Anda di halaman 1dari 9

NAMA : NAUFAL FADURAHMAN.

M
NIM : 191711052
KELAS : 1B - TEN
BATUBARA SEBAGAI SUMBER ENERGI
DI INDONESIA

Sumber daya yang tidak terbarukan merupakan sumber daya alam yang dikonsumsi atau
digunakan lebih cepat daripada yang dapat dibuat oleh alam. Dua jenis utama dari sumber daya
tak terbarukan adalah bahan bakar fosil dan energi nuklir. Bahan bakar fosil, seperti minyak
bumi, batu bara, dan gas alam, terbentuk dari tumbuhan dan hewan tetap selama periode 50-350
juta tahun yang lalu.
Mereka mengambil jutaan tahun untuk terbentuk. Manusia telah mengkonsumsi bahan
bakar fosil selama kurang dari 200 tahun, namun cadangan sisa minyak dapat menyediakan
kebutuhan kita hanya sampai sekitar tahun 2055. Gas alam hanya dapat memasok kita sampai
sekitar 2085. Batubara akan bertahan lebih lama, sampai sekitar tahun 2250. Itulah mengapa
sangat penting untuk mengembangkan bentuk-bentuk energi alternatif , terutama untuk mobil
kita. Saat ini, mobil listrik menjadi lebih banyak dan lebih umum. Apa yang akan terjadi jika
kita kehabisan bensin? Penggunaan energi alternatif, khususnya di bidang transportasi, harus
menjadi fitur standar dari semua mobil dan truk dan pesawat pada pertengahan abad ini.

Bahan bakar fosil sering disebut-sebut sebagai sumber daya tidak terbarukan, sebagian
karena manusia sangat bergantung pada penggunaannya. Bahan bakar fosil adalah bahan
organik seperti batu bara, minyak, dan gas alam, yang diciptakan melalui aplikasi panas intens
dan tekanan pada bahan organik selama ribuan tahun. Meskipun Bumi tidak terus menghasilkan
bahan bakar fosil secara alami, tingkat di mana manusia menghapus sumber daya ini untuk
digunakan jauh melebihi laju perkembangan alamiah. Karena manusia tidak dapat mensintesis
proses yang bergerak lambat yang menciptakan bahan bakar fosil, mereka dianggap sumber
daya tak terbarukan.

Sumber daya tak terbarukan tidak selalu hanya berkaitan dengan produksi energi. Apa
pun yang dapat digunakan dan tidak dapat diganti adalah jenis sumber daya tidak terbarukan.
Spesies hewan yang punah karena penggunaan manusia, misalnya, dapat dianggap sebagai
sumber daya tidak terbarukan. Salah satu burung Amerika Utara disebut parkit Carolina diburu
dari keberadaan selama awal abad ke-20, yang dijadikan untuk bulu yang indah. Penggunaan
jenis pohon dan tanaman untuk obat-obatan telah mendorong banyak spesies di seluruh dunia
dalam ambang kepunahan. Meskipun kedua spesies hewan dan tumbuhan dapat diperbarui
melalui program budidaya dan kehutanan, di mana program ini tidak ada, seluruh spesies dapat
hilang dalam beberapa dekade singkat.

Penggunaan sumber daya tak terbarukan merupakan isu kontroversial dan rumit. Pada
awal abad ke-21, sebagian besar masyarakat dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil
untuk transportasi, listrik, dan segudang persyaratan dasar lainnya. Pengembangan praktek-
praktek baru yang memanfaatkan program manajemen yang tepat sumber daya energi
terbarukan dan sumber daya yang berkelanjutan. Meskipun ada upaya ini, beberapa ahli
khawatir bahwa perubahan tidak datang cukup cepat, mengarah ke krisis global ketika sumber
daya tak terbarukan menghilang.

Pertumbuhan penduduk, terutama di negara-negara berkembang, harus membuat orang


berpikir tentang seberapa cepat mereka mengkonsumsi sumber daya. Pemerintah di seluruh
dunia harus secara serius mempertimbangkan masalah ini. Negara-negara berkembang juga
akan meningkatkan tuntutan pada sumber daya alam karena mereka membangun lebih banyak
pabrik. Perbaikan dalam teknologi, konservasi sumber daya, dan kontrol dalam pertumbuhan
penduduk semua bisa membantu untuk mengurangi permintaan pada sumber daya alam.

Permasalahan energi di Indonesia, sebagaimana juga pada komunitas global, sangat


kompleks dan sarat muatan politis sehingga perlu penanganan serius. Sebagai contoh, kenaikan
harga BBM pada tanggal 23 Mei 2008 telah memicu gelombang demonstrasi yang anarkis dan
bahkan persetujuan hak angket di DPR. Permasalahan energi juga saling terkait dengan
kemiskinan, penurunan kualitas hidup, keresahan sosial dan kerusakan lingkungan hidup.

(Konsumsi Energi Fosil. Sumber : katadata.co.id)


Beberapa permasalahan energi yang dihadapi Indonesia, adalah :

1. Konsumsi dan ketergantungan pada BBM sangat tinggi sehingga memaksa


Indonesia menjadi importir BBM;
2. Perilaku boros masyarakat menggunakan BBM;
3. Rendahnya akses masyarakat (daya beli) untuk memperoleh energi;
4. Industri energi belum optimal dan produksi cenderung menurun;
5. Maraknya penyeludupan BBM bersubsidi dan pengoplosan BBM.
6. Pasokan dan distribusi BBM sering tidak lancar dan tidak merata;
7. Konversi dan diversifikasi energi berjalan lambat;
Coal
Renewables

Nuclear energy
Natural gas

(Survey Konsumsi Energi Fosil Di Dunia Tahun 2010. Sumber : bp-stats-review.com)

Dalam grafik survey diatas, dapat dilihat bahwa konsumsi sumber daya yang paling
banyak digunakan di dunia adalah batu bara (coal). Di Indonesia, kebutuhan masyarakat akan
listrik sebagian besar ditopang oleh batubara. Setidaknya 73% dari listrik Indonesia di topang
oleh batubara. Sebelumnya, batubara merupakan bahan bakar fosil yang berasal dari endapan
organik, seperti tumbuh - tumbuhan, dan terbentuk setelah melewati proses jutaan tahun.
Batubara kini telah menjadi sumber utama penyumbang kebutuhan listrik di Indonesia.
Pemerintah meyakini bahwa batubara merupakan sumber energi termurah dibandingkan sumber
energi lainnya. Itu sebabnya, batubara akan menopang kebutuhan listrik Indonesia hingga tahun
2050, menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar.

Hal ini terbukti melihat tercatatnya pembangkit listrik yang berbasis batubara masih
mendominasi kebutuhan listrik di Indonesia sebesar 24.883 MW atau 48% dari total kapasitas
pembangkit di dalam negeri 52.231 MW pada awal 2018. Mengingat Indonesia merupakan
negara yang kaya dengan sumber daya alamnya, kebutuhan akan batubara tentu mudah dipenuhi
dengan mengeruk pulau seperti pulau Sumatera dan Kalimantan.

Penambangan batu bara di Kalimantan. (Sumber : cnnindonesia.com)

Dengan tingkat produksi saat ini (dan apabila cadangan baru tidak ditemukan), cadangan
batubara global diperkirakan habis sekitar 112 tahun ke depan. Cadangan batubara terbesar
ditemukan di Amerika Serikat, Russia, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan India. Produsen
Batubara Terbesar pada Tahun 2016 Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2017

Volume Produksi
Negara
(setara juta ton minyak)

China 1685.7

Amerika Serikat 364.8

Australia 299.3

India 288.5

Indonesia 255.7

Russia 192.8

Afrika Selatan 142.4


(Shares of global primary energy consumption by fuel Percentage. Source : bp-stats-
review.com)

Berdasarkan data-data yang telah ditampilkan diatas, dunia berlomba-lomba untuk


berusaha memenuhi kebutuhan energi di negara mereka. Batubara menjadi pilihan untuk
dijadikan modal untuk melakukan konversi energi menjadi energi listrik. Dengan demikian,
banyak bermuculan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara adalah sebuah instalasi pembangkit
tenaga listrik menggunakan mesin turbin yang diputar oleh uap yang dihasilkan melalui
pembakaran batubara. PLTU batubara adalah sumber utama dari listrik dunia saat ini. Sekitar
60% listrik dunia bergantung pada batubara karena biaya PLTU batubara.

(Cara Kerja PLTU Batubara. Sumber : ptm-production.com)


Cara kerja PLTU batubara, mula-mula batubara dari luar dialirkan ke penampung
batubara dengan conveyor, kemudian dihancurkan menggunakan pulverized fuel coal . Tepung
batubara halus kemudian dicampur dengan udara panas oleh forced draught .Dengan tekanan
yang tinggi, campuran tersebut disemprotkan ke dalam boiler sehingga akan terbakar dengan
cepat seperti semburan api. Kemudian air dialirkan ke atas melalui pipa yang ada di dinding
boiler.

Air dimasak menjadi uap kemudian uap dialirkan ke tabung boiler untuk memisahkan
uap dari air yang terbawa. Selanjutnya uap dialirkan ke superheater untuk melipatgandakan suhu
dan tekanan uap hingga mencapai suhu 570° C dan tekanan sekitar 200 bar yang meyebabkan
pipa akan ikut berpijar menjadi merah.Untuk mengatur turbin agar mencapai set point,
dilakukan dengan men-setting steam governor valve secara manual maupun otomatis. Uap
keluaran dari turbin mempunyai suhu sedikit di atas titik didih, sehingga perlu dialirkan ke
condenser agar menjadi air yang siap untuk dimasak ulang.

Sedangkan air pendingin dari condenser akan di semprotkan kedalam cooling tower
sehingga menimbulkan asap air pada cooling tower. Air yang sudah agak dingin dipompa balik
ke condenser sebagai air pendingin ulang. Sedangkan gas buang dari boiler diisap oleh kipas
pengisap agar melewati electrostatic precipitator untuk mengurangi polusi dan gas yang sudah
disaring dibuang melalui cerobong.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementrian Energi dan Sumber Daya
Mineral, Bambang Gatot Ariyono pada laman Kompas.com tanggal 26 Juli 2019 mengatakan
bahwa cadangan produksi batubara mencapai 41 miliar ton dan dapat digunakan hingga tahun
2100.

Hal ini disebut apabila produksi batubara per tahun tetap stabil di angka 400-500-an juta
ton per tahun. Terlebih lagi Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028,
pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 56.6 Giga Watt
(GW) atau rata-rata 5.6 GW/tahun.

Angka tersebut masih didominasi bahan bakar sektor batubara dengan perolehan 27.1
GW atau 44% dari total. Hal ini didukung data yang dihasilkan dari Institute for Essential
Services Reform (IESR) bahwa lebih dari 88% dari listrik yang dihasilkan berasal dari bahan
bakar fosil, 60% diantaranya berasal dari batubara, 22% dari gas alam dan 6% dari minyak. 12%
sisanya berasal dari energi terbarukan. Produksi batubara seperti yang kita tau menimbulkan
emisi CO2 di udara lebih banyak dibandingkan PLT yang lain.

Hasil data penelitian Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengenai perhitungan
faktor emisi CO2 PLTU batubara dan PLTN. Tiga PLTU yakni PLTU Indramayu, PLTU
Rembang dan PLTU Banten menghasilkan 16.309,4 Kilo Ton CO2 per tahun dari kapasitas
produksi nya mencapai 2220 Mega Watt.
Bayangkan apabila total PLTU di Indonesia yang memiliki kapasitas energi mencapai
27.1 GW dihitung potensi emisi karbon yang dihasilkan, maka akan diperoleh data mencapai
lebih dari 20 Terra Giga Ton CO2 yang terlepas diudara. Emisi karbon yang terlepas ke udara
dapat menimbulkan banyak permasalahan tak hanya bagi manusia.

Namun, dibalik berlimpahnya komoditas batubara yang dapat dimanfaatkan Indonesia


untuk memenuhi kebutuhan listriknya, Indonesia harus menghadapi kerugian yang cukup dalam.
Nyatanya, pengunaan batubara telah terbukti merusak lingkungan dan masalah kesehatan. Dari
segi lingkungan, penggunaan batubara menyebabkan berbagai pencemaran yang kemudian
merusak lingkungan. Sebagai contoh, limbah batubara yang dibuang ke tanah dan ke air
akhirnya merusak tanah dan air yang digunakan untuk pertanian dan menyebabkan kerusakan
lahan pertanian yang menyebabkan berkurangnya produksi dari pertanian berdasarkan data yang
diperoleh oleh Greenpeace. Kalimantan adalah salah satu pulau yang merasakan dampaknya.
Jumlah rumah tangga pertanian di kota Samarinda menurun sebesar 50% selama 10 tahun
terakhir, menyebabkan penurunan produksi beras di kota Samarinda.
Kerusakan lingkungan juga nyatanya menyebabkan kematian. Bekas kerukan barubara
juga nyatanya membunuh masyarakat yang ada di sekitar pertambangan tersebut. Setidaknya
tercatat 32 anak -- anak yang ditemukan tenggelam di lubang bekas tambang batubara di
Kalimantan Timur pada bulan November 2018. Dan mirisnya, masalah ini telah terjadi sejak
tahun 2011, namun pemerintah saja belum turun tangan akan permasalahan tersebut.

Seakan hal tersebut masih belum cukup, penggunaan batubara sebagai pembangkit
listrik nyatanya menimbulkan polusi udara yang didalamnya terkandung senyawa merkuri,
timbal, arsenik dan kadmium yang beracun bagi tubuh. Hal tersebut menyebabkan peningkatan
risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan. Angka estimasi
kematian dini akibat PLTU batubara yang saat ini sudah beroperasi, mencapai sekitar 6.500 jiwa
per tahun di Indonesia.

Akan tetapi teknologi tengah memikirkan untuk solusi dari dampak-dampak mengerikan
di atas. Perkembangan teknologi selalu berkembang seiring berjalannya kebutuhan umat
manusia. Untuk mencegah dampak kerusakan lingkungan dan kesehatan batu bara dengan
menggunakan teknologi gasifikasi batubara.

Gasifikasi adalah proses di mana bahan bakar karbon mentah dioksidasi untuk
menghasilkan produk bahan bakar gas lainnya (other gaseous combustible products).

Produk Utama gasifikasi adalah gas sintesis atau syngas, yang komponen utamanya
terdiri dari gas karbon monoksida (CO), hidrogen, karbon dioksida (CO2) dan nitrogen.
Teknologi gasifikasi batubara dibagi ke dalam tiga besar, fixed bed, fluidized bed, dan entrained
flow. Tipe Entrained flow terdiri dua, slurry feed and dry feed.
(Gasification Coal Process. Source : bisakimia.com)

Teknologi gasifikasi batubara yang menghasilkan syngas tadi kemudian bisa dikonversi
selanjutnya menjadi produk hilir (downstream products) seperti methanol, DME,
Pupuk, Polypropylene dan berbagai produk bernilai tinggi lainnya.

Untuk bisa mewujudkan investasi gasiifikasi batubara menjadi feasible dikembangkan


di Indonesia setidaknya ada tiga aspek utama yang mesti dievaluasi antara lain:

1. Aspek engineering dan teknologi. Teknologi gasifikasi sudah banyak dikembangkan di


dunia dan banyak negara maju yang membangun pabrik-pabrik gasifikasi batubara untuk
menghasilkan berbagai ragam produk untuk kebutuhan energi dan petrokimia di dalam
negerinya dan menumbuhkan industri-industri hilir dengan memanfaatkan batubara
kalori rendah ini. Teknologi gasifikasi sudah terbukti secara komersial di dunia.
2. Aspek sosial dan Lingkungan. Pabrik gasifikasi batubara dan teknologinya dapat
didesain untuk memenuhi hukum dan regulasi lingkungan di setiap negara seperti
ambang batas emisi, batas buangan hidrokarbon (hydrocarbon effluent limits), dan
sebagainya. Dengan membangun fasilitas gasifikasi batubara di Indonesia kita bisa men-
drive pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan standar kesejahteraan masyarakat di
daerah atau wilayah dimana industri ini dibangun.
3. Aspek keekonomian. Investasi kapital (CAPEX), Biaya pengoperasian (OPEX) dan
return on investment (ROI) seperti perhitungan NPV dan IRR seharusnya bisa
menjustifikasi bahwa investasi ini layak secara ekonomi dan dapat direalisasikan.
4. Saat ini, batubara kalori rendah di kisaran USD 40 – 50/Metric Ton atau harga kurang
dari USD 2.0/MMBTU. Harga batubara dianggap lebih stabil dari waktu ke waktu
dibandingkan harga minyak dan gas alam.
5. Perhitungan keekonomian telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa ini sangat
menjanjikan untuk direalisasikan.

Teknologi gasifikasi diklaim sebagai teknologi batubara yang bersih dan efisien.
Diperkirakan di awal abad ke-21, PLTU-batubara dengan teknologi gasifikasi akan
mengeluarkan 99 % lebih sedikit sulfur dioksida (SO2) dan abu terbang, serta 90 % kurang
nitrogen oksida (NOx) dari PLTU-batubara masa kini. PLTU-batubara gasifikasi juga
diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon dioksida (CO2) dengan 35 – 40 %, menurunkan
buangan padat dengan 40 – 50 % dan menghasilkan penghematan biaya daya 10 – 20 %. Karena
memiliki cadangan batubara yang cukup besar, terutama yang berupa lignit, teknologi gasifikasi
di masa mendatang menjadi sangat penting bagi Indonesia .