Anda di halaman 1dari 3

NAMA : KHAIRA UMMAH

NPM : 1410070100134

INERSIA UTERI

A. DEFINISI
Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan
pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. Disini kekuatan his lemah dan frekuensinya
jarang.

B. KLASIFIKASI
Kelainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia uteri hipertonik.
1. Inersia Uteri Hipotonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat untuk melakukan
pembukaan serviks atau mendorong anak keluar. Di sini kekuatan his lemah dan
frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang
baik seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion atau
kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta pada
penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan
serviks, fase laten atau fase aktif, maupun pada kala pengeluaran.

Inertia uteri hipotonik terbagi dua, yaitu:


a. Inersia Uteri Primer
Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak
adekuat ( kelemahan his yang timbul sejak dari permulaan persalinan ),
sehingga sering sulit untuk memastikan apakah penderita telah memasuki
keadaan inpartu atau belum.
b. Inersia Uteri Sekunder
Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan his baik, kemudian
pada keadaan selanjutnya terdapat gangguan / kelainan.

1
2. Inersia Uteri Hipertonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi
normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah
uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar.
Disebut juga sebagai incoordinate uterine action. Contoh misalnya "tetania uteri"
karena obat uterotonika yang berlebihan. Pasien merasa kesakitan karena his yang
kuat dan berlangsung hampir terus-menerus. Pada janin dapat terjadi hipoksia janin
karena gangguan sirkulasi uteroplasenter. Faktor yang dapat menyebabkan
kelainan ini antara lain adalah rangsangan pada uterus, misalnya pemberian
oksitosin yang berlebihan, ketuban pecah lama dengan disertai infeksi, dan
sebagainya.

C. ETIOLOGI
Menurut Rustam Mochtar (1998) sebab-sebab inersia uteri adalah:
1. Kelainan his sering dijumpai pada primipara
2. Faktor herediter, emosi dan ketakutan
3. Salah pimpinan persalinan dan obat-obat penenang
4. Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah rahim, ini
dijumpai pada kesalahan-kesalahan letak janin dan disproporsi sevalopelvik
5. Kelainan uterus, misalnya uterus bikornis unikolis
6. Kehamilan postmatur (postdatism)
7. Penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia
8. Uterus yang terlalu teregang misalnya hidramnion atau kehamilan kembar atau
makrosomia

D. DIAGNOSIS
Untuk mendiagnosa inersia uteri memerlukan pengalaman dan pengawasan yang teliti
terhadap persalinan. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat
diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk sampai kepada kesimpulan ini diperlukan
kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi. Pada fase laten diagnosis akan lebih
sulit, tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi (his) yang kuat dan lama, maka diagnosis
inersia uteri sekunder akan lebih mudah.

2
E. PENANGANAN
Penanganan inersia uteri dengan:
1. Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus
diperhatikan .
2. Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan dan dijelaskan tentang kemungkinan-
kemungkinan yang ada.
3. Pada inersia primer, setelah dipastikan penderita masuk dalam persalinan, evaluasi
kemajuan persalinan 12 jam, kemudian dengan periksa dalam. Jika pembukaan
kurang dari 3 cm. porsio tebal lebih dari 1 cm, penderita diistirahatkan, berikan
sedatif sehingga pasien dapat tidur, mungkin masih dalam “false labour”. Jika
setelah 12 jam berikutnya tetap ada his tanpa ada kemajuan persalinan, ketuban
dipecahkan dan his diperbaiki dengan drip oksitosin.
4. Pada inersia uteri sekunder, dalam fase aktif, harus segera dilakukan :
a. Penilaian cermat apakah ada disproporsi sevalopelvik dengan pelvimentri
klinik atau radiologi. Bila CPD maka persalinan segera diakhiri dengan sectio
cesarea
b. Bila tidak ada CPD, ketuban dipecahkan dan diberi drip oksitosin
c. Bila kemajuan persalinan kembali 2 jam setelah his baik. Bila tidak ada
kemajuan, persalinan diakhiri dengan sectio cesarea
d. Pada akhir kala I atau pada kala II bila syarat ekstraksi vakum atau cunam
dipenuhi, maka persalinan dapat segera diakhiri dengan bantuan alat tersebut.
Hampir 50% kelainan his pada fase aktif disebabkan atau dihubungkan dengan
adanya CPD, sisanya disebabkan oleh faktor lain seperti kelainan posisi janin,
pemberian obat sedatif atau relaksan terhadap otot uterus dan sebagainya.

F. KOMPLIKASI
Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat-akibat
terhadap ibu dan janin (infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi, dll).