Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Pelaksanaan Kegiatan

1. Perencanaan

Pada perencanaan, proses terdiri dari pengumpulan data, pengajuan proposal,

permohonan izin kepada puskesmas, persiapan bahan penyuluhan dan pelatihan,

survei dengan kuesioner, persiapan undangan, serta penentuan tempat dan waktu

pelaksanaan kegiatan.

Kendala yang dihadapi dalam proses perencanaan ini adalah pengumpulan

data saat survey dikarenakan penderita TB yang jumlahnya tidak banyak.

Disamping itu, kendala juga didapatkan dalam mengundang pasien TB yang akan

diundang ke penyuluhan, dikarenakan sulitnya menghubungi beberapa penderita

TB beserta keluarga yang masih aktif berobat melalui telefon.

2. Pengorganisasian

Kerjasama dengan petugas yang memegang program TB sangat kooperatif

sehingga permasalahan dapat teridentifikasi dengan baik. Kerjasama yang baik juga

terjalin antara kepala puskesmas dan pemegang upaya kesehatan masyarakat yang

sangat mendukung diadakannya penyuluhan dan pembentukan KKP-TB ini.

Kendala dalam penyuluhan ini adalah jumlah panitia yang sedikit (3 orang)

sehingga kesulitan dalam pembagian tugas.

3. Pelaksanaan

Kegiatan dilaksanakan di ruang aula lantai 2 Puskesmas Banjarmasin Indah,

Banjarmasin pada tanggal 24 Mei 2018 jam 10.00 WITA s/d 12.00 WITA dan

18
dihadiri 20 responden yang terdiri atas pasien TB beserta keluarga pasien. Acara

dimulai pukul 10.15 diakibatkan adanya kendala pada peserta yang berhadir tidak

tepat waktu.

Acara dibuka dengan mendengarkan sambutan dari dokter pembimbing PBL.

Acara dilanjutkan dengan pengisian kuesioner pretest. Selanjutnya, dilalukakan

pemutaran video tentang bahaya TB, lalu pemutaran video mengenai pengetahuan

TB secara umum yang diselingi dengan penjelasan, beserta pemaparan dengan

power point mengenai mater pentingnya peran kelompok serta pengetahuan

mengenai Kelompok Keluarga Peduli TB (KKP-TB). Kemudian di lanjutkan sesi

tanya jawab. Kemudian di sesi terakhir kembali dibagikan kuisioner posttest kepada

responden sebagai bahan evaluasi setelah diberikan penjelasan lebih lanjut tentang

TB dan KKP-TB. Ditemukan kendala dalam acara, yakni saat penyelenggaran acara

didapatkan ketidaksesuaian dengan rundown yang sudah disepakati.

4. Evaluasi

Gambaran Karakteristik Responden Penyuluhan

Responden kegiatan penyuluhan meliputi pasien TB beserta keluarga di

wilayah kerja Puskesmas Banjarmasin Indah. Pada kegiatan ini, pada tahap awal

dilakukan pretest melalui kuisioner tentang pengetahuan pasien mengenai TB dan

pentingnya peran kelompok dalam keberhasilan pengobatan TB. Dari 20 responden

didapat tidak ada responden yang mendapatkan nilai 100 dan 90, 2 responden (10%)

dengan nilai 80, 5 responden (25%) dengan nilai 70, 8 responden (40%) dengan

nilai 60, dan 5 responden (25%) dengan nilai 50. Setelah kegiatan penyuluhan,

dilakukan posttest untuk mengevaluasi pemahaman peserta mengenai materi yang

19
terlah diberikan. Dari 20 responden, terdapat 2 responden (10%) dengan nilai 100,

7 responden (35%) dengan nilai 90, 7 responden (35%) dengan nilai 80, 4

responden (20%) dengan nilai 70, dan tidak ada yang mendapatkan nilai 60

kebawah.

Berdasarkan hasil pretest di atas, tingkat pengetahuan responden dapat dilihat

pada tabel 4.1

Tabel 4.1 Distribusi Nilai Pretest dan Posttest Responden


Pretest Posttest
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
Nilai Responden Responden Responden Responden
Menjawab (%) Menjawab (%)
Benar Benar
100 0 0 2 10
90 0 0 7 35
80 2 10 7 35
70 5 25 4 20
60 8 40 0 0
50 5 25 0 0

Distribusi jawaban pretest dan posttest kuesioner dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Distribusi Jumlah Responden yang Menjawab dengan Benar Setiap
Soal Pretest dan Posttest
Pretest Posttest
Jumlah Jumlah
Persentase Persentase
Pertanyaan No Responden Responden
Responden Responden
Menjawab Menjawab
(%) (%)
Benar Benar
1 19 95 20 100
2 11 55 17 85
3 11 55 11 55
4 5 25 7 35
5 20 100 20 100
6 15 75 20 100
7 16 80 20 100
8 20 100 20 100
9 1 5 6 30
10 6 30 20 100

20
Berikut pernyataan tentang pengetahuan yang termuat dalam pretest dan
posttest:
1. Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang dapat menyerang
paru-paru.
2. Tuberkulosis dapat disebabkan oleh semua jenis kuman.
3. Berkeringat malam merupakan salah satu tanda dari TBC.
4. Makanan bergizi dapat membantu proses kesembuhan dari penderita TBC.
5. Kuman TBC keluar saat penderita batuk.
6. Obat Anti Tuberkulosis boleh dikonsumsi kurang dari 6 bulan.
7. Kelompok Keluarga Peduli TBC adalah kumpulan manusia yang memiliki
kesadaran untuk membantu kesembuhan pasien TBC.
8. Kelompok Keluarga Peduli TBC biasanya terdiri dari kerabat terdekat.
9. Kelompok Keluarga Peduli TBC bertugas mengawasi kepatuhan pengobatan
pasien.
10. Tujuan dari pembentukan keluarga peduli TBC adalah untuk menaikan tingkat
kesuksesan pengobatan TBC.

B. Pembahasan

1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan, dukungan dari pemegang kebijakan sangat

mempengaruhi kelancaran dari sebuah program kerja. Penyuluhan mengenai TB

dan pentingnya peran keluarga dalam keberhasilan pengobatan TB serta

pembentukan KKP-TB dapat terlaksana dengan baik karena adanya dukungan dari

pihak puskesmas dan pemegang program.

KKP-TB merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari masing-masing

perwakilan anggota keluarga dari penderita TB. Selain bertugas sebagai PMO

(Pengawas Menelan Obat), KKP-TB diharapkan menjadi suatu wadah dimana

para anggota keluarga dari penderita TB dalam saling bertanya ketika

menghadapi kendala dalam pengobatan TB. Selain itu, pada penyuluhan ini

21
materi yang sangat ditekankan adalah mengenai efek samping OAT dan

tindakan yang tepat yang harus diambil penderita beserta keluarga. Hal ini

didasarkan kepada data yang didapat pada survey dimana kegagalan konversi

BTA pasien TB di wilayah Puskesmas Banjarmasin Indah sebagian besar terjadi

karena putusnya pengobatan akibat munculnya efek samping dari OAT.

Kendala yang ditemui dalam pelaksanaan acara ini antara lain adalah saat

mengundang para penderita TB beserta keluarga, dari beberapa pasien TB yang

masih aktif pengobatan di Puskesmas Banjarmasin Indah, beberapa tidak dapat

dihubungi melalui telefon untuk memberitahu mengenai diadakannya acara

penyuluhan sehingga diambil alternatif dengan cara mengundang secara langsung

beberapa pasien yang kebetulan pengobatan di puskesmas pada hari Selasa dan

mendatangi beberapa rumah pasien didampingi oleh petugas yang menangani

program TB.

2. Pengorganisasian

Kendala dalam penyuluhan dan pelatihan ini terdapat di masalah

pengorganisasian dimana jumlah panitia yang terlibat sangat sedikit sehingga

kesulitan dalam pembagian tugas. Namun, panitia bekerja secara overlapping dan

terbantu dengan adanya pihak puskesmas yang turut serta dalam mempersiapkan

kegiatan sehingga acara dapat terlaksana dengan lancar.

3. Aktualisasi

Perencanaan yang matang dan dukungan dari pihak terkait membuat proses

penyuluhan dan pelatihan berlangsung lancar. Penyuluhan dan pelatihan dimulai

tidak tepat waktu pada pukul 10:15 WITA. Keterlambatan kegiatan diakibatkan

22
oleh terlambatnya peserta yang datang, meskipun sudah dihubungi dan diberitahu

bahwa setengah jam sebelum acara dimulai diharapkan perserta sudah berhadir.

Keterlambatan 15 menit dapat diatas dengan baik dikarenakan pretest dan posttest

yang selesai 5 menit lebih awal dari rundown yang telah disepakati, sehingga tidak

terjadi penguluran waktu berakhirnya acara dari rundown yang telah disepakati.

Sebelum acara dimulai, dilakukan pembagian masker dan pengarahan cara

memakai masker yang benar secara singkat. Hal ini merupakan salah satu tindaka

preventif mengingat dimana tidak semua responden yang berada di ruangan acara

berlangsung merupakan penderita TB. Kemudian acara dilanjutkan dengan

pembukaan dari dokter pembimbing PBL, dan pembagian soal pretest. Setelah itu

pemutaran video dan penyampaian materi berlangsung lancar. Selama acara

berlangsung suasana cukup kondusif dan peserta mendengarkan materi dengan

cukup seksama.

Setelah selesai sesi penyampaian materi dilanjutkan dengan sesi diskusi.

Responden antusias dalam memberikan pertanyaan. Kemudian dilanjutkan dengan

sesi posttest dengan membagikan kuesioner kepada responden sebagai bahan

evaluasi. Sesi terakhir acara yakni pembagian pamflet dan pembagian konsumsi.

4. Evaluasi

Evaluasi jangka pendek dalam kegiatan PBL dilakukan melalui penilaian ada

atau tidaknya peningkatan pengetahuan pasien TB terutama efek samping OAT dan

keluarga pasien mengenai TB dan pentingnya peran keluarga dalam keberhasilan

pengobatan melalui pretest dan postest. Untuk evaluasi jangka menengah

terjadinya kenaikan presentase pasien yang mengalami konversi BTA di wilayah

23
kerja Puskesmas Banjarmasin Indah Banjarmasin. Sementara evaluasi jangka

panjang dalam kegiatan PBL ini dapat dilihat dengan menurunnya angka kegagalan

pengobatan TB pada wilayah kerja Puskesmas Banjarmasin Indah, Banjarmasin.

Tabel 4.3 Uji Normalitas Data Pengetahuan Pasien TB beserta Keluarga

Penderita

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Pretetest
.233 20 .006 .878 20 .016
Posttest .207 20 .025 .887 20 .023

Tabel 4.4 Uji Nonparametrik Wilcoxon Pengetahuan Pasien TB beserta


Keluarga Penederita

Test Statisticsa
Posttest -
Pretetest
Z -4.234b
Asymp. Sig. (2-
.000
tailed)

Pada penilaian pretest dan posttest, tingkat pengetahuan responden didapatkan

nilai rata-rata 62,00 pada pretest yang meningkat menjadi 83,50 pada posttest.

Hasil uji normalitas data menggunakan Shapiro Wilk menunjukan nilai p<0,05,

yang artinya data tidak terdistribusi normal. Uji statistik dilanjutkan dengan uji

statistik data berpasangan dengan uji nonparametrik Wilcoxon. Hasil yang

didapatkan pada tabel 4.4, menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan secara

statistik pada pengetahuan responden sebelum dan sesudah penyuluhan yakni

24
p<0.05 (p=0,000). Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan terdapat perbedaan

pengetahuan yang bermakna antara sebelum dan sesudah penyuluhan.

Menurut Notoadmodjo, bahwa pengetahuan seseorang biasanya dipengaruhi

berbagai faktor, antara lain umur, jenis kelamin, lingkungan, tingkat pendidikan,

media massa/informasi, sosial budaya dan ekonomi, pengalaman dan pekerjaan.

Pengetahuan adalah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan

panca inderanya. Pada dasarnya pengetahuan akan terus bertambah dan bervariatif

sesuai dengan proses pengalaman manusia yang dialami.8

Pada penelitian ini faktor umur mempengaruhi pengetahuan dimana umur

merupakan lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan.

Semakin tua umur seseorang maka semakin bertambah pula daya tangkap serta pola

pikir seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan. Semakin bertambahnya

umur akan menyebabkan meningkatnya daya tangkap dan pola pikir, sehingga

pengetahuan yang diperoleh semakin membaik. Responden adalah rata-rata berusia

30-50 tahun sehingga, diharapkan dengan mayoritas yang mengikuti kegiatan

penyuluhan adalah kelompok usia dewasa yang memiliki daya tangkap yang baik

terhadap informasi yang diberikan.8

Pengetahuan merupakan faktor awal dari suatu perilaku yang diharapkan dan

pada umumnya berkorelasi positif dengan perilaku. Dalam artian semakin baik

pengetahuan maka akan semakin baik pula perilaku seseorang. Dalam hal ini,

setelah responden diberikan pengetahuan umum mengenai TB, efek samping OAT

dan tindakan yang seharusnya diambil, dan pentingnya peran keluarga dalam

keberhasilan pengobatan TB, para penderita TB diharapkan menjadi lebih patuh

25
dalam meminum obat, keluarga menjadi lebih peduli terhadap penderita, dan

responden tau bagaimana seharusnya bersikap apabila terdapat keluhan selama

pengobatan akibat efek samping dari OAT.

Pelaksanaan penyuluhan, digunakan metode ceramah dan diskusi dengan 3

media, yaitu slide, pemutaran video dan pembagian pamflet yang berisi materi

mengenai TB dan . Dalam proses peningkatan pengetahuan faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang salah satunya adalah media. Dengan adanya

tambahan media visual ini pada penyuluhan terbukti secara statistik dapat

meningkatkan pengetahuan penderita TB maupun anggota keluarganya.

Pengetahuan yang ada pada seseorang diterima melalui indera. Indera yang

paling banyak menyalurkan pengetahuan kedalam otak adalah mata yaitu kurang

lebih 75% sampai 87%. Sedangkan melalui indera lain hanya 13% sampai 25 % .

Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara

penyampaian dan penerimaan atau bahan pendidikan sehingga media-media visual

digunakan untuk membantu berlangsungnya penyuluhan ini.9

Media yang pertama digunakan yaitu pemutaran video yang dapat menarik

perhatian, penggunaan media video terutama mengenai bahaya TB diharapkan

dapat membuat perhatian responden menjadi lebih terpusat terhadap materi karena

meningkatnya kesadaran akan bahaya dari penyakit TB itu sendiri. Kemudian,

dilanjutkan dengan pemutaran video beserta penjelasan mengenai materi TB secara

umum yang dimaksudkan untuk menarik perhatian responden dan memudahkan

para responden untuk menyerap materi dari penyuluhan. Materi mengenai efek

samping OAT dan penanganannya, serta pentingnya peran kelompok dan KKP-TB

26
di sampaikan melalui slide yang menampilkan materi dalam bentuk power point

yang dapat didukung dengan gambar dan juga materi yang dapat diulang-ulang

sehingga lebih mudah diterima dan diingat.

Media yang terakhir yaitu souvenir berupa pamflet yang berisi garis besar dari

materi yang disampaikan pada penyuluhan. Souvenir ini diharapkan dapat

berfungsi sebagai media visual yang digunakan untuk membuat para peserta

penyuluhan dapat mengingat-ingat kembali ilmu pengetahuan yang didapatkan

selama penyuluhan di rumah. Souvernir lain beruma makan bertujuan untuk

menangkap perhatian sasaran.

Berdasarkan hal yang telah dilakukan tersebut, dapat disimpulkan bahwa

pemberian penyuluhan dalam rangka upaya pembentukan Kelompok Keluarga

Peduli TB (KKP-TB) untuk meningkatkan kepatuhan minum obat penderita TB

bermakna secara statistik.

27