Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

TREND DAN ISSUE KEPERAWATAN PALIATIF


Mata Kuliah Keperawatan Menjelang Ajal & Paliatif

Dosen Pengampu : Ns. Novia Rizana, M.Kep

Disusun oleh :

KELOMPOK VI

{SEMESTER : V / D}

1. Niken Apdiningsih ( 1707201119 )

2. Nur Farah Nabila ( 1707201121 )

3. Hayatun Nufus ( 1707201107 )

4. Chairunnisa ( 1707201104 )

5. Iqram Maulana ( 1707201111 )

6. M. Wahyu Noviar ( 1707201113 )

PRODI SI KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH

LHOKSEUMAWE

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga makalah “Trend Dan Issue Keperawatan paliatif” ini
dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan serta
memaparkan makalah trend dan issue keperawatan paliatif pada Mata Kuliah
Keperawatan Menjelang Ajal Dan Paliatif.
Dengan selesainya makalah trend dan issue keperawatan paliatif ini, kami
berharap dapat berbagi pengetahuan tentang bagaimana trend dan issue
keperawatan paliatif. Kami sadar bahwa makalah ini sangat jauh dari kata
sempurna, maka kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Lhokseumawe, 16 Oktober 2019

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................2
1.3 Tujuan ................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Paliatif Dan Perkembangannya Di Indonesia .......................................3
2.2 Tren Perkembangan Paliatif Care Di Bidang Pendidikan Dan Pelayanan .........4
2.3 Jenis Penyakit Yang Masuk Dalam Perawata Paliatif .......................................5
2.4 Masalah Keperawatan Pada Pasien Paliatif .......................................................6
2.5 Perkembangan Hospice Care ............................................................................7
2.6 Trend Dan Isu Keperawatan Paliatif Dalam Bidang Komunitas, Kmb,
Maternitas, Pediatric, Dan Gerontik .................................................................8

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ......................................................................................................32
3.2 Saran .................................................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................33

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawatan paliatif adalah perawatan yang dilakukan secara aktif pada
penderita yang sedang sekarat atau dalam fase terminal akibat penyakit yang
dideritanya. Pasien sudah tidak memiliki respon terhadap terapi kuratif yang
disebabkan oleh keganasan ginekologis. Perawatan ini mencakup penderita
serta melibatkan keluarganya (Aziz, Witjaksono, & Rasjidi, 2008).
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan meningkatkan
kualitas hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam menghadapi
penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan rasa
sakit melalui identifikasi dini, pengkajian yang sempurna, dan
penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau
spiritual. (World Health Organization (WHO) 2016).
Perawatan paliatif adalah perawatan yang dilakukan pada pasien dengan
penyakit yang dapat membatasi hidup mereka atau penyakit terminal dimana
penyakit ini sudah tidak lagi merespon terhadap pengobatan yang dapat
memperpanjang hidup (Robert, 2003). Perawatan paliatif merupakan perawatan
yang berfokus pada pasien dan keluarga dalam mengoptimalkan kualitas hidup
dengan mengantisipasi, mencegah, dan menghilangkan penderitaan.Perawatan
paliatif mencangkup seluruh rangkaian penyakit termasuk fisik, intelektual,
emosional, sosial, dan kebutuhan spiritual serta untuk memfasilitasi otonomi
pasien, mengakses informasi, dan pilihan (National Consensus Project for
Quality Palliative Care, 2013). Pada perawatan paliatif ini, kematian tidak
dianggap sebagai sesuatu yang harus di hindari tetapi kematian merupakan
suatu hal yang harus dihadapi sebagai bagian dari siklus kehidupan normal
setiap yang bernyawa (Nurwijaya dkk, 2010).
Permasalahan yang sering muncul ataupun terjadi pada pasien dengan
perawatan paliatif meliputi masalah psikologi, masalah hubungan sosial,
konsep diri, masalah dukungan keluarga serta masalah pada aspek spiritual
(Campbell, 2013). Perawatan paliatif ini bertujuan untuk membantu pasien

1
yang sudah mendekati ajalnya, agar pasien aktif dan dapat bertahan hidup
selama mungkin.
Perawatan paliatif ini meliputi mengurangi rasa sakit dan gejala lainnya,
membuat pasien menganggap kematias sebagai proses yang normal,
mengintegrasikan aspek-aspek spikokologis dan spritual (Hartati & Suheimi,
2010). Selain itu perawatan paliatif juga bertujuan agar pasien terminal tetap
dalam keadaan nyaman dan dapat meninggal dunia dengan baik dan tenang
(Bertens, 2009). Prinsip perawatan paliatif yaitu menghormati dan menghargai
martabat serta harga diri pasien dan keluarganya (Ferrel & Coyle, 2007).

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana konsep paliatif dan perkembangannya di Indonesia ?
b. Bangaimana Tren perkembangan paliatif care dibidang pendidikan dan
pelayanan ?
c. Jenis penyakit apa yang masuk dalam perawatan paliatif ?
d. Apa saja masalah keperawatan pada pasien paliatif ?
e. Bagaimana perkembangan hospice care ?
f. Trend dan isu keperawatan paliatif dibidang Komunitas, KMB, Maternitas,
Pediatric, dan Gerontik ?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui konsep paliatif dan perkembangannya di Indonesia
b. Untuk mengetahui Tren perkembangan paliatif care dibidang pendidikan
dan pelayanan kesehatan
c. Untuk mengetahui Jenis penyakit yang masuk dalam perawatan paliatif
d. Untuk mengetahui masalah keperawatan pada pasien paliatif
e. Untuk mengetahui perkembangan hospice care
f. Untuk mengetahui Trend dan isu keperawatan paliatif dibidang
Komunitas, KMB, Maternitas, Pediatric, dan Gerontik

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Paliatif Dan Perkembangannya Di Indonesia


Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas
hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan
dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan
peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan
nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual (sumber
referensi WHO, 2002).
Kebijakan untuk paliatif care telah direncanakan oleh Pemerintah Republik
Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
Nomor 604/MENKES/SK/IX/1989, dan telah lebih jelas lagi dengan
terbitnya Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
812/MenKes/SK/VII/2007 dengan penjelasannya yang terdapat di dalam
lapiran surat keputusan tersebut.
Tata kerja organisasi perawatan paliatif ini bersifat koodinatif dan
melibatkan semua unsur terkait dengan mengedepankan tim kerja yang kuat,
membentuk jaringan yang luas, inovasi tinggi, serta layanan sepenuh hati.
Menurut dr. Maria A. Witjaksono, prinsip-prinsip perawatan paliatif adalah
sebagai berikut :
1. Menghargai setiap kehidupan.
2. Menganggap kematian sebagai proses yang normal.
3. Tidak mempercepat atau menunda kematian.
4. Menghargai keinginan pasien dalam mengambil keputusan.
5. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
6. Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam perawatan
pasien dan Keluarga.
7. Menghindari tindakan medis yang sia-sia.
8. Memberikan dukungan yang diperlukan agar pasien tetap aktif sesuai
dengan kondisinya sampai akhir hayat.
9. Memberikan dukungan kepada keluarga dalam masa duka cita

3
Di Indonesia sendiri, perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 19
Februari 1992 di RS Dr. Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto
Mangunkusumo (Jakarta), RS Kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin
Sudirohusodo (Makassar), RS Dr. Sardjito (Yogyakarta), dan RS Sanglah
(Denpasar). Pelayanan yang diberikan meliputi:
1. Rawat jalan
2. Rawat inap (konsultatif)
3. Rawat rumah, yaitu dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah
penderita.
4. Day care, merupakan layanan untuk tindakan medis yang tidak
memerlukan rawat inap, seperti perawatan luka,kemoterapi dll.
5. Respite care, merupakan layanan yang bersifat psikologis.

2.2 Trend Perkembangan Paliative Care Di bidang Pendidikan Dan


Pelayanan
Kualitas Hidup Pasien
adalah keadaan pasien yang dipersepsikan terhadap keadaan pasien sesuai
konteks budaya dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup,
harapan, dan niatnya. Dimensi dari kualitas hidup menurut Jennifer J. Clinch,
Deborah Dudgeeon dan Harvey Schipper (1999), adalah :
1. Gejala fisik
2. Kemampuan fungsional (aktivitas)
3. Kesejahteraan keluarga
4. Spiritual
5. Fungsi sosial
6. Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan)
7. Orientasi masa depan
8. Kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri
9. Fungsi dalam bekerja
Menurut KEPMENKES RI NOMOR : 812, 2007 Palliative home care
adalah pelayanan perawatan paliatif yang dilakukan di rumah pasien, oleh
tenaga paliatif dan atau keluarga atas bimbingan/ pengawasan tenaga paliatif.
Hospis adalah tempat dimana pasien dengan penyakit stadium terminal yang

4
tidak dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang harus
dilakukan di rumah sakit. Pelayanan yang diberikan tidak seperti di rumah
sakit, tetapi dapat memberikan pelayaan untuk mengendalikan gejala-gejala
yang ada, dengan keadaan seperti di rumah pasien sendiri.
Menurut KEPMENKES RI NOMOR : 812, 2007 Sarana (fasilitas)
kesehatan adalah tempat yang menyediakan layanan kesehatan secara medis
bagi masyarakat. Kompeten adalah keadaan kesehatan mental pasien
sedemikian rupa sehingga mampu menerima dan memahami informasi yang
diperlukan dan mampu membuat keputusan secara rasional berdasarkan
informasi tersebut (KEPMENKES RI NOMOR : 812, 2007).

2.3 Jenis Penyakit Yang Masuk Dalam Perawatan Paliatif


Penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi 38.5%, kanker 34%, penyakit
pernapasan kronis 10.3%, HIV/AIDS 5.7%, diabetes 4.6% dan memerlukan
perawatan paliatif sekitas 40-60%. Pada tahun 2011 terdapat 29 juta orang
meninggal di karenakan penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif.
Kebanyakan orang yang membutuhkan perawatan paliatif berada pada
kelompok dewasa 60% dengan usia lebih dari 60 tahun, dewasa (usia 15-59
tahun) 25%, pada usia 0-14 tahun yaitu 6% (Baxter, et al., 2014).
Prevalensi penyakit paliatif di dunia berdasarkan kasus tertinggi yaitu
Benua Pasifik Barat 29%, diikuti Eropa dan Asia Tenggara masing-masing
22% (WHO,2014). Benua Asia terdiri dari Asia Barat, Asia Selatan, Asia
Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Indonesia merupakan salah satu
negara yang termasuk dalam benua Asia Tenggara dengan kata lain bahwa
Indonesia termasuk dalam Negara yang membutuhkan perawatan paliatif.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) prevalensi
tumor/kanker di Indonesia adalah 1.4 per 1000 penduduk, atau sekitar 330.000
orang, diabete melitus 2.1%, jantung koroner (PJK) dengan bertambahnya
umur, tertinggi pada kelompok umur 65 -74 tahun yaitu 3.6%.Kementrian
kesehatan (KEMENKES, 2016) mengatakan kasus HIV sekitar 30.935, kasus
TB sekitar 330.910. Kasus stroke sekitar 1.236.825 dan 883.447 kasus
penyakit jantung dan penyakit diabetes sekitar 1,5% (KEMENKES, 2014).

5
2.4 Masalah Keperawatan Pada Pasien Paliatif
Permasalahan perawatan paliatif yang sering digambarkan pasien yaitu
kejadian-kejadian yang dapat mengancam diri sendiri dimana masalah yang
seringkali di keluhkan pasien yaitu mengenai masalah seperti nyeri, masalah
fisik, psikologi sosial, kultural serta spiritual (IAHPC, 2016). Permasalahan
yang muncul pada pasien yang menerima perawatan paliatif dilihat dari
persepktif keperawatan meliputi masalah psikologi, masalah hubungan sosial,
konsep diri, masalah dukungan keluarga serta masalah pada aspek spiritual
atau keagamaan (Campbell, 2013).
1) Masalah Fisik
Masalah fisik yang seringkali muncul yang merupakan keluhan dari pasien
paliatif yaitu nyeri (Anonim, 2017). Nyeri merupakan pengalaman
emosional dan sensori yang tidak menyenangkan yang muncul akibat
rusaknya jaringan aktual yang terjadi secara tiba-tiba dari intensitas ringan
hingga berat yang dapat diantisipasi dan diprediksi. Masalah nyeri dapat
ditegakkan apabiladata subjektif dan objektif dari pasien memenuhi
minimal tiga kriteria (NANDA, 2015).
2) Masalah Psikologi
Masalah psikologi paling sering dialami pasien paliatif adalah kecemasan.
hal yang menyebabkan terjadinya kecemasan ialah diagnosa penyakit yang
membuat pasien takut sehingga menyebabkan kecemasan bagi pasien
maupun keluarga (Misgiyanto & Susilawati, 2014).
Durand dan Barlow (2006) mengatakan kecemasan adalah keadaan
suasana hati yang ditandai oleh afek negatif dan gejala-gejala ketegangan
jasmaniah dimana seseorang mengantisipasi kemungkinan datangnya
bahaya atau kemalangan di masa yang akan datang dengan perasaan
khawatir. Menurut Carpenito (2000) kecemasan merupakan keadaan
individu atau kelompok saat mengalami perasaan yang sulit (ketakutan)
dan aktivasi sistem saraf otonom dalam berespon terhadap ketidakjelasan
atau ancaman tidak spesifik.
NANDA (2015) menyatakan bahwa kecemasan adalah perasaan tidak
nyaman atau kekhawatiran yang diseratai oleh respon otonom, perasaan

6
takut yang disebabkan olehantisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan
tanda waspada yang member tanda individu akan adanya bahaya dan
mampukah individu tersebut mengatasinya.
3) Masalah Sosial
Masalah pada aspek sosial dapat terjadi karena adanya ketidak normalan
kondisi hubungan social pasien dengan orang yang ada disekitar pasien
baik itu keluarga maupun rekan kerja (Misgiyanto & Susilawati, 2014).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam
(Twondsend, 1998). Atau suatu keadaan dimana seseorang individu
mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi
dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak
diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dan
tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Kelliat,
2006 ).
4) Masalah Spiritual
Menurut Carpenito (2006) salah satu masalah yang sering muncul pada
pasien paliatif adalah distress spiritual. Distres spiritual dapat terjadi
karena diagnose penyakit kronis, nyeri, gejala fisik, isolasi dalam
menjalani pengobatan serta ketidakmampuan pasien dalam melakukan
ritual keagamaan yang mana biasanya dapat dilakukan secara mandiri.
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain,
seni, musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya
(Hamid, 2008). Definisi lain mengatakan bahwa distres spiritual adalah
gangguan dalam prinsip hidup yang meliputi seluruh kehidupan seseorang
dan diintegrasikan biologis dan psikososial (Keliat dkk, 2011).

2.5 Perkembangan Hospice Care


Di Indonesia, perawatan di hospis atau Hospice care merupakan hal yang
baru. Falsafah Hospice Care adalah manusia yang menderita harus dibantu dan
diringankan penderitaannya, agar kualitas hidupnya dapat ditingkatkan selama
sakit sampai ajal, dan meninggal dengan tenang.

7
Lembaga Pelayanan Kesehatan, terdiri dari :
1. Rawat Jalan
2. Institusi
3. Hospice
4. Community Based Agency
Hospice care adalah perawatan pasien terminal (stadium akhir) dimana
pengobatan terhadap penyakitnya tidak diperlukan lagi. Perawatan ini
bertujuan meringankan penderitaan dan rasa tidak nyaman dari pasien,
berlandaskan pada aspek bio-psiko-sosial-spiritual. (Hospice Home Care,
2011)

2.6 Trend Dan Isu Keperawatan Komunitas, KMB, Maternitas, Pediatric,


Dan Gerontik
A. Trend Dan Issue Keperawatan Komunitas
Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara terus
menerus dan terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga pemenuhan
dan metode keprawatan kesehatan berubah, karena gaya hidup masyarakat
berubah dan perawat sendiri juga dapat menyesuaikan dengan perubahan
tersebut. Definisi dan filosofi terkini dari keperawatan memperlihatkan trend
holistic dalam keperawatan yang ditunjukkan secara keseluruhan dalam
berbagai dimensi, baik dimensi sehat maupun sakit serta dalam interaksinya
dengan keluarga dan komunitas. Tren praktik keperawatan meliputi
perkembangan di berbagai tempat praktik dimana perawat memiliki
kemandirian yang lebih besar. Perkembangan Keperawatan di Indonesia saat
ini sangat pesat, hal ini disebabkan oleh :
a. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat
sehingga informasi dengan cepat dapat diakses oleh semua orang sehingga
informasi dengan cepat diketahui oleh masyarakat.
b. Perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di
Indonesia harus menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di
negara yang telah berkembang.
c. Sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga masyarakat
menuntut pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, tapi di lain pihak

8
bagi masyarakat ekonomi lemah mereka ingin pelayanan kesehatan yang
murah dan terjangkau.
1) Konsep Trend dan Issue Home Care
Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care
adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang
diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang
bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan
atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari
penyakit. Health care secara pribadi masih diutamakan penyakit dan orientasi
pengobatan dan mempunyai keutamaan dalam terapi medisnya.
Di Amerika, Home Care (HC) yang terorganisasikan dimulai sejak sekitar
tahun 1880-an, dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit infeksi
dengan angka kematian yang tinggi. Meskipun pada saat itu telah banyak
didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya masih sangat rendah,
hal ini dikarenakan masyarakat lebih menyukai perawatan dirumah. Di
Indonesia, layanan Home Care (HC) sebenarnya bukan merupakan hal yang
baru, karena merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh anggota
keluarga yang dilatih dan atau oleh tenaga keperawatan melalui kunjungan
rumah secara perorangan, adalah merupakan hal biasa sejak dahulu kala.
Landasan Hukum Home Care
a. Fungsi hukum dalam Praktik Perawat:
b. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana
yang sesuai dengan hukum
c. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
d. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan
mandiri
e. Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan
meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
UU Peraturan Home Care :
a. UU Nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
b. UU Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
c. UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan

9
d. PP Nomor 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
e. PP Nomor 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan
daerah.
f. PP Nomor 47 tahun 2006 tentang Jabatan fungsional dokter, dokter
gigi, apoteker, asisten apoteker, pranata laboratorium kesehatan.
epidemiologi kesehatan, entomology kesehatan, sanitarian,
administrator kesehatan, penyuluh kesehatan masyarakat, perawat gigi,
nutrisionis, bidan, perawat, radiographer, perekam medis, dan teknisi
elektromedis.
g. SK Menpan Nomor 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan
fungsonal perawat.
h. Kepmenkes Nomor 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas
i. Kepmenkes Nomor 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan
Perkesmas.
j. Kepmenkes Nomor 374 tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan
Nasional.
k. Kepmenkes Nomor 267 tahun 2010 tentang penetapan road map
reformasi kesehatan masyarakat.
l. Permenkes Nomor 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta.
m. Permenkes Nomor 148 tahun 2010 tentang ijin dan penyelenggaraan
praktik keperawatan.
2) Tujuan Perawatan Kesehatan Dirumah
a. Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan
kualitas hidupnya.
b. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota
keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan.
c. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga.
d. Membantu klien untuk tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan
perawatan yang diperlukan rehabilitasi atau perawatan paliatif.
3) Unit Perawatan Home Care
a. Pengelolah pelayanan
Merupakan individu, kelompok, ataupun organisasi yang bertanggung -

10
jawab terhadap seluruh pengelolaan pelayanan kesehatan rumah baik
penyediaan tenaga, sarana dan peralatan, serta mekanisme pelayanan
sesuai standart yang ditetapkan.
b. Pelaksana pelayanan
Merupakan tenaga keperawatan professional bekerja sama dengan tenaga
professional lain terkait dan tenaga non-profesional. Pelaksana pelayanan
terdiri atas coordinator kasus dan pelaksana pelayanan.
c. Klien
Merupakan penerima perawatan kesehatan di rumah dengan melibatkan
salah satu anggota keluarga sebagai penanggung jawab yang mewakili
klien. Apabila diperlukan keluarga dapat menunjuk seseorang yang akan
menjadi pengasuh yang melayani kebutuhan sehari-hari klien.
4) Mekanisme Perawatan Kesehatan Dirumah (Home Care)
Pasien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan
rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun
puskesmas, namun pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi
pelayanan keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk
memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus di lakukan adalah sebagai
berikut :
a. Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih
dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di
rawat di rumah atau tidak.
b. Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di
rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang
merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah,
kemudian bersama-sama klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya,
dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan
mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga
mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran,
serta jangka waktu pelayanan.
c. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan
keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau

11
pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan
dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang
dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh
koordinator kasus.
d. Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi
terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan
kesepakatan.
Persyaratan pasien yang menerima pelayanan perawatan dirumah :
a. Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau menja-
di pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola.
b. Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (Informed
consent).
c. Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan
dirumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam me-
nerima pelayanan.
5) Lingkup Praktik Home Care
Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan perinatal,
asuhan keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan keperawatan
dewasa, dan asuhan keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa
dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya.
Keperawatan yang dapat dilakukan dengan :
a. Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian
bio-psiko-sosio-spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung,
melakukan observasi, dan wawancara langsung, menentukan masalah
keperawatan, membuat perencanaan, dan melaksanakan tindakan
keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk memenuhi
kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan
keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis),
memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi.
b. Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada
klien, dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggung jawaban dan
tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa

12
pelayanan kepertawatan yang diberikan. Melakukan koordinasi dengan tim
yang lain kalau praktik dilakukan secara berkelompok.
c. Sebagai pembela/pendukung(advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan
asuhan keperawatan klien dirumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut
kerumah sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan
standart dan pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan /asuhan
yang diterima oleh klien.
d. Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan dirumah-
dilakukan, mencangkup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di
lakukan.

B. Trend dan Isu Keperawatan Medikal Bedah


1) Trend Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia
Perkembangan trend keperawatan medikal bedah di Indonesia terjadi dalam
berbagai bidang yang meliputi :
a. Telenursing (Pelayanan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh) Menurut
Martono, telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah
upaya penggunaan tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan
keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara
fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat.
Keuntungan dari teknologi ini yaitu mengurangi biaya
kesehatan, jangkauan tanpa batas akan layanan kesehatan, mengurangi
kunjungan dan masa hari rawat,meningkatkan pelayanan pasien sakit
kronis, mengembangkan model pendidikan keperawatan berbasis
multimedia (Britton, Keehner, Still & Walden 1999). Tetapi sistem
ini justru akan mengurangi intensitas interaksi antara perawat dan klien
dalam menjalin hubungan terapieutik sehingga konsep perawatan secara
holistik akan sedikit tersentuh oleh ners. Sistem ini baru diterapkan
dibeberapa rumah sakit di Indonesia, seperti di Rumah Sakit Internasional.
Hal ini disebabkan karena kurang meratanya penguasaan teknik informasi
oleh tenaga keperawatan serta sarana prasarana yang masih belum
memadai.

13
b. Prinsip Moisture Balance dalam Perawatan Luka Trend perawatan luka
yang digunakan saat ini adalah menjaga kelembaban area luka. Luka yang
lembab akan dapat mengaktivasi berbagai growt factor yang berperan
dalam proses penutupan luka, antara lain TGF beta 1-3, PDGF, TNF,
FGF dan lain sebagainya. Yang perlu diperhatikan adalah durasi waktu
dalam memberikan kelembapan pada luka sehingga resiko terjadinya
infeksi dapat diminimalkan. Selain itu prinsip ini juga tidak menghambat
aliran oksigen, nitrogen dan unsur-unsur penting lainnya serta merupakan
wadah terbaik untuk sel-sel tubuh tetap hidup dan melakukan replikasi
secara optimal, sehingga dianggap prinsip ini sangat efektif untuk
penyembuhan luka. Hal ini akan berdampak pada layanan
keperawatan,meningkatkan kepuasan pasien serta memperpendek lama
hari perawatan. Namun demikian, prinsip ini belum diterapkan di semua
rumah sakit di seluruh Indonesia.
c. Pencegahan HI-AIDS pada Remaja dengan Peer Group Remaja
merupakan masa dimana fungsi reproduksinya mulai berkembang, hal ini
akan berdampak pada perilaku seksualnya. Salah satu perilaku seksual
yang rentan akan memberikan dampak terjadinya HIV-AIDS yaitu seks
bebas. Saat ini sedang dikembangkan model ”peer group” sebagai salah
satu cara dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan remaja akan
kesehatan reproduksinya dengan harapan suatu kelompok remaja akan
dapat mempengaruhi kelompok remaja yang lain. Metode ini telah
diterapkan pada lembaga pendidikan, baik oleh Depkes maupun lembaga
swadaya masyarakat. Program sertifikasi perawat keahlian khusus
Bermacam-macam program sertifikasi saat ini mulai berkembang dalam
tatanan layanan keperawatan, khususnya pada bidang keperawatan
medikal bedah misalnya sertifikasi perawat luka oleh INETNA, sertifikasi
perawat anastesi, perawat emergency, perawat hemodialisa, perawat ICU,
perawat ICCU, perawat instrument OK. Yang menjadi pertanyaan adalah
apakah standarisasi setiap sertifikasi sudah sesuai dengan kompetensi
perawat profesional karena menurut analisa kami program tersebut
berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan yang jelas dari organisasi profesi dan-

14
terkesan hanya proyek dari lembaga-lembaga tertentu saja.
d. Hospice Home Care adalah perawatan pasien terminal yang dilakukan di
rumah setelah dilakukan perawatan di rumah sakit, dimana pengobatan
sudah tidak perlu dilakukan lagi. Bidang garapnya meliputi aspek bio-
psiko-sosio-spiritual yang bertujuan dalam memberikan dukungan fisik
dan psikis, dukungan moral bagi pasien dan keluarganya, dan juga
memberikan pelatihan perawatan praktis. Di Indonesia, metode perawatan
ini di bawah pengelolaan Yayasan Kanker Indonesia. Sedangkan di
beberapa rumah sakit yang lain program ini sudah dikembangkan, namun
belum dilakukan secara legal.
e. One Day Care Merupakan sistem pelayanan kesehatan dimana pasien tidak
memerlukan perawatan lebih dari satu hari. Setelah menjalani operasi
pembedahan dan perawatan, pasien boleh pulang. Biasanya dilakukan
pada kasus minimal. Berdasarkan hasil analisis beberapa rumah sakit,
diIndonesia didapatkan bahwa metode one day care ini dapat mengurangi
lama hari perawatan sehingga tidak menimbulkan penumpukkan pasien
pada rumah sakit tersebut dan dapat mengurangi beban kerja perawat. Hal
ini juga dapat berdampak pada pasien dimana biaya perawatan dapat
ditekan seminimal mungkin. Klinik HIV Saat ini mulai berkembang di
beberapa Rumah Sakit pemerintah maupun swasta. Hal ini dilakukan
dalam usaha mendeteksi dini akan HIV dan mencegah penyebaran HIV
dimasyarakat. Target penderita adalah kelompok masyarakat dengan
resiko tinggi, misalnya pekerja sex, penderita HIV-AIDS, remaja,
kelompok IDU (injection drug use). Klinik ini masih terbatas
dikembangkan dibeberapa rumah sakit saja. Hal ini disebabkan karena
kurangnya persiapan tenaga yang kompeten dalam bidang tersebut serta
sarana dan prasarana yang masih minimal. Selain itu masyarakat masih
belum siap untuk memanfaatkan klinik ini, karena ada stigma
dimasyarakat masih menganggap bahwa penyakit ini adalah penyakit
kutukan dan harus dikucilkan. Namun demikian, dalam praktik nyata,
telah ada wadah khusus dari Depkes RI untuk menjaring pengidap
HIV/AIDS oleh VCT (Voluntary Counselling and Testing). Usaha ini

15
telah berhasil menjaring sejumlah pengidap AIDS dimana hingga bulan
Juni 2008 telah terdeteksi 12.686 (Depkes, 2008).
f. Pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah
Sakit dalam Lingkup Keperawatan Medikal Bedah. Kegiatan-kegiatan
penelitian di klinik akan mendukung kualitas pelayanan keperawatan
dalam mendukung sistem pelayanan kesehatan. Kegiatan tersebut meliputi
membentuk komite riset, menciptakan lingkungan kerja yang ilmiah,
kebijakan kegiatan riset dan pemanfaatan hasilnya dan pendidikan
berkelanjutan. Akan tetapi pelaksanaan di Indonesia belum maksimal. Hal
ini dibuktikan dengan minimnya kegiatan ilmiah keperawatan di rumah
sakit, hasil penelitian jarang didiseminasikan dan dimanfaatkan untuk
pengembangan praktik klinis keperawatan.
2) Isue Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia
a. Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka.
Beberapa klinisi menganjurkan pemakaian tap water untuk mencuci awal
tepi luka sebelum diberikan NaCl 0,9 %. Hal ini dilakukan agar kotoran-
kotoran yang menempel pada luka dapat terbawa oleh aliran air. Kemudian
dibilas dengan larutan povidoneiodine yang telah diencerkan dan
dilanjutkan irigasi dengan NaCl 0,9%. Akan tetapi pemakaian prosedur ini
masih menimbulkan beberapa kontroversi karena kualitas tap water yang
berbeda di beberapa tempat dan keefektifan dalam pengenceran betadine.
Belum ada dokumentasi keperawatan yang baku sehingga setiap institusi
rumah sakit mengunakan versi atau modelnya sendiri-sendiri. Prosedur
rawat luka adalah kewenangan dokter. Ada beberapa pendapat bahwa
perawatan luka adalah kewenangan medis, akan tetapi dalam
kenyataannya yang melakukan adalah perawat sehingga dianggap sebagai
area abu-abu. Apabila ditinjau dari bebarapa literatur, perawat mempunyai
kewenangan mandiri sesuai dengan seni dan keilmuannya dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kerusakan integritas
kulit.
b. Euthanasia : suatu issue kontemporer dalam keperawatan. Saat ini mulai
terdengar istilah euthanasia, baik aktif maupun pasif. Euthanasia aktif

16
merupakan tindakan yang sengaja dilakukan untuk membuat seseorang
meninggal.Sedangkan euthanasia pasif adalah tindakan mengurangi
ketepatan dosis pengobatan, penghilangan pengobatan sama sekali atau
tindakan pendukung lainnya yang dapat mempercepat kematian seseorang.
Batas keduanya kabur, bahkan merupakan sesuatu yang tidak relevan. Di
Nederland euthanasia sudah dalam proses untuk dilegalisasi.
Dikatakan bahwa 72% dari populasi lebih cenderung untuk menjadi
relawan euthanasia aktif. Dalam praktik nyata, masyarakat telah
melegalkan euthanasia pasif terutama dalam proses aborsi. Diyakini bahwa
30 tahun yang akan datang, euthanasia akan bergeser dari sesuatu yang
”samar - samar” menjadi sesuatu yang legal. Dalam hal ini, perawat berada
dalam posisi yang sangat baik untuk mengkajinya secara lebih obyektif,
sehingga akan menjadi kesempatan terbaik bagi perawat untuk mengambil
bagian terlibat aktif dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan terkait,
khususnya pada kasus keperawatan medikal bedah.
c. Pengaturan sistem tenaga kesehatan
Sistem tenaga kesehatan di Indonesia saat ini belum tertata dengan baik,
pemerintah belum berfokus dalam memberikan keseimbangan hak
dan kewajibaan antar profesi kesehatan. Rasio penduduk dengan tenaga
kesehatan pada tahun 2003 menunjukkan perawat 108,53, bidan 28,40 dan
dokter 17,47 per 100.000 penduduk. Berdasarkan hasil penelitian dari
DEPKES menyebutkan bahwa puskesmas belum mempunyai sistem
penghargaan bagi perawat.
d. Lulusan D3 Keperawatan lebih banyak terserap di Rumah sakit pemerintah
dibandingkan S1. Dengan alasan tidak kuat menggaji lulusan S1
Keperawatan, banyak rumah sakit pemerintah dan swasta yang menyerap
lulusan D3 keperawatan. Dilihat dari jumlah formasi seleksi CPNS,
jumlah S1 sedikit dibutuhkan dibandingkan D3 keperawatan. Hal ini akan
berdampak pada kualitas layanan asuhan keperawatan pada
lingkup medikal bedah yang hanya berorientasi vokasional tidak profesi-
Onal.
e. Peran dan tanggung jawab yang belum ditetapkan sesuai dengan jenjang -

17
pendidikan sehingga implikasi di RS antara DIII, S1 dan Spesialis belum
jelas terlihat.
C. Trend Dan Issue Dalam Keperawatan Maternitas
1) Masalah
a. Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi
Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi adalah pelayanan kesehatan
yang semakin meningkat, kurangnya pengetahuan masyarakat progam KB
Penyebab angka kematian bayi masih tinggi kematian pada bayi disebabkan
oleh penyakit menular seperti radang paru-paru, diare dan malaria, Penyakit
yang merenggut paling banyak korban jiwa adalah radang paru-paru 18
persen, atau sebanyak 1,58 juta anak diare (15 persen, 1,34 juta) dan malaria
8 persen, 0.73 juta anak.
b. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh
sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes
RI,Dirjen Binkesmas, 2004) Penyebab kematian ibu cukup kompleks, dapat
digolongkan atas faktor- factor reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan
kesehatan dan sosio-ekonomi. Penyebab komplikasi obstetrik langsung telah
banyak diketahui dan dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti
sulit. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan -
antepartum dan perdarahan postpartum.
c. Penyakit menular seksual
Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat
menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual.
Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur
yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap
tahun adalah dari kelompok ini. Hampir seluruh PMS dapat diobati.
Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi
resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti
herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan
oleh virus, tidak dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat
tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan.

18
Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore
seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian. Beberapa
PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang
Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan.
Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan
penting untuk dilakukan
2) Penemuan Teknologi Terbaru
a. alat Kontrasepsi Implan Terbaru UGM berhasil menemukan alat
kontrasepsi implant atau susuk KB generasi ke tiga yang dinamakan
Gestplan. Kelebihan alat kontresepsi ini bias bertahan hingga 7 tahun di
badingkan implant saat ini yang berumur 5 tahun. Penemuan ini hasil dari
penelitian dari jurusan Farmatologi dan Toksikologi UGM.
b. Water Birth Proses persalinan atau proses melahirkan yang dilakukan di
dalam air, manfaaatnya ibu akan merasakan lebih relaks karena semua otot
yang berkaitan dengan proses persalinan menjadi lebih elastic. Metode ini
juga akan mempermudah proses mengejar sehingga rasa nyeri selama
persalinan tidak terlalu dirasakan, di dalam air proses proses pembukaan
jalan lahir akan lebih cepat.
c. Alat USG ( Ultrasonografi ) 3D dan 4D adalah alat USG yang
berkemampuan menampilkan gambar 3 dan 4 dimensi di teknologi ini
janin dapat terlihat utuh dan jelas seperti layaknya bayi yang
sesungguhnya ( dr. Judi Januadi Endjun S.pog ) Alat USG ini bahkan
dapat memperlihatkan seluruh tubuh bayi berikut gerak- geriknya
teknologi 3 dan 4 dimensi menjadi pelengkap bila di duga janin dalam
keadaan tidak normal dan perlu di cari kelainan bawaannya seperti bibir
sumbing, kelaina pada jantung dan sebagainya.
d. Pil KB Terbaru Pil KB dengan dorspirenone merupakan pil yang membuat
seseorang merasa lebih nyaman. Mengandung progestin baru dorspirenone
yaitu homon yang sangat menyerupai progesteron salah satu hormon
dalam tubuh. Dorspirenone mempunyai profil farmakologis yang sangat
mirip dengan progesteron alami dengan karateristik memiliki efek
antimineralokortoid dan antiandrogenik tidak memiliki aktifitas

19
ekstrogenik, androgenik, glukortikoid dengan sifat antineralokortikoid. Pil
KB dengan dorspirenone dapat memberikan manfaat tambahan yaitu tidak
menaikkan berat badan, mengurangi gejala kembung, Haid menjadi
teratur, mengurangi nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid, tidak
menaikan tekanan darah dengan androgennya mengurangi jerawat, dan
mempercantik rambut dan kulit.
e. Robot akan digunakan untuk mengobati orang sakit Diagnostik ini robot
akan menggunakan penelitian global untuk memberikan pendapat ahli,
beberapa dokter yang akan berani untuk diabaikan. Pelatihan medis akan
beralih dari apa yang orang tahu, untuk mendapatkan data yang akurat
yang robot bisa membuat keputusan, dan menyediakan “high-touch”
dukungan emosional. Ahli bedah akan selalu berada pada premium,
bersama-sama dengan tangan-on wali yang akan semakin berbasis
masyarakat, dengan kualifikasi yang sangat khusus. Operasi remote akan
menjadi bagian rutin setiap pusat spesialis rutin. Batas antara dokter dan
perawat akan terus kabur sebagai perawat berwenang untuk membuat lebih
banyak keputusan. Akibatnya pelatihan perawat akan semakin panjang dan
perawat kelas atas akan lebih mahal).
3) Trend pendidikan dini pada janin dalam kandungan
a. Anak cerdas dan kreatif berkat alunan musik.
Menurut guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, stimulasi
meliputi stimulasi fisik-motorik dengan “mengelus-elus” jabang bayi
melalui kulit perut sang ibu, stimulasi kognitif dengan berbicara dan
bercerita kepada janin, dan stimulasi afektif dengan menyentuh perasaan
bayi. Makin sering dan teratur perangsangan diberikan, makin efektif
pengaruhnya. Pada janin, musik akan merangsang perkembangan sel-sel
otak. Perangsangan ini sangat penting karena masa tumbuh kembang otak
yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan hingga bayi berusia tiga
tahun. Namun, menurut dr. Jimmy Passat, ahli saraf dari FKUI-RSCM,
dan Isye Widodo, S.Psi, koordinator Parent Education Program RSAB
Harapan Kita, Jakarta, intervensi ini haruslah seimbang. Orang tua
sebaiknya tidak hanya menstimulasi kemampuan otak kiri, tetapi juga otak

20
kanannya. Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi
ini memang dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi
berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif,
perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna,
pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan
kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan
fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, dan
peristiwa), logika, dan analisis. Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan
secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma
memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia
pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang
dengan baik. Menurut Suzuki (1987), seperti dikutip Utami, bila anak
dibesarkan dalam suasana musik Mozart sejak dini, jiwa Mozart yang
penuh kasih sayang akan tumbuh juga dalam dirinya.
4) Trend dan issue dalam keperawatan anak (senam otak)
Beberapa riset menunjukkan bahwa keberuntungan dan peluang bermula
dari cara berpikir seseorang yang menentukan pola tindakannya, Banyak
orang sukses di Indonesia dan negara Timur lainnya, menggunakan intuisi
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Di pihak lain, orang yang juga
sukses di Barat justru lebih banyak menggunakan rasionya. Berarti kesuksesan
akan lebih mudah diperoleh bila kita mampu menggunakan intuisi (otak
kanan) dan rasio (otak kiri). Sayangnya, menurut riset yang pernah dilaporkan,
hanya 3% penduduk dunia yang menggunakan otaknya secara seimbang.
Berikut adalah cara melatih agar otak kiri dan otak kanan anak berkembang
sama baiknya dan menjadi seimbang antara kecerdasan emosional (EQ) dan
Intelektual (IQ) sehingga munculah kecedasan spritual (SQ) yang baik juga.
Latihan yang bisa dilakukan adalah :
a. Tangan kanan menepuk-nepuk kepala, tangan kiri melakukan gerakan
memutar di atas perut. Lakukan dalam 8 hitungan, lalu lakukan yang
sebaliknya.
b. Kepalkan tangan kanan dan lakukan gerakan seperti menumbuk pada paha
kanan, sementara tangan kiri melakukan mengelus paha kiri. Lakukan dlm

21
8 hitungan, lalu lakukan yang sebaliknya.
5) Trend dan issue dalam keperawatan dewasa (palliative dan hospice care)
Hospice adalah suatu sistem asuhan keperawatan yang diberikan kepada
pasien sakit kronis atau terminal bersama keluarganya. Sistem ini khusus
didesign untuk memenuhi tujuan perawatan yang berpusat pada keluarga dan
dapat melibatkan perawatan dirumah. Perawatan pada unit day care dan
tempat hospice yang sebenarnya (unit perawatan terminal). Hospice care telah
mengembangkan filosofi yang menyatakan bahwa kematian adalah sebuah
proses alami yang tidak boleh dipercepat atau ditunda dan bahwa orang
tersebut harus tetap dalam keadaan nyaman.
Hospice care adalah:
a. Perawatan yang diberikan pada orang-oranng penderita penyakit
terminal yang harapan hidupnya enam bulan atau kurang.
b. Jika diperlukan,melibatkan perawatan fisik langsung. Bersifat
mendukung keluerga pasien.
c. Diberikan difasilitasi khusus hospic, di fasilitasi peerawatan lain di
rumah. Lebih banyak dilakukan oleh asisten perawatan rumah atau
asisten keperawatan dibawah arahan pemberi asuhan kesehatan
profesional.
d. Dilakukan konseling kehilangan untuk membantu orang-orang yang
masih hidup agar menerima kematian orang yang dicintainya.
e. Sebuah program di mana sukarelawan memainkan peran penting,
melakukan kunjungan pribadi yang teratur ke pasien dan keluarga.
Tujuan hospice care antara lain:
a. Pengendalian nyeri sehingga individudapat tetap berpartisipasi aktif
dalam hidup sampai ia meninggal.
b. Mengkoordinasikan layanan dukungan psikologis, spiritual dan sosial
untuk pasien dan keluarga.
c. Mengadakan konseling hukumdan finansial untuk pasien dan keluarga.
6) Palliative Care Penderita Penyakit Terminal Pada Anak
a. Kebutuhan Anak Yang Terminal
Pertama, komunikasi, dalam hal ini anak sangat perlu di ajak untuk berko -

22
munikasi atau berbicara dengan yang lain terutama oleh kedua orang tua
karena dengan orang tua mengajak anak berkomunikasi /berbicara anak
merasa bahhwa ia tidak sendiri dan ia merasa ditemani. Kedua,
memberitahu kepada anak bahwa ia tidak sendiri dalam menghadapi
penyakit tersebut. Ketiga, berdiskusi dengan siblings (saudara kandung)
agar saudara kandung mau ikut berpartisipasi dalam perawatan atau untuk
merawat, Keempat, Soccial support meningkatkan koping. (Arnold, 1998).
b. Menjelaskan Kematian Pada Anak
Kebanyakan seorang psikolog percaya bahwa dengan berkata jujur
merupakan strategi yang terbaik dalam mendiskusikan kematian dengan
anak. Respon anak terhadap pertanyaan mengenai kematian merupakan
dasar tingkat kematangan anak dalam mengartikan kematian. Pada anak
pra sekolah ,anak mengartikan kematian sebagai : kematian adalah sudah
tidak ada nafas, dada dan perut datar, tidak bergerak lagi,dan tidak bisa
berjalan seperti layaknya orang yang dapat berjalan seperti orang sebelum
mati / meninggal. Kebanyakan anak- anak( anak yang menderita penyakit
terminal ) membutuhkan keberanaian, bahwa ia di cintai dan tidak akan
merasa di tinggalkan. Tanpa memandang umur, sebagai orang tua
seharusnya sensitife dan simpati, mendukunng apa yang anak rasakan.
(White, 2010).
d. Perbedaan Anak Dan Dewasa Dalam Mengartikan Kematian
Perbedaan anak dan dewasa dalam mengartikan kematian dalam
kehidupan adalah Jangan berfikir kognitif dewasa dengan anak tentang arti
kematian, anak tidak memiliki kematangan emosional dalam
mempersepsikan tentang arti kematian , mekanisme koping pada anak
belum terbentuk, Anak di ajak berdiskusi mengenai / tentang tuhan, surga,
dan benda-benda yang tidak terlihat. (Ferrell, & Coyle, 2007: 1194)
e. Support (Dukungan)
Dukungan sangat diperlukan dan sangat dibutukan oleh anak yang
mengidap penyakit terminal, siapa saja yang terlibat harus mendukung
disini yaitu orang tua, teman- teman , orang tua yang lainnya (kakek,

23
nenek, tante, paman), dan grife suport group. (Doyle, Hanks and
Macdonald, 2003, 1113)

D. Trend Dan Isu Keperawatan Lansia


1) Permasalahan Pada Lansia
Permasalahan Umum
a. Makin besar jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan.
b. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang
berusia lanjut kurang diperhatikan,dihargai dan dihormati.
c. Lahirnya kelompok masyarakat industry.
d. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan
lanjut usia.
e. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan
lansia.
Permasalahan Khusus
a. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik
fisik,mental maupun sosial.
b. Berkurangnya integrasi sosial usila.
c. Rendahnya produktifitas kerja lansia.
d. Banyaknya lansia yang miskin,terlantar dan cacat.
e. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan
masyarakat individualistik.
f. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu
kesehatan fisik lansia.
2) Fenomena Bio-psico-sosio-spiritual dan Penyakit Lansia
a. Perubahan mental
b. Perubahan-perubahan Psikososial
Karakteristik Penyakit pada Lansia :
1. Penyakit sering multiple,yaitu saling berhubungan satu sama lain.
2. Penyakit bersifat degeneratif yang sering menimbulkan kecacatan.
3. Gejala sering tidak jelas dan berkembang secara perlahan.
4. Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial.
5. Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut.

24
6. Sering terjadi penyakit iatrogenik.
Kemudian penyakit lansia meliputi
1. Penyakit-penyakit kanker.
2. Penyakit-penyakit infeksi.
3. Congestif Renal Falure (CRF)
4. Stroke Multiple Sklerosis.
5. Akibat kecelakaan fatal.
6. AIDS.
3) Masalah Kesehatan Gerontik
Masalah kehidupan seksual
Adanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang
adalah mitos atau kesalahpahaman. (parke, 1990). Pada kenyataannya
hubungan seksual pada suami isri yang sudah menikah dapat berlanjut sampai
bertahun-tahun. Bahkan aktivitas ini dapat dilakukan pada saat klien sakit atau
mengalami ketidakmampuan dengan cara berimajinasi atau menyesuaikan diri
dengan pasangan masing-masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa
maturitas dan kemesraan antara kedua pasangan sepenuhnya normal.
Ketertarikan terhadap hubungan intim dapat terulang antara pasangan dalam
membentuk ikatan fisik dan emosional secara mendalam selama masih mampu
melaksanakan.
Perubahan prilaku
Pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya: daya
ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan penurunan
merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinya sudah tidak menarik lagi,
lansia sering menyebabkan sensitivitas emosional seseorang yang akhinya
menjadi sumber banyak masalah.
Pembatasan fisik
Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama
dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada
peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya ganggun di
dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan kete-
rgantunan yang memerlukan bantuan orang lain.

25
Palliative care
Pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut
ditunjukan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena
poli fermasi dapat menimbulkan masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek
samping obat. Sebagai contoh klien dengan gagal jantung dan edema mungkin
diobatai dengan dioksin dan diuretika. Diuretik berfungsi untu mengurangi
volume darah dan salah satu efek sampingnya yaitu keracunan digosin. Klien
yang sama mungkin mengalami depresi sehingga diobati dengan antidepresan.
Dan efek samping inilah yang menyebaban ketidaknyaman lansia.
Pengunaan obat
Medikasi pada lansia memerlukan perhatian yang khusus dan merupakan
persoalan yang sering kali muncul dimasyarakat atau rumah sakit. Persoalan
utama dan terapi obat pada lansia adalah terjadinya perubahan fisiologi pada
lansia akibat efek obat yang luas, termasuk efek samping obat tersebut.
(Watson, 1992). Dampak praktis dengan adanya perubahan usia ini adalah
bahwa obat dengan dosis yang lebih kecil cenderung diberikan untuk lansia.
Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia sering kali menderita
bermacam-macam penyakit untuk diobati sehingga mereka membutuhkan
beberapa jenis obat. Persoalan yang dialami lansia dalam pengobatan adalah :
a. Bingung
b. Lemah ingatan
c. Penglihatan berkurang
d. Tidak bias memegang
e. Kurang memahami pentingnya program tersebut unuk dipatuhi
f. Kesehatan mental
4) Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap Lansia
Upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi azas, pendekatan, dan
jenis pelayanan kesehatan yang diterima.
a. Azas
Menurut WHO (1991) adalah to Add life to the Years that Have Been
Added to life, dengan prinsip kemerdekaan (independence), partisipasi
(participation), perawatan (care), pemenuhan diri (self fulfillment), dan

26
kehormatan (dignity). Azas yang dianut oleh Departemen Kesehatan RI
adalah meningkatkan mutu kehidupan lanjut usia, meningkatkan
kesehatan, dan memperpanjang usia.
b. Pendekatan
Menurut World Health Organization (1982), pendekatan yang digunakan
adalag sebagai berikut :
 Menikmati hasil pembangunan (sharing the benefits of social
development)
 Masing-masing lansia mempunyai keunikan (individuality of aging
persons)
 Lansia diusahakan mandiri dalam berbagai hal (nondependence)
 Lansia turut memilih kebijakan (choice)
 Memberikan perawatan di rumah (home care)
 Pelayanan harus dicapai dengan mudah (accessibility)
 Mendorong ikatan akrab antar kelompok/ antar generasi (engaging the
aging)
 Transportasi dan utilitas bangunan yang sesuai dengan lansia
(mobility)
 Para lansia dapat terus berguna dalam menghasilkan karya
(productivity)
 Lansia beserta keluarga aktif memelihara kesehatan lansia (self help
care and family care)
c. Jenis
Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lim upaya kesehatan,
yaitu Promotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan
kecacatan, serta pemulihan.
Promotif
Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk me-
ningkatkan dukungan klien, tenaga profesional dan masyarakat
terhadap praktek kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial.
Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia sebagai berikut :
 Mengurangi cedera

27
 Meningkatkan keamanan di tempat kerja
 Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk
 Meningkatkan keamanan, penanganan makanan dan obat-obatan
 Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut
Preventif
 Mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier. Contoh
pencegahan primer : program imunisasi, konseling, dukungan
nutrisi, exercise, keamanan di dalam dan sekitar rumah,
menejemen stres, menggunakan medikasi yang tepat.
 Melakukakn pencegahan sekuder meliputi pemeriksaan terhadap
penderita tanpa gejala. Jenis pelayanan pencegahan sekunder:
kontrol hipertensi, deteksi dan pengobatan kanker, skrining :
pemeriksaan rektal, mamogram, papsmear, gigi, mulut.
 Melakukan pencegahan tersier dilakukan sesudah gejala penyakit
dan cacat. Jenis pelayanan mencegah berkembangnya gejala
dengan memfasilisasi rehabilitasi, medukung usaha untuk
mempertahankan kemampuan anggota badan yang masih
berfungsi.
Rehabilitatif
5) Prinsip Pelayanan Kesehatan Lansia
a. Pertahankan lingkungan aman
b. Pertahankan kenyamanan, istirahat, aktifitas dan mobilitas
c. Pertahankan kecukupan gizi
d. Pertahankan fungsi pernafasan
e. Pertahankan aliran darah
f. Pertahankan kulit
g. Pertahankan fungsi pencernaan
h. Pertahankan fungsi saluran perkemihaan
i. Meningkatkan fungsi psikososial
j. Pertahankan komunikasi
k. Mendorong pelaksanaan tugas
6) Hukum dan Perundang-undangan yang Terkait dengan Lansia

28
a. UU No. 4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jomp.
b. UU No.14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja
c. UU No.6 tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial
d. UU No.3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
e. UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
f. UU No. 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian
g. UU No.4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman
h. UU No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera
i. UU No.11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun
j. UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan
k. PP No.21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga
Sejahtera
l. PP No.27 tahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan
m. UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia (tambahan lembaran
negara Nomor 3796) sebagai pengganti UU No.4 tahun 1965 tentang
Pemberian Bantuan bagi Orang Jompo.
UU No. 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain :
a. Hak, kewajiban, tugas, serta tanggung jawab pemerintah, masyarakat,
dan kelembagaan.
b. Upaya pemberdayaan
c. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lansia potensial dan tidak
potensial
d. Pelayanan terhadap lansia
e. Perlindungan sosial
f. Bantuan sosial
g. Koordinasi
h. Ketentuan pidana dan sanksi administrasi
i. Ketentuan peralihan
Beberapa undang-undang yang perlu disusun adalah :
1. UU tentang Pelayanan Lansia Berkelanjutan (Continum of Care)
2. UU tentang Tunjangan Perawatan Lansia

29
3. UU tentang Penghuni Panti (Charter of Resident’s Right)
4. UU tentang Pelayanan Lansia di Masyarakat (Community Option
Program)
7) Program Pemerintah dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia
Contoh upaya pemerintah di negara maju dalam meningkatkan kesehatan
masyarakatnya, diantaranya adanya medicare dan medicaid. Medicare adalah
program asuransi social federal yang dirancang untu menyediakan perawatan
kesehatan bagi lansia yang memberikan jaminan keamanan social. Medicare
dibagi 2 : bagian A asuransi rumah sakit dan B asuransi medis. Semua pasien
berhak atas bagian A, yang memberikan santunan terbatas untuk perawatan rumah
sakit dan perawatan di rumah pasca rumah sakit dan kunjungan asuhan kesehatan
yang tidak terbatas di rumah. Bagian B merupakan program sukarela dengan
penambhan sedikit premi perbulan, bagian B menyantuni secara terbatas layanan
rawat jalan medis dan kunjungan dokter. Layanan mayor yang tidak di santuni
oleh ke dua bagian tersebut termasuk asuhan keperwatan tidak terampil, asuhan
keperawatan rumah yang berkelanjutan obat-obat yang diresepkan, kaca mata dan
perawatan gigi. Medical membayar sekitar biyaya kesehatan lansia (U.S Senate
Committee on Aging, 1991).
Medicaid adalah program kesehatan yang dibiayai oleh dana Negara dan
bantuan pemerintah bersangkutan. Program ini beredar antara satu Negara dengan
lainya dan hanya diperuntukan bagi orang tidak mampu. Medicaid merupakan
sumber utama dana masyarakat yang memberikan asuhan keperawatan di rumah
bagi lansia yang tidak mampu. Program ini menjamin semua layanan medis dasar
dan layanan medis lain seperti obta-obatan, kaca mata dan perawatan gigi.
Adapun program kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia yang
diperuntukkan khusunya bagi lansia adalah JPKM yang merupakan salah satu
program pokok perawatan kesehatan masyarakat yang ada di puskesmas
sasarannya adalah yang didalamnya ada keluarga lansia. Perkembangan jumlah
keluarga yang terus menerus meningkat dan banyaknya keluarga yang berisiko
tentunya menurut perawat memberikan pelayanan pada keluarga secara
professional. Tuntutan ini tentunya membangun “ Indonesia Sehat 2010 “ yang
salah satu strateginya adalah Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat

30
(JPKM). Dengan strategi ini diharapkan lansia mendapatkan yang baik dan
perhatian yang layak.

31
BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perawatan paliatif adalah perawatan total dan aktif dari untuk penderita
yang penyakitnya tidaklagi responsive terhadap pengobatan kuratif.
Berdasarkan definisi ini maka jelas perawatan paliatif hanya diberikan kepada
penderita yang penyakitnya sudah tidak respossif terhadap pengobatan
kuratif. Artinya sudah tidak dapat disembuhkan dengan upaya kuratif apapun.
Tujuan umum kebijakan paliatif adalah meningkatkan kualitas hidup yang
seoptimal mungkin bagi penderita dan keluarganya. Yang artinya
meningkatkan kualitas hidup dan menganggap bahwa kematian adalah proses
yang normal, tidak mempercepat atau menunda kematian, menghilangkan
rasa nyeri dan keluhan lain yang menganggu, menjaga keseimbangan
psikososial dan spiritual, berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir
hayatnya serta berusaha membantu duka cita pada keluarga.
3.2 Saran
a. Semoga makalah ini dapat bermamfaat bagi yang pembaca, terutama
mahasiswa keperawatan
b. Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa
keperawatan.

32
DAFTAR PUSTAKA

Artantihendriyana.(2014).Perawatan paliatif dan kualitas hidup bangsa.(Diakses


tgl 02 Oktober 2019 pukul 08.00) http://www.unpad.ac.id/2014/03/perawatan-
paliatif-dan-kualitas-hidup-bangsa/.

Brunner & Suddarth Ed.8.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta: EGC.

Cemy Nur Fitria. (2010). Palliative Care Pada Penderita Penyakit Terminal.
Muhammadiyah Surakarta: Vol. 7 No. 1 . (Diakses 02 Oktober 2019 pukul 19.00)

KEPMENKES RI NOMOR: 812/ MENKES/SK/VII/2007. Tentang Kebijakan


Perawatan Palliative. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Diakses tanggal 02
Oktober 2019 pukul 19:30).

Kholid Fasihal. (2017). Sistem Komunitas III Trend Dan Issue Keperawatan
Komunitas (Home Care). Pontianak : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Tanjungpura. (Diakses tanggal 02 Oktober 2019 pukul
20: 20 )

Nuhonnidkk. (2010). Bunga Rampai Perawatan paliatif . Jakarta : BadanPenerbit


FKUI

Potter dan Ferry.(2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Vol.1. Jakarta:


EGC

Phipps. J Wilma et al (2003). Medical surgical nursing : Health and illness


perspectives, ,Mosby Inc., USA

Sumijatu dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatn Komunitas. Jakarta: EGC.

33

Anda mungkin juga menyukai