Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Tetralogy of Fallot (TOF) merupakan kelainan jantung bawaan
sianotik. Kelainan yang terjadi adalah kelainan pertumbuhan dimana
terjadi defek atau lubang dari bagian infundibulum septum intraventrikular
(sekat antara rongga ventrikel) dengan syarat defek tersebut paling sedikit
sama besar dengan lubang aorta (Yayan A.I, 2010). Sebagai
konsekuensinya, didapatkan adanya empat kelainan anatomi sebagai
berikut:
1. Defek Septum Ventrikel (VSD) yaitu lubang pada sekat antara kedua
rongga ventrikel.
2. Stenosis pulmonal terjadi karena penyempitan klep pembuluh darah
yang keluar dari bilik kanan menuju paru, bagian otot dibawah klep
juga menebal dan menimbulkan penyempitan.
3. Aorta overriding dimana pembuluh darah utama yang keluar dari
ventrikel kiri mengangkang sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian
aorta keluar dari bilik kanan.
4. Hipertrofi ventrikel kanan atau penebalan otot di ventrikel kanan
karena peningkatan tekanan di ventrikel kanan akibat dari stenosis
pulmonal
Pada penyakit (TOF) yang memegang peranan penting adalah defek
septum ventrikel dan stenosis pulmonalis, dengan syarat defek pada
ventrikel paling sedikit sama besar dengan lubang aorta (Yayan A.I,
2010).
Penyakit jantung bawaan adalah kelainan struktur atau fungsi sirkulasi
jantung yang dibawa dari lahir akibat gangguan atau kegagalan
perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin
(www.inaheart.org,2011).
Tetralogy of Fallot ( TOF ) adalah kelainan jantung kongenital dengan
gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi empat hal yang
abnormal meliputi Defek Septum Ventrikel, Stenosis Pulmonal,
Overriding Aorta dan Hipertrofi Ventrikel Kanan. (Buku Ajar Kardiologi
Anak, 2002)
TOF pertama kali dideskripsikan oleh Niels stensen pada tahun 1672.
tetapi, tahun 1888 seorang dokter dari perancis Etienne Fallot
menerangkan secara mendetil akan keempat kelainaan anatomi yang
timbul pada tetralogy of fallot.

B. Etiologi
Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak
diketahui, biasanya melibatkan berbagai faktor. Faktor prenatal yang
berhubungan dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah:
1. Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi
virus lainnya
2. Gizi yang buruk selama kehamilan
3. Ibu yang alkoholik
4. Usia ibu diatas 40 tahun
5. Ibu menderita diabetes
6. Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang
menderita sindroma Down Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam
kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit
mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit
berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas. Mungkin gejala sianotik
baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan
sianotik karena menyusu atau menangis (Yayan A.I, 2010).
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan juga
diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen, antara lain :
a. Faktor endogen
1. Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom
2. Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
3. Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus,
hipertensi, penyakit jantung atau kelainan bawaan
b. Faktor eksogen :
1. Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau
suntik,minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide,
dextroamphetamine.aminopterin, amethopterin, jamu).
2. Ibu menderita penyakit infeksi : rubella
3. Pajanan terhadap sinar X
Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen
tersebut jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan.
Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adaah multifaktor.
Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada
sebelum akhir bulan kedua kehamilan , oleh karena pada minggu ke
delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai
(sumber : Ilmu Kesehatan Anak, 2001 )

C. Manifestasi klinis
Gejala bisa berupa :
a. Sianosis (Sianosis terutama pada bibir dan kuku)
Sianosis muncul setelah berusia beberapa bulan, jarang tampak
pada saat lahir, bertambah berat secara progesif. Serangan sianotik atau
“Blue Speels(Tet speels)” yang ditandai oleh dyspnea; pernapasan
yang dalam dan menarik napas panjang, bradikardia, keluhan ingin
pingsan, serangan kejang, dan kehilangan kesadaran, yang semua ini
dapat terjadi setelah pasien melakukan latihan, menangis, mengejan,
mengalami infeksi, atau demam (keadaan ini dapat terjadi karena
penurunan oksigen pada otak akibat peningkatan pemintasan atau
shunting aliran darah dari kanan ke kiri yang mungkin disebabkan oleh
spasme jalur keluar ventrikel kanan, peningkatan aliran balik sistemik
atau penurunan resistensi arterial sistemik). Sianosis yang merupakan
tanda utama tetralogi fallot; sianosis terjadi karena shunt dari kiri ke
kanan.
b. Serangan hipersianotik
- Peningkatan frekuensi dan kedalaman pernafasan
- Sianosis akut
-Iritabilitas sistem saraf pusat yang dapat berkembang sampai lemah
dan pingsan dan akhirnyan menimbulkan kejang, strok dan kematian (
terjadi pada 35% kasus).
c. Jari tabuh (Clubbing)
Penurunan toleransi terhadap pelatihan, peningkatan gejala
dyspnea d’effort, retardasi pertumbuhan dan kesulitan makan pada
anak-anak yang lebih besar sebagai akibat oksigenasi yang buruk.
d. Pada awalnya tekanan darah normal-dapat meningkat setelah beberapa
tahun mengalami sianosis dan polisitemia berat.
e. Posisi jongkok klasik-mengurangi aliran balik vena dari ekstremitas
bawah dan meningkatkan aliran darah pulmoner dan oksigenasi arteri
sistemik.
f. Gagal tumbuh
Pada anak dengan kelainan jantung yang kecil atau ringan tidak
akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Tetapi pada
PJB yang tipe biru, risiko untuk terjadi gagal tumbuh jauh lebih tinggi.
Ada tiga sebab yaitu:
1. Asupan kalori yang tidak adekuat
2. Gangguan pencernaan makanan (malabsorpsi)
3. Pengaruh hormon pertumbuhan
g. Anemia-menyebabkan perburukan gejala
- Penurunan toleransi terhadap latihan
- Peningkatan dispnea
- Peningkatan frekuensi hiperpnea paroksismal
h. Asidosis (asidosis metabolik sebagian akibat hipoksia hebat)
i. Murmur (sistolik dan kontinu)
j. Klik ejeksi setelah bunyi jantung pertama
k. Bising sistolik yang keras da terdengar paling jelas di sepanjang tepi
kiri stemum, yang dapat mengurangi atau menyamarkan komponen
pulmonary pada bunyi S2
l. Bising kontinu dari duktus arteri osus pada pasien paten duktus
arteriosus yang lebar; bising ini dapat menyamarkan bising sistolik
m. Bunyi thrill pada tepi kiri sternum akibat aliran darah yang abnormal
melalui jantung
n. Impuls ventrikel kanan yang nyata dan sternum pars inferior yang
menonjol; kedua gejala ini berkaitan dengan hipertrofi ventrikel kanan.
(Buku ajar patofisiologi,2011)

D. Patofisiologi
Kesalahan dalam pembagian trunkus dapat berakibat letak aorta
yang abnormal (overriding), timbulnya penyempitan pada arteri
pulmonalis, serta terdapatnya defek septum ventrikel dengan demikian,
bayi akan lahir dengan kelainan jantung dengan ke 4 kelainan. Derajat
hipertropi ventrikel kanan yang timbul tergantung pada derajat stenosis
pulmonal. Pada 50 % kasus stenosis pulmonal hanya infundibuler, pada 10
– 25 % kasus kombinasi infundibuler dan valvular, dan 10 % kasus hanya
stenosis valvular. Selebihnya adalah stenosis pulmonal perifer.
Hubungan letak aorta dan arteri pulmonal masih ditempat yang
normal. Overriding aorta terjadi karena pangkal aorta berpindah kearah
anterior mengarah septum, klasifikasi overriding menurut Kjellberg :
1. Tidak terdapat overriding aorta bila sumbu aorta desenden mengarah
kebelakang ventrikel kiri.
2. Pada overriding 25 % sumbu aorta asenden kearah ventrikel sehingga
lebih kurang 25 % orifisium aorta menghadap ventrikel kanan.
3. Pada overriding 50 % sumbu aorta mengarah ke septum sehingga 50 %
orifisium aorta menghadap ke depan ventrikel kanan.
4. Pada overriding 75 % sumbu aorta asenden mengarah ke depan
ventrikel kanan, derajat overriding ini bersama dengan defek septum
ventrikel dan derajat stenosis menentukan basarnya pirau kanan ke kiri.
( Ilmu Kesehatan Anak, 2001 ).
Ada 4 jenis dari Stenosis Pulmonal :
1. Stenosis Katup Pulmonal (Valvular)
Katup menebal dan / atau menyempit
2. Supravalvar Stenosis Pulmonal
Tepat diatas katup pulmonal menyempit
3. Subvalvar (Infundibular) Stenosis Pulmonal
Otot bawah area katup menebal, penyempitan saluran keluar dari
ventrikel kanan
4. Stenosis Pulmonal cabang perifer
Arteri paru-paru kanan / kiri menyempit.
Karena pada TOF terdapat empat macam kelainan jantung yang
bersamaan, maka :
1. Arteri pulmonal mengalami stenosis, bila obstruksi lebih berat darah
yang mengalir dari ventrikel kanan ke paru-paru berkurang sehingga
volume darah yang teroksigenasi tidak optimal ( oksigen dalam darah
berkurang ).
2. Oleh karena tekanan ventrikel kanan lebih besar dari ventrikel kiri maka
aliran darah dari kanan ke kiri ( right to left shunt ) sehingga darah yang
kaya O2 dengan darah yang kaya CO2 bercampur.
3. Karena terdapat pulmonal stenosis sehingga darah dari ventrikel kanan
aliran darahnya right to left shunt dan posisi aorta bergeser 50 % tepat
di atas septum inteventrikuler (overriding aorta), maka aliran darah dari
ventrikel kanan dan kiri masuk ke aorta dan terjadi percampuran darah
yang sudah teroksigenisasi dan belum teroksigenisasi.
4. Karena jantung bagian kanan harus memompakan sejumlah besar darah
ke dalam aorta yang bertekann tinggi serta melawan tekanan tinggi
akibat stenosis pulmonal maka lama kelamaan otot – ototnya akan
mengalami pembesaran (hipertrofi ventrikel kanan).
Pengembalian darah dari vena sistemik ke atrium kanan dan ventrikel
kanan berlangsung normal. Ketika ventrikel kanan menguncup dan
menghadapi stenosis pulmonal, maka darah akan dipintaskan melewati
defek septum ventrikel tersebut ke dalam aorta. Akibatnya darah yang
dialirkan keseluruh tubuh tidak teroksigenisasi, hal inilah yang
menyebabkan terjadinya sianosis. (Ilmu Kesehatan Anak, 2001)

E. Pathway
F. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht)
akibat saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin
dipertahankan 16-18 gr/dl dan hematokrit antara 50-65%. nilai AGD
menunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2),
penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan pH.
b. Radiologis
Sinar-X pada thoraks didapat gambaran penurunan aliran darah
pulmonal, gambaran penurunan aliran darah pulmonal, gambaran khas
jantung tampak apeks jantung terangkat sehingga seperti sepatu boot
(boot shape). Tidak ada bukti-bukti pembesaran jantung.
Cardio thoracic ratio pasien tetralogi fallot biasanya normal atau
sedikit membesar. Akibat terjadinya pembesaran ventrikel kanan
dengan konus pulmonalis yang hilang, maka tampak apeks jantung
terangkat sehingga tampak seperti sepatu kayu (coer en sabot). Pada
25% kasus arkus aorta terletak di kanan yang seharusnya di kiri, dapat
berakibat terjadinya suatu tarik bayangan trakeobronkial berisi udara di
sebelah kiri, yang terdapat pada pandangan antero-posterior atau dapat
dipastikan oleh pergeseran esofagusyang berisi barium ke kiri Corakan
vascular paru berkurang dan lapangan paru relatif bersih, mungkin
disebabkan oleh aliran darah paru paru yang berkurang dan merupakan
suatu tanda diagnostik yang penting. Bila terdapat kolateral yang
banyak mungkin corakan vascular paru tampak normal, atau bahkan
bertambah. Pada proyeksi lateral, ruangan depan yang bersih atau
kosong dapat atau tidak dipenuhi oleh ventrikel kanan yang hipertrofi.
c. Elektrokardiogram
- Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan.
-Tampak pula hipertrofi ventrikel kanan, kadang terdapat juga
hipertrofi atrium kanan.
- Pada anak yang sudah besar dijumpai P pulmonal
- Menunjukkan hipertrofi vebtrikel kanan-kiri, ataupun keduanya.
d. Ekokardiogram
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi
ventrikel kanan, penurunan ukuran arteri pulmonalis dan penurunan
aliran darah ke paru-paru. Mendeteksi defek septum, posisi aorta dan
stenosis pulmoner
e. Kateterisasi jantung
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui
Defek Septum Ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronaria
dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi adanya
penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan ventrikel kanan,
dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah.
Peningkatan tekanan sistemik dalam ventrikel kanan, penurunan
tekanan arteri pulmoner dengan penurunan saturasi hemoglobin arteri.
Kateterisasi jantung dan angiokardiografi merupakan metode
pemeriksaan utama untuk menerangkan abnormalitas anatomis
tersebut dan untuk menyingkirkan cacat lainnya, yang menyerupai
gambaran suatu tetralogi falot, terutama ventrikel kanan dengan
saluran keluar ganda disertai stenosis pulmonal serta tranposisi arteri
dengan stenosis pulmonal. Kateterisasi jantung akan mengungkapkan
hipertensi sistolik dalam ventrikel kanan yang sama besarnya dengan
tekanan darah sistemik disertai penurunan tekanan yang mencolok
ketika kateter tersebut memasuki ruangan infundibulum atau arteri
pulmonalis. Tekanan darah rata rata dalam arteri pulmonal biasanya
sebesar 5-10 mmHg, tekanan darah di dalam atrium biasanya normal.
Aorta mungkin dengan mudah dapat dimasuki dari bilik kanan melalui
cacar septum ventrikel tersebut. Tingkat kejenuhan oksigen arteri
tergantung atas pintasan dari kanan ke kiri; pada waktu istirahat
besarnya 75-85%. Contoh contoh darah dari kedua pembuluh vena
kava, atrium kanan, ventrikel kanan dan arteri pulmonalis seringkali
mengandung kadar oksigen yang sama, sehingga memberikan indikasi
mengenai tidak adanya pintasan dari kiri ke kanan dapat diperlihatkan
pada tingkat ventrikel. Angiografi dan atau kurva pengenceran
indikator dapat melokalisasikan tempat pintasan dari kanan ke kiri atau
yang berarah ganda pada tingkat ventrikel tersebut.
f. Hematokrit atau hemoglobin memantau viskositas darah dan
mendeteksi adanya anemia defisiensi besi.
(buku ajar keperawatan pedriatik, 2005)

G. Komplikasi
a. Trombosis otak
Biasanya terjadi pada vena cerebralis atau sinus dura dan kadang-
kadang pada arteri cerebralis, lebih sering bila ada polisitemia berat.
Dapat juga dipercepat dengan dehidrasi. Trombosis paling sering terjadi
pada penderita di bawah usia 2 tahun. Penderita ini dapat menderita
anemia defisiensi besi, sering kali dengan kadar hemoglobin dan
hematokrit dalam batas-batas normal.
b. Endokarditis bakterialis
Terjadi pasca bedah rongga mulut dan tenggorokan seperti
manipulasi gigi, tonsilektomi. Infeksi lokal di kulit juga merupakan
sumber infeksi. Pada penderita yang ingin melakukan pembedahan
harus melakukan profilaksis antibiotik.
c. Abses otak
Penderita sering di atas 2 tahun. Gejala berupa demam ringan, atau
perubahan perilaku sedikit demi sedikit. Pada beberapa penderita ada
gejala yang mulainya akut, yang dapat berkembang sesudah riwayat
nyeri kepala, nasea dan muntah. Serangan epileptiform dapat terjadi,
terdapatnya tanda-tanda neurologis local tergantung tempat dan ukuran
abses dan adanya kenaikan tekanan intracranial. Laju endap darah dan
hitung sel darah putih biasanya meningkat.
d. Perdarahan
Pada polisitemia berat, trombosit dan fibrinogen menurun hingga
dapat terjadi ptekie, perdarahan gusi.
e. Anemia relatif

H. Penatalaksanaan
Pada penderita yang mengalami serangan sianosis maka terapi
ditujukan untuk memutus patofisiologi serangan tersebut, antara lain dengan
cara :
1. Posisi lutut ke dada agar aliran darah ke paru bertambah
2. Morphine sulfat 0,1-0,2 mg/kg SC, IM atau Iv untuk menekan pusat
pernafasan dan mengatasi takipneu.
3. Bikarbonas natrikus 1 Meq/kg BB IV untuk mengatasi asidosis
4. Oksigen dapat diberikan, walaupun pemberian disini tidak begitu tepat
karena permasalahan bukan karena kekuranganoksigen, tetapi karena
aliran darah ke paru menurun. Dengan usaha diatas diharapkan anak tidak
lagi takipnea, sianosis berkurang dan anak menjadi tenang. Bila hal ini
tidak terjadi dapat dilanjutkan dengan pemberian :
5. Propanolo l 0,01-0,25 mg/kg IV perlahan-lahan untuk menurunkan denyut
jantung sehingga seranga dapat diatasi. Dosis total dilarutkan dengan 10
ml cairan dalam spuit, dosis awal/bolus diberikan separohnya, bila
serangan belum teratasi sisanya diberikan perlahan dalam 5-10 menit
berikutnya.
6. Ketamin 1-3 mg/kg (rata-rata 2,2 mg/kg) IV perlahan. Obat ini bekerja
meningkatkan resistensi vaskuler sistemik dan juga sedatif.
7. Penambahan volume cairan tubuh dengan infus cairan dapat efektif dalam
penganan serangan sianotik. Penambahan volume darah juga dapat
meningkatkan curah jantung, sehingga aliran darah ke paru bertambah dan
aliran darah sistemik membawa oksigen ke seluruh tubuh juga meningkat.

Lakukan selanjutnya
1. Propanolol oral 2-4 mg/kg/hari dapat digunakan untuk serangan sianotik
2. Bila ada defisiensi zat besi segera diatasi
3. Hindari dehidrasi
Pembedahan
1. Bedah paliatif
Bedah paliatif yang biasa dilakukan adalah operasi B-T (Blalock-Taussig)
Shunt yang bertujuan meningkatkan sirkulasi pulmonal dengan
menghubungkan a.subklavia dengan a.pulmonalis yang ipsilateral.
Umumnya operasi paliatif dilakukan pada bayi kecil atau dengan
hipoplasia a.pulmonalis dan pasien yang sering mengalami sianotik. Selain
BT Shuntterdapat pula Potts Shunt, Waterston Shunt, dan Glenn Shunt.
Tetapi BT Shunt merupakan yang paling sering digunakan karena
memberikan hasil yang paling baik. Tetapi BT Shunt juga menimbulkan
beberapa komplikasi walaupun angka kejadiannya sangat kecil.
Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain : hipoplasia pada lengan,
gangren pada digitalis, cedera nervus frenikus, stenosis a.pulmonal.
2. Bedah Korektif
Pada bedah korektif dilakukan koreksi total yang dapat didahului atau
tanpa bedah paliatif. Bila arteri pulmonalis tidak terlalu kecil, umumnya
koreksi total dilakukan pada pasien tetralogi Fallot di bawah usia 2 tahun.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari tahapan proses
keperawatan. Dalam melakukan pengkajian, harus memperhatikan data
dasar pasien. Pengkajian yang perlu dilakukan pada klien anak dengan
Tetralogi of fallot diantaranya adalah:
a. Pengkajian Umum
1. Identitas pasien
Pada sebagian besar kasus, diagnosis kelainan ini
ditegakkan setelah melewati masa neonatus, ditemukan pada anak
yang berusia diatas 5 tahun dan prevalensi menurun setelah
berumur 10 tahun.
2. Riwayat kesehatan pasien
a. Keluhan utama
1. Dispnea terjadi bila penderita melakukan aktivitas fisik.
2. Berat badan bayi tidak bertambah
b. Riwayat penyakit dahulu
Anak yang sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
c. Riwayat penyakit sekarang
1. sesak saat beraktivitas
2. berat badan bayi tidak bertambah
3. pertumbuhan berlangsung lambat
4. jari tangan clubbing (seperti tabuh genderang)
5. kebiruan
3. Riwayat kesehatan keluarga
Tetralogi of falot biasanya juga bisa dikarenakan kelainan genetik,
seperti sindrom down, adanya penyakit tertentu dalam keluarga
seperti hipertensi,diabetes mellitus, penyakit jantung atau kelainan
bawaan.
4. Riwayat kehamilan dan persalinan
Adanya penyakit rubela atau infeksi virus lainnya pada ibu saat
hamil khususnya bila terserang pada trimester 1, penggunaan obat-
obatan tanpa resep dokter seperti talidomid, dextroamphetamine,
aminopterin, jamu.
5. Riwayat kesehatan lingkungan
Tidak ada hubungan atau keterkaitan.
6. Imunisasi
Tidak ada hubungan atau keterkaitan.

B. Pengkajian Khusus
1. Persepsi terhadap kesehatan manajemen kesehatan
Tidak dapat terkaji.
2. Pola aktivitas dan latihan
Pasien tetralogi of fallot mengalami intoleransi aktivitas sehingga pola
aktivitas dan latihan mengalami penurunan sehingga dapat
mempengaruhi proses tumbuh kembang dari pasien itu sendiri.
3. Pola istirahat dan tidur
Anak yang menderita tetralogi of fallot membutuhkan pola istirahat
yang cukup, teratur, dan lebih banyak daripada anak normal untuk
menghindari kelelahan yang terjadi serta meminimalkan terjadinya
intoleransi aktivitas sehingga dapat mengoptimalkan proses tumbuh
kembang anak sendiri.
4. Pola nutrisi dan metabolik
Pasien tetralogi of fallot dapat mengalami penurunan nafsu makan
yang dapat berakibat status nutrisi pada pasien tetralogi of fallot
berada pada rentang gizi sedang dan gizi buruk. Status gizi seorang
anak dapat dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB standar) X
100 %, dengan interpretasi yaitu <60% (gizi buruk), <30% (gizi
sedang) dan >80% (gizi baik).
5. Pola eliminasi
Pola eliminasi pasien tetralogi of fallot normal.
6. Pola kognitif perceptual
Pasien tetralogi of fallot mengalami gangguan tumbuh kembang
karena fatiq selama makan.
7. Konsep diri
Pasien tetralogi of fallot dapat mengalami gangguan citra diri karena
kelemahan dan adanya keadaan patologi dalam tubuhnya.
8. Pola koping
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.
9. Pola seksual reproduksi
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.
10. Pola peran hubungan
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.

C. Pemerikaan Fisik
1. Keadaan umum
a. Kesadaran
Kesadaran pasien ventrikel septum defek dapat mengalami
penurunan karena ketidakadekuatan suplai O2 dan nutrisi ke
jaringan dan otak.
b. Sirkulasi
Pada auskultasi terdengar bising sistolik yang keras di daerah
pulmonal yang semakin melemah dengan bertambahnya derajat
obstruksi.
c. Respirasi
Sering sianotik mendadak ditandai dengan dyspnea, napas cepat
dan dalam, lemas, kejang, sinkop bahkan sampai koma dan
kematian.
d. Eliminasi
Sistem eliminasi pada pasien tetralogi of fallot dalam batas normal.
e. Neurosensori
Sistem neurosensori pasien tetralogi of fallot dalam batas normal.
f. Gastrointestinal
Ginggiva (Gusi) hipertrofi, gigi sianotik
g. Muskuloskeletal
Bentuk dada bayi masih normal, namun pada anak yang lebih besar
tampak menonjol akibat pelebaran ventrikel kanan
h. Integumen
Pada awal bayi baru lahir biasanya belum ditemukan sianotik, bayi
tampak biru setelah tumbuh. Clubbing finger tampak setelah usia 6
bulan
i. Endokrin
Sistem endokrin pada pasien tetralogi of fallot dalam batas normal.
j. Reproduksi
Sistem reproduksi pada pasien tetralogi of fallot dalam batas
normal.
2. Inspeksi
a. Status nutrisi
Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk
berhubungan dengan penyakit jantung.
b. Warna
Sianosis merupakan gambaran umum dari penyakit jantung
congenital.
c. Deformitas dada
Bentuk dada menonjol akibat pelebaran ventrikel kanan
d. Pulsasi tidak umum
Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
e. Ekskursi pernafasan
Pernafasan dispnea, nafas cepat dan dalam.
f. Jari tabuh
Berhubungan dengan beberapa tipe penyakit jantung congenital,
clubbing finger
g. Perilaku
Anak akan sering squatting (jongkok) setelah anak dapat berjalan,
setelah berjalan beberapa lama anak akan berjongkok dalam
beberapa waktu sebelum ia berjalan kembali.
3. Palpasi dan perkusi
a. Dada
Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan
karakteristik lain (seperti thrill, vibrasi yang dirasakan pemeriksa
saat mempalpasi) yang berhubungan dengan penyakit jantung.
b. Nadi perifer
Frekuensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat
menunjukkan ketidaksesuaian.
4. Auskultasi
a. Jantung
Mendeteksi adanya murmur jantung.
b. Frekuensi dan irama jantung
Observasi adanya ketidaksesuaian antara nadi apikal dan perifer.
c. Karakteristik bunyi jantung
Bunyi jantung I normal, sedang bunyi jantung II tunggal dan keras
d. Paru-paru
Menunjukkkan adanya sesak nafas.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
b. Radiologis
c. Elektrokardiogram
d. Ekokardiografi
e. Kateterisasi
D. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Gangguan pertukaran Gas b/d
2. Intoleran aktifitas b/d
3. nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d