Anda di halaman 1dari 19

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 Gambaran Umum Desa X

1.1.1 Keadaan Umum Secara Geografis

Desa X terletak ± 0,5 km dari pusat Pemerintahan Kecamatan Y dengan jarak ± 10


menit dan ± 50 km dari pusat kota pemerintahan Kabupaten Z, dengan jarak ± 2 jam. Luas
wilayah Desa X 798,975 Ha yang terdiri dari lahan pertanian seluas 349,180 Ha dan lahan
pemukiman seluas 449,795 Ha. Desa X merupakan salah satu desa binaan dari Puskesmas
X. Terdapat tiga desa binaan Puskesmas X, yaitu sebagai berikut :

a) Desa X

b) Desa Y

c) Desa Z

Gambar 1.1 Peta Desa X


Batas – batas wilayah Desa X adalah sebagai berikut (RPJM Desa Pangkalan, 2015):

1) Sebelah utara berbatasan dengan Desa Y

2) Sebelah timur berbatasan dengan Desa Z

3) Sebelah selatan berbatasan dengan Desa XX

4) Sebelah barat berbatasan dengan Desa YY

1.1.2 Keadaan Umum Secara Demografi

1.1.2.1 Kependudukan

Jumlah penduduk Desa X sampai akhir tahun 2016 terhitung sebanyak 16.247
jiwa yang terdiri dari 8.361 jiwa penduduk laki-laki dan 7.886 jiwa penduduk
perempuan.

1.1.2.2 Kondisi Sosial Ekonomi

Lapangan pekerjaan penduduk di Desa X cukup beragam. Mata pencaharian


penduduk didominasi oleh petani, buruh, dan pedagang. Namun masih banyak
penduduk yang tidak memiliki pekerjaan.

Tabel 1.1 Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Desa X (dalam KK/Jiwa)

Ekonomi Tinggi Ekonomi Sedang Ekonomi


Rendah

15% 35% 50%

1.1.2.3 Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat sangat berperan dalam membentuk sikap dan


perilaku masyarakat terhadap program kesehatan, sehingga pendidikan sangat berperan
dalam pembangunan kesehatan.Tingkat pendidikan di Desa X masih tergolong rendah.
Dari 16.247 jiwa penduduk Desa X, hanya sedikit yang menyelesaikan jenjang
pendidikan sarjana.
Tabel 1.2 Tingkat Pendidikan di Desa X

Tidak Tamat SD SD SMP SMA Sarjana

672 1.820 879 231 15

1.1.2.4 Sarana Kesehatan

Berikut adalah sarana kesehatan yang ada di Desa X :

Tabel 1.3 Sarana Kesehatan di Desa X

Kesehatan Jumlah

Apotek 1 Unit

Balai Pengobatan 2 Unit

Klinik Khitan 1 Unit

Poliklinik 3 Unit

Praktik Bidan 3 Unit

Praktik Dokter 2 Unit

1.2 Puskesmas X

1.2.1 Visi dan Misi

Dalam Mendukung terwujudnya Visi Kabupaten Z dan pembangunan


Pemerintah Z dan khususnya Kecamatan Y dalam bidang kesehatan maka
dirumuskannya Visi Pembangunan Kesehatan Puskesmas X yaitu:

“MEMBERIKAN PELAYANAN OPTIMAL”

Untuk mewujudkan hal tersebut diatas, ditetapkan 4 Misi pembangunan


kesehatan sebagai berikut:
1) Menggerakkan pembangunan berwawasaan kesehatan di wilayah kerjanya.

2) Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah


kerjanya.

3) Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan, dan keterjangkauan


pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.

4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat


beserta lingkungannya.

1.2.2 Wilayah Kerja

Wilayah kerja Puskesmas X berada di wilayah Kecamatan Y bagian utara


yang terdiri dari 3 desa binaan yaitu Desa X, Y dan Z

1.2.3 Program Kerja

Program kerja dari Puskesmas X pada tahun 2016 adalah sebagai berikut :

1) Upaya kesehatan wajib yaitu upaya promosi kesehatan, kesehatan


lingkungan, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana,
perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular, dan pengobatan.

2) Upaya kesehatan pengembangan yang ditetapkan puskesmas bersama dinas


kesehatan kabupaten sesuai dengan permasalahan, kebutuhan, dan
kemampuan Puskesmas Tegal Angus seperti lansia, napza, kesehatan
remaja, dan pengembangan gigi dan mulut.

3) Pelaksanaan manajemen puskesmas yang meliputi:

a) Proses penyusunan perencanaan, pelaksanaan lokakarya mini, dan


pelaksanaan penilaian kinerja.

b) Manajemen sumber daya termasuk manajemen alat, obat, keuangan,


dan lain – lain.

4) Mutu pelayanan puskesmas yang meliputi: penilaian input pelayanan


berdasarkan standar yang ditetapkan, penilaian proses pelayanan kesehatan
dengan menilai tingkat kepatuhan terhadap standar pelayanan yang
ditetapkan, penilaian output pelayanan berdasarkan upaya kesehatan yang
diselenggarakan, dan penilaian outcome pelayanan antara lain pengukuran
kepuasan pengguna jasa puskesmas.

1.2.4 Kesehatan Ibu dan Anak

Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar.
Upaya penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu tetap merupakan salah satu
prioritas utama dalam penanganan bidang kesehatan. Dalam Rencana Strategis (Renstra)
jangka panjang upaya penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi baru lahir ini
difokuskan pada kegiatan yang dibangun atas dasar sistem kesehatan yang mantap untuk
menjamin pelaksanaan intervensi dengan biaya yang efektif berdasarkan bukti ilmiah yang
dikenal dengan nama "Making Pregnancy Safer (MPS)". Strategi MPS ini mengacu pada 3
pesan kunci yaitu :

1) Setiap persalinan ditolong oleh tenaga bidan terlatih

2) Setiap komplikasi obstetrik neonatal mendapat pelayanan yang adekuat

3) Setiap wanita usia subur dapat akses terhadap pencegahan kehamilan serta penanganan
aborsi yang tidak aman.

Salah satu faktor penyebab kematian ibu selain karena perdarahan, preeklamsia /
eklamsia adalah tingginya paritas pada seorang ibu, yang diikuti dengan rendahnya akses
terhadap pelayanan kesehatan. Tingginya paritas seorang ibu, selain mempunyai dampak
terhadap angka kesakitan dan kematian ibu, juga meningkatkan jumlah penduduk yang tidak
terkendali. Hal ini penting untuk diperhatikan karena apabila penduduk tidak dikendalikan
maka dikhawatirkan bisa terjadi baby boom yang kedua setelah perang Dunia II. Salah satu
program untuk menurunkan angka kematian ibu dan menekan angka pertumbuhan penduduk
yakni melalui program Keluarga Berencana (KB). Program KB memiliki peranan dalam
menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan
serta menjarangkan kehamilan dengan sasaran utama adalah Pasangan Usia Subur (PUS).
Sesuai dengan tuntutan perkembangan program, maka program KB telah berkembang
menjadi gerakan Keluarga Berencana Nasional yang mencakup gerakan masyarakat. Gerakan
Keluarga Berencana Nasional disiapkan untuk membangun keluarga sejahtera dalam rangka
membangun sumber daya manusia yang optimal, dengan ciri semakin meningkatnya peran
serta masyarakat dalam memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan KB. Salah satu
strategi dari pelaksanaan program KB sendiri adalah meningkatnya penggunaan metode
kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD (Intra Uterine Device), implant (susuk) dan
sterilisasi.

JUMLAH PENGGUNA ALAT KONTRASEPSI DI PUSKESMAS


X
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
IUD IMPLANT PIL SUNTIK STERILISASI

JUMLAH PENGGUNA ALAT KONTRASEPSI DI PUSKESMAS X

Data Pertambahan Penduduk Desa X tahun 2010-2016


18,000
16,000
14,000
12,000
10,000
8,000
6,000
4,000
2,000
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

JUMLAH PENDUDUK SECARA KESELURUHAN


1.3.Gambaran Keluarga Binaan
1.3.1. Lokasi Keluarga Binaan/

Ny. c Tn. A s

u
Tn. B

Rawa- rawa

Gambar 1.1 lokasi keluarga binaan

1.3.2. Keluarga Tn. A

Keluarga binaan pertama adalah keluarga Tn. A yang memiliki delapan


orang anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Kedelapan anggota
keluarga tersebut tercantum dalam tabel.

Keluarga Tn. A tinggal di Kampung W, Desa X, Kecamatan X,


Kabupaten Y, Propinsi Z. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri, empat
orang anak, satu orang mantu dan dua orang cucu yang tinggal serumah. Tn. A
sebagai kepala keluarga berusia 52 tahun dengan latar belakang pendidikan
sekolah dasar yang tidak lulus. Ny. A sebagai istri berusia 46 tahun dengan
latar pendidikan sekolah dasar yang tidak lulus. Tn. A dan Ny. A memiliki tiga
orang anak perempuan dan satu orang anak laki – laki. Anak pertama bernama
berusia 26 tahun sudah menikah dengan suami berusia 34 tahun dan masih
tinggal satu rumah dengan Tn. A. Anak kedua Tn. A berusia 19 tahun, berhenti
sekolah pada kelas 2 SMP. Anak ketiga berusia 13 tahun, berhenti sekolah
pada kelas 2 SMP. Anak keempat berusia 6 tahun dan belum bersekolah.
Tabel 1.5 Anggota keluarga Tn. A

No Nama Status Jenis Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan


Keluarga Kelamin

1 Tn.A Suami Laki – laki 52 tahun 3 SD Pemulung Rp. 40.000


/hari

2 Ny.A Istri Perempuan 46 tahun 3 SD Buruh Rp.1.200.000


/bulan

3 Ny. 1 Anak Perempuan 26 tahun 2 SMP Ibu rumah -


tangga

4 Tn. 1 Mantu Laki – laki 34 tahun 4 SD Buruh Rp.1.000.00/


bulan

5 Nn. 2 Anak Perempuan 19 tahun 2 SMP Tidak -


bekerja

6 Nn. 3 Anak Perempuan 13 tahun 2 SMP Tidak -


bekerja

-
7 An. 4 Anak Laki - laki 6 tahun - -
-
8 An. 5 Cucu Perempuan 4 tahun - -
-
9 An. 6 Cucu Perempuan 1 tahun - -

Tn. A berprofesi sebagai pemulung dengan pendapatan mencapai Rp.40.000


tiap bulan. Ny. A berprofesi sebagai buruh dengan penghasilan mencapai Rp.
1.200.000, dengan kesehariannya mengurus rumah seperti memasak, mencuci
pakaian, dan membersihkan rumah.

Keluarga Tn. A tinggal disebuah rumah semi permanen diatas tanah seluas 6 x
8 m2. Dinding rumah terbuat dari bilik bambu berlantaikan setengah tanah dan
setengah keramik. Atap rumah menggunakan genteng tetapi tidak dibuat plafon.
Rumah Tn. A terdiri dari 1 buah ruang tamu, 3 buah kamar tidur, 1 buah dapur, dan 1
buah kamar mandi. Ruang tamu berukuran 2 x 1 m2 beralaskan setengah keramik dan
setengah tanah dimana terdapat TV dan merupakan tempat biasanya keluarga
berkumpul, diruangan tersebut tidak terdapat jendela hanya memiliki pintu yang
langsung mengakses ke bagian depan rumah.

Rumah keluarga Tn. A terletak di daerah yang padat penduduk dengan jarak
antar rumah 0,5 meter disebelah kanan dan kiri. Di rumah Tn. A tidak terdapat
ventilasi jendela dan cahaya masuk hanya bila pintu terbuka. Untuk siang hari hingga
malam keluarga Tn. A menggunakan lampu sebagai penerangan.

Gambar 1.2. Denah Rumah Keluarga Tn. A

Tn. A tinggal bersama-sama dengan keluarganya pada satu rumah dan tinggal
berdesakan. Keluarga Tn. A mengaku kurang mengetahui tentang keluarga berencana
dan penggunaan alat kontrasepsi. Di rumah Tn. A terdapat WC (jamban) dan hanya
terdapar dapur yang berbentuk sekat bambu. Untuk buang air besar (BAB) mereka
melakukannya di jamban rumahnya. Dapur Tn. A hanya terdapat kompor yang
menggunakan gas. Sumber air bersih untuk minum didapatkan dari isi ulang galon.
Air untuk mandi dan masak keluarga Tn. A menggunakan sumur yang tidak ada
penutupnya yang terdapat di belakang rumah berjarak 1 meter. Saluran air limbah
rumah tangga di buang ke kali belakang rumah yang berjarak 5 meter dari rumahnya
karena ketidaktersediaan saluran pembuangan limbah rumah tangga di
lingkungannya. Tn. A dan keluarga tidak mengetahui seharusnya untuk pembuangan
air limbah rumah tangga tidak dibuang ke dalam kali. Untuk pembuangan sampah
sendiri dibuang di ke halaman depan rumahnya. Sampah ditumpuk terlebih dahulu
hingga cukup banyak lalu dibakar.

Dalam segi kesehatan, Tn. A dan Ny. A tidak memiliki masalah kesehatan
dalam sebulan terakhir ini. Anak Tn. A, mengaku sedang mengalami demam tinggi
selama 3 hari. Biasanya apabila sakit mereka berobat dengan obat dari warung dan
apabila sakit tambah parah baru ke puskesmas atau klinik. Jarak puskesmas dari
rumah Tn. A cukup jauh. Keluarga Tn. A tidak memiliki alat trasportasi untuk pergi,
sehingga biasanya menggunakan angkot atau ojek.

Permasalahan Keluarga Tn.A

 Masalah Medis
1. Demam tinggi selama 3 hari

 Masalah Non Medis


1. Kurangnya pencahayaan dan ventilasi udara di dalam rumah.

2. Kurangnya pengetahuan tentang keluarga berencana.

3. Ketidaktersediaan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang baik.

4. Sumur yang tidak ada penutupnya.

5. Ketidaktersediaan air bersih.

6. Kurangnya pengetahuan tentang rumah sehat.

7. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah.

8. Kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan.

1.3.3. Keluarga Tn. B

Keluarga binaan kedua adalah keluarga Tn. B yang memiliki sembilan orang
anggota keluarga. Kesembilan anggota keluarga tersebut tercantum dalam tabel.

Keluarga Tn. B tinggal di Kampung X, Desa X, Kecamatan Y, Propinsi Z.


Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri, dan sepuluh orang anak yang tinggal
serumah. Tn. B sebagai kepala keluarga berusia 60 tahun dengan latar belakang
pendidikan sekolah dasar. Ny. B sebagai istri berusia 50 tahun dan tidak
bersekolah. Tn. Rusli dan Ny. B memiliki sepuluh orang anak.

Tabel 1.8 Anggota keluarga Tn. B


No Nama Status Jenis Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan
Keluar Kelamin
ga

1 Tn. B Suami Laki – laki 60 tahun SD Montir Rp3.000.000

Per bulan

2 Ny. B Istri Perempuan 50 tahun - Juru Rp.


masak 3.000.000

Per bulan

3 Tn. 1 Anak Laki – laki 28 tahun SMP Buruh Rp.


pabrik 1.000.000
Per bulan

4 Tn. 2 Anak Laki – laki 25 tahun SMP Supir Rp. 500.000


Per bulan

5 Tn. 3 Anak Laki – laki 21 tahun SMA Buruh Rp.


pabik 1.000.000
Per bulan

6 Tn. 4 Anak Laki – laki 21 tahun SMA Buruh Rp.


pabik 1.000.000
Per bulan

7 Tn. 5 Anak Laki – laki 19 tahun SMA Supir Rp.


1.500.000
Per bulan

8 Tn. 6 Anak Laki – laki 18 tahun SMA Tidak -


bekerja

9 Nn.1 Anak Perempuan 16 tahun SMA Pelajar -

10 Tn. 7 Anak Laki – laki 14 tahun SMP Pelajar -


11 Tn. 8 Anak Laki – laki 12 tahun SD Pelajar -

12 Nn. 2 Anak Perempuan 10 SD Pelajar -

Tn. B berprofesi sebagai montir dengan pendapatan tidak menentu, namun


diperkirakan bisa mencapai Rp 3.000.000,- tiap bulan. Ny. B bekerja sebagai juru
masak dengan penghasilan Rp 3.000.000,- tiap bulan. Anak Tn.B bekerja sebagai
buruh pabrik dengan penghasilan Rp. 1.000.000,- tiap bulan. Anak kedua bekerja
sebagai supir dengan penghasilan Rp. 500.000,- tiap bulan, anak ketiga bekerja
sebagai buruh pabrik dengan penghasilan Rp 1.000.000,- tiap bulan, anak keempat
bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan Rp 1.000.000,- tiap bulan, anak
kelima bekerja sebagai supir dengan penghasilan Rp 1.500.000,- tiap bulan, anak
keenam tidak bekerja dan anak ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh
berstatus pelajar.

Keluarga Tn. B tinggal disebuah rumah bangunan permanen diatas tanah


seluas 15 x 10 m2. Dinding rumah terbuat dari tembok, berlantai kan keramik. Atap
rumah menggunakan genteng. Rumah Tn. B terdiri dari sebuah ruang tamu, 2 buah
kamar tidur dan sebuah dapur. Ruang tamu berukuran 4 x 2 m2 beralaskan keramik
dimana terdapat TV dan merupakan tempat biasanya keluarga berkumpul, diruangan
tersebut terdapat jendela namun jendela tidak dapat dibuka. Kamar mandi terletak di
belakang rumah terdapat wc jongkok. Kamar mandi berdinding semen berwarna abu-
abu dengan 1 bak mandi tanpa penutup.

Rumah keluarga Tn. B terletak di daerah yang padat penduduk, sebelah kiri
menempel dengan rumah tetangga dan sebelah kanan berjarak 3 meter dengan
tetangga. Tn. B tinggal bersama-sama dengan keluarganya pada satu rumah dan
tinggal berdesakan. Keluarga Tn. B mengaku kurang mengetahui tentang keluarga
berencana dan penggunaan alat kontrasepsi sehingga tidak memakai alat kontrasepsi
selama ini. Di rumah Tn. B terdapat ventilasi jendela namun tidak pernah dibuka dan
cahaya masuk hanya bila pintu terbuka. Untuk siang hari hingga malam keluarga Tn.
B menggunakan lampu sebagai penerangan.
B

S u

Gambar1.6 Denah Rumah Keluarga Tn. B

Dapur Tn. B terdapat kompor yang menggunakan gas. Sumber air bersih
didapatkan dari air yang diambil dari sumur pribadi yang letaknya di belakang
rumah. Air untuk mandi keluarga Tn. B menggunakan air sumur sedangkan untuk
memasak membeli air galon karena air dari sumur berbau dan kadang berwarna
kuning. Saluran air limbah rumah tangga di buang ke rawa belakang rumah yang
berjarak hanya 2 meter dari rumahnya karena saluran pembuangan limbah rumah
tangga di lingkungannya tertumpuk oleh sampah. Untuk pembuangan sampah
sendiri dibuang di depan rumah hingga jumlahnya cukup banyak lalu dibakar.

Keluarga Tn. B memiliki pola makan sebanyak 2 kali sampai 3 kali dalam
sehari. Biasanya menu yang biasa dimakan adalah sayur bayam, tahu, tempe,
telur, ayam dan ikan. Tn. B dan anaknya tidak memiliki kebiasaan merokok. Tn. B
mengaku mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan kadang mengggunakan
sabun. Tn. B mengaku melakukan olahraga seminggu 2 kali.

Dalam segi kesehatan, Tn. B sering mengeluhkan gula darah yang tinggi
dan sudah melakukan pengobatan. Biasanya apabila sakit mereka berobat dengan
obat dari warung dan apabila sakit tambah parah baru ke puskesmas aatau ke
dokter. Jarak puskesmas dari rumah Tn. B cukup jauh. Tn. B memiliki motor
untuk transportasi.

Permasalahan Keluarga Tn. B

 Masalah Medis
1. Penyakit hipertensi yang diderita oleh Tn. B
 Masalah Non Medis
1. saluran pembuangan limbah rumah tangga yang baik

2. Kurangnya pengetahuan tentang keluarga berencana.

3. Pengelolaan sampah yang kurang baik

4. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya menutup penampungan air.

5. Kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan

1.3.4. Keluarga Ny. C

Keluarga binaan ketiga adalah keluarga Ny.C yang memiliki tiga orang
anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Ketiga anggota keluarga
tersebut tercantum dalam tabel.

Keluarga Ny.C tinggal di Kampung W, Desa X, Kecamatan X, Kabupaten


Y Propinsi Z. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri dan lima orang anak.
Ny. C sebagai istri sekaligus kepala keluarga berusia 40 tahun dengan latar
belakang pendidikan tidak bersekolah. Ny. C memiliki suami, namun beliau sudah
meninggal sejak 1 tahun yang lalu di karenakan penyakit TBC dan Ny. C
memiliki dua orang anak perempuan dan tiga orang anak laki – laki. Anak
pertama laki-laki bernama Tn. C berusia 25 tahun sudah menikah dan bercerai
dengan istri nya tahun yang lalu dan tinggal satu rumah dengan Ny.C. Ny. C tidak
bersekolah dan sekarang bekerja sebagai pengumpul kertas. Anak kedua
perempuan berusia 23 tahun sudah menikah dan tinggal bersama suami.
Pendidikan terakhir sekolah dasar dan tidak bekerja. Anak ketiga perempuan
berusia 20 tahun sudah menikah dan tinggal bersama suami. Pendidikan terakhir
sekolah dasar dan tidak bekerja. Anak keempat laki-laki berusia 19 tahun belum
menikah dan tinggal bersama Ny.C. Pendidikan terakhir SMK dan bekerja sebagai
pegawai swasta. Anak kelima berusia 7 tahun tinggal bersama Ny.C dan sedang
duduk di bangku sekolah kelas 1 sekolah dasar.
Tabel 1.11 Anggota keluarga Ny. C

No Nama Status Jenis Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan


Keluar Kelamin
ga

1 Ny. C Istri Perempuan 40 tahun - Pemulung Rp 20.000

Per hari

2 Tn. X Anak Laki-laki 25 tahun SD - -

3 Ny. X Anak Perempuan 23 tahun SD Ibu -


Rumah
Tangga

4 Ny. X Anak Perempuan 20 tahun SD Ibu -


Rumah
Tangga

5 Tn. X Anak Laki-laki 19 tahun SMK Pegawai -


Swasta

-
6 Tn. X Anak Laki-laki 7 tahun - -

Ny. C berprofesi sebagai pemulung kertas dengan pendapatan tidak


menentu, namun diperkirakan mencapai Rp 20.000,- tiap bulan. Anak Ny. C tidak
bekerja, sehari-hari anaknya mengurus rumah seperti memasak, mencuci pakaian,
dan membersihkan rumah. Tn. X tidak bekerja. Tn. X bekerja sebagai buruh dan
penghasilan Rp. 2.400.000 ,- tiap bulan.

Keluarga Ny. C tinggal disebuah rumah bangunan semi permanen diatas


tanah seluas 6 x 8 m2. Dinding rumah sebagian terbuat dari semen dan batu bata
dan sebagian terbuat dari rotan, berlantai kan keramik. Atap rumah menggunakan
genteng tetapi tidak dibuat plafon. Rumah Ny. C terdiri dari sebuah ruang tamu
yang bersambungan dengan dapur, 2 buah kamar tidur. Ruang tamu berukuran 2 x
3 m2 beralaskan keramik dimana merupakan tempat biasanya keluarga berkumpul,
diruangan tersebut terdapat jendela kaca yang permanen hanya memiliki pintu
yang langsung mengakses ke bagian belakang rumah.

Rumah keluarga Ny. C terletak di daerah yang padat penduduk dengan


jarak antar rumah 0,5 meter disebelah kanan dan kiri. Di rumah Ny. C tidak
terdapat ventilasi jendela dan cahaya masuk hanya bila pintu terbuka. Untuk siang
hari hingga malam keluarga Ny. C menggunakan lampu sebagai penerangan

Gambar 1.7 Denah Rumah Keluarga Ny. C

Di rumah Ny. C terdapat WC jongkok dan hanya terdapat dapur dan kamar
mandi yang berbentuk sekat semen. Dapur Ny. C hanya terdapat kompor yang
menggunakan gas dan 1 buah dispenser. Sumber air bersih didapatkan dari pompa
sanyo. Air untuk mandi dan masak keluarga Ny. C menggunakan air pompa sanyo.
Saluran air limbah rumah tangga di buang ke belakang rumah karena
ketidaktersediaan saluran pembuangan limbah rumah tangga di lingkungannya. Untuk
pembuangan sampah sendiri dibuang ke belakang rumah. Sampah ditumpuk terlebih
dahulu hingga cukup banyak lalu dibakar.

Keluarga Ny. C memiliki pola makan sebanyak 2 kali dalam sehari. Biasanya
menu yang biasa dimakan adalah sayur bayam, tahu, tempe, telur dan ikan asin. Ny. C
mengaku mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan mengggunakan sabun dan
Ny. C mengaku jarang melakukan olahraga.
Dalam segi kesehatan, Ny. C memiliki masalah kesehatan dalam sebulan
terakhir ini, yaitu sering mengalam panas badan, batuk, dan pilek namun belum
berobat. Biasanya apabila sakit mereka berobat dengan obat dari warung dan apabila
sakit tambah parah baru ke puskesmas. Jarak puskesmas dari rumah Ny. C cukup
jauh.

Permasalahan keluarga Ny. C

Keluarga Ny. C

 Masalah Medis
1. ISPA

 Masalah Non Medis


1. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang klasifikasi sampah dan proses
pemusnahannya.
2. Ketidaktersediaan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang baik
3. Bangunan semi permanen dengan dinding berbahan bambu
4. Kurangnya pengetahuan akan mengubur sampah tempat sumber tergenangnya
air
5. Kurangnya pengetahuan akan resiko air yang menggenang.

1.2.1 Penentuan Area Masalah

Setelah mengamati, mewawancarai, dan melakukan observasi masing-masing


keluarga binaan di Desa X terdapat berbagai area permasalahan, yaitu:

1. Ketidaktersediaan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang baik.


2. Kurangnya pengetahuan akan keluarga berencana dan penggunaan alat
kontrasepsi.
3. Kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan.
4. Kurangnya pengetahuan tentang mengubur sampah yang menjadi sumber tempat
tergenangnya air

Dari sekian masalah yang ada pada keluarga tersebut, maka diputuskan untuk
mengangkat permasalahan “Pengetahuan Tentang Keluarga Berencana pada Keluarga
Binaan RT 003/ RW 004, Desa X, Kecamatan X, Kabupaten Y, Provinsi Z”.
Dalam pengambilan sebuah masalah digunakan Metode Delphi. Metode Delphi
merupakan suatu teknik membuat keputusan yang dibuat oleh suatu kelompok, di mana
anggotanya terdiri dari para ahli atas masalah yang akan diputuskan. Proses penetapan
Metode Delphi dimulai dengan identifikasi masalah yang akan dicari penyelesaiannya.

1.2.2 Alasan Penentuan Area Masalah

Gambar.1.10 Prinsip Metode Delphi

Pemilihan area masalah ini didasarkan atas metode delphi dan melalui berbagai
pertimbangan yaitu :
− Dalam kunjungan beberapa kali ke rumah keluarga binaan, ditemukan bahwa ketiga
keluarga binaan memiliki masalah tentang pengetahuan keluarga berencana. Dari
ketiga domain pembentuk perilaku, yaitu knowledge, attitude, dan practice, ketiga
keluarga binaan memiliki masalah pada knowledge nya. Sehingga, selama kunjungan
dengan waktu yang berbeda dan diobservasi, didapatkan bahwa kurangnya
pengetahuan tersebut yang berdasarkan dari hasil quesioner observasi. Pada hasil
presurvey dari 10 responden, terdapat 10 responden yang pengetahuannya kurang
mengenai pengetahuan keluarga berencana.
− Kurangnya pengetahuan ini dapat menjadi salah satu sebab timbulnya ledakan
penduduk pada desa X
− Pertumbuhan penduduk pada desa X terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
− Tidak adanya penyuluhan / informasi mengenai pentingnya penggunaan alat
kontrasepsi pada pasangan usia produktif.