Anda di halaman 1dari 9

FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN SALEP CAMPHORA

DAN MENTHOL

FORMULATION AND EVALUATION FISIK OINTMENT


MENTHOL AND CAMPHORA

Askhabul Jannah, Eva Nurfuada, Etik Wijayanti, Ircham Saifulloh, Galih Wahyu
D, Nur Hidayah, Khusnul Ma’arif, Yohangga Maulana P P.

Fakultas Farmasi Stikes Anwar Medika Krian - Sidoarjo

Email : nurhidayahweareone4632@gmail.com

ABSTRAK

Menurut Formularium Nasional salep adalah sedian berupa masa lembek, mudah
dioleskan, umumnya lembek dan mengandung obat, digunakan sebagai obat luar
untuk melindungi atau melemaskan kulit, tidak berbau tengik. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui formulasi sediaan salep camphora dan menthol dan
untuk mengetahui hasil evaluasi sediaan salep camphora dan menthol. Mentol
adalah campuran dari bagian yang sama. Bubuk kristalnya mengalir bebas tidak
berwarna kristal mengkilap bau khas. Bentuk kristal dapat berubah seiring
berjalannya waktu karena sublimasi dalam wadah tertutup. Mentol banyak
digunakan dalam obat obatan gula dan produk produk perlengkapan mandi sebagai
agen pembau. Selain karakteristik pippermint juga dapat memberikan sensasi
dingin dan menyegarkan (HPE).
Kamfer adalah suatu keton yang diperoleh dari cinamomum camphora (famili
lauraceae) (kamfer alam) atau dibuat secara sintetik (kamfer sintetik) yang
memiliki khasiat sebagai antiiritan.(FI V)
Evaluasi yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya
lekat, uji kesukaan, uji ukuran partikel, uji mikrobiologi dan uji daya sebar. Uji
daya sebar sediaan semisolid dilakukan untuk mengetahui kemampuan basis

1
menyebar pada permukaan kulit ketika diaplikasikan. Hasil uji daya sebar yang
dilakukan adalah diameter penyebarannya rata –rata sebesar 5,01 cm dengan berat
beban 400 g.

Kata kunci : salep, menthol, camphora, evaluasi, uji daya sebar

ABSTRACT

According to the National Formulary ointment is a preparations in the form of a


soft, easily applied, generally soft and contains medicine, used as an external
medicine to protect or relax the skin, does not smell rancid. This study aims to
determine the formulation of camphora and menthol ointments and to determine
the results of the evaluation of camphora and menthol ointments. Menthol is a
mixture of equal parts. The free flowing crystalline powder has a distinctive shiny
crystalline odor. The shape of the crystal can change over time due to sublimation
in a closed container. Menthol is widely used in sugar medicines and toiletry
products as an odorant agent. In addition to the characteristics of peppermint can
also provide a sensation of cold and refreshing (HPE).
Camphor is a ketone obtained from cinnamomum camphora (family lauraceae)
(natural camphor) or made synthetically (synthetic camphor) which has anti-irritant
properties. The evaluations included organoleptic tests, homogeneity tests, pH
tests, adhesion tests, preference tests, particle size tests, microbiological tests and
dispersion tests. The semisolid preparation spread test is performed to determine
the ability of the base to spread on the skin surface when applied. The results of the
dispersion test carried out were the average distribution diameter of 5.01 cm with a
weight of 400 g.

Keywords : ointment, menthol, camphora, evaluation, scattering test

2
PENDAHULUAN

Menurut FI edisi 4, Mentol adalah alkohol yang diperoleh dari bermacam macam
minyak permen atau yang dibuat secara sintetik berupa mentol-teurotan (1-mentol).
Sedangkan menurut HPE edisi ke - 6, Mentol adalah campuran dari bagian yang
sama. Bubuk kristalnya mengalir bebas tidak berwarna kristal mengkilap bau khas.
Bentuk kristal dapat berubah seiring berjalannya waktu karena sublimasi dalam
wadah tertutup. Mentol banyak digunakan dalam obat obatan gula dan produk
produk perlengkapan mandi sebagai agen pembau. Selain karakteristik pippermint
juga dapat memberikan sensasi dingin dan menyegarkan.
Kamfer adalah suatu keton yang diperoleh dari cinamomum camphora (famili
lauraceae) (kamfer alam) atau dibuat secara sintetik (kamfer sintetik) (FI edisi 5).
Salep menurut FI IV adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian
topical pada kulit atau selaput lendir. Sedangkan Salep menurut FI ed III adalah
sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.
Bahan obatnya harus atau terdispersi homogenya dalam dasar salep yang cocok.
Tujuan pembuatan sediaan salep yaitu Sebagai bahan pembawa substansi obat
untuk pengobatan kulit, Sebagai bahan pelumas pada kulit, Sebagai pelindung
untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan
rangsang kulit ( Anief, 2005).
Cara Pembuatan Salep Secara Umum yaitu :
a. Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan pemanasan
rendah.
b. Zat yang tidak cukup larutdalam dasar salep, lebih dulu disebut dan diayak
dengan ayakan no 100.
c. Zat yang mudah larut dalam air danstabil serta dasarr salep mampu mendukung/
menyerap air tersebut,dilarutkan didalam air yagn tersedia, selain itu
ditambahkan bagian dasar salep.
d. Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebuut harus
diaduk sampai dingin.

3
METODE PENELITIAN

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan selama praktikum antara lain mortir, stamfer, pipet tetes,
beaker glass, kertas perkamen, gelas ukur, kaca arloji, sendok tanduk, batang
pengaduk, indicator pH, cawan, timbangan gram, hot plate, sudip. Dan Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah Camphora, Menthol, Cera Alba,
Vaselin Album, Propilenglikol, Nipagin, Nipasol, BHT (Butylated Hydroxy
Toluene).

Prosedur Percobaan

1. Pembuatan Sediaan Salep


Tabel 1. Tabel Rancang Formulasi Sediaan Salep Menthol dan
Camphora

NO Komponen Fungsi Kadar Skala Lab Skala pilot


1 Camphora Zat aktif 1% 0,2 gram 1 gram
2 Menthol Zat Aktif 1% 0,2 gram 1 gram
3 Cera Alba Basis Salep 20% 4 gram 20 gram
4 Vaselin album Basis Salep 62,6% 12,52 gram 62,6 gram
5 Propilenglikol Zat humektan 15% 3 gram 15 gram
atau enhancer
6 Propil Paraben Zat pengawet 0,2% 0,04 gram 0,2 gram
(Nipasol)
7 Methyl Paraben Zat pengawet 0,2% 0,04 gram 0,2 gram
(Nipagin)
8 BHT (Butylated Antioksidan 0,1% 0,02 gram 0,1 gram
Hydroxytoluene)

Timbang semua bahan yang ada diatas (Tabel 1), kemudian dilakukan
Peleburan basis salep (II) cera alba, vaselin album dan BHT menggunakan
cawan diatas penanggas air atau waterbath hingga meleleh atau mencair.

4
yaitu zat aktif camphora dan menthol digerus hingga mencair atau titik
autentik. Dilarutkan metil paraben dan propil paraben menggunakan
propilen glikol sebanyak 1.5 ml ad larut di beaker glass. Pembuatan mortir
panas yaitu air panas dimasukkan ke mortir tutup dengan lap, tunggu hingga
mortir keadaan panas atau mencapai suhu yang kita inginkan, buang airnya.
. Kemudian masukkan peleburan basis salep (II) gerus ad dingin, lalu
tuangkan sedikit demi sedikit ke camphora dan menthol (I) digerus ad
homogen, tambahkan larutan yang di beaker glass sedikit demi sedikit gerus
ad homgen, dimasukkan sisa propilen glikol ke dalam sediaan, gerus ad
homogen.

2. Uji Organoleptis
a. Penglihatan yang berhubungan dengan warna kilap, viskositas, ukuran
dan bentuk, volume kerapatan dan berat jenis, panjang lebar
dan diameter serta bentuk bahan.
b. Indra peraba yang berkaitan dengan struktur, tekstur dan konsistensi.
Struktur merupakan sifat dari komponen penyusun, tekstur merupakan
sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut atau perabaan
dengan jari, dan konsistensi merupakan tebal, tipis dan halus.
c. Indra pembau, pembauan juga dapat digunakan sebagai suatu indikator
terjadinya kerusakan pada produk, misalnya ada bau busuk yang
menandakan produk tersebut telah mengalami kerusakan.
d. Indra pengecap, dalam hal kepekaan rasa, maka rasa manis,
asin, asam, pahit, dan gurih. Serta sensasi lain seperti pedas, astringent
(sepat), dan lain-lain.

3. Uji pH
Ambil pH stik. Lalu celupkan ke dalam larutan yang telah dibuat. Kemudian
ambil kembali pH stik. Kemudian bandingkan hasil yang telah didapat
dengan indikator pH yang terdapat di wadah pH stik dan menggunakan pH
meter.

5
4. Uji Homogenitas
Susunan partikel yang terbentuk dari sediaan akhir diamati secara visual.
Metodenya sampel diambil pada bagian atas, tengah atau bawah. Sampel
diletakkan pada gelas objek dan diratakan dengan gelas objek lain hingga
lapisan tipis terbentuk. Setelah itu susunan partikel yang terbentuk diamati
visual (FI III, Hal 33).

5. Uji Daya Sebar


Salep ditimbang ±0,5 gram, diletakkan pada kaca bundar bagian rengah
diatas diberi anak timbangan sebagai beban dan dibiarkan 1menit. Diameter
salep yang menyebar (dengan mengambil panjang rata-rata diameter dari
beberapa sisi), diukur. 50 gram, 100 gram,200 gram, 300gram, 400 gram
dan 500 gram digunakan sebagai beban, pada setiap penambahan beban
didiamkan selama 1 menit dan diukur diameter salep yang menyebar.

6. Uji Daya Lekat


Sejumlah sampel ±0,25 gram dilekatkan diantara dua gelas objek kemudian
ditekan dengan beban 1kg selama 5 menit. Setelah itu beban diambil
kemudian gelas objek diangkat menggunakan tangan dan dihitung waktu
gelas objek jatuh (terlepas antara keduanya).

7. Penentuan Ukuran Partikel


Untuk menentukan ukuran droplet suatu sediaan salep, dengan cara
menggunakan mikroskop sediaan diletakkan pada objek glass, kemudian
diperiksa adanya tetesan – tetesan fase dalam ukuran dan penyebarannya.

8. Uji Kesukaan (Asseptabilitas)


Dilakukan pada kulit, dengan berbagai orang yang di kasih suatu quisioner
di buat suatu kriteria , kemudahan dioleskan, kelembutan, sensasi yang di
timbulkan, kemudahan pencucian. Kemudian dari data tersebut di buat

6
skoring untuk masing- masing kriteria. Misal untuk kelembutan agak
lembut, lembut, sangat lembut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Evaluasi Fisik
a. Organoleptis
Organoleptik merupakan pengujian sediaan dengan menggunakan
pancaindra untuk mendiskripsikan bentuk atau konsistensi (misalnya
padat, serbuk, kental, cair), warna (misalnya kuning, coklat) dan bau
(misalnya aromatik, tidak berbau) (Anonim, 2000). Pada organoleptis
sediaan salep didapatkan warna putih agak bening, tekstur semi padat
halus, dan bau khas mentol dan kamfer.

b. Homogenitas
Untuk uji homogenitas Salep dioleskan pada sekeping kaca kemudian
salep yang diuji diambil pada 3 tempat yaitu bagian atas, tengah dan
bawah dari wadah salep dan setelah itu salep yang homogen ditandai
dengan tidak terdapatnya gumpalan pada hasil pengolesan, struktur rata
dan memiliki warna seragam. Hasil yang diperoleh kelompok kami
adalah salep tidak terdapat partikel-partikel kasar atau gumpalan pada
hasil pengolesan, struktur rata dan memiliki warna seragam.

c. Daya Sebar
Hasil uji daya sebar yang dilakukan adalah diameter penyebarannya
sebesar 6.5 cm dengan berat beban 14 gram. Berdasarkan Garg, et.al,
rentang daya sebar yang disyaratkan untuk sediaan topikal adalah
sebesar 5-7 cm. Untuk itu dapat disimpulkan jika daya sebar dari gel
yang dibuat sesuai dengan persyaratan yang diinginkan.

7
d. Daya Lekat
Hasil dari uji daya lekat diperoleh waktu sebesar 30 detik. Dan ukuran
partikel yang didapat yaitu seragam berbentuk bulat-bulat kecil.

2. Evaluasi pH
Untuk pengukuran pH, Nilai pH sediaan berkaitan dengan kenyamanan
penggunaan dan menjamin stabilitas dari zat aktif yang digunakan. pH suatu
sediaan tergantung dari komponen penyusun baik zat aktif atau zat
tambahan yang digunakan dalam formulasi. Pada pengujian pH ointment
digunakan Indikator pH Universal dan didapatkan hasil yaitu 5 yang
memiliki nilai yang sama pada saat pengujian pH awal pembuatan skala
laboratorium yang berarti sediaan tetap stabil setelah disimpan satu minggu
dan masih memasuki rentang pH kulit.

3. Evaluasi Mikrobiologi
Uji Mikrobilogi, uji ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui adanya
mikroba atau jamur di dalam sediaan agar sediaan tersebut aman digunakan
dan tidak berefek samping yang tidak diinginkan. Uji ini didapatkan hasil
yang agak bagus cemaran mikroba di dalam sediaan rendah.

4. Evaluasi Kesukaan (Asseptabilitas)


Pada uji aseptabilitas kami memilih 20 responden dari mahasiswa dan dosen
dari STIKES Rs Anwar Medika Sidoarjo. Ditinjau dari segi aseptabilitas,
Sediaan salep yang kami buat dalam warna mendapatkan hasil cukup
menarik dan meraih prosentase sebesar 85%. Namun, aroma atau sensasi
yang ditimbulkan menurut responden dingin dan mempunyai prosentase
tinggi yang diperoleh sebesar 90 %. Kelembutan dari sediaan salep ini
cukup lembut dan mempunyai prosentase yaitu 70%. Dan sediaan salep
kelompok kami juga menurut responden tidak lengket yang mendapat
prosentase baik sebesar 50 %. Dari hasil prosentase masing-masing point di

8
atas sediaan salep kelompok kami memiliki aseptabilitas yang baik dan
dapat diterima.

KESIMPULAN

Sediaan gel dengan bahan aktif menthol dan kamfer yang diindikasikan sebagai
antiiritan dengan bau, rasa, dan warna didapatkan hasil yang sesuai dengan
spesifikasi yang diinginkan. Diperoleh pH yaitu 5, hal ini sesuai dengan rentang
yang dipersyaratkan yaitu 4,5 - 6,5. Uji daya lekat yang diperoleh waktu sebesar
30 detik dan ukuran partikel yang didapat yaitu seragam dengan bentuk bulat-
bulat kecil. Pada uji daya sebar diperoleh diameter penyebarannya sebesar 6,5 cm
dengan berat beban 14 gram. Sediaan homogen, cemaran mikroba pada sediaan
cukup rendah, dan sediaan yang telah dibuat cukup banyak yang menyukainya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta. 6-7, 93-94, 265, 338-339, 691.

Anonim, 2014, Farmakope Indonesia Edisi V. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV.


Dirjen POM. : Jakarta.

Harien. 2010. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Malang.


Universitas Muhammadiyah Malang.
Junqueira, LC., J. Carneiro. 2007. Histologi Dasar Teks dan Atlas Edisi 10. Jakarta:
EGC.
Martini, F. 2006. Fundamentals of Anatomy and Physiology. Pearson Education
Inc.
Rowe, Raymond C, dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th ed.
USA: Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association.