Anda di halaman 1dari 21

NEMATODA BATANG Dithylencus dipsaci PADA

BAWANG PUTIH
(Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Nematologi
Tumbuhan )

Dosen : Ir. Lilis Irmawatie, M.MPd.

Disusun oleh :
Huda Anugrah 41035003161013

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-
Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Penyusunan makalah ini merupakan
salah satu upaya untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Nematologi
Tumbuhan.
Namun demikian, kami menyadari bahwa makalah ini masih belum
sempurna. Penyempurnaan secara berkelanjutan akan terus dilakukan seiring
dengan penemuan-penemuan baru. Saran dan kritik kami butuhkan serta diterima
dengan tangan terbuka untuk penyempurnaan selanjutnya. Semoga Allah SWT
senantiasa memberikan petunjuk terhadap segala upaya yang kita lakukan demi
untuk peningkatan mutu pendidikan di bidang Pertanian.

Bandung, November 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………. ii


DAFTAR ISI …………………………………………………….. ……… iii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………... iv
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………. 1
1.1. Latar Belakang ……………………………………………………….. 3
1.2. Identifikasi Masalah ………………………………………………….. 3
1.3. Tujuan ………………………………………………………………... 4
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………. 4
2.1. Klasifikasi Bawang Putih……………...……………………………… 4
2.1.1. Morfologi Bawang Putih …………………………………………… 5
2.1.2. Manfaat Bawang Putih (A. sativum)………………………………... 6
2.2. Nematoda Batang Dithylencus dipsaci………………………………. 6
2.2.1. Klasifikasi Nematoda Ditylenchus dipsaci…………………………. 7
2.2.2. Morfologi Nematoda Batang Dithylencus dipsaci…………………. 7
2.2.3. Siklus hidup dan Reproduksi Nematoda Batang Dithylencus dipsaci 8
2.2.4. Mekanisme Penyakit Nematoda Batang Dithylencus dipsaci……… 10
2.2.5. Mekanisme dan Gejala Serangan Nematoda Batang
Dithylencus dipsaci……………………………………………….. 11
2.2.6. Cara Pengendalian Nematoda Batang Dithylencus dipsaci………… 13
BAB III KESIMPULAN ……….………………………………………… 14
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 16

iii
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Hal


1. Umbi Bawang Putih…………………...……………………............ 4
2. Nematoda Batang Dithylencus dipsaci…………………………….. 8
3. Siklus Hidup Nematoda Batang Dithylencus dipsaci………............ 9
4. Nematoda Batang D. dipsaci………………………………............. 10
5. Gejala Serangan Nematoda Batang D. dipsaci Pada Umbi Bawang
Putih……………………………………………………………….. 11
6. Gejala Serangan Nematoda Batang D. dipsaci Pada Umbi Bawang
Putih……………………………………………………………….. 12

7. Gejala Serangan Nematoda Batang D. dipsaci Pada Tanaman dan


Umbi Bawang Putih………………………………………………. 12

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bawang putih (Allium sativum) merupakan tanaman dari genus Allium yang
umbinya banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan dan pengobatan herbal.
Mempunyai sejarah penggunaan oleh manusia selama lebih dari 7.000 tahun,
terutama tumbuh di Asia Tengah, dan sudah lama menjadi bahan makanan di
daerah sekitar Laut Tengah, serta bumbu umum di Asia, Afrika, dan Eropa.
Dikenal di dalam catatan Mesir kuno, digunakan baik sebagai campuran masakan
maupun pengobatan. Umbi dari tanaman bawang putih merupakan bahan utama
untuk bumbu dasar masakan Indonesia. Bawang mentah penuh dengan senyawa-
senyawa sulfur, termasuk zat kimia yang disebut alliin yang membuat bawang
putih mentah terasa getir (Santoso, 2000).
Bawang putih telah lama menjadi bagian kehidupan masyarakat di berbagai
peradaban dunia. Namun belum diketahui secara pasti sejak kapan tanaman ini
mulai dimanfaatkan dan dibudidayakan. Awal pemanfaatan bawang putih
diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Hal ini didasarkan temuan sebuah catatan
medis yang berusia sekitar 5000 tahun yang lalu (3000 SM). Dari Asia Tengah
kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dengan banyaknya
manfaat dari bawang putih salah satunya sebagai bahan masakan sehingga bagi
bangsa Indonesia bawang putih merupakan tanaman introduksi karena banyak
orang Indonesia menyukai akan bawang putih, kebutuhan bawang di Indonesia
cenderung meningkat. (Santoso, 2000).
Menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan tahun 2018, Organisme
Penganggu Tanaman (OPT) merupakan semua organisme yang dapat merusak,
mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan OPT ini
digolongkan kedalam 3 golongan yaitu hama, penyakit, dan gulma. Pada
golongan penyakit terdapat pathogen penyebab penyakit salah satunya adalah
nematoda.
Nematoda merupakan hewan mikroseluler yang mudah ditemukan. Banyak
spesies nematoda yang yang diketahui hidup pada tanaman dan beberapa

1
2

nematoda banyak menyebabkan penyakit pada tanaman inangnya (Mohammed, et


al., 2008). Nematoda adalah parasit tanaman yang dapat ditemukan di dalam
tanah pertanian mulai dari sebelum ditanami, di sekitar tanaman, di perakaran
tanaman, di dalam umbi, batang, daun, dan biji. Terdapat Iebih dari 2000 spesies
nematoda parasit tanaman yang diketahui dapat mengakibatkan kerusakan
tanaman dan kehilangan hasil akibat dari cara makan nematoda tersebut ataupun
adanya assosiasi dengan organisme penyebab penyakit (patogen), yang berupa
bakteri, jamur, serta virus. (Elisa.ugm.ac.id)
Nematoda parasit tanaman dapat menyebabkan kerusakan hampir mencapai
100%. Hal ini menyebabkan tanaman puso dan petani gagal panen. Nematoda
yang menyebabkan kerusakan pada tanaman hampir semuanya hidup didalam
tanah bahkan ada beberapa parasit yang hidupnya bersifat menetap didalam akar
dan batang. Tumbuhan yang terinfeksi nematoda mengakibatkan munculnya
gejala pada akar dan juga pada bagian tumbuhan di atas permukaan tanah. Gejala
pada akar mungkin terlihat seperti puru akar (root knot atau root gall), luka akar,
akar bercabang lebih lebat, ujung akar rusak dan akar membusuk apabila infeksi
nematoda disertai oleh bakteri dan jamur patogenik-tumbuhan atau safropit
(Agrios, 1996). Serangan nematoda dapat mempengaruhi proses fotosintesis dan
transfirasi serta status hara tanaman (Melakeberhan et al., 1987). Akibatnya
pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun kuning klorosis dan akhirnya
tanaman mati. Selain itu serangan nematoda dapat menyebabkan tanaman lebih
mudah terserang patogen atau OPT lainnya seperti jamur, bakteri dan virus.
Akibat serangan nematoda dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi
produktivitas, dan kualitas produksi (Mustika, 2005).
Salah satu nematoda parasit tanaman adalah Dithylencus dipsaci. Nematoda
ini merupakan jenis nematoda endoparasit yang memakan pada jaringan parenkim
batang dan umbi pada bawang putih, menyebabkan deformasi dan pembengkakan
seperti cacar pada permukaan daun, pertumbuhan daun menjadi tidak teratur, dan
merunduk layu lalu daun mati. Umbi yang terinfeksi akan membengkak dan
membusuk selama penyimpanan bahkan umbi salah bentuk (terpelintir). Jenis
nematoda yang menyerang bawang putih adalah Dithylencus dipsaci. Dalam
makalah ini akan mengkaji mengenai Dithylencus dipsaci yang mengganggu pada
3

tanaman bawang putih yang mana tanaman yang diserang merupakan tanaman
yang sangat sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut :
2.1. Bagaimana klasifikasi dan morfologi nematoda batang Dithylenchus
dipsaci pada tanaman bawang putih?
2.2. Bagaimana siklus hidup dan cara reproduksi nematoda batang
Dithylenchus dipsaci pada tanaman bawang putih?
2.3. Bagaimana gejala serangan dan cara penyerangan nematoda batang
Dithylenchus dipsaci pada tanaman bawang putih?
2.4. Bagaimana pengendalian nematoda batang Dithylenchus dipsaci pada
tanaman bawang putih?

1.3. Tujuan
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi dan morfologi nematoda batang
Dithylenchus dipsaci pada tanaman bawang putih.
2. Untuk mengetahui bagaimana siklus hidup dan cara reproduksi nematoda
batang Dithylenchus dipsaci pada tanaman bawang putih.
3. Untuk mengetahui bagaimana gejala serangan dan cara penyerangannya
nematoda batang Dithylenchus dipsaci pada tanaman bawang putih.
4. Untuk mengetahui bagaimana pengendalian nematoda batang Dithylenchus
dipsaci pada tanaman bawang putih.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tanaman Bawang Putih (Allium sativum L.)


2.1.1. Klasifikasi dan Botani Tanaman Bawang Putih
Menurut Savitri (2008) Klasifikasi Bawang Putih adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Liliales
Family : Liliaceae
Genus : Allium L.
Species : Allium sativum L.

Gambar: 1. Umbi Bawang Putih


Sumber: http//google/bawangputih
Bawang putih merupakan tumbuhan berumbi lapis atau siung yang bersusun,
memiliki batang semu yang terbentuk dari pelepah daun dan termasuk dalam
genus Allium. Akar bawang putih terdiri dari serabut-serabut kecil, setiap umbi
bawang putih terdiri dari sejumlah anak bawang (siung) yang setiap siungnya
terbungkus kulit tipis berwarna putih. Bawang putih termasuk tumbuhan daerah
dataran tinggi namun di Indonesia jenis tersebut juga dibudidayakan di dataran
rendah. Bawang putih berkembang baik pada ketinggian tanah berkisar 200-250
meter di atas permukaan laut (Savitri, 2008).

4
5

2.1.2. Morfologi Bawang Putih


Bawang putih mempunyai bagian morfologi diantaranya:
a. Daun
Pada saat masih muda daun berwarna hijau dan akan berubah warna putih
setelah menua. Panjang daun antara 15-20 cm dan lebar daun bawang putih 3-5
cm. Daun bawang putih mempunyai bentuk bulat pipih seperti pita.
b. Batang
Tanaman bawangputih mempunyai batang yang basah dengan diameter
hingga 2 cm. bawang putih termasuk tumbuhan jenis sabrang sehingga tidak
mempunyai pangkal batang. Batang berbentuk semu yang terbentuk dari pelepah
daun. Tanaman bawang putih akan tumbuh secara bergerombol dan berdiri tegak
lurus
c. Akar
Akar tanaman bawang putih termasuk golongan akar serabut. Akar tumbuh di
bawah bagian umbi dan menjalar secara acak. Tempat optimal untuk menanam
bawang putih berada pada ketinggian 600-1.200 mdpl dengan cuaca lembab dan
sedikit sinar matahari yang masuk.
d. Bunga
Tanaman bawang putih hanya tumbuh dari siung atau umbi, sehingga
tanaman bawang putih tidak tumbuh dengan menanam daunnya, saat daun
berubah warna menandakan bawang putih sudah siap dipanen, bawang putih
termasuk tanaman generatif yang hanya bisa dibiakkan melalui umbi.
e. Buah
Umbi atau buah berada di bawah tanah dan berbentuk lonjong bulat, umbi
termasuk dalam golongan berjari-jari dengan panjang 3-5 cm. Bawang putih
termasuk dalam kategori umbi berlapis dan bersiung, dalam satu umbi terdapat
beberapa anak suing dan setiap suing terbungkus kulit berwarna putih.
Menurut Kartasapoetra (1992), ciri-ciri dari bawang putih adalah sebagai
berikut :
1) Merupakan umbi majemuk dengan bentuk rata-rata hampir bulat, bergaris
tengah sekitar 4 sampai 6 cm.
6

2) Berwarna putih, terdiri dari beberapa siung (8-20 siung), yang seluruhnya
terbungkus oleh 3-5 selaput tipis berwarna putih.
3) Tiap siungnya diliputi atau terbungkus pula dalam selaput tipis, selaput luar
berwarna mendekati putih dan agak longgar, sedangkan selaput dalam
membungkus ketat-melekat pada bagian luar daging siung, berwarna merah
jambu yang mudah dilepas atau dikupas

2.1.3. Manfaat Bawang Putih (A. sativum)


Bawang putih memiliki manfaat dan kegunaan yang besar bagi kehidupan
manusia, bagian utama dan paling penting dari tanaman bawang putih adalah
umbinya. Umbi bawang putih selain digunakan sebagai bumbu dapur sehari-hari,
juga digunakan sebagai obat tradisional yang memiliki multi khasiat. Dalam
idustri makanan, umbi bawang putih dijadikan ekstrak, bubuk atau tepung dan
diolah menjadi makanan/acar (Rukmana, 1994).
Selain itu, bawang putih juga dapat mebunuh bakteri, penambahan ekstrak
bawang putih pada koloni bakteri menyebabkan terbunuhnya kuman secara cepat
dan mencegah pertumbuhan lebih lanjut. Namun jika berlebihan mengonsumsi
bawang putih dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan berbahaya bagi wanita
hamil. Oleh karena itu, dianjurkan agar mengkonsumsi bawang putih secara
seimbang (Mahmud, 2007).

2.2. Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


Ditylenchus dipsaci adalah nematoda patogen tanaman yang menginfeksi
tanaman bawang merah. Nematoda ini umumnya dikenal sebagai nematoda
batang, cacing batang dan umbi, atau buncis bawang (di Inggris). Gejala infeksi
termasuk pertumbuhan terhambat, perubahan warna umbi, dan batang yang
bengkak. D. dipsaci adalah endoparasit bermigrasi yang memiliki siklus hidup
lima-tahap dan kemampuan untuk memasuki tahap dormansi. D. dipsaci masuk
melalui stomata atau luka tanaman dan menciptakan galls atau malformasi dalam
pertumbuhan tanaman. Ini memungkinkan masuknya patogen sekunder seperti
jamur dan bakteri. Manajemen penyakit dijaga melalui sanitasi benih, perlakuan
7

panas, rotasi tanaman, dan fumigasi ladang. D. dipsaci secara ekonomi merugikan
karena tanaman yang terinfeksi tidak dapat dipasarkan.

2.2.1. Klasifikasi Nematoda Ditylenchus dipsaci


Menurut Shurtleff (2000) dalam Viantoro (2014) Ditylenchus dipsaci
diklasifikasi ke dalam :
Kingdom : Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Tylenchoidea
Subclass : Diplogasteria
Ordo : Tylenchida
Superfamily : Tylenchoidea
Family : Anguinidae
Subfamily : Anguininae
Genus : Ditylenchus
Species : Ditylenchus dipsaci Kuhn

2.2.2. Morfologi Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


Ditylenchus dipsaci adalah cacing mikroskopis sepanjang 1,5 mm. masuk ke
dalam tanaman dengan cara menembus tanaman dari tanah atau bahan lainnya dan
kadang-kadang dari biji. Mereka hidup di antara sel daun bawang atau daun
bawang putih dan di antara dari umbi di mana mereka memakan getah sel dan
berkembang biak. Betina bertelur 250 telur selama satu musim dan enam generasi
dapat berkembang secara optimum pada suhu dengan kisaran 15 – 20°C. Ketika
jumlah nematoda meningkat, gejala menjadi terlihat. Daun bawang putih mulai
mengerut, daun bawang putih menjadi kuning dan mati, sisik bulbus yang
mengendur, dan bagian leher yang berbentuk bohlam pada bawang putih menjadi
retak. Pengembangan berlanjut pada bulbus yang terinfestasi selama
penyimpanan.
8

Gambar 2. Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


Sumber : http://nemaplex.ucdavis.edu
Ditylenchus dipsaci tidak terbatas pada bawang putih. Tanaman inang lainnya
termasuk kacang polong, bit, labu, kelembak, dan umbi hias. Beberapa gulma juga
bertindak sebagai inang, termasuk media Stellaria, Linaria vulgaris, Polygonum
aviculare, Fallopia convolvulus, dan Galium aparine.

2.2.3. Siklus hidup dan Reproduksi Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


Nematoda batang D. dipsaci merupakan endoparasit migratory yang
memakan jaringan parenkim di dalam batang dan umbi bawang putih,
menyebabkan kerusakan lamella tengah pada dinding sel. Siklus hidup mereka
terdiri atas stadia telur, 4 stadia larva dan stadia dewasa. Pada stadia dewasa telah
9

memasuki inang melalui jaringan atau bibit muda. Larva stadia keempat kemudian
terjadi di dalam tanaman.
Nematoda betina dewasa harus kawin dengan nematoda jantan untuk
bereproduksi dan menghasilkan telur. Siklus reproduksi lengkap dari nematoda
batang adalah 19–25 hari (telur ke telur). Reproduksi terjadi di jaringan yang
berair dan berkembang cepat atau dalam organ penyimpanan dan terus berlanjut.
Satu ekor betina dapat bertelur 200-500 telur selama masa hidupnya. Namun, jika
kondisi tidak menguntungkan, nematoda dapat menghentikan siklus hidupnya.
Umur nematoda batang D. dipsaci sekitar 70 hari. Kebanyakan generasi
dilewatkan di dalam umbi, batang dan daun.

Gambar 3. Siklus Hidup Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


Sumber : https://www.researchgate.net/figure/
Telur dan larva D. dipsaci dapat bertahan pada saat musim dingin di dalam
inang yang terinfeksi. Mereka juga ditemukan pada gulma dan benih komposit.
Nematoda batang dapat bertahan hingga dua tahun dalam lingkungan yang sangat
kering di dalam tanah. D. dipsaci dapat bertahan hidup atau di jaringan tanaman
dengan memasukkan cryptobiosis dan bertahan selama 3-5 tahun dalam tahap ini.
Selama dormansi, D. dipsaci tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan
aktivitas metaboliknya.

2.2.4. Mekanisme Penyakit Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


10

Nematoda batang merupakan endoparasit migratori dan dapat disebarkan


melalui air irigasi, peralatan dan hewan. Ketika tanaman sangat rimbun dan
bagian tanaman dalam keadaan lembab, D. dipsaci dapat bergerak ke atas daun
dan batang baru. Nematoda masuk melalui stomata atau luka.

Gambar 4. Nematoda Batang D. dipsaci


Sumber : https://www.discoverlife.org/mp/20q?search=Ditylenchus

Nematoda melepaskan enzim, pektinase, yang melarutkan dinding sel.


Setelah D. dipsaci mulai memakan sel-sel tanaman yang berada di dekat kepala
nematoda. Sel-sel disekitarnya mulai membelah dan memperbesar. Memungkin-
kan patogen sekunder untuk masuk seperti bakteri dan jamur. Sel-sel tumbuhan
menjadi membesar karena hilangnya kloroplas dan peningkatan ruang intraseluler
di jaringan parenkim. Setelah umbi membesar, D. dipsaci bermigrasi ke bawah
batang. Hal ini menyebabkan batang menjadi bengkak dan lunak karena serangan
nematoda batang. D. dipsaci hanya akan memasuki tanah lagi jika kondisi
menjadi tidak baik.

2.2.5. Mekanisme dan Gejala Serangan Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


D. dipsaci memiliki kisaran tanaman inang yang luas. Kerusakan terbesar
terjadi pada bawang putih, bawang merah, wortel, kacang fava, alfalfa, dan
gandum. Tanaman hias juga bisa terinfeksi termasuk hyacinth dan tulip.
11

Diperkirakan bahwa patogen ini menginfeksi 400-500 spesies tanaman di seluruh


dunia.
Pada suhu 21ᴼC Ditylenchus dipsaci aktif berkembang biak. Mekanisme dan
gejala serangan Ditylenchus dipsaci adalah dengan menyerang tanaman muda
dengan cara penetrasi akar dan batang di setiap titik. Selain itu, menyerang
tanaman dewasa melalui stomata daun (Dropkin, 1991).

Gambar 5. Gejala Serangan Nematoda Batang D. dipsaci Pada Umbi Bawang


Putih. Sumber : http://nemaplex.ucdavis.edu
12

Gambar 6. Gejala Serangan Nematoda Batang D. dipsaci Pada Umbi Bawang


Putih. Sumber : http://nemaplex.ucdavis.edu

Gambar 7. Gejala Serangan Nematoda Batang D. dipsaci Pada Tanaman dan


Umbi Bawang Putih. Sumber : http://fliphtml5.com/lwih/qeub/basic

Spesies Allium (bawang merah, bawang putih, dan daun bawang), tanaman
yang terinfeksi menunjukkan gejala karakteristik termasuk pertumbuhan kerdil,
bintik-bintik kuning, daun ikal, dan bercak daun. Batang sering memiliki daerah
bengkak yang disebut "spikkles." Ketika nematoda dewasa bermigrasi ke dalam
tanaman tanaman inang, bulbus/sisik menjadi lunak dan daun bawang menjadi
melengkung. Tanaman inang yang terinfeksi juga dapat pecah atau menunjukkan
bentuk tubuh yang kembung, Daun tanaman menjadi lembek. Hal ini dapat
menyebabkan tanaman yang mengalami defoliasi. Bawang putih menunjukkan
gejala serupa dengan daun yang menguning dan umbi yang kerdil. Ketika
13

dipanen, bawang putih yang terinfeksi mungkin kehilangan bagian dari sistem
akar.
D. dipsaci memiliki hampir 30 ras biologis yang sebagian besar dibedakan
oleh preferensi inang mereka. Perbedaan morfologi sangat sedikit terlihat antara
ras yang membuat diagnosis sulit. Sampel bahan benih dari tanaman yang
terinfeksi dapat dibedah dan dilihat di bawah mikroskop untuk mengkonfirmasi
ras yang benar.

2.2.6. Cara Pengendalian Nematoda Batang Dithylencus dipsaci


Beberapa metode pengendalian berbeda saat ini digunakan untuk mengurangi
dan mencegah adanya keberadaan D. dipsaci. Infeksi dapat dicegah dengan
memasti-kan bahwa hanya biji bersih dan umbi yang ditanam. Umbi dan biji
dapat didesinfeksi dengan air panas. Merendamnya dalam air 110-115°F dengan
di-tambah formalin, dan larutan formaldehida, selama dua hingga tiga jam dapat
berhasil membunuh nematoda.
Sanitasi yang tepat di ladang dan peralatan sangat penting dalam mencegah
dan mengendalikan penyebaran D. dipsaci, karena mereka dapat bertahan hidup
dan bereproduksi di tanaman dan residu yang terinfeksi. Remaja tahap keempat
adalah yang paling tangguh dan dapat bertahan hidup berulang kali mengering
atau mengering dan pulih setelah rehidrasi. Semua jaringan yang terinfeksi harus
dipindahkan dari tempat tumbuh dan dihancurkan untuk mengendalikan populasi,
dan semua peralatan pertanian harus dibersihkan dari tanah yang berpotensi
terkontaminasi sebelum memindahkannya ke lokasi baru.
D. dipsaci sangat spesifik terhadap inangnya, sehingga dengan melakukan
rotasi tanaman selama tiga tahun dapat menghilangkan nematoda dari inang,
membuat menjadi kekurangan makanan dan mati. Karena beberapa gulma
berfungsi sebagai inang untuk nematoda, mengendalikan gulma di ladang
menurunkan jumlah inang yang rentan dan kemampuan nematoda untuk bertahan
hidup dan menyebar.
Waktu menanam tanaman inang yang rentan ditanam juga menginfeksi
keparahan kerusakan nematoda. Suhu yang lebih dingin dan kelembapan yang
lebih rendah dapat menekan laju reproduksi dan infestasi D. dipsaci. Para petani
14

harus menghindari penanaman umbi, benih, atau bibit yang rentan selama musim
infeksi nematoda puncak. Fumigasi tanah di ladang selama musim gugur dapat
mengendalikan nematoda pada tanaman yang rentan di musim semi. Fumigan
nematicide yang spesifik untuk genus Ditylenchus harus digunakan. Secara
selektif hanya di daerah ladang yang terinfeksi untuk memastikan bahwa
tingginya biaya fumigasi tidak mengurangi keuntungan ekonomi dari
menyelamatkan tanaman dari kerusakan nematoda. Fumigan biasanya
diaplikasikan sebelum tanam dan setelah nematoda itu muncul.
BAB III
KESIMPULAN

Ditylenchus dipsaci adalah nematoda patogen tanaman yang menginfeksi


tanaman bawang putih. Nematoda ini umumnya dikenal sebagai nematoda batang,
cacing batang dan umbi, atau buncis bawang (di Inggris). Gejala infeksi termasuk
pertumbuhan terhambat, perubahan warna umbi, dan batang yang bengkak. D.
dipsaci adalah endoparasit migratiori yang memiliki siklus hidup lima-tahap dan
kemampuan untuk memasuki tahap dormansi.
Ditylenchus dipsaci adalah cacing mikroskopis sepanjang 1,5 mm. masuk ke
dalam tanaman dengan cara menembus tanaman dari tanah atau bahan lainnya dan
kadang-kadang dari biji. Mereka hidup di antara sel daun bawang merah atau daun
bawang putih dan di antara dari umbi di mana mereka memakan getah sel dan
berkembang biak.
Reproduksi pada nematoda bersifat amfimiktik (nematoda jantan dan betina
terpisah) atau partenogenetik (nematoda jantan tidak terdapat, tidak berfungsi atau
sangat sedikit). Betina dewasa harus kawin dengan pejantan untuk bereproduksi
dan bertelur. Siklus reproduksi lengkap dari nematoda batang adalah 19–25 hari
(telur ke telur). Reproduksi terjadi di jaringan yang berair dan berkembang cepat
atau dalam organ penyimpanan dan terus berlanjut.
Gejala serangan D. dipsacy yaitu tanaman yang terinfeksi menunjukkan
gejala karakteristik termasuk pertumbuhan kerdil, bintik-bintik kuning, daun ikal,
dan bercak daun. Batang sering memiliki daerah bengkak yang disebut "spikkles."
Ketika nematoda dewasa bermigrasi ke dalam tanaman tanaman inang,
bulbus/sisik menjadi lunak dan daun bawang menjadi melengkung. Tanaman
inang yang terinfeksi juga dapat pecah atau menunjukkan bentuk tubuh yang
kembung, Daun tanaman menjadi lembek. Hal ini dapat menyebabkan tanaman
yang mengalami defoliasi. Bawang putih menunjukkan gejala serupa dengan daun
yang menguning dan umbi yang kerdil. Ketika dipanen, bawang putih yang
terinfeksi mungkin kehilangan bagian dari sistem akar.
Beberapa metode pengendalian berbeda saat ini digunakan untuk mengurangi
dan mencegah adanya keberadaan D. dipsaci. Infeksi dapat dicegah dengan

15
16

memastikan bahwa hanya biji bersih dan umbi yang ditanam. Umbi dan biji dapat
didesinfeksi dengan air panas. Merendamnya dalam air 110-115°F dengan
ditambah formalin, dan larutan formaldehida, selama dua hingga tiga jam dapat
berhasil membunuh nematoda.
DAFTAR PUSTAKA

Andrey. 2010. Ekstraksi Nematoda Parasit .


http://www.scribd.com/doc/40486891/ekstraksi-nematoda-parasit (Verified
06 November 2019)
Crow,W.T.2001.http://entnemdept.ifas.ufl.edu/creatures/nematode/awl_nematode.
htm.(Verified 06 November 2019)
Desintha, Herlin. 2017. Uji Daya Hambat Ekstrak Bawang Putih (Allium Sativum
L) Sebagai Fungisida Terhadap Pertumbuhan Jamur Alternaria sp Tanaman
Jeruk (Citrus sp). Skripsi (S1) thesis, FKIP Unpas.

Douda O. 2005. Host range and growth of stem and bulb nematode (Ditylenchus
dispaci ) populations isolated from garlic and chicory. Plant Protec Sci.
41:104–108. ( Verified 1 November 2019 )
Epublikasisetjen pertanian, page 34 - Bulletin konsumsi TW III 2014. (Verified 3
November 2019)
Greco N, Brandonisio A, Boncoraglio P. 2002. Investigatons on Ditylenchus
dipsaci damaging carrot in Italy. Nematologia Meditterania . 30:139–146.
DOI: https://doi.org/10.17221/2728-PPS ( Verified 1 November 2019).
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2017. Proyek CF SKR:
Pengembangan Bawang Putih di Temanggung dan Krisan di Tromohon.
http://hortikultura.pertanian.go.id/?p=2050 ( Verified 06 November 2019)

Schwart dan Monham, 1996. UC IPM Pest management pedoman - Bawang Putih
dan Bawang merah 2002. ( Verified 18 November 2019)

Suciyananda, ieka. 2017. 1 BAB I Pendahuluan Nematoda. Available at


http://eprints.umm.ac.id/35048/2/jiptummpp-gdl-irvaniekas-47931-2-
babi.pdf (Verified November 2019)
Synder,Daniel.2002.http://www.cals.ncsu.edu/pgg/dan_webpage/Nematodes/Ecto
s/Xiphinema.htm. ( Verified 7 November 2019)

17