Anda di halaman 1dari 8

Anggota :

1. Ghina Dhiya Alya


2. Diesna Hayin Chumaida
3. Puteri Maulidini
4. Shafa Aulia Febriyanti
5. Uswatun Hasanah

Mengapa Allah menciptakan alam semesta yang begitu luas?

Pertanyaan: Mengapa Allah menciptakan alam semesta yang begitu luas?

Jawaban: Pertanyaan mengenai apakah Allah menciptakan alam semesta memang


cukup menarik untuk dibahas. Prinsip penting yang perlu kita kedepankan ketika
membahas masalah azali (kejadian masa silam) atau masalah ghaib secara umum
adalah tidak memberikan rincian tanpa bukti dan dalil yang shahih. Sebatas teori,
tidak bisa dijadikan acuan. Karena Allah tidak akan menanyakan masalah ghaib yang
kita tidak tahu dan yang tidak disebutkan dalam dalil. Allah ta’ala mencela
memberikan komentar tentang masalah ghaib yang tidak memiliki bukti.

Diantaranya masalah proses penciptaan alam semesta. Dalam al-Quran, Allah hanya
memberikan keterangan global dan tidak rinci.
Allah tegaskan dalam al-Quran,

‫ض َوال خ َْلقَ أ َ ْنفُ ِس ِه ْم‬


ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬ َّ ‫َما أ َ ْش َهدْت ُ ُه ْم خ َْلقَ ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬

“Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan
tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri.” (QS. al-Kahfi: 51)

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

‫ وال من خلق هللا جميعا‬،‫فأما اْليام الستة التي خلق هللا فيها السموات واْلرض فهي غيب لم يشهده أحد من البشر‬

“Rentang 6 hari yang Allah jadikan waktu penciptaan langit dan bumi, sifatnya ghaib.
Tidak ada satupun manusia yang menyaksikannya, tidak pula makhluk Allah
semuanya.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 190003)

Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Al-Quran

Allah ta’ala menceritakan proses penciptaan alam semesta dalam al-Quran. Ada yang
bersifat global dan ada yang lebih rinci.

Dalam penjelasan global, Allah menegaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi
selama 6 hari. Allah tegaskan hal ini di tujuh ayat dalam al-Quran. Diantaranya,

‫ض فِي ِست َّ ِة أَي ٍَّام ث ُ َّم ا ْست ََوى َعلَى ْالعَ ْر ِش‬
َ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬ َّ ‫َّللاُ الَّذِي َخلَقَ ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬ َّ ‫إِ َّن َربَّ ُك ُم‬

“Sesugguhnya Tuhan kalian, yaitu Allah, Dialah yang menciptakan langit dan bumi
dalam 6 hari, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.” (QS. al-A’raf: 54). Keterangan
lainnya Allah sebutkan di surat Yunus (ayat 3), Hud (ayat 7), al-Furqan (ayat 59), as-
Sajdah (ayat 4), dan al-Hadid (ayat 4).
Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari. Dimulai dari hari ahad dan
berakhir dengan hari jum’at. Dengan alasan inilah hari jum’at menjadi hari raya
bagi umat Islam1. Di hari itu Allah ta’ala selesai menciptakan langit dan bumi.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi
dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam
di atas ‘Arsy…” (Qs. As Sajadah : 3).

Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai enam hari masa penciptaan langit
dan bumi. Mayoritas ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan enam hari
adalah ukuran hari hari biasa. Adapun pendapat yang lain menyatakan bahwa enam
hari disitu berbeda dengan hitungan hari hari biasa, melainkan setiap harinya seperti
1000 tahun hari hari biasa 2.

Penciptaan bumi di dahulukan sebelum penciptaan langit. Sebagaimana ditunjukan


oleh firman Allah (yang artinya), Dia-lah Allah, yang menciptakan segala yang ada
di bumi untuk kamu kemudian Dia naik ke atas dan menjadikan tujuh langit. Dan
Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Baqoroh : 29)

Karena ibarat sebuah bangunan, pondasi atau asas dibuat terlebih dahulu sebelum
atap. Maka bumi adalah asas atau pondasi dan langit adalah
atapnya.3 Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah-lah yang menjadikan bumi
bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap” (Qs. Ghofir : 64.

Langit diciptakan dengan tujuh lapisan. Begitu juga dengan bumi. Meskipun kata
bumi selalu disebutkan dalam bentuk tunggal dalam Al Qur’an. Tidak sebagaimana
langit yang seringkali disebutkan dalam lafadz jamak. Namun ada sebuah ayat yang
menunjukan bahwa bumi pun tujuh lapis sebagaimana langit. Allah ta’ala berfirman
(yang artinya), “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula
bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar
meliputi segala sesuatu.” (Qs. At Tholak : 12).
Dan dikuatkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam, “Barangsiapa berbuat kezaliman (menyerobot tanah orang lain meski
hanya) sejengkal tanah, maka Allah akan menimbunnya dengan tujuh lapis bumi” 4.

Kemudian Allah memisahkan antara langit dan bumi, sehingga angin pun bertiup,
hujan pun turun, tumbuhlah berbagai macam tumbuhan, gunung gunung
ditancapkan ditempatnya, Allah menjadikan makhluk ciptaan berpasang pasangan,
diciptakan kehidupan dari air, diciptakannya matahari sebagai penerang, dan
bintang bintang serta rembulan sebagai hiasan. Semua itu bukti kebesaran
Allah ta’ala.5

Jarak antara langit dan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan. Begitu juga antara
satu lapisan langit dengan lapisan selanjutnya. Disebutkan dalam hadits riwayat
Abbas bin Abdul Mutthalib Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan
bumi? Kami berkata, “Allah dan RosulNya lebih mengetahui”, kemudian beliau
bersabda, “Jarak keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun, dan antara satu
langit dengan langit selanjutnya perjalanan lima ratus tahun, dan tebal setiap
langit adalah perjalanan lima ratus tahun, dan diantara langit ketujuh dengan arsy
ada laut yang jarak antara dasar dan atasnya adalah seperti jarak antara langit
dan bumi, dan Allah diatas itu semua, tidak tersembunyi baginya amalan
manusia….”6

Bumi atau Langit Dulu?

Ada dua hal yang perlu dibedakan terkait proses penciptaan langit dan bumi, pertama,
mengawali penciptaan (Ibtida al-Khalqi) dan kedua, penyempurnaan penciptaan
(Taswiyah al-Khlqi).
Di surat Fushilat ayat 9 hingga 12 di atas, Allah menyebutkan bahwa Dia
menciptakan bumi terlebih dahulu sebelum langit. Sehingga, secara Ibtida al-Khalqi,
bumi lebih awal dibandingkan langit. Namun penyempurnaan bumi (Taswiyah al-
Khlqi), baru dilakukan setelah Allah menciptakan langit.

Ketika menafsirkan surat Fushilat di atas, Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah
menyebutkan bahwa Dia menciptakan bumi terlebih dahulu, karena bumi ibarat
pondasi. Dan pertama kali, harusnya dimulai dengan pondasi. Kemudian setelahnya
adalah atap.

Sebagaimana yang Allah firmankan,

ٍ ‫س َم َوا‬
‫ت‬ َ ‫س ْب َع‬ َ َ‫اء ف‬
َ ‫س َّواه َُّن‬ َّ ‫ض َج ِميعا ث ُ َّم ا ْست ََوى إِلَى ال‬
ِ ‫س َم‬ ْ ‫ه َُو الَّذِي َخلَقَ لَ ُك ْم َما فِي‬
ِ ‫اْلر‬

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian, kemudian Dia
berkehendak (beristiwa) menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.” (al-Baqarah:
29)

Jika kita melihat ciptaan Allah kita akan menemukan suatu keindahan yang luar
biasa. Suatu keindahan dan keagungan yang menunjukan keagungan Dzat yang
menciptakannya. Keteraturan, keharmonisan, dan keindahan alam semesta
menunjukan akan adanya Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Langit
dengan segala hiasannya. Bumi dengan lautan dan sungai sungai yang mengalir di
dalamnya. Gunung gunung yang begitu kokoh menjulang tinggi. Hewan hewan dan
tumbuhan dengan bermacam macam jenisnya. Semuanya diciptakan dengan begitu
indah. Suatu karya luar biasa dari Sang Pencipta.

Berfikir dan ber-tadabbur terhadap ciptaan Allah akan menambahkan keimanan kita
kepada Allah ta’ala. Yang karenanya Allah ta’la menyeru manusia untuk senantiasa
merenungi ciptaan ciptaanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apakah
mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” “Dan langit,
bagaimana ia ditinggikan?” “Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?”
“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Qs. Al Ghosyihah : 17-20.

Allah ta’ala pun memuji Ulul Albab (orang yang berakal/cerdas) dan menjelaskan
kebiasaan mereka mentadaburi ayat ayat Allah ta’ala berupa ciptaan Nya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal” “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka” (Qs. Al Imron : 190-191).

Allah pun membantah orang orang Musyrikin yang mengingkari hari kebangkitan.
Mereka dengan akal mereka menyangka bahwa jiwa yang telah mati tidak akan
mungkin bisa dihidupkan kembali. Mereka mengatakan, “Siapakah yang dapat
menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (Qs. Yasin : 78). Maka
Allah pun menjelaskan, bahwa membangkitkan manusia tidak apa apanya
dibandingkan dengan penciptaan alam semesta. Jika saja alam semesta yang luar
biasa besarnya Allah mampu membuatnya, bagaimana hanya dengan sekedar
membangkitkan manusia?! tentu saja Allah lebih mampu. Allah ta’ala berfirman
(yang artinya), “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada
penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs.
Ghofir : 57).
Keyakinan orang yahudi; Allah selesai menciptakan langit dan bumi di hari
Jum’at dan beristirahat di hari Sabtu

Orang Yahudi mencela Allah. Mereka mengatakan Allah ta’ala selesai menciptakan
langit dan bumi di hari jum’at dan beristirahat di hari Sabtu 7. Mereka menyangka
bahwa Allah ta’ala kelelahan setelah menciptakan langit dan bumi sehingga
memerlukan istirahat, Maha Suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan.

Allah pun membantah ucapan mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan
sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara
keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (Qs Qaf
: 38).

Allah ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika Allah berkehendak, bisa saja
langit dan bumi diciptakan dengan sekejap. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Qs. Yasin : 82).

Namun Allah memiliki Nama Al Hakim; Maha Bijaksana. Semua ketentuan Allah
mengandung hikmah. Dengan proses penciptaan langit dan bumi Allah ingin
menunjukan kepada makhluk Nya akan keagungan Allah. Dan mengajarkan bahwa
segala sesuatu membutuhkan proses. Dengan ini manusia belajar bersabar.
SUMBER ARTIKEL

https://konsultasisyariah.com/23801-asal-penciptaan-langit-dan-bumi-menurut-al-
quran.html

https://www.gotquestions.org/Indonesia/Allah-menciptakan-alam-semesta.html

https://muslim.or.id/25618-bagaimana-allah-menciptakan-langit-dan-bumi.html