Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KEPERAWATAN KELUARGA

TREND & ISSUE KEPERAWATAN KELUARGA


NARKOBA

Dosen Pengampu: Heru Wiratmoko S.Kp,M.Kep

Disusun Oleh :
Kelompok 3

 Adelia Wiranto Putri (201701002)


 Eka Juliastuti (201701014)
 Fitria Angelica Andriani (201701019)
 HerlinYuliAstuti (201701022)
 Wahyu Rizka Yolanda Putri (201701035)
 Yola Oktarina (201701039)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES MALANG KAMPUS VI PONOROGO
Jln. Dr.Ciptomangunkusumo No. 82A Ponorogo
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmad dan karunia-Nya kepada penyusun, sehinggga dengan
limpahan rahmad dan karunia nya penyusun dapat menyelesaikan tugas mata
kuliah Keperawatan Keluarga yang membahas tentang ”Trend & Issue
Keperawatan Keluarga dengan Narkoba”
Makalah ini kami buat berdasarkan berbagai macam sumber buku-buku
referensi, media elektronik, dan dari hasil pemikiran kami sendiri. Kami
mengharapkan agar para pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang
Pemasaran Pelayanan Kesehatan.
Selama penyusunan makalah ini kami banyak mendapat masukan dan
bimbingan dari beberapa pihak. Untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Ibu Gandes Widya H,S.Kep.Ns,M.Kep dan Bapak Heru Wiratmoko
S.Kp,M.Kep selaku dosen mata kuliah “Keperawatan Keluarga”.
2. Rekan-rekan yang sama-sama melakukan penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penyusun masih banyak kekurangannya
semoga yang membacanya dapat memberikan kritik ataupun saran untuk
memperbaiki makalah ini sehingga kedepannya lagi dapat lebih sempurna dalam
penyusunannya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat kepada pembacanya dan dapat
dijadikan acuan terhadap penyusunan makalah berikut-berikutnya. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Ponorogo, 13 Agustus 2019

Penulis
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peredaran gelap narkotika di Indonesia tampaknya semakin marak.
Saat ini, narkoba tidak hanya menjadi konsumsi bagi masyarakat di kota
besar, tapi bagi masyarakat pedesaan pun narkotika tidak lagi menjadi
barang langka. Ironisnya, tidak hanya di kalangan dewasa saja narkotika
begitu dikenal dan di konsumsi, tetapi di kalangan remaja dan anak di
bawah umur pun juga sudah mengenal barang haram tersebut. Masalah
narkotika adalah masalah nasional dan internasional, karena
penyalahgunaannya akan berdampak negatif terhadap kehidupan
masyarakat, bangsa dan negara.
Trend perkembangan kejahatan Narkoba di Indonesia akhir-akhir
ini menunjukkan peningkatan yang sangat tajam. Hasil analisis Polri atas
tingginya angka kejahatan tersebut salah satunya disebabkan oleh krisis
ekonomi yang melanda hampir semua daerah di republik ini. Dengan
kejadian ini, pada Produsen, Distributor dan Konsumen memanfaatkan
situasi ini untuk memperbesar dan mencari keuntungan dalam peredaran
dan penyalahgunaan Narkoba. (O.C & Associates, 2007)
Permasalahan yang menonjol saat ini adalah terjadi beberapa kasus
di Indonesia sekarang ini telah dijadikan tempat pemasaran. Bahkan
dijadikan sebagai produsen untuk jenis narkoba. Bila hal ini tidak
ditanggulangi, akan dapat mengancam kehidupan bangsa dan negara.
Dalam permasalahan tersebut maka sangat diperlukan adanya tindakan
para aparat penegak hukum untuk menanggulangi, memberantas peredaran
gelap dan penyalahgunaan Narkotika di Indonesia. Diantara Aparat
penegak hukum yang juga mempunyai peranan penting dalam menangani
tindak pidana narkotika ialah penyidik. Dalam hal ini adalah Penyidik
POLRI, dimana penyidik diharapkan mampu membantu proses
penyelesaian terhadap kasus tindak pidana narkoba.
Dampak atau efek samping narkotika yang timbul dapat
meresahkan masyarakat. Kekhawatiran yang membawa keprihatinan ini
akan makin bertambah jika secara langsung mencermati proses dan
penanggulangan peredaran gelap obatobatan narkotika selama ini. Di
televisi hampir setiap hari ditayangkan pengedar gelap narkoba. Ironisnya,
meski sering dilakukan operasi terhadap pengedar, ternyata hal itu tidak
pernah menyusutkan para bandar atau pengedar narkotika dan
penggunanya untuk terus bertransaksi barang haram tersebut, bahkan ada
kecenderungan semakin meningkat. Penyalahgunaan narkoba merupakan
suatu bentuk penyimpangan perilaku. Apapun penyebabnya pesannya yang
penting adalah bahwa penggunaan narkoba diluar keperluan medis sangat
berbahaya, merusak dan menimbulkan beban berat yang tidak terpikulkan
bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan umat manusia.
Kejahatan narkotika telah yang seringkali terjadi bersifat
transnasional yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan
teknologi yang canggih, aparat penegak hukum di harapkan mampu
mencegah dan menanggulangi kejahatan tersebut guna meningkatkan
moralitas dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia khususnya bagi
generasi penerus bangsa. Peningkatan derajat kesehatan sumber daya
manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat perlu
dilakukan upaya peningkatan dibidang pengobatan dan pelayanan
kesehatan, antara lain pada satu sisi dengan mengusahakan ketersediaan
narkotika yang sangat dibutuhkan sebagai obat- obatan untuk kesehatan,
juga digunakan untuk percobaan dan penelitian yang diselenggarakan
pemerintah dalam rangka kepentingan ilmu pengetahuan dan
mendapat ijin dari mentri kesehatan.
Akhir – akhir ini perkembangan pereadaran maupun pemakain
narkoba semakin pesat, dari hasil penelitian yang dilakukan di Polres Kota
Malang terdapat sejumlah kasus tindak pidana narkoba,seperti kasus pada
bulan januari kemarin menyebutkan bahwa anggota Reskoba Polres Kota
Malang membekuk seorang remaja berusia 16 tahun bernama adit
melakukan pesta narkoba jenis sabu-sabu bersama teman-temanya yang
bernama agus dan anton di rumahnya yang dalam keadaan sepi,kemudian
dilakukan pemeriksaan secara intensif terhadap ketiga tersangka
tersebut,tetapi tersangka bernama adit ini mengalami ketergantungan atau
sedang sakit saat proses penyidikan berlangsung, tersangka adit yang baru
satu minggu berada di tahanan Polres Kota malang ini oleh penyidik
Reskoba Polres Malang di bawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar Malang
untuk proses penyembuhan karena ia terus-menerus mengalami muntah-
muntah dan menggigil.
Memperhatikan permasalahan di atas nampak jelas bahwa ada
beberapa kasus yang menjadikan Indonesia sebagai tempat pemasaran
bahkan dijadikan sebagai produsen Narkotika dan makin pesatnya
peredaran narkotika serta penyalahgunaan terhadap barang haram tersebut.
Keadaan tersebut di atas yang menarik penyusun untuk mengangkat
permasalahan bagaimana kewenangan penyidik kepolisian dalam
menangani tindak pidana narkotika dan upaya yang dilakukan oleh pihak
kepolisian dalam menanggulangi tindak pidana narkotika yang semakin
marak.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah trend dan issue keperawtaan kelurag tentang
narkoba yang ada di Indonesia ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui trend dan isu keperawatan keluarga yang ada di
Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Narkoba
Narkoba adalah (narkotika dan obat/bahan berbahaya) adalah
istilah yang digunakan oleh penegak hukum dan masyarakat. yang
dimaksud dengan bahan berbahaya adalah bahan yang tidak aman
digunakan atau membahayakan dan penggunaannya bertentangan dengan
hukum atau melanggar hukum (illegal) (Martono & Joewana, 2008).
Narkoba (Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) adalah zat yang
apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi system saraf
pusat (SPP) sehingga menimbulkan perubahan aktivitas mental,
emosional, dan perilaku penggunanya dan sering menyebabkan ketagihan
dan ketergantungan terhadap zat tersebut (Hidayat, 2005).

B. Definisi Penyalahgunaan Narkoba


Penyalahgunaan Narkoba adalah penggunaan narkoba yang
dilakukan tidak untuk maksud pengobatan, tetapi karena ingin menikmati
pengaruhnya.karena pengaruhnya itu narkoba disalahgunakaan (Martono
& Joewana, 2008).
Penyalahgunaan Narkoba adalah penggunaan narkoba yang
bersifat patologis, paling sedikit telah berlangsung satu bulan lamanya
sehingga menimbulkan gangguan dalam perkerjaan dan fungsi sosial
(Sumiati, 2009).

C. Jenis-jenis Narkoba
1) Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan atau mengurangi
rasa nyeri. Menurut potensi menyebabkan ketergantungannya, narkotika
dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
a. Narkotika golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan
ketergantungan dan tidak digunakan untuk terapi. Contoh: heroin,
kokain, dan ganja. Putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk.
b. Narkotika golong II berpotensi tinggi menyebabkan ketegantungan
dan digunakan pada terapi sebagai pilihan terakhir. Contoh: morfin
dan petidin.
c. Narkotika golongan III berpotensi ringan menyebabkan
ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Contoh: kodein
(Martono & Joewana, 2008).
2) Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat. Baik alamiah maupun
sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf pusat dan menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Menurut potensi menyebabkan ketergantungannya, psikotropika
dikelompokkan menjadi:
a. Psikotropika golongan I : Amat kuat
menyebabkan ketergantungan dan tidak digunakan dalam
terapi. Contoh: MDMA (ekstasi), LSD, dan STP.
b. Psikotropika golongan II : Kuat menyebabkan
ketergantungan, digunakan pada terapi secara terbatas.
Contoh: amfetamin, Metamfetamin (sabu), fensiklidin
(PCP), dan ritalin.
c. Psikotropika golongan III : Potensi sedang
menyebabkan ketergantungan, banyak digunakan dalam
terapi. Contoh: pentobarbital, flunitrazepam.
d. Psikotropika golongan IV : Potensi ringan
menyebabkan ketergantungan, dan sangat luas digunakan
dalam terapi. Contoh: diazepam, dan nitrazepam.
(Nipam, pil BK, DUM, MG) (Martono & Joewana, 2008).

3) Zat Adiktif
Zat adiktif adalah zat atau bahan aktif bukan narkotika dan
psikotropika yang bekerja pada sistem saraf pusat dan dapat
menimbulkan ketergantungan. Yang termasuk zat adiktif adalah
Minuman alkohol: Mengandung etanol etil alkohol, yang
berpengaruh menekan susunan saraf pusat dan sering menjadi
bagian dari kehidupan manusia.
Ada 3 golongan minuman :
a. Golongan A : Kadar etanol 1-5% (bir)
b. Golongan B : Kadar etanol 5-20% (berbagai minuman
alcohol)
c. Golongan C : Kadar etanol 20-45% (Whisky, vodka,
manson house, johny).

4) Narkoba yang sering disalahgunakan beserta efek yang


ditimbulkan
a. Opioida (morfin, heroin, putaw, dan lain-lain)
Segolongan zat dengan daya kerja serupa, ada yang alami,
sintetik, dan semi sintetik. Opioida alami berasal dari getah
opium poppy (opiat), seperti mortin, opium, dan kodein
.Contoh opioida semi sintetik adalah heroin/putauw dan
metadon fentanyl (china white). Potensi menghasilkan nyeri
dan menyebabkan ketergantungan heroin adalah
sepuluh kali lipat dibanding morfin dan kekuatan opoida
sintetik 400 kali lipat dan kekuatan morfin. Cara
pemakaiannya adalah disuntikan ke dalam pembuluh darah
atau di hisap melalui hidung setelah dibakar. Pengaruh
jangka pendek : “hilangnya rasa nyeri, ketegangan
berkurang, munculnya rasa nyaman (eforik) diikuti perasan
seperti mimpi dan rasa mengantuk ,dan pemakai dapat
meninggal karena overdosis”. Pengaruh jangka panjang :
“ketergantungan (gejala putus zat,toleransi). Dapat timbul
komplikasi, seperti sembelit, gangguan menstruasi, dan
impotensi karena pemakaian jarum suntik yang tidak steril
timbul abses, hepatitis B/C yang merusak hati dan penyakit
HIV/AIDS yang merusak kekebalan tubuh, sehingga
mudah terserang infeksi dan akhirnya menyebabkan
kematian”.
b. Ganja (marijuana, cimeng, gelek, hasis) Ganja
mengandung THC (tetrahydro-cannabinol) yang besifat
psikoaktif. Ganja yang dipakai berupa tanaman kering yang
dirajang, dilinting, dan disulut seperti rokok. Menurut
Undang-Undang, ganja tergolong narkotik golongan I.
Segera setelah pemakain muncul cemas, rasa gembira,
banyak bicara, tertawa cekikikan halusinasi dan berubahnya
perasaan waktu (lama dikira sebentar) dan ruang (jauh
dikira dekat), peningkatan denyut jantung, mata merah,
mulut dan tenggorokan kering, dan selera makan
meningkat.
Pengaruh jangka panjang : Daya pikir berkurang, motivasi
belajar turun, perhatian kesekitarnya berkurang, daya tahan
tubuh terhadap infeksi menurun, mengurangi kesuburan,
peradangan jalan nafas, aliran darah ke jantung berkurang
dan terjadi perubahan pada sel-sel otak.
c. Kokain (kokain, crack, daun koka, pasta koka)
Kokain berasal dari tanaman koka, tergolong stimulansia
(meningkatkan aktivitas otak dan fungsi organ tubuh lain).
Menurut Undang-Undang, kokain termasuk narkotika
golongan I. Kokain berbentuk Kristal putih. Nama
jalanannya adalah koka, happy dust, Charlie, srepet,
snow/salju putih. Digunakan dengan cara disedot melaluin
hidung, dirokok, atau disuntikkan. Kokain dengan cepat
menyebabkan ketergantungan. Segera setelah pemakaian
:rasa percaya diri meningkat, banyak bicara, rasa lelah
hilang, kebutuhan tidur berkurang, minat seksual
meningkat, halusinasi visual dan taktil (seperti ada serangga
merayap), waham/curiga (paranoid).
Pengaruh jangka panjang : kurang gizi, anemia, sekat
hidung rusak, dan terjadi gangguan jiwa (psikotik).
d. Golongan Amfetamin (amfetamin, ekstasi, sabu)
Golongan amfetamin termasuk stimulansia susunan saraf
pusat. Disebut juga upper, amfetamin sering digunakan
untuk menurunkan berat badan karena dapat mengurangi
rasa lapar, atau mengurangin rasa kantuk harus begadang.
Amfetamin cepat menyebabkan ketergantungan. Termasuk
golongan amfetamin adalah MDM (ekstasi, XTC, ineks)
dan metamfetamin (sabu), yang banyak disalahgunakan.
Berbentuk pil warna-warni (ekstasi) atau kristal putih
(sabu) amfetamin disebut disainer drug karena dibuat
dalam laboratorium gelap yang kandunganya adalah
campuran berbagai jenis zat. Remaja dan orang dewasa
muda dari bebagai kalangan mengunakan ekstasi dan
sabu untuk bersenang –senang. Cara pemakaian : diminum
(ekstasi), dihisap melalui hidung (sabu), atau
disuntikkan atau dihisap memakai sedotan. Pengaruh
jangka pendek : “Tidak tidur (terjaga), rasa riang, perasaan
melambung (fly), rasa nyaman, dan meningkatkan
keakraban. Akan tetapi, setelah itu, muncul rasa tidak enak,
murung, nafsu makan hilang, berkeringat, haus, rahang
kaku dan bergerak-gerak dan badan gemetar serta dapat
terjadi gangguan jiwa).
Pengaruh jangka panjang : “kurang gizi, anemia, penyakit
jantung dan gangguan jiwa psikotik”.
e. Golongan Halusinogen: Lysergic Acid (LSD)
LSD menyebabkan halusinasi (khayalan) dan termasuk
psikotropika golongan I. Nama yang sering digunakan
adalah acid, red dragon, blue heaven, sugar cubes,
trips, tabs. Bentuknya seperti kertas beukuran kotak kecil
sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan
gambar atau berbentuk pil dan kapsul. Cara
pemakainnya adalah dengan meletakkan LSD pada lidah.
Pengaruh LSD tak dapat diduga. Sensasi dan perasaan
berubah secara dramatis, dengan mengalami flashback atau
bad trips (halusinansi/penglihatan semu) berulang tanpa
peringatan sebelumnya. Pupil melebar, tidak bias tidur,
selera makan hilang, suhu tubuh meningkat, berkeringat,
denyut nadi dan tekanan darah naik, koordinasi otot
terganggu dan tremor dapat merusak sel otak,
gangguan daya ingat dan pemusatan perhatian yang diikuti
meningkatnya resiko kejang, serta kegagalan pernafasan
dan jantung.
f. Sedativa dan Hipnotika (obat penenang, obat tidur)
Contoh Sedativa dan hipnotik adalah Lexo, nipam, pil BK,
MG, DUM dan Rohyp yang termasuk psikotropika
golongan III dan IV dan digunakan dalam pengobatan
dengan pengawasan. Tidak boleh diperjualbelikan tanpa
resep dokter. Orang minum obat tidur atau pil penenang
untuk menghilangkan stres atau gangguan tidur. Memang
stres berkurang atau hilang sementara tetapi persoalan
tetap saja ada. Pengaruhnya sama dengan alkohol, yaitu
menekan kerja otak dan aktifitas organ tubuh lain
(depresan). Jika diminum bersama alkohol akan
meningkatkan pengaruhnya, sehingga dapat terjadi
kematian. Segera setelah pemakaian : Muncul perasaan
tenang dan otak-otak mengendur. Pada dosis lebih
tinggi : tertekannya pernapasan, koma, dan kematian. Pada
pemakaian jangka panjang: gejala ketergantungan (Martono
& Joewana, 2008)
D. Faktor –faktor penyebab penyalahgunaan Narkoba
Harboenangin dikutip dari (Yatim,1986 dalam Purba, Wahyuni, Nasution
& Daulay, 2008). Mengemukakan ada beberapa faktor yang menyebabkan
seseorang menjadi pecandu Narkoba yaitu faktor internal dan eksternal.
1. Faktor Internal
a. Faktor Keperibadian Kepribadian seseorang turut berperan
dalam perilaku ini. Hal ini lebih cenderung terjadi pada usia
remaja. Remaja yang menjadi pecandu biasanya memiliki
konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah.
Perkembangan emosi yang terhambat dengan ditandai oleh
ketidakmampuan mengespresikan emosinya secara wajar,
mudah cemas, pasif, agresif, dan cenderung depresi, juga
turut mempengaruhi. Selain itu, kemampuan untuk memecahkan
masalah secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia
mudah mencari pemecahan masalah dengan cara melarikan diri.
b. Inteligensia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensia pecandu yang
dating untuk melakukan konseling di klinik rehabilitasi pada
umumnya berada pada taraf di bawah rata-rata dari kelompok
usianya.
c. Usia
Mayoritas pecandu narkoba adalah remaja. Alasanya remaja
menggunakan narkoba karena kondisi sosial, psikologis yang
membutuhkan pengakuan, dan identitas dan kelabilan emosi,
sementara pada usia yang lebih tua, Narkoba digunakan sebagai
obat penenang.
d. Dorongan Kenikmatan dan Perasaan Ingin Tahu Narkoba dapat
memberikan kenikmataan yang unik dan tersendiri. Mulanya
merasa enak yang diperoleh dari coba-coba dan ingin tahu atau
ingin merasakan seperti yang diceritakan oleh teman-teman
sebayanya. Lama kelamaan akan menjadi satu kebutuhan yang
utama.
e. Pemecahaan Masalah Pada umumnya para pecandu Narkoba
menggunakan Narkoba untuk menyelesaikan persoalan. Hal ini
disebabkan karena pengaruh Narkoba dapat menurunkan tingkat
kesadaran dan membuatnya lupa pada permasalahan yang
ada.
2. Faktor Eksternal
a. Keluarga
Keluarga merupakan faktor yang paling sering menjadi
penyebab seseorang menjadi pengguna Narkoba. Berdasarkan
hasil penelitian tim UKM Atma jaya dan Perguruan Tinggi
Kepolisian Jakarta pada tahun 1995, terdapat beberapa tipe
keluarga yang beresiko tinggi anggota keluarganya terlibat
penyalahgunaan Narkoba, yaitu:
1) Keluarga yang memiliki riwayat (termasuk orang tua)
mengalami ketergantungan Narkoba.
2) Keluarga dengan manajemen yang kacau, yang terlihat
dari pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan
oleh ayah dan ibu (misalnya ayah bilang iya, ibu bilang
tidak).
3) Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah
ada upaya penyelesaian yang memuaskan semua pihak
yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan
ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antara
saudara.
4) Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Dalam hal ini,
peran orang tua sangat dominan, dengan anak yang
hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua dengan
alasan sopan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan
dan masa depan anak itu sendiri tanpa diberi kesempatan
untuk berdialog dan menyatakan ketidaksetujuannya.
5) Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang
menuntut anggotanya mencapai kesempurnaan dengan
standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal.
6) Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi
kecemasaan dengan alasan yang kurang kuat, mudah
cemas dan curiga, sering berlebihan dalam menanggapi
sesuatu.
b. Faktor Kelompok Teman Sebaya (Peer Group)
Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan
tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman atau orang-
orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar
berprilaku seperti kelompok itu. Peer group terlibat lebih
banyak dalam delinquent dan penggunaan obat-obatan.
Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor sosial tersebut
memiliki dampak yang berarti kepada keasyikan seseorang
dalam menggunakan obat-obatan, yang kemudian
mengakibatkan timbulnya ketergantungan fisik dan
psikologis.
c. Faktor Kesempatan.
Ketersediaan Narkoba dan kemudahan
memperolehnya juga dapat disebut sebagai pemicu
seseorang menjadi pecandu. Indonesia yang sudah menjadi
tujuan pasar Narkoba internasional, menyebabkan obat-obat
ini mudah diperoleh. Bahkan beberapa medis masa
melaporkan bahwa para penjual narkotika menjual barang
dagangannya disekolah-sekolah, termasuk di Sekola Dasar
(Purba, Wahyuni, Nasution & Daulay, 2008).

D. Dampak Penyalahgunaan Narkoba


Bagi diri sendiri
1) Terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja:
a. Daya ingat sehingga mudah lupa;
b. Perhatian sehingga sulit berkonsentrasi;
c. Persepsi sehingga memberi perasaan semu/khayal;
d. Motivasi sehingga keinginan dan kemampuan belajar merosot,
persahabatan rusak, serta minat dan cita-cita semula padam
2) Intoksikasi (keracunan), yakni gejala yang timbul akibat pemakain
Narkoba dalam jumlah yang cukup, berpengaruh pada tubuh dan
perilakunya. Gejalanya tergantung pada jenis, jumlah, dan cara
penggunaan. Istilah yang sering dipakai pecandu adalah ‘pedauw’, fly,
mabuk, teller dan high.
3) Overdosis (OD), yang dapat menyebabkan kematian karena
‘terhentinya pernafasan’ (heroin) atau pendarahan otak (amfetamin,
sabu). OD terjadi karena toleransi sehingga perlu dosis yang lebih
besar, atau karena sudah lama berhenti pakai, lalu memakai lagi
dengan dosis yang dahulu digunakan.
4) Gejala putus zat, yakini gejala ketika dosis yang dipakai berkurang
atau dihentikan pemakaiannya. Berat atau ringannya gejala tergantung
pada jenis zat, dosis,dan lama pemakaian.
5) Berulang kali kambuh, yakni ketergantungan menyebabkan
‘craving’ (rasa rindu pada Narkoba), walaupun telah berhenti pakai.
Narkoba dan perangkatnya, kawan-kawan, suasana, dan tempat-
tempat penggunaannya dahulu mendorong untuk memakai Narkoba
kembali. Itulah sebabnya pecandu akan berulang kali kambuh.
6) Gangguan perilaku/mental-sosial, yakni acuh tak acuh, sulit
mengendalikan diri, mudah tersinggung, marah, menarik diri dari
pergaulan, serta hubungan dengan keluarga/sesama terganggu. Terjadi
perubahan mental : gangguan pemusatan perhatian, motivasi
belajar/bekerja lemah, ide paranoid, dan gejala ‘parkinson’.
7) kesehatan, yakni kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh
seperti hati, jantung, paru, ginjal, kelenjar endokrin, alat reproduksi,
infeksi hepatitis B/C, HIV/AIDS (40-50%), penyakit kulit dan
kelamin; kurang gizi, penyakit kulit, dan gigi berlubang.
8) Kendornya nilai-nilai, yakni mengendornya nilai-nilai kehidupan
agamasosial-budaya, seperti perilaku seks bebas dengan akibatnya
(penyakit kelamin, kehamilan tak diinginkan). Sopan santun hilang. Ia
menjadi asosial, mementingkan diri sendiri, dan tidak memperdulikan
kepentingan orang lain.
9) Masalah ekonomi dan hukum, yakni pecandu terlibat hutang, karena
berusaha memenuhi kebutuhan akan narkoba. Ia mencuri uang atau
menjual barang-barang milik pribadi atau keluarga. Jika masi sekolah,
uang sekolah digunakan untuk membeli narkoba, sehingga terancam
putus sekolah. Jika bekerja, ia akan terancam putus hubungan kerja.
Mungkin juga ia ditahan polisi atau bahkan di penjara.

Bagi keluarga
Suasana nyaman dan tenteram terganggu. Keluarga resah karena
barangbarang berharga di rumah hilang. Anak berbohong, mencuri,
menipu, tak bertanggung jawab, hidup semaunya, dan asosial. Orang
tua malu karena memiliki anak pecandu, merasa bersalah, dan
berusaha menutupi perbuatan anak. Masa depan anak tidak jelas. Ia
putus sekolah atau mengangur, karena dikeluarkan dari sekolah atau
pekerjaan. Stres meningkat. Orang tua putus asa sebab pengeluaran
uang meningkat karena pemakaian Narkoba atau karena anak
harus berulang kali dirawat, bahkan mungkin mendekam di penjara.
Keluarga harus menanggung beban social - ekonomi ini.

Bagi sekolah
Narkoba merusak disiplin dan motivasi yang sangat penting bagi
proses belajar. Siswa penyalahgunaan mengganggu terciptanya
suasana belajarmengajar. Prestasi belajar turun drastis, tidak saja bagi
siswa yang berprstasi, melainkan juga mereka yang kurang berprestasi
atau ada gangguan perilaku, Penyalahgunaan Narkoba berkaitan
dengan kenakalan dan putus sekolah. Kemungkinan siswa
penyalahguna Narkoba membolos lebih besar dari pada siswa lain.
Penyalahgunaan narkoba berhubungan dengan kejahatan dan perilaku
asocial lain yang menganggu suasana tertib dan aman, perusakan
barang-barang milik sekolah, atau meningkatkan perkelahian. Mereka
juga menciptakan iklim acuh tak acuh dan tidak menghormati pihak
lain. Banyak di antara mereka menjadi pengedar atau mencuri barang
milik teman.

Bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara


Mafia perdagangan gelap selalu berusaha memasok Narkoba.
Terjalin hubungan pengedar atau bandar dengan korban dan tercipta
pasar gelap. Oleh karena itu, sekali pasar terbentuk, sulit memutus
mata rantai peredarannya. Masyarakat yang rawan Narkoba tidak
memiliki daya tahan dan kesinambungan pembangunan terancam.
Negara menderita kerugian karena masyarakatnya tidak produktif dan
kejahatan meningkat; belum lagi sarana/prasarana yang harus
disediakan (Martono & Joewana, 2008).

E. Penyalahgunaan Narkoba
Terjadinya kecanduan atau ketergantungan, yang berkaitan
gangguan pada kesehatan jasmani, kejiwaan, dan fungsi sosialnya.
Ketergantungan tidak berlangsung seketika, terapi melalui rangkaian
proses penyalahgunaan. Adapun beberapa tahap dan pola pemakain
narkoba sebagai berikut.
1. Pola coba-coba, karena iseng atau ingin tahu. Pengaruh kelompok
sebaya sangat besar, yaitu teman dekat atau orang lain yang
menawarkan atau membujuk untuk memakai narkoba.
2. Pola pemakaian sosial, yaitu pemakaian narkoba untuk kepentingan
pergaulan (kumpul, acara tertentu ) dan keinginan untuk diakui atau
diterima kelompoknya.
3. Pola pemakaian situasional, yaitu karena situasi tertentu, seperti
kesepian dan stress. Tahapan ini disebut tahap instrumental, karena
dari pengalaman pemakaian sebelumnya, disadari bahwa narkoba
dapat menjadi alat untuk memengaruhi atau memanipulasi emosi dan
suasana hati.
4. Pola habituasi (kebiasaan) telah mencapai tahap pemakaian teratur
atau sering. Terjadi perubahan faal tubuh dan gaya hidup. Teman lama
berganti teman pecandu. Kebiasaan, pakaian, pembicaraan, dan lain-
lain berubah.
5. Pola ketergantungan (kompulsif) dengan gejala khas, yaitu timbulnya
toleransi dan atau gejala putus zat. Ia berusaha untuk selalu peroleh
Narkoba dengan berbagai cara (Martono & Joewana, 2008).

F. Penanggulangan Masalah Narkoba


Penanggulangan masalah Narkoba dilakukan mulai dari
pencegahan, pengobatan sampai pemulihan (rehabilatasi).
1. Pencegahan
a. Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan:
Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang
Narkoba.
b. Deteksi dini perubahan perilaku
c. Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to drugs”) atau
“Katakan tidak pada narkoba”.
2. Pengobatan
Terapi pengobatan bagi klien narkoba misalnya dengan
detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau
menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:
1) Detoksifikasi tanpa substitusi Klien ketergantungan putau
(heroin) yang berhenti menggunakan zat yang
mengalami gejala putus zat tidak diberi obat untuk
menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya
dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti
sendiri.
2) Detoksifikasi dengan substitusi putau atau heroin dapat
disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya
kodein, bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna
sedative – hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas,
misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara
penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama
sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan
obat yang menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat
penghilang rasa nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai
dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat tersebut.
3. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara
utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial
dan religi agar pengguna narkoba yang menderita sindroma
ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal
mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik
fisik, mental, sosial, dan spiritual. Sarana rehabilitasai yang
disediakan harus memilki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan
(Depkes, 2001).
Sesudah klien penyalahgunaan/ketergantungan Narkoba
menjalani program terapi (detoksifikasi) dan konsultasi medis
selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan program pemantapan
(pasca detoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang
bersangkutan dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu
rehabilitasi (Hawari, 2003).
Lama rawat di unit rehabilitasi untuk setiap rumah sakit tidak
sama Karena tergantung pada jumlah dan kemampuan sumber daya,
fasilitas, dan sarana penunjang kegiatan yang tersedia di rumah sakit.
Menurut Hawari (2003), bahwa setelah klien mengalami perawatan
selam 1 minggu menjalani program terapi dan dilanjutkan dengan
pemantapan terapi selama 2 minggu maka klien tersebut akan
dirawat di unit rehabilitasi (rumah sakit, pusat rehabilitasi, dan unit
lainnya) selama 3-6 bulan. Sedangkan lama rawat di unit rehabilitasi
berdasarkan parameter sembuh menurut medis bisa beragam 6 bulan
dan 1 tahun, mungkin saja bisa sampai 2 tahun. Berdasarkan
pengertian dan lama rawat di atas, maka perawatan di ruang
rehabilitasi tidak terlepas dari perawatan sebelumnya yaitu di ruang
detoksifikasi (Purba, Wahyuni, Nasution & Daulay, 2008).

Jenis program rehabilitasi


a. Rehabilitasi psikososial
Merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat (reanty
program). Oleh karena itu, klien perlu dilengkapi dengan
pengetahuan dan keterampilan misalnya dengan berbagai kursus
atau balai latihan kerja di pusat-pusat rehabilitasi. Dengan
demikian diharapkan bila klien selesai menjalani program
rehabilitasi dapat melanjutkan kembali sekolah/kuliah atau
bekerja.
b. Rehabilitasi kejiwaan
Dengan menjalani rehabilitasi diharapkan agar klien
rehabilitasi semua berperilaku maladaptif berubah menjadi adaptif
atau pun dengan kata lain sikap dan tindakan antisosial dapat
dihilangkan, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan sesama
rekannya maupun personil yang membimbing dan mengasuhnya.
c. Rehabilitas komunitas
Dengan menjalani rehabilitasi diharapkan agar klien
rehabilitasi semua berperilaku maladaptif berubah menjadi adaptif
atau pun dengan kata lain sikap dan tindakan antisosial dapat
dihilangkan, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan sesama
rekannya maupun personil yang membimbing dan mengasuhnya.
d. Rehabilitas komunitas
Berupa program terstruktur yang diikuti oleh mererka yang
tinggal dalam satu tempat. Dipimpin oleh mantan pemakai yang
dinyatakan memenuhi syarat sebagai konselor.
e. Rehabilitasi keagamaan
Rehabilitasi keagamaan masih perlu di lanjutkan karena
waktu detoksifikasi tidak cukup untuk memulihkan klien
rehabilitasi menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan
agamanya masing-masing (Purba, Wahyuni, Nasution & Daulay,
2008).