Anda di halaman 1dari 16

SEJARAH PERADABAN ISLAM

Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyyah

Disusun Oleh :
Muhammad Ikhsan (07011620 )
Dwi Meirita (07011620)
Amar Khadafi (07011620)
Dosen Pengampu :
Multazimah, M.A.

Ilmu Komputer - 1
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Medan
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Swt Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kahadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang sejarah
tradisi studi Islam pada era klasik dan era kejayaan Islam.

Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami menerima segala saran dan
kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun
inspirasi terhadap pembaca.

Medan, 4 Oktober 2017

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
1. Pendirian Dinasti Abbasiyyah ....................................................................................... 2
2. Pola Pemerintahan Masa Dinasti Abbasiyyah ............................................................... 2
3. Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyyah .......................................................................... 10
4. Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyyah ........................................................ 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peradaban Islam mulai di bangun oleh Nabi Muhammad saw, ketika berhasil
merumuskan masyarakat Madani dan Piagam Madinah,1 kemudian di lanjutkan oleh Khulafa
Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Afffan, dan Ali Ibn Thalib) sistem
yang di kembangkan pada saat itu adalah sistem demokrasi di mana pucuk pimpinan di pilih
melalui Musyawarah2 oleh beberapa orang yang di tunjuk oleh kaum muslimin atau khalifah
sebelumnya,3 pasca meninggalnya Ali dan naiknya Muawiyah, sistem pemerintahan dalam
Islam berubah dratis dari sistem kekhilafahan ke Monarkhi Absolut. Monarkhi Absolut di
buktikan dengan di pilihnya Yazid sebagai putra mahkota, kemudian mengangkat dirinya
sebagai Kholifah fi Allah, mulailah babak baru dalam pemerintahan Islam dan berlangsung
terus menerus sampai kepada Khalifah Turki Usmani sebagai konsep pemerintahan Khalifah
(penguasa dan pemimpin tertinggi rakyat)4 terakhir dalam dunia Islam.

Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa Dinasti Abbasiyah. Di buktikan
dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan di awali dengan
menerjemahkan naskah – naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa
Arab, pendirian pusat ilmu pengetahuan dan perpustakaan Bait al- Hikmah, dan terbentuknya
madzhab- madzhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berfikir
yang menjadi ciri khas pada masa Abbasiyah lambat laun mengalami kemunduran sebab –
sebab kemunduran Dinasti ini di latar belakangi oleh faktor internal dan eksternal.

Imperium kedua Islam ini muncul setelah terjadi revolusi sosial yang di peroleh oleh para
keturunan Abbas dan di dukung oleh kelompok oposisi yang membrontak kepada kekuaasan
Bani Umayyah seperti Syiah, Khawarij, Qodariyah, Mawali (non –Arab) dan suku Arab
bagian Selatan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakan Pendirian Dinasti Abbasiyyah?
2. Bagaimanakah Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyyah?
3. Bagaimanakah Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyyah?
4. Bagaimanakah Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyyah?

1
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pendirian Dinasti Abbasiyyah

Nama dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang paman Nabi Saw, yang
bernama al-Abbas ibn Abd al-Muttalib ibn Hasyim. Kekuasaannya berlangsung dalam
rentang waktu yang panjang,dari tahun 132 H (750 M) s. d 656 H (1258). Selama dinasti
ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan
politik, sosial, dan budaya. Orang Abbasiyah merasa lebih berhak dari pada bani
Umayyah atas kekhalifahan Islam, sebab mereka adalah dari cabang bani Hasyim yang
secara nasab keturunan lebih dekat dengan Nabi1. Menurut mereka, orang Umayah secara
paksa menguasai khalifah melalui tragedi perang siffin. Oleh karena itu, untuk
mendirikan Dinasti Abbasiyah mereka mengadakan gerakan yang luar biasa melakukan
pemberontakan terhadap Umayah.

Ketika dinasti Umayyah berkuasa Bani Abbas telah melakukan usaha perebutan
kekuasaan. Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa
khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal liberal dan
memberikan toleransi kepada kegiatan keluarga Syi’ah. Gerakan itu didahului oleh
saudara-saudara dari Bani abbas, seperti Ali bin Abdullah bin Abbas, Muhammad serta
Ibrahim al-Imam, yang semuanya mengalami kegagalan, meskipun belum melakukan
gerakan yang bersifat politik. Sementara itu Ibrahim meninggal dalam penjara karena
tertangkap, setelah menjalani hukuman kurungan karena melakukan gerakan makar.
Barulah usaha perlawanan itu berhasil ditangan Abu abbas, setelah melakukan
pembantaian terhadap seluruh Bani Umayyah, termasuk khalifah Marwan II yang sedang
berkuasa.

Dalam sejarah berdirinya daulah Abbasiyah, menjelang akhir Daulah Amawiyah I,


terjadi bermacam-macam kekacauan yang antara lain disebabkan:

1. Penindasan yang terus menerus terhadap pengikut Ali dan Bani Hasyim pada
umumnya.

1
M.Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher) h.143

2
2. Merendahkan kaum muslimin yang bukan bangsa Arab sehingga mereka tidak diberi
kesempatan dalam pemerintahan
3. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-
terangan.

Mereka memusatkan kegiatannya di Khurasan. Dengan usaha ini, pada tahun 132 H/
750 M tumbanglah Daulah Amawiyah dengan terbunuhnya Marwan ibn Muhammad,
Khalifah terakhir. Dengan terbunuhnya Marwan mulailah berdiri Daulah Abbasiyah
dengan diangkatnya Khalifah pertama, Abdullah ibn Muhammad, dengan gelar Abu al-
Abbas al-Saffah, pada tahun 132-136 H/ 750-754 M.

Pada awalnya kekhalifahan Abbasiyah menggunakan Kuffah sebagai pusat


pemerintahan, dengan Abu as-Saffah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Khalifah
penggantinya, Abu ja’far al-Mansur (754-775) memindahkan pusat pemerintahan
kebaghdad. Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan
pemerintahan. Sedangkan menurut asal- usul penguasa selama masa 508 tahun daulah
Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Yaitu Bani Abbas, Bani Buwaihi,
dan Bani Seljuk. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, sosial dan
budaya, pera sejarawan biasanya membagai masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima
periode:2

a. Periode Pertama (132H – 232H)


Diawali dengan Tangan Besi. Sebagaimana diketahui Daulah
Abbasiyahdidirikan oleh Abu Abas. Dikatakan demikian, karena dalam Daulah
Abbasiyah berkuasa dua dinasti lain disamping Dinasti Abasiyah. Ternyata dia tidak
lam berkuasa, hanya empat tahun. Pengembangan dalam arti sesungguhnya dilakukan
oleh penggantinya, yaitu Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M). Dia memerintah dengan
kejam, yang merupakan modal bagi tercapainya masa kejayaan Daulah Abasiyah.

Pada periode awal pemerintahan Dinasti Abasiyah masih menekankan pada


kebijakan perluasan daerah. Kalau dasar-dasarpemerintahan Daulah Abasiyah ini
telah diletakkan dan dibangun olh Abu Abbas as-Safak dan Abu Jakfar al-Mansur,
maka puncak keemasan dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, sejak masa
khalifah al-Mahdi (775-785 M) hinga Khalifah al-Wasiq (842-847 M). zaman

2
Bojena Gajane Stryzewska, Tarikh Al-Daulat Al-Islamiyah, (Beirut: Al-Maktab Al-Tijari, Tanpa Tahun), hlm 360

3
keemasan telah dimulai pada pemerintahan pengganti Khalifah Al-Jakfar, dan
mencapai puncaknya dimasa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dimasa-masa itu para
Khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian, terutama kesusasteraan pada
khususnya dan kebudayaan pada umumnya.

b. Periode Kedua (232H – 334H)


Kebijakan Khalifah Al-Mukasim (833-842 M untuk memilih anasir Turki
dalam ketentaraan kekhalifahan Abasiyah dilatarbelakangi oleh adanya persaingan
antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Makmun dan sebelumnya.khalifah Al-
Mutawakkil (842-861 M) merupakan awal dari periode ini adalah khalifah yang
lemah.

Pemberontakan masih bermunculan dalam periode ini, seperti pemberontakan


Zanj didataran rendah Irak selatan dan Karamitah yang berpusa di Bahrain. Faktor-
faktor penting yng menyebabkan kemunduran Bani Abas pada periode adalah.
Pertama, luasnya wilayah kekuasaan yang harus dikendalikan, sementara komunikasi
lambat. Yang kedua, profesionalisasi tentara menybabkan ketergantungan kepada
mereka menjadi sangat tinggi. Ketiga, kesulitan keuangan karena beban pembiayaan
tentara sangat besar. Setelah kekuatan militer merosot, khalifah tidak sanggup lagi
memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

c. Periode Ketiga (334 H – 447 H)


Posisi Daulah Abasiyah yang berada dibawaah kekuasaan Bani Buwaihi
merupakan cirri utama periode ketiga ini. Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di
masa sebelumnya, lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syi’ah.
Akibatnya keudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi
gaji. Sementara itu bani Buwaihi telah membagi kekuasaanya kepada tiga bersauara.
Ali menguasai wilayah bagian selatan Persia, Hasan menguasi wilayah bagian utara,
dan Ahmad menguasai wilayah al-ahwaz, Wasit, dan \Baghdad. Baghdad dalam
periode ini tidak sebagai pusat pemerintahan Islam, karena telah pindah ke Syiraz
dimana berkuasaAli bin Buwaihi.

4
d. Periode Keempat (447 H – 590 H)
Periode keempat ini ditandai oleh kekuasaan Bani Seljuk dalam Daulah
Abasiyah. Kehadirannya atas unangan Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani
Buwaihi di Baghdad. Keadaan Khalifah memang sudah membaik, paling tidak karena
kewibawannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai
orang-orang Syiah.

e. Periode Kelima (590 H – 656 H)


Telah terjadi perubahaan besar-besaran dalam periode ini. Pada periode ini,
Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu.
Mereka merdeka dan berkuasa, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Sempitnya
wilayah kekuasaan khalifah menunjukkan kelemahan politiknya, pada masa inilah
tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 656
H/ 1256 M.

2. Pola Pemerintahan Masa Dinasti Abbasiyyah

Dalam setiap pemerintahan pada khususnya tentu memiliki perkembangan dan


kemajuan, sebagaimana halnya dalam pemerintahan yang dipegang oleh dinasti
Abbasiyah. Dinasti ini mempunyai kemajuan bagi kelangsungan agama islam,
sehingga masa dinasti Abbasiyah ini dikenal dengan “The Golden Age of Islam.

Pada zaman Abbasiyyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik,


sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani
Abbasiyah antara lain:
a. Para Khalifah tetap dari Arab, sementara para menteri gubernur, panglima perang
dan pegawai lainnya banyak dipilih dari keturunan Persia dan Mawali
b. Kota Bagdad ditetapkan sebagai ibukota negara dan menjadi pusat kegiatan
politik, ekonomi dan kebudayaan
c. Kebabasan berfikir dan berpendapat mendapat porsi yang tinggi
d. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dan mulia
e. Para menteri turunan persia diberi kekuasaan penuh untukk menjalankan tugasnya
dalam Pemerintahan

5
Selain sistem politik diatas, pemerintahan Abbasiyyah juga mengembangkan
kebijakan-kebijakan politik diantaranya:

a. Memindahkan ibukota dari Damaskus ke Bagdad


b. Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
c. Merangkul orang-orang Persia dalam rangka politik memperkuat diri
d. Menumpas pemberontakan-pemberontakan
e. Menghapus politik kasta

Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Dinasti Bani Abbasiyyah pada waktu


itu dibantu oleh wazir (perdana menteri) yang jabatannya disebut wizaraat. Wizaraat
ini dibagi menjadi 2 yaitu: pertama, wizaraat tafwid (memliki otoritas penuh dan tak
terbatas), waziraat ini memiliki kedaulatan penuh kecuali menunjuk penggantinya.
Kedua, wizaraat tanfidz (memiliki kekuasaan eksekutif saja) wizaraat ini tidak
memiliki inisiatif selain melaksanakan perintah khalifah dan mengikuti
arahannya. 3Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak yang berasal dari
Balkh Persia.

Pada masa Abu Ja’far Al-Manshur (754 – 775 M), dia dengan keras menghadapi
lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij dan juga Syi’ah yang merasa
dikucilkan dari kekuasaan. Untuk mengamankan kekuasannya, tokoh-tokoh besar
yang mungkin menjadi saingan baginya disingkirkan satu persatu olehnya. Abdullah
bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai
gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syiria dan Mesir, Karena tidak bersedia
membaiatnya, dibunuh oleh Abu Muslim Al-Khurasani atas perintah Abu Ja’far Abu
Musllim sendiri dikhawatirkan akan menjadi pesaingnya dan dihukum mati pada
tahun 775M

3
Philip K. Hitti, History Of The Arabs (Jakarta: PT. SerambiIlmuSemesta 2010) hlm 398

6
3. Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyyah

Dinasti Abbasiyah mewarisi wilayah kekuasaan dari Bani Umayah yang sangat luas.
Perluasan wilayah pada masa Umayyah ini, menjadi salah satu embrio perkembangan
peradaban Islam pada masa dinasti ini. Dinasti Abbasiyah telah melewati fase-fase
sejarah dan mengukir nama dalam lembaran sejarah sebagai dinasti yang telah
membawa dunia Islam ke era keemasan

Pada masa Daulah Abbasiyyah luas wilayah kekuasaan islam semakin bertambah dan
Baghdad sebagai pusat pemerintahannya. Perluasan kekuasaan dan pengaruh wilayah
kekuasaan islam amat luas yaitu meliputi wilayah yang telah dikuasai oleh Yordania,
Palestina, Libnon, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, Spanyol, Afganistan dan
Pakistan. Daerah-daerah tersebut memang belum sepenuhnya berada diwilayah Dinasti
Umayah, namun dimasa kekuasaan dinasti Abbasiyah perluasan daerah dan penyiaran
islam semakin berkembang, sehingga meliputi daerah Turki, Armenia, dan sekitar Laut
Kaspia.

7
4. Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyyah

Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa Dinasti Abbasiyah. Di


buktikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan di awali
dengan menerjemahkan naskah – naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke
dalam bahasa Arab, pendirian pusat ilmu pengetahuan dan perpustakaan Bait al-
Hikmah, dan terbentuknya madzhab- madzhab ilmu pengetahuan dan keagamaan
sebagai buah dari kebebasan berfikir yang menjadi ciri khas pada masa Abbasiyah
lambat laun mengalami kemunduran sebab – sebab kemunduran Dinasti ini di latar
belakangi oleh faktor internal dan eksternal.

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-


Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). Kekayaan negara banyak
dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit,
lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak
sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun.
Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta
kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam
menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

Al-Ma'mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta
kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing
digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-
penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa
laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya
besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan
yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa
Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Al-Mu'tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-
orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai
tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, dinasti Abbasiyah
mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orangq muslim mengikuti

8
perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit
profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat
kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik
yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani
Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi'ah,
dan konflik antarbangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat
dipadamkan.

Lembaga-lembaga yang sudah ada pada masa sebelumnya kemudian berkembang


pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi.
Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping
terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis, dan berdiskusi.
Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan
kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa
Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani
Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Gerakan terjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah
al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah
karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa
khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan
adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun
300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang
diterjemahkan semakin meluas.

Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui
gerakan terjemahan, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan
umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah
dikenal dua metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma'tsur, yaitu interpretasi
tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat.

Kedua, tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada
pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang

9
berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa
tafsir dengan metode bi al-ra'yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh
perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat
dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan
umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.

Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah
pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya
dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-
tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat
kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan
pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf,
menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Ar-Rasyid.

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan
hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu
ditengahi oleh Imam Syafi'i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M)
yang mengembalikan sistem madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi
serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta
pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan
memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab.

Di samping empat pendiri madzhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani
Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan
mendirikan madzhab-nya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang,
pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.

Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun,


pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan
pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama, setelah terjadi kontak dengan
pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam.
Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf
(135-235 H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 H/801-835M). Asy'ariyah, aliran
tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935

10
M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika
Yunani. Ini terjadi, karena Al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. Hal
yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat
pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas
dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja.

Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum,


terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Pada masa ini,
dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah
satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang
pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.

Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak di antara mereka bukan Islam dan
bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam
menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan
ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini
menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa.
Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematika,
dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya
diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya

11
BAB III
KESIMPULAN

Dari deksipsi di atas dapat disimpulkan bahwa Dinasti Ababsiyah merupakan masa
kejayaan umat Islam, berkuasa mulai Khalifah Abu Abbas as-Saffa hingga al-
Musta’shim sebagai khalifah terakhir. Rentan waktu yang lama ini telah menghasilkan
banyak kemajuan dalam peradaban Islam, terutama sejak menerjemahkan kitab-kitab
klasik dari bangsa Yunani, Persia, India, baik dalam bidang politik pemerintahan,
ekonomi, agama di mana lahir para pemikir-pemikir Islam baik dari bidang Filsafat,
Kalam, Fiqh, maupun Tasawuf, dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Selain itu lahir pula
pakar-pakar ilmu astronomi, geografi, sejarah, dan lain sebagainya, yang nantinya
sangat berperan besar terhadap munculnya renaissance di dunia Eropa. Namun dibalik
kemajuan itu, Dinasti Abbasiyah menyisahkan noda bagi peradaban Islam itu sendiri,
terutama pembantaian-pembantai manusia setiap pergantian kekuasaan. Dan hal yang
paling penting sekarang dapatkah kita merefleksikan kemajuan dan kemunduran
Dinasti Bani Abbasyiah dalam kehidupan kontemporer, sehingga menjadi sebuah spirit
perubahan radikal.

12
DAFTAR PUSTAKA
Karim , M.Abdul.Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher

Hitti, K. Philip. 2010. History of Arabs. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Styrzewska, Bojena Gajane. Tarikh Al-Daulat Al-Islamiyah. Beirut: Al-Maktab Al-


Tijari

Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

13