Anda di halaman 1dari 4

A.

JUDUL
Sistem Ekskresi I : Mengamati Anatomi Makroskopis Ginjal Mammalia dan Pemeriksaan Warna,
Kejernihan, dan pH Urine.
B. TUJUAN
1. Tujuan Kegiatan
a) Mengamati struktur anatomi makroskopis ginjal Mammalia (kambing).
b) Mengamati warna, kejernihan, derajat keasaman (pH) urine.
2. Kompetensi Khusus
a) Dapat melakukan pengamatan struktur anatomi makroskopis ginjal Mammalia (kambing).
b) Dapat menerangkan bagian – bagian ginjal Mammalia (kambing).
c) Dapat melakukan pemeriksaan dan menerangkan kejernihan urine.
d) Dapat melakukan dan menerangkan derajat keasaman (pH) urine.
C. ALAT & BAHAN
1. Mengamati Anatomi Makroskopis Ginjal Mammalia
Alat : 2. Bahan :
a) Bak parafin a) Ginjal kambing
b) Skalpel
c) Pinset
d) Klem
e) Penusuk
f) Gunting
2. Pemeriksaan Warna, Kejernihan, dan pH Urine
Alat : 2. Bahan :
a) Gelas Beaker 100 ml a) Urine probandus
b) pH stick

D. HASIL
Mengamati Anatomi Makroskopis Ginjal Mammalia
Pemeriksaan Warna, Kejernihan, dan pH Urine

Nama Warna Kejernihan pH


Amri Shabirin +++ ++++ 7
Nur Widya S. +++ ++ 5
Nadia Alima F ++++ + 5
Tia Mayasari + ++ 6
Elsa Wahyu R. ++ +++ 5
Keterangan : + : semakin bening atau jernih
++ : semakin pekat atau semakin keruh
++++ : sangat pekat atau sangat keruh

E. PEMBAHASAN

1. Mengamati Anatomi Makroskopis Ginjal Mammalia


Ginjal mempertahankan susunan kimia cairan tubuh melalui berbagai proses yaitu: (1) filtrasi
glomerular, yaitu filtrasi plasma darah oleh glomerulus (2) reabsorbsi tubular, yaitu melakukan
reabsorbsi secara selektif zat-zat seperti garam, air, gula sederhana, asam amino dari tubulus ginjal
ke kapiler peritubular., dan (3) sekresi tubular, sekresi zat-zat dari kapiler darah ke dalam lumen
tubulus. Proses sekresi mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organik, dan ion
hidrogen, yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan mengeluarkan zat-zat yang
mungkin merugikan (Soewolo, 2005: 321).

Bentuk ginjal seperti biji kacang dan sisi dalamnya atau hilum menghadap ke tulang punggung.
Sisi luarnya cembung, pembuluh-pembuluh ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum. Beratnya
150 gram sebuah. Di atas sebuah ginjal terdapat supra renalis. Ginjal kanan lebih pendek dan lebih
tebal dari yang kiri. Setiap ginjal dipisahkan di sebelah luar, bagian korteks yang dibentuk oleh massa
berbentuk bulat disebut glomerulus. Di sebelah dalam, bagian medula tersusun atas 6 sampai 18
massa berbentuk piramid yang disebut piala ginjal. Puncak-puncaknya langsung mengarah ke hilum
dan berakhir di kalises ginjal yang menghubungkan dengan pelvis ginjal. Pelvis membentang terus
dari badan ginjal sampai ke ureter, suatu tabung dengan otot polos pada dindingnya yang
menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kencing. Otot polos pada dinding kandung kencing
berkontraksi secara refleks (Nangsari, 1988).

Berdasarkan literatur, penampang ginjal Mammalia adalah sebagai berikut,


Ginjal mempunyai bagian cekungan yang disebut hilum. Pada hilum terdapat bundle saraf, arteri
realis, vena renalis, dan ureter. Ginjal memperoleh suplai darah dari aorta abdominalis yang
bercabang menjadi arteri renalis, arteri interlobaris, arteri arcuata, arteri interlboularis, arteriole
aferen, glomerulus, arteriole eferen, kapiler peri tubuler (juxta glomerulare), vena interlobularis, vena
arcuata, vena interlobularis, vena renalis. Ginjal selain berfungsi sebagai alat ekskresi juga berperan
menghasilkan hormone seperti: renin-angiotensin, erythropoietin, dan mengubah provitamin D
menjadi bentuk aktif (vitamin D) (Nurcahyo dan Harjana, 2013).

Medula renalis terletak dekat hilus, sering terlihat berupa garis-garis putih oleh karena adanya
saluran-saluran yang terletak dalam piramida renalis. Tiap piramida renalis mempunyai basis yang
menjurus ke arah korteks dan apeksnya bermuara ke dalam kaliks minor sehingga menimbulkan
tonjolan yang disebut papila renalis, pada papil ini terdapat lubang-lubang keluar dari saluran-saluran
ginjal sehingga disebut lamina kribrosa (jumlah duktus papilaris ginjal kurang lebih 18-20 buah).
Jaringan medula dari piramida renalis ada yang menonjol masuk ke dalam jaringan korteks disebut
fascilus radiatus ferreini. Saluran-saluran di dalam medula lengkung Henle (pars ascenden dan pars
descenden), duktus koligentes, dan duktus Bellini (duktus papilaris) (Mashudi, 2011).

2. Pemeriksaan Warna, Kejernihan, dan pH Urine

Urin adalah suatu cairan esensial dari hasil metabolisme nitrogen dan sulfur, garam-garam
anorganik dan pigmen-pigmen. Biasanya berwarna kekuning-kuningan, meskipun secara normal
banyak variasinya. Mempunyai bau yang khas untuk species yang berbeda. Jumlah urin yang
diekskresikan tiap harinya bervariasi, tergantung pada pakan, konsumsi air, temperatur lingkungan,
musim dan faktor-faktor lainnya (Ganong, 2003).

Karakteristik urin normal memiliki warna urin pagi (yang diambil sesaat setelah bangun pagi)
sedikit lebih gelap dibanding urin di waktu lainnya. Warna urin normal kuning pucat sampai kuning.
Nilai normal 1.003-1.03 g/mL Nilai ini dipengaruhi sejumlah variasi, misalnya umur. Berat jenis urin
dewasa berkisar pada 1.016-1.022, neonatus (bayi baru lahir) berkisar pada 1.012, dan bayi 1.002 -
1.006. Urin pagi memiliki berat jenis lebih tinggi daripada urin di waktu lain, yaitu sekitar 1.026.
Urin berbau harum atau tidak berbau, tetapi juga tergantung dari bahan-bahan yang diekskresi.
Normal urin berbau aromatik yang memusingkan. Bau merupakan indikasi adanya masalah seperti
infeksi atau mencerna obat-obatan tertentu. Urin yang normal rata-rata 1-2 liter / hari. Kekurangan
minum menyebabkan kepekatan urin meningkat (konsentrasi semua substansi dalam urin meningkat)
sehingga mempermudah pembentukan batu. pH urin dapat berkisar dari 4,5 – 8,0. pH bervariasi
sepanjang hari, dipengaruhi oleh konsumsi makanan, bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan
menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) bersifat lebih asam.
(Pearce, 1993).
Pada data hasil percobaan terlihat bahwa kepekatan warna urin dan kejernihannya beragam dari
seluruh probandus. Probandus ketiga memiliki kepekatan warna urin lebih pekat dibandingkan
probandus lainnya. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya cairan tubuh yang didapat dari asupan
air minum setiap hari. Sedangkan pada kejernihan urine, probandus pertama memiliki urin yang lebih
keruh dibandingkan probandus yang lainnya. Urin pada probandus pertama ini sedikit dipenuhi
dengan kabut putih di dalamnya. Menurut Meriana (2007), urin yang normal jika didiamkan pada
suhu kamar untuk beberapa jam akan membentuk endapan berupa awan bergumbal yang disebut
nubekula tetapi jika didiamkan pada suhu yang rendah warnanya akan berubah menjadi coklat, ini
terjadi karena adanya endapan asam urat, perubahan derajat keasaman karena endapan fosfat dalam
lingkungan alkalis karena adanya bakteri. Selain itu, urin dari seluruh probandus memiliki pH di
rentang 5 – 7. Rentang ini masih berada di batas normal dari pH urine, sehingga dapat dikatakan
bahwa urine seluruh probandus termasuk normal. Kecuali pada bagian warna yang terlalu pekat dan
kekeruhan urine. Hal ini memiliki arti urine dapat menggambarkan kondisi kesehatan diri kita,
sehingga kita harus tetap menjaga kesehatan agar urin yang dihasilkan pun normal.

F. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Ginjal merupakan salah satu organ penting yang berfungsi untuk menyaring air minum yang kita
konsumsi dan mengeluarkannya bersama benda – benda yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh
tubuh. Bagian – bagian dari ginjal yaitu, arteri renalis, vena renalis, ureter, pelvis renis, kapsula
ginjal, calyx minor, calyx mayor, papilla renalis, piramida renalis, korteks, dan medulla.
2. Urine yang normal memiliki warna dari kuning pucat sampai kuning. Urin yang baru memiliki
warna yang jernih dan tidak terdapat kabut. pH urin dapat berkisar dari 4,5 – 8,0. pH.

G. DAFTAR PUSTAKA
Ganong. 2003. Fisiologi Kedokteran. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
Mashudi, Sugeng. 2011. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Dasar Aplikasi Model Pembelajaran
Peta Konsep. Jakarta : Salemba Medika.
Meriana. 2007. Penentuan Kadar Gula dalam Analisis Urin. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Nangsari, Nyayu Syamsiar. 1988. Pengantar Fisiologi Manusia. Jakarta : Depdikbud.
Heru Nurcahyo dan Harjana, Tri. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Yogyakarta : FMIPA
UNY.
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia.
Soewolo, dkk. 2005. Fisiologi Manusia. Malang : UM Press.