Anda di halaman 1dari 29

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KELAS BALITA DI DESA KARANG ANYAR


KEC. LANGSA BARO – KOTA LANGSA

DIBUAT OLEH:
KELOMPOK 3

BUNGA ANGGRAINI FITRI YUSNITA


PO 0324217004 PO 0324217004

HULWA LUTHFIYAH ANNISA FARAH HUSNAH


PO 0324217004 PO 0324217004

AWITTA HAMDANI HAZIQATUL HUSNA


PO 0324217004 PO 0324217004

AINUN MARDIAH MIRA ULFA


PO 0324217004 PO 0324217004

CUT NURUL AZMI NADILA DWI PUTRI


PO 0324217004 PO 0324217004

SABRINA SHYNTA DEVAH ANDINY


PO 0324217004 PO 0324217004

POLTEKKES KEMENKES ACEH


PRODI DIII KEBIDANAN KOTA LANGSA
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
KELAS BALITA DI DESA KARANG ANYAR
KEC. LANGSA BARO – KOTA LANGSA

A. TOPIK
Pokok Bahasan : Asuhan Kebidanan Pada Ibu Balita
Sub Pokok Bahasan : 1. Meningkatkan kesadaran pemberian ASI secara ekslusif
2. Meningkatkan pengetahuan ibu akan pentingnya imunisasi
pada bayi
3. Meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian MP-ASI
dan gizi seimbang kepada balita
4. Meningkatkan kemampuan ibu memantau pertumbuhan dan
melaksanakan stimulasi perkembangan balita
5. Meningkatkan pengetahuan ibu tentang gangguan tumbuh
kembang pada balita
6. Meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara perawatan gigi
balita
7. Meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara mencuci tangan
yang benar

B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan penyuluhan tentang kelas ibu balita diharapkan ibu memahami cara
merawat balita dengan benar.
2. Tujuan khusus
Setelah dilakukan penyuluhan kelas ibu balita diharapkan :
1. Dapat meningkatkan kesadaran pemberian ASI secara ekslusif
2. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu akan pentingnya imunisasi pada bayi
3. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian MP-ASI dan gizi seimbang
kepada balita
4. Dapat meningkatkan kemampuan ibu memantau pertumbuhan dan melaksanakan
stimulasi perkembangan balita
5. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang gangguan tumbuh kembang pada balita
6. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara perawatan gigi balita dan
7. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara mencuci tangan yang benar

C. WAKTU PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Jumat, 15 November 2019
Waktu : 30 menit
Tempat : Balai Desa Karang Anyar, Kec. Langsa Baro – Kota Langsa
Sasaran : 60 Orang

D. STRUKTUR KEPANITIAAN
Moderator : Shynta Devah Andiny
Pemateri : Bunga Anggraini
Notulen : 1. Annisa Farah Husnah Arsyah
2. Nadila Dwi Putri
3. Hulwa Luthfiyah
Sie Kuis : 1. Awitta Hamdani
2. Fitri Yusnita
Sie Surat dan Dokumentasi : 1. Sabrina
2. Fitri Yusnita
Sie Konsumsi : 1. Cut Nurul Azmi
2. Ainun Mardiah

E. SASARAN
Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah Ibu Balita
F. MATERI
Terlampir

G. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

H. MEDIA PEMBELAJARAN
1. Leaflet
2. Powerpoint

I. KEGIATAN PEMBELAJARAN

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta


1. 3 menit Pembukaan:
a) Memberi salam Menjawab salam
b) Perkenalan
c) Menjelaskan tujuan penyuluhan Mendengarkan dan memperhatikan
d) Menyebutkan materi / pokok bahasan yang akan materi yang disampaikan
disampaikan
2. 30 Pelaksanaan / penyampaian materi:
menit 1. Dapat meningkatkan kesadaran pemberian ASI Menyimak dan memperhatikan
secara ekslusif
2. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu akan
pentingnya imunisasi pada bayi
3. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu dalam
pemberian MP-ASI dan gizi seimbang kepada
balita
4. Dapat meningkatkan kemampuan ibu memantau
pertumbuhan dan melaksanakan stimulasi
perkembangan balita
5. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang
cara perawatan gigi balita dan mencuci tangan
yang benar
6. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang
penyakit terbanyak, cara pencegahan dan
perawatan balita

3. 10 Evaluasi
menit a) Memberi kesempatan untuk bertanya Peserta bertanya mengenai masalah
b) Melakukan Tanya jawab untuk mengetahui yang belum dipahami
pemahaman Mendengarkan dan memperhatikan
c) Membacakan kesimpulan hasil penyuluhan
4. 2 menit Penutup Peserta menjawab salam
Mengakhiri pertemuan dengan mengucapkan terima
kasih dan salam

J. METODA EVALUASI
Metode Evaluasi : Diskusi dan Tanya jawab
Media : Leaflet dan Powerpoint
Jenis Pertanyaan : Lisan
Jumlah Soal : 3 pertanyaan

K. ALAT EVALUASI
1. Evaluasi struktural
a. Persiapan Media dan Alat
Media dan alat yang digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap dan siap
digunakan, yaitu : leaflet dan Powerpoint
b. Persiapan Materi
Materi yang akan diinformasikan dalam penyuluhan yang dibuat dalam bentuk leaflet
dan Powerpoint
c. Kontrak waktu telah dilakukan 1 minggu sebelum dilaksanakan penyuluhan
2. Evaluasi proses
a. Peserta
1. Peserta dapat mengikuti acara penyuluhan dari awal sampai akhir sehingga
mampu melakukan tindakan yang diharapkan
2. Pertemuan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal yang sudah ada
b. Penyuluh
1. Memfasilitasi segala seuatu yang diperlukan untuk melakukan penyuluhan
sehingga jalannya diskusi menjadi lancar.

3. Evaluasi hasil
a. Jangka Pendek
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit sasaran diharapkan mampu mengerti
sekitar 80% dari materi yang diberikan.
b. Jangka Panjang
Meningkatkan pengetahuan sasaran tentang cara merawat balita dengan benar.
LAMPIRAN MATERI

A. PEMBERIAN ASI SECARA EKSLUSIF


1. Pengertian ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan
garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai
makanan bagi bayinya. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan
minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih
tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. ASI dalam jumlah cukup merupakan
makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan
pertama (Purwanti, 2016).

2. Pembagian ASI waktu diproduksi


Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. ASI colestrum
Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang
mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus
dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
Tentang ASI colostrum :
 Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat,
dari masa laktasi.
 Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.
 Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih
kuning dibandingkan ASI Mature.
 Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi
yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima
makanan selanjutnya.
 Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature
 Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat
memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
 Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
 Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml
colostrum.
 Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih
tinggi atau lebih rendah.
 Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.
 PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature.
 Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI
Mature.
 Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi
krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.
 Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.

b. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)


 Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
 Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang
berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 – ke 5.
 Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin
tinggi.
 Volume semakin meningkat (Purwanti, 2016).

c. Air Susu Mature


 ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya
relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5
ASI komposisinya baru konstan.
 Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang
mengatakan pada ibu yangs ehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang
diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
 ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan
pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untuk bayi.
 Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat,
riboflaum dan karotin.
 Tidak menggumpal bila dipanaskan.
 Volume: 300 – 850 ml/24 jam
 Terdapat anti microbaterial factor, yaitu:
1) Antibodi terhadap bakteri dan virus.
2) Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
3) Enzim (lysozime, lactoperoxidese)
4) Protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein)
5) Faktor resisten terhadap staphylococcus.
6) Complecement ( C3 dan C4) (Robiwata, 2014).

3. Keuntungan memberikan ASI bagi Ibu


Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui dengan bayi juga dapat memberikan
keuntungan bagi ibu, yaitu:
 Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada
bayinya.
 Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi
perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak.
 Dengan menyusui bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan
pengembalian keukuran sebelum hamil
 Mempercepat berhentinya pendarahan post partum.
 Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberpa bulan
(menjarangkan kehamilan)
 Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.
 Menambah panjang kembalinya kesuburan pasca melahirkan, sehingga
 Memberi jarak antar anak yang lebih panjang alias menunda kehamilan berikutnya
 Ibu lebih cepat langsing. Penelitian membuktikan bahwa ibu menyusui enam bulan
lebih langsing setengah kg dibanding ibu yang menyusui empat bulan.
4. Manfaat Asi Untuk Bayi
Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama
pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung
semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6
bulan pertama kehidupannya.Pada umur 6 sampai 12 bulan, ASI masih merupakan
makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna
memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI).
Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan
bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan manfaat.
ASI disesuaikan secara unik bagi bayi manusia, seperti halnya susu sapi adalah yang
terbaik untuk sapi (Robiwata, 2014).

5. Tips Sukses Asi Eksklusif


 Susui bayi sesering mungkin. Payudara kanan dan kiri. Jangan dijadwalkan. Produksi
ASI mengikuti hukum permintaan, semakin sering dihisap, maka semakin banyak
berproduksi.
 Pompa payudara sehabis menyusui. Payudara yang kosong akan semakin
mempercepat produksi ASI.
 Jangan terlalu cepat memindahkan posisi menyusui dari payudara kiri ke kanan, dan
sebaliknya. ASI yang keluar setelah 15 menit pertama justru banyak mengandung
lemak yang dapat mengenyangkan bayi. Jangan lakukan posisi menyusui tiduran
sampai ketiduran kalau ibu memiliki kebiasaan tidur “pingsan”. Bisa2 bayinya
ketindihan dan tidak bisa bernafas.
 Makan makanan yang bergizi dan minum cairan yang cukup banyak. Bisa air putih,
jus buah, susu rendah lemak, kuah makanan. Makanannya usahakan banyak sayur
hijau dan makanan laut. Daun katuk segar lebih cepat menghasilkan daripada
suplemen seperti Pro ASI atawa Lancar ASI. Jangan pikirkan diet dulu.
Melangsingkan tubuh bisa dilakukan kapan saja sementara menyusui waktunya
hanya sebentar, sementara manfaat baiknya untuk bayi adalah untuk kecerdasan dan
daya tahan tubuhnya.
 Minum madu juga sangat bermanfaat
 Ibu harus cukup istirahat dan jangan stress. Karena stres akan membuat ASI
mendadak kering.
 Kalau bayi masih tampak kurang puas juga, pompa ASI dan masukkan ke botol
untuk diberikan ke bayi. Tapi sebenarnya penggunaan dot tidak dianjurkan paling
tidak sampai usia bayi 6 bulan sebab dapat mengganggu perkembangan sistem
syaraf dan struktur tulang kepala.
 Ini yang paling penting, yaitu rasa percaya diri bahwa kita mampu untuk
memberikan yang terbaik untuk bayi kita yaitu ASI.
Memberikan ASI eksklusif terutama sangat dianjurkan untuk bayi yang dilahirkan
dengan cara caesar. Bayi “caesar” mengalami intensitas kesakitan yang sangat tinggi
dibandingkan dengan bayi lahir normal yang sudah mengalami exercise dalam
proses kelahiran sebelum khirnya muncul ke dunia dan beradaptasi dengan dunia
luar. Dengan memberikan ASI, maka dapat membantu mencegah infeksi dan
mengurangi rasa sakit yang diderita bayi (Purwanti, 2016).

B. PEMBERIAN IMUNISASI
1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap
penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah bahan yang dipakai
untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan
seperti vaksin BCG, DPT, Campak,dan melalui mulut seperti vaksin polio (Marimba,
2010).

2. Manfaat Imunisasi
a. Manfaat untuk anak adalah untuk mencegah penderiaan yang disebabkan oleh penyakit
dan kemungkinan cacat atau kematian.
b. Manfaat untuk keluarga adalah untuk menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan
apabila anak sakit. Mendorong keluarga kecil apabila si orang tua yakin bahwa anak-
anak akan menjalani masa kanak-kanak dengan aman.
c. Manfaat untuk negara adalah untuk memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan
bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara dan
memperbaiki citra bangsa indonesia diantara segenap bangsa didunia.

3. Jumlah pemberian imuniasi dasar


Jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah adalah imunisasi tujuh penyakit
yaitu TBC, difteri, tetanus, pertusis, poliomyelitas, campak dan hepatitis B.Jenis
imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah sebelum usia setahun tersebut adalah :
a. Imunisasi BCG, yang dilakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan
b. Imunisasi DPT, yang diberikan 3 kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval
minimal 4 minggu
c. Imunisasi polio, yang diberikan 4 kali pada bayi usia 0-11 bulan dengan interval
minimal 4 minggu
d. Imunisasi campak, diberika sekali pada bayi usia 9-11 bulan
e. Imunisasi Hepatitis B, yang diberikan 3 kali pada bayi usia 1-11 bulan dengan interval
minimal 4 minggu

4. Jenis-jenis Imunisasi Dasar


a. Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi Hepatitis B adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan
kekebalan aktif terhadap penyakit Hepatitis B, yaitu penyakit infeksi yang dapat
merusak hati . Imunisasi Hepatitis B sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara
suntikan pertama dan kedua, kemudian 5 bulan antara suntikan detiga dan kedua.
Sebagaimana vaksin BCG, penyuntikan hepatitis B juga tidak menimbulkan efek
samping. Jika ada, efek samping ini hanya berupa keluhan nyeri pada bekas suntikan,
yang disusul dengan demam ringan dan pembengkakan. Namun, reaksi ini bisa
menghilang dalam waktu dua hari (Marimba, 2010).

b. Imunisasi Basillus Calmette Guerin (BCG)


Imunisasi Basillus Calmette Guerin (BCG) merupakan upaya pencegahan
untuk jenis infeksi tuuberkulosis (TBC) pada anak. TBC adalah salah satu penyakit
yang paling sering menyerang anak-anak dibawah usia 12 tahun.Ketahanan terhadap
penyakit TB berkaitan dengan keberadaan virus tubercle bacili yang hidup didalam
darah. Vaksin BCG cukup diberikan 1 kali, tidak perlu diulang (Booster). Sebab,
vaksin ini berisi kuman hidup, sehingga antibodi yang dihasilkannya sangat tinggi.
Tentunya, itu berbeda dengan vaksin yang berisi kuman mati, sehingga memerlukan
pengulangan. Biasanya, imunisasi BCG tidak menimbulkan efek samping. Akan
tetapi, pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening diketiak atau
leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan dipaha). Namun,
efek samping tersebut biasanya sembuh dengan sendirinya.

c. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang diberika untuk menimbulkan
kekebalan aktif terhadap beberapa penyakit seperti Penyakit difteri, yaitu radang
tenggorokan yang sangat berbahaya karena menimbulkan terggorokan tersumbat dan
kerusakan jantung yang menyebabkan kematian dalam beberapa hari saja. Penyakit
pertusis, yaitu radang paru (pernapasan) yang disebut juga batuk rejan atau batuk 100
hari karena sakitnya bisa mencapai 100 hari atau 3 bula lebih. Gejala penyakit ini
sangat khas, yaitu batuk yang bertahap, panjang dan lama disertai bunyi “(whoop)”/
berbunyi dan diakhiri dengan muntah, mata dapat bengkak atau penderita bisa
meninggal karena kesulitan bernapas. Penyakit pertusis, yaitu penyakit kejang otot
seluruh tubuh dengan mulut terkunci/terkancing sehingga mulut tidak bisa
membuka/dibuka.
Jumlah pemberian/Dosis pemberian Imunisasi diberikan sebanyak 5 kali dan
dilakukan sejak anak berusia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu, yaitu :
 DPT 1 diberikan saat usia 2-4 bulan
 DPT 2 diberikan ketika usia 3-5 bulan
 DPT 3 diberikan saat usianya memasuki 4-6 bulan (Marimba, 2010).
Biasanya, pemberian imunisasi DPT menimbulkan demam. Efek samping ini dapat
diatasi dengan obat penurun panas. Apabila demamnya tinggi dan tidak kunjung reda
setelah 2 hari, hendaknya anak segera dibawa kedokter. Akan tetapi, jika demam tidak
muncul, bukan berarti imunisasi gagal, namun bisa saja karena kualitas vaksinya tidak
baik.

d. Imunisasi Polio
Imunisasi polio adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah penyakit
poliomyelitis yang bisa menyebakan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini
adalah virus yang dilemahkan. Pemberian imunisasi polio bisa jadi lebih dari jadwal
yang telah ditentukan, mengingat adanya imunisasi polio massal. Namun, jumlah yang
berlebihan ini tidak berdampak buruk. Sebab, tidak ada istilah overdosis dalam
pemberian imunisasi. Pemberian imunisasi polio dapat langsung diberikan saat anak
lahir 90 bulan. Kemudian pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Saat lahir pemberian imunisasi
polio selalu dibarengi dengan imunisasi DPT. Efek samping imunisasi polio pada
kebiasaannya tidak ada, hanya sebagian kecil yang mengalami pusing, diare ringan,
dan sakit otot.

e. Imunisasi Campak
Imunisasi campak adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular. Sebenarnya, bayi sudah
mendapat kekebalan campak dari ibunya. Namun, seiring bertambahnya usia, antibodi
dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin
campak. Apalagi penyakit campak mudah menular dan anak yang daya tahan tubuhnya
lemah mudah sekali terserang penyakit yang disebabkan oleh virus morbili ini. Namun,
untungnya penyakit campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena
campak, setelah itu biasanya tidak akan terkena lagi (Marimba, 2010).
Vaksin campak diberikan sebanyak 2 kali, yaitu ketika anak berusia 9 bulan,
kemudian saat anak memasuki usia 6 tahun. Pemberian imunisasi pertama sangat
dianjurkan sesuai jadwal. Sebab, antibodi dari ibu sudah menurun ketika anak memasuki
usia 9 bulan, dan penyakit campak umumnya menyerang anak dan balita. Jika smapai 12
bulan belum mendapatkan imnisasi campak, maka pada usia 12 bulan, anak harus segera
diimunisasikan MMR (meales, mump, dan rubella).
Pada umumya, imunisasi campak tidak memiliki efek samping dan relatif aman
diberikan.meskipun demikian, pada beberapa anak vaksin campak bisa menyebabkan
demam dan diare. Namun, kasusnya sangat kecil.Biasanya, demam berlangsung sekitar 1
minggu. Terkadang ada pula efek kemerahan mirip campak selama 3 hari. Dalam
beberapa kasus, efek samping campak diantaranya adalah demam tinggi yang terjadi
setelah 8-10 hari setelah vaksinasi dan berlangsung selama 24-48 jam (insedens sekitar 2
%) dan ruam atau bercak-bercak merah sekitar 1- 2 hari (insedens sekitar 2 %). Efek
samping lainnya yang lebih berat ialah ensefalitis (Radang otak) (Marimba, 2010).

C. PEMBERIAN MAKANAN MP-ASI


1. Pengertian
Makanan pendamping ASI atau MP-ASI adalah makanan yang diberikan kepada
bayi selain ASI, dimana jenis dan karakter dari makanan tersebut disesuaikan dengan umur
bayi. MP-ASI diberikan mulai usia 4 bulan sampai 24 bulan. Semakin meningkat usia bayi
atau anak, kebutuhan akan zat gizi semakin bertambah karena tumbuh kembang,
sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Albar, 2016).
MP-ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan
dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya,
sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Pemberian MP-ASI yang cukup dalam
hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan
anak yang bertambah pesat pada periode ini. Tujuan pemberian makanan pendamping ASI
yaitu :
a. Untuk menambah energi
b. Membantu dalam proses pertumbuhan bayi
c. Sebagai makanan pelengkap
d. Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah, mencium dan menelan serta
melakukan adaptasi pada makanan yang mengandung energi tinggi.
e. Guna memenuhi zat-zat gizi yang belum dipenuhi oleh asi guna menunjang proses
pertumbuhan agar tetap optimal.
2. Usia dalam Pemberian MP-ASI
Kebutuhan nutrisi yang harus dikonsumsi oleh bayi yaitu :
a. Usia 0-6 bulan
Bayi hanya diberi ASI saja lebih sering, karena ASI banyak mengandung zat-zat
antibody yang sangat dibutuhkan oleh tubuh ,serta sangat baik untuk masa pertumbuhan
otak bayi.
b. Usia 6-9 bulan
Makanan yang cocok diberikan diantaranya bubur, tepung beras, bubur encer, pisang
lumat, dan pepaya lumat.
c. Usia 9-12 bulan
Bayi diberikan ASI dan makanan pendamping seperti makanan bubur, nasi dan
menginjak usia 10 bulan bayi mulai diperkenalkan makanan keluarga.
d. Usia 12-24 bulan
Bayi tetap terus diberi ASI dan makanan lengkap sekurang-kurangnya diberikan 3x
sehari dengan porsi yang sedikit dan diberikan makanan selingan 2-3x sehari.

3. Cara Pemberian MP- ASI pada Bayi


a. Berikan secara hati-hati sedikit demi sedikit dari bentuk encer kemudian yang lebih
kental secara berangsur – angsur.
b. Makanan diperkenalkan satu persatu sampai bayi benar-benar dapat menerimanya.
c. Makanan yang dapat menimbulkan alergi diberikan paling terakhir dan harus dicoba
sedikit demi sedikit misalnya telur, cara pemberiannya kuningnya lebih dahulu setelah
tidak ada reaksi alergi, maka hari berikutnya putihnya.
d. Pada pemberian makanan jangan dipaksa, sebaliknya diberikan pada waktu lapar
(Albar, 2016).

4. Tahap-Tahap Pemberian MP-ASI


Dalam pemberian MP-ASI terdapat beberapa tahapannya yaitu :
a. Mutu bahan makan, mutu bahan makanan yang baik sangat membantu dalam proses
pertumbuhan karena yang terkandung dalam makanan sangat tinggi.
b. Tekstur dan kekentalan makanan , bayi dengan tekstur makanan lumat atau cair akan
membantu dalam proses makan secara bertahap.
c. Jenis makanan, bayi yang secara dini diperkenalkan satu per satu jenis makanan supaya
mengenal dengan baik sehingga nantinya dengan perkembangan waktu yang dapat
menerima makan yang baru.
d. Jumlah atau porsi makanan, pemberian makanan secara bertahap merupakan cara yang
tepat dalam proses makan.
e. Urutan pemberian MP-ASI ,makanan yang diberikan secara berahap dan berurutan dari
makanan yang ringan kemudian agak padat ,seperti makan saring ,nasi tim, sari jeruk
dan jus kemudian dilanjutkan dengan sayuran dan daging.
f. Jadwal waktu makan ,jadwa makan yang diperlukan bagi bayi sangat bervaiasi
tergantung tingkat lapar pada bayi. Jadwal yang sesuai dengan keadaan lapar atau haus
yang sangat berkaitan dengan pengosongan lambung sehingga saluran cerna siap untuk
diidi makanan.

5. Prinsip Dasar Pemberian MP-ASI


a. Bayi disuapi, batita dibantu makan sendiri. Ikuti isyarat lapar-kenyang anak.
b. Beri makan perlahan dan sabar, jangan paksa.
c. Eksperimen berbagai kombinasi, rasa, tekstur dan cara menggugah selera makan anak.
d. Ingatlah bahwa anak belajar ketika makan, maka berikan kasih sayang dan perhatian
(Albar, 2016).

D. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BALITA


1. Pengertian
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan
interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau
keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Perkembangan
adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan
gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan
terjadi secara simultan dengan perkembangan (Kemenkes RI, 2016).

2. Tahapan perkembangan anak menurut umur


a. Umur 0-3 Bulan
 Mengangkat kepala setinggi 45 cm
 Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah
 Melihat dan menatap wajah anda
 Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
 Suka tertawa keras
 Beraksi terkejut terhadap suara keras
 Membalas tersenyum ketika diajak bicara atau tersenyum
 Mengenal ibu dengan penglihatanm penciuman, pendengaran, kontak

b. Umur 3-6 bulan


 Berbalik dari telungkup ke terlentang
 Mengangkat kepala setinggi 90 cm
 Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
 Menggenggam pensil
 Meraih benda yang ada dalam jangkauannya
 Memegang tangannya sendiri
 Berusaha memperluas pandangan
 Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
 Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
 Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri

c. Umur 6-9 bulan


 Duduk (sikap tripoid - sendiri)
 Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan
 Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang
 Memindahkan benda dari tangan satu ke tangan yang lain
 Memungut 2 benda, masing-masing lengan pegang 1 benda pada saat yang
bersamaan
 Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup
 Bersuara tanpa arti, mamama, bababa,
 Bermain tepuk tangan/ciluk baa (Kemenkes RI, 2016).
 Bergembira dengan melempar benda
 Makan kue sendiri

d. Umur 9-12 bulan


 Mengangkat benda ke posisi berdiri
 Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi
 Dapat berjalan dengan dituntun
 Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
 Mengenggam erat pensil
 Memasukkan benda ke mulut
 Mengulang menirukan bunyi yang didengarkan
 Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti
 Mengeksplorasi sekitar, ingin tau, ingin menyentuh apa saja
 Beraksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan
 Senang diajak bermain “CILUK BAA”
 Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenali

e.Umur 12-18 bulan


 Berdiri sendiri tanpa berpegangan
 Membungkung memungut mainan kemudian berdiri kembali
 Berjalan mundur 5 langkah.
 Memanggil ayah dengan kata “papa”. Memanggil ibu dengan kata “mama”
 Menumpuk 2 kubus
 Memasukkan kubus di kotak
 Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bias mengeluarkan
suara yang menyenangkannatau menarik tangan ibu
 Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing (Kemenkes RI, 2016).
f. Umur 18-24 bulan
 Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik
 Berjalan tanpa terhuyung-huyung
 Bertepuk tangan, melambai-lambai
 Menumpuk 4 buah kubus
 Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
 Menggelindingkan bola kearah sasaran
 Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti
 Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga
 Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri

g. Umur 24-36 bulan


 Jalan naik tangga sendiri
 Dapat bermain dengan sendal kecil
 Mencoret-coret pensil pada kertas
 Bicara dengan baik menggunakan 2 kata
 Dapat menunjukkan 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
 Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih
 Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika
diminta
 Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
 Melepas pakiannya sendiri

h. Umur 36-48 bulan


 Berdiri 1 kaki 2 detik
 Melompat kedua kaki diangkat
 Mengayuh sepeda roda tiga
 Menggambar garis lurus
 Menumpuk 8 buah kubus
 Mengenal 2-4 warna (Kemenkes RI, 2016).
 Menyebut nama, umur, tempat
 Mengerti arti kata di atas, dibawah, di depan
 Mendengarkan cerita
 Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
 Mengenakan celana panjang, kemeja baju

i. Umur 48-60 bulan


 Berdiri 1 kaki 6 detik
 Melompat-lompat 1 kaki
 Menari
 Menggambar tanda silang
 Menggambarlingkaran
 Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh
 Mengancing baju atau pakian boneka
 Menyebut nama lengkap tanpa di bantu
 Senang menyebut kata-kata baru
 Senang bertanya tentang sesuatu
 Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
 Bicara mudah dimengerti
 Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya
 Menyebut angka, menghitung jari
 Menyebut nama-nama hari
 Berpakian sendiri tanpa di bantu
 Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu

j. Umur 60-72 bulan


 Berjalan lurus
 Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik
 Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap
 Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
 Menggambar segi empat (Kemenkes RI, 2016).
 Mengerti arti lawan kata
 Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih
 Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya
 Mengenal angka, bisa menghitung angka 5-10
 Mengenal warna-warni
 Mengungkapkan simpati
 Mengikuti aturan permainan
 Berpakaian sendiri tanpa di bantu

3. Stimulasi Tumbuh Kembang Balita


Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar
anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Stimulasi tumbuh kembang anak
dilakukan oleh ibu dan ayah yang merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ibu
atau pengasuh anak, anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah
tangga masing-masing dan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam melakukan stimulasi
tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang
2. Selalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan meniru tingkah laku
orang-orang yang terdekat dengannya
3. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak
4. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bemyanyi, bervariasi,
menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman
5. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak, terhadap ke 4
aspek kemampuan dasar anak
6. Gunakan alat bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada di sekitar anak
7. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan
8. Anak selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas keberhasilannya (Kemenkes RI,
2016).
E. GANGGUAN TUMBUH-KEMBANG PADA BALITA
Beberapa gangguan tumbuh-kembang yang sering ditemukan, antara lain :
1. Gangguan bicara dan bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena
kemampuan berbahasa sensitif terhadap keter1ambatan atau kerusakan pada sistem
lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan lingkungan
sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan
berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.

2. Cerebral palsy
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif,
yang disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada
susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.

3. Sindrom Down
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotipnya
dan mempunyai kecerdasan yang terbatas,yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom
21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal.Beberapa
faktor seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis
atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keter1ambatan perkembangan motorik dan
keterampilan untuk menolong diri sendiri (Kemenkes RI, 2016)..

4. Perawakan Pendek
Short stature atau perawakan pendek merupakan suatu terminologi mengenai
tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang
berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya dapat karena varisasi normal,gangguan gizi,
kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin.

5. Gangguan Autisme
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya
muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek
perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi
anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme
mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.

6. Retardasi Mental
Merupakan suatu kondisi yang ditandal oleh intelegensia yang rendah (IQ <
70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi
terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.

7. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)


Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan
perhatian yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas (Kemenkes RI, 2016).

F. PERAWATAN GIGI DAN CUCI TANGAN YANG BENAR


4. Pengertian

Kesehatan gigi dan mulut adalah suatu keadaan dimana gigi dan mulut berada
dalam kondisi bebas dari adanya bau mulut, kekuatan gusi dan gigi yang baik, tidak adanya
plak dan karang gigi, gigi dalam keadaan putih dan bersih serta memliki kekuatan yang
baik (Eriska, 2017).

5. Menyikat gigi yang benar


a. Waktu menyikat gigi : menyikat gigi sebaiknya dilakukan pada saat setelah makan pagi
dan menjelang tidur pada malam hari.
b. Lamanya menyikat gigi dianjurkan salama 3-5 menit.
c. Menggunakan pasta gigi yang mengandung flour.
d. Cara menyikat gigi, antara lain :
1) Permukaan luar
Bulu sikat membentuk sudut 45 derajat, dimulai dari batas antara gusi dengan gigi
lalu lakukan gerakan memutar perlahan.

2) Permukaan dalam
Sikat gigi di arahkan ke atas dan gunakan ujung bulu sikat untuk membersihkan
bagian dalam, gigi depan bawah dan kebalikan untuk gigi depan atas. Untuk gigi
belakang permukaan dalam dibersihkan dengan cara yang sama dengan
membersihkan permukaan dalam dibersihkan dengan cara yang sama dengan
membersihkan permukaan luar.

3) Permukaan atas
Permukaan oklusal (atas gigi) dibersihkan dengan gerakan maju mundur. Jangan lupa
sikat juga permukaan lidah (Eriska, 2017).
6. Penyebab gigi rusak
a. Makan dan minum panas dan dingin secara bergantian dalam satu waktu,
b. Tidak membersihakan gigi setelah makan gula, coklat, cuka

7. Akibat bila tidak rajin sikat gigi


b. Bau mulut

c. Gigi berlubang

8. Perawatan yang baik untuk gigi


a. Sikat gigi setelah makan dan sebelum tidur
b. Menghindari hal-hal yng merusak gigi
c. Periksa ke dokter gigi setiap 6 bulan (Sintawati, 2018).
G. MENCUCI TANGAN 6 LANGKAH
1. Pengertian
Mencuci tangan adalah menggosok kedua pergelangan tangan secara bersamaan
menggunakan zat pembersih (Handscrub atau sabun) yang sesuai dan dibilas dengan air
mengalir dengan tujuan menghilangkan mikroorganisme..Kegagalan untuk melakukan
kebersihan dan kesehatan tangan yang tepat dianggap sebagai sebab utama infeksi
nosokomial yang menular di pelayanan kesehatan, penyebaran mikroorganisme
multiresisten dan telah diakui sebagai kontributor yang penting terhadap timbulnya wabah
(Anam, 2017).

2. Pentingnya mencuci tangan


a. Infeksi fecal-oral: gastroenteritis (virus, kuman, parasit), kolera,disenteri, tifus,
cacingan, hepatitis A, leptospirosis, candidiasis, polio.-
b. Tak langsung lewat tangan: SARS, flu burung.-
c. Langsung lewat kuku tangan: bisul, jerawat, makanan tercemar (basi)

3. Manfaat mencuci tangan


a. Hal utama dalam pencegahan dan pengendalian infeksi
b. Sederhana dan efektif mencegah infeksi
c. Menciptakan lingkungan yang aman
d. Pelayanan kesehatan menjadi aman
e. Bila tangan kotor, cuci dengan sabun atau antiseptik di air mengalir
f. Bila tangan tidak tampak kotor,bersikan dengan cairan berbasis alkohol atau hand
sanitizer

4. Waktu penting melakukan cuci tangan sehari-hari


a. sebelum memasukan makanan ke dalam mulut
b. sebelum mengolah makanan
c. sebelum memegang bayi
d. setelah menceboki anak
e. setelah buang air kecil(BAK) dan buang air besar (BAB)
5. Cara Cuci Tangan 6 Langkah Pakai Sabun Yang Baik dan Benar
1) Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai air yang
mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut.
2) Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian.
3) Jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih.
4) Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan.
5) Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian.
6) Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan. Bersihkan kedua
pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar, kemudian diakhiri
dengan membilas seluruh bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalu
keringkan memakai handuk atau tisu (Maryunani, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

Albar, Husein. 2016. Makanan Pendamping ASI. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran. 145: 52-5

Anam, Priyatno. 2017. 7 Langkah Cara Mencuci Tangan Yang Benar Menurut WHO.
http://www.sditmadani.sch.id/2017/01/7-langkah-cara-mencuci-tangan-yang.html. akses
22 Juni 2017.

Eriska, Riyanti. 2017. Pengenalan Dan Perawatan Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini. Disajikan
pada Seminar Sehari Kesehatan-Psikologi Anak Minggu, 29 Mei 2017 di Gedung Lab.
Klinik Utama Pramita.

Kementrian Kesehatan R.I. 2016.Stimulasi, Deteksi dan Invervensi Dini Tumbuh Kembang Anak.
Jakarta : Kementerian Kesehatan Rebublik Indonesia

Marimba, Hanum. 2010. Tumbuh Kembang Status Gizi dan Imunisasi Dasar Pada Balita.
Yogyakarta : nuha medika.

Maryunani, Anik. 2015. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta : CV. Trans Info Media.

Purwanti, H.S. 2016. Konsep Penerapan ASI Eksklusif Buku Saku Bidan. Jakarta: EGC.

Robiwata, M.E., Ciptorini, D., & Handini, K.D. 2014. Hubungan Tingkat pengetahuan Ibu
Tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI saja di Wilayah Kerja Puskesmas Kokap
1 Kabupaten Kulon Progo Propinsi Yogyakarta. Diakses 6 April 2014

Sintawati FX. 2018. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebersihan Gigi Dan mulut Masyarakat
DKI Jakarta. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2009; 8(1): 860-873.