Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

HALAMAN
JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

I. PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 2

C. Tujuan 3

D. Manfaat 3

II. KERANGKA TEORI 4

A. Kerangka Pikir 4

III. METODOLOGI 6

A. Jenis Tulisan 6

B. Objek Tulisan 6

C. Teknik Pengumpulan Data 6

IV. PEMBAHASAN 7

A. Konsep Dasar Persalinan 7

B. Faktor yang Memepengaruhi Persalinan 18

C. Asuhan Persalinan Kala I, II, III, dan IV 26

V. PENUTUP 29

A. Kesimpulan 29

B. Saran 30

DAFTAR PUSTAKA 31
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak Negara berkembang terutama
disebabkan oleh perdarahan persalinan, eklamsia, sepsis, dan komplikasi keguguran.
Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat
dicegah melalui upaya pencegahan yang efektif. Asuhan kesehatan ibu selama dua
dasawarsa terakhir terfokus kepada : keluarga berencana untuk lebih mensejahterakan
anggota masyarakat. Asuhan neonatal trfokus untuk memantau perkembangan kehamilan
mengenai gejala dan tanda bahaya, menyediakan persalinan dan kesediaan menghadapi
komplikasi. Asuhan pasca keguguran untuk penatalaksaan gawat darurat keguguran dan
komplikasinya serta tanggap terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi
lainnya.
Persalinan yang bersih dan aman serta pencegahan kajian dan bukti ilmiah
menunjukan bahwa asuhan persalinan bersih, aman dan tepat waktu merupakan salah satu
upaya efektif untuk mencegah kesakitan dan kematian. Penatalaksanaan komplikasi yang
terjadi sebelum, selama dan setelah persalinan. Dalam upaya menurunkan angka
kesakitan dan kematian ibu perlu diantisipasi adanya keterbatasan kemampuan untuk
menatalaksanakan komplikasi pada jenjang pelayanan tertentu. Kompetensi petugas,
pengenalan jenis komplikasi dan ketersediaan sarana pertolongan menjadi penentu bagi
keberhasilan penatalaksanaan komplikasi yang umumnya akan selalu berada menurut
derajat keadaan dan tempat terjadinya.

Persalinan saat ini menjadi momok yang ditakutkan dikalangan ibu, khususnya ibu hamil.
Tidak sedikit ibu dan bayinya mengalami kegawatdaruratan dan sampai pada akhirnya tak
dapat terselamatkan yang pada akhirnya menyebabkan meningkatnya angak kematian ibu
dan anak. Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalisir dengan asuhan persalinan.

Asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV memegang kendali penting pada ibu selama
persalinan karena dapat membantu ibu dalam mempermudah proses persalinan, membuat
ibu lebih yakin untuk menjalani proses persalinan serta untuk mendeteksi komplikasi
yang mungkin terjadi selama persalinan dan ketidaknormalan dalam proses persalinan.
BAB II

Tinjauan pustaka

A. Konsep Dasar Persalinan

1. Pengertian

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup
bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain,
dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini di mulai dengan adanya
kontrasi persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara progresif dan
diakhiri dengan kelahiran plasenta.

Kelahiran bayi merupakan pristiwa penting bagi kehidupan seorang pasien dan
keluarganya. Sangat pentng untuk diingat bahwa persalinan adalah proses yang normal
dan merupakan kejadian yang sehat. Namun demikian, potensi terjadinya komplikasi
yang mengancam nyawa selalu ada sehingga bidan harus mengamati dengan ketat pasien
dan bayi sepanjang proses melahirkan. Dukungan yang terus menerus an penatalaksanaan
yang trampil ari bidan dapat menyumbangkan suatu pengalaman melahirkan yang
menyenagkan dengan hasil persalinan yang sehat dan memuaskan.(APN Revisi tahun
2010)

2. Sebab-sebab terjadinya persalinan

Sebab – sebab terjadinya persalinan masih merupakan teori yang komplek. Perubahan –
perubahan dalam biokimia dan biofisika telah banyak mengungkapkan mulai dari
berlangsungnya partus antara lain penurunan kadar hormon progesteron dan estrogen.
Progesteron merupakan penenang bagi otot – otot uterus. Menurunnya kadar hormon ini
terjadi 1 – 2 minggu sebelum persalinan. Kadar prostaglandin meningkat menimbulkan
kontraksi myometrium. Keadaan uterus yang membesar dan menjadi tegang
mengakibatkan iskemia otot – otot uterus yang mengganggu sirkulasi uterus plasenta
sehingga plasenta berdegenerasi. Tekanan pada ganglion servikale dari fleksus
frankenhauser di belakang serviks menyebabkan uterus berkontraksi.

3. Mekanisme persalinan

Kepemimpinan, ada aturan main, ada hukumnya, ada tatakramanya dan ada waktu untuk
memimpin, semua ini disebut kepemimpinan persalinan”Keseluruhan 58 standar dan
langkah asuhan persalinan normal yang mempunyai arti, maksud dan tujuan, dan harus
dikuasai seorang bidan tersebut adalah
1. Mendengar dan Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan
ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah
partus set.
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air
mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk
pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin
dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke
perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput
ketuban sudah pecah.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%,
membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan
klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ
dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta
ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada
saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa
nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk
meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman,
jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala
bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan
bahan
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang
handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara
spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental.
Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan
kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis
dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah
kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri
dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong
dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk
tangan kiri diantara kedua lutut janin)
25. Melakukan penilaian selintas : Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas
tanpa kesulitan? Dan Apakah bayi bergerak aktif
26. Mengeringkan tubuh bayi nulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya
kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM
(intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum
menyuntikan oksitosin).
30. v Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm
dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali
pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. v Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi),
dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian
melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci
pada sisi lainnya.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva
35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk
mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan,
sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika
plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan
menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37. Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas,
minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai
dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan
dorso-kranial).
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-
hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan
lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah
robeknya selaput ketuban.
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan
menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan
kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk
memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap,
dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan
bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam.
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit
1 jam.
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata
antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri
anterolateral.
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di
paha kanan anterolateral.
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1
jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca
persalinan.
50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan
ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan
kering.
54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila
ibu ingin minum.
55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung
tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi partograf.

4. Teori-Teori Mengenai Proses Terjadinya Persalinan

Penyebab terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti,sehingga timbul beberapa


teori yang menyatakan kemungkinan proses persalinan. Menurut manuaba (1998),
pengertian persalinan adalah sebagai berikut.
1. Teori Penurunan Hormon

Beberapa hari sebelum partus terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron.
Sehingga otot rahim sensitif terhadap oksitosin. Penurunan kadar progestron pda tingkat
tertentu menyebabkan otot rahim molai kontraksi.

2. Teori Kerengangan

Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Apabila batas
tersebut telah terlewati, maka akan terjadi kontraksi, sehingga persalinan dapat dimulai.

3. Teori Plasenta Menjadi Tua

Plasenta yang semmakin tua sering dengan bertambahnya usia kehamilan akan
mmenyebabkan turunya kadar estrogen dan progesteron, sehingga pembuluh darah
mengalami kekejangan dan timbul kontraksi rahim.

4. Teori Iritasi Mekanik

Di belakan seviks terletak ganglion servikale/fleksus Fran Kenhauser. Bila ganglion ini
digeser dan ditekan atau tertekan kepada janin, maka akan timbul kontraksi rahim.

5. Teori Oksitosin Interna

Menurutnya kosentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan mengakibatkan aktivitas


oksitosin meningkat dan kontraksi braxton hicks sering terjadi, sehingga persalian dapat
dimulai.

6. Teori Prostaglanndin

Prostaglanndinn yang dikeluarkan oleh decidua konssentrasinya meninggkat sejak usia


kehamilan 15 minggu. Prostaglandin dianggap sebagai pemicu terjadinya persalinan,
pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot hamil.

Persalinan normal adalah proses lahirnya janin dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan
alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang pada umumnya berlangsung kurang dari 24
jam.
Persalinan normal menurut Farer (2001) adalah persalinan yang memiliki karakteristik
berikut ini.

a. Terjadi pada kehamilan aterm, bukan prmatur atau pun postmrur.


b. Mempunyai onset yang spontan, bukan karena induksi.
c. Selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat onset, bukan partus
presipitatus ataupun partus lama.
d. Janing tunggal dengan presentasi puncak kepala dan oksiput ada bagian anterior
pelvis.
e. Terlaksana tampa bantuan artifial.
f. Tidak terdapatkomplikasi.
g. Mencakup kelahiran plasenta yang normal.
h. Tanda-tanda Gejala Persalinan

Tanda dan gejala permualaan persalinan menurut mochtar (1994). Sebelum terjdi
persalinan yang sebenarnya, beberapa seminggu sebelum wanita memasuki hari perkiraan
kelahiran yang di sebut kala pendahuluan (preparatori stage of labor) dengan tanda sbb.

1) Lightening atau settling atau dropping, yaitu kepala turun memasuki pintu
atas panggul..pada primigravida terjadi menjelang minggu ke-36. Lightenig
disebabkan oleh:
· Kontraksi braxton hicks;
Ketegangan dinding perut;
·Ketegangan ligamentum rotumdum;
·Gaya berat janin.
2) Saat kepala masuk pintu atas panggul, ibu akan merasakan rasa sesat pada
perut bagian atas berkurang dan pada bagian bawah terasa sesak.
a. Perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri turun.
b. Sering miksi atau sulit berkemih.
c. Sakit di pinggang dan di perut.
d. Serviks mulai lembek dan mendatar. Pada multi para gambaran ini
kurang jelas, karena kepala janin baru masuk pintu atas panggul
menjelalan persalinan.
e. Terjadinya his permulaan atau his palsu. Sifat dari his palsu adalah :
 ·Rasa nyeri ringan di bagian bawah;
 ·Datanya tidak teratur;
 ·Durasi pendek;
 ·Tidak bertambah dengan beraktivitas tidak ada perubahan pada
serviks.

Tanda-tanda persalinan inpartu adalah sebagai berrikut.

1) Terjadi his persalinan, dengan karakteristik:


· Pinggang terasa sakit yang menjalar kedepan ;
· Sifat sakitnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatannya makin besar ;
·Berpengaruh terhadap perubahaan serviks ;
· Dengan beraktivitas kekuan makin bertambah.
2) Pengeluaran lendir bercampur darah.
3) Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4) Hasil pemeriksaan dalam (PD) menunjukan terjadinya perlunakan, pendaratan,
dan pembukaan serviks. Karakteristik kontraksi uterus atau his yang perlu
diperhatikan adalah: kekuatan kontraksi/intensitas, frekuensi, dan durasi. Tiap
kontraksi uterus tediri atas tiga fase sebagai berikut.
· Incement, yaitu ketikabintensitas atau kekuatan kontraksi terbentuk.
·Aceme, yaitu puncak maksimum dari kontraksi.
· Decrement, yaitu ketika otot uterus mulai kontraksi.

A Sebab-sebab Mulainya Persalinan

Beberapa teori yang dikemukakan ialah:

• Penurunan Kadar Progesteron

Proses penurunan fungsi plasenta terjadi mulai usia kehamilan 28 minggu, dimana
terjadinya penimbunan jaringan ikat sehingga pembuluh darah mengalami penyempitan
dan buntu. Produksi progesteron menurun sehingga otot rahim menjadi sensitif terhadap
oksitosin.

• Teori Oxytocin

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise posterior. Perubahan hormon estrogen dan
progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim sehingga terjadi his

•Keregangan Otot- Otot

Otot rahim mempunyai kemampuan untuk merenggang dalam batas tertentu, setelah
melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai.

• Pengaruh Janin

Kehamilan dengan Aensephalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak


terbentuk hipotalamus (Teori ini dikemukakan oleh Linggin 1973). Dari berbagai
percobaan maka dapat disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus-pituitari dengan
mulainya persalinan.

• Teori Prostaglandin

Prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu. Prostaglandin dihasilkan oleh


desidua, dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi di keluarkan.
Pemberian oksitosin pada kehamilan dapat menimbulkan his

B. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan

1. Passage (Jalan Lahir)


Tulang panggul terdiri dari :

Tulang panggul dibentuk oleh gabungan illium, iskium, pubis, dan tulang- tulang sacrum.
Terdapat empat sendi panggul, yaitu simfisis pubis, sendi sakroiliaka kiri dan kanan dan
sakrokoksiges.

Tulang panggul dipisahkan oleh pintu atas panggul menjadi dua bagian: panggul palsu
dan panggul sejati. Panggul palsu adalah bagian diatas pintu atas panggul dan tidak
berkaitan dengan persalinan. Panggul sejati di bagi menjadi tiga bidang: pintu atas atau
permukaan atas, panggul tengah atau rongga panggul, dan pintu bawah panggul.

Bagian anterior pintu atas panggul yakni batas atas panggul dibentuk oleh tepi atas tulang
pubis; bagian lateralnya dibentuk oleh dibentuk oleh linea illiopektinea, yakni sepanjang
jalan inominata dan bagian posteriornya dibentuk oleh bagian anterior tepi atas sakrum
dan promontorium sakrum.
Rongga panggul tengah merupakan saluran lengkung yang memiliki dinding anterior
pendek dan dinding posterior yang jauh lebih cembung dan panjang. Rongga panggul
melekat pada bagian posterior simfisis pubis, iscium sebagian illium sakrum, dan
koksigum.

Pintu bawah panggul adalah batas bawah panggul sejati, dilihat dari bawah berbentuk
lonjong, dibagian anterior dibatasi lengkung pubis, dibagian lateral oleh tuberositas
iskium,dan dibagian posterior oleh ujung koksigum, pada kehamilan tahap akhir,
koksigem dapat bergerak (kecuali jika struktur itu patah, misalnya akibat jatuh dan telah
menyatu dengan sakrum ketika sedang penyembuhan.
Pada ketinggian yang berbeda, bentuk dan saluran ukuran panggul juga berbeda,
diameter bidang pintu atas, panggul tengah, pintu bawah dan sumbu jalan lahir
menentukan mungkin tidaknya persalinan pervaginam berlangsung dan bagai mana janin
dapat menuruni jalan lahir (pergerakan kardinal mekanisme persalinan).

Empat jenis panggul dasar dikelompokan sebagai berikut::


1. ginekoid (tiple wanita klasik)

2. android (mirip panggul pria)

3. antropoid (mirip panggul kera)

4. platipeloid (panggul pipih)

Panggul ginekoid adalah bentuk yang paling yang paling sering ditemui, bentuk panggul
ginekoid dimiliki oleh 50 % wanita.

Bidang-Bidang Hodge :

Hodge I : Setinggi Promontorium ke Pinggir Atas Simfisis Pubis


Hodge II : Sejajar Hodge I setinggi Pinggir Bawah Simfisis Pubis
Hodge III : Sejajar Hodge I dan II setinggi Spina Isisadika
Hodge IV : Sejajar Hodge I, II dan III setinggi Ujung Os Cocygis

1. Ukuran Panggul

1.1. Pintu atas panggul

Dari ukuran- ukuran p a p conjungata vera adalah ukuran yang terpenting dan satu-
satunya ukuran yang dapat di ukur dengan mengurangi conjungata diagonalis dengan 1,5
– 2 cm, tergantung dari lebar dan inklinasinya symphysis
1.2. Bidang Tengah Panggul

ukuran- ukuran bidang tengah panggul tak dapat diukur secara klinis dan memerlukan
rontgenologis

1.3. Pintu Bawah Panggul

Perhatikan bentuk arcus pubis hendaknya merupakan sudut yang tumpul.

2. Otot Dasar Panggul

1) Permukaan belakang panggul dihubungkan oleh jaringan ikat antara os sakrum da


illium disebut ligamentum sakro illiaca posterior dan bagian depan disebut
ligamentum sacr illiaca anterior
2) Ligamentum yang menghubungkan anatara os sacrum dan spina ischium disebut
ligamentum sacro spinosum
3) Ligementum antara os sacrum dan os tuber isciadicum dinamakan ligamentum
sacr tuberosum
4) Dasar panggul/ diafragma pelvis terdiri dari bagian otot disebut musculus levator
ani
5) Bagian membran disebut diafragma urogenital
6) Musculus levator ani menyelubungi rektum terdiri dari musculus pubo
coccygeus, musculus illiococcygeus dan musculus ischio coccygeus.
7) Direngah musculus pubococcygeus kanan dan kiri ada hiatus urogenitalis
merupakan celah segitiga.
8) Hiatus dibatasi sekat yang menyelubungi pintu bawah panggul sebelah depan.
Pada wanita sekat ini merupakan tempat keluarnya uretra dari vagina.
9) Fungsi diafragma pelvis adalah menjaga agar genetalia interna tetap pada
tempatnya. Jika menurun fungsinya maka akan terjadi prolaps.
3. Pasesenger (Janin Dan Plasenta)

1. Janin

Janin bergerak disepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor: yakni :
ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin.

a. Ukuran Kepala Janin

Ukuran Diameter

 Diameter Sub Occipito Bregmatika 9,5 cm


 Diameter Occipitofrontalis Frontalis ± 12
 Diameter Mento Occipito ± 13,5 cm
 Diameter Submento Bregmatika ± 9,5 cm
 Diameter Biparietal ± 9,5 cm
 Diameter Bitemporalis ± 8 cm
 Ukuran Cirkumferensia
 Cirkumferensia Fronto Occipitalis ± 34 cm
 Cirkumferensia Mento Occipitalis ± 35 cm
 Cirkumferensia Sub Occipitalis Bregmatika ± 32 cm

b. Ukuran Badan Janin

 Bahu
Jarak antara kedua akromion ± 12 cm
Lingkaran Bahu ± 34 cm
 Bokong
Lebar bokong (diameter intertrokanterika) ± 12 cm
Lingkaran Bokong ± 27 cm

c. Presentasi Janin

Presentasi adalah bagian janin yang pertama kali memasuki pintu atas panggul dan terus
melalui jalan lahir saat persalinan mencapai aterm.

Tiga presentasi janin yang utama ialah : kepala (96 %); Sungsang (3%); Bahu (1%).

Bagian Presentasi ialah bagian tubuh janin yang pertama kali teraba oleh jari pemeriksa
saat melakukan pemeriksaan dalam. Faktor- faktor yang mempengaruhi bagian presentasi
ialah letak janin, sikap janin, dan ekstensi atau fleksi kepala janin
d. Letak Janin

Letak adalah hubungan antara sumbu panjang (punggung) janin terhadap sumbu panjang
(punggung) ibu.

Ada dua macam letak :

 Memanjang atau vertikal, dimana sumbu panjang janin paralel dengan sumbu
panjang ibu
 Melintang atau horisontal, dimana sumbu panjang janin membentuk sudut
terhadap sumbu panjang ibu.

Letak memanjang dapat berupa presentasi kepalan atau presentasi sacrum

e. Sikap Janin

Sikap adalah hubungan bagian tubuh janin yang satu dengan bagian yang lain. Hal ini
akibat penyesuaian janin terhadap bentuk rongga rahim. Pada kondisi normal punggung
janin sangat fleksi ke arah dada, dan paha fleksi kearah sendi lutut disebut fleksi umum.
Tangan disilang di depan toraks dan tali pusat terletak diantara lengan dan tungkai.
Penyimpangan sikap normal dapat menimbulkan kesulitan saat kelahiran

Diameter biparietal ialah diameter lintang terbesar kepala janin. Kepala dalam sikap
pleksi sempurna memungkinkan diameter sukoksipitobregmatika (diameter terkecil)
memasuki panggul sejati dengan mudah

f. Posisi Janin

Posisi ialah hubungan antara bagian presentasi (oksiput, sakrum, mentum(dagu) sinsiput,
(puncak kepala yang defleksi/ menengadah) terhadap 4 kuadran panggul ibu. Posisi
dinyatakan dengan singkatan yang terdiri dari hurup pertama masing- masing kata kunci;
OAKa = posisi Oksipitoanterior kanan.

Engagement menunjukan bahwa diameter tranversa terbesar bagian presentasi telah


memasuki pintu atas panggul. Pada presentasi kepala fleksi dengan benar diameter
bivarietal (9,25 cm) merupakam diameter terlebar.

Engagement dapat diketahui melalui pemeriksaan abdoment atau pemeriksaan dalam.

Stasiun adalah hubungan antara bagian presentasi janin dengan garis imajiner (bayangan)
yang ditarik dari spina iskiadika ibu, statiun dinyatakan dalam centimeter, yakni diatas
atau dibawah spina.

2. Plasenta

Karena plasenta juga harus melalui jalan lahir, ia juga dianggap sebagai penumpang yang
menyertai janin. Namun plasenta jarang menghambat proses persalinan pada persalinan
normal.
3. Air Ketuban

Waktu persalinan air ketuban membuka servik dengan mendorong selaput janin kedalam
ostium uteri, bagian selaput anak yang diatas ostium uteri yang menonjol waktu his
disebut ketuban. Ketuban inilah yang membuka serviks

2. Power (Kekuatan)

Kontraksi involunter dan volunter secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan
vlasenta dari uterus. Kontraksi involunter disebut kekuatan primer, menandai dimulainya
persalinan. Apabila servik berdilatasi usaha volunter dimulai untuk mendorong, yang
disebut kekuatan sekunder, yang memperbesar kekuatan kontraksi involunter

1. His/ Kekuatan Primer

His atau kekuatan primer berasal dari titik pemicu tertentu terdapat pada penrbalan
lapisan otot disegmen uterus bagian atas, dari titik pemicu, kontraksi dihantar keuterus
bagian bawah dalam bentuk gelombang, diselingi periode istirahat singkat. Digunakan
untuk menggambar kontraksi involunter ini frekuensi (waktu antar kontraksi yaitu waktu
antara awal suatu kontraksi dan awal kontraksi berikutnya); durasi (lama kontraksiL); dan
intensitas (kekuatan kontraksi). Kekuatan primer membuat serviks menipis (effacement)
dan berdilatasi dan janin turun.penifisan serviks adalah pemendekan dan penipisan
serviks selama tahap pertama persalinan pada kehamilan aterem pertama, effacement
biasanya terjadi lebih dahulu dari pada dilatasi, pada kehamilan berikutnya, effacement
dan dilatasi cenderung terjadi bersamaan dilatasi serviks adalah pembesaran muara dan
saluran serviks, yang terjadi pada awal persalinan. Diameter meningkat dari 1cm sampai
dilatasi lengkap (10cm) supaya janin aterm dapat dilahirkan.apabila dilatasi serviks
lengkap , servik tidak dapat lagi diraba menandakan akhir tahap pertama persalinan.

Dilatasi serviks terjadi karena komponen muskulofibrosa tertarik dari serviks ke arah
atas, akibat kontraksi uterus yang kuat,tekanan yang ditimbulkan cairan amnion selama
ketuban utuh atau kekuatan yang timbul akibat tekanan bagian presentasi juga membuat
serviks berdilatasi, jaringan serviks akibat infeksi atau pembedahan dapat menghambat
dilatasi serviks.

2. Tenaga Mengejan (Kekuatan Sekinder)

Segera setelah bagian presentasi mencapai dasar panggul, sifat kontraksi berubah, yakni
bersifat mendorong keluar. Ibu ingin mengedan , Usaha mendorong kebawah (kekuatan
sekunder) dibantu dengan usaha volunter yang sama dengan yang dilakukan saat buang
air besar (mengedan). Digunakan otot- otot diafragma dan abdomen ibu berkontraksi dan
mendorong keluar isi jalan lahir. Hal ini menghasilkan menigkatkan tekanan
intraabdomen. Tekanan ini menekan uterus pada semua sisi dan menambah kekuatan
untuk mendorong keluar.
Kekuatan sekunder tidak mempengaruhi dilatasi serviks, tetapi setelah lengkap, kekuatan
ini cukup penting untuk mendorong bayi keluar dari uterus dan vagina. Apabila dalam
persalinan ibu melakukan usaha volunter(mengedan) terlalu dini, dilatasi serviks alkan
terhambat. Mengedan akan melelahkan ibu dan menimbulkan trauma serviks.

C. Asuhan Persalinan Kala I, II, III, dan IV

1. Kala I (kala Pembukaan)

Permulaan persalinan ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks
mulai mendatar dan membuka. Kala pembuka dibagi menjadi du fase (mochtar, 1994).

a. Fase laten: pembukaan serviks berlangsung lambbat, sampai pembukaan 3 cm yang


berlangsung dalam tujuh sampai delapan jam.

b. Fase aktif: berlangsung selanma enam jam yang dibagi atas tiga subvase, antara
lain.

a. Periode akselerasi, pembukaan menjadi 4 cm yang berllangsung selam dua jam.


b. Periode dilatasi maksimal, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi 9 cm.
c. Periode deselerasi, yaitu pembukaan berlansung llambat kembali dalam waktu dua
jam pembukaan dari 9 cm mencapai lengkap 10 cm. Lamanya kala I untuk
primigravida berlangsung selama 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam.
Bardasarkan kurva Friedman diperhitungkan pembukaan primigravida adalah 1 cm
tiap jam dan untuk multigravida 2 cm tiap jam. Dengan perhitungan tersebut, maka
waktu pembuaan lengkkap dapat diperkirakan.

2. Kala II (kala Pengeluaran)

Menurut mochtar (1994), pada kala pengeluaran janin, his terkoordinir, kuat, interval 2-3
menit dengan durasi 50 sampai 100 detik. Pada akhir kala I ketuban akan pecah disertai
pengeluaran cairan mendada, kepala janin turun masuk ruang panggul, sehingga terjadi
tekanan pada otot dasar panggul yang akan menimbulkan keinginan untuk mengejan.
Oleh karena tertekannya fleksus Franken Hauser, ibu merasa seperti ingin buang air besar
karena adanya tekanan pada rektum. Tanda-tanda kala II (Farrer, 2001) antara lain:

1) Pemeriksaan vaginal serviks sudah dilatasi penuh.


2) Selaput amnion biasanya sudah pecah.
3) His atau kontraksi uterus yang berlangsung panjang kuat, dan tidak begitu sering
bukan 2-3 menit lagi, melainkan sekitar 3-5 menit sekali.
4) Mungkin terdapat tetesan darah dari vagina.
5) Ibu mengalami desakan kuat untuk mengejan.
6) Sfingter ani terlihat berlilatasi.
7) Perineum tampak menonjol.

3. Kala III (Pelepasan Uri)

Setelah kala II, kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Lepasnya plasenta
secara Schultze yang biasanya tidak ada perarahan sebelum plasenta lahir dan banyak
mengeluarkan darah setelah plasenta lahir. Sedangkan pengeluaran plasenta cara Duncan
yaitu plasenta lepas dari pinggir, biasanya darah mengalir keluar antara selaput ketuan
(Mochtar 1994). Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memerhatikan
tanda-tanda:

a. uterus menjadi bundar;

b. fundus uterus mengalami kontraksi kuat;

c. uterus terdorong ke atas karena plasenta lepass ke segmen bawah rahim;

d. tali pusat bertambah panjang;

e. terjadi perdarah

4. Kala IV (Observasi)

Kala IV dimaksudkan untuk observasi pendarahan postpartun. Paling sering terjadi


pendarhan pad dua jam pertama, yang perlu diobservasi adalah:

a. Tingkat kesadaran;

b. Tanda tanda vital;

c. Kontrasi uterus;

d. Terjadinya pendarahan pendarahan dikatakan normal jika jumlahnya tidak lebih dari
500 ml.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka kami dapat
menyimpulkan tentang materi yang dibahas, sebagai berikut :

1. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah
cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan
lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini di mulai
dengan adanya kontrasi persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks
secara progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta.
2. Dalam melakukan pencegahan banyaknya angka kematian ibu ataupun anak saat
proses persalinan, perlu dilakukan asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV sebagai
berikut :
a. Kala I, tahap pembukaanin partu (partus mulai) ditandai dengan lendir bercampur
darah, karena serviks mulai membuka dan mendatar.
b. Kala II , pada kala pengeluaran janin, rasa mulas terkordinir, kuat, cepat dan lebih
lama, kira-kira 2-3 menit sekali.
c. Kala III, pada kala ini terjadi pengeluaran plasenta setelah pengeluaran janin.
d. Kala IV, tahap ini digunakan untuk melakukan pengawasan terhadap bahaya
perdarahan. Pengawasan ini dilakukan selam kurang lebih dua jam.

B. Saran

Selain menarik kesimpulan di atas, kami juga memeberikan saran sebagai berikut :

a. Adanya makalah ini diharapkan pembaca agar mempelajari isi dari makalah
tersebut.
b. Agar lebih meningkatkan wawasan dan pengetahuan mengenai asuhan persalinan
yang terbagi atas empat kala.
c. Sebaiknya pembaca mencari buku ataupun mencari di internet mengenai asuhan
persalinan agar lebih memehami asuhan persalinan.
DAFTAR PUSTAKA

Aa-aamas. 2011. Online. http://aa-aamas.blogspot.com/2011/03/makalah-asuhan-


persalinan.html. Akses 12 11 2012.

Anakamak. 2010. Online. http://anakamak07.blogspot.com/2010/07/bab-i-pendahuluan-


i.html. Akses 21 11 2012.

Bencoolen, Rafless. 2011.


Online. http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/2011/04/asuhan-persalinan-kala-
iv.html. Akses 21 11 2012.

Midwifery, Lheys. 2011. Online. http://lheyzuthary.blogspot.com/2011/04/asuhan-


persalinan-kala-iii.html. Akses 12 11 2012.

Reza Muhamad Pahlevi. 2012.


Online.http://muhamadrezapahlevi.blogspot.com/2012/05/konsep-dasar-persalinan.html.
Akses 21 11 2012.
60 Langkah Asuhan Persalinan Normal (APN)

60 Langkah Persalinan Normal

I. MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA DUA


1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua.
- Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
- Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya.
- Perineum menonjol.
- Vulva-vagina dan sfingter anal membuka.

II. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN


2. Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap digunakan.
Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai
di dalam partus set.
3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku, mencuci kedua tangan
dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk
satu kali pakai/pribadi yang bersih.
5. Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6. Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan
disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus set/wadah disinfeksi
tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik).
III. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DENGAN JANIN BAIK
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke
belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air disinfeksi
tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,
membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke belakang.
Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti
sarung tangan jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan
benar di dalam larutan dekontaminasi, langkah # 9).
8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.
- Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan
amniotomi.
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih
memakai
sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam
eadaan terbalik serta merendamnya di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
Mencuci kedua tangan (seperti di atas).
10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk memastikan
bahwa DJJ dalam batas normal ( 100 – 180 kali / menit ).
- Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
- Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil
penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
IV. MENYIAPKAN IBU & KELUARGA UNTUK MEMBANTU PROSES PIMPINAN
MENERAN.
11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu ibu
berada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
- Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Melanjutkan pemantauan
kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan
mendokumentasikan temuan-temuan.
- Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan
memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu utuk meneran. (Pada saat
ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman).
13. Melakukan pimpinan meneran saat Ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk
meneran :
- Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinganan untuk meneran
- Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
- Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak meminta ibu
berbaring terlentang).
- Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
- Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu.
- Menganjurkan asupan cairan per oral.
- Menilai DJJ setiap lima menit.
- Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120
menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60/menit (1 jam) untuk ibu multipara,
merujuk segera.
Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran
- Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang aman. Jika
ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, menganjurkan ibu untuk mulai meneran pada
puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi.
- Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setalah 60 menit
meneran, merujuk ibu dengan segera.
V. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI.
14. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan handuk
bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
15. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu.
16. Membuka partus set.
17. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
VI. MENOLONG KELAHIRAN BAYI
Lahirnya kelapa
18. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan
satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kelapa bayi dan lakukan
tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala
keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernapas
cepat saat kepala lahir.
- Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung setelah
kepala lahir menggunakan penghisap lendir DeLee disinfeksi tingkat tinggi atau steril
atau bola karet penghisap yang baru dan bersih.
19. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang
bersih.
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi,
dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :
- Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala
bayi.
- Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua tempat dan
memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan. Lahir
bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-
masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya.
Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan kearah keluar hingga bahu anterior
muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan ke
arah luar untuk melahirkan bahu posterior.
Lahir badan dan tungkai
23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada
di bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir
ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati
perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.
Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan
anterior bayi saat keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior) dari
punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat panggung dari kaki lahir.
Memegang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
VII. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
25. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi
kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan
bayi di tempat yang memungkinkan).
26. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian
pusat.
27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan
urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari
klem pertama (ke arah ibu).
28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting dan
memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.
29. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang
bersih dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi
mengalami kesulitan bernapas, mengambil tindakan yang sesuai.
30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan
memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
VIII. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
Oksitosin
31. Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk
menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32. Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan oksitosin 10 unit
IM di 1/3 paha kanan atas ibu bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dahulu.
Penegangan tali pusat terkendali
34. Memindahkan klem pada tali pusat
35. Meletakkan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis,
dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan
uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah
pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian
bawah uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang (dorso kranial)
dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak
lahir setelah 30 – 40 detik, menghentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga
kontraksi berikut mulai.
- Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk
melakukan ransangan puting susu.
Mengluarkan plasenta.
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke
arah
bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan
tekanan
berlawanan arah pada uterus.
- Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5 – 10 cm
dari vulva.
- Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selama 15 menit :
Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM.
Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung kemih dengan
menggunakan teknik aseptik jika perlu.
Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak kelahiran bayi.
KEGIATAN
38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-
hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut perlahan
melahirkan
selaput ketuban tersebut.
- Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril
dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan
atau klem atau forseps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan bagian
selapuk yang tertinggal.
Pemijatan Uterus
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,
meletakkan
telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan
lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).
VIII. MENILAI PERDARAHAN
40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput
ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan
plasenta
di dalam kantung plastik atau tempat khusus.
- Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selam 15 detik mengambil
tindakan yang sesuai.
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit
laserasi
yang mengalami perdarahan aktif.
IX. MELAKUKAN PROSEDUR PASCA PERSALINAN
42. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
Mengevaluasi perdarahan persalinan vagina.
43. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5
%,
membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air disinfeksi
tingkat tinggi dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.
44. Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau mengikatkan tali
disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.
45. Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang berseberangan dengan simpul
mati yang pertama.
46. Melepaskan klem bedah dan meletakkannya ke dalam larutan klorin 0,5 %.
47. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan handuk atau
kainnya bersih atau kering.
48. Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.
EVALUASI
49. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam :
2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan.
Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan.
Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melaksanakan perawatan yang sesuai untuk
menatalaksanaan atonia uteri.
Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan penjahitan dengan
anestesia lokal dan menggunakan teknik yang sesuai.
50. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan
memeriksa kontraksi uterus.
51. Mengevaluasi kehilangan darah.
52. Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama
satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca
persalinan.
- Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam pertama pasca
persalinan.
- Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
Kebersihan dan keamanan
53. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10
menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontaminasi
54. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
55. Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi. Membersihkan
cairan ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan
kering.
56. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan
keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
57. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin
0,5% dan membilas dengan air bersih.
58. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikkan bagian
dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
Dokumentasi
60. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang