Anda di halaman 1dari 2

STUDI KASUS DI PABRIK TEMPE SAMUDRA DESA KRAJAN

JEBRES
POTENSI KONTAMINASI JAMUR DALAM PROSES PEMBUATAN TEMPE
OLEH PARA PEKERJA

GANESHA
B20161002

Latar Belakang :
Tempe adalah salah satu makanan yang sangat diminati berbagai kalangan dan strata sosial.
Karena permintaan pasar yang tinggi maka mendorong industri tempe yang bermunculan dan
berkembang. Di Kota Solo sendiri juga terdapat sentra industri tempe yang cukup terkenal.daerah
industri tahu dan tempe tersebut adalah desa Krajan yang terletak di Kecamatan Jebres. Salah satu
pabrik tempe yang cukup terkenal di daerah Krajan adalah pabrik tempe Samudra.

Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan tempe dan alurnya secara detail maka
dilakukan kunjungan ke pabrik tempe samudra. Di pabrik tempe samudra, proses pembuatan tempe
diawali dengan proses pencucian kedelai. Setelah itu kedelai yang sudah dicuci kemudian direndam
selama satu malam. Kemudian kedelai yang sudah direndam, dimasukan ke dalam mesin pengupas kulit
ari kedelai sehingga dihasilkan kedelai yang sudah tidak berkulit. Setelah itu, kedelai kembali dicuci
untuk memastikan bahwa kedelai sudah benar benar bersih. Setelah itu kedelai direbus hingga matang
dan kemudian ditiriskan. Sebelum masuk proses peragian, kedelai yang telah matang terlebih dahulu
diangin-anginkan. Setelah dipastikan bahwa uap air berkurang barulah kedelai dapat diberi ragi untuk
membentuk jamur. Setelah itu kedelai dibungkus dan didiamkan selama satu malah dan akhirnya jadilah
tempe yang siap dipasarkan.

Persoalan :
Namun sayangnya dari seluruh proses yang panjang dalam pembuatan tempe, terdapat salah
satu tahap yang berpotensi merusak dan membahayakan bagi konsumen tempe. Tahapan tersebut adalah
ketika tahap awal pembuatan tempe seperti tahap pencucian dan pengupasan. Hal tersebut dinilai
berpotensi merusak kualitas tempe karena para pekerja yang melakukan proses proses tersebut tidak
menggunakan alat yang sesuai standar higienitas. Dalam proses pembuatan tempe, para pekerja tidak
menggunakan baju dan sarung tangan yang mana dalam berkegiatan para pekerja akan berkeringat. Hal
tersebut diperparah dengan kondisi ruang produksi yang minim ventilasi sehingga suhu di dalam
ruangan akan lumayan tinggi. Oleh sebab itu badan para pekerja berpotensi ditumbuhi jamur. Para
pekerja yang mungkin ditumbuhi jamur bila tetap melakukan proses pembuatan tempe maka tempe
akan pula berpotensi mengalami kontaminasi oleh jamur dan bakteri pathogen. Bila tempe yang
terkontaminasi dikonsumsi maka terdapat peluang bahwa konsumen dapat terkena penyakit.
Solusi :
Karena proses kontaminasi mungkin terjadi disebabkan oleh munculnya jamur dan bakteri pada
tubuh pekerja, maka diperlukan solusi yang mencegah para pekerja untuk mengkontaminasi tampe. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

a. Penggunaan sarung tangan dan baju yang lengkap sehingga dapat membatasi antara temped an
pekerja sehingga bila tubuh pekerja ditumbuhi jamur ataupun bakteri pathogen maka tempe
tidak akan terpapar.
b. Member penyuluhan dan membangun kebiasaan para pekerja untuk mejaga higienitas diri
sebelum dan sesudah membuat tempe sehingga jamur dan bakteri pathogen tidak tumbuh di
tubuh mereka.
c. Pendesainan ventilasi dan exhaust yang cukup sehingga suhu ruangan dan kelembaban dapat
dikendalikan. Ketika suhu dan kelembaban dapat dikendalikan maka ruangan dapat
dikondisikan agar ruangan menjadi tempat yang sulit untuk ditumbuhi jamur dan badan para
pekerja juga tidak berpotensi terpapar jamur karena para pekerja berkeringat.