Anda di halaman 1dari 9

PPOB UNLIMITED SOLUSI PELUNASAN TANPA AGUNAN

BAB I PENDAHULUAN

PT PLN (Persero) sebagai perusahaan penyedia tenaga listrik dengan pelanggan lebih
dari 71 Juta dengan dua sistem utama yakni pascabayar dan prabayar. Dimana pendapatan PLN
masih didominasi dari sistem pascabayar (82% di tahun 2017). Dengan segala kelebihan dan
kekurangan sistem pascabayar, PLN sebagai sebuah perusahaan BUMN sektor kelistrikan
terbesar harus terus mencari solusi tanpa melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Masalah “klasik” dari sistem pascabayar adalah tingginya tingkat tunggakan tagihan listrik.
Selain karena faktor kesadaran masyarakat yang masih rendah, hal ini juga dikarenakan masih
banyaknya faktor-faktor lain. Salah satu hal yang telah dilakukan PLN guna mempermudah
proses pembayaran rekening listrik adalah menginisiasi sistem pembayaran secara online
dengan memanfaatkan fasilitas perbankan yang sekarang dikenal dengan Payment Point Online
Bank (PPOB).

Mayoritas petugas penagihan PLN sudah menggunakan PPOB Mobile sebagai sarana
pembayaran listrik secara realtime. Namun terkadang petugas mengalami kendala modal /
deposit dalam penggunaan PPOB ini. Untuk itu PLN UIW Sumatera Barat dan PT Haleyora
Power Region 4 sedang memulai program untuk mensosialisasikan PPOB Unlimited, dimana
petugas penagihan bisa melakukan transaksi tanpa biaya dan melakukan pembayaran transaksi
pada H+1.
BAB II LANDASAN TEORI

Billing Management

Billing Management (BILLMAN) adalah pekerjaan


Pengelolaan Pelanggan yang meliputi Pembacaan
dan Pencatatan angka kWh Meter, Pengendalian
Piutang yang bersifat edukasi maupun
melaksanakan pemutusan sementara, yang
dilakukan oleh pihak lain sebagai pelaksana
berdasarkan ikatan perjanjian dengan Service Level Agreement (SLA) yang telah ditetapkan.

Fungsi Pembacaan Meter dan Penagihan merupakan 2 poin dari tiga proses bisnis utama
PT PLN (Persero) sesuai dalam Pedoman Proses Pelayanan Pelanggan Tahun 2011
(Keputusan Direksi no. 1336.K/DIR/2011). Karena keduanya berkaitan langsung dengan sumber
pendapatan perusahaan sehingga dibutuhkan proses yang tepat guna mencapai kinerja
perusahaan yang excellent. Dalam hal pembacaan meter PLN sudah mulai menggunakan
teknologi sebagai bentuk ikut serta dalam Industri 4.0 yakni dengan menggunakan smartphone
(web based) dan Automatic Meter Reading guna meminimalisir kesalahan pembacaan. Disisi
penagihan PLN juga sudah menerapkan hal yang sama, dimana beberapa petugas penagihan
(Biller) sudah mulai menggunakan PPOB Mobile, sehingga pelanggan akan langsung menerima
struk bukti pembayaran yang sah ketika melakukan transaksi dengan petugas dilapangan.

PPOB

Pada dasarnya, Payment Point Online Bank


(PPOB) adalah sebuah sistem pembayaran
secara online dengan memanfaatkan
fasilitas perbankan. Dalam hal ini,
pembayaran yang dimaksud bisa
bermacam-macam, mulai dari PLN, BPJS, PDAM, telepon, pulsa, internet, paket data, asuransi,
kartu kredit, multi finance, hingga voucher game. Selain memanfaatkan fasilitas perbankan,
PPOB juga bekerja sama dengan lembaga switching sebagai pengatur lalu lintas data, khusus
untuk PLN digunakan Data Center PLN (P2APST) sebagai penyedia data.
Ada banyak vendor / operator yang menyediakan layanan ini, dengan berbagai metode
baik yang gratis cukup dengan deposit sejumlah uang, ada juga yang mengharuskan
penggunannya membayar lisensi / uang pendaftaran dan sistem tanpa deposit (unlimited).
Pengguna akan diberikan sebagian dari biaya administrasi yang besarnya variatif sebagai fee
atau komisi.

P2APST

P2APST adalah kependekan dari Pengelolaan dan Pengawasan Arus Pendapatan


Secara Terpusat. Maksudnya adalah suatu metode yang mempermudah perusahaan dalam
mengelola dan mengawasi pendapatan perusahaan yang bertujuan untuk memperlancar cash
flow (arus pendapatan) perusahaan. Secara umum, terdapat 2 jenis pendapatan perusahaan
yaitu Taglis dan Non Taglis.

Dengan metode P2APST, pendapatan perusahaan dikelola oleh lembaga keuangan


profesional (dalam hal ini adalah perbankan). Perusahaan bertugas mengawasi arus data dan
dana yang diterima dengan cara melakukan rekonsiliasi antara data yang tercatat di database
perusahaan dengan data yang tercatat di database bank.

Cara kerjanya, konsumen melakukan pembayaran atas biaya yang dikenakan oleh
perusahaan di loket-loket pembayaran yang disebut dengan PPOB. Acuan dalam melakukan
transaksi adalah IDPEL, Nomor Meter Listrik Pintar atau Nomor Resi tergantung jenis transaksi
yang dilakukan. Setelah melakukan pembayaran data tersebut akan tercatat di database
perusahaan kemudian tercatat di database bank. Untuk mengawasi arus data dan dana maka
pihak perusahaan dan bank melakukan rekonsiliasi data yang dimiliki untuk memastikan jumlah
dana yang akan ditransfer ke rekening perusahaan. Dengan metode P2APST maka arus dana
perusahaan dapat dengan cepat tercatat.

PPOB Unlimited

Loket PPOB maupun PPOB Mobile menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Masing-
masing vendor / operator berlomba-lomba menarik pengguna untuk menggunakan layanan
mereka, mulai dari menawarkan fee / komisi yang lebih besar dan keuntungan lainnya. Salah
satunya adalah PPOB yang menawarkan sistem non deposit (tanpa modal) atau Unlimited.
Sistem ini adalah dimana pengguna dapat melakukan pembayaran / transaksi pada hari H tanpa
melakukan pengisian saldo terlebih dahulu tanpa batasan biaya, namun harus melakukan
pembayaran total transaksi yang dilakukan pada H+1 maksimal pukul 10.00, jika terlambat maka
user pengguna akan terblokir dan tidak dapat melakukan transaksi. Berbeda dengan PPOB
dengan sistem deposit dimana pengguna hanya dapat melakukan transaksi sesuai dengan
nominal yang sudah disetorkan pada aplikasi PPOB tersebut.

Definisi Loket NonA

Seiring maraknya loket-loket PPOB yang menawarkan jasa pembayaran listrik dan
tagihan-tagihan lainnya dengan beragam biaya administrasi yang ditetapkan, mulai dari Rp2.500
s.d. Rp5.000,-. Maka banyak masyarakat yang merasa kebingungan terkait perbedaan harga
tersebut, dan bahkan ada beberapa yang tidak menerima dengan adanya biaya admin. Dan dari
sisi hukum ada yang berargumen pada Pasal 5 huruf c UU No.8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, pada prinsipnya, pelanggan hanya diwajibkan membayar sesuai
dengan nilai tukar yang telah disepakati sebelumnya. Sementara biaya tambahan administrasi
tidak termasuk biaya yang disepakati dalam UU No.30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.
Untuk menghindari permasalahan tersebut maka PLN bekerjasama dengan Bank
Bukopin menyediakan beberapa loket pembayaran yang disebut dengan Loket NonA (Non
Administrasi) dibeberapa tempat. Sehingga memberikan peluang bagi masyarakat yang merasa
keberatan dengan admin PPOB agar bisa membayar tagihan listriknya di loket-loket NonA
tersebut.

Listrik Pascabayar dan Prabayar

Pada awalnya PLN hanya menggunakan sistem penagihan Pascabayar dengan meter
konvensional. Dimana setiap akhir bulan pada tanggal yang telah ditentukan maka akan ada
petugas PLN yang melakukan pembacaan meter, dimana hasil pembacaan akan digunakan
sebagai dasar penagihan rekening listrik pada bulan berikutnya. Secara mudahnya sistem
Pascabayar adalah sistem dimana pelanggan PLN menggunakan energi listrik terlebih dahulu,
baru kemudian ditagihkan biaya yang telah digunakan selama sebulan.

Seiring berkembangnya teknologi, PLN mulai melakukan inovasi guna meningkatkan


layanan kepada pelanggan dan juga efisiensi disisi perusahaan, maka diterapkanlah sistem
Prabayar. Dimana sistem ini menggunakan meter “pintar” berbasis elektronik yang tidak
diperlukan pembacaan setiap bulannya (cukup dilakukan pengecekan berkala). Bedanya dengan
pascabayar, pada sistem prabayar pelanggan diharuskan membeli sejumlah token dalam
nominal yang variatif, minimal Rp20.000, dan akan mendapatkan 20 digit nomor yang kemudian
dimasukkan pada meter prabayar. Dengan sistem ini, maka keluhan pelanggan terkait tagihan
listrik akan dapat diminimalisir, dan juga dapat mempercepat cashflow disisi PLN sendiri.

BAB III PERMASALAHAN

Petugas penagihan PLN (Biller) mayoritas menggunakan PPOB Mobile yang bersifat
deposit. Umumnya petugas ketika melakukan penagihan akan memintakan biaya administrasi
sesuai dengan keumuman biaya pada loket-loket atau ATM yakni berkisar Rp2.500 - Rp3.000,-
per lembarnya. Setiap transaksi dilakukan maka petugas akan mendapatkan komisi / fee dari
biaya administrasi transaksi tersebut sekitar Rp500 – Rp2.500. Dan juga biasanya PPOB Mobile
memiliki nilai minimum deposit agar dapat digunakan untuk transaksi.

Dikarenakan hal tersebut, maka ada beberapa petugas penagihan yang ingin
mendapatkan keuntungan lebih dengan memanfaatkan fasilitas Loket NonA (Non Administrasi)
untuk melakukan pembayaran rekening pelanggan yang sudah mereka tagih, sehingga biaya
administrasi yang dibayarkan pelanggan secara utuh menjadi keuntungan mereka, tanpa perlu
dipotong oleh pihak PPOB. Dan mereka tidak perlu antri di bank untuk melakukan deposit guna
melunasi rekening yang telah mereka tagih tersebut. Namun karena keterbatasan lokasi Loket
NonA dan ramainya antrian, hal ini membuat sebagian menghabiskan jam kerja mereka untuk
antri diloket NonA tersebut, yang menyebabkan kinerja mereka tidak tercapai.

Perusahaan yang menjadi induk dari petugas penagihan, yakni PT Haleyora Power (untuk
wilayah kerja UIWSB) telah memberikan peringatan kepada petugas untuk tidak menggunakan
loket NonA untuk melakukan pelunasan rekening listrik, selain menghabiskan jam kerja, hal
tersebut juga mengganggu masyarakat, karena pada prinsipnya loket NonA bertujuan untuk
melayanani pelanggan PLN secara langsung.
BAB IV PEMBAHASAN

Sebagai solusi dari banyak petugas penagihan yang memanfaatkan fasilitas Loket NonA
dan berakibat pemborosan jam kerja, PT HP Region 4 memberikan solusi kepada petugas
dengan memfasilitasi setiap petugas dengan PPOB Unlimited. Diharapkan dengan adanya PPOB
Unlimited ini para petugas penagihan dapat melakukan pelunasan rekening listrik secara ontime
tanpa terkendala biaya, sehingga disisi PLN proses pelunasan semakin cepat, dan pelanggan
pun langsung mendapatkan bukti bayar yang sah.

Penggunaan aplikasi PPOB-U ini sudah mulai disosialisasikan sejak November 2018, dan
efektif digunakan oleh Biller diawal tahun 2019. Penyebaran penggunaan aplikasi sudah
diseluruh UP3 dengan UP3 Padang menjadi user terbanyak sesuai dengan tabel berikut ini.

UP3 JUMLAH BILLER USER PPOB-U


PADANG 307 241
BUKITTINGGI 139 100
SOLOK 120 74
PAYAKUMBUH 83 40

Tabel 1 Jumlah Petugas yang sudah menggunakan PPOB-U

Setelah adanya aplikasi PPOB-U ini sebagai solusi, PT HP akan menindak semua
petugas yang masih menggunakan Loket NonA untuk melunasi rekening listrik. Hal ini dilakukan
guna melakukan efektifitas jam kerja yang banyak terbuang dengan antrinya petugas diloket-loket
tersebut. Disisi PLN sendiri rata-rata rasio tunggakan dari bulan Januari s.d Mei 2019
menunjukkan trend yang positif.
Persentase Pelunasan 2018 vs 2019
93.59% 93.61% 93.85%
92.99%

92.35% 92.51%
91.97% 91.96%
89.52%

89.08%

JAN FEB MAR APR MAY

2018 2019

Grafik 2 Persentase Pelunasan 2018 vs 2019

RATA-RATA RASIO TUNGGAKAN


12.00%

10.00%
10.62% 10.57%
9.46%
8.00% 9.00%
8.62%

6.00%

4.00%

2.00%

0.00%
JAN FEB MAR APR MEI

Grafik 2 Rata-Rata Rasio Tunggakan

Kedepannya PT HP dan PLN UIWSB berencana agar 100% Biller dapat menggunakan
PPOB-U ini guna menunjang pekerjaan penagihan semakin efektif. Sehingga dapat memberikan
dampak kinerja yang lebih baik disisi pengendalian piutang, percepatan cash in perusahaan serta
kepuasan pelanggan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penggunaaan PPOB Unlimited sangat membantu baik dari sisi petugas, PLN, maupun pelanggan

Saran :

Agar perusahaan biller mengakomodir PPOB Unlimited sebagai bagian dari proses bisnis.