Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN


NUTRISI PADA PASIEN DENGAN KEADAAN UMUM LEMAH DI
RUANG/UNIT DAHLIA RUMAH SAKIT
DR. H. KOESNADI BONDOWOSO

oleh:

Anggario Eka Kifliannur

NIM 142310101140

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

BONDOWOSO

2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Tugas Program Profesi Ners Stase KDP yang disusun oleh:

Nama : Anggario Eka Kifliannur


NIM : 192311101136

Telah diperiksa dan disahkan pada :

Hari :
Tanggal :

Jember, September 2019

FAKULTAS KEPERAWATAN

Mengetahui,

PJ Program Profesi Ners, PJMK

Ns. Erti Ikhtiarini D., S.Kep.,M.Kep., Sp.Kep.J. Ns. Ahmad Rifai, MS


NIP. 19811028 200604 2 002 NIP. 19850207 201504 1 001

Menyetujui,
Wakil Dekan 1

Ns. Wantiyah, M. Kep.


NIP. 19810712 200604 2 001

ii
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN

Laporan Asuhan Keperawatan berikut disusun oleh :

Nama : Anggario Eka Kifliannur


NIM : 142310101140
Judul : ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PEMENUHAN
KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN DENGAN
KEADAAN UMUM LEMAH DI RUANG DAHLIA RSD
DR. H. KOESNADI BONDOWOSO

telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada :

Hari :
Tanggal :

Bondowoso, September 2019

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik,

Ns. Alfid Tri Afandi, M. Kep. Sutanti Pusposari, S. Kep., Ns.


NRP 760016845 NIP. 197910152006042027

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ASUHAN KEPERAWATAN ...................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iv
LAPORAN PENDAHULUAN .................................................................... 1
A. Definisi Gangguan Kebutuhan Nutrisi....................................................
B. Epidemiologi ...........................................................................................
C. Etiologi ....................................................................................................
D. Tanda dan Gejala ....................................................................................
E. Patofisiologi dan Clinical Pathway ........................................................
F. Penatalaksanaan Medis ...........................................................................
G. Penatalaksanaan Keperawatan ................................................................
a. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul (PES) ...........................
b. Perencanaan Nursing Care Plan ........................................................
H. Penatalaksanaan berdasarkan evidence based prctice in nursing ...........
I. Daftar Pustaka .........................................................................................

iv
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi Gangguan Kebutuhan Nutrisi


Pemenuhan nutrisi merupakan aktivitas memasukkan, mencerna, dan
menggunakan nutrien untuk tujuan pemeliharaan jaringan, perbaikan jarngan, dan
produksi energi (Hearman dan Kamitsuru, 2018). Nutrisi merupakan elemen
penting untuk proses dan fungsi tubuh. Enam kategori zat makanan adalah air,
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral (Potter & Perry, 2010). Nutrisi
adalah zat-zat yang terdapat dalam makanan baik yang berasal dari zat kimia
organik atau anorganik yang diperlukan oleh tubuh agar tubuh dapat berfungsi
dengan baik. Pemenuhan kebutuhan nutrisi tidak hanya untuk menghilangkan rasa
lapar namun juga mempunyai banyak fungsi. Fungsi umum dari nutrisi yaitu
sebagai sumber energi, mengganti sel-sel yang rusak, memelihara jaringan tubuh,
mempertahankan vitalitas tubuh dan lain sebagainya. Pemenuhan kebutuhan
nutrisi perlu diperhatikan juga zat gizi atau nutriennya (Asmadi, 2008).
Nutrien (zat gizi) adalah komponen kimia dalam makanan yang digunakan
oleh tubuh sebagai sumber energi dan membantu pertumbuhan, perbaikan, dan
perawatan sel-sel tubuh (James, 2008). Kebutuhan energi dipenuhi dengan
metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Air adalah komponen tubuh vital
dan bertindak sebagai penghancur zat makanan. Vitamin dan mineral tidak
menyediakan energi, tetapi penting untuk proses metabolisme dan keseimbangan
asam basa (Potter & Perry, 2010). Kebutuhan energi dipenuhi dengan
metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Air adalah komponen tubuh vital
dan bertindak sebagai penghancur zat makanan. Vitamin dan mineral tidak
menyediakan energi, tetapi penting untuk proses metabolisme dan keseimbangan
asam basa (Potter & Perry, 2010).
Fungsi utama nutrisi adalah untuk memberi energi bagi aktivitas tubuh,
membentuk struktur kerangka dan jaringan tubuh, serta mengatur berbagai proses
kimia didalam tubuh. Berdasarkan jenisnya protein dibedakan menjadi 2 yaitu
makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien merupakan makanan utama yang

1
membina tubuh dan memberikan tenaga. Makronutrien terdiri dari lemak, protein,
dan karbohidrat. Sedangkan mikronutrien merupakan komponen yang diperlukan
agar makronutien dapat berfungsi dengan baik. Mikronutrien terdiri dari vitamin
dan mineral (Asmadi, 2008).
Gangguan nutrisi merupakan keadaan akibat dari kekurangan atau
kelebihan kandungan nutrien yang dibutuhkan oleh tubuh. Gangguan ini dapat
disebabkan oleh kekurangan salah satu komponen atau lebih dari satu komponen
penyusun nutrien. Nutrien merupakan komponen yang penting dibutuhkan oleh
tubuh untuk pemeliharaan jaringan, perbaikan jarngan, dan produksi energi.
Apabila kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi secara adekuat, maka akan
menyebabkan fungsi nutrien dalam tubuh menjadi tidak optimal dan terjadi
gangguan (Asmadi, 2008).

B. Epidemiologi
Data Global Nutrition Report (2014) menyebutkan bahwa Indonesia
termasuk negara yang memiliki masalah gizi yang kompleks. Hal ini ditunjukkan
dengan tingginya prevalensi stunting, prevalensi wasting, dan permasalahan gizi
lebih. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi gizi kurang pada balita
(BB/U<-2SD) memberikan gambaran yang fluktuatif dari 18,4 persen (2007)
menurun menjadi 17,9 persen (2010) dan kini meningkat lagi menjadi 19,6 persen
(tahun 2013). Obesitas sentral merupakan kondisi sebagai faktor risiko yang
berkaitan erat dengan beberapa penyakit kronis. Dikatakan obesitas sentral apabila
laki-laki memiliki lingkar perut >90 cm, atau perempuan dengan lingkar perut >80
cm. Secara nasional, prevalensi obesitas sentral adalah 26.6 persen, lebih tinggi
dari prevalensi pada tahun 2007 (18,8%). Selanjutnya, masalah stunting atau
pendek pada Balita ditunjukkan dengan angka nasional 37,2 persen (Depkes RI,
2015).

2
C. Etiologi
1. Status kesehatan
Nafsu makan yang baik adalah tanda yang sehat, tetapi pada beberapa orang
dapat terjadi penurunan nafsu makan yang dapat diakibatkan karena gejala
penyakit atau efek samping obat sehingga dapat menyebabkan gangguan
masukan nutrisi.
2. Status sosioekonomi
Status sosiekonomi yang rendah dan tingkat pengetahuan terkait pola makan
yang baik akan mempengaruhi konsumsi seseorang terhadap makanan
sehingga akan mempengaruhi status nutrisi seseorang.
3. Pilihan pribadi
Kesukaan dan ketidaksukaan seseorang terhadap suatu jenis makanan akan
mempengaruhi status nutrisinya. Hal ini dapat diakibatkan karena seseorang
hanya mengkonsumsi satu jenis tertentu saja dengan kurang memperhatikan
asupan nutrisi secara seimbang.
4. Faktor psikologi
Motivasi individu untuk makan makanan yang seimbang dan persepsi
individu untuk diet merupakan pengaruh yang kuat terhadap status nutrisi
seseorang. Suatu jenis makanan mempunyai nilai simbolik yang kuat bagi
banyak orang, misalnya susu menyimbolkan kelemahan dan daging
menyimbolkan kekuatan.
5. Alkohol dan obat
Penggunaan alkohol dan obat yang berlebihan memberi kontribusi pada
defisiensi nutrisi yang dapat diakibatkan dengan kondisi keuangan yang
terfokus pada alkohol dan obat. Selain itu alkohol juga dapat mempengaruhi
organ gastrointestinal. Obat-obatan jenis tertentu dapat menekan nafsu makan
yang dapat menurunkan asupan zat gizi esensial. Selain itu obat-obatan juga
menghabiskan zat gizi yang tersimpan dan mengurangi absopsi zat gizi di
dalam intestinal.
6. Kesalahan informasi dan keyakinan terhadap makanan

3
Keyakinan terhadap makanan sering melibatkan keyakinan yang salah bahwa
makanan tertentu memberikan efek yang salah ditafsirkan (Potter & Perry,
2010).

D. Tanda dan Gejala


Terdapat beberapa gangguan nutrisi yang dapat terjadi pada seseorang di
antaranya, ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh, obesitas,
berat badan berlebih dan gangguan menelan (Hearman dan Kamitsuru, 2015).
Keadaan nutrisi seseorang erat kaitannya dengan Index Massa Tubuh (IMT) atau
Body Mass Index (BMI), sehingga sebelum menentukan status nutrisi seseorang
perlu diketahui nilai IMT seseorang. Nilai IMT didapatkan dari berat badan (kg)
dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan (m2). Berikut ini merupakan klasifikasi
IMT, yaitu:
Tabel 1.1 Klasifikasi IMT
Klasifikasi IMT
Berat badan kurang < 18,5
Berisiko 23-24,9
Obes I 25-29,9
Obes II >30
Sumber: World Health Organization (WHO)
Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada keadaan ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh antara lain: (Hearman dan Kamitsuru, 2015)
a. Berat badan 20% atau lebih di bawah rentang berat badan ideal
b. Bising usus hiperaktif
c. Cepat kenyang setelah makan
d. Diare
e. Gangguan sensasi rasa
f. Kehilangan rambut berlebihan
g. Kelemahan otot pengunyah
h. Kelemahan otot untuk menelan
i. Kerapuhan kapiler
j. Kesalahan informasi
k. Kesalahan persepsi

4
l. Ketidakmampuan untuk makan
m. Kram abdomen
n. Kurang minat pada makanan
o. Kurang informasi
p. Membran mukosa pucat
q. Nyeri abdomen
r. Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat
s. Sariawan
t. Tonus otot menurun
Tanda dan gejala obesitas yaitu:
a. Anak usia 2-18 tahun: BMI >30 kg/m2 persentil > ke 95 untuk usia dan
jenis kelamin
b. Dewasa: BMI >30kg/m2
Tanda dan gejala berat badan berlebih:
a. Anak <2tahun: persentil BB terhadap tinggi badan > ke 95
b. Anak 2-18 tahun: BMI persentil > ke 85 tetapi < ke 95 atau 25kg/m2
c. Dewasa: BMI >25 kg/m2
Tanda dan gejala gangguan menelan yaitu:
a. Abnormalitas pada fase oral saat pemeriksaan menelan
b. Batuk sebelum menelan
c. Mengunyah tidak efisien
d. Muntah sebelum menelan
e. Tersedak sebelum menelan
f. Waktu makan lama dengan konsumsi yang tidak adekuat
g. Menolak makan.

5
E. Patofisiologi dan Clinical Pathway
Tubuh manusia mempunyai kebutuhan esensial terhadap nutrisi, meskipun
tubuh dapat bertahan tanpa makanan lebih lama daripada cairan. Kebutuhan
nutrisi mungkin tidak terpenuhi pada manusia dalam berbagai usia. Proses
metabolik tubuh mengontrol pencernaan, megeluarkan produk sampah, dan
menyimpan zat makanan. Mencerna dan menyimpan zat makanan merupakan hal
yang penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh (Potter dan Perry, 2010).
Nutrisi merupakan bagian dari komponen yang penting dalam menunjang
keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan dimana hal ini menjadi
kebutuhan tumbuh kembang selama proses pertumbuhan dan perkembangan.
Kebutuhan zat gizi yang diperlukan antara lain: karbohidrat, lemak, mineral,
vitamin, dan air (Hidayat 2005 dalam Indriyani 2013). Gangguan pada nutrisi
tubuh dapat menyebabkan beberapa masalah antara lain:
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Penyakit saluran pencernaan sehingga terjadi erosi mukosa lambung.
Setelah itu tonus dan peristaltik lambung menurun sehingga menyebabkan refluk
duodenum ke lambung terjadi mual dan muntah dan diangkat diagnosa
keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Selain itu diagnosa tersebut
dapat disebabkan oleh status kesehatan yang menurun kemudian otot menelan
menjadi lemah dan terjadilah gangguan menelan makanan sehingga asupan nutrisi
tidak terpenuhi dan pasien mengalami penurunan berat badan (Aditya, 2014).
b. Berat badan berlebih
Pertumbuhan membutuhkan metabolisme. Hal ini menyebabkan terjadinya
peningkatan intake nutrisi sehingga kebutuhan energi meningkat.
Seseorangmenjadi mudah lapar dan nafsu makan meningkat, sering makan dan
terjadi peningkatan berat badan (Aditya, 2014).
c. Gangguan menelan
Gangguan pada struktur oral, faring atau esofagus antara lain sariawan dan
nyeri pada faring menyebabkan seseorang mengalami kesulitan menelan. Pada
keadaan lain dapat juga menyebabkan muntah dan bisa menyebabkan
kekuranganvolume cairan (Herdman dan Kamitsuru, 2015).

6
Penyakit

Kebutuhan metabolisme Obat-obatan yang


Penyakit saluran pencernaan Gangguan pada struktur oral untuk pertumbuhan dikonsumsi setiap hari

Mengkonsumsi makanan kesukaan


Gangguan pada stuktur
Erosi mukosa lambung
Kelemahan otot menelan gastrointestinal
Asupan nutrisi tidak seimbang

Menurunnya tonus dan Peningkatan intake nutrisi Mual dan Muntah terus menerus
peristaltik lambung Kesulitan menelan makanan

Nafsu Makan menurun


Kebutuhan energi
Refluksi duodenum ke Motivasi untuk makan meningkat
lambung
Mudah lapar
Asupan nutrisi tidak terpenuhi
Distraksi Abdomen Kekurangan volume
Nafsu makan cairan
Penurunan berat badan meningkat
Mual
Sering makan
Gangguan
Muntah Menelan

Peningkatan berat badan


Nafsu Makan
Berat badan berlebih

Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari


kebutuhan tubuh 7
F. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis untuk nutrisi antara lain:
1. Terapi Farmakologi
Nutrisi oral adalah pemberian nutrien kepada tubuh secara alami lewat mulut.
nutrisi oral merupakan tindakan yang umumnya dilakukan di bawah
pengawasan ahli gizi. Namun dengan semakin kompleksnya suplemen gizi
yang ada di samping sejumlah suplemen juga hanya dapat diperoleh dengan
resep dokter seperti suplemen imunonutrisi, maka nutrisi oral dengan
suplemen gizi klinik atau kerjasama yang baik antar dokter dan ahli gizi
(Hartono, 2006).
2. Nutrisi enteral
Nutrisi enteral diindikasikan pada pasien yang tidak bisa makan cukup, tapi
memiliki usus yang masih berfungsi. Penurunan kesadaran, disfagia,
obstruksi esofagus, hilangnya gizi akibat fistula atau stoma, semua penyakit
berat seperti pasca operasi, sesudah radioterapi atau kemoterapi, luka bakar.
Pemberian dapat berupa selang nasogastrik berukuran kecil biasanya dapat
ditoleransi dengan baik. Apabila terdapat obstruksi esofagus atau makana
yang harus diberikna dalam waktu yang lama. Selang dapat dimasukkan
langsung ke lambung melalui dinding abdomen (Rubenstein et al, 2007).
3. Nutrisi parenteral
Nutrisi parenteral diindikasikan bila pemberian makanan melalui usus tidak
memungkinkan untuk dilakukan karena penurunan fungsi usus, pasca operasi
ileus, atau hilangnya kandungan usus akibat fistula. Pemberian nutrisi
parenteral dapat merupakan tambahan untuk pemberian makanan melalui oral
atau enteral atau menjadi satu-satunya sumber gizi nutrisi parenteral total
(Rubenstein et al, 2007).
4. Penatalaksanaan Keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan dadapat dilakukan untuk pencegahan
gangguan nutrisi dengan melakukan melakukan komunikasi, informasi, dan
edukasi (KIE) tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh kepada masyarakat di
tingkat puskesmas maupun di tingkat rumah sakit.

8
5. Pengkajian Khusus Sistem Pencernaan dan Gangguan Pemenuhan Nutrisi
1) Identitas Klien
2) Riwayat Kesehatan
a) Diagnosa Medik
Diagnosa medik yang dapat mengakibatkan gangguan pemenuhan
nutrisi selain dari masalah kesehatan pada sistem pencernaan juga
dapat diakibatkan oleh sistem yang lain misalnya sistem
kardiovaskular dan sistem respirasi.
b) Keluhan Utama
Keluhan utama yang bisa muncul pada gangguan pemenuhan
nutrisi adalah anoreksia (mual dan muntah), nyeri pada bagian
sistem pencernaan.
c) Riwayat kesehatan terdahulu
Riwayat kesehatan yang bisa memunculkan gangguan pemenuhan
kebutuhan adalah penyakit sistem pencernaan misalnya
gastroenteritis, sariawan, apendiksitis, dll.
d) Riwayat penyakit keluarga
3) Pengkajian keperawatan
a) Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan terkait dengan
penyakit, makanan, pola makan, kebersihan makanan dapat
berpengaruh terhadap gangguan pada pemenuhan nutrisi.
b) Pola nutrisi/ metabolik (ABCD) (saat sebelum sakit dan saat di
rumah sakit)
Terdiri dari:
Antropometry
BB, TB/PB, BB ideal, body mass index, triceps skinfold, mid-arm
curcumference, mid-arm muscle area.
biomedical sign:
Hb, albumin, limfosit total, transferrin serum, urinary urea
nitrogen, creatinin urin.

9
Clinical Sign:
Kulit, rambut dan kuku, membran mukosa, tes neurobiologis
Diet Pattern (intake makanan dan cairan):
Asupan makanan 24 jam terakhir, frekuensi makan, kebiasaan
makanan, riwayat diet: kebiasaan makan (waktu, jenis, jumlah),
makanan yang disukai dan tidak disukai, pembatasan makanan,
termasuk intake cairan: jenis dan jumlah dalam 24 jam.
c) Pola Eliminasi (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
BAK
Frekuensi, jumlah, warna, bau, karakter, berat jenis, alat bantu,
kemandirian, keluhan, gangguan BAK
BAB
Frekuensi, jumlah, warna, bau, karakter, alat bantu, kemandirian,
keluhan, gangguan BAB
Balance cairan= Input – output (dalam 24 jam)
4) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum
Keadaan umum yang biasanya tampak pada pasien dengan
gangguan nutrisi yaitu lemas. Dengan keluhan mual dan muntah.
b) Pengkajian Fisik Head to toe (Inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi)
Pengkajian fisik khusus pada pasien dengan gangguan pemenuhan
nutrisi yaitu fokus terhadap sistem pencernaan pasien dari mulut
sampai anus. Pemeriksaan abdomen, pemeriksaan kulit juga
diperlukan

G. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul (PES)
1) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (00002),
asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Berhubungan dengan kondisi terkait:

10
a) Asupan diet kurang
Ditandai dengan batasan karakteristik:
a) Kram abdomen
b) Nyeri abdomen
c) Gangguan sensasi rasa
d) Berat badan 20% atau lebih di bawah rentang berat badan ideal
e) Kerapuhan kapiler
f) Diare
g) Kehilangan rambut berlebihan
h) Enggan makan
i) Asupan makanan kurang dari recomended daily allowance (RDA)
j) Bising usus hiperaktif
k) Kurang informasi
l) Kurang minat pada makanan
m) Tonus otot menurun
n) Kesalahan informasi
o) Kesalahan persepsi
p) Membran mukosa pucat
q) Ketidakmampuan memakan makanan
r) Cepat kenyang setelah makan
s) Sariawan rongga mulut
t) Kelemahan otot pengunyah
u) Kelemahan otot untuk menelan
v) Penurunan berat badan dengan asupan makan adekuat

2) Gangguan menelan (00103), fungsi abnormal mekanisme menelan


yang dikaitkan dengan defisit struktur atau fungsi oral, faring, atau
esofagus.
Berhubungan dengankondisiterkait:
a) Masalah perilaku makan
b) Gangguan perilaku mencederai-diri

11
Ditandai dengan batasan karakteristik:
Tahap pertama: Oral
a) Abnormalitas pada fase oral pada pemeriksaan menelan
b) Tersedak sebelum makan
c) Batuk sebelum menelan
d) Ngiler
e) Makanan jatuh dari mulut
f) Makanan terdorong keluar dari mulut
g) Muntah sebelum menelan
h) Ketidakmampuan membersihkan rongga mulut
i) Bibir tidak menutup rapat
j) Mengunyah tidak efisien
k) Refluks nasal
l) Piecemeal deglutition
m) Makanan terkumpul di sulkus lateral
n) Bolus masuk terlalu cepat
o) Pembentukan bolus terlalu lambat
p) Waktu makan lama dengan konsumsi yang tidak adekuat
q) Kerja lidah tidak efektif pada pembentukan bolus
Tahap kedua: Faring
a) Abnormalitas pada fase faring pada pemeriksaan menelan
b) Gangguan posisi kepala
c) Tersedak
d) Batuk
e) Keterlambatan menelan
f) Demam dengan etiologi tidak jelas
g) Menolak makanan
h) Ingin muntah
i) Suara seperti kumur
j) Ketidakadekuatan elevasi laring
k) Refluks nasal

12
l) Infeksi paru berulang
m) Menelan berulang
Tahap ketiga: Esofagus
a) Abnormalitas pada fase esofagus pada pemeriksaan menelan
b) Pernapasan bau asam
c) Bruksisme
d) Kesulitan menelan
e) Nyeri epigastrik
f) Menolak makan
g) Nyeri uluhati
h) Hematemesis
i) Hiperekstensi kepala
j) Bangun malam hari
k) Batuk malam hari
l) Odonofobia
m) Regurgutasi
n) Menelan berulang
o) Keluhan “ada yang menyangkut”
p) Kegelisahan yang tidak jelas seputar waktu makan
q) Pembatasan volume
r) Muntah
s) Muntahan di bantal\

3) Berat badan berlebih (00233), suatu kondisi ketika individu mengalami


penumpukan kelebihan lemak menurut usia dan gender
Berhubungan dengankondisiterkait:
a) Rata-rata aktivitas fisik harian kurang dari yang dianjurkan
menurut gender dan usia
b) Konsumsi minuman bergula
c) Gangguan perilaku makan
d) Gangguan persepsi makan

13
e) Penggunaan energi dibawah asupan energi berdasarkan pengkajian
standar
f) Konsumsi alkohol berlebihan
g) Takut kekurangan suplai makanan
h) Sering makan kudapan
i) Frekuensi makanan restauran atau gorengan tinggi
j) Kurang pengetahuan tentang faktor yang dapat diubah
k) Asupan kalsium diet pada anak rendah
l) Ukuran porsi lebih besar dari yang dianjurkan
m) Perilaku kurang gerak yang terjadi selama ≥2 jam/hari
n) Waktu tidur memendek
o) Gangguan tidur
p) Makanan padat sebagai sumber makanan utama pada usia <5 bulan
Ditandai dengan batasan karakteristik:
a) Dewasa: Body mass index (BMI) >30 kg/

14
b. Perencanaan Nursing Care Plan
Masalah
No. NOC NIC
Keperawatan
1. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam NIC: Manajemen gangguan makan
nutrisi: kurang dari pasien menunjukkanhasil: (1030)
kebutuhan tubuh 1. Monitor asupan kalori
Status nutrisi(1004) 2. Observasi klien selama dan setelah
(00002)
Tujuan pemberian makan untuk meyakinkan
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5 bahwa asupan makanan cukup tercapai
1. Asupan gizi V dan dipertahankan.
2. Asupan makanan V 3. Timbang berat badan pasien secara rutin
3. Asupan cairan V (pada hari yang sama dan setelah
4. Energi V BAB/BAK)
Rasio berat badan/ V 4. Monitor intake dan asupan cairan secara
5. tepat
tinggi badan
6. Hidrasi V 5. Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang
Keterangan: baik dengan klien
1. Keluhanekstrime 6. Rundingkan dengan ahli gizi dalam
2. Keluhanberat menentukan asupan kalori harian yang
3. Keluhansedang diperlukan
4. Keluhanringan NIC: Manajemen Nutrisi (1100)
5. Tidakadakeluhan 1. Identifikasi adanya alergi atau
- Asupan gizi adekuat (100401) intolernasi makanan yang dimiliki pasien
- Asupan makanan adekuat (100402) 2. Monitor kalori dan asupan makanan
- Asupan cairan adekuat (100408) 3. Ciptakan lingkungan yang optimal pada
- Pasien berenergi (100403) saat mengkonsumsi makanan
- Rasio berat badan/ tinggi badan dalam batas normal 4. Atur diet yang diperlukan

15
(100405) 5. Lakukan atau bantu pasien terkait
- Hidrasi adekuat (100411) dengan perawatan mulut sebelum makan
6. Berikan obat-obatan sebelum makan
(penghilang rasa sakit, antiemetik) jika
diperlukan
7. Anjurkan keluarga untuk membawa
makanan favorite passien sementara
berada dirumah sakit.
2. Gangguan menelan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam NIC: Pencegahan aspirasi (3200)
(00103) pasien menunjukkan hasil: Pencegahan aspirasi
1. Pertahankan kepatenan jalan napas
Status Menelan (1010) 2. Monitor status pernapasan
Tujuan 3. Posisikan kepala pasien tegak lurus
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5 4. Haluskan pemberian obat dalam bentuk
Menangani sekresi V pil sebelum pemberian
1. 5. Potong makanan menjadi potongan-
mulut
2. Produksi ludah V potongan kecil
Kemampuan untuk V 6. Sarankan konsultasi pada terapi wicara
3. membersihkan rongga patologis dengan tepat
mulut
Durasi makan dengan V
4. respek pada jumlah
yang dikonsumsi
Reflek menelan V
5. sesuai dengan
waktunya
6. Penerimaan makanan V
7. Muntah V

16
Peningkatan usaha V
8.
menelan
9. Refluks lambung V
Tidak nyaman dengan V
10.
menelan
Keterangan:
1. Keluhanekstrime
2. Keluhanberat
3. Keluhansedang
4. Keluhanringan
5. Tidakadakeluhan
- Pasien dapat menangani sekresi mulut (1001002)
- Produksi ludah dalam batas normal (101003)
- Pasien dapat membersihkan rongga mulut (101006)
- Konsistensi durasi makan dengan respek pada jumlah
yang dikonsumsi (101009)
- Reflek menelan adekuat (101010)
- Pasien dapat menerima makanan dengan baik (101016)
- Tidak mengalami muntah (101021)
- Adanya peningkatan usaha menelan (101013)
- Tidak ada refluks lambung (101014)
- Merasakan nyaman dalam menelan (101017)
3. Berat badan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam NIC: Konseling nutrisi (5246)
berlebih (00233) pasien menunjukkanhasil: 1. Kaji asupan makanan dan kebiasaan
makan pasien
2. Kaji ulang pengukuran intake dan output
cairan pasien
3. Berikan informasi sesuai kebutuhan

17
Status nutrisi (1004) mengenai perlunya modifikasi diet bagi
Tujuan kesehatan dan penurunan BB
No. Indikator Awal
1
2 3 4 5 4. Diskusikan kebutuhan nutrisi dan
1. Asupan gizi V persepsi pasien mengenai diet yang
2. Asupan makanan V direkomendasikan
3. Asupan cairan V 5. Sediakan konsultasi/rujukan dengan
4. Energi V anggota kesehatan lain sesuai kebutuhan.
Rasio berat badan/ V
5.
tinggi badan
6. Hidrasi V
Keterangan:
6. Keluhanekstrime
7. Keluhanberat
8. Keluhansedang
9. Keluhanringan
10. Tidakadakeluhan
- Asupan gizi tidak berlebih (100401)
- Asupan makanan tidak berlebih (100402)
- Asupan cairan adekuat (100408)
- Pasien berenergi (100403)
- Rasio berat badan/ tinggi badan dalam batas normal
(100405)
- Hidrasi adekuat (100411)

18
H. Penatalaksanaan Berdasarkan Evidence based pactice in nursing

Judul :
Penulis :

19
DAFTAR PUSTAKA

Aditya, B. 2014. Pathway Nutrisi.


https://www.scribd.com/doc/247992526/Pathway-Nutrisi [Diakses pada
4 September 2018]
Asmadi, 2008. Tekkik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan
Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika https://books.google.co.id
[Diakses pada 4 September 2018]
Bulecheck, G.M., dkk. 2016. Nursing Intervention Classification (NIC).
Indonesia: Mocomedia
Departemen Kesehatan RI. 2015. 25 Januari, Hari Gizi Nasional. Diakses melalui
http://www.depkes.go.id/article/view/15012300021/25-januari-hari-gizi-
nasional.html [Diakses pada 4 September 2018]

Dochterman, Janne McCloskey dan Bulcchek, Gloria M. 2008. Nursing


Interventions Clarifications. Fifth Edition.united State of America:
Mosby Elsevier.

Espasari. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Konsumsi Makanan


Pasien Dan Kaitannya Dengan Perubahan Status Gizi Di Irna Non Bedah
(Penyakit Dalam) RSUP Dr. M. Djamil Padang. Skripsi: Padang.
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas Padang http://repo.unand.ac.id/168/1/8.pdf [Diakses pada 4
September 2018]
Harnanto, A. M. dan S. Rahayu. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan:
Kebutuhan Dasar Manusia II. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan
http://bppsdmk.kemkes.go.id/ [Diakses pada 4 September 2018]
Hartono, A. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: EGC
https://books.google.co.id [Diakses pada 4 September 2018]
Herdman, T. Heather, Shigemi, K. 2018. NANDA Internasional Inc. diagnosa
keperawatan: definisi & klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC

Indriyani, W. 2013. Studi Kasus Asuhan Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi


Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada An. S dengan Febris Typhoid
Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta. Program Studi DIII keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan Kusuma Husada Surakarta
http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id [Diakses pada 4 September 2018]

20
James, J., Baker, C., & Swain, B. 2008. Prinsip-prinsip Sains untuk Keperawatan.
Jakarta: Erlangga. [serial online] https://books.google.co.id [Diakses
pada 4 September 2018]

21
Moorhead, S., dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Indonesia:
Mocomedia

Pearce, C, Evelyn. 2010. Anatomi dan Fisiologis untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama

Potter, P. A.& Perry, A. G. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep,


proses, dan praktik. Jakarta: EGC
Rubenstein, D., D. Wayne, dan J. Bradley. 2007. Kedokteran klinis Edisi keenam.
Jakarta: Erlangga https://books.google.co.id [Diakses pada 5 Maret 2018]

22