Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PENYIMPANAN OBAT

I. Tujuan
Tujuan dilakukannya kegiatan penyimpanan obat yaitu :
a) Memudahkan untuk pencarian dan pengawasan obat
b) Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, dan
menjaga ketersediaan stok obat
II. Dasar teori
Pengelolaan obat di rumah sakit sangat penting karena ketidak
efisienan akan memberikan dampak negatif terhadap rumah sakit, baik
secara medis maupun ekonomis. Pengelolaan obat tidak hanya mencakup
aspek logistik saja, tetapi juga mencakup aspek informasi obat, supervisi
dan pengendalian menuju penggunaan obat yang rasional (Justicia, 2009).
Bahwa perbekalan farmasi adalah terdiri dari obat, alat kesehatan,
reagen, gas medis, ataupun film. Bahwa perbekalan farmasi harus dikelola
dan menjadi tanggung jawab Instalasi Farmasi. Bahwa dalam pengelolaan
perbekalan farmasi perlu dilakukan penyimpanan perbekalan farmasi sesuai
dengan aturan yang berlaku sehingga tidak mengurangi mutu dari
perbekalan farmasi tersebut. Bahwa untuk menjamin perbekalan farmasi
disimpan secara aman, sesuai dengan dan menjaga mutu dan stabilitas
obat.(Menkes,2016)
Peyimpanan perbekalan farmasi di pelayanan farmasi dan seluruh
ruang keperawatan menjadi tanggung jawab dari Instalasi Farmasi. Aturan
dan tata cara penyimpanan perbekalan farmasi di Rumah Sakit terlampir
dalam Surat Keputusan. Kebijakan ini berlaku selama 3 tahun dan akan
dilakukan evaluasi minimal 1 tahun sekali. Apabila hasil evaluasi
mensyaratkan adanya perubahan, maka akan dilakukan perubahan dan
perbaikan sebagaimana mestinya.( Menkes,2016)
Dalam pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit tahapan yang
penting adalah proses penyimpanan. Penyimpanan merupakan kegiatan

1
pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang telah ditetapkan
disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan
perbekalan farmasi sesuai kebutuhan. Tujuan dari manajemen penyimpanan
obat adalah untuk melindungi obat-obat yang disimpan dari kehilangan,
kerusakan, kecurian, terbuang sia-sia, dan untuk mengatur aliran barang dari
tempat penyimpanan ke pengguna melalui suatu sistem yang terjangkau
(Menkes, 2016).
Definisi Penyimpanan perbekalan farmasi secara umum adalah
suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan
perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari
pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat.
Penyimpanan perbekalan farmasi dimaksudkan juga untuk pengaturan
tempat penyimpanan perbekalan farmasi sesuai dengan peraturan yang
berlaku dan memudahkan dalam pengontrolan ketersediaan perbekalan
farmasi sesuai kebutuhan.(Menkes,2016)
III. Hasil Pengamatan
Penyusunan obat sesuai Abjad

IV. Pembahasan
Pengelolaan perbekalan farmasi sangat penting fungsinya bagi
terwujudnya pelayanan perbekalan farmasi yang baik. Pengelolaan
perbekalan farmasi yang baik didukung juga dengan sistem penyimpanan
yang baik untuk perbekalan farmasi diseluruh unit pelayanan. Untuk
membangun sistem penyimpanan yang baik dan menerapkanya diperlukan

2
kerja sama dari semua unit pelayanan untuk mendukung sistem
penyimpanan perbekalan farmasi yang sudah dibuat.
Penyimpanan adalah proses jeda sementara antara penerimaan dan
distribusi berikutnya, dimana penyimpanan sebenarnya adalah pengaman
kebutuhan distribusi, dalam proses penyimpanan harus dipastikan dulu
keberadaan tempat penyimpanan, setelah ada tempat penyimpanan barulah
kemudian tempat itu dibuat sedemikian rupa sehingga tempat itu dapat
menjamin kualitas, mutu dan keamanan perbekalan farmasi sesuai dengan
syarat farmasi maupun masing-masing perbekalan farmasi.
Menjamin mutu berarti ada syarat yang diberlakukan untuk
mempertahankan mutu tersebut, dimana tempat penyimpanan harus
mempunyai persyaratan stabilitas, seperti terhindar dari cahaya matahari,
cahaya lampu, kelembapan, suhu, dan jenis perbekalan farmasi, dan
persyaratan keamanan adalah bebas dari binatang pengerat, resiko
kehilangan dan kesurasakan
Dalam penyimpanan harus diperhatikan antara lain :
a. Perbekalan farmasi diberi label penanda khususnya obat,bahan obat
dan bahan kimia obat, secara jelas terbaca, dan ada tanggal kemasan
awal dibuka dan kapan masa berakhir aktifitasnya (beyond use date)
b. Elektrolit konsetrasi tinggi disimpan difarmasi dan ruang perawatan
khusus saja dengan disertai catatan atau peringatan khusus.
c. Elektrolit konsetrasi tinggi yang disimpan di ruang perawatan selain
diberi label diberi tanda dan pengaman khusus serta diawasi dan
dibatasi (restriced) baik akses maupun pengambilan, disini
dimaksudkan untuk mencegah peñatalaksanaan yang kurang hati-hati.
d. Perbekalan farmasi yang dibawa oleh pasien dari lingkungan luar
rumah sakit harus diidentifikasi, dicatat, dan dikonsultasikan dengan
dokter penanggung jawab pasien, bila perlu dan demi keamanan
perbekalan farmasi yang dibawa pasien dan rumah sakit punya
persediaannya, maka diganti dengan perbekalan farmasi dari rumah
sakit, tetapi itu perlu kebijakan tersendiri.

3
e. Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan menyimpan sesuatu
yang lain selain perbekalan farmasi, bila perlu pisahkan antara obat,
bahan obat, alat kesehatan, dan jangan simpan bersamaan dengan
sesuatu yang mudah atau dapat saling mengkontaminasi.
Sistem penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan beberapa
kategori, seperti berdasarkan jenis dan bentuk sediaan, suhu penyimpanan
dan stabilitas, sifat bahan, susunan alfabetis, dengan menerapkan prinsip
FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) untuk
mencegah tersimpannya obat yang sudah kadaluarsa.
Pada proses penyimpanan pada praktikum kali ini kami
menggunakan metode FIFO ( First In First Out ) atau perbekalan farmasi
yang diterima pertama maka didistribusikan yang pertama pula sehingga,
terhindar dari penyimpanan barang yang terlalu lama disimpan, ataupun
dengan metode FEFO ( First Expire First Out ) atau perbekalan farmasi
yang mempunyai tanggal kadaluwarsa pendek digunakan lebih dahulu
disbanding dengan perbekalan farmasi yang mempunyai tanggal
kawaluwarsa panjang atau lama.
Hindarkan penyimpanan produk yang mempunyai kemiripan atau
kesamanaan atau bahkan sama dalam nama obat, penyebutan serta kemasan,
kita mungkin yang di lingkungan rumah sakit sudah familiar dengan LASA
(Look Alike Sound Alike) atau NORUM (Nama Obat, Rupa dan Ucapan
Mirip), untuk menghidarkan dari kesalahan penyiapan dan pengambilan
maka dibuat cara sedemikian rupa seperti:
a. Memberikan stiker peringatan LASA atau NORUM.
b. Meletakkan perbekalan yang mempunyai LASA atau NORUM tidak
bersebelahan, melainkan diberi sela atau jeda atau dibedakan dalam rak atau
almari yang berbeda pula.
c. Diberi peringatan untuk chek berulang dan pemastian penyiapan atau
pengambilan perbekalan
d. Buat daftar perbekalan farmasi yang masuk dalam katagori LASA atau
NORUM dan sosialisasikan berulang

4
Penyimpanan berdasarkan jenis sediaan adalah pengelompokan obat
sesuai jenisnya dan menempatkannya pada area terpisah. Obat
dikelompokkan berdasarkan bentuk sediaan, misalnya dikelompokkan
menjadi obat oral (tablet/kapsul, sirup), obat suntik (ampul, vial, cairan
infus), obat luar (salep, gel, tetes mata, obat kumur). Penyimpanan obat di
tiap kategori dapat disusun berdasarkan efek farmakologinya.

Dan untuk penyusunan kami berdasarkan abjad akan lebih


memudahkan pencarian obat, sedangkan penyusunan berdasarkan efek
farmakologis dapat dipisahkan dengan memberikan warna wadah
penyimpanan atau ditempel stiker berwarna yang berbeda untuk tiap
kelompok efek farmakologinya.
Kelemahan penyusunan berdasarkan efek farmakologi adalah akan
menyulitkan pencarian obat dengan cepat, terutama jika petugasnya baru
dan belum mengenal dengan baik klasifikasi obat berdasarkan efek
farmakologi. Sebagai solusinya, maka penyusunan berdasarkan abjad dapat
dipilih, namun perlu diperhatikan penyimpanan untuk obat yang nama dan
rupanya mirip atau dikenal dengan istilah LASA (Look Alike Sound Alike).
V. Kesimpulan
a. Untuk memudahkan pencarian obat disusun sesuai abjad dan
menggunakan metode FIFO dan FEFO.
b. Dalam upaya terciptanya sistem penyimpanan perbekalan farmasi yang
baik, secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau
prosedur untuk mengatur tempat penyimpanan menurut bentuk sediaan
dan jenisnya, suhu dan kestabilannya, sifat bahan (b3, mudah tidaknya
meledak atau terbakar), tahan tidaknya terhadap cahaya, tingkat
kewaspadaan (obat-obat kewaspadaan tinggi ).

5
VI. Daftar Pustaka
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit. Jakarta
Justicia, 2009. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penetapannya.
Penerbit Buku Kedokteran:Jakarta

VII. Lampiran