Anda di halaman 1dari 22

UJIAN AKHIR SEMESTER

GEOLOGI STRUKTUR APLIKASI


GL-4014

OLEH :
RENGGA JATI JANOTTAMA

12016051

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2020
UJIAN AKHIR SEMESTER I 2019-2020
GEOLOGI STRUKTUR APLIKASI (GL-4014)
DOSEN : Prof. Ir, Benyamin Sapiie, Ph.D / Dr. Indra Gunawan

NAMA : Rengga Jati Janottama NIM : 12016051

SOAL

1. Jelaskan dan gambarkan pengertian, jenis, klasifikasi dan definisi konsep


pembentukan sesar berdasarkan klasifikasi Anderson (1951)!
2. Gambarkan serta jelaskan dengan menggunakan diagram Mohr kemungkinan
pembentukan rekahan/sesar dan jenis-jenisnya!
3. Jelaskan klasifikasi dan mekanisme sesar menggunakan konsep
“Detachment”!
4. Jelaskan konsep Fold-Related-Fault!
5. Jelaskan mengenai konsep “Balancing Cross-Sections”! Gunakan metoda
Gibbs (1989) untuk extensional system, Dalshtrom (1976) dan Suppe (1983)
untuk thrust!
6. Jelaskan konsep dasar dan metoda Fault-Seal-Analysis!
7. Buatlah interpretasi untuk masing-masing penampang, beri warna tiap unit
picking dan tentukan jenis sesar, style, serta urutkan deformasinya. Lakukan
restorasi penampang untuk seismic line-2 dan tentukan besaran strainnya.

JAWABAN

1. Klasifikasi Anderson (1951) membagi jenis sesar berdasarkan atas principle


stress. Principal stress adalah stress yang bekerja tegak lurus bidang sehingga
harga komponen shear stress pada bidang tersebut adalah nol. Bidang tersebut
dikenal sebagai bidang utama atau principal surface. Terdapat tiga principal
stress yaitu S1, S2, dan S3, dimana σ1 (S1) > (S2) > σ3 (S3).
Dari tiga sumbu tersebut dapat pisahkan menjadi dua sumbu berdasarkan
orientrasi sumbu, yaitu sumbu horizontal (Sh) dan sumbu vertikal (Sv), dimana
Sh terdiri dari dua sumbu yaitu sumbu horizontal dengan nilai maksimum
(SHmax) dan sumbu horizontal dengan nilai minimum (Shmin), sedangkan Sv
hanya mempunyai satu sumbu saja. Sumbu ini lah yang mengontrol
terbentuknya klasifikasi sesar, yaitu sesar normal, sesar naik dan sesar
mendatar.
a. Sesar Normal terjadi juka tegasan utama (S1) berposisi di sumbu
vertikal

Gambar 1. Tegasan pada sesar normal

b. Sesar Naik terjadi jika tegasan minimum (S3) berposisi di sumbu vertical

Gambar 2. Tegasan pada sesar naik

c. Sesar Geser terjadi jika tegasan menengah (S2) berposisi di sumbu


vertikal

Gambar 3. Tegasan pada sesar geser

2. Diagram Mohr pembentukan rekahan dan sesar dan jenis-jenisnya :


a. Tensile fracture
Rekahan yang terjadi ketika lingkaran mohr dengan stress negatif dan
yang lain nol menyentuh griffith criterion.
b. Hybrid atau mix-mode fracture
Rekahan yang terjadi saat lingkaran mohr dengan stress positif dan
yang lain negatif menyentuh griffith criterion.
c. Shear fracture
Rekahan yang terjadi saat lingkaran mohr dengan stress nol dan yang
lain positif atau keduanya positif menyentuh mohr coulomb envelope.
d. Cataclastic deformation
Deformasi yang terjadi saat lingkaran mohr dengan kedua stress
positif menyentuh garis brittle-ductile transition.
e. Plastic deformation
Deformasi yang terjadi saat lingkaran mohr dengan kedua stress
positif menyentuh mohr coulomb envelope pada interval von misses
ductile failure criterion.

Gambar 4. Diagram Mohr pembentukan rekahan dan jenis-jenisnya


3. Detachment Fault adalah patahan dengan sudut kemiringan bidang sesar yang
relative sangat landai dan biasanya merupakan reaktifasi dari struktur atau
bidang lemah.

Gambar 5. Penampang detachment fault

Detachment Fault dapat berkaitan dengan compressional dan Extensional


Fault-System. Extensional Fault-System sendiri terjadi pada variasi tektonik
setting yang sangat lebar dan menunjukkan variasi geometri yang lebar juga.
Detachment fault memiliki perpindahan yang sangat besar bahkan hingga
puluhan kilometer. Detachment Extensional Fault System dapat diklasifikasikan
menjadi empat jenis yaitu :
a. Propagrational Delta System-Listric Arrays
b. Passive Continental Margins-Dominantly Listric
c. Salt Detachment and Diapirs-Dominantly Listric
d. Submarine Scarp Collapse-Listric

Gambar 6. Propagational Delta System


Detachment Extensional Fault dapat didefinisikan sebagai sesar normal
melengkung di mana permukaan (foot wall) sesar cekung ke atas dan
kemiringannya semakin landai seiring dengan bertambahnya kedalaman.
Bidang gantungnya dapat berotasi dan begeser sepanjang bidang patahan.
Dari patahan tersebut sering terbentuk antiklin antrara hanging wall dan foot
wall akibat dari kelenturan antara kedua bidang itu.

Gambar 7. Listric Fault

Mekanisme pembentukan sesar dalam konsep detachment dimulai dengan


terjadinya sesar turun dan perpindahan antara hanging wall dan foot wall
yang menyebabkan terbukanya jarak gap permukaan antara hanging wall dan
foot wall. Deformasi terdistribusi sepanjang permukaan Hanging wall dan
menghasilkan lipatan atau rollover folding. Selain itu sesar normal yang lebih
kecil akan mungkin terbentuk di sepanjang detachment fault.

Gambar 8. Mekanisme pembentukan detachment


4. Konsep Fold-Related-Fault
Fold related fault adalah mekanisme deformasi yang signifikan terjadi di sabuk
gunung dan kaki gunung, sabuk lipatan-sesar perairan dalam, potongan akresi,
intraplate setting, dan cekungan inversi.

Gambar 9. Jenis-jenis Fold-Related Fault

Konsep fold-related-fault dapat menjelaskan evolusi dari lipatan pada tingkat


kerak atas, di mana proses brittle biasanya diharapkan ada (Suppe, 1983).
Selain mendominasi dalam rezim kompresi, fold-related-fault juga penting
dalam proses deformasi untuk mengontrol ekstensional, di mana sering
dinyatakan sebagai anti-rollover antiklin pada sesar listrik, sebagai lipatan
propagasi patahan ekstensional.
Selain itu, fold-related-fault dapat terjadi pada situasi strike-slip. Dia dapat
diketahui sebagai antiklin yang merepresentasikan sebagai jebakan minyak dan
gas. Oleh karena itu fold-related-fault memaikan peran besar dalam
pembentukan struktur reservoir hidrokarbon.
Terdapat tiga jenis utama dari Fault-related-folds yaitu:
a. Detachment Fold
Detachment fold adalah lipatan yang berevolusi dari pemendekan
suatu masa batuan di atas detachment atau decollement. Detachment
didefinisikan sebagai sesar dengan sudut kemiringan yang sangat kecil
namun tidak sampai parallel dengan horizontal. Detachment fold juga
berkembang di ujung sebuah bedding-parallel thrust. Detachment fold
yang berbeda hanya dapat terjadi jika ada cukup material yang
bergerak menuju lapisan detachment untuk mengisi inti dari antiklin
yang sedang bertumbuh. Apabila material yang mengisi penguatan
lipatan tidak cukup, pertumbuhan dari lipatan akan terhenti dan
pemendekan mungkin tergantikan oleh sesar.
Karakteristik paling penting dari suatu detachment folds adalah
detachment horizon atau decollement itu sendiri yang berkembang di
atas, di bawah, atau di atas dan di bawah lipatan. Tegangan pada
lapisan parallel menyebabkan lipatan berkembang diatas detachment
stratigrafi yang tetap. Seringnya detachment fold memiliki badan yang
simetris dan geometrinya memiliki rentang antara tipe konsentris dan
tipe chevron. Secara umum Detachment fold dicirikan dengan
tegangan homogen, lipatan orde kedua, sesar konjugasi orde kedua
atau struktur dupleks

Gambar 10. Detachment Folds


b. Fault-bend Fold
Fault-bend Fold terjadi saat material diangkut melalui footwall dari
lereng sesar. Fault-bend Fold terbentuk saat hanging wall bergerak ke
atas bidang sesar dan akan menyebabkan deformasi lipatan. Geometri
dari lipatan yang terbentuk mencerminkan geometri ramp yang
terbentuk. Lereng yang angular akan membentuk lipatan kink yang
menyudut, sedangkan lereng yang menekuk lebih landai akan
menghasilkan lipatan yang tidak terlalu menyudut.
Definisi Klasik fault-bend fold terbentuk ketika unit tektonik secara
pasif bergerak diatas lereng yang merupakan bagian bawah dari sesar
anjak. Pertama lapisan akan tertekuk ke atas untuk mengakomodasi
bentuk lereng. Kemudian setelah melewati lereng, lapisan akan
kembali pada bentuk semula yang biasa berupa lapisan horizontal. Jadi
secara umum, lapisan batuan mengalami dua deformasi dalam jarak
pendek. Mekanisme deformasi umumnya diasumsikan sebagai flexural
slip atau shear yang mempertahankan ketebalan dan panjang lapisan
sehingga memudahkan untuk merekonstruksinya.

Gambar 11 Fault-Bend Folds


c. Fault-propagation Fold
Lipatan yang terbentuk dan berasosiasi dengan ujung dari sesar.
Definisi ini berlaku untuk setiap lipatan yang terbentuk di depan
pergerakan sesar naik atau dapat juga secara umum digunakan untuk
semua jenis lipatan yang terbentuk di depan pergerakan ujung sesar.
Fault-propagation folds klasik terbentuk dalam lapisan yang hampir
horizontal dimaana sesar bergerak ke naik keatas lapisan. Secara
umum sesar anjak akan membentuk fault-propagation folds jika terus
terjadi akumulasi pergerakan dan hasilnya bisa membentuk drag folds
sepanjang hanging wall.

Gambar 12. Fault-Propagation Folds

5. Extensional Balanced Cross Section


Rekonstruksi penampang yang dilakukan dengan mengasumsikan bagaimana
kondisi awal sebelum mengalami deformasi, yaitu awal pengendapan berupa
bidang datar. Gambar di bawah memperlihatkan daerah dengan label A
sebelum terdeformasi sama dengan daerah B sebelum terdeformasi.
Sedangkan Daerah C merupakan daerah yang menjadi dasar persamaan yang
menghubungkan antara panjang sebelum terdeformasi dan panjang setelah
terdeformasi serta kedalaman dari permukaan decollment/detachment fault
(Lo = Li + A/d)
Gambar 13. Rekonstruksi penampang ekstensional menutur Gibbs (1989)

Compressional Tectonics Cross Section Balance


Menurut Suppe pada tahun 1989, sebelum melakukan restorasi pada
penampang, harus menemukan arah garis penampang seismik yang paralel
dengan keberadaan sesar anjak. Hal tersebut akan dilihat dan disesuaikan
dengan tren kelurusan regional dengan keberadaan yang tegak lurus dengan
sesar utama, tren dari lipatan berorde besar dan sesar normal listrik yang
berasosiasi dengan sesar naik dan lipatan.
Gambar 14. Penampang yang memperlihatkan pemotongan tegak lurus sesar utama

Dengan hal tersebut, kita dapat mengetahui apakah hanya lapisan sedimen
yang mengisi cekungan saja yang mengalami deformasi, atau basement yang
menjadi dasar cekungan juga ikut mengalami deformasi.

6. Fault Seal Analysis


Fault-Sealing saat ini diakui sebagai salah satu faktor kunci yang mengontrol
trap dan sifat reservoir selama produksi berlangsung. Secara umum konsep
dasar menentukan sifat sebuah dari sesar. yaitu melihat dari permeabilitas dan
kekuatan batuan yang terdapat disepanjang sesar. Secara umum metode
penentuan sifat dari sebuah sesar dapat aplikasi dari konsep geomekanika
dengan mengintegrasikan data seperti data geologi umum, data seismik, data
sumur, dan data formation micro imager (FMI). Penentuan sebuah sifat dari
sesar tersebut pada awalnya dilakukan interpretasi jenis dan arah dari rekahan
itu sendiri. Selanjutnya penentuan parameter-parameter kondisi stress atau
tekanan (SHMax, Shmin, dan Sv) saat ini dihitung melalui konsep geomekanika.

Setelah kondisi umum stress reservoir diketahui, untuk menentukan dan


memprediksi stress reservoir di kedalaman dibutuhkan orientasi dan
magnitude dari Sv, SHmax dan Shmin, serta kondisi tekanan pori (pore pressure)
dan kekuatan batuan (cohesive strength)

a. Menentukan arah Sv, SHmax dan Shmin pada sumur vertical


Orientasi dari Sv, SHmax dan Shmin dapat diketahui dari pemetaan
struktur/rekahan yang berada pada reservoir. Identifikasi rekahan
dapat dilakukan dengan bantuan borehole image. Pada borehole image
akan terlihat conductive fracture, resistive fracture, dan borehole
breakout yang nantinya akan dianalisi untuk menentukan arah dari
stress yang bekerja pada reservoir. Pada gambar dibawah terlihat
bahwa arah Shmin tegak lurus terhadap arah dari tensile fracture,
sedangkan arah SHmax tegak lurus terhadap arah dari borehole breakout.

Effective stress pada dinding lubang bor dapat dinyatakan


menggunakan persamaan Kirsch. Berdasarkan persamaan tersebut,
hoop stress bersifat kompresif pada Shmin, sedangkan pada arah SHmax,
hoop stress memiliki nilai yang kecil. Ketika nilai SHmax lebih besar dari
nilai Shmin, dinding lubang bor dapat berada pada kondisi tensile pada
arah SHmax sehingga membentuk drilling-induced tensile wall fractures.
Konsentrasi hoop stress pada arah Shmin akan membentuk regime
kompresif sehingga menyebabkan terbentuknya borehole breakout.

Gambar 15. Penentuan arah SHmax dan Shmin (Slide Perkuliahan Geomekanika)
b. Menentukan besaran Sv (overburden stress)
Besaran Sv dapat dihitung berdasarkan densitas batuan dari
permukaan sampai kedalaman tertentu.

𝑆𝑣 = ∫ 𝜌(𝑧)𝑔𝑑𝑧 ≈ 𝜌𝑔𝑧
0

c. Menentukan besaran Shmin menggunakan hydrofrac dan Leak off Test


(LOT)
• Hydraulic fracture yang terbentuk di bumi akan selalu tegak
lurus arah principal stress minimum, S3 (Zoback, 2003).
• Pengujian yang dilakukan untuk menentukan arah Shmin ialah
minifrac atau Leak Off Test (LOT).

Gambar 17. Skema LOT (Zoback, et.al., 2003)

d. Menentukan besaran SHmax


Penentuan besaran SHmax dapat dilakukan melalui Drilling-Induced
Tensile Fractures dan Borehole Breakout.
Penentuan Magnitude SHmax dari Drilling-Induced Tensile Fractures

SHmax = 3.1Shmin – 2.1Pp

Penentuan Magitude SHmax dari Borehole Breakout

(𝐶 + 2𝑃𝑝 + ∆𝑃 + 𝜎 ∆𝑇 ) − 𝑆ℎ𝑚𝑖𝑛 (1 + 2 cos 2𝜃𝑏 )


𝑆𝐻𝑚𝑎𝑥 =
1 − 2 cos 2𝜃𝑏

e. Menentukan pore pressure


Pore pressure didapatkan dari tes langsung melalui Repeat Formation
Test (RFT) ataupun estimasi dengan data log sonic, serta dapat
ditentukan melalui seismuik dan Drilling Stem Test (DST).

f. Menentukan kekuatan batuan (Co)


Kekuatan batuan dapat dilaukan dengan pengujian sampel core.
Namun, perlu diingat pengambilan sampel dan pengujian di
laboratorium telah mengubah kondisi batuan sehingga yang dihitung
bukan merupakan kondisi in-situ stress. Estimasi rock strength juga
dapat dilakukan dengan menganalisis breakout dan tensile fracture.
Lebar breakout akan memberi informasi tentang kekuatan batuan
secar in-situ.
Setelah mendapatkan estimasi tekanan rekahan, semua data diplot
dala sebuah Mohr diagram untuk melihat kondisi yang ada. Ketika
lingkaran mohr tidak menyentuk garis failure envelope maka kondisi
sesar yang ada yaitu sealing dan ketika lingkaran mohr menyentuh
garis failure envelope maka kondisi sesar yang ada yaitu leakage.
7. Buatlah interpretasi untuk masing-masing penampang, beri warna tiap unit
picking dan tentukan jenis sesar, style, serta urutkan deformasinya. Lakukan
restorasi penampang untuk seismic line-2 dan tentukan besaran strainnya.

Post-Rift

Syn-Rift

Border Fault

Pre-Rift

Seismic Line 1

Jenis sesar : Sesar Normal

Style : Extensional Fault Blocks

Half graben Nampak terbentuk pertama kali karena adanya rezim tektonik yang
bersifat ekstensional. Cekungan yang terbentuk dibatasi oleh Border fault dengan
lapisan yang menebal di sisi sesar dan semakin menipis saat menjauh dari sesar. Pre-
Rift nampak pada lapisan yang berada di bawah cekungan, lalu di atasnya diendapkan
sedimen yang cukup tebal yang akhirnya dinamakan Syn-Rift. Setelah pengendapan
Syn-Rift berhenti, lalu diendapkan diatasnya sedimen baru dengan lapisan yang relatif
lebih datar yang disebut dengan Post-Rift. Kemudian terjadi kembali proses deformasi
yang menyebabkan sesar-sesar normal.
post-Rift

Syn-Rift

Pre-Rift

Seismic Line 2

Jenis Sesar : Sesar Normal

Style : Extensional Fault Blocks

Terdapat dua cekungan yang berada di sisi kanan dan di sisi kiri dari penampang di
atas. Lalu teerjadi pengendapan Syn-Rift yang memperlihatkan lapisan relatif
menebal di dekat border fault. Selanjutnya diendapkan laipsan lapisan yang relatif
datar dan dilanjutkan dengan terjadinya deformasi yang mengaktifkan sesar normal
yang berada dilapisan Syn-Rift dan membentuk sesar-sesar normal baru. Lalu terakhir
kembali diendapkan lapisan yang relatif lebih datar lagi dan belum banyak terkena
deformasi.
Restorasi Penampang
Detachment

Seismic Line 3

Jenis Sesar : Thrust Fault, Detachment Fault

Style : Compressional Fault Blocks, Fault-Related-Fold

Terjadinya rezim tektonik yang kompresi terlihat setelah adanya lapisan yang
memperlihatkan adanya lipatan dan sesar naik yang berada di sepanjang seismik.
Detachment fault pun bisa terlihat pada bawah penampang dan menghubungkan
beberapa sesar naik pada penampang. Hal itu ditandai dengan sudut dari bidang
gantung yang relatif landai dan berhentinya sesar sesar di bidang detachment.
Perlipatan di ujung atas sesar menandakan adanya Fault-Related-Fold pada sistem
sesar di atas. Deformasi yang sedemikian rupa menyebabkan lapisan memiliki
ketebalan yang relatif agak berbeda dari sisi sat uke sisi lainnya. Dapat saya simpulkan
bahwa perlapisan terjadi terlebih dahulu sebelum adanya deformasi berupa sesar
naik dan perlipatan.
Seismic Line 4

Jenis Sesar : Thrust Fault

Style : Compressional Fault Blocks

Terjadinya rezim tektonik yang kompresional menyebabkan terjadinya pembentukan


cekungan. Pengendapan Nampak terlihat menebal di cekungan dan menipis di tepi
cekungan. Proses deformasi yang terjadi setelah pengendapan lapisan Post-Rift
adalah struktur berupa sesar naik.
Seismic Line 5

Jenis Sesar : Normal Fault

Style : Extensional Fault Blocks

Terjadinya rezim tektonik yang ekstensional menyebabkan terjadinya pembentukan


cekungan dan border fault. Pengendapan Nampak terlihat menebal di cekungan dan
menipis di tepi cekungan. Proses deformasi yang terjadi setelah pengendapan lapisan
Post-Rift adalah struktur berupa sesar normal dan reaktifasi sesar yang ada
sebelumnya.
Pustaka

Brandes, C., & Tanner, D. C. (2014). Fault-related folding: A review of kinematic

models and their application. Earth-Science Reviews, 138, 352–370. doi:

10.1016/j.earscirev.2014.06.008

Cooper, M. (2007). Structural style and hydrocarbon prospectivity in fold and thrust

belts: a global review. Geological Society, London, Special Publications, 272(1),

447–472. doi: 10.1144/gsl.sp.2007.272.01.23

Fossen, H. (2016). Structural geology. Cambridge: Cambridge University Press.

Gibbs, A. (1983). Balanced cross-section construction from seismic sections in areas of

extensional tectonics. Journal of Structural Geology, 5(2), 153–160. doi:

10.1016/0191-8141(83)90040-8

Suppe, J. (1983). Geometry and kinematics of fault-bend folding. American Journal of

Science, 283(7), 684–721. doi: 10.2475/ajs.283.7.684

Wallace, Wesley K., And Thomas X. H. (1997). Abstract :Differences Between Fault-

Propagation Folds and Detachment Folds and their Subsurface Implications. AAPG

Bulletin, 81 (1997). doi: 10.1306/1d9bc165-172d-11d7-8645000102c1865d