Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN

TEKNOLOGI SOLID

“PEMBUATAN TABLET ASAM MEFENAMAT


DENGAN METODE GRANULASI KERING”

OLEH :

CITRA NURUL SAPUTRI (70100118002) NUR MAGFIRAH B (70100118004)

SYARAH SYAM LANGAJI (70100118006) AULIA DINDA PUTRI (70100118010)

MIFTAHUL FATIHAH (70100118012) ALAM MUZDALIFAH (70100118014)

ISMUNANDAR HS (70100118016) SRI WAHYUNI (70100118018)

RABIATUL ADAWIYAH (70100118022) ASRUL RASYID (70100118024)

AULIAH ALIAH PERTIWI (70100118030) WINDA UTARI (70100118032)

KELAS : B1

DOSEN PENGAMPUH :

MUHAMMAD SUBHAN A. SIBADU S.Farm.,M.Si.,Apt

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

TAHUN AJARAN 2019

SAMATA – GOWA
A. PENDAHULUAN
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi. ( FI V. 2014: 57).
Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tentangnya didalam
mendesain dan membuatnya. ( Lachman.2012:646).
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa cetak,berbentuk rata atau cembung
rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat
tambahan. (Anief.2008:210).
Obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis,mengurangi rasa sakit, serta
mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan. ( Ansel,1989:21)
Terdapat banyak jenis sediaan obat dalam ilmu farmasi. Namun, dari banyaknya
sediaan tersebut tablet dan jenis-jenis modifikasinya merupakan jenis sediaan yang
popular. Tablet dapat berbeda-beda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan,
daya hancurnya, dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan
metode pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat-obat secara
oral, dan kebanyakan dari tablet ini dibuat dengan penambahan zat warna, zat pemberi
rasa, dan lapisan-lapisan dalam berbagai jenis (Ansel, 2008 : 244)
Tablet Asam Mefenamat termasuk salah satu tablet yang sering digunakan oleh
masyarakat. Asam Mefenamat merupakan salah satu obat yang berkhasiat analgetik non
narkotik. Dosis awal Asam Mefenamat 500 mg, dilanjutkan dengan 250mg setiap 6 jam.
Pemerian Asam Mefenamat yaitu serbuk hablur, putih, atau putih kekuningan (Depkes RI,
1995 : 538)
Dalam hal ini maka dilakukanlah pembuatan tablet Asam Mefenamat serta evaluasi
yang dilakukan terhadap tablet Asam Mefenamat. Dalam pembuatan tablet Asam
mefenamat ini dimodifikasilah formulasi rancangan yang terdiri dari zat aktif dan zat
tambahan tablet agar dapat dibentuk tablet yang sesuai dengan keinginan.
B. STUDI PREFORMULASI
1. Zat Aktif
Asam Mefenamat

a. Studi Farmakologi
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik; sebagai anti-inflamasi, asam
mefenamat kurang efektif dibandingkan aspirin. asam mefenamat terikat sangat kuat pada
protein plasma. dengan demikian interaksi terhadap obat antikoagulan harus diperhatikan.
efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala iritasi
lain terhadap mukosa lambung. pada orang usia lanjut efek samping diare hebat lebih
sering dilaporkan. efek samping lain yang berdasarkan hipersensitivitas ialah eritem kulit
dan bronkokonstriksi. anemia hemolitik pernah dilaporkan. dosis asam mefenamat adalah
2-3 kali 250-500 mg sehari.(Farmakologi dan terapi ed 4 , 217)

Asam mefenamat merupakan obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) yang banyak
digunakan oleh para pemakai, namun senyawa ini juga memiliki efek samping yang
merugikan bila dikonsumsi secara peroral seperti iritasi saluran cerna,mual,diare dan nyeri
abdominal sehingga konsumen tidak dapat meneruskan penggunaanya ( Siswandono dan
Sukarjo,2000).

Asam mefenamat mempunyai khasiat sebagai analgetik dan anti inflamasi. Asam
mefenamat merupakan satu satunya fenamat yang menunjukkan kerja pusat dan juga kerja
perifer. Mekanisme kerja asam mefenamat adalah dengan menghambat kerja enzim
sikloogsigenase ( Goodman, 2007)

Asam mefenamat adalah salah satu obat dari golongan AINS ( Anti inflamasi Non
Steroid) yang merupakan turunan dari asam N-phenylanthanlic, asam mefenamat bekerja
dengan cara menghambat enzim sikooksigenase sehingga konversi asam arakidonat
menjadi prostaglandin terganggu (gilman,et al.,1996)

Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik dan sebagai anti inflamasi, asam
mefenamat kurang efektif dibandingkan aspirin, asam mefenamat terikat sangat kuat pada
protein plasma. Dengan demikian interaksi terhadap obat antikoagulan harus diperhatikan
(wilmana dan Gan,2007).

Farmakokinetik: T1/2 eliminasi :2-4 jam, protein binding: 99% dan obat 52%
diekresikan melalui urin dan 20% diekresikan di fases.( jurnal pelepasann asam
mefenamat pada sediaan suppositoria.2015:16).

Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali, 250-500 mg sehari, asam mefenamat
mencapai kadar puncak dalam plasma dalam 2-4 jam setelah penggunaan dosis tunggal,
rata-rata 50% dari dosis asam mefenamat diekskresikan di urin, umumnya sebagai
metabolit terkonjugasi 3- hidroksi metil dan metabolit 3-karboksil , sejumlah 20% asam
mefenamat ditemukan di feses, umumnya sebagai metabolit tak terkonjugasi 3-karboksil
(gilman, et al.,1996).
b. Studi Farmakokinetik
Tablet asam mefenamat diberikan secara oral. Diberikan melalui mulut dan
diabsorbsi pertama kali dari lambung dan usus selanjutnya obat akan melalui hati diserap
darah dan dibawah oleh darah sampai ke tempat kerjanya. Konsentrasi puncak asam
mefenamat dalam plasma tercapai dalam sampai 2 jam. Pada manusia, sekitar 50% dosis
asam mefenamat dieskresikan dalam urin sebagai metabolit 3-hidrosimetil terkonjugasi.
Dan 20% obat ini ditemukan dalam feses sebagai metabolit 3-karboksil yang tidak
terkonjugasi (Goodman,2007)
Menurut Biopharmaceutical Classification System senyawa ini memiliki sifat
kelarutan yang rendah dan daya tembus membran tinggi, kecepatan disolusi obat secara
invivo besar jika dosis obat ditingkatkan (Depkes RI, 2008)
Asam mefenamat merupakan turunan dari asam N-arilantranilat yang berkhasiat
sebgai antiradang untuk pengobatan rematik, dan mengurngi rasa nyeri yang ringan dan
moderat terutama untuk menghilangkan rasa nyeri setelah operasi gigi. Turunan ini
meniimbulkan efek samping iritasi saluran cerna, mual, diare, nyeri abdominal, anemia,
agronulasitosis, trombositopenia serta menimbulkan toksisitas hepatopoitik. (Siswandono
dan Sukarjo, 2000)

c. Studi Sifat Fisikakimia

a) Asam Mefenamat
Struktur kimia

Rumus molekul C15H15NO2


Nama Asam Mefenamat
Nama lain Mefenamid Acid
Nama kimia Asam N-2,3-xililantrannilad
Berat molekul 241,29
Berat jenis 241,285 gr/mol
Tiik didih 398,8 oc

Pemerian Serbuk hablur,putih hampir putih, melebur pada suhu lebih kurang 23o
Disertai peruraian
Suhu lebur 2300C-2310C
pH Antara 5,3 dan 6,5 (codek hal 988)
Kelarutan Larut dalam larutan alkali hidroksida, agak sukar larut dalam etanol dan
dalam methanol; praktis tidak larut dalam air.
Stabilitas simpan dalam wadah tertutup dengan temperature dibawah 40
derajat Celcius disarankan 15-30°C
Inkompatibilitas Tidak ada reaksi inkompatabilitas dengan senyawa lain
(Chyntia,2017:26)
Penyimpanan Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat tidak tembus
cahaya.
Penyimpanan obat berkisar antara 23-35oC dan 58-70%. Penyimpanan
asam mefenamat dianjurkan <40oC ( 20-25OC) dan terlindungi dari
cahaya dan kelembaban. ( Teti indrawati.2010:76).
Daftar pustaka FI III,hal 32
FI IV,hal 650
codek hal 988-989

 PVP (Polivinil Pyrolidone)


Struktur kimia

Rumus molekul (C6H9NO)n


Nama kimia 1-Ethenyl-2-pyrrolidinone homopolymer [9003-39-8]
Berat molekul 2500-3000000
Berat jenis 1,17-1,18 g/ml
Titik lebur
160-186oC
Titik didih 150oc
pH
3-7 (5%b/v)

Pemerian Serbuk halus berwarna putih hingga putih krem,tidak berbau atau
hampir tidak berbau,serbuk higroskopis
Kelarutan Sangat larut dalam asam,kloroform , etanol 95%,keton,metanol dan
air,praktis tidak larut dalam eter hidrokarbon dan minyak mineral
Stabilitas penurunan kelarutan povidone stabil untuk siklus pendek dari preparan
Povidon mulai berwarna gelap sampai batas tertentu pada pemanasan
1500C ,dengan panas sekitar 1100C-1300C.
Sterilisasi uap dari larutan berair tidak mengubah kandungan
povidon,larutan berair yang peka,rentan terhadap pertumbuhn jamur
dan akibatnya memerlukan penambahan bahan pengawet yang cocok
Inkompatibilitas Inkompatibel terhadap bahan organik dan anorganik
Penyimpanan Disimpan dalam wadah kedap udara ,sejuk dan tempat kering
Konsentrasi 0,5-5% ( Rowe,2009:359)
Kegunaan Pengikat (0,5%-5%)
Daftar pustaka HOPE 6th edisi 2009 hal 581-582

 Amylum
Struktur kimia

Rumus molekul [C16H10O5]n . dimana n= 300 – 1000


Nama kimia Starch [9005 – 25 -8]
Berat molekul 300 – 1000 tergantung jenis amylum
Berat jenis 1,5 g/cm3
-
Titik lebur
-
Titik didih
Konsentrasi 3-25% ( Rowe,2009: 686)

Pemerian Amylum tidak berbau tidak berasa ,warna putih sampai putih tua
,serbuk halus
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol 96%dan dalam air dingin.pati
mengembang seketika dalam air sekitar 5 – 10 % pada 37,8C .pati
menjadi larut dalam air panas pada suhu diatas suhu gelatinasi.
Stabilitas Pati kering stabil jika dilindungi dari kelembaban tinggi.pati dianggap
sebagai bahan kimia dan mikrobiologi pada kondisi penyimpanan
dibawah normal. larutan amilum atau atau pasta amylum tidak stabil
dan mudah dimetabolisme oleh microorganisme,karena itu untuk
granulasi basah harus selalu dibuat baru. Pati harus disimpan dalam
wadah kedap udara di tempat sejuk dan kering
Inkompatibilitas Pati tidak kompatibel dengan zat pengoksidasi kuat. Berwarna
senyawa inklusi terbentuk dengan yodium
Penyimpanan Dalam tempat sejuk dan kering
Kegunaan Desintegran 3 – 25 %
Daftar pustaka HOPE 6th edisi 2009 hal 686 – 691
 Talkum

Struktur kimia
Rumus molekul Mg6(S12O5)4(OH)4
Nama kimia Talk(14807-96-6)
Berat molekul -
Berat molekul 379.259
2,58-2,83
Berat jenis
Titik lebur 900-1000oc
-
Titik didih
Konsentrasi 1%-10% ( Rowe,2009: 728).
Pemerian Sangat halus,warna putih sampai putih ke abu-an,tidak berbau ,berkilat
mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran
Kelarutan Tidak larut dalam hampir semua pelarut
Stabilitas Talk merupakan bahan yang stabil,dapat di sterilisasi dengan
pemanasan sampai 1600 C tidak kurang dari 1 jam .dapat juga
disterilkan dengan gas etilen oxide atau gama radiasi
Inkompatibilitas Inkompatibilitas dengan kandungan ammonium kwartener
Penyimpanan Talk harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan tempat kering
Kegunaan Glidan (1,0 % - 10 %)
Daftar pustaka HOPE 6th edisi 2009 hal 728 – 731
FI ed IV hal 771

 Lactosa Anhydrous
Struktur molekul

Rumus molekul C12H22O11


Nama kimia O-β-D-galactopyranosyl-(1  4)-β-D-glucopyranose
Berat molekul 342,30
Berat jenis
-
Titik lebur 202,8oc
Titik didih 668,9oc
Konsentrasi 5-20% ( Rowe,2009:359)
Pemerian Laktosa anhidrat adalah serbuk atau partikel kristal berwarna putih, rasa
manis, tidak berbau.
Suhu Lebur 2320C
Kelarutan Larut dalam air, sedikit larut dalam ethanol 95% dan eter.

Stabilitas Laktosa dapat berubah warna menjadi kecoklatan dalam penyimpanan.


Hal tersebut dapat disebabkan oleh panas, kondisi lembab yang
kelembabannya hingga 80%.
Inkompatibilitas Laktosa anhidrat inkompatibel dengan oksidator kuat. Dapat mengalami
reaksi maillard dengan amin primer dan sekunder bila disimpan dalam
kondisi kelembaban tinggi pada waktu tertentu.
Penyimpanan Dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan kering.
Kegunaan Tablet filler atau diluent atau pengisi.
Pustaka Handbook of Pharmaceutical Exipient Halaman 359 – 361

 Magnesium Stearat

Struktur kimia

Rumus molekul C36H70MgO4


Nama kimia Octadecanoic acid magnesium salt [557-04-0]
Berat molekul 591,29
Pemerian Serbuk halus berwarna putih,bau samar rasa khas
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol,etanol 95%,eter dan air ,sedikit larut dalm
benzen hangat,dan etanol hangat 95%
Berat molekul
591,27 g/ml

Berat jenis 0,159 g/cm3

Titik lebur 117-150oc

Titik didih 88,5oc

Konsentrasi 0,25-5% ( Dirjen POM,2014:795)


Stabilitas Magnesium stearat stabil dan dapat disimpan dalam wadah tertutup rapat
dan kering
Inkompatibilitas Inkompatibel dengan asam kuat,basa, garam besi.Hindari pencampuran
dengan bahan yang teroksidasi kuat.Mg stearat tidak dapat digunakan
dalam produk yang mengandung aspirin,beberapa vitamin dan garam besi
Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup rapat dan disimpan dalam tempat sejuk
dan kering
Kegunaan Lubricant,0,25 % - 5,0 %
Daftar pustaka HOPE 6th edisi 2009 hal 404 – 405

1. Zat tambahan

1) PVP

PVP termasuk desintegran dimana desintegran mempermudah granul dan


tablet pecah menjadi partikel halus dalam saluran cerna dengan mudah fungsi
melawan kerja pengikat dan forsa fisik kompresi yang diperlukan dalam
membentuk tablet.( Agoes. 2008:208).
PVP 3% memiliki sudut istirahat <30 sehingga dipilih karena
menghasilkan aliran granul mengalir bebas ( Sala,2016:5).
Dalam buku pharmaceutical excipient, PVP digunakan sebagai desintegran,
binder, diluent dan sebagai coating agent.( Rowe.2009:581-582).
PVP dalam konsentrasi bahan pengikat sangat menentukan sifat alir, sudut
diam, inkompatibilitas granul.( Ratih.2017: 2).

2) Amylum
Sebagai bahan penghancur tablet ketika bersentuhan dengan cairan saluran
cerna didalam tubuh. Menurut literature konsentrasi sebagai bahan penghancur
yaitu 3%-15%. Karena itu, pada formula digunakan sebanyak 10% (HOPE,723-
725)
Salah satu fungsi penting eksipien dalam formulasi tablet adalah
membentuk aglomeralat dari BA, pengisi dan eksipien lain dengan kekecualian
lubrikan, gkidan dan lain sebagainya( yaitu untuk menggerakan/mengalirkan
serbuk). ( Agoes,2008: 207)
Dalam buku pharmaceutical excipient, amilum digunakan sebagai
pengikat(binder) untuk granulasi basah dengan konsentrasi 5-10%.( Rawe. 2009:
692).
Pada jurnal studi kemampuan pati biji durian sebagai bahan pengikat dalam
tablet ketoproken secara granulasi basah yakni digunakan pati singkong( Amylum
manihot) sebagai pengikat dengan konsentrasi 8%. ( jufri.2006: 80
Pati singkong digunakan sebagai zat tambahan yaitu sebagai penghancur
(depkes, 1979).
Konsentrasi amylum untuk tablet dinsintigren atau penghancur tablet
adalah dengan konsentrasi 3-25%. Dan sebuah konsentrasi yang optimal adalah
15% (Exipient ed 6,2009,686).
Jika amylum digunakan konsentrasi 5% umumnya cocok untuk membantu
penghancuran, tetapi sampai kirakira 15% dapat dipakai untuk memperoleh daya
hancur yang lebih cepat. (Unsel,2008,263)

3) Talk
Sebagai glidan, yaitu untuk meningkatkan aliran granul dari hopper
kedalam die. Menurut literature, konsentrasi sebagai glidan yaitu 1-10%. Untuk
itu, pada formula digunakan talk sebanyak 2% (HOPE,767)
Sebagai pelincir yang menonjol memiliki 3 keunggulan yaitu sebagai
bahan penghancur aliraan atau pelincir dan pemisah cetakan.(R.Voight.1995:205)
Digunakan sebagai anti lekat karena dimana talk menangani melekatnya tablet
pada dinding die dan punch yang disebabkan bukan karena efek
gesekan.(Berlian.2016: 454)
Salah satu bahan yang mempunyai sifat pelincir dan anti lekat yang
digunakan adalah talk, bahan ini murah dan mudah didapat( Sofyan,2015: 196).
Talk digunakan sebagai bahan pelincir karena dapat meningkatkan sifat alir pada
pencampuran bahan ( gennaro, 1990).
Salah satu bahan yang mempunyai sifat pelincir dan anti lekat yang sering
digunakan adalah talk dengan konsentrasi 1,0 – 10%. Bahan ini murah dan mudah
didapat, tetapi sifat pelumas dari talkum kurang bagus. Untuk itu perlu
ditambahkan bahan yang mempunyai sifat pelumas yang baik, sehingga bila
keduanya digabungkan akan saling melengkapi. Bahan yang dimaksud adalah
garam-garam stearat dan yang sering digunakan adalah magnesium stearat
(Syofyan, 2015; 196).

4) Magnesium stearat
Sebagai lubricant agar dapat mengurangi gesekan antara permukaan tablet
dengan dindign die ketika proses pencetakan. Konsentrasi sebagai lubricant
menurut literature adalah 0,5%-5%. Untuk itu, pada formula dipakai magnesium
stearate sebanyak 1%. (HOPe, 430)
Sebagai glidan digunakan dalam formulasi tablet untuk meningkatkan sifat
aliran. Konsentrasi efektif mg stearate anatar 0,2%-2%. Biasanya di campur
serbuk atau campuran granul untuk waktu relative singkat( tidak melebihi 5
menit). ( Agoes.2008: 209)
Sebagai glidan digunakan untuk memacu aliran serbuk atau granul dengan
jalan mengurangi gesekan diantara partikel-partikel. Dan untuk suatu system
tertentu biasanya ada suatu konsentarasi optimsl diatas konsentrasi ketika glidan
dapat mulai bekerja sebgai antiglidan. Dimana konsentrasi magnesium stearate
0.2%-2%. ( Anwar. 2012: 57-60)

Magnesium stearat dapat meningkatkan sifat alir serbuk dan dapat


mencegah melekatnya bahan obat pada permukaan cetakan sehingga memudahkan
pencetakan tablet. Bila dikombinasikan dengan talk dapat meningkatkan waktu
hancur. Magnesium stearat digunakan dalam bentuk serbuk pada konsentrasi 0,2 -
0,3% (voight, 1994).

Magnesium stearate sebagai glidan pada pembuatan tablet dengan


konsentrasi antara 0.25% dan 5%. (Rowe,2009: 404)

5) Laktosa
Sebagai bahan pengisi agar tablet memperoleh bobot sesuai dengan yang
diinginkan. Berdasarkan literature konsentrasi lactose sebagai bahan pengisi
adalah 65%-85% (HOPE,385).
Merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai karena tidak
bereaksi dengan hampir semua bahan obat.( Lachman,2008: 649)
Merupakan slah satu bahan pengisi yang komresibel, mempunyai sifat alir
yang baik, komprebilitas meningkat bila dikeringkan sampai kandungan
lembab.(Suparman,2011:44)
Yaitu bahan pengisi yang digunakan secara signifikan laktosa berpengaruh
pada kekerasan dan daya serap air. ( Rina,2005: 111-115)

Alasan Pemilihan Metode Formula, Zat Tambahan


Asam Mefenamat digunakan sebagai zat aktif, yang berfungsi sebagai
anagesik dan anti inflamasi. Zat tambahan yang digunakan diantaranya PVP,
Magnesium Stearat, Talk dan Amilum. PVP digunakan sebagai pengikat zat-zat
yang tercampur, sedangkan lactosa digunakan sebagai pengisi. Ketiga zat tersebut
merupakan fase dalam. Magnesium stearate digunakan sebagai lubrikan dan anti
adheran, dimana lubrikan merupakan pelicin yang dapat mengurangi gesekan
antara permukaan tablet dengan dinding die saat proses slugging dan pencetakan
tablet, sedangkan anti adheran yaitu untuk mencegah penempelan tablet pada
punch atau pada dinding die.
Talk digunakan sebagai glidan, yaitu pelican yang dapat meningkatkan
aliran granul dari hopper ke dalam die. Dan Amilum digunakan sebagai pengikat
dan dessintegran. Desintegran berfungsi untuk memudahkan hancurnya tablet
ketika kontak dengan cairan saluran cerna.
Metode yang digunakan adalah metode granulasi kering, karena metode ini
dapat menggunakan zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan lembab.
I. Formula Asli
Asam Mefenamat

II. Rancangan Formula


Nama produk : Mefshoy®

Jumlah produk : 100 tablet @250 mg

Tanggal formulasi : 6 Desember 2019

Tanggal produksi : 16 Desember 2019

Nomor registrasi : DKL 1900200210 B2

Nomor bacth : D9020029

Komposisi : Tiap tablet mengandung


Asam mefenamat 250mg
PVP 3%
Talcum 2%
Magnesium stearate 1%
Amylum 10%
Lactose q.s
III. Master Formula

DIPRODUKSI TANGGAL TANGGAL DIBUAT DISETUJUI


OLEH FORMULASI PRODUKSI OLEH OLEH

MUHAMMAD
SUBHAN A.
PT. B-ONE CARE PT. B-ONE CARE
6 DESEMBER 2019 16 DESEMBER 2019 SIBADU
PHARMINDO® PHARMINDO®
S.Farm., M.Si.,
Apt

KODE BAHAN NAMA BAHAN FUNGSI PER TABLET PER BETS

ASAM
01 – AM MEFENAMAT ZAT AKTIF 250 mg 25 g

MAGNESIUM
02 – MS LUBRIKAN 4,45 mg 0,445 g
STEARAT

03 – HP PENGIKAT 13,35mg 1,335g


PVP

04 – ST PENGHANCUR 44,5mg 4,45 g


AMYLUM

05 – TA GLIDAN 8,9 mg 0,89 g


TALK

06 – LC PENGISI 123,8 g 12,38 g


LACTOSA

IV. Perhitungan

a. Berdasarkan tablet
-berat 1 tablet = 445 mg

- Asam mefenamat = 250 mg


1
- Magnesium stearate = 𝑥 445𝑚𝑔 = 4,45 𝑚𝑔
100

3
- PVP = 100 𝑥 445𝑚𝑔 = 13,35 𝑚𝑔

10
- Amylum = 100 𝑥 445 𝑚𝑔 = 44,5 𝑚𝑔

2
- Talk = 100 𝑥 445 𝑚𝑔 = 8,9𝑚𝑔
- Laktosa = 445 mg – (250 mg + 4,45mg + 13,35 mg + 44,5 mg +
8,9mg )

=445 mg – 321,2mg = 123,8mg

b. Berdasarkan batch

- Asam mafenamat = 250 mg x 100 tab = 25.000 mg = 25 g

- Magnesium stearate = 4,45 mg x 100 tab = 445 mg = 0,445 g

- PVP = 13,35mg x 100 tab = 1.335 mg = 1,335 g

- Amylum = 44,5mg x 100 tab = 4.450 mg = 4,45 g

- Talk = 8,9 mg x 100 tab = 890 mg = 0,89 g

- Laktosa = 123,8mg x 100 tab = 12.380 mg = 12,38 g

c. Penambahan 10%
a. Asam Mefenamat = 10% + 25 g = 27,5 g
b. Magnesium stearate = 10% + 0,445 g = 0,545 g
c. PVP = 10% + 1,335 g = 1,435 g
d. Amylum = 10% + 4,45 g = 4,55g
e. Talk = 10% + 0,89 g = 0,99 g
f. Laktosa = 10% + 12,38 = 12,48g

V. Cara Kerja

Cara Pembuatan Tablet Asam Mefenamat (Granulasi Kering) (Teknologi Farmasi


Sediaan Tablet, 2010 : 224-225)

1.Zat aktif dan masing-masing eksipien dihaluskan terlebih dahulu dalam mesin penggiling

2.Zat aktif (Asam Mefenamat) dan semua eksipien, yakni PVP, amilum, talk, Magnesium Stearat
(sampai kurang lebih 50% dari jumlah yang tertera pada formula) dicampur dalam lumpang.

3.Campuran serbuk pada nomor (2) dikempa dengan mesin besar khusus dan kuat yang disebut
Mesin bongkahan (slugging machine) yang menghasilkan granul.

4.Granul tadi diayak melalui ayakan 18-20 mesh dalam mesin .

5.Serbuk partikel halus yang dihasilkan dalam nomor 4 kembali dipadatkan dengan mesin granul.

6.Granul hasil nomor 5, kembali diayak dalam mesin Fitz Mill (Ukuran 18-20Mesh)
7.Granul hasil nomor 4 dan 6 disatukan dan dicampur dengan fase luar, yaitu sisa
lubrikan(Magnesium Stearat), disintegran( Amylum) dan glidan ( Talk) sebagai massa kempa di
dalam mesin.

8. Massa kempa dikempa menjadi tablet

SKEMA KERJA

(1)Zat aktif dan semua Masing-masing dihaluskan


secara individu/Terpisah Mesin Penggiling
eksipien

(2) Zat aktif (Asam Dicampur sampai


Mefenamat)+Pengisi(Laktosa)+Pengikat Mesin pencampur/mixer
kring(+ Sebagai lubrikan, disintegran,
dan
homogen
sebagai glidan +pelincir(talk)
Dibongkah/dibuat Mesin bongkah (Slugging
(3) Campuran Serbuk no.2 lempeng machine)

(4) Bongkahan atau Diekstrusi Mesin


lempengan

(5) Serbuk halus yang Dibongkah atau dibuat


Mesin bongkah
dihasilkan pada nomor 4 lempeng

(6) Granul atau lempeng Di Ekstrusi Mesin Fitz Mill 18-20


hasil nomor 5 mesh

(7) Hasil nomor 4 dan 6 Dicampur dengan sisa 50%


lainnya dari lubrikan, glidan Mesin
disatukan
dan disintegran

(8) Massa Kempa nomor Di kempa Mesin tablet


7

Tablet Jadi
VI. EVALUASI GRANUL

1. Distribusi Ukuran Partikel

Untuk menentukan ukuran partikel dapat digunakan metode pengayakan. Metode


ini menggunakan suatu seri ayakan standar. Ayakan bisa disusun lima berturut-turut
mulai dari yang kasar di atas, sampai dengan terhalus di bawah. Suatu sampel serbuk
yang ditimbang teliti ditempatkan pada ayakan paling atas, dan setelah ayakan tersebut
digoyangkan untuk periode waktu tertentu, serbuk yang tertinggal di atas tiap saringan
ditimbang (Martin, 1993). Evaluasi distribusi ukuran partikel bertujuan untuk
mengetahui kisaran ukuran partikel granul, dan penyebaran ukuran partikelnya yang
dapat diketahui dari berapa banyak fraksi yang tertinggal pada setiap nomor mesh.

Gambar 1. Alat metode pengayakan (sieve shaker)


Metode penetapan keseragaman derajat halus. Dimasukkan 25-100 gram serbuk uji
pada pengayak baku yang sesuai, yang mempunyai panci penampung dan tutup yang
sesuai. Goyang pengayak dengan arah putaran horisontal dan ketukkan secara vertikal
pada permukaan yang keras selama tidak kurang dari 20 menit atau sampai pengayakan
praktis sempurna. Timbang saksama jumlah yang tertingal pada pengayak dan dalam
panci penampung (Kemenkes RI, 2014).

Tabel 1. Klasifikasi Serbuk Berdasarkan Derajat Halus

Tabel 2. Lubang Pengayak Baku


2. Densitas (Bobot jenis sejati/benar, Bj nyata, Bj mampat)
Bobot jenis sejati

Pengujian bobot jenis sejati dilakukan dengan cara menimbang piknometer 50 ml yang
kosong (a). Kemudian piknometer diisi dengan parafin cair dan ditimbang kembali (b).

𝑏−𝑎
Kerapatan parafin cair = ...satuan (g/ml)
50

Granul sebanyak 1 gram diisikan ke dalam piknometer 50 ml yang kosong, lalu


ditimbang (c). Kemudian ditambahkan parafin cair ke dalam piknometer hingga penuh
dan ditimbang kembali (d). Bobot jenis sejati dihitung dengan rumus :

(𝑐−𝑎)𝑥 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑝𝑎𝑟𝑎𝑎𝑓𝑓𝑖𝑛 𝑐𝑎𝑖𝑟


Kerapatan sejati = (𝑐=𝑑)−(𝑎=𝑑)

Bobot jenis nyata & mampat

Timbang 100 g granul masukkan ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya, kemudian
granul dimampatkan sebanyak 500 kali ketukan dengan alat uji mechanical tapping
device, catat volume uji sebelum dimampatkan (Vo) dan volume setelah dimampatkan
dengan pengetukan 500 kali (V). Dari hasil pengukuran tersebut, dapat dilakukan
perhitungan sebagai berikut :

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑔𝑟𝑎𝑛𝑢𝑙 (𝑔)


Bobot jenis nyata = = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑔𝑟𝑎𝑛𝑢𝑙 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑔𝑟𝑎𝑛𝑢𝑙 (𝑔)


Bobot jenis mampat = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑔𝑟𝑎𝑛𝑢𝑙 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛

Gambar 2. mechanical tapping device


Porositas

Porositas adalah nilai prosentase yang menyatakan rongga kosong antar partikel.
Peningkatan nilai porositas akan meningkatkan laju disolusi dan menurunkan waktu
disintegrasi. Semakin besar porositas maka semakin kecil kontak antar partikel maka
kecepatan alir semakin baik. Persyaratan porositas adalah 37-40% (Voight, 1994).

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎


Porositas =(1 - ) x 100
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑡𝑖

Indeks Kompresibiltas

Indeks kompresibilitas merupakan kemampuan granul membentuk massa yang stabil


dan utuh ketika diberikan tekanan. Persyaratan : Uji dikatakan memenuhi syarat apabila

< 20%. Indeks kompresibilitas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan.

𝑉𝑜−𝑉
Indeks Kompresibilitas (I) = x 100%
𝑉𝑜

Tabel 3. Indeks kompresibilitas

Indeks Laju alir


kompresibilitas (%)
5-15 Baik sekali
12-16 Baik
18-21 Agak baik
25-32 Buruk
33-38 Sangat buruk
>40 Sangat buruk sekali

3. Aliran

Sifat aliran serbuk sangat penting untuk pembuatan tablet yang efisian. Aliran serbuk
atau granul yang baik untuk dikempa sangat penting untuk memastikan pencampuran
yang efisien dan keseragaman bobot yang dapat diterima untuk tablet kempa. Dalam
beberapa hal, serbuk-serbuk zat aktif atau massa tabletdiprakempa atau digranulasi
untuk menyempurnakan sifat alirannya. Sifat alir serbuk yang baik penting untuk
pengisian seragam ke dalam lubang cetak mesin dan untuk memudahkan gerakan bahan
di sekitar fasilitas produksi. Sifat alir dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk partikel,
partikel yang lebih besar dan bulat menunjukan aliran yang lebih baik. Selain itu,
kebanyakan sifat alir sangat dipengaruhi oleh bobot jenis.

Uji Kecepatan Alir


Uji waktu alir bertujuan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh
granul untuk mengalir melalui corong aluminium. Hasil uji waktu alir ketiga formula
memenuhi syarat yaitu kurang dari 10 detik (Voight, 1995).

Sejumlah tertentu granul dimasukkan kedalam corong yang telah dirangkai, sampai
memenuhi 2/3 bagian corong, permukaan granul diratakan, lalu penutup bawah corong
dibuka dan secara serentak stopwatch dihidupkan, dibiarkan granul mengalir sampai
habis, stopwatch dimatikan jika granul telah habis melewati corong dan dicatat waktu
alirnya. Persyaratan : Uji dikatakan memenuhi syarat apabila > 10 gram/detik.

Gambar 3. Flow Test

Uji Sudut Diam

Sudut diam merupakan karakteristik fluiditas yang berhubungan erat dengan


kohesifitas antarpartikel penyusun granul. Sudut diam sebuk yang digunakan sebagai
eksipien tablet harus bersifat mudah mengalir (freeflowing), dilihat dari besar sudut
diam yang dibentuk saat uji sifat alir serbuk.

Sudut diam merupakan salah satu parameter lain dari sifat alir, sudut diam.
Dengan cara menghitung kotangen dari tinggi kerucut yang di bentuk serbuk atau granul
maka akan di dapat besar sudut yang membentuknya. Sudut diam antara 28o sampai
42omenunjukkan sifat alir yang baik atau kualitas granul baik. Rumusnya yaitu:
2ℎ
Tg ɑ= 𝑑

Keterangan : ɑ: Sudut Diam

b: Diameter Kerucut (cm)

h: Tinggi Kerucut (cm)

Gambar 4. Sudut diam

Tabel 4. Hubungan sudut diam terhadap sifat alir

Sudut Diam (º) Sifat Alir


≤30 Sangat baik
31-35 Baik
36-40 Sedang
41-45 Cukup
46-55 Buruk
56-65 Sangat buruk
˃60 Sangat, sangat buruk

4. Uji Kadar Air

Kelembaban di dalam zat padat dinyatakan berdasarkan berat basah atau berat
kering. Berdasarkan berat basah, kandungan air dari suatu bahan dihitung sebagai persen
berat dari bahan basah, sedangkan berdasarkan berat kering, air dinyatakan sebagai
persen dari bahan kering. Istilah susut pengeringan umumnya disebut LOD (loss on
drying), yaitu suatu pernyataan kadar kelembaban berdasarkan berat basah, yang
dihitung sebagai berikut:

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙


% LOD = 𝑏𝑒𝑟𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ x 100 %
LOD dari suatu zat padat basah sering ditentukan dengan menggunakan neraca
kelembaban, yang mempunyai sumber panas untuk pemanasan cepat dan skala yang
dikalibrasi dalam %LOD. Suatu sampel yang telah ditimbang diletakkan pada neraca
dan dibiarkan kering sampa beratnya konstan. Air yang hilang karena penguapan dibaca
langsung pada skala LOD%.

Pengukuran lain untuk kelembapan dalam zat padat basah ialah suatu
perhitungan berdasarkan berat kering. Angka ini dianggap sebagai kandungan lembap
(moisture content) atau MC:
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
% MC = x 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑛𝑔

Nilai LOD dalam setiap campuran zat padat-cairan dapat bervariasi dari sedikit
di atas 0% sampai sedikit di bawah 100%. Persyaratan kadar air: 2-4%.

B. Evaluasi Tablet

Untuk menjaga mutu tablet tetap sama, dilakukan uji-uji sebagai berikut:

1. Uji keseragaman bobot

Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot. Keseragaman bobot ini


ditetapkan untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablet-tablet
yang bobotnya seragam diharapkan akan memiliki kandungan bahan obat yang sama,
sehingga akan mempunyai efek terapi yang sama. Keseragaman bobot dapat ditetapkan
sebagai berikut: ditimbang 20 tablet, lalu dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Kemudian
timbang tablet satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet bobotnya menyimpang dari
bobot rata-rata lebih besar dari yang ditetapkan pada kolom A dan tidak boleh satu tablet
pun bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari yang ditetapkan pada
kolom B. Jika perlu gunakan 10 tablet yang lain dan tidak satu tablet yang bobotnya
menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A maupun
kolom B (Kemenkes RI, 2014):

Tabel 4. Penyimpangan bobot rata-rata


Bobot Rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata
A B
25 mg atau kurang 15 % 30 %
26 mg sampai dengan 150 10 % 20%
mg
151 mg sampai dengan 300 7,5 % 15 %
mg
Lebih dari 300 mg 5% 10%

2. Uji Keseragaman Ukuran

Dipilih 20 tablet dari tiap formula, kemudian diukur tebal dan diameter masing-masing
tablet menggunakan alat ukur yaitu mikrometer sekrup. Menurut Farmakope Indonesia
V, syarat keseragaman ukuran kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari

3 kali dan tidak kurang dari 1/3 kali tebal tablet.

3. Uji kekerasan

Ketahanan tablet terhadap goncangan pada waktu pembuatan, pengepakan dan


distribusi bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan dinyatakan dalam satuan kg dari
tenaga yang diperlukan untuk memecahkan tablet. Alat yang digunakan untuk uji ini adalah
hardness tester, alat ini diharapkan dapat mengukur berat yang diperlukan untuk
memecahkan tablet. Persyaratan kekerasan tablet umumnya berkisar 4-8 kg, bobot tersebut
dianggap sebagai batas minimum untuk menghasilkan tablet yang memuaskan.

Gambar 5. Alat uji kekerasan tablet


4. Uji keregasan

Kekerasan tablet bukanlah indikator yang mutlak dari kekuatan tablet. Cara lain
untuk menentukan kekuatan tablet ialah dengan mengukur keregasannya. Gesekan dan
goncangan merupakan penyebab tablet menjadi hancur. Untuk menguji keregasan tablet
digunakan alat roche friabilator. Sebelum tablet dimasukkan kedalam alat friabilator,
tablet ditimbang terlebih dahulu. Kemudiann tablet dimasukkan kedalam alat, lalu alat
dioperasikan selama 4 menit atau 100 kali putaran. Tablet ditimbang kembali dan
dibandingkan dengan berat mula-mula. Selisih berat dihitung sebagai keregasan tablet.
Persyaratan keregasan harus lebih kecil dari 1% (Lachman, 1994).

Gambar 6. Friabilator

5. Uji waktu hancur

Agar bahan obat dapat secara utuh diserap pada sistem pencernaan, maka tablet
harus hancur dan melepaskan bahan obat kecairan tubuh. Waktu hancur adalah waktu
yang dibutuhkan oleh tablet untuk menjadi partikel-partikel kecil. Tablet biasanya
diformulasikan dengan bahan pengembang yang menyebabkan tablet hancur didalam
air atau cairan lambung.

Peralatan uji waktu hancur terdiri dari rak keranjang yang mempunyai enam
lubang yang terletak vertikal diatas ayakan mesh nomor 10. Selama percobaan tablet
diletakkan pada tiap lubang keranjang, kemudian keranjang tersebut bergerak naik turun
dalam larutan transparan dengan kecepatan 29-32 putaran permenit. Pada akhir batas
waktu seperti yang tertera dalam monografi, angkat keranjang dan amati semua tablet:
semua tablet harus hancur sempurna. Bila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur sempurna,
ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya: tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji
harus hancur sempurna (Kemenkes RI, 2014.
Gambar 7. Alat Uji Waktu Hancur

6. Uji penetapan kadar zat berkhasiat

Uji penetapan kadar zat berkhasiat dilakukan untuk mengetahui apakah tablet
tersebut memenuhi syarat sesuai dengan etiket. Bila kadar obat tersebut tidak memenuhi
syarat maka obat tersebut tidak memiliki efek terapi yang baik dan tidak layak dikonsumsi.
Uji penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang sesuai pada masing-
masing monografi antara lain di Farmakope Indonesia (Kemenkes RI,

2014).
Keseragaman Kandungan. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing
monografi, persyaratan keseragaman dosis dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam masing-
masing dari 10 satuan sediaan seperti yang ditetapkan dari cara keseragaman bobot atau
dalam keseragaman kandungan terletak antara 85% - 115% dari yang tertera pada etiket dan
simpangan baku relatif kurang dari atau sama dengan 6%. Uji keseragaman kandungan
ini dilakukan jika tablet mengandung kurang dari 50 mg dan atau kurang dari 50% dari berat
satuan sediaan.

7. Uji disolusi

Obat yang telah memenuhi persyaratan kekerasan, waktu hancur, keregasan,


keseragaman bobot, dan penetapan kadar, belum dapat menjamin bahwa suatu obat
memenuhi efek terapi, karena itu uji disolusi harus dilakukan pada setiap produksi tablet.
Disolusi adalah proses pemindahan molekul obat dari bentuk padat kedalam larutan pada
suatu medium (Kemenkes RI, 2014).

Uji disolusi merupakan evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui apakah suatu
tablet melepas kandungan obatnya (laju larut obat dari tablet).

Alat 1. sebuah tablet diletakkan dalam keranjang saringan kawat kecil yang diikatkan
pada bagian bawah suatu batang logam yang dihubungkan pada sebuah motor yang
kecepatannya dapat diatur. Keranjang itu dicelupkan ke dalam medium disolusi yang
terdapat di dalam labu 1000 ml. suhu labu dipertahankan 37°C ±0,5°C.
Dalam interval waktu yang ditetapkan atau pada tiap waktu yang dinyatakan, ambil
cuplikan pada daerah pertengahan antara permukaan Media disolusi dan bagian atas dari
keranjang berputar, tidak kurang 1 cm dari dinding wadah.

Alat 2. alat ini sama dengan alat 1, hanya keranjangnya diganti dengan pedal yang
dibentuk dari daun dan batang logam sebagai elemen pengaduk (alat dayung). Sediaan
obat dibiarkan tenggelam ke dasar labu sebelum diaduk. Sepotong kecil bahan yang tidak
bereaksi seperti gulungan kawat berbentuk spiral dapat digunakan untuk mencegah
mengapungnya sediaan

Gambar 8. Alat Uji Disolusi


DAFTAR PUSTAKA

Aberg, J>A., Lacy, C.F, Amstrong, L.L, Goldman, M.P, and Lance, L.L. 2009. "Drug Information
Handbook, 17th Edition." Lexi-Comp for the American Pharmacists Association.

Agoes, G. 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi. Bandung.

Ansel, H. C. 1989. Introduction of Pharmaceutical Dosage Forms. Jakarta: UI-Press.

Darsono, Lusiana. 2002. "Diagnosis dan Terapi Intoksikasi salisilat dan Paracetamol." Maranatha Journal
Of Medicine.

Giainita Puspita Dewi, Taufik Eko Nugroho. 2016. "Pengaruh Pemberian Analgesik Kombinasi
Paracetamol dan Tramadol Terhadap Kadar Kreatinin Serum Tikus Wistar." Jurnal Kedokteran
Diponegoro 917-925.

Lachman, L., Lieber, H.A dan kanig, J.L. 1994. Teori da Praktek Industri Farmasi II. Jakarta: UI Press.

Lund, walter. 1994. The Pharmaceutical Codex, 12th Edition. London: The Pharmaceutocal Press.

Lutfi Chabib, Mimiek Murrukmihadi, Aprinto. 2013. "Pengaruh Pemberian Variasi Campuran Sorbitol
dan Glukosa Cair Sebagai Pemanis Pada Sediaan Gummy Candy Paracetamol." Jurnal Ilimiah
Farmasi 69-77.

Made Ayu nadine Indira Surya, I Gusti Ayu Artini. 2018. "Pola Penggunaan Paracetamol atau Ibuprofen
Sebagai Obat Antipiretik Single Therapy Pada Pasien Anak." E-Jurnal Medika Udayana.

POM, Ditjen. 1979. Farmakope Indonesia . Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

—. n.d. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Sweetman, S.C.,. 2009. Martindale The Complete drug References , Thirty Sixth edition. New york:
Pharmaceutical Press.

Syofyan, Tri Yanuarto. n.d.

Syofyan, Tri Yanuarto, Maria Dona Octavia. 2015. "Pengaruh Kombinasi Magnesium Stearat dan Talkum
sebagai Lubrikan Terhadap Profil Disolusi Tablet Ibuprofen." Jurnal Sains Farmasi & Klinis 195-
206.

Tjay, Tan Hoan. 1978. Obat-Obat Penting Edisi 4. Jakarta: Jakarta DEPKES RI.s

Voight, R. 1984. Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wade, A., Paul, J.W. 2009. Handbook Of Pharmaceutical EXcipients, Sixth Edition. London: The
Pharmaceutical Press.

Siregar, C. J. P. dan Wikarsa, S. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar-Dasar

Praktis. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Kemenkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Dirjen Bina Kefarmasian


dan Alat Kesehatan: Jakarta.

Martin, A. 1993. Farmasi Fisik: Dasar-Dasar Farmasi Fisik dalam Ilmu


Farmasetik. Jakarta: Universitas Indonesia.

Aulton, M. E. 2013. Aulton’s Pharmaceutics: The Design and Manufactures of


Medicines.New York: Churchill Livingstone Elsev