Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP PENURUNAN


NYERI PADA PASIEN HIPERTENSI
Dosen Pengampu

Di Susun Oleh:
Kelompok 30:
1. Dinilah Ayu Wandari (201601033)
2. Erna Dwi Rakhmawati (201601074)
3. Faiqatul munajjah (201601113)
4. Iin Anjarsari (201601151)
5. Ervandika Arrosyid (201601194)

S1 KEPERAWATAN
STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO
2019/2020
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Alla SWT, karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Hipertensi".
Selesainya penulisan makalah ini adalah berkat bantuan dan dukungan serta
bimbingan dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya dengan hati tulus kepada:
1. Dr. Muhammad Sajidin, S.Kp,.M.Kes selaku Ketua Stikes Bina Sehat PPNI
Kabupaten Mojokerto yang telah memberikan kesempatan penulis untuk
menempuh pendidikan di STIKes Bina Sehat PPNI Mojokerto.
2. Ana Zakiah, M.Kep selaku Kepala Program Studi S1 Keperawatan Stikes Bina
Sehat PPNI Kabupaten Mojokerto yang telah memberikan dorongan untuk
menyelesaikan pendidikan di STIKes Bina Sehat PPNI Mojokerto.

Mojokerto, Nopember 2019

Kelompok 4

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 4
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 4
1.4 Manfaat ........................................................................................................ 5
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Kompres Hangat ............................................................................. 6
2.2 Tujuan .......................................................................................................... 8
2.3 Cara melakukan Teknik Pernapasan Buteyko ............................................. 8
BAB III
2.1 Manfaat Kompres Hangat ............................................................................ 12
2.2 KelebihanKompres Hangat .......................................................................... 12
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .................................................................................................. 13
4.2 Saran ............................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut WHO lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang
berumur 60 tahun atau lebih. Secara global pada tahun 2013 proporsi dari populasi
penduduk berusia lebih dari 60 tahun adalah 11,7% dari total populasi dunia dan
diperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat seiring dengan peningkatan
usia harapan hidup.
Di kawasan Asia Tenggara populasi Lansia sebesar 8% atau sekitar 142 juta
jiwa. Pada tahun 2050 diperkirakan populasi Lansia meningkat 3 kali lipat. Pada
tahun 2000 jumlah Lansia sekitar 5,300,000 (7,4%) dari total polulasi, sedangkan
pada tahun 2010 jumlah Lansia 24,000,000 (9,77%) dari total populasi, dan tahun
2020 diperkirakan jumlah Lansia mencapai 28,800,000 (11,34%) dari total
populasi. Sedangkan di Indonesia sendiri pada tahun 2020 diperkirakan jumlah
Lansia sekitar 80.000.000. (WHO, 2013)
Masalah yang sering terjadi pada lansia adalah hipertensi (57,6%), artritis
(51,9%), stroke (46,1%), diabetes melitus(4,8%), PPOK (8,6%), kanker(3,9%),
penyakit jantung koroner (3,6%), batu ginal (1,2%), gagal jantung (0,9%) dan
gagal ginjal (0,5%). Dan jenis penyakit yang mendominasi adalah penyakit
golongan penyakit tidak menular, penyakit kronik dan degeneratif, terutama
golongan penyakit kardiovaskuler. (Kemenkes, 2013)
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah dalam arteri, tanda dan gejala
yang muncul dari penyakit hipertensi ini adalah tengkuk terasa pegal (nyeri leher),
pusing, sakit kepala, mudah marah, sulit bernapas yang dapat menganggu aktivitas
sehari-hari.
Departemen kesehatan RI memaparkan bahwa hipertensi menjadi penyebab
kematian nomer 3 setelah stroke dan tuberculosis. Prevalensi Hipertensi di
Indonesia sebesar 25,8%, tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung (30,9%),
sedangkan terendah di Papua sebesar (16,8%). Berdasarkan data tersebut dari
25,8% orang yang mengalami hipertensi hanya 1/3 yang terdiagnosis, sisanya 2/3
tidak terdiagnosis. Data menunjukkan hanya 0,7% orang yang terdiagnosis

1
tekanan darah tinggi minum obat Hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar penderita Hipertensi tidak menyadari menderita Hipertensi ataupun
mendapatkan pengobatan. (Kemenkes, 2013)
Seseorang yang telah didiagnosis menderita hipertensi atau mengalami
peningkatan tekanan darah yang perisistem harus segera mencari pengobatan
untuk mengontrol tekanan darah, mencegah terjadinya komplikasi, dan
mengurangi atau mengatasi tanda dan gejala yang muncul seperti pusing, sakit
kepala, tengkuk terasa pegal, mudah marah, sulit bernapas, pandangan kabur, dan
lain-lain. Pada umumnya ketika seseorang yang menderita hipertensi akan terjadi
peningkatan tekanan darah yang lebih dari normal dan biasanya akan muncul
tanda dan gejala yaitu salah satu tengguk terasa pegal. Tengkuk terasa pegal atau
kekakuan pada otot tengkuk diakibatkan karena terjadi peningkatan tekanan pada
dinding pembuluh darah di daerah leher sehingga aliran darah menjadi tidak
lancar, dan hasil akhir dari metabolisme di daerah leher akibat kekurangan O2 dan
dan nutrisi tertimbun dan menimbulkan peradangan pada daerah perlekatan otot
dan tulang sehingga muncul rasa nyeri. Nyeri yang dirasakan oleh penderita
hipertensi akan menggangu aktivitasnya sehari-hari. (Rohimah, 2015)
Oleh sebab itu nyeri pada penderita hipertensi harus segera di tangani
karena dapat menyebabkan gangguan pola tidur, konsentrasi, gerakan fisik,
bekerja dan aktivitas lainnya. Nyeri akut sering berkaitan dengan ansietas,
ansietas sering kali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat
menimbulkan suatu perasaan ansietas. Keletihan-keletihan yang meningkatkan
persepsi nyeri. Rasa kelelahan menyebabkan sensai nyeri semakin insentif dan
menurunkan kemampuan koping. Apabila keletihan disertai kesulitan tidur maka
persepsi nyeri bahkan dapat terasa lebih berat lagi. Salah satu terapi
nonfarmakologis yang digunakan untuk meredakan nyeri adalah kompres hangat.
Terapi kompres merupakan salah satu terapi non farmakologi yang
digunakan untuk menurunkan nyeri, kompres dapat di bedakan menjadi dua
tindakan, yaitu kompres hangat dan kompres dingin. Tindakan kompres hangat di
lakukan untuk melancarkan sirkulasi darah, juga untuk menghilangakan rasa
nyeri, serta memberikan ketenangan dan kesenangan pada klien. Dan terapi

2
kompres dingin dilakukan untuk menghilangkan rasa nyeri akibat edema atau
trauma, namun dapat mengakibatkan konstriksi pembuluh darah dan mengurangi
arus darah lokal (Noorhidayah, 2013).

1.2 Rumusan Masalah


Bagaiman proses penerapan kompres hangat pada lansia yang mengalami
hipertensi dengan masalah nyeri akut
1.3 Tujuan
1. Tujuan umum
Melaksanakan penerapan kompres hangat pada bagian bahu dan leher pada
pasien untuk menurunkan tekanan darah pada partisipasi hipertensi
2. Tujuan khusus
1. Melakukan pengkajian pada lansia yang mengalami hipertensi.
2. Mengidentifikai masalah nyeri.
3. Memberikan tindakan kompres hangat pada bagian bahu dan leher
untuk mengurangi rasa nyeri pada lansia yang mengalami hipertensi.
4. Mengevaluasi respon pasien yang telah diberikan tindakan kompres
hangat.

1.4 Manfaat
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hipertensi
pada lansia sehingga lansia dan anggota keluarga dapat lebih waspada
terhadap penyebab dan faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit
hipertensi, sehingga dapat mengantisipasi diri untuk mencegah hipertensi
yang menyebabkan nyeri akut.
2. Manfaat praktis
a. Bagi perawat dan profesi
Penelitian ini dapat dijadikan pedoman bagi pemberi layanan
kesehatan sebagai pelaksanaan penerapan kompres hangat yang dapat
diberikan pada pasien yang mengalami nyeri akut saat hipertensi
b. Bagi instansi pendidikan
Sebagai bahan acuan yang dapat dijadikan pedoman dan gambaran
pada mahasiswa untuk melaksanakan penerapan kesehatan tentang
kompres hangat pada hipertensi yang mengalami nyeri akut.

3
c. Bagi klien
Klien dan keluarga dapat menerapkan tindakan kompres hangat pada
bagian bahu dan leher pasien yang mengalami hipertensi jika nyeri
timbul.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Definisi Kompres Hangat
Kompres hangat merupakan tindakan keperawatan dengan memberikan
kompres hangat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. Tindakan
ini dapat dilakukan pada pasien yang mengalami nyeri, resiko terjadi infeksi luka dan
kerusakan fisik (Aziz Alimul Hidayat, 2013)
1.2 Tujuan kompres hangat
a. Memperlancar sirkulasi
b. Menurunkan suhu tubuh
c. Mengurangi rasa sakit
d. Memberi rasa hangat, nyaman dan tenang pada klien
e. Memperlancar pengeluaran eksudat
f. Merangsang peristaltik usus
1.3 Mekanisme kompres hangat
Kompres hangat merupakan tindakan utuk mengurangi nyeri dengan
memberikan energi panas melalui proses konduksi. Prinsip kerja kompres hangat
dengan handuk kecil atau menggunakan bulibuli yang dibungkus kain yaitu secara
konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari handuk kecil atau buli-buli kedalam
tubuh sehingga menyebabkan pelepasan pembuluh darah dan akan terjadi penurunan
ketegangan otot sehingga nyeri yang dirasakan akan
berkurang atau hilang (Padlia, 2012)
1.4 Metode pelaksanaan kompres hangat
Kompres hangat dapat diberikan melalui handuk yang telah direndama dalam
air hangat, botol yang berisi air hangat atau bantal hangat yang khusus dirancang
untuk mengompres. Suhu yang digunakan untuk mengompres harus diperhatikan agar
tidak terlalu panas. Suhu yang disarankan untuk kompres hangat adalah sekitar
4045℃. Walau digunakan untuk mengurangi nyeri, akan tetapi kompres hangat tidak
dianjurkan digunakan pada luka yang baru atau kurang dari 48jam karna akan

6
memperburuk kondisi luka akibat penumpukan cairan pada lokasi yang cidera dan
meningkatkan nyeri. Kompres hangat juga tidak boleh digunakan pada luka terbuka
dan luka yang masih terlihat bengkak (Tamsuri, 2012)

7
DAFTAR PUSTAKA
Bass, P. What Is Asthma? Definition, Statistics, Types & Causes of
Asthma.http://asthma.about.com/od/asthmabasics/a/Asthma_whatis.htmdiakses
pada tanggal 20 Nopember 2012 About.com: The New York Times Company.
2010.
Behman, Kliegman dan Arvin. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Vol 1. E/15. Jakarta:
EGC. 2000.
Courtney, Rosalba dan Marc Cohen. Investigating the Claims of Konstantin
Buteyko,M.D., Ph.D.: The Relationship of Breath Holding Time to End Tidal
CO2 andOther Proposed Measures of Dysfunctional
Breathing.http://www.liebertonline.com/doi/abs/10.1089/acm.2007.7204,
diakses padatanggal 02 November 2011. 2008.
Cowie, Robert L., et.al. A Randomised Controlled Trial Of The Buteyko Technique As
An Adjunct To Conventional Management Of Asthma.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0954611107005112,diakses
pada tanggal 02 November 2011.2008.
Depkes RI. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma, http://www.depkes.go.id,
diaksespada tanggal 01 November 2011.2009.
Djojodibroto, Darmanto. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC. 2009.
Dupler, Douglas. Buteyko: Gale Encyclopedia of Alternative
Medicine. http://www.encyclopedia.com/doc/1G2-3435100140.html. diakses
pada tanggal 20 Nopember 2012. 2005.
Elisa. Status Gizi, Status Pertumbuhan, dan Asupan Makanan Pada Penderita
Asma.http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jkpkbppk-
gdl-res-2000-elisa-748-gizi&q=Anak. Diakses pada tanggal 20 Nopember
2012. 2000.
Esteves, Denise. The Buteyko Method: Breathing Your Way to Cure. 2010.
Gershwin, M. Eric dan Timothy E. Albertson. Brochial Asthma: A Guide for
Practical Understanding and Treatment. Ed. 6. London: Springer. 2001.