Anda di halaman 1dari 8

Masalah Keyword Tanda dan Gejala

Harga Diri Perasaan tidak berharga, 1. Perasaan Malu terhadap diri sendiri akibat penyakit
Rendah tidak berarti dan rendah diri 2. Merasa bersalah terhadap diri sendiri
yang berkepanjangan 3. Merendahkan martabat
4. Kurang percaya diri
5. Khawatir
6. Perasaan tidak mampu
7. Pandangan hidup yang pesimis
8. Tidak berani menatap lawan bicara
9. Lebih banyak menunduk
10. Kurang memeperhatikan perawatan diri
11. Penolakan terhadap kemampuan diri

Isolasi a. Tidak mampu berinteraksi 1. Gejala Subyektif


Sosial dengan orang lain atau a. Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang
lingkungannya lain.
b. Ketidakmampuan b. Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
mempertahankan hubungan c. Respons verbal kurang dan sangat singkat,
sosial d. Klien mengatakan hubungan tidak berarti dengan orang lain.
c. Persepsi yang salah tentang e. Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
hubungan sosial f. Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
g. Klien merasa tidak berguna.
h. Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
i. Klien merasa ditolak.
2. Gejala Obyektif
a. Klien lebih banyak diam dan tidak mau bicara.
b. Tidak mengikuti kegiatan.
c. Banyak berdiam diri di kamar.
d. Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang
terdekat.
e. Klien tampak sedih, ekspresi datar, dan dangkal.
f. Kontak mata kurang.
g. Kurang spontan.
h. Apatis ( acuh terhadap lingkungan ).
i. Ekspresi wajah kurang berseri.
j. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri.
k. Mengisolasi diri.
l. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya.
m. Asupan makanan dan minuman terganggu.
n. Retensi urine dan feses.
o. Aktivitas menurun.
p. Kurang energi atau tenaga.
q. Rendah diri.
r. Postur tubuh berubah.

Halusinasi Gangguan persepsi, rangsangan, a. Berbicara, tertawa dan tersenyum sendiri


pengindraan/sensensori, b. Bersikap seperti mendengarkan sesuatu
skizofrenia, depresif, delirium. c. Berhenti berbicara sesaat ditengah-tengah kalimat atau
mendengarkan sesuatu.
d. Disorientasi
e. Tidak mampu atau kurang konsentrasi
f. Cepat berubah pikiran
g. Alur pikir kacau
h. Respon yang tidak sesuai
i. Menarik diri
j. Suka marah dengan tiba-tiba dan menyerang orang lain tanpa sebab
k. Sering melamun
Waham Keyakinan yang tidak sesuai 1. Kognitif
kenyataan/ Keyakinan yang a) Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
salah b) Individu sangat percaya pada keyakinan
c) Sulit berfikir realita
d) Tidak mampu mengambil keputusan
2. Afektif
a) Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
b) Afek tunggal
3. Perilaku dan hubungan social
a) Hipersensitif
b) Mengancam secara verbal
c) Curiga
d) Hubungan dengan orang lain tumpul
e) Aktifitas tidak tepat
Tanda dan gejala lain:
a) Menolak makan
b) Tidak ada perhatian pada perawatan diri
c) Mudah tersinggung
d) Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan
e) Mendominasi pembicaraan

Resiko Marah , perasaan jengkel 1. Fisik


Perilaku yang muncul sebagai respon a. Muka memerah
Kekerasan terhadap kecemasan yang b. Mata melotot/pandangan tajam
(RPK) dirasakan sebagai ancaman c. Tangan mengepal
oleh individu. d. Rahang mengatup
e. Wajah memerah dan tegang
f. Postur tubuh kaku
g. Pandangan tajam
h. Mengatupkan rahang dengan kaku
i. Mengepalkan tangan
j. Jalan mondar mandir

2. Verbal
a. Bicara kasar
b. Suara tinggi , membentak atau berteriak
c. Mengancam secara verbal atau fisik
d. Mengumpat dengan kata kata kotor
e. Suara keras
f. Ketus
Resiko Resiko untuk mencederai diri 1. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
Bunuh Diri sendiri yang dapat mengancam 2. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
(RBD) kehidupan. 3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
4. Impulsif.
5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi
sangat patuh).
6. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan
tentang obat dosis mematikan).
7. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic,
marah dan mengasingkan diri).
Masalah Pengkajian Fokus Pohon Masalah
Harga Diri Rendah 1. Konsep Diri (Efek) Isolasi sosial:
a. Gambaran Diri Menarik diri
Klien tidak bisa menerima kondisi kaki karena
amputasi
b. Identitas Diri
Klien merasa tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya (CP) Harga Diri Rendah
sebagai seorang ibu dan istri.
c. Peranan Diri
Klien merasa bahwa dirinya tidak berguna dan tidak
beharga karena dia tidak bisa memenuhi tanggung (Causa) Koping Individu tak
jawabnya sebagai seorang Ibu dan sebagai istri. efektif,keluarga tak efektif
d. Ideal Diri
Klien merasa tidak percaya diri karena kakiny di
amputasi shingga klien tidak bisa bersosilisasi di
lingkungan dan keluarganya.
e. Harga Diri
Klien merasa kehilangan percaya dirinya.

Isolasi Sosial 1. Psikososial Resiko halusinasi


a. Hubungan Sosial : (efek)
- Orang yang berarti : orang yang berarti dalam
kehidupan klien, tempat mengadu, bicara, minta
bantuan atau dukungan baik secara material maupun
non material Isolasi sosial
- Peran serta kegiatan kelompok/ masyarakat : (core problem)
kegiatan social apa yang diikuti klien
dilingkungannya dan sejauh mana ia terlibat
- Hambatan dalam berhubungan dengan orang
lain : Harga diri rendah
2. Status Mental (causa)
Isi Pikir :
Sosial Isolation : isi piker berupa rasa terisolasi, terkucil
dari lingkungan sekitarnya/ masyarkat, merasa ditolak,
tidak disukai orang lain, dan tidak enak berkumpul
dengan orang lain.

Halusinasi Persepsi – Sensori Resiko tinggi perilaku kekerasan


Menjelaskan jenis dan isi apa yang didengar/lihat, kenal (Efek)
tidak. Frekuensi terjadinya dalam satu hari, waktu
munculnya, perasaan/respon, dan tanda/gejala yang
ditampilakan.
Perubahan persepsi sensori:
Halusinasi (Core Problem)

Isolasi sosial (Causa)

Harga diri rendah kronis

Waham Proses Pikir : Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan


1. Proses pikir (Arus dan Bentuk Pikir). Proses pikir (Effect)
merujuk pada “Bagaimana” ekspresi diri klien.
o Arus Pikir : meruntut laju pembicaraan klien
o Bentuk Pikir : pola pembicaraan klien. Ada 3 Waham Kebesaran (Core
pilihan, dereistik (tidak sesuai kenyataan), Orstik Problem)
(Autisme) (pikiran dirinya sendiri tanpa peduli
sekitar), nonrealistic (sama sekali tidak logis/ tidak
masuk akal, tidak sesuai kenyataan)
Harga Diri Rendah (Causa)
2. Isi Pikir : mengacu arti spesifik yang diekspresikan
dalam isi pembicaraan klien.
Terdapat banyak jenis pilihan di dalam pengkajian
isi piker, salah satunya waham. Pilih kondisi waham
yang sesuai dengan kasus yang ada. Waham agama,
kebesaran, somatic, curiga, nihilistic, waham dosa, atau
waham bizar

Resiko Perilaku 1. Factor predisposisi (Effect) Resiko Mencederai Diri


Kekerasan (RPK) 2. Konsep diri
a. Harga diri
3. Pembicaraan (Keras) (CP) Perilaku kekerasan
4. Aktivitas Motorik (Tegang, Gelisah)
5. Afek Dan emosi (Afek, Emosi)
6. Interaksi Selama wawancara (Causa) Gangguan Harga Diri :
7. Tingkat kesadaran Harga Diri Rendah
8. Memori

Koping Kping
individu keluarga
Tidak dak
efektif efektif
Resiko Bunuh Diri Status mental pasien di poin 7b (isi pikir). Pilih kotak lain- (EFEK) Bunuh diri
(RBD) lain dan ditulis suicidal alasannya karena pasien sudah
mempunyai ide untuk bunuh diri.
(Core Problem) Resiko Bunuh
Diri

(Causa) gangguan harga diri :


Harga Diri Rendah

Koping individu dan koping


keluarga tidak efektif
Masalah TUK SP

Harga Diri TUK 1 : Klien dapat membina SP 1 pasien :


Rendah hubungan saling percaya. 1. Mengidentifikasi kemampuan adan aspek positif yang di miliki klien
TUK 2 : Klien dapat 2. Menilai kemampuan yang dapat di lakukan saat ini
mengidentifikasi kemampuan 3. Menilih kemampuan yang kan di latihs
dan aspek positif yang dimiliki. 4. Melatih kemampuan petama yang di pilih
TUK 3 : Klien dapat menilai 5. Memasukkan dalm jadwal kegiatan klien
kemampuan yang dapat SP 2 pasien :
digunakan. 1. Mengevaluasi jadwal kegitan harian klien ( SP 1 )
TUK 4 : Klien dapat 2. Melatih kemampuan kedua yang di miliki klien
menetapkan dan merencanakan 3. Melatih kemampuan yang di pilih
kegiatan sesuai dengan 4. Memasukkan ke dalam jadwal kegitan harian
kemampuan yang dimiliki. SP 3 pasien :
TUK 5 : Klien dapat 1. Mengevaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1 dan SP 2 )
melakukan kegiatan sesuai 2. Memilih kempuan ketiga yang dapat di lakukan
kondisi sakit dan 3. Melatih kemampuan yang di pilih
kemampuannya. 4. Memasukkan dalam kegiatan jadwal klien
TUK 6 : Klien dapat SP 1 keluarga :
memanfaatkan sistem 1. Mendiskusikan masalah yang di rasakan keluarga dalam merawat
pendukung yang ada klien
2. Menjelaskan pengertian , tanda dan gejala harga diri rendah serta
proses terjadinya
3. Menjelaskan cara merawat klien dengar harga diri rendah
4. Bermain peran dalam merawat pasien HDR
5. Menyusun RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP 2 keluarga :
1. Evaluasi kemampuan keluarga ( SP 1 )
2. Melatyih keluarga merawat langsung klien dengan HDR
3. Menyusun RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP 3 keluarga
1. Evaluasi kemampuan keluarga ( SP 1 )
2. Evaluasi kemampuan klien
3. Rencana tindak lanjut keluarga dengan follow up dan rujukkan
Isolasi TUK 1 : Klien dapat membina SP 1 Pasien :
Sosial hubungan saling percaya 1. Identifikasi penyebab:
TUK 2 : Klien dapat 2. Siapa yang satu rumah dengan pasien?
menyebutkan penyebab dari 3. Siapa yang dekat dengan pasien? Apa sebabnya?
menarik diri. 4. Siapa yang tidak dekat dengan pasien? Apa sebabnya?
TUK 3 : Klien dapat 5. Keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan oranglain.
menyebutkan keuntungan 6. Latih berkenalan
berhubungan dengan orang lain 7. Masukkan jadwal kegiatan pasien.
dan kerugian tidak SP 2 Pasien :
berhubungan dengan orang 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien (SP 1)
lain. 2. Melatih berhubungan social secara bertahap (pasien dan keluarga)
TUK 4 : Klien dapat 3. Memasukkan kedalam kegiatan jadwal kegiatan harian
melaksanakan hubungan sosial SP 3 Pasien:
secara bertahap. 1. Mengevaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 dan 2)
TUK 5 : Klien dapat 2. Latih ADL (kegiatan sehari-hari), cara bicara
mengungkapkan perasaannya 3. Memasukkan dalam kegiatan jadwal kegiatan jadwal klien
setelah berhubungan dengan SP 1 Keluarga :
orang lain 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
TUK 6 : Klien dapat klien
memperdayakan sistem 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial serta proses
pendukung atau keluarga atau terjadinya
keluarga mampu 3. Menjelaskan cara merawat klien dengan isolasi sosial
mengembangkan kemampuan 4. Bermain peran dalam merawat pasien isolasi sosial (simulasi)
klien untuk berhubungan 5. Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat klien
dengan orang lain
SP 2 Keluarga :
1. Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1)
2. Melatih keluarga merawat langsung klien dengan isolasi sosial
3. Menyusun RTL keluarga /jadwal keluarga untuk merawat klien
SP 3 Keluarga
1. Evaluasi kemampuan keluarga ( SP 1, 2)
2. Evaluasi kemampuan klien
3. Rencana tindak lanjut keluarga dengan follow up dan rujukan

Halusinasi TUK 1: Klien dapat membina SP 1 Pasien


hubungan saling pecaya 1. Mengenal halusinasi:
TUK 2: Klien dapat mengenal a) Isi
halusinasinya b) Frekuensi
TUK 3:Klien dapat mengontrol c) Waktu terjadi
halusinasinya. d) Situasi pencetus
TUK 4: Klien dapat e) Perasaan saat terjadi halusinasi
melaksanakan hubungan social 2. Latihan mengontrol halusinasi dengan cara:
secara bertahap a) Menghardik
TUK 5: Klien dapat b) Memasukkan dalam jadwal kegiatan pasien
mengungkapkan perasaannya SP 2 Pasien
setelah melakukan kegiatan 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1)
sehari-hari 2. Melatih berbicara dengan orang lain saat halusinasi muncul
TUK 6: Klien dapat 3. Masukkan jadwal
mengendalikan halusinasinya SP 3 Pasien
TUK 7 : Mengurangi 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 2)
membantu halusinasinya 2. Melatih kegiatan agar halusinasi tidak muncul
TUK 8 : Klien dapat dukungan 3. Masukkan jadwal
dari keluarga untuk mengontrol SP 4 Pasien
halusinasinya 1. Evaluasi jadwal pasien yang lalu (SP 1, 2, 3)
2. Menanyakan pengobatan sebelumnya
3. Menjelaskan tentang pengobatan
4. Melatih pasien minum obat (5 benar)
5. Masukkan jadwal
SP 1 Keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi dan jenis
ha;usinasi yang dialami pasien beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi
SP 2 Keluarga
1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan
halusinasi
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien
halusinasi
SP 3 Keluarga
1. Membantu keluarga membuat jadwal kegiatan aktifitas dirumah
termasuk minum obat
2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

Waham TUK 1 : Klien dapat membina SP 1 Pasien :


hubungan saling percaya. 1. Mengidentifikasi kebutuhan.
TUK 2 : Klien dapat 2. Klien bicara konteks realita.
mengidentifikasikan 3. Latih pasien untuk memenuhi kebutuhannya
kemampuan yang dimiliki 4. Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien
TUK 3 : Klien dapat SP 2 paien ;
mengidentifikasi kebutuhan 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1)
yang tidak terpenuhi. 2. Identifikasi potensi/kemampuan yang dimiliki.
TUK 4 : Klien dapat 3. Pilih dan latihan potensi kemampuan yang dimiliki.
berhubungan dengan realitas. 4. Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien
TUK 5 : Klien dapat dukungan SP 3 Pasien :
keluarga 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 2)
TUK 6 : Klien dapat 2. Memilih kemampuan lain yang dapat dilakukan.
menggunakan obat dengan 3. Pilih dan latih potensi kemampuan lain yang dimiliki.
benar. 4. Masukkan dalam jadwal.
SP 1 Keluarga :
1. Mengidentifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien.
2. Menjelaskan proses terjadinya waham.
3. Menjelaskan tentang cara merawat pasien waham.
4. Latih (stimulasi) cara merawat.
5. RTL keluarga/jadwal untuk merawat pasien
SP 2 Keluarga :
1. .Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1)
2. .Melatihkeluarga merawat langsung klien dengan harga diri rendah.
3. Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat klien.
SP 3 Keluarga :
1. Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1)
2. Evaluasi kemampuan klien.
3. Rencanakan tindakan lanjut keluarga dengan follow up dan rujukan.

Resiko TUK 1: SP 1 pasien :


Perilaku Klien dapat membina 1. Menyebutkan penyebab perilaku kekerasan
Kekerasan hubungan saling percaya 2. Menyebutkan tanda dan gejala perilaku kekerasan
(RPK) TUK 2: 3. Menyebutkan perilaku kekerasan yang dilakukan
Klien dapat mengidentifikasi 4. Menyebutkan akibat perilaku kekerasan
menyebab perilaku kekerasan 5. Menyebutkan cara mengontrol
TUK 3: 6. Mempraktikkan latihan cara mengontrol fisik
Klien dapat mengidentifikasi 7. Masuk jadwal kegiatan
tanda dan gejala perilaku SP 2 Pasien :
kekerasan 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)
TUK 4: 2. Mempraktikan latihan cara mengontrol fisik 2 latih verbal (3
Klien dapat mengidentifikasi macam).
perilaku kekerasan yang biasa 3. Masuk jadwal kegiatan pasien
dilakukan. SP 3 Pasien :
TUK 5: 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1,2) dan verbal
Klien dapat mengidentifikasi 2. Latihan secara spiritual
akibat perilaku kekerasan. 3. Masuk jadwal kegiatan pasien
TUK 6: SP 4 Pasien :
Klien dapat 1. Evaluasi kegiatan yang lalu (F1,2),Verbal (SP3),spiritual
mendemonstrasikan cara fisik 2. Latihan minum obat
untuk mencegah perilaku 3. Masuk jadwal kegiatan pasien.
kekerasan. SP 1 Keluarga
TUK 7: 1. Mengidentifikasi masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
Klien dapat pasien
mendemonstrasikan cara social 2. Menjelaskan pk.penyebab,tanda dan gejala
untuk mencegah perilaku 3. Menjelaskan cara merawat pk
kekerasan 4. Latih (stimulasi2)cara merawat
TUK 8: 5. Rtl keluarga/jadwal keluarga untuk merawat.
Klien dapat SP 2 Keluarga
mendemonstrasikan cara 1. Evaluasi SP1
spiritual untuk mencegah 2. Latih simulasi 2 cara lain untuk merawat
perilaku kekerasan 3. Latih langsungke pasien
TUK 9: 4. RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat.
Klien mendemonstrasikan SP 3 Keluarga
kepatuhan minum obat untuk 1. Evaluasi kemampua keluarga (SP1,2)
mencegah perilaku kekerasan 2. Evaluasi kemampuan pasien
TUK 10: *RTL keluarga dengan Follow Up dan rujukan
Klien mendapatkan dukungan
keluarga dalam melakukan cara
pencegahan perilaku kekerasan
TUK 11:
Klien mendapatkan dukungan
keluarga dalam melakukan cara
pencegahan perilaku kekerasan
Resiko TUK 1 : Sp 1 Pasien :
Bunuh klien dapat membina hubungan a. Membina hubungan saling percaya kepada klien
Diri (RBD) saling percaya. b. Mengidentifikasi benda- benda yang dapat membahayakan klien
TUK 2 : c. Mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan klien
Klien dapat melindungi diri d. Melakukan kontrak treatment
dari perilaku bunuh diri. e. Mengajarkan cara mengendalikan dorongan bunuh diri
TUK 3 : f. Melatih cara mengendalikan dorongan bunuh diri
Klien dapat meningkatkan Sp 2 Pasien :
harga diri. a. Mengidentifikasi aspek positif pasien
TUK 4 : b. Mendorong pasien untuk berfikir positif terhadap diri sendiri
Klien dapat melatih mekanisme c. Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai individu yang
koping konstruktif. berharga
TUK 5 : Sp 3 Pasien :
Klien mendemonstrasikan a. Evaluasi kegiatan lalu dan verbal (SP 1,2)
kepatuhan minum obat untuk b. Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien
mencegah bunuh diri. c. Menilai pola koping yang biasa dilakukan
TUK 6 : d. Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
Klien dapat mengikuti TAK : e. Mendorong pasien memilih pola koping yang konstruktif
stimulasi persepsi pencegahan f. Menganjurkan pasien menerapkan pola koping konstruktif dalam
bunuh diri. kegiatan harian
g. Masuk jadwal kegiatan pasien
Sp 4 Pasien :
a. Evaluasi kegiatan yang lalu (sp 1.2.3)
b. Membuat rencana masa depan yang realistis bersama pasien
c. Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis
d. Memberi dorongan pasien melakukan kegioatan dalam rangka
meraih masa depan yang realistis
e. Masukkan jadwal kegiatan pasien
Sp 1 Keluarga :
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan pasien kepada keluarga
b. Menjelaskan pengertian tanda dan gejala resiko bunuh diri dan jenis
perilaku yang dialami pasien beserta proses terjadinya
c. Menjelaskan cara-cara merawat pasien resiko bunuh diri yang
dialami pasien beserta proses terjadinya
Sp 2 Keluarga :
a. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan resiko
bunuh diri
b. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien
resiko bunuh diri
Sp 3 Keluarga :
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk
minum obat
b. Menjelakan follow up pasien