Anda di halaman 1dari 58

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN PTSD

(TRAUMA, BULLYING) TERAPI HIPNOSIS DAN


ASERTIVE TRAINING

DisusunOleh :

Selvia Fourwanty (04021381720002)

DosenPembimbing :

Sri Maryatun.,S.kep.,Ns.,M.kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur, penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan Jiwa pada
pasien Trauma Bullying. Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada : Ibu
Sri Maryatun.,S.kep.,Ns.,M.kep, selaku dosen pembimbing yang telah membantu
dalam menyelesaikan makalah ini dengan sangat baik.

Penulis menyadari, makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi
sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis
maupun bagi pembaca.

Indralaya, Juni 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep teori
1. Definisi
2. Penyebab Bullying
3. Jenis Bullying
4. Tempat terjadinya Bullying
5. Deteksi dini perilaku bullying
6. Bahaya Bullying
7. Hukum Bullying
8. Hal yang harus dilakukan ketika menjadi korban bullying
9. Hal yang harus dilakukan ketika melihat tindak bullying
10. Hal yang harus dilakukan Jika mengalami trauma bullying
11. 5 Kriteria Persahabatan Bebas Bullying
12. Cara Mencegah Bullying
13. Terapi yang bisa dilakukan pada korban Trauma Bullying
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
2. Analisa Data
3. Diagnosa keperawatan
4. Intervensi Keperawatan
5. Implementasi Keperawatan
6. Evaluasi Keperawatan

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehidupan sosial manusia terdiri atas beberapa fase dan tingkatan.
Pada saat lahir, manusia sebagai individu tumbuh dan berkembang di
lingkungan keluarga. Setiap hari, ia melakukan kontak dan interaksi dengan
keluarga terutama orang tua. Pada fase ini, bayi ditanamkan nilai-nilai yang
dianut oleh orang tuanya.
Bertumbuh dewasa dan menjadi remaja, manusia sebagai individu
mulai mengenal lingkungan yang lebih luas daripada keluarga. Sosialisasi
yang dialami individu mulai bertambah luas. Individu mulai berinteraksi
dengan teman sebayanya. Hal ini membuat keterampilan sosial individu
makin meningkat. Jika nilai-nilai yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya
diserap dengan baik, maka keterampilan sosial yang dimiliki oleh individu
tersebut bisa menjadi lebih baik. Hal itu disebabkan karena manusia tumbuh
dan berkembang dari fase ke fase tanpa meninggalkan apa yang telah ia
pelajari dari fase sebelumnya. Sebaliknya, apabila sosialisasi nilai-nilai
yang ditanamkan keluarga kurang terserap oleh anak, maka bisa jadi
perkembangan perilaku dan psikososialnya terhambat. Akibatnya, remaja
mulai menunjukkan gejala-gejala patologis seperti kenakalan dan perilaku-
perilaku beresiko lainnya, salah satunya adalah bullying.
Menurut Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), saat ini
kasus bullying menduduki peringkat teratas pengaduan masyarakat. Dari
2011 hingga agustus 2014, KPAI mencatat 369 pengaduan terkait masalah
tersebut. Jumlah itu sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan
sebanyak 1.480 kasus. Soendjojo (2009) mengatakan bahwa siswa yang
mengalamai tindakan bullying merupakan siswa yang memiliki tingkat
asertifitas yang rendah. Individu yang memiliki sikap asertif yang rendah
memiliki banyak ketakutan yang irasional meliputi sikap menampilkan
perilaku cemas dan tidak mempunyai kemampuan untuk mempertahankan
hak-hak pribadinya.Begitupun korban bullying, mereka kurang mampu
menunjukan perasaan untuk melawan bullying yang siswa terima karena
siswa korban bullying takut pelaku bullying makin mengintensikan tindakan
bullying.
Reaksi yang paling umum terjadi pada para korban bully adalah
menghindar dari beberapa tempat tertentu di sekolah, seperti lapangan
bermain sekolah, kantin, karena dengan alasan takut dibully jika mereka
kesana. Namu pada beberapa korban lainnya menghindar untuk datang ke
sekolah untuk beberapa waktu dengan alasan untuk menghindar dari
pembully atau sampai keinginan untuk keluar dari sekolah dengan tujuan
agar tidak bertemu teman yang membully (Ikhsani,2015).
Selain dampak dari masalah psikologis juga dapat berpengaruh
terhadap masalah kesehatan fisik seperti memar pada daerah yang dipukul,
lecet, bengkak, sulit tidur, nafsu makan menurun. Gejala lain yang
dimunculkan diantaranya merasa terancam, sulit berkonsentrasi, penurunan
prestasi akademik dan merasa sendiri (Laeheem, 2013 dalam Yani, dkk
2016).
Berdasarkan penomena inilah yang membuat penulis tertarik untuk
menyusun makalah tentang Asuhan Keperawatan jiwa pada pasien korban
Bullying.
B. Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini, ada beberapa masalah pokok yang
menjadi pusat pembahasan bagi penulis adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi dari Bullying ?
2. Apa penyebab Bullying ?
3. Apa saja jenis Bullying ?
4. Dimana tempat terjadinya Bullying ?
5. Bagaimana deteksi dini perilaku bullying ?
6. Apa bahaya Bullying ?
7. Bagaimana hukum Bullying ?
8. Apa saja hal yang harus dilakukan ketika menjadi korban bullying ?
9. Apa saja hal yang harus dilakukan ketika melihat tindak bullying ?
10. Apa saja hal yang harus dilakukan Jika mengalami trauma bullying?
11. Bagaimana Kriteria Persahabatan Bebas Bullying ?
12. Bagaimana cara Mencegah Bullying ?
13. Apa saja terapi yang bisa dilakukan pada korban Trauma Bullying ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah keperawatan jiwa
2. Untuk menjelaskan konsep teori dan konsep dasar keperawatan jiwa
pada pasien dengan trauma bullying dengan menggunakan terapi
asertive dan terapi hipnosis.
3. Untuk mengetahui tentang terpi asertive
4. Untuk mengetahui terapi hipnosis pada pasien trauma bullying
5. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa/i
keperawatan mengenai keperawatan jiwa pada pasien trauma
bullying dengan menggunakan terapi hipnosis dan terapi asertive.
D. Sistematika Penulisan
Makalah ini tersususn atas 3 Bab, yang mana Bab I pendahuluan yang terdiri
dari Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, dan Sistematika
Penulisan, Bab II Pembahasan Terdiri dari Konsep Dasar Teori dan Konsep
dasar Keperawatan, Bab III Penutup terdiri dari Kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Teori


1. Definisi
Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull
yang berarti banteng yang senang merunduk kesana kemari. Dalam
Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully berarti penggertak,
orang yang mengganggu orang lemah ( Zakiyah,dkk 2017).
Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) dalam Sucipto,
2012 mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang
dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang
memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah,
dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
Astuti (2008) dalam Ikhsani 2015, mengatakan bahwa
bullying adalah bagian dari tidakan agresi yang dilakukan
berulangkali oleh seseorang atau anak yang lebih kuat terhadap anak
yang lebih lemah secara psikis dan fisik.
Bullying (dikenal sebagai “penindasan/risak” dalam bahasa
Indonesia) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan
yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang
yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, bertujuan untuk
menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. ( wardhana, 2014).
2. Penyebab Bullying
Menurut ( wardhana, 2014) ada beberapa penyebab terjadinya
bullying, adalah sebagai berikut :
a. Permusuhan
Permusuhan dan rasa kesal diantara pertemanan bisa memicu seseorang
melakukan tindakan bullying.
b. Rasa Kurang Percaya Diri dan Mencari Perhatian
Seseorang yang kurang percaya diri seringkali ingin diperhatikan, salah
satunya adalah dengan melakukan bullying. Dengan mem-bully orang
lain, mereka akan merasa puas, lebih kuat dan dominan.
c. Perasaan Dendam
Seseorang yang pernah disakiti atau ditindas biasanya menyimpan rasa
dendam yang ingin disalurkan kepada orang lain sehingga orang lain
merasakan hal yang sama, salah satunya adalah dengan melakukan
bullying.
d. Pengaruh Negatif dari Media
Semakin banyaknya gambaran kekerasan di media baik televisi,
internet, dsb. Menjadi contoh buruk yang bisa menginspirasai
seseorang untuk melakukan kekerasan tanpa alasan yang jelas.
3. Jenis Bullying
Bullying juga terjadi dalam beberapa bentuk tindakan. Menurut
Coloroso (2007), bullying dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Bullying Fisik
Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak
dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk
penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung
kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh
siswa. Jenis penindasan secara fisik di antaranya adalah
memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang,
menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang
ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan
menghancurkan pakaian serta barang-barang milik anak yang
tertindas. Semakin kuat dan semakin dewasa sang penindas,
semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak
dimaksudkan untuk mencederai secara serius.
b. Bullying Verbal
Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum
digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki.
Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan
dihadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi.
Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman bermain
bercampur dengan hingar binger yang terdengar oleh pengawas,
diabaikan karena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan
tidak simpatik di antara teman sebaya. Penindasan verbal dapat
berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan,
dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau
pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa
perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar,
e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi
ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-
kusuk yang keji, serta gosip.
c. Bullying Relasional
Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan
relasionaladalah pelemahan harga diri si korban penindasan
secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian,
atau penghindaran. Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran,
adalah alat penindasan yang terkuat. Anak yang digunjingkan
mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan
mengalami efeknya. Penindasan relasional dapat digunakan
untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara
sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini
dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan
yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik,
cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.
d. Cyber bullying
Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin
berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada
intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan
negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan
media sosial lainnya. Bentuknya berupa:
a) Mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan
gambar
b) Meninggalkan pesan voicemail yang kejam
c) Menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak
mengatakan apa-apa (silent calls)
d) Membuat website yang memalukan bagi si korban
e) Si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan
lainnya
f) “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban
dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan
Sedangkan Riauskina, dkk (2005, dalam Ariesto, 2009)
mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori, yaitu:
a. Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit,
menjambak, menendang, mengunci, seseorang dalam
ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan
merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
b. Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan,
merendahkan (put-down), mengganggu, member panggilan
nama (name-calling), sarkasme, mencela/mengejek,
memaki, menyebarkan gosip)
c. Perilaku non verbal langsung (melihat dengan sinis,
menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang
merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai
oleh bullying fisik atau verbal) penindasan sebagai pelarian
di lingkungan rumah yang selalu menindasnya dan membuat
dia tidak berdaya. (Zakiyah, 2017)
4. Tempat terjadinya Bullying
a. Di sekolah
Menurut Yani, 2016 Bullying terjadi juga di pesantren di
jombang menunjukan bahwa bullying terjadi tanpa ada
maksud yang jelas atau dengan tujuan untuk menganggu
korban yang dilakukan secara sengaja. Tindakan tersebut
dapat menyakiti korban baik secara fisik maupun psikis
sehingga dapat memberikan dampak negatif pada korban.
Seperti adanya perasaan tertekan, takut, cemas, sedih dan
membuat korban tidak nyaman serta kehilangan motivasi.
Kondisi yang dialami korban secara berulang dapat
berpengaruh terhadap kepercayaan diri, harga diri dan
prestasi akademik.
5. Deteksi dini perilaku bullying
penilaian untuk mengetahui adanya perilaku bullying pada suatu
lingkup masyarakat atau sekolah antara lain dengan wawancara
terstruktur dan/atau menggunakan kuesioner. Kuesioner yang sering
digunakan untuk penelitian dan sudah terstandarisasi adalah Olweus
Bullying Questionnaire. Deteksi dini perilaku bullying antara lain :
dengan observasi perubahan perilaku emosi dan prestasi sekolahnya
dan pendekatan bicara dengan anak dan remaja seperti temannya.
Kenali adanya perubahan perilaku seperti susah makan/terlalu
banyak makan, sulit tidur, mimpi buruk, mengompol, menangis saat
tidur, kurang bertanggung jawab dan disiplin cenderung berperilaku
impulsi/hiperaktif cenderung menentan dan perilaku agresi (merasa
lebih berkuasa) atau kuat mengalahkan orang lain, pulang
sekolah/bermain dengan pakaian kotor/robek, masalah interaksi
sosial. merubahan emosi dapat berupa perubahan mood labil,
iritabel, disforik, sedih, cemas, ide/usaha bunuh diri atau membunuh
serta gangguan proses belajar seperti sering membolos, penolakan
sekolah, malas belajar atau prestasi sekolah menurun. padada
kondisi fisiknya dapat ditemukan lebam, tergores, luka dan tidak
bisa dijelaskan keluhan psikosomatis dan berulang sakit kepala sakit
perut dan lainnya. (Surilena, 2016).
6. Bahaya Bullying
a. Bullying Menimbulkan Ketakutan dan Gangguan Psikologi
Setiap hari ada 160.000 murid yang bolos sekolah karena takut
di-bully, 1 dari 10 murid pindah sekolah karena takut dibully,
Penelitian menemukan bahwa orang yang dibully lebih mungkin
mengalami kesulitan dalam lingkungan pekerjaan, Orang yang
pernah di-bully juga dilaporkan mengalami kesulitan menjaga
persahabatan jangka panjang dan hubungan baik dengan orangtua
mereka, Penelitian menyimpulkan bahwa mereka yang ditindas
dapat melakukan bullying terhadap diri sendiri sehingga
membahayakan diri.
b. Kasus Bullying yang menyebabkan kematian
Dikutip dari ( wardhana, 2014) dalam buku Panduan Melawan
Bullying, terdapat beberapa kasus bullying yang menyebabkan
kematian, antara lain sebagai berikut:
a) Inilah kisah memilukan dari Fikri Dolasmantya, Mahasiswa
ITN Malang. Sebagai mahasiswa baru, Fikri mengikuti
Kemah Bakti Desa (KBD) pada Oktober 2013 lalu. Menurut
beberapa keterangan saksi, Fikri mengalami tindak kekerasan
fisik dari seniornya. Kemudian saat mengikuti rangkaian
acara KBD, Fikri sempat mengeluh sesak nafas dan akhirnya
dilarikan ke puskesmas terdekat. Namun, nyawa Fikri sudah
tak tertolong lagi.
b) Anak berusia 11 tahun ini meninggal dunia karena dianiaya
oleh kakak kelasnya. Renggo, siswa kelas 5 SD Makasar 09
Pagi, Jakarta Timur ini mengalami tindak bullying hanya
karena menyenggol si pelaku bullying. Tak sengaja
menyenggol, makanan milik pelaku pun terjatuh. Si kakak
kelas itu pun memarahi Renggo dan meminta ganti rugi. Tak
hanya sampai disitu, Renggo pun mendapat kekerasan fisik.
Setelah itu, Renggo sempat tidak masuk sekolah karena
mengalami demam dan kejang hingga akhirnya meninggal
dunia.
c) Gadis asal Vancouver ini menghabisi nyawanya sendiri
karena merasa dilecehkan dan diintimidasi oleh teman-
temannya. Sebelum bunuh diri, dia memberikan pesan agar
tidak ada lagi korban bullying seperti dirinya.
d) Afriand (Aca) adalah siswa SMA 3 Jakarta Selatan yang
sedang mengikuti kegiatan pengenalan alam di Tangkuban
Perahu bagi calon anggota ekstrakulikuler pecinta alam di
sekolahnya. Dalam kegiatan tersebut, Aca mendapat
kekerasan fisik dari senior-seniornya. Aca meninggal dunia
setelah beberapa hari mendapatkan perawatan dari rumah
sakit. Pihak rumah sakit menemukan kejanggalan atas
kematian Aca, setelah menemukan luka lebam pada bagian
perut dan pipi sebelah kanannya.
Kisah-kisah diatas merupakan sebagian kecil dari kisah memilukan
para korban bullying yang meregang nyawa karena ketakutan
akibat bullying.
7. Hukum Bullying
a. Aspek Hukum Perlindungan Anak:
Menurut ( wardhana, 2014) dalam buku panduan melawan
bullying, tindakan bullying termasuk ke dalam tindakan kriminal
yang dapat dijerat hukuman pidana, berdasarkan sumber-sumber
kekuatan hukumnya sebagai berikut:
a) Undang-undang Perlindungan Anak Pasal 76C UU No. 35
Th. 2014
Setiap orang dilarang menempatkan membiarkan,
melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta
melakukan kekerasan terhadap Anak.
b) Pasal 80 (1) UU No. 35 Th. 2014
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda
paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta
rupiah)
c) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal
27 (3)
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak
mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau
membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan
dan/atau pencemaran nama baik.
d) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal
45 (1)
Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).
e) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal
28 (2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak
menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan
rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok
masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan
antargolongan (SARA).
f) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal
45 ayat 2, Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana
dimaksud Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
8. Hal yang harus dilakukan ketika menjadi korban bullying
Menurut ( wardhana, 2014), ketika menjadi korban bullying ada 5
langkah yang harus dilakuakan adalah sebagai berikut:
a. Tetap percaya diri & hadapi tindakan bullying dengan berani
b. Simpan semua bukti bullying yang bisa kamu laporkan kepada
penegak hukum (khususnya untuk cyber bullying)
c. Berbicara & laporkanlah
d. Berbaurlah dengan teman-teman yang membuat kalian percaya
diri dan selalu berpikir positif
e. Tetap berpikir positif
9. Hal yang harus dilakukan ketika melihat tindak bullying
Menurut ( wardhana, 2014), ketika melihat tindakan bullying ada 5
langkah yang harus dilakuakan adalah sebagai berikut:
a. Jangan Diam!
b. Cobalah untuk melerai dan mendamaikan
c. Dukunglah korban bullying agar bertindak positif
d. Bicaralah dengan orang terdekat pelaku bullying agar
memberikan perhatian dan pengertian
e. Laporkan kepada pihak yang bisa menjadi penegak hukum di
lingkungan terjadi bullying seperti kepala sekolah & guru (di
sekolah), tokoh masyarakat, akun penegak hukum seperti
kepolisian (jika terjadi di dunia maya Laporkan kepada pihak
yang bisa menjadi penegak hukum di lingkungan terjadi bullying
seperti kepala sekolah & guru (di sekolah), tokoh masyarakat,
akun penegak hukum seperti kepolisian (jika terjadi di dunia
maya)
10. Hal yang harus dilakukan Jika mengalami trauma bullying
Meskipun pengalaman bully sudah kita lalui, tapi terkadang masih
sulit untuk melupakannya. Hal ini dikarenakan efek bullying bisa
mempengaruhi mental seseorang dalam waktu lama. Tapi jangan
biarkan hal ini terus membayangi diri kita. Berikut, ada lima langkah
penting yang perlu untuk mengatasi trauma bullying. Tanamkan
orientasi waktu yang jelas. Yaitu bahwa bullying tersebut terjadi
dulu dan kita berada di masa sekarang. Jadi, sepahit apapun
pengalaman tersebut, kini kita tidak mengalaminya lagi. Jangan
pernah sekalipun merasa diri kita layak dibully. Memaafkan. Tentu
memaafkan orang yang pernah berbuat jahat terhadap kita memang
tidak mudah. Tetapi, ini merupakan salah satu proses penting dalam
“penyembuhan” diri. Menyibukkan diri dalam kegiatan positif.
Untuk itu, jangan terpengaruh dengan provokasi dan hinaan yang
dilakukan orang lain. Jangan lakukan hal ini (bullying) kepada orang
lain. Membully orang lain sebagai wujud balasan atas perilaku
bullying yang pernah kita terima bukanlah langkah penyebuhan
trauma akibat dibully.
11. 5 Kriteria Persahabatan Bebas Bullying
Menurut ( wardhana, 2014), persahabatan bebas bullying ada 5
kriteria yaitu sebagai berikut:
a. Teman yang baik cenderung lebih sering memberi nasehat
kepada kamu. Ketika kamu memiliki masalah, teman yang baik
akan memberimu nasehat yang baik pula. Namun, ketika kamu
memiliki teman yang menyarankanmu untuk berbuat sesuatu hal
yang negatif, kamu harus berani mengatakan tidak dan
sebaiknya menjaga jarak dengannya.
b. Mampu diajak kerjasama
Pilihlah teman-teman yang dapat diajak untuk bekerjasama.
Memiliki rekanrekan yang mempunyai semangat dan minat yang
sama, serta dapat diajak untuk bekerjasama, adalah sebuah
keberuntungan. Masalah-masalah yang kamu miliki, akan terasa
mudah untuk diselesaikan.
c. Menerima apa adanya
Seorang teman yang baik akan menerimamu apa adanya, bukan
ada apanya. Apapun kondisimu, seorang teman yang baik tidak
akan mempermasalahkannya. Karakter demikian tidak mudah
untuk dijumpai pada setiap orang. Jadi, jika kamu memiliki
rekan yang memiliki karakter demikian, maka tentu kamu patut
bersyukur. Orang yang tidak menerimamu apa adanya juga
memiliki kecenderungan akan berlaku tidak baik kepadamu atau
orang-orang yang dia anggap memiliki kekurangan.
d. Tidak suka menggunakan kata-kata kasar
Ciri-ciri seorang teman yang baik, adalah dari tutur bahasanya.
Kenalilah dengan baik teman-teman kamu dari tutur bahasanya,
jika kamu memiliki teman yang sering mengumpat, atau
menggunakan kata-kata kotor itu juga cerminan dari perilakunya
yang memiliki kecenderungan tidak terpuji.
e. Jujur
Kejujuran adalah suatu kewajiban, termasuk dalam pertemanan.
Kejujuran seseorang tidak dapat dinilai dengan apapun. Oleh
karena itu, tidak hanya bagi diri Anda pribadi, seorang teman
juga wajib memiliki kejujuran yang baik. Kebohongan juga
memicu konflik yang bisa menjadi titik awal terjadinya bullying.
12. Cara Mencegah Bullying
Pencegahan tindakan bullying harus dilakuakan oleh berbagai pihak,
mualai dari keluarga terdekat samapi pada guru-guru di sekolah,
menurut Wardana, 2014 berikut yang dapat dilakuakan dalam
pencegahan tindakan bullying, sebagai berikut :
a. Bagi Orang tua
Kenali anak dengan baik, anak bisa menjadi korban bullying
ataupun bisa juga menjadi pelaku bullying, sehingga orang tua
dituntut harus lebih mengenali karakter anaknya masing-masing
apakan anak tersebutberpotensi menjadi korban bullying atau
menjadi pelaku bullying, berikut ciri-cirinya:
a) Ciri-Ciri Anak Rentan di-Bully
1. Anak yang cenderung sulit bersosialisasi, sehingga
sering dianggap ‘culun’.
2. Anak yang fisiknya berbeda dengan yang lain (kelebihan
berat badan, bentuk fisik yang berbeda misalnya
berkuping caplang, atau berbibir tebal.
3. Anak yang cenderung berbeda dengan yang anak-anak
yang lain (berasal dari keluarga berkecukupan, sangat
sukses atau sangat payah dalam suatu bidang tertentu)
b) Ciri-Ciri Anak Suka Mem-Bully
1. Anak yang cemburu karena merasa gagal dalam hal
akademik atau nonakademik
2. Anak yang mengalami masalah dalam keluarga
3. Anak yang terlalu dimanja di rumah
4. Anak yang ingin mendapat pengakuan, biasanya karena
di rumah kurang dapat perhatian
5. Anak yang sakit hati karena secara psikologis merasa
kalah bersaing dengan sang calon korban bullying
b. Lingkungan Keluarga Rentan Bullying
1. Keluarga yang hubungan rumah tangga orang tuanya tidak
harmonis dan diperlihatkan kepada anak.
2. Keluarga yang memiliki komunikasi yang kurang.

c. Menjaga Lingkungan Anak Bebas dari Bullying


Selain menjaga lingkungan keluarga agar bebas dari bullying,
orang tua juga memegang peran utama menjaga lingkungan anak
di luar lingkaran keluarga yang bebas dari bullying. Berikut
diantaranya langkah untuk menjaga lingkungan anak yang bebas
dari bullying:
1. Perhatikan dan Kenalilah dengan baik teman dari anak anda
Teman memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku anak
anda. Mulailah untuk membuka diri dengan anak,
menciptakan komunikasi yang lancar, agar anak tidak
sungkan menceritakan dan memperkenalkan lingkungan
pertemananya kepada orang tua. Dari situlah kita bisa
mengontrol pergaulannya.
2. Berikan pemahaman kepada anak anda
Orang tua harus bisa mengarahkan tentang cara bergaul yang
baik serta cara memilih lingkungan pergaulan yang sehat.
Berikan pemahaman tentang efek negatif dari teman yang
kurang baik, sarankan dia agar jangan sampai bergaul terlalu
jauh dengan orang orang seperti itu dengan kesan
menyarankan tanpa unsur paksaan, agar anak Anda bisa
menerimanya dengan positif.
3. Sarankan teman dan lingkungan yang menurut anda baik
Jika anda mempunyai seorang teman atau tetangga yang
mempunyai anak yang seumur dengan anak anda, maka bisa
anda sarankan agar anak anda berteman dengan anak teman
anda. Tapi pastikan anak dari teman anda tersebut memiliki
sifat dan karakter yang baik. Menjaga anak dari lingkungan
yang tak baik dengan cara ini bisa membuatnya tidak
mencari pergaulan dan teman bermain semaunya. Namun
tetap diatur agar tidak dipaksakan terhadap anak.
4. Ajarkan Cinta Kasih Antar Sesama
Dengan mengajarkan cinta kasih antar sesama kepada anak-
anak, adalah cara paling efektif untuk mencegah anak
menjadi korban bullying atau pelaku bullying di masa depan.
Membesarkan mereka di tengah lingkungan yang penuh
kasih sayang sejak dini, juga mampu menjauhkan anak
menjadi korban dan pelaku bullying. Tunjukkan cara Anda
berinteraksi dengan pasangan dan anak-anak akan
meninggalkan memori bagi si buah hati, yang kelak akan ia
terapkan pada kehidupan sosialnya di luar rumah.
5. Buat Kedekatan Emosional dengan Anak
Dengan membuka ruang emosional dengan anak, ternyata
mampu mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan
sosialnya di luar rumah, Kita perlu terhubung dengan anak
secara emosional. Cara ini, anak tidak akan segan bercerita
apa saja yang terjadi setiap hari di luar rumah. Termasuk saat
anak-anak menjadi korban atau malah menjadi pelaku
praktek bullying.
6. Membangun Rasa Percaya Diri Anak
Mereka yang menjadi penindas selalu mencari korban yang
terlihat rapuh, penakut, pemalu, tidak memiliki teman, dan
tidak memiliki rasa percaya diri. Sifat-sifat tadi adalah
sasaran empuk penindas. Karenanya, ajari anak untuk
menunjukkan sikap percaya diri yang cukup, terutama di
hadapan orang lain yang bukan anggota keluarga. Ajarkan
mereka untuk bersikap ramah dan tidak bersikap malu-malu
saat berbicara dengan orang lain. Karena rasa percaya diri
akan membentuk mekanisme pertahanan dalam menghadapi
praktek bullying.
7. Memupuk Keberanian dan Ketegasan
Cara yang ampuh untuk mencegah anak menjadi korban
bullying adalah dengan bersikap berani. Ajari anak untuk
menunjukkan ketegasan dalam menghadapi bullying. Ini
tidak berarti Anda mengajarkan anak untuk melawan dengan
kekerasan. Setidaknya mereka harus punya keberanian untuk
berkata 'tidak' atau 'berhenti' saat ditindas. Beri contoh
kepada mereka cara mempertahankan diri jika hak mereka
dilanggar (misalnya dengan menegur orang yang
menyerobot antrean) Memupuk Keberanian dan Ketegasan
8. Kembangkan Kemampuan Sosialisasi Anak
Pastikan agar anak Anda punya kemampuan dasar dalam
bersosialisasi yang cukup. Ini berguna baginya untuk
menjalin pertemanan. Tentu saja ia tidak harus menjadi anak
yang populer atau menonjol. Tetapi dengan kemampuan
bersosialisasi yang cukup dia akan punya rasa percaya diri
yang memadai untuk mendapatkan penghargaan yang
sepantasnya dari lingkungan sekitarnya.
9. Ajarkan Etika Terhadap Sesama
Sejak dini, ajarkan anak untuk peduli dan menghargai
sesama. Ajak mereka untuk mengenal karakter di lingkungan
sosialnya, sehingga mereka belajar untuk bertenggang rasa
dengan sekitar serta menyadarkan mereka bahwa mereka
hidup bersama dengan orang lain
10. Tindakan-tindakan tidak terpuji yang dilakukan anak
biasanya sering terjadi karena orang tua yang melakukan
pembiaran terhadap anak. Berikan teguran mendidik bila
anak melanggar etika atau melakukan tindakan tidak terpuji,
dengan penekanan yang sesuai dengan pelanggarannya. Tapi
jangan pula berlebihan dalam memberi sangsi kepada anak,
karena sikap berlebihan malah akan membuat anak
mendendam rasa ingin membalas.
11. Tanamkan Nilai-Nilai Keagamaan
Setiap agama menanamkan kebaikan terhadap sesama.
Ajarkan nilai-nilai keagamaan sejak dini kepada anak.
Keyakinan anak-anak Agar Anak-Anak Tidak Melakukan
Bullying Tanamkan Nilai-Nilai Keagamaan terhadap Tuhan
dan nilai-nilai keagamaan akan menjaga mereka dari segala
tindakan kekerasan, termasuk bullying.
12. Dampingi Anak-Anak Untuk Menyerap Informasi
Terkadang, tindakan bullying yang dilakukan anak-anak
dicontoh dari media dan gambaran yang mereka lihat,
contohnya lewat internet dan televisi. Dampingi anak-anak
anda Agar Anak-Anak Tidak Melakukan Bullying Dampingi
Anak-Anak Untuk Menyerap Informasi agar mereka tidak
mencontoh tindakantindakan tidak terpuji yang mereka serap
dari televisi, internet serta media lainnya.
13. Jadilah Panutan Untuk Anak Anda
Tindakan dan perilaku anak biasanya mencontoh orang tua
dan lingkungan di sekitarnya. Sudah seharusnya anda tidak
melakukan Agar Anak-Anak Tidak Melakukan Bullying
Jadilah Panutan Untuk Anak Anda tindakan-tindakan tidak
terpuji, termasuk memperlihatkan kekerasan serta bullying
yang bisa dicontoh anak anda.
d. Jika Anak Anda di-Bully
1. Ajaklah anak anda berbicara dan mencurahkan isi hatinya.
Kebanyakan korban bullying merasa takut dan tertekan
untuk membicarakan apa yang terjadi. Dengan menjadi
tempat bicara, hal itu akan melegakan sedikit keadaannya.
2. Bantu mereka mengelola lonjakan kemarahan dan agresi
yang mereka rasakan yang biasanya diarahkan tidak hanya
untuk orang lain tetapi juga untuk diri mereka sendiri.
3. Temukan cara untuk menghidupkan kembali harga diri
mereka dan tidak mengingat kembali terhadap rasa malu dan
membenci diri sendiri.
4. Tunjukan kasih sayang yang besar kepada untuk
memperkuat perasaan diterima, dihargai, dan dicintai.
e. Jika Anak Anda Melakukan Bullying
1. Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan.
Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri dan orang lain.
Upayakan bantuan dari tenaga ahli agar masalah tertangani
dengan baik dan selesai dengan tuntas.
2. Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab
menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku
karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda
dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah
menjadi korban. Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh
agresifitasnya yang berbeda.
3. Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi
anak.
4. Ajarkan rasa empati terhadap sesama, agar anak anda
melihat tindakan mereka dari perspektif korban.
5. Ajak anak anda untuk mengelola energinya pada hal-hal
positif, seperti menyalurkan hobi dan bakatnya.
6. Menetapkan aturan perilaku yang konsisten. Pastikan anak
memahami aturan dan hukuman yang mereka langgar
sehingga mereka terbiasa dengan aturan dan norma-norma
yang ada.
f. Kenali Lingkungan Sekolah Rentan Bullying
1. Sekolah yang minim pengawasan
2. Sekolah yang tingkat kompetisi antar murid terlalu tinggi
3. Sekolah yang menganut sistem senior –junior di luar kelas
g. Strategi Menghadapi Bullying di sekolah
Menurut Sucipto, 2012 strategi yang dapat dilakukan untuk
menghadapi bullying di sekolah adalah sebagai berikut :
1. Ajarkan siswa untuk menyembunyikan kemarahan atau
kesedihannya. Bila ia tampak bereaksi si bullying akan
senang
2. Ajarkan anak berani memandang mata si bullying
3. Ajarkan anak berdiri tegak, kepala ditegakkan dalam
menghadapi bullying
4. Tidak berjalan sendirian
5. Tetap tenang dalam situasi apapun
6. Bila dalam bahaya segera menyingkir.
13. Terapi yang bisa dilakukan pada korban Trauma Bullying
a. Terapi Kognitif
Menurut Febriana,dkk 2016 menunjukkan bahwa terapi kognitif
mampu memberikan dampak bagi peningkatan harga diri korban
bullying di kalangan remaja. Terdapat pengaruh terapi kognitif
terhadap harga diri remaja korban bullying dengan nilai p 0,031.
Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Tumon, 2017
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terapi kognitif terhadap
penurunan kecemasan remaja korban bullyingdengan nilai p
0,02. Oleh karena itu terapi kognitif dapat diaplikasikan sebagai
terapi untuk mengurangi kecemasan remaja korban bullying.
b. Asertive training
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aziz, 2015
menyimpulkan bahwa perilaku asertif memiliki peran penting
dalam meningkatkan perilaku asertif siswa korban bullying. Hal
ini menguatkan pendapat Nurfaizal (2013:79) bahwa pelatihan
asertivitas efektif untuk meningkatkan perilaku asertif siswa.
Selain itu Corey (2009:134) mengungkap-kan bahwa pelatihan
asertivitas dapat meningkatkan perilaku asertif karena dalam
pelatihan asertivitas terdapat komponen yang meliputi pertama,
menghapuskan rasa takut yang berlebihan dan keyakinan tidak
logis. Rasa takut yang berlebihan siswa korban bullying,
termasuk ketakutan disakiti orang lain. Ketakutan kedua yaitu
bila siswa korban bullying merasa gagal memaksa orang untuk
mencintai dirinya. Ketakutan ketiga adalah siswa korban
bullying memandang bahwa perilaku tegas adalah sebuah
perilaku yang kurang sopan dan tidak menghargai orang lain dan
dapat menampilkan diri sebagai orang yang tidak mampu, tidak
mahir, dan tidak berguna. Ketakutan yang berlebihan dan
keyakinan yang irasional sering menghentikan siswa korban
bullying yang akan bersikap tegas.
Kedua, menerima dan mengemukakan fakta-fakta masalah yang
akan dihadapi. Siswa korban bullying menerima bahwa setiap
orang harus mampu bersikap tegas dan mengekspresi-kan
pikiran, perasaan, dan keyakinan secara jujur. Ketiga, berlatih
untuk bersikap asertif sendiri. Latihan bersikap tegas sendiri
biasanya menggunakan refleksi atau permainan peran jiwa
dimana dalam situasi ini siswa korban bullying akan lebih bisa
bersikap asertif, memusatkan pada perilaku nonverbal yang
penting dalam ketegasan. Keempat, menempatkan individu
dengan orang lain untuk bermain peran pada situasi yang sulit.
Tahap keempat menyediakan kesempatan siswa korban bullying
untuk berlatih peran dan men-dapatkan umpan balik orang lain.
Pelatihan lebih lanjut mengizinkan siswa korban bullying untuk
lebih lanjut menunjukkan perubahan perilaku dan membiasakan
siswa untuk dan menerap-kan timbal bersikap lebih tegas.
Menggandakan latihan juga membuat siswa korban bullying
semakin bertambah nyaman dan senang saat menjadi asertif.
Kelima, membawa perilaku asertif pada kondisi yang
sebenarnya atau dalam kehidupan sehari-hari. Siswa korban
bullying membuat kontrak perilaku untuk melaksanakan
perilaku asertif yang sebelumnya dihindari. Pada sesi selanjut-
nya, siswa korban bullying menjelaskan pengalamannya,
menilai usaha yang di-lakukan, hubungkan dalam latihan
selanjut-nya dan membuat kontrak perilaku lain untuk keluar
dari pengalaman asertif kelompok.
c. Terapi hipnosis
1. Pengertian hipnosis
Hipnosis adalah teknik untuk mem-ByPass atau
memperkecil peran dari “Critical Area”, sehingga informasi
dapat lebih mudah memasuki Sub-Conscious (IBH, 2010),
Critical area disebut juga RAS (Reticular Activating System)
adalah penampungan data sementara, dimana di tempat
inilah data akan diproses berdasarkan analisa, logika,
pertimbangan etika, dll. ( Ifdil, dkk 2015).
Dalam bahasa Inggris, hipnotis disebut sebagai "hypnosis"
atau "hypnotism". Istilah "hypnosis" pertama kali
diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter ternama di
Inggris yang hidup antara tahun 1795 - 1860. Sebelum masa
James Braid, hipnotis dikenal dengan nama "Mesmerism"
atau "Magnetism". Hypnosis berasal dari kata "hypnos" yang
merupakan nama dewa tidur orang Yunani. Namun perlu
dipahami bahwa kondisi hipnotis tidaklah sama dengan
tidur. Orang yang sedang tidur tidak menyadari dan tidak
bisa mendengar suara-suara disekitarnya. Sedangkan orang
dalam kondisi hipnotis, meskipun tubuhnya beristirahat
(seperti tidur), ia masih bisa mendengar dengan jelas dan
merespon informasi yang diterimanya.
para pakar hipnotis yang terkumpul dalam U.S. Department
of Education, Human Services Division, membuat definisi
“Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the
conscious mind followed by the establishment of acceptable
selective thinking” atau “hipnotis adalah penembusan faktor
kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu
pemikiran atau sugesti tertentu”. ( Madji Indra, 2017).
2. Proses Hipnosis dalam Hipnoterapi
a. Interview
Setiap proses hipnotis dan hipnoterapi selalu dimulai
dengan percakapan antara hypnotist dan subyek.
Tujuan dari interview antara lain menjalin keakraban
antara terapis dan klien, memahami masalah klien,
menentukan tujuan terapi, dan menjelaskan kepada
klien tentang prosedur terapi yang akan dilakukan. Pada
saat interview, pasien diharapkan tidak malu untuk
bertanya tentang apa saja yang mengganjal di hatinya
agar proses hipnotis atau hipnoterapi dapat
berlangsung lancar.
b. Induksi
Induksi adalah cara yang digunakan oleh
hypnotist/hypnotherapist untuk membimbing klien
menuju kondisi hipnotis. Ada banyak cara yang bias
digunakan untuk induksi. Seorang
hypnotist/hypnotherapist harus memahami tipe pikiran
kliennya sehingga dia bisa menggunakan teknik induksi
yang tepat. Seorang hypnotist/hypnotherapist tidak
berhak memaksakan hipnotis kepada orang lain. Syarat
utama agar seorang klien bisa sembuh/berubah melalui
hipnotis yaitu klien harus punya keinginan untuk
sembuh/berubah dari dirinya sendiri, bukan karena
paksaan orang lain.
c. Deepening
Deepening merupakan kelanjutan dari induksi. Teknik
deepening digunakan untuk memperdalam level hipnotis
yang dialami klien. Secara sederhana kita bisa membagi
level kondisi hipnotis menjadi light trance, medium
trance, deep trance atau somnambulism. Level
somnambulism merupakan kondisi ideal untuk terapi.
Oleh karena itu, apabila setelah induksi klien ternyata
belum mencapai kondisi somnambulism,
hypnotist/hypnotherapist perlu melakukan deepening
untuk membimbing klien menuju kondisi
somnambulism.
d. terapi pikiran
Setelah klien mencapai level kedalam hipnotis yang
ideal, terapi pikiran akan dimulai. Bentukterapinya bisa
berupa pemberian sugesti yang sudah dirancang
sedemikian rupa atau menggali akar masalah untuk
dinetralisir pengaruhnya. Banyak hypnotist pemula yang
kurang memahami bahwa dalam melakukan hipnoterapi,
ada teknik-teknik tertentu yang harus dikuasai. Sering
kali ada hypnotist pemula yang karena sudah bisa
melakukan induksi dan bisa memberi sugesti secara
langsung (direct suggestion), maka dia merasa sudah
menguasai seluruh ilmu hipnotis. Padahal teknik induksi
dan direct suggestion hanyalah bagian kecil dari
keseluruhan ilmu terapi hipnotis. Dalam beberapa kasus,
memberi sugesti secara langsung (direct suggestion)
memang sangat efektif dan bisa membuat klien
mengalami perubahan drastis. Namun apabila masalah
yang dihadapi klien disebabkan oleh peristiwa traumatik
di masa lalu, maka diperlukan teknik terapi khusus
seperti Age Regression, Time Line Therapy,
Hypnoanalysis, Forgiveness Therapy, Chair Therapy,
atau teknik-teknik terapi lainnya.
e. Terminasi
Inilah bagian yang saya suka. Karena begitu klien
membuka mata, saya sering melihat senyum yang ceria
dan mata berbinar. Itulah mengapa saya selalu ketagihan
melakukan hipnoterapi. Membangunkan klien dari
hipnotis adalah hal yang paling mudah dan
menyenangkan, lebih mudah dari membangunkan anak-
anak di hari libur. Anda tidak perlu takut kalau-kalau
tidak bias bangun dari hipnotis. Sepanjang sejarah
hipnotis, tidak satupun orang yang tidak bisa bangun dari
kondisi hipnotis.
3. Prinsip Kerja Hipnotis
Banyak orang bertanya, bagaimana cara kerja hipnotis?
Bagaimana bisa orang disuruh melakukan ini itu tanpa
perlawanan? Berikut ini adalah penjelasannya. Pikiran atau
kesadaran kita itu seperti bawang yang berlapis-lapis. Secara
garis besar manusia punya satu pikiran/kesadaran yang
terdiri dari dua bagian, yaitu pikiran sadar dan bawah sadar.
Pikiran Sadar adalah proses mental yang bias Anda
kendalikan dengan sengaja. Pikiran Bawah Sadar adalah
proses mental yang berfungsi secara otomatis sehingga Anda
tidak menyadarinya dan sulit untuk dikendalikan secara
sengaja. Pikiran sadar mempunyai 4 fungsi utama, yaitu:
mengenali informasi yang masuk dari pancar indra,
membandingkan dengan memori kita, menganalisa, dan
kemudian memutuskan respon spesifik terhadap informasi
tersebut. Sedangkan pikiran bawah sadar berfungsi
memproses kebiasaan, perasaan, memori permanen,
kepribadian, intuisi, kreativitas, dan keyakinan. Pengaruh
pikiran bawah sadar terhadap diri kita adalah 9 kali lebih
kuat dibandingkan pikiran sadar. Itulah mengapa banyak
orang yang sulit berubah meskipun secara sadar mereka
sangat ingin berubah. Apabila terjadi pertentangan keinginan
antara pikiran sadar dan bawah sadar, maka pikiran bawah
sadar selalu menjadi pemenangnya. Apabila kita ingin
mengubah kebiasaan, kepribadian, keyakinan yang negatif,
mengendalikan emosi, maka yang harus diubah adalah
"program pikiran" yang ada di pikiran bawah sadar.
Misalnya, sebagian besar perokok tahu bahwa merokok itu
merugikan. Bahkan tidak sedikit yang ingin berhenti
merokok. Namun mereka seolah tidak bisa lepas dari
kebiasaan merokok, meskipun segala usaha telah dilakukan.
Hal ini terjadi karena pikiran bawah sadarnya selalu
menginginkan rokok. Tidak peduli sekuat apapun pikiran
sadar berusaha menolak rokok, selama pikiran bawah
sadarnya masih suka (baca: terbiasa) merokok, maka
berhenti merokok adalah hal yang mustahil. Garis putus-
putus (pada gambar di atas) meng-ilustrasi-kan Critical
Factor. Critical Factor adalah bagian dari pikiran yang selalu
menganalisis segala informasi yang masuk dan menentukan
tindakan rasional seseorang. Critical Factor ini melindungi
pikiran bawah sadar dari ide, informasi, sugesti atau bentuk
pikiran lain yang bisa mengubah program pikiran yang sudah
tertanam di bawah sadar. Seorang anak kecil usia 0-3 tahun
dalam pikirannya belum terbentuk Critical Factor, sehingga
anak kecil menerima perintah/informasi dari orang lain
begitu saja tanpa berpikir panjang. Anak kecil tidak
menyaring informasi/sugesti, apapun yang diterima dari
lingkungannya dianggap sebagai sesuatu yang benar. Usia 0-
3 tahun ini adalah fase kritis dalam pertumbuhan anak. Jika
kita banyak memberikan perintah/informasi yang positif,
maka anak akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan
sukses, begitu sebaliknya. Seiring bertambahnya usia,
Critical Factor akan membentuk dan semakin menguat
hingga dewasa. Ketika kita sudah dewasa dan dalam kondisi
sadar seperti sekarang ini, Critical Factor akan menghalangi
afirmasi atau sugesti yang ingin kita tanamkan ke pikiran
bawah sadar. Sugesti yang diucapkan dalam kondisi sadar
terhalang oleh Critical Factor, sehingga efeknya sangat kecil
atau bahkan tidak ada sama sekali karena ditolak mentah-
mentah oleh Critical Factor. Misalnya, seorang perokok
yang sudah 20 tahun merokok mengatakan pada dirinya
"Saya mau berhenti merokok sekarang", maka Critical
Factornya mengkritik dengan kata-kata yang terdengar
dalam hati "Walah kamu mana bisa berhenti merokok, kamu
sudah terlalu lama merokok, apa kamu mampu
meninggalkan rokok?, omong kosong, kamu dulu juga sudah
pernah mau berhenti merokok tapi nyatanya gagal." Hasilnya
kemauan untuk berhenti merokok itu menjadi lemah dan kita
tidak berdaya untuk berhenti merokok. Saat saya melakukan
hipnotis, yang terjadi adalah saya mem-by-pass Critical
Factor subjek (orang yang dihipnotis) dan langsung
berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar subjek. Hasilnya
saya bisa memprogram ulang pikiran subyek seperti
berbicara pada anak usia 0 3 tahun. Hampirhampir tidak ada
perlawanan dalam diri subyek selama sugesti yang saya
berikan tidak merugikan subyek. By-pass di sini jangan
disalah artikan sebagai suatu bentuk manipulasi. Menembus
Critical Factor ini dilakukan dengan suatu teknik induksi.
Induksi bisa dilakukan dengan cara membuat pikiran sadar
subjek dibuat sibuk, lengah, bosan, bingung (tidak
memahami) atau lelah sehingga pintu gerbang menuju
pikiran bawah sadar, yaitu Critical Factor terbuka atau tidak
berfungsi sebagaimana mestinya. Karena Critical Factor
terbuka atau pengawasannya lemah maka sugesti akan
langsung menjangkau pikiran bawah sadar. Critical Factor
menjadi tidak aktif ketika seseorang dalam kondisi hipnotis.
Maka dari itu, semua sugesti - selama tidak bertentangan
dengan sistem kepercayaan dan nilai-nilai dasar yang dianut
seseorang - akan diterima oleh pikiran bawah sadar sebagai
kebenaran, kemudian disimpan sebagai program pikiran.
Program pikiran yang sudah ditanamkan melalui sugesti
dalam kondisi hipnotis, akan menjadi pemicu perubahan
yang permanen.
4. Jenis hipnotis menurut manfaatnya
Banyak sekali manfaat hipnotis. karena terlalu banyak dan
sangat bervariasi, tidak seorangpun yang bisa secara pasti
menyebutkan apa saja manfaat yang bisa diperoleh dari
hipnotis. Hipnotis bisa berperan hampir di semua bidang
kehidupan yang melibatkan pikiran manusia. jenis-jenis
hipnotis berikut ini dibedakan berdasarkan bidang
aplikasinya yang paling populer dalam dunia hipnotis.
a) hypnotherapy / clinical hypnosis
hypnotherapy atau clinical hypnosis adalah aplikasi
hipnotis dalam menyembuhkan gangguan mental dan
meringankan gangguan fisik. hipnotis telah terbukti
secara medis bisa mengatasi berbagai macam gangguan
psikologis maupun fisik. hipnotis tidak seperti cara
pengobatan lain yang mengobati gejala (simptom) atau
akibat yang muncul. hipnotis berurusan langsung dengan
penyebab suatu masalah. dengan menghilangkan
penyebabnya maka secara otomatis akibat yang
ditimbulkan akan lenyap atau tersembuhkan.
b) medical hypnosis
yaitu penggunaan hipnotis untuk dunia medis, terutama
oleh dokter ahli bedah dan dokter gigi dalam
menciptakan efek anesthesia tanpa menggunakan obat
bius. teknik hipnotis yang digunakan untuk anestesi
sudah digunakan oleh john elliotson (1791 -1868).
elliotson adalah dokter yang pertama kali menggunakan
mesmerisme (nama kuno dari hypnotism) untuk
melakukan pembedahan tanpa rasa sakit. pada masa
elliotson hidup, belum ditemukan anestesi (obat bius)
sehingga sebagian dokter menggunakan hipnotis.
comedy hypnosis comedy hypnosis adalah hipnotis yang
digunakan untuk hiburan semata. comedy hypnosis juga
sering disebut sebagai stage hypnosis. dinamakan stage
hypnosis atau hipnotis panggung karena pada awalnya
hipnotis untuk hiburan hanya diperankan di atas
panggung. namun comedy hypnosis sekarang tidak
terbatas dalam panggung. di jalan, taman, mall, kampus
atau dimana saja anda bisa mempraktekkan comedy
hypnosis.
c) forensic hypnosis
Dalam penyelidikan kepolisian, hipnotis bisa digunakan
untuk menggali informasi dari saksi. Suatu kejadian
traumatis seperti dalam kasus kejahatan yang
menakutkan cenderung membuat pikiran bawah sadar
menyembunyikan ingatan yang lengkap tentang kejadian
tersebut agar tidak bias diingat oleh pikiran sadar. tujuan
pikiran sadar menyembunyikan informasi itu
sesungguhnya untuk kebaikan diri sendiri, karena
apabila ingatan itu muncul, maka trauma dan rasa takut
akan muncul tanpa sebab. dengan bantuan hipnotis,
korban atau saksi bisa mengingat kembali dengan jelas
dalam kondisi pikiran yang tenang. metaphysical
hypnosis metaphysical hypnosis adalah aplikasi hipnotis
dalam meneliti berbagai fenomena metafisik seperti out
of body travel, esp, clairvoyance, clairaudience,
komunikasi dengan inner-self, meditasi, mengakses
kekuatan superconscious dan eksperimen-eksperimen
metafisika lainnya (Madji Indra, 21017).
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian sebagai tahap awal proses keperawatan meliputi
pengumpulan data, analisis data, dan perumusan masalah pasien. Data
yang dikumpulkan adalah data pasien secara holistik, meliputi aspek
biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Seorang perawat jiwa
diharapkan memiliki kesadaran atau kemampuan tilik diri (self
awareness), kemampuan mengobservasi dengan akurat, berkomunikasi
secara terapeutik, dan kemampuan berespons secara efektif (Stuart dan
Sundeen, 2002) karena hal tersebut menjadi kunci utama dalam
menumbuhkan hubungan saling percaya dengan pasien. Hubungan
saling percaya antara perawat dengan pasien akan memudahkan perawat
dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Oleh karenanya, dapat
membantu pasien menyelesaikan masalah sesuai kemampuan yang
dimilikinya.
Stuart dan Sundeen (2002) menyebutkan bahwa faktor predisposisi,
faktor presipitasi, penilaian terhadap stresor, sumber koping, dan
kemampuan koping yang dimiliki pasien adalah aspek yang harus digali
selama proses pengkajian.
Secara lebih terstruktur pengkajian kesehatan jiwa meliputi hal berikut.
a. Identitas pasien
Berisi tentang identitas pribadi pasein berupa nama, tempat tanggal
lahir, pekerjaan, status, tanggal masuk Rumah sakit, dan lain-lain.
b. Keluhan utama/alasan masuk
Berisi tentang apa yang menjadi alasan utama pasien masuk ke
Rumah sakit dan upaya apa saja yang sudah dilakukan keluarga
sebelum pasein di bawa ke rumah sakit
c. Faktor predisposisi
Tanyakan kepada pasien/keluarga apakah pasien pernah mengalami
gangguan jiwa di masa lalu, bila ya, beri tanda “✓” pada kotak “Ya”
dan bila tidak, maka beri tanda “✓” pada kotak “Tidak”.
Apabila pada Poin 1 “Ya”, maka tanyakan bagaimana hasil
pengobatan sebelumnya. Apabila dia dapat beradaptasi di
masyarakat tanpa gejala-gejala gangguan jiwa, maka beri tanda “✓”
pada kotak “Berhasil”. Apabila dia dapat beradaptasi tapi masih ada
gejala-gejala sisa, maka beri tanda “✓” pada kotak “Kurang
Berhasil”. Apabila tidak ada kemajuan atau gejala-gejala bertambah
atau menetap, maka beri tanda “✓” pada kotak “Kurang
Berhasil”.Tanyakan pada pasien apakah pasien pernah melakukan
dan atau mengalami dan/atau menyaksikan penganiayaan fisik,
seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga, dan
tindakan kriminal. Beri tanda “✓” sesuai dengan penjelasan
pasien/keluarga apakah pasien sebagai pelaku dan/atau korban,
dan/atau saksi, maka beri tanda “✓” pada kotak pertama. Isi usia saat
kejadian pada kotak kedua.
Jika pasien pernah sebagai pelaku, korban, dan saksi (dua atau lebih)
tuliskan pada penjelasan.
a. Beri penjelasan secara singkat dan jelas tentang kejadian yang
dialami pasien terkait nomor 1, 2, 3.
b. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data.
Apabila ada anggota keluarga lain yang mengalami gangguan
jiwa, maka tanyakan bagaimana hubungan pasien dengan
anggota keluarga tersebut. Tanyakan apa gejala yang dialami
serta riwayat pengobatan dan perawatan yang pernah diberikan
pada anggota keluarga tersebut. Tanyakan kepada
pasien/keluarga tentang pengalaman yang tidak
menyenangkan (kegagalan, kehilangan/perpisahan/kematian,
trauma selama tumbuh kembang) yang pernah dialami pasien
pada masa lalu.
d. Aspek fisik/biologis
Pengkajian difokuskan pada sistem dan fungsi organ.
a) Ukur dan observasi tanda-tanda vital, seperti tekanan darah, nadi,
suhu, pernapasan pasien.
b) Ukur tinggi badan dan berat badan pasien.
c) Tanyakan kepada pasien/keluarga, apakah ada keluhan fisik yang
dirasakan oleh pasien, bila ada beri tanda “✓” pada kotak “Ya” dan
bila tidak beri tanda “✓” pada kotak “Tidak”.
d) Kaji lebih lanjut sistem dan fungsi organ dan jelaskan sesuai dengan
keluhan yang ada.
e) Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data yang ada.
e. Aspek psikososial
a) Genogram
Buatlah genogram minimal tiga generasi yang dapat
menggambarkan hubungan pasien dan keluarga, misalnya sebagai
berikut.
Jelaskan masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan
keputusan, dan pola asuh.
Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data.
f. Status mental
a) Citra tubuh
Tanyakan persepsi pasien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang
disukai, dan bagian yang tidak disukai. Identitas diri, tanyakan
tentang hal berikut.
1. Status dan posisi pasien sebelum dirawat.
2. Kepuasan klien terhadap status dan posisinya (sekolah,
tempat kerja, kelompok).
3. Kepuasan pasien sebagai laki-laki atau perempuan.
b) Peran, tanyakan mengenai hal berikut.
1. Tugas/peran yang diemban dalam
keluarga/kelompok/masyarakat.
2. Ke mana saja pasien dalam melaksanakan tugas/peran
tersebut.
c) Ideal diri, tanyakan hal sebagai berikut.
1. Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas/peran.
2. Harapan pasien terhadap lingkungan (keluarga, sekolah,
tempat kerja, masyarakat).
3. Harapan pasien terhadap penyakitnya.
d. Harga diri, tanyakan hal berikut.
1. Hubungan pasien dengan orang lain sesuai dengan kondisi
No. 2a, b, c, dan d.
2. Penilaian/penghargaan orang lain terhadap diri dan
kehidupannya.
e. Hubungan social
1. Tanyakan pada pasien siapa orang terdekat dalam
kehidupannya, tempat mengadu, tempat bicara, serta minta
bantuan atau sokongan.
2. Tanyakan pada pasien kelompok apa saja yang diikuti dalam
masyarakat.
3. Tanyakan pada pasien sejauhmana ia terlibat dalam kelompok
di masyarakat.
f. Spiritual
Nilai dan keyakinan, tanyakan hal berikut.
1. Pandangan dan keyakinan terhadap gangguan jiwa sesuai
dengan norma budaya dan agama yang dianut.
2. Pandangan masyarakat setempat tentang gangguan jiwa.
3. Kegiatan ibadah, tanyakan hal berikut.
4. Kegiatan ibadah di rumah secara individu dan kelompok.
5. Pendapat pasien/keluarga tentang kegiatan ibadah.
g. Penampilan
Data ini didapatkan melalui hasil observasi
perawat/keluarga.Penampilan tidak rapi jika dari ujung rambut
sampai ujung kaki ada yang tidak rapi. Misalnya, rambut acak-
acakan, kancing baju tidak tepat, resleting tidak dikunci, baju
terbalik, baju tidak diganti-ganti. Penggunaan pakaian tidak
sesuai, misalnya pakaian dalam dipakai di luar baju. Cara
berpakaian tidak seperti biasanya,jika penggunaan pakaian
tidak tepat (waktu, tempat, identitas, situasi/kondisi). Jelaskan
hal yang ditampilkan pasien dan kondisi lain yang tidak
tercantum.
h. Pembicaraan
Amati pembicaraan yang ditemukan pada pasien, apakah
cepat, keras, gagap, membisu, apatis, dan/atau lambat. Bila
pembicaraan berpindah-pindah dari satu kalimat satu ke
kalimat yang lain yang tidak ada kaitannya, maka beri tanda ✓
pada kotak inkoheren.
i. Aktivitas motorik
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga.
Lesu, tegang, gelisah sudah jelas. Agitasi: gerakan motorik
yang menunjukkan kegelisahan. Tik: gerakan-gerakan kecil
pada otot muka yang tidak terkontrol. Grimasen: gerakan otot
muka yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol pasien.
Tremor: jari-jari yang tampak gemetar ketika pasien
menjulurkan tangan dan merentangkan jari-jari. Kompulsif:
kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, seperti berulang kali
mencuci tangan, mencuci muka, mandi, mengeringkan tangan,
dan sebagainya. Jelaskan aktivitas yang ditampilkan pasien
dan kondisi lain yang tidak tercantum.
j. Alam perasaan
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga.
Sedih, putus asa, gembira yang berlebihan sudah jelas.
Ketakutan: objek yang ditakuti sudah jelas.
k. Afek
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga.
Datar: tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus
yang menyenangkan atau menyedihkan. Tumpul: hanya
bereaksi jika ada stimulus emosi yang kuat. Labil: emosi yang
cepat berubah-ubah. Tidak sesuai: emosi yang tidak sesuai
atau bertentangan dengan stimulus yang ada.
l. Interaksi selama wawancara
Data ini didapatkan melalui hasil wawancara dan observasi
perawat dan keluarga.
1. Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah
jelas.
2. Kontak mata kurang: tidak mau menatap lawan bicara.
3. Defensif: selalu berusaha mempertahankan pendapat dan
kebenaran dirinya.
4. Curiga: menunjukkan sikap/perasaan tidak percaya pada
orang lain.
5. Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.
6. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data.
m. Persepsi
1. Jenis-jenis halusinasi sudah jelas, kecuali menghidung sama
dengan penciuman.
2. Jelaskan isi halusinasi dan frekuensi gejala yang tampak
pada saat pasien halusinasi.
3. Masalah keperawatan sesuai dengan masalah yang ada.
n. Proses pikir
Data diperoleh dari observasi pada saat wawancara.
1. Sirkumtansial: pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai
dengan tujuan pembicaraan.
2. Tangensial: pembicaraan yang berbelit-belit tetapi tidak
sampai dengan tujuan pembicaraan.
3. Kehilangan asosiasi: pembicaraan tidak ada hubungannya
antara satu kalimat satu dengan kalimat lainnya dan pasien
tidak menyadarinya.
4. Flight of ideas: pembicaraan meloncat dari satu topik ke
topik lainnya, masih ada hubungan yang tidak logis, dan
tidak sampai pada tujuan.
5. Blocking: pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan
eksternal kemudian dilanjutkan kembali.
6. Perseverasi: pembicaraan yang diulang berkali-kali.
Jelaskan apa yang dikatakan pasien pada saat wawancara.
Masalah keperawatan sesuai dengan data.
o. Isi pikir
Data didapatkan melalui wawancara.
1. Obsesi: pikiran yang selalu muncul walaupun pasien selalu
berusaha menghilangkannya.
2. Fobia: ketakutan yang patologis/tidak logis terhadap
objek/situasi tertentu.
3. Hipokondria: keyakinan terhadap adanya gangguan organ
dalam tubuh yang sebenarnya tidak ada.
4. Depersonalisasi: perasaan pasien yang asing terhadap diri
sendiri, orang, atau lingkungan.
5. Ide yang terkait: keyakinan pasien terhadap kejadian yang
terjadi di lingkungan dan terkait pada dirinya.
6. Pikiran yang magis : keyakinan pasien tentang keyakinannya
melakukan hal-hal mustahil/di luar kemampuannya.
7. Waham
1) Agama: keyakinan pasien terhadap suatu agama secara
berlebihan dan diucapkan secara berulang tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
2) Somatik: pasien mempunyai keyakinan tentang
tubuhnya dan dikatakan secara berulang yang tidak
sesuai dengan kenyataan.
3) Kebesaran: pasien mempunyai keyakinan berlebihan
terhadap kemampuannya yang disampaikan secara
berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.
4) Curiga: pasien mempunyai keyakinan bahwa ada
seseorang atau kelompok, yang berusaha merugikan
atau mencederai dirinya yang disampaikan secara
berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
5) Nihilistik: pasien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada
di dunia/meninggal yang dinyatakan secara berulang,
tidak sesuai kenyataan.
6) Waham yang aneh (bizarre) antara lain sebagai berikut.
 Sisip pikir: pasien yakin ada ide pikiran orang lain
yang disisipkan di dalam pikiran yang disampaikan
secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
 Siar pikir: pasien yakin bahwa orang lain
mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun dia
tidak menyatakan kepada orang tersebut yang
dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan.
 Kontrol pikir: pasien yakin pikirannya dikontrol
oleh kekuatan dari luar. Jelaskan apa yang dikatakan
oleh pasien
p. Mekanisme koping
Data didapatkan melalui wawancara pada pasien atau keluarganya.
Beri tanda pada kotak koping yang dimiliki pasien, baik adaptif
maupun maladaptif.
q. Masalah psikososial dan lingkungan
Data didapatkan melalui wawancara pada pasien atau keluarganya.
Pada tiap masalah yang dimiliki pasien beri uraian spesifik, singkat,
dan jelas.
r. Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara pada pasien. Pada tiap item
yang dimiliki oleh pasien simpulkan dalam masalah.
2. Analisa Data

Data Etiologi Diagnosa


Data Subjektif Penilaian internal Harga diri rendah
Pasien atau keluarga individu maupun
mengungkapkan penilaian ekstenal
tentang: yang negative
a. Hal negative dari
diri sendiri atau
orang lain Mekanisme koping
b. Perasaan tidak maladaptive
mampu
c. Padangan hidup
yang pesimis Harga diri rendah
d. Penolakan
terhadap
kemampuan diri Gangguan persepsi
Data Objektif sensori
a. Penurunan
produktivitas
b. Tidak berani
menatap lawan
bicara
c. Lebih banyak
menundukkan
kepala saat
berinteraksi
d. Bicara lambat
dengan nada
suara lemas
Data Subjektif Ketidak efektifan Isolasi sosial
Pasien atau keluarga koping individu
mengungkapkan tentang
a. Ingin sendiri
b. Menarik diri Gangguan harga diri:
c. Adanya harga diri rendah
permusuhan
d. Merasa tidak Isolasi sosial
aman di tempat
umum
e. Perasaan berbeda Gangguan persepsi
dari orang lain sensori
Data Objektif
a. Riwayat ditolak
b. Tidak ada kontak
mata
c. Terlihat sedih
Data Subjektif Ketidak efektifan Resiko bunuh diri
Pasien atau keluarga koping individu
mengungkapkan tentang
a. Isolasi sosial
b. Kesepian Putus asa
c. Putus asa
d. Tidak berdaya
e. Mengatakan Resiko bunuh diri
keinginan untuk
mati
Data Objektif Kematian
a. Tidak ada kontak
mata
b. Adanya riwayat
di bully

3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan jiwa yang mungkin dapat muncul pada
pasien dengan Ptstd (Trauma,Bullying) adalah sebagai berikut:
a. Harga Diri Rendah
b. Isolasi Sosial
c. Resiko Bunuh Diri
4. Intervensi Keperawatan
a. Intervensi Harga Diri Rendah
a) Tujuan
1) Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki.
2) Pasien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
3) Pasien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai
kemampuan.
4) Pasien dapat melatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai
kemampuan.
5) Pasien dapat merencanakan kegiatan yang sudah
dilatihnya.
b) Tindakan keperawatan
1) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
masih dimiliki pasien.
a. Mendiskusikan bahwa pasien masih memiliki
sejumlah kemampuan dan aspek positif seperti
kegiatan pasien di rumah, serta adanya keluarga dan
lingkungan terdekat pasien.
b. Beri pujian yang realistik/nyata dan hindarkan setiap
kali bertemu dengan pasien penilaian yang negatif.
2) Membantu pasien dapat menilai kemampuan yang dapat
digunakan.
a. Mendiskusikan dengan pasien kemampuan yang
masih dapat digunakan saat ini setelah mengalami
bencana.
b. Bantu pasien menyebutkannya dan memberi
penguatan terhadap kemampuan diri yang
diungkapkan pasien.
c. Perlihatkan respons yang kondusif dan menjadi
pendengar yang aktif.
3) Membantu pasien dapat memilih/menetapkan kegiatan
sesuai dengan kemampuan.
a. Mendiskusikan dengan pasien beberapa aktivitas
yang dapat dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan
yang akan pasien lakukan sehari-hari.
b. Bantu pasien menetapkan aktivitas yang dapat pasien
lakukan secara mandiri, aktivitas yang memerlukan
bantuan minimal dari keluarga, dan aktivitas yang
perlu bantuan penuh dari keluarga atau lingkungan
terdekat pasien. Berikan contoh cara pelaksanaan
aktivitas yang dapat dilakukan pasien. Susun
bersama pasien dan buat daftar aktivitas atau
kegiatan sehari-hari pasien.

4) Melatih kegiatan pasien yang sudah dipilih sesuai


kemampuan.
a. Mendiskusikan dengan pasien untuk menetapkan
urutan kegiatan (yang sudah dipilih pasien) yang
akan dilatihkan.
b. Bersama pasien dan keluarga memperagakan
beberapa kegiatan yang akan dilakukan pasien.
c. Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap
kemajuan yang diperlihatkan pasien.
5) Membantu pasien dapat merencanakan kegiatan sesuai
kemampuannya.
a. Memberi kesempatan pada pasien untuk mencoba
kegiatan yang telah dilatihkan.
b. Beri pujian atas aktivitas/kegiatan yang dapat
dilakukan pasien setiap hari.
c. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi
dan perubahan setiap aktivitas.
d. Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan
e. bersama pasien dan keluarga.
f. Berikan kesempatan mengungkapkan perasaanya
setelah pelaksanaan kegiatan.
g. Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap
aktivitas yang dilakukan pasien.
c) Tindakan Keperawatan pada Keluarga
1. Tujuan
a. Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi
kemampuan yang dimiliki.
b. Keluarga memfasilitasi aktivitas pasien yang sesuai
kemampuan.
c. Keluarga memotivasi pasien untuk melakukan
kegiatan sesuai dengan latihan yang dilakukan.
d. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan
kemampuan pasien.
2. Tindakan keperawatan
a. Diskusi dengan keluarga kemampuan yang dimiliki
pasien.
b. Anjurkan memotivasi pasien agar menunjukkan
kemampuan yang dimiliki.
c. Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien dalam
melakukan kegiatan yang sudah dilatihkan pasien
dengan perawat.
d. Ajarkan keluarga cara mengamati perkembangan
perubahan perilaku pasien.
c. Intervensi Isolasi Sosial
a. Tujuan
Setelah tindakan keperawatan, pasien mampu melakukan hal
berikut.
1) Membina hubungan saling percaya.
2) Menyadari penyebab isolasi sosial.
3) Berinteraksi dengan orang lain.
b. Tindakan
1) Membina hubungan saling percaya.
a. Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi
dengan pasien.
b. Berkenalan dengan pasien, seperti perkenalkan
nama dan nama panggilan yang Anda sukai,
serta tanyakan nama dan nama panggilan
pasien.
c. Menanyakan perasaan dan keluhan pasien saat
ini.
d. Buat kontrak asuhan, misalnya apa yang Anda
akan lakukan bersama pasien, berapa lama akan
dikerjakan, dan tempatnya di mana.
e. Jelaskan bahwa Anda akan merahasiakan
informasi yang diperoleh untuk kepentingan
terapi.
f. Setiap saat tunjukkan sikap empati terhadap
pasien.
g. Penuhi kebutuhan dasar pasien bila
memungkinkan.
2) Membantu pasien menyadari perilaku isolasi sosial.
a. Tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan
berinteraksi dengan orang lain.
b. Tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak
ingin berinteraksi dengan orang lain.
c. Diskusikan keuntungan bila pasien memiliki
banyak teman dan bergaul akrab dengan
mereka.
d. Diskusikan kerugian bila pasien hanya
mengurung diri dan tidak bergaul dengan
orang lain.
e. Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap
kesehatan fisik pasien.
3) Melatih pasien berinteraksi dengan orang lain secara
bertahap.
a. Jelaskan kepada pasien cara berinteraksi
dengan orang lain.
b. Berikan contoh cara berbicara dengan orang
lain.
c. Beri kesempatan pasien mempraktikkan cara
berinteraksi dengan orang lain yang
dilakukan di hadapan Anda.
d. Mulailah bantu pasien berinteraksi dengan
satu orang teman/anggota keluarga.
e. Bila pasien sudah menunjukkan kemajuan,
tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga,
empat orang, dan seterusnya.
f. Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi
yang telah dilakukan oleh pasien.
g. Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien
setelah berinteraksi dengan orang lain.
Mungkin pasien akan mengungkapkan
keberhasilan atau kegagalannya. Beri
dorongan terus-menerus agar pasien tetap
semangat meningkatkan interaksinya.
c. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
1. Tujuan
Setelah tindakan keperawatan, keluarga mampu merawat
pasien isolasi sosial di rumah.
2. Tindakan
Melatih keluarga merawat pasien isolasi sosial.
Menjelaskan tentang hal berikut.
a. Masalah isolasi sosial dan dampaknya pada pasien.
b. Penyebab isolasi sosial.
c. Sikap keluarga untuk membantu pasien mengatasi
isolasi sosialnya.
d. Pengobatan yang berkelanjutan dan mencegah putus
obat.
e. Tempat rujukan bertanya dan fasilitas kesehatan yang
tersedia bagi pasien.
f. Memperagakan cara berkomunikasi dengan pasien.
g. Memberi kesempatan kepada keluarga untuk
mempraktikkan cara berkomunikasi dengan pasien.
d. Intervensi Resiko Bunuh Diri
a. Intervensi pasien Resiko Bunuh Diri
1. Tujuan
Pasien tetap aman dan selamat.
2. Tindakan
Untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba
bunuh diri, maka Anda dapat melakukan tindakan berikut.
a. Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat
dipindahkan ke tempat yang aman.
b. Menjauhkan semua benda yang berbahaya, misalnya
pisau, silet, gelas, tali pinggang.
c. Memeriksa apakah pasien benar-benar telah
meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat.
d. Menjelaskan dengan lembut pada pasien bahwa Anda
akan melindungi pasien sampai tidak ada keinginan
bunuh diri.
b. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
1. Tujuan
Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga
yang mengancam atau mencoba bunuh diri.
2. Tindakan
a. Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi
pasien serta jangan pernah meninggalkan pasien
sendirian.
b. Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat
menjauhi barang-barang berbahaya di sekitar pasien.
c. Mendiskusikan dengan keluarga ja untuk tidak sering
melamun sendiri.
d. Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien
minum obat secara teratur.
5. Implementasi Keperawatan
Sebelum tindakan keperawatan diimplementasikan perawat perlu
memvalidasi apakah rencana tindakan yang ditetapkan masih sesuai
dengan kondisi pasien saat ini (here and now). Perawat juga perlu
mengevaluasi diri sendiri apakah mempunyai kemampuan
interpersonal, intelektual, dan teknikal sesuai dengan tindakan yang
akan dilaksanakan. Setelah tidak ada hambatan lagi, maka tindakan
keperawatan bisa diimplementasikan.
Saat memulai untuk implementasi tindakan keperawatan, perawat
harus membuat kontrak dengan pasien dengan menjelaskan apa
yang akan dikerjakan dan peran serta pasien yang diharapkan.
Kemudian penting untuk diperhatikan terkait dengan standar
tindakan yang telah ditentukan dan aspek legal yaitu
mendokumentasikan apa yang telah dilaksanakan.
6. Evaluasi Keperawatan
1. Evaluasi Harga Diri Rendah
a. Evaluasi Pasien
a) Kemampuan yang diharapkan dari pasien.
b) Pasien dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki pasien.
c) Pasien dapat membuat rencana kegiatan harian.
d) Pasien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang
dimiliki.
b. Kemampuan yang diharapkan dari keluarga.
a) Keluarga membantu pasien dalam melakukan aktivitas.
b) Keluarga memberikan pujian pada pasien terhadap
kemampuannya melakukan aktivitas.
2. Evaluasi Isolasi Sosial
a. Evaluasi kemampuan pasien
a) Pasien menunjukkan rasa percayanya kepada saudara
sebagai perawat dengan ditandai dengan pasien mau
bekerja sama secara aktif dalam melaksanakan program
yang saudara usulkan kepada pasien.
b) Pasien mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan tidak
mau bergaul dengan orang lain, kerugian tidak mau
bergaul, dan keuntungan bergaul dengan orang lain.
c) Pasien menunjukkan kemajuan dalam berinteraksi dengan
orang lain secara bertahap.
b. Evaluasi kemampuan keluarga
a) Keluarga ikut bekerja sama merawat pasien sesuai
anjuran yang Anda berikan.
3. Evaluasi Resiko Bunuh Diri
a. Untuk pasien yang memberikan ancaman atau melakukan
percobaan bunuh diri, keberhasilan asuhan keperawatan
ditandai dengan keadaan pasien yang tetap aman dan
selamat.
b. Untuk keluarga pasien yang memberikan ancaman atau
melakukan percobaan bunuh diri, keberhasilan asuhan
keperawatan ditandai dengan kemampuan keluarga berperan
serta dalam melindungi anggota keluarga yang mengancam
atau mencoba bunuh diri.
c. Untuk pasien yang memberikan isyarat bunuh diri,
keberhasilan asuhan keperawatan ditandai dengan hal
berikut.
a) Pasien mampu mengungkapkan perasaanya.
b) Pasien mampu meningkatkan harga dirinya.
c) Pasien mampu menggunakan cara penyelesaian
masalah yang baik.
d. Untuk keluarga pasien yang memberikan isyarat bunuh diri,
keberhasilan asuhan keperawatan ditandai dengan
kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan risiko
bunuh diri, sehingga keluarga mampu melakukan hal
berikut.
a) Keluarga mampu menyebutkan kembali tanda dan
gejala bunuh diri.
b) Keluarga mampu memperagakan kembali cara-cara
melindungi anggota keluarga yang berisiko bunuh
diri.
c) Keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan
yang tersedia dalam merawat anggota keluarga yeng
berisiko bunuh diri.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bullying akan senantiasa terjadi dan sering tidak mendapatkan
perhatian dari para guru karena peristiwa ini dianggap hal biasa dan wajar,
namun jika diperhatikan lebih lanjut sebenarnya bullying sangat banyak
memberikan dampak negatif pada diri korban. Peran guru dan pembimbing
di sekolah sangat penting untuk meminimalisirnya agar siswa-siswa di
sekolah dapat berkembang dengan wajar dalam suasana gembira tidak
dengan ketakutan. Tulisan di atas semoga membantu para orang tua, guru,
dan konselor dalam menghadapi bullying yang terjadi di sekolah. Semoga
bullying tak terjadi lagi di sekolah-sekolah kita, apabila kita mampu
melakukan pengawasan.
Bullying terjadi tanpa ada maksud yang jelas atau dengan tujuan
untuk menganggu korban yang dilakukan secara sengaja. Tindakan tersebut
dapat menyakiti korban baik secara fisik maupun psikis sehingga dapat
memberikan dampak negatif pada korban. Seperti adanya perasaan tertekan,
takut, cemas, sedih dan membuat korban tidak nyaman serta kehilangan
motivasi. Kondisi yang dialami korban secara berulang dapat berpengaruh
terhadap kepercayaan diri, harga diri dan prestasi akademik.
Berbagai masalah keperawatan dapat muncul pada pasien dengan
trauma bullying, diantaranya adalah harga diri rendah, isolasi sosial dan
resiko bunuh diri, pemberian intervensi yang tepat dan deteksi dini adanya
tindakan bullying dapat mengurangi resiko terjadinya dampak yang lebih
luas dan maslah yang lebih besar, berbagai terapi dapat dilakukan pada
pasien trauma bullying, diantaranya dengan terapi hipnosis dan
terapi prilaku asertive.
B. Saran
saran dappat ditujukan kepada 3 pihak yaitu sekolah, remaja, dan orang tua.
Bagi sekolah disarankan untuk lebih tegas lagi dalam memperhatikan dan
menanggapi perilaku bullying yang terjadi di sekolah. Perlunya pengawasan
khusus juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi perilaku bullying
yang ada. Adanya penyuluhan tentang bullying juga dirasakan perlu
dilakukan, baik itu untuk siswa maupun pihak guru. Karena dengan lebih
memahami bullying dan segala dampaknya, guru dan siswa dapat bekerja
sama dalam mencegah terjadinya perilaku bullying di sekolah. Bagi remaja
yang mengetahui adanya tindakan bullying disekitarnya diharapkan dapat
mencegah dan menghentikan tindakan tersebut, salah satu caranya dengan
melaporkan tindakan tersebut pada pihak sekolah atau orang tua. Secara
khusus untuk pelaku bullying, agar menyadari bahwa perilakunya tersebut
tidak hanya akan berdampak buruk pada korbannya, namun juga pada
dirinya sendiri. Apapun bentuknya, perilaku bullying hanya akan
memberikan dampak yang buruk. Orang tua juga diharapkan lebih aware
terhadap perilaku mereka kepada remaja karena segala perilaku mereka
dapat dipersepsikan oleh remaja. Orang tua diharapkan lebih serius lagi
menanggapi tentang bullying dan lebih peka lagi untuk memperhatikan
apakah anaknya terlibat bullying atau tidak, serta dapat memberikan arahan
yang positif bagi anaknya. Orang tua diharapkan mampu menjadi role
model yang positif untuk anak-anaknya dengan menjadi contoh yang positif
(misalnya: tidak memberikan panggilan yang negatif pada anak, tidak
membentak dengan kata-kata kasar, dsb) sehingga anak menjadi lebih
paham apa yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Azis Rifqi Akhmad. 2015. Efektivitas Pelatihan Asertivitas untuk Meningkatkan


Perilaku Asertif Siswa Korban Bullying. Jurnal Konseling dan Pendidikan
ISSN Cetak: 2337-6740 – ISSN
Betie febriana.2016. Pengaruh Terapi Kognitif Terhadap Harga Diri Remaja
Korban Bullying. Jurnal Ilmu Keperawatan, Vol 4:, No 1.
Ela zain zakiyah, dkk. 2017. Faktor Yang Mempengaruhi Remaja Dalam
Melakukan Bullying. jurnal penelitian & ppm issn: 2442-448x
Fitryasari Rizky & Nihayati Endang Hanik. 2015. Buku Ajar Kesehatan
Keperawatan Jiwa. Jakarta:Salemba Medika
Ifdil. 2015. Aplikasi Hipnosis dalam Konseling. Yogyakarta. Universitas Putra
Indonesia YPTK Padang
Ikhsani nurul leli. 2015. Dinamika Psikologis Korban Bullying Pada Remaja.
Surakarta : universitas muhammadiyah surakarta
Majid Indra.2017.Mengenal Hipnotis Modern. Jakarta: IHA
Rani Rakhmawati, dkk.2014. Metode Keperawatan Komplementer Hipnoterapi
Untuk Menurunkan Efek Stress Pasca Trauma Tingkat Sedang Pada Fase
Rehabilitasi Sistem Penanggulangan Kegawatdaruratan Terpadu (Spgdt).
Jurnal keperawatan, P-ISSN 2086-3071
Sucipto.2012. Bullying Dan Upaya Meminimalisasikannya. psikopedagogia, vol.
1,no.1
Surilena.2016. Perilaku Bullying (Perundungan) pada Anak dan Remaja. CDK 35
-236/ vol. 43 no. 1
Tumon Bara Asie Matraisa.2014. Studi Deskriptif Perilaku Bullying pada Remaja.
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1
Wardana Katyana.2015. Buku Panduan Melawan Bullying.sudah dong.com
Yani linda athi. 2016. Eksplorasi Fenomena Korban Bullying Pada Kesehatan
Jiwa Remaja Di Pesantren. Jurnal ilmu keperawatan, vol:4 , no.2