Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

Perbedaan Antara Sunnah dan Bid’ah

Diajukan untuk memenuhi Mata Kuliah Fiqh


yang dibimbing oleh Muhammad Mufti Al Anam, M.H.I

Oleh:
Helin Kusuma Wardani (17203163007)
Alfin Nur Muslimah (17203163022)
Paula Rahma Khalifatunnisa’ (17203163206)
Linda Ayu Ningtyas (17203163212)
Kelas TBI II A

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN


JURUSAN TADRIS BAHASA INGGRIS
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
Mei 2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulisan makalah “Perbedaan Antara Sunnah dan
Bid’ah” ini dapat dikerjakan sesuai dengan arah, tujuan, dan orientasi yang telah
direncanakan. Makalah ini dikerjakan berdasarkan kegiatan perkuliahan Fiqih.
Makalah ini disusun dengan maksud untuk menjelaskan kepada pembaca
tentang perbedaan antara sunnah dan bid’ah.
Ucapan terima kasih tak lupa penulis ucapkan kepada dosen pembimbing
kami, Muhammad Mufti Al Anam, M.H.I, yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan tentang mata kuliah fiqh. Ucapan terima kasih tak lupa penulis
ucapkan kepada orang tua kami dan juga pihak-pihak yang telah membantu
penulis dalam penyusunan makalah ini. Dan juga, terima kasih kepada teman-
teman yang telah membantu dalam memberikan semangat serta dorongan dalam
membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dalam
menambah wawasan dan ilmu pengetahuan pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini tak luput dari kekurangan. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan
demi penyempurnaan dan perbaikan makalah ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tulungagung, Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
2.1 Menjelaskan Pengertian Sunnah dan Bid’ah ............................................... 3
2.1.1 Pengertian Sunnah .......................................................................................... 3
2.1.2 Pengertian Bid’ah ........................................................................................... 5
2.2 Mengkritisi Hukum Sunnah dan Bid’ah ...................................................... 7
2.2.1 Mengkritisi Hukum Sunnah ........................................................................... 7
2.2.2 Mengkritisi Hukum Bid’ah .......................................................................... 11
2.3 Menjelaskan Dalil Sunnah dan Bid’ah ....................................................... 14
2.3.1 Dalil Sunah ................................................................................................... 14
2.3.2 Dalil Bid’ah .................................................................................................. 20
2.4 Mengkritisi Perbedaan dan Persamaan atau Menyerupai Sunnah dan
Bid’ah ................................................................................................................... 25
2.4.1 Dari Sunah menjadi Hadits .......................................................................... 26
2.4.2 Polemik Tentang Sunnah ............................................................................. 26
2.4.3 Perbedaan Sunnah dan Bid’ah ..................................................................... 29
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 33
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 33
3.2 Kritik dan Saran .............................................................................................. 33
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa orang di Indonesia pastilah mengenal sunnah dan juga bid’ah.
Adanya kedua kata diatas juga mengakibatkan beberapa pertentangan dan juga
penolakan terhadap sesuatu, terutama yang baru, yang muncul pada kemajuan
dunia yang semakin pesat. Beberapa orang yang masih hijau, dimungkinkan
menelan mentah-mentah pengertian dua kata diatas, terutama kata bid’ah yang
semakin marak seiring berkembangnya teknologi yang ada di dunia.
Agama Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
yang bertujuan untuk menyempurnakan agama-agama yang sebelumnya. Al-
Qur’an adalah kitabnya. Di dalam Al-Qur’an terdapat berbagai macam hukum-
hukum atau aturan yang mengatur kehidupan manusia dalam bidang sosial,
politik, ibadah, dan lain-lain, demikian juga dalam urusan manusia dan juga
tuhannya. Namun, karena sifat hukum Al-Qur’an yang sangat umum, maka dalam
penjelasannya, Nabi Muhammad Saw. sendirilah yang mempraktekannya atau
adanya suatu permasalahan dari suatu kaum yang ada yang memunculkan suatu
penjelasan dimana umat Islam wajib untuk mematuhinya setelah Al-Qur’an, yaitu
sunnah.
Namun, dengan adanya kemajuan teknologi dan informasi menjadikan
banyaknya permasalahan baru yang tak ada di dalam Al-Qur’an dan juga sunnah.
Sebagian orang berijtihad untuk menentukan aturan baru, namun ada juga yang
langsung mengatakan bahwa itu adalah sebuah bid’ah. Adanya hal tersebut
mengakibatkan sebuah perdebatan, pertentangan, dan juga penolakan terhadap
sesuatu yang baru. Bahkan beberapa kebudayaan yang merupakan tradisi
Indonesia asli pun juga dinyatakan sebagai bid’ah dan keberadaannya hampir
dilarang oleh sebagian kelompok.
Kita sebagai mahasiswa seharusnya menjaga antara kebudayaan dan juga
agama tetap seimbang atau balance, tidak berat sebelah. Oleh karena itu, penulis
mengangkat sebuah judul untuk makalah mata kuliah fiqh, yaitu “Perbedaan
antara Sunnah dan Bid’ah”.
1.2 Rumusan Masalah
Dari penjelasan diatas, penulis merumuskan beberapa rumusan masalah
yang akan dibahas pada makalah ini, diantaranya:

1
2

1. Apakah pengertian sunnah dan bid’ah?


2. Bagaimana kritisi atau mengkritisi sunnah dan bid’ah?
3. Apa dalil sunnah dan bid’ah?
4. Bagaimana kritisi atau mengkritisi perbedaan dan persamaan atau
menyerupai sunnah dan bid’ah?
1.3 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas, penulis merumuskan tujuan penulisan makalah
ini, diantaranya:
1. Mengetahui pengertian sunnah dan bid’ah.
2. Mengetahui kritisi atau mengkritisi sunnah dan bid’ah.
3. Mengetahui dalil sunnah dan bid’ah.
4. Mengetahui kritisi atau mengkritisi perbedaan dan persamaan atau
menyerupai sunnah dan bid’ah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Menjelaskan Pengertian Sunnah dan Bid’ah
2.1.1 Pengertian Sunnah
Secara etimologis (bahasa) kata sunah adalah jamak dari kata sunnah.
Sunnah sesuatu berarti jalan sesuatu, sunnah Rasulallah saw berarti jalan
Rasulallah saw yaitu jalan yang ditempuh dan ditunjukkan oleh
beliau.Sunnatullah dapat diartikan Jalan hikmah-Nya dan jalan mentaati-Nya.
Contoh firman Allah swt. dalam surat Al-Fatah ayat 23 yang berbunyi
“Sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kalian tidak akan menemukan
perubahan pada Sunnatullah itu”. Artinya, bahwa cabang-cabang hukum syari’at
sekalipun berlainan bentuknya, tetapi tujuan dan maksudnya tidak berbeda dan
tidak berubah, yaitu membersihkan jiwa manusia dan mengantarkan kepada
keridhoan Allah swt.
Sunnah secara etimologis bermakna 'perilaku atau cara berperilaku yang
dilakukan, baik cara yang terpuji maupun yang tercela. Ada sunnah yang baik dan
ada sunnah yang buruk, seperti yang diungkapkan oleh hadits sahih yang
diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya: "Barangsiapa membiasakan (memulai atau
menghidupkan) suatu perbuatan baik dalam Islam, dia akan mendapatkan pahala
dari perbuatannya itu dan pahala dari perbuatan orang yang mengikuti kebiasaan
baik itu setelahnya dengan pahala yang sama sekali tidak lebih kecil dari pahala
orang-orang yang mengikuti melakukan perbuatan baik itu. Sementara,
barangsiapa yang membiasakan suatu perbuatan buruk dalam Islam, ia akan
mendapatkan dosa atas perbuatannya itu dan dosa dari perbuatan orang yang
melakukan keburukan yang sama setelah nya dengan dosa yang sama sekali tidak
lebih kecil dari dosa-dosa yang ditimpakan bagi orang-orang yang mengikuti
perbuatannya itu."
Kata "sunnah" yang dipergunakan oleh hadits tadi adalah kata sunnah
dengan pengertian etimologis. Maksudnya, siapa yang membuat perilaku tertentu
dalam kebaikan atau kejahatan. Atau, siapa yang membuat kebiasaan yang baik
dan yang membuat kebiasaan yang buruk. Orang yang membuat kebiasaan yang
baik akan mendapatkan pahala dari perbuatannya itu dan dari perbuatan orang
yang mengikuti perbuatannya, dan orang yang membuat kebiasaan yang buruk
maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya itu dan dari perbuatan orang-

3
4

orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Adapun dalam pengertian syariat,
kata sunnah mempunyai pengertian tersendiri atau malah lebih dari satu
pengertian.
Pada hakikatnya, dalam terminologi syariat, sunnah mempunyai lebih dari
satu makna. Kata sunnah dalam pengertian terminologis fuqaha adalah 'salah satu
hukum syariat' atau antonim dari fardhu dan wajib. Ia bermakna sesuatu yang
dianjurkan dan didorong untuk dikerjakan. Ia adalah sesuatu yang diperintahkan
oleh syariat agar dikerjakan, namun dengan perintah yang tidak kuat dan tidak
pasti. Sehingga, orang yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala, dan orang
yang tidak mengerjakannya tidak mendapatkan dosa kecuali jika orang itu
menolaknya dan sebagainya. Dalam pengertian ini, dapat dikatakan bahwa shalat
dua rakaat sebelum shalat shubuh adalah sunnah, sementara shalat shubuh itu
sendiri adalah fardhu.
Adapun sunnah secara terminologis (istilah) yang disimpulkan oleh para
ulama ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhamad saw baik berupa
ucapan (hadits), aksi (perbuatan) maupun determinasi atau pengakuannya.
Menurut para ahli ushul fiqih, sunnah adalah apa yang diriwayatkan dari
Nabi saw., berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan. Ia dalam pandangan ulama
ushul ini, adalah salah satu sumber dari berbagai sumber syariat. Oleh karena itu,
ia bergandengan dengan Al-Qur'an. Misalnya, ada redaksi ulama yang
mengatakan tentang hukum sesuatu: masalah ini telah ditetapkan hukumnya oleh
Al-Qur'an dan sunnah.
Sementara, para ahli hadits menambah definisi lain tentang sunnah.
Mereka mengatakan bahwa sunnah adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi saw,
berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau deskripsi--baik fisik maupun akhlak--
atau juga sirah (biografi Rasul saw.).
Sunnah digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Sunnah Qawliyah
Yaitu sunnah Nabi yang hanya berupa ucapannya saja baik dalam bentuk
pernyataan, anjuran, perintah cegahan maupun larangan. Yang dimaksud dengan
pernyatan Nabi di sini adalah sabda Nabi dalam merespon keadaan yang berlaku
pada masa lalu, masa kininya dan masa depannya, kadang-kadang dalam bentuk
5

dialog dengan para sahabat atau jawaban yang diajukan oleh sahabat atau bentuk-
bentuk ain seperti Khutbah. Contohnya : Rasulullah saw bersabda : “ segala amal
itu mengikuti niat....”. [H.R. Al Bukhori dan Muslim]
2. Sunnah Fi’liyah
Yaitu sunnah Nabi yang berupa perbuatan Nabi yang diberitakan oleh para
sahabat mengenai soal-soal ibadah dan lain-lain seperti melaksanakan shalat
manasik haji dan lain-lain.Contohnya: Rasulullah saw bersabda : “ Bershalatlah
kamu sebagaimana kamu melihataku shalat”. [HR. Bukhari dan Muslim]
Ulama ushul fiqh menetapkan bahwa pekerjaan yang masuk urusan tabi’at
seperti duduk, berdiri, makan, minum dan sebagainya, apabila Nabi
mengerjakannya maka menunjuk kepada kebolehan pekerjaan itu untuk Nabi dan
untuk umatnya.
3. Sunnah Taqririyah
Yaitu sunnah Nabi yang berupa penetapan Nabi terhadap perbuatan para
sahabat yang diketahui Nabi tidak menegornya atau melarangnya bahkan Nabi
cenderung mendiamkannya. Sunnah taqririyah adalah sunnah-sunnah Rasulullah
saw yang berupa taqrir (ketetapan) yaitu membenarkan (tidak mengingkari)
sesuatu yang diperbuat oleh sahabat di hadapan Nabi saw atau diberitakan kepada
Beliau, lalu Beliau tidak menyanggah atau tidak menyalahkan serta menunjukkan
bahwa beliau menyetujuinya. Contohnya sabda Nabi saw: “ Janganlah seseorang
dari kamu bershalat, melainkan di bani Quraidhah”.
Sebagian sahabat memaknai hadits ini dari zhahirnya. Karena itu, mereka tidak
mengerjakan shalat ashar sebelum sampai di Bani Quraidhah. Sebagian yang lain
berpendapat bahwa yang dimaksud Nabi ialah bersegera pergi ke sana, karena itu
mereka mengerjakan shalat ashar pada waktunya, sebelum sampai di Bani
Quraidhah. Berita mengenai dua perbuatan sahabat ini sampai kepada Nabi.
Beliau berdiam diri tidak berkata apa-apa.
2.1.2 Pengertian Bid’ah
Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu
tanpa ada contoh. Bid’ah menurut istilah (syar’i atau terminologi) adalah sesuatu
yang diada-adakan menyerupai syariat tanpa ada tuntunannya dari Rasulullah
yang diamalkan seakan-akan bagian dari ibadah.
6

Syekh Aly Mahfudh telah mendefinisikan bid’ah secara rinci dalam


kitabnya Al ibda’fi Madharil Ibtida’. Menurut bahasa bid’ah adalah segala sesuatu
yang diciptakan dengan tidak diketahui contoh-contohnya. Sedangkan menurut
istilah yaitu suatu ibarat (gerak dan tingkah laku lahir batin) yang berkisar pada
masalah-masalah agama (syari’at Islamiyah), dilakukan menyerupai syari’at
dengan cara berlebihan dalam pengabdian kepada Allah Swt.
Pendapat Syekh Aly Mahfudh tersebut bersumber pada firman Allah yang
menyatakan bahwa Rasulullah Saw adalah bukan rasul yang berbuat sewenang-
wenang tanpa ada contoh dari rasul-rasul sebelumnya. Tugas beliau merupakan
kelanjutan dari tugas-tugas nabi terdahulu, bahkan Allah menjadikan beliau
sebagai nabi akhir zaman, maka beliau tidak akan berbuat sesuatu apapun kecuali
apa yang telah diriwayatkan Allah melalui malaikat Jibril.Karena itu secara tegas
Nabi bersabda “Barang siapa yang mengada-adakan dalam ajaran Islam ini yang
tidak ada sumbernya dari Islam, maka urusan itu ditolak (fasid).
Definisi bid’ah oleh Imam asy Syathibi', adalah "cara beragama yang
dibuat-buat, yang meniru syariat, yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu
sebagai cara berlebihan dalam beribadah kepada Allah SWT". Ini merupakan
definisi bid'ah yang paling tepat, mendetail, dan mencakup serta meliputi seluruh
aspek bid'ah.
Dapat disimpulkan bahwa bid’ah adalah suatu hal yang tidak terdapat pada
konteks ajaran Islam yang dibawa Rasulullah Saw, baik dalam masalah aqidah
maupun syariah yang aturan-aturannya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-
Sunnah secara tafshil (rinci).
Hukum-hukum bid’ah diberikan menurut dasar pengertian bid’ah, maka
mnurut golongan yang memandang tiap-tiap bid’ah tercela bid’ah tiu semuanya
dihukum haram, tidak ada yang dihukum makruh, apa lagi sunnah dan
sebagainya. Maka semua bid’ah itu maksiat. Maksiat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Bid’ah kabirah, dipandang besar dosa apabila mengerjakannya.
Ialah bid’ah yang menghasilkan kerusakan umum seperti menetapkan
bahw akal sendiri sanggup mengetahui hukum Tuhan, tidak perlu kepada
syara’, dan seperti mengingkari segala hadits Nabi karena mencukupi
dengan Al-Qur’an saja.
7

2. Bid’ah Shaghirah , dipandang kecil dosanya.


Ialah bid’ah yang mengenai satu-satu suku pekerjaan, yang berdasarkan
syuhbat. Maka bid’ah seperti ini, walaupun masuk dalam sifat sesat namun
tidak diancam dengan neraka.
2.2 Mengkritisi Hukum Sunnah dan Bid’ah
2.2.1 Mengkritisi Hukum Sunnah
Selain Al Qur’an sebagai sumber pertama hukum Islam, sunnah
Rasulullah Saw. menempati urutan kedua sebagai sumber hukum Islam. Hal ini
terlihat dengan Sabda Rasulullah Saw. ketika menjelang wafat beliau:
“Aku meninggalkan kepada kalian dua hal, jika kamu berpegang
kepadanya, kamu tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.”1
Para sahabat berpegang teguh dengan wasiat Rasul Saw. tersebut. Yang
dimaksud dengan berpegang kepada kitab Allah adalah menjadikan Alquran
sebagai way of life. Ini berarti para sahabat mengamalkan perintah yang terdapat
di dalamnya dan menjauhi larangannya. Berpegang pada sunnah Nabi Saw. berarti
mengikuti petunjuk Nabi Saw. dan memelihara kemurniannya.
Para sahabat mengetahui kedudukan Sunnah maka mereka berpegang
teguh padanya dan mengikuti atsar-atsar Rasulullah Saw.. Mereka tidak mau
menyalahi ataupun berpaling dari sunnah. Karena itu, mereka sangat berhati-hati
dalam meriwayatkan hadits dari Nabi Saw. karena khawatir berbuat kesalahan dan
takut sunnah yang suci itu ternodai oleh kedustaan dan pengubahan.2
Setelah wafatnya Nabi Saw., Abu Bakar diangkat menjadi khalifah.
Komitmen Abu Bakar untuk menegakkan hukum Allah dan Sunnah Rasul Saw.
dibuktikan dengan kebijakannya memerangi kaum munafik. Beliau bersumpah
bahwa orang yang tidak mau membayar zakat akan diperanginya karena tindakan
itu berseberangan dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw. Beliau
mengangkat Khalid bin Walid sebagai panglima perang untuk salah satu tujuan
itu, juga karena adanya apresiasi sunnah terhadapnya. Kepengikutan sahabat
terhadap Sunnah setelah khalifah ini terus berlanjut, misalnya di dalam
pemerintah Umar, Usman, dan Ali.

1
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang:
Pustaka Rizki Putra, 2009), Cet. ke-3, hlm. 206
2
M. Ajaj al-Khatib, As-Sunnah Qablat-Tadwin, diterjemahkan oleh AH. Akrom Fahmi, Hadits
Nabi Sebelum di Bukukan, (Jakarta: Gema Insani Press, 1981), cet. ke-5.
8

Secara umum dapat dikemukakan tiga poin penting tentang metode


sahabat memelihara kemurnian Sunnah Nabi saw. Metode tersebut yaitu:
1. Menyedikitkan Riwayat
Sebagaimana telah di jelaskan bahwa Sunnah merupakan sumber
syari’at Islam yang utama setelah Al-Qur’an. Oleh karena itu, para sahabat
menempuh segala cara untuk memeliharanya. Di antara mereka lebih
memilih bersikap ‘sedang (tidak banyak dan tidak sedikit) dalam
meriwayatkan hadits’ dari Rasulullah Saw., bahkan sebagian dari mereka
lebih memilih bersikap ‘sedikit dalam meriwayatkan hadits.
Secara khusus, dalam pemerintahan Abu Bakar dan Umar,
ditemukan kesan adanya upaya meminimalisasi riwayat Hadits. Upaya
tersebut semakin kuat ketika Umar memegang tampuk kekhalifahan. Umar
meminta dengan keras supaya para sahabat menyelidiki riwayat. Beliau
tidak membenarkan orang mengembangkan periwayatan hadits. Ketika
mengirim para utusan ke Iraq beliau mewasiatkan supaya mereka
mengembangkan segi kebagusan tajwid-nya, serta mencegah mereka
memperbanyak riwayat.
Sahabat Umar dan sahabat-sahabat lain secara bersama-sama
bersikap ketat dalam hal periwayatan untuk memelihara Al-Qur’an di
samping memelihara Sunnah. Umar sungguh khawatir manusia sibuk
meriwayatkan hadits dengan mengabaikan Al-Qur’an, sedangkan Al-
Qur’an merupakan undang-undang Islam. Maka, beliau menghendaki
kaum muslimin menghafal Al-Qur’an dengan baik, kemudian
memperhatikan hadits yang mulia yang belum dibukukan seluruhnya pada
masa Rasulullah Saw., sebagaimana Al-Qur’an.
2. Berhati-hati dalam Meriwayatkan Hadits
Adanya gerakan pembatasan riwayat di kalangan sahabat tidaklah
berarti bahwa mereka sama sekali tidak meriwayatkan sunnah pada
masanya. Maksud dari pembatasan tersebut hanyalah menyedikitkan
periwayatan dan penyeleksiannya. Konsekuensi dari gerakan pembatasan
tersebut, muncullah sikap berhati-hati menerima dan meriwayatkan
sunnah. Para sahabat melakukan penyeleksian riwayat yang mereka terima
9

dan memeriksa sunnah yang mereka riwayatkan dengan cara


mengkonfirmasikan dengan sahabat lainnya.
Berikut ini sebagian kabar yang menjelaskan kepada kita tentang jalan
yang ditempuh oleh para sahabat dalam menerima kabar:
a. Pembuktian Abu Bakar terhadap kabar
Dari Qubaisyah bin Dzuaib bahwa seorang nenek datang
kepada Abu Bakar untuk meminta (menanyakan) harta warisan
untuk dirinya. Abu Bakar menjawab, “Di dalam Alquran saya
tidak menemukan sesuatu untuk dirimu, dan saya tidak mengetahui
Rasulullah Saw. menyebut sesuatu untuk dirimu”. Kemudian, Abu
Bakar bertanya kepada para sahabat yang lain. Al-Mughirah berdiri
dan berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw. berkata bahwa ia
memberikan seperenam untuknya”. Abu Bakar bertanya kepada al-
Mughirah, “Adakah orang lain bersamamu (ketika mendengar
sabda Rasulullah Saw. itu)?” Maka berdirilah Muhammad bin
Maslamah memberi kesaksian. Setelah Muhammad bin Maslamah
memberi kesaksian tentang hal itu maka Abu Bakar memberikan
waris nenek itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw. itu.
Dengan peristiwa itu, menunjukkan bahwa Abu Bakar
sangat berhati-hati dalam menerima kabar. Bukan bermaksud
menutup periwayatan hadits. Dengan demikian, pembatasan dan
penyeleksian riwayat tersebut memang telah dilakukan sejak masa
Abu Bakar.
b. Pengukuhan Umar bin Khaththab terhadap penerimaan kabar
Abu Sa’id al-Khudri, Ia berkata, “Saya berada disuatu majelis para
sahabat Anshar. Tiba-tiba Abu Musa al-Asy’ari datang, seakan-
akan ia sedang dalam ketakutan, kemudian ia berkata, ‘Saya
meminta izin (mengucapkan salam) tiga kali hendak masuk ke
rumah Umar, saya tidak diizinkan, kemudian saya pulang’. Umar
bertanya, ‘Apa yang menghalangimu (masuk kerumahku)?’ Saya
(Abu Musa) menjawab, ‘Saya telah meminta izin tiga kali (tetapi)
saya tidak diizinkan, kemudian saya kembali karena Rasulullah
10

Saw. bersabda ‘Jika salah seorang diantaramu telah meminta izin


tiga kali kemudian ia tidak diizinkan kepadanya maka hendaklah
ia kembali’. Umar berkat, ‘Hadirkan saksi atas kebenaran sabda
Rasulullah Saw. jika tidak, saya akan menyakitimu’. Kemudian
Ubay bin Ka’ab berkata, ‘Tidak ada yang menemaninya (ketika itu)
kecuali orang yang paling muda di antara kaum.” Abu Sa’id
berkata, ‘Aku orang yang paling muda diantara mereka’. Maka
Ubay berkata, “Maka pergilah (untuk menjadi saksi kepada Umar)
dengannya.”
3. Mulai Timbul Pemalsuan Sunnah
Tahun 40 H. merupakan batas yang memisahkan antara masa
terlepas hadits dari pemalsuan, dengan masa mulai munculnya pemalsuan
hadits. Sejak dari timbul fitnah di akhir masa Usman, umat Islam pecah
menjadi beberapa golongan. Pertama, golongan yang membela Ali bin
Abi Thalib, yang kemudian dinamakan golongan Syiah. Kedua, golongan
Khawarij, yang menentang Ali dan Mu’awiyah. Ketiga, golongan Jumhur
(golongan pro pemerintah pada masa itu).
Umat Islam terpecah ke dalam golongan-golongan tersebut. Karena
di dorong kepentingan golongan, mereka berupaya mendatangkan
keterangan (hujjah) untuk mendukung keberadaan mereka. Maka, mereka
berupaya membuat hadits-hadits palsu dan menyebarkannya ke
masyarakat.
Mulai saat itu terdapatlah diantara riwayat-riwayat itu ada yang
shahih dan ada juga yang palsu. Dan kian hari kian bertambah banyak dan
beraneka pula. Mula-mula mereka memalsukan hadits mengenai pribadi-
pribadi orang yang mereka agung-agungkan. mula-mula yang melakukan
pekerjaan ini ialah golongan Syi’ah sebagaimana yang diakui sendiri oleh
Ibnu Abi al-Hadid, seorang ulama Syi’ah dalam kitabnya Syarh Nahju al-
Baghdad, dia menulis, “Ketahuilah bahwa asal mula timbul hadits yang
menerangkan keutamaan pribadi-pribadi adalah dari golongan Syi’ah
sendiri.” Perbuatan mereka ini ditandingi oleh golongan Jumhur yang
11

bodoh-bodoh. Mereka juga membuat hadits untuk mengimbangi hadits-


hadits yang dibuat oleh golongan Syi’ah itu.
2.2.2 Mengkritisi Hukum Bid’ah
2.2.2.1 Adanya Bid’ah Khasanah
Diakui bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara
istilah) dengan mengatakan bahwa bid’ah ada yang tercela dan ada yang terpuji
karena bid’ah menurut beliau-beliau adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa
Nabi Saw.
Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah
paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik
(bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah), sehingga untuk sebagian
perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang
tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah
mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’.
Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik
dari sabda Nabi Saw. maupun perkataan sahabat, semua riwayat yang ada
menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat. Oleh karena itu, perlu sekali
mengetahui kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah
yang sebenarnya.
Dari penjelasan diatas terdapat beberapa penjelasan yang dapat
menyanggah pernyataan tersebut, diantara adalah bahwa semua bid’ah itu sesat.
Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi Saw., ‘Sesungguhnya sejelek-jeleknya
perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama,pen)’, ‘setiap bid’ah
adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau
terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas
dari Rasulullah Saw.. Maka, tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna
berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan
makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina.
Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda Rasullah Saw. yang bersifat
umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan
‘Tidak semua bid’ah itu sesat’. Lafazh ‘kullu’ (artinya : semua) pada hadits,
“Setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal
dengan lafazh umum.
12

Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai


dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena
itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.”
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Setiap bid’ah adalah
sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li
Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)
Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang
yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih
dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw.. Lalu Ibnu Mas’ud
mengingkari mereka dengan mengatakan:
“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari
amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat
Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat Nabi kalian masih
ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya
pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada
dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin
membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”
Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu
Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan
kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh
Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini Jayid)
Dari kedua sahabat ini, yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud, memaknai
bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik
(hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).
2.2.2.2 Beralasan dengan Shalat Tarawih yang Dilakukan Oleh Umar
Sanggahan yang pertama, adapun shalat tarawih (yang dihidupkan
kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’i. Bahkan shalat
tarawih adalah sunnah Rasulullah Saw. dilihat dari perkataan dan perbuatan
beliau. Rasulullah Saw. pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada
awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara
berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi, shalat tarawih
13

bukanlah bid’ah secara syar’i, sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan
Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan
bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan
kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.
Perlu diperhatikan, apabila Rasulullah Saw. telah menunjukkan dianjurkan
atau diwajibkannya suatu perbuatan setelah beliau wafat, atau menunjukkannya
secara mutlak, namun hal ini tidak dilakukan kecuali setelah Rasulullah Saw.
pen
wafat (maksudnya dilakukan oleh orang sesudah Rasulullah Saw., ), maka
boleh kita menyebut hal-hal semacam ini sebagai bid’ah secara bahasa. Begitu
pula agama Islam ini disebut dengan muhdats atau bid’ah (sesuatu yang baru yang
diada-adakan) –sebagaimana perkataan utusan Quraisy kepada raja An Najasiy
mengenai orang-orang Muhajirin-. Namun, yang dimaksudkan dengan muhdats
atau bid’ah di sini adalah muhdats secara bahasa karena, setiap agama yang
dibawa oleh para Rasul adalah agama baru.
Kedua, menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik dapat
disanggah dengan perkataan sahabat jika menyelisihi hadits Nabi Saw. tidak bisa
menjadi hujah (pembela). Rasulullah Saw. menyatakan bahwa setiap bid’ah
adalah sesat sedangkan Umar menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik. Sikap
yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Rasulullah Saw.
dengan perkataan sahabat. Perkataan Rasulullah Saw. yang mencela bid’ah secara
umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya.
Ketiga, perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadits Nabi Saw. yang
bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Jadi, perbuatan
Umar dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik
(hasanah). Namun, untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah
harus ada dalil lagi baik dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’ kaum muslimin.
Karena, berdasarkan kaidah ushul fiqih bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam
pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum.
Misalnya, mengenai acara selamatan kematian. Jika kita ingin
memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari Al
Qur’an, As Sunnah atau ijma’. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya
amalan ini, maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang
14

diada-adakan dalam masalah agama (baca : setiap bid’ah) adalah sesat dan
tertolak.
Namun yang lebih tepat, lafazh umum yang dimaksudkan dalam hadits
‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang tetap dalam
keumumannya (‘aam baqiya ‘ala umumiyatihi) dan tidak memerlukan takhsis
(pengkhususan). Inilah yang tepat berdasarkan berbagai hadits dan pemahaman
sahabat mengenai bid’ah.
2.3 Menjelaskan Dalil Sunnah dan Bid’ah
2.3.1 Dalil Sunah
Sebagaimana dalil firman Allah Swt. yang memilki arti:
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min. Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)
Dan sabda Nabi Muhammad Saw.:
“Sesungguhnya Barangsiapa dari kalian yang hidup (sesudah aku wafat)
maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang
teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang lurus, gigitlah erat-erat
dengan gigi-gigi geraham kalian.” Dari hadits ‘Irbadh bin Sariyah yang masyur.3
Dan sabdanya pula dalam menjelaskan sifat-sifat golongan yang selamat:
“Yaitu, apa-apa yang pada hari ini aku dan para sahabatku berada di
atasnya.”
Hadits ini derajatnya hasan atau shahih lighairihii. [Lihat takrij .. terhadap
buku Asy-Syari’ah, hal. 16 cetakan baru]4
Al-‘Iraqi berkata tentang riwayat-riwayatnya di dalam Takhiijul Ihya’ juz
IV, hal 1819, “Sanad-sanadnya baik.” Dan hal itu diperkuat oleh Syaikh .., Al-
Albani. [Lihat Silsilah ash-Shahihah (1/361) dan buku Raf’ul Irtiyaab ‘an
Haditsii Maa Ana ‘Alaihi al-Yauma Wal Ash-Haabi, karya saudara ..yang mulia
Salim al-Hilali]5

3
Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimatullah, Syarah Ushulus Sunnah Keyakinan Al-Imam Ahmad
dalam Aqidah, (Bogor: CV. Darul Ilmi, 1432 H/2011 M), hlm. 35-36.
4
Ibid, hlm. 36.
5
Ibid, hlm. 36.
15

Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa di antara kamu ingin mengambil


keteladanan, maka hendaklah ia mengambil keteladanan dari para sahabat Nabi
Muhammad Saw., sebab mereka adalah orang-orang yang hatinya baik, ilmunya
mendalam, sedikit takalluf (memaksakan diri melebihi batas kemampuannya),
memiliki petunjuk yang lurus, baik keadaannya. Mereka adalah suatu kaum yang
Allah Swt. pilih untuk dijadikan sebagai sahabat Nabi-Nya. Maka dari itu,
ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, sebab mereka
berada di atas petunjuk yang lurus.” [Derajat riwayat ini, Laa ba’sa bihi,
dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Kitabnya Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi, 1810]
Imam Al-Barbahari berkata, “Dan ketahuilah – semoga Allah Swt.
merahmatimu--, bahwa keislaman seorang hamba tidaklah sempurna hingga ia
menjadi orang yang senantiasa berittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi Muhammad
Saw.), membenarkan dan berserah diri. Maka barangsiapa yang mengira bahwa
masih ada suatu perkara Islam yang belum disampaikan oleh para sahabat
Muhammad Saw. kepada kita maka sungguh ia telah mendustakan mereka, dan
itu cukup untuk dikatakan sebagai perpecahan dan tikaman terhadap mereka, dan
dia adalah seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) yang sesat dan telah mengada-adakan
perkara baru dalam Islam.” [Syarhus sunnah, hal. 70]6
Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak dalil-dalil yang berhubungan dengan
sunnah, diantaranya7:
1. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan
yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Al Ahzab: 36]
2. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui” [Al Hujuraat: 01]
3. “Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’” [Ali ‘Imran: 32]

6
Ibid, hal. 38.
7
Kerajaan Arab Saudi dan Menteri Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
(Arab Saudi: Kompleks Percetakan Al Quran Raja Fahad).
16

4. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja
bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri. Kami mengutusmu
menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi
saksi.” [An-Nisaa’: 79]
5. “Barangsiapa mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan
barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak
mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” [An-
Nisaa’: 80]
6. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur-an) dan Rasul (As-
Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan sebaik-baik
ta’wil.” [An-Nisaa’: 59]
7. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-
bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar.” [Al-Anfaal: 46]
8. “Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul-(Nya) dan
berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat
Allah) dengan terang.” [Al-Maa-idah: 92]
9. “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti
panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya
Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara
kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-
orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau
ditimpa adzab yang pedih.” [An-Nuur: 63]
10. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul
apabila Rasul menyuruhmu kepada suatu yang memberi kehidupan
kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membuat dinding
17

antara manusia dan hatinya, sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan


dikumpulkan.” [Al-Anfal: 24]
11. “…Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah
memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-
sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang
besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan
melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke
dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang
menghinakan.” [An-Nisaa’: 13-14]
12. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya
telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut,
padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu, dan syaitan
bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.
Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum
yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat
orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari
(mendekati)mu.” [An-Nisaa’: 60-61]
13. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil
kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara
mereka, maka mereka berkata: ‘Kami mendengar, dan kami patuh.’ Dan
mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat
kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-
Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” [An-
Nuur: 51-52]
14. “…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” [Al-Hasyr: 7]
15. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari Kiamat dan ia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzaab:
21]
18

16. “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan
tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) menurut
kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya).” [An-Nahm: 1-4]
17. “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan Kitab-Kitab. Dan Kami turunkan
kepadamu Al-Qur-an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan.” [An-Nahl: 44]
Ada pula dalil tentang wajibnya mengikuti sunnah Nabi dan para sahabatnya,
diantaranya:
1. “Katakanlah (wahai Muhammad), Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-
dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali Imran: 54]
2. “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari
kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada
Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di
dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah
kesuksesan yang agung” [QS. At Taubah: 100]
3. “Barangsiapa yang menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku.”
[HR. Bukhari dan Muslim]
4. “Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke
dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapa
golongan itu, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Golongan yang
berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada” [HR. Tirmidzi]
5. “Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara . kalian tidak akan
tersesat jika berpegang dengan keduanya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku.
Kalian tidak akan berpecah hingga nanti kalian sampai di telagaku” [HR.
Hakim, Ad Daruquthni, dan Baihaqi]
Selanjutnya adalah dalil tentang perkataan para ulama untuk mengikuti sunnah
dan tidak bertaklid kepada mereka.
1. Imam Abu Hanifah berkata,
19

“Apabila saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan


Al Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw., maka tinggalkanlah perkataanku!”
[Al Liqaazh hlm. 50]
“Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku” [Al Haasyiyah I/63]
“Tidak halal bagi seorang pun mengambil pendapat kami, selama ia tidak
mengetahui dari mana kami mengambil pendapat tersebut” [I’lamul
Muwaqqi’in II/309]
2. Imam Malik berkata,
“Saya ini hanya seorang manusia, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah
pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah,
maka ambillah pendapat tersebut. Dan setiap pendapatku yang
bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka tinggalkanlah pendapat
itu!” [Ushuulul Ahkam VI/149]
3. Imam Asy Syafi’i berkata,
“Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan
dengan Sunnah Rasulullah Saw., maka berkatalah dengan Sunnah
Rasulullah Saw. dan tinggalkanlah apa yang aku katakan!” [I’lamul
Muwaqqi’in 2/361]
“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang
banginya Sunnah Rasulullah Saw., maka tidak halal baginya untuk
meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang” [I’lamul
Muwaqqi’in 2/361]
4. Imam Ahmad bin Hanbal berkata,
“Jangan kalian bertaqlid kepadaku, dan jangan pula bertaqlid kepada
Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, dan Ats Tsauri. Tapi ambillah dari mana
mereka mengambil” [I’lamul Muwaqqi’in 2/302]
“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah Saw., maka ia berada pada
jurang kehancuran” [Al Manaaqib, hlm. 182]
5. Ibnu Rajab Al Hanbali berkata,
“Wajib hukumnya bagi orang yang telah sampai kepadanya perintah
Rasulullah Saw. dan mengetahuinya, untuk menjelaskannya kepada
ummat, menasihati mereka, dan menyeru mereka supaya mengikuti
20

perintah beliau. Walaupun perintah tersebut menyelisihi pendapat tokoh


pemuka dalam ummat. Sebab, perintah Rasulullah Saw. lebih berhak
untuk diutamakan dan diikuti daripada pendapat para tokoh mana pun”
[Liqaazhul Himam, hlm. 93]
2.3.2 Dalil Bid’ah
Pertama adalah dalil tentang meninggalkan bid’ah-bid’ah diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah
lupa kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” [Al-A’raaf: 03]
2. “Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap
perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah
sesat.” [HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Majah, dll.]
3. Sabda Nabi Saw.:
“Waspadalah kamu terhadap perkara-perkara baru, karena sesungguhnya
setiap perkara baru itu bid’ah.”
Dan Sabdanya pula:
“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami perkara baru
yang bukan darinya maka perkara itu tertolak.” [HR. Al-Bukhari (2697)
dan Muslim (1718) dari hadits ‘Aisyah]
4. Ibnu Mas’ud berkata, “Janganlah kamu berbuat bid’ah dan berlebih-
lebihan dalam agama. Wajib atas kamu berpegang teguh dengan perkara
agama yang dahulu kala (ajaran Rasulullah Saw. yang murni-pen).”
[Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (1/54) dan Ibnu Baththah dengan sanad
yang shahih]8
5. Dari Ibnu al-Musayyib, bahwa ia pernah melihat seseorang melaksanakan
shalat (sunnah) lebih dari dua rakaat setelah terbit fajar dan dia
memperbanyak ruku’ di dalamnya, maka beliau melarangnya. Orang
tersebut berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah Swt. akan
menyiksaku karena shalatku ini?” Beliau jawab, “Tidak, akan tetapi Dia
akan menyiksamu karena kamu telah menyelisihi sunnah (tuntunan Nabi

8
Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimatullah, Syarah Ushulus Sunnah Keyakinan Al-Imam Ahmad
dalam Aqidah, (Bogor: CV. Darul Ilmi, 1432 H/2011 M), hlm. 39-40.
21

Saw.)” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Syaikh Al-Albani


mensyahihkan Sanadnya di dalam Al-Irwa’ (2/236)]9
6. Ibnu Wadhdhah menheluarkan dengan sanad yang rijalnya tsiqaat dari
Abu Utsman an-Nahdi, ia berkata: Seorang pegawai (gubernur) menulis
surat kepada Umar bin Khaththab, bahwa di sini ada sekelompok kaum
yang berkumpul dan berdo’a untuk kaum muslimin dan pemimpin
muslimin. Maka Umar menulis surat balasan kepadanya. “Datanglah
engkau bersama mereka!” Maka ia pun datang, Umar berkata kepada
pengawalnya, “Siapkan cambuk.” Maka tatkala mereka masuk menghadap
Umar, beliau mencambuk pemimpin mereka dengan keras. [Lihat Al-Bida’
wan Wahyu ‘Anha, hal. 26]10
7. Imam Darul Hijrah (Imam Malik) berkata, “Barangsiapa membuat perkara
baru dalam urusan umat ini yang tidak pernah berada di atasnya generasi
pertama umat ini, maka ia telah mengira bahwa Rasullah Saw. berkhianat
dalam menyampaikan risalah Allah Swt. ini, karena Allah Swt. telah
berfirman:
“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama
bagimu.” (QS. Al-Maa’idah: 03)
Maka perkara-perkara yang bukan termasuk urusan agama waktu itu,
berarti bukan termasuk urusan agama pula pada zaman sekarang ini.
Keadaan akhir umat ini tidaklah menjadi baik kecuali dengan apa yang
membuat generasi pertama umat ini menjadi baik.”
Beliau juga pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Abu ‘Abdillah, dari
manakah aku memulai ihram?” Beliau jawab, “Dari Dzul Hulaifah dimana
Rasullah Saw. memulai ihram.” Orang itu berkata, “Aku ingin memulai
ihram dari masjid (An-Nabawi), dari sisi kuburan.” Maka Imm Malik
berkata kepadanya, “Jangan kamu lakukan itu, karena aku takut terjadi
fitnah pada dirimu.” Lalu ia bertanya, “Fitnah apakah yang akan terjadi
dalam hal ini? Ini hanyalah jarak beberapa mil saja yang aku tambahkan.”
Jawab Imam Malik, “Fitnah apakah yang lebih besar daripada kamu
9
Ibid, hlm. 40.
10
Ibid, hlm. 41.
22

mengira bahwa dirimu telah sampai pada sebuah keutamaan yang tidak
pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.? Sesungguhnya aku telah
mendengar firman Allah Swt.:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan
ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)
[Dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abdil Bar di dalam Jaami’ al-Bayaamil ‘Ilmi dan
Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah al-Kubra (1/261) dengan isnad laa ba’sa
bihi]11
Kedua, dalil setiap bid’ah adalah kesesatan, diantaranya sebagai berikut:
1. Hadits shahih dikeluarka oleh Imm Ahmad, Abu Dawud dan selainnya.
[Lihat Al-Irwaa’ (2455)]
2. Karena Allah Swt. berfirman:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur’an
bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-
olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta
mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena
sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa
dengan mereka.” (QS. An-Nisaa’: 140)
Syaikh Rasyid Ridha dalam Al-Manaar (5/463) berkata, “Termasuk dalam
ayat ini setiap orang yang membuat perkara baru dalam urusan agama ini
dan setiap mubtadi’ (pelaku bid’ah).” [Lihat Tanbiih Ulil Abshaar, hal.76]
3. Di dalam hadits shahih, Rasullah Saw. bersabda:
“Barangsiapa mendengar (keluarnya) Dajjal maka hendaklah ia
menjauhinya sejauh-jauhnya, karena akan ada seseorang yang
mendatanginya sedang ia mengira dirinya seorang yang beriman, dan
keadaannya senantiasa demikian sehingga ia mengikuti Dajjal dikarenakan
syubhat-syubhat yang dilihatnya.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu
Dawud dan selainnya, lihat Shahih al-Jaami’ (6031)]
Ibnu Baththah berkata mengomentari hadits ini, “Ini adalah sanda
Rasulluah Saw., maka takutlah kepada Allah Saw., wahai kaum muslimin.
Jangalah rasa baik sangka terhadap diri sendiri dan pengetahuan tentang

11
Ibid, hlm. 42.
23

madzab yang benar itu membawa seseorang diantara kalian kepada hal-hal
yang membahayakan agamanya dengan berduduk-duduk bersama
sebagian pengekor hawa nafsu (dan ahli bid’ah) lalu ia mengatakan, ‘Saya
duduk bersamanya untuk mendebatnya atau mengeluarkannya dari
mahzabnya.’ Karena sesungguhnya mereka itu lebih dahsyat fitnahnya
daripada penyakit kudis, dan akan lebih cepat membakar hati daripada api
yang berkobar. Sungguh aku telah melihat sekelompok orang yang
dahulunya senantiasa melaknati mereka (pengekor hawa nafsu dan bid’ah)
dan mencela mereka di dalam majelis-majelis mereka dalam rangka
mengingkari dan membantah (Syubhat dan bid’ah) mereka. Namun,
tatkala mereka senantiasa berduduk santai bersama pengekor hawa nafsu
dan bid’ah hingga timbul di dalam hati mereka rasa cinta dan cenderung
kepada mereka dikarenakan samarnya tipu daya dan lembutnya kekufuran
mereka.” [Al-Ibaanah (3/470)]12
4. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Janganlah kamu duduk bersama ahli
bid’ah karena sesungguhnya aku takut kamu ditimpa laknat.”
Pernah ada dua orang dari pengekor hawa nafsu dan bid’ah masuk ke
dalam majelis Muhammad bin Sirin, maka keduanya berkata, “Wahai Abu
Bakar, maukah kami bacakan padamu sebuah hadits?” Jawabnya, “Tidak.”
Maka keduanya berkata lagi, “Jika begitu kami bacakan kepadamu sebuah
ayat dari kitab Allah Swt..” Ia jawab, “Tidak, pergilah kamu dariku atau
aku yang pergi.” Maka keduanya keluar. Kemudian sebagian orang
bertanya kepadanya, “Wahai Abu Bakar, mengapa anda enggan
mendengarkan sebuah ayat dari kitab Allah Swt. yang hendak ia bacakan
kepadamu?” Jawabnya, “Sesungguhnya aku takut ia membacakan
kepadaku sebuah ayat lalu ia menyelewengkan (makna)nya, sehingga hal
itu menghujam di dalam hatiku.” [Dikeluarkan oleh Ad-Daarimi (397) dan
Al-Laalika’i dengan sanad yang shahih]
5. Mubasysyir bin Isma’il al-Halabi berkata, pernah dikatakan kepada Al-
Auza’i, sesungguhnya ada seseorang mengatakan, “Aku duduk bersama
Ahlus Sunnah dan ahli bid’ah.” Maka Al-Auza’i berkomentar,

12
Ibid, hlm. 45-46.
24

“Sesungguhnya orang ini hendak menyamakan antara yang haq dan


bathil.” [Al-Ibaanah (2/456)]
6. "Dalam khutbah Nabi Saw. bersabda: Kemudian dari itu, sesungguhnya
sebaik-baik perkataan itu kitab Allah Swt., sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad Saw. dan sekeji-keji perkara (perbuatan) ialah
mengada-adakan yang baru dan setiap bid'ah (yang baru itu) adalah sesat
dan setiap yang sesat ke neraka". [Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud dan
Ibnu Majah]
Ketiga, adalah dalil bid’ah-bid’ah hasanah, sebagian orang menganggap
bahwa bid’ah ada dua; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah (dholalah). Mereka
berhujjah dengan pendapat sebagian salaf seperti perkataan Umar bin Khatthab
radhiyallahu ‘anhu: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”
Atau perkataan Imam Syafi’i –rahimahullah– yang menyebutkan: “Bid’ah itu
ada dua: terpuji dan tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah berarti terpuji,
sedangkan yang menyelisihinya berarti tercela.”
Dalam mendudukkan maksud ucapan Umar bin Khattab, maka ucapan Umar
bin Khatthab yang berbunyi: “sebaik-baik bid’ah adalah ini…”, sama sekali tidak
bisa dijadikan dalil akan adanya bid’ah hasanah dalam agama, karena makna
ucapan tersebut ialah bid’ah secara bahasa yang sifatnya nisbi (relatif). Alasannya
adalah konteks ucapan Umar sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin
Khatthab di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana,
ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat
sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar
berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih
baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan
diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam
yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka
Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, akan tetapi saat dimana mereka
tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam
lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam. [H.R.
Malik dalam Al Muwaththa’ bab: Ma jaa-a fi qiyami Ramadhan]
25

Kemudian sebagaimana kita ketahui, anjuran beliau untuk shalat tarawih


berjama’ah itu bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, namun Rasulullah Saw.
sendiri pernah melakukannya beberapa kali, kemudian beliau hentikan karena
khawatir kalau shalat tarawih diwajibkan atas umatnya). Akan tetapi di masa
Umar berkuasa, tidak semua warga Madinah tahu akan hal ini, karena banyak di
antara mereka yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah Saw., apalagi shalat
dibelakang beliau. Karenanya, bagi mereka ini merupakan hal baru (bid’ah
lughawi). Jadi, jelaslah bahwa bid’ah yang dimaksudkan Umar di sini bukanlah
bid’ah syar’i maupun lughawi secara mutlak, akan tetapi bid’ah lughawi nisbi (hal
yang baru bagi sebagian kalangan).
Karenanya, ucapan Umar bin Khatthab di atas tidak boleh diartikan sebagai
bid’ah secara syar’i, namun yang beliau maksudkan ialah bahwa keputusannya
untuk menyatukan kaum muslimin pada satu imam merupakan suatu hal baru dan
baik setelah sekian lama ditinggalkan.
2.4 Mengkritisi Perbedaan dan Persamaan atau Menyerupai Sunnah dan Bid’ah
Pada masa Nabi sunnah adalah sunnah. Dia tidak hanya dalam arti hadis
(pembicaraan), tapi juga perbuatan dan tingkah laku Nabi. Sunah pada masa Nabi
dibagi kedalam tiga poros besar. Pertama, sunnah kehidupan Nabi, baik dalam
perbuatan maupun lainnya. Seperti Nabi sebagai suami, bapak,, dan kebiasaan
manusia hidup lainnya. Seperti makan , minum dan lainnya. Kedua, sunah sholat,
doa, tahujud dan lain sebagainya. Jetiga sunah politik yaitu perang, perencana
dalam bidang ekonomi dan lain sebagainya. Dalam semua ini –al Quran- nabi
menggunakan ijtihad. Tujuannya adalah menjelaskan apa yang ada dalam Al
Qur’an.
Para sahabat Nabi pun menyadari bahwa yang dilakukan Nabi ini dapat
dijadikan pedoman oleh mereka menuju jalan yang lurus. Antara tiga sunah diatas
tidak dipilah-pilah. Bila sunah ibadah untuk memperkuat urusan agama, maka dua
sunah lainnya mencakup kawasan yang lebih luas dalam kehidupan secara umum.
Sebagai pilihan Nabi pun berbuat sesuai kapasitasnya.
Namun demikian, Al-Qur’an tidak menjelaskan semua itu dengan cukup
rinci yang dilengkap dengan contoh-contoh praksisnya. Al-Qur’an memberikan
ruang kepada Nabi untuk menjelaskan semua itu kepada umat Islam. Perbuatan
Nabi dalam bidang ibadah, sikapnya dalam dunia politik dan prinsip hidupnya
26

dapat tertangkap utuh oleh generasi Islam pertama. Bagi mereka Islam adalah
jalan hidup, membebaskan, menyinari, mencerdaskan, konsep etika.
2.4.1 Dari Sunah menjadi Hadits
Sunnah Nabi adalah menjalankan yang diikuti Nabi dalam ibadah, tingkah
laku dan pekerjaan lain. Nabi mengatakan, “Seseorang yang tidak mengikuti
sunah ku bukan bagian dariku.” Artinya, seseorang yang tidak mengikuti metode
dan jalanku dalam berkeadilan dan mencari kebaikan dunia akhirat. Sunah dengan
pemaknaan model ini sangat umum mencakup motode spesifik yang diikuti Nabi
dalam kehidupan yang mulia.
Semua ini menunjukkan bahwa istilah sunnah mencakup perkataan dan
perbuatan. Pengertian ini jauh berbeda dengan yang dipahami oleh banyak orang
sebagai hadis. Seperti jauhnya pernyataan dan perbuatan.
2.4.2 Polemik Tentang Sunnah
Yang dimaksud sunnah dalam bagian ini adalah sunah sebagaimana
dipahami oleh para ahli hadis. Karena ketika sunah diucapkan, maka inilah yang
segera hadir dalam hati. Sunah, semenjak menjadi wacana telah melahirkan dua
sikap; pro dan kontra.
Kalangan Kontra Sunnah
1. Khawarij
Kelompok ini sangat ketat menyikapi sunnah. Pandangan mereka ini lebih
mendekati Islam ketimbang kelompok lain yang menyatakan dirinya sebagai
Ahlusunah. Kalangan Khawarij juga menolak hokum rajam bagi orang yang
berzina, karena hokum ini tidak ada dalam Al-Qur’an. Justru bila hukuman untuk
mereka adalah rajam, hal ini tampak bertentangan dengan sebagian ayat Al-
Qur’an. Padahal dengan keyakinan mereka, mereka tidak pernah bertentangan
dengan Al-Qur’an. Karena sunah bukan untuk menciptakan syariat baru diluar
ajaran Al-Qur’an.
Akan tetapi apa yang dikatakan Khawarij tersebut perlu
dipertimbangkan oleh semua kalangan. Lebih jauh, Khawarij di berbagai
kelompoknya meyakini para sahabat sebagi orang-orang adil, kecuali setelah
terjadinya fitnah. Pasca fitnah, sikap kalangan Khawarij berubah total. Mereka
mengkafrikan Ali, Utsman dan orang yang menerima arbitrase beserta
pengikutnya. Bagi Khawarij, mereka ini tidak pantas untuk dipercaya.
27

2. Syiah
Fitnah kubro yang terjadi di masa ‘Ali tidak hanya melahirkan kelompok
Khawarij sebagai kelompok radikal. Fitnah ini juga melahirkan kelompok radikal
lain. Itulah kelompok Syiah yang mati hidup membela ‘Ali. Mereka meyakini
bahwa ‘Ali adalah sahabat yang paling utama. Dalam pandangan mereka, ‘Ali
yang berhak menjaid khalifah pasca Nabi.
Perbedaan mendasar yang penting untuk dicatat antara kelompok Syiah
dan Ahlusunah adalah dalam memandang hadits Nabi. Kelompok Syiah tidak
menerima hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan ‘Aisyah. Padahal
hadits yang diriwayatkan dari dua ulama ini mendekati separuh dari hadits yang
diceritakan selama ini.
Disebutkan dalam salah satu kitab mereka, kalangan Syiah tidak menerima
hadits yang tidak menjunjung tinggi agama, hadits yang mengajak pada kesesatan
dan haditsnya orang-orang munafik seperti Ibnu Hindun, Ibnu Nabighah, Ibnu
Hakam, Ibnu Syu’bah, dan yang lainnya.13
Hadits-hadits kalangan Syiah rata-rata diriwayatkan dari Ja’far Shadiq,
dan Imam dari keluarga Nabi. Hadits-hadits ini cenderung “meninggikan”. Cara-
cara ini lebih mendekati kepada spirir dan politik Dinasti Sasania daripada kepada
Nabi yang mengadakan, “Saya hanyalah anak seorang perempuan dari suku
Quraisy yang makan ampas kurma.”
3. Mu’tazilah
Sikap Mu’tazilah terhadap hadits berbeda dengan sikap kelompok
Khawarij dan Syiah, walaupun pada akhirnya sikap mereka sama. Mereka tidak
menerima standar hadits yang ditetapkan oleh para ulama hadits. Washil bin
Atha’, guru orang-orang Mu’tazilah mengatakan, kebenaran dapat diketahui dari
empat hal yaitu Al-Qur’an, berita yang disepakati, akal, dan konsensus
masyarakat. Dari pernyataan ini, sikap Washil terhadap hadits bisa diketahui,
yaitu hadits yang disepakati, atau disebut mutawatir pada perkembangan
berikutnya. Sedangkan hadits yang tidak sampai ke level ini, seperti hadits ahad
(hanya diceritakan oleh satu orang) tidak dapat diterima. Kesalahan terbesar

Yang dimaksud dengan nama-nama di atas adalah, Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin
13

Hakam, dan Mughirah bin Syu’bah.


28

kelompok Mu’talizah karena menganggap Al-Qur’an sebagai sesuatu yang


dicipta, sebagaimana disampaikan Ahmad bin Hanbal.
Kalangan Mu’tazilah menutup pintu sama sekali terhadap ‘Amru bin ‘Ash
dan Mu’awiyah beserta para pengikutnya. Mereka juga tidak meyakini keadilan
para sahabat. Sebagian dari mereka mengkritik keras Abu Hurairah dan tidak
menggunakan hadits ahad sebagai dalil.
Untuk sebagian dari orang-orang Mu’tazilah mungkin benar, tapi tidak
untuk mayoritas mereka, apalagi Washil dan ‘Amr bin ‘Ubaid. Mereka berdua
sangat sangat ikhlas dan wara’. Menurut kalangan ahli hadits kesalahan fatal
Mu’tazilah karena mereka menggunakan akal, bukan teks.
4. Ibnu Khladun
Ibnu Khaldun menyerukan pentingnya penelitian lebih lanjut terhadap teks
membuatnya tidak menerima langsung apa yang ditulis oleh para sejarawan dan
ahli tafsir.
Kalangan Pro Sunnah
1. Al-Raudh al-Basim fi al-Dzabb ‘an Sunnah Abu al-Qasim
Ulama disini membela para ulama hadits seperti al-Bukhari, Muslim, Abu
Daud, dan lainnya yang sempat dikritik oleh para penginkar sunnah. Dengan
mengutip pendapat banyak ulama, menegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh
para ulama hadits ini tidak perlu diragukan.
Terkait dengan kitab al-Bukhari dan Muslim, penulis membaginya ke dalam
beberapa pembahasan. Pertama, hadits yang shahih dan tidak dapat diragukan
lagi. Kedua, hadits yang masih diperdebatkan oleh para ulama. Ketiga, hadits
yang menurut sebagian tergolong lemah.
2. Kitab Al-Sunnah Karya Syekh Siba’i
Dalam Islam ada tiga cara untuk sampai pada keyakinan: pertama, berita yang
pasti benar. Kedua, dengan cara penglihatan dan pengalaman. Ketiga
menggunakan akal dalam hal yang berada di luar wilayah penglihatan dan berita
yang dipastikan benar.
Hadits yang disahkan oleh para ulama tidak bertentangan dengan akal.
Karena, pertama, berkaitan dengan akidah. Kedua, berkaitan dengan syariat dan
29

ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga, berkaitan dengan berita orang-orang


terdahulu atau berita ghaib.
Al-Shiba’i dengan cukup keras menolak teriakan kalangan pengingkar sunnah
bahwa Islam hanya Al-Qur’an. Menurutnya, pernyataan ini tidak pantas dikatakan
oleh seorang muslim yang mengetahui agama Allah dan syariat-Nya. Pernyataan
ini bertentangan dengan realitas. Karena hukum syariat rata-rata ditetapkan oleh
sunnah. Mayoritas hukum yang ada di dalam Al-Qur’an sangat umum.
2.4.3 Perbedaan Sunnah dan Bid’ah
Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi , baik berupa
ucapan, ketetapan dan sifat. Adapaun yang dimaksud dengan bid’ah adalah
perkara yang baru dalam agama. Di antara kaidah-kaidah yang telah disebutkan
oleh para ulama tentang bid’ah adalah: "Setiap amal perbuatan yang tidak
dikerjakan Nabi , pada saat yang sama adanya petunjuk dan tidak adanya
penghalang untuk melakukan amal tersebut, maka mengerjakannya adalah
bid’ah".
Yang bukan termasuk bid’ah adalah mengerjakan shalat tarawih dan
mengumpulkan al-Qur’an. Adapun yang pertama, Nabi tidak melakukannya terus
menerus secara berjamaah dikarenakan adanya penghalang yaitu takut jika hal
tersebut diwajibkan. Adapun mengumpulkan al-Qur’an tidak dilakukan oleh Nabi
karena tidak adanya petunjuk untuk itu, namun ketika jumlah kaum muslimin
semakin banyak dan daerah penyebaran Islam semakin meluas, para sahabat
khawatir akan adanya kesamaran, akhirnya mereka mengumpulkan al-Qur’an.
Dan yang menjadi ketetapan di antara para ahli ilmu adalah suatu ibadah dibangun
atas dasar tauqif (berhenti pada diri Nabi ). Tidaklah beribadah kepada Allah
kecuali dengan apa yang telah disyariatkan oleh-Nya atau berdasarkan perkataan
Rasul-Nya. Dan setiap perkara yang tidak ada dasar nashnya dalam syari`at maka
mengerjakannya atau mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan tersebut
termasuk kategori bid’ah. Rasulullah bersabda:
"Siapa yang mengadakan dalam urusan kami ini yang tidak ada petunjuk atasnya
maka ia tertolak." (HR. Muslim)
Suatu contoh keragu-raguan orang-orang yang shalat berjamaah untuk
mengingatkan, kemudian salah seorang di antara mereka berkata subhanallah!
Akhirnya jamaah yang lain berkata subhanallah, atau ia berkata allahu akbar,
30

kemudian jamaah yang lain menyahut allahu akbar! Maka mengingatkan dengan
bentuk seperti ini belum ada riwayatpun dari Rasulullah ataupun para sahabatnya.
Kalau sekiranya hal ini baik, tentulah mereka akan mendahului kita dalam
mengamalkannya. Kalau mereka melakukannya pastilah khabar atau dalilnya akan
sampai kepada kita dan akan banyak sekali penukilannya. Telah banyak yang
menukil perbuatan Rasulullah beserta para sahabat tentang perkara yang lebih
detil daripada masalah tersebut di atas.
Adapun perselisihan yang terjadi antara kaum muslimin ketika mereka
berselisih pendapat, maka yang wajib adalah kembali kepada ketentuan nash al-
Qur`an ataupun as-Sunnah. Allah memerintahkan kita sebagaimana dalam firman-
Nya:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya),
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian
itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS. An-Nisa: 59)
Maka kewajiban kita kepada orang yang melakukan kebid’ahan adalah
menasehati mereka semampu kita dan menjauh dari mereka. Hendaklah kita
senantiasa berpegang teguh dengan sunnah yang mulia.
Beberapa bid’ah hasanah setelah rasulullah wafat adalah sebagai berikut:
a. Penghimpunan al-Qur’an dalam Mushhaf
Umar mengusulkan penghimpunan al-Quran dalam satu Mushhaf. Abu
Bakar mengatakan, bahwa hal itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi
Umar meyakinkan Abu Bakar, bahwa hal itu tetap baik walaupun belum pernah
dilakukan oleh Rasulullah. Dengan demikian, tindakan beliau ini tergolong
bid’ah. Dan para ulama sepakat bahwa menghimpun al-Qur’an dalam satu
mushhaf wajib hukumnya, meskipun termasuk bid’ah, agar al-Quran tetap
terpelihara. Oleh karena itu, penghimpunan al-Qur’an ini tergolong bid’ah
hasanah yang wajibah.
b. Shalat Tarawih
Rasulullah tidak pernah mengerjakan shalat tarawih berjamaah . beliau
tidak pernah melakukanya rutin setiap malam. Kemudian umar mengumpulkan
31

mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam, dan menganjurkan
mereka untuk melakukanya.
c. Adzan Jum’at
Pada masa Rasulullah adzan dikumandangkan apabila imam telah duduk
diatas mimbar. Pada masa Ustman, kota Madinah semakin luas, penduduknya
semakin meningkat, sehingga mereka perlu menetahui dekatnya waktu Jum’at
sebelum imam hadir ke mimbar. Lalu ustman menambahkan adzan pertama, yang
dilakukan di Zaura’, agar mereka berkumpul untuk menunaikan shalat Jum’at,
sebelumimam hadir ke atas mimbar dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum
Muslimin.
d. Shalat Sunnah Sebelum Shalat ‘Id dan sesudahnya
Rasulullah tidak pernah melakukan shalat Sunnah sebelum shalat ‘id dan
suesudahnya. Kemudian beberapa orang melakukanya pada masa Amirul
Mu’minin Ali bin ABI Thalib, dan ternyata beliau membiarkanya dan tidak
menegur mereka. Beliau memahami bahwa sesuatu yang belum pernah dilakukan
oleh Rasulullah belum tentu salah dan tercela.
e. Hadits Talbiyah
Menurut al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, hadits-hadits talbiyah
yang beragam dari para sahabat, menunjukkan bolehnya menambah bacaan dzikir
dan ma’tsur. Karena nabi sendiri telah mendengar tambahan para sahabat dalam
talbiyah, dan membiarkanya.
f. Redaksi sholawt nabi 275
Redaksi sholawat nabi menjadi inspirasi bagi para lam untuk mwnyusun
bebagai redaksi shalawat, sehingga lahirlah shalawat nariyah, al-Fatih dsb.
Bid’ah hasanah setelah generasi sahabat
a. Pemberian titik dalam penulisan mushhaf 277
Pada masa Rasulullah tidak ada pemberian titik pada mushhaf al-Qur’an,
bahkan Ustman yang menyalin Mushhaf dalam 6 salinan, juga tanpa pemberian
titik terhadap huruf-hurufnya. Pemberia titik baru dimulai oleh seorang ulama
tabi’in, Yahya bin Ya’mur dan para ulama pun tdak menolaknya.
b. Penulisan ketika menulis nama nabi
32

Penulisan ketika menulis nama Nabi yang diksepakati oleh kaum


Muslimin, bahkan kelompok yang tidak mengakui bid’ah hasanah, yaitu penulisan
kita menulis nama nabi dalam kitab-kitab dan surat menyurat. Dalam surat-surat
yang Rasulullah kirimkan pada waktu itu hanya tertulis, ‘Dari Muhammad
Rasulullah kepada si fulan,”
c. Perkembangan Ilmu Hadits
Pada masa Rasullah dan masa sahabat belum pernah diperkenalakan
istilah-istilah yang berkembang dalam ilmu al-jarh wa al-ta’dil dan istilah hadits.
Meskipun begitu tak satupun ulama yang menolak perkembangan istilah-istilah
dalam berbagai keilmuan dalam islam, terutama hadits.
d. Bid’ah hasanah al-imam ahmad bin Hanbal
Al-Imam Ahmad bin Hanbal termasuk ulama mujtahid yang mengakui
bid’ah hasanah. Diantaranya yaitu mendo’akan gurunya dalam shalat. Hal itu
tentu tidak dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat, namun beliau melakukanya
selama 40 tahun.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa, sunnah adalah jalan
sesuatu, sunnah Rasulallah saw berarti jalan Rasulallah saw yaitu jalan yang
ditempuh dan ditunjukkan oleh beliau.Sunnatullah dapat diartikan Jalan hikmah-
Nya dan jalan mentaati-Nya. Bid’ah adalah sesuatu yang diada-adakan
menyerupai syariat tanpa ada tuntunannya dari Rasulullah yang diamalkan
seakan-akan bagian dari ibadah.
Sedangkan dalam mengkritisi sunnah, upaya yang dilakukan sahabat
Rasulullah Saw. dalam menjaga kemurnian sunnah diantaranya, menyedikitkan
riwayat dan berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, untuk bid’ah dilakukan
dengan adanya bid’ah khasanah dan beralasan dengan shalat tarawih yang
dilakukan oleh Umar.
Dalil-dalil Sunnah tercantum pada sebagaimana dalil firman Allah Swt.
dalam QS. An-Nisaa’: 115 dan surat-surat yang lain, dengan hadits-hadits dari
para ahli hadits. Dalil bid’ah terdiri atas dalil untuk meninggalkan bid’ah, bid’ah
merupakan kesesatan, dan adanya bid’ah khasanah.
Perbedaan dan persamaan atau menyerupai sunnah dan bid’ah tercermin
pada polemik sunnah pada kalangan pro dan kontra sunnah. Kewajiban kita
kepada orang yang melakukan kebid’ahan adalah menasehati mereka semampu
kita dan menjauh dari mereka. Hendaklah kita senantiasa berpegang teguh dengan
sunnah yang mulia.
3.2 Kritik dan Saran
Demikian penjelasan dari penulis tentang sunnah dan bid’ah, apalagi ada
perkataan atau yang menyinggung, kami mohon maaf. Kami juga menerima kritik
yang membangun untuk buah karya kami selanjutnya. Terima kasih.

33
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, A.-I. b. (1432 H/ 2011 M). Syarah Ushulus Sunnah Keyakinan Al-Imam Ahmad
dalam Aqidah. Bogor: CV. Darul Ilmi.
ash-Shiddieqy T. M. H. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. (2009). Semarang: Pustaka
Rizki Putra.
al-Banna, J. (2008). Manifesto fiqih Baru 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.
al-Banna, J. (2008). Manifesto fiqih Baru 3. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Navis, A.,Ramli, M.I., & Anam, F. K. (Tanpa Tahun). Risalah Ahlussunnah Wal-Jamaah.
Surabaya: Khalista.
Purnama, Y. (2013). Hadits-Hadits Tentang Bid’ah. google.com. Diakses pada 19 Mei
2017. Hadits-Hadits Tentang Bid’ah. https://muslim.or.id/11456-hadits-hadits-
tentang-bidah.html.
Ryumasho. (Tanpa Tahun). Mengenal Bid'ah 2. google.com. Diakses pada 20 Mei 2017
18.30. Mengenal Bid'ah 2 Mengkritisi Bid'ah hasanah dan Bid'ah Sayyiah.
https://rumaysho.com/887-mengenal-bidah-2-mengkritisi-bidah-hasanah-dan-
bidah-sayyiah.htm.
Saudi, K. A., & Indonesia, M. A. (2009). Al Qur'an dan terjemahnya. Arab Saudi:
Kompleks Percetakan Al Quran Raja Fahad.

iii