa alasan lebih dari 6 (enam) hari


kerja; dan

v. Turut serta, menutup-nutupi atau tidak melaporkan atas


kejadian- kejadianatau pelanggaran yang telah dilakukan
oleh teman sekerja, atasan ataubawahannya atau
membiarkan perbuatan tersebut terjadi yang dapat
merugikan Dinas Kesehatan Musi Banyuasin.

Pembinaan Disiplin
Pasal 21

(1) Pembinaan Pegawai merupakan kewajiban yang melekat


pada setiap Pimpinan Satuan Kerja di lingkungan Dinas
Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin;
(2) Pelanggaran disiplin kepegawaian ringan pada tahap
pertama, wajib diperbaiki melalui pembinaan oleh atasan
langsung;
(3) Pembinaan yang diberlakukan oleh atasan langsung
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), merupakan hukuman
disiplin Pegawai yang mendapat rekomendasi dari pejabat
yang berwenang melalui Seksi Sumber Daya Manusia
Kesehatan;
(4) Atasan/Pimpinan dapat secara langsung atau tidak langsung
dengan melalui surat teguran, melakukan pembinaan
terhadap Pegawai yang melakukan pelanggaran.

19
Pasal 22

Pembinaan oleh atasan langsung sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 21 ayat (2), meliputi tiga tahap:

a. Teguran lisan pertama, yaitu teguran secara lisan yang


bersifat pembinaan kepada Pegawai yang untuk pertama kali
melakukan pelanggaran disiplin kepegawaian ringan;

b. Teguran lisan kedua, yaitu teguran secara lisan yang bersifat


pembinaan kepada Pegawai untuk kedua kalinya; dan

c. Teguran lisan ketiga, yaitu teguran secara lisan terakhir yang


bersifat pembinaan, kepada Pegawai yang telah melakukan
pelanggaran ringan untuk ketiga kalinya dan dilakukan
sidang hukuman disiplin.

Pasal 23

Proses pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 pada


setiap tahap, harus dilengkapi dengan bukti Berita Acara
Pemeriksaan atau bukti tertulis lainnya dan dibuatkan oleh
atasan langsung dan dilaporkan kepada Seksi Sumber Daya
Manusia Kesehatan.

Hukuman Disiplin Kepegawaian

Pasal 24
(1) Pegawai Dinas Kesehatan yang melakukan pelanggaran
disiplin, dijatuhi hukuman disiplin oleh pejabat yang
berwenang.

(2) Pegawai yang telah mendapat teguran tertulis dari


atasannya tetapi tetap melakukan pelanggaran ringan,
sedang ataupun berat, dapat diproses langsung oleh Seksi
Sumber Daya Manusia Kesehatan.

(3) Pegawai yang melakukan pelanggaran dengan klasifikasi


pelanggaran sedang, dijatuhi sanksi berupa pemberian
surat peringatan kesatu, setelah sebelumnya diberikan
Berita Acara Pemeriksaan oleh atasan langsung atau Seksi
Sumber Daya Manusia Kesehatan dengan rekomendasi dari
Unit Kerja terkait.

20
(4) Pegawai yang telah mendapat suratperingatan ketiga dalam
jangka waktu 1 (satu) tahun dan melakukan pelanggaran
ringan atau sedang, maka kepada Pegawai yang
bersangkutan dapat diberikan sanksi berupa pemberhentian
dengan tidak hormat sebagai Pegawai Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin.

(5) Setiap teguran atau surat peringatan yang diberikan


mempunyai masa berlaku selama 3 (tiga) tahun, dengan
ketentuan apabila dalam kurun waktu tersebut yang
bersangkutan tidak melakukan pelanggaran ringan, sedang
atau berat, maka teguran dan surat peringatan tersebut
tidak berlaku lagi.

(6) Pegawai yang melakukan pelanggaran disiplin dengan


klasifikasi pelanggaran berat, dapat dijatuhi sanksi berupa
pemutusan hubungan kerja secara langsung, tanpa melalui
surat peringatan.

Pasal 25

(1) Pemberian surat peringatan tertulis dapat disertai


pemberian sanksi tambahan, berupa:

a. Pengurangan/pemotongan insentif;

b. Skorsing; dan

c. Sanksi lainnya, sesuai ketentuan peraturan di Dinas


Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.

(2) Penetapan pemberian sanksi tambahan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Keputusan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.

Pasal 26

Dalam hal dari hasil pemeriksaan Pegawai Non PNS terbukti


melakukan pelanggaran disiplin kepegawaian yang
diklasifikasikan pelanggaran berat, Kepala Dinas Kesehatan dapat
menjatuhkan hukuman berupa pemutusan hubungan kerja
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (4) setelah mendapat
pertimbangan dari Kode Etika dan Hukum di Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin.

21
Pasal 27

(1) Pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin yang


telah melakukan kejahatan dan telah diperiksa Kepolisian
serta dalam tahap pengajuan sidang pengadilan, kepada
Pegawai yang bersangkutan dapat dilakukan pemberhentian
sementara sebagai Pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten
Musi Banyuasin, sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Apabila dari sidang pengadilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) Pegawai yang bersangkutan terbukti bersalah dan
telah memperoleh putusan yang mempunyai kekuatan
hukum tetap (in kracht van gewijsde), maka Pegawai yang
bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin berupa pemutusan
hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat
(4).

BAB VIII
PERGANTIAN KEHILANGAN/ KERUSAKAN INVENTARIS ALAT

Pasal 28

1. Apabila Pegawai Non PNS tidak melakukan serah terima


terhadap alat-alat inventaris diruangan tempat kerjanya
dengan rekan kerja yang lainnya, sehingga sewaktu dilakukan
pemeriksaan ternyata alat tersebut hilang maka Pegawai Non
PNS wajib mengganti alat tersebut dalam bentuk barang
kemudian diserah terimakan kepada bagian bendahara
inventaris barang untuk dilakukan pencatatan penggantian
barang atau;
2. Dapat membayar sejumlah uang sesuai dengan harga barang
tersebut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin;
3. Apabila Pegawai Non PNS terjadi kelalaian /ceroboh terhadap
barang-barang inventaris ruangan kerjanya sehingga
merusak/ memecahkan barang inventaris ruangan maka
Pegawai Non PNS wajib mengganti dalam bentuk barang
tersebut yang kemudian diserah terimakan kepada bagian
bendahara inventaris barang untuk dilakukan pencatatan
penggantian barang;

22
4. Apabila Pegawai Non PNS memakai alat inventaris
ruangannya dalam melakukan tugas terhadap klien yang
dalam kondisi tidak stabil sehingga merusak alat inventaris
ruangan tersebut,maka Pegawai Non PNS wajib mengganti :
a. Jika harga alat tersebut sampai dengan Rp.500.000,- maka
pihak kedua wajib mengganti 50% dari harga alat
tersebut;
b. Jika harga alat tersebut sampai dengan Rp.500.000,-
sampai Rp.1.000.000,- maka pihak kedua wajib mengganti
40 % dari harga alat tersebut;

c. Jika harga alat tersebut sampai dengan Rp.1.000.000,-


sampai Rp.5.000.000,- maka pihak kedua wajib mengganti
30 % dari harga alat tersebut;

d. Jika harga alat tersebut sampai dengan Rp.5.000.000,- Rp.


10.000.000,- maka pihak kedua wajib mengganti 20% dari
harga alat tersebut ;

e. Jika harga alat tersebut diatas Rp.10.000.000,- maka pihak


kedua wajib mengganti 5-10% dari harga alat tersebut.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Pasal 29

1. Pegawai Non PNS wajib mematuhi dan melaksanakan program


dan aturan Kesehatan keselamatan Kerja (K3) dari Pegawai Non
PNS sebagai Pihak Pemberi Kerja dalam hal ini adalah di Dinas
Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin . Apabila Pegawai Non
PNS melanggar / tidak mentaati peraturan yang ada, maka
Pegawai Non PNS dapat dikenakan sanksi/ PHK;

2. Pegawai Non PNS wajib mempergunakan peralatan keselamatan


kerja tersebut dengan baik, apabila Pegawai Non PNS tidak
mempergunakan peralatan keselamatan kerja pada saat
bekerja maka Dinas Kesehatan akan mengenakan sanksi
kepada Pegawai Non PNS.

23
BAB IX
KEBUTUHAN PEGAWAI
Bagian Kesatu

Pegawai Kontrak

Pasal 30
Kebutuhan Pegawai Kontrak ditetapkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin untuk memenuhi
pelayanan yang berdasarkan dari analisis untuk menentukan
formasi kebutuhan Pegawai.

BAB X
PENGADAAN DAN SELEKSI
Bagian Kesatu
Pengadaan Pegawai Kontrak
Pasal 31
Pengadaan Pegawai Kontrak dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Musi Banyuasin dengan persetujuan kepala Dinas
rotasi dengan pemetaan Pegawai Non Pegawai Negeri Sipil
berdasarkan dari analisis untuk menentukan formasi kebutuhan
Pegawai dan juga penggantian tenaga kontrak yang
mengundurkan diri/penambahan tenaga/seleksi berkas
lamaran/kebutuhan organisasi atau UPTD/nota dinas Bupati
sesuai dengan anggaran Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin.
BAB XI
PENGANGKATAN, PENDAYAGUNAAN DAN PEMBERHENTIAN
Bagian Kesatu
Pengangkatan
Pasal 32
(1) Untuk dapat diangkat sebagai Pegawai harus memenuhi
persyaratan:
a. Seleksi kelengkapan berkas/masa pengabdian/kebutuhan
Organisasi atau UPTD;
b. Bersedia menandatangani kontrak kerja.

24
(2) Untuk dapat diangkat sebagai Pegawai Kontrak harus
memenuhi persyaratan :
a. Kompetensi yang dibutuhkan; dan
b. Bersedia menandatangani kontrak kerja
(3) Pegawai Non PNS yang mengundurkan diri dapat diganti sesuai
dengan kebutuhan pegawai.

Bagian Kedua
Pendayagunaan
Pasal 33

(1) Pegawai melaksanakan tugasnya sesuai dengan kontrak kerja.

(2) Dalam rangka efektifitas dan optimalisasi kinerja Pegawai,


dapat dilakukan rotasi dengan pemetaan Pegawai Non Pegawai
Negeri Sipil berdasarkan dari analisis untuk menentukan
formasi kebutuhan Pegawai.

Pasal 34

(1) Pegawai yang sudah habis masa kontraknya dapat


dipekerjakan kembali apabila:

a. Diperlukan sesuai kebutuhan tempat;

b. Memiliki kinerja yang baik; dan

(2) Untuk dapat dipekerjakan kembali sebagaimana Untuk dapat


dipekerjakan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Pegawai wajib mengajukan permohonan paling lambat 1 (satu)
bulan sebelum masa kontrak berakhir dan menandatangani
kontrak kerja.

(3) Pegawai yang STR nya habis masa berlaku tidak dibayar gaji
dan di tunda perpanjangan kontraknya sampai STR baru
diterbitkan.

25
Bagian Ketiga
Pemberhentian
Pasal 35

(1) Pemberhentian Pegawai Non PNS dilakukan dengan hormat


atau tidak dengan hormat.
(2) Pemberhentian Pegawai Non PNS dengan hormat, dilakukan
dalam hal Pegawai Non PNS yang bersangkutan sudah
berumur 56 tahun:

a. Memasuki akhir masa kerja;

b. Mengundurkan diri;

c. Meninggal dunia;

d. Menderita sakit tetap yang berakibat tidak dapat


melaksanakan tugas berdasarkan keterangan Tim Penguji
Kesehatan Pegawai; dan

e. Menderita kelainan/penyakit yang berbahaya bagi diri


sendiri dan/atau lingkungan kerja berdasarkan
rekomendasi Tim Penguji Kesehatan Pegawai.

(3) Pemberhentian Pegawai Non PNS tidak dengan hormat,


dilakukan dalam hal Pegawai Non PNS yang bersangkutan:

a. Tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan selama lebih


dari 5 (lima) hari kerja berturut-turut dalam 1 (satu)
bulan;

b. Melakukan pelanggaran ketentuan peraturan perundang-


undangan;

c. Menyalahgunakan wewenang;

d. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan


pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan
kewenangan orang lain;

e. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan,


menyewakan, atau meminjamkan barang-barang baik
bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat
berharga milik negara secara tidak sah, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada Pemerintah Daerah;

26
f. Memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu
kepada siapapun baik secara langsung atau tidak
langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam
jabatan;

g. Menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari


siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan
dan/atau kerjaannya;

h. Melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu


tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit salah
satu pihak yang dilayani sehingga mengakibatkan
kerugian bagi yang dilayani, sesuai ketentuan peraturan
sperundang-undangan;

i. Menjadi terpidana dalam suatu tindak pidana dan/atau


perbuatan asusila;

j. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik serta


menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam
kegiatan politik;

k. Tanpa izin Direktur, menjadi pegawai atau bekerja untuk


Instansi lain, baik Pemerintah atau swasta.

(4) Tatacara dan mekanisme pemberhentian Pegawai Non PNS


dengan hormat atau dengan tidak hormat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan (3), diatur dengan Peraturan
Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.

BAB XII
PEMBINAAN
Pasal 37

Pembinaan pelaksanaan tugas dan fungsi Pegawai dilakukan oleh


Kepala Dinas Kesehatan, RSUD Sungai Lilin, RSUD Bayung
Lencir, dan Puskesmas melalui atasan langsung.

Pasal 38

(1) Dalam melaksanakan tugasnya Pegawai dievaluasi setiap 3


(tiga) bulan sekali oleh atasan langsungnya yang dituangkan
dalam catatan kinerja dan dilaporkan secara berkala kepada
Kepala Dinas Kesehatan.

27
(2) Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan, RSUD dan Puskesmas
berdasarkan pedoman yang ditetapkan Kepala Dinas.

BAB XIII

KODE ETIK

Pasal 39

Kode Etik Pegawai Non PNS adalah pedoman sikap dan perilaku
bagi Pegawai Non PNS dalam melaksanakan tugas dan pergaulan
hidupnya sehari-hari.
Tujuan Kode Etik
Pasal 40

Tujuan Kode Etik Pegawai Non PNS yaitu:


a. menjaga martabat, kehormatan, dan citra Pegawai Non PNS;
b. memacu produktifitas Pegawai Non PNS; dan
c. menjaga keharmonisan hubungan dalam lingkungan kerja,
keluarga, dan masyarakat.

Pasal 41

Kode Etik Pegawai Non PNS meliputi:

a. Mengetahui dan atau memahami serta menaati ketentuan;

b. Peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian;


tidak memberikan keterangan informasi data kepegawaian;
yang bersifat rahasia kepada pihak yang tidak berwenang;

c. Tidak menyalahgunakan Pegawai Non PNS untuk kepentingan


pribadi atau golongan;

d. Tidak melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun


dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi,
golongan, atau pihak lain;

e. Tidak bertindak selaku perantara bagi seseorang, pengusaha,


atau golongan untuk mendapatkan pekerjaan atau pesanan
dari Pegawai Non PNS;

f. Tidak bertindak selaku perantara dalam proses administrasi


Kepegawaian dengan mengambil keuntungan pribadi atau
golongan;

28
g. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang kondusif;

h. Bertindak dan bersikap tegas, tetapi adil dan bijaksana


terhadap bawahan;

i. Saling menghargai dan menghormati sesama Pegawai Non


PNS, bawahan, atasan, dan masyarakat;

j. Menjadi teladan yang baik terhadap sesama Pegawai Non


PNS, bawahan, dan masyarakat;

k. Memberikan pelayanan secara cepat, tepat, dan aman;

l. Melayani dan menghormati setiap tamu yang datang;

m. Berperilaku sopan santun terhadap sesama, atasan,


bawahan, dan masyarakat;

n. Tidak memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan


kehormatan atau martabat Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin, kecuali untuk kepentingan pelaksanaan tugas
jabatan; dan

o. Menjaga dan menjalin rasa solidaritas dan soliditas sesama


Pegawai Non PNS.

Penegakkan Kode Etik


Pasal 42

(1) Setiap Pegawai Non PNS yang terbukti melanggar Kode


Etik dikenakan sanksi moral.
(2) Sanksi moral sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa:
a. Pernyataan secara tertutup; atau
b. Pernyataan secara terbuka.

Pasal 43

(1) Setiap terjadi dugaan pelanggaran Kode Etik Pegawai Non


PNS dibentuk Majelis Kode Etik.
(2) Pembentukan Majelis Kode Etik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan oleh:
a. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin
apabila dugaan pelanggaran kode etik dilakukan oleh
Pegawai Non PNS;

29
b. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin,
apabila dugaan pelanggaran kode etik dilakukan oleh
Pegawai Non PNS;
c. Dinas Kesehatan dan Kepala Puskesmas yang ada di
lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin
apabila dugaan pelanggaran kode etik dilakukan oleh
Pegawai Non PNS;
(3) Pembentukan Majelis Kode Etik dibuat menurut contoh
sebagaimana tersebut dalam Lampiran I Pedoman
Pengelolaan Pegawai Non PNS ini.
(4) Keanggotaan Majelis Kode Etik, terdiri dari:
a. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota;
b. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota; dan
c. Paling kurang 3 (tiga) orang Anggota.
(5) Dalam hal Anggota Majelis Kode Etik lebih dari 5 (lima)
orang, maka jumlahnya harus ganjil.
(6) Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh
lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Non PNS
yang diperiksa karena diduga melanggar kode etik.
(7) Dalam hal dugaan pelanggaran kode etik dilakukan oleh
Pegawai Non PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Musi
Banyuasin dan ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) huruf c dan ayat (6) tidak terpenuhi, keanggotaan
Majelis Kode Etik dapat berasal dari pejabat di Dinas
Kesehatan Kabupeten Musi Banyuasin setelah
berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Musi
Banyuasin.
Pasal 44

(1) Pegawai Non PNS yang diduga melakukan pelanggaran


Kode Etik dipanggil untuk diperiksa oleh Majelis Kode Etik.
(2) Apabila diperlukan, Majelis Kode Etik dapat memanggil
orang lain untuk dimintai keterangan guna kepentingan
pemeriksaan.

30
(3) Panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilakukan secara tertulis dan ditandatangani oleh Ketua
atau Sekretaris Majelis Kode Etik, dibuat menurut contoh
sebagaimana tersebut dalam Lampiran II Peraturan Bupati
Pedoman Pengelolaan Pegawai Non PNS ini.

Pasal 45

(1) Pemeriksaan dilakukan secara tertutup, hanya diketahui


dan dihadiri oleh Pegawai Non PNS yang diperiksa dan
Majelis Kode Etik.

(2) Pegawai Non PNS yang diperiksa karena diduga melakukan


pelanggaran kode etik, wajib menjawab segala pertanyaan
yang diajukan oleh Majelis Kode Etik.

(3) Apabila Pegawai Non PNS yang diperiksa tidak mau


menjawab pertanyaan, maka yang bersangkutan dianggap
mengakui dugaan pelanggaran kode etik yang
dilakukannya.

(4) Hasil pemeriksaan dituangkan dalam Berita Acara


Pemeriksaan, dibuat menurut contoh sebagaimana tersebut
dalam Lampiran III Peraturan Dinas Kesehatan Pedoman
Pengelolaan Pegawai Non PNS ini.

(5) Berita Acara Perneriksaan ditandatangani oleh anggota


Majelis Kode Etik yang memeriksa dan Pegawai Non PNS
yang diperiksa.

(6) Apabila Pegawai Non PNS yang diperiksa tidak bersedia


menandatangani Berita Acara Pemeriksaan, maka Berita
Acara Pemeriksaan tersebut cukup ditandatangani oleh
Majelis Kode Etik yang memeriksa, dengan memberikan
catatan dalam Berita Acara Pemeriksaan, bahwa pegawai
non PNS yang diperiksa tidak bersedia menandatangani
berita acara pemeriksaan.

31
Pasal 46

(1) Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa


Pegawai Non PNS yang diduga melanggar kode etik.
(2) Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah Pegawai Non
PNS yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri.
(3) Pembelaan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disampaikan pada saat pemeriksaan oleh Majelis Kode Etik.
(4) Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah
mufakat dalam Sidang Majelis Kode Etik tanpa dihadiri
Pegawai Non PNS yang diperiksa.
(5) Dalam ha1 musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) tidak tercapai, keputusan diambil dengan suara
terbanyak.
(6) Sidang Majelis Kode Etik dianggap sah apabila dihadiri oleh
Ketua, Sekretaris, dan paling kurang 1 (satu) orang anggota.
(7) Keputusan Sidang Majelis Kode Etik berupa rekomendasi dan
bersifat final.
(8) Rekomendasi Sidang Majelis Kode Etik sebagaimana
dimaksud ayat (7) ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris,
dibuat menurut contoh sebagaimana tersebut dalam
Lampiran IV Peraturan Bupati Pedoman Pengelolaan Pegawai
Non PNS ini.

Pasal 47

Majelis Kode Etik wajib menyampaikan Berita Acara


Pemeriksaan dan keputusan hasil sidang majelis berupa
rekomendasi kepada Pejabat yang berwenang menjatuhkan sanksi
moral sebagai bahan dalam menetapkan keputusan penjatuhan
sanksi moral.

Pasal 48

(1) Untuk membantu tugas –tugas Majelis Kode Etik dibentuk


Sekretariat Majelis Kode Etik yang ditetapkan oleh Sekretariat
Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.

(2) Seksi Sumber Daya Manusia selaku Sekreatriat Majelis


melaporkan majels kode etik atas tindak lanjut penyelesaian
laporan / pengaduan.

32
(3) Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik sebagaimana
dimaksud pada Pasal 33 ayat (1) tidak boleh rendah dari
jabatan dan pangkat Pegawai Non PNS yang diperiksa.

Pasal 49

(1) Majelis Kode Etik sebelum mengambil keputusan terlebih


dahulu harus melakukan klarifikasi dan investasi terhadap
pelapor Pegawai Non PNS Terlapor dalam rangka mencari
bukti.

(2) Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah Pegawai Non


PNS Terperiksa diberi kesempatan membela diri.

(3) Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah


mufakat, selanjutnya dituangkan dalam bentuk berita acara.

(4) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat


dijadikan rekomendasi sebagai bahan Dinas Kesehatan untuk
mengambil keputusan.

(5) Dalam hal, musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud


pada ayat (3) tidak tercapai, keputusan diambil dengan suara
terbanyak.

(6) Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.

Pemeriksaan Majelis Kode Etik

Pasal 50

(1) Pemeriksaan terhadap Pegawai Non PNS Terperiksa


didasarkan pada pengaduan, temuan dan/atau laporan.

(2) Setiap pengaduan, temuan dan/atau laporan terhadap


pelanggaran Kode Etik, ditindaklanjuti oleh Majelis Kode Etik
paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja setelah laporan
diterima.

(3) Pemeriksaan oleh Majelis Kode Etik dilakukan secara tertutup


dan dituangkankan dalam berita acara pemeriksaan.

33
Pasal 51

Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 meliputi :

(1) Anggota Majelis Kode Etik memberikan tanggapan, pendapat,


alasan, dan argumentasi.

(2) Sekretaris Majelis Kode Etik mencatat dan mengarsipkan


tanggapan, pendapat, alasan, argumentasi dan Keputusan
Majelis Kode Etik.

(3) Tanggapan, pendapat, alasan, dan argumentasi sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), bersifat rahasia.

(4) Pemeriksaan Majelis Kode Etik sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dihadiri paling sedikit 3 (tiga) anggota Majelis Kode
Etik.

Pasal 52

(1) Majelis Kode Etik melakukan pemanggilan secara tertulis


kepada Pegawai Non PNS Terperiksa paling singkat 3 (tiga)
hari kerja dan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sebelum
tanggal pemeriksaan.

(2) Jika Pegawai Non PNS tidak memenuhi panggilan


pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan
pemanggilan kedua dalam waktu paling singkat 3 (tiga) hari
kerja dan paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal yang
seharusnya bersangkutan diperiksa pada panggilan pertama.

(3) Dalan hal Pegawai Non PNS tidak memenuhi panggilan kedua
tanpa alasan yang sah maka Majelis Kode Etik dapat
mengambil keputusan berdasarkan alat bukti dan keterangan
yang ada tanpa hadirnya Pegawai Non PNS Terperiksa.

Pasal 53

Dalam hal musyawarah mufakat sebagaiman dimaksud dalam


Pasal 34 ayat (3) tidak tercapai, keputusan diambil dengan suara
terbanyak.

(1) Majelis Kode Etik wajib menyampaikan tanggapan, pendapat,


alasan, dan argumentasi.

34
(2) Sekretaris Majelis Kode Etik mencatat dan mengarsipkan
tanggapan, pendapat, alasan, argumentasi dan Keputusan
Majelis Kode Etik.

(3) Tanggapan, pendapat, alasan, dan argumentasi sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), bersifat rahasia.

(4) Pemeriksaan Majelis Kode Etik sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dihadiri paling sedikit 3 (tiga) anggota Majelis Kode
Etik.
Pasal 54

(1) Majelis Kode Etik melakukan pemanggilan secara tertulis


kepada Pegawai Non PNS Terperiksa paling singkat 3 (tiga)
hari kerja dan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sebelum
tanggal pemeriksaan.

(2) Jika Pegawai Non PNS tidak memenuhi panggilan


pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan
pemanggilan kedua dalam waktu paling singkat 3 (tiga) hari
kerja dan paling lama7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal yang
seharusnya bersangkutan diperiksa pada panggilan pertama.

(3) Dalam hal Pegawai Non PNS tidak memenuhi panggilan kedua
tanpa alasan yang sah maka Majelis Kode Etik dapat
mengambil keputusan berdasarkan alat bukti dan keterangan
yang ada tanpa hadirnya Pegawai Non PNS.

Pasal 55

Dalam hal musyawarah mufakat sebaiman dimaksud dalam Pasal


53 ayat (3) tidak tercapai, keputusan diambil dengan suara
terbanyak.

Pasal 56

(1) Majelis Kode Etik wajib mmenyampaikan keputusan Majelis


Kode Etik kepada Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat
yang ditunjuk sebagai bahan dalam memberikan sanksi moral
kepada Pegawai Non PNS yang bersangkutan.

(2) Dalam hal keputusan Majelis Kode Etik menemukan indikasi


adanya pelanggaran terhadap ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan yang mengatur mengenai disiplin

35
Pegawai Non PNS, Majelis Kode Etik dapat merekomendasikan
kepada Pejabat Pembina Kepgawaian atau pejabat yang
ditunjuk untuk pemberian sanksi administratif.

(3) Keputusan Majelis Kode Etik tidak menggugurkan tuntunan


pelanggaran Disiplin, Pidana/Perdata atau tuntunan hukum
lainnya.

(4) Keputusan Majelis Kode Etik sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam laporan hasil
pemeriksaan Majelis Kode Etik.

(5) Keputusan Majelis Kode Etik harus disampaikan kepada


Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang ditunjuk
sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lama
10 (sepuluh) hari sejak tanggal keputusan Majelis Kode Etik
ditetapkan.

(6) Jika berdasarkan pemeriksaan Majelis Kode Etik, Pegawai Non


PNS Terperiksa terbukti tidak bersalah, Keputusan Majelis
Kode Etik disampaikan kepada atasan langsung Pegawai Non
PNS yang bersangkutan, paling lama 10 (sepuluh) hari sejak
tanggal keputusan hasil sidang Majelis Kode Etik.

BAB XIV

SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK

Pasal 57

(1) Pegawai Non PNS yang melakukan pelanggaran Kode Etik


dikenakan sanksi moral.

(2) Sanksi moral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. Permohonan maaf secara tetulis dan/atau pernyataan


penyesalan secara tertulis yang disampaikan secara
tertutup oleh Pegawai Non PNS sebagaimana dimaksud ayat
(1), apabila menurut hasil pemeriksaan Majelis Kode Etik
merupakan pelanggaran Kode Etik pertama kali dilakukan.

b. Permohonan maaf secara tertulis dan/atau pernyataan


penyesalan secara tertulis yang disampaikan secara
terbuka oleh Pegawai Non PNS sebagaimana dimaksud ayat
(1), apabila menurut hasil pemeriksaan Majelis Kode Etik

36
merupakan pelanggaran Kode Etik yang berulang.

c. Pernyataan sikap bersedia dijatuhi hukuman disiplin


berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
apabila tetap melakukan pengulangan pelanggaran Kode
Etik yang sama atau yang lainnya.

(3) Pernyataan secara tertutup sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) huruf a adalah penyampaian sanksi pelanggaran Kode Etik
dalam ruangan tertutup dan hanya diketahui oleh Pegawai
Non PNS yang bersangkutan dan pejabat pemberi sanksi serta
pejabat lain yang terkait yang pangkatnya tidak boleh lebih
rendah dari Pegawai Non PNS yang bersangkutan.

(4) Pernyataan secara terbuka sebagaiman dimaksud pada ayat


(2) huruf b adalah penyampaian sanksi pelanggaran kode etik
berupa pengumuman melalui forum-forum resmi Pegawai Non
PNS, upacara bendera, media massa, dan/atau forum lainnya
yang dipandang sesuai.

(5) Sanksi moral sebagaiman dimaksud pada ayat (1) ditetapkan


dengan keputusan pejabat yang berwenang menjatuhkan
sanksi.

(6) Sanksi moral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijatuhkan


berdasarkan laporan hasil pemeriksaan pada sidang Majelis
Kode Etik Pegawai Non PNS berupa rekomendasi dengann
menyebutkan jenis pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh
Pegawai Non PNS.

(7) Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat


mendelegasikan wewenangnya kepada atasan langsung
Pegawai Non PNS yang dikenakan sanksi moral.

Pasal 58

(1) Selain penjatuhkan sanksi moral sebagaiman dimaksud


dalam pasal 57, pejabat yang berwenang menjatuhkan sanksi
dapat menjatuhkan sanksi moral tambahan yang lebih
spesifik terkait tugas pokok, fungsi dan jabatan pegawai Non
PNS yang dinyatakan melakukan pelanggaran Kode Etik
Pegawai Non PNS.

37
(2) Contoh sanksi moral tambahan sebagaimana dimaksud ayat
(1) seperti tidak boleh melakukan banyak kegiatan selama 1
(satu) tahun.

(3) Bentuk dan jenis sanksi moral tambahan sebagaimana


dimaksud ayat (2) dicantumkan dalam keputusan penjatuhan
sanksi moral oleh pejabat yang berwenang.

Pasal 59

Pegawai Non PNS yang melakukan pelanggaran Kode Etik selain


dikenakan sanksi moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58
ayat (2), dapat dikenakan tindakan administratif sesuai dengan
peraturan perundang-undang, atas rekomendasi Majelis Kode
Etik.

Pasal 60

Dalam hal tidak terbukti adanya pelanggaran, Majelis Kode Etik


dapat merekomendasikan sanksi moral bagi pelapor/pengadu
apabila pelapor/pengadu adalah Pegawai Non PNS.

BAB XV
PEJABAT YANG BERWENANG MENETAPKAN SANKSI MORAL
Pasal 61

(1) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin


menetapkan sanksi moral berdasarkan rekomendasi Majelis
Kode Etik Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin pada
Pegawai Non PNS yang dijatuhi sanksi.

(2) Direktur Rumah Sakit menetapkan penjatuhan sanksi moral


berdasarkan rekomendasi Majelis Kode Etik Kabupaten Musi
Banyuasin pada Pegawai Non PNS yang dijatuhi sanksi.

(3) Kepala Puskesmas menetapkan penjatuhkan sanksi moral


berdasarkan rekomendasi Majelis Kode Etik Kabupaten Musi
Banyuasin pada Pegawai Non PNS yang dijatuhi sanksi.

38
BAB XV
REHABILITASI
Pasal 62

(1) Pegawai Non PNS yang tidak terbukti melakukan pelanggaran


Kode Etik berdasarkan keputusan hasil pemeriksaan Majelis
Kode Etik direhabilitasi nama baiknya.

(2) Rehabilitasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1 ) dtetapkan


dengan Keputusan Majelis Kode Etik.

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 63

Peraturan Dinas Kesehatan ini mulai berlaku pada tanggal


diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Dinas Kesehatan ini dengan
penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Musi Banyuasin.

Ditetapkan di : Sekayu
Pada tanggal : November 2019

Kepala Dinas Kesehatan


Kabupaten Musi Banyuasin

dr. H. Azmi Dariusmansyah


NIP 19720928 200502 1 003

39
BERITA DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN TAHUN 2019 NOMOR

LAMPIRAN I
Pembentukan Majelis Kode Etik

RAHASIA
PEMBENTUKAN MAJELIS KODE ETIK
NOMOR : ...........................................

1. Berdasarkan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Sdr. ........... maka
perlu dilakukan pemeriksaan.
2. Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada angka 1, maka perlu
membentuk Majelis Kode Etik yang terdiri dari :

Nama :
Tempat Tanggal Lahir :
Pekerjaan :
Tempat Kerja :
Alamat Rumah :
Nomor Hp/Telp :

3. Demikian untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.

.................., ............................
PPK/Pejabat yang ditunjuk*)

NAMA ....................................
NIP ...................................

Tembusan Yth :
1. ...................................................................
2. ...................................................................

*) Coret yang tidak perlu.

40
LAMPIRAN II

Surat Panggilan

RAHASIA
SURAT PANGGILAN
NOMOR : ...................

1. Bersama ini diminta dengan hormat kehadiran Saudara :

Nama :
Tempat Tanggal Lahir :
Pekerjaan :
Tempat Kerja :
Alamat Rumah :
Nomor Hp/Telp :
Untuk menghadap kepada Majelis Kode Etik, pada :

Hari :
Tanggal :
Jam :
Tempat :
untuk diperiksa/diminta keterangan*) sehubungan dengan dugaan pelanggaran kode
etik terhadap ketentuan ..................................................**)

2. Demikian untuk dilaksanakan.


.................., .....................................
Ketua/Sekretaris*)
Majelis Kode Etik

NAMA .............................................
NIP ............................................

Tembusan Yth :
1. .........................................................................
2. .........................................................................
*) Coret yang tidak perlu.

41
LAMPIRAN III

Berita Acara Pemeriksaan

RAHASIA
BERITA ACARA PEMERIKSAAN

Pada hari ini ............... tanggal .......... bulan .......... tahun .......... Majelis Kode Etik
yang dibentuk berdasarkan Keputusan ............... Nomor ....tanggal .... masing-masing:
1. Nama : ..............................................
NIP : ..............................................
Pangkat/Gol. Ruang : ..............................................
Jabatan : ..............................................
2. Nama : ..............................................
NIP : ..............................................
Pangkat/Gol. Ruang : ..............................................
Jabatan : ..............................................
3. Nama : ..............................................
NIP : ..............................................
Pangkat/Gol. Ruang : ..............................................
Jabatan : ..............................................
4. dst.
melakukan pemeriksaan terhadap:

Nama : ................................................
Tempat Tanggal Lahir : ................................................
Pekerjaan : ................................................
Tempat Kerja : ................................................
Alamat Rumah : ................................................
Nomor Hp/Telp : ................................................
karena yang bersangkutan diduga telah melakukan pelanggaran kode etik terhadap
ketentuan .......*)

1. Pertanyaan:

..........................................................................................

...................................................................

42
1. Jawaban

..........................................................................................

......................................................................

2. Pertanyaan:

..........................................................................................

...................................................................

2. Jawaban

..........................................................................................

......................................................................

3. dst.
Demikian Berita Acara Pemeriksaan ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana
mestinya.
...................., ..................................
Yang diperiksa: Majelis Kode Etik :
Nama : Ketua
NIP : Nama :
Tanda Tangan : NIP :
Tanda Tangan :
Catatan : Sekretaris
Nama :
NIP :
Tanda Tangan :
Anggota

1. Nama :

NIP :
Tanda Tangan :

2. dst.

*) Tulislah Ketentuan berdasarkan Peraturan Bupati Tentang Pedoman Pengelolaan


Pegawai Non PNS yang dilanggar.

43
LAMPIRAN IV

Penyampaian Rekomendasi Majelis Kode Etik


Kepada
Yth. .......................................
di
..................................

RAHASIA
REKOMENDASI MAJELIS KODE ETIK

1. Bersama ini kami sampaikan rekomendasi Mejelis Kode Etik sebagai berikut:

a. Pada hari.......... tanggal ..........Majelis Kode Etik telah memeriksa Saudara:

Nama :
Tempat Tanggal Lahir :
Pekerjaan :
Tempat Kerja :
Alamat Rumah :
Nomor Hp/Telp :
Dalam pemeriksaan tersebut, yang bersangkutan terbukti/tidak terbukti*) melakukan perbuatan yang
melanggar ketentuan....**) berupa .......
Berdasarkan Sidang Majelis Kode Etik pada hari .....tanggal ....., Majelis Kode Etik telah memutuskan
bahwa Pegawai Non PNS yang bersangkutan untuk:

1) Dijatuhi sanksi moral berupa pernyataan secara tertutup/terbuka*) karena melanggar ketentuan......
**)
yaitu........
2) Dikarenaka tindakan administratif sesuai peraturan perundang-undangan.***)
2. Sebagai bahan dalam menetapkan keputusan penjatuhan sanksi moral, bersama ini lampirkan Berita
Acara Pemeriksaan Pegawai Non PNS yang bersangkutan.

3. Demikian rekomendasi ini disampaikan, untuk digunakan sebagaimana mestinya sesuia peraturan
perundang-undangan.
.................., .....................................
Ketua

NAMA .............................................
NIP ............................................
Sekretaris

NAMA .............................................
NIP ............................................
Tembusan Yth :
1. .......................................................
2. .......................................................
*) Coret yang tidak perlu
**) Tulislah ketentuan Peraturan Bupati Tentang Pedoman Pengelolaan Pegawai Non PNS yang dilanggar.
***) Ditulis apabila direkomendasikan pula tindakan administratif.

44
.................., .....................................
Ketua/Sekretaris*)
Majelis Kode Etik

NAMA .............................................
NIP ............................................
Tembusan Yth :

1. .........................................................................

2. .........................................................................
*) Coret yang tidak perlu.

45