Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

TUMOR NASOFARING
RUANG PERAWATAN LONTARA 4 ATAS DEPAN
RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO

Oleh

Filda Awliya Al Gazali


R014 18 2011

PRESEPTOR LAHAN PRESEPTOR INSTITUSI

(…………………………) (Nur Fadhilah, S.Kep., Ns., MN)

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN ANAK


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019
BAB I
KONSEP MEDIS

A. Definisi

Nasofaring merupakan suatu ruangan yang berbentuk mirip kubus, terletak dibelakang
rongga hidung. Diatas tepi bebas palatum molle yang berhubungan dengan rongga hidung
dan ruang telinga melalui koana dan tuba eustachius. Atap nasofaring dibentuk oleh dasar
tengkorak, tempat keluar dan masuknya saraf otak dan pembuluh darah.

Dasar nasofaring dibentuk oleh permukaan atas palatum molle. Dinding depan dibentuk oleh
koana dan septum nasi dibagian belakang. Bagian belakang berbatasan dengan ruang
retrofaring, fasia prevertebralis dan otot dinding faring. Pada dinding lateral terdapat
orifisium yang berbentuk segitiga, sebagai muara tuba eustachius dengan batas
superoposterior berupa tonjolan tulang rawan yang disebut torus tubarius. Sedangkan kearah
superior terdapat fossa rossenmuller atau resessus lateral.

Nasofaring diperdarahi oleh cabang arteri karotis eksterna, yaitu faringeal asenden dan
desenden serta cabang faringeal arteri sfenopalatina. Darah vena dari pembuluh darah balik
faring pada permukaan luar dinding muskuler menuju pleksus pterigoid dan vena jugularis
interna. Daerah nasofaring dipersarafi oleh saraf sensoris yang terdiri dari nervus
glossofaringeus (N.IX) dan cabang maksila dari saraf trigeminus (N.V2) yang menuju ke
anterior nasofaring.

Kanker nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di rongga belakang
hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Kanker ini merupakan tumor ganas daerah
kepala dan leher yang terbanyak di temukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas dan leher
merupakan kanker nasofaring, kemudian diikuti tumor ganas hidung dan sinus paranasal
(18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam prosentase
rendah.
Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring atau
kelenjar yang terdapat di nasofaring. Carsinoma nasofaring merupakan karsinoma yang
paling banyak di THT. Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari sel epitel
yang melapisi nasofaring. Tumor ini tumbuh dari epitel yang meliputi jaringan limfoit,
dengan predileksi di Fosa Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional
dimana epitel kuboid berubah menjadi skuamosa dan atap nasofaring (Asroel, 2002). Tumor
primer dapat mengecil, akan tetapi telah menimbulkan metastasis pada kelenjar limfe.

Pada banyak kasus, nasofaring carsinoma banyak terdapat pada ras mongoloid yaitu
penduduk Cina bagian selatan, Hong Kong, Thailand, Malaysia dan Indonesia juga di daerah
India. Ras kulit putih jarang ditemui terkena kanker jenis ini. Selain itu, kanker nasofaring
juga merupakan jenis kanker yang diturunkan secara genetik.

Penggolongan Ca Nasofaring :

Ukuran tumor (T)

T Tumor
T0 Tidak tampak tumor
T1 Tumor terbatas pada satu lokasi saja
Tumor terdapat pada dua lokalisasi
T2 atau lebih tetapi masih terbatas pada
rongga nasofaring
Tumor telah keluar dari rongga
T3
nasofaring
Tumor telah keluar dari rongga
T4 nasofaring yang telah merusak tulang
tengkorak atau saraf saraf otak

Regional Limfe Nodes


N0 Tidak ada pembesaran
N1 Terdapat pembesaran tetapi homolatral dan masih bisa di gerakan
Terdapat pembesaran kontralateral/biltral dan masih dapat di
N2
gerakan
Terdapat pembesaran baik, homolateral, kontralateral, bilateral
N3
yang sudah melekat pada jaringan sekitar

Metatase Jauh(M)

M0 Tidak ada metatese jauh


M1 Metatase jauh

Stadium Tumor Nasofaring

1. Stadium I : T1 N0 dan M0
2. Stadium II : T2 N0 dan M0
3. Stadium III : T1/T2/T3 dan N1 dan M0 atau T3 dan N0 dan M0

4. Stadium IVa : T4 dan N0/N1 dan M0 atau T1/T2/T3/T4 dan N2 /N3 dan M0
atau T1/T2/T3.T4 dan N0/N1/N2/N3/N4 dan M1

Stage T N M
I T1 N0 M0
II T2 N0 M0
III T3 N0 M0
T1 N1 M0
T2 N1 M0
T3 N1 M0
IVA T4a N0 M0
T4a N1 M0
T1 N2 M0
Stage T N M
T2 N2 M0
T3 N2 M0
T4a N2 M0
IVB T4b Any N M0
Any T N3 M0
IVC Any T Any N M1

B. Etiologi

Terjadinya Ca Nasofaring mungkin multifaktorial, proses karsinogenesisnya mungkin


mencakup banyak tahap. Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya kanker nasofaring
adalah:

1. Kerentanan Genetik

Walaupun Ca Nasofaring tidak termasuk tumor genetik, tetapi kerentanan terhadap Ca


Nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol dan memiliki fenomena
agregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA ( Human luekocyte antigen ) dan
gen pengode enzim sitokrom p4502E ( CYP2E1) kemungkinan adalah gen kerentanan
terhadap Ca Nasofaring, mereka berkaitan dengan timbulnya sebagian besar Ca Nasofaring .
Penelitian menunjukkan bahwa kromosom pasien Ca Nasofaring menunjukkan
ketidakstabilan, sehingga lebih rentan terhadap serangan berbagai faktor berbahaya dari
lingkungan dan timbul penyakit.

1. Virus EB (Eipstein-Barr)

Metode imunologi membuktikan virus EB membawa antigen yang spesifik seperti antigen
kapsid virus ( VCA ), antigen membran ( MA ), antigen dini ( EA), antigen nuklir ( EBNA ) ,
dll. Virus EB memiliki kaitan erat dengan Ca Nasofaring , alasannya adalah :
1. Di dalam serum pasien Ca Nasofaring ditemukan antibodi terkait virus EB (termasuk
VCA-IgA, EA-IgA, EBNA, dll) , dengan frekuensi positif maupun rata-rata titer
geometriknya jelas lebih tinggi dibandingkan orang normal dan penderita jenis kanker
lain, dan titernya berkaitan positif dengan beban tumor. Selain itu titer antibodi dapat
menurun secara bertahap sesuai pulihnya kondisi pasien dan kembali meningkat bila
penyakitnya rekuren atau memburuk.
2. Di dalam sel Ca Nasofaring dapat dideteksi zat petanda virus EB seperti DNA virus
dan EBNA.
3. Epitel nasofaring di luar tubuh bila diinfeksi dengan galur sel mengandung virus EB,
ditemukan epitel yang terinfeksi tersebut tumbuh lebih cepat , gambaran pembelahan
inti juga banyak.
4. Dilaporkan virus EB di bawah pengaruh zat karsinogen tertentu dapat menimbulkan
karsinoma tak berdiferensiasi pada jaringan mukosa nasofaring fetus manusia.

Ada beberapa mediator yang dianggap berpengaruh untuk timbulnya karsinoma nasofaring
ialah:

1. Zat Nitrosamin.

Didalam ikan asin terdapat nitrosamin yang ternyata merupakan mediator penting.
Nitrosamin juga ditemukan dalam ikan atau makanan yang diawetkan di Greenland juga pada
” Quadid ” yaitu daging kambing yang dikeringkan di Tunisia, dan sayuran yang difermentasi
(asinan) serta taoco di Cina.

2. Keadaan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.

Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik ventilasinya di
Cina, Indonesia dan Kenya, meningkatkan jumlah kasus KNF. Di Hongkong, pembakaran
dupa rumah-rumah juga dianggap berperan dalam menimbulkan KNF.

3. Kontak dengan zat karsinogenik.


Sering kontak dengan zat yang dianggap bersifat karsinogen yaitu zat yang dapat
menyebabkan kanker, antara lain Benzopyrene, Benzoathracene (sejenis dalam arang
batubara), gas kimia, asap industri, asap kayu dan beberapa ekstrak tumbuhan-tumbuhan.

4. Ras dan keturunan.

Kejadian KNF lebih tinggi ditemukan pada keturunan Mongoloid dibandingkan ras
lainnya.Di Asia terbanyak adalah bangsa Cina, baik yang negara asalnya maupun yang
perantauan.Ras Melayu yaitu Malaysia dan Indonesia termasuk yang banyak terkena.

5. Radang Kronis di daerah nasofaring.

Dianggap dengan adanya peradangan, mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadap
karsinogen lingkungan.

6. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan juga berperan penting. Penelitian akhir-akhir ini menemukan zat berikut
berkaitan dengan timbulnya Ca Nasofaring :

1. Hidrokarbon aromatik, pada keluarga di area insiden tinggi kanker nasofaring ,


kandungan 3,4 benzpiren dalam tiap gram debu asap mencapai 16,83 ug, jelas lebih
tinggi dari keluarga di area insiden rendah.
2. Unsur renik : nikel sulfat dapat memacu efek karsinognesis pada proses timbulnya
kanker nasofaring.
3. Golongan nitrosamin : banyak terdapat pada pengawet ikan asin. Terkait dengan
kebiasaan makan ikan asin waktu kecil, di dalam air seninya terdeteksi nitrosamin
volatil yang berefek mutagenik.

C. Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda yang sering ditemukan pada kanker nasofaring adalah :

 Gejala Dini
Karena KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan pengobatan
yang sedini mungkin sangat diperlukan..

1. Gejala telinga:

 Sumbatan tuba eustachius atau kataralis.

Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa berdengung kadang-kadang disertai dengan
gangguan pendengaran.Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini.

 Radang telinga tengah sampai perforasi membran timpani.

Keadaan ini merupakan kelainan lanjutan yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba,
dimana rongga telinga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi makin lama makin
banyak, sehingga akhirnya terjadi perforasi membran timpani dengan akibat gangguan
pendengaran.

1. Gejala Hidung :

 Epistaksis

Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi
perdarahan hidung atau epistaksis. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya
sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna kemerahan.

 Sumbatan hidung

Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga hidung
dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan
gangguan penciuman dan adanya ingus kental. Gejala telinga dan hidung ini bukan
merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa,
misalnya pilek kronis, sinusitis dan lainlainnya. Epistaksis juga sering terjadi pada anak yang
sedang menderita radang. Hal ini menyebabkan keganasan nasofaring sering tidak terdeteksi
pada stadium dini (Roezin & Anida, 2007 dan National Cancer Institute, 2009).
2.4.2 Gejala Lanjut

1. Pembesaran kelenjar limfe leher

Tidak semua benjolan leher menandakan kekhasan penyakit ini jika timbulnya di daerah
samping leher, 3-5 cm di bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan biasanya berada di
level II-III dan tidak dirasakan nyeri, karenanya sering diabaikan oleh pasien. Sel-sel kanker
dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya
menjadi lekat pada otot dan sulit digerakan. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut.
Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke
dokter.

1. Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar

Karena nasofaring berhubungan dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang, maka
gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi, seperti penjalaran tumor melalui foramen laserum
akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI dan dapat juga mengenai saraf otak ke-V, sehingga
dapat terjadi penglihatan ganda (diplopia). Proses karsinoma nasofaring yang lanjut akan
mengenai saraf otak ke IX, X, XI, dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare, yaitu
suatu tempat yang relatif jauh dari nasofaring. Gangguan ini sering disebut dengan sindrom
Jackson.Bila sudah mengenai seluruh saraf otak disebut sindrom unilateral.Dapat juga
disertai dengan destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian biasanya
prognosisnya buruk.

1. Gejala akibat metastasis

Sel-sel kanker dapat ikut bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang
letaknya jauh dari nasofaring, hal ini yang disebut metastasis jauh.Yang sering ialah pada
tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat
buruk (Nutrisno , Achadi, 1988 dan Nurlita, 2009).
D. Patofisiologi

Sudah hampir dipastikan ca.nasofaring disebabkan oleh virus eipstein barr. Hal ini
dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya protein-protein laten pada penderita ca. nasofaring.
Sel yang terinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses
proliferasi dan mempertahankan kelangsungan virus didalam sel host. Protein tersebut dapat
digunakan sebagai tanda adanya EBV, seperti EBNA-1 dan LMP-1, LMP-2A dan LMP-2B.
EBNA-1 adalah protein nuclear yang berperan dalam mempertahankan genom virus. EBV
tersebut mampu aktif dikarenakan konsumsi ikan asin yang berlebih serta pemaparan zat-zat
karsinogen yang menyebabkan stimulasi pembelahan sel abnormal yang tidak terkontrol,
sehingga terjadi differensiasi dan proliferasi protein laten (EBNA-1). Hal inilah yang memicu
pertumbuhan sel kanker pada nasofaring, dalam hal ini terutama pada fossa Rossenmuller.

E. Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi

Toksisitas dari radioterapi dapat mencakup xerostomia, hipotiroidisme, fibrosis dari leher
dengan hilangnya lengkap dari jangkauan gerak, trismus, kelainan gigi, dan hipoplasia
struktur otot dan tulang diradiasi. Komplikasi ini terjadi selama atau beberapa hari setelah
dilakukannya radioterapi. Retardasi pertumbuhan dapat terjadi sekunder akibat radioterapi
terhadap kelenjar hipofisis. Panhypopituitarism dapat terjadi dalam beberapa kasus.
Kehilangan pendengaran sensorineural mungkin terjadi dengan penggunaan cisplatin dan
radioterapi.Toksisitas ginjal dapat terjadi pada pasien yang menerima cisplatin. Mereka yang
menerima bleomycin beresiko untuk menderita fibrosis paru. Osteonekrosis dari mandibula
merupakan komplikasi langka radioterapi dan sering dihindari dengan perawatan gigi yang
tepat (Maqbook, 2000 dan Nasir, 2009).

 Prognosis

Prognosis karsinoma nasofaring secara umum tergantung pada pertumbuhan lokal dan
metastasenya.Karsinoma skuamosa berkeratinasi cenderung lebih agresif daripada yang non
keratinasi dan tidak berdiferensiasi, walau metastase limfatik dan hematogen lebih sering
pada ke-2 tipe yang disebutkan terakhir.Prognosis buruk bila dijumpai limfadenopati, stadium
lanjut, tipe histologik karsinoma skuamus berkeratinasi. Prognosis juga diperburuk oleh
beberapa faktor seperti stadium yang lebih lanjut,usia lebih dari 40 tahun, laki-laki dari pada
perempuan dan ras Cina daripada ras kulit putih (Arima, 2006) .

F. Penatalaksanaan

Untuk penyakit tumor nasofaring, ada beberapa terapi yang perlu dilakukan untuk
mendukung pemulihan kondisi pasien diantaranya:

 Radioterapi

Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam penatalaksanaan
KNF.Modalitas utama untuk KNF adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi.

Radioterapi adalah metode pengobatan penyakit maligna dengan menggunakan sinar peng-
ion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan
sehat disekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat. Karsinoma nasofaring
bersifat radioresponsif sehingga radioterapi tetap merupakan terapi terpenting. Jumlah radiasi
untuk keberhasilan melakukan radioterapi adalah 5.000 sampai 7.000 cGy. Dosis radiasi pada
limfonodi leher tergantung pada ukuran sebelum kemoterapi diberikan. Pada limfonodi yang
tidak teraba diberikan radiasi sebesar 5000 cGy, <2 cm diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm
diberikan 7000 cGy dan bila lebih dari 4 cm diberikan dosis 7380 cGy, diberikan dalam 41
fraksi 5,5 minggu

Hasil pengobatan yang dinyatakan dalam angka respons terhadap penyinaran sangat
tergantung pada stadium tumor. Makin lanjut stadium tumor, makin berkurang
responsnya.Untuk stadium I dan II, diperoleh respons komplit 80% – 100% dengan terapi
radiasi.Sedangkan stadium III dan IV, ditemukan angka kegagalan respons lokal dan
metastasis jauh yang tinggi, yaitu 50% – 80%.Angka ketahanan hidup penderita KNF
dipengaruhi beberapa factor diantaranya yang terpenting adalah stadium penyakit.

Terdapat 3 cara utama pemberian radioterapi, yaitu:


 Radiasi Eksterna / Teleterapi
 Radiasi Interna / Brakhiterapi
 Intravena

Setelah diberikan radiasi, maka dilakukan evaluasi berupa respon terhadap radiasi. Respon
dinilai dari pengecilan tumor primer di nasofaring. Penilaian respon radiasi berdasarkan
criteria WHO, antara lain:

 Complete Response: menghilangnya seluruh kelenjar getah bening yang besar.


 Partial Response : pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau lebih.
 No Change : ukuran kelenjar getah bening yang menetap.
 Progressive Disease : ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau lebih.
o Kemoterapi

Secara definisi kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat


pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Obat-obat anti kanker dapat
digunakan sebagian terapi tunggal (active single agents), tetapi pada umumnya berupa
kombinasi karena dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker. Selain itu
sel-sel yang resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitive terhadap obat lainnya. Dosis
obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek samping menurun.

Beberapa regimen kemoterapi yang antara lain cisplatin, 5-Fluorouracil, methotrexate,


paclitaxel dan docetaxel. Tujuan kemoterapi untuk menyembuhkan pasien dari penyakit
tumor ganas. Kemoterapi bisa digunakan untuk mengatasi tumor secara lokal dan juga untuk
mengatasi sel tumor apabila ada metastasis jauh.Pemberian kemoterapi terbagi dalam 3
kategori :

1. Kemoterapi adjuvan

Pemberian kemoterapi diberikan setelah pasien dilakukan radioterapi. Tujuannya untuk


mengatasi kemungkinan metastasis jauh dan meningkatkan kontrol lokal. Terapi adjuvan
tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi
utamanya yang maksimal ternyata:
1. Kanker masih ada, dimana biopsi masih positif.
2. Kemungkinan besar kanker masih ada, meskipun tidak ada bukti secara makroskopis.
3. Pada tumor dengan derajat keganasan tinggi terjadi karena tingginya resiko
kekambuhan dan metastasis jauh.
4. Kemoterapi neoadjuvant

Pemberian kemoterapi adjuvant yang dimaksud adalah pemberian sitostatika lebih awal yang
dilanjutkan pemberian radiasi. Maksud dan tujuan pemberian kemoterapi neoadjuvan untuk
mengecilkan tumor yang sensitif sehingga setelah tumor mengecil akan lebih mudah
ditangani dengan radiasi.

Kemoterapi neoadjuvan telah banyak dipakai dalam penatalaksanaan kanker kepala dan
leher. Alasan utama penggunaan kemoterapi neoadjuvan pada awal perjalanan penyakit
adalah untuk menurunkan beban sel tumor sistemik pada saat terdapat sel tumor yang
resisten.Vaskularisasi intak sehingga perjalanan ke daerah tumor lebih baik. Terapi bedah dan
radioterapi sepertinya akan memberi hasil yang lebih baik jika diberikan pada tumor
berukuran lebih kecil.

3. Kemoterapi concurrent

Kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi. Umumnya dosis kemoterapi yang diberikan
lebih rendah. Biasanya sebagai radiosensitizer. Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada
KNF ternyata dapat meningkatkan hasil terapi terutama pada stadium lanjut atau pada
keadaan relaps. Hasil penelitian menggunakan kombinasi cisplatin radioterapi pada kanker
kepala dan leher termasuk KNF, menunjukkan hasil yang memuaskan. Cisplatin dapat
bertindak sebagai agen sitotoksik dan radiation sensitizer. Jadwal optimal cisplatin masih
belum dapat dipastikan, namun pemakaian sehari-hari dengan dosis rendah, pemakaian 1 kali
seminggu dengan dosis menengah, atau 1 kali 3 minggu dengan dosis tinggi telah banyak
digunakan.

 Operasi
Tindakan operasi pada penderita KNF berupa diseksi leher radikal dan nasofaringektomi.
Disekresi leher dilakukan jika masih terdapat sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya
kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih yang
dibuktikan melalui pemeriksaan radiologi. Nasofaringektomi merupakan suatu operasi
paliatif yang dilakukan pada kasus-kasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring
yang tidak berhasil diterapi dengan cara lain.

 Imunoterapi

Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari KNF adalah EBV, maka pada penderita
karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi.

 Perawatan paliatif

Hal-hal yang perlu perhatian setelah pengobatan radiasi.Mulut terasa kering disebabkan oleh
kerusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu penyinaran. Gangguan lain adalah
mukositis rongga mulut karena jamur, rasa kaku didaerah leher karena fibrosis jaringan
akibat penyinaran, sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang muntah atau
rasa mual. Perawatan paliatif diindikasikan langsung untuk mengurangi rasa nyeri,
mengontrol gejala dan memperpanjang usia.

Pencegahan

Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko tinggi.
Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah serta mengubah cara memasak makanan untuk
mencegah kesan buruk yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya. Penyuluhan mengenai
lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan sosial-ekonomi dan berbagai hal
yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab.Akhir sekali, melakukan
tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA bermanfaat dalam menemukan karsinoma
nasofaring lebih dini (Tirtaamijaya, 2009).
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Identitas pasien
- Nama
Terdapat nama lengkap dari pasien penderita penyakit tumor nasofaring.
- Jenis Kelamin
Penyakit tumor nasofaring ini lebih banyak di derita oleh laki-laki daripada
perempuan.
- Usia
Tumor nasofaring dapat terjadi pada semua usia dan usia terbanyak antara 45-54
tahun.
- Alamat
Lingkungan tempat tinggal dengan udara yang penuh asap dengan ventilasi rumah
yang kurang baik akan meningkatkan resiko terjadinya tumor nasofaring serta
lingkungan yang sering terpajan oleh gas kimia, asap industry, asap kayu, dan
beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan.
- Agama
Agama tidak mempengaruhi seseorang terkena penyakit tumor nasofaring.
- Suku Bangsa
Karsinoma nasofaring jarang sekali ditemukan di benua Eropa, Amerika, ataupun
Oseania.Namun relatif sering ditemukan di berbagai Asia Tenggara dan China.
- Pekerjaan
Seseorang yang bekerja di pabrik industry akan beresiko terkena tumor nasofaring,
karena akan sering terpajan gas kimia, asap industry, dan asap kayu.

b. Status Kesehatan
1. Keluhan Utama
Biasanya di dapatkan adanya keluhan suara agak serak, kemampuan menelan terjadi
penurunan dan terasa sakit waktu menelan atau nyeri dan rasa terbakar dalam
tenggorok.Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa berdengung kadang-kadang
disertai dengan gangguan pendengaran.Terjadi pendarahan dihidung yang terjadi
berulang-ulang, berjumlah sedikit dan bercampur dengan ingus, sehingga berwarna
kemerahan.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai klien dirawat di RS.
Menggambarkan keluhan utama klien, kaji tentang proses perjalanan penyakit samapi
timbulnya keluhan, faktor apa saja memperberat dan meringankan keluhan dan
bagaimana cara klien menggambarkan apa yang dirasakan, daerah terasanya keluhan,
semua dijabarkan dalam bentuk PQRST. Penderita tumor nasofaring ini menunjukkan
tanda dan gejala telinga kiri terasa buntu hingga peradangan dan nyeri, timbul
benjolan di daerah samping leher di bawah daun telinga, gangguan pendengaran,
perdarahan hidung, dan bisa juga menimbulkan komplikasi apabila terjadi dalam
tahap yang lebih lanjut
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya yang ada hubungannya
dengan penyait keturunan dan kebiasaan atau gaya hidup.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit tumor nasofaring maka
akan meningkatkan resiko seseorang untuk terjangkit tumor nasofaring pula.

c. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Penglihatan
Pada penderita karsinoma nasofaring terdapat posisi bola mata klien simetris,
kelompak mata klien normal, pergerakan bola mata klien normal namun konjungtiva
klien anemis, kornea normal, sclera anikterik, pupil mata klien isokor, otot mata
klien tidak ada kelainan, namun fungsi penglihatan kabur, tanda-tanda radang tidak
ada, reaksi terhadap cahaya baik (+/+). Hal ini terjadi karena pada karsinoma
nasofaring, hanya bagian tertentu yang mengalami beberapa gejala yang tidak normal
seperti konjungtiva klien yang anemis disebabkan klien memiliki kekurangan nutrisi
dan fungsi penglihatan kabur.
2. Sistem pendengaran
Pada penderita karsinoma nasofaring, daun telinga kiri dan kanan pasien normal dan
simetris, terdapat cairan pada rongga telinga, ada nyeri tekan pada telinga. Hal ini
terjadi akibat adanya nyeri saat menelan makanan oleh pasien dengan tumor
nasofaring sehingga terdengar suara berdengung pada telinga.
3. Sistem pernafasan
Jalan nafas bersih tidak ada sumbatan, klien tampak sesak, tidak menggunakan otot
bantu nafas dengan frekuensi pernafasan 26 x/ menit, irama nafas klien teratur, jenis
pernafasan spontan, nafas dalam, klien mengalami batuk produktif dengan sputum
kental berwarna kuning, tidak terdapat darah, palpasi dada klien simetris, perkusi
dada bunyi sonor, suara nafas klien ronkhi, namun tidak mengalami nyeri dada dan
menggunakan alat bantu nafas. Pada sistem ini akan sangat terganggu karena akan
mempengaruhi pernafasan, jika dalam jalan nafas terdapat sputum maka pasien akan
kesulitan dalam bernafas yang bisa mengakibatkan pasien mengalami sesak nafas.
Gangguan lain muncul seperti ronkhi karena suara nafas ini menandakan adanya
gangguan pada saat ekspirasi.
4. Sistem kardiovaskular
Pada sirkulasi perifer kecepatan nadi perifer klien 82 x/menit dengan irama teratur,
tidak mengalami distensi vena jugularis, temperature kulit hangat suhu tubuh klien
360C, warna kulit tidak pucat, pengisian kapiler 2 detik, dan tidak ada edema.
Sedangkan pada sirkulasi jantung, kecepatan denyut apical 82 x/ menit dengan irama
teratur tidak ada kelainan bunyi jantung dan tidak ada nyeri dada. Tumor nasofaring
tidak menyerang peredaran darah pasien sehingga tidak akan mengganggu peredaran
darah tersebut.
5. Sistem saraf pusat
Tidak ada keluhan sakit kepala, migran atau pertigo, tingkat kesadaran pasien
kompos mentis dengan Glasgow Coma Scale (GCS) E: 4, M: 6, V: 5. Tidak ada
tanda-tanda peningkatan TIK, tidak ada gangguan sitem persyarafan dan pada
pemeriksaan refleks fisiologis klien normal. Tumor nasofaring juga bisa menyerang
saraf otak karena ada lubang penghubung di rongga tengkorak yang bisa
menyebabkan beberapa gangguan pada beberapa saraf otak. Jika terdapat gangguan
pada otak tersebut maka pasien akan memiliki prognosis yang buruk.
6. Sistem pencernaan
Keadaan mulut klien saat ini gigi caries, tidak ada stomatitis lidah klien tidak kotor,
saliva normal, tidak muntah, tidak ada nyeri perut, tidak ada diare, konsistensi feses
lunak, bising usus klien 8 x/menit, tidak terjadi konstipasi, hepar tidak teraba,
abdomen lembek. Tumor tidak menyerang di saluran pencernaan sehingga tidak ada
gangguan dalam sistem percernaan pasien.
7. Sistem endoktrin
Pada klien tidak ada pembesaran kalenjar tiroid, nafas klien tidak berbau keton, dan
tidak ada luka ganggren. Hal ini terjadi karena tumor nasofaring tidak menyerang
kalenjar tiroid pasien sehingga tidak menganggu kerja sistem endoktrin.
8. Sistem urogenital
Balance cairan klien dengan intake 1300 ml, output 500 ml, tidak ada perubahan pola
kemih (retensi urgency, disuria, tidak lampias, nokturia, inkontinensia, anunia),
warna BAK klien kuning jernih, tidak ada distensi kandung kemih, tidak ada keluhan
sakit pinggang. Tumor nasofaring tidak sampai melebar sampai daerah urogenital
sehingga tidak mengganggu sistem tersebut.
9. Sistem integumen
Turgor kulit klien elastic, temperature kulit klien hangat, warna kulit pucat, keadaan
kulit baik, tidak ada luka, kelainan kulit tidak ada, kondisi kulit daerah pemasangan
infuse baik, tekstur kulit baik, kebersihan rambut bersih. Warna pucat yang terlihat
pada pasien menunjukkan adanya sumbatan yang ada di dalam tenggorokan sehingga
pasien terlihat pucat.
1. Sistem musculoskeletal
Saat ini klien tidak ada kesulitan dalam pergerakan, tidak ada sakit pada tulang, sendi
dan kulit serta tidak ada fraktur. Tidak ada kelainan pada bentuk tulang sendi dan
tidak ada kelainan struktur tulang belakang, dan keadaan otot baik. Pada tumor ini
tidak menyerang otot rangka sehingga tidak ada kelainan yang mengganggu sistem
musculoskeletal.

d. Pola aktifitas sehari-hari


1. Pola Persepsi Kesehatan manajemen Kesehatan
Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan
pentingnya kesehatan bagi klien? Biasanya klien yang datang ke rumah sakit sudah
mengalami gejala pada stadium lanjut, klien biasanya kurang mengetahui penyebab
terjadinya serta penanganannya dengan cepat.
2. Pola Nutrisi Metabolic
Kaji kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia,
mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan,
perubahan kelembaban/turgor kulit. Biasanya klien akan mengalami penurunan berat
badan akibat inflamasi penyakit dan proses pengobatan kanker.
3. Pola Eliminasi
Kaji bagaimana pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin,
perubahan bising usus, distensi abdomen. Biasanya klien tidak mengalami gangguan
eliminasi.
4. Pola aktivas latihan
Kaji bagaimana klien menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya klien mengalami
kelemahan atau keletihan akibat inflamasi penyakit.
5. Pola istirahat tidur
Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur dalam
sehari? Biasanya klien mengalami perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
6. Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan
penglihatan,pendengaran, perabaan, penciuman,perabaan dan kaji bagaimana klien
dalam berkomunikasi? Biasanya klien mengalami gangguan pada indra penciuman.
7. Pola persepsi diri dan konsep diri
Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya? Apakah
klien merasa rendah diri? Biasanya klien akan merasa sedih dan rendah diri karena
penyakit yang dideritanya.
8. Pola peran hubungan
Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di
Rumah Sakit? Dan bagaimana hubungan social klien dengan masyarakat sekitarnya?
Biasanya klien lebih sering tidak mau berinteraksi dengan orang lain.
9. Pola reproduksi dan seksualitas
Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada perubahan
kepuasan pada klien?. Biasanya klien akan mengalami gangguan pada hubungan
dengan pasangan karena sakit yang diderita.
10. Pola koping dan toleransi stress
Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan
obat-obatan untuk menghilangkan stres?. Biasanya klien akan sering bertanya tentang
pengobatan.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya? Apakah
ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien? Biasanya klien lebih
mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
12. pola kebersihan diri
Kaji bagaimana klien tentang tindakan dalam menjaga kebersihan diri.

a. Pemeriksaan penunjang
Hasil dari beberapa pemeriksaan diagnostik yang abnormal.

b. Penatalaksanaan
Pemberian terapi atau pengobatan untuk KNF,seperti radioterapi,kemoterapi serta
obat-obatan.

12.Diagnosa keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d sekresi berlebihan.
2. Nyeri akut b/d agen injuri fisik (pembedahan).
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan
pemasukan nutrisi.
4. Risiko infeksi b/d tindakan infasive, imunitas tubuh menurun.
5. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d misintepretasi
informasi, ketidak familiernya sumber informasi
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1 Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan Airway Management/Manajemen jalan
tidak efektif b.d askep…jam status nafas :
sekresi berlebihan respirasi: terjadi - Bebaskan jalan nafas.
kepatenan jalan - Posisikan klien untuk memaksimalkan
nafas dengan Kriteria ventilasi
: - Identifikasi apakah klien
1. - Tidak ada panas membutuhkan insertion airway. Jika perlu,
2. - Cemas tidak ada lakukan terapi fisik (dada)
3. - Obstruksi tidak ada - Auskultasi suara nafas, catat daerah yang
- Respirasi dalam batas terjadi penurunan atau tidak adanya
normal 16-20x/mnt ventilasi
- Pengeluaran sputum - Berikan bronkhodilator, jika perlu
dari jalan nafas paru - Atur pemberian O2, jika perlu
bersih - Atur intake cairan agar seimbang
- Atur posisi untuk mengurangi dyspnea
- Monitor status pernafasan dan oksigenasi
Airway Suctioning/Suction jalan nafas
- Keluarkan sekret dengan dorongan
batuk/suctioning
- Lakukan suction pada
endotrakhel/nasotrakhel, jika perlu
2 Nyeri akut b/d agen Setelah dilakukan Manajemen nyeri :
injuri fisik askep ….. jam klien - Kaji tingkat nyeri secara komprehensif
menunjukkantingkat termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
kenyamanan dan level frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
nyeri: klien terkontrol - Observasi reaksi nonverbal dari
dg KH: ketidaknyamanan.
- Klien melaporkan - Gunakan teknik komunikasi terapeutik
nyeri berkurang untuk mengetahui pengalaman nyeri klien
skala nyeri 2-3 sebelumnya.
- Ekspresi wajah - Kontrol faktor lingkungan yang
tenang, klien mampu mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
istirahat dan tidur pencahayaan, kebisingan.
- V/S:(TD 120/80 - Kurangi faktor presipitasi nyeri.
mmHg, N: 60-100 - Pilih dan lakukan penanganan
x/mnt, RR: 16- nyeri(farmakologis/non farmakologis).
20x/mnt) - Ajarkan teknik relaksasi, distraksi untuk
mengetasi nyeri..
- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
- Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol
nyeri.
- Kolaborasi dengan dokter bila ada
komplain tentang pemberian analgetik
tidak berhasil.
- Monitor penerimaan klien tentang
manajemen nyeri.
3 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi
nutrisi kurang dari askep …. jam klien - kaji pola makan klien
kebutuhan tubuh b/d menunjukan status - Kaji adanya alergi makanan.
intake nutisi in nutrisi adekuat - Kaji makanan yang disukai oleh klien.
adekuat, faktor dibuktikan dengan BB - Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan
biologis stabil tidak terjadi mal nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan
nutrisi, tingkat energi klien.
adekuat, masukan - Anjurkan klien untuk meningkatkan
nutrisi adekuat asupan nutrisinya.
- Yakinkan diet yang dikonsumsi
mengandung cukup serat untuk mencegah
konstipasi.
- Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien.
Monitor Nutrisi
- Monitor BB setiap hari jika
memungkinkan.
- Monitor respon klien terhadap situasi yang
mengharuskan klien makan.
- Monitor lingkungan selama makan.
- Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
bersamaan dengan waktu klien makan.
- Monitor adanya mual muntah.
- Monitor adanya gangguan dalam proses
mastikasi/input makanan misalnya
perdarahan, bengkak dsb.
- Monitor intake nutrisi dan kalori.
4 Risiko infeksi b/d Setelah dilakukan - Bersihkan lingkungan setelah dipakai
imunitas tubuh askep…jam tidak pasien lain.
primer menurun, terdapat faktor risiko - Batasi pengunjung bila perlu.
prosedur invasive infeksi pada klien - Intruksikan kepada keluarga untuk
dibuktikan dengan mencuci tangan saat kontak dan
status imune klien sesudahnya.
adekuat: bebas dari - Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci
gejala infeksi, angka tangan.
lekosit normal (4- - Lakukan cuci tangan sebelum dan
11.000), sesudah tindakan keperawatan.
- Gunakan baju dan sarung tangan sebagai
alat pelindung.
- Lakukan perawatan luka dan dresing infus
setiap hari.
- Tingkatkan intake nutrisi dan cairan.
- Berikan antibiotik sesuai program.
Proteksi terhadap infeksi
- Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
dan lokal.
- Monitor hitung granulosit dan WBC.
- Monitor kerentanan terhadap infeksi.
- Pertahankan teknik aseptik untuk setiap
tindakan.
- Inspeksi kulit dan mebran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase.
- Inspeksi kondisi luka, insisi bedah.
- Ambil kultur jika perlu.
- Dorong istirahat yang cukup.
- Monitor perubahan tingkat energi.
- Dorong peningkatan mobilitas dan latihan.
- Instruksikan klien untuk minum antibiotik
sesuai program.
- Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan
gejala infeksi.
- Laporkan kecurigaan infeksi.
- Laporkan jika kultur positif.
5 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan Teaching : Dissease Process
tentang penyakit dan askep….jam,pengetah - Kaji tingkat pengetahuan klien dan
perawatan nya b/d uan klien keluarga tentang proses penyakit.
kurang terpapar dg meningkat. Dg KH: - Jelaskan tentang patofisiologi penyakit,
informasi, - Klien / keluarga tanda dan gejala serta penyebab yang
terbatasnya kognitif mampu menjelaskan mungkin.
kembali penjelasan - Sediakan informasi tentang kondisi klien.
yang telah - Siapkan keluarga atau orang-orang yang
dijelaskan. berarti dengan informasi tentang
- Klien / keluarga perkembangan klien.
kooperatif saat - Sediakan informasi tentang diagnosa klien.
dilakukan tindakan. - Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan
atau kontrol proses penyakit.
- Diskusikan tentang pilihan tentang terapi
atau pengobatan.
- Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan
atau terapi.
- Dorong klien untuk menggali pilihan-
pilihan atau memperoleh alternatif pilihan.
- Gambarkan komplikasi yang mungkin
terjadi.
- Anjurkan klien untuk mencegah efek
samping dari penyakit.
- Gali sumber-sumber atau dukungan yang
ada.
- Anjurkan klien untuk melaporkan tanda
dan gejala yang muncul pada petugas
kesehatan.
- Kolaborasi dg tim yang lain.
DAFTAR PUSTAKA

Arima,Aria,C, 2006. Paralisis Saraf Kranial Multipel pada KarsinomaNasofaring. [diakses


melalui http://library.usu.ac.id/download/fk/ D0400193.pdf

Asroel, H.A., 2002. Penatalaksanaan Radioterapi pada Karsinoma nasofaring

(KNF). Sumatra Utara: http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-hary2.pdf.p.1.

Fuda Cancer Hospital Guangzhou,2002. Nasopharynx Carcinoma Therapy After The Failure
of Coventional Therapy. China: Fuda Cancer Hospital Guangzhou. [diakses melalui http://
www.orienttumor.com/id/Kanker_ nasofaring. htm.

Herawati, Sri & Rukmini, Sri. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan
Untuk Mahasiswa Fakultar Kedokteran gigi. Jakarta: EGC

Herdman, T. Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.


Jakarta: EGC

Judith, M. Wilkinson. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan
Kreteria Hasil NOC. Jakarta: EGC

Maqbook,M., 2000. Tumours Of Nasopharynx. In:Textbook Of Ear,Nose And Throat


Disease.Edition 9,Srinagar:Jay Pee Brothers,250-253

Nasir,N, 2009. Karsinoma Nasofaring Kedokteran Islam.[diakes melalui


http://www.nasriyadinasir.co.cc/2009/12/karsinomanasofaring_20.html 18 Oktober 2014]

National Cancer Institute, 2009. Nasopharyngeal Cancer Treatment. U.S.A [diakses pada 18
Oktober 2014 melalui
http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/nasopharyngeal/HealthProfessional/page9
]

National Cancer Institute, 2013. Nasopharyngeal Cancer Treatment. [diakses pada 30


Oktober 2014 melalui
http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/nasopharyngeal/Patient/page2].

Roezin & Anida. 2007. Karsinoma Nasofaring Dalam:Buku Ajar Telinga Hidung,Tenggorok
Kepala Dan Leher.Edisi 6. Jakarta: FKUI

Universitas Sumatra Utara. 2010. Karnisoma Nasofaring. Medan: USU Press