Anda di halaman 1dari 2

Neurodermatitis

Neurodermatitis adalah peradangan


kulit kronis, yang ditandai dengan
gejala kulit tebal dan garis kulit
tampak menonjol (likenifikasi)
menyerupai batang kayu. Penyebab
dari neurodermatitis tidak diketahui,
namun pada dasarnya pruritus yang
berkepanjangan menjadi dasar
pembentuk terjadinya lesi pada
neurodermatitis. Faktor resiko dari pruritus ialah penyakit yang mendasarinya contohnya
diabetes mellitus, penyakit kulit seperti dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, gigitan
serangga, atau aspek psikologi dengan tekanan emosi.
Neurodermatitis lebih sering menyerang wanita dewasa dengan keluhan utamanya ialah
gatal-gatal yang berulang, Keparahan gatal dapat diperburuk bila pasien berkeringat, pasien
berada pada suhu yang lembab, atau pasien terkena benda yang merangsang timbulnya gatal
(alergen). Gatal juga dapat bertambah pada saat pasien mengalami stress psikologis.
Pada pemeriksaan efloresensi ditemukan lesi tampak likenifikasi berupa penebalan kulit
dengan garis-garis kulit yang semakin terlihat, terlihat plak dengan ekskoriasi serta sedikit
eritematosa (memerah) dan edema. Pada lesi yang sudah lama, lesi akan tampak berskuama
pada bagian tengahnya, terjadi hiperpigmentasi (warna kulit yang digaruk berubah menjadi
kehitaman) pada bagian lesi yang gatal, bagian eritema dan edema akan menghilang, dan
batas lesi dengan bagian kulit normal semakin tidak jelas. Gejala pruritus kronis pada
neurodermatitis harus dibedakan dengan dermatitis atopik dan prurigo nodularis berdasarkan
predileksi tempatnya dan gambaran klinisnya.
Terapi utama neurodermatitis ialah dengan pengobatan non medika mentosa yakni
dengan mencegah pemicu terjadinya pruritus. Terapi medika mentosa yang bisa diberikan
ialah kortikosteroid, antihistamin, dan antibiotic jika sudah timbul luka akibat garukan.
Komplikasi dari neurodermatitis ialah ulkus dan hiperpigmentasi yang permanen. Prognosis
dari neurodermatitis umumnya baik, jarang terjadi pengulangan gejala hingga menganggu
aktivitas jika pasien mengetahui dan mampu mencegah terjadinya pemicu pruritus.
Daftar Pustaka

1. Sularsito SA, Djuanda S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin .5th.ed. Penerbit FKUI,
Jakarta 2005. p. 129-153