Anda di halaman 1dari 8

BAB III

TUGAS KHUSUS

3.1 Judul

Evaluasi Kinerja Sales Gas Compressor After Cooler E-101 B Sebelum dan Sesudah
Preventive Maintenance Ditinjau dari Nilai Heat Duty.

3.2 Latar Belakang

Alat-alat yang ada di PT Surya Esa Perkasa Tbk. Dirancang untuk memproses 66
MMSCFD gas umpan untuk menghasilkan produk LPG mix, Propana dan Kondensat. Lean Gas
(gas ringan) sisa dari pemisahan produk akan dialirkan kembali ke Pertamina. Sebelum Lean Gas
dialirkan ke pipa Pertamina, spesifikasi gas (Tekanan dan suhu) yang dialirkan harus sama dengan
saat gas tersebut masuk ke plant PT. Surya Esa Perkasa. Maka dari itu untuk mengontril tekanan
pada Lean Gas harus di kompresi di Sales Gas Compressor (C-101A/B). Keluaran dari
Kompressor ini harus didinginkan terlebih dahulu dengan Sales Gas Compressor Aftercooler (E-
101A/B) agar suhu nya dapat di control juga sebelum masuk ke pipa Pertamina.

Proses pendinginan di E-101 menggunakan metode Air-Cooled Heat Exchanger, yang


dimana digunakan udara sekitar sebagai media pada alat E-101 A/B. Pada saat proses penyerapan
udara sekitar oleh alat E-101, debu-debu dan zat pengotor yang terikut di udara terperangkap pada
jaring filter yang melapisi baling-baling dari alat E-101 tersebut. Seiring berjalannya waktu, jaring
filter tersebut akan dipenuhi debu dan kotor sehingga daya penyerapan udara semakin berkurang
dan proses perpindahan panas pada alat E-101 akan berkurang. Tentu saja hal ini akan berpengaruh
ke Heat Duty yang dihasilkan di PT. Surya Esa Perkasa.

Panas atau Heat Duty adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu
tempat ketempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu
proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat dan atau perubahantekanan,
reaksi kimia dan kelistrikan.

Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida yang
panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisahdan secara tidak
langsung, yaitu bila diantara fluida panasdan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi
dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah.

Tentu saja hal ini akan berpengaruh ke produk yang dihasilkan di PT. Surya Esa Perkasa.
Maka dilakukan Preventive Maintenance yang rutin pada alat E-101 agar dapat membersihkan
debu-debu dan zat pengotor yang terdapat di jaring filter tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan
perhitungan nilai Heat Duty pada alat E-101 agar dapat dibandingkan kinerja alat tersebut sebelum
dan sesudah dilakukannya Preventive Maintenance.

3.3 Tujuan

Untuk membandingkan nilai Heat Duty pada Sales Gas Compressor After Cooler E-101 B
sebelum dan sesudah Preventive Maintenance agar dapat diketahui performa dari alat tersebut
setelah dilakuka. Preventive Maintenance sehingga dapat dilakukan modifikasi pengendalian pada
aftercooler (E-101B) apabila diperlukan.

3.4 Manfaat

a. Mengaplikasikan keilmuwan terutama dalam bidang Teknik kimia dan dapat melihat
secara nyata hubungan dari teori dengan praktek
b. Data yang sudah diolah dapat dijadikan sebagai data pembanding pabrik sebagai bentuk
monitoring pabrik terhadap alat Aftercooler (E-101B)
c. Dengan mengetahui dan mempelajari perbandingan efisiensi sebelum dan sesudah
Preventive Maintenance terhadap nilai Heat Duty pada aftercooler (E-101B) maka dapat
dilakukan modifikasi pengendalian pada aftercooler (E-101B) apabila diperlukan.

3.5 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dilakukan perumusan masalah mengenai


bagaimana pengaruh sebelum dan sesudah dilakukan Cleaning terhadap kinerja alat ditinjau dari
nilai Heat Duty yang dihasilkan yaitu dengan cara menghitung nilai Heat Duty dari alat E-101 B
menggunakan data-data yang diambil langsung di lapangan agar hasil perhitungan lebih akurat.
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel yaitu suhu ambient atau suhu
lingkungan dan massa flow yang masuk ke cooler. Agar mendapat nilai efisiensi yang optimal
maka dilakukanlah perbandingan antara beberapa variabel tersebut. Karena selama ini
pemantauan kerja alat dilakukan dari monitor, dan nilai yang ditunjukkan di monitor berbeda
dengan yang ditunjukkan di lapangan, maka dari itu perlu diambil data aktual di lapangan sehingga
dapat dikeatahui kinerja alat E-101 B setelah dilakukan Preventive Maintenance.

3.6 Tinjauan Pustaka

Heat Exchanger adalah sebuah perangkat perpindahan panas yang menukar panas antara
dua atau lebih fluida proses. Sebuah Heat Exchanger digunakan untuk memindahkan energi panad
internal antara dua atau lebih fluida yang ada pada tempratur yang berbeda. Dalam kebanyakan
Heat Exchanger , fluida dipisahkan di Heat-Transfer Surface dan idealnya mereka tidak
bercampur. Sebuah alat Heat Exchnger memiliki aplikasi industri yang luas.

Sebuah alat Heat Exchanger harus memenuhi berbagai persyaratan. Dalam hal kinerja,
perpindahan panas di desain maksimum dengan ukuran alat yang minimum. Selain itu, daya tahan
penukar panas harus sangat tinggi, biaya produksi performanya rendah, dan memperhatikan
lingkungan sekitar. Air Cooled Heat Exchanger mempunyai keunggulan keunggulan tersebut
karena menggunakan media udara sebagai fluida pendingin. Hal ini berarti bahwa peralatan yang
memerlukan pendinginan tidak memerlukan media air dan masalah yang terkait dengan
pengolahan dan pembuangan air yang telah menjadi lebih mahal dengan peraturan pemerintah
serta masalah lingkungan diminimalisir.

Panas berpindah dari tempat yang bersuhu tinggi ke tempat yang bersuhu lebih rendah.
Mekanisme perpindahan panas terjadi secara konduksi jika media penghantar panas tetap atau
secara konveksi jika media penghantar berupa fluida (Cairan/gas) atau radiasi jika panas yang
mengalir tanpa melalui perantara.

Air Cooled Heat Exchanger digunakan untuk mentransfer panas dari sebuah aliran fluida
proses ke udara ambien tanpa masalah lingkungan, atau tanpa biaya yang besar. Hal ini
dimungkinkan oleh berbagai macam bahan berbasis aluminium dan bentuk produk yang di
produksi dengan berbagai pilihan desain yang terus mengalami perbaikan dengan biaya yang
rendah. Aluminium, di berbagai bentuknya menawarkan kemungkinan yang jelas untuk mencapai
tujuan Air Cooled Heat Exchanger tersebut.

Air cooled heat exchanger digunakan untuk meningkatkan efisiensi plant atau sebagai
green solution dibandingkan dengan cooling tower dan shell and tube heat exchanger. Fluida
proses berada di tubes. Udara yang berfungsi sebagai pendingin, dialirkan tegak lurus melewati
tubes untuk menghilangkan panas. Pada air cooled heat exchanger, biasanya udara ambien
mengalir secara vertikal melewati bagian tubes yang horizontal dengan cara forced draft atau
induced draft oleh kipas. Untuk aplikasi proses kondensasi, serangkaian tube bisa disusun miring
atau vertikal. Demikian pula untuk air cooled heat exchanger yang cukup kecil, aliran udara bisa
mengalir secara horizontal melewati serangkaian tube.

Dalam rangka meningkatkan karakteristik perpindahan panas dari air cooled heat
exchanger, tubes dilengkapi dengan external fins, fins ini bisa mengakibatkan peningkatan heat
transfer surface yang besar. Pemilihan air cooled heat exchanger yang harus digunakan pada
dasarnya harus memperhatikan masalah ekonomi termasuk biaya atau modal pertama biaya, biaya
operasional dan pemeliharaan, kebutuhan ruang, dan kerugian dari pendinginan dengan udara.

Air cooled heat exchanger dapat dibangun dalam beberapa konfigurasi, biasanya dikendalikan
oleh power yang tersedia, instalasi dan permintaan customer. Jenis yang paling umum dari air
cooled heat exchanger adalah tubes horizontal dengan kipas horizontal dan aliran udara mengalir
vertikal. Tipe ini biasanya digerakkan oleh drive motor listrik yang melekat pada kipas melalui v-
belt. Model ini juga bisa digerakkan oleh motor hidrolik. Tipe air cooled heat exchanger bisa
memiliki konfigurasi induced draft atau forced draft tergantung pada aplikasi, instalasi dan
perhitungan keuntungan dan kerugian untuk kedua tipe.

a. Forced draft air cooled heat exchanger


Forced draft merupakan tipe air cooled heat exchanger yang paling ekonomis dan paling
umum dirancang. Tipe ini menggunakan kipas aksial untuk memaksa udara melewati serangkaian
fin tube. Kipas diposisikan di bawah serangkaian tubes sehingga bagian tidak menampakan bagian
mekaniknya.

b. Induced draft air cooled heat exchanger

Yang kedua yang paling ekonomis dan umum digunakan adalah tipe induced drafi. Desain ini
menggunakan kipas aksial untuk menarik udara di serangkaian fin tube. Kipas diposisikan di atas
serangkaian tube sehingga menawarkan kontrol yang lebih besar dari fluida proses dan
perlindungan rangkaian tube karena struktur tambahan, tingkat kebisingan lebih rendah dari tipe
yang lain. Pada tipe ini, tubes lebih mudah untuk diganti karena tidak diperlukan pembongkaran
struktur.

Aplikasi untuk air cooled heat exchanger mencakup berbagai industri dan produk
exchanger adalah sebagai berikut:

- Refineries

- Gas compressor packages

- Fasilitas transmisi gas

- Pendingin mesin

- Kondensasi gas (propana, pendingin, dll)

- Kondensor uap

Hubungan prinsip dasar perpindahan panas yang ada untuk shell dan tube heat exchanger
juga berlaku untuk desain sebuah air cooled heat exchanger. Namun, ada lebih banyak parameter
yang harus dipertimbangkan dalam desain air cooled heat exchanger. Karena air cooled heat
exchanger dipengaruhi perubahan kondisi iklim, masalah kontrol pendingin udara menjadi
relevan. Sebuah keputusan harus dibuat seperti apa suhu udara ambien yang sebenarnya akan
digunakan untuk desain. Beberapa faktor penting dalam desain air cooled heat exchanger antara
lain adalah diameter tabung, panjang tubes, tinggi fin, jumlah baris tubes, horse power, dan plot
area.

Cooler sendiri bisa digunakan dengan mekanisme berpendingin udara (air-cooled) atau
berpendingin air (water-cooled). Sebuah water-cooled pipe line cooler yang umumnya digunakan
adalah shell and tube heat exchanger. Cooler ini terdiri dari sebuah shell dengan sekumpulan tubes
terpasang di dalamnya. Umumnya udara tekan akan mengalir melalui tubes dalam satu arah dan
air akan mengalir dengan arah yang berlawanan.
Panas yang dapat diserap oleh udara ambien ini dapat disebut sebagai heat duty. Heat Duty
adalah sejumlah energi panas yang ditransfer dari fluida panas ke fluida dingin. Untuk menghitung
heat duty diperlukan pengetahuan tentang fase aliran fluida panas setelah melewati proses kontak
dengan fluida dingin. Jika fluida panas tidak mengalami perubahan fase maka energi / panas
tersebut disebut sebagai panas sensibel.

3.7 Pemecahan Masalah

a. Menghitung Molar Volume pada kondisi Standar dengan rumus :


P1 V1 P2 V2
= ………………………………(D.Q.Kern)
T1 T2
Suhu dan Tekanan Standar yang digunakan
1 mol gas = 22,4 L
T1 = 0℃ = 273 K
P1 = 100 kPa = 1 Bar

Suhu dan Tekanan Normal yang digunakan


T2 = 25℃ = 298 K
P2 = 760 mmHg = 1,0133 Bar
(Sumber : Standar Nasional Indonesia)

b. Menghitung massa komponen sales gas dengan cara mengkonversi nilai laju alir sales gas
dari MMSCFD menjadi Lb/hr menggunakan rumus :
𝑀𝑀𝑆𝐶𝐹 1000000 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑀𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙 (𝐾𝑔) 0.0283 𝑚3 𝑑𝑎𝑦 1 𝐾𝑀𝑜𝑙
Massa = 𝑥 𝑥 𝑥 𝑥 24 ℎ𝑟 𝑥 24,13035 𝑚3
𝐷𝑎𝑦 𝑀𝑀 𝐾𝑀𝑜𝑙 1 𝑓𝑡 3

c. Menghitung nilai Cp Komponen dengan menggunakan rumus :

Cp = a + b(T) + c(T2) + d(T3) ……………………(Himmelblau)

Dimana nilai a,b,c, dan d merupakan nilai konstanta yang terdapat pada table diatas
disesuaikan dengan komposisi bahan yang akan dicari. Adapum T merupakan nilai suhu
yang merupakan suhu rata-rata antara suhu masuk dan suhu keluar (TAverage = (T1 + T2)/2)
dan satuannya adalah J/(g mol) oC . Untuk menkonversikan menjadi Btu/lbmol oF , hasil
perhitungan dikali 0,2390.

d. Menghitung nilai Heat Duty Gas di Sales Gas


Q = m x Cp x dT…………………………………..(Himmelblau)
Dimana :
Q = Heat Duty
m = Laju Alir Massa
Cp = Kapasitas Panas
Dt = Beda suhu

e. Menghitung Cp Udara

Cp = a + b(T) + c(T2) + d(T3) ……………………(Himmelblau)

Dimana nilai a,b,c, dan d merupakan nilai konstanta yang terdapat pada table diatas
disesuaikan dengan komposisi bahan yang akan dicari. Adapum T merupakan nilai suhu
yang merupakan suhu rata-rata antara suhu masuk dan suhu keluar (TAverage = (T1 + T2)/2)
dan satuannya adalah J/(g mol) oC . Untuk menkonversikan menjadi Btu/lbmol oF , hasil
perhitungan dikali 0,2390.

f. Menghitung Flow udara masuk


q=AxV
dimana :
q = Flow Udara (Kg/hr)
A = Luas Fan (m2)
V = Velocity (m/s)

g. Menghitung Massa udara masuk


M=qx𝜌
Dimana :
q = Flow Udara
p = densitas

h. Menghitung Heat Duty udara masuk


Q = m x Cp x dT……………………(Himmelblau)
Dimana :
Q = Heat Duty
m = Laju Alir Massa
Cp = Kapasitas Panas
Dt = Beda suhu

i. Menghitung nilai suhu gas keluar seharusnya dengan menggunakan persamaan


Q udara = Q gas , dengan menggunakan nilai Q udara sebagai nilai Q gas seharusnya.
Q gas = m x Cp x dT

Sehingga :
𝑄 𝑥 𝐵𝑀
𝑑𝑇 =
𝑚 𝑥 𝐶𝑝
j. Menghitung persen efisiensi perpindahan panas pada aftercooler (E-101B) dengan cara
membandingkan nilai aktual dan seharusnya.

𝑇 𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 − 𝑇 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
𝑥 100%
𝑇 𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙

3.8 Hasil & Pembahasan


3.8.1 Hasil

Komponen Laju Alir Massa (lb/hr) x 10000


21 22 24 26 27 28
Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus
C1 49383,563 52195,939 49597,135 51416,826 51809,350 50191,265
C2 7409,090 8355,958 7809,301 8179,096 8215,538 8122,234

C3 3064,950 334,993 357,389 362,141 372,539 324,439

iC4 11,223 4,483 12,779 13,261 13,333 12,960

nC4 8,978 2,242 12,140 11,050 13,333 12,960

N2 5689,965 627,651 597,896 615,637 621,127 590,233

CO2 11472,707 12964,623 12443,352 12946,473 12715,703 12682,484

Total 77040,476 74485,888 70829,992 73544,482 73760,924 71936,575

Tabel 3.1 Laju Alir Massa Setiap Komponen

Komponen Kapasitas Panas (Btu/Lb F)


21 22 24 26 27 28
Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus
C1 0,565 0,567 0,567 0,567 0,566 0,566
C2 0,463 0,465 0,466 0,465 0,464 0,465
C3 0,446 0,448 0,449 0,448 0,447 0,448
iC4 0,446 0,448 0,449 0,448 0,447 0,448
nC4 0,452 0,454 0,455 0,454 0,453 0,454
N2 0,249 0,249 0,249 0,249 0,249 0,249
CO2 0,210 0,211 0,211 0,211 0,211 0,211
Tabel 3.2 Nilai Cp Setiap Komponen
Komponen Heat Duty (Btu/hr)
21 Agustus 22 Agustus 24 Agustus
C1 808850,543 739349,059 815650,978
C2 99460,271 97179,761 105495,583
C3 39641,180 3755,944 4655,214
iC4 145,077 50,240 166,371
nC4 117,678 25,459 160,164
N2 41067,266 3906,088 4316,517
CO2 70033,166 68373,812 76169,922
Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Heat Duty Setiap Komponen Sebelum PM

Komponen Heat Duty (Btu/hr)


27 Agustus 27 Agustus 28 Agustus
C1 903108,142 879245,725 880943,901
C2 117952,329 114372,678 117000,784
C3 5034,810 4998,391 4504,951
iC4 184,267 178,793 179,862
nC4 155,626 181,243 182,306
N2 4750,838 4638,077 4554,567
CO2 84664,832 80385,395 82897,311
Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Heat Duty Setiap Komponen Setelah PM

Tanggal Temperatur Aktual Temperatur Teoritis


21 Agustua 2019 121 101
22 Agustus 2019 129 107
24 Agustus 2019 126 103
26 Agustus 2019 123 94
27 Agustus 2019 122 91
28 Agustus 2019 122 96
Tabel 3.5 Hasil Perhitungan Temperatur Keluar Feed Gas berdasarkan Heat Duty Udara